https://sites.google.com/site/thomchrists/test/Kebatinan%20dan%20Spiritual.jpg


   Ngobrol 2

   Kebatinan dan Spiritualitas Ketuhanan

 


Penulis menerima banyak pertanyaan dan keingintahuan dari para pembaca mengenai materi kebatinan dan spiritual tentang Tuhan dan ketuhanan dan sebagian dari mereka sudah juga menjalani sendiri laku kebatinan dan spiritual ketuhanan itu.

Sehubungan dengan itu
dengan ditambahkan ulasan dan editan seperlunya di halaman ini dipaparkan kembali sari-sari pemahaman Penuls tentang Tuhan dan ketuhanan dalam bentuk tanya jawab Penulis dengan pembaca yang sebelumnya sudah diungkapkan di halaman-halaman tanya jawab Penulis dengan pembaca.

Mudah-mudahan berguna untuk menambah pengetahuan dan kematangan kesepuhan kita.


____________






 A
:    
Sugesti langsung kepada Tuhan

Saya punya pendapat begini kangmas...
Kalau kita selalu terus tergantung kepada khadam kita agar memberikan tuahnya membantu berbagai urusan kita sehari-hari, sebenarnya keimanan kita kepada Allah, Tuhan Semesta Alam sedikit demi sedikit akan tereduksi. 
Kita sengaja maupun tidak sengaja membuka ruang dalam konsep berketuhanan kita bahwa makhluk selainNya dapat memberi pertolongan dan bantuan kepada kita. Hal mana yang seharusnya menjadi hak mutlak Allah. Kita seolah-olah menafikan peran Tuhan dalam menyelesaikan setiap persoalan kita.
Yang saya rasakan pada saat saya berkomunikasi dan sambat kepada khadam2 untuk meminta bantuan mereka, saya merasa selingkuh dengan ketauhidan saya. Saya merasa memalingkan wajah dari Gusti Allah yang Maha Pengasih, menoleh kepada hal lain yang notabene adalah ciptaanNya.

Sebenarnya beberapa khadam saya termasuk eyang leluhur saya sudah mengingatkan, agar selalu berdoalah dan memohon kepada Allah, kami hanya sekedar membantu dan jangan menyandarkan semuanya kepada kami.

Perbincangan dengan mereka mungkin terlalu panjang untuk saya tuliskan di sini, tapi kesimpulannya saya akan mulai belajar untuk terhubung, bersugesti dan bermunajat langsung kepada  'Pribadi' Gusti Allah.

Mohon dicek Kangmas, guru dan mentor kebatinan saya, beberapa hasil dari percobaan saya dalam upaya untuk bersugesti langsung kepada Tuhan :

1. Pagaran Diri

Saya bermunajat langsung kepada Tuhan untuk menurunkan selimut energi yang membungkus diri saya. Kekuatannya saya mohonkan 500 KRK, energinya padat, dan beraura positif serta baik untuk kesehatan dan metabolisme tubuh. Dalam permohonan tsb saya juga sampaikan walaupun kekuatannya hanya 500 KRK, tapi mampu menolak kekuatan gaib lain, termasuk tipu daya sukma manusia berkekuatan tinggi yang mencoba masuk.

2. Pagaran Gaib Tempat Usaha

Tempat usaha saya ini sebelumnya sudah ada pagaran gaib dari khadam. Dalam percobaan ini saya memohon kepada Tuhan untuk menurunkan energinya sebesar 50 KRK, yang dalam imajinasi saya berbentuk gapura bergaris lengkung. Dari gapura ini terpancar energi radius 100 meter untuk penarik calon pembeli. Pagaran gapura ini juga sebagai filter untuk menangkal pengaruh buruk, dan gangguan jahat makhluk2 gaib. 
Sugesti saya juga agar gapura ini tidak merubah pagaran gaib yang sudah terbentuk sebelumnya.

Mohon koreksinya kangmas atas dua percobaan saya ini, karena jika berhasil saya akan mencoba lebih lanjut untuk larut dalam penyatuan dengan Tuhan dalam mencari solusi setiap permasalahan hidup.


Akurasi Ilham dan Petunjuk

Mohon pembabarannya kangmas, manakala kita kontak batin dengan sedulur papat untuk mencari solusi suatu permasalahan maka akan terbayang gambaran atau ilham bahkan bisikan dalam benak kita. Beberapa kali ilham atau gambaran batin itu ketika coba saya terapkan adalah jawaban yang tepat. 

Beberapa kesempatan ketika saya dihadapkan pada pilihan2 untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat dalam berbisnis, saya libatkan sedulur papat. Ide atau ilham yang mengalir dari sedulur papat itu kadangkala adalah solusi yang tepat dan menguntungkan. Tapi beberapa kali juga saya mengalami salah langkah sehingga mengalami kerugian dan kegagalan setelah mengambil keputusan menuruti ide atau ilham itu.

Beberapa saat setelah kegagalan itu saya hening lagi untuk kontak batin dengan sedulur papat, dan jawaban darinya adalah bahwa yang terbayang atau ilham itu adalah nafsu saya sendiri. Berarti dasar pengambilan keputusan saya saat itu adalah nafsu.
Nah, bagaimana menurut kangmas cara kita memilah mana yang dari sedulur papat, dan mana dari gejolak nafsu kita sendiri ?
Atau bahkan mungkin ada bisikan atau ilham itu yang berasal dari khadam / makhluk gaib lain di sekitar kita?

Namun dari semua pengalaman batin saya, solusi yang paling sempurna dan akurat dan selama ini tidak pernah meleset adalah ketika saya dihadapkan pada suatu permasalahan (umumnya berat dan kepepet) maka saya langsung mencoba untuk terhubung vertikal dengan Gusti Allah, saya bayangkan saya mengadu dan berkeluh denganNya dan tak ada lagi tempat yang lain untuk saya meminta pertolongan selain kepadaNya.
Maka jawaban dari permasalahan saya, baik itu ilham atau gambaran batin yang terbayang adalah solusi sempurna. Beberapa kali saya membuktikannya. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam  yang membukakan hikmah dan pengetahuan kepada kita. 

Memang sih pada awal-awal saya merasa canggung dan kurang yakin ketika bersugesti langsung kepada 'sosok' Tuhan. Apa iya kita yang rendah dan bodoh ini pantas untuk bermunajat kepadaNya. Tapi keyakinan bahwa Dia Maha mengasihi kepada hambaNya menebalkan keyakinan saya, sehingga keragu-raguan itu perlahan sirna berganti keyakinan dan pengharapan.

Bagaimana menurut Kangmas, adakah yang perlu diluruskan dari cara ini sebagai langkah awal bagi saya untuk belajar kebatinan dalam berketuhanan ?


 J :    
Saya sependapat dengan bapak mengenai kebatinan ketuhanan itu.
Secara ketuhanan jangan kita menyandarkan pengandalan kita kepada mahluk halus.
Tetapi mengandalkan kekuatan kita sendiri, kemampuan berpikir, akal sehat sebagai manusia juga jangan.

Dan sekalipun dalam kehidupan sehari-hari kita sudah merasa benar karena kita tidak pergi ke dukun, tidak ngelmu gaib, tidak memuja keris, tidak memakai jimat, dsb, lebih mengutamakan akal sehat untuk tidak klenik, menjaga rasionalitas kita supaya hidup lebih modern, kalau sakit lebih memilih berobat ke dokter dan ke rumah sakit, dari sisi ketuhanan itu juga salah. Dan berbesar diri m
engandalkan kekuatan kita sendiri sebagai manusia (komunal) itu juga sama dengan menduakan Tuhan,
sama dengan paham komunisme.

Dari sisi ketuhanan, semua perbuatan dan sikap berpikir yang tidak bersandar, tidak mengandalkan diri kepada Kuasa Tuhan sama dengan menduakan Tuhan.

Implementasinya akan sulit sekali karena akan banyak berbenturan dengan kehidupan kita sebagai mahluk duniawi. Belum lagi adanya pemikiran2 dan pendapat, baik pribadi maupun
keagamaan dan ketuhanan, yang semuanya tidak selalu sejalan dengan pandangan keagamaan dan ketuhanan orang lain. Ditambah lagi ada banyak pemaksaan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan dan agama yang kalau kita menunjukkan sikap tidak sejalan, maka kita akan dikatakan sesat, murtad, tidak beriman atau bahkan dikatakan kafir, dan ada banyak pandangan yang sengaja dibelokkan untuk mencari pembenaran sendiri. Sulit mencari pandangan yang benar mengenai ketuhanan, apalagi pandangan yang benar mengenai Tuhan itu sendiri.

Karena itu kebanyakan sikap ketuhanan hanya akan menjadi sikap batin seseorang tentang dirinya dan Tuhan
(bersifat pribadi). Selebihnya terserah kita sendiri akan sejauhmana kita berketuhanan, apakah cukup sebatas keagamaan saja, ataukah juga akan membina hubungan yang pribadi dengan Tuhan.

Sebenarnya hubungan kita dengan mahluk halus sama saja hubungannya kita dengan binatang atau dengan manusia lainnya. Karena itu saya sudah sampaikan pandangan saya supaya kita memandang mahluk halus dan khodam sebagai teman dari alam gaib , dan semua sesaji dari kita untuk mereka hanyalah dilakukan untuk menghormati mereka, jangan kita lakukan sama dengan sesaji persembahan berhala dengan adanya pamrih di dalamnya. Kita sendiri juga harus bisa melepaskan pamrih yg bersifat berhala, jangan sampai kita diperbudak oleh hasrat, pamrih dan kesesatan kita sendiri.


1. Pagaran Diri
Selain pagaran lama dan yg dibuat oleh khodam2 bapak, saya tidak mendeteksi adanya pagaran baru.
Kalau sudah bisa bermunajat langsung kepada Tuhan, sebaiknya dalam permohonannya tidak perlu pagarannya dibatasi 500 KRK, minta saja pagaran yang akan menjauhkan bapak dari semua yang jahat.

2. Pagaran Gaib Tempat Usaha
Saya juga tidak mendeteksi adanya pagaran baru untuk tempat usaha bapak selain pagaran lama dan yg dibuat oleh khodam2 bapak.
Mungkin bapak bisa mencoba mendeteksi keberadaan pagarannya dari arah luar ke dalam tempat usaha bapak.

Mohon maaf bapak, dari deteksian keberadaan pagaran itu kelihatannya bapak belum bisa bersugesti tersambung langsung dengan Tuhan.
Mungkin nanti kalau bapak sudah benar2 bisa lepas dari kekuatan duniawi yang sekarang untuk total beralih kpd Kuasa Tuhan.


Akurasi Ilham dan Petunjuk

Bisikan gaib atau penglihatan gaib yang bapak terima bisa saja berasal dari Tuhan, atau dari khodam2 bapak atau mahluk halus lain, atau dari roh pancer dan sedulur papat bapak sendiri.

Kalau kita tergesa2 atau
memiliki pamrih / hasrat, biasanya bisikannya berasal dari roh pancer kita sendiri.

Kalau kita sedang santai, pikiran sedang kendor mengambang, mungkin suara itu berasal dari yang lainnya. Untuk mengenalinya siapa sumbernya memang susah, tapi kalau kita teliti mungkin kita bisa membedakan masing2 sumbernya, misalnya dari perbedaan tekanan suaranya atau irama suaranya.


Itu saja dulu yang bisa saya sampaikan saat ini.
Terima kasih atas sharing bapak.
Selamat malam



 A :    
Selamat Pagi Kangmas...
Semoga kabar baik selalu menyertai, dan selamat memulai aktifitas di hari ini.

Menyambung email sebelumnya, saya sependapat sekali dengan kangmas.
Bentuk pengandalan kita terhadap rasio, kecerdasan berpikir, kemampuan dan penguasaan teknologi dalam rutinitas kita sehari-hari, dengan menafikan peran Tuhan sebenarnya adalah sikap menduakan Tuhan.

Kita sakit dan berobat ke dokter dan ternyata kita sembuh. Kalau pandangan kita menganggap dokter semata yang menyembuhkan sakit kita, maka sikap itu adalah pengingkaran kepada peran Tuhan. Seharusnya dipahami bahwa Kuasa Tuhan menyembuhkan penyakit kita melalui peran sang dokter. 

Seorang supervisor yang mendapat promosi menjadi manajer, kalau dia meyakini kenaikan jabatannya adalah semata buah dari kerja keras dan prestasi kerjanya sendiri adalah juga bentuk pengingkaran kepada Tuhan.

Tuhan memang menciptakan mekanisme dalam alam semesta. Mekanisme (sunatulLah) ini sudah diatur oleh Penciptanya dan berlangsung dengan sempurna.
Pegawai yang bekerja keras dan berpikir cerdas, tekun, cermat maka bukan hal yang sulit buat dia untuk naik jabatan atau promosi.
Wirausaha yang hemat, bekerja keras dan jeli melihat peluang serta berpikiran maju lumrah juga untuk dia menjadi sukses.
Peneliti-peneliti yang inovatif dan tekun mencari terobosan baru di bidang keahliannya, bukan mustahil bisa menciptakan penemuan2 baru yang bahkan akhirnya menjadi prestasi monumental dalam sejarah.  
Tapi semua itu juga atas peran dan karya Tuhan, yang memberi kuasa dan daya kepada manusia.


Sugesti kepada Tuhan

Saya ingin mengutip kalimat Kangmas tempo hari : dari deteksian keberadaan pagaran itu kelihatannya bapak belum bisa bersugesti tersambung langsung dengan Tuhan. Mungkin nanti kalau bapak sudah benar2 bisa lepas dari kekuatan duniawi yang sekarang untuk total beralih kpd Kuasa Tuhan.

Saya menyimak dengan teliti kalimat ini. Dari analisa saya, saya berpendapat dengan ketinggian maqam spiritual kangmas sepertinya kangmas mengetahui bahwa jalan saya selama ini untuk tersambung langsung dengan Tuhan, masih terhalang oleh sikap ketergantungan dan pengandalan saya kepada tuah khadam2 saya.
Tapi saya juga merasa peluang saya untuk belajar tersambung langsung denganNya masih terbuka.

Hehe..Saya jadi tersenyum dan malu sendiri mengingat sugesti saya kala itu dengan visualisasi dalam benak saya seolah-olah Tuhan menjadi secondlines, dan frontlinenya adalah khadam2 saya.
Saya menyadari orientasi saya kala itu adalah penyimpangan tauhid (syirik). Walaupun ada yang menggolongkan sebagai syirik kecil, tapi tetap saja bagi saya cara pandang itu sebelas-duabelas dengan cara pandang penyembah berhala. 
Tuhan tidak mau diperlakukan seperti itu, Dia ingin berkuasa mutlak atas diri hambaNya karena memang Dialah yang berkuasa mutlak atas segala sesuatu.
Terima kasih kangmas untuk koreksinya yang luar biasa ini.


Sinonim atau Padanan Kata

Mohon maaf sebelumnya kangmas, berikut ini saya utarakan pandangan pribadi saya.
Saya bukan orang yang fanatik beragama. Semua itu membentuk saya sebagai pribadi yang opened dan toleran terhadap keyakinan umat beragama lain.

Agama bagi saya tujuan utamanya adalah penghayatan mendalam tentang konsep ketuhanan untuk selanjutnya menjadi penyatuan total hamba dengan Tuhannya. Dalam "penyatuan" ini maka segala urusan duniawi, ras, jender dan atribut agama bahkan tata cara dalam laku spritual kita menuju Tuhan pun akan kita tanggalkan berganti keheningan dan hampa dalam "manunggaling kawula lan Gusti".
Konsep ini dalam islam disebut makrifatulLah. Tahapannya melalui syariat, tariqat, hakikat dan terakhir makrifat.

Saya mencoba mencari persamaan istilah2 untuk dua keyakinan kita masing2 yang paling prinsip, karena bagi saya nama dan istilah2 di bawah ini objectnya adalah satu, penamaannya saja yang boleh bermacam2.
Mohon juga koreksinya jika ada kesalahan.
Dituliskan sebagai Bapa kami di surga tidak lain adalah Allah Azza wajalla
Roh Kudus adalah Ruh dari Allah sendiri (karena dalam firmanNya : Maka kepadanyalah Aku tiupkan RuhKu)


Berbicara kepada Tuhan

Beberapa hari yang lalu, pada suatu kesempatan saya berdoa kepada Allah, seperti biasa setelahnya maka saya membaca surah al fatiha (sugesti saya agar supaya lebih mantap dan doa saya didengar serta dikabulkan Tuhan). 

Tetapi di benak saya seperti ada yang menegur saya. Intinya dikatakan kalau saya mengandalkan al fatiha agar doa saya sampai kepada Tuhan, maka sama halnya saya mengandalkan "sesuatu" sebagai media pengantar doa saya agar sampai kepada Tuhan. Satukan rasamu denganNya dan yakinlah bahwa kau sedang berhadapan dengan Tuhanmu dan Tuhan pun "memandang dan mendengar" mu. Yakinlah pada dirimu dan jangan mengandalkan segala sesuatu untuk menghubungkanmu dengan Tuhan. 
Untuk beberapa saat saya merenung, dan meresapi benar2 kalimat itu.

Maka, ketika saya akan berangkat berdagang, saya berdoa dan fokus kepada "sosok" Tuhan. Saya seperti mendengarNya berbicara kepada saya.
"Aku mendengar doamu, yakinilah ...dan memintalah hanya kepadaKu, maka engkau akan Kucukupi".

Ketika saya bertanya kepadaNya, bagaimana saya harus memperlakukan benda2 ghaib saya (karena tekad saya mulai total untuk terlepas dari segala kekuatan duniawi dan hanya berserah diri kepada Nya), dan Tuhan menjawab: "Kenakanlah cincin2mu jika memang itu untuk perhiasan dan keindahan. tapi janganlah mengharapkan tuahnya, bahkan walaupun hanya dalam angan-anganmu. Mintalah hanya kepadaKu dan Aku akan mencukupimu".

Pada lain kesempatan ketika saya bermunajat kepadaNya, Tuhan mengajarkan kepada saya agar hening sehening2nya untuk menyatukan rasa saya dengan Nya. "Ketika kau hening, dan rasamu menyatu dengan Ku, maka kau akan mendengar bahwa Aku berbicara denganmu".

