https://sites.google.com/site/thomchrists/dunia-gaib-mahluk-halus/dewa-wisnu-wahyu-dewa/20140206_144300-2.JPG
 



Dewa Wisnu dan Wahyu Dewa 

 

Dalam menjalankan tugasnya di bumi yang terkait dengan kehidupan manusia para dewa tersebar ke banyak tempat. Mereka mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan mereka terutama adalah dengan para pemimpin manusia (raja / presiden) di seluruh dunia dan tokoh-tokoh manusia tertentu yang mereka berkenan yang posisi keberadaannya dan perbuatan-perbuatannya dianggap mempunyai pengaruh yang penting dan besar terhadap banyak orang. Peranan para dewa masih terus berlangsung hingga masa sekarang, tetapi tidak semua orang dapat melihat atau berhubungan dengan dewa, karena tidak memiliki spiritualitas yang tinggi yang menjadi dasar untuk mengenal dewa.

Cara para dewa mempengaruhi kehidupan manusia lebih banyak dilakukan secara tidak langsung dengan cara menurunkan wahyu-wahyu dewa kepada manusia-manusia tertentu di seluruh penjuru bumi. Dengan sudah diterimanya sebuah wahyu di dalam diri seseorang, perbuatan-perbuatan orang itu akan menjadi berlipat ganda pengaruhnya dan karisma dan perbawa dari sifat-sifat kepribadian orang itu akan memancar keluar dan dapat dirasakan oleh semua orang di sekitarnya. Orang itu dijadikan lokomotif perbaikan hidup dan kemajuan jaman.


Selain yang tidak langsung, para dewa juga
mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung  dengan cara menginspirasi, memberi wejangan-wejangan, memerintahkan, atau menunjukkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh manusia-manusia tertentu yang mereka temui, manusia-manusia yang mereka berkenan, atau mengatur suatu pertemuan seseorang dengan seseorang yang lain, sehingga kemudian situasi dan kondisi menjadi berubah.

Contohnya adalah seperti Dewa Wisnu yang melalui Kresna manusia titisannya "mengajar" Arjuna. Selain Dewa Wisnu, beberapa dewa yang lain juga melakukannya dengan cara "penitisan" kepada manusia-manusia tertentu, yaitu masuk dan bersemayam di dalam tubuh manusia, biasanya dilakukan sejak si manusia masih di dalam kandungan ibunya. Atau Dewa Hanoman dan Dewa Semar yang kerap muncul di dunia manusia.

Berbeda dengan wahyu dewa yang bersemayam di dalam tubuh seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu saja sesuai yang ditugaskan kepadanya, pengaruh dari penitisan dewa lebih dari itu. Penitisan dewa biasanya mewujudkan kesaktian dan kewaskitaan yang luar biasa pada orangnya, bahkan sejak orang titisan dewa itu masih kecil dan belum belajar ilmu kesaktian. 

Dengan penitisannya itu Dewa tersebut menyatu dengan kepribadian orangnya, membentuk kepribadiannya, sehingga si manusia memiliki sifat-sifat kepribadian yang mirip dengan dewa yang menitis, dan menginspirasi orangnya supaya melakukan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh Dewa tersebut. Keberadaan dewa tersebut juga menjadi sumber kekuatan gaib (khodam) bagi si manusia sejak manusia itu masih kecil belum belajar ilmu kesaktian. Keberadaan dewa tersebut juga menginspirasi si manusia untuk menekuni spiritualitas dan kesaktian, sehingga biasanya seorang manusia titisan dewa akan menjadi manusia yang sakti dan berspiritual tinggi.

Dengan demikian penitisan dewa di dalam diri seseorang mempunyai pengaruh dan keistimewaan yang lebih dibanding wahyu yang diterima oleh seseorang. Dengan cara penitisannya itu dewa yang bersangkutan menjalankan misinya dalam kehidupan manusia secara langsung melalui perantaraan manusia tempatnya menitis. Tetapi tidak banyak orang yang "beruntung" ketitisan dewa, karena tujuan dewa menitis kepada seseorang bukanlah semata-mata karena kecocokkannya kepada orang-orang tertentu, tetapi karena ada misi tertentu yang ingin diwujudkannya melalui manusia titisannya itu. 


