Dewa dan Satria Piningit 6

    Satria Piningit Rangkuman

 


Pada halaman-halaman sebelumnya telah disajikan beberapa tulisan yang menjadi sumber cerita (ramalan) tentang tokoh Satria Piningit ini, yang terkait erat dengan sosok Sabdo Palon dan Naya Genggong sebagai pamomongnya, yaitu Kitab Jangka Jayabaya, Kitab Musarar Jayabaya, Kitab Dharmagandul, dan Serat Sabdo Palon Naya Genggong.

Biasanya karya sastra para pujangga (spiritualis) itu ditulis dengan "olah batin" khusus, sehingga dalam membaca dan mempelajarinya kita juga harus "paham" dan "mengerti" kawruh kejawen, harus dibaca dengan "rasa", karena tidak semuanya dapat dengan sederhana dimengerti dengan nalar dan logika sempit dan pasti tidak akan sama ceritanya dengan karya sastra pujangga (spiritualis) lain, walaupun menceritakan sesuatu yang sama, sehingga dari banyak tulisan tentang sesuatu yang sama, satu tulisan dengan tulisan lainnya tidak akan bisa diperbandingkan untuk tujuan menilai mana yang paling benar, apalagi untuk tujuan diuji kebenarannya dengan membandingkannya dengan jalannya sejarah.

Seringkali karya-karya sastra para spiritualis / pujangga itu bukan hanya untuk menuliskan sesuatu yang penting, tetapi juga untuk
mengungkapkan "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, sehingga mereka menuliskannya secara khusus dengan olah batin khusus dalam bentuk karya sastra dan berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang untuk mengungkapkannya. Karena itu dalam rangka membacanya / mempelajarinya jangan menterjemahkan tulisannya secara harfiah dan jangan "mengecilkan" maknanya. Yang harus dimengerti bukanlah sebatas bentuk formal tulisannya seolah-olah itu adalah sebuah novel fiksi atau buku sejarah, tetapi adalah  "isi",  "maksud"  dan  "tujuan"  dari masing-masing tulisan para pujangga (spiritualis) tersebut. Dan ungkapan-ungkapan mereka atas "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya itu harus kita terima apa adanya, karena itu adalah hasil olah batin mereka, walaupun mungkin tidak sejalan dengan rasa keinginan dan pemahaman kita.

Dari sejumlah tulisan (ramalan) tentang tokoh Sabdo Palon dan tokoh Satria Piningit dalam halaman-halaman sebelumnya, berikut ini kita pelajari rangkuman intisarinya sebagai berikut.



 1. Serat Dharmagandul.

Kata-kata Sabdo Palon kepada Prabu Brawijaya sebelum mereka berpisah :

Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini rajanya dhanyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai hari ini hamba masih mengasuh raja-raja Jawa.

Hamba kalau tidur sampai 200 tahun. Selama hamba tidur pasti ada peperangan, saudara melawan saudara, manusia yang jahat membunuhi manusia lainnya, membunuhi sesama bangsanya sendiri. Sampai sekarang umur hamba sudah 2000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, tetap memegang teguh agama Buddha sejak awal. Baru Paduka yang berkehendak meninggalkan ajaran luhur Jawa. Jawa artinya "tahu", "mengerti".  Mau menerima berarti 'Jawan', hanya nurut ikut-ikutan, akan membuat sengsara muksa Paduka kelak," kata Sang Wikutama yang kemudian disambut halilintar bersahutan.

Paduka sudah terlanjur terperosok, sudah jadi jawan, arab-araban, hanya nurut ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu memomong orang tolol, saya mau mencari momongan yang bermata satu (yang mengerti dan tahu tujuannya beragama), tidak mau saya memomong Paduka.

Jika hamba mau mengeluarkan kesaktian, airnya hamba kentuti sekali saja, sudah jadi wangi. Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya itu saya, yang membuat kawah air panas di atas-atas gunung tinggi itu semua saya. Adikku Batara Guru hanya mengiyakan saja. Dulu pada waktu tanah Jawa gonjang-ganjing, karena besarnya api di bawah tanah, gunung-gunung hamba kentuti, puncaknya kemudian ambrol berlubang, apinya kemudian keluar, maka tanah Jawa kemudian tidak lagi goyang, maka gunung-gunung pada puncaknya keluar apinya serta ada kawahnya, isinya air panas dan air tawar. Itu semua hamba yang membuat. Semuanya atas kehendak Lata Wal Hujwa, yang membuat bumi dan langit.

