Sukma / Arwah di Alam Roh  




  Secara umum ada 3 fenomena lepasnya roh manusia dari raganya, yaitu :

  1. Roh manusia yang lepas dari raganya dengan sendirinya.
  2. Roh manusia yang lepas dari raganya sesudah ‘dijemput’ oleh roh halus lain, atau
  3. Roh manusia yang 'dijemput' oleh roh halus lain sesudah rohnya lepas dari raganya.


  Juga ada 3 fenomena kehidupan roh manusia setelah kematiannya, yaitu :

  1. Roh manusia yang tinggal di dunia mahluk halus.
  2. Roh manusia yang tinggal di dunia manusia.
  3. Roh manusia yang bisa keluar-masuk alam mahluk halus dan alam manusia.



   Dimensi Kehidupan Di Alam Gaib


S
ecara kegaiban ada 2 penggolongan besar alam gaib / dunia roh, yaitu 

  1. Dunia halus di alam kehidupan manusia.
  2. Dunia halus di alam kehidupan mahluk halus.


Secara umum kondisi dan suasana kehidupan di alam roh mirip dengan di dunia manusia. Ada tanah lapang luas berumput. Ada gunung, bukit, hutan, dsb. Ada juga komunitas gaib yang hidup di perkampungan, kota dan kerajaan gaib beserta bangunan-bangunan gaibnya. Secara umum
kehidupan komunitas gaib yang ada di alam roh mirip dengan kehidupan manusia pada jaman kerajaan dulu. Ada yang bekerja di sawah / kebun, ada yang sibuk berjual-beli di pasar, ada juga yang sibuk dengan kehidupan di dalam kerajaan. Hanya saja suasana di alam gaib tampak kelabu, tidak ada sinar matahari, suasananya mirip seperti senja hari menjelang malam. Secara umum kondisinya sunyi, tidak panas dan bising seperti di dunia manusia.

Dengan demikian hitungan waktu di alam roh tidak sama dengan hitungan waktu di dunia manusia. Ukuran waktu di dunia manusia diukur dengan satuan hari matahari, tetapi di alam roh tidak ada sinar matahari. Pergantian waktu di alam roh tidak memakai hitungan yang sama seperti siang dan malam di dunia manusia, tetapi berdasarkan naluri dan jam biologis mahluk halusnya, tetapi naluri dan jam biologis masing-masing mahluk halus tidak sama, tergantung masing-masing mahluk halusnya dan jenisnya.

Selain itu juga ada perbedaan sifat kehidupan di dunia manusia yang didominasi oleh sesuatu yang bersifat biologis dan materi yang terbatas umurnya (pendek) dengan kehidupan di alam roh yang bersifat roh dan energi yang sifatnya tidak terbatas umurnya (panjang).

Di alam roh sendiri ada perbedaan panjangnya waktu pada masing-masing dunia gaib karena adanya perbedaan dimensi kehidupan gaib yang dipengaruhi oleh "frekwensi" energi dan kekuatan gaib masing-masing jenis mahluk halusnya. Jika kita masuk ke dunia kuntilanak, panjangnya waktu di dunia kuntilanak akan berbeda dengan panjangnya waktu di dunia bangsa jin, dewa, buto, dsb. 

Dan walaupun dari jenis mahluk halus yang sama, misalnya bangsa jin, panjangnya waktu di dunia bangsa jin juga tidak semuanya sama, tergantung komunitasnya masing-masing. Panjangnya waktu di dalam komunitas atau kerajaan bangsa jin yang kekuatan gaibnya rendah biasanya lebih pendek daripada panjangnya waktu di dalam komunitas bangsa jin yang kekuatan gaibnya tinggi. 1 hari di dunia bangsa jin yang kekuatannya tinggi mungkin sama dengan 30 hari atau bahkan tahunan di dunia bangsa jin yang kekuatannya lebih rendah.

Kondisi alam gaib benar-benar tidak sama dengan kondisi di dunia manusia. Jika kita benar merogoh sukma, berkunjung ke istana Ibu Kanjeng Ratu Kidul di selatan pantai Parang Tritis, 1 jam di depan gerbangnya atau di dalam istananya sama dengan 12 jam di dunia manusia. Setelah bertemu dan berbincang-bincang dengan Ibu Ratu Kidul, 1 jam disana sama dengan 30 hari di dunia manusia. Biasanya kita diizinkan bertemu dengan beliau hanya 1 - 5 menit saja, kemudian kita diminta kembali pulang. Ibu Ratu Kidul sendiri yang membatasi waktunya untuk keselamatan kita supaya kita tidak berlama-lama berada di alam gaib, karena 5 menit saja bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau sama dengan 2 - 3 hari di dunia manusia. 5 menit saja kita merogoh sukma bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau sama dengan roh kita meninggalkan tubuh kita selama 2 - 3 hari.

Ada banyak sekali jenis mahluk halus dan kehidupannya, tetapi secara umum untuk mahluk halus yang sehari-harinya hidup di lingkungan kehidupan manusia, sehari-harinya berada di dunia manusia dan yang berinteraksi dengan manusia sebagai khodam jimat dan pusaka dan khodam pendamping, panjangnya 1 hari di dunia mereka sama dengan 35 hari manusia (1 bulan kalender jawa), sehingga kalau kita ingin memberikan sesaji sebaiknya juga 35 hari sekali (untuk mudahnya diberikan sekali setiap bulannya).


