Meet Your Teacher

Current Poll

golongan darah

GOLONGAN DARAH (CHIKALBLOGSPOT.COM.)

Pendahuluan

Seorang ilmuwan Jerman, Karl Landsteiner pada tahun 1900 telah melakukan suatu serial pemeriksaan

terhadap sampel darah dari 6 orang kawannya. Dilakukan pemisahan serum dan dibuat suspense eritrosit

dalam salin. Dijumpai adanya aglutinasi pada beberapa campuran serum dengan suspense eritrosit. Hal ini

disebabkan karena eritrosit memiliki antigen yang bereaksi dengan antibody (dalam serum) yang sesuai.

Atas dasar ada tidakya aglutinasi tersebut. Maka ditetapkan 3 macam golongan darah yaitu A, B, O.

kemudian Decastello dan Sturli (1902) menemukan golongan darah AB, semuanya termasuk dalam system

ABO.

Pada penelitian selanjutnya ternyata golongan darah A dapat dibedakan dalam subgroup A1, A2 dan

kemudian dijumpai lagi A3, A4, A5, Ao, Ax, Az, dan lain-lain, bahkan kini dikenal juga subgroup golongan B.

penelitian demi penelitian terus berkembang, sejauh ini telah dikenal pula system golongan darah lain dari

ABO yaitu system Rhesus, Lewis, Kell, KIDD, Lutheran, P, Ii, MN, Duffy, Diego dan lain-lain namun yang

penting adalah system ABO dan Rhesus karena memiliki sifat antigenic yang kuat.

Sistem ABO

Gen pada system ABO

Lokus gen yang mengatur system ABO terletak pada lengan panjang kromosom 9. Teori Thompson dan

kawan-kawan (1930) menyatakan bahwa pada system golongan darah ABO terdapat 4 gen alelik yaitu A1, A2,

B, O sehingga dapat dibedakan 6 fenotip dan 10 fenotip sebagai berikut :

TABEL FENOTIP DAN GENOTIP Golongan darah ABO

Gen A1 dominan terhadap A2, A1-A2-B dominan terhadap O. tidak ada sebutan resesif untuk gen golongan

darah, dikenal sebutan silent gen atau gen atmorfik untuk gen yang tidak menampilkan produk pada

fenotipnya. Gen golongan darah diturunkan dari kedua orang tua menurut hokum mendel.

Antigen pada eritrosit goongan darah AB (agglutinogen)

Penentuan golongan darah ABO ditetapkan berdasarkan ada tidaknya antigen A dan atau B pada eritrosit.

Ukuran berat molekul antigen tsb. Besar sehingga bersifat imunogenik yang dapat menimbulkan respons

imun apabila dipindahkan kepada orang lain dengan golongan darah yang berbeda, dan disebut antigen

karena dapat berikatan dengan antibodinya yang juga dijumpai pada serum darah orang lain dengan

golongan darah ABO yang berbeda pula.

Diketahuinya adanya antigen H (gen pengatur terletak pada kromosom 19) yang merupakan precursor / Ag

dasar dari Ag A & B sebagai berikut :

 

 

 

-Bila sebagian besar antigen H diubah menjadi antigen A, maka terbentuk golongan darah A

-Bila sebagian besar antigen H diubah menjadi antigen B, maka terbentuk golongan darah B

-Bila antigen H tidak diubah maka terbentuk golongan darah O

Golongan O memiliki Ag H paling banyak, apabila dilakukan pemeriksaan terhadap banyaknya Ag H dengan

menggunakan reagen anti H, maka didapat hasil dengan urutan sebagai berikut :

O>A2>A2B>B>A1>A1B

Pada orang-orang tertentu dari golongan darah O, tidak memiliki antigen A, B, maupun H, namun di dalam

serumnya dijumpai anti A, B, H yang kuat. Golongan darah ini disebut golongan O Bombay klasik (Oh). Ag A,

B, H juga dijumpa pada sel lain seperti normoblas, trombosit, leukosit, sel epitel / endotel/ epidermis dan

dalam cairan tubuh lain (disebut substance) a.1. pada salva saliva, urin, semen, keringat, ASI, cairan

pencernaan, serta tersebar luas di alam bebas, dapat dijumpai pada hewan,tumbuhan dan bakteri seperti

E.coli (Ag heterofil). Ag O diekspresikan oleh semua individu sehingga semua individu menjadi toleran

terhadap AgO.

Antibody dalam serum golongan darah ABO (agglutinin)

Golongan darah A : ditemukan anti ² B

Golongan darah B ditemukan anti ² A

Golongan darah O ditemukan anti ² A dan anti ² B

Golongan darah AB tidak ditemukan anti ² A dan anti ² B

Anti-A yang terdapat pada golongan B & O terdiri dari 2 sub populasi yaitu yang reaktif terhadap Ag A1

maupun A2 (disebut anti ² A) dan yang hanya reaktif terhadap Ag A1 (anti ² A1). Pada 1 ² 2 % populasi

subgroup golongan darah A2, disamping anti B juga dapat ditemukan anti ² A1.

Bentuk anti ² A dan anti ² B pada individu

-Dapat seluruhnya berbentuk Ig M

-Sebagian Ig M dan sebagian Ig G

-Sebagian Ig M dan sebagian Ig A

-Campuran Ig M + Ig G + Ig A

Berdasarkan terbentuknya, Ig M dapat dibedakan sebagai berikut :

-Secara alami, dipengaruhi factor lingkungan & genetic

-Akibat respons imun : Ig M anti A dan anti B imun dapat terbentuk sebagai akibat adanya paparan

oleh Ag asing a.1.substansi A atau B dari spesies lain, kehamilan, transfuse darah yang tidak cocok.

Ig G lebih sering dijumpai pada golongan darah O, terbentuk karena respons iun. Kadang ² kadang

antibody golongan darah ABO juga dapat terbentuk karena autoimunitas (terbentuk autoantibody)

 

 

Ig G lebih sering dijumpai pada golongan darah O, terbentuk karena respons imun. Kadang-kadang antibody

golongan darah ABO juga dapat terbentuk karena autoimunitas (terbentuk autoantibody).

Sifat anti A dan anti B

-Seperti halnya sifat yang dimiliki antibody pada umumnya : Ig M tidak dapat menembus plasenta. Ig

G dapat menembus plasenta sehingga dapat menyebabkan hemolytic disease of the newborn

(HDN). Hal ini terjadi karena Ag golongan darah anak (tidak sama dengan bu) memacu respons imun

ibu sehingga terbentuk Ab (Ig G terhadap Ag anak) dalam serum ibu yang kemudian menembus

plasenta dan terjadilah reaksi Ag-Ab dalam tubuh anak sendiri yang mengakibatkan lisis eritrosit

anak. Keadaan ini disebut hemolisis isoimun (bukan autoimun). Hal ini jarang terjadi karena pada

golongan darah ABO IgM merupakan molekul predominan dan tidak dapat menembus plasenta.

