Dewa dan Satria Piningit 3

  Satria Piningit - Jangka Jayabaya

 

Tulisan dalam halaman ini mengambil informasi dari berbagai sumber tulisan di internet, yang telah diedit dan ditambahkan ulasan seperlunya, untuk menjadi bahan penambah wawasan pemahaman kita tentang sosok Satria Piningit yang menjadi tema pembahasan tulisan ini  (ini juga sebagai permohonan ijin kepada pengasuh web tersebut bahwa tulisannya dijadikan bahan tulisan disini) terutama dari :
 - http://id.wikipedia.org/wiki/Ramalan_Jayabaya.

Tujuannya adalah sebagai bahan kajian spiritual, untuk dikaji sisi spiritualnya. Untuk informasi selengkapnya silakan membaca-baca tulisan lain yang terkait di internet.


Ada beberapa tulisan yang menjadi sumber cerita (ramalan) tentang tokoh Satria Piningit ini, yang terkait erat dengan sosok Sabdo Palon dan Naya Genggong sebagai pamomongnya, seperti Kitab Jangka Jayabaya, Kitab Musarar Jayabaya, Kitab Dharmagandul, dan Serat Sabdo Palon Naya Genggong.

Seringkali masing-masing tulisan itu tidak bisa dipastikan mana yang asli dan siapa penulis pertamanya. Kemungkinannya, itu terjadi karena sejak awalnya tulisan-tulisan itu sudah menjadi karya sastra kerajaan yang hanya boleh dibaca oleh kalangan terbatas saja, tertutup untuk umum, yaitu hanya untuk kalangan istana dan keluarga keraton saja, rakyat umum hanya mendengar ceritanya saja, dan tulisan-tulisan itu disimpan dan dipelihara secara turun-temurun sebagai pusaka kerajaan.

Jika terjadi penaklukkan sebuah kerajaan terhadap kerajaan lain biasanya semua karya sastra dan harta benda (termasuk pusaka-pusaka), kalau tidak dimusnahkan, maka akan diboyong ke kerajaan penakluk. Sesudah itu pujangga-pujangga (spiritualis) kerajaan penakluk akan mempelajari dan menggubah / menulis ulang tulisan-tulisan sastra itu untuk disesuaikan dengan bahasa yang berlaku saat itu di tempat kerajaan si penakluk, ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti saat itu (misalnya dari bahasa jawa kuno atau sansekerta ditulis ulang ke bahasa jawa yang lebih umum).

Secara umum para pujangga (sarjana / spiritualis) jaman dulu tidak menyebutkan namanya di dalam karya-karya mereka, karena semua karyanya nantinya akan dipersembahkan untuk menjadi milik / perbendaharaan kerajaan, sehingga pada masa kemudian, jika ditemukan sebuah karya sastra kuno, sulit untuk diketahui nama asli penulisnya. Dengan demikian seringkali nama orang yang dikenal sehubungan dengan sebuah karya sastra biasanya adalah nama rajanya atau nama sang penulis / penggubah terakhir yang menulis ulang karya sastra itu, malah bisa jadi penggubah terakhir itulah yang kemudian dianggap sebagai penulis pertama karya sastra itu. Karena kita tidak mempunyai akses langsung dan juga kemampuan untuk mempelajari karya aslinya, maka kita tidak perlu mempertentangkan siapa pujangga (spiritualis) penulis pertamanya, dan mudah-mudahan "isi" terjemahannya masih sama dengan "isi" karya aslinya dulu.

Bentuk tulisan karya sastra para pujangga tanah jawa jaman dulu seringkali berbentuk puisi atau tembang, tidak berbentuk formal seperti buku sejarah, oleh karenanya tulisannya akan banyak berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang dan seringkali juga ditambahi dengan cerita-cerita kembangan yang seringkali menjadi tampak tidak sejalan dengan jalannya sejarah.

Biasanya karya sastra para pujangga (spiritualis) itu ditulis dengan "olah batin" khusus, sehingga dalam membaca dan mempelajarinya kita juga harus "paham" dan "mengerti" kawruh kejawen, harus dibaca dengan "rasa", karena tidak semuanya dapat dengan sederhana dimengerti dengan nalar dan logika sempit dan pasti tidak akan sama ceritanya dengan karya sastra pujangga (spiritualis) lain, walaupun menceritakan sesuatu yang sama, sehingga dari banyak tulisan tentang sesuatu yang sama, satu tulisan dengan tulisan lainnya tidak akan bisa diperbandingkan untuk tujuan menilai mana yang paling benar, apalagi untuk tujuan diuji kebenarannya dengan membandingkannya dengan jalannya sejarah.

Seringkali karya-karya sastra para spiritualis / pujangga itu bukan hanya untuk menuliskan sesuatu yang penting, tetapi juga untuk
mengungkapkan "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, sehingga mereka menuliskannya secara khusus dengan olah batin khusus dalam bentuk karya sastra dan berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang untuk mengungkapkannya. Karena itu dalam rangka membacanya / mempelajarinya jangan menterjemahkan tulisannya secara harfiah dan jangan "mengecilkan" maknanya. Yang harus dimengerti bukanlah sebatas bentuk formal tulisannya seolah-olah itu adalah sebuah novel fiksi atau buku sejarah, tetapi adalah  "isi",  "maksud"  dan  "tujuan"  dari masing-masing tulisan para pujangga (spiritualis) tersebut. Dan ungkapan-ungkapan mereka atas "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya itu harus kita terima apa adanya, karena itu adalah hasil olah batin mereka, walaupun mungkin tidak sejalan dengan rasa keinginan dan pemahaman kita.



  Jangka Jayabaya


Seorang linuwih dan waskita Sri Aji Jayabaya, yang termasyhur di seantero pulau Jawa, raja besar kerajaan Kediri abad 12 masehi (tahun 1100-an), telah meramalkan sifat, watak, dan karakter atau ciri-ciri seorang ratu adil berwujud seorang ksatria pinilih yang linuwih dan waskita yang secara populer disebut sebagai Satria Piningit, yang kelak setelah tiba masanya akan memimpin Nusantara sebagai Sang Ratu Adil.

