https://sites.google.com/site/thomchrists/dunia-gaib-mahluk-halus/jin-air-dan-jin-udara/Telaga%20Warna%20Dieng-2.JPG



 

Jin Air  dan  Jin Udara 

 


   Jin Air.


Kebanyakan (secara rata-rata) jin air lebih rendah kekuatannya dibandingkan jin daratan, tetapi perwatakannya lebih 'galak' dan lebih 'ganas'. Mereka menyukai suasana yang sepi dan tidak menghendaki ada mahluk lain memasuki lingkungan tempat tinggal mereka. Seringkali mahluk daratan (manusia dan mahluk halus lain) yang datang / masuk ke lingkungan kediaman mereka akan dianggap sebagai gangguan.

Dari sisi perwatakannya, sebagian besar mereka termasuk mahluk halus rgolongan putih. Tetapi walaupun dari golongan putih, mereka termasuk sebagai golongan mahluk halus yang harus diwaspadai, karena perangai mereka lebih "galak" dan "ganas" dibandingkan mahluk daratan dan bisa setiap saat menyerang dan membuat celaka mahluk daratan yang masuk ke lingkungan kediaman mereka. Manusia sebagai  'mahluk daratan'  harus lebih berhati-hati bila berada di lingkungan air.

Ada juga dari mereka yang bergolongan hitam dan abu-abu, tetapi jumlahnya tidak banyak.
Jin air yang bergolongan abu-abu kebanyakan menjadi penghuni tempat-tempat angker di pinggiran air, bisa di tepian sungai, danau atau laut, dan di tempuran sungai, yang sewaktu-waktu bisa membuat manusia tewas / celaka. Mereka juga banyak yang tinggal di sungai-sungai, kecil maupun besar, yang sudah kering airnya. Karena itu jangan sekali-kali kita menyepelekan sungai yang sudah kering airnya.

Jin air yang bergolongan hitam kebanyakan menjadi penghuni tempat-tempat orang "ngalap berkah" yang sifatnya menyesatkan manusia dan sering membawa sukma manusia yang sudah meninggal ke tempat kediaman mereka untuk diperbudak (menjadi tumbal pesugihan / ngalap berkah).

Kebanyakan jin air berwujud seperti manusia. Lebih sedikit yang berbentuk seperti hewan air. Sebagian dari mereka membentuk kerajaan jin air. Kebanyakan jin air yang membentuk kerajaan jin air wujudnya seperti manusia. Kerajaan jin air kebanyakan berada di dasar laut. Kerajaan jin air yang menjadi tempat orang ngalap berkah kebanyakan berada di tepi pantai, sedangkan tempat pesugihan yang berupa komunitas biasa (yang bukan berbentuk kerajaan) selain ada juga yang di tepi pantai, kebanyakan berada di tepian sungai / danau.

Di laut juga banyak tinggal gaib-gaib laut yang sakti, bahkan lebih sakti daripada mahluk gaib yang menjadi penguasa / raja wilayah, tetapi seringkali mereka tidak menjadi penguasa wilayah. Mereka hidup sendiri. Selama keberadaan mereka tidak diganggu, mereka tidak akan mengganggu mahluk yang lain. Jenis jin air yang kekuatannya tinggi kebanyakan tinggal di laut, tidak di danau atau di sungai.

Di laut utara Pekalongan ada kerajaan gaib yang dipimpin oleh Ibu Ratu Dewi Lanjar, adik Ibu Kanjeng Ratu Kidul.  Pusat kerajaannya  + 10 km sebelah utara Pekalongan. Wilayah kekuasaannya hanya di sekitar Pekalongan - Tegal saja. Ibu Ratu Dewi Lanjar sendiri adalah sukma manusia, bukan bangsa jin, tetapi prajurit dan rakyatnya, selain dari jenis sukma manusia, banyak yang berasal dari bangsa jin.

