Penghambat Proses Kematian 

 Penghambat Lepasnya Sukma Dari Tubuh  


 

Biasanya manusia mendapatkan rasa / firasat atau tanda ketika hari kematiannya sudah dekat (sukma tahu kapan raganya akan mati), tetapi kebanyakan manusia tidak dapat menterjemahkan tanda itu, sehingga tidak tahu akan hari kematiannya. Itu juga yang terjadi pada orang-orang yang menganggap hari kematiannya masih jauh (kebanyakan orang berharap mati tua). Dan ketika kematian itu terjadi, seringkali sukmanya di alam sana tidak tenang, karena mereka tidak siap menerima kematiannya, masih ada urusan / kewajiban yang masih harus diselesaikannya, apalagi bila kematiannya itu terjadi secara tiba-tiba di luar dugaannya, karena mendadak sakit, kecelakaan, pembunuhan, dsb. 

Tetapi ada juga manusia yang dapat merasakan bahwa hari kematiannya sudah dekat. Orang-orang yang seperti itu biasanya sudah mempersiapkan dirinya untuk kapan saja masuk ke alam kematian. Segala sesuatu yang menjadi tanggungan / kewajibannya semasa hidupnya akan diselesaikannya. Begitu juga dengan hal-hal yang mungkin akan dapat menghambat / menyulitkan jalan kematiannya juga akan dibersihkannya. Semua harta bendanya akan dia buatkan warisannya dan semua hutang-hutangnya akan dia lunasi. Begitu juga dengan susuk atau ilmu-ilmu berkhodam yang sekiranya akan memberatkannya, akan dilepaskannya, kalau bisa.

Pada jaman dulu di Jawa ada suatu tradisi. Raja-raja yang sudah merasa "cukup" dengan kehidupannya, sudah merasa cukup dalam "peranan"nya, setelah tahtanya diserahkannya kepada penerusnya, semua tanggungan dan kewajiban sudah diselesaikan, mereka akan lengser, dan pergi meninggalkan istana untuk menepi dan mandito, meninggalkan keduniawian untuk hidup berprihatin dan menekuni kerohanian untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Secara alami semua manusia akan meninggal dan roh-nya akan berpindah dari alam manusia ke alam roh, tetapi tidak semua manusia mengalami jalan kematian yang baik. Ada yang kematiannya tidak diduga terjadinya (terjadinya tiba-tiba di luar dugaan), ada juga yang sudah tiba waktu kematiannya tetapi masih harus lebih dulu merasa tersiksa karena ada yang menghambat proses kematiannya.

Beberapa contoh penghambat proses kematian seseorang :

 1. Gangguan pada proses menyatunya Roh Pancer dan Sedulur Papat.

 2. Adanya susuk dan benda-benda santet.

 3. Adanya energi-energi negatif di tubuh manusia.

 4. Adanya keberadaan khodam ilmu / pendamping atau mahluk halus lain.



1. Gangguan pada proses menyatunya Roh Pancer dan Sedulur Papat.


Semasa manusia masih hidup, sukma manusia terdiri dari roh Pancer dan roh Sedulur Papat. Sesaat sebelum orangnya meninggal, roh Pancer dan roh Sedulur Papat menyatu menjadi satu, membentuk satu sukma roh manusia dan kemudian berpindah dari jasadnya semula ke alam roh yang kemudian disebut sukma / arwah. 

Sedulur papat kita itu mempunyai sebutan Kakang Kawah (paling tua), Adi Ari-ari (paling muda), Getih (darah), dan Pusar, sedangkan kita sendiri disebut Pancer. Artinya, para sedulur kita itu keberadaannya mengikuti kita sebagai Pancer.  Jadi sudah seharusnyalah semua sedulur papat kita itu menyatu bersama kita sebagai pancer. Kenyataannya, ada 2 sedulur papat kita yang terpisah tidak bersama kita, yaitu Kakang Kawah dan Adi Ari-ari. Mereka berada di tempat ari-ari kita berada (atau di makam ari-ari bila ari-ari kita dulu dimakamkan). Artinya sedulur yang bersama dengan kita hanya ada 2, bukan 4. Yang sudah bersama kita adalah Getih dan Pusar, yang terpisah adalah Kakang Kawah dan Adi Ari-ari.

Secara alami ke 2 saudara gaib yang terpisah tersebut akan menyatu dengan pancer sesaat sebelum seseorang meninggal dunia. Artinya, ke 2 saudara yang terpisah tersebut akan datang menyatu dengan 2 saudara lain yang sudah bersama pancer sehingga menjadi satu kesatuan sedulur papat yang lengkap, kemudian bersama-sama mereka menyatu dengan pancernya sehingga menjadi satu kesatuan sukma (sukma / roh orang yang sudah meninggal). 

