Macam-macam Mujahadah

Bagian ke Tiga

MACAM-MACAM MUJAHADAH WAHIDIYAH & PETUNJUK PELAKSANAANNYA

A. MUJAHADAH-MUJAHADAH YANG DIBAKUKAN

1. MUJAHADAH PENGAMALAN 40 HARI ATAU 7 HARI

a.    Mujahadah Pengamalan 40 hari atau diringkas menjadi 7 hari adalah mujahadah yang dilaksanakan oleh pengamal pemula, dan dapat dilaksanakan ulang oleh para Penga-mal Wahidiyah. Boleh dilaksanakan sendiri-sendiri (munfaridan) tetapi lebih dianjurkan berjamaah se keluarga, se kampung / se lingkungan. Dilaksanakan selama 40 hari atau 7 hari berturut-turut dengan adab dan tata cara pengamalan seperti dalam “Lembaran SHOLAWAT WAHIDIYAH”

b.    Waktu pelaksanaannya boleh siang, malam, pagi atau sore hari. Lebih utama jika waktunya dirutinkan / ditetapkan. Misalnya setiap ba’da sholat Maghrib, kecuali ada udzur yang lebih penting, bisa dilakukan di waktu lainnya. Usahakan dalam waktu sehari semalam (24 jam) melaksanakan satu kali khatam sesuai dengan bilangan yang tertulis dalam lembaran Sholawat Wahidiyah.

c.    Jika pengamalan 40 hari diringkas menjadi 7 hari bilangannya dikalikan 10 kali lipat (yang 7 menjadi 70 kali, 100 menjadi 1000 kali dan seterusnya) kecuali bacaan do’a akhir (“ALLOOHUMMA BIHAQQISMIKAL A’DHOM….. dst), bilangannya tetap seperti dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah.

d.    Yang belum bisa membaca Sholawat Wahidiyah seluruh-nya, boleh membaca bagian-bagian mana yang sudah bisa dibaca lebih dahulu. Misalnya ; membaca Fatihah saja, atau membaca “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH” diulang berkali-kali selama kira-kira sama waktunya jika mengamalkan sholawat Wahidiyah secara lengkap, yaitu lebih kurang 30 menit. Kalau itupun belum mungkin, boleh berdiam saja selama waktu yang sama, dengan memusatkan hati dan perhatian (berkonsentrasi) kepada Alloh SWT, dan memuliakan serta menyatakan rasa cinta semurni-murninya dengan rasa istihdlor di hadapan Junjungan kita Rosululloh SAW.

e.    Selesai 40 hari atau 7 hari, pengamalan supaya diteruskan. Bilangannya bias dikurangi sebagian atau seluruhnya, namun lebih utama jika diperbanyak. Boleh mengamalkan sendiri-sendiri, akan tetapi berjamaah bersama keluarga dan masyarakat sekampung dianjur-kan. Para Pengamal Wahidiyah dianjurkan seringkali mengulangi pengamalan 40 hari atau diringkas menjadi 7 hari, sendirian atau berjama’ah se keluarga / se kampung / se lingkungan. Syukur kalau setiap khatam diulangi lagi dan seterusnya.

f.     Wanita yang sedang udzur cukup membaca sholawatnya saja tanpa membaca Fatihah. Adapun Fafirruu ….. dan Waqul Jaa … “ boleh dibaca, sebab di sini dimaksudkan sebagai do’a.

PENTING :

Setiap Pengamal Wahidiyah dianjurkan ikut serta menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah tanpa pandang bulu, dengan ikhlas, bijaksana sesuai bimbingan Muallif Wahidiyah, antara lain sebagai berikut :

a)    Memberikan keterangan tentang faedah dan dasar Sholawat Wahidiyah disertai penjelasan tata-cara pengamalannya, seperti dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah

b)    Memberikan dorongan agar segera mengamalkan Mujahadah 40 hari atau 7 hari, dengan sendiri atau berjama’ah. Usahakan mendampingi beberapa hari atau sampai khatam.

c)    Memberitaukan dan mengarahkan kepada pengurus PSW setempat / terdekat untuk pembinaan selanjutnya.

