Dewa dan Satria Piningit 1

     Serat Dharmagandul

     Ramalan Sabdo Palon 1

 

Tulisan dalam halaman ini mengambil informasi dari berbagai sumber tulisan di internet, yang telah diedit dan ditambahkan ulasan seperlunya, untuk menjadi bahan penambah wawasan pemahaman kita tentang sosok Satria Piningit yang menjadi tema pembahasan tulisan ini  (ini juga sebagai permohonan ijin kepada pengasuh web tersebut bahwa tulisannya dijadikan bahan tulisan disini) antara lain adalah :
 - http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/darmagandhul-jawa/
 - http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/dharmo-ghandul.html
 - http://buntoroku.blogspot.com/2012/02/misteri-sabdopalon-noyogengngong-i.html
 - http://buntoroku.blogspot.com/2012/02/misteri-sabdo-palon-ii.html

Tujuannya adalah sebagai bahan kajian spiritual, untuk dikaji sisi spiritualnya. Untuk informasi selengkapnya silakan membaca-baca tulisan lain yang terkait di internet.


Ada beberapa tulisan yang menjadi sumber cerita (ramalan) tentang tokoh Satria Piningit ini yang terkait erat dengan sosok Sabdo Palon dan Naya Genggong sebagai pamomongnya, seperti Kitab Jangka Jayabaya, Kitab Musarar Jayabaya, Kitab Dharmagandul, dan Serat Sabdo Palon Naya Genggong.

Seringkali masing-masing tulisan itu tidak bisa dipastikan mana yang asli dan siapa penulis pertamanya. Kemungkinannya, itu terjadi karena sejak awalnya tulisan-tulisan itu sudah menjadi karya sastra kerajaan yang hanya boleh dibaca oleh kalangan terbatas saja, tertutup untuk umum, yaitu hanya untuk kalangan istana dan keluarga keraton saja, rakyat umum hanya mendengar ceritanya saja, dan tulisan-tulisan itu disimpan dan dipelihara secara turun-temurun sebagai pusaka kerajaan.

Jika terjadi penaklukkan sebuah kerajaan terhadap kerajaan lain biasanya semua karya sastra dan harta benda (termasuk pusaka-pusaka), kalau tidak dimusnahkan, maka akan diboyong ke kerajaan penakluk. Sesudah itu pujangga-pujangga (spiritualis) kerajaan penakluk akan mempelajari dan menggubah / menulis ulang tulisan-tulisan sastra itu untuk disesuaikan dengan bahasa yang berlaku saat itu di tempat kerajaan si penakluk, ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti saat itu (misalnya dari bahasa jawa kuno atau sansekerta ditulis ulang ke bahasa jawa yang lebih umum).

Secara umum para pujangga (sarjana / spiritualis) jaman dulu tidak menyebutkan namanya di dalam karya-karya mereka, karena semua karyanya nantinya akan dipersembahkan untuk menjadi milik / perbendaharaan kerajaan, sehingga pada masa kemudian, jika ditemukan sebuah karya sastra kuno, sulit untuk diketahui nama asli penulisnya. Dengan demikian seringkali nama orang yang dikenal sehubungan dengan sebuah karya sastra biasanya adalah nama rajanya atau nama sang penulis / penggubah terakhir yang menulis ulang karya sastra itu, malah bisa jadi penggubah terakhir itulah yang kemudian dianggap sebagai penulis pertama karya sastra itu. Karena kita tidak mempunyai akses langsung dan juga kemampuan untuk mempelajari karya aslinya, maka kita tidak perlu mempertentangkan siapa pujangga (spiritualis) penulis pertamanya, dan mudah-mudahan "isi" terjemahannya masih sama dengan "isi" karya aslinya dulu.

Bentuk tulisan karya sastra para pujangga tanah jawa jaman dulu seringkali berbentuk puisi atau tembang, tidak berbentuk formal seperti buku sejarah, oleh karenanya tulisannya akan banyak berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang dan seringkali juga ditambahi dengan cerita-cerita kembangan yang seringkali menjadi tampak tidak sejalan dengan jalannya sejarah.