-Antibody ABO dapat menyebabkan destruksi eritrosit asing yang mengandung antigen yang sesuai

(reaksi Ag-Ab). Ig M maupun Ig G lebih suka menyebabkan agglutinasi eritrosit pada suhu kamar

(20oC ² 24oC) atau lebih rendah (40C ² 200C) disebut antibody dingin (cold antibody) Ig M

menyebabkan agglutinasi dengan aviditas tinggi. Sangat jarang dapat dijumpai anti A1 yang

menyebabkan agglutinasi pada suhu di atas 250C (warm antibody).

-Ig M dan Ig G merupakan activator yang efisien terhadap komplemen pada suhu 370C (complement

mediated lytic).

-Antibody tak lengkap / ´ incomplete Abµ/µblocking Abµ : kadang-kadang dijumpai Ab yang gagal

menyebabkan aglutinasi eritrosit dalam suspense salin / aCl 0,9 %, karena adanya asam sialik yang

menimbulkan muatan listrik negative pada permukaan eritrosit. Terbentuk zeta potential dalam

larutan salin tersebut, sehingga eritrosit tidak dapat berdekatan satu dengan yang lain. Jadi

walaupun Ab merupakan Ab yang dapat berikatan satu dengan Ag pada permukaan eritrosit namun

tidak dapat menghubungkan 2 eritrosit / tidak dapat menyebabkan agglutinasi karena tidak mampu

melawan zeta potential. Antibody ini kebanyakan dalam bentuk Ig G, kadang-kadang Ig M, sebagian

Ig A. cara mendeteksi Ab tak lengkap / inkomplit tersebut ialah dengan tes Coomb.

Distribusi golongan darah ABO

Disetiap Negara tidak sama

Di Indonesia sebagai berikut :

-Golongan O : 40,77 %

-Golongan B : 26,68 %

-Golongan A : 25,48 %

-Golongan AB : 6,66 %

 

 

 

 

 

Pemeriksaan laboratorium untuk golongan darah ABO

Penentuan golongan darah ABO

-Tes rutin yang dilakukan menggunakan reagen anti A dan anti B (ada yang ditambah anti AB)

disebut tes langsung/ direk/ forward grouping/red blood cells grouping test yaitu untuk menentukan

agglutinogen A/B/AB yang ada pada eritrosit.

Caranya : eritrosit penderita direaksikan dengan serum yang diketahui antibodinya (Ab).

-Tes yang menggunakan eritrosit A1 dan B untuk menentukan agglutinin A/B yang ada dalam serum

disebut reverse grouping / confirmation grouping/ serum grouping tests (ada juga yang

menambahkan eritrosit A2).

Caranya serum penderita direaksikan dengan eritrosit yang diketahui antigennya (Ag).

-Kedua cara tersebut sebaiknya dilakukan bersama-sama

-Sebelum melakukan pemeriksaan maka petunjuk yang diberikan oleh pabrik harus dibaca dengan

teliti

Contoh :

Metoda slide test :

Dapat digunakan untuk forward grouping karena tidak memerlukan pemusingan untuk menimbulkan reaksi

agglutinasi.

Cara :

-Pada sebuah gelas objek yang bersih dan kering diteteskan masing-masing 1 tetes : anti A, anti B

dan anti AB

-Kemudian setetes kecil darah diteteskan pada masing-masing tetesan antisera tersebut

-Campur dengan ujung pengaduk / sapu lidi yang bersih

-Goyangkan kaca dengan membuat gerakan lingkaran pada campuran it uterus menerus selama 2

menit

-Baca/ nilailah agglutinasi yang terjadi sebagai berikut : TABEL eaksi aglutinas golongan darah ABO

-Perlu diperhatikan kesalahan / kesulitan pembacaan yang dapat terjadi antara lain karena kesalahan

teknik, adanya bentukan rouleaux pada eritrosit, reaksi lemah pada subgroup ABO, keadaaan

hipogamaglobulinemia, leukemia.

Metode tabung (tube test)

-Metode tabung dapat juga digunakan untuk forwar drouping, cara penilaian idem slide test

-Untuk reverse grouping / serum grouping umumnya digunakan metode tabung atau microplate test

karena Ab yang ada pada serum penderita / donor seringkali terlalu lemah untuk menyebabkan

agglutinasi eritrosit tanpa pemusingan.

 

 

Deteksi antibody ABO : dengan tes Coomb direk :

Tes comb disebut juga tes anti-immunoglobulin, dibedakan 2(dua) macam tes Coomb :

- Direk /langsung

-Indirek / tak langsung

Perbedaannya terletak pada mekanisme test, namun keduanya mempunyai prinsip sama yaitu menggunakan

reagen serum antiblobulin terhadap globulin manusia yang disuntikkan pada kelinci. Untuk golongan dari

system ABO, Ab inkomplit dideteksi dengan tes Coomb direk

Indikasi tes Coomb direk : untuk mendeteksi adanya Ab inkomplit yang melekat pada eritrosit in vivo.

Contoh :

-Ikterus neonatorum / hemolytic Disease of the Newborn / HDn

- Reaksi transfuse

-Anemia hemolitik auto imun penambahan serum antiblobulin Coomb in vitro menyebabkan

agglutinasi eritrosit tersebut.

Cara :

-Dalam sebuah tabung berkuran 10 x 75 mm, teteskan 1 tetes suspense eritrosit dalam salin 2 ² 5 %

-Cuci eritrosit tersebutx dalam volume salin yang lebih banyak. Hati-hati menuang supernatant

jangan sampai eritrosit terbuang.

- Campur baik-baik

-Pusing selama 15 detik dengan kecepatan 3400 rpm

-Periksa adanya agglutinasi dengan bantuan alat optic. Goyangkan / kocok tabung secara halus agar

eritrosit tidak berada pada dassar batung dan agglutinasi merata dalam suspense.

-Lakukan control dengan Ig-sensitized red cells.

GAMBAR

Sistem Rhesus :

Merupakan system yang kompleks, mungkin yang paling kompleks di antara semua system golongan darah

yang dikenal.

Sejarah penemuan :

-System Rhesus (Rh) ini dikenal sejak Levine dan Stetson tahun 1939 melaporkan adanya antibody

dalam serum ibu setelah mendapat transfuse darah suaminya yang menyebabkan terjadinya reaksi

transfuse pada dirinya dan berakibat fatal pada janin yang dikandungnya karena menderita

Hemolytic Disease of the Newborn / HDN

 

 

 

 

-1940 Landsteiner dan Wiener menyuntik kelinci / marmot dengan darah kera rhesus (Macaca

mullata), kemudian Ab yang terbentuk ternyata dapat menyebabkan agglutinasi pada eritrosit kera

dan kira-kirea 85 % eritrosit donor manusia.

-Pada tahun yang sama (1940) Wiener dan Peters menemukan Ab tersebut dalam serum individu

tertentu yang mengalami reaksi transfuse setelah mendaapat transfuse darah donor dengan

golongan darah yang cocok (system ABO compatible).

-Dilaporkan bahwa A ini tidak dapat dibedakan dengan Ab yang ditemukan oleh Levine dan Stetson.

-1941 Levine dan kawan-kawan menunjkkan bahwa erythroblastosis fetalis (HDN) adalah sebagai

akibat dari ketidak cocokkan golongan Rh antara ibu dengan anak.

