Dewa dan Satria Piningit 2

  Serat Sabdo Palon Naya Genggong

   Ramalan Sabdo Palon 2

 

Tulisan dalam halaman ini mengambil informasi dari berbagai sumber tulisan di internet, yang telah diedit dan ditambahkan ulasan seperlunya, untuk menjadi bahan penambah wawasan pemahaman kita tentang sosok Satria Piningit yang menjadi tema pembahasan tulisan ini  (ini juga sebagai permohonan ijin kepada pengasuh web tersebut bahwa tulisannya dijadikan bahan tulisan disini) antara lain adalah :
 - http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/darmagandhul-jawa/
 - http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/dharmo-ghandul.html
 - http://buntoroku.blogspot.com/2012/02/misteri-sabdopalon-noyogengngong-i.html
 - http://buntoroku.blogspot.com/2012/02/misteri-sabdo-palon-ii.html

Tujuannya adalah sebagai bahan kajian spiritual, untuk dikaji sisi spiritualnya. Untuk informasi selengkapnya silakan membaca-baca tulisan lain yang terkait di internet.


Ada beberapa tulisan yang menjadi sumber cerita (ramalan) tentang tokoh Satria Piningit ini, yang terkait erat dengan sosok Sabdo Palon dan Naya Genggong sebagai pamomongnya, seperti Kitab Jangka Jayabaya, Kitab Musarar Jayabaya, Kitab Dharmagandul, dan Serat Sabdo Palon Naya Genggong.

Seringkali masing-masing tulisan itu tidak bisa dipastikan mana yang asli dan siapa penulis pertamanya. Kemungkinannya, itu terjadi karena sejak awalnya tulisan-tulisan itu sudah menjadi karya sastra kerajaan yang hanya boleh dibaca oleh kalangan terbatas saja, tertutup untuk umum, yaitu hanya untuk kalangan istana dan keluarga keraton saja, rakyat umum hanya mendengar ceritanya saja, dan tulisan-tulisan itu disimpan dan dipelihara secara turun-temurun sebagai pusaka kerajaan.

Jika terjadi penaklukkan sebuah kerajaan terhadap kerajaan lain biasanya semua karya sastra dan harta benda (termasuk pusaka-pusaka), kalau tidak dimusnahkan, maka akan diboyong ke kerajaan penakluk. Sesudah itu pujangga-pujangga (spiritualis) kerajaan penakluk akan mempelajari dan menggubah / menulis ulang tulisan-tulisan sastra itu untuk disesuaikan dengan bahasa yang berlaku saat itu di tempat kerajaan si penakluk, ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti saat itu (misalnya dari bahasa jawa kuno atau sansekerta ditulis ulang ke bahasa jawa yang lebih umum).

Secara umum para pujangga (sarjana / spiritualis) jaman dulu tidak menyebutkan namanya di dalam karya-karya mereka, karena semua karyanya nantinya akan dipersembahkan untuk menjadi milik / perbendaharaan kerajaan, sehingga pada masa kemudian, jika ditemukan sebuah karya sastra kuno, sulit untuk diketahui nama asli penulisnya. Dengan demikian seringkali nama orang yang dikenal sehubungan dengan sebuah karya sastra biasanya adalah nama rajanya atau nama sang penulis / penggubah terakhir yang menulis ulang karya sastra itu, malah bisa jadi penggubah terakhir itulah yang kemudian dianggap sebagai penulis pertama karya sastra itu. Karena kita tidak mempunyai akses langsung dan juga kemampuan untuk mempelajari karya aslinya, maka kita tidak perlu mempertentangkan siapa pujangga (spiritualis) penulis pertamanya, dan mudah-mudahan "isi" terjemahannya masih sama dengan "isi" karya aslinya dulu.

Bentuk tulisan karya sastra para pujangga tanah jawa jaman dulu seringkali berbentuk puisi atau tembang, tidak berbentuk formal seperti buku sejarah, oleh karenanya tulisannya akan banyak berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang dan seringkali juga ditambahi dengan cerita-cerita kembangan yang seringkali menjadi tampak tidak sejalan dengan jalannya sejarah.