Masing-masing komunitas mahluk halus mempunyai "frekwensi" energi sendiri-sendiri yang dominan dipengaruhi oleh kekuatan gaib mayoritas mahluk halus di dalamnya. Jika ada sesosok mahluk halus yang bisa masuk dan diterima untuk tinggal di dalam suatu komunitas / kerajaan gaib yang kekuatan gaibnya lebih tinggi, biasanya "frekwensi" energinya juga akan berubah beradaptasi mengikuti frekwensi energi di tempat itu (kekuatan gaibnya tetap sama, tetapi frekwensi energinya berubah). 

Dengan demikian ada banyak dimensi kehidupan mahluk halus di alam roh yang masing-masing dimensi itu tergantung pada kekuatan gaib dan frekwensi energi gaib mayoritas mahluk halus di dalam masing-masing komunitasnya, sehingga kebanyakan komunitas mahluk halus berisi sosok-sosok halus yang sejenis yang kekuatannya setingkat, yang kekuatannya tidak berbeda jauh dan karakter perwatakannya juga sejenis. 

Mahluk halus yang kekuatannya lebih tinggi biasanya dapat melihat mahluk halus lain yang kekuatannya lebih rendah. Tetapi biasanya sesosok mahluk halus tidak dapat "melihat" mahluk halus lain yang kekuatan gaibnya jauh di atasnya karena adanya perbedaan "frekwensi" energi yang berbeda jauh, tetapi biasanya mereka masih bisa merasakan keberadaan energi dari kekuatan yang lebih tinggi itu. Mahluk halus dari jenis bangsa dewa memiliki frekwensi energi yang tinggi dan pancaran energinya halus sekali, sehingga bukan hanya manusia, bahkan banyak mahluk halus yang tidak bisa melihatnya dan tidak merasakan kehadirannya walaupun ada dewa yang sedang hadir di dekat mereka.

Begitu juga dengan manusia, walaupun bisa melihat gaib, kebanyakan sosok-sosok halus yang mampu dilihatnya hanyalah yang kelasnya rendah saja, yang kekuatan gaibnya rendah, yang "frekwensi" energinya rendah, biasanya tidak lebih dari 1 KRK, sedangkan yang kekuatan gaibnya tinggi dan yang "frekwensi" energinya tinggi biasanya tidak akan terlihat olehnya, seringkali keberadaan energinya saja tidak terdeteksi. Walaupun sesosok mahluk halus berkekuatan tinggi, berenergi besar dan juga memancarkan energi yang besar, karena frekwensi energinya yang tinggi biasanya pancaran energi mereka itu juga halus sekali hampir tak terasakan, sehingga keberadaan mereka juga tidak terdeteksi oleh manusia.

Masing-masing mahluk halus, termasuk manusia, memiliki cakupan wilayah energi tertentu yang bisa dilihatnya. Dengan cara melihat gaib mata ketiga, biasanya yang mampu dilihat oleh manusia hanyalah sosok-sosok halus yang frekwensinya rendah dan yang kekuatannya rendah saja. Tetapi jika seseorang bisa mengedepankan kepekaan rasa batinnya, mungkin ia akan bisa mendeteksi keberadaan mahluk halus dengan cakupan frekwensi yang luas, bukan hanya yang berfrekwensi rendah, mungkin juga bisa mendeteksi yang frekwensi energinya tinggi. Sesudah bisa mendeteksi keberadaan energinya barulah kemudian dipertegas lagi sosok wujudnya dengan kemampuan melihat gaib.

Frekwensi energi itu bisa diibaratkan sama dengan frekwensi channel siaran radio / televisi, yang kita harus menghidupkan dulu radionya dan memindahkan saluran frekwensinya jika kita ingin berpindah channel siaran. Begitu juga kalau kita ingin melihat mahluk halus, kita harus lebih dulu mengkondisikan batin kita pada frekwensi energi mahluk halusnya, dan kalau ingin bisa melihat yang dimensinya lebih tinggi, kita harus menambah kepekaan batin kita untuk bisa menangkap energi yang frekwensinya lebih tinggi.

Tetapi jika kondisi kita melihat gaib bekerja sendiri diluar kontrol kita, yang penglihatan gaibnya muncul sendiri tanpa kita harus lebih dulu mengkondisikan batin kita untuk melihat gaib, dan sering terjadi bahkan di saat-saat kita sedang tidak ingin melihat gaib, maka itu bisa menjadi petunjuk bagi kita bahwa mungkin saja diri kita berkhodam atau jangan-jangan di dalam badan / kepala kita ada bersemayam sesosok mahluk halus yang sering memberikan kita gambaran gaib, yang mungkin saja gambaran gaibnya itu fiktif, hanya ilusi / halusinasi saja, bukan sosok gaib dan kejadian gaib yang sesungguhnya ada / terjadi. Baca juga : Terawangan / Melihat Gaib.

Apalagi bila kita merasa sering melihat Dewa atau merasa mudah dan sering melihat dewa-dewa atau mahluk halus tinggi lainnya seperti malaikat. Itu adalah petunjuk bahwa kemungkinan besar diri kita ketempatan mahluk halus (atau diri kita berkhodam). Kemungkinan besar itu adalah gambaran gaib fiktif dari mahluk halus yang bersama kita, karena sesungguhnya bukan hanya manusia saja, bahkan mahluk halus dan khodam pun banyak yang tidak mampu melihat dewa dan mahluk halus berdimensi tinggi lainnya, kecuali mereka sengaja menunjukkan dirinya untuk dilihat / dideteksi.