Sabdo Palon kelak akan menanggung malu akibat momongannya (yaitu Raja Brawijaya V, abad 15) murtad meninggalkan ajaran leluhur dan berganti haluan memeluk agama baru. Walaupun sebenarnya kesalahan perbuatan momongannya itu bukanlah tanggung jawab sang pemomong, karena itu adalah tanggung jawab orangnya sendiri sesuai kehendak dan perbuatannya sendiri, tapi ia merasa gagal sebagai seorang pamomong.

Tapi Jayabaya juga meramalkan bahwa Sabdo Palon adalah sang pamomong / pengasuh bagi Sang Ratu Adil (Satria Piningit). Namanya akan kembali termasyur karena orang momongannya itu kelak akan muncul untuk membawa kejayaan bagi rakyat di Nusantara.

Ramalan itu menarik perhatian banyak orang, termasuk para waskita, selain karena peramalnya Sang Prabu Jayabaya sendiri sudah terkenal sebagai seorang yang linuwih dan waskita, ramalannya itu sendiri menceritakan tentang seorang tokoh manusia yang ciri-cirinya sangat istimewa dan luar biasa, yang juga linuwih dan waskita. Ramalan itu menjadi sangat menarik dan terkenal karena beliau tidak meramal tentang seorang tokoh manusia yang linuwih dan waskita yang hidup di jaman dulu, yang masih hidup di jaman kesaktian, justru ramalan itu menceritakan tentang seorang tokoh manusia yang hidup beratus-ratus tahun kemudian sejak ramalan itu ditulis, yang hidup di jaman yang sudah modern, yang bukan lagi jamannya kesaktian, tetapi tokoh itu dikatakan luar biasa linuwih dan waskita, tidak ada tandingannya termasuk jika dibandingkan dengan orang-orang sakti dan waskita yang dulu hidup di jaman kesaktian.