Dalam tindakan-tindakan para dewa mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung peranan Dewa Wisnu sangat menonjol.

Dewa Wisnu hidup menyendiri. Pembawaannya agak angkuh. Sangat percaya diri dengan kesaktian dan kewaskitaannya walaupun sebenarnya hanya beda tipis saja dibanding dewa-dewa utama lainnya. Dewa Wisnu tidak melibatkan diri dalam manajemen para dewa dan sering melakukan tindakan sendiri mendahului para dewa yang lain, tidak berkoordinasi dengan dewa-dewa yang lain. 

Dewa Wisnu tidak pernah terlibat dalam diskusi ketika para dewa akan menurunkan sebuah wahyu yang penting. Dewa Wisnu seringkali melakukan tindakan sendiri berupa "penitisan" kepada manusia-manusia tertentu. Penitisannya itu dilakukan pada manusia tertentu dan pada masa-masa tertentu yang bersifat kritis, yang tanpa adanya penitisan Dewa Wisnu sulit bagi si manusia untuk dapat menguasai keadaan. Manusia yang menjadi titisannya, biasanya, sesuai karakter Dewa Wisnu, akan menjadi manusia yang berwibawa dan berkarisma tinggi, sakti dan waskita, dan menjadi tokoh sentral yang dihormati oleh manusia lain di sekitarnya.

Walaupun dikemudian hari terbukti bahwa peranan Dewa Wisnu itu ternyata sangat penting, tetapi pada saat penitisan itu terjadi, secara sepintas, penitisan tersebut dapat dianggap merupakan  'tandingan'  dari manusia lain yang menjadi pilihan para dewa. Walaupun tindakannya tersebut tidak disukai oleh para dewa yang lain, karena dilakukannya tanpa adanya koordinasi, tetapi mereka tetap saling menghormati dan saling menghargai bahwa tindakan masing-masing dewa itu tentulah bertujuan baik, karena mereka juga adalah dewa-dewa yang baik, caranya saja yang tidak disukai. 

 
Contohnya adalah penitisan Dewa Wisnu ke dalam diri pribadi Sri Rama ketika dalam hidupnya
Sri Rama harus menyelamatkan istrinya dari penculikan buto Rahwana. Walaupun dalam perkara itu Sri Rama juga dibantu oleh dewa-dewa lainnya, termasuk Hanoman yang turun tangan langsung menjadi ujung tombak pasukan Sri Rama, tetapi penitisan Dewa Wisnu itu telah menjadikan Sri Rama seorang manusia yang berkesaktian tinggi yang itu sangat diperlukan untuk ia berhadapan dengan Rahwana dan bala tentaranya. 

Penitisan itu juga telah menjadikan Prabu Rama seorang raja yang memiliki sifat-sifat perwatakan yang sejalan dengan sifat-sifat wahyu makutarama (Hasta Brata), sehingga walaupun ia tidak menerima wahyu makutarama, tetapi bersama Dewa Wisnu di dalam dirinya, karisma wibawa dari sifat-sifatnya itu telah menjadikan Sri Rama seorang raja yang mengantarkan rakyatnya pada kesejahteraan dan hidup sentosa, sama dengan seorang raja yang menerima wahyu makutarama.


Contoh lain penitisan Dewa Wisnu diceritakan di dalam kisah pewayangan berlakon Mahabharata dan Bharatayudha.

Jauh sebelum kejadiannya terjadi, para dewa sudah mengetahui bahwa nantinya akan terjadi perang saudara besar-besaran di dalam keluarga besar Bharata, antara para Pandawa dan saudara-saudaranya para Kurawa. Perang itu akan menyeret banyak manusia ke dalamnya. Bahkan banyak manusia yang sebelumnya berada di pihak yang benar dan netral, kemudian menjadi berada di posisi membela yang salah. 