Dengan demikian ada banyak tingkatan dimensi kehidupan di alam gaib, dari yang dimensinya rendah yang mudah dilihat sampai yang dimensinya tinggi (halus) yang lebih sulit dilihat / dideteksi. Gaib-gaib yang kekuatannya rendah lebih mudah dilihat daripada yang kekuatannya tinggi. Selain yang hidup sendiri, juga ada komunitas mahluk gaib. Yang isi mahluk gaibnya kekuatannya rendah lebih mudah dilihat daripada yang kekuatannya tinggi. Begitu juga yang bentuknya kerajaan gaib. Yang isi mahluk gaibnya kekuatannya rendah lebih mudah dilihat daripada yang kekuatannya tinggi. Kahyangan, tempat tinggal para dewa, dimensinya tinggi. Hanya mahluk-mahluk halus yang kekuatannya tinggi saja yang bisa melihatnya, hanya orang-orang yang tajam dan peka sekali batinnya saja yang bisa melihatnya. Dan karena keterbatasan spiritualitasnya sukma arwah manusia yang spiritualitasnya rendah bila sudah terlanjur masuk dan tinggal di dalam suatu kerajaan gaib biasanya tidak bisa menemukan jalan keluar untuk pulang.


Dengan energinya para mahluk halus dapat menggunakannya untuk membentuk bangunan-bangunan gaib dan benda-benda atau perabotan yang mirip dengan kehidupan di dunia manusia, ditambah dengan pancaran pikiran mereka (kontak batin dan halusinasi) yang mengsugesti para penghuninya untuk merasakan suasana gaib yang ada sebagai kehidupan nyata. Hanya saja walaupun banyak di antara mereka yang sudah lama diagamakan, tetapi tidak ada di antara mereka yang membangun rumah ibadah untuk menjadi tempat mereka beribadah. Untuk beribadahnya mereka menggunakan rumah ibadah milik manusia, sebagian lagi tidak beribadah, walaupun beragama.

Secara alami benda-benda alam dan benda-benda milik manusia, bangunan gedung, rumah, jembatan, pohon, goa, batu-batu, sumur, sungai, danau, laut, bukit, gunung, hutan, memberikan suatu suasana alam atau mengandung aura energi tertentu. Para mahluk halus akan memilih benda dan tempat-tempat yang suasana alam dan aura energinya dirasa cocok dengan energi mereka untuk tempat tinggal mereka, sehingga keberadaan mereka akan menambah kuat suasana alam dan energi dari tempat dan benda yang mereka huni.

Secara umum para mahluk halus hidup di alam roh dan merasakan suasana kehidupan di alam roh. Dalam keadaan di alam roh itu mereka tidak melihat dunia manusia, tetapi masih bisa merasakan kebisingan dunia manusia. Jadi, sekalipun di dunia manusia ada banyak bangunan dan kendaraan yang sibuk berlalu-lalang, mereka tidak melihatnya. Atau sekalipun posisi rumah / bangunan yang mereka tinggali persis berada di tempat berdirinya bangunan rumah, gedung kantor atau pasar milik manusia, mereka tidak melihatnya. Jadi kalau ada manusia melihat salah satu dari mereka berjalan menembus tembok, sebenarnya mereka tidak melihat tembok itu, karena di dunia mereka tembok itu tidak ada. Tetapi mereka masih bisa merasakan kebisingan di dunia manusia yang seringkali menyebabkan mereka merasa terganggu yang itu sering menjadi masalah bagi manusia.

Bagi mahluk halus yang sudah tinggal di alam halus, untuk bisa melihat dunia manusia atau untuk masuk ke dunia manusia, mereka harus menyesuaikan "frekwensi" penglihatan dan energi mereka. Dan itu bisa melelahkan mereka, terutama bagi kalangan mahluk halus yang kekuatannya rendah (di bawah 1 KRK). Karena itu mereka membutuhkan "pemberian" energi dari sesaji atau dari sumber energi lain (yang juga akan dianggap sebagai bentuk perhatian manusia kepada mereka). Ada juga yang menempel di badan manusia untuk menyerap energinya.

Karena perpindahan frekwensi energi itu melelahkan mereka, maka biasanya mahluk halus (termasuk sukma / arwah) yang kekuatannya rendah, kalau sudah berada di alam roh, mereka akan terus berada di alam roh, tidak berpindah masuk ke dunia manusia. Dan kalau sudah berada di dunia manusia, mereka akan terus berada di dunia manusia, tidak berpindah masuk ke alam roh.

Begitu juga dengan manusia yang masih hidup. Dalam kehidupan sehari-harinya manusia hanya melihat dan merasakan suasana kehidupan di dunia manusia saja, tidak melihat kehidupan di alam roh / gaib. Sekalipun di rumahnya ada bangunan gaib dan rumahnya dihuni mahluk halus, kebanyakan manusia tidak melihat dan tidak menyadarinya. 

Begitu juga bila manusia "masuk" ke dalam frekwensi gaib. Dalam kondisi itu mereka bisa melihat mahluk halus, tetapi mereka tidak melihat meja, lemari, atau rumah manusia, karena di alam gaib, meja, lemari dan rumah manusia itu tidak ada.