Biasanya karya sastra para pujangga (spiritualis) itu ditulis dengan "olah batin" khusus, sehingga dalam membaca dan mempelajarinya kita juga harus "paham" dan "mengerti" kawruh kejawen, harus dibaca dengan "rasa", karena tidak semuanya dapat dengan sederhana dimengerti dengan nalar dan logika sempit dan pasti tidak akan sama ceritanya dengan karya sastra pujangga (spiritualis) lain, walaupun menceritakan sesuatu yang sama, sehingga dari banyak tulisan tentang sesuatu yang sama, satu tulisan dengan tulisan lainnya tidak akan bisa diperbandingkan untuk tujuan menilai mana yang paling benar, apalagi untuk tujuan diuji kebenarannya dengan membandingkannya dengan jalannya sejarah.

Seringkali karya-karya sastra para spiritualis / pujangga itu bukan hanya untuk menuliskan sesuatu yang penting, tetapi juga untuk mengungkapkan "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, sehingga mereka menuliskannya secara khusus dengan olah batin khusus dalam bentuk karya sastra dan berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang untuk mengungkapkannya. Karena itu dalam rangka membacanya / mempelajarinya jangan menterjemahkan tulisannya secara harfiah dan jangan "mengecilkan" maknanya. Yang harus dimengerti bukanlah sebatas bentuk formal tulisannya seolah-olah itu adalah sebuah novel fiksi atau buku sejarah, tetapi adalah  "isi",  "maksud"  dan  "tujuan"  dari masing-masing tulisan para pujangga (spiritualis) tersebut. Dan ungkapan-ungkapan mereka atas "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya itu harus kita terima apa adanya, karena itu adalah hasil olah batin mereka, walaupun mungkin tidak sejalan dengan rasa keinginan dan pemahaman kita.

Di dalam tulisan sebelumnya, yaitu Serat Dharmagandul, telah dikisahkan mengenai Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya. Tulisan yang lain, yaitu Serat Sabdo Palon Naya Genggong, juga menceritakan tentang Sabdo Palon. Sabda (ramalan) Sabdo Palon sesaat sebelum berpisah dengan Prabu Brawijaya diungkapkan sbb :


  Serat Sabdo Palon Naya Genggong

   (Pupuh Sinom)

1. Pada sira ngelingana, carita ing nguni-nguni, kang kocap ing serat babad, babad nagri Mojopahit
Nalika duking nguni, Sang-a Brawijaya Prabu pan Samya pepanggihan kaliyan Njeng Sunan Kali
Sabda Palon Naya Genggong rencangira

Ingatlah pada kisah lama yang ditulis dalam buku babad tentang Negara Majapahit.
Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga.
Sabda Palon Naya Genggong men
dampinginya.

2. Sang – a Prabu Brawijaya, sabdanira arum manis, nuntun dhateng punakawan,
Sabda palon paran karsi, Jenengsun sapuniki wus ngrasuk agama Rasul
Heh ta kakang manira meluwa agama suci, luwih becik iki agama kang mulya


Prabu Brawijaya berkata halus kepada punakawannya
Sabda Palon yang aku hormati. Sekarang saya sudah masuk Islam.
Lebih baik ikutlah masuk Islam sekalian. Ini agama yang mulia.


3. Sabda Palon matur sugal,
Yen kawula boten arsi ngrasuka agama Islam
, Wit kula puniki yekti Ratuning Dang Hyang Jawi
momong marang anak putu, sagung kang para Nata, kang jumeneng Tanah Jawi
Wus pinasthi sayekti kula pisahan

Sabda Palon menjawab kasar,
Hamba tidak mau masuk Islam, sebab saya ini sebenar-benarnya adalah rajanya dhanyang tanah Jawa
yang memomong anak cucu, orang-orang yang bertahta, yang menjadi raja tanah Jawa.
Sudah digariskan sekarang saya harus pisahan.


