https://sites.google.com/site/thomchrists/dongeng-cerita-babad-tanah-jawa/gajah-mada-Majapahit/Panji%20Majapahit.jpg



Gajah Mada dan Majapahit  


 


Kerajaan Singasari adalah kerajaan pendahulu dari kerajaan Majapahit. Kerajaan Singasari di bawah rajanya Sri Rajasa Kertanegara berhasil berjaya mengembangkan wilayah kekuasaannya menjadi sangat luas, dominan ke arah utara. Semuanya diperoleh dengan cara mengalahkan kerajaan-kerajaan yang menjadi penguasanya. Bahkan wilayah kekuasaannya meliputi juga wilayah Kalimantan, Kalimantan Utara (Malaysia), Vietnam, Kamboja dan Laos yang merupakan wilayah terjauh kekuasaan kerajaan Tartar, Mongolia, sehingga kerajaan Tartar merasa tercoreng wajahnya karena sebagian wilayah kekuasaannya itu dicaplok oleh Singasari. Terlebih lagi karena utusannya yang dikirim untuk memperingatkan Singasari supaya tunduk kepada Tartar tanpa harus dihancurkan oleh tentaranya, ternyata malah ditolak dan dipermalukan oleh raja Singasari, Sri Rajasa Kertanegara.


Ketika kerajaan Singasari mengerahkan kekuatannya di laut untuk menghadapi datangnya serangan bangsa Tartar, ternyata terjadi penghianatan. Kerajaan Singasari diserang oleh tentara raja kerajaan Gelang-Gelang, Jayakatwang yang adalah raja kecil di bawah Singasari karena adanya sakit hati dan dendam yang tak berkesudahan atas terjadinya perebutan kekuasaan dan pembunuhan-pembunuhan sejak jaman Ken Arok. Raja Kertanegara tewas dalam serangan tersebut.


Raden Wijaya merintis kembali kejayaan para leluhurnya dengan membangun kerajaan Majapahit. Dengan caranya sendiri para dewa memberikan  'pencerahan'  dan kekuatan kepada Raden Wijaya dan orang-orang yang setia kepadanya. Selain berhasil menipu pasukan Mongol yang datang menyerang, menunggangi pasukan Mongol untuk menyerang dan membunuh raja Jayakatwang, juga mengusir balik tentara Mongol ke negeri asalnya.

Kerajaan Majapahit mencapai kejayaannya di bawah kepemimpinan Ratu Tribhuana Tunggadewi, yang menerima wahyu besar raja yang dulu diterima oleh kakeknya Sri Rajasa Kertanegara, raja terakhir Singasari, bersama
Gajah Mada patihnya, yang menerima wahyu kepangkatan dan derajat yang sama besar dengan wahyu rajanya.

Pada saat penobatan Gajah Mada oleh Ratu Tribhuana Tunggadewi menjadi Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubumi Majapahit, menggantikan patih Arya Tadah yang mengundurkan diri karena usia tua, sambil menghunuskan kerisnya tinggi ke atas Gajah Mada bersumpah :

"Sira Gajah Mada Patih Amangkubumi tan ayun amuktia palapa. Sira Gajah Mada, lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amuktia palapa".

Artinya : " Aku Gajah Mada Pemangku jabatan Patih tidak akan menikmati palapa. Aku Gajah Mada, sebelum mengalahkan nusantara tidak akan menikmati palapa, sebelum kalah : Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, selama itu juga aku tidak akan menikmati palapa ".

Palapa adalah kebiasaan nyirih / nginang yang umum dilakukan di masyarakat jawa dalam kondisi santai ketika tidak sedang sibuk bekerja. Nyirih / nginang itu juga menjadi salah satu suguhan dalam acara pertemuan keluarga kerajaan atau ketika raja sedang menerima tamu kenegaraan. Dalam sumpah itu palapa dimaksudkan sebagai simbol hidup santai / mengaso. Sesudah wilayah "Nusantara" bersatu di bawah panji-panji kerajaan Majapahit barulah Gajah Mada mau menikmati palapa. Dengan sumpahnya itu Gajah Mada menyatakan akan mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, tidak akan hidup santai sebelum sumpahnya terlaksana.