Sabdapalon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau. Ketika ditanya perginya akan kemana, Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak tinggal di situ, hanya menyatakan namanya Semar, artinya meliputi sekalian wujud, tidak tampak secara mata. Sang Prabu diminta memahami, kalau besok ada orang Jawa bernama tua (nama dari suatu negeri yang dituakan), berpegang pada kawruh, ya itulah yang akan diasuh oleh Sabdopalon, orang Jawa yang cuma ngaku-ngaku jawa, yang sudah hilang kawruhnya, akan diajar supaya bisa melihat benar salahnya.


Di dalam serat Dharmagandul, Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Orang Jawa yang mengerti budaya Jawa pastilah memahami siapa Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar dipercaya merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertakwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara moralitas dan budi pekerti manusia pada umumnya. Semar telah dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir, atau salah dalam perbuatan, apalagi bila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan. Menjadi pemomong,




 2. Serat Sabdo Palon Naya Genggong

Serat Sabdo Palon Naya Genggong, juga menceritakan tentang Sabdo Palon.
Sabda (ramalan) Sabdo Palon sesaat sebelum berpisah dengan Prabu Brawijaya diungkapkan sbb :


3. Sabda Palon menjawab kasar,
Hamba tidak mau masuk Islam, sebab saya ini sebenar-benarnya adalah rajanya dhanyang tanah Jawa
yang memomong anak cucu, orang-orang yang menjadi raja tanah Jawa. Sudah digariskan sekarang saya harus pisah.

4. Berpisah dari Paduka, kembali ke alam saya. Namun saya mohon dicatat, sepeninggal saya, bila sudah tiba waktunya, dalam waktu 500 tahun dari hari ini, agama akan saya ganti, agama budha akan saya sebar di tanah Jawa.

5. Siapa saja yang tidak mau menerimanya, pasti akan saya hancurkan. Saya jadikan makanan anak buah saya, segala macam setan dan dedemit. Belum puas hati saya kalau mereka belum hancur lebur.
Saya akan membuat tanda, tanda terjadinya ucapan saya ini. B
ila Gunung Merapi sudah meletus dan mengalirkan laharnya ....

6. Mengalirnya ke arah selatan-barat. Baunya busuk. Itulah tanda kembalinya saya, sudah menyebarkan agama budi. Janji saya, Merapi akan menggegerkan dunia. Itu sudah kehendak Yang Kuasa, segalanya harus berganti, tidak dapat dirubah lagi.


Dalam Serat Sabdo Palon Naya Genggong di atas Sabdo Palon menegaskan bahwa ia akan datang lagi ke tanah Jawa untuk menyadarkan manusia Jawa kepada ajaran agama yang benar, datang bersama dengan manusia asuhannya yang kita menyebutnya sebagai Satria Piningit, datang setelah terjadinya goro-goro, bencana alam yang membinasakan banyak manusia.

Tanda kedatangannya adalah bila Gunung Merapi sudah meletus dan mengalirkan laharnya ke arah selatan-barat. Baunya busuk. Itulah tanda kedatangannya dan tanda ia sudah menyebarkan agama budi (dan tanda itu sudah terjadi).




