Dewa dan Satria Piningit 5

   Ramalan 7 Satria Piningit

 

Tulisan dalam halaman ini mengambil informasi dari berbagai sumber tulisan di internet, yang telah diedit dan ditambahkan ulasan seperlunya, untuk menjadi bahan penambah wawasan pemahaman kita tentang sosok Satria Piningit yang menjadi tema pembahasan tulisan ini  (ini juga sebagai permohonan ijin kepada pengasuh web tersebut bahwa tulisannya dijadikan bahan tulisan disini)  terutama dari :
 - http://id.wikipedia.org/wiki/Ramalan_Jayabaya.
 - http://sabdopalon.wordpress.com/menyibak-tabir-misteri-nusantara/
 - http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/kitab-musarar-jayabaya-jawa/
 - http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/kitab-musarar-jayabaya/

Tujuannya adalah sebagai bahan kajian spiritual, untuk dikaji sisi spiritualnya. Untuk informasi selengkapnya silakan membaca-baca tulisan lain yang terkait di internet.


Ada beberapa tulisan yang menjadi sumber cerita (ramalan) tentang tokoh Satria Piningit ini, yang terkait erat dengan sosok Sabdo Palon dan Naya Genggong sebagai pamomongnya, seperti Kitab Jangka Jayabaya, Kitab Musarar Jayabaya, Kitab Dharmagandul, dan Serat Sabdo Palon Naya Genggong.

Seringkali masing-masing tulisan itu tidak bisa dipastikan mana yang asli dan siapa penulis pertamanya. Kemungkinannya, itu terjadi karena sejak awalnya tulisan-tulisan itu sudah menjadi karya sastra kerajaan yang hanya boleh dibaca oleh kalangan terbatas saja, tertutup untuk umum, yaitu hanya untuk kalangan istana dan keluarga keraton saja, rakyat umum hanya mendengar ceritanya saja, dan tulisan-tulisan itu disimpan dan dipelihara secara turun-temurun sebagai pusaka kerajaan.

Jika terjadi penaklukkan sebuah kerajaan terhadap kerajaan lain biasanya semua karya sastra dan harta benda (termasuk pusaka-pusaka), kalau tidak dimusnahkan, maka akan diboyong ke kerajaan penakluk. Sesudah itu pujangga-pujangga (spiritualis) kerajaan penakluk akan mempelajari dan menggubah / menulis ulang tulisan-tulisan sastra itu untuk disesuaikan dengan bahasa yang berlaku saat itu di tempat kerajaan si penakluk, ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti saat itu (misalnya dari bahasa jawa kuno atau sansekerta ditulis ulang ke bahasa jawa yang lebih umum).

Secara umum para pujangga (sarjana / spiritualis) jaman dulu tidak menyebutkan namanya di dalam karya-karya mereka, karena semua karyanya nantinya akan dipersembahkan untuk menjadi milik / perbendaharaan kerajaan, sehingga pada masa kemudian, jika ditemukan sebuah karya sastra kuno, sulit untuk diketahui nama asli penulisnya. Dengan demikian seringkali nama orang yang dikenal sehubungan dengan sebuah karya sastra biasanya adalah nama rajanya atau nama sang penulis / penggubah terakhir yang menulis ulang karya sastra itu, malah bisa jadi penggubah terakhir itulah yang kemudian dianggap sebagai penulis pertama karya sastra itu. Karena kita tidak mempunyai akses langsung dan juga kemampuan untuk mempelajari karya aslinya, maka kita tidak perlu mempertentangkan siapa pujangga (spiritualis) penulis pertamanya, dan mudah-mudahan "isi" terjemahannya masih sama dengan "isi" karya aslinya dulu.

Bentuk tulisan karya sastra para pujangga tanah jawa jaman dulu seringkali berbentuk puisi atau tembang, tidak berbentuk formal seperti buku sejarah, oleh karenanya tulisannya akan banyak berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang dan seringkali juga ditambahi dengan cerita-cerita kembangan yang seringkali menjadi tampak tidak sejalan dengan jalannya sejarah.

