Roh Manusia / Sukma / Arwah

 

Tulisan tentang roh / sukma manusia ketika masih hidup sebagian sudah dituliskan dalam halaman lain yang berjudul Sedulur Papat Kalima Pancer.

Tulisan di halaman ini adalah cerita yang umum tentang roh / sukma manusia ketika manusia sudah meninggalkan kehidupannya di dunia sebagai manusia dan rohnya pindah ke alam roh.

Saat kita berbicara tentang dunia roh manusia yang telah meninggal ini janganlah dipertentangkan dengan pandangan / ajaran sesuatu agama, jika ada perbedaan pandangan di dalamnya. Tulisan ini juga tidak bermaksud klenik dan mistik. Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk menceritakan kejadian yang nyata terjadi dan bisa dialami oleh setiap orang, yang di dalamnya juga terkandung nasehat dan pelajaran yang berharga supaya manusia lebih bijaksana dalam menjalani hidupnya.

Sudah seharusnya kita bersikap bijaksana dalam menanggapi perbedaan yang ada, jika ada, karena apa yang dituliskan disini adalah fenomena yang biasa terjadi dalam kehidupan nyata manusia, yang mungkin tidak selalu sama dengan yang ada dalam ajaran agama. Mungkin menurut pandangan / pendapat suatu penganut agama, dunianya orang yang sudah meninggal itu tidak berada di bumi, tetapi di suatu tempat tersendiri, entah dimana, pokoknya tidak di bumi, dan yang ada di bumi adalah jin atau mahluk halus lain yang menyaru / menyamar, sehingga sosoknya mirip dengan seseorang yang telah meninggal dunia.

Memang ada beberapa jenis mahluk halus yang kerap menyamar menirukan sosok seseorang yang sudah meninggal dunia, biasanya adalah golongan jin kelas rendah. Tetapi menurut sepengetahuan kami, dunia roh orang mati masih berada di sekitar kita yang masih hidup. Hal ini juga diperkuat dengan pandangan bahwa Sang Pencipta menciptakan segala mahluk, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan mata, semuanya ditempatkan di bumi untuk hidup bersama. Dan roh / sukma manusia yang telah meninggal pun tetap tinggal di bumi. Hanya saja secara pandangan agama, roh manusia yang telah meninggal perpindahannya dari dunia manusia ke alam roh, ke alam dunianya orang mati, disebut masuk ke alam barzah, menunggu hingga datangnya hari penghakiman.

Pembedaan asal-usul suatu sosok mahluk halus apakah aslinya berasal dari sukma manusia ataukah sebenarnya merupakan jenis mahluk halus yang lain adalah pembedaan yang bersifat sangat mendasar dan penting (sekaligus juga sensitif), karena terkait dengan rahasia kehidupan manusia yang sudah meninggal dan rahasia kehidupan manusia di alam roh.

Banyak tabir rahasia yang tidak terungkap mengenai kehidupan manusia sesudah kematiannya. Sekalipun sebenarnya banyak manusia yang bisa mengetahuinya, namun seringkali justru manusia sendiri yang menutup-nutupinya, ditambah lagi adanya pandangan dan dogma yang dengan sengaja membelokkan pemahaman manusia dan menjadikannya tabu untuk dibicarakan, menyebabkan rahasia ini menjadi semakin tersamar, yang kemudian justru memunculkan banyak cerita mitos dan tahayul, pengkultusan dan syirik, yang tidak jelas kebenarannya. Padahal sebenarnya inilah hakiki dari semua kepercayaan kepada Tuhan.

Kuatnya dogma dan doktrin, pengkultusan, dan kesalah-pemahaman dan salah penafsiran tentang rahasia itu telah membelokkan manusia dari pemahaman yang benar, padahal nantinya semua manusia juga akan membuktikan sendiri kebenarannya, karena semua manusia juga nantinya akan berpindah ke alam roh. Adanya kekeliruan pemahaman dan salah penafsiran itu juga menyebabkan manusia yang masih hidup, sekalipun tekun beribadah dan merasa beriman, tidak akan pernah siap menerima kematiannya dan tidak tahu nantinya akan kemana, juga telah banyak menyebabkan manusia yang telah berada di alam roh merasa bingung mendapati kondisi yang tidak pernah terbayangkan yang sama sekali berbeda dari yang pernah diketahuinya semasa hidupnya.