Isi Ramalan

  1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Besok kalau sudah ada kereta tanpa kuda (mobil ? ).
  2. Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi (pulau Jawa dikelilingi rel kereta api ? ).
  3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berlayar di udara (pesawat terbang ? ).
  4. Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata airnya.
  5. Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara ramainya (mall dan transaksi online ? ).
  6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah tanda jaman ramalan Jayabaya sudah dekat.
  7. Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin sempit.
  8. Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dipajaki.
  9. Jaran doyan mangan sambel --- Kuda doyan makan sambal (supir ? ).
  10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan memakai pakaian lelaki.
  11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan menemui jaman yang isinya serba terbalik.
  12. Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.
  13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  14. Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang senang menyalahi orang lain.
  15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tidak mengindahkan hukum Tuhan.
  16. Barang jahat diangkat-angkat--- hal-hal jahat dijunjung-junjung.
  17. Barang suci dibenci--- hal-hal baik (justru) dibenci / dijauhi.
  18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang dan kekayaan.
  19. Lali kamanungsan--- Lupa nilai-nilai kemanusiaan.
  20. Lali kabecikan--- Lupa nilai-nilai kebaikan.
  21. Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
  22. Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
  23. Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
  24. Nantang bapa--- Menantang bapaknya.
  25. Sedulur padha cidra--- Sesama saudara saling khianat.
  26. Kulawarga padha curiga--- Sesama keluarga saling bertikai.
  27. Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi musuh.
  28. Akeh manungsa lali asale --- Banyak manusia lupa asal-usulnya.
  29. Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman raja / penguasa tidak adil
  30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat yang jahat dan perbuatannya tidak benar
  31. Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak kelakuan yang tidak benar
  32. Wong apik-apik padha kapencil --- Orang baik-baik pada terkucil.
  33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Orang bekerja baik-baik malah malu.
  34. Luwih utama ngapusi --- Lebih bangga menipu (curang/manipulasi/menggelapkan).
  35. Wegah nyambut gawe --- tidak mau kerja keras.
  36. Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.
  37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- mengumbar nafsu jahat, menambah-nambah perbuatan jahat.
  38. Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.
  39. Wong salah bungah --- Orang (yang) salah bangga / pongah.
  40. Wong apik ditampik-tampik --- Orang (yang) baik ditolak-tolak (disepelekan).
  41. Wong jahat munggah pangkat --- Orang (yang) jahat naik pangkat.
  42. Wong agung kasinggung --- Orang (yang) mulia disalahi
  43. Wong ala kapuja --- Orang (yang) kelakuannya buruk dipuji-puji.
  44. Wong wadon ilang kawirangane --- perempuan hilang rasa kehormatannya.
  45. Wong lanang ilang kaprawirane --- Laki-laki hilang rasa kelelakiannya.
  46. Akeh wong lanang ora duwe bojo --- Banyak laki-laki tidak beristri.
  47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone --- Banyak perempuan tidak setia kepada suami.
  48. Akeh ibu padha ngedol anake --- Banyak ibu menjual anaknya.
  49. Akeh wong wadon ngedol awake --- Banyak perempuan menjual dirinya.
  50. Akeh wong ijol bebojo --- Banyak orang tukaran pasangan.
  51. Wong wadon nunggang jaran --- Perempuan menunggang kuda.
  52. Wong lanang linggih plangki --- Laki-laki naik tandu.
  53. Randha seuang loro --- Dua janda harganya seuang.
  54. Prawan seaga lima --- Perawan seharga lima picis.
  55. Dhudha pincang laku sembilan uang --- Duda pincang laku sembilan uang.
  56. Akeh wong ngedol ngelmu --- Banyak orang jualan ilmu.
  57. Akeh wong ngaku-aku --- Banyak orang mengaku-ngaku.
  58. Njabane putih njerone dhadhu --- Luarnya putih dalamnya jingga.
  59. Ngakune suci, nanging sucine palsu --- sok alim, tapi palsu belaka.
  60. Akeh bujuk akeh lojo --- Banyak tipu banyak muslihat.
  61. Akeh udan salah mangsa --- Banyak hujan salah musim.
  62. Akeh prawan tuwa --- Banyak perawan tua.
  63. Akeh randha nglairake anak --- Banyak janda melahirkan anak.
  64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne --- Banyak anak lahir tidak jelas siapa bapaknya.
  65. Agama akeh sing nantang --- Agama banyak yang bersifat menantang.
  66. Prikamanungsan saya ilang --- Perikemanusiaan semakin hilang.
  67. Omah suci dibenci --- Rumah suci dijauhi.
  68. Omah ala saya dipuja --- Rumah maksiat makin digemari.
  69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi --- Perempuan melacur dimana-mana.
  70. Akeh laknat --- Banyak laknat
  71. Akeh pengkianat --- Banyak pengkhianat.
  72. Anak mangan bapak --- Anak memakan bapak.
  73. Sedulur mangan sedulur --- Saudara makan saudara.
  74. Kanca dadi mungsuh --- Teman menjadi musuh.
  75. Guru disatru --- Guru dimusuhi.
  76. Tangga padha curiga ---Tetangga saling berseteru.
  77. Kana-kene saya angkara murka --- Dimana-mana banyak kejahatan.
  78. Sing weruh kebubuhan --- Yang tahu merasa kebebanan.
  79. Sing ora weruh ketutuh --- Yang tidak tahu malah dituduh.
  80. Besuk yen ana peperangan --- Besok jika ada peperangan.
  81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor --- Datangnya dari timur, barat, selatan, dan utara.
  82. Akeh wong becik saya sengsara --- Banyak orang baik makin sengsara.
  83. Wong jahat saya seneng --- yang jahat makin senang.
  84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul --- saat itu burung gagak dibilang bangau.
  85. Wong salah dianggep bener --- Orang salah dianggap benar.
  86. Pengkhianat nikmat --- Pengkhianat senang.
  87. Durjana saya sempurna --- Durjana semakin meraja.
  88. Wong jahat munggah pangkat --- Orang jahat naik pangkat.
  89. Wong lugu kebelenggu --- Orang (yang) lugu terbelenggu.
  90. Wong mulya dikunjara --- Orang (yang) mulia dipenjara.
  91. Sing curang garang --- Yang curang berkuasa.
  92. Sing jujur kojur --- Yang jujur terpuruk sengsara.
  93. Pedagang akeh sing keplarang --- Pedagang banyak yang terpuruk.
  94. Wong main akeh sing ndadi --- Penjudi makin menjadi.
  95. Akeh barang haram --- Banyak barang haram.
  96. Akeh anak haram --- Banyak anak haram.
  97. Wong wadon nglamar wong lanang --- Perempuan mengejar laki-laki.
  98. Wong lanang ngisorake drajate dhewe --- Laki-laki merendahkan / memperhina derajat sendiri.
  99. Akeh barang-barang mlebu luang --- Banyak barang dibuang-buang.
  100. Akeh wong kaliren lan wuda --- Banyak orang lapar dan telanjang.
  101. Wong tuku ngglenik sing dodol --- Pembeli merayu si penjual.
  102. Sing dodol akal okol --- Si penjual tidak jujur / menipu
  103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri --- Mencari rizki ibarat menampi gabah.
  104. Sing kebat kliwat --- Yang cepat dapat.
  105. Sing telat sambat --- Yang terlambat hanya bisa mengeluh.
  106. Sing gedhe kesasar --- Yang besar salah jalan.
  107. Sing cilik kepleset --- Yang kecil tergelincir.
  108. Sing anggak ketenggak --- Yang congkak makin pongah.
  109. Sing wedi mati --- Yang tak berani berbuat malah mati.
  110. Sing nekat mbrekat --- Yang nekat beruntung.
  111. Sing jerih ketindhih --- Yang hatinya kecil makin tertekan
  112. Sing ngawur makmur --- Yang ngawur makmur
