https://sites.google.com/site/thomchrists/dunia-gaib-mahluk-halus/kesaktian-mahluk-halus/Kumbokarno-Hanoman.JPG


Sifat-Sifat Kesaktian Mahluk Halus 

 


Di dalam kehidupan mahluk halus di alam gaib, kekuatan dan kesaktian adalah sesuatu yang sangat penting. Hidup mereka banyak didasarkan pada kekuatan yang dimiliki. D
i alam kehidupan mahluk halus, di antara para mahluk halus sering sekali terjadi perebutan wilayah dan tempat tinggal. Siapa yang kuat, dia yang akan menang dan berkuasa. Siapa yang kuat, dia dapat menjadi pemimpin dan penguasa. Siapa yang lemah, dia harus tunduk kepada yang lebih kuat, atau menyingkir supaya tidak menjadi korban. Yang lemah akan mencari / mendekati yang lebih kuat untuk menjadi tempatnya berlindung.

Di dunia manusia, kekuatan dan kesaktian adalah pengertian yang berbeda. Kekuatan menggambarkan tenaga / kekuatan tubuh manusia dan kesaktian menggambarkan kombinasi kemampuan manusia yang terkait dengan kekuatan tubuhnya, kemampuan olah gerak, tenaga dalam, kekuatan kebatinan / spiritual dan ilmu gaib / khodam, senjata dan pusaka.

Semasa manusia masih hidup, kesaktian manusia merupakan kombinasi dari kekuatan tubuhnya, kemampuan olah gerak, tenaga dalam, kebatinan / spiritual dan ilmu gaib / khodam, jimat dan pusaka, khodam dan kekuatan dewa di dalam tubuh orang yang ketitisan dewa. Tetapi setelah kematiannya, kekuatannya terutama berasal dari kekuatan sukmanya saja yang berasal dari laku kebatinan dan spiritual yang telah dicapainya semasa hidupnya  (baca : Kesaktian Manusia)  dan kekuatan gaib dari jimat dan pusaka jika memilikinya di alam gaib.

Di dunia mahluk halus, kekuatan dan kesaktian adalah juga pengertian yang berbeda. Kekuatan mahluk halus menggambarkan kekuatan energi gaibnya dan kesaktian mahluk halus menggambarkan apa saja kegaiban yang mampu dilakukannya, yaitu selain perbuatan-perbuatan gaib dengan kekuatan gaibnya, juga kemampuannya atas perbuatan-perbuatan seperti sihir. Kekuatan gaib dan kemampuan sihir mahluk halus itulah yang dimanfaatkan oleh manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan sihir dengan ilmu gaibnya (dengan bantuan khodamnya).


Kekuatan dan kesaktian mahluk halus terutama ditentukan oleh kombinasi besarnya, kepadatan dan ketajaman energinya. Ketika berhadapan dengan mahluk halus lainnya kekuatan dan kesaktian mahluk halus pengertiannya tidak banyak berbeda, karena semuanya dominan bergantung pada kekuatan energi dan kemampuan mahluk halusnya menembus pertahanan / ketahanan lawannya untuk memukul / menghajarnya. 

Kekuatan mahluk halus, termasuk sukma manusia, terutama berasal dari kekuatan energinya sendiri, ditambah kekuatan gaib jimat dan pusaka jika memilikinya. Tetapi kekuatan mereka tidak selalu sama dengan apa yang tampak pada kondisi normalnya, karena ada mahluk halus tertentu yang dapat melipatgandakan kekuatannya pada saat bertarung, misalnya bangsa dewa yang dapat bertriwikrama, melipatgandakan kekuatannya menjadi 3 kali lipat kekuatan normalnya, atau bangsa buto yang dapat melipatgandakan kekuatannya menjadi 5 kali lipat kekuatan normalnya, sehingga bagi yang belum mengenal sifat-sifat kekuatan mereka itu akan kecele, karena kondisi kekuatan mereka pada saat bertarung akan berbeda jauh sekali dengan yang sebelumnya terlihat dalam kondisi normalnya.

Kondisi di atas bisa dianalogikan sbb. Misalnya saja kita melihat kondisi fisik seseorang secara kasat mata, dengan mata kita. D
ari bentuk dan ukuran tubuhnya kita bisa memperkirakan kekuatannya, kegesitannya, staminanya, dsb. Itu adalah cara umum kita memperkirakan apakah seseorang itu lebih kuat atau lebih lemah daripada diri kita sendiri, atau untuk tujuan memperbandingkan seseorang dengan seseorang yang lain.

Jika hanya memandang secara awam saja seperti di atas, kita akan mudah kecele, karena ada orang-orang tertentu yang ketika sedang berkelahi / bertarung ternyata kekuatannya jauh di atas kondisi normalnya yang kita kira semula, misalnya adalah orang-orang yang
sudah ikut beladiri karate / pencak silat, orang-orang yang sudah melatih tenaga dalam, atau orang-orang yang sudah menjalani olah kekuatan kebatinan, atau orang-orang yang berkhodam.

Dalam kondisi santainya mungkin orang-orang itu akan kelihatan biasa saja sama seperti orang-orang lainnya. Tetapi ketika sedang berkelahi, maka keseluruhannya barulah kelihatan, kekuatan dan geraknya tidak sama dengan manusia lainnya yang awam, karena akan juga dilambari dengan kekuatan dan kemampuan dari latihan beladirinya atau dilambari "kekuatan lain" dalam dirinya. Dengan demikian apa yang semula terlihat dari kondisi normalnya tidak selalu sama dengan keseluruhannya yang sesungguhnya. Diperlukan kemampuan khusus untuk bisa menilai "isi" dari seseorang tanpa harus kita lebih dulu sudah mengenalnya atau tanpa
harus kita lebih dulu mengetahui apa saja yang sudah dilakukannya.


Pada tulisan ini Penulis memberikan pengertian bahwa semua mahluk halus, walaupun sama-sama berstatus mahluk halus, sama-sama tidak kelihatan mata manusia umum dan sama-sama fisiknya bersifat energi, tetapi sifat fisik dan sifat energi mereka berbeda. Karena itu sikap berpikir kita tentang mereka yang terkait dengan sifat kekuatan dan kesaktian mereka juga seharusnya berbeda.

Jenis sukma manusia fisiknya lebih bersifat roh, yaitu roh / sukma / arwah manusia.
Dari sifat fisiknya itu sukma manusia tidak dapat membentuk bentukan energi, tidak dapat membuat pagaran gaib dan tidak bisa merubah-rubah wujud fisiknya, tetapi dengan energinya itu mereka tetap bisa menusukkan energinya atau menembak / memukul jarak jauh.

Mahluk halus lain selain jenis sukma manusia, fisiknya adalah berupa energi, sehingga secara alami dari tempat keberadaannya mereka akan memancarkan suatu hawa energi yang sifat-sifat pancaran hawa energinya itu sejalan dengan kondisi psikologis dan sifat-sifat perwatakannya.

Mahluk halus yang kekuatannya sangat tinggi, pengaruh hawa energinya, yang dirasakan bersifat positif atau negatif, sangat kuat, bisa sampai beratus-ratus kilometer dan bukan hanya dapat mempengaruhi manusia, tetapi juga dapat mempengaruhi banyak mahluk halus lain dalam wilayah cakupan pancaran energinya.

Berbeda dengan jenis sukma manusia yang walaupun kesaktiannya tinggi, tetapi pancaran aura energinya hanya beberapa meter saja yang pancaran aura energinya itu menggambarkan hawa kekuatan kebatinan atau spiritual mereka.

