Related Topics


Halaman ini adalah untuk memuat tulisan-tulisan yang dikirimkan kepada kami (artikel oleh penulis lain) sebagai wahana untuk menambah pengetahuan dan
memperluas sudut pandang kita. 










Tulisan Sdr.  Willy Handoko :


Produk Keris masa kini,

sebuah karya seni murni atau terapan ?


Pada awal ingin mengetahui seluk beluk Keris maka saya mulai mencari-cari sebuah keris untuk dikoleksi. Sebelumnya pengetahuan tentang keris hanya dari cerita-cerita seputar keris dan dari bahan buku bacaan semata. Hingga akhirnya saya meminta sebuah keris dari seorang kenalan dan saya tukarkan dengan koleksi pribadi saya yang lain, jadi bersifat barter. Namun karena keterbatasan pengetahuan, keris yang baru saya peroleh tersebut atas saran teman, saya rendam di dalam larutan asam citrun, untuk menghilangkan karat di keris tersebut.

Namun alangkah terkejutnya saya, ketika dalam jangka waktu kurang lebih sepuluh menit bilah keris tersebut hancur pada bagian tepinya, maka rasa penyesalan pun melayang seiring dengan rusaknya sebagian bentuk bilah keris tersebut.

Tidak cukup disitu, saya berusaha mencari koleksi keris lainnya. Kali ini saya ingin yang istimewa, dan untuk itu saya mengeluarkan dana yang cukup lumayan bagi ukuran saya, dan akhirnya mendapatkan sebuah keris yang menurut pendapat saya memiliki estetika. Dari segi bahan materialnya, bobotnya, hingga bentuk luk dan pahatan "ada-ada"-nya dirasa pas, seimbang dan harmonis.

Sebagai seorang yang memiliki hoby baru maka rasanya kurang joss kalau ndak main ke rumah sesama penggemar bicara othak, athik mathuk yang berhubungan dengan keris, ia berpendapat, “ Wesi aji iku koyo anak perawan, kita wis gelem temenan lha sebaliknya dia malah temen ne lari kanginan…", hingga akhirnya sesi pembicaraan berlanjut dengan memperlihatkan keris yang baru saya peroleh kepada rekan tersebut. Pada waktu wilah diloloskan sedikit dari warangkanya, saat ia melihat sor-soran keris tersebut, saya merasa berseri melihat kekaguman rekan tersebut. Namun hal tersebut hanya terasa cuma 1 menit. Ketika keris tersebut diloloskan semua hingga bilahnya sang rekan berkomentar: "Yahh … keris baru".  Loh memangnya kenapa ? Apa ada yang salah ?  Dari mana anda berkesimpulan bahwa keris tersebut bikinan baru ?

Sebagian dari rekan-rekan yang pribadi penulis kenal, umumnya kurang merasa berkenan untuk mengkoleksi keris masa kini, karena umumnya setiap kolektor memiliki alasan yang berbeda-beda dalam mengkoleksi keris. Lalu bagaimanakah pekembangan keris masa kini di masa mendatang ?  Apakah hasil karya keris masa kini tidak dapat disejajarkan dengan keris yang dibuat pada masa lalu ?

Sebuah keris jika dilihat dari fungsinya secara visual tentunya sebuah senjata, hal ini berkaitan dengan status kejantanan seorang laki-laki. Namun seiring perkembangan budaya Jawa, peranan keris tentunya tidak hanya sebagai lambang kejantanan semata.

Dalam kisah novel silat karya SH Mintardja, ada sedikit gambaran tentang kehidupan orang Jawa pada masa lampau bahwa Keris merupakan bagian perlambang dari kejantanan, status kedudukan dan harapan yang akan merubah keadaan masa mendatang lebih baik. Dalam novel silat tersebut dikisahkan tentang tokoh seorang anak padukuhan yang telah dinyatakan hilang, yang cukup dengan memperlihatkan pusakanya saja, sudah dapat menjadi alat bukti yang kuat untuk menjelaskan status identitas jatidirinya. Jadi keberadaan pusaka tersebut mendapat pengakuan dan penghormatan yang tinggi dari pihak-pihak yang mempertanyakan statusnya.