  113. Sing ngati-ati ngrintih --- Yang berhati-hati merintih.
  114. Sing ngedan keduman --- Yang main gila dapat hasil.
  115. Sing waras nggragas --- Yang waras berpikirnya semakin rakus / serakah.
  116. Wong tani ditaleni --- Orang (yang) bertani dibelenggu.
  117. Wong dora ura-ura --- Orang (yang) curang berhura-hura.
  118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane --- Raja ingkar janji, hilang perbawanya.
  119. Bupati dadi rakyat --- Penguasa hilang kuasanya.
  120. Wong cilik dadi priyayi --- Rakyat bawah sok kuasa.
  121. Sing mendele dadi gedhe --- Yang curang jadi besar.
  122. Sing jujur kojur --- Yang jujur celaka.
  123. Akeh omah ing ndhuwur jaran --- Banyak rumah di atas kuda (banyak rumah yang di bawahnya ada mobil-mobil - apartemen / kondominium ?).
  124. Wong mangan wong --- Orang memakan sesamanya.
  125. Anak lali bapak --- Anak lupa bapa.
  126. Wong tuwa lali tuwane --- Orang tua lupa ketuaan mereka (tak tahu malu).
  127. Pedagang adol barang saya laris --- Jualan pedagang semakin laris.
  128. Bandhane saya ludhes --- Namun kekayaan mereka makin habis.
  129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe panganan --- Banyak orang mati kelaparan di samping makanan.
  130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara --- Banyak orang berharta tapi hidupnya sengsara.
  131. Sing edan bisa dandan --- Yang gila bisa bersolek.
  132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong --- Yang tidak jujur bisa membangun rumah gedong.
  133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil --- Yang sadar dan adil hidup merana dan tersisih.
  134. Ana peperangan ing njero --- ada pergolakan di dalam
  135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham --- Terjadi karena para pembesar banyak yang salah faham.
  136. Durjana saya ngambra-ambra --- Orang jahat semakin ada dimana-mana.
  137. Penjahat saya tambah --- Penjahat makin banyak.
  138. Wong apik saya sengsara --- Orang baik makin sengsara.
  139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan --- Banyak orang mati karena perang.
  140. Kebingungan lan kobongan --- Kebingungan dan kebakaran.
  141. Wong bener saya thenger-thenger --- Si benar makin tertegun.
  142. Wong salah saya bungah-bungah --- Si salah makin pongah.
  143. Akeh bandha musna ora karuan lungane --- Banyak harta hilang entah ke mana
  144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe --- Banyak orang mulia dan terhormat menghilang tak jelas kenapa.
  145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram --- Banyak barang haram, banyak anak haram.
  146. Bejane sing lali, bejane sing eling --- Beruntungnya yang lupa aturan, beruntungnya yang tetap sadar.
  147. Nanging sauntung-untunge sing lali --- Tapi seberuntung-beruntungnya yang lupa aturan
  148. Isih untung sing waspada --- Masih lebih beruntung yang tetap waspada.
  149. Angkara murka saya ndadi --- Angkara murka semakin menjadi.
  150. Kana-kene saya bingung --- Orang disana-sini makin bingung.
  151. Pedagang akeh alangane --- Pedagang banyak rintangannya.
  152. Akeh buruh nantang juragan --- Banyak pekerja menentang pemilik usaha.
  153. Juragan dadi umpan --- Pemilik usaha dijadikan umpan.
  154. Sing suwarane seru oleh pengaruh --- Yang bersuara keras mendapat pengaruh.
  155. Wong pinter diingar-ingar --- Orang terpelajar dijelek-jelekkan
  156. Wong ala diuja --- Si jahat dielu-elukan.
  157. Wong ngerti mangan ati --- Orang (yang) mengerti makan hati.
  158. Bandha dadi memala --- Harta benda menjadi berhala
  159. Pangkat dadi pemikat --- Pangkat menjadi pemikat.
  160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang
  161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah --- Yang mengalah merasa serba salah.
  162. Ana Bupati saka wong sing asor imane --- Ada penguasa berasal dari orang yang rendah pekertinya.
  163. Patihe kepala judhi --- Menterinya dalang kejahatan.
  164. Wong sing atine suci dibenci --- Yang berhati suci dimusuhi.
  165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat --- Yang jahat dan pandai menjilat makin naik derajatnya.
  166. Pemerasan saya ndadra --- Pemerasan semakin merajalela.
  167. Maling lungguh wetenge mblenduk --- Maling berpangkat perutnya gendut makmur.
  168. Pitik angrem saduwure pikulan --- Ayam mengeram di atas pikulan (bawahan kelakuannya kurang ajar kepada atasan).
  169. Maling wani nantang sing duwe omah --- Maling berani menantang si pemilik rumah.
  170. Begal pada ndhugal --- Penyamun semakin kurang ajar.
  171. Rampok padha keplok-keplok --- Perampok pada tepuk tangan.
  172. Wong momong mitenah sing diemong --- Si pengasuh memfitnah yang diasuh
  173. Wong jaga nyolong sing dijaga --- Si penjaga mencuri yang dijaga.
  174. Wong njamin njaluk dijamin --- Si penjamin minta dijamin.
  175. Akeh wong mendem donga --- Banyak orang mabuk doa.
  176. Kana-kene rebutan unggul --- Di mana-mana berebut menang.
  177. Angkara murka ngombro-ombro --- Angkara murka menjadi-jadi.
  178. Agama ditantang --- Agama ditantang.
  179. Akeh wong angkara murka --- Banyak orang angkara murka.
  180. Nggedhekake duraka --- Membesar-besarkan durhaka.
  181. Ukum agama dilanggar --- Hukum agama dilanggar.
  182. Prikamanungsan di-iles-iles --- Perikemanusiaan diinjak-injak.
  183. Kasusilan ditinggal --- Tata susila diabaikan.
  184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi --- Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
  185. Wong cilik akeh sing kepencil --- Rakyat kecil banyak yang terkucil.
  186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil --- Karena menjadi korban si jahat yang jahil.
  187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit --- Lalu ada Raja punya pengaruh dan punya prajurit.
  188. Lan duwe prajurit --- Dan punya prajurit.
  189. Negarane ambane saprawolon --- Lebar negerinya seperdelapan dunia.
  190. Tukang mangan suap saya ndadra --- Yang suka menerima suap semakin merajalela.
  191. Wong jahat ditampa --- Orang jahat diterima.
  192. Wong suci dibenci --- Orang suci dijauhi.
  193. Timah dianggep perak --- Timah dianggap perak (yang jelek dianggap baik)
  194. Emas diarani tembaga --- Emas dibilang tembaga (yang baik dibilang jelek)
  195. Dandang dikandakake kuntul --- Gagak dikatakannya bangau.
  196. Wong dosa sentosa --- Orang berdosa sentosa.
  197. Wong cilik disalahake --- Rakyat jelata disalahi.
  198. Wong nganggur kesungkur --- Si penganggur tersungkur.
  199. Wong sregep krungkep --- Si tekun terjerembab.
  200. Wong nyengit kesengit --- Orang busuk hati dibenci.
  201. Buruh mangluh --- Pekerja rendah menangis.
  202. Wong sugih krasa wedi --- Orang kaya merasa ketakutan.
  203. Wong wedi dadi priyayi --- Orang penakut jadi petinggi (pejabat boneka).
  204. Senenge wong jahat --- Bahagianya si jahat.
  205. Susahe wong cilik --- Susahnya rakyat kecil.
  206. Akeh wong dakwa dinakwa --- Banyak orang menuntut malah dituntut.
  207. Tindake manungsa saya kuciwa --- Ulah manusia semakin tercela.
  208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi --- Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
  209. Wong Jawa kari separo --- Orang Jawa tinggal setengah.
  210. Landa-Cina kari sejodho --- Bule-Cina tinggal sepasang.
  211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil --- Banyak orang kikir, banyak orang pelit.
  212. Sing eman ora keduman --- Yang mau berhemat tidak keberkahan rejeki
  213. Sing keduman ora eman --- Yang keberkahan malah menghambur-hamburkan
  214. Akeh wong mbambung --- Banyak orang berulah dungu.
  215. Akeh wong limbung --- Banyak orang limbung.
  216. Selet-selete mbesuk wolak-waliking zaman teka --- paling lambat besok jaman serba terbalik itu datang.