Dari sifat fisiknya yang berupa energi itu para mahluk halus, selain sukma manusia, dapat membentuk suatu bentukan energi, dapat membentuk energinya sesuai keperluannya. Artinya para mahluk halus itu dapat membentuk suatu bentukan energi, energinya dapat dipadatkan untuk "ketahanan" tubuhnya, atau energinya dijadikan energi pagaran diri untuk perlindungan dan bertahan dari serangan mahluk halus lain, atau menyalurkan energinya untuk menyerang menusuk / menghantam, atau digunakan untuk merubah sosok wujudnya, atau untuk mempengaruhi pikiran manusia, atau untuk tujuan yang lain.

Sebenarnya para mahluk halus itu juga mempunyai roh seperti manusia, sedangkan yang sering dilihat oleh manusia sebagai wujud sesosok mahluk halus adalah wujud fisiknya yang bersifat energi. Roh para mahluk halus adalah wujud aslinya, dan yang bisa mereka ubah-ubah bentuknya adalah wujud fisik mereka yang bersifat energi, sedangkan wujud roh mereka tidak bisa mereka ubah. Jadi sekalipun mereka merubah-ubah bentuk wujud fisiknya, dengan penglihatan batinnya manusia masih bisa melihat wujud asli mereka yang sebenarnya adalah wujud roh mereka.

Jadi para mahluk halus itu dapat merubah-ubah bentuk wujud fisik mereka, tetapi tidak dapat merubah-ubah bentuk wujud roh mereka. Begitu juga sukma manusia yang sebenarnya adalah roh / sukma / arwah manusia, roh / sukma manusia juga tidak dapat merubah-ubah bentuk wujudnya.


Dalam hal kesaktian / kekuatan gaib, sifat energi para mahluk halus yang dapat membuat bentukan energi dan pagaran energi merupakan suatu kelebihan dibandingkan sukma manusia yang tidak dapat membentuk pagaran energi.

Dengan pagaran dan ketahanan energinya, mahluk halus yang kekuatannya tinggi dapat merasa aman, karena ketahanan tubuhnya itu atau benteng pagaran energi pelindungnya itu tidak dapat ditembus oleh serangan mahluk halus lain yang kekuatannya lebih rendah, walaupun yang menyerangnya jumlahnya banyak. Sedangkan yang kekuatannya lebih rendah, walaupun jumlahnya banyak dan juga dapat membentuk pagaran energi / ketahanan tubuh, pasti kalah jika dipukul / dihantam oleh mahluk halus yang kekuatannya lebih tinggi.

Satu mahluk halus yang berkekuatan tinggi, selain ketahanan tubuhnya
dan pagaran energinya tidak dapat ditembus oleh serangan mahluk halus lain yang kekuatannya lebih rendah, dengan kekuatan energinya ia juga dapat menghajar semua mahluk halus di bawah kekuatannya. Jadi di dunia mahluk halus kekuatan adalah hal yang utama, sedangkan banyaknya jumlah prajurit, pengikut, rakyat, dsb, bukanlah sesuatu hal yang penting, tetapi tetap berguna untuk diperintah melakukan tugas tertentu.

Para
mahluk halus itu dengan pagaran energi dan ketahanan tubuhnya mereka tidak terluka oleh serangan mahluk halus yang kekuatannya lebih rendah. Sedangkan sukma manusia, walaupun kesaktiannya tinggi, tetap dapat terluka oleh serangan mahluk halus yang rendah kekuatannya, karena tidak dapat membuat pagaran energi. Tetapi kekuatan gaib sukmanya tetap berguna untuk menghantam / memukul yang kekuatannya lebih rendah, walaupun dia sendiri mungkin terluka. Para mahluk halus itu, dengan energinya itu mereka juga akan lebih cepat dalam pemulihan lukanya dibandingkan sukma manusia.

Sukma manusia pada umumnya tidak dapat membentuk pagaran energi, tetapi Ibu
Kanjeng Ratu Kidul, yang aslinya adalah sukma manusia, dapat membentuk pagaran energi, karena sifat fisik energi - nya telah berubah menjadi seperti bangsa jin, tidak lagi sama dengan sifat energi sukma pada umumnya (baca: Bangsa Siluman).


Dari sifat energi kesaktiannya, energi sukma manusia lebih halus tetapi tajam. Sedangkan mahluk halus lain energinya lebih besar dan lebih padat. Dapat diibaratkan seperti pedang tipis dan golok. Kesaktian
sukma manusia yang ditandai dengan ketajaman energinya digunakan untuk menembus dan merobek pertahanan mahluk halus lain untuk melukainya dengan jalan menusukkan energi, memukul atau menendang.

Karena tidak dapat membentuk pagaran energi, maka untuk bertahannya sukma manusia akan menggunakan kekuatan energinya untuk "ketahanan tubuh". Sedangkan para mahluk halus lain, selain bisa membentuk pagaran energi, mereka juga menggunakan
kekuatan energinya untuk "ketahanan tubuh".

Jika sukma manusia bertarung dengan mahluk halus lain, dan kekuatannya seimbang, masing-masing dapat menciderai lawannya. Hancur-hancuran. Tetapi mahluk halus lain itu dapat lebih cepat dalam memulihkan luka-lukanya dibandingkan sukma manusia.

Ketika para mahluk halus bertarung, pertarungan itu bisa dilakukan secara fisik, yaitu memukul dan menendang seperti perkelahian di dunia manusia, bisa juga dengan cara melontarkan / menghantamkan energinya kepada lawannya untuk memukul jarak jauh atau menusuk lawannya dengan energinya, bisa juga secara frontal saling menabrakkan / menghantamkan fisik dan energi mereka dengan lawannya. Dalam perkelahian frontal tersebut mahluk halus yang kekuatannya besar akan bisa menghajar yang kekuatannya lebih lemah.

Mahluk halus yang sosoknya seperti manusia laki-laki kekar bertelanjang dada, yang sosoknya hitam besar seperti gondoruwo dan yang sosoknya seperti raksasa buto, ketika berkelahi dengan mahluk halus lain akan cenderung bertarung secara frontal mengadu kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Sedangkan mahluk halus jenis lain tidak semuanya menonjolkan kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Jika bertarung dengan mahluk halus lain mereka lebih banyak mengandalkan kegesitan, kelincahan gerak dan kekuatan memukul atau menusukkan energi untuk mengalahkan lawannya.

Tidak seperti di dunia manusia, di alam gaib, para mahluk halus tidak dapat membunuh mahluk halus lainnya. Setinggi-tingginya kesaktian sesosok mahluk halus, yang dapat dilakukannya hanyalah melukai dan menciderai lawannya sampai "sekarat",  tetapi tidak bisa sampai membunuhnya. Yang ada di dalam kisah-kisah legenda ataupun pewayangan tentang tewasnya suatu tokoh gaib, misalnya tokoh Rahwana (buto), sebenarnya tidaklah sungguh-sungguh itu terjadi. Itu hanyalah kiasan bahwa peranannya telah selesai, karena dia sudah dikalahkan, sudah ditundukkan atau sudah "dipenjarakan".


Mereka di alam halus biasanya dapat mengukur kekuatan masing-masing, sehingga yang
kekuatannya lebih rendah akan memilih mundur daripada harus bertarung dan kalah dengan menanggung banyak luka. Selain diperlukan kemampuan spiritual khusus untuk dapat mengukur kekuatan sesosok mahluk halus, bila kita mampu menyelami jalan pikiran mereka, maka kita juga akan dapat seperti mereka, mengukur kekuatan masing-masing mahluk halus.