Untuk melihat alam gaib atau untuk berinteraksi dengan mereka manusia harus menyesuaikan frekwensi energi penglihatan gaibnya yang itu bisa melelahkan pikiran orangnya. Secara umum frekwensi energi dari kebatinan dan spiritual sudah sesuai dengan frekwensi mahluk halus dan alam gaib, karena itu adalah frekwensi dari energi roh / sukma manusia, dan dengan mudah dapat diselaraskan dengan frekwensi mahluk halus dari yang kelas bawah sampai yang kelas atas. Tetapi dengan menggunakan energi tenaga dalam (yang bersifat biologis tubuh manusia) untuk berinteraksi dengan mahluk halus, maka tenaga dalam itu harus disesuaikan dulu frekwensinya supaya sesuai dengan frekwensi energi mahluk halus (baca tips untuk tenaga dalam murni dalam tulisan : Kanuragan & Tenaga Dalam).

Tetapi penyesuaian frekwensi itu tidak menjadi masalah bagi kalangan mahluk halus yang berkekuatan tinggi. Mereka bisa memperhatikan kehidupan di dunia mereka sekaligus kehidupan di dunia manusia dan bisa kapan saja berinteraksi (kontak rasa dan batin) dengan mahluk halus lain atau dengan manusia, walaupun jaraknya jauh dan berbeda dunia.




   Sukma / Arwah Di Alam Roh


Biasanya
orang mendapatkan rasa / firasat atau tanda ketika hari kematiannya sudah dekat (sukma tahu kapan raganya akan mati), tetapi kebanyakan orang tidak dapat menterjemahkannya, sehingga tidak tahu akan hari kematiannya. Itu juga yang terjadi pada orang-orang yang menganggap hari kematiannya masih jauh (kebanyakan orang berharap mati tua). Dan ketika kematian itu terjadi, seringkali sukmanya di alam sana tidak tenang, karena mereka tidak siap ketika itu terjadi, dan masih ada pekerjaan / kewajiban yang harus diselesaikannya. Apalagi bila kematiannya itu terjadi secara tiba-tiba di luar dugaannya, misalnya karena mendadak sakit, kecelakaan, pembunuhan, dsb. 

Tetapi ada juga orang yang dapat merasakan / menterjemahkan artinya bahwa hari kematiannya sudah dekat. Orang-orang yang seperti itu biasanya sudah mempersiapkan dirinya untuk kapan saja masuk ke alam kematian. Segala sesuatu yang menjadi tanggungan / kewajibannya semasa hidupnya akan diselesaikannya. Begitu juga dengan hal-hal yang mungkin akan dapat menghambat / mempersulit jalan kematiannya juga akan dibersihkannya. Semua harta bendanya akan ia buatkan warisannya dan semua hutang-hutangnya akan ia lunasi. Begitu juga dengan semua susuk atau ilmu-ilmu berkhodam yang sekiranya akan dapat memberatkannya akan dilepaskannya juga, kalau bisa.


Manusia yang sudah meninggal sukma / rohnya keluar dari tubuhnya dan berpindah ke alam roh, disebut arwah. Biasanya saat itu sukmanya masih berada di dunia manusia, sehingga ia bisa melihat tubuhnya yang telah mati dan bisa melihat manusia lain yang masih hidup. Biasanya tidak saat itu juga dia dapat melihat alam gaib atau melihat roh-roh halus lain.

Sebagian manusia lain setelah meninggalnya sukmanya langsung masuk ke alam gaib, bisa melihat roh-roh halus lain dan akan menjalani hidup yang sama seperti mahluk halus yang lain, tetapi mereka tidak dapat melihat dunia manusia dan tidak bisa melihat tubuhnya yang telah mati ataupun keluarganya yang menangisinya.

Biasanya pada awalnya mereka belum bisa merubah frekwensi penglihatan dan energinya, sehingga mereka yang masih berada di dunia manusia akan terus berada di dunia manusia, tidak bisa langsung masuk dan melihat alam gaib, dan yang sudah langsung berada di alam gaib akan terus berada di alam gaib, tidak bisa melihat dunia manusia. Terutama terjadi pada orang-orang yang semasa hidupnya tidak pernah olah rasa dan tidak bisa melihat gaib secara batin, mereka akan kesulitan untuk melihat dunia gaib atau mahluk halus lain, kecuali ada mahluk halus yang menampakkan dirinya kepadanya.


Secara umum ada 3 fenomena lepasnya roh manusia dari raganya, yaitu :

  1. Roh manusia yang lepas dari raganya dengan sendirinya.
  2. Roh manusia yang lepas dari raganya sesudah ‘dijemput’ oleh roh halus lain, atau
  3. Roh manusia yang 'dijemput' oleh roh halus lain sesudah rohnya lepas dari raganya.


Biasanya, manusia yang meninggal dunia, rohnya lepas dari tubuhnya dengan sendirinya, sama dengan fenomena no.1 di atas, yaitu roh manusia yang lepas dari raganya dengan sendirinya.

Tetapi ada juga orang yang meninggal sesudah lebih dulu ‘dijemput’ oleh roh halus lain, seperti fenomena no.2 di atas. Artinya ketika orangnya masih hidup, belum meninggal, ada roh lain yang datang untuk menjemput / mengajaknya pergi, sesudah itu barulah rohnya keluar lepas dari tubuhnya, meninggal.

Ada juga orang yang sesudah meninggal, sesudah rohnya keluar lepas dari raganya, kemudian ia 'dijemput' oleh roh halus lain seperti fenomena no.3 di atas.