Dalam pengertian Sukma Manusia disini termasuk di dalamnya adalah sukma / roh / arwah manusia yang sudah meninggal, roh / sukma manusia yang moksa (tidak meninggal, tetapi masuk / pindah ke alam gaib bersama dengan raganya), dan manusia yang diambil / dibawa oleh suatu mahluk halus ke alam gaib, sehingga hilang dari dunia manusia. 

Sukma manusia yang telah meninggal biasa disebut arwah. Biasanya penampakkan arwahnya sama dengan si manusia semasa ia masih hidup, tetapi ada juga yang kemudian arwahnya berubah menjadi sebangsa siluman (baca : Bangsa Siluman), ada juga yang arwahnya kemudian berubah menjadi pocong.

Pocong adalah mahluk halus sukma / roh / arwah orang yang sudah meninggal yang berwujud manusia berselimut kain kafan yang terjadi karena proses pemakamannya tidak sempurna. Mereka hidup seperti roh manusia pada umumnya. Mereka tersiksa dengan wujudnya itu dan 'minder' terhadap sukma dan mahluk halus lain. Biasanya pocong laki-laki akan berkumpul dengan sesama pocong yang lain atau tinggal di dalam komunitas bersama kuntilanak, sedangkan yang perempuan akan hidup sendirian.

Fenomena pocong terjadi karena proses pemakaman yang tidak sempurna. Dikatakan tidak sempurna karena masih ada tali pocong yang masih mengikat kafan jenazah, atau walaupun tali-tali pocong tersebut sudah terlepas, sudah tidak mengikat, tetapi posisinya masih melingkar. Secara kegaiban, kondisi tali pocong yang masih mengikat atau masih melingkar itulah yang menyebabkan sukma orang tersebut "terikat" dan "terpaksa" berpakaian kain kafan.

Paling baik adalah tali-tali pocongnya diambil dan diletakkan di samping jenazah. Dengan demikian kondisi pocongan kafannya menjadi sempurna terlepas. Bila proses pemakamannya sempurna seperti itu biasanya kemudian sukma orang tersebut akan berpakaian sama dengan pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari semasa hidupnya atau sama dengan pakaian terakhir yang dipakaikan kepadanya.

Fenomena pocong adalah salah satu bentuk kegaiban alam gaib. Setinggi apapun ilmu seseorang semasa hidupnya, tetap saja fenomena itu dapat terjadi kepada dirinya. Begitu juga terjadi pada jenglot atau batara karang. Semasa hidupnya ilmu orangnya tinggi sekali sampai-sampai setelah meninggal pun jasadnya tidak hancur / membusuk, malah kemudian bisa dijadikan jimat kebal. Mungkin juga semasa hidupnya dulu orang itu bisa merogoh sukma. Tapi faktanya, sesudah mati rohnya tidak bisa keluar dari raganya. Aneh kan?

Fenomena pocong tidak ada kaitannya dengan amal baik ataupun kejahatan. Juga sesakti apapun orangnya, tetap saja itu bisa terjadi kepada dirinya. Walaupun cerita tentang pocong seringkali dipertentangkan orang, karena terkait dengan sensitivitas agama, dan walaupun ditutup-tutupi, tetap saja itu terjadi. Banyak orang bisa memberikan kesaksian melihat pocong, dan dirinya sendiri pun nantinya bisa juga menjadi pocong, karena itu adalah fenomena alam yang memang ada dan berada di luar kekuasaan manusia. Justru disitu terkandung nasehat supaya manusia yang masih hidup memakamkan dengan benar jasad seseorang yang sudah meninggal, sebagai perbuatan baik terakhir kepada orang itu.