Gen pada system Rh :

Gen yang mengatur system Rh terletak pada lengan pendek kromosom 1. Genetika system Rh adalah sangat

kompleks / polimorf. Banyak terori yang berbeda telah dikemukakan tentang gen yang mengatur produksi

antigen, 2 diantaranya pada tahun 1943 oleh :

-Fisher race : enyatakan adanya 3 lokus (liki), masing-maing ditempati gen dengan alelnya : C & c, D

& d, E & e. dari informasi ini gen Rh yang kompleks diasumsikan memiliki 8 kombinasi gen yang

closely linked sebagai berikut : ce, CDe, cDE, CDE, cde, Cde, cdE, CdE.

-Wiener : menggambarkan adanya alel multiple (jumlah tak terbatas) menempati kompleks lokus

tunggal. 8 alel utama disebut : Ro, R1, R2, Rz,r,r·, rµ, ry.

-Kedua teori gen ini dapat dibandingkan sebagai beikut :

TABEL : perbandingan nomenklatur gen FisherRace & Wiener

Antigen Rh

Atas dasar nomenklatur gen Fisher-Race tsb di atas maka Ag Rh disebug Ag C, D, E, c, d, e (Ag d maupun

anti ² d sebenarnya tidak pernah ditemukan, enyebutannya hanya untuk menyatakan tidak adanya D)

sedangkan menurut Wiener Ag Rh disebut Rh 0, Rh 1, Rh 2, Rh x, rh, rh·, rhµ, rh y.

Antigen Rhesus tidak diijumpai pada asel lain kecuali eritrosit, juga tidak dijumpai dalam saliva. Ag D,

dianggap sebagai Ag yang paling bermakna dalam klinik setelah system ABO, sebab bersifat sangat antienik

/ imunogenik. Dari hasil pemeriksaan terhadap Ag D pada eritrositnya tanpa memandang adanya Ag C atau

Ag E umum dinyatakan sebagai Rh negative, sedangkan yang cukup Ag D dinyatakan sebagai Rh positif.

Dulu Rh positif seringkali disebut sebagai Rh o (D).

Antibodi Rh :

Ab dalam serum yang pertama kali dilaporkan oleh Levine & Stetson (1939) adalah terhadap Ag D. anti- D ini

ternyata tidak dapat dibedakan dengan Ab dalam serum manusia yang kemudian ditemukan oleh peneliti-

peneliti selanjutnya dan disebut human anti ² Rh (sebutan human anti Rh ini untuk membedakan dengan

 

 

factor Rh yang timbul karena penyuntikan dengan eritrosit kera Rhesus, factor rh dari kera ini sekarang

disebut anti L-W). pada individu yang eritrositnya tidak / kurang mengandung Ag D, sangat jarang secara

alami/natural dapat ditemukan anti D dalam serumnya. Pembentukan Ab hamper selalu disebabkan karena

pemaparan Ag G antara lain dengan cara transfuse atau kehamilan dan timbul setelah 2 ² 6 bulan. Dalam

klinik Ab ini sangat penting karena dapat menyebabkan reaksi transfuse dan HDN. Kebanyakan anti ² Rh

adalah Ig G (biasanya Ig G1, Ig G3), namun dilaporkan bahwa Ig M juga dapat ditemukan dan Ig A dalam

jumlah sedikit.

-Ig G lebih sering terdeteksi dengan tes antiglobulin dan dapat ditingkatkan dengan metode ensim.

Penambahan enzim (tripsin / papain/ fisin) dapat mengurangi ´zeta potentialµ dari muatan listrik

negative.

-Ig M lebih sering terdeteksi dengan tes salin.

-Ab Rh jarang mengaktifkan komplemen

Distribusi golongan darah Rh :

-Di Indonesia kurang lebih 99 % Rh Positif

Pemeriksaan laboratorium :

Penentuan golongan darah Rh :

Dilakukan hanya dengan indikasi tertentu :

- Family studies

- Paternity testing

-Transfuse darah : dilakukan pada donor karena resipien dengan golongan Rh negative harus

mendapat transfuse dengan donor Rh negative

-Prenatal testing, dalam usaha untuk mencegah HDN

Metode pemeriksaan :

Dikenal metoda slide, tube, saline ² reactive serum :

-Teknik agglutinasi slide / tube tests digunakan secara rutin untuk menetapkan ada / tidaknya Ag D

(menyatakan Rh positif / negative).

-Metoda saline reactive serum hanya dilakukan bila terjadi agglutinasi spontan atau pembentukan

rouleaux, bila eritrosit dilapisi dengan anti D pada HDN, pada autoimmune hemolytic anemia, atau

bila hasil tes slide / tube meragukan.

-Petunjuk yang diberikan oleh pabrik harus dibaca denan teliti sebelum melakukan pemeriksaan

-Harus dilakukan tes control positif maupun negative.

-Harus diperhatikan kesalahan tehnik / halhal lain yang memungkinkan hasil positif maupun negative

palsu seperti misalnya : kontaminasi dengan bakteri (positif palsu), pembacaan hasil melebihi waktu

 

 

yang ditetapkan sehingga eritrosit dan anti-serum dibiarkan bercampur terlalu lama (negative

palsu).

Deteksi anti-Rh/ anti ²D

Tes Coomb direk :

Indikasi : untuk mendeteksi adanya anti Rh (Ab inkomplit) yang bebas dalam serum.

Cara :

-Pada tes ini terlebih dulu dilakukan pelapisan eritrosit normal dari golongan darah O/yang

sesuaidengan golongan serum yang akan diperiksa.

-Dalam sebuah tabung berukuran 10 x 75 mm, teteskan 2-6 tetes serum penderita

-Tambahkan 1 tete suspense erirsosit (washed) 5% (erirosit golongan O atau yang compatible) boleh

ditambahkan 2 tetes bovine albumin.

- Campur baik-baik

-Inkubasi pada suhu 370C selama 15 ² 30 menit

-Keluarkan dari incubator segera pusingkan selama 15 detik dengan kecepatan 3400 rpm.

-Periksa adanya hemolisis dan agglutinasi dengan bantuan alat optic dan catat.

-Cuci 3-4x dalam salin, buang salin pada setiap pencucian sesempurna mungkin

-Tambahkan 1-2 tetes reagen antiglobulin

- Campu baik-baik

-Pusing selama 14 detik dengan kecepatan 3400 rpm

-Periksa adanya agglutinasi dengan bantuan alat optic.

- Catat hasilnya

-Tambahkan 1 tetes erirosit tersensitasi yang sudah diketahui pada semua hasil yang negative

-Pusing selama 15 detik dengan kecepatan 3400 rpm

-Periksa adanya agglutinasi, bila negative berarti tidak valid dan pemeriksaan harus diulang.

GAMBAR

Rujukan :

1.Bryant JB. An introcution to immunohematolog.3rd ed. Philadelphia : WB Saunders, 1994; p 98 ² 128,

141 ² 68

2.Walker Rh.Technical manual. 11th ed.Bethesda : American association of blood bank, 199; p 203 ² 58

3.Rudmann SV. Textbook of blood and transfusion medicine. Philadelphia : WB Saunders, 1995 ; p 66

² 81, 98 ² 115

4.Siti Boedina Kresno Pengantar hematologi dan imunohematologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI,

1988; p 133 ² 39

 

 

TRANSFUSI DARAH

Pendahuluan

Transfuse darah mempunyai tujuan yang menguntungkan, yaitu memperbaiki keadaan umum penderita

sehingga tercapai suasana homeostatic. Secara khusus tujuan utama transfuse darah ialah untuk :

meningkatkan oksigenasi jaringan, koreksi hipovolemia, hemostasis meningkatkan fungsi leukosit pada

kasus-kasus tertent sesuai dengan tujuannya maka transfuse darah dapat dilakukan dengan pemberian

darah lengkap atau komponen darah.

