https://sites.google.com/site/thomchrists/dongeng-cerita-babad-tanah-jawa/Jaka-Tingkir/Bulan%206.jpg

 

Jaka Tingkir 


 

Jaka Tingkir adalah putra dari Ki Kebo Kenanga yang sering disebut Ki Ageng Pengging, putra dari Pangeran Handayaningrat, seorang bangsawan keturunan Majapahit yang disebut juga Ki Ageng Pengging Sepuh yang menikahi
Ratu Pembayun, putri bungsu Prabu Brawijaya. Mereka adalah orang-orang keturunan Majapahit yang bersama dengan para angkatan tua lainnya memilih mati ketika para Wali dan prajurit Demak datang untuk menawan dan membawa mereka untuk diadili di Demak, namun kemudian keluarga-keluarga mereka habis dibantai oleh prajurit Demak di bawah pimpinan para Wali.

Tetapi bayi Jaka Tingkir berhasil diselamatkan oleh Sunan Kalijaga setelah mata batin Sunan Kalijaga melihat sebuah
cahaya terang di wajah bayi itu, cahaya wahyu keprabon !   Dalam pandangan mata batinnya, bayi itu adalah penerus raja-raja Majapahit dan wahyunya sudah turun kepadanya. Kemudian bayi itu diserahkannya kepada Nyai Tingkir di pengungsian, yang suaminya juga telah tewas dalam pembantaian oleh prajurit Demak.


Sejak kecil Jaka Tingkir (Mas Karebet) senang mengembara, ke gunung-gunung, ke bukit-bukit, keluar masuk hutan, mendatangi tempat-tempat wingit dan angker atau menyepi di goa-goa. Jaka Tingkir adalah seorang anak yang bandel dan tak pernah kapok walaupun sering sekali dimarahi oleh ibu angkatnya, Nyai Tingkir, karena sering tidak pulang dan jarang sekali berada di rumah. Wataknya keras digembleng oleh alam, tetapi sangat menjunjung tinggi sikap ksatria dan tanggung jawab. Ia suka sekali datang ke tempat-tempat berbahaya dan  "terlarang".  Menyusup dan mengobrak-abrik sarang penyamun adalah kegemarannya. Semakin berbahaya situasinya, semakin menarik dan menantang baginya.

Karena kesukaannya
menyusup dan mengobrak-abrik sarang penyamun sosoknya menjadi momok yang membuat geram dan jengkel para penyamun dan perampok. Sekalipun ia sudah terkepung, tetapi ia sendirian bisa melukai lawan-lawannya dan lolos dari kepungan, bahkan ia juga mengobrak-abrik sarang mereka, membuat banyak sekali kerusakan. Ia hanya dikenal dengan nama Jaka dari desa Tingkir, tetapi setiap diburu sampai ke rumahnya di desa Tingkir, ia selalu sedang tidak berada di rumah.

Walaupun aslinya dirinya yang anak seorang bangsawan ia diberi nama Raden Mas Karebet, tetapi karena berada di pengungsian ibu angkatnya menyembunyikan nama aslinya itu. Ia hanya dipanggil Jaka (Joko) saja. Nyai Tingkir sendiri juga menyembunyikan identitas aslinya. Dan karena di tempat pengungsian itu terdapat banyak pengungsi dari berbagai tempat orang-orang tidak mengenal jati dirinya yang asli. Tetapi masyarakat masih bisa mengenalinya sebagai seorang ningrat dan menghormatinya dengan sebutan Nyai. M
asyarakat sangat menghormati kesepuhan pribadinya sehingga ia dianggap sebagai sesepuh desa Tingkir dan oleh orang-orang dari luar desa Tingkir ia sering disebut Nyai Tingkir.