AUROD MUJAHADAH LEMBARAN

 

 

 


2. MUJAHADAH YAUMIYAH (HARIAN)

  1. Mujahadah Yaumiyah adalah mujahadah yang dilaksanakan setiap hari oleh Pengamal Wahidiyah paling sedikit satu kali dalam sehari semalam dengan urutan bacaan seperti dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah dan hitungannya boleh ditetapkan, ditambah, atau dikurangi sebagian atau seluruhnya
  2. Disamping menurut pilihannya sendiri seperti di atas sangat dianjurkan menggunakan Aurod MUJAHADAH BILANGAN 7-17. Boleh dilaksanakan sendiri-sendiri akan tetapi berjama’ah se keluarga, se lingkungan atau se kampung, sangat dianjurkan.

c.    Pelaksanaannya tidak ditentukan pada salah satu waktu. Boleh siang, malam, sore atau pagi hari. Lebih utama bila memilih waktu yang sekiranya bisa melaksanakan secara rutin (istiqomah), misalnya sehabis sholat Magrib.

ANJURAN :

  1. Para Pengamal Wahidiyah supaya melaksanakan Mujahadah Menjelang Shubuh, sendiri-sendiri atau berjama’ah. Sebelum-nya didahului sholat witir sedikitnya 3 roka’at (seperti lazimnya dilakukan sehabis sholat tarowih di bulan Romadlon).

b.    Para Pengamal Wahidiyah supaya membiasakan diri melaksanakan sholat sunnat qobliyah, ba’diyah dan sholat berjama’ah.

c.       Sehabis mendengarkan adzan jangan langsung membaca puji - pujian / tasyafu’an tetapi hendaknya melaksanakan sholat sunnat qobliyah lebih dahulu.

Sholat sunnah ba’diyatal Maghrib supaya dilaksanakan setelah salam dari sholat Maghrib kemudian baru membaca wirid dan Mujahadah

 


3. MUJAHADAH KELUARGA

a.       Mujahadah Keluarga adalah Mujahadah Wahidiyah yang dilakukan dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga dari pengamal Wahidiyah dengan berjama’ah. Apabila situasi mengizinkan dianjurkan agar dilaksanakan setiap hari satu kali, Setidak-tidaknya 3 hari atau seminggu sekali.

b.       Mujahadah Keluarga supaya diusahakan sebagai kegiatan rutin dalam rumah tangga.

c.       Yang menjadi imam dalam Mujahadah Keluarga seyogja-nya bergantian antara bapak, ibu, anak dan anggota keluarga yang lain. Aurod, sebaiknya menggunakan bilangan 7-17 satu kali atau lebih (melihat situasi dan kondisi).

d.       Diharapkan dengan Mujahadah Keluarga tercipta keluarga yang damai, penuh berkah, tenteram, jauh dari murka Alloh , dan terhindar dari saling menuntut besuk hari qiamat sebagimana firman-Nya :

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوآ أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ……

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluarga-mu dari api neraka ... (Q.S.-  At-Tahrim : 6)

Dan firman-Nya ;

فَاِذاَ جَاءَتِ الصّآخَة ' يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِ ' وَاُمِّهِ وَاَبِِيْهِ ' وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيْهِ ' (80 عبس 33-34-35-36 )

“Maka apabila datang suara yang memekikkan (tiupan sengkala yang kedua), pada hari ketika seseorang lari dari saudaranya, dari Ibu dan Bapaknya, dari istri dan anak-anaknya”. (Q.S 80-‘Abbas : : 33,34,35,36)

 

4. MUJAHADAH USBU'IYAH (MINGGUAN)

a.    Mujahadah Usbu’iyah adalah mujahadah yang dilaksanakan secara berjama’ah tiap seminggu sekali oleh Pengamal Wahidiyah se desa / kelurahan / lingkungan. Penyelenggara / penanggungjawabnya adalah Pengurus PSW Desa / Kelurahan.

b.    Di desa, kampung, atau lingkungan yang sudah ada pengamal Wahidiyahnya sekalipun hanya beberapa orang / keluarga supaya mengadakan Mujahadah Usbu’iyah sendiri. Tidak hanya bergabung dengan desa / kampung lainnya.

c.    Tempat Mujahadah Usbu’iyyah boleh menetap di suatu tempat, akan tetapi lebih dianjurkan berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Antara lain seperti sabda Rosululloh SAW2.