Biasanya karya sastra para pujangga (spiritualis) itu ditulis dengan "olah batin" khusus, sehingga dalam membaca dan mempelajarinya kita juga harus "paham" dan "mengerti" kawruh kejawen, harus dibaca dengan "rasa", karena tidak semuanya dapat dengan sederhana dimengerti dengan nalar dan logika sempit dan pasti tidak akan sama ceritanya dengan karya sastra pujangga (spiritualis) lain, walaupun menceritakan sesuatu yang sama, sehingga dari banyak tulisan tentang sesuatu yang sama, satu tulisan dengan tulisan lainnya tidak akan bisa diperbandingkan untuk tujuan menilai mana yang paling benar, apalagi untuk tujuan diuji kebenarannya dengan membandingkannya dengan jalannya sejarah.

Seringkali karya-karya sastra para spiritualis / pujangga itu bukan hanya untuk menuliskan sesuatu yang penting, tetapi juga untuk
mengungkapkan "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, sehingga mereka menuliskannya secara khusus dengan olah batin khusus dalam bentuk karya sastra dan berisi kiasan-kiasan atau kata-kata perlambang untuk mengungkapkannya. Karena itu dalam rangka membacanya / mempelajarinya jangan menterjemahkan tulisannya secara harfiah dan jangan "mengecilkan" maknanya. Yang harus dimengerti bukanlah sebatas bentuk formal tulisannya seolah-olah itu adalah sebuah novel fiksi atau buku sejarah, tetapi adalah  "isi",  "maksud"  dan  "tujuan"  dari masing-masing tulisan para pujangga (spiritualis) tersebut. Dan ungkapan-ungkapan mereka atas "sesuatu" yang "besar" dan "tinggi" hakekatnya itu harus kita terima apa adanya, karena itu adalah hasil olah batin mereka, walaupun mungkin tidak sejalan dengan rasa keinginan dan pemahaman kita.



  Serat Dharmagandul


Serat Dharmagandul ini sempat dilarang beredar karena dianggap sebagai karya sastra yang kontroversial, isinya dianggap menghina agama Islam. Cerita ini ditampilkan disini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan agama Islam, tetapi sebagai bahan pengetahuan saja, dan lebih baik bila kita membaca sendiri daripada hanya mendengar saja dari omongan orang lain yang belum tentu sesuai dengan isi tulisan aslinya. Setidaknya dengan sikap bijaksana kita menjadi tahu bahwa ada bentuk tulisan yang selama ini kita tidak tahu.

Diperlukan netralitas yang tinggi dan pengertian kawruh untuk bisa menangkap makna tulisan ini dengan benar, jangan menonjolkan fanatisme agama. Tujuannya diungkapkan disini adalah sebagai bahan untuk menarik benang merah spiritual, untuk dikaji isi dan sisi spiritualnya. Untuk informasi selengkapnya silakan membaca-baca tulisan yang terkait di internet.

Serat Dharmagandul mengisahkan percakapan Dharmagandul dengan Kalamwadi (murid dan guru ? ) mengenai asal-usul awal mulanya orang Jawa meninggalkan agama Buddha dan beralih pada agama Islam dan kisah mengenai berdirinya kerajaan Islam Demak dan runtuhnya kerajaan Majapahit.

Yang terkait dengan sosok Satria Piningit dan Sabdo Palon - Naya Genggong, di dalam Serat Dharmagandul ada pada episode perpisahan antara
Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena adanya perbedaan prinsip.

Dalam Serat Dharmagandul itu cerita tentang tokoh Satria Piningit dan Sabdo Palon - Naya Genggong dimulai dari cerita percakapan Prabu Brawijaya dengan Sabdo Palon - Naya Genggong ketika mereka akan berpisah karena Prabu Brawijaya sudah meninggalkan agama leluhur dan berganti memeluk agama lain yang tidak sejalan dengan keinginan Sabdo Palon - Naya Genggong.


Dalam serat Dharmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon, ketika Sunan Kalijaga berhasil menyusul Prabu Brawijaya yang tengah melarikan diri ke Bali.

Sebelumnya dikisahkan bahwa atas hasutan para Wali, Raden Patah menyerang Majapahit pada malam acara "garebek", dibantu oleh kekuatan para penguasa kabupaten / kadipaten yang telah memeluk agama Islam. Prabu Brawijaya terpaksa menyingkir melarikan diri dan berniat menuju ke pulau Bali.