Merupakan bagian erat dari budaya Jawa masa dulu (mungkin juga sampai sekarang), untuk mengkultuskan hal-hal yang berbau misteri. Bahkan budaya pengkultusan pun tidak hanya berlaku pada hal-hal yang berbau misteri, pengkultusan kepada seorang tokoh, kepada simbol-simbol tertentu kerap dilakukan karena dianggap tidak baik jika terkena tulahnya (kutukan). Suasana misteri pun lebih kental dalam pembicaraan othak, athik, mathuk. Seperti halnya yang pernah saya tanyakan kepada seorang rekan, “Apakah setiap keris dibuat untuk memenuhi sebuah harapan ?".  "Oh ya tentu saja tidak". "Lalu keris yang bagaimana yang dibuat untuk itu ?". "Ya keris yang ada itunya".  "Lah ya itunya apa ?".  "Ya itu !!! …"

Lalu bagaimana jadinya dengan keris yang dibilang bikinan baru tersebut. Rasanya tidak enak mengkoleksi sesuatu tetapi tidak mendapatkan apresiasi dari rekan-rekan.

Namun bagaimanapun juga keris baru tetap saja diproduksi, walaupun generasi berubah, budaya keris tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Dan tentunya hasil karya keris masa kini diharapkan akan semakin indah hasilnya. Salah satu alasan saya mengkoleksi sebuah keris adalah karena saya menganggap keris merupakan sebuah karya seni, dan keinginan mengkoleksinya semata-mata karena penghormatan atas karya seni tersebut.

Seni menurut Encylopaedia Britannica adalah penggunaan keahlian dan imajinasi dalam pembuatan benda-benda, lingkungan atau pengalaman-pengalaman yang mengandung keindahan dan dapat dirasakan oleh orang lain. Dan seni itu sendiri merupakan sesuatu yang hidup, ia dapat berevolusi menyesuaikan keadaan. Salah satu bentuk dari penerapan seni tersebut adalah seni rupa yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu seni murni, kriya dan desain. Seni murni mengacu kepada karya-karya yang hanya bertujuan pemuasan ekspresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitik beratkan pada fungsi dan kemudahan produksinya.

Lalu bagaimana dengan keris masa kini apakah merupakan suatu karya seni? Jika memang demikian mengapa sebagian rekan-rekan yang saya kenal masih ambigu jika menanggapi keris masa kini ?

Saya teringat ketika menonton tayangan berita di TV, dimana Komisi Pemberantas Korupsi, menangkap seseorang yang berada di luar negeri dan diduga melakukan tindak pidana korupsi. Sementara itu orang yang berada di sebelah saya berkomentar “ Wow sendalnya merk Crock, cuiiy !!! …”.  Saya baru mengerti beberapa minggu kemudian, ternyata hampir semua toko pusat perbelanjaan yang saya lewati memiliki koleksi jualan sendal Crock. Begitu antusiasnya masyarakat terhadap produk tersebut, lalu apakah sendal itu merupakan suatu produk yang mengandung nilai keindahan dan patut dinyatakan sebagai sebuah karya seni ?

Batasan keindahan dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu keindahan dari sudut pandang yang bersifat subyektif dan keindahan dari sudut pandang yang bersifat obyektif. Dalam fenomena sendal Crock tersebut, dapat dikatakan telah menyentuh rasa keindahan masyarakat luas, sehingga banyak orang yang membelinya, walaupun mungkin keindahan bukanlah satu-satunya alasan orang mau membeli sendal itu. Lalu bagaimana dengan keris masa kini yang baru lahir saja sudah hidup segan mati pun tak mau. Mungkinkah keris masa kini mendapatkan pengakuan sebagai hasil karya yang mengandung unsur keindahan?.  “Tentu saja dapat, kenapa tidak ? “.

Keris banyak menyedot perhatian karena banyak hal yang menyangkut mistis atau dapat dikatakan sesuatu yang misterius atau rahasia, ditambah lagi budaya othak, athik metuk tersebut maka makin lengkaplah sesuatu yang misterius tersebut, dan apakah sesuatu yang berbau mistis tidak mengandung unsur keindahan?

“ Pengalaman terindah yang pernah kita miliki adalah kegaiban. Ia adalah emosi yang mendasari keseluruhan karya seni dan ilmu pengetahuan yang sejati ” - Albert Einstein, The world as I see it, Living Philosophies, vol.84, pp 193-194., New York.