Jadi, proses pemakaman sebaiknya jangan dilakukan terburu-buru, apalagi dengan alasan kondisi cuaca tidak bagus, takut kemalaman, atau kasihan kalau tidak cepat-cepat dikubur, dsb. Segala sesuatunya harus dilakukan dengan benar dan harus dijadikan kebiasaan untuk melakukan sesuatu dengan benar, jangan melakukan sesuatu hanya sebatas formalitas saja. Dan kejadian pocong itu juga bisa terjadi pada semua manusia yang sekarang masih hidup bila nantinya meninggal.

Sebaiknya kita membiasakan diri memakamkan dengan benar orang yang sudah meninggal sebagai perbuatan baik terakhir kita kepadanya. Kalau kita dan semua orang mengabaikan membuka dan melepas tali pocong, kebiasaan jelek itu akan juga berakibat kepada kita sendiri dan semua orang yang sekarang masih hidup bila nantinya meninggal, karena orang-orang lain yang nantinya memakamkan kita akan juga mengabaikan untuk membuka dan melepas tali pocongnya. Arwah kita akan menjadi pocong.

Untuk menyempurnakan bentuk wujud dan penampilan pocong supaya bisa menjadi normal kembali seperti sukma / arwah lainnya hanya bisa dilakukan dengan cara menggali kembali makamnya dan diperbaiki posisi tali pocongnya. Merubah bentuk wujudnya secara gaib hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah memiliki kuasa roh.

Tetapi terjadinya pocong kelihatannya masih akan terus terjadi karena adanya kebiasaan di masyarakat yang kurang telaten dalam memakamkan jasad seseorang. Apalagi pada kasus-kasus yang terpaksa harus dilakukan pemakaman masal, misalnya kasus kecelakaan bus, pesawat terbang, bencana alam dsb, yang jasad-jasad orangnya dibungkus kain kafan, tetapi ketika dimakamkan tali-tali pocongnya tidak dilepas.


Secara fisik energinya, bila diraba dengan tangan, roh manusia / sukma / arwah rasa energinya sangat halus, hampir tidak terasa. Bisa diibaratkan kita menggenggam atau menangkap asap dengan tangan kosong, halus, hampir tak terasa. Bila terasa biasanya hanya seperti gerakan angin saja. Hawanya biasanya terasa hangat. Tapi kalau sudah terbiasa bersama manusia yang masih hidup biasanya hawanya sejuk / dingin.

Berbeda dengan kita merasakan fisik energi dari mahluk lain seperti jin atau gondoruwo. Energinya lebih terasa, lebih padat, diibaratkan seperti kita menggerakkan tangan di dalam air. Hawanya ada yang hangat, ada yang panas, ada juga yang dingin seperti uap es.


Para mahluk halus, selain sukma manusia, dapat membuat bentukan energi. Artinya para mahluk halus itu dapat membentuk suatu bentukan energi, yang dapat dijadikan bola energi pagaran diri untuk perlindungan dan bertahan dari serangan mahluk halus lain, atau menyalurkan energinya untuk menyerang, atau untuk merubah penampilan wujudnya, atau untuk tujuan yang lain.

Bentukan energi ini juga dapat disatukan dengan energi manusia, untuk menambah kekuatan, kekebalan, menambah wibawa, kharisma, pengasihan, juga bisa untuk membuat manusia sakit atau meninggal. Bagi manusia yang dapat berinteraksi dengan mahluk halus, kemampuan mahluk halus untuk membentuk energi ini seringkali dimanfaatkan untuk memberikan aura kewibawaan, pengasihan, pengobatan gaib, pelaris dagangan, juga bisa untuk pelet, guna-guna, teluh, santet, dsb. 

Bentukan energi itu juga dapat digunakan untuk mempengaruhi pikiran manusia (halusinasi). Ini seringkali terjadi pada orang-orang yang datang ke makam-makam atau tempat mistis untuk 'ngalap berkah'.  Para mahluk halus itu, secara energi dapat merubah wujudnya (jadi-jadian) atau dengan energinya mempengaruhi pikiran manusia, sehingga di mata manusia tersebut sang mahluk halus tampak sebagai sosok yang lain, misalnya seperti sosok orang tertentu yang telah meninggal. Mahluk-mahluk halus tersebut mau memenuhi keinginan orang yang 'ngalap berkah' selama sesajinya sesuai, walaupun menurut si manusia yang 'ngalap berkah', yang memberi 'berkah' tersebut adalah si manusia yang telah meninggal yang dimakamkan disitu.