Di Selat Sunda, antara Merak dan Bakauheni, ada seekor ular naga gaib berwarna hijau keemasan. Di bawah sinar bulan purnama barangkali saja ada manusia yang  'beruntung'  pernah melihatnya menampakkan diri berenang-renang di permukaan laut.

Di dekat daerah itu agak ke selatan sedikit, ada kerajaan jin air yang perwujudan para mahluk gaibnya, ratu, tentara dan rakyatnya, seperti manusia dan dipimpin oleh sesosok ratu jin cantik. Tetapi mereka hanya berkomunitas saja, tidak menjadi penguasa wilayah.

Sepanjang laut dan pantai selatan pulau Jawa dikuasai oleh kerajaan gaib Ibu Kanjeng Ratu Kidul. Posisi kerajaan gaibnya  + 10 km sebelah selatan Pantai Parang Tritis, Yogyakarta. Baca : Ibu Kanjeng Ratu Kidul.

Di sepanjang laut dan pantai selatan pulau Jawa banyak terdapat tempat-tempat orang "ngalap berkah" yang penunggunya seringkali membawa sukma manusia "pengikut" mereka sebagai tumbal mereka. Mereka bukan anggota kerajaan Ibu Ratu Kidul. Sekalipun wilayah mereka ada di bawah kekuasaan Ibu Ratu Kidul, tetapi selama mereka tidak melakukan perbuatan yang nyata-nyata menentang beliau, mereka dibolehkan berkomunitas. Di pantai utara Jawa juga banyak tempat-tempat orang ngalap berkah, tetapi tidak sebanyak di pantai selatan Jawa.

Di laut selatan pulau Bali juga ada kerajaan jin laut yang rajanya bersosok seperti manusia laki-laki tinggi besar, berkepala botak, berkulit coklat gelap, lebih sakti daripada Ibu Kanjeng Ratu Kidul. Raja ini memiliki hubungan pertemanan dengan Ibu Kanjeng Ratu Kidul.

Di Selat Bali, di laut antara pulau Jawa dan pulau Bali, ada garis gaib berwarna putih yang dibuat oleh Mpu Bharada, untuk memisahkan wilayah gaib pulau Jawa dan wilayah gaib pulau Bali.

Ada sepasang naga gaib berwarna hitam yang selalu bergerak berenang mengelilingi pulau Jawa. Berpatroli, menjaga keteraturan alam di sekitar pulau Jawa.

Di laut utara Jawa, ada kelompok-kelompok bangsa jin air golongan hitam yang sering jadi-jadian, misalnya memberi penampakan seperti kapal nelayan kosong tak berpenghuni (kapal hantu) atau segerombolan ikan banyak yang berenang-renang beriringan di permukaan air. Berhati-hatilah. Bila kita terpancing mendekatinya, kita dapat menjadi korbannya.

Selain yang tinggal di laut, bangsa jin air juga banyak yang tinggal di sungai, danau, atau empang. Misalnya, sungai Ciliwung ada dihuni sesosok mahluk gaib seekor naga tapa berwarna hijau terang keemasan. Panjang tubuhnya + 5 km.  Bagian ekornya ada di sekitar Manggarai dan kepalanya mengarah ke laut. Sepanjang tubuhnya naga gaib ini memancarkan aura yang baik untuk kerejekian perdagangan.

Ada banyak kehidupan gaib di sungai-sungai, empang dan danau. Para pelakunya adalah sukma manusia, dhanyang air dan bangsa jin air, yang menyatu membentuk kehidupan dan perilaku yang mirip sekali seperti kehidupan manusia, membentuk dunia "merkayangan". Ada yang menangkap ikan, ada yang menjadi tukang perahu yang mendayung perahu, dsb. Sebagiannya membentuk kerajaan jin air.

Ada juga bangsa siluman yang tinggal di air, yang berwujud buaya putih atau buaya buntung. Ada juga komunitas siluman manusia perempuan yang bagian bawah tubuhnya seperti ular. Mereka sering naik ke daratan dan mengganggu manusia.

