Pengalaman Memiliki Keris


Halaman ini adalah untuk memuat tulisan-tulisan yang dikirimkan kepada kami (artikel oleh penulis lain) sebagai wahana untuk menambah pengetahuan dan
memperluas sudut pandang kita. 













Willy H :



Pada forum ini saya mencoba untuk menulis tentang pengalaman dan pemikiran saya tentang keris. Mudah-mudahan dapat menjadi sumbangan pemikiran untuk perkembangan budaya keris.

Saya termasuk yang awam mengenai kegaiban perkerisan, namun ketertarikan akan keris mendorong saya untuk memilikinya. Saya pernah memiliki sampai + 20 buah keris. Namun kini saya hanya menyimpan beberapa saja, karena beberapa diantaranya telah saya pindahtangankan kepada beberapa teman dekat saya.

Sebelum memulai mengkoleksi keris, saya berusaha mencari pengetahuan tentang keris, baik dari buku-buku, pendapat para kolektor, pedagang, bahkan sampai ke seorang mantan empu pembuat keris di Jakarta.

Perasaan gundah dalam mengkoleksi keris muncul pada saat saya pertama kali mengkonsultasikan keris saya di suatu acara jamasan keris di Jakarta yang diprakarsai oleh sebuah koran nasional. Pada saat itu, oleh si penayuh keris, 3 keris yang saya bawa dikatakannya keris baru semua (bukan keris tua). Bahkan ada juga pengunjung yang membawa sampai 20 keris dan olehnya dikatakan semuanya "barang" baru. Dan sepertinya si penayuh mengisyaratkan bahwa keris-keris saya tersebut tidak layak untuk dikoleksi. Dan dia menyarankan agar saya lebih banyak berpuasa agar dapat berjodoh dengan keris yang layak dikoleksi.

Lalu keris yang bagaimana yang layak untuk saya koleksi ?

Cukup banyak kolektor keris yang berpendapat bahwa keris yang sesungguhnya dalam pemahaman budaya Jawa adalah keris jenis tayuhan. Maka sangat disarankan untuk menggunakan jasa ahli tanjeg (seseorang yang mampu mengetahui asal usul dan tuah dari suatu keris)  dan ahli tayuh (seseorang yang mampu berkomunikasi secara spiritual dengan subyek keris), sebelum kita memutuskan untuk mengkoleksi sebuah keris.

Pengalaman yang saya alami tersebut di atas membuat saya tidak puas, dan masih banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya mengenai keris-keris saya tersebut. Saya juga menanyakan pertanyaan yang sama kepada beberapa orang yang saya anggap mengerti tentang keris. Jawabannya ternyata tidak seragam, satu dengan yang lainnya tidak sama jawabannya. Jadi sulit bagi saya untuk berpegang kepada ahli tanjeg / tayuh yang mana yang seharusnya saya andalkan. Mana yang benar jawabannya dan mana yang tidak benar, saya bingung menentukannya. Mana yang benar ahli menayuh keris dan mana yang sekedar asal bisa, juga saya tidak tahu. Jika demikian kejadiannya, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah sepadan waktu dan biaya yang telah kita keluarkan untuk mendapatkan dan mengkoleksi keris-keris kita ataukah kita ternyata hanya mengkoleksi barang-barang yang tidak berharga.

Ada beberapa hal yang membebani pikiran saya, misalnya tentang tidak adanya standar seleksi (bersertifikat) untuk orang-orang yang layak kita datangi untuk kita mengkonsultasikan keris kita. Juga tentang tidak adanya standar nilai yang memadai tentang harga mahar sebuah keris. Seandainya pemerintah mau turun tangan dengan membuat sebuah lembaga pegadaian / penilai keris (tentunya dibiayai oleh APBN), mungkin apresiasi masyarakat tentang keris akan berbeda. Yang kedua, budaya masyarakat pada masa keris mencapai jaman keemasannya tentunya amat berbeda dengan budaya masyarakat saat ini, karena pengaruh perubahan jaman dan kebiasaan masyarakat, perubahan sudut pandang, pengaruh dari ajaran agama, dan sebagainya.

Hal ini mengakibatkan sulitnya memahami budaya keris dengan menggunakan kaca mata budaya yang berkembang saat ini. Apakah masih relevan kita mengkoleksi keris di masa sekarang ini? Misalnya saja kita menyimpan keris di rumah. Mungkin ada saja orang yang mengatakan bahwa kita "klenik".  Atau kita ingin membawa keris ke sesuatu tempat. Kita mungkin akan merasa khawatir nanti akan ditangkap oleh polisi karena dianggap membawa senjata tajam di tempat umum. Atau bagaimana jika kita ingin berangkat kerja, atau menghadiri seminar, atau berpidato di tempat umum, dengan menyandang keris sebagai salah satu bagian kelengkapan berpakaian atau sebagai piyandel ?

Dari beberapa pemikiran tersebut di atas saya merasa pesimis. Walaupun keris telah diakui sebagai salah satu warisan budaya yang berasal dari Indonesia, namun dalam perkembangan di masa mendatang sepertinya keris akan kurang mendapat tempat di masyarakat Indonesia itu sendiri, dan jika kita peduli, maka sebaiknya negara turut campur tangan dalam permasalahan ini.





--------------
 











Comments