https://sites.google.com/site/thomchrists/dunia-gaib-mahluk-halus/Dewa-dan-Wahyu-Dewa/20140206_143830-2.JPG


 

Dewa dan Wahyu Dewa 

 


Pemerintahan dewa disusun oleh para tokoh / pemuka bangsa dewa. Manajemen mereka sangat terkoordinasi. Sekalipun bangsa dewa memiliki pemerintahan di kahyangan, memiliki pemimpin, memiliki panglima, senopati dan prajurit, tetapi tidak ada yang menjadi raja. Yang ada adalah kepemimpinan yang diakui oleh semua dewa dan masing-masing dewa memiliki tugas dan peran yang saling terkoordinasi.

Dari sisi perwatakannya, bangsa Dewa adalah mahluk halus yang berintelijensi tinggi seperti manusia dan mengenal budi pekerti. Mereka mempunyai peradaban dan pemerintahan dewa. Pada dasarnya mereka mempunyai tempat tinggal tetap di Kahyangan yang secara duniawi letaknya ada di lereng Gunung Himalaya. Tetapi banyak Dewa yang tinggal di sekitar dunia manusia, karena mempunyai maksud dan tujuan tersendiri. Tetapi secara berkala mereka kembali bertemu / berkumpul di kahyangan untuk urusan pemerintahan Dewa.

Para Dewa mengemban tugas dari Sang Penguasa Alam untuk menuntun dan mengayomi kehidupan manusia. Karena itu sebagian besar tujuan dari manajemen para dewa adalah untuk mempengaruhi kehidupan manusia, secara langsung maupun tidak langsung, supaya kehidupan manusia sesuai dengan kehidupan yang dikehendaki oleh para dewa, yaitu tertib, beradab dan berbudi pekerti. Sehingga bila diketahui ada / akan ada seorang manusia atau mahluk halus yang berpotensi menjadi perusak kehidupan maupun moral manusia, mereka akan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah / mengatasinya. Sesudahnya, bila ada manusia atau mahluk halus yang dianggap berjasa bagi dewa, atau dikasihi dewa, maka manusia itu akan mereka angkat kepada derajat yang tinggi (menurut pandangan para dewa), yaitu dijadikan dewa atau dewi, diberikan kemuliaan setingkat dewa dan diberi tempat tinggal di kahyangan.

Dalam menjalankan tugasnya di bumi yang terkait dengan kehidupan manusia para dewa tersebar ke banyak tempat. Mereka mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan mereka terutama adalah dengan para pemimpin manusia (raja / presiden) di seluruh dunia dan tokoh-tokoh manusia tertentu yang mereka berkenan yang posisi keberadaannya dan perbuatan-perbuatannya dianggap mempunyai pengaruh yang penting dan besar terhadap banyak orang. Peranan para dewa masih terus berlangsung hingga masa sekarang, tetapi tidak semua orang dapat melihat atau berhubungan dengan dewa, karena tidak memiliki spiritualitas yang tinggi yang menjadi dasar untuk mengenal dewa.

Para dewa mempengaruhi kehidupan manusia  secara langsung  dengan cara memerintahkan, menginspirasi atau menunjukkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh manusia tertentu yang ditemuinya, atau mengatur suatu pertemuan seseorang dengan seseorang yang lain, sehingga kemudian situasi dan kondisi menjadi berubah.

Tetapi para dewa lebih banyak mempengaruhi kehidupan manusia secara tidak langsung , yaitu dengan cara menurunkan wahyu-wahyu dewa dan berkat kepada orang-orang tertentu di seluruh penjuru bumi. Adanya wahyu di dalam diri seseorang yang terpilih (kewahyon) menjadikan karisma dari sifat-sifat kepribadian orangnya akan memancar keluar dan dapat dirasakan perbawanya oleh semua orang di sekitarnya dan perbuatan-perbuatan orang itu akan menjadi berlipat ganda pengaruhnya terhadap kehidupan banyak orang yang orang itu oleh para dewa dijadikan lokomotif perbaikan hidup dan kemajuan jaman.



Para dewa mempengaruhi kehidupan manusia lebih banyak dilakukan secara tidak langsung dengan cara menurunkan wahyu-wahyu tertentu kepada manusia-manusia tertentu. 

Pengertian Wahyu secara umum adalah diturunkannya restu Tuhan (Dewa) kepada seseorang yang kewahyon sesuai tujuan wahyunya.

Wahyu hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja yang para Dewa berkenan, bukan kepada sembarang orang, sehingga sekalipun seseorang bertirakat atau bertapa brata di tempat-tempat yang angker dan wingit, tidak pasti bahwa kemudian orang itu akan menerima wahyu. Mungkin yang akan diterimanya hanyalah sebatas wisik / wangsit / bisikan gaib saja dari mahluk-mahluk halus penghuni tempatnya bertirakat.

Wahyu hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja yang para dewa berkenan memberikan wahyunya kepadanya, walaupun orang-orang itu tidak ada hubungan batin dan perbuatan dengan dewa, karena para dewa bermaksud memberikan kebaikan kepadanya, atau karena adanya suatu tujuan yang khusus yang orangnya dijadikan lokomotif perbaikan kehidupan atau orangnya dijadikan lokomotif perubahan jaman.

Tuah / fungsi / manfaat yang utama dari sebuah wahyu adalah sebagai penginspirasi sikap berpikir dan untuk melipatgandakan pengaruh dari perbuatan-perbuatan orang-orang si penerima wahyu.

Manfaat wahyu itu akan bekerja sendiri seiring dengan aktivitas dan perbuatan si manusia penerima wahyu yang sejalan dengan sifat kegaiban wahyunya, sehingga perbuatan-perbuatan orangnya memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dirinya tanpa wahyu. Wahyu yang sudah ada pada seseorang akan menjadi pasif peranan dan pengaruhnya jika orang si penerima wahyu tidak melakukan aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban wahyunya.

Tujuan dari diturunkannya wahyu dewa adalah untuk menjadi penginspirasi pikiran orang-orang si penerima wahyu, memperkuat pengaruh dari sifat-sifat baik yang ada pada dirinya dan memperkuat pengaruh perbuatan-perbuatannya. Pengaruh sifat-sifat baiknya dan pengaruh perbuatan-perbuatannya itu menjadi lebih besar daripada dirinya sebelumnya yang tanpa wahyu dan orangnya menjadi lebih terbuka pikirannya, pikirannya menjadi lebih terinspirasi mengenai perbuatan-perbuatan apa saja yang harus ia lakukan.

Wahyu dewa diturunkan kepada orang-orang tertentu yang (diharapkan nantinya) posisinya atau pengaruh perbuatan-perbuatannya penting dalam kehidupan manusia, misalnya yang (diharapkan nantinya) menjadi seorang pemimpin (raja / presiden) dan pejabatnya, para spiritualis / pemuka agama / kerohanian, dan para ksatria utama, yang (diharapkan nantinya) keberadaan dan perbuatan-perbuatan mereka sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia dan menjadi perhatian dan panutan banyak orang.

Sebuah wahyu dimengerti dari sifat-sifat dan tujuan wahyunya diturunkan dan dari besar-kecilnya kadar wahyu yang diturunkan kepada seseorang, tetapi di dunia manusia ada banyak penamaan wahyu untuk membedakan sebuah wahyu dengan wahyu yang lain.



   Wahyu-Wahyu Utama

Ada banyak wahyu yang diturunkan kepada manusia.
Wahyu-wahyu yang dianggap sebagai wahyu utama / penting adalah :
 1. Wahyu Keprabon dan Wahyu Makutarama.
 2. Wahyu Kepangkatan dan Derajat.
 3. Wahyu Kesepuhan dan Wahyu Spiritual.
 4. Wahyu Wibawa dan Derajat dan Wahyu Keningratan.

Wahyu-wahyu di atas, pada masing-masing wahyu yang sejenis, ada tingkatannya sendiri-sendiri, tidak semuanya setingkat, dan wahyu sejenis dengan tingkatan yang sama juga tidak sama besarnya / kadarnya, banyak yang kecil-kecil dan sifat pemberiannya hanya sementara saja. Masing-masing wahyu sudah ada peruntukkannya sendiri-sendiri sesuai yang para dewa berkenan.



 1Wahyu Keprabon dan Wahyu Makutarama.


