Obrolan Santai

  Karma dan Ikatan Sukma

 


Halaman ini berisi editan tanya jawab Penulis dengan pembaca tentang dunia gaib. Mudah-mudahan berguna untuk menambah pengetahuan dan hiburan.


---------------





 B :     Tentang eksistensi Sang Pencipta / Tuhan, benarkah ada ? 
Bila ada bagaimana sikapnya di kehidupan ini, apakah bersikap aktif (turun tangan langsung di alam fana ini, misal mengabulkan doa, membuat bencana dsb) ataukah bersikap pasif (mendelegasikan kekuasaanya pada ghaib semacam Dewa-Dewi)

Bagaimanakah tentang karma, apakah hukum tersebut benar ada di alam fana ini...
Apakah karma adalah hukuman Tuhan atas perbuatan2 kita sendiri ?
Bagaimanakah tentang reinkarnasi, apakah memang benar ada ? 
Kalau tidak salah itu dicetuskan oleh Sidharta Sang Budha, dan tentunya sebagai orang yang telah mencapai level keilmuan lahir dan batin serta spiritual yg tinggi, tentunya spiritualis selevel Budha Gautama tidak akan sembarangan memberikan ajaran....


 J :     Tuhan memang ada.
Kalau anda aktif menjalani laku ketuhanan, bukan sekedar menjalani agama, mudah2an anda juga bisa menemukanNya.
Tuhan melakukan segala sesuatu tidak secara langsung, kecuali kpd orang2 dan mahluk halus tertentu.
Untuk manusia Tuhan sudah memberikan berkat kehidupan kpd seluruh dunia.

Karma memang ada, tetapi bukan secara langsung datang dari Tuhan.
Karma lebih banyak terjadi karena hubungan sukma antar manusia, dan antara seseorang dengan leluhurnya, dan karena perbuatan pembalasan dari mahluk halus atas perbuatan2 seseorang.



______



 C :     Mas, nyumpahi orang yg jahat sama kita, diperbolehkan gak ?
Ada kegaibannya gak ?
Apakah setiap ibu kpd anak2nya mempunyai kemampuan untuk bisa mengutuk anak2nya ?

 J :     Ha ha ha jangan suka nyumpah2 lah. Gak baik.
Tapi ada aturan dalam soal sumpah-menyumpah, silakan saja dibuktikan, tapi sumpah-menyumpahnya
harus langsung berhadapan dengan orangnya. Ini terkait dengan kegaiban sukma.

Seseorang yang berkuasa, jika menyumpahi orang lain yang lebih rendah kuasanya, biasanya mandi
(manjur), ada kegaibannya.

Orang tua yang menyumpahi anak-anaknya, biasanya akan membuat anak-anaknya berat jalan hidupnya.
Seorang atasan yang menyumpahi bawahannya biasanya akan ada efeknya.

Ini juga menjadi peringatan bagi para orang tua supaya bisa menjadi pamomong, supaya bisa menurunkan restu kepada semua anak-anak keturunannya, supaya bisa membangun keluarga, jangan sampai ucapan2nya malah merusak / memberatkan kehidupan anak-anaknya.
Juga peringatan bagi orang-orang berkuasa supaya bisa mengemban amanat dari tanggung jawab yg harus dipikulnya terhadap orang-orang yang bergantung kepadanya.
Semuanya bersifat tanggung jawab moral.

Kalau kita menyumpahi orang lain yang lebih berkuasa daripada kita, biasanya sumpah itu akan berbalik kepada kita. Jadi jangan sembarangan menyumpahi orang.

Begitu juga terjadi pada anak-anak yang sering bertengkar / melawan orang tua, biasanya jalan hidupnya lebih berat dan banyak kesialan, tapi anak-anak yg lebih dekat dengan orang tuanya, yg disayang oleh orang tuanya, biasanya jalan hidupnya lebih ringan.

Kepada yang lebih berkuasa seharusnya kita mendekat supaya mendapatkan kasihnya atau supaya hidup kita penuh berkat, jalan hidup kita menjadi lebih ringan.


---------



 A :     Pak, ada teman saya yg minta dipilihkan batu mustika yg cocok untuk kerejekiannya.

 J :     Saya kok tidak yakin ya apakah ada batu mustika yg cocok dengan keinginan teman anda itu,
dan saya juga tidak berani merekomendasikan batu apapun untuknya.
Saya merasakan ada sesuatu yg lain tapi saya tidak tahu apa. Sepertinya ada sesuatu yg harus dibenahi terlebih dahulu, tapi saya tidak tahu apa. Jadi kalau hanya mengandalkan mustika saja, saya kok tidak yakin ya. Jadi rekomendasi saya dibatalkan dulu deh sampai saya tahu ada apa.

Saya kok merasa dia ada yg menghambat, entah dari dirinya sendiri, dari keluarga atau dari leluhur.
Sebaiknya dia konsultasi dulu deh kpd orang yg mengerti gaib spy jelas masalahnya, karena hasilnya tidak akan bisa maksimal kalau masih ada yg menghambat. Atau bisa juga konsultasi terawangan di situs Kaskus. Jadi rekomendasi saya untuknya dibatalkan dulu ya.
       
 A :     Saya sudah lama berkawan, tapi keberuntungannya jauh sekali Pak.
          Padahal kepada org lain dia suka membantu, Pak.
          Tapi yg dilakukannya tidak pernah berhasil.
          Jadi prihatin melihatnya.

 J :     Kayaknya masalahnya dengan keluarganya ya ...
          Apa dia suka bertengkar dgn orang tuanya ?
          Apa dia masih tinggal dengan orang tuanya ?

 A :     Menurut Bapak, yg menghambat datangnya dari orangtuanya yah?
          Kalau orangtua pasti menginginkan anak2nya sukses kan yah, Pak.
          Tapi apakah ada hal2 yg dilakukan oleh orangtua yg tanpa disadari dapat menghambat anak2nya, Pak?