Dalam fenomena no.2 dan 3 di atas, roh halus yang datang menjemput biasanya adalah roh dari saudara-saudaranya atau leluhur-leluhurnya yang sudah mendahuluinya, atau roh halus lain yang memiliki hubungan dekat dengan seseorang semasa hidupnya.


Saat pertama roh manusia lepas dari tubuhnya, sekalipun sudah menjadi roh / arwah, dan sudah tergolong sebagai mahluk halus, biasanya tidak saat itu juga ia bisa melihat mahluk halus lain, kecuali ada mahluk halus yang menunjukkan dirinya kepadanya. Sekalipun ia dapat melihat tubuhnya yang telah mati, tetapi biasanya dia bingung. Dia merasa masih menjadi manusia, tetapi manusia lain tidak dapat melihat dirinya.

Karena itu biasanya orang yang baru meninggal merasa bingung, merasa sendirian dan tidak tahu harus berbuat apa.

Beruntunglah dirinya bila ada roh leluhur, saudara atau teman-teman yang sudah mendahuluinya yang datang menjemputnya, sehingga orang tersebut tidak akan mengalami banyak kegalauan di dalam hatinya, karena akan dihibur oleh mereka dan akan dijelaskan segala sesuatunya yang terjadi. Biasanya orang itu akan dibawa ke tempat tinggal mereka dan dapat bertemu dengan para saudara / teman lainnya yang sudah mendahuluinya. Setelah beberapa lama kemudian orang itu dapat kembali lagi ke rumahnya atau ke tempat pemakamannya.

Fenomena no.2 dan 3 di atas, adanya roh saudara-saudara atau leluhur-leluhurnya yang datang menjemput biasanya itu terjadi pada orang-orang yang menghormati dan dekat dengan para tua-tua semasa hidupnya. Disini juga terkandung nasehat untuk manusia yang masih hidup di dunia supaya menjalin kekerabatan / silaturahmi dengan para tua-tua, orang tua, kakek-nenek, paman-bibi, pakde-bude, dsb, supaya ada ikatan batin kekeluargaan yang kuat, supaya para leluhur yang lain pun merasa dekat dan memperhatikan kita, di kehidupan yang sekarang maupun nanti di kehidupan setelah kematian.

Manusia jaman dulu memiliki ikatan kekerabatan dan kekeluargaan yang tinggi, sehingga setelah mereka meninggal dan rohnya berada di alam roh, selain berkomunitas dengan roh-roh saudaranya yang lain, mereka juga memperhatikan kehidupan anak-cucu keturunan mereka. Ada kalanya mereka datang menjenguk seorang keturunannya, atau datang mengobati keturunannya yang sedang sakit, atau mengirimkan khodam ilmu mereka dulu untuk mendampingi seorang keturunannya. Selain itu ada juga seorang leluhur yang memberikan benda-benda gaib miliknya kepada keturunannya, secara langsung ataupun melalui perantaraan orang lain.

Para leluhur itu, selain yang hanya mengawasi saja dari jauh dan yang sesekali datang menjenguk, ada juga yang tampil langsung menunjukkan perhatiannya dengan tinggal bersama salah satu keturunannya, bisa tinggal di rumahnya, bisa juga mendampinginya sehari-hari (yang secara keilmuan gaib keberadaannya disebut juga sebagai khodam pendamping).

Tetapi orang-orang yang tidak menjaga hubungan kekeluargaan atau hubungan batin dengan para tua-tua atau leluhurnya biasanya nantinya akan sendirian, tidak akan ada sosok halus leluhurnya yang akan menemuinya, seolah-olah mereka benar-benar sudah putus hubungan batin. Banyak dari orang-orang itu yang tinggal di dalam komunitas gaib yang tidak jelas juntrungannya, komunitas gaib yang sering mengganggu manusia.

Selain yang berasal dari kalangan teman-teman dekat dan saudara atau leluhur, ada juga kejadian sukma orang-orang tertentu yang di alam sana didatangi / dijemput oleh sukma orang-orang lain yang dulunya menghormati atau memuliakannya sehubungan dengan derajat kemuliaannya semasa hidupnya di dunia. Contohnya adalah orang-orang yang semasa hidupnya dulu menjadi seorang pemimpin yang dihormati (raja / ningrat / bangsawan, tokoh agama / kepercayaan, dsb) yang dulunya semasa hidupnya mempunyai pengikut atau orang-orang yang setia mengabdi kepadanya atau orang-orang yang memuliakannya. Biasanya di alam gaib mereka juga akan didatangi sukma orang-orang yang menghormati dan memuliakannya itu, kemudian mereka dapat membentuk komunitas sendiri.


Ada juga roh seseorang yang dijemput oleh roh lain selain roh leluhur atau teman-temannya.

Bila yang menjemputnya adalah anggota / penguasa dari wilayah gaib tertentu, orang itu akan dibawa ke tempat tinggal roh tersebut dan akan bertemu dengan roh manusia lain yang sudah lebih dulu ada di situ. Beruntung baginya bila ia dijadikan rakyat di wilayah kekuasaan roh gaib tersebut, karena kalau tidak, maka dia akan dijadikan tawanan / sandera / budak. Biasanya yang mengalami kejadian ini kemudian tidak akan dapat kembali ke rumahnya.

Bila yang menjemputnya adalah penguasa wilayah gaib tertentu yang dulu si manusia tersebut mempunyai ikatan tertentu seperti pernah menuntut pesugihan atau ilmu gaib / kesaktian, maka sudah pasti ia akan dijadikan rakyat disitu, sekaligus juga menjadi tawanan / budak, dan tidak akan dapat kembali ke rumahnya. Sebagian dari mereka ada yang fisik rohnya berubah menjadi sejenis siluman (baca : Bangsa Siluman).