Wahyu yang paling penting adalah  Wahyu Keraton, yaitu wahyu kepemimpinan kenegaraan yang akan dapat mengantarkan seseorang kepada posisi yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan kenegaraan, menjadi raja / presiden / kepala negara atau kepala daerah, sesuai kelas dan peruntukkan wahyunya (sesuai tingkatan wahyunya).

Unsur penting dari sudah diterimanya wahyu keraton, sesuai tingkatannya masing-masing, adalah sebagai alat penginspirasi dan pembuka pikiran kepemimpinan si penerima wahyu dan sebagai penarik manusia lain untuk menghormati dan mendukung si orang kewahyon sebagai pemimpin, yang tanpa dirinya menerima wahyu orangnya akan kesulitan di dalam menentukan tindakan-tindakan kepemimpinan pemerintahan dan jabatan / posisinya akan mudah digoyang / diganggu, atau malah orangnya akan jatuh karena jabatannya itu.

Wahyu Keprabon adalah Wahyu Keraton yang tertinggi tingkatannya, yaitu wahyu kepemimpinan kenegaraan yang akan dapat mengantarkan seseorang kepada posisi yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja / presiden / kepala negara.

Ada banyak tingkatan dalam wahyu kepemimpinan pemerintahan dan tidak semuanya disebut wahyu keprabon.
Sesuai tingkatannya, ada wahyu kepemimpinan kenegaraan (wahyu keraton) yang untuk orang setingkatan raja / presiden, adipati, bupati, sampai lurah.

Wahyu Keprabon (wahyu raja) adalah wahyu kepemimpinan kenegaraan yang paling tinggi tingkatannya yang hanya diturunkan kepada orang-orang yang (diharapkan nantinya) menjadi raja / presiden di dunia manusia.

Walaupun semua wahyu keprabon tingkatannya sama, yaitu wahyu kepemimpinan untuk orang-orang setingkat raja / presiden, tetapi wahyu-wahyu keprabon itu tidak sama besarnya, banyak yang kecil-kecil dan sifat pemberiannya hanya sementara saja, sehingga tidak semua raja yang menerima wahyu keprabon akan menjadi raja besar. Sedikit yang menjadi raja besar, lebih banyak yang hanya menjadi raja kecil dan raja transisi saja.

Begitu juga wahyu kepemimpinan yang untuk tingkatan adipati / bupati / lurah, tidak semuanya sama besarnya, sehingga tidak semua adipati / bupati / lurah akan besar kekuasaannya. Sedikit yang kekuasaannya besar, lebih banyak yang kekuasaannya kecil dan singkat.

Masing-masing wahyu, tingkatannya, dan besar-kecilnya, sudah ada peruntukannya sendiri-sendiri sesuai yang para dewa berkenan.

Wahyu kepemimpinan pemerintahan / kenegaraan memiliki sifat yang sangat penting. Wahyu itu terkait dengan seorang pemimpin pemerintahan yang posisinya dan perbuatan-perbuatannya mempunyai pengaruh paling besar dalam kehidupan semua manusia di wilayah pemerintahannya masing-masing dan dengan keberadaan wahyu tersebut bersamanya karisma wibawa sang pemimpin akan memancar ke seluruh negeri dan akan dapat dirasakan perbawanya oleh rakyatnya. Diharapkan sang pemimpin dapat menjadi panutan bagi rakyatnya.

Tetapi tidak semua orang dapat menerima wahyu kepemimpinan kenegaraan, dan tidak semua orang yang menjadi pemimpin / raja memiliki wahyu dewa dalam dirinya, sehingga umumnya mereka itu oleh rakyatnya perbawanya tidak dirasakan dan keberadaannya juga tidak dirasakan membawa kebaikan yang berkesan bagi rakyatnya.

Bahkan ada banyak pemimpin yang bukan hanya tidak menerima wahyu, tetapi juga dirinya dinaungi oleh gaib-gaib jahat dan penyesat, sehingga orang-orang itu akan dipenuhi oleh pikiran-pikiran sesat dan jahat. Pemerintahannya akan dipenuhi oleh hasrat mengumbar kebencian dan permusuhan, zalim, penuh dengan penindasan, penganiayaan dan pembunuhan. Kebanyakan untuk melegitimasi pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan jahatnya itu orang-orang itu menciptakan suatu ideologi sendiri, ideologi keagamaan atau ideologi kenegaraan, yang pelaksanaannya dipaksakan, harus dipatuhi oleh seluruh rakyat di wilayah kekuasaannya.



Wahyu Keraton yang paling penting adalah  Wahyu Keprabon  dan  Wahyu Makutarama , yaitu wahyu-wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan yang diturunkan kepada pemimpin-pemimpin manusia setingkat raja (presiden) di seluruh dunia.

Wahyu Keprabon  dan  Wahyu Makutarama  mempunyai tingkatan dan tujuan yang sama, yaitu wahyu yang dianugerahkan kepada orang-orang tertentu yang menjadi pilihan dewa untuk menjadi pemimpin setingkat raja dalam kehidupan manusia, tetapi Wahyu Keprabon dan Wahyu Makutarama mempunyai sisi spiritual yang berbeda.

Wahyu Makutarama sebenarnya adalah bentuk khusus dari wahyu kepemimpinan kenegaraan.
W
ahyu makutarama memiliki makna kualitas spiritual yang lebih tinggi daripada wahyu keprabon, dan wahyu makutarama yang telah diterima oleh seseorang dapat juga mengundang wahyu keprabon untuk turun kepada orang-orang keturunan si manusia penerima wahyu makutarama.

Menurut legenda, kerajaan yang rajanya menerima wahyu Makutarama akan menjadi negara yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, rakyatnya tidak menderita kekurangan apapun dan
negerinya memperoleh  perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Dalam wejangannya kepada Arjuna, Prabu Kresna, dalam rupa Begawan Kesawasidhi, mengatakan bahwa wahyu makutarama sebenarnya adalah ilmu yang dipakai oleh Prabu Rama ketika menjadi raja, yang disebut Hasta Brata, yang tidak lain merupakan ilmu pemerintahan yang harus dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin agar rakyat mengalami hidup aman, tentram, damai dan berkecukupan (tata tentrem titi raharja).

Makna yang terkandung di dalam ajaran
Hasta Brata adalah tentang sifat-sifat pribadi yang sempurna yang harus dimiliki oleh seorang raja / pemimpin dan tentang perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan oleh seorang raja / pemimpin, sehingga seorang raja yang teguh memegang hasta brata akan tetap berjaya dan membawa kesentosaan, keadilan, kemakmuran dan akan selalu dihormati dan dikasihi oleh rakyatnya, karena segala bentuk pengayoman dan perlindungan didapatkan oleh rakyatnya dari rajanya yang berbudi luhur.

Wahyu Makutarama hanya akan turun kepada seorang raja / pemimpin yang perwatakan dan perbuatan-nya sesuai dengan sifat-sifat dalam
Hasta Brata. Seorang pemimpin yang demikian itulah yang akan menerima dan menjadi wadah yang sesuai bagi wahyu makutarama, sifat-sifat seorang raja yang berjiwa luhur dan mulia.

Jadi, minimal ada dua sisi dalam Hasta Brata itu.
Pertama adalah sifat-sifat pribadi sang pemimpin yang harus sesuai dengan sifat-sifat dalam Hasta Brata.
Kedua adalah perbuatan dan tindakan sang pemimpin yang harus sesuai dengan sifat-sifat dalam Hasta Brata  dan sang pemimpin mampu melakukan perbuatan dan tindakan untuk mewujudkan Hasta Brata.

Jadi untuk dapat menerima dan menjadi wadah wahyu makutarama, bukan hanya sifat-sifat perwatakan dan pribadinya saja, tetapi orangnya juga harus mampu berbuat untuk mewujudkan yang tersirat yang menjadi tuntutan wahyu makutarama. Dan dengan keberadaan wahyu tersebut bersamanya karisma wibawa sang pemimpin akan memancar ke seluruh negeri dan akan dapat dirasakan perbawanya oleh rakyatnya.

Wahyu makutarama yang sudah ada di dalam diri seseorang akan menginspirasi orang tersebut untuk terus teguh berpegang pada sifat-sifat baiknya itu dan mencegahnya dari hasrat dan perbuatan yang menyimpang dari Hasta Brata.

Sifat-sifat pribadi sang pemimpin tersebut dan dirinya yang mampu berbuat sesuai Hasta Brata akan dapat menjadi tempat bernaung rakyatnya dan membawa kehidupan rakyat menjadi baik. Mudah-mudahan kondisi sang pemimpin, rakyat dan negara yang baik akan juga diberkati Tuhan.