Sukma manusia tidak dapat merubah-rubah bentuk energinya, tidak dapat membentuk bola pagaran energi dan tidak dapat menggunakan energinya untuk merubah wujudnya. Jadi sosok manusia yang tampak adalah sosok yang sesuai aslinya. Bila ingin sosoknya tampak berbeda di mata orang, sukma manusia melakukan 'kontak batin' dengan orang yang melihatnya untuk mempengaruhi pikirannya (halusinasi), sehingga orang itu akan melihatnya sebagai sosok tertentu sesuai halusinasinya. Dengan kontak batin itu sukma manusia juga dapat memberikan 'penglihatan gaib', wangsit dan bisikan gaib.  

Dengan keterbatasan kemampuannya itu sukma manusia seringkali tidak dapat memenuhi keinginan orang yang 'ngalap berkah',  tidak dapat menggunakan energinya untuk memberikan jasa pengasihan, penglaris dagangan, kewibawaan, dsb, tetapi bisa digunakan untuk menyakiti manusia lain dengan menyerang energi manusia dan pikirannya. Apalagi sukma manusia itu sendiri seringkali tidak berada di kuburannya, berada di tempat lain. Yang seringkali memenuhi keinginan orang yang "ngalap berkah" itu adalah mahluk halus lain selain sukma manusia.

Kemampuan para mahluk halus untuk membentuk atau merubah-rubah bentuk energinya adalah suatu kelebihan dibandingkan sukma manusia. Mereka memiliki semua kemampuan sukma manusia, termasuk kemampuan untuk "kontak batin". Selain sifat energi yang berbeda, sifat perwatakan masing-masing mahluk halus, yang bisa dipastikan dari aura kejiwaannya, juga berbeda-beda. Perbedaan sifat energi dan sifat perwatakan ini dapat dijadikan acuan untuk membedakan apakah suatu sosok mahluk halus itu adalah sukma manusia, ataukah bangsa jin, dedemit, buto, dsb (baca juga : Kesaktian Mahluk Halus).

Di alam gaib, selain sukma manusia, para mahluk halus berkomunikasi dengan cara "kontak batin",  atau  'telepati', sebagai bahasa roh mereka. Mereka tidak berkomunikasi dengan mulut mereka dan tidak terbiasa berbicara seperti manusia. Sehingga bila ada di antara mereka yang merasuk ke dalam tubuh manusia, walaupun mereka mengerti bahasa manusia di lingkungan tempat tinggal mereka, mereka akan agak kesulitan berbicara menggunakan mulut manusia, karena mereka tidak terbiasa. Suaranya akan terdengar seperti dipaksakan, melengking atau berat dan patah-patah.

Berbeda dengan sukma manusia. Selain bisa kontak batin, mereka juga terbiasa berbicara dengan mulut mereka seperti kebiasaan mereka sewaktu masih hidup. Manusia yang masih hidup, dengan pendengaran indera keenamnya, kadang juga dapat mendengarkan suara-suara mereka berbicara.


Semasa manusia masih hidup, sukmanya terdiri dari roh Pancer dan roh Sedulur Papat. Setelah meninggal, roh Pancer dan roh Sedulur Papat menyatu menjadi satu, membentuk satu sukma roh manusia dan berpindah dari jasadnya semula ke alam gaib yang kemudian sering disebut arwah.

Sukma manusia ada yang berkesaktian tinggi, tetapi lebih banyak yang biasa-biasa saja. Kesaktian sukma biasanya berasal dari kekuatan batin / spiritual, atau kekuatan dari keyakinan kepercayaan / agama semasa si manusia bersangkutan masih hidup di dunia.