Pada masa penyebaran agama Islam itu memang sangat gencar dilakukan perburuan oleh prajurit Demak dan laskar santrinya terhadap orang-orang yang dianggap terkait dengan
Syech Siti Jenar dan kerajaan Majapahit. Tidak ada larangan untuk membunuh mereka. Karena itu orang-orang di pengungsian sangat memahami bahwa mereka harus menjaga kerahasiaan identitas asli mereka sehingga tidak ada di antara mereka yang ingin tahu / mempertanyakan aslinya jati diri seseorang. Mereka juga harus selalu waspada terhadap kemungkinan adanya mata-mata dari Demak.


Di setiap tempat yang dikunjunginya
Jaka Tingkir selalu menyempatkan diri untuk menimba ilmu kesaktian kanuragan maupun kesaktian gaib. Selain sering menyepi dan bertapa di goa-goa dan melatih sendiri keilmuannya, Jaka Tingkir juga sering mendatangi panembahan-panembahan, resi dan begawan untuk belajar agama dan memperdalam keilmuannya. Semakin bertambah usianya semakin bertambah ilmunya, sehingga ia memiliki kesaktian yang sulit sekali dicari tandingannya di antara anak-anak lain seusianya pada masanya.

Kesaktian Jaka Tingkir menjadi semakin matang setelah ia bertemu dan digembleng oleh Ki Kebo Kanigara, kakak dari ayahnya, yang walaupun berilmu tinggi dan mampu menjungkir-balikkan prajurit Demak dan para Wali yang menjadi pemimpinnya, tetapi memilih menyingkir, menjauhi intrik-intrik kekuasaan. Sekalipun Jaka Tingkir tidak berguru kepadanya, tetapi ia menerima gemblengannya juga. Jaka Tingkir banyak menerima gemblengan dari banyak orang, karena ia mampu merendahkan hati dan menghormati semua orang dan mau belajar. Dan keunikannya, walaupun ia hanya menerima sedikit-sedikit ilmu, tetapi ia mampu mempelajari aspek filosofi dan spiritual dari keilmuannya itu, sehingga ia dapat mengembangkan ilmunya menjadi tumbuh besar berbuah dan matang di dalam dirinya.

Jaka Tingkir menjadi satu dari sedikit orang yang mewarisi kesaktian ilmu-ilmu tua jaman Majapahit. Ia juga mendapatkan hati dan simpati dari orang-orang tua berdarah Majapahit. Jaka Tingkir tanpa sadarnya telah membentuk dirinya menjadi wadah yang tepat dari wahyu raja dan wahyu keilmuan yang telah ada di dalam dirinya.


Maka setelah mendapat restu dari pamannya Ki Kebo Kanigara dan ibu angkatnya Nyai Tingkir, berangkatlah Jaka Tingkir ke Demak. Masih terbayang-bayang dalam pikirannya pertemuannya dengan Sunan Kalijaga yang menyuruhnya pergi mengabdi ke Demak. "Kamu adalah penerus raja-raja leluhurmu. Kamu bukan orang biasa. Kamu adalah Anak Majapahit". 

Antara percaya dan tidak atas kata-kata itu, Jaka Tingkir terus merenungkannya dalam hatinya.
Sedikit banyak Jaka Tingkir berharap pada kebenaran kata-kata Sunan Kalijaga, karena di matanya, beliau adalah tokoh pengayom masyarakat yang dapat dijadikan tempat bernaung. Sunan Kalijaga adalah tokoh yang sangat ia hormati selain Syech Siti Jenar. Mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat populer di kalangan rakyat. Walaupun ia sendiri tidak secara langsung mengenal tokoh Syech Siti Jenar, dan banyak hasutan dan fitnah dialamatkan kepadanya, tetapi dari cerita di masyarakat Jaka Tingkir dapat mengenal kearifannya, seorang tokoh karismatik yang selalu mengajarkan keluhuran budi dan pekerti, tidak pernah mengajarkan penindasan, penganiayaan, apalagi pembunuhan kepada orang lain walaupun berbeda keyakinan, karena untuk dapat sampai kepada Tuhan harus didasari kesucian hati dan kasih, bukan kemunafikan, kebencian dan permusuhan.