Untuk menggambarkan tingkatan kekuatan para mahluk halus, selain sukma manusia, dapat dibuat gambaran sebagai tolok ukur / perbandingan kekuatan / kesaktian masing-masing mahluk halus sbb :
 - Energi
kekuatan kuntilanak diibaratkan seperti percikan-percikan api kembang api.
 - Energi kekuatan gondoruwo = 2 kali lipatnya kekuatan kuntilanak.
 - Energi
kekuatan & perlindungan mustika wesi kuning = 100 kali lipatnya kekuatan kuntilanak atau 50 kali
   lipatnya kekuatan
gondoruwo.
 - Energi
kekuatan & perlindungan mustika merah delima (md) = 9 kali lipatnya kekuatan mustika wesi kuning.
 - Energi kekuatan Ibu Kanjeng Ratu Kidul (KRK) seperti api lilin besar ( = 100 kali lipatnya kekuatan mustika
   merah delima
).
 - Energi
kekuatan bangsa dewa utama seperti api obor ( = 300 kali lipatnya kekuatan gaib Ibu Ratu Kidul).
 - Energi kekuatan bangsa buto seperti api obor besar ( = 600-1000 kali lipatnya kekuatan gaib ibu Ratu Kidul).
 - Energi kekuatan mahluk halus lain yang sampai ribuan kali lipatnya kekuatan kesaktian Ibu Kanjeng Ratu
 
  Kidul seperti api unggun besar.


Selain gambaran di atas, pancaran hawa aura energi masing-masing mahluk halus juga bisa digunakan untuk menilai kadar kekuatannya, atau perwatakannya apakah berwatak halus ataukah berwatak keras, dan apakah karakternya menonjolkan kekuatan / kegagahan.

Gambaran perbandingan kekuatan gaib di atas adalah untuk menggambarkan kekuatan gaib sesosok mahluk halus tertentu ketika berhadapan dengan sosok halus yang lain, yang kekuatannya itu merupakan kombinasi dari besarnya, kepadatan dan ketajaman energinya, yang secara keseluruhan menggambarkan tingkat kekuatan / kesaktian sesosok mahluk halus dibandingkan sosok mahluk halus lainnya.

Gambaran masing-masing kekuatan gaib di atas mengindikasikan bahwa mahluk halus dan benda gaib yang kekuatan khodamnya setingkat atau lebih tinggi daripada wesi kuning atau mustika merah delima, akan terlalu mudah baginya jika diperintahkan membersihkan / mengusir / menyapu bersih keberadaan dedemit seperti kuntilanak atau gondoruwo atau mahluk halus lain yang kekuatannya setingkat dengan itu.

Gambaran di atas juga mengindikasikan bahwa mahluk halus atau benda gaib yang kekuatan khodamnya lebih tinggi di atas kekuatan gaib mustika merah delima akan bisa menembus kekuatan gaib pertahanan perlindungan kekebalan wesi kuning dan mustika merah delima, bahkan bisa mengusir pergi khodamnya.

Mustika merah delima mempunyai keistimewaan membuat kebal seseorang, sedangkan keris tidak membuat kebal pemakainya, tetapi kebanyakan khodam keris lebih tinggi kekuatan gaibnya sehingga bisa menembus "ketahanan" / kekebalan mustika merah delima dan orangnya akan terluka oleh tusukan keris. Artinya dengan kekuatan gaibnya yang lebih tinggi, keris itu dapat menembus mengalahkan pertahanan kekebalan mustika merah delima, bahkan khodam kerisnya bisa juga mengusir pergi khodam merah delimanya.

Gambaran di atas juga mengindikasikan bahwa khodam pendamping atau sebuah benda gaib khodamnya akan tertahan atau menjadi kosong isi gaibnya jika dibawa masuk ke dalam sebuah rumah yang memiliki pagaran gaib absolut yang kekuatan gaib pagarannya lebih tinggi daripada kekuatan khodamnya.

Jika khodam benda gaibnya bersifat mendampingi si manusia pemiliknya, menjadi khodam pendamping, maka khodamnya itu akan menunggu sampai pemiliknya keluar lagi dari balik pagaran gaib itu. Tetapi jika khodamnya tidak bersifat mendampingi pemiliknya, yang biasanya tetap tinggal di dalam benda gaibnya, misalnya yang fungsinya untuk kekuatan dan kekebalan, maka kemungkinan besar benda gaibnya itu kemudian akan hilang kegaibannya, karena setelah khodamnya tertahan tidak dapat masuk menembus pagaran gaib itu, maka khodamnya akan pergi mencari benda lain untuk ditinggali, tidak kembali lagi kepada bendanya yang lama.

Gambaran di atas juga mengindikasikan bahwa ada banyak sosok halus yang memiliki tingkat kekuatan gaib di atas kesaktian Ibu Ratu Kidul yang Ibu Ratu Kidul sendiri dan seluruh prajuritnya pun harus menghindarinya, tidak akan berani berspekulasi untuk berhadapan dengan mereka.



Benda-benda jimat dan khodam yang bisa menjadikan seseorang kebal senjata tajam, atau menjadikannya tahan pukul, adalah penyatuan "ketahanan tubuh" si khodam dengan si manusia. Selain itu kekuatan khodam itu juga menyatu dengan kekuatan si manusia sehingga ketika orangnya memukul orang lain, maka pukulannya akan juga mengandung efek kekuatan gaib, karena kekuatan pukulannya adalah kombinasi dari kekuatannya sendiri ditambah kekuatan khodamnya.

Sebuah jimat kekebalan badan seperti wesi kuning dan mustika merah delima atau batu akik anti cukur, dsb, akan memberikan tuah ketahanan / kekebalan tubuh kepada manusia pemakainya, sehingga manusia tersebut akan tahan menerima pukulan dan tidak terluka jika dibacok / ditusuk dengan senjata tajam sepanjang kekuatan pukulan dan senjata yang digunakan membacok / menusuk itu tidak mengandung kekuatan gaib yang lebih tinggi dari kekuatan gaib jimat kebalnya.
  Jika pukulan dan senjata penyerangnya mengandung kekuatan gaib yang lebih tinggi daripada kekuatan gaib jimatnya, maka pertahanan kekebalannya itu akan mampu ditembus dan orangnya akan terluka.

Khusus untuk jimat kekuatan / kekebalan, biasanya tidak memerlukan khodam dengan kekuatan gaib yang tinggi, karena cakupan energinya hanya diperlukan untuk area yang sempit saja, yaitu dipadatkan hanya menjadi sebatas tubuh si manusia pemakainya. Seringkali kekuatan gaib setingkat gondoruwo saja sudah cukup untuk menjadi khodam jimat kekuatan dan kekebalan, dan mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa gondoruwo sering menjadi khodam jimat isian dan khodam ilmu kekuatan / kekebalan dan banyak kekuatan gaib susuk kekuatan / kekebalan tidak lebih tinggi dari kekuatan gaib gondoruwo, sehingga akan luntur oleh daun kelor, bambu kuning, dsb. Karena itu biasanya jimat kebal dan ilmu kebal isian / asma'an akan tidak berdaya ketika berhadapan dengan senjata pusaka atau ilmu kesaktian yang kekuatan gaibnya tinggi. Yang paling utama diperlukan untuk khodam kekuatan dan kekebalan adalah sifat perwatakan khodamnya yang harus keras dan menonjolkan kekuatan dan kegagahan, bukan semata-mata khodam yang sakti.