Kekuatan dari hasil olah batin dan olah spiritual atau kekuatan dari keyakinan kepercayaan berhubungan dengan kekuatan sukma / roh manusia yang bersangkutan. Kekuatan dari sukma / roh ini akan terus terbawa sampai pada kehidupan manusia sesudah kematian. Artinya, setelah manusia tersebut meninggal dan sukmanya masuk ke alam roh, maka di alam sana sukma / rohnya akan menjadi sukma yang memiliki kekuatan yang akan dapat digunakannya untuk menghadapi gaib-gaib lain, jika diperlukan. Kekuatan sukma ini tidak sama, tergantung pencapaian kekuatan sukma masing-masing orang semasa hidupnya.

Kekuatan gaib dari sukma manusia titisan dewa atau yang memiliki khodam atau jimat / pusaka akan berbeda dengan kekuatan sukma manusia yang murni berasal dari dirinya sendiri. Semasa hidupnya manusia tersebut memiliki tambahan kekuatan gaib dari roh lain yang bersamanya, sehingga tampak "lebih" dibanding manusia lainnya. Tetapi setelah kematiannya, roh lain itu akan memisahkan diri darinya, sehingga kekuatan / kesaktiannya akan berkurang, kembali pada kekuatannya yang asli.

Begitu juga dengan pencapaian olah spiritual seseorang. Selain meningkatkan kekuatan sukma, kemampuan spiritual ini menjadikan sukma manusia tidak mudah tertipu dengan suasana alam gaib yang ditemuinya. Selain itu, pengetahuan spiritualnya juga bisa diberikan kepada manusia yang masih hidup sebagai 'penglihatan gaib' atau untuk bahan ramal-meramal tentang kejadian yang akan datang.

Bila anda dapat melihat gaib, dan penglihatan gaib anda itu sangat tajam dan dalam, anda akan dapat melihat lingkaran sinar yang biasa disebut halo, di belakang kepala sukma orang yang semasa hidupnya menekuni olah spiritual. Halo ini adalah pancaran sinar dari kekuatan spiritual yang telah dicapai oleh seseorang. Semakin luas / lebar lingkarannya semakin kuat spiritualitasnya. Selain itu, anda juga dapat melihat warna dari halo yang melambangkan tingkatan dimensi pengetahuan spiritual yang telah dicapai oleh seseorang.

Warna sinar lingkaran halo sesuai urutan tingkatannya adalah sbb :
 1. Warna Ungu.
 2. Warna Kuning.
 3. Warna Emas  (warna emas adalah tingkatan tertinggi).

Biasanya pancaran cahaya halo di belakang kepala seseorang sangat sulit dilihat, termasuk oleh orang yang dapat melihat gaib, apalagi kalau warna sinarnya tipis, tidak tebal. Biasanya pancaran cahaya halo ini hanya dapat dilihat oleh orang yang kemampuan melihat gaibnya sangat tajam. Tetapi lingkaran halo yang warnanya tebal (kuat) mungkin akan lebih mudah dilihat daripada yang pancaran sinarnya tipis. Tebal - tipisnya warna cahaya lingkaran halo itu menunjukkan kedalaman pengetahuan spiritual yang dikuasai oleh seseorang sesuai tingkatan pengetahuannya masing-masing.

Sinar lingkaran halo berwarna kuning dan emas menandakan orang tersebut sudah menekuni tingkatan olah pengetahuan spiritual dimensi yang tertinggi, yaitu spiritual ketuhanan, biasanya dilakukannya dalam rangka pencarian ketuhanan (baca juga : Olah Spiritual dan Kebatinan).

Contoh sukma sakti manusia, selain Budha Gautama dan para Pandawa, yang sudah sering kita dengar ceritanya adalah Prabu Airlangga, Ibu Kanjeng Ratu Kidul, Ibu Ratu Dewi Lanjar (adik Ibu Kanjeng Ratu Kidul), Prabu Siliwangi, Ki Ageng Pengging, dsb.




__________




  Lanjutan  >>  Penghambat Kematian