 J :     Kelihatannya ada banyak aura negatif yg asalnya dari luar dirinya yg membawa kesulitan.
          Jadi sebaiknya masalahnya diselesaikan dulu,
          Cobalah berdamai dulu dgn orang tuanya.
          Atau mungkin perlu konsultasi dengan spiritualis.
          Mustika tidak memecahkan masalah.

          Mungkin ada kata2 orang tuanya yg memberatkan jalannya.
          Kalau istilah umum disebut tidak ada restu orang tua.
          Atau malah bisa dianggap kutukan orang tua ya ?


 A :     Katanya, kawan saya tidak pernah bermasalah besar dengan orangtuanya.
Hanya masalah biasa saja yg orang tuanya keluhkan, seperti contohnya jika tidak sering menelpon bertanya kabar. Itu saja. Tidak ada masalah besar antara beliau-beliau dengan kawan saya yang menyebabkan renggangnya hubungan atau pertengkaran dan sebagainya.

Jadi dia heran mengapa bisa dari orangtua.
Dia titip bertanya kepada Bapak; apakah bisa jika orangtua mengeluhkan hal2 tersebut di atas, maka itu dapat berakibat menjadi hambatan bagi jalan anak2nya ?
Ataukah jika orangtua menginginkan dia untuk tinggal disana, maka jalannya disini menjadi terhambat?
Dulu sekitar 20 tahun yg lalu pernah orangtuanya kecewa karena dia berpindah kota.
Orang tuanya ingin dia melanjutkan usaha orang tuanya, tapi dia sendiri ingin mandiri.
Apakah kekecewaan beliau-beliau kala itu dapat mempengaruhi hingga sekarang ?

 J :     Sebenarnya yg seperti ini dulu pernah juga ada orang yg menanyakan.
Secara umum, orang2 yg secara psikologis lebih berkuasa dari kita secara kebatinan mereka juga lebih berkuasa, sehingga ucapan2nya lebih manjur daripada ucapan kita, dan kalau kita menyumpahi mereka, seringkali ucapan kita itu berbalik kepada kita.

Jadi walaupun orang tua hanya mengeluh di batin saja, tapi karena ada kontak batin, maka itu akan      mempengaruhi anaknya, menyatu dengan sukmanya. Sama juga dengan pengaruh hari kelahiran seseorang, pengaruhnya menyatu dalam jangka panjang. Itulah sebabnya di jawa ada acara ruwatan dan sungkem kpd orang tua supaya diberkahi jalannya.

Jadi sebaiknya berdamai dulu saja dengan orang tuanya, minimal sekali saja lewat telpon, menyatakan kemantapannya untuk hidup mandiri dan minta orang tua untuk merelakannya. Soal nantinya direstui atau tidak, tidak masalah, minimal sudah berusaha berdamai dan menghormati orang tua.
Usahakan supaya bisa saling memaafkan dan dijaga supaya hubungannya harmonis, sehingga bisa saling memberikan aura yang positif satu orang kepada yg lain dan juga baik untuk diri mereka masing2.

A :      Jadi ada baiknya jika sekarang ia dan orang tuanya mengetahui bahwa itikad hati yg kurang berkenan
dari orang tua, meskipun kecil, dapat berpengaruh kepada anaknya. Dan apabila nanti ada sesuatu apa yg tidak berkenan, sebaiknya langsung dibicarakan kepada anak2nya, agar tidak ada yg disimpan dan membebani hati. Semoga dengan dibicarakannya hal ini, sedikit banyak dapat mengurangi energi negatif yg menghambat kemajuan kawan saya ya Pak.



-----------


 J :    
Kelihatannya sekarang ini aura negatif itu masih ada, tetapi kondisinya sdh agak memudar. Kelihatannya ruwatan tidak perlu lagi, karena aura negatif itu akan terus memudar sejalan dengan kelapangan hati masing2 pihak dan keiklasan orang tua untuk melepas bebas jalan anaknya. Dalam hal ini bukan berarti orang tuanya membebani anaknya, tetapi secara alami orang tua seringkali menginginkan anaknya untuk berada bersamanya. Ada rasa kangen ingin kumpul harmonis sbg keluarga. Dari pihak anak juga sebaiknya jangan ada beban di hati untuk bisa bersikap harmonis dgn orang tua.

Selama kondisinya masih belum bisa harmonis, selama itu pula akan ada ganjalan di hati yg bisa menjadi beban di hati dan jiwa, walaupun mungkin tidak disadari. Jika kedua belah pihak bisa saling membahagiakan, mudah2an walaupun jaraknya jauh, masing2 akan lepas dari beban perasaan negatif dan akan saling memberikan aura positif.

Kalau ada kesempatan, sebaiknya kapan2 mencoba mandi kembang telon / kembang setaman.
Mandi kembang bisa juga dilakukan di spa / salon kecantikan modern yg menyediakan layanan mandi kembang. Tujuannya adalah untuk membantu menyelaraskan aura2 negatif spy mjd positif.

A :    
Jika energi negatif tersebut ternyata masih ada, apakah bisa dihilangkan dengan bantuan mustika ?
Apakah bisa menggunakan mustika dgn disugestikan utk mengusir energi negatif yang menghambat jalan hidup kawan saya itu, pak?

 J :    
Energi negatif di sini tidak sama dengan energi negatif yg berasal dari mahluk halus, jadi tidak bisa dibersihkan dengan bantuan mustika. Energi negatif disini bersifat mengikat dan menyatu dengan jiwa / sukma dan hanya dapat dibersihkan dgn cara kebatinan, pembersihannya langsung kpd sukmanya. Kalau di jawa membersihkan energi negatif ini dengan cara diruwat.