Biasanya jimat kebal, susuk kebal dan ilmu kebal (yang bukan ilmu kebatinan, apalagi yang isian / asma'an) cukup ampuh untuk digunakan menghadapi pukulan tangan kosong, senjata tajam atau senjata api, yang tidak mengandung serangan kekuatan gaib yang tinggi, tetapi tidak berdaya ketika berhadapan dengan senjata pusaka atau aji-aji kesaktian yang kekuatan gaibnya tinggi. Karena itu untuk menangkal penyalahgunaan / mengalahkan keilmuan kebal itu tidak dilakukan dengan menyerangnya dengan senjata tajam atau dengan ilmu pukulan yang kekuatannya tinggi, tetapi dengan cara melunturkan / memusnahkan kegaiban ilmunya atau mengusir khodam kebalnya yang biasanya kekuatan gaibnya tidak tinggi. Banyak susuk dan ilmu isian yang sengaja diberikan pantangan ilmu untuk menangkal penyalahgunaan ilmunya, atau untuk digunakan sewaktu-waktu jika penggunanya ingin menghilangkan ilmunya.

Berbeda halnya dengan keperluan untuk tuah penjagaan gaib. Tuah untuk penjagaan gaib membutuhkan khodam dengan kekuatan gaib yang tinggi, karena fungsinya memang untuk menghadapi mahluk halus lain. Semakin tinggi kekuatan gaibnya dan keras karakternya akan semakin baik khodam itu menjalankan fungsi penjagaan gaib. Tetapi banyak juga benda-benda gaib yang fungsinya untuk penjagaan gaib, tetapi kekuatan gaibnya rendah. Walaupun begitu biasanya kesaktian khodamnya masih cukup untuk menghadapi, menangkal dan mengusir para mahluk halus setingkat dedemit kuntilanak dan gondoruwo atau mahluk halus dan jin-jin kelas rendah yang sering mengganggu manusia dewasa dan anak-anak, atau untuk menangkal dan mengusir para mahluk halus yang sok berkuasa dan bersifat mengganggu di sebuah rumah, bangunan atau di lokasi tertentu.



Gambaran
perbandingan kekuatan gaib di atas tidak dapat digunakan untuk mengukur tingkat kekuatan gaib sukma manusia, karena sifat energi sukma manusia tidak sama dengan sifat energi mahluk halus lain yang dapat membentuk bentukan energi. Tingkat kekuatan sukma manusia diukur dengan tingkat kekuatan pagaran energi dan ketahanan tubuh mahluk halus yang dapat ditembus dan dilukainya.

Dalam pengertian sukma manusia disini termasuk di dalamnya adalah sukma / roh / arwah manusia yang sudah meninggal, roh / sukma manusia yang moksa (tidak meninggal, tetapi masuk / pindah ke alam gaib bersama dengan raganya), dan manusia yang diambil / dibawa oleh sesosok mahluk halus ke alam gaib, sehingga hilang dari dunia manusia.

Kekuatan sukma seseorang terutama adalah berasal dari kekuatan laku kebatinan / spiritual orang tersebut semasa hidupnya (selain kebatinan / spiritual yang bersifat keilmuan, juga kekuatan dari penghayatan kebatinan kerohanian dan keagamaan / ketuhanan).

Jika seseorang belum pernah menekuni suatu laku yang efeknya meningkatkan kekuatan sukma kemungkinan besar kondisi kekuatan sukmanya itu masih rendah, masih sama dengan kekuatan sukma orang-orang yang umum dan awam yang biasanya tidak lebih tinggi daripada kekuatan gaib kuntilanak yang di alam gaib termasuk sebagai roh halus yang kekuatan gaibnya paling lemah.

Sukma manusia yang memiliki kekuatan gaib dari kebatinan, akan merasakan energinya berupa getaran rasa dan tekanan di dada dan selimut tebal energi yang mengisi tubuhnya yang dapat diwujudkan menjadi ketahanan tubuh atau menjadi kekuatan gaib untuk menyerang mahluk halus lain dengan cara memukul, menendang, menusukkan energi atau memukul jarak jauh, atau menyerang melalui pancaran energi kekuatan pikiran yang menusuk. Kekuatan sukma manusia tersebut dapat dirasakan oleh mahluk halus lain di sekitarnya sebagai suatu perbawa / wibawa tersendiri.

Sukma manusia yang memiliki kekuatan gaib dari kekuatan spiritual akan merasakan kekuatan energinya di kepalanya berupa kekuatan energi yang tajam yang terpancar lewat kekuatan pikiran, kekuatan energi yang tajam yang dapat untuk menembus pagaran gaib / energi, atau menyerang menusuk mahluk halus, atau untuk menembus / membuka tabir-tabir kegaiban. Dan aura spiritualnya akan terlihat sebagai suatu karisma tersendiri yang terpancar di wajah atau sorot matanya dan pendaran-pendaran energi pikirannya yang kuat dan tajam akan dapat dirasakan oleh mahluk halus lain di sekitarnya.

Seringkali kekuatan sukma dari kekuatan spiritual tidak dapat disatukan dengan kekuatan tubuh, hanya menjadi kekuatan di pikiran, tetapi seseorang yang menekuni olah spiritual sebagai kelanjutan dari olah kebatinannya, maka dia juga akan menguasai kekuatan kebatinan sekaligus kekuatan spiritual, kekuatan tubuh sekaligus juga kekuatan pikiran.


Para mahluk halus, selain sukma manusia, dapat membentuk suatu bentukan energi, yang dapat dijadikan  energi pagaran diri / ketahanan tubuh untuk perlindungan dan bertahan dari serangan mahluk halus lain, atau menyalurkan energinya untuk memukul, menusukkan energi, untuk merubah penampilan wujudnya, atau untuk tujuan yang lain. Bentukan energi ini juga dapat disatukan dengan energi manusia, untuk menambah kekuatan dan ketahanan tubuhnya atau untuk kekebalan. Bagi manusia yang dapat berinteraksi dengan mahluk halus, kemampuan mahluk halus untuk membentuk energi ini seringkali dimanfaatkan untuk ditujukan terhadap manusia lain dalam bentuk teluh, santet, pelet, penundukkan, guna-guna, juga bisa untuk tujuan pengobatan gaib, penglaris dagangan, memancarkan kewibawaan / karisma / pengasihan, dsb. 

Bentukan energi itu juga dapat digunakan untuk mempengaruhi pikiran manusia (halusinasi). Ini seringkali terjadi pada orang-orang yang datang ke makam-makam atau tempat-tempat mistis untuk 'ngalap berkah'. Para mahluk halus itu dapat dengan energinya mempengaruhi pikiran manusia, sehingga di mata (pikiran) manusia tersebut sang mahluk halus tampak sebagai sosok yang lain, misalnya seperti sesosok sukma orang tertentu yang telah meninggal. Selama sesajinya sesuai, para mahluk halus tersebut mau memenuhi keinginan si manusia yang 'ngalap berkah', walaupun menurut si manusia yang 'ngalap berkah', yang memberikan 'berkah' tersebut adalah sukma / arwah si manusia yang telah meninggal.

Selain dapat mempengaruhi pikiran manusia (halusinasi), para mahluk halus itu secara energi dapat merubah wujudnya (jadi-jadian). Jika penampakkan sosok wujudnya berubah, misalnya aslinya adalah si A, kemudian merubah wujudnya menjadi si B, maka semua orang yang melihatnya akan melihat sosok itu sebagai si B, sesuai ubahan wujudnya yang baru, tetapi bagi yang penglihatan gaibnya tajam, atau kepekaan batinnya tajam, mereka tetap bisa membedakan sosok ubahannya dengan sosok aslinya, walaupun samar-samar.

