Laku Prihatin dan Tirakat  

 


Ajaran kebatinan kejawen pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan orang Jawa terhadap Tuhan dan ketuhanan. Kejawen atau Kejawaan (ke-jawi-an) dalam arti yang umum berisi kesenian, budaya, tradisi, ritual, sikap hati serta filosofi hidup orang-orang Jawa. Kejawen mencerminkan spiritualitas orang Jawa. Ajaran kejawen tidak terpaku pada aturan yang formal seperti dalam agama, tetapi menekankan pada konsep “keseimbangan dan keharmonisan hidup”. Kebatinan Jawa merupakan tradisi dan warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, jauh sebelum hadirnya agama-agama modern di pulau Jawa, yang pada prakteknya, selain berisi ajaran-ajaran budi pekerti, juga diwarnai ritual-ritual kepercayaan dan ritual-ritual yang berbau mistik.

Kebatinan adalah mengenai segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batinnya yang paling dalam.

Kebatinan terutama berisi penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya atas segala sesuatu aspek dalam hidupnya, termasuk yang berkenaan dengan agama dan kepercayaan, karena di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung sisi kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Apa saja yang dihayatinya itu selanjutnya akan bersifat pribadi, akan mengisi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Seseorang yang banyak menghayati isi hatinya, atau isi pikirannya, akan lebih banyak "masuk" ke dalam dirinya sendiri, menjadikan dirinya lebih "sepuh" dibandingkan jika ia mengabaikannya. Selebihnya itu akan menjadi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian yang sepuh dari kepribadiannya.

Secara kebatinan dan spiritual dipahami bahwa kehidupan manusia di alam ini hanyalah sementara saja, yang pada akhirnya nanti semua orang akan kembali lagi kepada Sang Pencipta. Manusia, bila hanya sendiri, adalah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, lemah dan fana. Karena itulah manusia harus bersandar kepada kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi (roh-roh dan Tuhan), dan beradaptasi dengan lingkungan alam dan memeliharanya, bukan melawannya, apalagi merusaknya. Lebih baik untuk menjaga sikap dan tidak membuat masalah. Memiliki sedikit lebih baik daripada berambisi mencari ‘lebih’.  Dengan demikian idealisme kebatinan jawa menuntun manusia pada sikap menerima, sabar, rendah hati, sikap tahu diri, kesederhanaan, suka menolong, tidak serakah, tidak berfoya-foya / berhura-hura, dsb. Idealisme inilah yang menjadikan manusia hidup tenteram dan penuh rasa syukur kepada Tuhan.

Mereka terbiasa hidup sederhana dan apapun yang mereka miliki akan mereka syukuri sebagai karunia Allah.
Mereka percaya adanya 'berkah' dari roh-roh, alam dan Tuhan, dan kehidupan mereka akan lebih baik bila mereka 'keberkahan'.  Karena itu dalam budaya Jawa dikenal adanya upaya untuk selalu menjaga perilaku, kebersihan hati dan batin dan ditambah dengan laku prihatin dan tirakat supaya hidup mereka diberkahi. Mereka tekun menjalankan “laku” untuk pencerahan cipta, rasa, budi dan karsa.

Laku adalah usaha / upaya.
Prihatin adalah sikap menahan diri, menjauhi perilaku bersenang-senang enak-enakan.
Tirakat adalah usaha-usaha / laku tertentu sebagai tambahan, untuk terkabulnya suatu keinginan.

Hakekat dan tujuan dari laku prihatin dan tirakat adalah usaha manusia untuk menjaga jalan kehidupannya supaya selalu selaras dengan ajaran budi pekerti dan kesusilaan, tidak terlena dalam kenikmatan keduniawian, dan untuk menjaga agar kehidupan manusia selalu 'keberkahan', selamat dan sejahtera dalam lindungan Tuhan, agar dihindarkan dari kesulitan-kesulitan dan terkabul keinginan-keinginannya. Proses laku mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku seseorang agar selalu positif dan menjauhi hal-hal yang bersifat negatif dan tidak bijaksana, demi menjaga keharmonisan hidup dan untuk tercapainya tujuan hidup.

Di luar semua bentuk laku prihatin yang kelihatan mata dijalani orang, ada bentuk laku lain yang sifatnya sangat mendasar, yang mendasari semua bentuk laku prihatin yang dilakukan sehari-hari, yaitu puasa hati dan batin, senantiasa menjaga sikap hati dan batin, yang dalam kesehariannya dilakukan tanpa kelihatan bentuk lakunya dan tidak terucap di dalam kata-kata.

Laku itu adalah :
 1.  Membersihkan hati dan batin dan menjaga hati yang tulus dan iklas.
 2.  Hidup sederhana, tidak tamak, tidak iri dan dengki, selalu bersyukur atas apa yang dimiliki.
 3.  Mengurangi makan dan tidur.
 4.  Tidak melulu mengejar kesenangan hidup.
 5.  Menjaga sikap eling lan waspada.


Di dalam tradisi spiritual kejawen, seorang penghayat kejawen biasa melakukan puasa dan laku prihatin dengan hitungan hari tertentu, biasanya disesuaikan dengan kalender jawa, misalnya puasa senin-kamis, wetonan, selasa kliwon, jum'at kliwon, dsb.

Laku puasa tersebut dimaksudkan untuk menjadikan hidup mereka lebih 'bersih' dan keberkahan, sekaligus juga bersifat kebatinan, yaitu untuk memelihara kepekaan batin dan memperkuat hubungan mereka dengan saudara kembar gaib mereka yang biasa disebut 'Sedulur Papat', sehingga puasa itu juga untuk memelihara  'berkah'  indera keenam seperti peka firasat, peka terhadap petunjuk gaib / pertanda, peka tanda-tanda alam, dsb.

Menjalani laku prihatin tidak sama dengan terpaksa menahan diri karena kondisi hidup yang kekurangan.

Laku prihatin pada prinsipnya adalah perbuatan sengaja untuk menahan diri  terhadap kesenangan-kesenangan, keinginan-keinginan dan nafsu / hasrat yang tidak baik dan tidak bijaksana dalam kehidupan. Laku prihatin juga dimaksudkan sebagai upaya menggembleng diri untuk mendapatkan  'ketahanan'  jiwa dan raga dalam menghadapi gejolak dan kesulitan hidup. Orang yang tidak biasa laku prihatin, tidak biasa menahan diri, akan merasakan beratnya menjalani laku prihatin.

Laku prihatin dapat dilihat dari sikap seseorang yang menjalani hidup ini secara tidak berlebih-lebihan. Walaupun kepemilikan kebendaan seringkali dianggap sebagai ukuran kualitas dan keberhasilan hidup seseorang, dan sekalipun seseorang sudah jaya dan berkecukupan, laku prihatin dapat dilihat dari sikapnya yang menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, tidak pantas, tidak bijaksana, dan menahan diri dari perilaku konsumtif yang berlebihan, selaras dengan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan hidup, tidak melebihi batas nilai kepantasan atau kewajaran (tidak berlebihan dan tidak pamer).


