Dewa dan Satria Piningit 4

  Satria Piningit - Kitab Musarar Jayabaya

 


Tulisan dalam halaman ini mengambil informasi dari berbagai sumber tulisan di internet, yang telah diedit dan ditambahkan ulasan seperlunya, untuk menjadi bahan penambah wawasan pemahaman kita tentang sosok Satria Piningit yang menjadi tema pembahasan tulisan ini  (ini juga sebagai permohonan ijin kepada pengasuh web tersebut bahwa tulisannya dijadikan bahan tulisan disini)  terutama dari :
 - http://id.wikipedia.org/wiki/Ramalan_Jayabaya.
 - http://sabdopalon.wordpress.com/menyibak-tabir-misteri-nusantara/
 - http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/kitab-musarar-jayabaya-jawa/
 - http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/kitab-musarar-jayabaya/

Tujuannya adalah sebagai bahan kajian spiritual, untuk dikaji sisi spiritualnya. Untuk informasi selengkapnya silakan membaca-baca tulisan lain yang terkait di internet.


Menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Ramalan_JayabayaRamalan Jayabaya atau disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, Raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga.

Asal usul utama serat Jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musarar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya, tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musarar yang menuliskan bahwasanya Jayabayalah yang membuat ramalan-ramalan tersebut.

"Kitab Musarar dibuat di jaman Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa. Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani."

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sejaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.


Ada beberapa tulisan yang menjadi sumber cerita (ramalan) tentang tokoh Satria Piningit ini, yang terkait erat dengan sosok Sabdo Palon dan Naya Genggong sebagai pamomongnya, seperti Kitab Jangka Jayabaya, Kitab Musarar Jayabaya, Kitab Dharmagandul, dan Serat Sabdo Palon Naya Genggong.

Seringkali masing-masing tulisan itu tidak bisa dipastikan mana yang asli dan siapa penulis pertamanya. Kemungkinannya, itu terjadi karena sejak awalnya tulisan-tulisan itu sudah menjadi karya sastra kerajaan yang hanya boleh dibaca oleh kalangan terbatas saja, tertutup untuk umum, yaitu hanya untuk kalangan istana dan keluarga keraton saja, rakyat umum hanya mendengar ceritanya saja, dan tulisan-tulisan itu disimpan dan dipelihara secara turun-temurun sebagai pusaka kerajaan.

Jika terjadi penaklukkan sebuah kerajaan terhadap kerajaan lain biasanya semua karya sastra dan harta benda (termasuk pusaka-pusaka), kalau tidak dimusnahkan, maka akan diboyong ke kerajaan penakluk. Sesudah itu pujangga-pujangga (spiritualis) kerajaan penakluk akan mempelajari dan menggubah / menulis ulang tulisan-tulisan sastra itu untuk disesuaikan dengan bahasa yang berlaku saat itu di tempat kerajaan si penakluk, ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti saat itu (misalnya dari bahasa jawa kuno atau sansekerta ditulis ulang ke bahasa jawa yang lebih umum).

Secara umum para pujangga (sarjana / spiritualis) jaman dulu tidak menyebutkan namanya di dalam karya-karya mereka, karena semua karyanya nantinya akan dipersembahkan untuk menjadi milik / perbendaharaan kerajaan, sehingga pada masa kemudian, jika ditemukan sebuah karya sastra kuno, sulit untuk diketahui nama asli penulisnya. Dengan demikian seringkali nama orang yang dikenal sehubungan dengan sebuah karya sastra biasanya adalah nama rajanya atau nama sang penulis / penggubah terakhir yang menulis ulang karya sastra itu, malah bisa jadi penggubah terakhir itulah yang kemudian dianggap sebagai penulis pertama karya sastra itu. Karena kita tidak mempunyai akses langsung dan juga kemampuan untuk mempelajari karya aslinya, maka kita tidak perlu mempertentangkan siapa pujangga (spiritualis) penulis pertamanya, dan mudah-mudahan "isi" terjemahannya masih sama dengan "isi" karya aslinya dulu.

Bentuk tulisan karya sastra para pujangga tanah jawa jaman dulu seringkali berbentuk puisi atau tembang, tidak berbentuk formal seperti buku sejarah, oleh karenanya tulisannya akan banyak berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang dan seringkali juga ditambahi dengan cerita-cerita kembangan yang seringkali menjadi tampak tidak sejalan dengan jalannya sejarah.