Ketika Sunan Kalijaga berhasil menyusul Prabu Brawijaya dalam perjalanan menuju pulau Bali, kepada Sunan Kalijaga Prabu Brawijaya menyampaikan unek-unek sakit hati dan kemarahannya atas penghianatan Raden Patah dan para Wali, karena sebelumnya dia sudah berbaik hati memberikan ijinnya kepada para tokoh Islam dan para Wali itu untuk menyebarkan agama Islam dan mendirikan pesantren di dalam wilayah kerajaannya, dan juga sudah mengangkat Raden Patah dari Palembang menjadi bupati di Demak.

Di dalam kemarahannya Prabu Brawijaya berniat menggalang kekuatan dari kerajaan-kerajaan di Bali untuk menyerang Demak dan membunuh Raden Patah yang telah bertindak kurang ajar kepadanya. Namun di dalam pertemuan itu Sunan Kalijaga berhasil meredam kemarahan Prabu Brawijaya dan bisa mencegah niatnya. Malah Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya akhirnya berkenan pindah masuk agama Islam.

Setelah itu Prabu Brawijaya meminta dipotongkan rambutnya kepada Sunan Kalijaga, tetapi ternyata rambutnya tidak mempan dipotong. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya lahirnya saja yang Islam, maka rambutnya tidak mempan dipotong. Sang Prabu kemudian berkata bahwa ia sudah Islam lahir batin, barulah kemudian rambutnya bisa dipotong.

Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”.

Setelah potong rambut Prabu Brawijaya kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong : "Kamu berdua kuberitahu, mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut sejatinya nama Allah. Kalian berdua kuajak pindah agama Rasul dan meninggalkan agama Buddha".

Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi. 

Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini rajanya dhanyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, dia menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang
Sakri, turun temurun sampai hari ini hamba masih mengasuh raja-raja Jawa.

Kula manawi tilêm ngantos 200 taun, sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek, ingkang nakal sami nêdha jalma, sami nêdha bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi têgêsipun ngrêti, têka narimah nama Jawan, rêmên manut nunut-nunut, pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing ”, Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr.

Hamba kalau tidur sampai 200 tahun. Selama hamba tidur pasti ada peperangan, saudara melawan saudara, manusia yang jahat membunuhi manusia lainnya, membunuhi sesama bangsanya sendiri. Sampai sekarang umur hamba sudah 2000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, tetap memegang teguh agama Buddha sejak awal. Baru Paduka yang berkehendak meninggalkan ajaran luhur Jawa. Jawa artinya "tahu", "mengerti".  Mau menerima berarti 'Jawan', hanya suka nurut ikut-ikutan, akan membuat sengsara muksa Paduka kelak," kata Sang Wikutama yang kemudian disambut halilintar bersahutan.

Dalam percakapan di atas, dalam kaitannya dengan agama, oleh Sabdopalon diberikan penegasan bahwa artinya Jawa adalah mengerti, tahu. Jadi terkait dengan agama jawa dimaknakan bahwa orang jawa di dalam beragama dan berkepercayaan bukan hanya sekedar mengikuti saja suatu agama, tetapi mereka beragama karena tahu, mengerti, mempunyai kawruh tentang agamanya dan tentang Yang Disembah.

Sedangkan pengertian Jawan dimaksudkan sebagai orang-orang Jawa yang menerima dan memeluk suatu agama hanya karena menuruti saja apa kata orang, tidak mampu menilai benar-tidaknya, dan tidak didasari "kawruh", sehingga kemudian hilang nalarnya, tega menghalalkan cara untuk menganiaya dan membunuhi manusia lainnya, termasuk menganiaya dan membunuhi orang tua dan saudara-saudaranya sendiri demi fanatisme agamanya. (silakan dibaca versi lengkapnya).

Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu, apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama Rasul, nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?”

Sang Prabu bertanya lagi, "Bagaimana niatanmu, mau apa tidak meninggalkan agama Buddha ganti masuk agama Rasul, menyebut Nabi Muhammad Rasullalah dan nama Allah Yang Sejati?"

Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak, kula botên têgêl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika têgêsipun ngukum, tur siya dhatêng raga, manawi kula santun agami, saestu damêl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalêm badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botên urus, ngalêm saening tangga, ngapêsakên badanipun piyambak, kula rêmên agami lami, nyêbut Dewa Ingkang Linangkung ............... "

Sabdopalon berkata sedih: "Paduka masuklah sendiri. Hamba tidak sanggup mengikuti watak sia-sia, seperti orang-orang Arab itu. Menginjak-injak hukum, menginjak-injak tata krama. Jika hamba pindah agama, pasti akan sengsara muksa hamba kelak. Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam sendiri, memuji diri sendiri. Saya tidak mau ikut-ikutan, kalau saya ikut memuji mereka akan mencelakai diri saya sendiri, hamba memilih agama lama, yang menyebut Dewa (Tuhan) Yang Di Atas ................ "

Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama ?”

Sang Prabu bertanya lagi : "Apa kamu tidak mau ikut agama Islam ?"

Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami, dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”

Sabdopalon berkata sedih,"Saya ikut agama lama, kepada agama baru tidak mau !   Lagipula kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya dulu kepada hamba ?  Mengapa paduka lupa nama hamba Sabdapalon ?  Sabda artinya kata-kata, Palon artinya kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pegangan hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”

Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kêbacut mlêbu agama Islam, wis disêkseni Sahid, aku ora kêna bali agama Buddha maneh, aku wirang yen digêguyu bumi langit.”

Sang Prabu berkata: "Bagaimana ini, aku sudah terlanjur masuk agama Islam, sudah disaksikan si Sahid, aku tidak bisa kembali kepada agama Buddha lagi, aku malu kalau sampai ditertawakan bumi dan langit."

Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botên tumut-tumut.”

Sabdapalon berkata lagi: "ya sudah, silahkan Paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikutan."

Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangêt, sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji, prêlu kanggo tandha yêkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wis kathandha, yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul, amarga banyu sêndhang gandane wangi.

Sunan Kalijaga kemudian berkata kepada Sang Prabu, yang isinya supaya jangan banyak pertimbangan, jangan bimbang, karena agama Islam itu sangat mulia dan berkata Ia akan mencipta air yang dari sumber air (beji) sebagai tanda, bagaimana baunya. Jika air tadi bisa berbau wangi, itu tanda bahwa Sang Prabu sudah mantap kepada agama Rasul, tetapi apabila baunya tidak wangi, itu tanda Sang Prabu masih berat kepada Buddha. Sunan Kalijaga kemudian mengheningkan cipta. Seketika air sumber menjadi berbau wangi, karena itu Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, sesuai tanda airnya, bahwa Sang Prabu nyata sudah mantap kepada agama Rasul, karena air sumber baunya wangi.

Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên, dipunpamerakên dhatêng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mêngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rêbat punika? 

Sabdopalon berkata kepada Sang Prabu: " Itu kesaktian apa?  Kesaktian kencing hamba kemarin sore dipamerkan kepada hamba. Seperti anak-anak kalau hamba melawan kencing hamba sendiri.

Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. 

Paduka sudah terlanjur terperosok, sudah jadi jawan, arab-araban, hanya nurut ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu memomong orang tolol, saya mau mencari momongan yang bermata satu (yang mengerti dan tahu tujuannya beragama), tidak mau saya memomong Paduka.

Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran, toya kula-êntut sêpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti, rêdi-rêdi sami kula êntuti, pucakipun lajêng anjêmblong, latunipun kathah ingkang mêdal, mila tanah Jawi lajêng botên goyang, mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun, sami mêdal latunipun sarta lajêng wontên kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damêl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damêl bumi lan langit. 

Jika hamba mau mengeluarkan kesaktian, airnya hamba kentuti sekali saja sudah jadi wangi. Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya itu saya, yang membuat kawah air panas di atas-atas gunung tinggi itu semua saya. Adikku Batara Guru hanya meng-iya-kan saja. Dulu pada waktu tanah Jawa gonjang-ganjing karena besarnya api di bawah tanah, gunung-gunung hamba kentuti, puncaknya kemudian ambrol berlubang, apinya kemudian keluar, maka tanah Jawa kemudian tidak lagi goyang, maka gunung-gunung pada puncaknya keluar apinya serta ada kawahnya, isinya air panas dan air tawar. Itu semua hamba yang membuat. Semuanya atas kehendak Lata Wal Hujwa, yang membuat bumi dan langit.

Punapa cacadipun agami Buddha, tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.