Saya menanyakan bagaimana saya harus memanggilNya, Tuhan berkata: "Panggillah Aku dengan panggilan apa yang menjadi kata hatimu. Nama-namaKu adalah apa yang Kuajarkan kepada hamba-hambaKu untuk menyebutKu".
Maka selanjutnya setiap berdoa dan merasa terhubung denganNya, saya selalu memulai dengan menyebut "Tuhanku...."

Demikian kangmas pengalaman batin saya beberapa hari terakhir ini, dan saya merasakan suasana batin yang berbeda dengan masa sebelumnya. Mohon koreksi dan pencerahannya kangmas, apakah ini benar suara Tuhan, atau ada gaib lain yang seolah2 mengambil "peran" Tuhan itu ?

Tapi yang saya rasakan tentang suara itu, intonasinya cenderung relatif datar (tidak naik-turun drastis), tekanannya pun teratur (tidak menghentak spt ada penekanan pada suatu poin). Ibaratnya kita seperti berlayar tenang dengan kapal di malam purnama di atas hamparan lautan yang teduh tak bergelombang. 
Juga saya merasakan seperti suara itu berlatar belakang ruang yang kosong dan hening dan tidak ada anasir lain, di mana saya merasa rasa saya terfokus untuk tekun menyimaknya.

Dan yang membuat saya bingung, mengapa ia menyebut saya dengan anakku...? Sesuatu yang sama sekali tak terbersit dalam pikiran saya.

Sekali lagi mohon koreksinya kangmas, karena saya tidak ingin terjebak dengan sesuatu yang menyesatkan.

Itu dulu kangmas yang dapat saya sampaikan, terimakasih atas waktunya buat membaca email ini dan mohon maaf merepotkan. 
Terimakasih dan selamat pagi.


 J :    
Wah .... kelihatannya bapak sudah naik nih tingkatannya, sudah mulai masuk ke dunia Hikmat ...

Tapi saya ingin menunjukkan sedikit perbedaan sikap berpikir saya, bukan mengoreksi pandangan bapak, hanya ingin menunjukkan sikap berpikir saya saja dari sudut pandang ketuhanan.

Dari sudut pandang ketuhanan, semua perbuatan dan sikap berpikir yang tidak bersandar, tidak mengandalkan diri kepada Kuasa Tuhan sama dengan menduakan Tuhan.
Implementasinya akan sulit sekali karena akan banyak berbenturan dengan kehidupan kita sebagai mahluk duniawi.


Misalnya seperti contoh yang bapak sampaikan :

1. "
Kita sakit dan berobat ke dokter dan ternyata kita sembuh. Kalau pandangan kita menganggap dokter semata yang menyembuhkan sakit kita, maka sikap itu adalah pengingkaran kepada peran Tuhan. Seharusnya dipahami bahwa Kuasa Tuhan menyembuhkan penyakit kita melalui peran sang dokter ".

Dari
sudut pandang ketuhanan (sekali lagi : dari sudut pandang ketuhanan), kalau kita sakit kemudian berobat ke dokter, entah sembuh entah tidak, kita mengganggap dokter itu adalah perantara Tuhan untuk kesembuhan kita, dari sisi ketuhanan pandangan yg seperti itu salah. Itu adalah perbuatan munafik.

Dengan berbuat begitu kita sudah menunjukkan bahwa pada dasarnya kita lemah, tidak percaya pada kuasa Tuhan yg mampu menyembuhkan kita secara langsung, kita tidak mengimani itu.
Kita lebih percaya kpd dokter dan rumah sakit.
Apakah Tuhan menyerahkan perantaraannya kepada dokter ?
Kalau dokter menjadi perantara Kuasa Tuhan, kalau dokternya sendiri yg sakit, apakah pasti ia bisa menyembuhkan dirinya sendiri ?
Dari
sudut pandang ketuhanan, apa bedanya berobat ke dokter dengan ke dukun atau ke pengobatan alternatif ?
Sama saja.
Sama-sama tidak mengandalkan Kuasa Tuhan. Lebih percaya pada kemampuan manusia (dokter / dukun / pengobat alternatif / manusia lain).
Kita lemah iman.
Lebih buruk lagi, kita malah menutupi kelemahan iman kita itu
dengan mengatasnamakan (menghalalkan / membenarkan) sebutan dokter sebagai perantara Kuasa Tuhan.


2. Contoh lain :
Saya bekerja sbg pegawai yg gajian.
Bapak wiraswasta berdagang.

Saya, begitu juga dengan bapak, kalau berdoa memohonkan rejeki, apakah kita akan berdoa sedemikian khusyuknya sama seperti orang yg benar2 sedang butuh rejeki dan
benar2 sangat mengandalkan Tuhan memberikan kita rejeki karena tidak ada sumber lain yg bisa kita harapkan (kondisi yg terpaksa) ?

Saya yakin sehari2nya doa kita memohonkan rejeki hambar, karena sifatnya hanya rutinitas / formalitas saja, karena dalam hati kecil, kita yg gajian, tanpa berdoa pun nantinya kita akan gajian, dan kita yang berdagang, pasti nanti akan ada pemasukan, sama dengan hari2 biasanya.
Sehari-harinya kita "memuja" sumber kerejekian kita itu.


Contoh-contoh sikap di atas, dalam agama kristen itu yang disebut mamon, yaitu sikap kita yang tidak mengandalkan diri kepada Tuhan.
Jadi ada istilah berhala, ada istilah mamon.
Dua-duanya sama hakekatnya, yaitu : berpaling dari Tuhan.

Dari sudut pandang ketuhanan, semua perbuatan dan sikap berpikir kita yang tidak bersandar, tidak mengandalkan diri kepada Kuasa Tuhan, sama dengan menduakan Tuhan.

Implementasinya akan sulit sekali bagi semua orang (termasuk saya) karena akan banyak berbenturan dengan kehidupan kita yg secara manusiawi harus lebih banyak mengandalkan usaha kita sendiri sebagai
mahluk duniawi. Ditambah lagi kita sulit sekali tersambung dengan Tuhan, tidak setiap saat kita bisa terhubung dengan Tuhan, dan Kuasa dan pertolongan Tuhan juga tidak setiap saat bisa kita terima. Tapi secara ketuhanan, itu bisa untuk mengukur seberapa besar keimanan dan pengandalan kita kepada Tuhan.


Sugesti kepada Tuhan

Sekali lagi saya ingin menunjukkan sedikit perbedaan sikap berpikir saya, bukan mengkoreksi pandangan bapak, hanya ingin menunjukkan sikap berpikir saya dari sudut pandang ketuhanan.
Tapi kita berbeda pendapat juga tidak apa-apa.
Tapi mohon bapak jangan marah dan sakit hati yah pak.
Ini untuk sharing saja.

Perbuatan yg bapak katakan sbg syirik, atau bapak katakan ada yg menganggap sbg syirik kecil, dalam rasa ketuhanan saya justru sebaliknya.

Pada jaman dulu di Israel, perbuatan itu bisa mendatangkan murka Tuhan, bahkan perbuatan kita itu hukumannya bukan hanya akan ditimpakan kepada kita, tapi juga kepada anak dan cucu keturunan kita.
Karena selain kita sendiri tidak mengandalkan Tuhan, kita juga sudah sedemikian merendahkan Tuhan, kita memperlakukan Tuhan seolah-olah Tuhan sama dgn khodam kita.
Tapi ini hanya pendapat saya saja loh pak ....


Sinonim atau Padanan Kata

Saya merasa padanan kata untuk
Allah Bapa dan Roh Kudus tidak persis seperti itu. Pengertiannya lebih besar daripada itu. Tapi sulit memang menjelaskannya dengan kata-kata. Panjang ceritanya.


Berbicara kepada Tuhan

Saya menyimak betul pengalaman batin bapak dengan Tuhan.

Kalau kita mempunyai hajat keinginan, atau kita ingin berdoa secara pribadi kepada Tuhan, memang seharusnya itu disampaikan dengan tulus dari hati sendiri kepada Tuhan, jangan mencari perantaraan, dan jangan melakukan perbuatan2 seolah-olah dengan berbuat itu Tuhan menjadi lebih memperhatikan kita. Seharusnya itu dilakukan dengan tulus dengan bersugesti tersambung langsung dengan Tuhan.

Dan kalau kita ingin mendekatkan diri dengan Tuhan, mengaji, zikir atau sembahyang, seharusnya kita bisa bersugesti bhw itu kita lakukan untuk dan kepada Tuhan.

Tetapi dari yg lain-lainnya yg bapak sampaikan, saya mendapati adanya sikap berpikir dan sikap berbicara Tuhan yg berbeda dengan Tuhan yg saya kenal (menurut rasa saya).
Yang bapak sampaikan itu sama dengan pandangan klasik (sudah umum terjadi) orang2 yang mengenal Tuhan sebagai Roh Agung Alam Semesta,
yang mengenal Tuhan dari "Cahaya"-Nya saja, bukan yang mengenal Tuhan dari PribadiNya.

Dari rasa saya, itu berasal dari sesuatu
yang lain, bukan berasal dari Pribadi Tuhan.
Maka, saya menyimak betul pertanyaan bapak : apakah ini benar suara Tuhan, ataukah ada gaib lain yang seolah2 mengambil "peran" Tuhan itu ?

Akhirnya setelah saya telusuri dan saya deteksi secara menyeluruh, saya mendapati ada sosok lain
yang "menggantikan" suara Tuhan, yaitu sesosok sukma manusia bapak2 di bagian dalam warung bapak, 1.000 KRK.

Coba pak dideteksi, dan dirasakan sekali lagi, ketika bapak "berkomunikasi" dengan Tuhan itu, apakah bapak bisa merasakan bahwa suara Tuhan yg bapak terima berasal dari sosok itu ?


 A :    
Selamat pagi Kangmas...dan selamat berakhir pekan..

Membaca email kangmas sebelumnya, saya merasakan perbedaan maqam spiritual yang begitu jomplang antara saya dengan kangmas. Saya merasa tidak ada seujung kukunya. Pemahaman kangmas soal spiritual ketuhanan begitu dalam hingga menyentuh hakikat ketuhanan itu sendiri.

Mohon maaf kangmas, sekali lagi mohon maaf...Kalau saya boleh membuat pengandaian, manusia biasa untuk mencapai tataran pemahaman akan hakikat ketuhanan dan tingkat kebatinan seperti tingkatan kangmas mungkin minimal dibutuhkan waktu seribu tahun belajar terus menerus. Hal yang tidak mungkin bagi manusia biasa.

Tetapi saya meyakini ada faktor eksternal yang terlibat, yaitu "given"...Kangmas membawa "berkat" itu dan "terberkati", sehingga sesuatu yang bagi manusia biasa adalah mustahil, tapi tidaklah bagi Tuhan dengan KuasaNya terhadap siapa manusia yang dipilihNya.


Penyandaran kepada Tuhan

Saya ingin mengutip kalimat kangmas tempo hari: Dengan berbuat begitu kita sudah menunjukkan bahwa pada dasarnya kita lemah, tidak percaya pada kuasa Tuhan yg mampu menyembuhkan kita secara langsung, kita tidak mengimani itu.

Ya, tepat sekali pendapat kangmas. Saya menyadari kekeliruan dogma atau pemahaman saya selama ini. Tuhan memang tidak perlu orang atau sesuatu sebagai pemeran pembantuNya atau perantara KuasaNya. Tinggal manusia saja yang perlu memohon langsung kepadaNya, hal yang sepertinya mudah untuk diucap tapi sangat sulit sekali untuk diimplementasikan. 

Kesulitannya karena selain manusia adalah makhluk biologis dan duniawi, juga pola pemikiran dan doktrin yang berkembang selama ini yang menempatkan suatu keharusan bahwa manusia harus berusaha / kerja atau bersyariat buat mendapatkan hasil. Tidak mungkin ada (bahkan dianggap pemimpi) bila hanya berdoa dan meyakini sebagai jalan potong kompas buat mencapai hasil.

Tapi memang bukan hal yang mustahil apabila faktor2 penghubung antara manusia dan Tuhan sudah terpenuhi. Faktor-faktor ini saya yakini sebagai dasar dan prasyarat kondisi terhubungnya antara manusia dan Tuhan.
Saya juga agak bingung buat mengungkapkannya. Tapi saya yakin pasti kangmas memahami maksud saya dan mungkin berkenan menjelaskannya.


Kemurkaan Tuhan

Waduh, saya sampai tidak bisa nyenyak tidur setelah membaca kalimat kangmas : " perbuatan itu bisa mendatangkan murka Tuhan, bahkan perbuatan kita itu hukumannya bukan hanya akan ditimpakan kepada kita, tapi juga kepada anak dan cucu keturunan kita ".

Saya memang menyadari kesalahan, tapi saya tidak bertindak seekstrim seperti interpretasi kangmas. Saya tidak bermaksud melakukan pembelaan loh... kangmas, karena saya juga memaklumi bahwa 2 atau 3 baris kalimat dalam email tidaklah cukup buat menuangkan suasana batin saya sewaktu bersugesti membuat pagaran gaib di tempat usaha dengan memohon kekuatan dari Tuhan.

Sekitar 10 tahun yang lalu ketika saya mulai belajar membuat pagaran gaib, saya berimprovisasi dalam batin dengan amalan2 pribadi. Saya ciptakan garis imajiner di sekeliling tempat usaha saya dengan keempat sudutnya saya bentuk sosok dalam tokoh persilatan yang sedang mengetrapkan jurus. Beberapa waktu kemudian saya tanyakan kepada seorang spiritualis yang "tajam" penglihatannya. Saya rahasiakan bentuknya, dan dia tersenyum sambil menirukan gaya "sosok" tersebut, persis !
Saya anggap percobaan saya berhasil.

Beberapa minggu sebelum ini saya sambat kpd khadam saya untuk membuat pagaran gaib di tempat usaha saya ini. Nah, ketika sampai waktu saya untuk mulai tahapan belajar bersugesti langsung dengan Tuhan, saya mencoba membuat pagaran sendiri (bentuknya perisai di bagian depan) dengan bersandar langsung kepada Tuhan, agar Dia memberikan kekuatan kepada saya. Saya juga meminta agar double perisai dengan pagaran gaib dari pagaran sebelumnya. 
Menurut deteksian kangmas pagaran hasil sugestian saya dengan Tuhan itu tidak terbentuk. Jadi, dalam hal ini saya tidak mensugestikan Tuhan menjadi khadam saya (Naudzubillah..)
Tapi sekiranya menurut kangmas prilaku saya itu bisa mendatangkan murka Tuhan saya benar2 bertobat memohon kemurahanNya buat mengampuni saya, dan saya anggap pemahaman baru ini adalah pengetahuan tingkat tinggi.
Terima kasih kangmas atas koreksinya.


Sosok dan Pribadi Tuhan

Mohon penjelasannya kangmas. Ketika saya berdoa bersugesti langsung dengan Tuhan (dan ketika pada akhirnya doa saya dikabulkan) dalam batin saya tampak "sosok" Yesus Kristus, tapi dalam "rupa" yang lebih sepuh. Dan juga dalam beberapa kesempatan sebelumnya saya melihat sepasang mata yang melihat saya. Sepasang mata ini seumur-umur tidak pernah saya lihat sebelumnya, dan juga seperti ada cahaya terang dari langit turun menyorot.
Saya sampai detik ini hanya bersangkaan bahwa sepasang mata itu lambang bahwa Tuhan "melihat" saya. 


Padang Kurusetra

Kenapa ya kangmas, ketika saya melihat foto2 di bab 'Bharatayuda di alam gaib' bulu kuduk dan seluruh badan saya meremang, apalagi di kepala terasa sekali meremangnya. Rasa meremang ini terus ada manakala melihat lintasan peristiwanya. Seorang ksatria 80.000 krk bersenjata pedang terang dengan mendak dari emas bertarung dengan iblis berkepala seperti T-rex 45.000 krk. Seekor burung reptil hitam 25.000 krk yang ditebas dadanya oleh ksatria berpakaian putih. Panji-panji lambang kekuasaan hitam yang ditancapkan ke leher dan dada iblis2 oleh para tentara Tuhan.
Begitu mencekamnya padang kurusetra ini.... 
Mohon izin buat share foto2 ini kangmas.

Terima kasih atas atensinya kangmas, dan selamat pagi...


 J :    
Semua yg sudah bapak sampaikan itu saya rangkum kesimpulan penyebabnya, yaitu karena manusia tidak mengenal SejatiNya Pribadi Tuhan, sehingga kemudian manusia banyak membuat dogma2 dan pemikiran2 sendiri dan dalih.

Semuanya itu tidak akan terjadi kalau manusia mengenal PribadiNya dan tahu sikap berpikir Tuhan (termasuk mencari jawabannya langsung kpd Tuhan apakah benar perbuatan kita akan mendatangkan berkat Tuhan ataukah murka Tuhan, mendatangkan berkat ataukah laknat).

Sejak dulu sampai sekarang Tuhan yang kita sembah adalah Tuhannya Israel.
Nabi2Nya juga adalah nabi2 Israel.
Dengan mengimani itu akan mudah untuk kita mengenal sisi Pribadi Tuhan yg sesungguhnya (kecuali kita membuat2 Tuhan sendiri yang bukan Tuhannya Israel).

Tapi sejak dulu kita berusaha mengingkari itu, mengingkari bhw Tuhan yg kita sembah adalah Tuhan Allah kita sendiri, bukan Tuhannya Israel.

Bagaimana kita akan sampai kpd Tuhan kalau kita sendiri mengingkari Tuhan kita ?

Apakah kita mempunyai Tuhan sendiri yg menjadi tujuan kita ?

Itulah penyebab terbesar mengapa kita sulit sekali mengenal Pribadi Tuhan yang benar, apalagi untuk tersambung denganNya.

Untuk bisa menyambungkan diri dengan Tuhan
kita harus lebih dulu tahu Tuhan, dengan Tuhan yang mana kita akan menyambungkan diri.

Apalagi kalau ada keinginan untuk manunggal dengan Tuhan kita harus lebih dulu tahu dengan Tuhan yang mana kita akan memanunggalkan diri.