Gurun = Nusa Penida
Seran = Seram
Tanjung Pura = kerajaan Tanjung Pura, Kalimantan Barat.
Haru = Sumatera Utara.
Pahang = Pahang di Semenanjung Melayu
Dompo = Dompu
Bali = Bali
Sunda = kerajaan Sunda
Palembang = Sriwijaya
Tumasik = Singapura.


Saat itu usia Gajah Mada sekitar 45-an tahun. Sangat idealis, penuh dedikasi dan pengabdian kepada rajanya.
Pada jaman raja sebelumnya, Jayanegara, karena wibawanya dan kesaktiannya yang menonjol di dalam keprajuritan ia dipercaya memangku jabatan Bekel Bhayangkara. Sekalipun hanya menjadi bekel saja, kepala prajurit saja, tetapi yang dipimpinnya adalah pasukan khusus pengawal raja, pasukan Bhayangkara, sebuah kesatuan prajurit yang jumlahnya tidak banyak, tetapi memiliki kemampuan individu yang jauh lebih tinggi daripada kemampuan keprajuritan dari kesatuan apapun. Kesatuan Bhayangkara sangat disegani oleh kesatuan keprajuritan yang lain.

Saat itu Majapahit baru saja bangkit kembali dari keterpurukan karena diserang oleh tentara-tentaranya sendiri yang memberontak di bawah pimpinan Ra Kuti, sampai-sampai Gajah Mada bersama anggota bhayangkara yang lain terpaksa mengungsikan rajanya dan anggota keluarga kerajaan lainnya untuk menyelamatkan mereka. Perjuangannya sangat berat, karena di dalam bhayangkara sendiri ternyata ada juga yang menjadi mata-mata pemberontak yang diam-diam selalu membocorkan rahasia lokasi keberadaan dirinya dan sang raja.

Kerisnya Surya Panuluh adalah sebuah keris pemberian dari raja Jayanegara, sebagai lambang untuk diketahui oleh anggota kerajaan yang lain bahwa ia adalah seorang abdi kerajaan yang menerima kepercayaan penuh dari sang raja, mengemban kekuasaan dari sang raja, apapun perintahnya dan tindakannya harus dipatuhi dan didukung sama seperti perintah raja.

Tetapi setelah pemberontakan Ra Kuti itu berhasil ditumpasnya, dan mengembalikan sang raja ke tahtanya, sang raja sendiri akhirnya tewas juga karena diracun oleh Ra Tanca,
seorang tabib yang sebenarnya adalah salah satu pimpinan dari para pemberontak itu.


Sumpah Palapa itu sangat menggemparkan para pejabat kerajaan dan para undangan yang hadir dalam pelantikan Gajah Mada sebagai Patih Amangkubumi. Ra Kembar mencemooh Gajah Mada sambil mengejek dan meneriakkan sumpah serapah. Para undangan yang lain pun turut mengejek. Bahkan Jabung Tarewes dan Lembu Peteng mentertawainya sampai terpingkal-pingkal.

Karena jasa-jasa sebelumnya kepada raja dan kerajaan Majapahit Gajah Mada dianugerahi jabatan patih di
sekaligus 2 kerajaan bawahan Majapahit yang dipimpin oleh 2 raja perempuan saudara dari raja Jayanegara, yaitu di Daha dan di Kahuripan, tidak di Majapahit karena saat itu Majapahit sudah mempunyai patih sendiri, yaitu Arya Tadah. Keluarga keraton sangat percaya pada integritasnya. Kemampuan intelijennya dan kemampuannya memimpin sebuah pasukan penggempur sungguh-sungguh tak tertandingi. Karena itu Gajah Mada juga tetap dipercaya berkiprah di kerajaan Majapahit, termasuk dipercaya memimpin pasukan Majapahit untuk menggilas pemberontakan di Keta dan di Sadeng. Walaupun begitu orang tetap merasa dirinya kurang pantas menjabat jabatan Patih di Majapahit karena dirinya dianggap masih terlalu muda sedangkan di Majapahit saat itu ada banyak orang lain para menteri kerajaan yang lebih tua yang dianggap lebih pantas menjadi Patih.

Sumpah Palapa itu dicemooh banyak orang karena Gajah Mada mengikrarkan penaklukkan suatu wilayah yang luar biasa luas yang di dalamnya
berisi kerajaan-kerajaan besar dan kuat yang menjadi penguasanya. Sedangkan saat itu Majapahit belumlah menjadi kerajaan besar, masih kerajaan kecil dan tentaranya juga tidak banyak. Apalagi Majapahit saat itu masih sedang membangun kembali ketentaraannya yang hancur berantakan karena pemberontakan Ra Kuti.