Transfuse darah merupakan bentuk pengobatan sementara yang berlangsung sepanjang umur hidup sel-sel

darah / komnponen darah tersebut. Efek yang menguntungkan dari pemberian transfuse darah / komponen

darah ini bukan berarti bahwa transfuse darah selalu dapat berjalan tanpa risiko, karena ada kemungkinan

akan timbul reaksi tarnsfusi yang tidak menguntungkan, kira-kira 6,6 ² 10 % dari resipien mengalami hal ini.

Reaksi transfuse dapat terjadi baik selama penderita masih mendapatkan transfuse maupun setelah

transfuse dihentikan. Reaksi transfuse dapat terjadi baik selama penderita masih mendapatkan transfuse

maupun setelah transfuse dihentikan. Reaksi transfuse yang tidak menguntungkan tersebut ada yang dapat

dihindari, walaupu ada juga yang tidak dapat dihindari, oleh karena itu sebelum melakukan transfuse harus

dipertimbangkan dengan mantap indikasi ² dan kontra indikasinya dan diantisipasi risiko yang mungkin

terjadi. Keberhasilan transfuse darah harus dapat diupayakan semaksimal mungkin dengan cara

memperhatikan persyaratan / persiapan pra transfuse, seleksi donor, proses pengambilan ,pengolahan,

penyimpanan, pemakaian bahan serta dilakukan pemantauan-pemantauan terhadap petanda reaksi

transfuse sedini mungkin.

1.Guna transfuse darah :

Transfuse darah dilakukan dalam upaya untuk

-Mengatasi keadaan gawat darurat (life saving)

- Pengobatan penunjang (supportive treatment)

- Pengobatan pencegahan (preventive treatment)

2.Bahan transfuse darah :

Diberikan dengan pertimbangan yang paling aman dan paling cocok untuk mengatasi keadaan

penderita. Macam bahan : dapat mengandung sel darah merah, dapat pula tidak, dibedakan sebagai

berikut.

-Darah lengkap (whole blood)

- Komponen darah :

Eritrosit pekat (packed cells)

Washed red cells

 

Eritrosit rendah leukosit (leukocyte poor red cells)

Leukosit (granulosit)

Trombosit

Kriopresipitat / derivate plasma seperti factor BIII pekat, factor IX pekat, factor II,VII, IX,

Xpekat, albumin, fibrinogen, gammaglobulin.

Darah lengkap (whole blood)

Definisi

Darah lengkap adalah unit darah selengkapnya yang diperoleh dari donor tanpa ada pemisahan

komponennya baik sel maupun non sel.

Ketentuan standar : jumah darah 450 kurang lebih 45 ml dieri anti-koagulan / pengawet eritrosit

Modifikasi ehole blood yaitu dipisahkan kriopresipitat dan atau trombositnya.

Antikoagulan yang dipakai :

Yang mengandung dekstrose ; dekstrose diperlukan untuk nutrisi eritrosit. Contoh :

-Citrate ² Phosphate ² Dextrose / CPD

-Acid ² Citrate ² Dextrose / ACD ( dengan CPD atau ACD ini darah dapat disimpan sampai 21 hari)

-Citrate ² Phosphate ² Dextrose ² Adenine ² 1/CPDA-1 (dengan penambahan adenine darah dapat

disimpan sampai 35 hari). Dikenal antikoagulan CPDA-2, CPDA-3 yang mengandung adenine dan

dekstrose lebih tinggi daripada CPDA-1 sehingga eritrosit pekat dapat diawetkan sampai 7 minggu.

-CPD + AS-1 / AS-2 (AS = additive solution yang terdiri dari salin, desktorse, manitol, adenine)

-Citrate ² Phosphate, Double Dextrose + AS (terdiri dari salin, dekstrose, adenine).

-Heparin : tidak ditambah destrose, sehingga usia simpan hanya sampai 48 jam.

Penyimpanan

- Temperature penyimpanan

Setelah darah diambil dari donor segera disimpan pada suhu antara 10 ² 60C. pada suhu sekitar ini

glikolisis terjadi secara perlahan-lahan. Suhu penyimpanan terbaik ialah 40C, karena pada suhu ini

asam laktat yang terbentuk akan sangat menurunkan pH dan fungsi enzim heksokinase serta

fosfofruktokinase sehingga glikolisis terhenti. Di bawah 10C maka karena efek dari dekstrose

eritrosit akan membengkan, menjadi sangat fragil dan cenderung hemolisis. Di atas suhu 60C bakteri

akan berkembang biak, sehingga umur hidup eritrosit menjadi lebih pendek

.

- Efek samping penyimpanan

Setelah disimpan maka store whole blood tidak lagi mengandung granulosit & trombosit yang dapat

berfungsi, demikian juga factor pembekuan yang labil (factorV,VII) menjadi rusak. Darah yang

diambil dari donor harus diperiksa lengkapselain golongan darah, deteksi antibody, juga tes untuk

 

penyakit menular yang memerlukan waktu cukup lama untuk melakukannya, sehingga darah harus

di simpan. Di samping itu tidak ada indikasi kuat yang menyokong keharusan menggunakan fresh

whole blood / darah segar untuk ditrasfusikan kepada resipien.

Darah ini mengandung leukosit yang masih mampu berfungsi membunuh bakteri,oleh karenanya

bila memang sangat diperlukan darah segar maka dapat dibiarkan pada temperature kamar dalam

waktu singkat, namun hal ini tidak direkomendasikan.

Indikasi penggunaan whole blood :

-Pada penderita dengan kehilangan darah sangat banyak / berat (mencapai 25 ² 30 %), sehingga

menimbulkan gejala hipovilemi / syok. Pada keadaan ini whole blood diperlukan untuk

mengembalikan atau memelihara volume darah dan kapasitas mengangkut oksigen.

-Pada keadaan dimana diperlukan pengembalian volume darah yang seimbang / sama pentingnya

dengan komponen seluler.

-Untuk transfuse tukar (exchange transfusion) pada bayi baru lahir.

Kontra indikasi :

-Penderita dengan anemia kronik yang berat dimana telah terjadi kompensasi terhadap penurunan

sel darah merah yaitu dengan terjadinya peningkatan volume plasma / peningkatan cardia output

sehingga kebutuhan O2 jaringan dapat dipenuhi (anemia normovilemik). Penderita ini tidak

memerlukan plasma yang ada dalam whole blood, sehingga dapat terjadi kelebihan volume yang

memingkinkan bahaya udem paru dan payah jantung.

-Penderita yang hanya memerlukan pengembalian volume plasma, maka whle blood merupakan

kontraindikasi mengingat plasma mungkin mengandung mikroorganisme yang menular.