Bait Terakhir Ramalan Jayabaya

140.
polahe wong Jawa kaya gabah den interi
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemahi pati

tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi (sedikit yang benar)
mana yang benar mana yang sejati
para sesepuh / tua-tua pada tidak berani
pada takut menyampaikan ajaran budi luhur
bisa-bisa malah menemui mati

141.
banjir bandhang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gethinge kepati-pati marang pandhita kang olah pati geni
marga wedi kawiyak wadine sapa sira kang sayekti

banjir bandang dimana-mana
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak memberi tanda
sangat benci kepada pandita yang tekun berprihatin (pandita sungguhan)
karena takut bakal terbongkar rahasia siapa dirinya sebenarnya

142.
pancen wolak-waliking jaman
amenangi jaman edan
nora edan ora kumanan
sing waras padha nggragas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
begja-begjane sing lali,
isih begja kang eling lan waspada

sungguh jaman yang isinya serba terbalik
mengalami jaman edan
tidak ikut gila tidak kebagian
yang waras pada makin rakus serakah
orang tani dibelenggu
orang jahat pada hura-hura
seberuntung-beruntungnya yang lupa,
masih beruntung yang sadar dan waspada

143.
ratu ora netepi janji
musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu

penguasa tidak menepati janji
hilang kuasa dan wibawanya
banyak rumah di atas kuda (banyak rumah yang di bawahnya ada mobil-mobil - apartemen / kondominium ?).
orang memakan sesamanya
kayu gelondongan dan besi juga dimakan
dirasa enak seperti kue bolu
kalau malam pada tak bisa tidur

144.
sing edan padha bisa dandan
sing ambangkang padha bisa anggalang omah gedhong magrong-magrong

yang gila pada bisa berdandan
yang kelakuannya menyimpang pada bisa membangun rumah gedong mewah dan megah

145.
wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludhes
akeh wong mati kaliren ing sisihe panganan
akeh wong nyekel bandha ning uriping sangsara

orang berdagang barang makin laris, tapi hartanya makin habis
banyak orang mati kelaparan di samping makanan
banyak orang berharta namun hidupnya sengsara

146.
wong waras lan adil uripe ngenes lan kapencil
sing ora bisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener thenger-thenger
wong salah bungah
akeh bandha musna tan karuwan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuwan sababe

orang sadar dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil
yang tidak mau mencuri dimusuhi 
yang pintar curang jadi teman
orang jujur semakin tak berkutik
orang salah makin pongah
banyak harta hilang tak jelas perginya
banyak orang mulia dan terhormat menghilang tak jelas sebabnya

147.
bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret
sakilan bumi dipajeki
wong wadon nganggo panganggo lanang
iku pertandhane yen bakal nemoni wolak-waliking jaman

bumi semakin lama semakin sempit
sejengkal tanah dipajaki
perempuan memakai pakaian laki-laki
itu pertanda bakal menemui jaman yang isinya serba terbalik

148.
akeh wong janji padha cidra,
akeh wong nglanggar sumpahe dhewe,
manungsa padha seneng ngalap,
tan anindakake kukuhing Allah,
barang jahat diangkat-angkat,
barang suci dibenci.

banyak orang berjanji diingkari
banyak orang melanggar sumpahnya sendiri
manusia senang ngalap berkah (menghalalkan cara)
tidak melaksanakan hukum Allah
perbuatan jahat dipuja-puja
perbuatan baik dimusuhi

149.
akeh wong ngutamakake royal,
lali kamanungsane, lali kebecikane,
lali sanak lali kadang,
akeh bapa lali anak,
akeh anak nundhung biyung,
sedulur padha cidra,
kulawarga padha curiga,
kanca dadi mungsuh,
manungsa lali asale

banyak orang mengutamakan kesenangan
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan
lupa sanak lupa saudara
banyak bapak lupa anak
banyak anak mengusir ibu
antar saudara saling menjelekkan
antar keluarga saling bertikai
teman menjadi musuh
manusia lupa asal-usul dirinya

150.
ukuman ratu ora adil
akeh pangkat jahat jahil
kalakuwan padha ganjil
sing apik padha kepencil
akarya apik manungsa isin
luwih utama ngapusi

hukuman penguasa tidak adil
banyak orang berpangkat yang jahat 
perbuatannya pada tidak benar
yang baik pada terkucil
bekerja yang baik orang malah malu
lebih suka menipu (curang / manipulasi / menggelapkan)

151.
wanita nglamar pria
isih bayi padha mbayi
sing pria padha ngisorake drajate dhewe

perempuan mengejar laki-laki
masih anak sudah ber-anak
yang laki-laki pada memperhina derajat dirnya sendiri


Bait 152 sampai dengan 156 tidak ada (hilang dan rusak)

157.
wong golek pangan pindha gabah den interi
sing kebat kliwat, sing kasep kepleset
sing gedhe rame, gawe sing cilik keceklik
sing anggak ketenggak, sing wedi padha mati
nanging sing ngawur padha makmur
sing ngati-ati padha sambat kepati-pati

tingkah laku orang mencari makan seperti menampi gabah (susah cari kerjaan)
yang cepat dapat, yang terlambat kecele
yang besar beramai-ramai membuat yang kecil tercekik
yang angkuh makin pongah, yang tidak berani jahat malah pada mati
tapi yang ngawur malah pada makmur
yang berhati-hati pada mengeluh setengah mati