Sukma manusia tidak dapat membentuk pagaran energi dan tidak dapat menggunakan energinya untuk merubah wujudnya. Jadi sosok sukma manusia yang tampak adalah sosok aslinya. Tetapi sukma manusia dapat melakukan 'kontak batin' dengan manusia yang masih hidup untuk memberikan 'penglihatan gaib', wangsit atau bisikan gaib, atau untuk mempengaruhi jalan pikiran (ilusi / halusinasi) supaya manusia merasa melihat sosok tertentu lain yang berbeda.

Sukma manusia tidak bisa merubah-ubah bentuk wujud aslinya. Walaupun ada sukma manusia yang bisa bergonta-ganti pakaian, terutama mereka yang tinggal di dalam suatu komunitas atau kerajaan gaib, tetapi wujud aslinya sendiri tidak bisa mereka rubah, tidak bisa mereka merubah sosok sukma mereka menjadi wujud ular, harimau, dsb. Tetapi dengan cara kontak batin mereka bisa mempengaruhi pikiran manusia yang masih hidup (ilusi / halusinasi), menyebabkan manusia "merasa" melihat mereka sebagai sosok lain yang berbeda.

Pengaruh ilusi / halusinasi bisa diketahui dengan melakukan perbandingan.
Misalnya ada sukma manusia si A.
Ketika ada beberapa orang yang datang, sukma si A itu melakukan kontak batin untuk mempengaruhi pikiran orang-orang tersebut supaya melihatnya sebagai si B.  Mereka yang terpengaruh oleh halusinasi itu akan melihat si A sebagai si B, tetapi mungkin masih ada orang lainnya yang masih melihatnya sebagai si A.
Sosok halus yang mereka lihat
sebenarnya sama, dan hanya satu, tapi sosok yang mereka lihat bisa berbeda, yaitu mereka melihat si A sebagai si B, tetapi ada orang lain yang masih bisa melihat sosok itu sebagai si A. Ini terjadi karena orang-orang yang melihat gaib itu tidak semuanya secara serentak bisa dipengaruhi pikirannya oleh sukma tersebut, dan besar kecilnya kadar pengaruh halusinasi itu tidak sama pada setiap orang, karena masing-masing orang juga punya "daya tahan" sendiri-sendiri terhadap pengaruh gaib.

Berbeda halnya dengan penampakan.
Selain bisa juga melakukan kontak batin untuk mempengaruhi pikiran manusia, para mahluk halus selain sukma manusia, bisa merubah wujud fisiknya menjadi bentuk lain yang berbeda dari wujud aslinya.
Misalnya sesosok dhanyang atau jin yang aslinya berwujud seperti manusia, mereka bisa merubah wujudnya menjadi ular, harimau, dsb. Orang-orang yang melihatnya, semuanya akan melihat wujudnya sebagai ular atau harimau sesuai ubahan wujudnya.

Jadi jika semua orang melihatnya sebagai satu wujud yang sama, maka itu adalah suatu bentuk penampakan ubahan wujud, tetapi jika masih ada orang yang melihat sosoknya yang asli, maka itu adalah bentuk kontak batin (ilusi / halusinasi).

Sukma manusia tidak bisa merubah-ubah bentuk wujud aslinya, tidak bisa menampakkan diri sebagai wujud yang berbeda, mungkin hanya pakaian dan penampilannya saja yang bisa bergonta-ganti (bisa bergonta-ganti dandanan). Dengan demikian semua orang yang melihat penampakannya (atau yang bisa melihat gaib) akan melihat wujud aslinya, mungkin hanya pakaian dan penampilannya saja yang bisa berganti.


Keterbatasan sifat energi sukma manusia
menyebabkan sukma manusia tidak dapat merubah-rubah wujud aslinya. Sukma manusia masih bisa membentuk energinya (pancarannya) untuk memberikan jasa pengasihan, kekebalan, penglaris dagangan, kewibawaan, dsb. tetapi jarak pancarannya tidak jauh, dan itu akan sangat melelahkannya jika tidak sejalan dengan kepribadian aslinya. Jika ingin melakukan itu sukma manusia biasanya melakukannya dengan cara kontak batin untuk mempengaruhi satu per satu pikiran manusia.

Dengan keterbatasan sifat energinya tersebut sukma / arwah manusia yang sudah meninggal seringkali tidak dapat memenuhi keinginan manusia yang 'ngalap berkah'. Yang sering mengabulkan permohonan mereka adalah mahluk-mahluk halus lain selain sukma manusia, biasanya adalah bangsa jin atau dhanyang yang tinggal di lokasi tersebut. Apalagi sukma / arwah manusia itu sendiri seringkali tidak berada di kuburannya, berada di tempat lain.

Sebenarnya para mahluk halus itu juga mempunyai roh seperti manusia, sedangkan yang sering dilihat oleh manusia sebagai sosok wujud suatu mahluk halus adalah wujud fisiknya yang bersifat energi. Roh para mahluk halus adalah wujud aslinya, dan yang bisa mereka ubah-ubah bentuknya adalah wujud fisik mereka yang bersifat energi, sedangkan wujud roh mereka tidak bisa mereka ubah. Jadi sekalipun mereka merubah-ubah bentuk wujud fisiknya, dengan penglihatan batinnya manusia masih bisa melihat wujud asli mereka yang sebenarnya adalah wujud roh mereka.

Jadi para mahluk halus itu dapat merubah-ubah bentuk wujud fisik mereka, tetapi tidak dapat merubah-ubah bentuk wujud roh mereka. Begitu juga sukma manusia yang sebenarnya adalah roh manusia, sukma / roh manusia tidak dapat merubah-ubah bentuk wujudnya.

Kemampuan para mahluk halus untuk membentuk energi dan merubah-ubah bentuk energinya adalah kelebihan para mahluk halus dibandingkan sukma manusia. Mereka memiliki semua kemampuan sukma manusia, termasuk kemampuan untuk "kontak batin". 

Selain sifat energi yang berbeda, sifat perwatakan mahluk halus dan sukma manusia juga berbeda. Dan sifat perwatakan antara
mahluk halus yang satu dengan mahluk halus lainnya, yang bisa dipastikan dari aura kejiwaannya dan rasa kepribadiannya, juga berbeda-beda sesuai jenisnya masing-masing. Perbedaan sifat energi dan sifat perwatakan ini dapat dijadikan tolok ukur untuk membedakan apakah sesosok mahluk halus itu adalah sukma manusia ataukah sebenarnya adalah bangsa jin, dedemit, buto, dsb, walaupun penampakannya sama / mirip.


Secara alami energi mahluk halus akan terpancar pada jarak tertentu sesuai kekuatan energinya masing-masing. Pancaran energi ini akan dirasakan manusia sebagai penyebab rasa merinding takut, atau pada orang-orang tertentu yang pernah melatih olah rasa atau kebatinan keberadaan energi mahluk halus tersebut dapat dirasakan sebagai rasa sesak di dada pada jarak yang lebih jauh sebelum muncul rasa merinding.

Rasa merinding itu bisa dibedakan. Jika rasa itu berasal dari adanya sesosok bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, dsb, biasanya rasa merindingnya terasa berat dan rasanya seperti "mencengkeram", ada juga yang sampai menyebabkan orang lemas ketakutan. Tetapi jika rasa itu berasal dari adanya sesosok sukma manusia biasanya rasa merindingnya terasa tajam menusuk, tidak "mencengkeram".