 3. Satria Piningit - Jangka Jayabaya

Berikut ini adalah sebagian dari bait-bait Ramalan (Jangka) Jayabaya yang menunjukkan ciri-ciri, watak, sifat, dan karakter tokoh manusia Satria Piningit tersebut :

159.
selambat-lambatnya besok menjelang tutupnya tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
akan ada dewa mewujud manusia
penampilannya seperti Batara Kresna (tampan, berwibawa, berkarisma, bijaksana, waskita)
wataknya seperti Baladewa (keras / tegas)
bersenjatakan trisula wedha, menyingkirkan jaman yang terbalik
orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar hutangnya
hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu bayar malu

160.
sebelumnya ada kelihatan bintang berekor (meteor / komet), jelas kelihatan di arah Selatan Timur
lamanya tujuh malam, hilangnya menjelang pagi bersama munculnya matahari
berbarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larut
itulah tandanya putra Batara Indra sudah nampak hadir di bumi untuk membantu manusia Jawa

161.
asalnya (asal leluhurnya) dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah timurnya bengawan
berumah seperti Raden Gatotkaca, seperti rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda (suka santai di atas rumah seperti menggoda orang yang lewat)

162.
banyak orang digigit nyamuk, mati, banyak orang digigit semut, mati
banyak suara aneh tanpa rupa (banyak kejadian gaib)
pasukan makhluk halus pada berbaris, pada berebut masuk ke barisan, tak kelihatan mata, tak ada rupa
yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha
asuhannya pada jadi perwira perang
berperangnya tanpa pasukan (yang kelihatan mata)
sakti mandraguna tanpa aji-aji kesaktian 

163.
bergelar pangeran perang
tidak mementingkan penampilan (tidak memperlihatkan status kebesarannya), namun bisa menjembatani keruwetan banyak macam orang yang pada menyembah arca terlentang (yang mengagung-agungkan komputer ?), orang-orang ingat wejangan tua-tua dulu, lalu sadar dan was-was

164.
putra terkasih Tuhan yang bertahta di tempat yang tinggi yang disebut Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti (yang disebut Yang Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Besar),
menguasai segala macam laku, mematahkan tanah Jawa dua kali, mengerahkan jin dan setan
semua mahluk halus bersatu padu masuk ke bawah perintahnya untuk membantu manusia Jawa supaya pada memuliakan trisula weda, tritunggal suci, benar, lurus, jujur, didampingi Sabdopalon dan Nayagenggong

165.
sudah lebih dulu mengantarkan sanak saudara yang sudah ditebus dosanya,
diantarkan ke dalam kemuliaan Yang Maha Kuasa
masih muda tapi ternyata sepuh, bekalnya : Gatotkaca sejuta 

166.
ludahnya ludah api  (kata-katanya jadi)
sabdanya mematikan  (sabdanya membawa kematian / tulah bagi yang membangkang)
yang coba-coba menentang pasti mati, baik tua, muda maupun bayi
orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti dipenuhi
sabdanya tidak mengenal hari  (diucapkan langsung terjadi)
beruntunglah orang yang percaya dan setia mentaati sabdanya
tidak mau disujuti orang se-tanah Jawa  (tidak mau menerima pengabdian sembarang orang)
tetapi lihat-lihat dulu siapa orangnya

167.
waskita seperti dewa,
bisa tahu kakek, buyut dan canggah anda seolah-olah lahir di waktu yang sama
tidak bisa dibohongi karena dapat membaca isi hati
pintar, cerdik, waskita, mengerti sebelum sesuatu terjadi
bisa tahu satu per satu leluhur anda
mengerti putaran jaman
mengetahui garis hidup setiap manusia, termasuk yang sudah lalu ditelan jaman

168.
oleh sebab itu carilah ksatria itu, sudah tidak ber-bapak, tidak berbibi
sudah lulus wedha Jawa (budi luhur dan ketuhanan), hanya dengan mengandalkan trisula wedha
tajamnya trisulanya, membawa maut atau utang nyawa
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain
yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan
(ia sendiri tidak akan membiarkan terjadi di hadapannya perbuatan merugikan orang lain, dan para pendamping di kiri-kanannya tidak akan membiarkan pencurian, kecurangan dan segala macam perbuatan jahat)

169.
pantang diberi hati yang dingin, bisa kena kutuk (jangan menyepelekannya, bisa ketulah)
senangnya menggoda pura-pura meminta (menggoda / bercanda pura-pura meminta)
ketahuilah bahwa ia hanya menggoda / bercanda, jangan salah sangka (apalagi sampai menghina / mengejek)
ada keberuntungan bagi yang pemberiannya diterima, sekeluarga akan diberkahi
(walaupun hanya menggoda pura-pura meminta, jika anda memberi,
anda sekeluarga akan diberkahi)