Sesuai petunjuk ibunya, Jaka Tingkir tinggal di rumah pamannya yang menjadi penjaga mesjid di Demak, supaya lebih mudah mengambil kesempatan saat ada penerimaan prajurit baru. Sekalipun ia bukan penganut agama Islam, tetapi ia rajin membantu pamannya merawat dan membersihkan mesjid. Ia juga sering berdiam di pojok belakang mesjid yang gelap dan sepi untuk tidur atau bersemadi. Seringkali ia melamun merenungkan arti kata-kata Sunan Kalijaga.  "Berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu, karena kamu akan sering menjadi batu sandungan bagi orang lain. Jagalah, jangan sampai perilakumu membuatmu jauh dari jalanmu yang seharusnya. Raja-raja yang sekarang berkuasa bukanlah raja-raja yang sesungguhnya. Mereka hanyalah kerikil di dalam sejarah tanah Jawa. Janganlah kamu terbawa arus dalam kekisruhan politik. Dan jangan kamu mengumbar emosimu dan menonjolkan kesaktianmu. Akan tiba dengan sendirinya bahwa kamulah yang akan menjadi pewaris tanah Jawa".


Ketika tiba saatnya Sultan Trenggana, raja Demak, akan sholat Jum'at di mesjid, banyak rakyat mengerumuni untuk menyambut kedatangannya. Jaka Tingkir juga ikut di dalam kerumunan rakyat di luar halaman mesjid, ingin melihat langsung sosok rajanya. Ketika sang raja sudah dekat, semua orang menunduk menyembah memberi hormat. Begitu juga Jaka Tingkir. Tetapi ia terlambat menyadari ketika orang-orang lain di sekitarnya sudah mundur untuk memberi jalan kepada rajanya, ia masih diam berjongkok menyembah. Ketika sang raja sudah dekat sekali di hadapannya, Jaka Tingkir gugup dan dengan masih berjongkok menghormat kepada rajanya ia melompat mundur sejauh-jauhnya, sampai melewati blumbang parit kecil di belakangnya.

Tak urung perilakunya itu diperhatikan oleh sang raja. Sultan Trenggana yang juga memiliki kesaktian tinggi sempat melihat cara Jaka Tingkir melompat mundur. Beliau maklum bahwa sang anak muda karena gugupnya, kemudian melompat mundur jauh
sampai melewati blumbang. Mungkin banyak orang yang dapat menirukan melompat mundur melewati blumbang itu. Tetapi yang beliau terkesan adalah cara sang anak muda melompat mundur. Posisi melompatnya itu masih tetap berjongkok menunduk menyembah dan kedua kakinya hampir tidak kelihatan bergerak melakukan lompatan, seperti melayang mundur dalam posisi berjongkok menyembah. Beliau maklum, anak muda ini pasti bukan orang biasa. Ilmu meringankan tubuhnya baik sekali.

Seusai sholat Jum'at, sang Sultan mencari keberadaan sang anak muda, tetapi tidak ditemukannya di antara orang-orang yang beribadah di mesjid dan juga tidak ada di halaman mesjid.
Jaka Tingkir memang tidak berada di sekitar mesjid karena ia tidak ikut beribadah. Maka sang Sultan bertanya tentang sang anak muda yang dilihatnya melompat mundur melewati blumbang kepada sang penjaga mesjid. Sambil memohon ampun bahwa mungkin tindakan anak muda itu tidak berkenan bagi sang raja, paman Jaka Tingkir itu mengatakan bahwa anak muda itu adalah keponakannya yang baru datang dari desa untuk mencari peruntungan di Demak. Sang raja mengernyitkan dahi seolah tak percaya sang penjaga mesjid mempunyai keponakan yang sebagus itu ilmunya. Kemudian ia memberi nasehat supaya keponakannya itu nanti ikut dalam penerimaan prajurit baru di kerajaan Demak.