Secara alami pada umumnya jati diri dan keberadaan mahluk halus tidak ingin diketahui oleh manusia. Sosok-sosok halus yang menimbulkan rasa merinding itu adalah karena mereka memang dengan sengaja menunjukkan keberadaannya kepada manusia untuk maksud tertentu, misalnya menunjukkan bahwa mereka (mahluk halus) sedang datang ke tempat kediaman manusia, atau menunjukkan bahwa mereka tidak suka dengan kehadiran manusia di tempat tinggal mereka. Kalau tidak begitu maka keberadaan mereka tidak akan menimbulkan rasa merinding dan keberadaan mereka juga tidak terasakan.

Biasanya semakin tinggi kekuatan gaib mahluk halus, walaupun pancaran energinya besar dan tajam, tetapi pancaran energinya itu juga semakin halus dan semakin sulit dirasakan oleh manusia (semakin sulit dideteksi keberadaan energinya dan juga semakin sulit dilihat) dan keberadaan mahluk halus itu juga tidak menimbulkan rasa merinding, sehingga keberadaan mahluk halus yang kesaktiannya tinggi itu akan sulit sekali terdeteksi keberadaannya oleh manusia. Tetapi orang-orang yang peka rasa dan batinnya mungkin masih bisa merasakan keberadaan mahluk halus tersebut dari adanya rasa sesak di dada, walaupun sosok wujudnya mungkin tidak dapat dilihatnya.

Sesama mahluk halus pun tidak bisa melihat mahluk halus lain yang kekuatannya jauh di atasnya, tetapi masih bisa merasakan keberadaannya dari kehadiran energinya, sehingga ketika mereka merasakan kehadiran energinya, mereka akan berhati-hati dan menyingkir.

Secara alami semua mahluk halus akan memancarkan suatu hawa / aura energi dari tempat keberadaannya masing-masing yang sifat-sifatnya sejalan dengan sifat psikologis dan perwatakan mahluk halusnya. Bila kita sudah cukup peka rasa dan batin, kita akan dapat mengenali dari hawa / aura energinya apakah sesosok mahluk halus itu bersikap bersahabat atau tidak, sedang marah atau tidak, sedang sedih atau tidak, apakah sifatnya menonjolkan kekuatan dan kegagahan, apakah sifat energinya baik untuk manusia, apakah keberadaannya berbahaya untuk kita, dsb.

Dan rasa energi itu yang berasal dari keberadaan sesosok sukma manusia akan berbeda dengan yang berasal dari jenis mahluk halus yang lain. Juga masing-masing jenis mahluk halus yang selain jenis sukma manusia itu rasa energinya berbeda. Rasa energi sesosok bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, buto, dsb, masing-masing berbeda, tidak sama, dan rasa energinya juga berbeda dengan energi yang berasal dari keberadaan harta karun gaib atau mustika dan pusaka di alam gaib, sehingga tanpa harus melihat sosok dan bentuk wujudnya, dari pengenalan rasa saja kita bisa mengenali sosok halus jenis apa yang ada di dalam sebuah benda gaib atau yang ada di suatu lokasi.

Rasa energi gaib itu secara umum akan terasa sebagai rasa gaib dari suasana alam ketika kita sedang berada di suatu tempat / lokasi, apakah bersifat wingit / angker, panas / dingin / teduh, dsb. Sesudah itu barulah digunakan kemampuan melihat gaib untuk melihat dan menegaskan seperti apa sosok wujud gaibnya, apakah disitu ada sesosok bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, buto, dsb, ataukah disitu ada harta karun gaib atau mustika dan pusaka di alam gaib, karena masing-masing akan berbeda rasanya, tidak sama. Dengan cara membedakan rasa energi itu kita juga akan dapat dengan cepat menentukan apakah sesosok halus di hadapan kita adalah benar sesosok sukma manusia ataukah sebenarnya itu adalah jenis kuntilanak, gondoruwo, atau bangsa jin, dan kita juga bisa merasakan apakah keberadaan sosok halus tersebut bersifat berbahaya, sehingga kita bisa menghindar atau melakukan tindakan preventif lainnya.



--------------





Ada beberapa pertanyaan serupa dari para pembaca mengenai bagaimana cara Penulis mengukur kekuatan mahluk halus seperti tertulis di atas yang ukuran kekuatan gaibnya itu dituliskan juga di halaman-halaman lain.

Pengenalan terhadap kekuatan mahluk halus ini sebenarnya terkandung di dalam usaha belajar memperhatikan kehidupan mahluk halus dan belajar mengenal kepribadian masing-masing mereka. Mungkin sama halnya dengan kita memperhatikan kehidupan manusia dan binatang, dengan cara memperhatikan secara langsung ataupun melalui televisi. Ada banyak pengetahuan yang bisa didapatkan jika kita mau memperhatikan kehidupan mereka, yang tidak akan didapatkan dengan hanya puas bisa melihat gaib, apalagi yang cuma bisa sekelebatan saja. Sebagian pengetahuan itu bersifat pengetahuan gaib tingkat tinggi, berhubungan dengan gaib-gaib berkekuatan tinggi dan dimensi fisiknya tinggi yang pengetahuannya tidak akan didapatkan hanya dengan sekedar bisa melihat gaib.

Untuk mengukur kekuatan masing-masing mahluk halus ada beberapa metode :
1. Mampu berinteraksi langsung (secara energi) untuk merasakan dan mengukur kekuatan gaib masing-
    masing mahluk halus.
2. Mampu berinteraksi dan mempertemukan sosok-sosok halus untuk saling diperbandingkan kekuatannya
    (bisa juga meminta kesaksian dari mereka sendiri tentang tingkat kekuatan mereka masing-masing
    dibanding sosok halus lainnya).
3. Memiliki tingkat kebatinan dan spiritualitas tertentu untuk bisa mengetahui sifat-sifat kesaktian mahluk
    halus dan memperbandingkannya satu dengan lainnya (termasuk untuk menilai sifat-sifat karakternya).
4. Memiliki sosok halus pendamping yang bisa menceritakan kekuatan gaib masing-masing sosok halus
    (dan untuk meng-crosscheck pendapat kita dengan pendapatnya).


Masing-masing metode di atas bisa saling dikombinasikan untuk mendapatkan penilaian yang lebih akurat dan lengkap.

Ukuran yang digunakan :
1. Kekuatan gaib kuntilanak untuk mahluk halus yang tingkat kekuatan gaibnya rendah.
2. Kekuatan gaib mustika merah delima (md) untuk mahluk halus yang tingkat kekuatan gaibnya menengah.
3. Kekuatan gaib Ibu Kanjeng Ratu Kidul (KRK) untuk mahluk halus yang tingkat kekuatan gaibnya tinggi.

Untuk bisa menggunakan masing-masing ukuran itu, selain harus mengenal betul masing-masing mahluk halusnya dan bisa mengukur kekuatannya, yang utama adalah kita harus mengetahui karakteristik energi masing-masing mahluk halusnya untuk tujuan mengukur kekuatannya dan mengetahui cara-cara pengukuran kekuatan mahluk halus untuk bisa diperbandingkan antar mahluk halus.

Khusus untuk sosok-sosok halus yang dijadikan ukuran skala kekuatan, kita harus mengenal betul seluk-beluk mereka dan sifat-sifat kekuatannya, bukan sekedar bisa melihatnya, apalagi cuma mendengar ceritanya saja.