Secara sederhana energi negatif ini bisa dihilangkan atau diselaraskan menjadi positif dengan cara mandi kembang telon atau kembang setaman. Tapi selama masih ada ganjalan di hati, selama itu pula akan selalu terbentuk aura negatif yang mengikat sukma.

Sebaiknya diselesaikan dulu masalahnya.
Sesudahnya saya menganjurkan supaya meminta pembersihan dan restu dari Tuhan, kalau dalam bahasa kebatinannya disebut dengan cara kebatinan ketuhanan / keagamaan.

Mungkin tidak disadari kalau ada timbunan kotoran yg tidak pernah dibersihkan maka akan terus menumpuk dan bisa menghalangi jalan. Itulah yg memberatkan jalan kita. Makanya harus dibersihkan dulu. Hanya saja kotoran ini tidak kelihatan mata.

Secara spiritual, ikatan sukma orang tua mempunyai kaitan yg erat dgn jalan kehidupan manusia keturunannya, misalnya berpengaruh thd jalan kerejekian dan jodoh.
Hubungan orang tua dengan anaknya, yg bersifat rasa sayang dan restu akan memperlancar jalan hidup anak2nya, tetapi yg bersifat kejengkelan dan sakit hati bisa membebani jalan hidup anak2nya.

Kaitannya adalah pada adanya ikatan sukma antara seseorang dgn keturunannya atau dgn leluhurnya.
Orang2 yg dekat dgn orang tuanya dan hubungannya baik biasanya dalam kehidupannya tidak banyak kegalauan dan jalan hidupnya ringan. Tetapi orang2 yg tidak dekat dgn orang tuanya atau hubungannya tidak baik biasanya akan banyak merasakan batinnya kosong dan hampa dan hidupnya lebih banyak halangannya.

Karena itu perlu adanya kedekatan dgn orang tua dan para leluhur untuk mengurangi hambatan / kesulitan hidup yg terkait dgn sukma, dan memintakan restunya spy jalan hidup kita lebih lancar dan lapang.

 A :  
Kawan saya ini coba berusaha sering gagal, setelah dikirimkan fotonya dan Bapak lihat, Bapak bilang ada energi negatif pd sukma kawan saya ini, dan lalu Bapak menyarankan untuk ruwatan / dimandikan.
Setelah itu kawan saya mengikuti saran Bapak untuk diruwat / dimandikan untuk menghilangkan energi
negatif tersebut.

Kepada spiritualisnya kami bercerita bahwa kawan saya ini sering kurang berhasil dalam usahanya karena ada energi negatif yang menghalangi, jadi mau minta diruwat agar bersih dari semua energi negatif yang mengikuti dan menghalanginya selama ini.

Kemudian setelah dimandikan, spiritualisnya mengoleskan minyak di dahi, pundak kiri, pundak kanan, telapak tangan kiri dan telapak tangan kanan kawan saya ini.
Kata spiritualis kepada kawan saya; "ini untuk kelancaran usaha kamu".

Kawan saya menjadi tidak tenang karena dia tidak meminta yang seperti itu, hanya minta diruwat saja,
karena kawan saya berpikir bahwa nanti setelah energi negatifnya sudah hilang, maka tidak akan ada lagi yang menghalangi jalannya.

Karena itu, 3 minggu setelah diruwat kawan saya minta ditanyakan lagi, minyak yang diolesi itu apa?
Dan fungsinya apa?
Jawabannya; "itu hanya buat bersih2 saja"

Dan beberapa waktu yang lalu ketika ada makhluk berwujud iblis merah bertanduk di depan tokonya, kan bapak bilang bahwa ada yang membacakan amalan gaib penglaris, kemudian kawan saya langsung teringat, apakah mungkin ini akibat minyak yang dioleskan oleh spiritualis itu, Pak?
Apakah pada saat diolesi minyak, ada disertai dengan amalan gaib yang mendatangkan sosok itu, Pak?

Kawan saya sangat khawatir sekarang, karena Bapak bilang itu dari golongan hitam.
Dia takut apabila nantinya berefek negatif bagi dia.
Jadi kawan saya minta tolong dilihatkan apabila memang benar dugaannya ini, Pak.

 J :    
Mengenai spiritualis ruwatannya itu saya kurang tahu ya, saya tidak tahu siapa orangnya.
Dulu memang ada sosok jin bertanduk itu di depan tokonya. Kelihatannya dia datang untuk membantu melariskan toko, karena dia datang setelah dibacakan amalan gaib untuk penglaris toko, dan memang keberadaannya disitu untuk membantu melariskan toko.
Berarti pembersihan gaibnya dulu adalah dengan cara memasang khodam penjaga dan sekalian khodam itu ditugaskan untuk membantu melariskan toko.

Dari foto teman anda itu saya melihat ada 3 sosok halus yg sekarang bersama teman anda.
1. Sosok kakek2 berjubah, di belakang kanannya.
    Kelihatannya itu khodam mustika / jimat. Sifatnya baik.
2. Sosok ibu2, di belakang kirinya.
    Kelihatannya itu khodam dari spiritualisnya.
    Itu jenis dhanyang golongan hitam dari tempat pesugihan. Tidak baik.
3. Sosok bgs jin bergaun putih spt kuntilanak, di sebelah kirinya.
    Kelihatannya itu berasal dari ruangan di dlm fotonya. Saya belum tahu tujuan keberadaannya, tapi
    tendensinya tidak baik.

Ruangan di dlm fotonya juga kurang baik. Auranya memudahkan sakit-penyakit, pikiran penat / stres, dsb.  Kelihatannya itu berasal dari sosok2 gaib yg tinggal disitu, tapi saya belum memeriksa lebih jauh.

Coba anda belajar menayuh spt dlm tulisan saya berjudul Ilmu Tayuh Keris, spy anda juga bisa tahu jawabannya. Coba saja belajar menayuh dgn bandul (cincin). Khodam cincin anda kan baik, jadi gak usah takut.