Kalau yg dimaksudkannya adalah Tuhan yg ada di dalam pikiran
kita sendiri, atau Tuhan yg lain sesuai bentukan kita sendiri, sampai kapanpun tidak akan pernah terbukti bhw kita akan tersambung dgn Tuhan, apalagi manunggal denganNya.

Karena itulah dalam banyak tulisan saya menuliskan bahwa saya tidak menekankan pada bentuk agama, juga saya tidak bermaksud menyebarkan agama, terserah manusia mau beragama apa.
Yang saya tekankan adalah sisi ketuhanannya, supaya manusia benar mengenal Tuhan
yang benar, supaya jalannya jelas dan benar menuju Tuhan yang benar, supaya lebih terjamin jalannya untuk sampai dan menyatu dengan Tuhan.

Diperlukan ketulusan hati untuk menyembah Tuhan dengan benar, apalagi ingin sampai kepadaNya.


 A :    
Selamat pagi, kangmas...

Akhirnya saya sampai pada fase ini....
Fase dimana perjalanan kebatinan spiritual dan ketuhanan saya akan menentukan akan sampaikah saya kepada Tuhan, Roh Agung...ilLah dari segala illah. Atau hanya sekedar mimpi kosong dan obsesi belaka.
Seperti yang pernah saya sampaikan kepada kangmas pada postingan email pertama kali, akan laku dan proses panjang saya mencari kesejatian diri, dan kesejatian Tuhan.

Sebelum masuk ke poin2 di bawah ini saya mohon bantuan kangmas untuk deteksiannya.... karena apakah kejadian ini selanjutnya akan mempengaruhi psikologis dan suasana batin saya setelahnya termasuk kala menulis email ini ?

Hari senin kemaren, setelah saya baca email balasan kangmas, batin saya merasa gamang sampai ketika saya istirahat tidur.


Pencarian Tuhan

Pada kesempatan ini juga saya utarakan bahwa saya sepaham dengan kangmas, bahwa kita tidak ingin masuk ke wilayah agama. Nilai objectivitaslah yg saya tekankan sehingga netralitas dan kebersihan niat / batin akan saya junjung tinggi.
Kalau mungkin ada beberapa hal yang menyangkut agama mungkin itu adalah ekses yang tak bisa terhindarkan. Tapi dalam ketulusan hati hal2 itu tetap ingin saya hindari. 
Sekali lagi hanya netralitas dan objectivitas.


Terus terang kangmas, saya menulis ini dengan sadar sesadar-sadarnya dan objectif... bahwa proses saya sekarang seperti Werkudara mencari 'tirta perwita sucining urip'. Hehe...mungkin agak lebay ya kalau menyamakan dengan kisah pewayangan itu.

Kalau Tuhan ingin menyediakan hikmat dalam diri saya, maka Ia pasti akan membuka jalan pikiran saya.
Saya berpedoman bahwa agama adalah 'ageman', baju (pakaian). 
Saya menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa kalau saya tetap memakai baju yang sekarang, akan kekecilan...Gerak saya tidak leluasa untuk "mencari" Tuhan, apalagi bila baju (pemberian orang tua) saya ini kotor sehingga Tuhan tidak berkenan dengan saya. Saya sangat sedih bila Tuhan 'memalingkan wajahNya' dari saya.
Kemana lagi saya akan mencari Tuhan, kalau Tuhan Yang Esa ini tidak menerima saya....?

Mohon bimbingannya kangmas, bagaimana / darimana saya harus memulai mencari Tuhan yang Agung, Tuhan Yang Maha Asih dan Pemurah, yang kepadaNya kita semua akan kembali.
Tapi saya tetap meyakini anak manusia ini akan dituntun oleh Allah Bapa Nya untuk kembali pulang ke rumahNya.....amin

Terimakasih dan selamat pagi..

 J :    
Mengenai pertanyaan bapak :
" apakah kejadian ini selanjutnya akan mempengaruhi psikologis dan suasana batin saya setelahnya termasuk kala menulis email ini ? "

Setidaknya ini sejak awal sudah menambah kematangan kesepuhan bapak dan saya, karena memang tanya jawabnya "dalam" dan "mengakar" yang untuk menjawab pertanyaan2 bapak saya harus benar2 menyimak dan menggali lebih dalam. Sudah pasti itu akan menambah dalam pemahaman kita bersama. Mengenai bagaimana selanjutnya, itu terserah masing2 individunya.


Dalam kehidupan kita sehari-hari
yang seringkali dikaitkan dgn Tuhan, selain agama Islam adalah agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi selain itu sebenarnya ada banyak sekali di Timur Tengah agama dan sekte yg juga menyembah Tuhannya Israel, yang masing2 mereka tidak mau disamakan sebagai agama Islam, agama Yahudi ataupun Nasrani.

Memang agama hanyalah baju seragam saja.
Selebihnya tinggal orangnya yg memakai baju itu.
Kalau baju seragam itu dinomorsatukan, itulah yg terjadi ketika anak2 berseragam SMP / SMA tawuran dgn anak2 berseragam
SMP / SMA lain.
Padahal
nantinya sesudah mereka kuliah atau bekerja, seragam lamanya akan ditanggalkan, campur dgn orang2 lain yg dulunya seragamnya berbeda.

Dalam usaha mencari kesejatian dari sesuatu, aturannya tetap sama, yaitu kita harus bisa objektif dan realistis untuk melihat dan menerima apa adanya dari sesuatu yang kita cari kesejatiannya.
Jangan sampai terjadi seperti cerita Malin Kundang yg mengaku mempunyai orang tua, tetapi mengingkari orang tuanya sendiri karena ia menginginkan identitas yg lain yg bukan sejatinya dirinya.

Tuhan kita berkepribadian sama dari dulu sampai sekarang. Sekalipun
sesudah jaman Yesus ada sisi PribadiNya yg berubah, yg berbeda, yg tidak sama lagi dgn sebelumnya, karena adanya pembaruan dalam sikap berpikir dan kebijakan Tuhan atas manusia (perjanjian baru), tetapi secara garis besarnya tetap sama. Karena itu kalau kita sudah mengenal sisi pribadinya yg asli, kita tidak akan tertipu dgn adanya pribadi2 yg lain.

Dengan adanya restu dari Yesus, Tuhan memberikan kemurahan untuk pribadi2
yang ingin mengenal sejatinya Tuhan.

Allah itu Roh.
Karena itu untuk mengenalnya kita harus mengedepankan roh.

terima kasih



 A :    
Selamat pagi kangmas...
Semoga kabar baik selalu menyertai...

Terima kasih kangmas atas pencerahannya yang sangat luar biasa.
Terima kasih juga atas kesabaran kangmas melayani pertanyaan2 saya tentang kesejatian Tuhan.
Kangmas ibarat lentera yang menuntun saya keluar dari kegelapan menuju jalan terang.
Semoga Tuhan selalu memberkati kangmas...

Perbincangan kita tempo hari membuka mata hati dan logika saya. Walau bagaimanapun agama tetap harus bisa dinalar dan dilogika.
Saya juga yakin bahwa kangmas TIDAK mengarahkan saya kepada agama tertentu. 
Kangmas menyajikan kebenaran dan fakta yang obyektif tentang ketuhanan. 
Tuhan telah membuka hikmat dalam diri saya, dan saya harus membuka diri seluasnya untuk hikmat itu agar Terang / Kasih Tuhan bersemayam dalam diri saya.
Semoga Allah mencerahkan kehidupan dan keimanan saya. Amin...

 J :    
Sebenarnya saya memang tidak menyebarkan agama.
Dan tidak ada kepentingan saya untuk menyebarkan agama.

Apapun agama seseorang, agama itu tidak menjamin seseorang akan selamat sampai kpd Tuhan
Sekalipun seseorang sudah menganut agama yang benar, tetapi agama saja tidak cukup, ia masih harus menghasilkan buah2 perbuatan dari kepercayaannya itu, yang nantinya itu akan ditimbang lagi pada Hari Penghakiman.

Seharusnya semua manusia berada di atas agama, tidak di bawah agama
dan seharusnya manusia tidak menempatkan dirinya di bawah kungkungan agama
Karena tujuannya adalah kepada Tuhan, agama menjadi sarana saja
Manusia sendiri yang membentuk agama menjadi eksklusif
yang bahkan kemudian memunculkan banyak sekali aliran dan sekte
baik dalam agama kristen, Islam, hindu, budha, ada banyak sekali aliran / sekte di dalamnya yg masing2 merasa eksklusif, mengkotak-kotakkan diri, merasa berbeda satu dgn lainnya walaupun masih dalam wadah agama yg sama.

Seharusnya semua manusia berada di bawah ketuhanan yang sama
karena Tuhannya satu
hanya saja tidak semua orang mengenal Tuhannya, sehingga mereka mencitrakan Tuhan sendiri2, dan membentuk "agama" sendiri2 yang eksklusif.

Karena itu saya tidak interest untuk menyebarkan agama (walaupun banyak orang mengatakan begitu)
Saya hanya interest untuk mengajarkan ketuhanan yang benar
karena Tuhan sendiri tidak mengajarkan agama, apalagi menyebarkan agama
yang diajarkanNya adalah  Ketuhanan yang benar  dan  Hukum
supaya manusia mengenal Tuhan dengan benar, dan menyembah dan beribadah kepadaNya dgn cara yg benar.

Pekerjaan2 dan kegaiban2 Tuhan bukan hanya terjadi pada jaman dulu saja pada jamannya Nabi2, tetapi juga terjadi pada jaman sekarang, bahwa pada jaman sekarang pun tidak mustahil manusia bisa mengenal Tuhan secara langsung, terhubung, berkomunikasi, bahkan manunggal dengan Tuhan, dan bahwa pada jaman sekarang ini pun pekerjaan dan kegaiban Tuhan tetap bekerja. Apalagi sekarang ini Tuhan sedang membuka lebar Pintu Kemurahan, sehingga orang akan lebih mudah untuk bisa mengenal Tuhan, padahal orang2 jaman dulu tidak berkesempatan untuk itu walaupun sudah bertapa berpuluh2 tahun untuk mendekat kpd Tuhan.

Pada jaman sekarang kebijakan Tuhan sudah lebih lunak, tidak lagi keras dan kaku seperti dulu
Jaman sekarang sudah lebih mudah untuk kita bersugesti tersambung dengan Tuhan,
Tuhan mulai banyak membuka diri kepada pribadi2 yg ingin mengenalNya
Allah Bapa berkenan memberikan Roh Kudus dalam bentuk bola energi, jubah gaib, dsb, bahkan kepada orang2 non-kristiani, walaupun status Roh Kudus itu tidak sama dgn Roh Kudus baptisan.
Itu adalah jawaban Tuhan kpd orang2 yg ingin lebih mengenalNya bahwa orang itu sudah benar jalannya kepada Allah yang Illahi.

Mungkin itu dimaksudkan untuk meringankan manusia dari belenggu2 duniawi yg memberatkan jalannya kepada Tuhan, memudahkan manusia mengenal sesuatu yang illahi yang berbeda dengan yang duniawi, sebagai tanda bahwa ia sudah berhubungan dengan Allah yang illahi, yang tidak sama dengan roh-roh duniawi. Sesudahnya tinggal terserah si manusia sendiri bagaimana ia akan menjalani hidupnya sbg orang yang sudah mengenal Tuhan yg benar. Itulah Kemurahan Tuhan yg diberikan pada jaman sekarang, terkait dgn keberadaan "sosok keempat".


Saya tidak mengarahkan bapak untuk datang kpd seorang pendeta / pastur untuk minta dibaptis menjadi orang kristen, saya hanya ingin mengenalkan bapak kepada Tuhan yg sebenarnya, karena bapak sendiri sudah mempunyai pemahaman tentang Tuhan, walaupun pemahamannya masih berbeda dengan saya. Saya senang dan bahagia mengetahui bahwa bapak sudah membuka hati dan pikiran kepada Tuhan. Selebihnya itu akan menjadi hubungan yang pribadi antara bapak dgn Tuhan. Terserah bapak sendiri nantinya sejauhmana akan berketuhanan, karena itu akan menjadi sesuatu yang jauh lebih berkualitas daripada sekedar beragama saja.

Sejak awal saya tidak berkeinginan mengarahkan orang masuk agama kristen atau agama apapun.
Apa yg saya tuliskan di situs saya adalah tentang ketuhanan, dan itu lebih daripada agama. Justru orang2 kristen sendiri akan terbuka pemahamannya, bahkan akan terkoreksi pemahamannya tentang agama mereka dan tentang pemahaman mereka akan Tuhan.

Kalau orang memeluk agama, seharusnya itu dilakukannya sebagai sarana ia berketuhanan, bukan karena berpikiran agama, dan jangan kemudian ia mempertuhankan agama.

Saya sadar bahwa tulisan2 saya mungkin akan mendapatkan tentangan dari kalangan agamis dari berbagai agama.

Tulisan2 dan isi tanya jawab yang saya upload mungkin juga akan mendapatkan tentangan dari kalangan kristen sendiri, karena ada isinya yg mungkin tidak sejalan dgn pemahaman agamis mereka.

Mengenai ketuhanan sebaiknya bapak selalu berusaha tersambung dengan Tuhan. Dengan begitu bapak akan bisa belajar langsung dari sumbernya, tidak lagi harus lewat perantara.



 A :    
Sugeng ndalu kangmas...

Pertanyaan saya berikut ini juga ada hubungannya dengan bagaimana caranya agar kita ingat selalu dan tersambung dengan Allah.

Saya terbiasa untuk berzikir (nafas) dengan Hu...Alloh. 
Setiap saya sendiri dan kesadaran saya terlepas dari duniawi, maka saya akan mendawamkan zikir nafas itu.
Sekarang saya bingung kangmas, saya belum tahu caranya agar bisa menyambungkan batin terus menerus dengan Tuhan. 
Sementara ini cara yang saya pakai adalah dengan mengingat Allah, yang RohNya menyelimuti dan mengisi seluruh tubuh, karena Roh Kudus pun ada di badan saya.
Mohon tuntunannya kangmas...

 J :    
Untuk bisa menyambungkan batin terus-menerus dengan Tuhan bapak bisa membaca tulisan saya yg berjudul  Kebatinan Dalam Keagamaan  dan dimodifikasi seperlunya untuk mengakomodir jalan kepercayaan bapak. 

Mengenai yg bapak katakan : " yang RohNya menyelimuti dan mengisi seluruh tubuh, karena Roh Kudus pun ada di badan saya ", mungkin itu benar untuk jalan kepercayaan bapak selama ini, tetapi kalau ditinjau kondisi yg sesungguhnya, Roh Kudus yg sesungguhnya, kelihatannya bapak belum menerima Roh Kudus.


 A :    
Beberapa minggu yang lalu, ada dua mimpi saya yang berurutan datangnya :

Kesempatan pertama, ada seorang tua berjubah putih yang memberi rapor pembelajaran spiritual saya. Beberapa point pelajaran saya nilainya jelek bahkan ada yang merah.
Tafsirnya, memang saya akui kemajuan pembelajaran saya (terutama belajar online dengan kangmas) lambat. Selain karena kesibukan dan rutinitas, fokus saya yang utama adalah pencarian "Sosok" Tuhan yang benar. Ketika 'pencarian' itu sampai maka saya akan mulai belajar keilmuan yang lain. 

Mimpi kedua : Ada sesosok pria tua berjubah putih yang menunjukkan jalan kepada saya agar lulus kuliah dan bisa diwisuda. Saya harus mengulang mata kuliah ini, ini dan itu. Di setiap mata kuliah yang harus ditempuh itu ada sosok wanita berpengalaman / matang dan familiar yang menungguinya.
Tafsirnya, saya harus melewati beberapa tahap spiritual dan kebatinan untuk mencapai tujuan menyatu dan manunggal dengan Tuhan. 
Di setiap tahapan itu akan ada beberapa gaib yang mendampingi dan membantu mengajari saya.

Kemarin saya juga bertanya ke papat saya, adakah dewa (utama) yang berkenan dengan saya dan membantu saya untuk belajar olah spiritual dan Ketuhanan ?  Dijawabnya : ada.
Ketika saya tanya lagi dewa siapa ?  Jawabnya : Dewa Wishnu..

Saya jujur agak kurang percaya, saya tanya lagi : coba tunjukkan gambar Dewa Wishnu...
Di batin saya terlihat seorang Dewa bermahkota bertangan empat menunggang burung gelap. Burung ini belum pernah saya lihat di dunia fauna sebelumnya. Paruhnya tidak panjang dan bengkok di ujungnya. Ada mahkota (kuluk) di kepalanya.

Mohon terawangannya kangmas, karena saya tidak ingin ke-geer-an sehingga terjerumus dalam obsesi mencari guru bangsa dewa. 


Membaca dan menyimak email pengalaman teman2 di situs kangmas memberi inspirasi bagi saya. Dengan ketekunannya mereka bisa maju dan berhasil, mengapa saya tidak ?
Saya menyadari setiap orang berbeda latar belakang dan "modal batinnya", sehingga pengalaman yang didapat dan hasil yang diraih pun akan berbeda pula. Seribu orang yang belajar mengenalNya mungkin seribu jalan pula bagi Tuhan memberi anugerahNya. Dan anugerahNya pun bertingkat2 dan tidak sama.

Kalau sebelumnya saya ingin sekali (bahkan sampai terobsesi) bisa 'berbicara' dengan Tuhan, malah akhirnya ada sukma manusia yang menyesatkan saya. 

Kalau sebelumnya saya ingin meditasi agar bisa melihat gaib (dan kangmas memberi tipsnya), tapi sampai sekarang saya tidak pernah beruntung masuk ke frekuensi gaib. 
Malahan ketika saya meditasi energi biasa (tanpa terlintas sama sekali keinginan melihat gaib), sesudahnya saya bisa melihat jelas gaib2 khadam saya, bahkan ornament di tongkatnya pun terlihat begitu jelas. 