Komponen darah :

Pemakaian komponen darah mempunyai keuntungan secara umum sebagai berikut :

- Mengurangi kemungkinan circulatory overload

- Mengurangi kejangkitan reaksi transfuse

-Mengurangi volume antikoagulan dan elektrolit

-Darah dari satu donor dapat dimanfaatkan untuk lebih dari satu resipien

Eritrosit pekat (red cell concentratres ² packed cells) :

Packed red cells adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan sel darah merah pekat yang

diperoleh setelah pemisahan plasma dari whole blood dengan cara pemusingan atau pengendapan pada

suhu 40C. eritrosit pekat ini sudah tidak mengandung granulosit maupun trombosit yang berfungsi, dan

harus disimpan pada suhu antara 1 ² 60C.

 

Nilai hematokrit dari 1 unit eritrosit pekat bervarias tergantung dari medium suspensinya, berkisar antara 52

² 60 %. Bila disimpan dengan menggunakan CPDA-1 sebagaiantikoagulan / pengawet, nilai hematokrit

sekitar 70 ² 80 %.

Indikasi penggunaan eritrosit pekat :

-Untuk penderita anemia normovolemik / yang tidak membutuhkan peningkatan volume darah,

diberikan dengan tuuan untuk meningkatkan kapasitas mengangkut oksigen.

Kontra Indikasi :

-Anemia kronik yang telah terkompensasi dengan baik seperti pada gagal ginjal kronik

-Anemia defisiensi besi, anemia pernisiosa.

Washed red cells :

Dilakukan pencucian darah sebanyak 2-3x dengan larutan garam fisiologik sehingga dapat dipisahkan

leukosit dan plasmanya. Washed rec cells sebainya tidak disimpan setelah selesai diolah, harus segera

diberikan kepada penderita dan bila terpaksa dapat disimpan dalam waktu sangat singkat pada temperature

10 ² 60 C.

Indikasi penggunaan washed red cells :

-Penderita dengan febris dan reaksi alergik terhadap transfuse yang menggunakan eritrosit yang

tidak dicuci (leukosit sebagai penyebab kebanyakan febris, plasma reaksi alergik).

- Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria

-Penderita dengan sensitivitas terhadap protein plasma

Leukocyte ² poor red blood cells :

Eritrosit rendah leukosit juga dikenal sebagai leukocyte reduced red cells yaitu sekurang-kurangnya 70 ² 80

% dari jumlah leukosit yang semula ada telah dipisahkan, dapat diperoleh secara manual dengan cara

mencuci sel darah merah 4 ² 6 x dalam larutan salin normal atau menggunakan alat pencuci automatic.

Sediaan ini harus disimpan pada suhu 10 ² 60 C setelah pengolahan dan harus digunakan secepat mungkin

dalam waktu 24 jam.

Indikasi penggunaan leukoscyt ² poor red blood cells : diberikan kepada penderita untuk multitransfusi

sebagai berikut :

-Dengan riwayat febris berulang karena adanya antibody terhadap leukosit

-Dengan penyakit ginjal yang menjalani dialysis, untuk mengurangi risiko aloimunisasi terhadap Ag

leukosit dan trombosit.

Dalam upaya agar tidak / seminimal mungkin terjadi reaksi transfsi masih dikenal sediaan sel darah merah

lain seperti frozen ² thawed red blood cells (sel darah merah cair yang dibekukan)/ frozen ² deglycerolized

red blood cells dan lain-lain.

Leukosit (granulosit) concentrates:

Teknik untuk memperoleh granulosit ini tidak praktis bila diambil dari sediaan darah donor, karena butuh 30

² 50 unit darah segar untuk 1 x transfuse, maka lebih disukai cara leukapheresis. Umumnya sediaan

granulosit (neutrofil) yang sudah diperoleh segera diberikan dan tidak boleh disimpan, bila terpaksa maka

penundaan tidak boleh lebih dari 24 jam serta harus disimpan pada temperature 20 ² 240C, karena survival

granulosit akanberkurang. Menurut laporan para peneliti, setelah disimpan 8 jam maka granulosit berkurang

kemampuannya untuk beredar dalam sirkulasi dan bermigrasi ke lokasi inflamasi.

Indikasi penggunaan leukosit (granulosit) concentrates

-Diberikan kepada penderita dengan infeksi yang tidak terkontrol dengan antibiotika terpilih. Bila

terjadi disfungsi granulosit sepert pada keadaan neutropenia, granulomata kronik, dengan jumlah

granulosit kurang dari ,5 x 109 / L atau 0,5 x 103/mm3, dalam jumlah tersebut risiko terjadinya infeksi

makin besar (risiko infeksi terjadi bila jumlah granulosit turun di bawah 1 x 109/L). dilaporkan bahwa

transfuse granulosit bermanfaat pada neonates dengan infeksi berat karena fungsi neutrofil belum

sempurna dan produksi neutrofil terbatas.

-Penderita leukemia, transplantasi sumsum tulang, yang mendapat kemoterapi intensif.

Kontra Indikasi

-Pada infeksi yang dapat dikontrol dengan antibiotika

-Pada penyakit dengan prognosis jelek seperti keganasan, sebab efek granunosit hanya bersifat

sementara.

Trombosit

Sediaan trombosit dapat diperoleh dengan cara cytapheresis atau secara manual dengan pemusingan fresh

ehole blood, dikerjakan dalam 6 ² 8 jam setelah darah diambil dari donor.

Dikenal bermacam-macam sediaan trombosit antara lain :

-Berdasarkan jumlah trombosit & banyaknya volume plasma sebagai suspense dikenal : platelet

concentrates, platelet rich plasma. Platelet concentrates dengan cara pemusingan 1 unit whole

blood mengandung minimal 5,5 x 1010/ L trombosit, disuspensikan dalam kira-kira 50 ml plasma

sedemikian sehingga pH dapat mencapai 6,0 atau lebih pada akhir periode penyimpanan yang

diperbolehkan dan ditetapkan / diukur pada suhu penyimpanan. Dengan dara cytapheresis dari 1

donor tunggal dapat diperoleh 1 unit platelet yang mengandung minimal 3x1011 /L trombosit. Jumlah

tersebut ekuivalen dengan 6-8 unit whole blood bila dilakukan dengan cara pemusingan.

-Berdasarkan pengolahan dan penyimnpanannya : washed platelets, pooled platelets, irradiated

platelets, leukocyte ² reduced platelets, frozen platelets dan lain-lain.

Suhu optimal untuk penyimpanan trom bosit adalah 220C dan harus konstan digerakkan secara halus, dalam

kondisi ini dengan system tertutup dapat disimpan selama 5 hari, sedangkan dengan system terbuka tidak

boleh lebih dari 24 jam.

Indikasi penggunaan trombosit :

Banyak factor harus dipertimbangkan sebelum pemberian transfuse trombosit yang meliputi :

Kondisi klinik penderita, jumlah dan fungsi trombosit resipien, penyebab trombositopenia. Disamping itu

perlu diperhatikan adanya antigen HLA pada trombosit yang memungkinkan terjadinya reaksi penolakan bila

antara resipiendonor tidak HLA compatible serta hal-hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan untk

meningkatkan jumlah trombosit.

-Diberikan kepada penderita dengan trombositopenia karena penurunan produksi trombosit atau

fungsi trombosit yang abnormal, perdarahan.