 A :     Kawan saya jadi panik dan takut, Pak.
          Itu ibu2 bangsa dhanyang pesugihan bagaimana cara mengusirnya?
          Bisakah Bapak tolong bantu usirkan, Pak?

          Dan kejadian ruwatan itu sudah 4 bulan yang lalu, jadi apakah selama ini khodam dari spiritualis ini
          sudah mengikuti dan memberikan efek tidak baik kepada teman saya, Pak?
          Minta tolong dibantu, Pak.

 J :    
Sejauh ini keberadaan sosok ibu2 itu tidak memberikan pengaruh negatif, justru pengaruhnya positif, karena dia ditugaskan untuk memperlancar urusan kerejekian teman anda itu.
Yg dikhawatirkan adalah resiko nantinya .........

Sebenarnya kasus spt itu sering sekali terjadi, termasuk di pulau Jawa, hanya saja tidak banyak orang yg menyadari, karena kebanyakan orang hanya menilai dari ampuh tidaknya tuahnya. Tidak banyak orang yg bisa menilai baik tidaknya sesosok gaib, apalagi menilai gol.putih atau hitam dan menilai akibat selanjutnya.

Mengusirnya gampang, nanti saya bantu.

Tapi anda harus belajar menayuh dulu ya.
Tunjukkan saja foto untuk ditayuh, nanti kan ketahuan jawabannya.
Ini kan berguna untuk anda sendiri, spy walaupun sedikit2 tapi bisa lah tahu jawabannya, spy tahu kegaiban yg ada di sekitar anda sendiri dan tidak perlu sampai tertipu oleh spiritualis ilmu atau penjual benda gaib.

 A :  
Saya sangat sangat berterima kasih bilamana Bapak bersedia membantu mengusir sosok ibu2 bangsa dhanyang ini, karena setelah kejadian ini, tidak ada lagi ahli spiritual dan paranormal yang saya percaya, pak.
Apakah untuk mengusir ibu2 dhanyang itu, saya harus bisa menayuh dulu ya Pak?
Kawan saya bilang dia semalaman tidak bisa tiidur, tidak bisa tenang selama belum diusir.
Dia bertanya terus bagaimana caranya, siapa yang akan melakukannya?

 J :    
Yg akan mengusir dhanyang itu nantinya saya.
Memang tidak ada hubungannya dgn anda menayuh, hanya saja saya ingin spy anda bisa menayuh, karena anda sering berhubungan dgn gaib, dan nantinya anda juga bisa mencaritahu atas setiap pertanyaan anda apakah jawaban saya benar atau salah.
Anggap saja ini kursus kilat gratis.

 A :  
Iya, Pak.
Terima kasih Bapak sudah bersedia membantu.
Saya juga akan terus coba belajar menayuh, Pak.
Apabila ada yang kurang mengerti, akan saya tanyakan kepada Bapak.

Kawan saya titip pesan apabila ibu2 dhanyang itu sudah diusir, harap mengabari agar dia tidak khawatir lagi
Terima kasih, Pak.

 J :     Gampang kok itu, gak susah
          Barusan juga sudah saya usir
          Gak usah khawatir lagi.
          Spiritualis ruwatannya jangan dipakai lagi, karena hubungan ilmunya ternyata dgn tempat pesugihan.
       
 A :     Kawan saya titip terima kasih banyak, Pak.
          Berarti sudah tidak ada kemungkinan untuk kembali lagi kan yah, Pak?
          Terus dia titip tanya, ruwatan yang dilakukan pada waktu itu apakah berhasil atau tidak berhasil, Pak?

 J :  
Mengenai ruwatannya, kelihatannya spiritualisnya berbeda jalan.
Seharusnya ruwatan itu adalah untuk membersihkan beban kotoran aura negatif yg mengikat sukma. Tetapi yg dilakukannya adalah membantu rejeki dgn memberikan khodam untuk kerejekian.

Kelihatannya aura negatif itu masih ada, tetapi kondisinya sdh agak memudar. Kelihatannya tidak perlu ruwatan lagi, karena aura negatif itu akan terus memudar sejalan dgn kelapangan hati masing2 pihak dan keiklasan orang tua untuk melepas bebas jalan anaknya. Dalam hal ini bukan berarti orang tuanya membebani anaknya, tetapi secara alami orang tua seringkali menginginkan anaknya untuk berada bersamanya. Ada rasa kangen ingin kumpul harmonis sbg keluarga. Dari pihak anak juga sebaiknya jangan ada beban di hati untuk bisa bersikap harmonis dgn orang tua.

Kalau ada kesempatan, sebaiknya kapan2 mencoba mandi kembang telon / setaman. Mandi kembang bisa juga dilakukan di spa / salon kecantikan modern yg menyediakan layanan mandi kembang.
Tujuannya adalah untuk membantu menyelaraskan aura2 negatif spy mjd positif.


-----------



 A :     Pak, kalau menurut pandangan Bapak, sebenarnya jika manusia meminta bantuan makhluk halus itu
          boleh atau tidak?
          Apakah ada suatu karma yg harus diterima oleh manusia, jika dalam hidupnya sering dibantu oleh
          makhluk halus?

 J :    
Mengenai pertanyaan manusia meminta bantuan makhluk halus itu boleh atau tidak dan apakah ada suatu karma yg harus diterima oleh manusia jika dalam hidupnya sering dibantu oleh makhluk halus, kalau dalam konteks keagamaan, masing2 agama mempunyai ajaran sendiri2 soal itu.

Saya akan menjawabnya secara pandangan pribadi.