Jadi saya menyimpulkan (buat pribadi saya) : Tidak perlu ngoyo karena semua manusia ada jalannya masing2, bahkan tanpa disadari anugerah Tuhan sebenarnya sudah ada di diri kita. Tapi bukan berarti juga saya lemah semangat.
Dalam hati kecil saya pun ingin dapat bola energi, jubah gaib, dan tanda2 kebesaran lain dari Tuhan.
Tapi di sisi lain pun saya mensyukuri dengan dalam anugerah Tuhan untuk menuntun saya ke arah yang benar Tuhan mana yang harus dan benar disembah.
Puji syukur kepada Tuhan yang mempunyai Kerajaan dan Kemuliaan Abadi.

 J :    
Mengenai arti kedua mimpi itu kelihatannya bapak sudah tahu artinya.

Mengenai Dewa Wisnu ....
Secara umum sekarang ini bangsa dewa sudah kenal dan sudah tahu Tuhan, sehingga mereka semua sudah bisa "mengajar".

Saya sudah konfirmasi kpd Dewa Wisnu, katanya benar beliau bersedia mengajar / membimbing bapak.
Sebagai jawabannya beliau juga memberikan suatu benda gaib, mungkin diletakkan di rumah bapak. Silakan diperiksa keberadaannya.
Kelihatannya beliau ada kecocokkan dengan bapak, karena bapak cukup sepuh spiritualnya, juga suka kekuatan gaib dan mau "berbuat".


Mengenai para pembaca yg lain, memang masing2 mempunyai latar belakang, interest dan sikap berpikir sendiri2 yg itu masing2 juga mempengaruhi cara dan kecepatan mereka belajar. Tidak semuanya sama. Begitu juga dengan bapak.

Dan apa yg bapak katakan bhw bapak tidak pernah beruntung masuk ke frekuensi gaib, malahan ketika meditasi energi biasa (tanpa terlintas sama sekali keinginan melihat gaib), sesudahnya bisa melihat gaib dgn lebih jelas, memang itu masalahnya.

Dalam melihat gaib secara kebatinan / spiritual, kalau kita ingin cepat bisa masuk ke alam gaib memang agak susah. Seharusnya kita malah mengendorkan pikiran dan hasrat, sesudahnya, kalau batin kita sudah mulai bekerja, masuk ke alam gaib itu akan terjadi dgn sendirinya.

Dan itu berbeda dgn melihat gaib dgn bantuan khodam yg seringkali tanpa kita perlu berkonsentrasi pengihatan gaib itu sudah mengalir sendiri, hanya saja sayangnya banyak yg berupa ilusi, kita dikelabui oleh gaib.

Saya sendiri lebih banyak menggunakan kepekaan rasa dan melihat secara batin untuk mendeteksi dan "berbuat", karena cara itu lebih mudah untuk saya kontak rasa dan energi.

Kalau penglihatan kita "masuk" ke alam gaib, rasanya memang bisa jelas melihat gaib, tapi rasanya tidak bisa kontak energi, rasanya seperti di dunia manusia yg kita berhadapan dgn orang lain dan tidak ada kontak energi, yg ada hanya kontak fisik saja.

Dari pengalaman saya, mungkin ini juga sudah dialami oleh para pembaca, lebih mudah kita belajar kegaiban dengan lebih dulu menjalani spiritualitas ketuhanan, sesudah itu barulah kita mempelajari kegaiban di sekitar kita.

Artinya, kita belajar dulu naik vertikal lurus ke atas. Kemudian sesuai ketinggian yg berhasil kita capai barulah kita melihat horizontal ke kanan dan ke kiri. Dari tempat yg tinggi lebih mudah untuk kita melihat sekitar kita dan lebih mudah untuk kita mengukur ketinggian dari "sesuatu" yg lain.

Berbeda sekali jika sejak awal kita fokus melihat horizontal ke kanan dan ke kiri, biasanya apa yg mampu kita lihat dan kita capai levelnya rendah, tidak tinggi. Dan kalau kita diajari sesuatu yg tinggi, rasanya seperti mengawang2, atau mungkin malah kita anggap mengada-ada, karena memang level kita masih rendah dan bukan levelnya kita mempelajari / mengetahui sesuatu yg tinggi.

Terima kasih


--------



 A :     Di toko ada beberapa jenis Injil.
Saya yakin kangmas mengetahui muatan 'gaibnya' dari keempat Injil tersebut. 

 J :     Bapak katakan : "keempat injil tersebut",
apakah itu kitab2 bagian dari kitab Injil  (Injil : Matius, Markus, Lukas, Yohanes) ?
Kalau benar begitu, sebaiknya dipilih kitab Injil yg isinya sudah mencakup semuanya itu.

Yg disebut kitab Injil adalah kitab Perjanjian Baru (jaman Yesus).
Ada juga kitab Perjanjian Lama (jaman sebelum Yesus).
Selain kitab Injil di atas, ada Alkitab yg isinya sudah mencakup semuanya, yaitu berisi Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Sebaiknya dipilih Alkitab saja yg isinya sudah mencakup semuanya.

Selain itu ada banyak Alkitab terjemahan dalam banyak bahasa.
Cari saja yg bahasa Indonesia.

Ada Alkitab berbahasa Indonesia yg versi ejaan lama, mungkin dibuat sekitar tahun 1950-an. Mungkin sekarang sudah tidak lagi dijual di toko.
Yg umum adalah Alkitab berbahasa Indonesia yg versi ejaan baru, mungkin dibuat sekitar tahun 1970-an.
Katanya sekarang ada juga Alkitab berbahasa Indonesia yg versi bahasa sehari-hari (ada banyak di alkitab online).

Saya pribadi lebih suka Alkitab versi ejaan baru, bukan yg bahasa sehari-hari.
Karena yg versi bahasa sehari-hari saya merasa tidak terbiasa, dan saya rasakan juga tekanan bahasanya datar, bahasanya kurang padat berisi, tekanan dalam bahasa tulisannya kurang terasa.

Mengenai yg bapak katakan "muatan gaibnya" .......

Kita tidak memandang itu sebagai sebuah kitab yg sedemikian dimuliakan, apalagi disembah2, karena yg menentukan apakah itu adalah sebuah kitab suci atau bukan adalah sugesti batin kita sendiri. Sekalipun statusnya adalah kitab suci, tetapi jika sehari2nya hanya disimpan saja, atau dibiarkan tergeletak tidak diperhatikan, hanya diabaikan saja, maka tidak ada gunanya kita menyebut itu sebagai kitab suci, karena kita tidak meng"suci"kannya.

Muatan gaibnya akan kita rasakan jika selama kita membaca firman-firman Tuhan di dalamnya kita terhubung / tersambung dengan Tuhan yg mengeluarkan Firman.
Jika hanya dibaca datar saja, maka muatan gaibnya tidak terasa, rasanya akan sama seperti buku bacaan biasa.



--------


subject: Belajar Kepada Dewa

 A :    
Setelah membaca email kangmas tentang pemberian benda gaib dari Dewa Wisnu, saya teringat kejadian beberapa malam sebelumnya. Menjelang dini hari saya seperti melihat Dewa Wisnu dengan burung tunggangannya hadir di ruang tengah rumah saya. Saya juga melihat beliau memegang sebilah tombak, panjangnya sehasta berwarna keemasan. Tombak itu mirip dengan kepunyaan kangmas pada foto profil akun gmail.
Apakah tombak itu yang benar diberikan kepada saya? Khadamnya pria sepuh agak bungkuk berpakaian seperti pertapa dengan rambut digelung atas (70 md). Jenisnya seperti wahyu keris ya kangmas ?

Beberapa hari kemudian saya bermimpi kangmas...
Saya merasa seperti berjalan mendaki. Pada suatu kesempatan saya mampir di suatu tempat yang dipenuhi beberapa orang yang tidak saya kenal. 
Ada suara ibu2 yang tidak terlihat wujudnya yang menuntun saya untuk masuk ke suatu rumah.
Di rumah itu kemudian saya dituntun untuk masuk menuju suatu ruangan. 
Di depan saya terlihat ada dua dipan / pembaringan bertingkat yang bersisian. 
Suara ibu itu terdengar: "Di sini bersemayam permaisuri itu. Banyak orang yang ingin memilikinya"
Kemudian ketika saya hendak berbaring di dipan yang paling rendah, ibu yang menuntun saya berkata: "Nah, permaisuri itu sudah datang"...
Setelahnya muncul sinar terang dari atas dipan yang lebih tinggi. Di balik sinar terang itu saya dapat melihat sosok perempuan lebih muda dari ibu yang menuntun saya sebelumnya.
Yang saya rasakan kemudian, sinar terang itu seperti masuk ke dada saya. 

Siang harinya, ketika ada waktu senggang, saya bertanya kepada papat saya tentang siapa pemberi mimpi itu. Dijawabnya : Dewa Wisnu.
Kemudian saya coba kontak batin dengan beliau, katanya ada wahyu jenis kesepuhan yang diberikan kepada saya.
Mohon krosceknya kangmas, benarkah demikian..?
Kalau memang benar, maka kegunaannya untuk apa ya wahyu kesepuhan tersebut ?

Pertanyaan berikut juga ada hubungannya dengan kesediaan Dewa Wisnu mengajar saya. 
Bagaimanakah caranya saya dapat belajar kepada beliau dan dengan cara apa juga beliau mengajar saya..?
Kalau dengan kangmas sih cara belajarnya dengan tanya jawab email...Nah, kalau yang satu ini saya sedikit bingung...

Beberapa hari ini pun ada tamu2 gaib yang datang.
Ada dua sukma manusia, yang satu mengaku sebagai Raja Melayu berpakaian ala melayu didampingi pria berpakaian putih seperti pertapa (penasihatnya).
Katanya, ingin melihat kegaiban di rumah saya..(Kegaiban apa ya...? Kok saya gak nyambung)

Keesokan hari juga ada sosok seperti prajurit, sosoknya seperti manusia setengah kera berdiri di teras rumah saya.
Pada saat saya menulis email inipun hadir seorang mpu sepuh dan seorang pria berbadan besar dan gagah berpakaian ala kerajaan (spt film Bharatayudha India).
Mohon deteksiannya kangmas dengan fenomena yang saya alami akhir2 ini.


Saya juga banyak mengucapkan terimakasih kepada Kangmas atas bimbingannya selama ini.
Mohon kesediaannya juga kangmas untuk mendoakan saya secara khusus agar jalan saya untuk "belajar" ini lebih mudah dan lapang. 
Yang saya rasakan sih, sepertinya percepatan "belajar" saya agak kurang.
Saya yakin dengan dibantu doa dari kangmas, mudah-mudahan Tuhan lebih banyak membuka hikmat kepada saya. 
Karena saya meyakini bahwa doa kangmas itu mandi.


 J :    
Saya agak kurang jelas melihat bentuk bendanya.
Kelihatannya itu seperti tongkat raja yg diberdirikan, bukan tombak.
Khodamnya sejenis wahyu keris jawa, sosoknya seperti wiku / resi, 125 KRK.

Mimpinya adalah pemberian dari khodam tongkatnya.
Mimpinya adalah pemberitahuan bahwa bapak sudah menerima sebuah wahyu, sifatnya kesepuhan. Wahyu itu pemberian dari manajemen dewa.
Dewa Wisnu sendirian tidak menurunkan wahyu.

Wahyu kesepuhan akan memudahkan orang penerimanya untuk mempelajari keilmuan tingkat tinggi dan membantu mengarahkannya menjadi seorang sepuh yang linuwih dan waskita.

Jika bapak sudah aktif menjalani pencarian pengetahuan gaib tingkat tinggi, mungkin bapak juga akan diberikan wahyu spiritual.
Wahyu spiritual akan memudahkan orang penerimanya untuk memahami pengetahuan gaib yang berdimensi tinggi yang akan sulit sekali jika hanya mengandalkan kemampuan dari diri sendiri saja.

Secara keseluruhan Wahyu Spiritual dan Wahyu Kesepuhan berfungsi untuk membantu membuka pikiran, menginspirasi dan menunjang kemampuan si manusia kewahyon supaya lebih mudah dalam memahami, mempelajari dan menekuni pengetahuan dan keilmuan, dari yang tingkatannya rendah sampai yang tingkatan dan dimensinya tinggi, baik yang bersifat kesaktian, kegaiban, kerohanian / keagamaan, ataupun yang bersifat teknis ilmu pengetahuan modern.
Tentang wahyu dewa bapak bisa baca di tulisan saya berjudul Dewa dan Wahyu Dewa.

Sebelumnya memang ada sosok2 gaib yg datang ke rumah bapak, tapi sekarang ini sudah kosong lagi.

Mengenai cara belajar kepada Dewa Wisnu .... susah juga yah karena sifatnya gaib.
Tapi secara teknis bisa dilakukan dengan sambung rasa, berupa mengalirnya ide dan ilham dan  penglihatan gaib. Nantinya khodam tongkatnya akan memfasilitasi, karena ia berfungsi mewakili keberadaan Dewa Wisnu.

Mengenai ketuhanan sebaiknya bapak selalu berusaha tersambung dengan Tuhan. Dengan begitu bapak akan bisa belajar langsung dari sumbernya, tidak lagi harus lewat perantara.

terima kasih


______



subject: Mengenal "Pribadi" TUHAN

 A :    
Sugeng ndalu kangmas...

Sebelumnya saya minta maaf ya kangmas jika ini merupakan suatu kelancangan...
Ketika kemarin kangmas membalas email saya tentang sosok berjubah putih terang yang adalah anggota komunitas kerajaan di Selatan itu, saya mencoba untuk melihat seperti apa bentuk istananya.
Yang terlihat oleh saya, bangunan itu berada di atas awan, tinggi menjulang dan berwarna keemasan. 
Arsitektur bangunannya mengingatkan pada bentuk gedung Kremlin (Moskwa). Lantainya bertingkat ke arah dalam.
Di luar gapura pintu masuknya ada dua sosok berjubah dan berkerudung hitam yang tergantung tinggi. Dada mereka terikat sehingga tak berdaya dan tergantung lemas.
Rasa saya mengatakan bangunan gaib itu di atas kota Purwokerto atau Purworejo.
Saya sih tidak berharap penglihatan batin saya ini benar karena mungkin belum level saya untuk melihat ke arah sana.


"Karakter" Tuhan

Saya mulai membuka Alkitab dari kisah Kejadian halaman per halaman.
Dari beberapa halaman awal ada hal yang ingin saya tanyakan pada kesempatan ini tentang "Pribadi" dan "Karakter" Tuhan yang ada kaitannya dengan beberapa ulasan di tulisan kangmas.
Saya juga memohon ampunan kepada Allah Bapa tentang ikhwal keingintahuan saya ini jika ini merupakan suatu kesalahan.

Allah Bapa itu punya sisi humanis :
Allah Bapa bisa merasa menyesal telah menciptakan manusia dan memilukan hatiNya (Kej 6:6)
Allah Bapa bisa berubah pikiran sehingga kembali kasih kepada manusia walau mereka berbuat jahat dan tak akan lagi membinasakan yang hidup (Kej 8:21). 
Allah Bapa juga merasa perlu 'turun' untuk mengetahui langsung keadaan kaum sodom dari berita2 yang ada tentang penyimpangan kaum itu (Kej 18:21)

Mohon penjelasannya kangmas, karena saya masih terbawa pola pikir tentang "Karakter" Tuhan bahwa Allah itu begitu perfectly sehingga jauh melampaui sifat2 manusia..

Tentang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular (Kej 3:15) sudah kangmas babarkan dalam Bharatayudha di Alam Gaib. Tapi ada yang saya belum jelas dengan kelanjutan ayat berikutnya tentang ular itu yang akan meremukkan tumitnya.
Kira-kira maksud terjemahannya apa ya, kangmas ?


Keris Jawa

Saya ada sedikit curhat dan sharing pengalaman tentang keris jawa....

Sekitar tahun 1998 akhir saya diberi kepercayaan oleh guru spiritual saya untuk merawat sebuah keris. Dari bentuknya keris itu tangguh majapahit.
Ada satu ciri yang membuat saya tidak habis pikir. Pada wilahnya ada beberapa pola seperti cap jari tangan lengkap dengan guratan sidik jari yang ndekok pada logamnya. Mungkin pada saat besinya masih panas, sang mpu membentuk pamor kerisnya dengan tangan telanjang (?)

Karena pada masa itu saya masih awam, saya hanya mengikuti petunjuk guru untuk rutin meminyakinya dengan minyak melati. Setiap bulan suro saya mencoba menjamas ala kadarnya.
Jadi pada waktu itu saya masih blank tentang pengetahuan perkerisan dan guru pun tidak bisa memberikan pengetahuan lebih lanjut sehingga saya tidak pernah sambat apalagi meminta tuah dari khadam keris itu.

Tapi dari apa yang saya alami, saya merasakan derajat ekonomi dan kehidupan saya naik secara signifikan. Mayoritas bisnis yang saya rencanakan berhasil dan berbuah manis. Seperti ada hoki yang selalu menyertai saya.

Beberapa tahun berikutnya (ketika mata batin saya mulai tajam) saya bisa melihat bahwa khadam dari keris itu adalah ibu berkebaya seperti manusia umur 50-an tahun. Dia terkadang terlihat di tempat usaha mengikuti saya.

Sewaktu saya masih single sosok ibu itu sering menunggui ketika saya di pembaringan akan berangkat tidur. Dia sering mengelus-elus punggung dan kaki saya. Rasa semilir dan dingin saya rasakan dari elusannya. Dia begitu sayang kepada saya, dan secara batin pun saya menganggap dia ibu angkat saya dari alam gaib.
Seiring berjalannya waktu maka koleksi keris dan benda2 gaib saya banyak. Untuk keris, tombak, badik, rencong dan sejenisnya mencapai lebih dari 30. 

Namun ketika tahun 2008 guru saya meminta kembali keris itu saya mulai merasakan pengaruhnya.
Dengan suatu sebab juga maka koleksi2 keris dan benda2 gaib saya yang lain terlepas semua dari tangan saya.

Usaha dan bisnis saya stagnan dan secara perlahan mulai mengalami kemunduran.
Tahun2 belakangan ini setiap ide bisnis baru yang begitu matang dan terperinci saya rencanakan ketika coba diterapkan macet dan terkadang menjadi blunder besar. Suatu hal yang jarang sekali terjadi pada waktu2 yang lalu.
Saya merasakan "bintang keberuntungan" saya meredup.