Prihatinnya Orang Miskin Harta (orang umum).
Walaupun seseorang kekurangan harta, tetapi ia tidak mengisi hidupnya dengan kesedihan, rasa iri dan dengki dan tidak mengejar kekayaan dengan cara tercela. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan tidak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Walaupun tidak dapat memenuhi keinginan kebendaan duniawi secara berlebihan, tetapi tetap menjalani hidup dengan rasa menerima dan bersyukur. Dan dalam ia menolong dan membantu orang lain dilakukannya tanpa pilih kasih dan tanpa pamrih kebendaan, dengan demikian hidupnya juga memberkahi orang lain.
Filosofinya : makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan (hewan).
Urip iku mung mampir ngumbe thok.
Hidup seperlunya saja sesuai kebutuhan, bukannya mengejar / menumpuk harta atau apapun juga yang nantinya toh tidak akan dibawa mati ke dalam kubur.

Sekalipun mereka miskin harta, tetapi kaya di hati, sugih tanpa bandha.
Berbeda dengan orang yang berjiwa miskin, yang sekalipun sudah berkecukupan harta, tapi selalu saja merasa takut miskin, takut hartanya berkurang, dan akan melakukan apa saja, termasuk perbuatan yang tercela, untuk terus menambah kekayaannya.

Prihatinnya Orang Kaya Harta.
Walaupun seseorang berlebihan harta, tetapi tidak mengisi hidupnya dengan kesombongan dan hidup bermewah-mewahan. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan tidak membelanjakan hartanya melebihi apa yang menjadi kebutuhannya.
Seseorang yang kaya berlimpah harta, memiliki banyak benda yang bagus dan mahal harganya dan melakukan pengeluaran yang "lebih" untuk ukuran orang biasa, tidak selalu berarti ia tidak menjalani laku prihatin. Mungkin itu sesuai dengan status dan kondisi duniawinya. Namun sengaja hidup bermewah-mewahan sama saja dengan hidup berlebih-lebihan (melebihi apa yang menjadi kebutuhan). Inilah yang disebut tidak menjalani laku prihatin.
Orang kaya harta, yang selalu mengsyukuri kesejahteraannya, akan tampak dari sikap hatinya yang selalu rela memberi 'lebih' kepada orang-orang yang membutuhkan pemberiannya, bukan sekedar memberi, walaupun perbuatannya itu tidak ada yang melihat. Dan semua kewajibannya, kewajiban duniawi maupun keagamaan, yang berhubungan dengan hartanya, akan dipenuhinya, seperti yang seharusnya, tidak ada yang dikurangkan.

Prihatinnya Orang Kaya Ilmu.
Orang kaya ilmu, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu spiritual, menjalani laku prihatin dengan cara memanfaatkan ilmunya tidak untuk kesombongan dan kejayaan dan kepentingan dirinya sendiri, tidak untuk pamer dan tidak untuk membodohi atau menipu orang lain, tetapi dimanfaatkan juga untuk menolong orang lain dan membaginya kepada siapa saja yang layak menerimanya, tanpa pamrih kehormatan atau upah.

Prihatinnya Orang Berkuasa.
Seorang penguasa hidup prihatin dengan menahan kesombongannya, menahan hawa nafsu sok kuasa, tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk kejayaan diri sendiri dan keluarganya / golongannya saja. Kekuasaan dijadikan sarana untuk menciptakan kesejahteraan bagi para bawahan dan masyarakat yang dipimpinnya. Kekuasaan dimanfaatkan untuk menciptakan negeri yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja, sebagaimana layaknya seorang negarawan sejati.
Seorang politikus hidup prihatin dengan tidak hanya membela kepentingannya, kelompoknya atau golongannya sendiri, atau untuk mencari popularitas, tidak untuk beroposisi melawan pemerintahan yang ada, tetapi digunakan untuk mendukung jalannya pemerintahan dan meluruskan jalannya pemerintahan yang keliru / menyimpang, bila ada, untuk kepentingan rakyat banyak.
Seorang aparat negara, aparat keamanan dan penegak hukum, hidup prihatin dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban tugasnya dengan semestinya dan tidak menyalahgunakan kewenangannya untuk menindas, memeras, atau berpihak kepada pihak-pihak tertentu tetapi merugikan pihak yang lain, mencukupkan dirinya dengan gajinya dan menambah rejeki dengan cara-cara yang halal, tidak mencuri, tidak memeras, tidak meminta / menerima sogokan.


Orang jawa bilang intinya kita harus selalu eling lan waspada. Selalu ingat Tuhan. Tetapi biasanya manusia hanya menginginkan kesuksesan saja, keberhasilan, keberuntungan, dsb, tapi tidak tahu pengapesannya.

Sering dikatakan orang-orang yang selalu ingat Tuhan dan menjaga moralitas, seringkali hidupnya banyak godaan dan banyak kesusahan.
Kalau eling ya harus tulus, jangan ada rasa sombong, jangan merasa lebih baik atau lebih benar dibanding orang lain, jangan ada pikiran jelek tentang orang lain, karena kalau kita bersikap begitu sama saja kita bersikap negatif dan menumbuhkan aura negatif dalam diri kita. Aura negatif akan menarik hal-hal yang negatif juga, sehingga kehidupan kita akan semakin banyak berisi hal-hal yang negatif. Di sisi lain kita juga harus sadar bahwa orang-orang yang banyak menahan diri, membatasi perbuatan-perbuatannya, seringkali menjadi kurang greget, kurang kreatif dan yang diperolehnya juga akan lebih sedikit dibandingkan orang-orang yang tidak menahan diri. Itulah resikonya menahan diri. Tetapi mereka yang sadar pada kemampuan dan potensi dirinya, peluang-peluang, dsb, dan dapat secara positif memanfaatkannya dengan tindakan nyata, tidak kendo, dan tidak kebanyakan menghayal, akan juga dapat menghasilkan banyak, tanpa harus lupa Tuhan dan merusak moralitasnya.

Di sisi lain sering dikatakan orang-orang yang tidak ingat Tuhan atau tidak menjaga moralitas, seringkali kelihatan hidupnya lebih enak. Bisa terjadi begitu karena mereka tidak banyak menahan diri, tidak banyak beban, apa saja akan dilakukan walaupun tidak baik, walaupun tercela. Beban hidupnya lebih ringan daripada yang menahan diri. Mereka bisa mendapatkan banyak, karena mereka tidak banyak menahan diri.

Di luar pandangan-pandangan di atas, mengenai sejauhmana kesuksesan dan kebendaan yang mampu diraih oleh seseorang dalam hidupnya, sebenarnya, jalan kehidupan masing-masing mahluk, termasuk manusia, sudah ada garis-garis besarnya, sehingga bisa diramalkan oleh orang-orang tertentu yang bisa meramal. Tinggal masing-masing manusianya saja dalam menjalani kehidupannya, apakah akan banyak eling dan menahan diri, ataukah akan mengumbar keduniawiannya.