Sedapat mungkin kita jangan mengandalkan keselamatan dan keberuntungan hidup kpd gaib, karena seharusnya yg bekerja dan berbuat untuk kehidupannya adalah si manusia itu sendiri, sedangkan keberadaan gaib bersifat mendampingi dan membantu. Jadi adanya keberadaan gaib itu harus dipandang sbg yg membantu kehidupan kita dan posisinya sama dgn manusia lain yg membantu, jadi jangan menggantungkan hidup kpd mereka.

Secara keduniawian dan keilmuan, sebenarnya sudah biasa manusia dibantu oleh sosok2 gaib, baik disengaja ataupun tidak, disadari ataupun tidak. Mengenai boleh atau tidak dan karma, sebaiknya kita memperhatikan pantangan dan larangannya, yaitu rambu2 mengenai mana yg boleh dan mana yg tidak dan mana yg mendatangkan karma.
    
Secara garis besarnya ada kriteria dasar sbb :

1. Jangan berhubungan dengan sosok-sosok gaib yang wataknya jelek.
Kita harus tahu dengan siapa kita berhubungan. Dalam hal ini yang utama adalah kita harus mengenal sifat perwatakan sosok gaibnya, apakah wataknya baik atau jelek, dan apa akibat dari hubungan itu.
Dengan cara yang sederhana kita bisa belajar mengetahuinya dengan cara yang serupa seperti dalam tulisan saya tentang Ilmu Tayuh Keris.
Tapi secara awam kita bisa mengetahui tanda-tandanya apakah wataknya baik atau jelek dari jenis sesaji permintaannya / persyaratannya. Kalau sesajinya tidak pantas, misalnya menyediakan daging mentah, darah manusia atau darah binatang, atau bahkan nyawa seseorang, maka perjanjian / sesaji yang seperti itu harus kita tolak, karena kemungkinan besar kita berhubungan dengan gaib-gaib yang tidak baik wataknya.

2. Jangan berhubungan dengan gaib yang di dalamnya ada perjanjian tertentu yang tidak pantas, apalagi bila perjanjian itu terkait dengan anak, istri / suami, keturunan ataupun orang lain.
Sudah umum bila manusia mempunyai benda jimat, pusaka atau khodam ilmu / pendamping, dan sudah umum bahwa di dalamnya terkait dengan perjanjian / keharusan memberikan sesaji tertentu.
Jika sesajinya masih bersifat normal dan umum, mungkin bisa kita terima.
Sesaji berupa minyak arab atau kembang atau dupa, masih bersifat umum dan pantas.
Tapi kalau sesajinya tidak pantas, misalnya menyediakan daging mentah, darah, atau bahkan nyawa seseorang, maka perjanjian / sesaji yang seperti itu harus kita tolak, karena kemungkinan besar kita berhubungan dengan gaib-gaib yang tidak baik wataknya.

Sebagai prinsip dasar, kedua kriteria di atas adalah patokan untuk kita tidak berhubungan dengan gaib-gaib yang tidak baik. Tapi seringkali kita tidak menyadari itu, terutama jika sesajinya sama saja dengan sesaji yang umum, tidak seperti sesaji yg di atas. Ditambah lagi seringkali spiritualisnya tidak dengan jelas menyatakan akibat akhir dari hubungan kita dengan sesosok gaib.


Karma dimengerti sebagai suatu kejadian yang bersifat sebab dan akibat, yaitu kejadian baik atau buruk pada masa sekarang atau masa depan yang berasal dari akibat perbuatan sebelumnya.

Mengenai hubungan dengan gaib yang mendatangkan karma, sebagian besar pandangan orang adalah berdasarkan dogma agama dan pandangan secara awam, sehingga suatu kejadian tidak baik yang menimpa seseorang dianggap sebagai karma, apalagi kalau dulunya orang itu berhubungan dengan gaib.

Tapi secara pengertian kegaiban, hubungan dengan gaib yang mendatangkan karma jelek adalah yang berasal dari 2 kriteria di atas, yaitu berhubungan dengan sosok gaib yang wataknya jelek dan hubungan dengan gaib yang di dalamnya ada perjanjian tertentu yang tidak pantas, apalagi yg berhubungan dengan anak, istri dan keturunan.

Dalam hal ini kita harus memahami bahwa berdasarkan 2 kriteria dasar di atas sebaiknya kita tidak melakukan hubungan yang seperti itu.

Dalam hal ini kita juga harus memahami bahwa berdasarkan 2 kriteria dasar di atas walaupun kita tidak melakukan hubungan yang seperti itu, kita juga bisa mengalami kejadian yang disebut karma itu jika ada orang tua atau leluhur kita dulu yang melakukan hubungan itu atau kita menjadi tumbal dari perbuatan orang lain.


 A :     Pak, apakah khodam dari leluhur selalu baik untuk keturunannya ?
          Karena dari cerita yang kami dengar, orang berilmu atau yang memiliki khodam pendamping, proses
          kematiannya jadi sulit.

Setelah membaca artikel Bapak beberapa waktu lalu, disebutkan bahwa yg berasal golongan hitam yang menyebabkan demikian.
Tapi apakah  PASTI  jika yg dari golongan putih tidak akan menyebabkan kesulitan dalam proses kematian yah Pak?

 J :    
Yang namanya resiko selalu ada.
Memang tidak bisa dipastikan apakah yang dari golongan putih pasti tidak akan memberatkan kematian. Semuanya harus dilihat satu per satu sosok gaibnya untuk dinilai karakternya dan untuk dinilai apakah nantinya akan ada resiko yg negatif jika berhubungan dengannya.
Tapi secara garis besarnya, yg dari golongan hitam  pasti  akan memberatkan dlm proses kematian, bahkan juga dapat memberikan resiko lain baik selama si manusia masih hidup ataupun sesudah meninggalnya.