Tetapi sulit sekali seseorang memiliki sifat-sifat semulia itu, karena walaupun sebenarnya sifat-sifat itu ada dalam diri setiap orang, tetapi kehidupan duniawi seringkali membentuk manusia menjadi pribadi yang juga duniawi, lebih mengedepankan kepentingan duniawi dirinya sendiri. Tidak banyak orang yang mampu menjaga sifat-sifat kepribadian dan mampu berbuat mewujudkan Hasta Brata, sehingga wahyu makutarama menjadi bersifat khusus dan hanya sedikit sekali orang / pemimpin yang dapat menerima wahyu tersebut.

Sifat-sifat pribadi seorang pemimpin yang menerima wahyu makutarama memiliki kualitas pribadi yang lebih tinggi daripada seorang pemimpin biasa, termasuk
lebih tinggi dari seorang pemimpin yang hanya menerima wahyu keprabon saja. Tetapi tidak banyak pemimpin manusia yang pribadinya memenuhi kriterianya, sehingga tidak banyak orang yang menerima wahyu makutarama. Lebih banyak orang yang hanya menginginkan wahyu keprabon saja atau berambisi mengejar tampuk kekuasaan saja, bahkan banyak orang yang melakukan intrik-intrik nista untuk mewujudkan ambisinya menjadi orang nomor satu di negerinya.


Wahyu Makutarama biasanya diturunkan bersamaan dengan Wahyu Keprabon kepada seseorang yang terpilih. Tetapi bila wahyu keprabon dan wahyu makutarama diturunkan kepada orang-orang yang berbeda dalam waktu dan tempat yang sama, maka di dunia manusia, si penerima wahyu keprabon memiliki posisi yang lebih tinggi daripada si penerima wahyu makutarama, karena hanya satu orang saja yang dapat resm
i memegang jabatan tertinggi kepemimpinan, dan orang itu adalah orang yang menerima wahyu keprabon.

Walaupun begitu, orang-orang yang dianugerahi wahyu makutarama itu, walaupun di dunia manusia tidak resmi memegang jabatan pemimpin tertinggi, tetapi diakui dewa setingkat dengan yang menerima wahyu keprabon, bahkan diakui lebih tinggi daripada seorang pemimpin yang menerima wahyu keprabon saja tetapi tidak menerima wahyu makutarama, dan pengakuan makutarama berlaku selamanya (termasuk setelah si manusia meninggal dunia), sedangkan pengakuan keprabon berlaku hanya selama si manusia memegang jabatan pemimpin di dunia. Dan seorang pemimpin yang menerima wahyu makutarama memiliki sifat-sifat perwatakan dan perbuatan yang baik, yang lebih daripada pemimpin lainnya yang menerima wahyu keprabon saja maupun yang tidak, sehingga orangnya dihargai dan dikasihi dewa, sehingga wahyu makutarama yang telah diterimanya itu dapat juga mengundang wahyu keprabon untuk turun juga kepada orang-orang keturunannya, sehingga orang-orang keturunannya juga dapat menjadi raja-raja di dunia manusia.

Wahyu keprabon yang telah diterima seseorang dapat mengundang wahyu keningratan atau wahyu-wahyu lain yang lebih rendah untuk turun kepada keturunannya, sehingga orang-orang keturunannya (keturunan ningrat) akan lebih mudah hidup mulia dan berderajat tinggi dibandingkan orang-orang lain yang umum.

Tetapi wahyu makutarama yang telah diterima seseorang bukan hanya dapat mengundang wahyu-wahyu lain untuk turun juga kepada orang-orang keturunannya, tetapi dapat juga mengundang wahyu keprabon untuk turun kepada keturunannya, sehingga keturunannya dapat juga menjadi raja-raja di dunia manusia (termasuk dapat mengundang wahyu keprabon yang besar kadarnya, sehingga keturunannya dapat juga menjadi raja-raja besar di dunia manusia).

Contohnya adalah yang dulu terjadi pada para Pandawa. Masing-masing anggota Pandawa dianugerahi wahyu makutarama, artinya mereka semua diakui memiliki watak dan perbuatan yang baik, layak menerima wahyu makutarama, dan diakui juga sebagai pemimpin, setingkat dengan raja. Tetapi hanya Puntadewa saja yang menerima wahyu keprabon. Yang menjadi raja pemimpin yang tertinggi kemudian memang adalah Puntadewa, termasuk menjadi raja atas saudara-saudaranya. Walaupun begitu anggota Pandawa yang lain pun diakui juga setingkat dengan raja yang menerima wahyu keprabon. Dan bersama wahyu makutarama dalam diri mereka keberadaan mereka membawa kesejahteraan bagi rakyatnya di wilayah mereka masing-masing, dan wahyu makutarama dalam diri mereka dapat mengundang wahyu keprabon untuk turun juga kepada keturunan mereka, sehingga keturunan mereka juga dapat menjadi raja-raja di dunia manusia.

Wahyu keprabon juga sudah banyak diturunkan kepada raja-raja di tanah Jawa, tetapi wahyu makutarama hanya dianugerahkan dewa kepada Ratu Tribhuana Tunggadewi saja, raja Majapahit (selain beliau menerima juga wahyu raja / keprabon yang besar).


Manusia yang dianugerahi wahyu keraton, sesuai tingkatannya masing-masing, entah bagaimana pun caranya, pastilah akan terpilih dan diangkat menjadi pemimpin pemerintahan. Wahyu tersebut berfungsi untuk menambah wibawa dan kharisma seorang pemimpin kewahyon yang para dewa berkenan supaya manusia lain memilihnya dan mendukungnya sebagai pemimpin. Selain itu wahyu itu juga membantu membuka pikiran sang pemimpin, menginspirasinya untuk dapat melakukan tindakan-tindakan kepemimpinan.

Tetapi kemudian, apa saja yang dilakukan oleh sang pemimpin tersebut murni adalah tanggungjawabnya sendiri yang mungkin saja tidak semua perilaku dan perbuatannya berkenan bagi para dewa, sehingga kemudian wahyu tersebut dicabut kembali atau diganti dengan wahyu lain yang lebih kecil kadarnya. Secara manusiawi kita dapat melihat pemimpin-pemimpin yang telah kehilangan pamor dan wibawanya, yang awalnya sedemikian besar kharisma dan wibawanya sehingga disukai dan dielu-elukan orang, tetapi kemudian pudar karismanya, bahkan di-emoh-i, tidak lagi diinginkan keberadaannya.


Wahyu Keraton adalah wahyu kepemimpinan dalam bidang pemerintahan kenegaraan.

Selain wahyu kepemimpinan dalam bidang pemerintahan kenegaraan yang disebut Wahyu Keraton, juga ada wahyu-wahyu kepemimpinan di bidang sosial, yaitu wahyu kepemimpinan yang diberikan kepada orang-orang tertentu yang menjadi pemimpin perusahaan, ekonomi, politik, kemasyarakatan dan sosial.

Wahyu-wahyu di bidang sosial itu sifat-sifatnya dan tingkatan-tingkatannya mirip dengan wahyu keraton, ada wahyu-wahyu yang untuk seorang pemimpin perusahaan setingkat / sekelas raja, adipati, bupati sampai lurah (perusahaan besar / konglomerasi, perusahaan menengah dan kecil), hanya saja sebutannya bukan wahyu keraton karena wahyunya bukan untuk kepemimpinan kenegaraan, tetapi untuk kepemimpinan di bidang sosial. Bersama peranan orang-orang kewahyon itu di dalamnya perusahaan dan badan-badan sosial berkembang menjadi besar yang akan juga mengangkat kemajuan perusahaan dan badan-badan sosial lainnya yang keseluruhan keberadaan mereka akan membawa kebaikan bagi kehidupan banyak orang dan dunia, menjadi lokomotif kemajuan perekonomian dan jaman.

Wahyu-wahyu di bidang sosial itu, sesuai tingkatannya masing-masing, banyak juga yang diturunkan kepada orang-orang individu tertentu yang bersama wahyu yang diterimanya itu orang-orang itu menjadi lebih terinspirasi lagi dan mendapatkan kemudahan dalam usahanya mengembangkan sistem atau produk yang sistem atau produknya itu pengaruhnya besar dalam kehidupan orang banyak dan dunia, menjadi lokomotif perubahan jaman.