Dalam tradisi jawa laku prihatin dan tirakat adalah bentuk upaya kebatinan / spiritual / kerohanian seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan raga, ditambah dengan laku-laku tertentu, untuk tujuan mendapatkan keselamatan dan keberkahan hidup, kesejahteraan lahiriah maupun batin. Laku prihatin dan tirakat ini, selain merupakan bagian dari usaha pribadi dan doa kepada Tuhan, juga merupakan suatu 'keharusan' yang sudah menjadi tradisi, yang diajarkan oleh para pendahulu mereka. Tetapi bentuk-bentuk laku yang sama dilakukan juga oleh orang-orang tertentu untuk tujuan mendapatkan keberkahan tertentu, ilmu tertentu, kekayaan, kesaktian, pangkat atau kemuliaan hidup lainnya, yang secara umum ini disebut laku prihatin untuk tujuan ngalap berkah, atau untuk tujuan ngelmu gaib.

Ada pepatah, puasa adalah makanan jiwa.
Semakin gentur laku puasa seseorang, semakin kuat jiwanya, batinnya.

Laku puasa yang dilakukan sebagai kebiasaan rutin akan membentuk kebatinan manusia yang kuat untuk bisa mengatasi belenggu duniawi lapar dan haus, mengatasi godaan hasrat dan nafsu duniawi, dan menjadi upaya membersihkan hati dan mencari keberkahan pada jalan hidup. Akan lebih baik bila sebelum dan selama melakukan laku tersebut selalu berdoa akan niat dan tujuannya, menjauhkan diri dari kondisi bersenang-senang, mendekatkan hati dengan Tuhan, puasanya dilandasi dengan sikap hati berprihatin, jangan hanya dijadikan kebiasaan rutin puasa fisik saja.

Berat-ringannya suatu laku kebatinan bergantung pada kebulatan tekad sejak awal sampai akhir. Bentuk laku yang dijalani tergantung pada niat dan tujuannya. Diawali dengan mandi keramas / bersuci, menyajikan sesaji sesuai tradisi yang diajarkan dan memanjatkan doa tentang niat dan tujuannya melakukan laku tersebut dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat dan tercela dan bersenang-senang. Ada juga yang melakukannya bersama dengan berziarah, atau bahkan tapa brata, di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti di makam leluhur, di makam orang-orang linuwih, atau di makam orang-orang yang dimuliakan, atau di gunung, hutan / goa / bangunan yang wingit, dsb.


Ada beberapa bentuk formal laku prihatin dan tirakat, misalnya :

1. Puasa, tidak makan dan minum atau puasa berpantang makanan tertentu.
    Jenisnya :
      -  Puasa Senin-Kamis, yaitu puasa tidak makan dan minum setiap hari Senin dan Kamis.
      -  Puasa Weton, puasa tidak makan / minum setiap hari weton (hari+pasaran) kelahiran seseorang.
      -  Puasa tidak makan apa-apa, boleh minum hanya air putih saja.
      -  Puasa Mutih, boleh makan dan minum hanya nasi putih dan air putih saja.
      -  Puasa Mutih Ngepel, dari pagi sampai mahgrib tidak makan dan minum, untuk sahur dan buka puasa
         hanya 1 kepal nasi dan 1 gelas air putih.
      -  Puasa Nganyep, hampir sama dengan Mutih, tetapi makanannya lebih beragam asalkan tidak
         mempunyai rasa, yaitu tidak memakai bumbu pemanis, cabai dan garam.
      -  Puasa Ngepel, dalam sehari hanya makan satu atau beberapa kepal nasi dan beberapa gelas air putih saja.
      -  Puasa Ngeruh, hanya makan sayuran atau buah-buahan saja, tidak makan daging, ikan, telur, terasi, dsb.
      -  Puasa Ngrowot, tidak makan dan minum dari subuh sampai maghrib. Saat sahur dan buka puasa hanya
         makan buah-buahan dan umbi-umbian yang sejenis saja, maksimal 3 buah.
      -  Puasa Ngebleng, tidak makan dan minum selama sehari penuh siang dan malam, atau beberapa hari
         siang dan malam tanpa putus, biasanya 1 - 3 hari.

2.  Menyepi dan berdoa di dalam rumah. Tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.
3.  Menyepi dan berdoa di makam leluhur / orang-orang linuwih dan di tempat-tempat yang dianggap keramat,
     tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.
4.  Berziarah dan berdoa di makam leluhur / orang-orang linuwih dan di tempat-tempat yang dianggap keramat.
5.  Mandi kembang telon atau kembang setaman tujuh rupa.
6.  Tapa Melek, tidak tidur, biasanya 1 - 3 hari. Tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.
7.  Tapa Melek Ngalong, biasanya 1 - 7 hari. Siang hari boleh tidur, tetapi pada malam hari tidak tidur, tidak
     mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.
8.  Tapa Bisu dan Lelono, melakukan perjalanan berjalan kaki dan membisu tidak bicara dari mahgrib sampai
     pagi, melakukan kunjungan ke makam leluhur / orang-orang linuwih atau ke tempat-tempat keramat dan
     berdoa.
9.  Tapa Pati Geni, berpuasa, tidak tidur, dan berdiam di dalam suatu ruangan yang gelap gulita tidak ada
     cahaya apapun selama sehari atau beberapa hari, biasanya untuk tujuan keilmuan.
     Ada juga yang disebut Tapa Pendem, yaitu puasa dan berdiam di dalam rongga di dalam tanah seperti orang
     yang dimakamkan, biasanya selama 1 - 3 hari.
10.Tapa Kungkum, ritual berendam di sendang atau sungai, terutama di sendang yang wingit atau di pertemuan
     2 sungai (tempuran sungai), selama beberapa malam berturut-turut dan tidak boleh tertidur, dengan posisi
     berdiri atau duduk bersila di dalam air dengan kedalaman air setinggi leher atau pundak.


Laku prihatin dan tirakat nomor 1 sampai 5 adalah yang biasa dilakukan orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan kombinasi nomor 1 sampai 10  dilakukan untuk terkabulnya suatu keinginan tertentu yang bersifat khusus, biasanya dilakukan orang untuk tujuan mendapatkan berkah tertentu (ngalap berkah), atau untuk tujuan ngelmu gaib.

Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, laku-laku kebatinan di atas juga seringkali dilakukan sebelum seseorang melakukan suatu kegiatan / usaha yang dianggap penting dalam kehidupannya, seperti akan memulai suatu usaha ekonomi, akan pergi merantau, akan melangsungkan hajatan pernikahan, dsb. Bahkan sudah biasa orang-orang tua berprihatin dan bertirakat untuk memohonkan keberhasilan kehidupan dan usaha anak-anaknya.


Untuk melengkapi pengetahuan tentang sifat-sifat hari, di bawah ini ada beberapa petunjuk :

Bulan Haji (bulan musim haji) adalah bulan yang paling baik untuk semua keperluan, untuk memulai usaha, pindah rumah atau pun perkawinan.

Bulan Maulud adalah bulan yang paling baik untuk semua keperluan yang bersifat sakral, untuk ritual bersih diri, ruwatan nasib / sengkala, ritual syukuran, ritual bersih desa, menjamas keris, mandi kembang, berziarah, dsb.