Selain itu juga banyak mahluk halus penghuni air yang berwujud seperti hewan air, misalnya berwujud seperti ikan besar, ikan mas, ikan lele, kura-kura, dsb. Tetapi mereka bukan bangsa jin, tetapi adalah yang biasa disebut dhanyang air.

Dhanyang air adalah mahluk halus penghuni air yang berwujud seperti manusia, tetapi banyak juga yang seperti hewan air, misalnya berwujud seperti ikan besar, ikan mas, ikan lele, kura-kura, dsb. Banyak di antara mereka yang memiliki mustika di kepalanya atau di dalam perutnya. Mereka bukan bangsa jin. Mereka jenis tersendiri. Biasanya mereka berwatak baik, tidak jahat terhadap manusia, tetapi bila manusia mengganggu mereka, mereka juga bisa marah. Tetapi jika kita mau bersikap sopan kepada mereka, mereka juga mau membantu kita. Misalnya kita akan memancing atau menangkap ikan, sebelumnya dengan sopan kita mengucapkan salam dan permisi minta diijinkan memancing atau menangkap ikan dan kita memberi sesaji berupa telor ayam mentah atau telor ayam goreng mata sapi yang dilemparkan ke dalam air, mudah-mudahan mereka mau membantu supaya ikan hasil tangkapan kita banyak.




   Jin Udara.


Secara individu bangsa jin daratan adalah yang paling tinggi kekuatannya, ada yang sampai puluhan ribu kali kesaktiannya Ibu Kanjeng Ratu Kidul, tetapi kesaktian jin daratan sangat bervariasi, ada yang rendah sekali, ada yang tinggi sekali. Dan secara rata-rata kekuatan bangsa jin udara lebih tinggi dibandingkan rata-rata kekuatan bangsa jin daratan.

Jin udara berkedudukan di udara, + 1 km di atas daratan atau laut.
Dari sisi perwatakannya, sebagian besar mereka termasuk mahluk halus golongan putih.
Dari sisi perilakunya bangsa jin udara lebih "kalem", dan keberadaan mereka relatif lebih "aman" bagi manusia dibandingkan jin air.

Sama seperti jin daratan dan jin air,  jin udara juga banyak yang membentuk komunitas atau bahkan kerajaan yang dalam cerita dongeng sering disebut  "kerajaan langit",  'kerajaan awan'  atau  'kerajaan atas angin'. 

Keberadaan komunitas jin udara berpengaruh sekali terhadap kondisi cuaca di bumi.  Mereka suka sekali membentuk sekumpulan awan, sehingga tempat tinggal mereka menjadi lebih teduh dan tenang. Kecuali yang berbentuk kerajaan, komunitas mereka sering berpindah tempat, sehingga kondisi cuaca di bumi juga ikut berubah-ubah.

Keberadaan komunitas jin udara ditandai dengan adanya muatan listrik. Di posisi langit yang berawan atau mendung dan bermuatan listrik tinggi bisa dipastikan bahwa disitu sedang berkumpul banyak jin udara. Bila awan atau mendungnya tidak bermuatan listrik kemungkinannya itu hanyalah awan biasa saja, bukan tempat berkumpulnya jin udara. Terjadinya hujan biasanya bersifat alami. Bangsa jin udara hanya mengumpulkan awan saja supaya lingkungan mereka terasa teduh, tidak gersang, tapi sesudahnya bisa juga menjadi hujan.