Fungsi utama wahyu-wahyu tersebut adalah sebagai "penerang" dan "penginspirasi' yang akan mencerahkan pikiran manusia-manusia yang kewahyon mengenai apa saja perbuatan yang harus dilakukannya dalam masing-masing peranannya itu dan sebagai penarik manusia lain supaya mendukungnya dalam setiap tindakan dan perbuatannya.




 2Wahyu Kepangkatan dan Derajat.

Wahyu keraton tidak berdiri sendirian.
Diturunkannya wahyu keraton selalu disertai dengan diturunkannya wahyu kepangkatan dan derajat , hanya saja waktunya tidak selalu bersamaan.

Wahyu kepangkatan dan derajat diturunkan kepada orang-orang tertentu yang hubungan kerjanya dekat dengan orang yang menerima wahyu kepemimpinan, yang dengan telah diterimanya wahyu itu orangnya dalam setiap aktivitasnya akan menunjang orang lain si penerima wahyu kepemimpinan.

Di dalam Wahyu Keraton terkandung di dalamnya wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan yang akan dapat mengantarkan seseorang kepada posisi yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi kepala negara atau kepala daerah, sesuai kelas dan peruntukkan wahyunya (sesuai tingkatan wahyunya).

Di bawah wahyu keraton, ada wahyu lain yang disebut wahyu kepangkatan dan derajat, yaitu wahyu yang dapat mengantarkan seseorang kepada posisi / jabatan yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat atau daerah, sesuai kelas dan peruntukan wahyunya (sesuai tingkatan wahyunya).

Diturunkannya wahyu kepangkatan dan derajat dimaksudkan supaya orang yang menerima wahyu tersebut dalam segala aktivitas dan perbuatannya akan menunjang dan menaikkan wibawa dan derajat orang lain yang menerima wahyu keraton. Biasanya orang yang menerima wahyu kepangkatan dan derajat akan menjadi tangan kanan sang pemimpin, terutama menjadi wakil atau pejabat langsung di bawah sang pemimpin.

Unsur penting dari sudah diterimanya wahyu keraton, sesuai tingkatannya masing-masing, adalah sebagai alat penginspirasi dan pembuka pikiran kepemimpinan si penerima wahyu dan sebagai penarik manusia lain untuk menghormati dan mendukung si orang kewahyon sebagai pemimpin, yang tanpa dirinya menerima wahyu orangnya akan kesulitan di dalam menentukan tindakan-tindakan kepemimpinan pemerintahan dan jabatan / posisinya akan mudah digoyang / diganggu, atau malah orangnya akan jatuh karena jabatannya itu. Dan keberadaan orang lain yang menerima wahyu kepangkatan dan derajat, selain wahyu itu akan menaikkan pangkat dan derajat dirinya sendiri, juga akan membantunya memperlancar urusan-urusan kepemimpinan dan akan juga menaikkan derajat / martabat orang atasannya si penerima wahyu keraton di mata umum.

Contoh wahyu kepangkatan dan derajat yang besar adalah yang dulu diterima oleh mahapatih Gadjah Mada yang menerima wahyu kepangkatan dan derajat yang sama besar kadarnya dengan wahyu raja yang diterima oleh rajanya, Ratu Tribhuana Tunggadewi.




 3.  Wahyu Kesepuhan dan Wahyu Spiritual.

Selain wahyu-wahyu yang sudah disebutkan di atas, masih ada banyak wahyu lain yang mempunyai tujuan kegunaan sendiri-sendiri. Yang paling dianggap penting, selain wahyu keraton dan wahyu kepangkatan dan derajat adalah  wahyu kesepuhan  dan  wahyu spiritual  yang diturunkan kepada orang-orang tertentu yang menjadi pemuka masyarakat, tokoh-tokoh spiritual / kepercayaan, ksatria-ksatria utama, dan manusia-manusia tertentu, yang peruntukkannya kepada siapa wahyu itu akan diturunkan harus didiskusikan dahulu di dalam manajemen pemerintahan dewa.

Wahyu kesepuhan akan memudahkan orang penerima wahyu untuk memahami dan mempelajari keilmuan dan pengetahuan yang tingkatannya tinggi dan yang sifatnya dalam dan membantu mengarahkannya menjadi seorang sepuh yang linuwih dan waskita.

Wahyu spiritual akan memudahkan orang penerima wahyu untuk memahami keilmuan dan pengetahuan yang berdimensi tinggi yang akan sulit sekali dicapainya / diketahuinya jika hanya mengandalkan kemampuan dari dirinya sendiri saja. Wahyu kesepuhan menjadi pondasi bagi wahyu spiritual.

Secara keseluruhan Wahyu Kesepuhan dan Wahyu Spiritual berfungsi untuk membuka pikiran, menginspirasi dan menunjang kemampuan si manusia penerima wahyu supaya lebih mudah dalam memahami, mempelajari dan menekuni pengetahuan dan keilmuan, apapun jenisnya, dari yang tingkatannya rendah sampai yang tingkatan dan dimensinya tinggi, baik yang bersifat kesaktian, kegaiban, kerohanian / keagamaan, maupun yang bersifat teknis ilmu pengetahuan dan teknologi modern futuristik (sesuai jaman dan jalan kehidupan orangnya). Salah satu contoh wahyu besarnya adalah yang dulu sudah diturunkan kepada Budha Gautama.




 4.  Wahyu Wibawa dan Derajat dan Wahyu Keningratan

Ada juga wahyu wibawa dan derajat dan wahyu keningratan
Wahyu-wahyu itu berfungsi untuk memperkuat pancaran karisma wibawa seseorang sehingga wibawa dan derajatnya dihormati oleh orang lain. Wahyu-wahyu itu akan mengantarkan orang si penerima wahyu kepada derajat yang tinggi dan dihormati sesuai peruntukkan wahyunya.

Wahyu wibawa dan derajat banyak diturunkan kepada orang-orang tertentu karena statusnya yang penting di masyarakat, seperti kepada orang-orang tertentu yang menjadi tokoh di masyarakat, tokoh-tokoh sesepuh, tokoh-tokoh dunia usaha / bisnis, tokoh-tokoh politik dan sosial, tokoh-tokoh agama dan kepada orang-orang ningrat (wahyu keningratan), yang orang-orang itu posisi dan statusnya mempunyai pengaruh besar dan menjadi teladan bagi masyarakat. Wahyu-wahyu itu akan menjadikan orang-orang si penerima wahyu terpandang dan dihormati statusnya, mengantarkannya kepada derajat yang tinggi dalam hal ekonomi, sosial dan politik sesuai jalan kehidupan dan aktivitasnya.

Wahyu Wibawa dan Derajat dan Wahyu Keningratan akan mengantarkan orang penerimanya kepada derajat yang tinggi dan dimuliakan (diakui dan dihormati) dan membuatnya diterima dimana saja di banyak kalangan dan akan memudahkannya melakukan hubungan dengan manusia lainnya.

Pada akhir masa pemerintahan presiden Suharto (sebelum mulai terjadinya kerusuhan massal) wahyu wibawa dan derajat yang besar-besar banyak diturunkan kepada orang-orang tertentu tokoh masyarakat, tokoh politik dan tokoh akademisi, menjadikan orang-orang itu terpandang, berkharisma tinggi, dihormati dan diikuti banyak orang lebih daripada sebelum diri mereka ketempatan wahyu. Tujuannya adalah supaya mereka dihormati dan diikuti banyak orang, supaya masyarakat tidak liar bergerak sendiri-sendiri, ada tokoh yang diikuti dan menjadi panutan. Tetapi akhirnya wahyu-wahyu itu dicabut kembali sesudah di dalam kekisruhan politik orang-orang itu menerjunkan diri ikut serta di dalam perebutan kekuasaan, mengesampingkan orang lain si penerima wahyu keraton.

Pada masa itu wahyu wibawa dan derajat yang besar-besar juga pernah diberikan kepada beberapa tokoh keagamaan, menjadikan mereka orang-orang terpandang, berkharisma tinggi, dihormati dan diikuti banyak orang, lebih daripada sebelum diri mereka ketempatan wahyu. Tetapi sesudah orang-orang itu tergoda memanfaatkan kharismanya untuk masuk ke dunia kekuasaan atau terkait masalah yang berhubungan dengan perempuan wahyu-wahyu itu dicabut kembali yang menjadikan mereka kehilangan kharismanya dan diabaikan orang.