زَيِّنُوْا مَجَالِسَكُمْ بالصَّلاَةِ عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ عَلَيَّ نُوْرٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ في مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ)

“Hiasilah ruang tempat duduk kamu sekalian dengan bacaan sholawat kepadaku, maka sesungguhnya bacaan sholawat kalian kepadaku itu menjadi cahaya pada hari qiyamat”.(HR. Dailami dalam kitab Musnadil-Firdaus, dari Ibnu Umar Ra.)

d.    Berangkat menuju tempat Mujahadah Usbu’iyah sayogjanya bersama-sama dengan teman lain. Sehingga saling menying-gahi (Jawa : ngampiri) satu sama lain.

e.    Jika situasi mengizinkan supaya diadakan sendiri-sendiri :

-       Mujahadah usbu’iyah kaum bapak,

-       Mujahadah usbu’iyah kaum ibu,

-       Mujahadah usbu’iyah remaja dan

-       Mujahadah usbu’iyah kanak-kanak

Jika belum mungkin usahakan seluruh pengamal Wahidiyah desa, sekampung, atau lingkungan, baik kaum bapak, ibu, remaja, dan kanak-kanak aktif mengikuti Mujahadah Usbu’iyah bersama-sama.

f.     Sebelum pelaksanaan Mujahadah Usbu’iyah supaya diadakan persiapan lahir batin sebaik-baiknya.

g.    Imam Mujahadah Usbu’iyah supaya bergilir dari kalangan peng-amal Wahidiyah se desa, se kampung, atau lingkungan, baik pria, wanita, remaja dan kanak-kanak.

h.    Aurad Mujahadah Usbu’iyah seharusnya menggunakan bilangan 7 – 17 atau menggunakan Aurod Mujahadah lain dengan ketentuan disepakati seluruh jama’ah, atau ada ketentuan lain dari DPP PSW.

i.      Mujahadah Usbu’iyah tidak harus menghadap ke arah kiblat tetapi juga tidak dilarang. Lazimnya bermuwajahah (saling ber-hadapan), dan Insya Alloh cara seperti ini ada ciri-ciri khusus dan banyak manfaatnya, antara lain bisa terjadi sorot-menyorot bathiniyah antara satu dengan yang lain.

Mujahadah berjamaah yang lazimnya menghadap ke arah qiblat antara lain ; mujahadah sehabis sholat maktubah / sholat sunnat, atau mujahadah yang bertempat di masjid / musholla atau jika ada suatu kepentingan. Adapun mujahadah perorangan (sendirian) lebih utama jika menghadap ke arah qiblat, kecuali situasi tidak mengizinkan.

j.      Yang sudah hadir lebih dahulu, sambil menunggu kehadiran yang lain supaya langsung “tasyafu’an” bersama-sama dengan adab yang sebaik-baiknya..

k.    Jika Mujahadah sudah akan dimulai, tasyafu’an diakhiri dengan “Al-Faatihah” (membaca surat Fatihah bersama satu kali) atau membaca “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOOH” bersama-sama tiga kali, diteruskan dengan bacaan “YAA AYYUHAL GHOUTSU SALAAMULLOOHI” (dilagukan satu kali, kemudian membaca ”AL-FAATIHAH” satu kali.

Selanjutnya pimpinan / Imam jama’ah, wakilnya atau yang ditugasi, segera memberitahukan dan mengajak hadirin hadirot untuk segera memulai mujahadah dan mempersilah-kan kepada petugas Imam Mujahadah yang telah ditentukan.

Contoh :  Para hadirin hadirot ! Mujahadah Usbu’iyah ini mari segera kita mulai. Dan mari kita berusaha menerapkan LILLAH BILLAH, LIRROSUL BIRROSUL, LILGHOUTS BILGHOUTS,  Kepada yang bertugas sebagai imam mujahadah, Bapak / Ibu / sdr………..…. disilahkan.

l.      Urutan acara dalam Mujahadah Usbu’iyah :

1.    Tasyaffu’ dan Istighotsah;

2.    Mujahadah bilangan 7-17;

3.    Dianjurkan mengadakan pembacaan buku-buku Wahidiyah, atau lain-lain sesuai keperluan.

4.    Penutup / nidak.

m.  Pembaca buku-buku Wahidiyah atau lain-lain dalam Mujahadah Usbu’iyah bisa dari lingkungan jama’ah sendiri.

n.    Pelaksanaan Mujahadah Usbu’iyah Kanak-Kanak, lihat buku “TUNTUNAN MUJAHADAH UNTUK KANAK-KANAK”.

5. MUJAHADAH SYAHRIYAH

a.    Mujahadah Syahriyah adalah Mujahadah Wahidiyah yang  dilaksanakan secara berjama’ah setiap bulan sekali, oleh Pengamal Wahidiyah se-kecamatan.

b.    Penyelenggara dan penanggungjawabnya adalah Pengurus PSW Kecamatan dan dapat menunjuk / membentuk Panitia Pelaksana.

c.    Penyelenggaraan Mujahadah Syahriyah harus diberitaukan secara tertulis kepada MUSPIKA, KUA dan DPC PSW setempat.

d.    Mujahadah Syahriyah dilaksanakan dalam bentuk seremonial (Acara Wahidiyah) dengan tema disesuaikan situasi dan kondisi saat itu.

e.    Mujahadah Syahriyah diikuti secara bersama-sama oleh Pengamal Wahidiyah se kecamatan. Sayogjanya mengundang pengamal / Penyiar Wahidiyah Kecamatan terdekat, tetangga, simpatisan, pejabat pemerintah, dan tokoh-tokoh agama / masyarakat setempat.