Nah, setelah saya menemukan situs kangmas dan membaca tentang bab perkerisan akhirnya saya menyadari bahwa keris majapahit itu secara tidak langsung memang membawa pengaruh (keberuntungan).

Kini saya mencoba ingin memiliki koleksi keris lagi. Selain pengetahuan yang meningkat dari sebab membaca artikel kangmas, juga spirit saya sebagai orang jawa yang harus melestarikan budaya leluhur.
Jujur juga sih terbersit keinginan untuk menaikkan derajat dan taraf ekonomi.

Kemarin saya bertamu ke rumah seorang kenalan kolektor keris. Dia menawarkan saya sebilah keris (foto terlampir) untuk saya mahari. Khadamnya ibu2 jawa berkebaya 70 md.
Mohon penjelasannya kangmas, apakah keris ini cocok buat saya dan mau ikut saya ?
Dari rasa saya sepertinya khadamnya jenis wahyu keris jawa ya kangmas...?

Mohon juga saran kangmas, apakah langkah saya ini selanjutnya akan memperlebar jarak bila saya ingin "membina hubungan yang pribadi' dengan Tuhan.
Artinya, apakah saya termasuk menduakan Tuhan dengan perilaku saya memelihara keris ini nanti ? Walaupun saya tidak akan sambat kepadanya, tetapi jujur dalam hati kecil terbersit pamrih untuk memperoleh tuahnya.  

Saya juga bermimpi tadi pagi...
Alm. ayah saya begitu marah dan melempari saya dengan batu2 besar. Saya mencoba menghindar dan lari menjauh sehingga batu2 itu tidak mengenai saya.
Maksudnya apa ya kangmas ?
Apakah khadam2 saya yang lama tidak terima jika saya punya "pegangan" baru..?

Sekian dulu kangmas, terimakasih sebelumnya.
Sugeng ndalu..


 J :    
Bentuk bangunannya ada kemiripannya dengan yg bapak sampaikan, tetapi tidak persis seperti itu.
Bangunannya berlantai di atas tanah, tidak di atas awan, dan letaknya tidak di kota Purworejo ataupun Purwokerto.

Bangunannya
besar dan tinggi sekali sampai menembus awan, mempunyai 4 pintu masuk utama, masing2 di atasnya digantung sosok2 halus yang sudah dikalahkan, menjadi pernyataan bahwa kekuatan duniawi tidak berlaku disana.


Tentang ayat akitab yg bapak sampaikan itu selengkapnya berbunyi begini : " Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya ".

Alkitab dituliskan berdasarkan jalan sejarah kehidupan bangsa Israel. Di dalamnya banyak terkandung kiasan2 yg artinya tidak selalu sama dgn apa yg tertulis.
Diperlukan hikmat tersendiri untuk mengerti keseluruhan arti dan isi tulisannya.

Ayat yg bapak sampaikan itu adalah kiasan yang artinya menunjukkan akan adanya permusuhan antara manusia dan para iblis penyesat. Para penyesat itu bekerja menyesatkan manusia, memangsa manusia, menjerumuskan, jika tidak berhasil mereka juga akan membunuh dan melenyapkan Anak-Anak Allah dan orang2 pilihan Tuhan.

Tetapi nantinya akan ada Anak-Anak Allah yang akan mengalahkan iblis.
 

Keris yg fotonya bapak lampirkan itu berkhodam suami istri wahyu keris bersosok bapak2 berjubah dan ibu2 berkemben, 70 md. Kelihatannya tidak ada masalah dengan kecocokkannya dengan bapak.
Jika keris itu dirawat dengan benar nantinya khodam2nya akan menjadi khodam pendamping.

Seperti tulisan saya tentang keris, keris jawa umumnya bersifat dinamis. Khodamnya, dan tuahnya, bisa mengikuti jalan kehidupan manusia pemiliknya karena keris diciptakan untuk mendampingi manusia.

K
alau ingin memiliki keris, sebaiknya jangan didasarkan pada pamrih akan tuahnya. Jangan sampai karena hasrat kita itu kemudian tuahnya malah menjadi tidak terasakan. Tuah mereka tidak sama dengan benda jimat yg akan memberikan tuahnya dengan hanya memakai / membawa bendanya saja dan tidak sama dengan tuah pesugihan yang akan bekerja sendiri mendatangkan kekayaan dan memakmurkan kita. Juga jangan sampai kita menjadi kecewa karena ternyata harapan kita tidak terwujud yang kemudian malah akan semakin menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam perbudakan hasrat dan pamrih.

Karena itu, jika kita memiliki keris, jadikanlah mereka sebagai teman dari alam gaib, karena k
hodamnya, dan tuahnya, bisa mengikuti jalan kehidupan manusia pemiliknya. Mereka mempunyai kebijaksanaan sendiri tentang bentuk pendampingan dan bentuk tuah mereka kepada manusia pemiliknya.


Mengenai pertanyaan bapak, apakah langkah bapak memelihara keris akan memperlebar jarak bila bapak ingin "membina hubungan yang pribadi' dengan Tuhan, karena tetap ada terbersit pamrih untuk memperoleh tuahnya ? 

Terkait dengan kepemilikan dan hasrat memiliki, dan hasrat akan pamrih, sebaiknya kita menjauhkan diri dari perbudakan hasrat dan pamrih diri kita sendiri. Yang membuat diri kita layak ataukah tidak di hadapan Tuhan adalah keseluruhan sikap hati dan perilaku kita sendiri. Dan itu tidak hanya sebatas berlaku pada kepemilikan keris ataupun jimat saja, bukan hanya masalah sikap berhala atau mamon, ataupun sikap kita
terhadap kekayaan dan "bentuk" kekayaan, tetapi adalah keseluruhan sikap hati dan perilaku kita sendiri dalam menjalani hidup.

Kemuliaan kita di mata Tuhan sangat dipengaruhi oleh sikap kita sendiri dalam memuliakan Tuhan. Jika sikap kita dalam menjalani hidup sebagai mahluk duniawi jauh dari sifat-sifat hidup mahluk yang sudah mengenal Tuhan nantinya itu juga akan memberatkan jalan kita kepada Tuhan, atau menjadikan hati kita mendua.


Mengenai mimpi bapak, kelihatannya bukan menunjukkan khodam2 bapak yang lama tidak terima jika bapak punya "pegangan" baru. Saya sendiri belum pasti akan arti mimpinya. Nanti bapak sendiri yang akan tahu artinya.



--------



subject: Bola Energi

 A :    
Selamat malam menjelang pagi kangmas...
Mohon maaf merepotkan dan mengganggu kesibukan kangmas.
Saya kirim email pendek saja.

Saya sudah semingguan ini mendeteksi bola energi berdiameter 2 meteran di atas rumah saya. Dan ada juga yang kecil2, termasuk di atas warung saya.
Apakah benar kiriman dari kangmas ?
Mohon deteksiannya.
Maturnuwun

 J :    
Tidak pak.
Kelihatannya itu dari dewa Wisnu sbg tanda bhw beliau menaungi bapak.
terima kasih

 A :    
Selamat sore kangmas ..

Oo pantas, di dalam bola itu ada seperti ada gambar kuluk.
Rupanya dari Dewa Wisnu.

Lha, terus perbedaan bola energi antara pemberian kangmas (seperti fenomenanya dialami beberapa teman pembaca) dengan bola energi dari dewa apa ya kangmas ?
Apakah ada perbedaan kapasitas ?

Maturnuwun...

 J :    
Beda sekali pak.
Dewa Wisnu pun tidak bisa membuat seperti yg saya buat.

 A :    
Dari yang bisa saya simak dari coment pembaca (spt kisah Ngobrol Gaib 9 yang orang jogja itu) bola energi kangmas itu muatannya adalah Roh Kudus.
Wah, jadi kepingin sekali dapat bola Roh Kudus buat sarana belajar spiritual ketuhanan

Kemudian kalau bola dari dewa itu bisa didayagunakan untuk apa ya kangmas ?

Maturnuwun...

 J :    
Sebaiknya dicoba kontak rasa pak supaya bisa tahu isi / jiwa dari bola energi itu sehingga juga bapak akan tahu apa saja yg akan bisa bapak lakukan dengan bola energi itu.
Masing2 orang mempunyai batasan kemampuan dan pengetahuan yg tidak sama, sehingga terhadap satu objek yg sama belum tentu semua orang bisa berbuat yg sama.
terima kasih


 A :    
Maturnuwun penjelasannya kangmas..

Mengenai cara saya menurunkan energi untuk meningkatkan kekuatan sukma, menurut saran kangmas yang paling baik bagaimana ya, apakah dengan bersugesti kepada bola energi dari dewa atau bersugesti langsung dengan Tuhan, atau kombinasi keduanya..?

Maturnuwun...

 J :    
Kelihatannya sugestinya harus sendiri2 pak, karena individunya juga sendiri2.
Kepada bola energinya paling baik adalah bapak dgn olah rasa menyatukan energi bola itu dengan energi tubuh bapak, kemudian memasukkan bagian per bagian energinya ke tubuh bapak, bukan dengan menurunkan energi.
terima kasih

 A :    
Ya kangmas, saya dapat memahami maksud bahwa sugestinya harus sendiri2. 
Artinya begini kangmas, misalnya pada hari ini saya berusaha bersugesti kepada Tuhan dalam upaya menurunkan energi, besok saya bersugesti kepada bola dari dewa. Jadi selang seling gitu. 
Yang seperti itu apakah boleh kangmas..?

Saya agak bingung dengan kalimat memasukkan bagian per bagian energi. Dari yang saya baca semua tulisan kangmas di situs, metodenya adalah menurunkan energi tapi perihal memasukkan bagian per bagian saya belum pernah menemukan di tulisan kangmas.
Mohon penjelasannya kangmas.

Maturnuwun..

 J :    
Iya pak
Kalau merujuk pada energi alam raya atau Roh Agung Alam Semesta memang caranya adalah menurunkan energi, bisa juga dengan menyatukan / menyambungkan kekuatan kalau bapak bisa.
Tapi dgn bola energi itu, karena tidak bernyawa (tidak hidup), dan posisinya dekat, anggap saja seperti menciduk air di bak mandi, energinya dipindahkan sedikit2, sekaligus semuanya juga boleh kalau bapak mampu.
Tapi dengan cara menghisap energinya juga bisa.
terima kasih

 A :    
Ya kangmas, saya bisa mengerti.
Berarti energi dari bola itu ada batasan kuantitasnya ya, tidak seperti energi alam yang melimpah dan terbarukan. 
Kira2 berapa ya kekuatan energi di bola itu kangmas ?

Mungkin ada baiknya ya kangmas jika saya meminta izin dulu dari dewa Wisnu untuk menyerap energinya. 
Setelahnya saya akan coba visualisasikan tangan saya menjangkau bola itu dan menghisap energinya.
Bisakah dengan cara itu kangmas..?

maturnuwun..

 J :    
Soal kekuatan dan volume energinya silakan dikira2 atau ditayuh pak.
Untuk mengambil energinya paling baik dengan cara kontak rasa dan kontak energi seperti yg dicontohkan dalam latihan Olah Rasa. Kalau tidak bisa menciduknya, diserap atau dialirkan saja masuk ke badan bapak. Sesudahnya tinggal dikonversi menjadi kekuatan tubuh atau menjadi kekuatan sukma.

Sebenarnya awalnya memang itu dimaksudkan sebagai tanda saja bahwa bapak ada di bawah perlindungannya, tidak dimaksudkan untuk diambil oleh bapak. Jadi sebaiknya memang minta ijin dulu kepada yg memberi.
terima kasih.


 A :    
Selamat malam kangmas dan salam sejahtera...

Tadi siang saya sudah kontak batin dengan dewa Wisnu perihal bola itu. Kata beliau, bola energi itu untuk kesaktian, tenaga dalam dan kekuatan sukma. Intinya adalah kekuatan.
Terdengar di batin saya kekuatannya 10 rb KRK. 
apa benar ya kangmas ? mohon crossceknya.

Setelah itu saya coba salurkan energinya dengan visualisasi seolah tangan saya menjangkau bola itu. Hasil tayuhan saya kekuatan pancer saya sekarang 5 KRK dan papat 8 KRK.
Mohon koreksinya kangmas.

Mumpung ada 'bahan' baru buat latihan olah rasa dan olah energi, jadi latihannya saya fokuskan ke bola itu.

Maturnuwun...

 J :    
Saya tidak ingin mengukur kandungan bola energi itu karena sifatnya pribadi antara bapak dengan pemberinya.
Kekuatan pancer bapak sekarang 5 KRK dan papat 7 KRK.
terima kasih

 A :    
Ya kangmas, terimakasih atas bimbingan dan penjelasannya tentang bola energi itu.
Saya akan berlatih olah rasa dan batin dengan bola energi itu.
Mohon arahan dan bimbingannya selalu.

Btw, hehe...jangan panggil saya dengan sebutan bapak dong, kangmas..
Saya jadi kikuk sendiri, terlalu formil dan kesannya kangmas terlalu respek thd saya.
Lagipula kan kangmas lebih sepuh dari saya.

Maturnuwun dan selamat sore..


 J :     ha ha ha, ya lebih enak kalo saling menghormati kan pak.
thanks

 A :     hehe...iya, betul sekali kangmas
tapi bagi saya : ketinggian, saya yang kikuk sendiri.

 J :     ya nggak apa-apa pak,
kan lebih baik ditinggikan daripada direndahkan.

 A :     hehe..kersanipun panjenengan mawon.
Maturnuwun dan selamat malam kangmas



------------




subject: Mengikat sukma penyesat dengan sugesti Ketuhanan


 A :     Selamat malam dan salam sejahtera kangmas.
Mohon maaf mengganggu waktunya.
Barusan ada jin2 jahat berlindung dengan sukma manusia 1000 krk. Sukma ini menyesatkan hasil tayuhan saya. Khadam2 saya tdk ada yg berani mengusir jin2 jahat tsb.

Setelah saya berdoa mohon kuasa Yesus, kemudian terlihat bola energi kecil di telapak tangan. Saya visualisasikan bolanya berekor benang energi dan saya lontarkan ke sukma tsb utk melilitnya. Kemudian saya dia ikat di tiang reklame di atas ruko ini. Sptnya dia meronta-ronta.

Mohon koreksinya kangmas, apakah sugesti saya kpd Tuhan mohon kuasaNya sdh berhasil ?

Terimakasih sebelumnya kangmas
Selamat malam.

https://sites.google.com/site/thomchrists/Kebatinan-dan-Spiritual/ngobrol-10-kebatinan-kegaiban/ngobrol-10-4/sukma%20terikat.JPG


 J :     Saya belum tahu apakah sugesti bapak kpd Tuhan benar sudah berhasil,
tapi memang di tiang itu ada yg diikat,
1 sukma bapak2 berjubah 50 KRK dan 3 jin begundal di bawah 1 KRK.
terima kasih

 A :     terimakasih kangmas.
Kekuatan sukma saya kan belum sampai 50 krk, kira2 energi yang saya dapat utk mengikat mereka di dapat dari mana ya ?
jadi bingung...

 J :     ha ha ha kalau bapak pelakunya saja bingung apalagi orang lain pak.

 A :     Hehe...jadi malu...
Kalau saya memohon kuasa Tuhan dan ada kekuatan besar sesudahnya yg di luar kekuatan saya utk menjawab doa saya, berarti memang doa saya diperkenankan Tuhan...kenapa saya jadi bingung dan mjd tidak yakin ?  Bukankan begitu, kangmas ?
Mohon pencerahannya...
Terimakasih

 J :     Bukan begitu pak.
Kalau hanya melihat / merasakan saja, atau mengawang2, tidak fokus kpd sumbernya, seringkali kita tidak bisa membedakan sumbernya darimana, apakah dari diri sendiri ataukah dari sumber lain.

Kalau kita bisa fokus batin, kalau memang asalnya dari diri kita sendiri nantinya kita akan tahu apakah itu dari kekuatan kebatinan kita, dari dada atau dari kepala, atau dari energi potensial, atau dari kekuatan sugesti dan visualisasi.

Kalau asalnya dari sesuatu yg lain nantinya kita bisa tahu juga apakah itu benar berasal dari Tuhan ataukah dari khodam.

Karena itu dalam latihan olah rasa dan melihat gaib ditekankan juga supaya kita bisa fokus batin, jangan mengawang-awang.

 A :     Ya kangmas, terimakasih pencerahannya.
Super sekali dan detail...

Nah yang semalam itu, ketika sukma penyesat itu tidak mau pergi juga, saya sadar kekuatannya di atas saya. Maka saya berdoa dan fokuskan kepada Tuhan Yesus.
Saya mengangkat tangan kanan saya mohon kuasaNya untuk menyingkirkan sukma tsb.

Setelah sekitar 1 menit saya fokus dan memohon, terasa tangan saya kesemutan dan ada bola energi kecil di telapak tangan. Kemudian saya turunkan tangan dan dengan kekuatan pikiran saya visualisasikan
bolanya berekor benang. Selanjutnya saya lontarkan ke arah sukma itu melilitnya dan saya ikat di atas tiang itu.

Terus terang kangmas saya baru ini mencoba utk menangani gaib jahat dg sugesti memohon kpd Tuhan. Biasanya sih dengan khadam atau kekuatan sendiri.

Karenanya saya croscek dg kangmas, karena kangmas adalah guru yg kompeten dan mumpuni.
Hehe.. Ibarat ahli persenjataan, kangmas akan tahu kalau rudal ini made in USA, China atau buatan PINDAD. Apakah energi di benang yang mengikat sukma itu cita rasa makhluk duniawi atau Ilahi.

Sehingga kalau menurut kangmas benar kekuatannya dari sugesti ketuhanan, saya sudah punya pengalaman dan kapan2 bisa mempraktekannya lagi.

Nyuwun pangapunten kangmas kalau kesannya saya pengen tau banget.
Jujur, kalau sudah interst suatu keilmuan saya akan mencari basic pengetahuan tsb sampai detail.
Selanjutnya tentang variasi dan pengembangan akan berjalan kalau hakikat keilmuannya sudah saya pahami benar2.

Terimakasih sebelumnya kangmas.
Selamat sore.