Wahyu Keningratan adalah turunan dari wahyu keprabon (derajat yang lebih rendah daripada wahyu keprabon).

Wahyu Keprabon adalah wahyu keningratan yang paling tinggi tingkatannya. Wahyu keprabon yang telah diterima oleh seseorang dapat mengundang wahyu keningratan untuk turun kepada keturunannya
, sehingga orang-orang keturunannya (keturunan ningrat) akan lebih mudah hidup mulia dan berderajat tinggi dibandingkan orang-orang lain yang umum.

Khusus Wahyu Keningratan, wahyu tersebut hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja yang ningrat dan keturunan ningrat. Wahyu itu akan menjadikan orang-orangnya tampak elegan, berwibawa dan penuh karisma keagungan, mempermudah jalan hidup dan kerejekian dan mempermudah orangnya mencapai derajat tinggi dan kemuliaan.

Wahyu Keraton, Wahyu Kepangkatan dan Derajat, Wahyu Kesepuhan, Wahyu Spiritual, dan Wahyu Wibawa dan Derajat dapat diterima oleh orang-orang umum yang para Dewa berkenan, bukan hanya yang ningrat saja, tetapi juga orang-orang umum yang bukan ningrat, tetapi Wahyu Keningratan hanya diturunkan kepada orang-orang ningrat dan keturunan ningrat saja.

Di Indonesia wahyu keningratan yang besar-besar banyak diturunkan pada masa pemerintahan presiden Suharto kepada orang-orang yang kemudian menjadi menteri-menteri atau pejabat negara, sehingga orang-orang itu selain mendapatkan kemudahan pada jalan hidupnya, juga menjadi penunjang jalannya pemerintahan yang mengantarkan Indonesia menjadi negara besar. Tetapi pada masa pemerintahan presiden-presiden berikutnya wahyu-wahyu keningratan yang diturunkan kadarnya kecil-kecil.


Pada seorang ningrat atau keturunannya semua wahyu akan mewujud menjadi bersifat keningratan. Walaupun aslinya wahyunya adalah Wahyu Kepangkatan dan Derajat, Wahyu Kesepuhan dan Wahyu Spiritual, atau Wahyu Wibawa dan Derajat, jika wahyu-wahyu itu diterima oleh seorang ningrat dan keturunannya secara umum semuanya akan mewujud menjadi Wahyu Keningratan, sehingga wahyu-wahyu itu bukan hanya akan bekerja sesuai sifat-sifat asli wahyunya, tetapi juga akan mengangkat derajat hidup orang penerimanya.

Di dalam wahyu keningratan terkandung di dalamnya sifat-sifat berbagai macam jenis wahyu, baik wahyu kepangkatan dan derajat, wibawa dan derajat, spiritual dan kesepuhan, dan wahyu keningratan itu sendiri, tetapi masing-masing sifat wahyunya itu akan menyesuaikan dirinya dengan karakter, kepribadian, status sosial dan jalan kehidupan orangnya, sehingga orangnya tidak akan menerima keseluruhan sifat-sifat wahyunya itu. Yang bekerja pada dirinya hanyalah yang sejalan saja dengan kepribadian dan jalan hidupnya.

Dengan demikian yang disebut Wahyu Keningratan itu pengertiannya bukan semata-mata hanya sebatas aslinya wahyu keningratan yang diturunkan kepada orang-orang ningrat saja, tetapi juga wahyu-wahyu lain yang diterima oleh orang-orang ningrat / keturunannya yang semua wahyu-wahyu itu akan mewujud menjadi bersifat keningratan dan wahyu-wahyu itu bukan hanya akan bekerja sesuai sifat-sifat asli wahyunya, tetapi akan juga mempermudah jalan hidup dan kerejekian dan akan mempermudah orangnya mencapai derajat tinggi dan kemuliaan.

Secara sempit pengertian keningratan adalah orang-orang kalangan ningrat dan keturunannya saja, bukan orang lain yang tidak ningrat dan tidak ada garis keturunan ningrat. Itu adalah pandangan sempit di dunia manusia. Tetapi dalam hubungannya dengan dewa dan wahyu dewa pengertian ningrat lebih dari itu.

Pengertian istilah ningrat dan keningratan yang tertulis di atas, yang terkait dengan dewa dan wahyu dewa, berlaku bukan pada orang-orang yang hanya sekedar berstatus keturunan ningrat saja, tetapi untuk mereka orang-orang ningrat dan keturunan ningrat yang menghargai keningratan dirinya sendiri, yang menjaga wibawa dan derajat kepribadiannya yang tinggi dengan perilaku dan perbuatan-perbuatan yang baik dan terhormat. Wahyu keningratan adalah untuk mereka itu, bukan untuk orang-orang keturunan ningrat yang kepribadiannya rendah, yang tidak menghargai keningratan dirinya sendiri, yang wahyu akan lemah pengaruhnya jika dimiliki oleh mereka. Wahyu keningratan yang sudah diterima oleh seseorang akan lemah pengaruhnya jika orangnya sendiri tidak menghargai keningratan. Silakan dibaca juga tentang Hakekat Keningratan di halaman berjudul : Keris Keningratan.



Wahyu-wahyu yang sudah disebutkan di atas adalah wahyu-wahyu yang utama dan penting yang seringkali para dewa sampai harus ikut mengawal perjalanan turunnya wahyu kepada orang si penerimanya supaya dalam perjalanannya wahyu itu tidak diambil orang atau mahluk halus lain.

Masing-masing wahyu, sesuai fungsinya masing-masing, memiliki tingkatan sendiri-sendiri, ada yang untuk tingkatan yang tinggi, ada juga yang untuk tingkatan yang lebih rendah.

Misalnya wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan (wahyu keraton).
Wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan tidak semuanya setingkat dengan wahyu keprabon, karena sesuai tinggi-rendahnya tingkatannya, ada wahyu kepemimpinan kenegaraan yang selain untuk tingkatan raja / presiden, ada juga yang untuk setingkatan adipati, bupati, dan lurah.

Wahyu dengan tingkatan yang sama juga tidak semuanya sama besarnya, banyak yang kecil-kecil dan sifat pemberiannya hanya sementara saja.

Misalnya wahyu kepemimpinan kenegaraan setingkat wahyu keprabon.
Walaupun semua wahyu keprabon tingkatannya sama, yaitu wahyu kepemimpinan untuk orang-orang setingkat raja / presiden, tetapi wahyu-wahyu keprabon itu tidak sama besarnya, banyak yang kecil-kecil dan sifat pemberiannya hanya sementara saja, sehingga tidak semua raja penerima wahyu keprabon akan menjadi raja besar. Sedikit yang menjadi raja besar, lebih banyak yang hanya menjadi raja kecil dan raja transisi saja.

Begitu juga wahyu kepemimpinan kenegaraan yang untuk tingkatan adipati / bupati / lurah, tidak semuanya sama besarnya, banyak yang kecil-kecil dan sifat pemberiannya hanya sementara saja, sehingga tidak semua adipati / bupati / lurah akan besar kekuasaannya. Sedikit yang kekuasaannya besar, lebih banyak yang kekuasaannya kecil dan singkat.

Begitu juga halnya dengan wahyu-wahyu yang lain, masing-masing ada tingkatannya sendiri-sendiri dan
wahyu untuk tingkatan yang sama tidak semuanya sama besarnya, banyak yang kecil-kecil dan sifat pemberiannya hanya sementara saja.


Wahyu-wahyu tersebut di atas dianugerahkan kepada manusia-manusia yang perbuatan-perbuatannya atau posisinya dianggap memiliki pengaruh penting dalam kehidupan manusia sesuai bidang kehidupannya masing-masing, sehingga dengan dirinya menerima wahyu keberadaan dan perbuatan orang-orang itu akan memberikan pengaruh kegaiban / psikologis yang lebih besar daripada dirinya yang tanpa wahyu. Sesudah menerima wahyu pengaruh dari keberadaan dan perbuatan-perbuatan mereka diharapkan memberikan pengaruh positif yang signifikan lebih besar kepada masyarakat, sehingga orangnya dan perbuatan-perbuatannya akan menjadi panutan dan teladan dan menjadi lokomotif kehidupan masyarakat (dan dunia).