170.
penampakannya seperti begawan,
bukan pandita
tapi disebut pandita, bukan dewa tapi disebut dewa,
kelihatannya
seperti manusia biasa saja, tapi tidak sama dengan manusia biasa, karena mampu menerangkan dengan sejelas-jelasnya, yang semula masih rahasia diterangkannya menjadi jelas
sejelas-jelasnya
(walaupun kelihatannya sama seperti manusia biasa saja, tetapi ia seperti begawan yang tahu banyak hal dan mampu menerangkan segala sesuatu yang rahasia menjadi terbuka dan jelas sejelas-jelasnya, seperti pandita karena ia mampu menerangkan segala sesuatu keilmuan dan tentang Tuhan, dan waskita seperti dewa karena mengetahui segala sesuatu rahasia).

171.
jangan heran, jangan bingung, ya itulah putranya Batara Indra, yang sulung dan berkuasa menundukkan setan, yang sudah menerima diturunkannya kesaktian,
ya hanya dia itu yang
bisa memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya, yang tidak bisa dibohongi karena bisa masuk menyelami hati
ada manusia yang bisa bertemu, tapi ada juga yang belum waktunya bertemu, jangan kesal jangan kecewa, itu bukan waktunya anda
ia berlambang raja tanpa mahkota (raja yang tidak memperlihatkan kebesarannya yang kelihatan mata, sehingga tidak banyak orang yang menyadari kebesarannya sebagai raja),
karena itu yang mengalami berjumpa menghormatlah, jangan sampai kesempatannya habis, menghadaplah dan mengikutlah. Beruntungnya anak cucuku yang bisa bertemu

172.
ini adalah petunjuk untuk yang sadar dan waspada terhadap jaman kalabendu Jawa
jangan melarang menghormati si manusia dewa, karena akan musnah sirna seluruh keluarga
jangan sampai salah mengenali pandita
carilah
pandita bersenjatakan trisula wedha, ya itulah pemberian dari Yang Maha Kuasa

173.
berperang tanpa pasukan, kalau menang tidak merendahkan lawan
rakyat bergembira karena keadilan Tuhan telah tiba
sang raja memuliakan rakyatnya yang memuliakan trisula wedha
para pandita juga pada memujanya
ya itulah asuhannya si Aki Sabdopalon yang dulu sudah menanggung malu tetapi akhirnya termasyhur
segalanya jelas terang benderang, tidak ada yang mengeluh kekurangan
ya itulah tanda jaman kalabendu telah menyingkir, berganti jaman penuh kemakmuran dan kemuliaan
ia mampu memperbaiki tatanan dunia, semua orang hormat dan menjunjung tinggi



Istilah Putra Batara Indra digunakan sebagai ungkapan bahwa sosok Satria Piningit itu adalah manusia yang baik watak dan perilakunya, sosok yang telah menerima berbagai kekuatan dan kesaktian, ksatria perang pembela kebenaran dan keadilan, seorang manusia yang "Tercerahkan", dan menjadi kekasih Dewa (dikasihi Tuhan). 


Dalam tulisan ramalan di atas juga disebutkan tentang trisula wedha. Trisula Wedha adalah tiga pokok kekuatan Tuhan yang diimani oleh Sang Satria sesuai keimanannya. Sang Satria berpegang dan hanya mengandalkan / bersenjatakan tiga pokok kekuatan Tuhan itu sesuai keimanannya, sehingga tanpa ngelmu dan aji-aji kesaktian ia menerima kuasa sehingga ia berkuasa atas dunia (di dunia manusia dan mahluk halus). Dan sesuai keimanannya itu ia juga akan memuliakan siapapun yang memegang dan berpegang pada trisula wedha itu.


Banyak kalangan termasuk paranormal meyakini ramalan Jayabaya bahwa kehadiran Putra Batara Indra itu di Indonesia mendekati kenyataan, dan sebagian kalangan percaya bahwa dalam beberapa tahun ke depan atau bahkan dalam beberapa bulan lagi, Putra Batara Indra itu akan muncul di Indonesia. 