Biasanya karya sastra para pujangga (spiritualis) itu ditulis dengan "olah batin" khusus, sehingga dalam membaca dan mempelajarinya kita juga harus "paham" dan "mengerti" kawruh kejawen, harus dibaca dengan "rasa", karena tidak semuanya dapat dengan sederhana dimengerti dengan nalar dan logika sempit dan pasti tidak akan sama ceritanya dengan karya sastra pujangga (spiritualis) lain, walaupun menceritakan sesuatu yang sama, sehingga dari banyak tulisan tentang sesuatu yang sama, satu tulisan dengan tulisan lainnya tidak akan bisa diperbandingkan untuk tujuan menilai mana yang paling benar, apalagi untuk tujuan diuji kebenarannya dengan membandingkannya dengan jalannya sejarah.

Seringkali karya-karya sastra para spiritualis / pujangga itu bukan hanya untuk menuliskan sesuatu yang penting, tetapi juga untuk
mengungkapkan "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, sehingga mereka menuliskannya secara khusus dengan olah batin khusus dalam bentuk karya sastra dan berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang untuk mengungkapkannya. Karena itu dalam rangka membacanya / mempelajarinya jangan menterjemahkan tulisannya secara harfiah dan jangan "mengecilkan" maknanya. Yang harus dimengerti bukanlah sebatas bentuk formal tulisannya seolah-olah itu adalah sebuah novel fiksi atau buku sejarah, tetapi adalah  "isi",  "maksud"  dan  "tujuan"  dari masing-masing tulisan para pujangga (spiritualis) tersebut. Dan ungkapan-ungkapan mereka atas "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya itu harus kita terima apa adanya, karena itu adalah hasil olah batin mereka, walaupun mungkin tidak sejalan dengan rasa keinginan dan pemahaman kita.



  Kitab Musarar Jayabaya

 Asmarandana

1. Kitab Musarar inganggit, Duk Sang Prabu Joyoboyo, Ing Kediri kedhatone, Ratu agagah prakosa, Tan ana kang malanga, Parang muka samya teluk, Pan sami ajrih sedaya,

Kitab Musarar dibuat di jaman Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, tak ada yang menandingi, musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.

2. Milane sinungan sakti, Bathara Wisnu punika, Anitis ana ing kene, Ing Sang Prabu Jayabaya, Nalikane mangkana, Pan jumeneng Ratu Agung, Abala para Narendra,

Beliau sakti karena Batara Wisnu menitis kepadanya. Karena itulah Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.

3. Wusnya mangkana winarni, Lami-lami apeputra, Jalu apekik putrane, Apanta sampun diwasa, Ingadekaken raja, Pagedongan tanahipun, Langkung arja kang nagara,

Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa putranya itu dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.

4. Maksihe bapa anenggih, Langkung suka ingkang rama, Sang Prabu Jayabayane, Duk samana cinarita, Pan arsa katamiyan, Raja Pandita saking Rum, Nama Sultan Maolana,

Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu diceritakan Sang Prabu akan kedatangan tamu seorang raja pandita dari Rum bernama Sultan Maolana.

5. Ngali Samsujen kang nami, Sapraptane sinambrama, Kalawan pangabektine, Kalangkung sinuba suba, Rehning tamiyan raja, Lan seje jinis puniku, Wenang lamun ngurmatana.

Ngali Samsujen nama sebutannya. Kedatangannya disambut dengan hormat, tamu raja lain jenis tersebut pantas dihormati.

6. Wus lenggah atata sami, Nuli wau angandika, Jeng Sultan Ngali Samsujen, “Heh Sang Prabu Jayabaya, Tatkalane ta iya, Apitutur ing sireku, Kandhane Kitab Musarar.

Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah kepadamu mengenai Kitab Musarar.

7. Prakara tingkahe nenggih, Kari ping telu lan para, Nuli cupet keprabone, Dene ta nuli sinelan, Liyane teka para,” Sang Prabu lajeng andeku, Wus wikan titah Bathara.

Mengenai perihal tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya, karena sebenarnya sudah mengerti kehendak Dewata.

