https://sites.google.com/site/thomchrists/dongeng-cerita-babad-tanah-jawa/wafatnya-sultan-adiwijaya/Blackmoon.JPG




Wafatnya Sultan Adiwijaya  

 


Perang antara tentara kerajaan Pajang dan tentara Mataram tak dapat dihindarkan. Sultan Adiwijaya dan Panembahan Senopati berdiri berseberangan sebagai lawan, berada di belakang tentaranya
masing-masing dengan lambang-lambang kebesarannya masing-masing. Sultan Adiwijaya duduk menunggangi seekor gajah lambang kebesaran kerajaan Pajang dan kerisnya Kyai Sengkelat di belakang pinggangnya. Panembahan Senopati duduk di atas pelana kuda jantan putih kesayangannya, tombak Kyai Plered di tangan kanannya, mustika wesi kuning di sakunya, berbagai macam jimat rajahan di balik bajunya dan pusaka Bende Mataram di tangan pengawalnya di sebelah kirinya.

Tetapi tentara Pajang masih lebih tangguh dan lebih terlatih daripada tentara Mataram. Sepanjang pertempuran pasukan Mataram selalu terdesak dan korban banyak sekali berjatuhan di pihak Mataram. Bala bantuan prajurit dan orang-orang sakti dari sekutu-sekutu Mataram terus berdatangan, tetapi
tetap saja mereka selalu terdesak dan korban terus berjatuhan, bahkan walaupun Bende Mataram sudah sering dibunyikan.

Bende Mataram adalah pusaka Mataram yang kegaibannya berguna untuk menaikkan moral dan semangat tempur pasukan dan sekaligus juga melemahkan semangat tempur dan mengacaukan konsentrasi lawan.

Setiap bende tersebut dibunyikan semangat tempur pasukan Mataram bangkit lagi mendesak pasukan Pajang yang menurun konsentrasinya. Para spiritualis Mataram di
belakang barisan juga sejak awal tak henti-hentinya membacakan doa amalan dan mantra mereka. Tetapi segera setelah itu pula kekuatan batin Sultan Adiwijaya dikonsentrasikan menetralisir pengaruh gaib pusaka Bende Mataram dan ilmu-ilmu sihir mereka. Pengaruh gaib Bende Mataram dan ilmu-ilmu gaib para spiritualis Mataram hampir tak berarti dan pasukan Pajang yang memang lebih tangguh dapat selalu menekan pasukan Mataram sehingga korban terus berjatuhan di pihak Mataram.


Kalau hanya menghadapi Panembahan Senopati dan pasukannya beserta gabungan
pasukan dari kadipaten / kabupaten yang bersatu di bawah Mataram dan orang-orang sakti mereka di pihak Panembahan Senopati, sebenarnya bila dikehendakinya, Sultan Adiwijaya tidak memerlukan tentara untuk menghadapinya. Sekalipun dirinya sudah tua, tetapi tenaganya dan kesaktiannya, ditambah dengan kesaktian pusakanya, masih cukup mumpuni untuk ia sendirian menumpas mereka semua. Apalagi ilmu andalannya Lembu Sekilan sudah matang sempurna dalam dirinya, menjadikannya tak dapat dikenai pukulan dan serangan berbagai macam senjata tajam dan pusaka dan sihir.

Tetapi Sultan
Adiwijaya sengaja datang bersama tentaranya dan menunggangi seekor gajah lambang kebesaran kerajaan Pajang untuk menunjukkan kebesarannya sebagai seorang raja. Ia sengaja menunggu saja, tidak turun dari tunggangannya, tidak turun ke gelanggang perang, hanya memperhatikan saja dari jauh. Ia menunggu sampai Panembahan Senopati, anak angkatnya itu, datang sendiri kepadanya. Ia ingin mendengar langsung dari mulut Panembahan Senopati, mengapa ia berani kurang ajar kepadanya, ayahnya, dan berani berhadapan perang melawannya, rajanya.

Sekalipun Panembahan Senopati diberinya kekuasaan di tempat yang sekarang disebut Mataram, sebagai warisan dari ayah tirinya Ki Pamanahan, tetap saja Mataram adalah bawahan Pajang, harus tunduk kepada Pajang.