Selain yang fisik rohnya berubah menjadi sejenis siluman ada juga sukma manusia yang kemudian di alam sana menjadi pocong (baca : Bangsa Halus Lain-lain).

Ada juga kejadian yang dialami anak-anak / bayi yang sudah meninggal, yaitu yang menjemput rohnya adalah sesosok mahluk halus yang biasa disebut wewe gombel. Sosok wujudnya seperti ibu-ibu tua dengan buah dadanya panjang menggantung. Anak-anak yang dijemputnya akan dijadikan peliharaannya (baca : Bangsa Dedemit).

Ada juga roh bayi / anak-anak yang dikumpulkan oleh seseorang dengan tujuan untuk dijadikan tuyul.

Ada juga yang disebut Anak Bajang. Anak bajang adalah sukma dari bayi / anak-anak. Mereka tinggal
di dalam suatu komunitas di alam gaib seolah-olah mereka tetap hidup sebagai manusia.
Biasanya mereka ada di bawah perlindungan sesosok mahluk halus yang baik, yang mau memelihara dan menjaga mereka seolah-olah mereka adalah anak-anaknya sendiri. Bila mereka mengenal orang tua kandungnya, kadang mereka mendatanginya untuk meminta sesuatu, seperti mainan, pakaian, uang, dsb seolah-olah mereka masih hidup di dunia manusia. Ada juga yang setelah dewasa kemudian datang kepada orang tuanya untuk minta dinikahkan.

Apa yang dialami oleh anak-anak dan bayi yang sudah meninggal itu dapat juga terjadi pada roh sedulur papat manusia yang masih hidup, yaitu roh sedulur papatnya yang terpisah (baca : Sedulur Papat Yang Terpisah), yaitu yang menjemputnya adalah sesosok mahluk halus sebangsa jin, kebanyakan adalah bangsa jin berbulu hitam tinggi besar. Sukma / arwah anak-anak maupun dewasa dan sedulur papat yang terpisah itu akan dijadikan tawanannya, dijadikan peliharaannya (seperti hewan mainan), ada juga yang kerap disiksanya.


Manusia yang sudah meninggal yang rohnya dapat kembali ke rumahnya, biasanya selama beberapa hari ia akan berada di sekitar rumah atau keluarganya dan tempat pemakamannya. Dalam masyarakat Jawa biasanya akan diadakan acara peringatan sampai 40 hari kematiannya.

Biasanya pada awalnya hati orang itu akan penuh dengan kegalauan, karena tidak siap dengan kematiannya, tidak siap berpisah dengan keluarganya, dan masih ada urusan duniawi yang masih harus diselesaikannya. Dia akan sering berada di sekitar rumah dan keluarganya karena belum rela untuk berpisah atau karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepada mereka. Atau ia akan datang ke tempat pemakamannya, karena ada ikatan batin dengan tubuhnya yang dimakamkan. Jadi selama hari-hari pertama kematiannya, roh orang itu akan berada di sekitar rumah / keluarganya dan kuburannya.

Seiring berjalannya waktu hatinya mulai bisa menerima keadaannya sebagai manusia yang sudah meninggal, walaupun hatinya kecewa dan sakit karena keluarganya sudah tidak sedih lagi, sudah bisa menerima kepergiannya dan sudah tidak lagi menginginkan keberadaannya di antara mereka. Hatinya akan bertambah sakit bila saja keluarga yang ditinggalkannya itu kemudian hidup bersenang-senang dengan harta peninggalannya, atau malah berebut warisan. Terlebih lagi bila dulunya harta kekayaannya didapat dengan cara-cara yang tidak patut, mereka semua bersenang-senang menikmati peninggalannya, tapi dosa-dosa perbuatannya harus ia tanggung sendiri. Apalagi bila kemudian istrinya (atau suaminya) menjalin hubungan lagi dengan orang lain.

Ia akan menjadi roh yang sakit hati. Semasa hidupnya di dunia ia dihormati dan dimuliakan orang, sekarang tidak ada yang menghormati dan memuliakannya. Semua harta dunia yang dikumpulkannya semasa hidup tak berarti apa-apa baginya, karena ia tidak dapat lagi menikmatinya. Semasa hidup di dunia ia memiliki harta berlimpah, tabungan banyak, punya rumah gedong dan villa, mobil berjejer, sekarang menjadi gelandangan, asli menjadi gelandangan, tidak punya tempat tinggal. Bila kembali ke rumahnya pun ia tidak akan bisa leluasa seperti sewaktu masih hidup, karena mungkin di rumahnya ada berpenghuni mahluk-mahluk halus yang berkuasa atas tempat posisinya masing-masing. Bahkan mungkin bila datang ke sesuatu tempat ia akan sering ditolak dan diusir oleh para penghuni lama atau penguasanya (kecuali sukmanya memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari semua mahluk di tempat itu).

Setelah itu biasanya roh orang itu akan pergi ke tempat-tempat lain, berdiam di rumah-rumah dan bangunan kosong, berdiam di rumah orang, berdiam di jembatan, atau ke gunung dan tempat-tempat lain yang semasa hidupnya belum pernah didatanginya. Ia akan berhenti dan berdiam di tempat yang cocok di hatinya, itu juga kalau diterima oleh penghuni lainnya disana. Sesekali waktu ia akan datang berkunjung ke lingkungan keluarganya atau anak-cucunya untuk melepaskan kerinduan dengan melihat mereka.