8. Lajeng angguru sayekti, Sang-a Prabu Jayabaya, Mring Sang raja panditane, Rasane Kitab Musarar, Wus tunumplak sadaya, Lan enget wewangenipun, Yen kantun nitis ping tiga.

Seperti berguru saja Sang Prabu kepada sang Raja Pandita. Semua isi Kitab Musarar sudah dibabarkan semua dan Sang Prabu diiingatkan tinggal menitis 3 kali.

9. Benjing pinernahken nenggih, Sang-a Prabu Jayabaya, Aneng sajroning tekene, Ing guru Sang-a Pandita, Tinilar aneng Kakbah, Imam Supingi kang nggadhuh, Kinarya nginggahken kutbah.

Kelak akan diletakkan dalam tongkat Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,

10. Ecis wesi Udharati, Ing tembe ana Molana, Pan cucu Rasul jatine, Alunga mring Tanah Jawa, Nggawa ecis punika, Kinarya dhuwung puniku, Dadi pundhen bekel Jawa.

Ecis besi Udharati yang di tangan Maolana, yang masih cucu Rasul, yang pergi ke tanah Jawa membawa ecis tersebut. Kelak pusaka tersebut menjadi punden Jawa.

11. Raja Pandita apamit, Musna saking palenggahan, Tan antara ing lamine, Pan wus jangkep ing sewulan, Kondure Sang Pandita, Kocapa wau Sang Prabu, Animbali ingkang putra.

Raja Pandita pamit dan menghilang dari tempat duduk. Setelah satu bulan perginya sang pandita, Sang Prabu memanggil putranya.

12. Tan adangu nulya prapti, Apan ta lajeng binekta, Mring kang rama ing lampahe, Minggah dhateng ardi Padhang, Kang putra lan keng rama, Sakpraptanira ing gunung, Minggah samdyaning arga.

Setelah sang putra datang menghadap lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putranya itu setelah sampai di gunung kemudian naik ke puncak.

13. Wonten ta ajar satunggil, Anama Ajar Subrata, Pan arsa methuk lampahe, Mring Sang Prabu Jayabaya, Ratu kang namur lampah, Tur titis Bathara Wisnu, Njalma Prabu Jayabaya

Di sana ada seorang Ajar bernama Ajar Subrata, menjemput Prabu Jayabaya, raja yang datang, yang adalah titisan Batara Wisnu.

14. Dadya Sang Jayabaya ji, Waspada reh samar-samar, Kinawruhan sadurunge, Lakune jagad karana, Tindake raja-raja, Saturute laku putus, Kalawan gaib sasmita.

Sang Prabu waspada terhadap yang tak kelihatan, sudah tahu sebelumnya perilaku gaib alam, perilaku raja-raja, karena laku-nya sudah selesai dan menerima sasmita gaib.

15. Yen Islama kadi nabi, Ri Sang aji Jayabaya, Cangkrameng ardi wus suwe, Apanggih lawan ki Ajar, Ajar ing gunung Padhang, Awindon tapane guntur, Dadi barang kang cinipta.

Kalau di Islam disebut Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bersama dengan ki Ajar di gunung Padang, yang karena gentur tapanya, apa saja yang dikehendakinya terjadi.

16. Gupuh methuk ngacarahi, Wus tata dennya alenggah, Ajar angundang endhange, Siji nyunggi kang rampadan, Isine warna-warna, Sapta wara kang sesuguh, Kawolu lawan ni endang.

Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah dipersilakan duduk, ki Ajar memanggil seorang endang-nya yang datang dengan membawa sesaji. Isinya macam-macam. Tujuh jenis yang disajikan, delapan dengan endangnya.

17. Juwadah kehe satakir, Lan bawang putih satalam, Kembang melathi saconthong, Kalawan getih sapitrah, Lawan kunir sarimpang, Lawan kajar sawit iku, Kang saconthong kembang mojar.

Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, pohon kajar dan kembang mojar sebungkus.

18. Kawolu endang sawiji, Ki Ajar pan atur sembah, “Punika sugataningong, Katura dhateng paduka,” Sang Prabu Jayabaya, Awas denira andulu, Sedhet anarik curiga.

Yang kedelapan endangnya. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah sajian kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik kerisnya.