  1. Seksi Pembina Wanita, Pembina Remaja, Pembina Kanak-kanak, dan Pembina Mahasiswa, boleh menyelenggarakan sendiri-sendiri dengan sepengetahuan PSW Kecamatan, dan bisa dilaksanakan bersama-sama dengan penanggung jawab acara bergantian.

g.   Pembiayaan Mujahadah Syahriyah menjadi tanggung jawab bersama seluruh Pengamal Wahidiyah se-kecamatan dengan pengedaran Lis Khusus / Umum atau cara-cara lain yang sah, halal, dan tidak mengikat.   

h.    Untuk lebih tertibnya PSW Kecamatan supaya membuat jadwal Mujahadah Syahriyah per tahun dan berkordinasi dengan DPC PSW.

i.     Sebelum hari pelaksanaan Mujahadah Syahriyah supaya diadakan mujahadah penyongsongan. Dilaksanakan terutama oleh Pengurus PSW Kecamatan, para imam jama’ah dan umumnya pengamal Wahidiyah sekecamatan, utamanya jama’ah yang ketempatan. Dan supaya diadakan pula Muajahadah Khusus Nonstop.

Aurad Mujahadah penyongsongan menggunakan bilangan 7-17 dan aurod mujahadah nonstop menggunakan Aurod Mujahadah Peningkatan dan bisa ditambah Aurod Mujahadah Penyiaran

  1. Kerangka acara dalam Mujahadah Syahriyah antara lain :

1)    Pembukaan

2)    Pembacaan ayat suci Al-Qur’an (Tilawatil Qur’an)

3)    Muqoddimah Sholawat Wahidiyah

4)    Prakata panitia

5)    Sambutan-sambutan :

a. Pimpinan DPC PSW setempat.

b. Kepala desa yang berketempatan

c.  MUSPIKA / Ulama.

6)    Kuliah Wahidiyah dan Mujahadah

7)    Penutup dan nida’

Catatan :

D  Melihat situasi dan kondisi bisa ditambah terjemah Al-Qur’an, deklamasi / puisi Wahidiyah atau bacaan Tahlil.

D  Jika situasi memungkinkan Mujahadah dalam “Kuliah Wahidiyah” terakhir menggunakan bilangan 7-17.

k.. Bagi Pengamal Wahidiyah yang udzur / tidak bisa hadir supaya melaksanakan mujahadah di tempat masing-masing dengan niat makmum.

l. Apabila karena suatu udzur tidak bisa dilaksanakan secara seremonial maka PSW Kecamatan supaya mengadakan Gerakan Mujahadah Serempak oleh seluruh Pengamal Wahidiyah se kecamatan di tempat atau jama’ah masing-masing pada saat yang ditentukan dengan disertai mujahadah penyongsongan seperti di atas.

m. Jika Mujahadah Syahriyah berdekatan dengan Mujahadah Rubu’ussanah yang bertempat di suatu PSW Kecamatan, maka Mujahadah Syahriyah tersebut dilaksanakan dengan Mujahadah serempak seperti di atas.

n. Dari beberapa kali pelaksanaan Mujahadah Syahriyah dalam satu  tahun supaya disertai Up-Grade / Diklat / Panataran Wahidiyah.

6. MUJAHADAH RUBU'USSANAH

a.     Mujahadah Rubu’ussanah adalah Mujahadah Wahidiyah yang  dilaksanakan secara berjama’ah setiap 3 bulan sekali, oleh Pengamal Wahidiyah se-kabupaten / kota..

b.    Penyelenggara dan penanggungjawabnya adalah DPC PSW dan dapat menunjuk / membentuk Panitia Pelaksana.

  1. Penyelenggaraan Mujahadah Rubu’ussanah harus diberitaukan secara tertulis kepada MUSPIDA, Depag, DPW PSW setempat dan DPP PSW.

d.     Mujahadah Rubu’ussanah dilaksanakan dalam bentuk seremonial (Acara Wahidiyah) dengan tema disesuaikan situasi dan kondisi saat itu.