158.
cina alang-alang keplantrang dibandhem nggendring
melu Jawa sing padha eling
sing tan eling miling-miling
mlayu-mlayu kaya maling kena tuding
eling mulih padha manjing
akeh wong ijir, akeh wong cethil
sing eman ora keduman
sing keduman ora eman

cina berlindung ketakutan karena dilempari lari terbirit-birit
yang sadar pada ikut njawa 
yang tidak sadar was-was
lari-lari seperti pencuri yang diteriaki
ingat pulang pada kembali ke asalnya
banyak orang kikir, banyak orang pelit
yang mau berhemat tidak keberkahan rejeki
yang keberkahan malah menghambur-hamburkan

159.
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
bakal ana dewa angejawantah, apengawak manungsa
apasurya pindha bathara Kresna,
awewatak Baladewa
agegaman trisula wedha
jinejer wolak-waliking jaman
wong nyilih mbalekake, wong utang nyaur
utang nyawa nyaur nyawa, utang wirang nyaur wirang

selambat-lambatnya besok menjelang tutupnya tahun
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
(artinya ada Dewa turun / tampil ke bumi menjadi raja,
angka tahunnya ada yang mengartikan
: sinungkalan dewa wolu = 8, ngasta = 2, manggalaning = 9, ratu = 1, artinya tahun jawa saka 1928)
akan ada dewa mewujud manusia
penampakannya seperti Batara Kresna (tampan, berwibawa, berkarisma, bijaksana, waskita)
wataknya seperti Baladewa (keras / tegas)
bersenjatakan trisula wedha
menyingkirkan jaman yang serba terbalik
orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar hutangnya
hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu bayar malu

160.
sadurunge ana tetenger lintang kemukus dawa
ngalu-ngalu tumanja anang kidul wetan bener
lawase pitung bengi,
parak esuk bener ilange, bathara surya jumendhul
bebarengan kang wus mungkur prihatine manungsa kelantur-lantur
iku tandane putra Bathara Indra wus katon
tumeka ing arcapada ambebantu manungsa Jawa

sebelumnya ada kelihatan bintang berekor panjang
jelas kelihatan di arah Selatan Timur
lamanya tujuh malam
hilangnya menjelang pagi bersama munculnya matahari
berbarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larut
itulah tandanya putra Batara Indra sudah nampak
hadir di bumi untuk membantu manusia Jawa

161.
dunungane anang sikil redi Lawu sisih wetan
wetane bengawan banyu
adhedukuh pindha Raden Gathotkaca
arupa pagupon dara tundha tiga
kaya manungsa angleledha

asalnya (asal leluhurnya) dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur
sebelah timurnya bengawan
berumah seperti Raden Gatotkaca
seperti rumah merpati susun tiga
seperti manusia yang menggoda
(suka santai di atas rumah seperti menggoda orang yang lewat)

162.
akeh wong dicakot lemut mati, akeh wong dicakot semut sirna
akeh swara aneh tanpa rupa,
bala prewangan mahluk alus padha baris, pada rebut benere garis, tan kasat mata, tan arupa
kang madhegani putrane Bathara Indra, agegaman trisula wedha
momongane padha dadi nayakaning perang
perange tanpa bala
sakti mandraguna tanpa aji-aji

banyak orang digigit nyamuk, mati, banyak orang digigit semut, mati
banyak suara aneh tanpa rupa (banyak kejadian gaib)
pasukan makhluk halus pada berbaris, pada berebut masuk ke barisan, tak kelihatan mata, tak ada rupa
yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha
para asuhannya pada jadi perwira perang
berperangnya tanpa pasukan (yang kelihatan mata)
sakti mandraguna tanpa aji-aji kesaktian 

163.
apeparap pangeraning prang
tan pakra anggoning nyandhang
ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sak pirang-pirang
sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang

bergelar pangeran perang
tidak mementingkan penampilan (tidak memperlihatkan kebesarannya)
namun bisa menjembatani keruwetan banyak macam orang
yang pada menyembah arca terlentang (yang mengagung-agungkan komputer ? )
cina ingat suhu-suhunya dan perintahnya, lalu terkaget-kaget ketakutan
(orang-orang ingat wejangan tua-tua dulu, lalu sadar dan was-was)

164.
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bathara mukti, hiya Kresna, hiya Herumukti
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
angerahake jim setan
kumara prewangan, para lelembut kabawah parentah saeka praya
kinen abebantu manungsa Jawa padha asesanti trisula wedha
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur
kadherekake Sabdopalon lan Nayagenggong

putra terkasih Tuhan yang bertahta di tempat yang tinggi
yang disebut Batara Mukti, ya Kresna, ya Herumukti (yang disebut Yang Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Besar)
menguasai segala macam laku
mematahkan tanah Jawa dua kali (mematahkan kekuasaan di bumi (dan Jawa) dua kali)
mengerahkan jin dan setan
semua mahluk halus bersatu padu masuk ke bawah perintahnya
untuk membantu manusia Jawa supaya pada memuliakan trisula weda
tajamnya tritunggal suci
benar, lurus, jujur
didampingi Sabdopalon dan Nayagenggong

165.
pendhak Sura nguntapake kumara
kang wus katon tinebus dosane
kaadhepake ing ngarsaning sang Kuwasa
isih timur kaceluk wong tuwa
paringane Gathotkaca sayuta

sudah lebih dulu mengantarkan sanak saudara
yang sudah ditebus dosanya
diantarkan ke dalam kemuliaan Yang Maha Kuasa
masih muda tapi ternyata sepuh
bekalnya : Gatotkaca sejuta (tiada tanding)
(satu gatotkaca saja sudah sulit ditandingi, apalagi sejuta)