Apa jeleknya agama Buddha, manusia bisa memohon langsung kepada Yang Maha Kuasa. Paduka tolong dipahami, jika sudah memeluk agama Islam, meninggalkan agama Buddha, keturunan Paduka pasti celaka, orang jawa hanya tinggal jawan (jawa-jawaan, kehilangan jati dirinya, mengaku jawa tapi tidak berbudi pekerti), kawruh Jawa-nya hilang, hanya menuruti bangsa lain. Suatu saat pasti akan diperintah oleh orang Jawa yang mengerti.

Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal, wiji bungkêr botên thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanêma thukul mriyi, namung kangge têdha pêksi, mriyi punika pantun kados kêtos, amargi paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela. Paduka-yêktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wêwah bênter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rêmên dora, kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata, jawah salah masa, damêl bingungipun kanca tani. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrêtobat, sami engêt dhatêng agami Buddha malih, lan sami purun nêdha woh kawruh, Dewa lajêng paring pangapura, sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”.

Coba Paduka saksikan, besok : bulan purnama tidak seperti bulan purnama, biji ditanam tidak tumbuh, ditolak oleh Dewa (Tuhan). Walaupun tumbuh tapi kecil saja, hanya cocok untuk makanan burung, padi tidak berisi, karena paduka yang salah, mau menyembah batu. Paduka saksikan besok tanah Jawa berubah udaranya, tambah panas jarang hujan, hasil bumi berkurang, banyak manusia suka menipu, berani berbuat nista dan suka bersumpah, hujan salah musim, membuat bingung para petani. Sejak hari ini hujan sudah berkurang, sebagai hukuman banyak manusia berganti agama. Besok apabila sudah bertobat, ingat kepada agama Buddha lagi, dan kembali mau makan buah pohon pengetahuan, Dewa (Tuhan) akan memaafkan, hujan kembali seperti jaman Buddha lagi."

Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha ........

Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdapalon dalam batinnya merasa menyesal sekali karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha .........

Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku, amarga kêpencut ature putri Cêmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir.

Lama beliau tidak berkata. Kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya ia ke agama Islam itu karena terpikat kata-kata putri Cempa, yang mengatakan bahwa orang agama Islam itu katanya kalau besok mati masuk surga yang melebihi surganya orang kafir.

Sabdapalon matur, angaturake lêpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mêsthi nêmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wênang miwiti karêp, Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu.

Sabdapalon berkata sambil meludah, "Sejak jaman kuno, bila laki-laki menurut kepada perempuan, pasti akan sengsara, karena perempuan itu utamanya untuk wadah, tidak berwewenang memulai kehendak." Sabdapalon banyak-banyak mencaci Sang Prabu.

Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kêbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam, wis disêkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”.

Sang Prabu berkata: "Kamu cela saya juga tidak berguna, karena sudah terlanjur, sekarang kamu aku tanya, masih tetapkah tekadmu ?  Aku sudah mantap masuk agama Islam, sudah disaksikan oleh si Sahid, sudah tidak bisa kembali kepada agama Buddha lagi."

Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang.
Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.


Sabdapalon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau. Ketika ditanya perginya akan kemana, Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak tinggal di situ, hanya menyatakan namanya Semar, artinya meliputi segala wujud, tidak tampak secara mata. Sang Prabu diminta memahami, kalau besok ada orang Jawa ber-nama tua (nama dari suatu negeri yang dituakan), berpegang pada kawruh, ya itulah yang akan diasuh oleh Sabdopalon, orang Jawa yang cuma ngaku-ngaku jawa, yang sudah hilang kawruh jawanya, akan diajar supaya bisa melihat mana yang benar dan mana yang tidak.

Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”.

Sang Prabu hendak merangkul Sabdapalon dan Nayagenggong, tetapi kedua orang tersebut sudah menghilang.
Sang Prabu menyesal dan meneteskan air mata. Kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga, "Besok gantilah Blambangan dengan nama Banyuwangi, menjadi peringatan akan kembalinya Sabdapalon ke tanah Jawa membawa manusia asuhannya. Sekarang ini Sabdopalon masih di alam lain."