Sang Satria Piningit, yang akan menjadi Sang Ratu Adil, bersama Sabdo Palon dan Naya Genggong pamomongnya, jika kelak ramalan Jayabaya itu terbukti kebenarannya, akan membawa kegemilangan pada kehidupan rakyat di Nusantara, menjadi terang-benderang, adil-makmur, aman, dan tenteram. Pada masa itu rakyat tidak merasakan lagi kesusahan hidup, segala kebutuhan serba cukup, tak ada kekurangan sandang, pangan, dan papan. Itu menjadi tanda bahwa Jaman Kalabendu telah menyingkir, yaitu jaman kesengsaraan dan penderitaan, berganti menjadi jaman kejayaan dan kemakmuran.




 4.  Kitab Musarar Jayabaya dan
    Ramalan 7 Sosok Satria Piningit

Di dalam ayat-ayat ramalan dalam Kitab Musarar Jayabaya disebutkan tentang sosok manusia masa depan yang pada masa sekarang populer disebut Sang Satria Piningit.
Berikut kata-katanya itu :

27. Tapi besok kan akan datang si Tunjung Putih, semune pudhak kasungsang (Raja berhati putih, namun masih tersembunyi). Bumi Mekah tempatnya lahir (lahir dari karsa Tuhan). Dia itulah yang bertahta atas Mekah, berkuasa atas dunia  (Iku kang angratoni - Mekah, jagad kabeh ingkang mengku). Dijuluki Ratu Amisan, hilanglah musibah dan bencana di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.

28. Raja keturunan waliyullah (keturunan orang-orang panutan yang meneladankan hidup sebagai orang-orang yang sudah mengenal Allah). Berkedaton dua, satu di Mekah, satu lagi di tanah Jawa (mempunyai 2 kerajaan, satu di surga, satunya lagi di bumi di tanah Jawa). Tinggalnya orang itu dekat dengan gunung Perahu, sebelah baratnya tempuran. Dicintai oleh pasukannya. Dia itulah raja yang terkenal sedunia.

29. Waktu itulah ada pengampunan, penegakan hukum dan keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni (lambang keindahan dan kemuliaan) oleh ki Ajar. Orang itu mulia hatinya, bagus parasnya dan senyumnya manis sekali.


Dalam bait ramalan di atas digunakan istilah Mekah. Pengertian Mekah ini bukanlah fisik Mekah di tanah Arab sana dan bertahta atas Mekah juga bukanlah benar-benar bertahta atas fisik Mekah. Sama sekali tidak berkaitan dengan fisik Mekah-nya Islam.


Pengertian Mekah ini adalah pengertian dalam dunia kepercayaan ketuhanan. Pada masa itu Mekah dikenal sebagai tempat lahirnya agama Islam yang menyembah Tuhan (dan Tuhan dianggap lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada yang disembah agama-agama yang dianut manusia di Jawa pada masa itu). Agama Islam itu sudah dikenal dimana-mana dan Mekah menjadi tempat kiblat orang menyembah Tuhan. Karena itu istilah Mekah dalam bait ramalan di atas tidak menggambarkan fisik Mekah di Arab sana, tetapi menggambarkan maknanya. Ramalan itu mengungkapkan bahwa sosok manusia itu lahir karena kehendak Tuhan (Tuhan mempunyai tujuan sendiri dengan lahirnya orang itu)  dan orang itu menerima kuasa untuk membawa kebesaran Tuhan di dunia.



Berkenaan dengan isi ramalan dalam Kitab Musarar Jayabaya dan ramalan-ramalan lainnya, banyak kalangan yang sudah mencoba menafsirkannya. Yang berhubungan dengan negara Indonesia / Nusantara saat ini sebagian besar orang menafsirkannya sebagai sosok 7 satria piningit yang sudah, sedang dan masih akan muncul sebagai tokoh yang memimpin Nusantara, yaitu yang disebut dengan lambang-lambang : Satria Kinunjara Murwa Kuncara, Satria Mukti Wibawa Kesandung Kesampar, Satria Jinumput Sumela Atur, Satria Lelana Tapa Ngrame, Satria Piningit Hamong Tuwuh, Satria Boyong Pambukaning Gapura, dan Satria Pinandita Sinisihan Wahyu.