-Untuk terapi pencegahan terhadap trombositopenia dan atau trombositopati di mana dapat terjadi

perdarahan tak terkontrol sebagai akibat dari tindakan operasi besar, perdarahan gastrointestinal.

Banyak perbedaan pendapat tentang jumlah trombosit yang perlu ditransfusi. Dissebutkan bahwa kecil

trerjadinya resiko perdarahan pada penderita dengan jumlah trombosit kurang lebih 20 x 109 / L. perdarahan

yang serius baru terjadi bila jumlah trombosit kurang dari 5 x 109 / L. perlu dicatat bahwa transfuse masih

juga dapat menyebabkan trombositopenia karena pengenceran trombosit akibat penambahan cairan dan

penggunaan darah simpan.

Kontra indikasi :

-Sebaiknya tidak diberikan kepada penderita idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP) karena

trombosit yang ditransfusikan akan cepat rusak, juga pada splenomegali, sepsis, karena dapat

terjadi kegagalan untuk meningkatkan jumlah trombosit.

-Thrombotic thrombocytopenic purpura, drugs / heparin ² induced thrombocytopenia, DIC, karena

pada penderita ini bahaya pebentukan thrombus dapat segera terjadi setelah transfuse. Secara

umum setiap unit trombosit yang ditransfuikan diharapkan dapat meningkatkan jumah trombosit

5000 ² 10000 / mikro L untuk individu dengan BB 70 Kg.

Plasma dan komponen plasma

Sejak perang dunia II, pemakaina plasma tidak lagi dipandang bermanfaat sebagai volume expander untuk

mengatasi keadaan syok hemoragik. Dalam praktik kedokteran dewasa ini plasma dan komponen plasma

mempunyai banyak kegunaan lain dan permintaan-permintaan yang diajukan untuk menggunakannya makin

meningkat.

 

Plasma dapat dikumpulkan dari pemisahan darah whole blood atau dengan cara plasmapheresis manual

atau metode automatic.

Macam sediaan :

-Plasma segar beku (fresh ² frozen plasma) yaitu plasma yang mengandung factor ² factor

pembekuan labil (V,VIII) maupun stabil yang masih berfungsi. Hal ini diproses dengan

memperhatikan antikoagulan tercampur rata pada whole blood dan plasma yang diperoleh harus

secepatnya dibekukan. Bila plasma segar tidak dibekukan maka factor pembekuan labil tidak lagi

berfungsi. Fresh-frozen plasma dapat disimpan sampai 1 tahun dalam temperature konstan -180 C

atau lebih rendah. Seelum dipakai maka harus dicarikan pada suhu 30 ² 370C dan diberikan kepada

penderita dalam 2 jam setelah pencairan.

-Plasma simpan cair atau beku (stored plasma : liquid or frozen) : sediaan ini dapat diperoleh dari

whole blood setiap waktu dilakukan pemisahan, juga dapat diproses dari store whole blood yang

sudah tidak terpakai / kadaluwarsa sampai dengan 5 hari setelah tanggal kalauwarsa yang

ditetapkan. Fresh frozen plasma (plasma segar beku) yang tidak terpakai dalam 12 bulan dapat

dijadikan stored plasma. Stored plasma ini dapat digunakan untuk terapi defisiensi factor stabil

terutama factor IX, tidak dapat dipakai untuk volume expander. Plasma yang disimpan dalam

keadaan cair pada suhu antara 1-60C hanya dapat bertahan sampai 26 ² 40 hari, sedangkan pada

suhu 180 C atau lebih rendah sampai 5 tahun.

-Cryoprecipitated antihemophilic factor / factorVII concentrate

-Factor IX concentrate / prothrobin complex : terdiri dari factor pembekuan II,VII, IX, X

Plasma Albumin

Indikasi

-Untuk terapi syok hipovolemik karena perdarahan atau tindakan bedah

-Padakebakaran untuk mengembalikan protein dan cairan

-Ntuk pengembalian (fluid replacement) selama penderita yang menjalani terapi plasma exchange

secara automatic

-Untuk memacu dieresis pada udem karena hipoalbuminemia

-Pada hiperbiliburinemia neonates untuk membantu mengikat bilirubin yang tidak terkonjugasi

Perlu diperhatikan pemberian albumin yang berlebihan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan onkotik

plasma sehingga cairan ekstravaskuler masuk ke dalam intravaskuler. Dikenal plasma subtitusi yang lain

 

yaitu plasma protein fraction yang terdiri dari 83 % albumin dan 17% globulin, perlu diperhatikan pula

pemberian cairna yang cepat memungkinkan terjadinya keadaan hipotensi sebagai akibat adanya vaoaktif

kinin.

Dikenal pula volume expander sintetik yang terdiri dari salin normal, Ringer·s laktat, destran B.M besar atau

kecil dan pati hidroksietil. Dapat digunakan pada perdarahan dan syok karena kebakaran.

REAKSI TRANSFUSI

Istilah reaksi transfuse biasanya diartikan sebagai respons tidak meguntungkan yang terjadi setelah

pemberian transfuse darah uampun produk darah. Hal ini sebenarnya tidak tepart karena dapat pula terjadi

respons yang menguntungkan ,namun reaksi tidak menguntungkam merupakan masalah yang harus

ditangani dengan cepat dan tepat. Setiap reaksi yang tidak menguntungkan harus dipandang sebagai

´mengancam jiwa penderita ´ sampai pemantauan klinik dan hasil pemeriksaan laboratorik menentukan

laihn. Reasksi transfuse tidak selalu sebagai akibat dari ketidak cocokan golongan darah dalam arti kata

adanya reaksi antigen ² antibody sehinggam engakibatkan destruksi sel darah merah. Hal ini bahkan hanya

dijumpai dalam persen relative kecil.

-Klasifikasi reaksi transfuse : - akut / tertunda (delayed) : disebut akut bila terjadi dalam 1-2 jam

setelah transfuse dikerjakan, sedangkan tertunda dapat terjadi berhari-hari, (lebih dari 2 hari),

berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah transfuse.

-Imunologik / nonimunologik Klasifikasi ini lebih disukai

Reaksi imunologik :

Reaksi ini timbul sebagai akibat adanya stimulasi alloantigen (Ag asing dari spesies yang sama tetapi

berbeda genetic) yang terdapat pada eritrosit, leukosit, trombosit & protein plasma darah donor yan g

ditransfusikan. Respons tersebut meliputi :

Febrile reaction:

Febrile reaction didefinisikan sebagai adanya peningkatan temperature 100C atau lebih di atas suhu normal

selama transfuse darah / komponen darah tanpa ada sebab lain. Demam umumnya timbul dalam 2 jam atau

pada akhir transfuse dan dapat disertai menggigil. Reaksi ini merupakan reaksi transfuse yang paling

banyak dijumpai, disebabkan karena adanya reaksi antara Ag pada leukosit & trombosit yang ditransfusikan

dengan Ab dalam serum penderita.