Bila di angkasa sedang terjadi pertarungan antara suatu komunitas jin udara melawan komunitas yang lain, apalagi di wilayah udara yang sering sekali terjadi perebutan kekuasaan antar komunitas jin udara, biasanya lokasinya di atas laut, masih dekat dengan daratan (tidak di atas lautan), sering sekali di lokasi pertarungan itu terbentuk awan yang tebal dan bermuatan listrik tinggi. Udaranya sangat padat bertekanan, bisa menghisap benda apapun yang melintas di dekatnya, bisa juga menghempaskannya. Para pilot sebaiknya mengenali jenis awan itu, karena kondisi awan yang seperti itu sangat membahayakan penerbangan. Bila pertarungannya terjadi di ketinggian yang rendah seringkali perbenturan energi mereka memunculkan gelombang angin badai dan puting beliung.

Kebanyakan jin udara bergolongan putih dan suka sekali mandi sinar bulan purnama. Pada saat malam bulan purnama, mereka akan menyingkirkan awan yang menutupi sinarnya, sehingga mereka bisa bebas mandi cahaya bulan purnama. Biasanya itu dilakukan pada pk. 21.00 s/d. pk. 24.00.














Gambar Bangsa Jin Udara,

oleh Nikoagus Setiawan.



Wujud jin udara kebanyakan adalah seperti dalam film "Harry Potter", yaitu berkerudung dan berjubah hitam, tubuh dan wajahnya gelap tidak kelihatan, dan tidak berkaki. Banyak juga yang jubahnya lebar seperti sayap kelelawar. Ada juga yang sosok wujudnya seperti gulungan angin dan sekumpulan besar dari mereka dapat memunculkan pusaran angin besar (tornado) atau memunculkan gelombang angin badai dan puting beliung.

Selain itu ada banyak jin udara, umumnya adalah yang sosoknya seperti manusia, yang membentuk kerajaan jin udara. Di atas kota Jakarta ada banyak kerajaan jin udara, sehingga keberadaan mereka dan keberadaan komunitas mahluk halus jin udara lainnya membuat cuaca di kota Jakarta seringkali tidak menentu.

Ada juga jin udara yang sosoknya seperti binatang, kebanyakan wujudnya bersayap, misalnya ular bersayap, ular naga bersayap, harimau bersayap, kuda bersayap, burung-burung seperti garuda atau rajawali besar, dsb, kebanyakan tinggal di sekitar komunitas kerajaan jin udara.

Salah satu contoh jin udara yang berwujud ular bersayap adalah 2 jenis ular gaib yang panjangnya + 50 cm, kepalanya seperti naga, bersayap di bagian insangnya (seperti ikan terbang) dan memiliki sirip di sepanjang punggungnya seperti ikan lele.

Ke 2 jenis ular ini bisa dikatakan setengah mahluk halus dan setengah mahluk nyata. Dalam artian, ke 2 jenis ular ini sebenarnya adalah jenis mahluk halus, tetapi mereka dapat dengan seketika berubah wujud menjadi ular sungguhan seperti di dunia manusia.

Dalam kondisi gaibnya ular-ular ini dapat dengan seketika melesat cepat sekali, berbunyi keras dan terlihat menyala menyambar seperti petir / kilat. Ketika fisiknya berubah menjadi ular sungguhan, ular-ular ini dapat terbang cepat seperti meteor-meteor kecil di langit dan tampak sinar energinya berwarna putih kebiru-biruan. Ke 2 jenis ular ini memiliki bisa yang kekuatannya jauh lebih kuat dibandingkan bisa ular-ular di bumi.

Ular-ular tersebut di atas, jenis yang pertama tubuhnya berwarna hitam, biasa disebut ular gundala. Ular ini memiliki bisa yang sangat mematikan, jauh sangat mematikan dibandingkan bisa ular kobra. Jenis ular inilah yang sering digunakan sebagai senjata oleh Batara Indra untuk ditangkap dan dilontarkan kepada lawan-lawannya. Batara Indra adalah Dewa berwatak keras yang diserahi tanggung jawab urusan keamanan kahyangan.