Ada juga roh manusia yang kemudian sampai ke suatu tempat yang menurut penglihatannya adalah sebuah kota / kerajaan. Biasanya orang itu akan tinggal disitu sebagai anggota masyarakat. Bila sudah demikian ia tidak akan dapat keluar dari tempat itu, bahkan tidak dapat melihat dunia lain selain dunia tempatnya berada. Ia akan melihat orang-orang, bangunan-bangunan rumah, istana, pasar atau bangunan lain dan wilayah yang luas seperti layaknya sebuah kerajaan, dan ia akan tinggal disitu sebagai rakyat, tetapi manusia yang masih hidup mungkin melihat tempat tinggalnya itu adalah sebuah pohon, batu, gunung atau hutan.


Mungkin tidak semua orang akan mengalami kejadian-kejadian seperti yang dituliskan di atas. Tetapi apa yang tertulis itu memang benar berdasarkan fenomena yang sesungguhnya terjadi dan sudah sering terjadi, walaupun tidak semua orang mengalaminya persis seperti itu.

Biasanya orang yang sudah meninggal awalnya akan merasa dirinya sebagai mahluk yang tak berguna, merasa terbuang. Kalau kembali ke rumahnya, tidak ada yang mengharapkannya kembali. Kalau bisa menampakkan diri, nanti diteriaki setan. Terpaksa deh diam saja. Kalau di rumahnya tidak nyaman karena ada mahluk-mahluk lain yang berkuasa disitu, terpaksa deh ngeluyur ke tempat lain, cari tempat tinggal di pohon-pohon, bangunan gedung, di rumah atau pekarangan orang. Kadang juga diusir / diganggu oleh penghuni lama. Terpaksa deh pindah lagi. Asli menjadi gelandangan.

Tapi ada juga yang sadar kalau dirinya beribadah. Ketika dalam perjalanannya menemukan sebuah rumah ibadah agamanya, ia akan tinggal disitu, berkumpul dengan para penghuni lama dan ikut beribadah ketika tiba waktunya beribadah. Dengan begitu ia bisa mendapatkan ketentraman.

Banyak juga yang setelah kematiannya, kemudian rohnya dijemput oleh roh halus lain. Kalau yang datang menjemputnya adalah teman-teman baiknya atau saudara-saudara / leluhurnya yang telah mendahuluinya, beruntunglah ia karena biasanya mereka bersikap bersahabat. Kalau pun menjadi rakyat di tempat lain, ya itu juga sudah cukup bagus. Tapi kalau sampai disandera, disiksa, diperbudak, ya nasib. Hari Penghakiman belum tiba tapi sudah disiksa, entah sampai kapan. Apes banget deh.

Saat pertama roh manusia lepas dari tubuhnya, sekalipun sudah menjadi roh, sudah menjadi arwah, tergolong sebagai mahluk halus, biasanya tidak saat itu juga ia bisa melihat mahluk halus lain, kecuali ada mahluk halus yang menunjukkan dirinya kepadanya. Dalam kejadian ini rohnya masih berada di dunia manusia, belum masuk ke dunia mahluk halus dan belum bisa melihat mahluk halus lain, kecuali mahluk halus itu menunjukkan dirinya kepadanya. Sekalipun ia dapat melihat tubuhnya yang telah mati, tetapi biasanya ia bingung. Ia merasa masih menjadi manusia, tetapi manusia lain tidak dapat melihat dirinya. Karena itu biasanya orang tersebut akan menjadi bingung, merasa sendirian, tidak ada manusia yang melihat dirinya dan tidak tahu harus berbuat apa. Banyak di antara mereka yang seterusnya berada di dunia manusia, menjadi arwah di dunia manusia, tidak masuk ke alam gaib dan tidak bisa melihat mahluk halus yang lain.

Ada juga orang-orang yang ketika meninggalnya rohnya terlempar jauh dari tubuhnya entah kemana. Ada yang rohnya terlempar jauh masuk ke hutan atau ke gunung. Ada juga yang rohnya terhisap masuk ke dalam suatu komunitas gaib (biasanya kemudian tidak bisa keluar lagi).

Ada juga yang setelah kematiannya rohnya langsung masuk ke alam halus kehidupan mahluk halus. Ia akan  melihat mahluk-mahluk halus lain dan akan hidup sama dengan mahluk halus lain. Tetapi banyak di antara mereka yang seterusnya tidak bisa melihat dunia manusia, tidak bisa melihat rumahnya, keluarganya atau pun kuburannya, sehingga tidak tahu bahwa ada orang yang datang berziarah ke makamnya atau mendoakan dirinya, karena ia sendiri tidak berada di tempat pemakamannya.

Karena itulah biasanya yang memenuhi keinginan manusia yang datang "ngalap berkah" bukanlah sukma manusia yang sudah meninggal yang dimakamkan disitu, tetapi adalah mahluk halus lain yang tinggal di sekitar makam, karena sukma orangnya sendiri entah berada dimana.