Bulan Suro (Sura) adalah bulan yang paling  tidak baik  untuk semua keperluan, memulai usaha, pindah rumah atau pun perkawinan. Bulan Sura paling baik digunakan untuk upaya bersih diri dan lingkungan.

Bulan Sura umumnya diisi dengan ritual bersih diri / ruwatan, membersihkan rumah dan pusaka, dsb.
Upaya bersih diri / ruwatan pribadi dapat dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan cara mandi kembang dan berdoa memohon supaya dilapangkan / dibukakan jalan hidup dan dijauhkan dari segala macam bentuk kesulitan. Sebaiknya juga dilengkapi dengan membersihkan rumah dan lingkungannya, baik yang bersifat fisik maupun gaib.

Jika anda memiliki pusaka, pada bulan Sura terhadap pusaka anda itu tidak harus dilakukan penjamasan, tapi cukup dibersihkan saja fisiknya dan diberikan sesajinya dan disugestikan supaya pusakanya memberikan bantuan yang positif dan disugestikan juga supaya membantu membersihkan segala sesuatu yang bersifat negatif.

Bagi yang ingin mengadakan suatu hajat di bulan Suro, sebenarnya sih boleh-boleh saja, terserah individunya, tetapi secara spiritual memang dianjurkan untuk tidak mengadakan hajatan pernikahan, memulai usaha ekonomi, pindah ke rumah baru atau hajat lain yang bersifat jangka panjang di bulan Suro.

Pada Bulan Suro kondisi alam gaib di pulau Jawa diliputi aura yang tidak baik, dan dihawatirkan semua hajat yang dilakukan pada bulan Suro akan membawa pengaruh yang tidak baik, seperti dipenuhi hawa kebencian dan permusuhan, pertengkaran, sakit-penyakit, apes / kesialan, dsb.

Pengaruh gaib bulan Suro hanya berlaku pada orang Jawa di pulau Jawa saja dan pengaruhnya itu bisa bersifat jangka panjang, karena pengaruhnya itu akan menyatu dengan sukma manusia.



 Penting :

Jika seseorang pernah ketempelan, kerasukan atau ketempatan mahluk halus, dan sudah pernah dibebaskan / dibersihkan, sebaiknya ia rajin mandi kembang telon untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa energi mahluk halus sebelumnya, supaya sisa-sisa energinya itu tidak memancing mahluk halus berikutnya untuk masuk bersemayam di dalam tubuhnya (baca : Pengaruh Gaib Thd Manusia).

Orang-orang yang sering melakukan laku puasa (termasuk puasa weton), biasanya kekuatan batinnya akan meningkat.
Orang-orang yang sering melakukan laku prihatin dan tirakat biasanya juga akan banyak menerima interaksi dari roh-roh lain, disadari ataupun tidak. Roh-roh itu bisa berasal dari lingkungan tempatnya berada, atau dari lingkungan tempat-tempat yang dikunjunginya (misalnya berziarah), atau juga dari roh-roh leluhur.

Selain yang bersifat puasa ngebleng, jenis puasa lain biasanya tidak banyak berpengaruh terhadap kekuatan sukma, pengaruhnya lebih banyak dirasakan bersifat fisik dan psikologis, berupa ketahanan fisik untuk terbiasa menahan rasa lapar dan haus, tetapi tidak diimbangi dengan meningkatnya kekuatan sukma. Jika orang-orang tersebut tidak terbiasa olah energi (misalnya pelatihan olah nafas tenaga dalam), pada orang-orang tersebut seringkali terjadi tubuhnya "meradang", tubuhnya memancarkan hawa panas, karena adanya ketidak-stabilan pasokan energi dari makanan, yang efeknya kurang baik untuk kesehatan, karena bisa menyebabkan sakit panas dalam dan mengundang sakit-penyakit yang berkaitan dengan sakit panas dalam, seperti flu, batuk, pilek, radang tenggorokan, dsb.

Orang-orang tersebut di atas sebaiknya sering melakukan mandi kembang, lebih bagus lagi kalau berendam di air kembang, untuk membersihkan aura-aura negatif yang berasal dari dirinya sendiri ataupun aura negatif yang menempel di tubuhnya yang berasal dari tempat-tempat lain atau dari roh-roh lain, supaya terselaraskan menjadi positif. Dan bagi yang sering berpuasa, gunanya mandi kembang bagi mereka juga sama, supaya energi-energi negatif terselaraskan menjadi positif, jangan sampai bertambah kuatnya batinnya juga menambah kuat aura-aura negatif di dalam dirinya. Mandi kembang ini juga berguna supaya pancaran panas tubuh menjadi lebih sejuk dan mengurangi efek panas dalam.




  Penjelasan tentang kembang sesaji :

Di dalam halaman ini ada digunakan istilah kembang telon dan kembang setaman / tujuh rupa yang umum dijadikan bahan sesaji atau untuk bahan mandi kembang.

Di dunia ini ada banyak kebudayaan yang sering menggunakan kembang-kembang tertentu untuk keperluan yang berhubungan dengan kebatinan - spiritual dan kegaiban, tetapi tidak banyak orang yang mengetahui dengan benar jenis kembang apa saja yang mengandung kegaiban dan cocok untuk dijadikan sesaji, termasuk untuk keperluan mandi kembang.

Begitu juga di Jawa,
tidak banyak orang yang mengetahui dengan benar jenis kembang apa saja yang mengandung kegaiban dan cocok untuk dijadikan sesaji atau untuk keperluan mandi kembang, termasuk penjual kembangnya sendiri yang menjual kembang-kembang untuk keperluan / ritual kegaiban. Kebanyakan pengetahuan tentang jenis-jenis kembang untuk sesaji asalnya dari tradisi atau pengetahuan yang ditularkan dari mulut ke mulut saja, tidak sungguh-sungguh orangnya mengerti sisi kegaiban kembang-kembang itu, sehingga mereka tidak mengetahui dengan benar apa saja kembang yang benar untuk menjadi bahan sesaji atau untuk mandi kembang.

Penulis menemukan bahwa kembang-kembang yang cocok untuk keperluan kegaiban, untuk menjadi sesaji atau untuk mandi kembang, hanyalah kembang kantil, kenanga, melati, mawar merah, mawar putih dan cempaka. Mungkin masih ada kembang lain yang cocok juga untuk urusan kegaiban, tetapi Penulis belum menemukannya.

Penulis juga banyak mendengar cerita tentang kembang-kembang sesaji yang lain, misalnya kembang sedap malam, daun pandan, kembang sereh, air kelapa, dsb. Tetapi sepengetahuan Penulis itu bukanlah bahan-bahan yang cocok untuk sesaji. Mungkin itu hanya cocok untuk keperluan ilmu gaib atau untuk keperluan dengan mahluk halus tertentu saja. Sedangkan untuk sesaji yang bersifat umum adanya tambahan campuran / komposisi kembang-kembang yang tidak cocok justru bisa "merusak" sesaji, menjadikan sesajinya tidak berfungsi secara kegaiban.