Sebulan kemudian diadakanlah penerimaan prajurit baru di kerajaan Demak. Jaka Tingkir pun ikut mendaftar. Walaupun tubuhnya tidak tampak kuat gempal berotot seperti kebanyakan peserta yang mendaftar, tetapi dengan posturnya yang tinggi, ramping dan tegap, Jaka Tingkir mampu melewati semua tahapan ujian dengan memuaskan. Akhirnya, dengan diterimanya Jaka Tingkir sebagai prajurit baru, dimulailah kehidupannya yang baru di dalam lingkungan kerajaan Demak.

Beberapa waktu kemudian diadakan lagi ujian kenaikan pangkat. Jaka Tingkir dapat secara memuaskan melewati semua ujian. Bahkan seolah-olah tidak ada kesulitan baginya dalam menjalani semua tes yang diadakan, sehingga membuat penasaran para pengujinya. Karena itulah Jaka Tingkir, yang masih berpangkat prajurit, sampai diadu bertarung melawan senior-seniornya yang berpangkat kepala prajurit. Bukan hanya satu melawan satu, tetapi melawan 3 orang kepala prajurit sekaligus.

Sultan Trenggana yang ikut melihat adu tanding tersebut dapat menilai, bahwa selain Jaka Tingkir dapat mengimbangi ke 3 orang kepala prajurit tersebut, dapat dilihatnya juga bahwa Jaka Tingkir menyimpan kemampuan yang melebihi ke 3 orang tersebut, tetapi tidak diperlihatkannya. Bahkan mungkin anak muda itu dapat mengalahkan mereka semua bila dikehendakinya. Diam-diam iapun merasa kagum.

Anak muda itu adalah yang dulu dilihatnya di depan mesjid. Masih sangat muda tetapi memiliki kemampuan yang bahkan lebih tinggi dibandingkan senior-seniornya. Wajahnya pun bersih dan bersinar, tampak nyata saat dibandingkan dengan prajurit-prajurit lain saat berdiri di dalam barisan. Maka atas keputusan Sultan Trenggana, Jaka Tingkir bukan hanya dinaikkan pangkatnya, tetapi juga dijadikan anggota khusus penjaga bagian dalam keraton dan juga diangkat menjadi anggota pasukan khusus pengawal raja.

Jaka Tingkir menonjol kecerdasan dan keprigelannya dan disukai oleh teman-temannya. Ia juga dipercaya dan diandalkan untuk mengawal raja, permaisuri atau anak-anak raja ketika bepergian keluar istana. Dan sebagai anggota khusus penjaga bagian dalam istana, ia bebas berkeliling memeriksa setiap pelosok bagian istana. Hanya bagian dalam kamar raja, anak raja dan kaputren saja yang tidak boleh dimasukinya.

Tetapi kedekatan Jaka Tingkir dengan anggota keluarga raja menumbuhkan percintaan Jaka Tingkir dengan putri bungsu raja, sesuatu yang sangat terlarang. Hingga suatu saat mereka tertangkap basah oleh Sultan Trenggana saat sedang berduaan di taman kaputren pada malam hari. Sekalipun kejadian itu merupakan aib bagi raja dan keluarga raja, tetapi di dalam kemarahannya Sultan Trenggana tetap dapat berpikir bijak. Ia mengusir Jaka Tingkir keluar istananya dan melarangnya berada di Demak atau sekitarnya. Dan kepada semua orang yang mengetahui kejadian itu diperintahkannya tutup mulut. Bahkan disiarkannya kabar bahwa Jaka Tingkir pergi diusir dari istana karena berkelahi dan membunuh temannya sesama pengawal raja, Dadung Awuk.

Jadilah Jaka Tingkir kembali mengembara di alam bebas, keluar jauh dari lingkungan istana. Beberapa kali juga Jaka Tingkir tinggal bersama pamannya Ki Kebo Kanigara dan kembali menikmati penggemblengan kanuragan, kebatinan dan spiritual. Bersama pamannya dan beberapa pengikutnya, serta beberapa tokoh tua jaman Majapahit, mereka menjauhi dunia perpolitikan dan merahasiakan identitas mereka sebagai keturunan Majapahit yang dapat dipandang sebagai duri oleh kerajaan Demak.