Di internet banyak sekali tulisan yang serupa mengenai isi tafsiran ramalan di atas sampai-sampai tidak (sulit) diketahui siapa pencetus tafsiran pertamanya. Sebagian besar menyebutkan ramalan tentang 7 satria piningit itu sebagai ramalan Ronggowarsito, tetapi saya sendiri belum dapat menemukan adanya tulisan Ronggowarsito yang menuliskan tentang 7 satria piningit itu.


Mengenai ramalan tentang 7 sosok satria piningit di atas saya tuliskan di bawah ini dengan editan dan ulasan seperlunya sebagai berikut :



1. SATRIA KINUNJARA MURWA KUNCARA.


Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjara), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang tersohor di seluruh dunia (Murwa Kuncara).

Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia, pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.


Kitab Musarar Jayabaya bait 18 :  " Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi ............. "

Lung gadung rara nglikasi diartikan memiliki makna pemimpin yang penuh inisiatif dalam segala hal (cerdas), namun memiliki kelemahan sering tergoda wanita. Perlambang ini diartikan menunjuk kepada presiden pertama RI, Soekarno.



2. SATRIA MUKTI WIBAWA KESANDUNG KESAMPAR.

Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) dan berwibawa / ditakuti (Wibawa), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia, pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

Kitab Musarar Jayabaya bait 18 :  " ........ kemudian berganti Gajah meta semune tengu lelaki ............. "

Gajah meta semune tengu lelaki diartikan memiliki makna pemimpin yang besar dan kuat dan disegani / ditakuti, namun akhirnya terhina dan nista. Perlambang ini diartikan menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto.


Dikatakan juga bahwa enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan pemerintahan tidak karu-karuan. Imbasnya kepada rakyat kecil. Waktu itu pajaknya rakyat adalah uang anggris dan uwang. Saya diberi hidangan darah sepitrah (banyak pertumpahan darah). Kemudian negara geger, bumi hilang berkahnya, pemerintahan rusuh. Rakyat celaka, bermacam-macam bencana menimpa, tidak dapat dihindari. Negara rusak. Para penguasa tidak menyatu dengan rakyatnya. Bupati berdiri sendiri-sendiri.



3. SATRIA JINUMPUT SUMELA ATUR.

Tokoh pemimpin yang diangkat / terpungut (Jinumput), tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur).  Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.


4. SATRIA LELANA TAPA NGRAME.

Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelana), tetapi juga seorang yang religius / rohaniwan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.


5. SATRIA PININGIT HAMONG TUWUH.

Tokoh pemimpin yang muncul berpakaian kharisma dari leluhurnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.

Kitab Musarar Jayabaya bait 20 :  " ........ Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang - Mataram "

Kemudian berganti zaman Kutila. Rajanya Kara Murka (raja-raja yang saling berangkara murka). Kondisinya dilambangkan Panji loro semune Pajang - Mataram, diartikan ada dua pemimpin yang berseteru ingin berkuasa dan saling menjatuhkan, digambarkan seperti Pajang dan Mataram. Ungkapan itu diartikan menunjuk kepada era perseteruan Gus Dur - Megawati.

Lalu pada bait 21 tertulis :

Nakhoda (orang asing) ikut serta memerintah. Yang kaya punya keberanian. Sarjana (orang pandai) menghilang semua. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, randa loro nututi pijer tetukar (ratu yang selalu diikuti / diintai dua saudara perempuannya yang ingin menggantikannya).

Di bawah pemerintahannya situasi negara digambarkan kekuatan asing memiliki pengaruh yang sangat besar bisa ikut mengatur jalannya pemerintahan. Orang pandai dianggap menghilang semua (tidak tampak hasil kerjanya). Kondisi rakyat kecil makin sengsara. Rumah-rumah hancur berantakan diterjang jalan besar diartikan banyak penggusuran oleh investasi ekonomi dan orang kaya yang merampas tanah rakyat.