Tidak apa-apa Mataram tidak menyerahkan upeti / pajak, karena Mataram memang dibebaskan dari keharusan membayar
upeti / pajak sebagai tanda jasa dan terima kasihnya dulu. Tetapi ketika orang-orang generasi tuanya datang menghadap ke Pajang menjaga kekerabatan, justru Panembahan Senopati tidak mau ikut datang. Dan yang tak dapat diterima, Panembahan Senopati sengaja mempengaruhi kepala-kepala daerah lain di bawah Pajang untuk tidak membayar upeti kepada Pajang dan mempengaruhinya juga untuk bersekutu dengan Mataram, sama seperti yang diperbuat oleh Demak dulu pada masa awal mereka membangun kekuasaan.

Sultan Adiwijaya tetap menganggap Panembahan Senopati adalah anak angkatnya yang sudah dianggapnya sama seperti anaknya sendiri, yang bahkan anak-anaknya pun sudah akrab dan memandang saudara kepada Panembahan Senopati. Di matanya, tidak sepantasnya seorang anak kurang ajar kepada ayahnya, apalagi sampai berani melawannya, rajanya. Ia tidak ingin menurunkan tangan besi kepada anaknya itu bila sang anak mau meminta maaf kepadanya. Dan semua tentara yang dibawanya untuk mengalahkan tentara Mataram hanyalah sebagai pelajaran saja supaya Mataram dan wilayah-wilayah lain di bawah Pajang tidak menentang kebesaran Pajang. Semua yang menentang Pajang akan rata dengan tanah.


Peperangan kelihatan sekali berat sebelah. Tentara Mataram, walaupun dibantu oleh orang-orang sakti dan tentara kiriman dari kadipaten dan kabupaten yang bersekutu dengan Mataram memang belum sekelas dan tidak dapat disejajarkan dengan tentara kerajaan Pajang. Apalagi ketentaraan kerajaan Pajang sekarang sudah jauh lebih kuat daripada kerajaan Demak dulu. Korban terus berjatuhan di pihak Mataram. Hasil akhir jalannya perang sudah bisa diperkirakan. Tinggal menunggu waktu saja sampai semua tentara Mataram menyerah atau mati.

Tetapi tiba-tiba suatu fenomena gaib meliputi Sultan Adiwijaya. Sukma halus para leluhurnya,
mantan-mantan raja Singasari dan Majapahit datang berkumpul di sekelilingnya. Sri Rajasa Kertanegara, Raden Wijaya beserta istri-istrinya, Ratu Tribhuana Tunggadewi dan adik-adiknya, pembesar-pembesar dan para bangsawan yang setia kepada Singasari dan Majapahit, bersama-sama datang kepadanya. Ibu Kanjeng Ratu Kidul, istrinya, di sebelah kirinya. Anak mereka Raden Rangga duduk di atas gajah di belakangnya.

Berbagai macam sasmita gaib masuk ke kepalanya.

Ibu Ratu Tribhuana Tunggadewi lembut berkata kepadanya :

" Tidak usah dilanjutkan ambisimu menjadi penguasa tanah Jawa. Sudah cukup kiranya kamu menjadi penerus kami, menjadi pamungkas raja-raja Singasari dan Majapahit. Mulai hari ini juga wahyu raja yang ada padamu sudah akan pergi, kembali kepada yang memberi wahyu.

Biarkan saja Mataram dengan Panembahan Senopatinya itu. Ia bukanlah penerusmu ataupun penggantimu. Kerajaannya hanyalah transisi saja sebelum tanah Jawa masuk ke dalam jaman yang baru. Jaman yang penuh dengan kesusahan dan penderitaan.

Tanah Jawa akan masuk ke dalam jaman baru. Jaman yang penuh dengan kesusahan dan penderitaan. Dan tidak ada satupun raja Jawa sesudah kamu yang akan dapat melindungi tanah Jawa dan rakyatnya pada jaman itu. Penguasa tanah Jawa yang sesungguhnya akan datang dari seberang.