Tetapi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu diucapkan dengan kesungguhan hati oleh Gajah Mada. Keris
lurusnya Surya Panuluh menjadi saksi kesungguhan tekadnya. Karena itu ia marah sekali sumpahnya ditertawakan. Tubuh besar tegap Gajah Mada sigap turun dari paseban, bergerak sebat membunuh Ra Kembar, Arya Warak, Jabung Tarewes, Banyak dan Lembu Peteng yang telah mentertawakan dan mengejeknya habis-habisan. Arya Tadah (Mpu Krewes), patih yang digantikannya, yang juga mentertawainya, dimarahinya. Semua pejabat kerajaan yang mencemooh dirinya ia singkirkan, digantikan dengan orang-orang pilihannya.

Gerakan expansi pun disiapkan.
Perekrutan
besar-besaran dan pelatihan intensif keprajuritan diselenggerakan.
Pandai-pandai besi sibuk membuatkan persenjataan.
Galangan-galangan kapal sibuk membuat kapal-kapal perang.


Expansi ke barat, expansi Pamalayu, dipimpin oleh Senopati Mpu Nala, angkatan laut Majapahit berhasil menaklukkan kerajaan Samudra Pasai, Jambi, Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatera). Kemudian juga Langkasuka, Kelantan, Kedah, Selangor, Pulau Bintan, Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Malaka.

Selanjutnya kapal-kapal perang Majapahit mendarat di Tanjungpura, menundukkan Sambas, Banjarmasin, Pasir, Kutai dan sejumlah negeri seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga),
Lawai, Kotawaringin, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei dan Malano.

Seluruh penguasa Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau di sekitarnya berhasil ditaklukkan Majapahit hanya dalam waktu tujuh tahun saja setelah Sumpah Palapa dikumandangkan.


Kemudian gerakan expansi dilaksanakan ke timur dan berhasil menaklukkan kerajaan Bedahulu (Bali) dan Lombok. Expansi dilanjutkan ke timur lagi, menaklukkan Logajah, Gurun, Seram, Hutankadali, Sasak. Makasar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Sumbawa Muara (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Seram Ambon, Timor dan Dompo. Seluruh penguasa wilayah timur nusantara berhasil ditaklukkan, termasuk pulau Irian (Papua), Sangir Talaud dan beberapa wilayah Filipina bagian selatan.

Di bawah kerajaan Majapahit, wilayah kekuasaan Singasari dulu diperluas lagi ke barat dan ke timur menjadi wilayah yang sekarang dikenal sebagai wilayah nusantara. Bahkan kerajaan Sriwijaya di Palembang, yang adalah kerajaan terkuat di wilayah barat, berhasil dikalahkannya, sehingga panji-panji kebesaran Majapahit berkibar di seluruh nusantara. Walaupun kerajaan Majapahit tidak secara nyata menguasai daratan dan lautan, tetapi kerajaan-kerajaan yang menjadi penguasanya berhasil ditundukkannya. Pasukan Mongol pun, yang beberapa kali dikirim untuk menyerang Majapahit, selalu berhasil diusir kembali.

Kerajaan Majapahit saat itu adalah satu-satunya kerajaan yang tak mampu dikalahkan dengan tentaranya oleh kerajaan Atap Langit, Mongol yang saat itu sudah menguasai daratan Cina. Kerajaan Mongol juga pernah mengirimkan tentaranya untuk menaklukkan Jepang, tetapi usaha penaklukan itu gagal. Tetapi kegagalan itu adalah karena mereka salah strategi menentukan waktu penyerangan. Kapal-kapal perangnya hancur berantakan dilanda angin badai, menghantam tebing-tebing terjal, bukan karena kalah perang melawan tentara kerajaan-kerajaan di Jepang.