19. Ginoco ki Ajar mati, Endhange tinuweg pejah, Dhuwung sinarungken age, Cantrike sami lumajar, Ajrih dateng sang nata, Sang Rajaputra gegetun, Mulat solahe kang rama.

Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian ketakutan. Sang putra raja kecewa melihat perbuatan ayahnya.

20. Arsa matur putra ajrih, Lajeng kondur sekaliyan, Sapraptanira kedhaton, Pinarak lan ingkang putra, Sumiwi muriggweng ngarsa, Angandika Sang-a Prabu, Jayabaya mring kang putra.

Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Sampai di keraton Sang Prabu berbicara dengan putranya.

21. Heh putraningsun ta kaki, Sira wruh solahing Ayea, lya kang mati dening ngong, Adosa mring guruningwang, Jeng Sultan Maolana, Ngali Samsujen ta iku, Duk maksih sami nom-noman.

Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen ketika masih muda.


  Sinom

1. Pan iku uwis winejang, Mring guru Pandita Ngali, Rasane kitab Musarar, lya padha lawan mami, Nanging anggelak janji, Cupet lelakoning ratu, lya ing tanah Jawa, Ingsun pan wus den wangeni, Kari loro kaping telune ta ingwang.

Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru pandita Ngali mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, mengenai muncul dan hilangnya raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 2 kali lagi, 3 dengan yang sekarang.

2. Yen wis anitis ping tiga, Nuli ana jaman maning, Liyane panggaweningwang, Apan uwus den wangeni, Mring pandita ing nguni, Tan kena gingsir ing besuk, Apan talinambangan, Dene Maolana Ngali, Jaman catur semune segara asat.

Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi, bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak bisa dirubah lagi. Diberi lambang oleh Maolana Ngali, jaman catur semune segara asat.

3. Mapan iku ing Jenggala, Lawan iya ing Kediri, Ing Singasari Ngurawan, Patang ratu iku maksih, Bubuhan ingsun kaki, Mapan ta durung kaliru, Negarane raharja, Rahayu kang bumi-bumi, Pan wus wenang anggempur kang dora cara.

Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Kalau tidak salah, negaranya akan sejahtera, rahayu di atas bumi. Menghancurkan keburukan.

4. Ing nalika satus warsa, Rusake negara kaki, Kang ratu patang negara, Nuli salin alam malih, Ingsun nora nduweni, Nora kena milu-milu, Pan ingsun wus pinisah, Lan sedulur bapa kaki, Wus ginaib prenahe panggonan ingwang.

Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Keempat raja negara-negara tersebut akan diganti, diluar kekuasaan saya, sebab saya sudah berpisah dengan para sedulur, sudah di alam gaib saya tinggal.

5. Ana sajroning kekarah, Ing tekene guru mami, Kang naina raja Pandita, Sultan Maolana Ngali, Samsujen iku kaki, Kawruhana ta ing mbesuk, Saturun turunira, Nuli ana jaman maning, Anderpati arane Kalawisesa.

Di dalam teken guru raja pandita Sultan Maolana Ngali Samsujen. Ketahuilah oleh anak cucuku bahwa besok akan ada jaman Anderpati yang disebut Kalawisesa.

6. Apan sita linambangan, Sumilir kang naga kentir, Semune liman pepeka, Pejajaran kang negari, Hang tingkahing becik, Nagara kramane suwung, Miwah yudanegara, Nora ana anglabeti, Tanpa adil satus taun nuli sirna.

Dilambangkan Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran, yang perilakunya baik, tidak ada pemberontakan negara, tidak ada peperangan antar negara. Setelah seratus tahun kemudian hilang.

7. Awit perang padha kadang, Dene pametune bumi, Wong cilik pajeke emas, Sawab ingsun den suguhi, Marang si Ajar dhingin, Kunir sarimpang ta ingsun, Nuli asalin jaman, Majapahit kang nagari, lya iku Sang-a Prabu Brawijaya.

Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi rakyat dipajaki emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.

8. Jejuluke Sri Narendra, Peparab Sang Rajapati, Dewanata alam ira, Ingaranan Anderpati, Samana apan nenggih, Lamine sedasa windu, Pametuning nagara, Wedale arupa picis, Sawab ingsun den suguhi mring si Ajar.

Demikian nama raja bergelar Sri Prabu Rajapati Dewanata. Disebutnya Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Nyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.