Dengan kata lain, pada saat seseorang masih hidup, di dalam tubuhnya ada 3 roh yang menjadi satu kesatuan, yaitu Pancer dan 2 Sedulur (Getih dan Pusar). Sesaat sebelum orang tersebut meninggal dunia, roh Kakang Kawah dan Adi Ari-ari akan datang menyatu dengan roh orang tersebut, sehingga menjadi satu kesatuan roh Pancer dan Sedulur Papat.

Penyatuan ke 2 sukma sedulur yang terpisah tersebut akan menjadi masalah bila ternyata mereka disandera oleh mahluk halus lain, sehingga tidak bisa segera secara alami kembali menyatu dengan roh sedulur yang lain yang sudah ada di dalam tubuh si manusia. Dalam kejadian ini akan ada tarik menarik antar sedulur supaya mereka dapat menjadi satu, tetapi karena ada mahluk halus lain yang menahan sedulur yang terpisah tersebut menyebabkan penyatuan sedulur papat tersebut tidak dapat segera terjadi. 

Dalam hal ini, pihak keluarga dan orang-orang terdekat, bila merasakan adanya indikasi kejadian di atas, sebaiknya segera mengupayakan / meminta tolong kepada orang yang mampu, untuk membebaskan sedulur papat yang terpisah itu supaya dapat kembali menyatu dengan orang tersebut (tentang sedulur papat yang terpisah silakan dibaca keterangannya dalam tulisan berjudul : Sedulur Papat Yang Terpisah).

Ini juga menjadi salah satu faktor penting perlunya dilakukan upaya mengembalikan sedulur papat yang terpisah ketika orangnya masih hidup, jangan sampai orangnya mengalami siksaan menjelang ajalnya hanya karena masih terpisahnya sedulur papatnya.

Khusus dalam hal roh sedulur papat yang terpisah tersebut ternyata disandera oleh roh halus lain, sehingga tidak dapat melepaskan dirinya untuk menyatu dengan sukma pancernya, maka diperlukan kekuatan gaib lain yang lebih kuat, misalnya menggunakan kekuatan gaib dari pusaka, jimat, batu akik atau benda-benda bertuah lain atau khodam pendamping, untuk melepaskan mereka dari penyanderaan, yang bisa dilakukan dengan cara-cara sugesti seperti dicontohkan dalam tulisan berjudul  Ilmu Tayuh / Menayuh Keris.



2. Susuk dan benda-benda santet.


Susuk
, pada dasarnya adalah benda-benda nyata yang dengan sengaja diubah menjadi benda gaib (energi) dan kemudian
dimasukkan ke dalam tubuh manusia dengan tujuan supaya aura energi gaib susuk itu memberikan suatu tuah atau kegaiban tertentu sesuai yang diinginkan oleh pemakainya.

Energi gaib dari susuk ini disatukan dengan energi tubuh dan juga dengan energi sukma manusia pemakainya, sehingga sinar aura atau kekuatan energi tubuh pemakainya akan menjadi berlipat-ganda setelah ditambah dengan aura / energi dari susuk itu. Karena energi gaib dari susuk itu tidak hanya menyatu dengan tubuhnya, tetapi juga menyatu dengan sukmanya, inilah yang menyulitkan proses lepasnya roh dari tubuh, terutama bila kekuatan sukma orangnya tidak lebih tinggi daripada kekuatan energi susuknya.

Susuk, selain yang hanya susuk saja (berupa energi), ada juga yang susuknya itu disertai khodam untuk menambah kuat pengaruh susuknya. Untuk membuang susuknya itu maka selain susuknya itu sendiri yang berupa energi, khodam susuknya itu juga harus disingkirkan.


Benda-benda santet pada dasarnya sama dengan susuk, yaitu
benda-benda nyata yang dengan sengaja diubah menjadi benda gaib dan kemudian dimasukkan ke dalam tubuh manusia, hanya saja tujuannya berlawanan, bukan untuk kebaikan si manusia penerimanya, tetapi untuk menyakiti atau membunuhnya. Benda-benda santet ini juga akan menyulitkan proses kematian manusia, kecuali santet itu memang ditujukan untuk membunuhnya.

Santet, sama juga dengan susuk, selain yang hanya benda santet saja (berupa energi), ada juga yang santetnya itu disertai khodam untuk menambah kuat pengaruhnya. Untuk membuang santetnya itu maka selain santetnya itu sendiri yang berupa energi, khodam santetnya itu juga harus disingkirkan.