166.
idune idu geni
sabdane malati
sing mbregendhul mesthi mati
ora tuwa, enom padha dene bayi
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada
garis sabda ora gantalan dina,
begja-begjane sing yakin lan tuhu setya sabdanira
tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa
nanging inung pilih-pilih sapa

ludahnya ludah api  (kata-katanya jadi)
sabdanya mematikan  (sabdanya membawa kematian / tulah bagi yang membangkang)
yang coba-coba menentang pasti mati
baik tua, muda maupun bayi
orang yang lemah dan tidak berdaya minta apa saja pasti dipenuhi
sabdanya tidak mengenal hari  (diucapkan langsung terjadi)
beruntunglah orang yang percaya dan setia mentaati sabdanya
tidak mau disujuti orang se-tanah Jawa  (tidak mau menerima pengabdian sembarang orang)
tetapi lihat-lihat dulu siapa orangnya

167.
waskita pindha dewa
bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira
pindha lahir bareng sadina
ora bisa diapusi marga bisa maca ati
wasis, wegig, waskita,
ngerti sadurunge winarah
bisa pirsa mbah-mbahira
angawuningani jantraning jaman Jawa
ngerti garise siji-sijining umat
Tan kewran sasuruping jaman

waskita seperti dewa
bisa tahu seluk-beluk kakek, buyut dan canggah anda
seolah-olah lahir dan hidup di waktu yang sama
tidak bisa dibohongi karena dapat membaca hati
tajam berpikirnya, pintar, cerdik, waskita
mengerti sebelum sesuatu terjadi
bisa tahu satu per satu leluhur anda
mengerti putaran jaman
mengetahui garis hidup setiap manusia
tak khawatir tertelan jaman
(mengetahui garis hidup setiap manusia, termasuk yang sudah lalu ditelan jaman)

168.
mula den upadinen sinatriya iku
wus tan abapa, tan bibi, lola
wus aputus wedha Jawa, mung angandelake trisula
landheping trisula pucuk, agawe pati utawa utang nyawa
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan
sing pinggir-pinggir tolak colong jupuk winanda

oleh sebab itu carilah satria itu
sudah tidak ber-bapak, tidak berbibi
sudah lulus wedha Jawa (budi luhur dan ketuhanan), hanya dengan mengandalkan trisula wedha
tajamnya trisulanya, membawa maut atau utang nyawa
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain
yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan
(ia sendiri tidak akan membiarkan terjadi di hadapannya perbuatan merugikan orang lain, dan para pendamping di kiri-kanannya tidak akan membiarkan pencurian, kecurangan dan segala macam perbuatan jahat)

169.
sirik den wenehi ati malati bisa kesiku
senenge anggodha anjejaluk cara nistha
ngertiya yen iku coba
aja kaina
ana beja-bejane sing den pundhuti, ateges jantrane kaemong sira sebrayat

pantang diberi hati yang dingin, bisa kena kutuk (jangan sampai menyepelekannya, bisa ketulah)
senangnya menggoda pura-pura meminta (menggoda / bercanda pura-pura meminta)
ketahuilah bahwa ia hanya menggoda / bercanda 
jangan salah sangka  (apalagi sampai menghina / mengejek)
ada keberuntungan bagi yang pemberiannya ia terima, sekeluarga akan diberkahi
(walaupun hanya
menggoda / bercanda pura-pura meminta, jika anda memberi, anda sekeluarga akan diberkahi)

170.
ing ngarsa Begawan
dudu pandhita sinebut pandhita
dudu dewa sinebut dewa
kaya dene manungsa
dudu seje daya kajawakake kanthi jlentreh
gawang-gawang terang ndrandhang

pembawaannya seperti begawan
bukan pandita disebut pandita

bukan dewa disebut dewa
penampilannya seperti manusia biasa saja
tapi tidak sama dengan manusia biasa, karena mampu menerangkan dengan sejelas-jelasnya
yang semula masih rahasia diterangkannya menjadi jelas sejelas-jelasnya
(
walaupun penampilannya kelihatannya sama seperti manusia biasa saja, tetapi ia seperti begawan yang tahu banyak hal dan mampu menerangkan segala sesuatu yang masih rahasia menjadi terbuka dan jelas sejelas-jelasnya, seperti pandita karena ia mampu menerangkan segala sesuatu keilmuan dan tentang ketuhanan, dan waskita seperti dewa karena mengetahui segala sesuatu rahasia).

171.
aja gumun, aja ngungun
hiya iku putrane Bathara Indra
kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan
tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh
hiya siji iki kang bisa paring pituduh, marang jarwane jangka kalaningsun
tan kena den apusi, marga bisa manjing jroning ati
ana manungso kaiden ketemu, uga ana jalma sing durung mangsane
aja sirik aja gela, iku dudu wektunira
nganggo simbol ratu tanpa makutha
mula sing menangi enggala den leluri
aja kongsi jaman kendhata madhepa den marikelu
beja-bejane anak putu

jangan heran, jangan bingung
ya itulah putranya Batara Indra
yang sulung dan berkuasa menundukkan setan
yang sudah menerima diturunkannya kesaktian
ya hanya dia itu yang bisa memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya
yang tidak bisa dibohongi karena bisa masuk menyelami hati
ada manusia yang bisa bertemu, tapi ada juga yang belum waktunya bertemu
jangan kesal jangan kecewa, itu bukan waktunya anda
ia berlambang raja tanpa mahkota
(raja yang tidak memperlihatkan
status kebesaran yang kelihatan mata, sehingga tidak banyak orang yang menyadari kebesarannya sebagai raja)
karena itu yang mengalami berjumpa menghormatlah,
jangan sampai kesempatannya habis, menghadaplah dan mengikutlah
Beruntungnya anak cucuku (yang bisa bertemu)

172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada, ing jaman kalabendu Jawa
aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa, cures ludhes saka braja jalma kumara
aja-aja kleru pandhita samusana, larinen pandhita asanjata trisula wedha
iku hiya pinaringaning dewa

ini adalah petunjuk untuk yang sadar dan waspada terhadap jaman kalabendu Jawa
jangan melarang menghormati si manusia dewa, karena akan musnah sirna seluruh keluarga
jangan sampai salah mengenali pandita
carilah pandita bersenjatakan trisula wedha
ya itulah pemberian dari Yang Maha Kuasa