Dalam expansi-expansi itu kerajaan Majapahit sangat mengandalkan Mpu Nala 
seorang perwira tinggi berusia muda 35-an tahun yang tandange nggegirisi, seorang senopati laut dari Kadipaten Tuban yang dipercaya menjadi panglima angkatan laut Majapahit, seorang Jawa yang suka memakai kain ikat kepala seperti orang Sulawesi. Taktik perang dan kehebatannya bertempur di lautan tidak diragukan lagi hingga negeri-negeri yang memiliki angkatan laut kuat seperti Swarna Dwipa, Dharma Sraya dan Tumasek pun mengakuinya. Setelah wilayah-wilayah nusantara ditaklukkan, Mpu Nala menempatkan kapal-kapal perangnya di lima titik penting perairan nusantara untuk mengantisipasi datangnya kapal-kapal perang pasukan kerajaan Negeri Atap Langit, Mongol.

Sumpah Tan Ayun
Amuktia Palapa berhasil diwujudkan oleh Gajah Mada. Ia juga berhasil menaikkan wibawa raja di mata rakyatnya, mewujudkan figur raja jawa yang tergambar dalam filosofi manunggaling kawula lan gusti, manunggalnya rakyat dan rajanya, dimana rakyat menjunjung tinggi raja sesembahannya dan raja mengayomi rakyatnya. Juga para penguasa daerah di jawa timur dan jawa tengah, kadipaten dan kabupaten, menjunjung tinggi dan menyatu dengan kebesaran kerajaan Majapahit, meniadakan hasrat untuk memberontak. Mereka dan tentaranya ikut serta di dalam pelatihan dan ikut serta dalam expansi bersama tentara Majapahit lainnya untuk memperjuangkan kejayaan Majapahit. Semuanya menyatu di bawah panji-panji Majapahit.


Rahasia kejayaan Singasari dan Majapahit bukan hanya terletak pada kekuatan ketentaraan dan ketangguhan personilnya saja, tetapi juga kesaktian dari keris-keris sakti mereka. Dalam menaklukkan kerajaan-kerajaan dan negeri-negeri jajahannya, mereka bukan hanya harus berhadapan dengan bala tentara kerajaan lawan, tetapi juga rakyat sipil, tokoh-tokoh sakti dunia persilatan dan para pendekar setempat yang terpanggil untuk membela negerinya. Mereka siap perang frontal, tapi juga siap diserang secara gerilya hit and hide. Mereka bukan hanya harus menghadapi kekuatan keprajuritan, taktik perang dan persenjataan musuh-musuhnya dan kesaktian kanuragan manusia, tetapi juga segala macam bentuk kesaktian gaib, serangan gaib sihir, santet, teluh, tenung dan berbagai macam keilmuan gaib musuh-musuhnya. Dan untuk mengalahkan segala macam bentuk kesaktian itu, selain digunakan kekuatan kesaktian dari diri mereka sendiri, juga digunakan kesaktian dari keris-keris mereka.

Pada jaman Kerajaan Singasari, tentara kerajaan mendapatkan pelajaran resmi gerakan silat keprajuritan berdasarkan gerakan banteng dan macan (/singa).

Di dalam formasi bertahan atau menyerang, barisan bertahan dan menyerang seperti banteng ini, selain menguatkan fisik tentaranya, juga sangat ampuh untuk mengalahkan pasukan lawan. Dengan bersenjatakan tombak panjang atau pedang, dengan barisan yang rapat, bergerak menyerang maju menusuk dan mundur bertahan, gerakan kaki menghentak ke tanah, teratur saling mengisi dan melindungi, gerakan barisan banteng ini membuat tentara lawan terdesak dan tak ada ruang untuk menghindar, kecuali mundur atau kabur. Dan sifat-sifat banteng ketaton (banteng marah karena terluka) siap diterapkan dalam kondisi terdesak, tidak ada kata kalah atau mundur, lebih baik sama-sama hancur.

Gerakan menyerang seperti macan atau singa diterapkan ketika pasukannya terdesak dan formasinya terpecah. Para prajurit membentuk kelompok-kelompok kecil seperti sekawanan singa dan menyerang seperti macan mengamuk.

Dengan banyaknya jumlah tentara dan ketangguhan keprajuritannya itu kerajaan Singasari berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menundukkan banyak kerajaan di banyak wilayah, bahkan sampai ke negeri seberang, negeri Laos, Vietnam dan Kamboja.