Pada masa itu terjadi banyak sekali persaingan untuk memperebutkan tahta kerajaan Demak. Bahkan di luar istana, banyak kalangan dari dunia hitam yang juga bersaing memperebutkan tahta Demak. Bahkan simbol kekuasaan kerajaan saat itu, yaitu sepasang keris pusaka sakti Nagasasra dan Sabuk Inten, sampai hilang dicuri orang. Kerajaan Demak telah mengerahkan prajurit telik sandinya untuk mencari dan membawa pulang keris-keris tersebut, tetapi tidak juga dapat ditemukan keberadaannya.

Pada masa itu berkembang suatu keyakinan, bahwa siapapun yang berhasil mendapatkan dan menguasai pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten akan lebih mudah jalannya menuju kekuasaan menjadi raja tanah Jawa. Dengan demikian pusaka-pusaka itu menjadi incaran banyak orang, bukan hanya menjadi incaran orang-orang di lingkungan kerajaan, tetapi juga orang-orang dari luar istana yang mengincar kekuasaan kerajaan, termasuk juga kalangan dunia persilatan golongan hitam.

Di dunia persilatan saat itu sering sekali terjadi bentrokan antara golongan putih dan golongan hitam. Hutan Mentaok, Gunung Tidar dan Gunung Merapi dijadikan sarang oleh banyak kelompok penyamun. Masing-masing kelompok dipimpin oleh tokoh yang sakti. Golongan hitam, yang kebanyakan adalah kelompok-kelompok perampok dan penyamun, diperangi oleh kelompok golongan putih yang membela kebenaran dan melindungi rakyat.

Jaka Tingkir dan kelompok pamannya yang tergolong sebagai golongan putih aktif memerangi golongan hitam. Mereka juga ikut membantu pihak kerajaan dengan cara yang tidak tampak di permukaan untuk menemukan pusaka-pusaka kerajaan yang hilang. Sekalipun kelompok mereka dimusuhi oleh pihak kerajaan, tetapi didasari oleh budi pekerti yang tinggi, mereka tidak memusuhi kerajaan. Siapapun rajanya, akan mereka dukung, selama raja itu menjunjung tinggi kebenaran dan melindungi rakyatnya.

Setelah melalui banyak pertarungan besar yang mengakibatkan banyak korban jiwa akhirnya mereka golongan putih berhasil menumpas pemimpin-pemimpin gerombolan golongan hitam beserta para pengikutnya dan berhasil juga merampas kembali pusaka-pusaka kerajaan Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dari tangan mereka dan menyerahkan keris-keris itu kembali kepada raja Demak Sultan Trenggana.

Kepada mereka semua yang telah berjasa mengembalikan pusaka-pusaka tersebut, Sultan Trenggana memberikan hadiah besar. Kelompok Jaka Tingkir dan pamannya Kebo Kanigara pun tidak lagi dimusuhi oleh pihak kerajaan, karena selain telah berjasa kepada kerajaan, mereka juga menyatakan janji setia kepada kerajaan, siapapun rajanya, selama sang raja menjunjung tinggi kebenaran dan melindungi rakyatnya.


Bahkan Sultan Trenggana mengijinkan putri bungsunya dinikahi oleh Jaka Tingkir, sesuai nasehat dari Sunan Kalijaga, bahwa Jaka Tingkir adalah seorang keturunan Majapahit yang nantinya akan menjadi penerus raja-raja Majapahit. Bila tiba saatnya Jaka Tingkir menjadi raja, maka keturunannya adalah juga keturunan Sultan Trenggana melalui putrinya yang menjadi istri Jaka Tingkir.

Setelah menjadi menantu raja Demak, Jaka Tingkir diangkat menjadi Adipati di Pajang, dan sebutannya menjadi
Kangjeng Adipati Adiwijaya.



---------------




 >> Jaka Tingkir - Arya Penangsang













Comments