Susuk dan benda-benda santet yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, yang kondisinya masih dalam bentuk energi gaib, yang energinya belum mati dan bendanya belum mewujud menjadi benda nyata aslinya, dalam rangka menghilangkannya sebaiknya jangan dilakukan dengan mewujudkan bendanya, dan jangan dengan mematikan energi gaibnya. 

Susuk dan benda-benda santet yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, yang energi gaibnya belum mati dan bendanya belum mewujud menjadi benda nyata aslinya, yang kondisinya masih dalam bentuk energi gaib, untuk menghilangkannya dapat lebih mudah (relatif) melakukannya dengan bantuan kekuatan pusaka keris / tombak atau benda gaib lain yang lebih tinggi kekuatannya atau bantuan dari orang lain yang memiliki ilmu atau khodam ilmu yang lebih tinggi kekuatannya untuk membersihkannya (baca juga : Pembersihan Gaib 3 dan Pembersihan Gaib 5).

Susuk yang energinya sudah mati dan bendanya sudah mewujud menjadi benda nyata aslinya, nantinya akan terasa keberadaannya jika diraba dengan tangan, misalnya di tempat keberadaan susuknya terasa ada benjolan kecil, mungkin nantinya juga akan keluar dengan sendirinya jika bendanya kecil seperti jarum emas. Tetapi jika bentuknya agak besar, misalnya butiran kristal / berlian, butiran-butiran baja, dsb, bila tidak bisa keluar dengan sendirinya maka terpaksa harus dilakukan dengan penanganan khusus, dengan jalan bedah operasi.

Benda-benda santet yang energinya sudah mati dan bendanya sudah mewujud menjadi benda nyata aslinya, bila dikeluarkan paksa / dimuntahkan, nantinya selain terasa menyakitkan, juga dapat membuat luka baru pada jalan keluar yang dilalui oleh benda-benda tersebut.



3. Energi-energi negatif di tubuh manusia.


Energi-energi negatif di dalam tubuh manusia bisa berasal dari bagian-bagian tubuh yang sedang mengalami sakit, bisa juga berasal dari aura energi negatif psikologis manusia yang sering berpikiran negatif. Energi-energi negatif itu bisa juga karena perbuatan mahluk halus (kesambet. teluh, guna-guna).

Keberadaan aura / energi negatif di dalam tubuh manusia cenderung menjadi penyebab awal sakit-penyakit pada organ-organ dalam tubuh manusia. Keberadaan aura / energi negatif di dalam tubuh manusia itu juga dapat mengundang sosok-sosok mahluk halus tertentu untuk menempel di tubuh manusia, yang dapat menambah sakit atau memperparah sakit yang sedang diderita oleh manusia. Itulah pentingnya menumbuhkan sugesti / semangat untuk sembuh supaya tubuh manusia menumbuhkan energi yang positif untuk menekan keberadaan energi-energi negatif di dalam tubuhnya. Itulah juga pentingnya supaya manusia selalu bersikap / berpikiran positif supaya tidak menumbuhkan aura negatif dalam dirinya.

Mandi guyuran air kembang telon atau kembang setaman dapat membantu menyelaraskan energi dan aura negatif di dalam tubuh manusia supaya menjadi positif.

Tetapi kalau energi-energi negatif itu berasal dari perbuatan mahluk halus (kesambet. teluh, guna-guna), maka penanganannya harus dilakukan dengan jalan pembersihan gaib, bisa dengan menggunakan bantuan khodam ilmu / pendamping atau khodam benda gaib yang lebih tinggi kekuatannya (baca juga : Pembersihan Gaib 3).



4. Keberadaan khodam ilmu / pendamping atau mahluk halus lain.


Khodam
, adalah
mahluk halus tertentu yang bisa dimintai bantuannya atau diharapkan kegaiban / tuahnya oleh manusia, yang menjadi sumber kekuatan dari sebuah benda gaib, jimat, pusaka, atau mahluk halus yang sehari-harinya mendampingi seseorang, atau mahluk halus yang menjadi sumber kekuatan dari ilmu gaib (prewangan). Mereka bisa dari jenis mahluk halus apa saja, kebanyakan dari jenis bangsa jin. 

Khodam pendamping ada 2 macam, yaitu khodam pendamping yang umum, yang sehari-harinya mendampingi seseorang untuk memberikan fungsi / tuah yang umum, biasanya penjagaan gaib, dan khodam pendamping yang sifatnya khusus, yang menjadi khodam ilmu, yang keberadaannya khusus untuk melaksanakan perintah atau ilmu gaib seseorang.