---------------



Demikianlah kisah Prabu Brawijaya dengan Sabdo Palon dan Naya Genggong yang tertulis di dalam
Serat Dharmagandul. Pada masa itu kepercayaan ketuhanan manusia jawa didasarkan pada banyak ajaran, seperti agama Buddha yang mengajarkan dharma dan budi pekerti dalam ajaran-ajarannya, percaya dan menghormati dewa-dewa sebagai sosok-sosok yang mewakili Tuhan dan yang menjaga keharmonisan dan keselarasan alam, dan menyembah Tuhan sebagai Roh Agung Penguasa Alam, ditambah dengan ajaran-ajaran budi pekerti leluhur, yang semuanya itu menjadi satu kesatuan kepercayaan manusia Jawa dan melandasi kawruh kejawen. Jadi agama / kepercayaan kejawen itu bukan murni semata-mata agama Hindu saja, atau Buddha saja atau aliran kepercayaan saja seperti yang sering dikatakan orang pada jaman sekarang.

Dalam cerita di atas diungkapkan alasan-alasan Sabdopalon menolak agama Islam, yaitu karena dia mengerti agamanya sendiri, setuju dengan agama Buddha yang mengajarkan budi pekerti, dan "merasa" mengerti aslinya agama Islam, jadi penolakannya bukan semata-mata karena perbedaan pendapat dan fanatisme agama, tetapi lebih disebabkan karena ia "merasa" mengerti.
Baca juga versi cerita lengkapnya di :
  -
http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/darmagandhul-jawa/
  - http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/dharmo-ghandul.html.


Di dalam cerita di atas sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kata-kata sabda tentang sosok manusia masa depan yang diharapkannya, yang akan menjadi asuhannya.
Berikut kata-katanya itu :

" Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka ". 

" Paduka sudah terlanjur terperosok, sudah jadi jawan, arab-araban, hanya nurut ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu memomong orang tolol, saya mau mencari momongan yang bermata satu (yang mengerti dan tahu tujuannya beragama), tidak mau saya memomong Paduka ".

“….. Paduka yektos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apes, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, remen nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangerti.”

“….. Paduka tolong dipahami, jika sudah memeluk agama Islam, meninggalkan agama Buddha, keturunan Paduka pasti celaka, orang jawa tinggal jawan (jawa-jawaan, kehilangan jati dirinya, mengaku jawa tapi tidak berbudi pekerti), Jawa-nya hilang, hanya menuruti bangsa lain. Suatu saat pasti akan diperintah oleh orang Jawa yang mengerti.

“.... Sang Prabu diaturi ngyektosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajeneng tuwa, agegaman kawruh, iya iku sing diemong Sabdapalon, wong jawan arep diwulang weruha marang bener luput.”

“.... Sang Prabu diminta memahami, kalau besok ada orang Jawa ber-nama tua (nama dari suatu negeri yang dituakan), berpegang pada kawruh (mengenal Tuhan dan mengerti ketuhanan), ya itulah yang akan diasuh oleh Sabdopalon, orang Jawa yang cuma ngaku-ngaku jawa, yang sudah hilang kawruh jawanya, akan diajar supaya bisa melihat mana yang benar dan mana yang tidak”.


Dalam tiga ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu hari nanti akan ada orang Jawa yang akan diasuh oleh Sabdo Palon, orang Jawa yang bermata satu (yang mengerti dan tahu tujuannya beragama), yang memakai nama tua (nama dari suatu negeri yang dituakan), yang memegang kawruh (mengenal Tuhan dan mengerti ketuhanan) yang akan mengajarkan yang benar dan akan mengajar manusia jalan ketuhanan yang benar.



Dalam serat Dharmagandul, Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Orang Jawa yang mengerti budaya Jawa pastilah memahami siapa Semar. Secara singkat, Semar dipercaya merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertakwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara moralitas dan budi pekerti manusia.

Semar telah dikenal sebagai sosok pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir, atau salah dalam perbuatan, apalagi bila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebagai pemomong, Semar tidak pernah mengucapkan “perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukannya”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada si manusia sendiri. Dia hanya bertugas mengayomi, mengingatkan dan menunjukkan jalan yang benar. Semar memiliki banyak nama, di antaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismaya, Ki Badranaya, dll.



Tulisan yang lain, yaitu Serat Sabdo Palon Naya Genggong, menceritakan sabda (ramalan) Sabdo Palon.


 >> Dewa dan Satria Piningit - 2.






--------------------









Comments