Jenis ular yang kedua tubuhnya berwarna coklat, biasa disebut ular gundala seta. Ular ini memiliki bisa yang berlawanan sifat dengan bisa ular gundala, yaitu menawarkan racun. Kekuatannya sebagai penawar racun sangat kuat, bahkan dapat menawarkan racun ular gundala yang sangat mematikan itu. Dulu para Dewa sering memanfaatkan bisa ular jenis ini untuk menyembuhkan seseorang yang sedang sakit keras.

Ada satu ular gundala seta yang dulu pernah tertangkap oleh tangan Ki Ageng Sela ketika kaget ada petir di siang bolong menyambar di dekatnya ketika ia sedang berada di sawah. Ki Ageng Sela memang terkenal sebagai orang sakti yang dapat bergerak cepat sekali. Di dalam genggaman tangannya petir itu tiba-tiba berubah menjadi seekor ular coklat. Dengan refleks ular itu dibantingnya hingga menancap di lumpur sawah. Untunglah bagian kepala ular itu tidak sampai hancur, sehingga setelah dipelajari selanjutnya, setelah bisa ular itu dikristalkan, diketahuilah bahwa bisa ular itu bersifat penawar racun dan dapat menawarkan racun segala jenis racun binatang berbisa, termasuk juga menawarkan racun dari keris dan tombak.

Jenis ular gundala seta ini dalam bentuk gaibnya sering menyambar ke bumi sebagai petir. Bila menyambar pohon, batang pohon itu akan pecah / tumbang, tetapi di bagian pohon yang tersambar petir itu tidak ada tanda-tanda gosong kehitaman seperti layaknya pohon yang tersambar petir biasa. Tubuh ular itu sendiri kemudian berubah wujud menjadi sebuah batu yang besarnya kira-kira sekepalan tangan bayi. Bentuknya seperti gigi taring (salah satu sisinya meruncing). Biasanya batu itu menancap / tergeletak di dekat pohon yang tersambar petir itu. Batu itulah yang sering disebut mustika untu bledheg (gigi petir). Kegunaannya adalah sebagai penawar racun dan obat berbagai macam penyakit (seperti batu ajaib dukun cilik Ponari). Tetapi mungkin kekuatannya sebagai penawar racun tidak sebaik bisa ular aslinya yang dikristalkan.

Ada sosok lain jin udara yang berwujud seekor naga besar bersayap dan berkaki empat, seperti naga Cina. Warnanya merah gelap mengkilap keemasan. Panjangnya + 5 km dari kepala sampai ujung ekornya. Kekuatan gaibnya kira-kira 20 kali lipat kesaktiannya Ibu Ratu Kidul.  Kami menyebutnya 'Naga Langit'.
Naga ini terbang berkeliling ke seluruh penjuru bumi.  Naga inilah yang sering memberi tanda di langit berupa segaris panjang awan putih, atau bentuk awan lain, di atas lokasi di bumi yang akan terjadi gempa bumi besar atau bencana alam besar lainnya.

Pasangan dari Naga Langit ini adalah seekor naga gaib di bumi yang wujudnya mirip dengan Naga Langit, tetapi tidak bersayap. Kami menyebutnya "Naga Bumi" atau  'Naga Gini'. Naga Gini posisinya + 200 meter di bawah tanah. Naga Langit dan Naga Gini selalu bergerak beriringan, satu di atas, satu di bawah, melintasi daratan dan lautan. Kemanapun arah mereka pergi, selalu pulau Jawa sebagai posisi awal.

Ada juga sekawanan jin udara berwujud 5 ekor burung besar berwarna coklat. Bila sedang hinggap di tanah, pemimpinnya, yang paling besar badannya, tingginya + 12 meter. Kesaktiannya masing-masing kira-kira 20 kali lipat kesaktiannya Ibu Ratu Kidul. Mereka selalu terbang beriringan di atas pulau Jawa, bolak-balik dari ujung barat sampai ke ujung timur pulau Jawa, berpatroli. 




------------------












Comments