Sama juga kita menggunakan ukuran cc dan liter untuk air, kita harus mengetahui
karakteristik sifat-sifat air dan cara-cara pengukurannya sehingga kita bisa mengukur isi volume segelas air, segalon aqua, ataupun setangki air, walaupun bentuk tabung dan ukurannya berbeda-beda.

Mengenai parameter ukuran kekuatan gaib, kita akan bisa mengukur kekuatan gaib kalau kita sudah terbiasa berinteraksi langsung secara energi dengan mereka. Caranya misalnya berkelahi / bertarung melawan kuntilanak / gondoruwo dengan tenaga dalam atau kontak energi dengan kekuatan kebatinan, sehingga kita bisa mengukur dan membedakan kekuatan mereka masing-masing, dan bertarungnya itu bukan dengan menggunakan amalan gaib / khodam yang tidak ada interaksi langsung kita dengan kekuatan lawannya.

Sama seperti bila kita sudah terbiasa menangkap kambing dan kerbau, kita akan bisa membedakan kekuatan kambing dengan kekuatan kerbau, pasti berbeda kekuatannya. Dan tergantung kekritisan kita, seharusnya kita bisa menilai kekuatan kerbau itu secara rata-rata sekian ..... kalinya kekuatan kambing.

Jadi kemampuan mengukur kekuatan kambing dan kerbau itu bisa
dengan mudah dilakukan kalau kita sudah biasa turun tangan berinteraksi langsung dengan kambing dan kerbau, bukan sekedar bisa melihat kerbau, atau menundukkan kerbau dengan amalan gaib yang tidak ada interaksi langsung kita dengan kerbaunya. Hanya saja kambing dan kerbau itu tidak bisa disamakan dengan mahluk halus yang bersifat energi dan tak kelihatan mata.

Khusus untuk sosok-sosok halus yang dijadikan ukuran skala kekuatan, kita harus mengenal betul seluk-beluk mereka dan sifat-sifat kekuatannya, supaya nilai ukuran kita bisa akurat. Walaupun tetap masih ada selisih keakuratan, mudah-mudahan tidak banyak, karena pengukurannya memang lebih banyak berupa perkiraan perbandingan saja yang keakuratannya tidak sama dengan mengukur memakai alat meteran.


Tambahan :

Untuk mahluk halus dan benda gaib yang kekuatannya dijadikan indikator kekuatan gaib, kita harus mengenal betul sosok gaibnya dan karakteristik kekuatannya, bukan sekedar tahu tuahnya atau sekedar pernah melihatnya.

Bagi orang awam memang akan susah untuk mengukur sendiri kekuatan mahluk halus, karena mungkin kita tidak pernah mengukur kekuatan gaib kuntilanak, gondoruwo, wk, md, ibu ratu kidul, dewa dan buto, melihatnya pun mungkin belum pernah. Tapi untuk tujuan mengukur kekuatan mahluk halus akan lebih mudah kalau kita tanyakan langsung kepada masing-masing mahluk halusnya.

Misalnya untuk mengukur kekuatan khodam sebuah keris, akan lebih mudah kalau kita tanyakan langsung kepada kerisnya, misalnya, berapa ukuran kekuatannya jika dibandingkan dengan kekuatan mustika merah delima (md) atau jika dibandingkan dengan Ibu Kanjeng Ratu Kidul (KRK).
Mudah-mudahan khodam kerisnya tahu sosok gaib yang dimaksud dan bisa mengukur kekuatan md dan KRK, sehingga khodam kerisnya bisa mengukur kekuatannya sendiri dibandingkan mereka.
Lebih baik lagi kalau hasil pengukurannya ditanyakan lagi kepada keris yang lainnya, sehingga dari perbandingan itu kita bisa mengambil kesimpulan yang lebih baik.
Tapi memang hasil pengukurannya tidak bisa 100% akurat, karena hanya bersifat perkiraan saja, tidak seperti mengukur dengan alat meteran. Mudah-mudahan selisihnya tidak banyak.



Ada juga yang menanyakan tentang mahluk-mahluk gaib yang mempunyai kesaktian, apakah kesaktiannya itu diperoleh dari olah sukma atau olah batin makhluk gaib tersebut, ataukah kesaktian itu terjadi dengan sendirinya tanpa latihan ?

Mengenai itu kita harus membedakan sifat kesaktian masing-masing jenis mahluk halus. Ada 2 jenis mahluk halus, yaitu yang aslinya adalah sukma / arwah manusia dan yang asli mahluk halus.

Mahluk halus yang aslinya adalah sukma manusia umumnya kekuatan gaibnya berasal dari kekuatan kebatinan dan spiritual orangnya semasa hidupnya. Seorang manusia awam / umum yang belum pernah melakukan laku olah kebatinan / spiritual atau laku lain yang efeknya memperkuat sukma, kekuatan sukmanya (kesatuan roh pancer dan sedulur papatnya) umumnya tidak lebih tinggi daripada kekuatan gaib kuntilanak (karena itu kekuatan gaib setingkat kuntilanak saja bisa membunuh manusia). Sesudah orang tersebut menjalani laku kebatinan / spiritual atau laku lain yang efeknya memperkuat sukma, barulah sukma orang itu terbentuk kekuatannya, dan dari sifat-sifat kekuatan sukmanya itu akan bisa diketahui apakah kekuatannya itu berasal dari laku kebatinan ataukah dari laku spiritual (baca juga : Kesaktian Manusia).

Mahluk halus lain selain sukma manusia secara fisiknya mereka adalah energi. Kekuatan kesaktiannya terutama berasal dari kombinasi 3 unsur, yaitu besarnya, kepadatan dan ketajaman energinya. Sifat dan kekuatan energi ini bersifat alami, bersifat asli sesuai jenis masing-masing mahluk halusnya.

Tetapi ada sosok-sosok halus tertentu yang juga melatih diri untuk meningkatkan kekuatannya, misalnya dari jenis bangsa dewa dan sukma manusia, yang bertapa atau berguru untuk meningkatkan kesaktiannya, terutama untuk meningkatkan kualitas kepadatan dan ketajaman energinya. Karena kekuatan / kesaktian mahluk halus berasal dari kombinasi besarnya, kepadatan dan ketajaman energinya, setelah berhasil ditingkatkan kualitas salah satu unsurnya, misalnya kepadatan atau ketajaman energinya, tentunya kekuatan gaibnya juga akan bertambah. Di dalam komunitas bangsa dewa ada juga latihan keprajuritan untuk bangsa dewa setingkatan prajurit.

Mahluk halus lain selain sukma manusia secara fisiknya mereka adalah energi, sehingga kekuatan gaibnya berasal dari kombinasi besarnya, kapadatan dan ketajaman energinya. Kombinasi dari ketiga unsur itu merupakan faktor yang menentukan tingkat kekuatan gaib mahluk halus, sehingga kalau salah satu unsur kekuatannya berhasil ditingkatkan, maka kekuatan gaibnya juga akan meningkat.

Masing-masing mahluk halus mempunyai sifat-sifat energi sendiri-sendiri, tidak semuanya sama. Umumnya masing-masing jenisnya mempunyai kekuatan yang secara rata-rata sama. Dan karena kekuatan gaibnya berasal dari kombinasi besarnya, kapadatan dan ketajaman energinya maka kita dapat mempertinggi kekuatan khodam kita (mahluk halus) dengan cara menurunkan energi alam untuk mereka serap yang itu akan menambah besar energi mereka. Sesudah itu khodamnya (mahluk halusnya) akan membentuk sendiri kepadatan dan ketajaman energi mereka.