Khodam pendamping yang umum, khodam dari leluhur, dan khodam lain yang datang kepada seseorang seringkali tidak dengan sengaja diundang dan tidak disadari keberadaannya. Seringkali khodam ini datang kepada seseorang yang tekun beribadah dan rajin berdoa / wirid. Khodam yang datang kepada seseorang dan menyertainya itu mendampinginya sehari-hari dan seringkali juga membantunya sehingga keinginan-keinginan atau doa-doanya dan kata-katanya menjadi sering terwujud.

Bila khodam pendamping yang umum itu adalah mahluk halus golongan putih, biasanya tidak akan menyulitkan proses kematian seseorang, tetapi bila ternyata adalah dari golongan hitam, pasti akan menyulitkan proses kematian seseorang.

Khodam pendamping yang umum itu akan berubah menjadi khodam ilmu dan bersifat khusus bila orangnya kerap mengamalkan ilmu gaib, apapun tujuannya, apalagi pada orang-orang yang sudah berpraktek sebagai orang pinter, spiritualis, dukun, dsb. Kondisi itu bisa menjadikan khodamnya merasa terikat dengan orangnya. Dalam kondisi terikat itu walaupun aslinya khodamnya itu dari golongan putih, adanya ikatan dengan orangnya itu bisa menyebabkan khodamnya menyulitkannya dalam proses kematian orangnya, karena khodamnya itu tidak mau begitu saja ditinggal mati.

Bila khodam itu berasal dari suatu ilmu yang dicari dan dijalaninya sendiri, seringkali memang akan menyulitkan, karena si khodam tidak mau ditinggal mati begitu saja, kecuali khodamnya tersebut dipindah-tangankannya kepada orang lain. Faktor yang memberatkan lainnya mungkin adalah karena adanya tuntutan tertentu dari si pemberi ilmu atau dulunya ada perjanjian tertentu. Begitu juga bila khodamnya itu (ternyata) adalah mahluk halus golongan hitam.

Khodam yang dari leluhur dan bergolongan putih biasanya tidak akan menyulitkan proses kematian seseorang. Setelah orangnya meninggal dunia, biasanya khodam itu akan berdiam di makam orang tersebut, sehingga kemudian makamnya akan menjadi wingit, atau si khodam akan kembali kepada roh leluhur orang tersebut. Jika kemudian ada keturunan lain lagi dari si leluhur itu yang si khodam merasa cocok, maka khodam ini akan mengikut kepada orang itu. Ini sering terjadi pada orang-orang yang secara tiba-tiba dan tanpa belajar bisa memiliki kemampuan mengobati, meramal, dsb. Dalam penampakannya khodam dari leluhur ini seringkali mengambil wujud yang sama seperti sosok leluhur orang tersebut sebagai bentuk pemberitahuan asal-usulnya. Di masyarakat seringkali orang itu disebut  ‘ketempelan’  leluhurnya. Tetapi yang benar adalah orang tersebut ‘ketempatan’ khodam ilmu leluhurnya.

Tetapi bila khodam ilmu leluhur itu dari jenis yang tidak baik, atau dari golongan hitam, maka keberadaannya pasti akan menyulitkan dalam proses kematian seseorang, walaupun asal-usulnya adalah khodam dari ilmu leluhurnya. Biasanya jenis ini datang sendiri kepada seseorang, bukan karena dikirimkan oleh leluhurnya.

Mahluk halus yang perwatakannya termasuk dalam golongan hitam dan abu-abu, keberadaannya bersama manusia dalam bentuk khodam ilmu / pendamping, akan cenderung menyesatkan manusia dan keberadaan mereka pasti akan menyulitkan dalam proses kematian orangnya, karena mereka tidak mau begitu saja ditinggal mati, kecuali ada orang lain yang mau menerima mereka.

Tapi walaupun aslinya khodamnya dari golongan putih, adanya ikatan dengan orangnya juga bisa menyebabkan khodamnya menyulitkannya dalam proses kematian orangnya, karena khodamnya itu tidak mau begitu saja ditinggal mati.


Selain khodam pendamping, mungkin ada juga roh halus lain yang mengikut atau bersemayam di tubuh seseorang (ketempelan / ketempatan mahluk halus). Walaupun tujuan keberadaan roh halus itu tidak untuk menyerang atau menyakiti, tetapi hanya 'mengikut' saja dengan cara 'menempel' atau berdiam bertempat di dalam tubuh manusia, t
etapi kasus ketempelan dan ketempatan mahluk halus ini memberikan pengaruh sendiri-sendiri terhadap manusia yang mengalaminya.