173.
nglurug tanpa bala, yen menang tan ngisorake liyan
para kawula padha suka-suka, marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula angagem trisula wedha
para pandhita hiya padha muja
hiya iku momongane kaki Sabdopalon, kang wus adus wirang nanging kondhang
genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngresula kurang
hiya iku tandhane kalabendu wis minger, ganti wektu jejering kalamukti
andayani indering jagad raya, padha asung bhekti

berperang tanpa pasukan, kalau menang tidak merendahkan lawan
rakyat bergembira karena keadilan Tuhan telah tiba
sang raja memuliakan rakyatnya yang memuliakan trisula wedha
para pandita juga pada memujanya
ya itulah asuhannya si Aki Sabdopalon yang dulu sudah menanggung malu tetapi akhirnya termasyhur
semuanya jelas terang benderang, tidak ada yang mengeluh kekurangan
ya itulah tanda jaman kalabendu telah menyingkir, berganti jaman penuh kemakmuran dan kemuliaan
ia mampu memperbaiki tatanan dunia, semua orang hormat dan menjunjung tinggi





----------------





Putra Batara Indra merupakan sebutan untuk salah satu anggota Pandawa Lima, yaitu Arjuna. 


Dalam Mahabharata (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas) diceritakan bahwa Raja Hastinapura yang bernama Pandu tidak bisa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang resi. Kunti, istri pertamanya menerima anugerah dari Resi Durwasa, dimampukan untuk memanggil Dewa-Dewa sesuai keinginannya dan dapat juga memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut, kemudian memanggil Dewa Yama (Yamadipati), Dewa Bayu, dan Dewa Indra, yang kemudian memberi mereka tiga putra. Arjuna merupakan putra ketiga, lahir dari Dewa Indra.


Arjuna memiliki pribadi yang mulia, berjiwa ksatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, wataknya halus tetapi gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan "Dananjaya". Musuh sekuat apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan "Parantapa", yang berarti penakluk musuh. 


Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan ksatria pertapa yang paling teguh. Tapanya sangat khusyuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Maka dari itu Sri Kresna sangat kagum padanya, karenanya ia merupakan kawan yang sangat dicintai Kresna sekaligus pemuja Tuhan yang sangat tulus.


Dalam bahasa Sansekerta, secara harfiah kata Arjuna berarti "bersinar terang", "putih" , "bersih".

Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti "putih bersih di wajah, di dalam hati dan pikiran".

Karena menonjolnya sifat-sifat pribadinya yang baik menyebabkan para Dewa mengasihinya, sehingga para Dewa berkenan memberikan apa saja, termasuk ilmu-ilmu kesaktian dan pusaka-pusaka Dewa kepadanya, sehingga ia sering disebut sebagai "kekasih para Dewa".


Arjuna juga yang mendapatkan wejangan "pencerahan" tentang rahasia kehidupan dari Prabu Kresna, yang merupakan titisan Dewa Wisnu, yang disebut ajaran Bhagawadgita atau "Nyanyian Dewata", yaitu wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum perang Bharatayudha berlangsung, karena saat itu Arjuna mengalami kebimbangan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang ksatria di medan perang.


Istilah Putra Batara Indra digunakan sebagai ungkapan bahwa sosok Satria Piningit itu adalah manusia yang baik watak dan perilakunya, sosok manusia yang telah menerima berbagai kekuatan dan kesaktian, ksatria pembela kebenaran dan keadilan, seorang manusia yang "Tercerahkan", dan menjadi kekasih Dewa (Tuhan). 


Dalam tulisan ramalan di atas juga disebutkan tentang trisula wedha.

Trisula Wedha adalah kesatuan tiga pokok kekuatan Tuhan yang diimani oleh Sang Satria sesuai keimanannya. Sang Satria berpegang dan hanya mengandalkan / bersenjatakan kesatuan tiga pokok kekuatan Tuhan itu sesuai keimanannya, sehingga tanpa ngelmu dan aji-aji kesaktian, ia menerima kuasa sehingga berkuasa atas dunia (manusia dan mahluk halus). Dan sesuai keimanannya itu ia juga akan memuliakan siapapun yang memegang dan berpegang pada trisula wedha itu.



Banyak kalangan termasuk paranormal meyakini ramalan Jayabaya bahwa kehadiran Putra Batara Indra itu di Indonesia mendekati kenyataan, dan sebagian kalangan percaya bahwa dalam beberapa tahun ke depan atau bahkan dalam beberapa bulan lagi, Putra Batara Indra itu akan muncul di Indonesia.


Sang Satria Piningit, Sang Ratu Adil, bersama Sabdo Palon dan Naya Genggong pamomongnya, jika kelak ramalan Jayabaya itu terbukti kebenarannya, akan membawa kegemilangan pada kehidupan rakyat di Nusantara, menjadi terang-benderang, adil-makmur, aman, dan tenteram. Pada masa itu rakyat tidak merasakan lagi kesusahan hidup, segala kebutuhan serba cukup, tak ada kekurangan sandang, pangan, dan papan. Hukum dan keadilan ditegakkan. Itu menjadi tanda bahwa Jaman Kalabendu telah menyingkir, yaitu jaman kesengsaraan dan penderitaan, berganti menjadi jaman kejayaan dan kemakmuran.


hiya iku momongane kaki Sabdopalon, kang wus adus wirang nanging kondhang
genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngresula kurang
hiya iku tandhane kalabendu wis minger, ganti wektu jejering kalamukti
andayani indering jagad raya, padha asung bhekti

ya itulah asuhannya si Aki Sabdopalon yang dulu sudah menanggung malu tetapi akhirnya termasyhur
semuanya jelas terang benderang, tidak ada yang mengeluh kekurangan
ya itulah tanda jaman kalabendu telah menyingkir, berganti jaman penuh kemakmuran dan kemuliaan
mampu memperbaiki tatanan dunia, semua orang hormat dan menjunjung tinggi





-------------------














Comments