Biasanya karya sastra para pujangga (spiritualis) itu ditulis dengan "olah batin" khusus, sehingga dalam membaca dan mempelajarinya kita juga harus "paham" dan "mengerti" kawruh kejawen, harus dibaca dengan "rasa", karena tidak semuanya dapat dengan sederhana dimengerti dengan nalar dan logika sempit dan pasti tidak akan sama ceritanya dengan karya sastra pujangga (spiritualis) lain, walaupun menceritakan sesuatu yang sama, sehingga dari banyak tulisan tentang sesuatu yang sama, satu tulisan dengan tulisan lainnya tidak akan bisa diperbandingkan untuk tujuan menilai mana yang paling benar, apalagi untuk tujuan diuji kebenarannya dengan membandingkannya dengan jalannya sejarah.

Seringkali karya-karya sastra para spiritualis / pujangga itu bukan hanya untuk menuliskan sesuatu yang penting, tetapi juga untuk
mengungkapkan "sesuatu" yang hakekatnya "besar" dan "tinggi" yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, sehingga mereka menuliskannya secara khusus dengan olah batin khusus dalam bentuk karya sastra dan berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang untuk mengungkapkannya. Karena itu dalam rangka membacanya / mempelajarinya jangan menterjemahkan tulisannya secara harfiah dan jangan "mengecilkan" maknanya. Yang harus dimengerti bukanlah sebatas bentuk formal tulisannya seolah-olah itu adalah sebuah novel fiksi atau buku sejarah, tetapi adalah  "isi",  "maksud"  dan  "tujuan"  dari masing-masing tulisan para pujangga (spiritualis) tersebut. Dan ungkapan-ungkapan mereka atas "sesuatu" yang hakekatnya "besar" dan "tinggi" itu harus kita terima apa adanya, karena itu adalah hasil olah batin mereka, walaupun mungkin tidak sejalan dengan rasa keinginan dan pemahaman kita.





Ramalan 7 Satria Piningit  



Berkenaan dengan isi ramalan dalam Kitab Musarar Jayabaya dan ramalan-ramalan lain seperti yang sudah dituliskan dalam halaman-halaman sebelumnya, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkannya.


Yang berhubungan dengan negara Indonesia / Nusantara saat ini sebagian besar orang menafsirkannya sebagai sosok 7 satria piningit yang sedang dan akan muncul sebagai tokoh yang memimpin Nusantara, wilayah seluas “bekas” wilayah kerajaan Majapahit, yaitu yang disebut dengan lambang-lambang : Satria Kinunjara Murwa Kuncara, Satria Mukti Wibawa Kesandung Kesampar, Satria Jinumput Sumela Atur, Satria Lelana Tapa Ngrame, Satria Piningit Hamong Tuwuh, Satria Boyong Pambukaning Gapura, dan Satria Pinandita Sinisihan Wahyu.


Di internet banyak sekali tulisan yang serupa mengenai isi tafsiran ramalan di atas sampai-sampai tidak (sulit) diketahui siapa pencetus tafsiran pertamanya. Sebagian besar menyebutkan ramalan tentang 7 satria piningit itu sebagai ramalan Ronggowarsito, tetapi saya sendiri belum dapat menemukan adanya tulisan Ronggowarsito yang menuliskan tentang 7 satria piningit itu.


Mengenai ramalan tentang 7 satria piningit di atas saya tuliskan di bawah ini dengan editan dan ulasan seperlunya sebagai berikut :



1. SATRIA KINUNJARA MURWA KUNCARA.


Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjara), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor di seluruh dunia (Murwa Kuncara).


Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.


Kitab Musarar Jayabaya bait 18 :  " Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi ............. "


Lung gadung rara nglikasi diartikan memiliki makna pemimpin yang penuh inisiatif dalam segala hal (cerdas), namun memiliki kelemahan sering tergoda wanita. Perlambang ini diartikan menunjuk kepada presiden pertama RI, Soekarno.



2. SATRIA MUKTI WIBAWA KESANDUNG KESAMPAR.

Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) dan berwibawa / ditakuti (Wibawa), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar).

Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

Kitab Musarar Jayabaya bait 18 :  " ........ kemudian berganti Gajah meta semune tengu lelaki ............. "


Gajah meta semune tengu lelaki diartikan memiliki makna pemimpin yang besar dan kuat dan disegani / ditakuti, namun akhirnya terhina dan nista. Perlambang ini diartikan menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto.


Kemudian dikatakan juga bahwa enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan pemerintahan tidak karu-karuan. Imbasnya kepada rakyat kecil. Waktu itu pajaknya rakyat adalah uang anggris dan uwang. Saya diberi hidangan darah sepitrah (banyak pertumpahan darah). Kemudian negara geger, bumi hilang berkahnya, pemerintahan rusuh. Rakyat celaka, bermacam-macam bencana yang menimpa, tidak dapat dihindari. Negara rusak. Para penguasa tidak menyatu dengan rakyatnya. Bupati berdiri sendiri-sendiri.



3. SATRIA JINUMPUT SUMELA ATUR.

Tokoh pemimpin yang diangkat / terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur).

Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.


4. SATRIA LELANA TAPA NGRAME.

Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelana), tetapi juga seorang yang religius / rohaniwan (Tapa Ngrame).

Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.


5. SATRIA PININGIT HAMONG TUWUH.

Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari leluhurnya (Hamong Tuwuh).

Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.


Kitab Musarar Jayabaya bait 20 :  " ........ Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang - Mataram "

Kemudian berganti zaman Kutila. Rajanya Kara Murka (raja-raja yang saling berangkara murka). Kondisinya dilambangkan Panji loro semune Pajang - Mataram, diartikan ada dua pemimpin yang berseteru saling menjatuhkan ingin berkuasa, digambarkan seperti Pajang dan Mataram. Ungkapan itu diartikan menunjuk kepada era perseteruan Gus Dur - Megawati.

Lalu pada bait 21 tertulis :

Nakhoda (orang asing) ikut serta memerintah. Yang kaya punya keberanian. Sarjana (orang pandai) menghilang semua. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Perseteteruan dua orang pemimpin itu kemudian selesai, tapi berganti menjadi lambang Rara ngangsu, randa loro nututi pijer tetukar (ratu yang diintai dua saudara perempuannya yang ingin menggantikannya).

Di bawah pemerintahannya situasi negara digambarkan kekuatan asing memiliki pengaruh yang sangat besar bisa ikut mengatur jalannya pemerintahan. Orang pandai dianggap menghilang semua (tidak tampak hasil kerjanya). Kondisi rakyat kecil makin sengsara. Rumah-rumah hancur berantakan diterjang jalan besar diartikan banyak penggusuran oleh investasi ekonomi dan orang kaya yang merampas tanah rakyat.

Perseteteruan dua orang pemimpin itu kemudian selesai, tapi berganti menjadi lambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar bermakna seorang pemimpin wanita yang selalu diintai oleh dua saudara perempuannya seolah ingin menggantikannya. Perlambang ini diartikan menunjuk kepada Megawati, presiden RI kelima yang selalu dibayangi oleh Rahmawati dan Sukmawati.


6. SATRIA BOYONG PAMBUKANING GAPURA.

Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong - dari menteri menjadi presiden) dan akan menjadi pembuka gerbang menuju zaman keemasan (Pambukaning Gapura).

Banyak pihak yang menyakini tafsiran dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa, anarkisme dan prahara akan mengisi jamannya.

Kitab Musarar Jayabaya bait 22 :

Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, tidak berkesempatan menghias diri, itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti / memahami lambang tersebut ”.

Perlambang Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah. Ini diartikan menunjuk kepada presiden RI keenam saat ini, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan perlambang Semarang Tembayat diartikan merupakan tempat tinggal seseorang yang memahami dan mengetahui permasalahan dari apa yang terjadi, tetapi istilah Semarang Tembayat masih merupakan misteri.

