Halaman ini adalah untuk memuat tulisan-tulisan yang dikirimkan kepada kami (artikel oleh penulis lain) sebagai wahana untuk menambah pengetahuan dan
memperluas sudut pandang kita.  











Willy H :




Nguri-Uri Budaya Keris



I.

Berawal dari pengalaman saya ketika sedang bertamu ke rumah seorang rekan dan pembicaraan berlanjut karena memiliki hobby yang sama. Dari koleksi barang antik, karakteristik seni hingga keris. Pembicaraan seputar keris memang tidak pernah ada habisnya, hingga pada kelanjutannya ia memperlihatkan beberapa koleksi miliknya. Satu hal yang amat membingungkan saya, mengapa setiap melihat sebuah keris milik orang lain dari timbul rasa kagum hingga rasa ingin memiliki akan selalu terbersit dalam hati.

Dan pembicaraan berlanjut kepada pertanyaan klise yang mendasar, apakah alasan anda mengkoleksi keris ? Dan ia menjawab dengan sangat diplomatis “nguri-uri budaya”.

Lalu diskusipun berlanjut seputar nguri-uri budaya jawa, khususnya budaya keris. Namun pada saat
saya diperlihatkan koleksi miliknya yang lain, terbersit kekecewaan di wajahnya pada saat saya berpendapat bahwa koleksi milknya yang lain adalah produk baru. Apakah mengkoleksi keris produk baru termasuk nguri-uri budaya? Bagaimana dengan anggapan keris sebagai komoditi yang memiliki nilai ekonomis ?  Pada akhirnya kembali lagi pada konsep pemahaman bahwa budaya keris ini hendak dibawa kemana ?  Berawal dari nguri-uri budaya, hasil karya yang memiliki nilai ekonomis, sampai dengan istilah keblondrok (keris produk baru yang dibuat seolah-olah keris lama), belum lagi pada perilaku membuang keris ke sungai atau dihibahkan begitu saja kepada orang lain karena anggapan minor terhadap keris.

Hal-hal tersebut merupakan gambaran nyata dalam perkembangan budaya keris nasional dewasa ini. Nilai-nilai ideal diperlukan dalam pemahaman mendasar tentang konsep budaya keris nasional saat ini. Pemahaman mendasar tentang budaya keris nasional hendaknya lahir bukan berdasarkan kompromi politik yang muncul dari warung kopi, tapi hendaknya dari debat filosofi yang mendasar agar tujuan nguri-uri budaya dapat tercapai di masa sekarang yang akan diwariskan nantinya kepada generasi mendatang.


II.

Pertanyaan mendasar hendaknya selalu menyertai, apakah alasan saya untuk mengkoleksi keris? Hal ini diperumpamakan dengan pertanyaan seorang empu keris yang selalu akan menanyakan kepada calon pemesan, apakah alasan anda memesan dibuatkan sebuah keris. Dari kesepahaman hingga muncul adanya kesepakatan antara sang empu dengan pemesan, merupakan hal awal yang menentukan dari hasil karya keris tersebut.

Hal serupa juga diperlukan dalam hal hendak mengkoleksi sebuah keris, misalnya hendak mengkoleksi sebuah keris ageman untuk keperluan upacara perkawinan, hendaknya memilih keris yang layak disandang, misalnya jika menggunakan adat yang lebih condong ke Yogya, hendaknya jangan menggunakan keris dengan langgem Solo. Demikian juga perabotannya, karena dipakai sebagai aksesoris perlengkapan adat, hendaknya keris yang dipakai mencerminkan status sosial dari yang menyandangnya, dari perabot pendok berbahan emas hingga untaian berlian pada bagian mendaknya.

Hal ini diperumpamakan jarang sekali seseorang memasang / memadukan batu berlian dengan emban cincin berbahan tembaga. Seseorang yang dianggap tokoh dari keluarga besar hendaknya diperlakukan sesuai dengan perabot pakaian adat yang melengkapinya. Namun tidak dapat dipungkiri alasan-alasan lain seseorang untuk mengkoleksi sebuah keris hanya berdasarkan alasan nilai-nilai ekonomis saja, hal ini adalah sah-sah saja.

Lain halnya jika kita ingin mengkoleksi sebuah keris yang diharapkan tuahnya. Dalam hal ini hendaknya berawal dari keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Mengapa kejujuran sebagai langkah awal ?

Beberapa cara telah banyak diuraikan dalam menayuh keris, dari melalui mimpi hingga dengan cara mengajak berkomunikasi dengan keris tersebut. Namun tuah keris tidaklah sama dengan anggapan keris isi dan keris kosong. Dalam hal ini suatu kejujuran secara totalitas diperlukan. Pengertian tuah dalam pengertian kamus besar bahasa Indonesia adalah sakti, keramat, berkat (pengaruh) yang mendatangkan keuntungan (kebahagiaan, keselamatan, dan sebagainya) atau dapat juga diartikan keistimewaan, keunggulan. Jenis keris tayuhan merupakan suatu hasil karya yang luar biasa (master piece) dari empu yang  membuat  dan orang yang memesannya. Dengan kata lain proses pembentukan keris tersebut merupakan reaksi dari permohonan pihak-pihak yang berkepentingan atas alasan pembuatan keris tersebut.