 J :     Saya ukur kekuatan dari talinya itu sekitar 150 KRK. Tidak hidup, hanya energi saja, jadi itu bukan
sesuatu yg illahi. Mungkin itu adalah hasil dari kekuatan sugesti dan visualisasi bapak dalam menerima dan menggunakan energi dari alam. Itu adalah salah satu contoh kekuatan spiritual.

Energi alam raya sangat besar dan berlimpah. Itu adalah berkat yg sudah diberikan Tuhan untuk semua kehidupan di bumi. Sekalipun kita meminta langsung kpd Tuhan, mungkin yang kita terima adalah berkatnya yg sudah disediakannya untuk semua mahluk. Itu juga adalah dari Tuhan.
Dalam kasus ini kita menyebut Tuhan sebagai Roh Agung Alam Semesta.

 A :     Terimakasih kangmas atas pencerahannya
Sangat teliti dan menambah wawasan.

Jadi pointnya sugesti saya kepada Tuhan sbg Pribadi belum sampai ya kangmas.
Bisa jadi karena saya belum punya berkat Roh Kudus di diri saya.
Tetapi tetap ada jawaban atas permohonan saya dari Roh Agung Semesta Alam.

Nah untuk mendapat parameter berapa kekuatan yg diperlukan utk menangani gaib jahat bagaimana caranya kangmas ?
Kasus yang ini kan saya tdk tahu harus membentuk energi brp KRK utk mengusir sukma tsb, akhirnya bisa mjd 150 KRK.
Dari mana bisa terbentuk energi 150 KRK tsb ?
Apakah sudah otomatis bila kita memohon kpd Tuhan utk menangani gaib bermasalah, maka energi yang turun bakalan lebih dari kekuatan lawan kita itu.

Mohon pencerahannya kangmas.

Mohon deteksinya juga kangmas utk kekuatan pancer dan papat saya sekarang.

Terimakasih sebelumnya kangmas.

 J :      Roh pancer bapak 6 KRK
Sedulur papat 13 KRK

Saya belum bisa memastikan apakah sugesti bapak kepada Tuhan sbg Pribadi sudah sampai atau belum.
Dan kalaupun belum sampai saya yakin penyebabnya bukan karena bapak belum punya Roh Kudus di diri bapak, karena orang2 yg sudah menerima tanda baptisan pun belum tentu bisa bersugesti tersambung dgn Tuhan.

Saya juga tidak bisa menentukan parameter berapa kekuatan yg diperlukan untuk menangani gaib jahat. Seharusnya kita bisa mengukur kekuatan lawan kita, barulah kita gunakan kekuatan yg lebih tinggi untuk menaklukkannya. Tapi untuk mudahnya ya kita gunakan saja kekuatan setinggi2nya yg kita mampu.


Dari mana bisa terbentuk energi 150 KRK tsb ?
Apakah sudah otomatis bila kita memohon kpd Tuhan utk menangani gaib bermasalah, maka energi yang turun bakalan lebih dari kekuatan lawan kita itu ?

Saya belum tahu apakah energi yg bapak gunakan itu ada hubungannya langsung dengan Tuhan. Bisa iya, bisa juga tidak. Dan mungkin juga itu adalah kombinasi dari kekuatan sugesti dan visualisasi bapak sendiri dalam menerima dan menggunakan energi dari alam. Mungkin dalam sugestinya itu bapak bersugesti menghimpun kekuatan yg maksimal yg dipusatkan di tangan bapak dan dibentuk seperti laser.

Kekuatan sukma belum tentu menggambarkan batas kekuatan gaib yg bisa kita gunakan. Yg lebih menentukan adalah kemampuan kita sendiri dalam menggunakannya, dengan sugesti kebatinan atau spiritual atau juga dengan sugesti ilmu gaib. Apalagi kalau kita bisa juga mengambil energi dari sumber lain selain energi kita sendiri (alam).

Diibaratkan energi kita seperti segentong air.
Airnya bisa disalurkan halus untuk menyirami tanaman.
Airnya bisa juga digelontorkan sekaligus untuk membersihkan sampah.
Tapi ada kotoran2 bandel yg tidak begitu saja bisa dimentalkan dgn gelontoran air, tapi bisa dikikis dgn semprotan selang, apalagi kalau airnya dibuat menyemprot kecil tajam.
Lebih bagus lagi kalau kita bisa mendapatkan sumber dari tempat lain, tidak mengambil air dari gentong itu, misalnya menggunakan air dari pompa air yg debit airnya besar. Manfaatnya lebih banyak kalau kita bisa mendayagunakannya.


Memang selama ini saya sering menghindar dari menjawab pertanyaan2 para pembaca yg menanyakan apakah ia sudah bisa bersugesti langsung kpd Tuhan. Kalaupun saya menjawabnya, dasar jawaban saya adalah dari pengamatan saya pada orangnya apakah ada tanda2 keillahian pada dirinya, bukannya langsung menanyakannya kpd Tuhan (kecuali pada orang itu ada tanda2 keillahian, barulah saya menanyakan kebenarannya kpd Tuhan). Saya tidak mau itu menjadi sesuatu yg tidak patut. Apalagi kalau nantinya itu memunculkan pencitraan pada orangnya bhw ia sudah bisa tersambung langsung dgn Tuhan. Takutnya itu akan berlanjut menjadi sesuatu yg tidak patut.

Hubungan dengan Tuhan seharusnya menjadi hubungan yg pribadi antara orangnya dgn Tuhannya. Kalau dirasa masih ada yg kurang seharusnya orangnya sendiri yg semakin bertekun kpd Tuhan dgn laku yg patut. Dengan begitu ia sudah memuliakan Tuhan, bukan sekedar mengejar sensasi tersambungnya dirinya dengan Tuhan, apalagi sampai ia menganggap kalau sudah tersambung, apalagi manunggal, nantinya segala sesuatu yg diinginkannya akan terkabul.

Tapi saya tidak menyebut bapak begitu. Saya memahami, begitu juga dengan pertanyaan2 serupa dari pembaca yg lain. Saya hanya menyampaikan saja alasan saya yg tidak langsung menjawab pertanyaan2 sejenis itu.

Saya sendiri lebih banyak mengolah dan mendayagunakan apa yg sudah saya terima, karena saya yakin tanpa saya memintanya Tuhan sendiri yg akan memberikannya, karena Ia tahu apa yg saya perlukan. Kalau dianggap kurang Ia pasti akan melengkapkannya.

 J :     Barusan saya mendapat bisikan bahwa sugesti bapak kpd Yesus ternyata sampai, dan energi itu adalah
yg diberikan yg dianggap cukup untuk keperluan bapak saat itu.
terima kasih

 A :     Ya kangmas, terimakasih sekali atas koreksinya.
Mohon maaf sebesar2nya pertanyaan2 saya membuat kangmas kurang nyaman.

Terimakasih juga atas pencerahannya.
Kangmas menyadarkan saya akan laku saya yang bisa menjerumuskan saya kepada perbuatan2 yang tidak patut kepada Tuhan dan bahkan bisa mendatangkan murkaNya.

Seharusnya saya tdk perlu ngopeni apakah sugesti saya sdh sampai kepada Tuhan atau belum.
Semoga Tuhan mengampuni kesalahan dan kedegilan hati saya.

Sekali lagi saya mohon maaf membuat kangmas kurang nyaman.
Jangan bosan2 untuk mengkoreksi dan melempengkan jalan saya, apalagi untuk jalan ketuhanan, agar saya tidak semakin jauh menyimpang dari Tuhan.

Berarti memang sulit untuk implementasikan sikap berdoa yang memuliakan Tuhan dan tidak mengedepankan pamrih pribadi.
Bukankah dengan kita berdoa mohon kekuatan Tuhan utk mengusir gaib jahat sebenarnya juga hakikatnya mengedepankan kepentingan duniawi kita ?
Bagaimana menurut kangmas ?

 A :     Tentang energi yang diberikan oleh Tuhan Yesus itu, jujur saya sekarang jadi malu hati kangmas.
Tuhan Yesus sudah terlalu baik dan begitu kasih kepada saya. Saya jadi terenyuh dan hati saya berguncang. Jujur saya sekarang menangis kangmas atas perhatian Tuhan Yesus kepada saya.

 J :     Walaupun awalnya saya merasa kurang sreg, selain karena alasan2 yg saya sebutkan itu, saya juga
tidak ingin ada pencitraan atau pengkultusan bahwa saya sudah tersambung dgn Tuhan, kenal Tuhan, sudah bertemu Tuhan, apalagi dianggap menjadi perantara manusia dengan Tuhan. Apalagi kalau itu dipandang orang secara miring / sinis. Tapi kelihatannya tadi itu memang saya disuruh membuka itu kepada bapak, tapi juga ditambahkan supaya jangan sampai yg saya khawatirkan itu terjadi.

Secara pribadi saya mengerti bahwa para pembaca ingin mengetahui posisinya apakah benar ia sudah tersambung dengan Tuhan atau belum dalam hubungannya dengan agama dan ketuhanannya. Jadi memang perlu, dan saya memahami, bahwa bapak juga ingin tahu apakah benar bapak sudah bisa bersugesti kepada Tuhan. Tapi saya juga merasakan bahwa ada sebagian orang yang hanya mengejar sensasinya saja dari ketersambungan atau kemanunggalan dengan Tuhan, yang itu tidak dijadikannya motivasi untuk ia semakin bersungguh-sungguh dalam berketuhanan.

Apalagi ada perilaku orang yang memohonkan segala sesuatunya kepada Tuhan dgn menganggap kalau tidak terkabul ya berarti Tuhan belum berkenan mengabulkan, tapi kalau terkabul keinginannya dianggap itu perkabulan dari Tuhan, yang itu kemudian memunculkan pengkultusan tentang Tuhan yang semakin mendorong orangnya untuk semakin mengatasnamakan Tuhan atas semua perbuatan2 dan permohonan, entah perbuatannya itu baik ataupun tidak, seolah-olah kalau sudah mengatasnamakan Tuhan maka itu "halal" dan baik. Tapi itu sudah membuat Allah semakin berpaling darinya, sehingga yang didapatkannya hanyalah berkah duniawi saja, bukan berkat yg dari Tuhan.

Tapi Allah melihat hati.
Kepada orang2 tertentu yg dinilaiNya bersungguh2 dalam berketuhanan Allah sendiri yang membuka diriNya kepada orang itu dan menunjukkan tanda2 kepadanya bahwa orang itu sudah berhubungan dengan sesuatu yg illahi yg tidak sama dan berbeda dengan sesuatu yg duniawi. Disitu juga ada harapan dari Tuhan supaya orang itu semakin bersungguh2 dalam ia berketuhanan, karena Allah sudah berkenan membuka diriNya kepadanya yang orang lain belum tentu mendapatkan kesempatan yg sama seperti dia.

Saya percaya bahwa bapak sudah cukup sepuh untuk mengerti dengan dalam atas apa yang saya sampaikan ini.

terima kasih

 A :     Ya kangmas, terimakasih sekali atas wejangannya.
Semoga dengan ini bisa menjadikan jalan saya untuk berketuhanan menjadi lurus, tidak berbelak belok karena hasrat dan ambisi pribadi saya yang tidak patut di mata Tuhan.
Amin..

Dan atas semua berkat yang Allah berikan kepada saya, itu semua adalah kemurahanNya kepada saya, bukan karena usaha saya pribadi mendekat kepada Tuhan.
Semoga Allah Bapa dan Yesus Kristus berkenan selalu memberkati saya.

Oya, terus sukma terikat itu sebaiknya bagaimana ya kangmas..?
Terimakasih.

 J :     Ya terserah bapak saja.
dibiarkan juga tidak apa2 pak
thanks

 A :     Kalau saya mau buang jauh apa hrs saya bungkus dg pagaran absolut yg kekuatannya di atas kekuatan
sukma tsb yg 50 KRK, atau malahan di atas kekuatan tali pengikatnya yg 150 KRK ?  
Terimakasih

 J :     Tadi sudah saya bungkus sih pak,
tapi baik juga untuk bapak bungkus lagi, untuk latihan.
thanks

 A :     Hehe...besok aja lah, skrg posisi saya sudah di rumah. Gaib2 itu di seberang toko saya kok.
Lagipula gak enak dg kangmasnya, jam segini belum istirahat... Sebenarnya mau saya kirimkan seporsi buat makan malam kangmas, cuma bingung mau kirimnya gimana...hehe




________



 A :    
Beberapa waktu yang lalu saya pernah deteksi seseorang yang membuat saya miris karena banyak sekali orang yang kena dipengaruhinya sehingga menjadi tersesat. Saya pernah deteksi di kepalanya ada sukma 2 md bapak2 berjubah dan bersorban spt orang pakistan. Pikir saya mungkin inilah penyesatnya.
Sukma itu saya isolasi dan saya buang, kemudian kepada orang ini saya beri pagaran absolut sekitar 100 krk.

Beberapa hari kemudian saya cek lagi ternyata di kepalanya ada lagi sukma bapak berjubah dan pagaran absolut saya kok hilang.
Setelah saya tanya ke sedulur papat orang ini rupanya pagarannya dimusnahkan oleh iblis bertanduk dua berbadan merah gelap. Kekuatannya sekitar 4000 krk.
Tadinya mau coba saya tangani...hehe... tapi sampai sekarang saya masih mikir2.
Apakah iblis ini lolos dari razia anggota komunitas kerajaan, kangmas ?

Terimakasih sebelumnya..

 J :    
Iya saya deteksi di dlm kepalanya memang ada yg bapak sebutkan itu, tadi sudah saya isolasi, tapi belum saya buang, hanya saya pinggirkan saja di depan kepalanya, sbg peringatan spy tidak dimasuki lagi oleh yg lainnya.
Yg bertanduk 4000 krk itu ada di belakang orangnya, barusan juga sudah saya isolasi, tapi juga tidak saya buang.
Memang jenis itu masih banyak yg berkeliaran, karena dulu tidak ikut berperang dan karena ada yg dulu ikut berperang tapi berhasil melarikan diri.

Memang saya juga mendeteksi ada banyak orang yg disesatkan, dari berbagai kalangan dan agama.
Kalau orangnya itu berada di dalam sebuah ikatan dan sistem yg terorganisir, mungkin pengaruh penyesatannya tidak meluas, karena akan mendatangkan reaksi dari yg lainnya.
Tapi kalau orangnya tidak berada di dalam sistem, yg orangnya bekerja sendiri dan punya pengikut sendiri, yg seperti itu penyesatannya bisa mudah meluas.

Kasihan sekali mereka yg agamis dan yakin berketuhanan, ternyata diri mereka sendiri sudah disesatkan.
Lebih baiklah kalau orangnya sesat dari dirinya sendiri, karena itu adalah keputusan dan tanggung jawabnya sendiri, daripada sesat karena disesatkan tapi tidak tahu kalau dirinya sesat dan sudah berhasil disesatkan.

 A :    
Ya benar kangmas, justru mereka merasa mendapat pencerahan dari Tuhan padahal itu sebenarnya adalah penyesatan.
Bagi orang awam yang sudah berketuhanan dengan benar mungkin yang diperlukan adalah kesadaran tertinggi tentang keimanannya kepada Tuhan agar terjaga dari setan2 penyesat ini.

Kalau rasa saya sih sepertinya iblis 4000 krk di belakangnya ini adalah bagian dari suatu sistem, karena mengingat kekuatannya yang lumayan besar untuk "mengawal" orang sekelas dia ini yang pengaruh dan daya pesonanya bisa membuat banyak orang mudah sekali terpikat dengan kotbahnya sehingga akhirnya menanggalkan keimanannya dan berpaling.

Terimakasih.

 J :     Mungkin masing2 orang ada kelasnya sendiri2 ya pak
Kadang2 fanatisme yg dianggap sbg kekuatan iman dan agama justru menjadi petaka ketika orangnya tidak tahu bahwa ia sudah salah jalan, karena tidak bisa melihat dan menerima kebenaran lain selain kebenarannya sendiri.



_____



subject: Pedang Gaib ?

 A :    
Selamat malam kangmas

Mohon deteksiannya, saya kok merasa seperti menyandang pedang di punggung.
Dan pedangnya dipakaikan setelah jubah.

Terimakasih sebelumnya...

 J :     Kelihatannya itu tongkat / tombak yg dulu ditaruh di rumah bapak.


 A :     selamat malam kangmas
terimakasih atas balasan emailnya...

Mau bertanya kangmas, kalau sukma manusia yg sudah manunggal itu tampak seperti apa ya..?
Seorang teman kristiani pernah bertanya tentang fenomena gaib yg ia alami sewaktu berdoa.
Setelah coba saya terawang, ia didatangi dua sukma biarawati. Setelah coba saya fokuskan pandangan dan pertegas gambarnya, nampak pada keduanya sosok burung merpati putih dan terang.
Apakah mungkin itu tanda bahwa sukma mereka termasuk yg sudah manunggal dengan Tuhan?

Terimakasih sebelumnya kangmas

 J :     Mungkin saat itu teman bapak itu tersambung doanya dengan Tuhan.

 A :     Ya kangmas, terimakasih..
Kalau boleh mohon dicek kangmas..
Di kening saya seperti nampak tanda putih, saya tidak tahu itu tanda apa, atau hanya halusinasi saya saja.
Terimakasih sebelumnya.

 J :     Kelihatannya Dewa Wisnu membukakan cakra mata ketiga bapak supaya bapak bisa melihat gaib,
tapi apakah bapak skrg sudah bisa melihat gaib seperti harapan beliau hanya bapak saja yg tahu.
terima kasih

 A :     Ya kangmas, terimakasih
Saya sih merasa akhir2 ini ada peningkatan dalam kemampuan melihat gaib. Tapi sejauh manakah peningkatan kemampuan saya ini terhadap harapan Dewa Wisnu saya belum mengetahuinya.



_____




 A :     Mohon krosceknya untuk yang satu ini kangmas. Tapi sebelumnya saya mohon maaf...
apakah ada tanda baptis di dahi saya, karena rasanya saya seperti melihat tanda salib putih ?

Terimakasih sebelumnya..