Leukosit dan trombosit memiliki Ag hLA dan Ag spesifik. HLA kelas I dijumpai pada hamir semua sel berinti

dan trombosit, sedangkan HLA kelas II dijumpai pada monosit / makrofag, limfosit B dan limfosit T

teraktivasi. Reaksi antara Ag HLA dengan anti- HLA memegang peran predominan di dalam timbulnya gejala

febris & menggigil, namun reaksi Ag spesifik leukosit/trombosit dengan Ab spesifik juga dapat terjadi.

Febrile reaction terbanyak dijumpai pada penderita multi transfuse dan multigravida

 

Perlu dicatat bahwa febrile reaction juga dapat disebabkan karena substansi pirogen (cemaran polisakarid

bakteri). Pulmonary reaction juga dapat terjadi karena granulosit atau agregat/ kompleks imun Ag-Ab

granulosit terkumpul di daerah vaskuler paru.

Reaksi alergik atau anafilaktik:

Reaksi alergik menduduki urutan kedua setelah febrile reaction. Manifestasi klinik dapat ditandai dengan

urtikaria, eritema, gatal. Reaksi yang terjadi dapat ringan (palin sering terjadi dan ada yang menyebutnya

sebagai anfilaktoid), sedang, berat / mengancam jiwa penderita. Pada yang berat (feaksi tipe anafilaktik)

penderita merasa panas dan kulit memerah (flushing), dispneu, dapat hipotensi.

Bila dijumpai urtikaria maka transfuse perlu dientikan kecuali pada urikaria setempat (localized).

Pathogenesis urtikaria tidak jelas diketahui, namun dipandang merupakan akibat dari reaksi Ab dengan Ag

terlarut (biasanya dalam protein plasma). Kemungkinan sebagai penyebab kebanyakan dari tipe anafilaktik

ialah interaksi antara Ig A sebagai Ag dalam plasma yang ditransfusikan dengan anti-Ig A sebagai Ag dalam

plasma yang ditransfusikan dengan anti ² Ig A dalam plasma resipien. Keadaan ini banyak dijumpai pada

resipien dengan defisiensi Ig A.

Reaksi hemolitik

Ada hubungannya dengan ketidakcocokan Ag pada eritrosit (red cells incompatibility). Reaksi yang

disebabkan oleh ketidak cocokangolongan darah system ABO dapat dikatakan sangat jarang terjadi karena

transfsi dilakukan hanya pada ABO compatible, kecuali ada kesalahan teknik. Dalam hal ini Ag A / Ag B

eritrosit donor berikatan dengan anti ² A / anti ² b (predominan IgM) dan komplemen serum resipien

mengakibatkan destruksi eritrosit donor intravaskuler. Aktivasi komplemen juga akan melepaskan C3a dan

C5a yang mempunyai aktivitas anafilatoksik, di samping itu kompleks imun juga memacu mekanisme

koagulasi melalui factor XII disertai pembentukan bradikinin dan memacu trombosit untuk melepaskan

histamine dan serotonin. Syok terjadi sebagai akbiat pelepasan substansi vasoaktif ini. Reaksi hemolitik ini

timbul segera setelah transfuse dan seringkali berakibat faal.

Incompatibility yang sering dijumpai ialah karena ketidak cocokan dalam system Rhesus, Kell juga dapat

dijumpai pada golongan Duffy dan Kidd, jarang pada lain-lain golongan darah. Apakah hemolisis terjadi

segera, secara lambat atau bahkan tidak terjadi, tergantung dari respons primer / sekunder, kuat-lemahnya

reaksi Ag-Ab, banyak sedikitnya kadar Ab dalam serum resipien yang akan berikatan dengan Ag donor. Pada

respons primer terhadap Ag Rhesus, Ab (anti-D) terbentuk minimal 4-8 minggu setelah pemaparan, bahkan

dapat sampai 5-6 bulan, sehingga kadang-kadang (jarang) bias terjadi reaksi hemolitik yang tertunda. Pada

reaksi hemolitik yang tetunda, destruksi eritrosit umunya ekstravaskuler di dalam system retikuloendotelial

dan gejala lebih ringan daripada respons tipe segera

 

Penentuan golongan darah :

Pemeriksaan ini harus dikerjakan karena syarat utam untuk dapat dilakukan transfuse ialah golongan darah

compatible antar donor dengan resipien. Golongan darah ABO adalah yang terpenting dan sebaiknya

ditentukan dengan forward and reverse grouping tests bersama ²sama. Golongan darah yang kedua iala

Rhesu, karena resipien golongan Rh negative harus ditransfusi dengan Rh negative pula (cara pemeriksaan

golongan darah lihat kulia golongan darah).

Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit;

Untuk dapat diperoleh jumlah darah 450 ml kurang lebih 45 ml, maka hb donor minimal 12,5 g/dl, atau

hematokrit minimal 38 %. Hb akan turun 1 gr/dl untuk setiap pengambilan 450 ml.

Skrining untuk kemungkinan adanya Ab dalam serum donor yang mempunyai riwayat pernah hamil /

mendapat transfuse.

Deteksi B dilakukan dengan teknik antiblobulin coomb indirek, tes ensimatik, low ionic strength solution

/LISS

Te

Untuk mendeteksi penyakit menular :

Donor dengan hasil tes-tes tersebut dibawah positif maka tidak dapat diterima sebagai donor :

- Plasmodium malaria

-Seromarker virus hepatitis BC : HBs Ag, anti ² HBc, anti ² HVC

-Tes untuk sifilis :

Secara rutin tes untuk sifilis masih dikerjakan di banyak bank darah, namun tidak lagi

direkomendasikan oleh American Association of Blood Bank karena Spirochaeta tidak dapat

bertahan hidup dengan baik bila disimpan lebih dari 4 hari pada suhu penyimpanan 1-60C. hanya

penggunaan darah segar (kurang dari 4 hari) dapat menularknan sifilis.

TesVDRL (veneral disease research laboratory), RPR (Rapid plasma regain) dapat dipakai sebagai

uji saring / skrining. Tes ini dipakai untuk mendeteksi adanya antibody nontreponemal yang

dissebut regain. Bila hasilnya non reaktif pada 2 kali pmeeriksaan, besar kemungkinan donor tidak

menderita sifilis. Apabila ada kecurigaan kuat terhadap sifilis laten / lanjut maka perlu dilakukan tes

TPHA (Treponema pallidum hemagglutination assay) / FTA-ABS (fluorescence treponemal antibody

absorption) / TPI (Treponema pallidum immobilization test)

 

-Tes HI: skrining dilakukan dengan metode Elisa (enzymelinked mmunosorbent assay) dan

konfirmasi dengan metode Western blot

-Tes CM(Cytomegalovirus): Sangat perlu untuk resipien dalam keadaan immunocompromised

seperti transplantasi ginjal / sumsum tulang. Ig M anti CMpositif menunjukkan penyakit masih

akut.

-Tes virus Ebstein-Barr : juga hanya penting untuk resipien yang menjalani transplantasi.

Tes silang / cross matching

Terupakan langkah akhir dan terpenting di dalam menetapkan compatibility antara donor dengan resipien,

khususnya terhadap golongan darah ABO, dengan tes ini baik antibody komplit maupun inkomplit dapat

ditemukan. Dibedakan 2 macam tes silang yaitu :

Mayor

Sel donor dicampur dengan serum resipien, bila dalam serum resipien terdapat Ab terhadap sel donor, maka

terjadi destruksi sel donor.