Dengan demikian sebaiknya jangan kita asal mengikuti kata orang. Adanya tambahan
kembang-kembang lain selain yang sudah disebutkan di atas justru bisa merusak "rasa" sesaji, menjadikan sesajinya tidak berfungsi secara kegaiban. Ibaratnya, jika sesajinya itu adalah untuk mahluk halus, mahluk halusnya menjadi merasa "terganggu" dengan "rasanya", atau malah menjadi tidak doyan. Sama kondisinya dengan kita asal saja mencampurkan bumbu masakan yang malah menjadikan masakannya tidak enak rasanya. Tentang itu, dengan kepekaan rasa atau dengan cara menayuh seperti dicontohkan di tulisan berjudul  Ilmu Tayuh Keris  kita bisa mencaritahu sendiri kebenarannya.

Di bawah ini disampaikan pengertian yang benar tentang kembang telon dan kembang setaman / tujuh rupa.

Yang dimaksud kembang telon adalah 3 jenis kembang, yaitu kembang kantil, kenanga dan melati.
Jika digunakan untuk mandi kembang, sebelumnya biarkan selama 1 menit kembang-kembang itu terendam di dalam seember air. Kemudian diaduk supaya aura energinya larut merata di dalam air. Sesudah itu barulah air kembang itu digunakan mandi guyuran dari kepala basah semua sampai kaki.

Yang dimaksud kembang setaman / tujuh rupa adalah 6 jenis kembang, yaitu kembang kantil, kenanga dan melati, mawar merah, mawar putih dan cempaka, ditambah asap bakaran dupa.
Jika digunakan untuk mandi kembang, sebelumnya biarkan selama 1 menit kembang-kembang itu terendam di dalam seember air. Kemudian diaduk supaya aura energinya larut merata di dalam air.
Sesudah itu barulah air kembang itu digunakan mandi guyuran dari kepala basah semua sampai kaki. Dupanya digunakan juga untuk mengasapi tubuh.
Jika digunakan untuk sesaji pusaka, kembang-kembangnya diletakkan di dekat pusaka-pusakanya, atau pusaka-pusakanya diletakkan di atas kembang-kembang itu. Dupanya digunakan juga untuk mengasapi pusaka-pusakanya atau dibakar diasapkan di dekat pusaka-pusakanya.

Kembang telon, yang unsurnya adalah kembang kantil, kenanga dan melati, sifatnya standar, mengandung kegaiban yang lebih dibandingkan kembang-kembang lain dan mahluk halus dan sedulur papat manusia umumnya suka.

Sedangkan kembang setaman / tujuh rupa sifatnya opsional, tidak wajib. Jika komposisinya tepat seperti yang disebutkan di atas, sisi kegaiban kembang setaman / tujuh rupa itu lebih baik daripada kembang telon. Tetapi jika campuran / komposisinya berbeda, itu malah bisa menjadikan sesajinya tidak berguna.

Karena itu jika anda ingin membeli kembang telon atau kembang setaman / tujuh rupa, mintalah hanya kembang-kembang yang disebutkan di atas itu saja, supaya kembang-kembang yang anda beli benar-benar bermanfaat secara kegaiban.

Mengenai seberapa banyak kembang-kembang yang kita perlukan untuk sesaji atau untuk mandi kembang, silakan ditentukan sendiri jumlahnya yang dianggap cukup untuk keperluannya.



 Tips :

Mandi kembang yang ideal adalah dengan lebih dulu kembang-kembangnya dibiarkan 1 menit terendam di dalam seember air. Sesudah diaduk supaya aura energi kembang-kembangnya larut merata di dalam air, air berikut kembangnya digunakan mandi guyuran dari kepala basah semua sampai kaki. Sebelum, selama dan sesudah mandi kembang hati dan pikiran kita harus bersih, termasuk bersih dari rasa takut ketahuan mandi kembang.

Tetapi secara umum pada masa sekarang ada rasa ketidak-nyamanan ketika kita akan mandi kembang, karena kesan kleniknya. Tips alternatif dari Penulis untuk para pembaca yang berniat mandi kembang, supaya tidak kelihatan mencolok kalau kita mandi kembang :

1. Sebelum mandi kembang lubang pembuangan air di kamar mandi ditutup saja dulu dengan sesuatu yang bisa menahan kembang-kembangnya supaya tidak ikut keluar bersama air mandi. Sesudah mandi kembang-kembang di lantai kamar mandi dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam bungkus plastik hitam.

2. Sesudah kembang-kembangnya dibiarkan 1 menit terendam di dalam seember air dan sesudah diaduk supaya aura energinya larut merata di dalam air, sebelum dipakai mandi kembang-kembangnya disingkirkan dulu dengan cara diambil dari dalam air dan dimasukkan ke dalam plastik hitam. Sesudah itu barulah air kembangnya digunakan mandi guyuran dari kepala basah semua sampai kaki.

Dalam tips yang ke 2 di atas, sebelum digunakan mandi guyuran kembang-kembangnya sudah lebih dulu diambil dari dalam air dan dimasukkan ke dalam tas plastik. Cara itu lebih aman karena tidak ada kembang yang akan tercecer di lantai kamar mandi atau hanyut keluar terbawa air bekas mandi. Tetapi secara kegaiban tips no.1 di atas lebih baik daripada tips yang no.2.

Sesudah mandi kembang mungkin ada rasa tidak nyaman karena ada rasa lengket di kulit dan di rambut. Sepuluh menit kemudian kita bisa mandi lagi dengan sabun mandi. Tetapi untuk keramas dengan shampoo sebaiknya dilakukan satu jam kemudian.

Kalau rajin berpuasa, mandi kembang sebaiknya dilakukan sebagai penutup puasa, sebagai pelengkap.
Sebelum berpuasa cukup mandi keramas biasa saja.



  Puasa Ngebleng.

Puasa umumnya dimulai saat subuh dan buka puasa saat mahgrib. Malam harinya bebas makan dan minum.
Puasa 1 hari, berarti selama 1 hari berpuasa dari subuh sampai mahgrib, malam harinya bebas makan-minum.
Puasa 3 hari, berarti selama 3 hari berpuasa dari subuh sampai mahgrib, malam harinya bebas makan-minum.
Puasa 7 hari, berarti selama 7 hari berpuasa dari subuh sampai mahgrib, malam harinya bebas makan-minum.

Puasa ngebleng tidak seperti itu.
Puasa ngebleng secara sederhana bisa disebut puasa penuh 1 hari 1 malam (24 jam).

Puasa ngebleng 1 hari berarti puasa penuh 1 hari 1 malam berturut-turut tanpa putus tidak makan dan minum.
Puasa ngebleng 3 hari berarti puasa penuh 3 hari 3 malam berturut-turut tanpa putus tidak makan dan minum.
Puasa ngebleng 7 hari berarti puasa penuh 7 hari 7 malam berturut-turut tanpa putus tidak makan dan minum.