9. Juwadah satakir iya, Sima galak semu nenggih, Curiga kethul kang lambang, Sirna salin jaman maning, Tanah Gelagahwangi, Pan ing Demak kithanipun, Kono ana agama, Tetep ingkang amurwani, Ajejuluk Diyati Kalawisaya.

Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Disana ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.

10. Swidak gangsal taun sirna, Pan jumeneng Ratu adil, Para wali lan pandhita, Sadaya pan samya asih, Pametune wong cilik, Ingkang katur marang Ratu, Rupa picis lan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Kembang mlathi mring ki Ajar gunung Padang.

Enam puluh lima tahun kemudian hilang. Yang bertahta Ratu Adil, para wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.

11. Kaselak kampuhe bedhah, Kekesahan durung kongsi, Iku lambange dyan sirna, Nuli ana jaman maning, Kalajangga kang nami, Tanah Pajang kuthanipun, Kukume telad Demak, Tan tumurun marang siwi, Tigangdasa enem taun nuli sirna.

Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman lagi, Kalajangga namanya. Namanya negara Pajang, hukumnya seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian hilang.

12. Semune lambang Cangkrama, Putung ingkang watang nenggih, Wong ndesa pajege sandhang, Picis ingsun den suguhi, lya kajar sauwit, Marang si Ajar karuhun, Nuli asalin jaman, Ing Mataram kang nagari, Kalasakti Prabu Anyakrakusumo.

Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa pajaknya pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dulu memberi hidangan sepohon kajar. Kemudian berganti jaman, Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.

13. Kinalulutan ing bala, Kuwat prang ratune sugih, Keringan ing nungsa Jawa, Tur iku dadi gegenti, Ajar lan para wali, Ngulama lan para nujum, Miwah para pandhita, Kagelung dadi sawiji, Ratu dibya ambeg adil paramarta.

Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan para wali, ulama serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.

14. Sudibya apari krama, Alus sabaranging budi, Wong cilik wadale reyal, Sawab ingsun den suguhi, Arupa bawang putih, Mring ki Ajar iku mau, Jejuluke negara, Ratune ingkang miwiti, Surakalpa semune lintang sinipat.

Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.

15. Nuli kembang sempol tanpa, Modin sreban lambang nenggih, Panjenengan kaping papat, Ratune ingkang mekasi, Apan dipun lambangi, Kalpa sru kanaka putung, Satus taun pan sirna, Wit mungsuh sekuthu sami, Nuti ana nakoda dhateng merdagang.

Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat, yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian hilang sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda (pelaut / orang asing) yang datang berdagang.

16. Iya aneng tanah Jawa, Angempek tanah sethithik, Lawas-lawas tumut aprang, Unggul sasolahe nenggih, Kedhep neng tanah Jawi, Wus ngalih jamanireku, Maksih turun Mataram, Jejuluke kang negari, Nyakrawati kadhatone tanah Pajang.

Di tanah Jawa mendapat tanah sejengkal. Lama kelamaan berperang dan selalu menang, sehingga kuat di pulau Jawa. jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negaranya bernama Nyakrawati, menguasai tanah Pajang.

17. Ratu abala bacingah, Keringan ing nuswa Jawi, Kang miwiti dadi raja, Jejuluke Layon Keli, Semu satriya brangti, Iya nuli salin ratu, Jejuluke sang nata, Semune kenya musoni, Nora lawas nuli salin panjenengan.

Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja julukannya Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.

18. Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglingkasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa.

Rajanya dijuluki Lung gadung rara nglikasi (raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka tergoda wanita), kemudian digantikan oleh gajah meta semune tengu lelaki (raja yang disegani / ditakuti, namun hina). Selama enam puluh tahun menerima kutukan, sehingga tenggelam negaranya dan pemerintahan tidak karu-karuan. Imbasnya kepada rakyat kecil.

19. Dhuwit anggris lawan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Rupa getih mung sapitrah, Nuli retu kang nagari, Ilang berkating bumi, Tatane Parentah rusuh, Wong cilik kesrakatan, Tumpa-tumpa kang bilahi, Wus pinesthi nagri tan kena tinambak.