  1. Mujahadah Rubu’ussanah diikuti secara bersama-sama oleh Pengamal Wahidiyah se kabupaten / kota. Sayogjanya mengundang pengamal / Penyiar Wahidiyah kabupaten / kota terdekat, simpatisan, pejabat pemerintah, dan tokoh-tokoh agama / masyarakat.
  2. Badan Pembina Wanita, Pembina Remaja, Pembina Kanak-kanak, dan Pembina Mahasiswa, boleh menyelenggarakan sendiri-sendiri dengan sepengetahuan DPC PSW, dan bisa dilaksanakan bersama-sama dengan penanggung jawab acara bergantian

g.    Pembiayaan Mujahadah Rubu’ussanah menjadi tanggung jawab bersama seluruh Pengamal Wahidiyah se- kabupaten / kota dengan pengedaran Lis Khusus / Umum atau cara-cara lain yang sah, halal, dan tidak mengikat.  

h.    Untuk lebih tertibnya, DPC PSW supaya membuat jadwal Mujahadah Rubu’ussanah menyesuikan jadual waktu pelaksanaan Mujahadah yang diterbitkan oleh DPP PSW.

i.      Sebelum pelaksanaan Mujahadah Rubu’ussanah supaya diadakan mujahadah penyongsongan sekurang-kurangnya tujuh hari. Dilaksanakan terutama oleh Pengurus PSW Kabupaten / kota, PSW Kecamatan, PSW Desa, para imam jama’ah dan umumnya pengamal Wahidiyah se kabupaten / kota. Dan diadakan Muajahadah Khusus Nonstop sekurang-kurangnya tiga hari sebelum pelaksanaan di setiap jama’ah dan sehari semalam di sekitar lokasi acara.

Aurad Mujahadah penyongsongan menggunakan bilangan 7-17 dan aurod mujahadah nonstop menggunakan Aurod Mujahadah Peningkatan dan Aurod Mujahadah Penyiaran . Dalam Mujahadah Penyongsongan di atas bisa ditambah bacaan : WAFII HAADZIHII MUJAAHADATI RUBU’ISSANAH YAA ALLOOH setelah bacaanALLOOHUMMA BAARIK…”  Bilangannya minimal 7 kali.

  1. Kerangka acara dalam Mujahadah Rubu’ussanah sama dengan acara Mujahadah Syahriyah. Hanya saja sambutan-sambutannya disesuaikan (Lihat Petunjuk Acara-Acara Wahidiyah)

k.. Bagi Pengamal Wahidiyah yang udzur / tidak bisa hadir supaya melaksanakan mujahadah di tempat masing-masing dengan niat makmum.

l. Apabila karena suatu udzur tidak bisa dilaksanakan secara seremonial maka DPC PSW supaya mengadakan Gerakan Mujahadah Serempak oleh seluruh Pengamal Wahidiyah se kabupaten / kota di tempat atau jama’ah masing-masing pada saat yang ditentukan dengan disertai mujahadah penyongsongan seperti di atas.

m.Jika Mujahadah Rubu’ussanah berdekatan dengan Mujahadah Nisfussanah yang bertempat di suatu DPC PSW, maka Mujahadah Rubu’ussanah tersebut dilaksanakan dengan Mujahadah serempak seperti di atas.

n. Dari beberapa kali pelaksanaan Mujahadah Rubu’ussanah dalam satu  tahun supaya disertai Up-Grade / Diklat / Panataran Wahidiyah / sarasehan Pengurus.

 

5. MUJAHADAH RUBU'USSANAH

i. Bagi Pengamal Wahidiyah di kabupaten / kota tersebut jika terpaksa (karena udzur) tidak bisa hadir di arena Mujaha-dah Rubu’ussanah supaya melakukan mujahadah dengan bilangan 7-17 tiga kali khataman di tempat masing-masing dengan niat makmum.

j. Apabila karena udzur tidak bisa melaksanakan Mujahadah Rubu’ussanah dengan seremonial (Acara / Resepsi) Pengurus DPC PSW yang bersangkutan supaya mengadakan Gerakan Mujahadah Serempak yang dilakukan oleh seluruh Pengamal Wahidiyah se kabupaten/kota di tempat atau jama’ah masing-masing pada saat yang ditentukan sebagai pelaksanaan Mujahadah Rubu’ussanahnya, dengan disertai mujahadah penyongsongan seperti di atas. Dengan demikian tidak ada alasan bagi DPC PSW untuk tidak melaksanakan Mujahadah Rubu’ussanah.

Bagi DPC PSW yang akan ditempati Mujahadah Nisfussanah dan waktunya berdekatan dengan pelaksanaan Mujahadah Rubu‘ussanah maka Rubu’ussanahnya supaya menggunakan cara Gerakan Mujahadah Serempak di atas.
Comments