Khodam dan benda gaib dari leluhur, yg diberikan langsung oleh seorang leluhur kpd keturunannya biasanya adalah benda2 dan khodam yg menurut mereka berharga dan baik untuk diberikan kpd keturunannya, dan mereka tidak iklas kalau milik mereka yg berharga itu oleh keturunannya hanya diperlakukan baik selama dibutuhkan dan akan diabaikan kalau sudah tidak dibutuhkan. Mereka juga akan berat hati dan kecewa jika dianggapnya keturunannya itu tidak iklas menerimanya, sedangkan mereka iklas memberi.

Pemberian khodam atau benda gaib kpd seorang keturunan adalah salah satu bentuk perhatian leluhur kpd anak cucu keturunannya.
Selain yg dlm bentuk pemberian khodam atau benda gaib, bentuk perhatian leluhur juga bisa dalam bentuk lain, yaitu sosok leluhur itu sendiri datang dan mendampingi orang keturunannya atau tinggal di rumahnya, atau hanya mengawasi saja dari jauh, tetapi lebih banyak lagi sosok leluhur yang tidak memperhatikan keturunannya karena keturunannya sudah sangat banyak beranak pinak, shg tidak bisa diperhatikannya satu per satu, juga tidak semua leluhur mempunyai cukup kekuatan kebatinan dan spiritual untuk keperluan itu.

Biasanya seorang leluhur memberikan sesuatu kpd keturunannya adalah karena mereka mempunyai rasa sayang kepada keturunannya, sama seperti kita sayang kepada anak dan cucu kita. Biasanya yg diberikannya adalah yg baik menurut pertimbangan mereka, sedangkan yg tidak baik biasanya tidak akan diberikannya.

Tetapi selain yg sifatnya pemberian langsung dari leluhur, ada juga khodam dan benda gaib yg dulunya adalah milik leluhur yg  datang sendiri  kpd seorang keturunannya. Jenis inilah yg seringkali tidak jelas apakah sifatnya baik ataukah tidak.

Selain itu ada juga khodam dan benda gaib yg bukan milik leluhur, tetapi datang sendiri kpd seseorang. Jenis ini juga tidak jelas apakah sifatnya baik ataukah tidak.

Mengenai kekhawatiran seseorang thd benda2 gaib dan khodam dari leluhur memang seharusnya menjadi dasar untuk kehati-hatian. Memang tidak pasti bahwa apa yg diberikan oleh seseorang, termasuk pemberian leluhur kpd keturunannya, adalah pasti baik dan tidak beresiko, kecuali kita tahu ending-nya.
Itu adalah kebijaksanaan yg logis.
Karena itu kita harus bisa menilai sendiri baik buruknya, minimal dgn cara menayuh, karena semua resikonya, baik atau pun buruk, kita sendiri yg akan mengalaminya. Semuanya harus dilihat satu per satu benda dan sosok gaibnya untuk dinilai karakternya dan untuk dinilai apakah nantinya akan ada resiko yg negatif jika berhubungan dengannya.


--------

 A :    
Selamat siang, Pak.

Saya ingin bertanya, tapi sebelumnya saya akan menceritakan secara singkat latar belakang dari pertanyaan saya.

Leluhur saya adalah orang yg boleh dikata orang terkaya di kota saya.
Bahkan tanah yg dimiliki sebesar sepertiga dari kota ini.
Akan tetapi, keturunannya yg hidup sekarang hampir seluruhnya memiliki kehidupan pas-pasan yang berbalik 180 derajat dari kehidupan leluhur di masa dahulu.
Dan banyak dari keturunan yg sekarang bersifat sangat serakah serta rela bersengketa dengan saudara sedarah demi memperebutkan sisa2 harta leluhur untuk memperkaya diri sendiri.
Adapun beberapa bagian dari harta tersebut yg mereka miliki, sebanyak apapun tetap habis tak bersisa bagai tertiup angin.

Dahulu saya teringat pernah berbincang dengan Bapak mengenai kutuk dari orangtua terhadap anaknya.
Nah, pertanyaan saya Pak,
Apakah roh leluhur / orangtua kita yang sudah meninggal masih bisa mengutuk keturunannya yg masih hidup, Pak?
Apakah kejadian di atas dapat disebabkan oleh kutukan dari roh leluhur atas ketamakan keturunannya, Pak?

Terima kasih sebelumnya, Pak

 J :    
Sebenarnya saya tidak ingin membahas kehidupan orang lain, saya juga tidak suka menelisik urusan hidupnya orang lain. Tapi karena di dalamnya ada juga nasehat untuk anda, maka akan saya ungkapkan disini.
Tapi sebaiknya apa yg saya ungkapkan disini jangan dianggap sbg kebenaran mutlak, karena anda sendiri yg harus menelisik kebenarannya. Saya hanya mengungkapkan saja apa yg saya ketahui.

Mengenai pertanyaan anda :
Apakah roh leluhur / orangtua kita yang sudah meninggal masih bisa mengutuk keturunannya yg masih hidup ?
Apakah kejadian di atas dapat disebabkan oleh kutukan dari roh leluhur atas ketamakan keturunannya ?

Roh leluhur / orangtua yang sudah meninggal masih bisa mengutuk keturunannya yg masih hidup, terutama adalah leluhur yg kadar kebatinannya / kekuatan sukmanya cukup kuat. Kalau kekuatan sukmanya masih lemah, mungkin pengaruhnya tidak begitu terasa, mungkin hanya akan menjadi sebentuk rasa keprihatinan saja.

Kasus seperti yg anda ceritakan itu bisa juga adalah perbuatan dari mahluk halus, yg karena tidak suka dengan perbuatan seseorang, kemudian mahluk halus itu "menghukum" orang itu. Hukumannya bisa bersifat fisik, bisa juga berakibat mengganggu / merusak jalan kehidupan manusia. Ini sudah banyak terjadi yang di masyarakat sering disebut kesambet, ketulah, dsb. Itulah juga sebabnya ada ritual2 untuk pembersihan gaib, ruwatan, dsb.