 J :     Maaf bapak, sampai sekarang saya belum melihat adanya tanda baptisan di dahi bapak.
terima kasih

 A :     Ya kangmas, terimakasih banyak buat deteksiannya.
Buat pribadi saja kangmas, mohon nasehat dan pitutur bijak dari kangmas...

Kangmas pernah mengatakan kepada saya: "... Saya tidak mengarahkan kepada bapak agar minta dibaptis kepada pastur / pendeta..."
Sementara kepada teman pembaca yg lain, seingat saya kangmas pernah menyarankan kpd yg bersangkutan agar minta dibaptis ulang kepada pastornya, karena pada baptisan pertama, kangmas tidak mendeteksi adanya Roh Kudus.
Jujur, saya agak bingung utk memaknainya..?

Apakah saya yg agak lola utk memahami kalimat kangmas "hubungan yg pribadi" antara manusia dan Tuhan ketika si manusia "mulai mendekat dan bersungguh2 kepada Tuhan".

Untung saja saya sempat membaca obrolan tentang seorang teman yg dibaptis langsung oleh Yesus. Tapi mungkin dgn berbagai pertimbangan kangmas akhirnya men-delete.
Nah, terinspirasi oleh pengalaman teman pembaca itu, terkadang pada saat saya berdoa kepada Tuhan, saya memohonkan agar Tuhan mengirimkan Roh Kudus kepada saya utk mjd Penolong dan Penghibur, penunjuk jalan kepada Tuhan.

Jujur, dalam hati kecil saya ingin sekali diakui sebagai anak Allah...tapi mungkin Tuhan punya rencana lain kpd saya. Dan saya juga merasa, terlalu banyak dosa dan aib saya di masa lalu, masa dimana saya sering bersundal dengan tuhan yg lain.
Dalam doa kepada Tuhan, saya juga menerima dan mengakui kesalahan masa lalu, sungguh2 ingin bertobat, dan bilamana kesulitan2 ini akibat dari dosa lalu dan bentuk hukuman Tuhan, saya akan terima dengan sabar.

Karena saya ingat dengan Firman Yesus, bukankah tabib itu datang kepada orang yang sakit.... Saya adalah orang sakit, dan saya ingin sembuh. Dan saya percaya kepada Kasih dan Janji Tuhan.

Terkadang juga malu hati kepada Tuhan utk berulang2 memohon anugerah Roh Kudus, karena mungkin di mata Tuhan saya belum layak.
Sementara, utk menerima baptisan kepada Romo cenderung agak ribet, mesti ikut katekumen 2 tahun. Sedang utk masuk kelas setiap minggu...hehe saya kok merasa
kurang mampu lagi.
Mungkin inilah beban duniawi saya.
Dan juga saya terpikir seolah2 saya ikut katekumen hanya sekedar pamrih mencari tanda baptis.
Lagi2 saya malu kepada Tuhan utk pamrih ini.

Ada juga seorang teman yg mengajak saya utk datang ke pastur teman akrabnya, agar gak perlu katekisasi dan langsung dibaptis. Utk yang terakhir ini saya tambah malu kepada Tuhan.

Bagi saya, kristen dan katolik atau ortodoks atau apapun sektenya bukanlah satu2nya tujuan...karena dari kangmas saya memahami dengan benar ajaran Yesus Kristus dalam injil / keselamatan dan jalan Ketuhanan.

Pilihan agama bagi saya adalah hubungan sosial / kemasyarakatan, karena orang beragama kristen / katolik atau apapun namanya belum tentu mengantarkan dirinya kepada Tuhan, dan belum tentu menjadi pribadi yang layak di mata Tuhan.

Pertanyaan tentang tanda baptis pada email saya sebelum ini muncul ketika seorang teman yg bisa melihat gaib melihat tanda sayap merpati pada dahi saya.
Akhirnya utk memastikannya, saya bertanya kepada kangmas.

Mohon maaf kangmas kalau email saya kepanjangan. Tentang balasannya kangmas tidak perlu buru-buru....selonggarnya waktu kangmas saja.

Terimakasih sebelumnya..
Selamat malam.


 J :     Masing2 perkataan dan nasehat saya kepada orang lain ada konteksnya sendiri2, ada latar belakangnya
sendiri2.

Ada orang yg sudah sejak lahirnya beragama kristen karena lahir di keluarga kristen. Orangnya sendiri merasa dirinya kristen. Sayang sekali kalau kekristenannya itu tidak lengkap hanya karena dirinya tidak mempunyai tanda baptisan. Karena itu jika orangnya memang mantap kepada agama dan ketuhanannya itu saya menganjurkan supaya ia minta dibaptis ulang.

Ada orang lain lagi yg non-kristen, tapi ia sudah percaya kepada Tuhan dan Yesus dan sudah juga mempelajari ajaran dan firman2Nya.

Ada juga orang yg diberiNya tanda2 sebagai bukti bagi orangnya bahwa ia sudah terhubung dengan sesuatu yg illahi, yg bukan duniawi. Itu adalah tanda bahwa Tuhan sendiri sudah membuka diriNya kepadanya yang kalau ia bersungguh2 kepada Tuhan, maka ia akan terhubung dengan Tuhan yg benar, bukan dengan tuhan2 palsu. Saya sendiri tidak menyuruh dia masuk kristen, karena dia sendiri masih belum mampu menanggung beban tekanan dunia ini. Tapi atas kesungguhan hatinya itu Allah sendiri yg turun tangan membaptis dirinya, melangkahi birokrasi agama di dunia manusia. Itu juga bukti bahwa Allah ada di atas agama, tidak di bawah agama. Allah yg berkuasa atas agama, bukan manusia.

Sejak awal saya tidak bermaksud mengajak orang masuk agama kristen. Saya juga tidak sedang berdakwah agama, apalagi menjual agama, karena agama saja tidak cukup. Lagipula itu akan menimbulkan banyak pertentangan di dunia manusia dan juga bagi saya sendiri itu adalah suatu kemunduran jika saya berorientasi kepada agama, karena agama itu derajatnya rendah bagi orang2 yg sudah mengenal Tuhan, karena Tuhan lebih daripada agama. Tapi juga jangan kita mengabaikan agama, karena agama itu adalah juga sarana kita berketuhanan. Tuhan dan agama masing2 ada tempatnya sendiri2, jangan disamakan dan jangan dicampur-adukkan.

Sejak awal saya hanya ingin mengenalkan Tuhan yang benar kepada semua orang sesuai pengetahuan saya pribadi tentang Tuhan. Saya tidak mengajak
orang masuk agama, tapi saya ingin orang benar2 mengenal Tuhannya yg benar, kemudian datang sendiri dan beribadah kepadaNya dengan jalan yg benar. Selanjutnya terserah orangnya itu sendiri sejauhmana ia akan berketuhanan, karena itu akan menjadi hubungannya yg pribadi dgn Tuhan.

Saya pribadi, sekalipun juga beragama, tapi saya tidak menempatkan diri saya di bawah agama. Saya tidak mengabaikan agama, tapi saya juga tidak mau mengikat diri pada agama jika itu (dan aturan2nya) menghalangi / merintangi saya datang kepada Tuhan. Secara pribadi agama dan ketuhanan adalah jalan saya kepada Tuhan, saya tidak mengabaikannya, tetapi hubungan saya yang pribadi dengan Tuhan lebih daripada agama. Itu berbeda dengan orang2 yg menganggap hubungannya dengan Tuhan hanya sebatas agama saja, sehingga mereka akan mempertuhankan agama.

Saya memahami kekecewaan bapak dan memahami juga beratnya bapak menanggung beban tekanan dan rintangan dunia ini untuk bapak melaluinya untuk bisa datang kepada Tuhan. Tapi kesungguhan niat dan usaha bapak itu mendapatkan poin tersendiri di mata Tuhan, apalagi kalau bapak benar2 mampu menanggung dan melaluinya. Tidak akan ada yang sia2.

Kepada bapak dan semua orang yang mengalami sama dengan bapak saya memberikan nasehat seperti yg sudah tertulis di dalam :
Injil Matius 13,
Markus 4,
Lukas 8,
yaitu perumpamaan mengenai benih (Firman) tentang Kerajaan Sorga (Tuhan) yg ditaburkan kpd banyak orang.

Ada
benih itu yg jatuh di pinggir jalan, ada yg jatuh di tanah berbatu, ada yg jatuh di semak-semak, dan ada yg jatuh di tanah yg baik.

Yang dimaksudkan dengan tanah tempat menabur benih firman Tuhan itu adalah kita sendiri, manusia.

Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengar firman itu, kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang yang setelah mendengar firman itu kemudian menerimanya dengan gembira, tetapi firman itu tidak berakar, mereka percaya
sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.

Yang jatuh di semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu yang dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh tekanan hidup dan kekuatiran atau kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah kepercayaan yang matang, atau malah tidak berbuah.

Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang yang setelah mendengar dan menyambut firman itu menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan. Ada yang berbuah tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.

Saya berharap bahwa bapak dan semua orang yang mengalami sama dengan bapak mampu membentuk diri menjadi tanah yang baik yg setelah menerima firman itu (Tuhan) kemudian percaya dan menghasilkan buah-buah kepercayaan dan imannya tidak layu di dalam pencobaan dan tekanan dunia.


Mengenai kesulitan bapak yg lain itu juga dialami oleh orang lain juga.

Memang ada orang2 yg berusaha menjaga kesakralan baptisan suci, sehingga baptisan itu hanya mereka berikan kpd orang2 yg menurut mereka sudah benar2 matang di dalam kepercayaannya kepada Yesus, Tuhan dan Firman2Nya.

Tetapi mungkin ada juga orang yg bukan semata2 ingin menjaga kesakralan baptisan suci, tetapi karena menganggap agamanya eksklusif kemudian bermegah diri menciptakan aturan tentang baptisan dan keanggotaan yg aturan itu tidak boleh dilanggar. Yang seperti itu akan sama dengan yg tertulis di dalam Perjanjian Baru: Matius: 23:13 tentang orang2 yang menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Mereka sendiri tidak masuk ke dalamnya dan mereka merintangi orang lain yang berusaha untuk masuk.

Tetapi sama dengan firman perumpamaan jika ada yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh dua mil. Jangan itu sengaja dipertentangkan dan jangan itu dijadikan masalah yg memberatkan.

Kepada bapak dan semua orang yang mengalami sama dengan bapak saya menganjurkan supaya mencari solusi yg memudahkan jalan berketuhanan dan jangan sampai kesungguhan dan kepercayaannya itu suam2 kuku.

terima kasih


 A :     Ya kangmas, terimakasih banyak untuk nasehat dan pituturnya.
Sungguh sangat bermakna dan merupakan mutiara hidup.

Terhadap birokrasi agama di dunia ini memang terkadang membuat saya sedikit masygul.
Secara pribadi sebenarnya saya tidak terlalu kecewa, hanya agak bingung saja dengan alasan2 yang mereka kemukakan.
Dan terhadap setiap pertanyaan2 pihak gereja yang menanyakan alasan saya ingin mengimani injil, saya hanya menjawab formil2 saja...perjalanan rohani dan ketuhanan. 
Karena tidaklah mungkin saya jabarkan alasannya berupa hal2 spiritual yg tingkatannya tinggi atau pengetahuan kegaiban2 yg mereka tidak akan mampu mencernanya.
Saya menyadari yang saya dapatkan dari kangmas adalah suatu pengetahuan spiritual tingkat tinggi. 

Dan saya memang harus mengikuti regulasinya.

Pertanyaan saya ini juga sebenarnya juga titipan seorang teman.
Dirinya mengalami hal yang lebih galau dari saya.
Di umurnya yang menginjak kepala 6, dia belum dibaptis. Padahal dia terlahir dari keluarga katolik, dan semua saudaranya sudah dibaptis, bahkan kedua anaknya pun sudah mendapat baptisan.
Mungkin karena kesibukan duniawinya sehingga dia "tercecer".
Dan ketika kesadarannya penuh untuk mendapat pengakuan anak Allah dan ingin dimateraikan, kembali soal katekumen yg menjadi penghalang.
Mungkin suatu saat nanti dia ingin ngangsu kawruh dengan kangmas.

Tapi nasehat kangmas memang harus saya tindak lanjuti.
Jika ada orang yang memaksamu berjalan satu mil, maka berjalanlah bersamanya dua mil.
Seperti dalam Mat 13: 45-46...saya belum menjual apapun untuk mendapatkan mutiara itu.
Saya belum melakukan sesuatu yang berarti untuk membuktikan kekerasan hati saya.
Mungkin Tuhan ingin melihat totalitas saya.
Dan saya akan menebalkan tekad serta memohon Tuhan membimbing langkah saya kepadaNya.

Terimakasih sekali lagi kangmas untuk bimbingannya yang berharga ini, dan mohon doa restu selalu.

Selamat malam.


 J :     Untuk urusan keagamaan mungkin akan lebih baik kalau kita menjawabnya secara keagamaan juga,
jangan dengan sudut pandang lain, karena tidak semua orang bisa menerima sesuatu yg lain walaupun mereka tahu itu benar. Ada juga orang yg lebih suka kita fokus pada konteks yg lebih sempit lagi, yaitu hanya sebatas gereja mereka saja, bukan pada kepercayaan dan keagamaan kristen secara umum.

Kepada bapak, teman bapak dan semua orang yang mengalami sama dengan bapak saya menganjurkan supaya mencari solusi yg memudahkan jalan berketuhanan dan jangan sampai kesungguhan dan kepercayaannya itu menjadi layu karena banyaknya rintangan.

terima kasih

 A :     Ya kangmas, terimakasih buat nasehat dan anjurannya...akan saya tindaklanjuti.
Selamat malam kangmas.

 J :     Selamat malam pak.



______



subject: Belajar Hikmat

 A :    
Selamat pagi dan salam sejahtera kangmas..
Mohon penjelasannya kangmas tentang hikmat.
Amsal :
1:7. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.
1:20. Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya,
14:33. Hikmat selalu ada di dalam pikiran orang berbudi; tapi tertindas dalam pikiran orang bodoh.
19:20. Jika engkau suka belajar dan mendengar nasihat, kelak engkau menjadi orang yang berhikmat.

Yeremia 10:12. TUHAN menciptakan bumi dengan kuasa-Nya, membentuk dunia dengan hikmat-Nya, dan membentangkan langit dengan akal budi-Nya

Apakah hikmat itu ada bersama dengan Firman Allah, ataukah hikmat itu ada bersama Roh Agung Alam Semesta..?

Kalau dikatakan sumber hikmat yang tertinggi adalah dari Tuhan, apakah semisal kita mendengarkan khotbah dan membuka2 buku pengetahuan, atau seperti membaca2 web kangmas ini juga bisa disebut belajar hikmat walau bukan dari sumber yg tertinggi ?

Terimakasih sebelumnya kangmas.
Selamat pagi...


 J :     Hikmat di tulisan itu bisa diartikan pengetahuan dan kebijaksanaan yang diberikan Tuhan kepada
manusia.

Sebagian hikmat terkandung di dalam "Cahaya"-Nya yang terpancar ke seluruh penjuru bumi sehingga manusia di seluruh bumi dimana pun mereka berada bisa memiliki kebijaksanaan ketuhanan, tentang Tuhan sebagai Penguasa Alam (Roh Agung Alam Semesta) dan tentang pengetahuan duniawi.

Pada masa sekarang kita memahami bahwa ada tangan2 gaib yang ikut bekerja dan berperan di dalam kehidupan manusia, yang memberikan hikmat / inspirasi / pengetahuan / kebijaksanaan.
Tetapi Hikmat yang tertinggi adalah yang diberikan langsung kepada manusia dari Tuhan, langsung dari Pribadi2 yang menjadi Tuhan.

Dari kita mendengarkan khotbah, membuka2 buku pengetahuan, atau membaca2 web saya ini bisa juga disebut belajar hikmat / pengetahuan / kebijaksanaan, walaupun bukan langsung dari sumber yg tertinggi.
Sesudahnya seharusnya kita membuka diri lagi untuk meminta dan menerima hikmat dari sumber hikmat yg tertinggi, Tuhan.

Hikmat selalu ada di dalam pikiran orang berbudi; pada orang2 sepuh dan bijaksana, tapi tertindas dalam pikiran orang bodoh.
Semua orang merasa dirinya berbudi, merasa pintar, merasa mengerti hikmat dan memiliki kebijaksanaan.
Tapi itu sifatnya hanya pemikiran sempit manusia saja, yang dirinya merasa pintar, merasa tahu, sehingga manusia tidak mampu menelisik sesuatu yang sifatnya "dalam" sekaligus "tinggi", hanya mampu mengetahui sebatas kulitnya saja tapi merasa sudah tahu.

Hikmat tertindas dalam pikiran orang bodoh.
Hikmat tidak tumbuh subur di dalam pikiran orang2 bodoh, yang membodohi dirinya sendiri dengan dirinya merasa pintar, merasa tahu. Itu yang di dalam agama kristen disebut kedegilan.

Itu juga yang membuat manusia jauh dari pengenalan dan pengetahuan yang benar tentang Tuhan, tapi dirinya merasa tahu dan mengerti.

Hikmat tumbuh subur pada orang2 yang suka belajar dan mendengar.



 A :    
Selamat malam kangmas.
Ada yang ingin saya tanyakan lebih lanjut, kangmas...mohon penjelasannya.

Dikatakan bahwa sumber hikmat yang tertinggi adalah dari Tuhan, langsung dari Pribadi2 yang menjadi Tuhan. Berarti kebenaran Hikmat yang tertinggi adalah yang dari Tuhan atau Pribadi2 yang menjadi Tuhan.

1. Apakah boleh saya menyimpulkan bahwa hikmat itu identik dengan kebenaran ? Kebenaran yang hakiki (intisari) tentang pengetahuan, kebijaksanaan, termasuk juga pengetahuan tentang Ketuhanan.

2. Misalnya kita mendengarkan hikmat dari bukan sumber yang tertinggi (Tuhan), seperti orang bijak, cendekia, atau bahkan dewa, apakah itu berarti kadar kebenaran dari hikmatnya menjadi kurang karena bukan berasal dari sumber hikmat yang tertinggi ?