Di alam roh teknik berkelahi seperti pencak silat biasanya tidak banyak berguna. Yang lebih berguna adalah kegesitan / kecepatan gerak untuk menghindar dan menyerang, seperti tokoh wayang gatot kaca, tetapi ini lebih berguna untuk berhadapan dengan lawan yang kekuatan gaibnya seimbang atau lawan yang lebih lambat gerakannya.

Misalnya sesosok dewa berkelahi melawan buto. Kekuatan /  kesaktian bangsa dewa kalah jauh dibanding buto. Tetapi gerakan buto agak lambat, sehingga bangsa dewa akan banyak mengandalkan kegesitan dan kecepatan gerak untuk menyerang dan menghindar. Tetapi karena kekuatan bangsa dewa masih jauh di bawah buto, maka serangannya tidak banyak berarti. Ibaratnya pukulan dan tendangannya tidak begitu terasa sakit. Tetapi kalau serangan buto ada sekali mengenai dewa itu, akibatnya fatal. Karena itulah di pewayangan pun diceritakan kalau bangsa buto datang menyerang kahyangan, bangsa dewa pun tak berdaya, terpaksa mencari bantuan kepada orang lain yang lebih sakti.

Di alam gaib masing-masing mahluk halus dapat bergerak lambat seperti sedang berjalan, tetapi di saat yang lain mereka dapat melesat cepat. Namun ada jenis mahluk halus tertentu yang gerakannya lebih lambat daripada mahluk halus lainnya. Contohnya adalah jenis gondoruwo dan buto atau jenis bangsa jin berbulu hitam tinggi besar seperti gondoruwo dan bangsa jin yang wujudnya seperti raksasa. Sehari-harinya, walaupun tujuan mereka jauh, jenis gondoruwo bergerak dengan berjalan seperti orang utan berjalan tegak dan bangsa buto berjalan seperti raksasa. Mereka juga dapat melesat cepat, tetapi kecepatan melesat mereka lebih lambat dibandingkan mahluk halus yang lain.

Mahluk halus yang sosoknya seperti manusia laki-laki kekar bertelanjang dada, yang sosoknya hitam besar seperti gondoruwo dan yang sosoknya seperti raksasa buto, kebanyakan jika berkelahi dengan mahluk halus lain akan cenderung bertarung secara frontal mengadu kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Sedangkan mahluk halus jenis lain tidak semuanya menonjolkan kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Mereka lebih banyak mengandalkan kegesitan, kelincahan dan kekuatan pukulan untuk mengalahkan lawannya.



Ada pertanyaan :
Bagaimana caranya menghitung penjumlahan kekuatan gaib ?
Misalkan ada 2 khodam 60 md dan 80 md, seharusnya jumlahnya kan 140,
apakah dengan kekuatan gaib 100 md bisa disapu bersih semuanya ?

Jawab :
Sifat kekuatan mahluk halus ada 2 macam, yaitu jenis sukma manusia dan selain jenis sukma manusia, seperti bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, dewa, dsb. Masing2 sifat kekuatan dan ketahanan tubuhnya berbeda. Penjelasannya sudah dituliskan di atas.

Secara umum gabungan kekuatan mahluk halus adalah sama dengan kekuatan salah satu mahluk halus yg paling tinggi kekuatannya.

Kalau ada 2 khodam, 60 md dan 80 md, maka gabungan kekuatan mereka adalah 80 md, keduanya tidak bisa mengalahkan satu bangsa jin yg 100 md, tapi mungkin bisa mengalahkan jenis sukma manusia yg 100 md.

Kalau anda punya 1.000 khodam yg kekuatannya rata-rata 60 md, khodam yg 1000 itu bisa disapu bersih hanya oleh 1 khodam jin 100 md tanpa jin itu mengalami luka sedikitpun.
Sukma manusia 100 md "mungkin" bisa juga menyapu bersih 1.000 khodam 60 md tersebut, tetapi besar resiko dirinya terluka berat.

Kekuatan 60 md itu berselisih banyak dgn kekuatan jin 100 md.
Kekuatan 80 md lebih sedikit selisihnya dgn yg 100 md, hampir menyamai.
Kalau yg 1.000 khodam itu rata2 kekuatannya 80 md, mungkin khodam jin 100 md itu masih bisa mengusir mereka semua, tapi resiko dirinya terluka lebih besar.



Ada pertanyaan yang umum tentang benda-benda gaib, yaitu bagaimana caranya meningkatkan powernya.

Kalau maksudnya meningkatkan powernya itu adalah meningkatkan kekuatan gaib khodamnya, kelihatannya tidak bisa, itu hanya bisa dilakukan dengan cara kita memadatkan atau mempertajam energinya (kalau kita mempunyai kemampuan untuk itu) atau dengan memberikannya energi / kekuatan gaib yang lebih besar untuk diserap oleh khodamnya. Itu berlaku juga untuk khodam pusaka dan khodam pendamping, dan untuk kekuatan sukma kita sendiri.

Yang dimaksud energi untuk diserap oleh mahluk halus / khodam adalah energi yang lebih kuat daripada kekuatan khodamnya, bisa dari tenaga dalam, kekuatan kebatinan, atau energi alam dari tempat-tempat mistis yang sangat tinggi bermuatan gaib yang energinya bisa diserap oleh khodamnya, contohnya adalah energi alam di tempat-tempat mistis dalam tulisan berjudul  Tempat-tempat Mistis.
Energi itu bisa juga energi yang kita turunkan sendiri, contohnya adalah yang dilakukan dengan mengikuti contoh dalam tulisan yang berjudul  Meditasi Energi.
Tempat-tempat wingit atau makam yang dikeramatkan biasanya kekuatan energi alamnya biasa saja, penghuni gaibnya saja yang banyak.

Untuk meningkatkan kekuatan gaibnya secara relatif permanen adalah dengan memberinya kantong atau tempat penyimpanan dari bahan kain katun yang berwarna hitam. Untuk keris bisa dilakukan dengan mengikuti contoh dalam tulisan yang berjudul  Perawatan Keris dan Penyimpanannya.

Kalau maksudnya meningkatkan powernya itu adalah untuk meningkatkan kadar tuahnya atau "kegalakan" nya, sehingga tuahnya lebih kuat terasa, lebih ampuh terasa, bisa dilakukan dengan mewiridkan amalan gaib yang lebih tinggi kadar tuahnya dan memberikan sesaji yang lebih kuat efek kegaibannya, seperti minyak misik putih atau kemenyan jawa / kemenyan arab, dan memberikan kantung penyimpanan dari bahan kain katun merah terang (baca juga : Sesaji).

Benda-benda gaib yang bisa untuk kekebalan (bisa dites untuk kekebalan) sebaiknya jangan disugestikan untuk memberikan tuah / fungsi lain, supaya tuah kekebalannya tidak berubah / luntur.
Juga benda-benda gaib yang bertuah khusus, misalnya tuah pengasihan, dan tuahnya sudah bagus, sebaiknya jangan disugestikan untuk memberikan tuah lain, supaya tuahnya itu tidak berubah / memudar.

Untuk menambah pemahaman mengenai sifat-sifat kesaktian manusia, mahluk halus dan khodam, kekuatannya dan tuahnya, silakan dibaca juga tulisan-tulisan :

 - Kesaktian Manusia

 - Kesaktian Mustika 

 - Khodam dan Kualitas Tuah

 - Khodam dan Kekuatan Tuah



------------------




 



Comments