Sebagai ilustrasi, maka saya menggambarkan demikian, pada saat saya berkunjung ke rumah seseorang di daerah Jawa Tengah. Pemilik rumah bercerita: pada suatu hari beliau hendak menonton wayang kulit  yang lokasinya cukup jauh dari rumahnya dan ia membawa keris koleksi orang tuanya tanpa izin terlebih dahulu. Namun setelah ia berada disana ia memutuskan untuk pulang lebih dahulu sebelum acara pagelaran wayang kulit tersebut selesai.

Dalam perjalanan ke rumah ia terkejut karena bertemu dengan seekor macan yang menghadang jalan yang akan dilaluinya, dan ia memutuskan untuk menunggu hingga macan tersebut pergi. Saat ia melanjutkan perjalanan ke rumah rasa ketakutan bertambah karena ia bertemu dengan macan itu lagi, setelah ia menunggu maka pada pertemuan ketiga dengan macan tersebut ia memutuskan untuk mengambil jalan berputar sambil berlari hingga ia masuk ke dalam rumah dengan rasa ketakutan yang luar biasa.

Pada saat ayahnya melihat anaknya dalam kondisi tersebut ia memberikan minum kepada anaknya dan bertanya. Setelah mendengar cerita pengalaman anaknya tersebut, maka ayahnya pun tertawa, “Oh ya tentu saja, kamu telah membawa keris ini, keris ini bersifat melindungi pemiliknya dalam perjalanan, jika ada marabahaya di depan jalan, maka ia akan melindungi sang pemilik dari bahaya tersebut.” Setelah beliau wafat, saya sempat membawa keris yang dimaksud beliau, keris tersebut berdapur tilam upih dengan pamor wos wutah seperti belang-belang macan, namun saya tidak dapat memperkirakan tangguhnya.

Dari cerita tersebut maka saya berpendapat bahwa tuah keris sangatlah sulit untuk dibuktikan, karena untuk mengetahui tujuan dibuatnya keris tersebut secara kebetulan sang pemilk berada pada situasi yang dimaksud dari alasan keris tersebut dibuat. Jika ada aksi maka keris tersebut bereaksi. Lalu kembali kepada pertanyaan, apakah setelah keris tersebut berada di penguasaan saya layak untuk saya miliki ? Dalam hal ini penafsiran mengambil peran penting, suatu kejujuran diperlukan untuk menafsirkannya, ketidak hati-hatian dalam menafsirkan akan berakibat fatal, karena reaksi dari keris tersebut dapat berakibat positif atau negatif kepada yang memegangnya. Bersikap jujur pada diri sendiri dan juga terhadap orang lain akan mempermudah kita memperkirakan kemungkinan–kemungkinan tuah keris tersebut, lalu dapat dilakukan pembuktian-pembuktian terhadap situasi yang dimungkinkan dari alasan keris tersebut di buat.

Mungkin kita bisa memperkirakan pembedaan antara keris tayuhan dan keris ageman, namun perlukah calon pemilik menggunakan jasa seorang ahli tanjeg dalam menayuh keris ? Ada pepatah yang mengatakan seseorang tidak dapat meniup matanya sendiri, maka ia memerlukan orang lain untuk melakukannya. Sehubungan tuah keris lebih mengarah kepada sesuatu yang mistis atau rahasia, maka diperlukan orang lain untuk menafsirkannya.

Tujuan utama untuk menayuh keris adalah untuk mengetahui apakah keris tersebut selaras dengan jalan hidup calon pemiliknya. Dalam hal ini saya perumpamakan menayuh keris menurut bataljemur adammakna, silangkan di tanah garis dari utara ke selatan dan dari barat ke timur dengan mantera:  yahoa. Lalu keris dikeluarkan dari sarungnya dan diberikan kemenyan dan bunga dengan membaca mantera, kemudian keris ditaruh di tanah mengarah ke utara dan tanah tersebut diberi bunga. Setelah beberapa saat keris kembali disarungkan dan pada malam harinya letakkan di bawah bantal. Jika pada malam harinya kita mendapatkan petunjuk dari mimpi, maka sangatlah sulit kita mengartikan jalannya mimpi tersebut. Kejujuran dan obyektifitas sangatlah menentukan untuk menuju pembuktian. Maka penggunaan ahli tanjeg bersifat sebagai penyeimbang agar obyektifitas dalam menafsirkan dapat lebih mendekati.



III.


Jika kita mencoba menguri-uri budaya, maka ada baiknya untuk membahas apa saja yang dimaksud bagian dari budaya tersebut dimana keris merupakan bagian dari budaya tersebut. Pengertian budaya dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah 1 pikiran; akal budi: hasil --; 2 adat istiadat: menyelidiki bahasa dan --; 3 sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yang berbudaya; 4 sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah.

Jika membicarakan budaya jawa maka tiada lain membicarakan kebiasaan-kebiasaan orang jawa pada masa keris mendapat masa kejayaannya. Ada pepatah yang mengatakan seorang pria Jawa akan mendapatkan akspetualitas dalam kedudukannya di masyarakat apabila ia telah memiliki rumah, isteri, kuda, perkutut dan keris. Bahwa cara hidup orang jawa yang memiliki kebiasaan memelihara kuda, burung perkutut dan mengoleksi keris tentunya ada alasan-alasannya. Tentunya alasan tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada waktu itu. Namun apakah ada saling keterkaitan antara kebiasaan mengkoleksi keris dengan kebiasaan-kebiasaan lainnya ?


                               

Bersambung ....




Comments