Konsep wilah keris dan ganja sering dikaitkan dengan konsep bersatunya bapa angkasa dan ibu pertiwi, diharapkan dari penyatuan tersebut lahirlah suatu kehidupan. Dalam peninggalan Candi Sukuh pun dikenal konsep lingga dan yoni. Namun dari manakah konsep ganja dan bilah ini berasal ?. Apakah hanya merupakan ekspresi karya seni sang Empu pembuat keris tersebut ?  Namun jika dilihat bahwa keris merupakan sebuah senjata, maka tidak salah untuk bersikap kritis, apakah ada tujuan tertentu sehingga sebuah keris dibuat secara demikian ?.  Ada juga keris yang dibuat tanpa menggunakan ganja, atau lebih dikenal dengan ganja iras, namun umumnya keris dengan ganja iras ditemukan dalam bentuk keris sajen. Jadi lebih dibuat penekanan fungsinya sebagai bagian dari sebuah ritual kepercayaan orang jawa pada masa itu. Namun untuk keris yang umumnya diwangking dibuat dengan ganja dan wilah keris terpisah.

Secara nalar mungkin dapat dikaitkan, bahwa pembuatan ganja pada keris ditujukan sebagai pengikat atau kancing antara bilah dengan deder keris, hal ini diperumpamakan dalam pembuatan pedang atau pisau di Jepang. Bahwa antara bilah pedang dengan gagang dibuatkan semacam cincin penahan atau pelindung agar bilah pedang memiliki kedudukan yang kokoh terhadap kedudukan gagang pedang. Jika asumsi ini dinyatakan benar, lalu bagaimana dengan konsep yoni dan lingga atau bapak angkasa dan ibu pertiwi. Dan jika sesuatu hal yang berhubungan dengan mistis keris telah terbongkar, sehingga tidak menjadi sesuatu yang rahasia lagi, akan hilangkah nilai keindahan keris tersebut ?

Konsep keindahan itu sendiri berubah-berubah karena amat tergantung dengan pengalaman batin manusia sehingga keindahan itu juga merupakan bagian dari suatu tindakan perenungan apakah yang dimaksud dengan keindahan tersebut ?

Perkembangan keris masa kini tersebut juga merupakan suatu tantangan renungan baik dari sudut karya seni murni maupun sendainya diterapkan dalam karya seni yang lebih mengutamakan fungsi dan tujuan dan kegunaan hasil karya seni tersebut.

Suatu ketika saya bertandang ke rumah seorang rekan yang kebetulan dia seorang seniman yang membuat keris. Dan pada saat ia memperlihatkan hasil karyanya, rasa keindahan dan takjub menyelimuti perasaan, bahwa pamor yang dibuat dalam bilah keris tersebut memiliki keteraturan yang sedemikian rupa sehingga membuat alur-alurnya demikian halus dan harmonis. Dan menurut pengakuannya ia memerlukan waktu selama 8 tahun untuk membuat bentuk pamor tersebut secara otodidak. Namun beliau mengaku tidak lagi membuat keris dan ia enggan untuk memberitahukan alasannya. Lalu bagaimana seandainya penerapan teknik pamor tersebut diterapkan dalam suatu karya seni kriya atau desain. Semisalnya pembuatan bagian senapan serbu dimana beberapa bagiannya dibuat dengan teknik berpamor. Bagaimana menyiasati biaya produksinya agar bisa terjangkau dan efisien. Dan sejauh manakah penerapan pamor tersebut memiliki nilai tambah terhadap fungsi senapan tersebut. Semisalnya akan daya tahan materialnya apakah menjadi lebih baik, bobot senapan dan tentunya nilai estetikanya.

Dari penerapan keris sebagai sebuah karya seni murni, maka esensi dari keindahan amat tergantung dari rasa keindahan dari seniman tersebut. Dan kajian renungan sang seniman akan keindahan tersebut merupakan suatu tantangan ke depan yang mau tidak mau harus dihadapinya.

" Jangan anda bertanya kepada pelanggan apa yang diinginkannya dan mencoba memberikan apa yang mereka mau. Pada saat anda membuatnya, mereka akan meminta sesuatu yang baru ” - Steve Jobs.





--------------










Comments