Tapi kelihatannya apa yg terjadi dalam cerita anda di atas bukanlah karena sebab-sebab di atas, tapi penyebabnya lebih tinggi lagi. Kelihatannya yg terjadi adalah "hukuman" dari Tuhan. Allah mengambil kembali berkatNya dari orang2 itu.
Kelihatannya orang2 yg anda sebutkan itu, di satu sisi mereka kelihatan agamis, seperti orang baik, di sisi lain ada perbuatan2 mereka yg tidak sejalan dgn sisi baik dan agamis mereka. Tamak dan Munafik.

Sejak dulu sampai sekarang
Allah tidak suka dgn orang2 tamak dan munafik.
Allah tidak suka yg setengah2, apalagi kpd orang2 yg sering mengatasnamakan Tuhan untuk dirinya sendiri.

Allah ingin totalitas.
Karena itu sebaiknya juga manusia bisa totalitas dalam hidupnya, entah ia totalitas kepada Tuhan, atau totalitas kepada duniawinya. Totalitas menjadi mahluk Tuhan, atau totalitas menjadi mahluk duniawi. Jangan setengah2, karena yg seperti itu tidak akan diterima oleh Tuhan.

Sekalipun nantinya tidak diterima oleh Tuhan, tapi lebih baik bagi manusia jika ia memang berhasrat tinggi akan keduniawian, ia totalitas kpd keduniawiannya itu. Setidaknya selama hidupnya di dunia ia akan menikmati keduniawiannya, menikmati berkah duniawi.

Jangan menganggap urusan ketuhanan bisa dilakukan setengah2.
Itu sama saja dengan makanan yg anyeb, yg akan dimuntahkan oleh Tuhan.


 A :    
Baik, Pak.
Memang benar ada banyak yang agamis dan suka membawa nama Tuhan pula untuk menyelubungi ketamakannya.

Mengenai totalitas, saya agak dilema Pak.
Di zaman dulu, manusia hidup beternak dan bercocok tanam untuk kelangsungan hidupnya.
Zaman sekarang untuk makan, manusia harus bekerja mendapatkan uang untuk membeli makanan, bagi diri sendiri dan bagi anggota keluarga.

Begitupun tempat tinggal, di zaman nabi / rasul mereka tinggal nomaden berpindah2 dan tinggal dalam kemah atau tenda di ladangnya seperti Abraham.
Nah di zaman sekarang, manusia dan keluarganya harus tinggal di rumah, dimana membutuhkan uang untuk membeli tanah dan untuk membangun rumah atau mungkin menyewa rumah.

Demikian pula dengan transportasi
Zaman dulu manusia berjalan kaki berhari-hari atau naik kuda yang hanya membutuhkan rumput dan air saja. Sekarang, manusia kemana2 harus bayar jasa ojek, angkot atau taxi.

Manusia secara tidak langsung dipaksa untuk masuk dalam tatacara duniawi untuk bertahan hidup.
Sukar menerapkan totalitas 100 persen.
Dan peraturan Firman yang sudah ada sejak zaman dulu dengan kehidupan manusia pada masa lampau apakah tetap diberlakukan sama dengan kehidupan manusia di masa sekarang, Pak ?
Jika ya, berarti lebih mudah bagi manusia zaman dulu untuk totalitas daripada manusia zaman sekarang kan yah, Pak.

Apakah untuk manusia zaman sekarang, bekerja diselingi dengan berbuat baik dan tidak menyakiti orang tetap tidak akan diterima, Pak ?

Apakah untuk manusia zaman sekarang, bekerja diselingi dengan berbuat baik dan tidak menyakiti orang tetap sia-sia dan tidak berguna karena tidak total, Pak ?

Terima kasih sebelumnya, Pak.

 J :    
Pengertian totalitas kpd Tuhan yg saya maksud itu bukan berarti manusia harus total membaktikan jalan hidupnya seperti biarawan atau membujang seperti pastur atau meninggalkan hidup keduniawiannya untuk hanya fokus kpd Tuhan, juga bukan berarti kita tidak boleh kaya.

Totalitas ini lebih bersifat hati dan pikiran yang melandasi perbuatan2 kita.
Kita harus menjaga hati. Jangan sampai perbuatan2 kita dilandasi oleh niat dan hasrat yg tidak baik di mata Tuhan.

Tuhan tidak membatasi kita dalam bekerja atau berbuat.
Tuhan tidak melarang kita untuk menabung atau menjadi kaya dan berkuasa. Mungkin saja itu memang adalah berkat Tuhan untuk kita. Kita saja yg tidak tahu, sehingga menganggap itu adalah hasil jerih payah kita sendiri.
Tapi kalau kita ingin totalitas kpd Tuhan, jangan sekali-kali memunculkan ego dan kesombongan, jangan bermegah diri, jangan memunculkan ketamakan dan sikap munafik, yang itu berlawanan dgn kehendak Tuhan.

Begitu juga kalau kita menginginkan dunia ini, jangan sekali-kali membawa2 nama Tuhan, kecuali Tuhan sendiri yg memberikan dunia ini kpd kita.

Kalau karena ketamakan kita kemudian kita melakukan perbuatan2 yg tercela, dan kita menutupinya dengan perbuatan2 yg juga duniawi sehingga orang lain tidak menyadari kebusukan kita, itu adalah sesuatu yg biasa yg dilakukan oleh orang2 yg tidak mengenal Tuhan. Kesalahan2nya itu bersifat kekhilafan. Suatu saat jika ia menyadari kesalahan2nya itu ia masih bisa bertobat.