Kondisi negara digambarkan : 
- Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Pajaknya naik terus. Panen tidak memuaskan. Hasilnya kurang.
  Orang asusila dan orang jahat makin bertambah dan makin menjadi-jadi. Orang besar hatinya jahil.
  Makin hari makin bertambah rusaknya negara.
- Hukum dan pengadilan negara serasa tidak berguna, tidak ada wibawanya.
  Hukum / peraturan berganti-ganti. 
Tidak menerapkan keadilan.
  Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar.
  Setan menyaru menjadi
wahyu (ajaran setan yang menyesatkan dianggap ajaran Tuhan, banyak terjadi
  penyesatan dalam pandangan
beragama). Banyak orang melupakan Tuhan dan mengabaikan orang tua.
- Banyak wanita hilang kehormatannya dan banyak yang menjadi suguhan.
  Ada perang tanpa aba-aba, tanpa
pernyataan perang (serangan bom teroris ?). 
  Kemudian ada
tanda-tanda pecahnya negara (pemerintahan pusat kehilangan kuasanya, banyak muncul  
  daerah
otonomi yang berkuasa seolah-olah seperti negara-negara baru yang berdiri sendiri-sendiri).
- Banyak goro-goro (banyak bencana alam). Hujan besar tak kenal musim, bisa datang sewaktu-waktu.
  Banyak gempa dan gerhana. Kematian dimana-mana.
Sampai kira-kira tahun (tahun jawa) 1800.
  Tanah Jawa berantakan.



7. SATRIA PINANDITA SINISIHAN WAHYU.

Tokoh pemimpin yang amat sangat waskita dan religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Pinandita, yang kepadanya diserahkan semua firman / wahyu dan kuasa Tuhan (Sinisihan Wahyu).

Kitab Musarar Jayabaya bait 27 - 29 :

- Tapi besok kan akan datang si Tunjung putih, semune Pudhak kasungsang 
  (Raja berhati putih, namun
masih
tersembunyi).
- Lahir di bumi Mekah (lahir dari karsa Tuhan).
- Dia itulah yang bertahta atas Mekah, bertahta atas seluruh dunia 
  (
Iku kang angratoni - Mekah, jagad kabeh ingkang mengku).
  Dijuluki Ratu Amisan, hilanglah musibah dan bencana di bumi

  (kedatangannya menghapuskan
musibah dan bencana di bumi),
  nakhoda ikut ke dalam persidangan.

- Raja utusan Tuhan.
- Berkeraton dua, satu di Mekah, satu lagi di tanah jawa
  (
mempunyai 2 kerajaan, satu di surga, satunya lagi di bumi di tanah Jawa).
- Tinggalnya orang itu dekat dengan gunung Perahu, sebelah baratnya tempuran.
- Dicintai oleh pasukannya.
- Dia itulah raja yang terkenal sedunia.
- Waktu itulah ada pengampunan, penegakan hukum dan keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi
  hidangan bunga seruni (lambang keindahan dan kemuliaan) oleh ki Ajar.
- Orang itu mulia hatinya, bagus parasnya dan senyumnya manis sekali.



Sosok raja terakhir inilah yang disebut banyak orang sebagai Sang Satria Piningit atau Sang Ratu Adil. 

Sosok pemimpin tersebut dipercaya akan mampu memimpin Nusantara ini dengan sangat baik, adil dan membawakan keselamatan dan kesejahteraan kepada rakyat. Raja dan Nusantara akan terkenal di dunia.

Tetapi apakah benar sosok raja ini akan menjadi presiden yang ke tujuh di Indonesia ini ataukah masih ada skenario / kejadian lain sebelum kemunculannya, itu yang kita masih belum tahu pasti.




________




Tulisan tentang prediksi / tafsiran ramalan di atas "nyambung" dengan tulisan kami sebelumnya, walaupun tidak secara eksplisit disebutkan nama-nama atau julukannya. Sebelumnya dalam tulisan berjudul "Dewa dan Tanah Jawa", Penulis sudah menuliskan bahwa sekalipun para Dewa sudah tidak lagi secara langsung mengayomi tanah jawa, tetapi mereka tetap melakukan tugas mereka dengan menurunkan wahyu-wahyu mereka di tanah jawa. Hanya saja sayangnya, wahyu-wahyu itu kecil-kecil dan ringan kadarnya.