Yang saya pahami bahwa seperti Rasul Petrus dan Rasul Paulus dan juga seperti Nabi Yehezkiel dan Nabi Yesaya, masing2 mempunyai latar belakang dan gaya / masa kehidupan yang berbeda yang tentunya juga mempengaruhi cara / gaya bahasa mereka mengajarkan hikmat.
Nah, tentunya ini sedikit banyak bisa menjadikan persepsi yg bias bagi para pendengar / penyimaknya.
Hal yang sama juga berlaku untuk orang2 jaman sekarang.

Yang kangmas katakan: Sesudahnya seharusnya kita membuka diri lagi untuk meminta dan menerima hikmat dari sumber hikmat yg tertinggi, Tuhan.
Akan menjadi masalah terhadap orang2 yang belum mengerti bagaimana menyambungkan diri dengan Tuhan, atau lebih berat lagi bagi orang2 yg tidak mengerti kepada tuhan mana yang akan ia terhubung.
Saya pribadi mengalami hal yang semacam itu, kangmas.

Manakala saya ingin mengetahui dan mendengar jawaban pertanyaan2 (apakah itu tentang spiritualitas ketuhanan, atau tentang Firman2 dalam Perjanjian Lama dan perjanjian Baru) dari sumber Hikmat yang
Tertinggi (Tuhan).

Saya cukup menyadari dan "menakar diri sendiri" yang belum mempunyai berkat Roh Kudus baptisan sehingga terkesan ragu2 menerjemahkan setiap lintasan2 ilham dalam batin saya, walaupun saya cukup yakin (dlm rasa saya) sudah tersambung dengan Tuhan.
Jadi masalahnya saya kurang percaya diri menerima ilham2 dalam batin atas pertanyaan2 yang saya tanyakan kepada Tuhan, walaupun saat itu saya yakin sudah tersambung dengan Tuhan. Kurang pede-nya karena menyadari saya memang belum dibaptis. Bukankan Roh Kudus pada baptisan bisa menjadi "penghubung" antara manusianya dengan Tuhan.

Mungkin bisa saya berikan contoh kasusnya kangmas:

A. Tentang maksud perumpamaan kantong anggur dalam Mat 9: 16-17.
Saya pernah bertanya kepada Yesus tentang FirmanNya itu.
Yang terlintas dalam batin saya bahwa seseorang yang sudah percaya / iman kepada Tuhan harus mau meninggalkan gaya hidup yang lama dan menerima tubuh barunya (selaras dengan Tuhan) agar jiwanya bisa selamat.
Waktu itu saya masih bingung dan ragu2 kangmas dengan lintasan dalam benak saya itu.
Tetapi beberapa waktu kemudian ada rekan pembaca (kalau gak salah di obrolan kebatinan-8) yang menanyakan hal yg sama kepada kangmas.
Menyimak jawaban kangmas kepada rekan itu saya menyimpulkan bahwa jawabannya secara garis besar sama dengan yang terlintas dalam pikiran saya dulu.

B. Tentang ayat2 berbau pornografi di Perjanjian Lama.
Karena saya pernah mengalami dipojokkan oleh beberapa teman tentang ayat2 tersebut dalam PL.
Saya pernah bertanya kepada Bapa tentang maksud ayat2 tersebut.
Ketika ada rasa tersambung dengan Tuhan, yg mengalir dalam benak saya adalah, bahwa Tuhan adalah Kudus, sifat dan kecendrungan tentang nafsu syahwat dan birahi adalah pada manusia, sehingga Tuhan bebas dari birahi. Sehingga tidak patut berpikiran bahwa Tuhan juga berpikiran mesum seperti manusia.

Ayat2 seperti dalam kisah Yehezkiel justru menggambarkan bagaimana geram dan murkanya Tuhan terhadap bangsa israel yang bersundal / berselingkuh dengan sesembahan lain yang dianggap tuhan meninggalkan YAHWE, Tuhan Semesta Alam.

Setelah itu saya membuka2 web tentang kristologi dan kajian2 ayat2 Alkitab. Jawaban mereka di web2 itu tidak sama, atau sedikit2 yang menyerempet dari jawaban yang terlintas dalam benak saya ketika saya bertanya kepada Tuhan.
Jawaban yang umum di beberapa web adalah bahwa gaya satir adalah gaya bahasanya Nabi Yehezkiel, sehingga adalah wajar bila nabi Yehezkiel mengungkapkan dengan kalimat2 berbau pornografi ketika menerima ilham dari Tuhan.

Nah, untuk kasus yang kedua ini apakah sudah tepat juga kita mengambil kebenaran pendapat (berhikmat) seperti apa2 yang dituliskan dalam web tersebut ?

Mohon penjelasan dan koreksinya kangmas.
Terimakasih sebelumnya.
Selamat malam.


 J :    
1. Arti kata Hikmat .........
Di tulisan berjudul Bharatayudha Di Alam Gaib saya pernah memberikan penjelasannya kpd seorang pembaca. Berikut ini saya tampilkan lagi jawaban saya itu dgn ditambah sedikit editan.

Hikmat jangan diartikan sempit sebagai Kebenaran, atau Kebenaran Tuhan, jangan dogmatis.
Kebenaran Tuhan adalah apa yang sudah difirmankan Tuhan.

Tuhan memang adalah sumber Hikmat yang tertinggi, tetapi jangan dianggap hikmat yg tidak langsung berasal dari Tuhan kadar kebenarannya lebih rendah.

Hikmat yang dari Tuhan lebih diutamakan untuk hal2 yang bersifat ketuhanan dan atas sesuatu yang berada jauh dari jangkauan pikiran manusia untuk mengetahuinya. Tetapi tidak menutup kemungkinan hikmat Tuhan itu diberikan juga untuk hal2 yang bersifat duniawi.

Misalnya saja pengetahuan tentang isi alam semesta.
Pengetahuan itu menjadi bahan penelitian dan memicu perkembangan ilmu pengetahuan manusia.
Tetapi orang2 yg tidak bergelut dalam penelitian itu bisa juga mengetahui isi alam semesta dengan dirinya menerima Hikmat yang dari Tuhan.

Begitu juga dengan virus dan bakteri, orang2 yg tidak bergelut dgn kedokteran dan laboratorium biologi bisa juga mengetahui bentuk dan wujud virus dan bakteri, tanpa perlu mikroskop, dan bisa juga tahu bagaimana solusi penanganannya.

Hikmat yg dibutuhkan manusia adalah sesuai konteksnya sendiri2. Ada hikmat keduniawian, ada juga kihmat ketuhanan. Tidak semua hikmat harus langsung berasal dari Tuhan, karena detail isi kehidupan manusia tidak semuanya terkait langsung dengan Tuhan. Minimal orang memiliki kebijaksanaan untuk tidak memaksakan kebenarannya sendiri, karena mungkin saja ada kebenaran lain yang tidak sama dengan kebenaran menurut pendapatnya. Dengan demikian ilmu pengetahuan bisa terus berkembang, tidak terhambat oleh adanya sikap2 fanatis dogmatis.

Secara kamus umum Hikmat diartikan sbg kemampuan untuk berpengertian dan mampu memahami sesuatu dgn benar dan berakal budi.

Arti kata Hikmat yg saya maksud adalah kemampuan orangnya sendiri untuk menyelami maksud, arti, makna dari sesuatu yang sifatnya tinggi dan dalam yang akan sulit sekali diketahui oleh manusia dengan mengandalkan pikirannya sendiri, dan itu lebih daripada sekedar kebijaksanaan atau kepandaian.

Hikmat sangat dibutuhkan untuk bisa memahami suatu masalah atau pengetahuan yang sifatnya dalam atau tinggi dan yg berdimensi tinggi, apalagi yg bersifat ketuhanan, karena kemampuan berpikir manusia sifatnya terbatas, tidak semua orang mampu menyelami sesuatu yg tinggi.

Kebijaksanaan atau kepandaian saja tidak cukup untuk bisa memahami isi dari sesuatu yg sifatnya tinggi dan dalam,
terutama untuk hal2 yg bersifat ketuhanan, apalagi bila hanya menonjolkan keyakinan sendiri saja, menonjolkan fanatisme, atau yg dogmatis selalu mengkait-kaitkan sesuatu dgn agama.

Hikmat harus dibangun, bukan dengan mengedepankan kebijaksanaan dan kepandaian pribadi, tetapi terutama adalah dengan menyesuaikan pemahaman / pengertiannya dengan sesuatu yang menjadi sumber pengetahuannya. Sesudah itu barulah dinalar dengan pikiran.

Artinya, atas suatu objek pengetahuan tertentu orang harus mau
menyesuaikan pemahaman / pengertiannya, mau menanyakan penjelasannya kepada sesuatu yang menjadi sumber hikmat / pengetahuannya. Sesudah itu barulah dinalar dengan pikiran.

Menggali hikmat artinya kita menggali kemampuan kita untuk berhikmat.

Kalau hanya mengandalkan kebijaksanaan / kepandaiannya sendiri,
apalagi pada orang2 yg egosentris, ia bisa salah mengerti, akan mudah salah paham, merasa tahu tapi ia tidak tahu bahwa ia sudah salah paham, atau malah sudah tersesat pengetahuannya.

Orang2 yg memiliki hikmat akan mudah berpengertian atas suatu pengetahuan yg dalam. Sedikit saja ditambahkan pengetahuan kpd mereka, kebijaksanaan dan pengetahuan mereka akan semakin tinggi. Berbeda dgn orang2 pandai yg atas suatu pengetahuan yg dalam biasanya hanya mampu mencerna kulitnya saja, tetapi isinya / kesejatiannya tidak terungkap.

Contohnya adalah hikmat untuk bisa mengetahui kebenarannya, bukan sekedar memahami saja, tentang isi dan maksud dari ramalan jawa seperti ramalan Jayabaya.
Itu juga sebabnya dalam Jangka Jayabaya ditambahkan bait 171 : " .... ya hanya dia itu yang bisa memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya ....... ".

Sekalipun banyak orang bisa mengerti dan bisa menterjemahkan tulisan Jangka Jayabaya, tapi tidak semua orang bisa mengerti isi dan kesejatian dari ramalannya, karena isinya jauh lebih tinggi dan lebih dalam daripada apa yg mampu dituliskannya. Dan ia yakin bahwa hanya satu orang itu saja yang mampu dengan benar mengerti dan mengetahui kebenaran, arti dan maksud di dalam ramalannya.

Karena itu seharusnya yg diterjemahkan adalah "isi" ramalannya, bukan sekedar menterjemahkan kalimat2 tulisannya.
Walaupun kalimat2 terjemahannya tidak persis sama dgn kalimat aslinya, apalagi gaya bahasa penyampaian bisa berbeda2, tetapi "isi" -nya harus bisa diterjemahkan dgn benar, sehingga
akan dijawab benar bila dikonfirmasikan kepada penulis asli ramalannya, dan terjemahannya itu harus tidak mendangkalkan arti dan isi tulisan aslinya.


2. Mengenai hikmat ketuhanan .....

Mengenai arti, isi dan maksud tentang sesuatu yg diucapkan oleh pihak lain paling baik adalah kita meminta penjelasannya dari pihak yg mengucapkannya.

Arti, isi dan maksud suatu ramalan paling baik adalah kita meminta penjelasannya langsung dari orang yg meramalkannya.

Arti, isi dan maksud suatu firman / ayat dalam kitab suci paling baik adalah kita meminta penjelasannya langsung dari Tuhan yang mengeluarkan firman itu (karena orang / Nabi yang menyampaikan firmanNya itu sendiri belum tentu mengerti maksudnya, karena ia hanya menyampaikan saja).

Kalau ingin dinalar dengan pikiran sendiri, setidaknya atas adanya ayat / firman di dalam kitab suci kita harus tahu bahwa ayat / firman itu dikeluarkan dalam konteks tertentu, jangan sembarangan dihubungkan dengan semua masalah. Jangan memunculkan dogma. Sesudahnya tinggal kita berusaha mengikuti jalan pikiran Tuhan ketika mengucapkan firman itu. Untuk mengerti maksudnya jangan kita menggunakan pemikiran kita sendiri, tetapi kita harus mengikuti jalan pikiran Tuhan ketika mengucapkan firman itu. Sesudah itu barulah kita nalar.

Yang dulu pernah saya katakan : Untuk mengerti arti dan maksudnya kita harus membuka diri lagi untuk meminta dan menerima hikmat dari sumber hikmat yg tertinggi, Tuhan.

Itu akan menjadi masalah terhadap orang2 yang belum mengerti bagaimana menyambungkan diri dengan Tuhan, lebih berat lagi bagi orang2 yg tidak mengerti kepada tuhan yang mana ia harus terhubung.

Memang tidak semua orang mempunyai hikmat dalam dirinya, apalagi untuk sesuatu hal yg tinggi, apalagi kalau sudah terbiasa berpikiran dangkal dan sempit.

Walaupun orang tidak menyadarinya, karena menganggapnya sama dgn agama, semua hal mengenai Tuhan dan ketuhanan, itu adalah materi spiritual yg tinggi, tidak bisa dibahas dan dijelaskan hanya dari sudut pandang agama saja, apalagi dengan menonjolkan fanatisme yang sempit dan dangkal.
Karena itu lebih mudah untuk orang berpikiran agama, dan meninggikan agama, mempertuhankan agama, bukannya meninggikan Tuhan dan mempertuhankan Tuhan. Bahkan ada orang yang tidak tahu bagaimana memuliakan dan mangagungkan Tuhan, sehingga ada perbuatan2 tidak patutnya yang dianggap dengan melakukan itu ia memuliakan Tuhan.

Roh Kudus memang difungsikan menjadi perantara manusia dengan Tuhan, dan Roh Kudus akan aktif jika orangnya aktif menyambungkan dirinya dengan Tuhan. Roh Kudus akan membukakan pengertian orangnya tentang ketuhanan.

Tetapi Roh Kudus akan pasif jika orangnya tidak aktif menyambungkan dirinya dengan Tuhan.
Karena itu tidak semua orang kristen atau orang2 lain yg sudah menerima Roh Kudus memiliki Hikmat Tuhan dalam dirinya. Tidak semua Roh Kudus yg sudah mereka terima aktif bekerja. Apalagi sehari2nya orangnya lebih banyak berpikiran agama, merasa agama saja sudah cukup, tidak interest untuk menggali Hikmat yg dari Tuhan.

Roh Kudus memang adalah sesuatu yg luar biasa istimewa bila orang2 penerimaNya bisa mengetahui, mengimani, dan memanfaatkan yg istimewa itu. Kalau tidak, maka itu tidak banyak berguna. Orang2 penerimaNya mungkin malah tidak menyadariNya, tidak mengimaniNya, dan tidak bisa mengambil manfaat dari dirinya sudah menerima Roh Kudus. Sudah diterimanya Roh Kudus tidak menjadi jaminan bahwa orangnya pasti akan bisa berperan sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi. Selama ini sebutan Anak Allah hanya manis di bibir saja. Hanya menjadi dogma agama saja.

Belum diterimanya Roh Kudus tidak menghalangi orang untuk mengenal Tuhan, karena Tuhan sudah memberikan berkatNya ke seluruh bumi, dan "Energi"Nya dalam sebutan Roh Agung Alam Semesta sudah terpancar ke seluruh penjuru bumi, sehingga semua orang di bumi bisa memiliki kearifan ketuhanan, mempunyai rasa ketuhanan, ada tarikan rasa untuk berketuhanan. Roh Agung Alam Semesta itu bisa menyambungkan manusia dengan Tuhan. Selebihnya tinggal orangnya saja bagaimana ia akan berketuhanan.


A. Tentang maksud perumpamaan kantong anggur baru dalam Mat 9: 16-17.

Orang2 yg ingin memeluk suatu agama, seharusnya bukanlah semata2 karena ia ingin beragama, atau karena ia menilai suatu agama sebagai agama yg benar, karena agama saja tidak cukup.
Agama tidak menyelamatkan.

Seharusnya orangnya lebih dulu
dengan benar mengenal Tuhan yang benar (berikut Hukum dan kehendak2Nya), sesudah itu barulah ia menganut agama / peribadatan yg sejalan dengan ketuhanannya itu sebagai sarana ia berketuhanan.

Dan sebagai orang yg sudah mengenal Tuhan sudah seharusnya mereka hidup baru sebagai orang yg sudah mengenal Tuhan, jangan lagi hidup sebagai orang yg tidak mengenal Tuhan.
Sesudah itu barulah bisa dikatakan bahwa orang itu sudah mengenal Tuhan (bukan sekedar mengenal agama saja).
Hidup barunya itulah yang akan menyelamatkannya.


B. Tentang ayat2 berbau pornografi di Perjanjian Lama.

Memang saya ada membaca di internet celotehan orang tentang beberapa ayat di Perjanjian Lama yang dikatakan porno, atau berbau pornografi.

Tetapi secara pribadi, saya sendiri tidak menilai ayat2 yg disebutkan itu sebagai porno, atau berbau pornografi. Mungkin itu karena orang2 yg membacanya hatinya tidak putih dan tidak kudus.

Perjanjian Lama dan Baru dituliskan berdasarkan cerita jalannya sejarah bangsa Israel. Semuanya dituliskan, termasuk cerita kehidupan bangsa Israel, entah baik ataupun tidak, dituliskan juga tentang Nabi2 yg dikirimkan kepada mereka berikut Firman2 Tuhan yang mereka sampaikan.

Bangsa Israel bukanlah bangsa yg suci bebas dari dosa, karena bangsa Israel adalah juga manusia, sama dengan manusia lainnya.

Dan Nabi2 Tuhan yg dikirmkan kpd bangsa Israel juga bukanlah semuanya orang2 yg suci dan kudus dan mulia tidak pernah berbuat salah dan kuat imannya seperti yg dikultuskan banyak orang tentang Nabi2.
Mereka juga punya rasa takut dan pernah berbuat salah, ada juga yg dihukum. Tetapi selama mereka menjalankan apa yg dikehendaki Tuhan salah dan dosa mereka diabaikan Tuhan karena Tuhan memerlukan mereka.

Kitab suci harus dibaca dengan hati yang putih dan kudus.
Kekudusan di dalam kitab suci tidak akan ditemukan oleh orang2 yg hatinya tidak putih dan tidak kudus.






__________

















Comments