Waktu itu pajaknya rakyat adalah uang anggris dan uwang (dollar dan rupiah). Saya diberi hidangan darah sepitrah (banyak pertumpahan darah). Negara geger, bumi hilang berkahnya, pemerintahan rusuh. Rakyat celaka, bermacam-macam bencana yang menimpa negeri tidak dapat dihindari.

20. Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.

Sedemikian rusaknya negara. Para penguasa tidak menyatu dengan rakyatnya. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka (raja-raja yang saling berangkara murka). Kondisinya dilambangkan Panji loro semune Pajang - Mataram (ada dua pemimpin yang berseteru saling menjatuhkan ingin berkuasa).

21. Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.

Nakhoda (orang asing) ikut berkuasa, yang kaya punya kuasa. Sarjana menghilang semua. Rakyat sengsara. Rumah-rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Perseteteruan dua orang pemimpin itu kemudian selesai, tapi berganti menjadi lambang Rara ngangsu, randa loro nututi pijer tetukar (ratu yang diintai dua saudara perempuannya yang ingin menggantikannya).

22. Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika.

Tidak berkesempatan menghias diri (raja yang tidak sempat mengatur negara), itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti / memahami lambang tersebut.

23. Dene pajege wong ndesa, Akeh warninira sami, Lawan pajeg mundak-mundak, Yen panen datan maregi, Wuwuh suda ing bumi, Wong dursila saya ndarung, Akeh dadi durjana, Wong gedhe atine jail, Mundhak tahun mundhak bilaining praja.

Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Pajaknya naik terus. Panen tidak memuaskan. Hasilnya kurang. Orang asusila dan orang jahat makin bertambah dan makin menjadi-jadi. Orang besar hatinya jahil. Makin hari makin bertambah rusaknya negara.

24. Kukum lan yuda nagara, Pan nora na kang nglabeti, Salin-salin kang parentah, Aretu patraping adil, Kang bener-bener kontit, Kang bandhol-bandhol pan tulus, Kang lurus-lurus rampas, Setan mindha wahyu sami, Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa.

Hukum dan pengadilan negara serasa tidak berguna, tidak ada wibawanya. Hukum / peraturan berganti-ganti. Tidak menerapkan keadilan. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyaru menjadi wahyu (ajaran setan yang menyesatkan dianggap ajaran Tuhan, banyak terjadi penyesatan dalam pandangan beragama). Banyak orang melupakan Tuhan dan mengabaikan orang tua.

25. Ilang kawiranganingdyah, Sawab ingsun den suguhi, Mring ki Ajar Gunung Padang, Arupa endang sawiji, Samana den etangi, Jaman sewu pitung atus, Pitung puluh pan iya, Wiwit prang tan na ngabani, Nuli ana lamate negara rengka.

Banyak wanita hilang kehormatannya dan banyak yang menjadi suguhan. Sebab saya diberi hidangan seorang Endang oleh ki Ajar. Ada perang tanpa aba-aba, tanpa pernyataan perang (serangan bom teroris ?).  Kemudian ada tanda-tanda pecahnya negara (pemerintahan pusat kehilangan kuasanya, banyak muncul daerah otonomi yang berkuasa seolah-olah seperti negara-negara baru yang berdiri sendiri-sendiri).

26. Akeh ingkang gara-gara, Udan salah mangsa prapti, Akeh lindhu lan grahana, Dalajate salin-salirt, Pepati tanpa aji, Anutug ing jaman sewu, Wolung atus ta iya, Tanah Jawa pothar pathir, Ratu Kara Murka Kuthila pan sirna.

Banyak goro-goro (bencana alam). Hujan besar tak kenal musim, bisa datang sewaktu-waktu. Banyak gempa dan gerhana. Kematian dimana-mana. Sampai kira-kira tahun (tahun jawa) 1800. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila hilang.

27. Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung putih, Semune Pudhak kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku, Juluk Ratu Amisan, Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan,

Tapi besok kan akan datang si Tunjung putih, semune Pudhak kasungsang (Raja berhati putih, namun masih tersembunyi). Bumi Mekah tempatnya lahir (lahir dari karsa Tuhan). Dia itulah yang bertahta atas Mekah, berkuasa atas dunia (Iku kang angratoni - Mekah, jagad kabeh ingkang mengku). Dijuluki Ratu Amisan, hilanglah musibah dan bencana di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.

28. Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad.