Itu masih lebih baik daripada kita menutupi kebusukan kita dgn perbuatan2 agamis, rajin beribadah, atau sering menyebut nama Tuhan, seolah-olah benar kita orang yg mulia akhlaknya. Terhadap orang2 yg seperti itu Pintu Kemurahan Tuhan tidak akan dibukakan baginya. Mungkin semua berkat Tuhan juga akan diambilNya kembali, sehingga yg akan dinikmatinya kemudian hanyalah berkah duniawi saja. Dan jika ia sebelumnya sudah tercatat sebagai Anak-Anak Allah, mungkin namanya itu juga akan dicoret dari dalam daftar. Sekalipun orang lain tidak mengetahuinya, karena manusia hanya melihat apa yg tampak saja di matanya, tetapi Allah melihat hati.

Mengenai pertobatan, seandainya kita menyadari kesalahan2 kita, seharusnyalah kita segera bertobat. Dengan berbuat begitu kita sudah memuliakan Tuhan, sehingga kekhilafan kita akan diampuniNya.

Tetapi jangan bertobat itu direncanakan nanti saja kalau sudah kaya, atau nanti saja kalau sudah tua.
Yg seperti itu akan mendatangkan kemurkaan Tuhan kepada kita. Kita tidak tulus bertobat. Kita tidak memuliakan Tuhan, tetapi hanya memuliakan diri kita sendiri.

Totalitas itu bisa dikatakan puasa hati dan batin.
Kita harus selalu selaras dgn kehendak2 Tuhan atas manusia, jangan menyimpang dari itu.

Karena itu sebaiknya manusia bisa totalitas dalam hidupnya, entah ia totalitas kepada Tuhan, atau pun totalitas kepada duniawinya. Totalitas menjadi mahluk Tuhan, atau totalitas menjadi mahluk duniawi. Jangan setengah2, karena yg seperti itu tidak akan diterima oleh Tuhan.

Sekalipun nantinya tidak diterima oleh Tuhan, tapi lebih baik bagi manusia jika ia memang berhasrat tinggi akan keduniawian, ia totalitas kpd keduniawiannya itu. Setidaknya selama hidupnya di dunia ia akan menikmati keduniawiannya, menikmati berkah duniawi, menjadi mahluk duniawi yang menikmati keduniawiannya.
Jangan sampai sengsara hidupnya karena Tuhan menghukumnya.


Yg anda katakan manusia jaman dulu lebih mudah untuk totalitas daripada manusia jaman sekarang, menurut saya malah sebaliknya, jaman sekarang justru lebih mudah untuk orang bisa totalitas.

Kehidupan jaman dulu sangat keras, apalagi jika kita sudah berkeluarga. Jika kita hidup di jaman dulu kita harus bisa mencukupi kebutuhan2 kita sendiri entah bagaimanapun caranya. Bertani dan beternak harus dalam skala usaha yg bisa mencukupi kebutuhan kita. Dan kita harus pintar2 mengatur dan menjaga ketersediaan isi lumbung kita sampai panenan berikutnya. Mengemis tidak bisa kaya.

Kehidupan dan teknologi yang masih sangat sederhana memaksa manusia harus bekerja keras. Untuk menjual hasil panenan saja orang harus membawanya berhari-hari ke pasar di kota besar. Ditambah lagi ada banyak ancaman perampokan dan penyamun, karena aparat keamanan masih terbatas, tidak seperti di jaman sekarang ini yg aparat kepolisian / tentara / hansip / trantib / satpam ada dimana-mana. Tidak seperti sekarang yang serba mudah yang dengan hanya membayar sejumlah rupiah saja manusia bisa bepergian kemana-mana dengan nyaman dalam tempo yang lebih singkat.

Kehidupan jaman sekarang lebih ringan. Sekalipun tuntutan hidup jaman sekarang lebih banyak daripada kehidupan jaman dulu, dan sekalipun penghasilan kita tidak selalu besar, tetapi memenuhi kebutuhan hidup lebih mudah, lebih ringan. Kalau kita bisa bekerja ikut orang, di pabrik, di kantor, menjadi buruh / pegawai, menjadi pelayan / pembantu, penghasilan kita akan terjamin. Bertani, berdagang, nelayan, bisa mendatangkan penghasilan. Bahkan bekerja mengumpulkan sampah dan barang2 bekas juga bisa kaya. Mengemis juga bisa kaya.

Dengan kehidupan yg lebih ringan ini lebih mudah untuk kita bisa totalitas kpd Tuhan dengan cara membersihkan hati dan batin dan pikiran, dan mengsyukuri apa yang sudah kita miliki.

Yg membuat berat adalah hasrat dan keinginan kita sendiri, karena kita selalu menginginkan lebih, ingin hidup terhormat, dsb, sehingga berapa pun besarnya penghasilan kita, selalu kita menginginkan lebih. Ditambah lagi hasrat kita ingin hidup terhormat dan terpandang yg mendorong kita mengkoleksi barang2 aksesories mewah dan mahal. Berapa pun banyaknya tabungan dan harta kita, tidak akan kita rasakan cukup, tidak akan ada batas cukupnya. Rumah gedong, rekening gendut dan mobil2 mewah juga bukan ukuran untuk merasa cukup. Berapa banyak orang masuk penjara karena ketamakannya ?

Itu juga yg terjadi ketika Nabi Daud dihukum Tuhan karena hasrat duniawinya yg menyimpang dari kehendak Tuhan, padahal semua berkat Tuhan sudah diberikan kepadanya. Sekalipun ia sudah menjadi raja dan kuasa dunia diberikan kepadanya, ia benar2 menjadi orang yg terberkati, tetap saja ia dihukum Tuhan ketika dgn akal liciknya ia mengawini istri / janda prajuritnya. Padahal sebagai seorang raja, apakah ia kekurangan perempuan / istri / selir ? 
The world is not enough
.

 A :    
Baik, Pak.
Terima kasih banyak atas penjelasannya.
Saya sudah tidak kalut lagi dengan mengetahui makna dari totalitas yang dimaksudkan.

Terima kasih banyak yah, Pak.




-------------------










 



Comments