Para dewa berkeputusan bahwa dalam setiap pertikaian pihak yang benarlah yang harus menang dan yang salah harus kalah, dan para dewa akan membela pihak yang benar. Dalam hal ini, pihak yang dibenarkan adalah para Pandawa dan pihak yang disalahkan adalah para Kurawa. Sebelum para dewa lain bertindak, Dewa Wisnu sudah lebih dulu menitis kepada Prabu Kresna sejak masih di dalam kandungan ibunya, jauh sebelum perang Bharatayudha terjadi.

Mengapa Dewa Wisnu menitis kepada Prabu Kresna ? 

Mengapa tidak menitis kepada para Pandawa ? 

Apa maksud penitisannya ?

Sebelum perang Bharatayudha terjadi, para dewa sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka membina moral dan pekerti manusia-manusia yang akan terlibat di dalam pertikaian. Mereka juga membekali manusia-manusia tertentu di pihak Pandawa dengan ilmu-ilmu kesaktian dan senjata-senjata sakti yang sulit dicari tandingannya, karena itu adalah senjata-senjata milik dewa, yang kemudian setelah urusannya selesai senjata-senjata itu akan kembali lagi kepada dewa pemiliknya. Tetapi ada juga dewa-dewa yang membekali
kesaktian dan senjata-senjata sakti kepada orang-orang yang nantinya berada di pihak Kurawa, selain karena orang-orang itu dikasihinya, juga supaya di dalam perang tersebut kekuatannya tidak berat sebelah.

Peranan dewa Wisnu di dalam titisannya, Prabu Kresna, terbukti sangat penting. Prabu Kresna menjadi tokoh penting di dunia manusia, menjadi seorang raja yang sangat dihormati dan penting peranannya, selain karena peran kepemimpinannya, juga karena kewibawaan, kesaktian dan kewaskitaannya, yang memberikan banyak pencerahan dan pengayoman budi pekerti kepada banyak orang, terutama kepada anak-anak raja yang nantinya akan naik tahta menjadi raja, supaya menjadi raja yang berbudi pekerti, mengayomi dan melindungi rakyatnya.

Prabu Kresna juga berhasil memberikan "pencerahan" kepada Arjuna yang di dalam perang itu sempat menolak untuk maju berperang melawan para Kurawa dan saudara-saudaranya yang berada di pihak para Kurawa. Arjuna adalah salah satu tokoh penting di pihak Pandawa yang tanpa keikut-sertaannya dalam Bharatayudha situasi perang itu akan berubah drastis. Karena sifat-sifat kepribadian dan perbuatan-perbuatannya, Arjuna menjadi ksatria yang sangat dikasihi dewa.

Peranan dewa Wisnu yang berhasil memberikan "pencerahan" kepada Arjuna mendapatkan penghargaan besar dari para dewa yang lain, karena di luar dugaan semua dewa, ternyata Arjuna sempat menolak untuk maju berperang melawan Kurawa. Karena peranan dewa Wisnu itulah, tanpa mengabaikan peranan penting para dewa yang lain, pihak Pandawa dapat mengalahkan para Kurawa, sehingga misi para dewa untuk menegakkan kebenaran menjadi berhasil.


Contoh lain tindakan-tindakan para dewa dalam mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung ini adalah seperti apa yang terjadi di pulau Jawa. Ketika para dewa menjatuhkan pilihannya kepada raja Singasari, Sri Rajasa Kertanegara, dan raja-raja Majapahit di Jawa Timur, Dewa Wisnu melakukan tindakan sendiri dengan menitis ke dalam diri Prabu Siliwangi, raja kerajaan Pajajaran di Jawa Barat.  Apa hubungannya ?



_________



  >>  Dewa dan Tanah Jawa












Comments