Perseteteruan dua orang pemimpin itu kemudian selesai, tapi berganti menjadi lambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar bermakna seorang pemimpin wanita yang selalu diintai oleh dua saudara perempuannya seolah ingin menggantikannya. Perlambang ini diartikan menunjuk kepada Megawati, presiden RI kelima yang selalu dibayangi oleh Rahmawati dan Sukmawati.


6. SATRIA BOYONG PAMBUKANING GAPURA.

Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong - dari menteri menjadi presiden) dan akan menjadi pembuka gerbang menuju zaman keemasan (Pambukaning Gapura).

Banyak pihak yang menyakini tafsiran dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa, anarkisme dan prahara akan mengisi jamannya.

Kitab Musarar Jayabaya bait 22 :

Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, tidak berkesempatan menghias diri, itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti / memahami lambang tersebut ”.

Perlambang Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah. Ini diartikan menunjuk kepada presiden RI keenam saat ini, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan perlambang Semarang Tembayat dianggap merupakan tempat tinggal seseorang yang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi, tetapi istilah Semarang Tembayat masih merupakan misteri.

Kondisi negara digambarkan : 
- Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Pajaknya naik terus. Panen tidak memuaskan. Hasilnya kurang.
  Orang asusila dan orang jahat makin bertambah dan makin menjadi-jadi. Orang besar hatinya jahil.
  Makin hari makin bertambah rusaknya negara.
- Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Hukum / peraturan berganti-ganti. Tidak menerapkan keadilan.
  Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyaru menjadi wahyu (ajaran setan yang
  menyesatkan dianggap ajaran Tuhan, banyak terjadi penyesatan dalam pandangan beragama). Banyak
  orang melupakan Tuhan dan mengabaikan orang tua.

- Banyak wanita hilang kehormatannya dan banyak yang menjadi suguhan.
  Ada perang tanpa aba-aba, tanpa
pernyataan perang (serangan bom teroris ?). 
  Kemudian ada
tanda-tanda pecahnya negara (pemerintahan pusat kehilangan kuasanya, banyak muncul
  daerah
otonomi yang berkuasa seolah-olah negara-negara baru yang berdiri sendiri-sendiri).
- Banyak goro-goro (banyak bencana alam). Hujan besar tak kenal musim, bisa datang sewaktu-waktu.
  Banyak gempa dan gerhana.
Sampai kira-kira tahun (tahun jawa) 1800. Kematian dimana-mana.
  Tanah Jawa berantakan.


7. SATRIA PINANDITA SINISIHAN WAHYU.

Tokoh pemimpin yang amat sangat waskita dan religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang yang Pinandita, yang kepadanya diserahkan semua firman / wahyu dan kuasa Tuhan (Sinisihan Wahyu).

Kitab Musarar Jayabaya bait 27 - 29 :

- Tapi besok kan akan datang si Tunjung Putih, semune pudhak kasungsang (Raja berhati putih, namun masih
 
tersembunyi).
- Bumi Mekah tempatnya lahir (lahir dari karsa Tuhan).
- Dia itulah yang bertahta atas Mekah, bertahta atas seluruh dunia
  (
Iku kang angratoni - Mekah, jagad kabeh ingkang mengku).
  Dijuluki Ratu Amisan, hilanglah musibah dan bencana di bumi

  (kedatangannya
menghapuskan musibah dan bencana di bumi),
  nakhoda ikut ke dalam persidangan.

- Raja utusan Tuhan.
- Berkeraton dua, satu di Mekah, satu lagi di tanah Jawa (mempunyai 2 kerajaan, satu di surga, satunya lagi
  di bumi
di tanah Jawa).
- Tinggalnya orang itu dekat dengan gunung Perahu, sebelah baratnya tempuran.
- Dicintai oleh pasukannya.
- Dia itulah raja yang terkenal sedunia.
- Waktu itulah ada pengampunan, penegakan hukum dan keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi
  hidangan bunga seruni (lambang keindahan dan kemuliaan) oleh ki Ajar.
- Orang itu mulia hatinya, bagus parasnya dan senyumnya manis sekali.