Penjelasan penetapan hari jawa :

Dalam penanggalan Jawa, hari dimulai pada
hari sebelumnya pukul 5 sore (pk.17.00) dan berakhir pada hari yang bersangkutan pukul 5 sore (pk.17.00).
Jadi,
mulainya hari adalah hari sebelumnya pk.5 sore, dan batas akhir suatu hari adalah hari itu pada pk.5 sore.
Berarti hari Senin dimulai pada hari sebelumnya, yaitu hari Minggu pk.5 sore dan berakhir pada hari Senin tersebut pk.5 sore.

Hari Senin itu pada pk.6 sore (mahgrib) sudah terhitung sebagai hari Selasa, karena sudah melewati batas akhir hari Senin pk.5 sore.


Puasa ngebleng secara sederhana bisa disebut puasa penuh 1 hari 1 malam (24 jam), dijalankan berdasarkan hitungan hari jawa.

Misalnya niat puasanya pada hari Senin :

 1. Puasa ngebleng sehari,
maka puasanya dimulai pada hari sebelumnya, yaitu hari Minggu pk.5 sore dan
    berakhir pada hari Senin tersebut pk.5 sore.

 2. Puasa ngebleng 3 hari, a
rtinya puasanya dilakukan selama 3 hari Jawa terus-menerus tanpa putus, yaitu
    puasa pada hari Senin itu
sampai hari Rabu terus-menerus tanpa putus.
    Hari Senin dimulai pada hari sebelumnya, yaitu hari Minggu pk.5 sore.
    Hari
Rabu berakhir pada pk. 5 sore hari.
    Jadi puasa ngebleng
3 hari itu dimulai pada hari
Minggu pk.5 sore dan berakhir pada hari Rabu pk.5 sore.
    Puasanya
terus-menerus tanpa putus siang dan malam. Berbuka puasanya hari
Rabu pk.5 sore.


Tata aturan menjalankan puasa ngebleng sama dengan menjalankan puasa weton. Bedanya hanya pada hitungan hari puasanya saja, yaitu hari puasanya bisa kapan saja, bisa hari apa saja, sesuai tujuan niat menjalankannya, tidak harus pada hari weton kelahiran.
Mengenai tata aturan menjalankannya silakan dibaca penjelasannya pada ulasan puasa weton di halaman bawah.


Apa benar ada puasa ngebleng 7 hari 7 malam berturut-turut tanpa putus ?   Ada yang sanggup ?

Bagaimana dengan puasa ngebleng 40 hari 40 malam berturut-turut tanpa putus.  Siapa yang sanggup ?

Ketika seseorang berpuasa ngebleng, pada hari pertama puasanya ia akan merasakan panas, lapar dan haus, sama dengan yang dialami orang lain yang menjalani laku puasa biasa.
Pada hari kedua, karena tidak juga ada makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya, pada hari kedua itu tubuhnya mulai membakar cadangan makanan yang ada di dalam tubuhnya, air, lemak, protein, gula, dsb, untuk dikonversi menjadi energi dan zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuhnya. Orang tersebut akan merasakan tubuhnya panas, mungkin juga sampai menyebabkannya sulit tidur di malam hari karena panasnya tubuhnya.
Pada hari ketiga puasanya panas tubuhnya mereda dan berkurang, rasa lapar dan haus hilang. Yang terasa hanya tubuhnya saja yang lemas karena perutnya kempis tak terisi makanan.

Puasa ngebleng pada hari ketiga itu, yang dilakukan oleh orang-orang yang bersamadi atau menyepi (walaupun di dalam rumah), tidak menonton hiburan, tidak mendatangi tempat-tempat keramaian, dan tekun berdoa / berzikir / wirid, kegaiban sukmanya akan kuat sekali dan akan memancar cukup jauh. Kegaiban itu kuat sekali sampai bisa menarik perhatian dari roh-roh leluhurnya, sehingga disadari atau tidak olehnya, banyak roh-roh leluhurnya yang mendatangi orang itu untuk mencaritahu apa tujuan dari lakunya itu dan mereka akan membantu mewujudkan hajat niat dan keinginannya itu.

Pada hari ketiga itu, disadari ataupun tidak olehnya, roh sukma orang tersebut juga telah menguat dan tubuhnya memancarkan aura energi gaib yang menyebabkan roh-roh gaib kelas bawah tidak tahan berada di dekatnya. Berbeda dengan puasa pada orang-orang yang menjalani ilmu gaib dan ilmu khodam yang kondisi berpuasanya dapat mengundang roh-roh gaib untuk datang mendekat, pada puasa ngebleng ini justru pancaran gaib kekuatan sukmanya akan mengusir keberadaan roh-roh gaib lain dari tubuhnya dan dari sekitar orang itu berada.

Itu baru puasa ngebleng 3 hari, belum yang 7 hari, apalagi puasa ngebleng 40 hari seperti yang biasa dilakukan oleh tokoh-tokoh kebatinan dan pertapa jaman dulu. Orang-orang yang terbiasa melakukan puasa itu,
seperti tokoh-tokoh kebatinan dan pertapa jaman dulu, akan memiliki kekuatan sukma yang luar biasa, yang bahkan pancaran energi kekuatan sukmanya menyebabkan roh-roh gaib kelas atas setingkat dewa dan buto pun tidak tahan berada di dekatnya dan tidak akan berani datang mendekat untuk maksud menyerang.

Pancaran kekuatan sukma orang-orang itu saat sedang menjalankan laku puasa dan tapa bratanya sangat menghebohkan alam gaib. Di pewayangan pun diceritakan ketika ada seseorang yang gentur dalam laku puasa, tapa brata dan semadinya, kondisinya menyebabkan kahyangan panas dan goncang, menyebabkan para dewa tidak tahan sampai-sampai para dewa mengutus dewa lain atau bidadari untuk menghentikan / menggagalkan tapa brata orang tersebut, dan mereka akan memberikan apa saja yang diinginkan orang itu asal ia mau menghentikan tapanya.

Kekuatan dan kegaiban sukma orang-orang itu luar biasa sekali, sehingga pada jaman dulu banyak tokoh-tokoh kebatinan dan pertapa yang bukan hanya linuwih dan waskita dan mumpuni dalam ilmu kesaktian, tetapi juga menjadikan sukma mereka penuh bermuatan gaib, sehingga kemampuan moksa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kebatinan jaman dulu, berpindah bersama raganya ke alam roh tanpa melalui kematian, adalah sesuatu yang biasa. Bahkan banyak di antara mereka yang melakukan tapa brata dalam rangka mandito meninggalkan keduniawiannya kemudian moksa dengan sendirinya dalam kondisi bertapa.

Orang-orang itu, karena kekuatan gaib sukmanya, tidak lagi membutuhkan mahluk halus untuk khodam ilmunya. Kekuatan dan kegaiban sukmanya-lah yang melakukannya. Sukmanya sendiri sudah menjadi khodam baginya. Tetapi jika ada sesosok gaib yang mau datang untuk menjadi khodam pendampingnya, hanya gaib-gaib yang sepadan dengan kekuatan sukmanya saja yang akan datang menjadi pendampingnya, bukan gaib-gaib umum kelas rendah yang tidak tahan dengan pancaran energi kekuatan sukmanya.