Dengan demikian pengertian wahyu itu sesungguhnya adalah pemberian restu dan berkat dari Tuhan (dan Dewa) untuk seseorang yang terkandung di dalam pemberian wahyu itu harapan dan amanat supaya dengan dirinya telah menerima wahyu (dan berkat) keberadaan dan perbuatan orang-orang itu menjadi signifikan lebih besar pengaruhnya terhadap kehidupan banyak manusia (dan dunia) yang itu tidak akan terjadi bila dirinya tanpa wahyu.

Sayang sekali banyak orang yang tidak mampu mengemban amanat dari wahyu (dan berkat) yang sudah diterimanya, baik wahyu kepemimpinan kenegaraan, kepangkatan dan derajat, wibawa dan derajat, ataupun wahyu spiritual dan kesepuhan dan keningratan. Banyak perbuatan mereka yang para Dewa tidak berkenan, karena mereka mengabaikan berkat Tuhan, karena menganggap semua pencapaiannya adalah prestasi dan kehebatan dirinya sendiri dan mereka memanfaatkan berkat yang sudah mereka terima untuk memaksimalkan hasrat keduniawian mereka dengan perbuatan-perbuatan yang tidak patut.

Seharusnya dengan adanya restu dan berkat dan naiknya derajatnya mereka membentuk diri menjadi pribadi yang baik, menjadi tokoh pengayom, teladan dan panutan masyarakat. Tetapi ternyata banyak orang dan tokoh masyarakat yang tidak mampu menjaga kemuliaan pribadi. Tingginya karismanya dan tingginya posisinya justru malah memunculkan kepribadian mereka yang rendah, tergoda memanfaatkannya untuk bermegah diri, untuk memaksimalkan hasrat rendah keduniawiannya, untuk mengejar tahta, harta atau wanita, menggerakkan dan menunggangi kekuatan massa untuk menaikkan dirinya kepada derajat yang tinggi dalam kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif), mengeruk dan menumpuk kekayaan untuk pribadi dan kelompoknya, atau memanfaatkan tingginya karismanya untuk mengejar wanita, sehingga para Dewa mencabut kembali wahyu-wahyunya dari mereka, sehingga orang-orang itu sesudah dirinya tanpa wahyu kemudian kehilangan karismanya di mata masyarakat dan diabaikan, banyak juga yang kemudian kehidupannya menjadi terpuruk dan hina atau bahkan terjerumus ke dalam masalah hukum.



Pada jaman dulu di negara India dan sekitarnya, seperti sudah dikisahkan di dalam pewayangan, cerita tentang wahyu dewa menjadi cerita yang penting. Di sana, kebanyakan tokoh manusia dan orang-orang sakti dunia persilatan, selain menguasai ilmu-ilmu kesaktian kanuragan, ilmu gaib dan ilmu khodam, juga menguasai ilmu kebatinan dan spiritual yang tinggi, sehingga mereka juga mengenal mahluk halus berdimensi tinggi seperti dewa dan mengerti juga tentang kegaiban wahyu yang diturunkan para dewa. Dan berkelahi / bertarung dengan mahluk halus berkesaktian dan berdimensi tinggi seperti buto adalah sesuatu yang biasa.

Wahyu-wahyu seperti diceritakan di dunia pewayangan adalah wahyu-wahyu yang besar. Masing-masing diberi nama sendiri-sendiri sesuai sifat dan tujuan wahyunya untuk membedakan antara wahyu yang satu dengan wahyu yang lain. Keberadaan wahyu-wahyu itu sangat penting karena tokoh-tokoh manusia pada masa itu mengerti sekali tentang kegaiban wahyu. Sehingga ketika mereka mengetahui bahwa akan ada sebuah wahyu besar yang akan diturunkan para dewa ke dunia manusia, mereka akan berebut untuk memilikinya dan mereka akan melakukan apa saja, termasuk bertapa brata, untuk menyesuaikan dirinya agar menjadi sesuai dengan persyaratan wahyunya, supaya dirinya dapat menjadi wadah bagi wahyunya, supaya wahyunya berkenan bersemayam di dalam dirinya.

Tetapi wahyu-wahyu tidak akan turun dan menyatu kepada seseorang yang merubah kepribadiannya secara dadakan hanya untuk bisa meraih sebuah wahyu. Wahyu-wahyu hanya akan menyatu dengan orang-orang yang mapan kepribadiannya sesuai sifat-sifat wahyunya, sehingga dengan telah bersemayamnya sebuah wahyu dalam diri seseorang, karisma dari sifat-sifat orang itu akan memancar keluar berlipat-ganda kekuatannya dan dapat dirasakan perbawanya oleh semua orang di sekitarnya dan wahyunya akan mengantarkannya kepada posisi, status dan derajat yang sesuai dengan tujuan kegaiban wahyunya.



Sesudah masa kutukan Mpu Gandring berakhir, wahyu raja (wahyu keprabon) yang besar diturunkan kepada raja Singasari yang bernama Sri Rajasa Kertanegara. Di bawah pemerintahannya kerajaan Singasari berjaya menguasai suatu wilayah yang luas, sampai ke utara, ke negeri Vietnam, Laos dan Kamboja. Tetapi sang raja tewas terbunuh oleh pemberontakan Jayakatwang.

Sesudah runtuhnya kerajaan Singasari, Raden Wijaya menjadi perintis dan pendiri kerajaan Majapahit. Tetapi kerajaan Majapahit mencapai kejayaannya di bawah kepemimpinan Ratu Tribhuana Tunggadewi yang menerima
wahyu makutarama, sekaligus juga menerima wahyu besar raja (wahyu keprabon) yang dulu diterima oleh kakeknya Sri Rajasa Kertanegara, raja terakhir Singasari, dengan Gajah Mada sebagai patihnya yang menerima wahyu kepangkatan dan derajat yang sama besar kadarnya dengan wahyu yang diterima oleh rajanya. Di bawah kepemimpinan orang-orang kewahyon itu wilayah kekuasaan Singasari dulu diperluas lagi ke timur dan ke barat menjadi wilayah yang sekarang dikenal sebagai wilayah Nusantara (baca juga : Gajah Mada dan Majapahit).

Wahyu-wahyu keprabon berikutnya yang diturunkan kepada raja-raja sesudahnya
semakin kecil saja kadarnya, sehingga raja-raja sesudahnya tidak mampu menjadi raja besar, hanya menjadi raja kecil dan raja transisi saja. Kerajaannya juga hanya menjadi kerajaan kecil dan transisi saja, tidak mampu menjadi kerajaan besar.

Begitu juga dengan wahyu-wahyu lainnya yang diturunkan para dewa di tanah Jawa, juga bukan lagi wahyu- wahyu yang besar, tetapi wahyu-wahyu yang kecil-kecil dan ringan kadarnya, sehingga setelah jaman Majapahit berakhir tidak ada raja-raja di tanah Jawa yang mampu menjadi raja besar yang setanding dengan raja-raja pada jaman Kediri, Singasari dan Majapahit, tidak ada lagi spiritualis yang mampu menghasilkan karya-karya besar yang setanding dengan yang dihasilkan pada jaman Kediri, Singasari dan Majapahit. Empu-empu keris pun tidak lagi mampu menghasilkan keris-keris yang setanding dengan keris-keris yang dihasilkan pada jaman Kediri, Singasari dan Majapahit. 


Setelah jaman kerajaan berakhir dan berganti menjadi jaman Republik, seperti yang sudah diketahui secara spiritual, dan sudah juga diramalkan oleh para leluhur jawa sejak dulu, kepemimpinan negara Indonesia tidak terlepas dari adanya wahyu keprabon.

Wahyu keprabon yang diturunkan kepada presiden pertama RI, Sukarno, adalah wahyu yang penting. Presiden itulah yang ditentukan sebagai pembuka jalan "kebangkitan" pemerintahan tanah jawa dan batas-batas wilayah Singasari - Majapahit dipulihkan kembali. Sayangnya, beliau tidak bisa "membesarkan" Indonesia dan tidak bisa dengan benar merangkul dan menyalurkan hasrat banyak orang yang semangatnya menggebu-gebu ingin tampil menjadi pemimpin dan penguasa.

Begitu juga dengan wahyu-wahyu dewa yang lain, terutama wahyu-wahyu kesepuhan yang besar-besar yang diberikan para dewa kepada sang presiden dan orang-orang lain seangkatannya. Wahyu-wahyu itu adalah wahyu-wahyu yang penting. Sebagai orang-orang pembuka jaman baru di Indonesia mereka akan tercatat dalam sejarah sebagai tokoh-tokoh pendiri bangsa dan negara Indonesia yang besar ide dan pemikiran kenegaraannya.