Minor

Serum donor dicampur dengan sel resipien, bila dala mserum donor terdapat Ab terhadap sel resipien, maka

terjadi destruksi sel resipien. Tes silang minor ini dibaynya bank darah di luar negeri tidak dikerjakan

sebagai tes pretransfusi karena secara rutin sudah dikerjakan tes skrining untuk mendeteksi adanya Ab

dalam donor. Di Indonesia dikerjakan bersama tes silang mayor.

Teknik untuk tes silang hanya dilakukan dengan metode tabung dan apabila hanya dikerjakan pada

temperature kamar maka tidak dapat menjamin kepastian compatibility karena ab golongan darah tertentu

akan bereaksi pada suhu tubuh / in vivo. Secara umum tes silang merupakan suatu seri pemeriksaan yang

dilakukan tretransfusi untuk menjamin kecocokan darah yang akan ditransfusikan bagi reipien dan

mendeteksi kemungkinan adanya antibody yang tidak diharapkan dalam serum resipien yang dapat

mengurangi umur hidup atau menghancurkan eritrosit donor (eritrosit berumur 120 hari).

Metode pemeriksaaan tes silang mayor :

Dalam larutan garam / salin (tes fase I)

Metode cepat / /immediate spin : caranya

-Dalam seuah tabung berukuran 10 x 75 mm, tetreskan 2 tetes serum resipien

-Tambahkantetes suspense washed red cells donor

-Pusing segera selama 15 detik dengan kecepatan 3400 rpm

-Periksa/nilai secara makroskopik dan pastikan hasil negative secara mikroskopik metodi ini untuk

keadaan gawat darurat (emergency), bukan ntuk rutin dan hanya positif bila Ab sangat kuat.

 

Metode inkubasi 220Ccaranya :

-Dalam sebuah tabung berukuran 10 x 75 mm, teteskan 2 tetes serum resipien

-Tambahkan 1 tetes suspense washed red cells donor

-Inkubasi dulu pada temperature kamar selama 15 ² 30 menit

-Pusing segera selama 15 detik dengan kecepatan 3400 rpm

-Periksa adanya hemolisis secara makroskopik dan ada/ tidaknya agglutinasi secara mikroskopoik

Metode inkubasi 370C

-Dalam sebuah tabung berukuran 10 x 75 mm, teteskan 2 tetes serum resipien

-Tambahkan 1 tetes suspense washer red cells donor

-Inkubasi dulu pada temperature 370C selama 15 ² 30 menit

-Pusing segera selama 15 detik dengan kecepatan 3400 rpm

-Periksa adanya hemolisis secara makroskopik dan ada/tidaknya agglutinasi secara mikroskopik.

Dalam Albumin (tes fase II)

Penambahan albumin binatang seperti sapi (bovine) menciptakan kondisi yang lebih ideal / efektif untuk

mendeteksi Ab Rh/golongan darah lain dari ABO, terbentuknya agglutinasi lebih ditingkatkan. Kelemahan

teknik ini ialah kemungkinan dijumpainya aggretan nonspesifik secara mikroskopis yang akan

membingungkan penilaian bagi yang belu berpengalaman. Bentuknya halus dan berjejak (trail). Penetesan

dengan salin akan melepaskan agregat tetapi hal ini juga dapat menghancurkan agglunasi lema yang

sebenarnya memang ada. Caranya :

-Dalam sebuah tabung berukuran 10 x 75 mm teteskan 4-6 tetes serum resipien

-Tambahkan 1 tetes suspense 5% dari washed red cells donor

-Tambahkan 2-3 tetes bovine albumin (polymerized), campur baik-baik

-Inkubasi pada suhu 370C selama 15 ² 30 menit

-Pusing selama 15 detik (immediate-spin) atau 1 menit dengan kecepatan 1000 rpm

-Periksa secara makroskopik adanya heolisis dan agglutinasi secara mikroskopik

Tes antiglobulin Coomb indirek (tes fase III)

Ntuk mendeteksi Ab inkomplit yang bebas dalam sirkulasi (lihat kuliah golongan darah). Ab ini akan

menyebabkan agglutinasi eritroist in vitro. Tes ini dapat ditingkatkan sensitivitasnya dengan penambahan

albumin (bovine) atau ensim sehingga banyak macam IgG maupun Ig M yang tidak terdeteksi dengan

metode salin menjadi dapat terdeteksi. Sekarang bahkan untuk tes pretransfusi setelah penambahan

antiglobulin Coomb dilanjutkan lagi dnegan penambahan anti komplemen (C3d) sehingga hasilnya menjadi

lebih handal.

Tes pada reaksi transfuse 

Bila terjadi reaksi transfuse, maka protap sebagai berikut dijalankan :

-Cek kembali semua data penderita, identitas, banyaknya unit yang ditransfusikan, riwayat transfuse

sebelumnya, dan lain-lain yntuk meyakinkan tidak ada kesalahan klerikal (clerical error)

-Dibutuhkan sampel darah sebagai berikut :

Resipien sebelum terjadi reaksi transfuse

Resipien sesudah terjadi reaksi transfuse (beri antikoaguan)

Donor

Lakukan hal-hal sebagai berikut :

-Periksa adanya hemolisis pada semua sampel

-Ulangi pemeriksaan golongan darah ABO dan Rh pada semua sampel darah resipien dan donor

-Lakukan tes antiglobulin Coomb direk pada sampel resipien (a dan b) : untuk mendeteksi adanya Ab

in-komplit yang melekat pada erirosit resipien

-Ulangi tes silang mayor dan minor, lakukan tes skrining pada sampel a,b,d

-Bila terdeteksi Ab, maka identifikasi Ab tersebut ; bila Ab terdeteksi pada sampel b dan tidak pada a,

periksa benar / tidak adanya Ag pada sampel donor

-Lakukan pemeriksaan bakteri secara mikroskopik dan kultur pada sampel c/donor

Lakukan tes-tes tersebut sesuai gejala klinik :

- Menunjang hemolisis

Haptoglobin pada sampel a dan b. haptoglobin berfungsi mengikat Hb (hemoglobin).

Apabila terjadi penurunan kadar haptoglobin atau tidak ada lagi pada b, berarti terpakai

untuk mengikah Hb yang dilepaskan dari eritrosit yang lisis. Kelebihan Hb yang bebas

dapat menyebabkan hemoblobinuria.

Metehmalbumin pada sampel a dan b. apabila kapasitas haptoglobin ntuk mengikat hb

sudah jenuh, maka sebagian Hb bebas dalam plasma akan berikatan dengan albumin

membentuk methemalbumin. Methemalbumin menunjukkan adanya hemolisis intravaskuler

yang berat / berlanjut.

Bilirubin pada sampel b. kadar bilirubin indirek meningkat pada adanya hemolisis

-Kadar kreatinin darah pada sampel b untuk menunjang gangguan fungsi ginjal

-Tes antiglobulin Coomb doirek pada sampel c untuk mendeteksi adanya Ab inkomplit melekat pada

erirosit donor

-Tes untuk mendeteksi adanya Ab leukosit dan trombosit sampel a dan b

-Tes untuk mendeteksi adanya anti Ig A pada sampel a dan b.

 

Comments