Puasa ngebleng melambangkan kekuatan tekad dan niat seseorang untuk terkabulnya suatu keinginan. Bahkan banyak orang pada jaman dulu yang melakukan tapa dan puasa ngebleng itu tidak akan menghentikan tapa bratanya sebelum hajat keinginannya terkabul (sampai turun wangsit bahwa permintaannya dikabulkan). Karena itu dalam melakukan puasa ngebleng orang-orang jaman dulu itu akan melakukannya dengan cara menyepi, di dalam rumah tersendiri, di goa, di hutan atau di gunung, supaya tidak ada yang mengganggu.

Puasa ngebleng terkait dengan kekuatan dan kegaiban sukma manusia. Karena itu kegaiban dalam puasa ngebleng tidak dapat dibandingkan / disamakan atau ditukar dengan puasa bentuk lain. Semakin gentur laku puasa seseorang, semakin kuat sukmanya dan semakin kuat kegaibannya. Puasa ngebleng banyak dilakukan oleh orang-orang yang bergelut dalam dunia kebatinan / spiritual dan tapa brata.

Puncak kekuatan sukmanya hanya terjadi pada saat seseorang berpuasa ngebleng, sedangkan pada hari-hari selanjutnya ketika sudah tidak lagi melakukan puasa, maka kekuatan sukmanya itu akan menurun lagi. Karena itu para penghayat kebatinan dan pelaku kebatinan kanuragan jaman dulu menjadikan laku puasa ngebleng ini sebagai ritual yang selalu dilakukan secara berkala. Juga dalam melatih keilmuannya atau ketika melatih suatu ilmu baru akan dilakukannya sambil berpuasa, sehingga kekuatan dan kegaiban ilmunya tinggi.

Tetapi jika puasa ngebleng itu dilakukan oleh orang-orang yang masih awam dalam ilmu kebatinan dan kegaiban, mungkin kegaiban dari kekuatan sukmanya itu tidak akan banyak dirasakannya. Walaupun begitu, pancaran kekuatan sukmanya itu akan menjauhkannya dari roh-roh gaib yang sifatnya mengganggu. Di sisi lain kegaiban sukmanya akan membuat kekuatan niat / tekad dalam keinginan-keinginannya menjadi lebih mudah terwujud dan ketajaman dan kepekaan batinnya akan semakin tinggi.

Secara umum kondisi sukma manusia adalah lemah, bahkan masih lebih lemah dibandingkan kuntilanak yang di alam gaib termasuk jenis halus yang paling lemah, sehingga sekuat apapun fisiknya, orang akan mudah untuk dipengaruhi atau diserang secara gaib, mudah terpengaruh ilmu pengasihan, kewibawaan, pelet, penundukkan, juga gampang mengalami kesambet, ketempelan dan ketempatan mahluk halus. Pada orang-orang yang rajin berpuasa ngebleng pancaran kekuatan sukmanya akan menjauhkannya dari energi-energi dan roh-roh gaib yang sifatnya negatif, terutama yang kekuatannya rendah yang seharusnya tidak sampai membuat kita terganggu.

Tetapi karena semakin banyaknya orang yang sudah meninggalkan dunia kebatinan, maka puasa ngebleng ini juga semakin ditinggalkan. Bahkan para praktisi ilmu gaib dan ilmu khodam seringkali mempermudah laku puasanya. Misalnya untuk mendapatkan suatu ilmu gaib tertentu cukup puasa biasa saja dari subuh sampai mahgrib, atau hanya puasa berpantang makanan tertentu saja, yang dilakukan selama 3 hari, 7 hari, 21 hari, atau 40 hari, dan selama berpuasa itu malam harinya diharuskan mewirid amalan gaibnya.

Selama berpuasa di atas pada malam harinya orangnya diharuskan mewirid amalan gaibnya, tujuannya adalah sebagai usaha melatih memperkuat kemampuan seseorang dalam mengsugesti ilmu gaib. Dengan berhari-hari mewirid suatu amalan gaib diharapkan kemampuan seseorang dalam mengsugesti ilmu gaibnya akan kuat dan akan hapal mantranya diluar kepala.

Pada orang-orang itu selama berpuasa dan berzikir / wirid, tubuhnya akan memancarkan energi tertentu dan pikirannya akan memancarkan gelombang pikiran tertentu. Pancaran energi tubuh dan gelombang pikiran inilah yang seringkali mengundang datangnya sesosok mahluk halus tertentu kepada manusia yang kemudian masuk ke dalam badan atau kepalanya atau memposisikan diri di sampingnya menjadi khodam ilmu gaibnya, menjadi sumber kekuatan gaibnya, sehingga walaupun kemudian orangnya sudah tidak lagi rajin berpuasa dan tidak lagi rajin mewirid amalan ilmunya, selama khodamnya bersamanya, kapan saja ilmunya itu diamalkan tetap akan berfungsi. Jadi bisa juga dikatakan, untuk dengan sengaja mengundang sesosok gaib untuk datang menjadi khodam pendamping, maka laku puasanya adalah puasa bentuk ini. Hanya saja kita harus teliti dan waspada mengenai siapa sosok halus yang datang mendampingi kita itu. Puasa jenis ini jelas berbeda sekali dengan puasa ngebleng yang ketika seseorang melakukannya pancaran energi tubuh dan sukmanya justru menjauhkan mahluk-mahluk halus dari dekatnya.



  Puasa Weton.

Puasa weton adalah salah satu jenis puasa ngebleng yang dilakukan orang pada hari weton kelahirannya yang perhitungan waktu mulai berpuasa dan menutup puasa dilakukan berdasarkan perhitungan hari dalam kalender jawa.

Puasa weton (wetonan) adalah puasa untuk memperingati hari kelahiran seseorang sesuai laku dan tradisi dalam budaya jawa.

Puasa weton terkait dengan kekuatan dan kegaiban sukma manusia (roh pancer dan sedulur papat). Biasanya dilakukan untuk menjaga kedekatan hubungan pancer (orangnya) dengan roh sedulur papatnya, supaya kuat sukmanya, selalu peka rasa dan batin, peka firasat, peka bisikan gaib, untuk mendapatkan restu pengayoman dari para leluhurnya, supaya hidupnya keberkahan dan lancar segala urusan dan usahanya, atau untuk terkabulnya suatu keinginan yang sifatnya penting.

Puasa weton terkait dengan kegaiban yang berasal dari sukma manusia sendiri (kegaiban kesatuan roh pancer dan sedulur papat), tidak berhubungan dengan kegaiban roh-roh lain.

Puasa weton tidak bisa disamakan atau diperbandingkan atau ditukar dengan puasa bentuk lain, karena sifat dan kegaibannya berbeda.

Informasi selengkapnya tentang Sedulur Papat silakan dibaca : Sedulur Papat Kalima Pancer.