4. Kelawan Paduka sang Nata, wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing mbenjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos agami, Gama Budha kula sebar tanah Jawa.

Berpisah dari Paduka, kembali ke alam saya. Namun mohon diingat-ingat, sepeninggal saya, bila sudah tiba waktunya, dalam waktu 500 tahun dari hari ini, agama akan saya ganti, agama Budha akan saya sebar di tanah Jawa.

5. Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi,
Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur,
Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.


Siapa saja yang tidak mau menerimanya, pasti akan saya hancurkan. Saya jadikan makanan anak buah saya, segala macam setan dan dedemit. Belum puas hati saya kalau mereka belum hancur lebur.
Saya akan membuat tanda, tanda terjadinya ucapan saya ini. B
ila Gunung Merapi sudah meletus dan mengalirkan laharnya ....

6. Ngidul ngilen purugina, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar Agama Budi,
Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu,
Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.

Mengalirnya ke arah selatan-barat. Baunya busuk. Itulah tanda kembalinya saya, sudah menyebarkan agama budi. Janji saya, Merapi akan menggegerkan dunia.
Itu sudah kehendak Yang Kuasa, segalanya harus berganti, tidak dapat dirubah lagi.

7. Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji,
Upami nyabrang kali, Prapta tengah-tengahipun, Kaline bajir bandhang, Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Kelak waktunya paling sengsara yang hidup di tanah jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesti Aji.
Ibarat menyeberang sungai, sudah ditengah-tengah, tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya air menenggelamkan manusia, sehingga banyak
manusia yang mati.

8. Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi,
Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun,
Sadaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya.


Bencana yang datang merata setanah Jawa, sudah kehendak Yang Kuasa, tidak mungkin dihindari.
Sebab dunia ini ada di dalam kekuasaanNya.
Semua kejadian itu adalah kehendakNya, bukti bahwa sebenarnya di dunia ini ada yang berkuasa.

(Sabdo Palon menunjukkan bahwa ia mengetahui garis suratan alam dan mengenal Sang Penguasa Alam).

9. Warna-warna kang bebaya, Angrusaken Tanah Jawa,
Sagung tiyang nyambut karya, Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti, Sudagar tuna sadarum, Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi, Pametune akeh serna aneng wana,


Bermacam-macam musibah, merusak kehidupan tanah Jawa.
Orang bekerja hasilnya tidak mencukupi.
Para tokoh masyarakat bersusah hati. Saudagar tidak untung. Rakyat miskin tidak membaik kesejahteraannya. Orang bertani tidak mencukupi. Hasilnya hilang entah kemana.


10. Bumi ilang berkatira, Ama kathah kang ndhatengi, Kayu kathah ingkang ilang, Cinolong dening sujanmi,
Pan risaknya nglangkungi, Karana rebut rinebut, Risak tataning janma,
Yen dalu grimis keh maling, Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.


Bumi tidak berkah lagi. Banyak hama yang datang. Hutan pun banyak yang hilang dijarah orang.
Rusak semuanya, karena manusia saling berebut. Benar-benar rusak moral manusia.
Kalau malam hujan banyak maling, siang hari banyak rampok.

11. Heru hara sakeh janma, Rebutan ngupaya, Tan ngetang angering praja, Tan tahan perihing ati,
Katungka praptaneki,
Pageblug ingkang linangkung, Lelara ngambra-ambra. Waradin saktanah Jawi,
Enjing sakit sorenya sampun pralaya.


Kerusuhan banyak manusia, berebutan usaha, tak peduli hukum, tidak tahan sengsara,
ditambah lagi, datangnya musibah pagebluk yang menyerang. Orang sakit dimana-mana, merata setanah Jawa. Pagi sakit sorenya mati.

12. Kasandung wohing pralaya, Kaselak banjir ngemasi, Udan barat salah mangsa, Angin gung anggegirisi,
Kayu gung brasta sami, Tinempuhing angina angun, Katah rebah amblasah,
Lepen-lepen samya banjir, Lamun tinon pan kados samodra bena.