Kejayaan tanah Jawa sudah berakhir. Tidak akan ada lagi panji-panji kebesaran yang akan dikibarkan, karena tanah Jawa akan menjadi jajahan orang-orang dari seberang. Kebesaran tanah Jawa akan menjadi pampasan perang. Tak ada lagi yang akan tersisa. Kebesaran tanah Jawa sudah habis. Bahkan kebanggaan sebagai orang tanah Jawa pun tidak akan lagi ada.

Tetapi akan ada masanya nanti tanah Jawa akan bangkit kembali.  Batas-batas Singasari - Majapahit akan dipulihkan lagi. Dipimpin oleh raja-raja keturunan kami.

Tapi mereka bukanlah
raja-raja yang utama. Mereka hanyalah pembuka jalan saja bagi raja yang sesungguhnya, raja besar yang akan menerima semua restu dari para leluhur raja-raja pendahulunya, Singasari - Majapahit di timur dan tengah dan Galuh di barat.

Ia raja manusia. Ia juga raja kami dan semua mahluk halus. Pusaka-pusaka tanah Jawa dan pusaka-pusaka dewa akan diwariskan kepadanya. Wahyu-wahyu raja akan tumpuk padanya. Dewa-dewa pun menyertainya.

Ia akan datang sesudah bumi porak-poranda. Itulah tanda kebesarannya. Ia tidak butuh tentara. Ia sendiri bisa memporak-porandakan dunia.

Kami sedih menyampaikan ini kepadamu. Kami tahu kamu sangat menghormati kami leluhurmu dan ingin kejayaan Majapahit kembali berkibar. Tetapi sudah tiba waktunya bahwa tanah Jawa akan menerima karma, hukuman, karena keburukan perbuatan dan moral mereka sendiri. Tetapi pada waktunya nanti kamu juga akan berbangga. Karena dia, raja yang akan datang itu, adalah bagian dari kita. Keluarga kita ".


Sultan
Adiwijaya tidak lagi berkonsentrasi pada perang yang sedang berlangsung. Para senopati dan prajuritnya harus bekerja lebih keras karena tidak lagi mendapatkan arahan langsung dari rajanya. Bahkan dorongan moril pun tidak ada lagi.

Tiba-tiba gajah tunggangan Sultan
Adiwijaya berputar berbalik arah. Berjalan pulang kembali ke Pajang. Para pengawal dan senopatinya bingung bukan kepalang. Segera semua prajurit diperintahkan mundur, mengikuti dan mengawal raja mereka kembali ke Pajang.

Sepanjang jalan ke Pajang Sultan
Adiwijaya tidak sadarkan diri. Tatapan matanya kosong, tidak tanggap atas sapaan para bawahannya yang terus berusaha menyadarkannya. Fenomena gaib masih terus menyelimutinya. Sultan Adiwijaya yang memang juga menguasai berbagai ilmu kebatinan dan kegaiban sukmanya semakin jauh dan dalam masuk ke alam kegaiban.

Sesampainya di Pajang, kondisi sang Sultan tidak juga membaik. Hanya beberapa kali sang Sultan sempat sadar, tetapi kemudian kembali lagi tak sadarkan diri. Panembahan Senopati yang dikabari tentang kondisi ayah angkatnya itu juga datang untuk menjenguknya, tetapi tidak masuk menemuinya, dan selama ia berada di Pajang, ayah angkatnya itu tetap tidak sadarkan diri.

Ketika suatu saat Sultan
Adiwijaya sadar dan dapat berkomunikasi, beliau menyampaikan pesan terakhirnya kepada anak-anaknya. Dipesankannya supaya anak-anaknya tidak memperebutkan kekuasaan. Juga jangan ada pertentangan antara Pajang dengan Mataram. Biarlah Pajang dan Mataram hidup sendiri-sendiri. Mereka juga harus hidup rukun satu dengan lainnya.

Beberapa hari kemudian Sultan
Adiwijaya wafat, kembali kepada para leluhurnya. Tetapi sejak itu juga pusaka kesayangannya keris Kyai Sengkelat juga menghilang dari kehidupan manusia. Moksa. Masuk ke alam gaib bersama dengan fisik kerisnya. Yang masih ada hanyalah keris-keris sengkelat tiruan atau turunannya saja.



________




 >>  Panembahan Senopati










Comments