Raja utusan Tuhan. Berkeraton dua, satu di Mekah, satu lagi di tanah Jawa (mempunyai 2 kerajaan, satu di surga, satunya lagi di bumi di tanah Jawa). Tinggalnya orang itu dekat dengan gunung Perahu, sebelah baratnya tempuran. Dicintai oleh pasukannya. Dia itulah raja yang terkenal sedunia.

29. Kono ana pangapura, Ajeg kukum lawan adil, Wong jilik pajege dinar, Sawab ingsun den suguhi, Iya kembang saruni, Mring ki Ajar iku mau, Ing nalika semana, Mulya jenenging narpati, Tur abagus eseme lir madu puspa.

Waktu itulah ada pengampunan, penegakan hukum dan keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni (lambang keindahan dan kemuliaan) oleh ki Ajar. Orang itu mulia hatinya, bagus parasnya dan senyumnya manis sekali.



----------------



Di dalam ayat-ayat ramalan di atas disebutkan tentang sosok manusia masa depan yang pada masa sekarang populer disebut Sang Satria Piningit.
Berikut kata-katanya itu :

27. Tapi besok kan akan datang si Tunjung putih, semune Pudhak kasungsang (Raja berhati putih, namun masih tersembunyi). Bumi Mekah tempatnya lahir (lahir dari karsa Tuhan). Dia itulah yang bertahta atas Mekah, berkuasa atas dunia (Iku kang angratoni - Mekah, jagad kabeh ingkang mengku). Dijuluki Ratu Amisan, hilanglah musibah dan bencana di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.

28. Raja utusan Tuhan. Berkeraton dua, satu di Mekah, satu lagi di tanah Jawa (mempunyai 2 kerajaan, satu di surga, satunya lagi di bumi di tanah Jawa). Tinggalnya orang itu dekat dengan gunung Perahu, sebelah baratnya tempuran. Dicintai oleh pasukannya. Dia itulah raja yang terkenal sedunia.

29. Waktu itulah ada pengampunan, penegakan hukum dan keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni (lambang keindahan dan kemuliaan) oleh ki Ajar. Orang itu mulia hatinya, bagus parasnya dan senyumnya manis sekali.


Dalam bait ramalan di atas digunakan istilah Mekah.

Pengertian Mekah ini bukanlah fisik Mekah di tanah Arab sana dan bertahta atas Mekah juga bukanlah benar-benar bertahta atas fisik Mekah. Sama sekali tidak berkaitan dengan fisik Mekah-nya Islam.


Pengertian Mekah ini adalah pengertian dalam dunia kepercayaan ketuhanan. Pada masa itu Mekah dikenal sebagai tempat lahirnya agama Islam yang menyembah Tuhan (dan Tuhan dianggap lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada yang disembah di dalam agama-agama masa itu yang dianut manusia di Jawa). Agama itu sudah dikenal dimana-mana dan Mekah menjadi tempat kiblat orang menyembah Tuhan.


Karena itu istilah Mekah dalam bait ramalan di atas tidak menggambarkan fisik Mekah di Arab sana, tetapi menggambarkan maknanya. Ramalan itu mengungkapkan bahwa sosok manusia itu lahir dari kehendak Tuhan (Tuhan mempunyai tujuan sendiri dengan lahirnya orang itu), dan orang itu membawa nama dan kebesaran Tuhan. Mungkin menurut pemikiran kita ungkapan Mekah di atas dan ungkapan "kebesaran" manusia itu terlalu berlebihan, tetapi nyatanya memang itulah istilah yang digunakan oleh si penulis ramalan untuk menggambarkan sesuatu yang "besar" tentang sejatinya manusia itu sesuai bahasa yang dimengerti umum pada jaman itu, yaitu untuk menggambarkan sosok manusia yang lahir dari kehendak Tuhan (Tuhan mempunyai tujuan sendiri dengan lahirnya orang itu)  dan sebagai orang yang menerima kuasa untuk membawa kebesaran Tuhan di dunia.


Hanya saja apakah benar sosok raja ini akan menjadi presiden yang ke tujuh di Indonesia ini ataukah masih ada skenario lain sebelum kemunculannya, itu yang kita masih belum tahu pasti.



----------------



 >> Dewa dan Satria Piningit - 5










Comments