Bencana kematian menimpa, ditambah lagi dengan banjir, hujan badai tak kenal waktu, angin badai mengerikan. Pohon-pohon besar bertumbangan, disapu angin yang besar, banyak yang roboh ke tanah,
Sungai-sungai pada meluap, kalau dilihat sudah sama seperti lautan pasang.

13. Alun minggah ing daratan, karya rusak tepis wiring,
Kang dumunung kering kanan, kajeng akeh ingkang keli,
Kang tumuwuh apinggir, samya kentir trusing laut,
Sela geng sami brasta, kabalebeg katut keli, gumalundhung gumludhug suwaranira.


Air laut meluap ke daratan, membuat rusak batas daratan,
Yang tinggal di kiri kanannya banyak yang hanyut,
Yang tinggal di pinggirnya, hanyut terseret ke laut,
Bebatuan besar berantakan, ikut hanyut tersapu air, bergelundungan gemuruh suaranya.

14. Hardi agung-agung samya, Huru-hara nggeririsi, Gumleger suwaranira,
Lahar wutah kanan kering, Ambleber angelelebi, Nrajang wana lan desagung,
Manungsanya keh brasta, Kebo sapi samya gusis, Surna gempang tan wenten mangga puliha.


Gunung-gunung besar ribut menakutkan, menggelegar suaranya,
Lahar muntah kemana-mana, luber menenggelamkan, menerjang hutan dan kota.
Banyak manusia mati, hewan ternak binasa. Habis musnah tak bisa kembali.

15. Lindu ping pitu sedina, Karya sisahing sujanmi, Sitinipun samya nela,
Brekasakan kang ngelesi,
Anyeret sagung janmi,
Manungsa pating galuruh, Kathah kang nandhang roga, Warna-warni ingkang sakit,
Awis waras akeh kang prapteng pralaya,

Gempa bumi 7 kali sehari, membuat manusia ketakutan. Tanahpun membuka menganga.
Mahluk halus yang "bekerja", banyak manusia menjadi
korban
Orang-orang mengaduh di sana-sini, banyak yang menanggung sakit, bermacam-macam sakitnya.
Sedikit yang selamat, banyak yang kemudian mati.


16. Sabda Palon nulya mukswa, Sakedhap boten kaeksi, Wangsul ing jaman limunan,
Langkung ngungun Sri Bupati, Njegreg tan bisa angling,
Ing manah langkung gegetun, Keduwung lepatira,
Mupus karsaning Dewadi,
Kodrat itu sayekti tan kena owah.

Sabdo Palon kemudian moksa, menghilang dalam sekejap mata, kembali ke alam gaib
Sang Prabu tertegun, berdiri tertegun terpaku
Dalam hati merasa menyesal, sadar telah berbuat salah
Sudah kehendak Yang Kuasa
Takdir itu tak bisa dirubah.



----------------------




Dalam Serat Sabdo Palon Naya Genggong di atas Sabdo Palon menegaskan bahwa ia akan datang lagi ke tanah Jawa untuk menyadarkan manusia Jawa kepada ajaran agama yang benar, datang bersama dengan manusia asuhannya yang kita menyebutnya sebagai Satria Piningit. Kedatangannya adalah setelah terjadinya goro-goro, setelah terjadinya banyak bencana alam yang membinasakan banyak manusia.


Tanda kedatangannya adalah bila Gunung Merapi sudah meletus dan mengalirkan laharnya ke arah selatan-barat. Baunya busuk. Itulah tanda kedatangannya dan tanda ia sudah menyebarkan agama budi (dan tanda itu sudah terjadi).


Dalam serat Dharmagandul, Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Orang Jawa yang mengerti budaya Jawa pastilah memahami siapa Semar. Secara singkat, Semar dipercaya merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertakwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara moralitas dan budi pekerti manusia pada umumnya.

Semar dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir, atau salah dalam perbuatan, apalagi bila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebagai pemomong, Semar tidak pernah mengucapkan “perintah untuk melakukan”, tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukannya”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada si manusianya sendiri. Semar sendiri memiliki banyak nama, di antaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dll.





-----------------









Comments