Jika dalam kasus ketempelan itu roh halusnya berasal dari golongan putih, biasanya tidak akan menyulitkan proses kematian seseorang. Tetapi bila roh halusnya berasal dari golongan hitam atau yang berintelijensi rendah, seperti gondoruwo atau bangsa jin yang berbulu hitam lebat, biasanya akan menyulitkan dalam proses kematian, apalagi bila roh halusnya itu dari golongan hitam, pasti akan menyulitkan dalam proses kematian seseorang.

Kasus ketempatan mahluk halus lebih banyak yang menyulitkan proses kematian seseorang. Mahluk halus yang sudah merasa nyaman bertempat di dalam tubuh manusia biasanya tidak akan mau begitu saja pergi meninggalkan "rumahnya" itu. Sedapat mungkin mereka akan mempertahankan kondisinya supaya mereka dapat terus bersemayam di tubuh orangnya, walaupun orangnya sudah dalam keadaan kritis / koma / sekarat.

Atau mungkin ada roh halus lain yang bersemayam di tubuh seseorang atau membayanginya kemanapun dia pergi, yang keberadaan roh halus tersebut bertujuan untuk mengganggunya, menguasainya, menyerangnya atau menyakitinya (kesambet / ketulah, atau ditenung, diteluh, disantet, atau diguna-guna). Keberadaan roh halus itu biasanya akan memberatkan dan menyulitkan proses kematian orang yang mengalaminya (kecuali keberadaan mahluk halusnya itu memang ditujukan untuk membunuh). Untuk pembersihan gaibnya bisa dengan meminta bantuan khodam benda gaib jimat / pusaka yang lebih tinggi kekuatannya atau bantuan dari orang lain yang memiliki ilmu yang lebih tinggi untuk dapat membersihkannya. 

Seringkali kepemilikan benda jimat merupakan suatu kebanggaan bagi pemiliknya. Begitu juga dengan adanya khodam pendamping, walaupun tidak sengaja diundang. Orang kadang juga merasa senang dan bangga bila ada orang yang bisa melihat gaib mengatakan bahwa ada sesosok gaib yang mendampinginya, menjaganya, dsb. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan. Apapun jenis gaibnya, bila dia berasal dari golongan hitam, entah mahluk halusnya itu
beragama ataupun tidak, pasti akan menyulitkan proses kematian seseorang.

Penggolongan mahluk halus sebagai golongan putih atau golongan hitam silakan dibaca uraiannya dalam tulisan berjudul : Penggolongan Mahluk Halus.



Bila kondisi-kondisi di atas jelas terjadi, dan penyebab kejadiannya yang dari gaib sudah diketahui, sebaiknya ditangani dengan cara-cara khusus kegaiban untuk melakukan pembersihan gaib, misalnya dengan cara-cara kebatinan, atau menggunakan kekuatan benda-benda gaib atau keris dan pusaka, atau mengupayakan / meminta tolong kepada orang lain yang mampu melakukannya.

Bila penyebabnya adalah karena keberadaan mahluk-mahluk halus golongan hitam dan yang berenergi negatif, bisa dicoba melakukan pembersihan gaib dengan cara mandi dengan campuran minyak jafaron merah.
(Baca juga : Pembersihan Gaib 2).

Bila mahluk halusnya adalah dari jenis lain bisa diupayakan pembersihan gaib menggunakan bantuan gaib dari khodam dan benda-benda gaib yang kekuatan gaibnya tinggi (baca : Pembersihan Gaib 3).

Sebaiknya sebelum melakukan pembersihan gaib ditayuh dulu apakah penyebabnya adalah benar karena adanya gaib-gaib negatif dan apakah khodam / benda gaib yang digunakan untuk pembersihan gaib kekuatannya lebih tinggi  (baca : Ilmu Tayuh / Menayuh Keris).

Tetapi jika ditengarai gangguannya adalah berasal dari perbuatan santet, maka penanganannya harus dilakukan secara khusus, dengan keilmuan penangkal santet (baca : Pembersihan Gaib 5).

Paling baik adalah jika orangnya sendiri atau orang-orang yang menolongnya mampu bersugesti kepada Tuhan, melakukan pembersihan gaib dengan doa kebatinan ketuhanan, bersugesti mendatangkan Kuasa Tuhan (laku kebatinan ketuhanan Pembersihan Gaib 4 dikombinasikan dengan Kebatinan Dalam Keagamaan).

(Baca juga : Pembersihan Gaib).




----------------



 Lanjutan  >>   Roh Manusia Di Alam Roh













Comments