Ilmu ketentaraan kerajaan mencapai puncak kejayaannya pada jaman Majapahit - Gajah Mada. Ketangguhan ketentaraan disempurnakan dengan keilmuan yang didasarkan pada filosofi sifat-sifat gajah, yaitu besar, kuat dan menakutkan (ilmu ini juga diilhami oleh sifat-sifat kesaktian dewa pujaan mereka, Ganesha). Dalam praktek di pertempuran, dengan dilambari kekuatan kebatinan, mereka membuat suara riuh sambil menjejakkan kaki di tanah, membuat bumi seolah-olah bergetar membuat mental pasukan lawan runtuh (bahkan dengan keilmuan ketentaraan ini pasukan Majapahit tidak hanya dapat melunturkan pengaruh ilmu auman macan pasukan Pasundan, tetapi juga merontokkan mental lawan dan membuat barisan lawan kacau balau - Perang Bubat).

Dengan kekuatan ketentaraannya itu kerajaan Majapahit berjaya mengembangkan kekuasaannya bukan hanya ke utara seperti jaman Singasari, tetapi juga ke timur dan ke barat, wilayah yang sekarang disebut nusantara. Bahkan Sriwijaya, kerajaan terkuat di wilayah barat pun ditaklukannya. Dan pasukan Mongol yang beberapa kali dikirim untuk menaklukkan Majapahit pun berhasil dipukul mundur.

Dengan filosofi gajah itu Gajah Mada membuat fisik pasukannya menjadi kuat, tangguh dan bermental baja. Selain pasukan khusus pengawal raja (Bhayangkara), Gajah Mada juga membentuk pasukan khusus tersendiri, yaitu sebuah kesatuan prajurit yang jumlahnya tidak banyak, tetapi memiliki kemampuan individu yang jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan keprajuritan dari kesatuan apapun. Selain yang khusus ditugaskannya mengamankan lingkungan kerajaan, sebagian pasukan khusus itu juga ikut dikirimkannya menjadi tulang punggung dalam ekspansi pasukan Majapahit.

Gajah Mada sendiri, selain berkekuatan besar dan berkesaktian tinggi, juga menggunakan untuk dirinya sendiri suatu ilmu yang disebut ilmu gajah (ilmu lembu sekilan), suatu ilmu untuk mengeraskan dan memadatkan kekuatan kebatinan dan tenaga dalam menjadi hngga setebal sejengkal dari tubuhnya, menjadikannya berkekuatan besar dan berkesaktian tinggi, membuat tubuhnya kuat dan tak dapat dikenai pukulan dan segala macam senjata tajam dan pusaka, dan tak mempan sihir dan santet, suatu jenis ilmu kesaktian kekuatan dan pertahanan tubuh yang didasari filosofi gajah yang berbadan besar, kuat dan berkulit tebal, yang menjadikannya jaya tak terkalahkan dalam setiap pertarungan.

Di masa pemerintahan Majapahit saat itu banyak sekali
terjadi pemberontakan besar. Penyebab yang utama adalah karena adanya tuntutan penghargaan dan pembagian wilayah dari orang-orang yang merasa berjasa pada jaman raja Wijaya, terutama adalah dari pihak keluarga Ranggalawe dan Aria Wiraraja yang pada saat itu merasa diabaikan seolah-olah jasanya dilupakan oleh pihak Majapahit, dan dari orang-orang yang merasa berjasa dalam penaklukkan wilayah pada jaman Singasari. Ditambah lagi ada banyak sekali orang yang ingin diperhatikan dan ingin cepat naik pangkat dengan cara menjilat atasan, yang melakukan intrik-intrik dan fitnah, sehingga sangat mengaburkan mana orang-orang yang benar dan mana orang-orang yang tidak benar. Orang-orang benar banyak yang menjadi korban karena tentara Majapahit juga termakan fitnah dan hasutan hingga salah menghukum orang yang tidak bersalah yang difitnah sebagai pemberontak.

Tetapi akhirnya Gajah Mada keras memerangi semuanya. Kekuatan tentaranya dikirimkan untuk membinasakan para pemberontak. Orang-orang tukang fitnah juga diberantasnya semua. Ia sendiri dengan ilmu gajahnya itu terbukti tak terkalahkan ketika berhadapan dengan para
pemberontak dan pemimpin-pemimpinnya. Tak ada lawannya yang tak dapat dikalahkannya.



_________




 >>  Gajah Mada dan Perang Bubat










Comments