Namun banyak juga kejadian yang sangat memprihatinkan. Seringkali ini terjadi pada mereka yang meninggal secara tragis, karena kecelakaan, penyiksaan / pembunuhan / pembantaian, karena bukan hanya roh mereka tidak bisa melihat mahluk halus lain, tidak bisa melihat dunia roh, tidak bisa melihat tubuhnya yang mati, bahkan mereka tidak bisa melihat dunia apapun. Mereka sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Yang ada dalam pikirannya dan selalu tergambar di matanya hanyalah kejadian terakhir dalam hidupnya, kejadian yang tragis, yaitu jalan kematiannya. Dan itu akan terus terjadi begitu, terus menghantui pikirannya, entah sampai kapan.


Kejadian-kejadian di atas sudah umum terjadi pada orang umum yang kekuatan roh / sukmanya biasa saja yang umumnya rendah yang bahkan masih lebih rendah kekuatannya dibanding kuntilanak yang di alam halus termasuk mahluk halus yang paling rendah kekuatannya.

Mereka yang sukmanya memiliki kekuatan gaib yang tinggi akan lebih mampu menghadapi gangguan atau serangan dari mahluk gaib yang ada di sekitarnya. Bila spiritualitasnya juga tinggi, mereka tidak akan tertipu dengan wujud mahluk halus yang ditemuinya di alam roh, juga tidak akan tertipu dengan suasana di alam gaib dan bila masuk ke dalam sebuah kerajaan gaib, mereka juga dapat menemukan jalan keluar. Mereka akan lebih leluasa untuk bepergian. Bahkan mungkin mereka juga dapat merebut kekuasaan yang ada di alam gaib untuk menjadi penguasanya dan dapat merekrut banyak pengikut. Mereka juga mungkin dapat bertemu dengan roh-roh lain yang juga sakti dan bisa membangun komunitas, dan dapat juga kemudian menurunkan atau mengajarkan keilmuannya kepada anak-cucu keturunannya dan melindungi mereka atau memerintahkan mahluk halus lain untuk melindungi mereka.

Sekalipun berkekuatan tinggi, sukma dari orang-orang yang semasa hidupnya hidup sebagai orang baik, berbudi pekerti baik, sesudah meninggalnya biasanya sukmanya tetap hidup sebagai pribadi yang baik dan akan juga berkomunitas dengan sukma-sukma lain yang juga baik, tidak terdorong untuk menyalahgunakan kekuatan mereka yang tinggi.

Tetapi orang-orang yang semasa hidupnya perilakunya tidak baik, tidak berbudi pekerti, menjadi orang-orang golongan hitam (jahat), menjadi perampok dan pembunuh, atau menjadi pelaku ilmu gaib dan perdukunan golongan hitam (jahat), dan orang-orang yang hatinya jahat dan suka menyebarkan rasa jahat dan kebencian, banyak yang kemudian menjadi roh-roh jahat dan penyesat.

Di antara mereka yang jahat itu banyak yang ikut tinggal bersama mahluk-mahluk halus begundal yang menjadikan suatu tempat / lokasi menjadi angker dan wingit, mencelakakan orang-orang yang datang / lewat.

Dan di antara mereka yang jahat itu yang kekuatan sukmanya rendah (biasanya tidak lebih dari 2 md) banyak yang masuk dan tinggal bersemayam di dalam kepala manusia yang masih hidup. Kepada manusia itu ia melakukan penyesatan dengan memberikan banyak bisikan dan penglihatan gaib fiktif, ilusi dan halusinasi, menjadikan si manusia merasa bisa melihat gaib dan mengerti ilmu gaib, merasa dirinya mulia berkaromah. Dengan cara itu sukma itu melalui orang yang kepalanya ditempatinya itu bermain ilmu gaib kembali dan kerap membisikkan kata-kata jahat yang sifatnya menyesatkan.

Sedangkan mereka yang jahat itu yang kekuatan sukmanya lebih tinggi (di atas 5 md atau sampai puluhan ribu KRK) banyak yang masuk dan tinggal bersemayam di dalam badan manusia yang masih hidup untuk mempertunjukkan kegaiban dari kesaktiannya. Kepada orangnya mereka juga melakukan penyesatan dengan memberikan banyak bisikan dan penglihatan gaib fiktif, ilusi dan halusinasi, menjadikan orangnya merasa bisa melihat gaib dan mengerti ilmu gaib, merasa dirinya mulia berkaromah dan merasa mempunyai kekuatan gaib yang tinggi. Melalui orang yang badannya ditempatinya sukma itu menunjukkan kegaiban kesaktiannya (sukma itu menjadi khodam kekuatan gaib orangnya) dan kerap juga membisikkan kata-kata jahat yang sifatnya menyesatkan.

Ada juga mereka yang jahat itu yang kekuatan sukmanya cukup tinggi merebut kekuasaan di tempat-tempat yang orang biasa "ngalap berkah". Mereka menundukkan semua dhanyang dan mahluk halus di tempat itu, dijadikannya bawahannya untuk diperintah memenuhi hasrat orang-orang yang ngalap berkah. Mereka senang dimuliakan orang, disembah-sembah, senang dimintai "berkahnya", dan kerap menjadikan orang-orang pemujanya (pengalap berkah) menjadi budaknya (dijadikan tumbal). 

Sebagian lagi dari sukma yang jahat itu berkeliaran bergentayangan di antara orang-orang yang masih hidup. Mereka menipu dan menyesatkan kerohanian manusia, menyimpangkan manusia dari ketuhanan yang benar.

(Silakan dibaca juga tulisan-tulisan berjudul Terawangan / Melihat Gaib , Pengaruh Gaib Thd Manusia dan Penggolongan Mahluk Halus).



_________



  >>  Bangsa Siluman












Comments