Setelah jaman kerajaan berakhir dan berganti menjadi jaman Republik, seperti yang sudah diketahui secara spiritual, dan sudah juga diramalkan sejak dulu, kepemimpinan negara Indonesia tidak terlepas dari adanya wahyu keprabon.

Wahyu yang diturunkan kepada presiden pertama RI adalah wahyu yang penting. Presiden itulah yang ditentukan sebagai pembuka jalan "kebangkitan" pemerintahan tanah jawa, dan batas-batas wilayah Singasari - Majapahit dipulihkan kembali. Sayangnya, beliau tidak bisa "membesarkan" Indonesia dan tidak bisa
dengan benar merangkul banyak orang yang semangatnya menggebu-gebu ingin tampil menjadi pemimpin dan penguasa.

Dalam sejarah negara Indonesia, wahyu yang diturunkan kepada presiden ke 2 Indonesia adalah wahyu yang paling besar kadarnya, karena presiden itulah yang ditentukan sebagai yang  "membesarkan" negara
dan bangsa Indonesia. Sayangnya, sang presiden tidak tahu kapan masa tugasnya berakhir, sehingga harus secara paksa diturunkan dari tahtanya.

Wahyu keprabon yang diturunkan kepada "raja-raja" berikutnya semakin kecil dan ringan kadarnya, sehingga  "raja-raja"-nya tidak bisa menjadi "raja besar" dan tidak bisa mengangkat negara Indonesia menjadi "besar".

Tetapi nanti, seperti sudah diramalkan oleh para leluhur, seorang pemuda, yang disebut Sang Satria Piningit, Sang Ratu Adil, adalah yang sudah ditentukan sebagai pewaris pemerintahan tanah jawa. Sebagai orang yang dipilih dan dikasihi Dewa (dipilih dan dikasihi Tuhan), segala macam wahyu-wahyu besar keprabon dan makutarama, berbagai wahyu besar kepemimpinan, spiritual, kerohanian, kesepuhan, dsb, akan tumpuk padanya. Bahkan pusaka-pusaka dewa dan pusaka-pusaka sakti tanah jawa yang telah moksa dari kehidupan manusia, juga diwariskan kepadanya. Ia tidak hanya akan menjadi "raja" di dunia manusia, tetapi juga akan menjadi raja di dunia mahluk halus (semua mahluk halus akan tunduk padanya dan yang menentangnya akan remuk di tangannya).

Ramalan-ramalan para leluhur Jawa tentang pemimpin-pemimpin dan raja-raja manusia di Jawa didasarkan pada olah kebatinan dan spiritual dan ada wahyunya tersendiri sehingga seseorang bisa meramal yang seperti itu, tidak berdasarkan bisikan / penglihatan gaib dari khodam seperti yang dilakukan oleh para peramal yang umum dan orang-orang dari kalangan ilmu gaib dan khodam. 

Para leluhur jawa itu mendasarkan ramalannya pada wahyu keprabon, kepada siapa wahyu keprabon itu akan turun, karena orang si penerima wahyu keprabon itulah yang dianggap diakui dan direstui Tuhan sebagai raja. Tetapi di dunia manusia ada saja raja-raja dan pemimpin yang tidak memiliki wahyu. Yang seperti itu, sekalipun di dunia manusia tetap berlaku bahwa orang itu adalah raja atau pemimpin, tetapi secara spiritual mereka itu dianggap bukan raja dan pemimpin yang sebenarnya. Mereka lebih sering dianggap sebagai orang-orang yang sudah memaksakan dirinya untuk berkuasa atau dianggap sebagai pengisi kekosongan pemerintahan (raja transisi) sampai tiba saatnya muncul raja / pemimpin sebenarnya yang direstui Tuhan.

Karena itu apakah benar sosok raja sang Satria Pinandita Sinisihan Wahyu itu akan menjadi presiden yang ke tujuh di Indonesia ini ataukah masih ada skenario / kejadian lain sebelum kemunculannya, itu yang kita masih belum tahu pasti.



_________




 >>  Dewa dan Satria Piningit - 6













Comments