Wahyu-wahyu yang besar-besar banyak diturunkan para dewa di jaman presiden ke 2 Indonesia, Suharto.

Wahyu keprabon yang diterima oleh presiden ke 2 Indonesia adalah wahyu yang paling besar kadarnya yang sudah diturunkan para dewa
dalam sejarah kehidupan negara Indonesia, karena presiden itulah yang ditentukan sebagai yang  "membesarkan" negara dan bangsa Indonesia.

Wahyu-wahyu dewa lainnya, wahyu kepangkatan dan derajat, wahyu wibawa dan derajat dan wahyu keningratan yang besar-besar juga banyak diturunkan kepada orang-orang yang kemudian menjadi menteri-menteri atau pejabat negara, sehingga orang-orang itu selain mendapatkan kemudahan pada jalan hidupnya, kemudian juga menjadi penunjang jalannya pemerintahan yang mengantarkan negara Indonesia menjadi negara besar.

Dengan wahyu yang besar-besar itu orang-orang penerimanya banyak yang sukses hidup mulia dan berderajat tinggi dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik dan di pemerintahan, yang keseluruhan keberadaan mereka sudah mengangkat kehidupan rakyat dan negara menjadi lebih tinggi daripada jaman sebelumnya. Sayangnya, sang presiden tidak tahu kapan masa tugasnya berakhir, sehingga harus secara paksa diturunkan dari tahtanya.

Pada akhir masa pemerintahan presiden Suharto (sebelum mulai terjadinya kerusuhan massal) wahyu wibawa dan derajat yang besar-besar diturunkan juga kepada orang-orang tertentu tokoh masyarakat, tokoh politik dan tokoh akademisi, menjadikan orang-orang itu terpandang, berkharisma tinggi, dihormati dan diikuti banyak orang lebih daripada sebelum diri mereka ketempatan wahyu. Tujuannya adalah supaya mereka dihormati dan diikuti banyak orang, supaya masyarakat tidak liar bergerak sendiri-sendiri, ada tokoh yang diikuti dan menjadi panutan mereka. Tetapi akhirnya wahyu-wahyu itu dicabut kembali sesudah di dalam kekisruhan politik orang-orang itu menerjunkan diri ikut serta di dalam perebutan kekuasaan, mengesampingkan orang lain si penerima wahyu keraton.

Pada masa itu wahyu wibawa dan derajat yang besar-besar juga diberikan kepada tokoh-tokoh keagamaan, menjadikan mereka orang-orang terpandang, berkharisma tinggi, dihormati dan diikuti banyak orang, lebih daripada sebelum diri mereka ketempatan wahyu. Tetapi sesudah orang-orang itu tergoda memanfaatkan kharismanya untuk masuk ke dunia kekuasaan atau terkait masalah yang berhubungan dengan perempuan wahyu-wahyu itu dicabut kembali yang menjadikan mereka kemudian kehilangan kharismanya dan diabaikan orang.


Pada masa pemerintahan presiden-presiden berikutnya sesudah presiden Suharto wahyu-wahyu yang diturunkan para Dewa kadarnya kecil-kecil, bahkan banyak wahyu yang dicabut kembali pada setengah perjalanan pemerintahan.

Wahyu-wahyu keprabon yang diturunkan dewa kepada "raja-raja" berikutnya kecil-kecil dan ringan kadarnya, sehingga  "raja-raja"- nya tidak bisa menjadi "raja besar" dan tidak bisa mengangkat Indonesia menjadi negara besar. Begitu juga dengan wahyu-wahyu lain yang diturunkan para dewa, kecil-kecil dan ringan kadarnya. Pada jaman ini orang-orang penerima wahyu tidak mampu tampil berperan sebagai orang-orang yang besar ide dan pemikiran kenegaraannya dan tidak mampu memberikan kontribusi yang besar dan nyata bermanfaat di mata rakyatnya.

Pada jaman ini banyak orang di lembaga-lembaga tinggi negara yang terdorong untuk memaksimalkan hasrat dan kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya dan terdorong untuk memperbesar kekuasaan lembaganya masing-masing. Kekuasaan negara diserong ke kanan dan ke kiri, menjadi rebutan. Jalannya negara dan pemerintahan mulai tidak sejalan dengan ide besar pemikiran kenegaraan para pendiri bangsa. Negara Kesatuan Republik Indonesia terancam pecah, terkotak-kotak menjadi daerah-daerah yang berdaulat berdiri sendiri-sendiri. Sekilas terkesan demokratis, tapi ternyata lebih banyak hanya menguntungkan para penguasa setempat saja. Rakyat tidak mendapat apa-apa.

Pada jaman ini banyak wahyu yang dicabut kembali pada setengah perjalanan pemerintahan, sehingga dengan orang-orangnya yang dirinya asli tanpa wahyu, pemerintah kesulitan dalam memanage jalannya pemerintahan, kesulitan dalam memanage masalah kenegaraan, kesulitan dalam mengkoordinasi kerja aparaturnya, dan kesulitan dalam membuatkan kebijakan-kebijakan yang baik untuk rakyat dan negaranya (yang mengundang rasa ketidak-puasan rakyatnya). Kepresidenan, kepala-kepala daerah dan lembaga-lembaga tinggi negara hilang perbawanya di mata rakyatnya.

Pada jaman ini wahyu yang besar-besar justru banyak diturunkan para Dewa di negara-negara lain, terutama adalah wahyu pemerintahan kenegaraan (wahyu keprabon) dan wahyu-wahyu kepemimpinan di bidang sosial yang diberikan kepada orang-orang tertentu yang menjadi pemimpin perusahaan, ekonomi, politik, sosial dan kemasyarakatan. Bersama peranan orang-orang kewahyon itu di dalamnya negara dan perusahaan dan badan-badan sosial berkembang menjadi besar, yang juga mengangkat kemajuan perusahaan dan badan-badan sosial lainnya yang keseluruhan keberadaan mereka sudah membawa kebaikan bagi kehidupan banyak orang dan dunia, menjadi lokomotif kemajuan perekonomian dan jaman.

Ada juga wahyu-wahyu di bidang sosial itu yang diberikan kepada orang-orang individu tertentu yang bersama wahyu yang diterimanya itu orang-orang itu menjadi lebih terinspirasi lagi dan mendapatkan kemudahan dalam usahanya mengembangkan sistem atau produk yang sistem atau produknya itu pengaruhnya besar dalam kehidupan orang banyak dan dunia, menjadi lokomotif perubahan jaman.

Majunya negara-negara lain itu bersama perusahaan-perusahaan dan orang-orang pencipta sistem dan produk, ditambah investasi mereka di Indonesia, peranan mereka itu secara keseluruhan sudah memberikan efek positif kepada Indonesia, karena negara Indonesia sendiri dengan kemampuannya sendiri tidak mampu mengangkat derajat kehidupannya sendiri menjadi lebih tinggi daripada jaman sebelumnya.

Pada jaman ini banyak orang di dalam negeri yang justru terdorong untuk memaksimalkan berkah yang diterimanya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak patut, sehingga banyak wahyu yang dicabut kembali, pemberiannya hanya sementara saja, hilang perbawanya dan banyak yang kemudian terjerumus ke dalam masalah hukum.

Tetapi nanti, seperti sudah diramalkan oleh para leluhur, seorang pemuda, yang disebut Sang Satria Piningit, Sang Ratu Adil, adalah yang sudah ditentukan sebagai pewaris pemerintahan tanah jawa. Sebagai orang yang dipilih dan dikasihi Dewa (dipilih dan dikasihi Tuhan), segala macam wahyu-wahyu besar keprabon dan makutarama, berbagai wahyu besar kepemimpinan, spiritual, kerohanian, kesepuhan, dsb, akan tumpuk padanya. Bahkan pusaka-pusaka dewa dan pusaka-pusaka sakti tanah jawa yang telah moksa dari kehidupan manusia, juga diwariskan kepadanya. Ia tidak hanya akan menjadi "raja" di dunia manusia, tetapi juga akan menjadi raja di dunia mahluk halus (semua mahluk halus akan tunduk kepadanya dan yang menentangnya akan remuk di tangannya).