Sosok raja yang terakhir inilah yang disebut banyak orang sebagai Sang Satria Piningit atau Sang Ratu Adil. 

Sosok pemimpin tersebut dipercaya akan mampu memimpin Nusantara ini dengan sangat baik, adil dan membawakan keselamatan dan kesejahteraan kepada rakyat. Sang Raja dan Nusantara akan terkenal di dunia.

Hanya saja apakah benar sosok raja ini akan menjadi presiden yang ke tujuh di Indonesia ini ataukah masih ada skenario lain sebelum kemunculannya, itu yang kita masih belum tahu pasti.


Ramalan-ramalan para leluhur Jawa tentang pemimpin-pemimpin dan raja-raja manusia di Jawa didasarkan pada olah kebatinan dan spiritual dan ada wahyunya tersendiri sehingga seseorang bisa meramal yang seperti itu, tidak berdasarkan bisikan / penglihatan gaib dari khodam seperti yang dilakukan oleh para peramal yang umum dan orang-orang dari kalangan ilmu gaib dan khodam. 

Para leluhur jawa itu mendasarkan ramalannya pada wahyu keprabon, kepada siapa wahyu keprabon itu akan turun, karena orang si penerima wahyu keprabon itulah yang dianggap diakui dan direstui Tuhan sebagai raja. Tetapi di dunia manusia ada saja raja-raja dan pemimpin yang tidak memiliki wahyu. Yang seperti itu, sekalipun di dunia manusia tetap berlaku bahwa orang itu adalah raja atau pemimpin, tetapi secara spiritual mereka itu dianggap bukan raja dan pemimpin yang sebenarnya. Mereka lebih sering dianggap sebagai orang-orang yang sudah memaksakan dirinya untuk berkuasa atau dianggap sebagai pengisi kekosongan pemerintahan saja (raja transisi) sampai tiba saatnya muncul raja / pemimpin sebenarnya yang direstui Tuhan.

Karena itu apakah benar sosok raja sang Satria Pinandita Sinisihan Wahyu itu akan menjadi presiden yang ke tujuh di Indonesia ini ataukah masih ada skenario / kejadian lain sebelum kemunculannya, itu yang kita masih belum tahu pasti.


Dan seperti yang sudah dituliskan di halaman berjudul  Keris Keningratan , khusus dalam hubungannya dengan Dewa dan Wahyu Dewa di tanah Jawa dan Keris Keningratan, orang-orang yang diakui sebagai seorang raja hanyalah raja Pajang - Sultan Adiwijaya, raja-raja Majapahit sampai jaman Prabu Brawijaya (kecuali raja Hayam Wuruk) dan raja-raja sebelum jaman Majapahit.

Sedangkan raja-raja sesudah jaman Majapahit - Prabu Brawijaya, selain raja Pajang - Sultan Adiwijaya, walaupun di dunia manusia orang-orang itu diakui sebagai seorang raja, tetapi secara spiritual orang-orang itu tidak diakui sebagai raja, paling tinggi hanya diakui setingkat adipati / bupati saja, karena orang-orang itu tidak pernah menerima wahyu keprabon, mungkin yang pernah mereka terima adalah wahyu lain yang lebih rendah derajatnya, atau mungkin malah tidak pernah menerima wahyu apapun.

Karena itu dalam hubungannya dengan Dewa dan Wahyu Dewa di tanah Jawa dan Keris Keningratan, orang-orang ningrat yang diakui sebagai keturunan seorang raja hanyalah orang-orang keturunan raja Pajang - Sultan Adiwijaya dan orang-orang keturunan raja-raja Majapahit sampai jaman Prabu Brawijaya (kecuali raja Hayam Wuruk) dan orang-orang keturunan raja-raja sebelum jaman Majapahit. Sedangkan keturunan raja-raja sesudah jaman Majapahit - Prabu Brawijaya, selain keturunan raja Pajang - Sultan Adiwijaya, tidak diakui sebagai keturunan raja, tapi paling tinggi hanya diakui sebagai keturunan seorang adipati / bupati saja.



_________




 >>  Dewa dan Satria Piningit / Ratu Adil











Comments