Jika ramalan itu terbukti kebenarannya, pemerintahannya akan membawa kegemilangan pada kehidupan rakyat di Nusantara, menjadi terang-benderang, adil, makmur, aman, dan tenteram. Pada masa itu rakyat tidak lagi merasakan kesusahan hidup, segala kebutuhan serba cukup, tak ada kekurangan sandang, pangan, dan papan. Hukum dan keadilan ditegakkan. Jaman kesengsaraan dan penderitaan berganti menjadi jaman kejayaan dan kemakmuran



Demikianlah cara para dewa mempengaruhi kehidupan manusia secara tidak langsung. Tetapi selain yang dilakukan dengan cara menurunkan wahyu-wahyu tertentu kepada manusia-manusia tertentu yang terpilih, yang posisi keberadaannya dan perbuatan-perbuatannya memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan banyak orang, para dewa juga melakukannya tersendiri kepada individu-individu tertentu, yaitu membuka jalan hidup seseorang sehingga kehidupannya menjadi terangkat dan dapat mencapai kemuliaan dan keberadaannya juga mengangkat kehidupan banyak orang lain di sekitarnya. Tetapi seringkali orangnya tidak menyadari itu atau tidak percaya bahwa ada  'tangan-tangan gaib'  yang bekerja dalam kehidupannya. Karena itulah manusia sering sombong dan takabur, menganggap semua keberhasilannya adalah keberuntungan dan hasil usahanya sendiri.




_______




Ramalan-ramalan para leluhur Jawa tentang pemimpin-pemimpin dan raja-raja di Jawa didasarkan pada olah batin dan spiritual dan ada wahyunya tersendiri sehingga seseorang bisa meramal yang seperti itu, tidak berdasarkan bisikan / penglihatan gaib dari khodam seperti yang dilakukan oleh para peramal yang umum dan orang-orang kalangan ilmu gaib dan khodam. 

Para leluhur jawa itu mendasarkan ramalannya pada wahyu keprabon, kepada siapa wahyu keprabon itu akan turun, karena orang si penerima wahyu keprabon itulah yang dianggap diakui dan direstui Tuhan sebagai raja. Tetapi di dunia manusia ada saja raja-raja dan pemimpin yang tidak memiliki wahyu. Yang seperti itu, sekalipun di dunia manusia tetap berlaku bahwa orang itu adalah raja atau pemimpin, tetapi secara spiritual mereka itu dianggap bukan raja dan pemimpin yang sebenarnya. Mereka itu lebih dianggap sebagai orang-orang yang sudah memaksakan dirinya untuk tampil berkuasa atau dianggap sebagai pengisi kekosongan pemerintahan saja (raja transisi) sampai tiba saatnya muncul raja / pemimpin sebenarnya yang direstui Tuhan.

Seperti yang sudah dituliskan di halaman berjudul  Keris Keningratan , khusus dalam hubungannya dengan Dewa dan Wahyu Dewa di tanah Jawa dan Keris Keningratan, orang-orang yang diakui sebagai seorang raja hanyalah raja Pajang - Sultan Adiwijaya, raja-raja Majapahit sampai jaman Prabu Brawijaya (kecuali raja Hayam Wuruk) dan raja-raja sebelum jaman Majapahit.

Sedangkan raja-raja sesudah jaman Majapahit - Prabu Brawijaya, selain raja Pajang - Sultan Adiwijaya, walaupun di dunia manusia orang-orang itu diakui sebagai seorang raja, tetapi secara spiritual orang-orang itu tidak diakui sebagai raja, paling tinggi hanya diakui setingkat adipati / bupati saja, karena orang-orang itu tidak pernah menerima wahyu keprabon. Mungkin yang pernah mereka terima adalah wahyu lain yang lebih rendah derajatnya, atau mungkin malah tidak pernah menerima wahyu apapun.

Karena itu dalam hubungannya dengan Dewa dan Wahyu Dewa di tanah Jawa dan Keris Keningratan, orang-orang ningrat yang diakui sebagai keturunan seorang raja hanyalah orang-orang keturunan raja Pajang - Sultan Adiwijaya dan orang-orang keturunan raja-raja Majapahit sampai jaman Prabu Brawijaya (kecuali raja Hayam Wuruk) dan orang-orang keturunan raja-raja sebelum jaman Majapahit. Sedangkan keturunan raja-raja sesudah jaman Majapahit - Prabu Brawijaya, kecuali keturunan raja Pajang - Sultan Adiwijaya, tidak diakui sebagai keturunan raja, tapi paling tinggi hanya diakui sebagai keturunan seorang adipati / bupati saja.



_______




Wahyu
  adalah suatu jenis mahluk halus dari jenis tersendiri, yang memiliki tugas khusus dalam kehidupan manusia, yang peranannya sangat terorganisir dan komandonya dipegang oleh para Dewa. Kepada siapa mereka akan ditugaskan, semua kewenangannya ada di tangan para Dewa. Tidak ada satu pun manusia atau mahluk halus dengan kemampuannya sendiri dapat meraih sebuah wahyu, kecuali diperkenankan Dewa.

Wujud gaib wahyu berbentuk bola-bola cahaya. Secara fisiknya dimensinya sangat halus, sehingga jarang sekali ada manusia yang mampu melihat wujud aslinya dan sulit mengetahui lokasi keberadaan tempat tinggalnya. Yang sering terlihat hanyalah aura energinya saja berwarna putih kebiruan, kehijauan, keunguan atau kemerahan ketika sebuah wahyu sedang turun kepada seseorang yang kewahyon. Setelah tugasnya selesai mereka segera kembali ke asalnya.

Ada juga jenis mahluk halus lain yang sifatnya mirip dengan gaib wahyu, yaitu yang menjadi isi gaib keris jawa. Wujudnya bermacam-macam, sama seperti mahluk halus lain. Jenis ini juga berdimensi halus, tetapi lebih mudah dilihat daripada wujud gaib wahyu dewa. Tetapi mereka tidak dikomando oleh para dewa. Mereka lebih mandiri. Tetapi mereka juga menghormati para dewa yang menjadi pengayom kehidupan manusia. Mereka mau turun untuk mengikut kepada seorang manusia  hanya  jika diminta oleh seorang spiritualis (empu keris) yang memiliki wahyu dewa dalam dirinya. Tuah / karisma wahyu dewa yang sudah ada di dalam diri seseorang akan menjadi berlipat ganda pengaruhnya setelah wahyu dewa dalam dirinya berpadu dengan wahyu keris yang dimilikinya.

Setelah tugasnya selesai, wahyu keris tidak kembali ke asalnya, tetapi memilih tetap tinggal di dalam keris yang telah menjadi rumahnya yang baru. Tetapi banyak keris yang dulu terkenal sakti kini telah menghilang dari kehidupan manusia. Mereka moksa, masuk ke alam gaib bersama dengan fisik kerisnya, karena tidak mau kerisnya jatuh ke tangan orang-orang yang mereka tidak berkenan. Yang masih tinggal hanyalah keris-keris tiruan / turunannya saja.

Mahluk halus wahyu dewa dan wahyu keris jawa bertempat tinggal di udara di atas gunung Himalaya, dekat dengan tempat tinggal para dewa di Kahyangan.


Dalam pengertian umum sehari-hari di masyarakat, wahyu ada yang disebut sebagai wisik / wangsit, yaitu suatu bentuk pemberitahuan / bisikan gaib kepada seseorang.

Tetapi pengertian Wahyu secara umum adalah diturunkannya restu Tuhan (dan Dewa) kepada seseorang yang kewahyon sesuai tujuan wahyunya.

Wahyu hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja yang para Dewa berkenan, bukan kepada sembarang orang, sehingga walaupun seseorang bertirakat atau bertapa brata di tempat-tempat yang angker dan wingit, tidak pasti bahwa kemudian orang itu akan menerima wahyu. Mungkin yang akan diterimanya hanyalah sebatas wisik / wangsit / bisikan gaib saja dari mahluk-mahluk halus penghuni tempatnya bertirakat.

Sebuah wahyu dimengerti dari sifat-sifat dan tujuan wahyunya diturunkan dan dari besar-kecilnya kadar wahyu yang diterima oleh seseorang, tetapi di dunia manusia ada banyak penamaan wahyu untuk membedakan antara wahyu yang satu dengan wahyu yang lain, misalnya Wahyu Cakraningrat.  Mengenai nama-nama wahyu yang dikenal oleh manusia para pembaca bisa mencari sendiri tulisan-tulisannya di internet atau menanyakannya kepada orang-orang yang mengerti pewayangan yang mungkin tahu nama-nama wahyu dan artinya.



_________


 
  >>  Dewa Wisnu & Wahyu Dewa













Comments