Puasa weton yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memahami atau tidak meyakini keberadaan roh sedulur papat kegaibannya tidak akan sebaik mereka yang melakukannya dengan landasan kepercayaan pada roh sedulur papat. Keyakinan pada keberadaan dan kebersamaan roh sedulur papat dengan pancer akan memperkuat kegaiban sukma dan memperkuat interaksi roh sedulur papat dan para leluhurnya dengan seseorang. Dalam kehidupannya sehari-hari kekuatan sukma akan membantu dalam kemantapan bersikap, membantu membuka jalan hidup dan menyingkirkan halangan dan kesulitan-kesulitan, dan interaksi sedulur papat akan membantu peka rasa dan firasat, peka bisikan gaib, mendatangkan ide-ide dan ilham, peringatan-peringatan dan jawaban-jawaban permasalahan.

Puasa weton adalah suatu laku yang berasal dari tradisi budaya jawa, dilakukan dengan berpuasa pada hari kelahiran seseorang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, Minggu) yang hari kelahirannya itu disesuaikan dengan hari pasaran jawa (legi, pahing, pon, wage atau kliwon). Dengan demikian hari weton kelahiran seseorang akan selalu berulang setiap 35 hari sekali. Sesuai ajaran kebatinan jawa selama berpuasa itu orangnya berdoa di malam hari kepada Tuhan di atas sana di luar rumah menghadap ke timur.


Penjelasan penetapan hari jawa :

Dalam penanggalan Jawa, hari dimulai pada
hari sebelumnya pukul 5 sore (pk.17.00) dan berakhir pada hari yang bersangkutan pukul 5 sore (pk.17.00).
Jadi,
mulainya hari adalah hari sebelumnya pk.5 sore, dan batas akhir suatu hari adalah hari itu pada pk.5 sore.
Berarti hari Senin dimulai pada hari sebelumnya, yaitu hari Minggu pk.5 sore dan berakhir pada hari Senin tersebut pk.5 sore.

Hari Senin itu pada pk.6 sore (mahgrib) sudah terhitung sebagai hari Selasa, karena sudah melewati batas akhir hari Senin pk.5 sore.


Hitungan hari kelahiran jawa :

Misalnya tanggal kelahiran 10 Juni 1970, pada penanggalan jawa harinya adalah Rabu Wage.

Sesuai perhitungan penanggalan jawa di atas, maka hari kelahiran Rabu Wage 10 Juni 1970 itu berlaku untuk orang-orang yang lahir dalam rentang waktu antara 9 Juni 1970 pk.17.00 sampai dengan 10 Juni 1970 pk.17.00.

Orang-orang itu, bila ingin puasa weton, yang dijadikan patokan hari kelahirannya adalah hari Rabu Wage.

Sedangkan orang-orang kelahiran tanggal
10 Juni 1970 pada malam hari (melewati pk.17.00), berarti hari kelahiran orang itu bukan Rabu Wage, tetapi adalah hari Kamis Kliwon, karena sudah melewati batas akhir hari Rabu Wage pk.17.00. Orang-orang itu, bila ingin puasa weton, yang dijadikan patokan hari kelahirannya adalah Kamis Kliwon, bukan Rabu Wage.

(Mengenai hitungan hari kelahiran jawa ini silakan dicari pada program primbon hari kelahiran di internet. Lebih baik lagi bila programnya itu bisa didownload).


Beberapa hitungan hari dalam puasa weton sbb :

1. Puasa weton sehari penuh.
    Puasa weton sehari ini adalah yang secara umum dilakukan orang dalam budaya Jawa.
    Puasanya dilakukan 1 hari Jawa (sehari semalam, 24 jam).

    Misalnya hari kelahirannya adalah Selasa Pahing, maka puasanya dimulai pada hari sebelumnya, yaitu
    hari Senin pk.5 sore dan berakhir pada hari Selasa Pahing tersebut pk.5 sore.


2. Puasa weton 3 hari (hari weton diapit di tengah).
    Puasa weton 3 hari biasanya dilakukan untuk harapan terkabulnya suatu keinginan khusus yang kejadiannya
    tidak terjadi setiap hari.
    Puasanya dilakukan selama 3 hari Jawa terus-menerus tanpa putus, yaitu puasa pada hari wetonnya
    ditambah 1 hari sebelumnya dan 1 hari sesudahnya, sehingga total puasa menjadi 3 hari jawa terus-menerus
    (3 x 24 jam).

    Misalnya kelahiran Rabu Kliwon,
    maka puasanya dilakukan selama 3 hari, yaitu Selasa, Rabu Kliwon dan Kamis terus-menerus tanpa putus.
    Hari Selasa dimulai pada hari sebelumnya, yaitu hari Senin pk.5 sore.
    Hari Kamis berakhir pada pk. 5 sore hari.
    Jadi puasa weton
Rabu Kliwon 3 hari itu dimulai pada hari Senin pk.5 sore dan berakhir pada hari Kamis
    pk.5 sore. Puasanya
terus-menerus tanpa putus siang dan malam. Berbuka puasanya hari Kamis pk.5 sore.

3. Puasa weton 3 hari selama 7 kali berturut-turut.
    Artinya, puasanya dilakukan selama 3 hari jawa terus-menerus tanpa putus yang dilakukan selama 7 kali
    berturut-turut tanpa putus (selama 7 bulan jawa
berturut-turut).
    Jenis puasa ini biasanya dilakukan untuk harapan terkabulnya suatu keinginan khusus yang bukan sesuatu
    yang biasa terjadi sehari-hari
dan waktu pencapaiannya agak panjang (pada masa depan), atau untuk
    keinginan terkabulnya
suatu keinginan khusus yang berat, yang kadarnya tinggi, yang bagi seseorang sulit
    untuk dicapai dengan usaha yang normal
(biasanya disertai nazar), sehingga diperlukan suatu laku tambahan 
    
demi terkabulnya keinginannya itu, yaitu puasa ngebleng 3 hari 3 malam pada hari weton kelahirannya dan
   
dilakukan selama 7 kali (7 bulan jawa) berturut-turut tanpa putus dan ditutup dengan suatu ritual dan
sesaji
    penutup (
tumpengan), selametan atau syukuran atas berhasilnya dirinya menunaikan hajat berpuasa itu.
    Misalnya kelahiran Rabu Kliwon,
    maka puasa weton 3 hari setiap Rabu Kliwon itu dilakukan terus-menerus selama 7 kali berturut-turut tanpa
    putus
.


Sesuai ajaran kejawen, saat memulai puasa berdoalah di luar rumah menghadap ke timur. Begitu juga pada malam hari selama berpuasa, berdoalah di luar rumah menghadap ke timur. Setelah selesai berpuasa berdoa juga mengucap syukur karena telah diberi kekuatan sehingga dapat menyelesaikan puasanya. Mudah-mudahan Tuhan memberkahi.

Puasa weton menjadi sempurna bila dimulai dengan mandi keramas (dengan shampo) dan pada penutupan puasanya dilakukan pemberian sesaji untuk roh sedulur papat dan pancer sebagai berikut (salah satu) :
1. Terbaik, mandi rendaman kembang telon, guyuran basah semua dari kepala sampai ke kaki.
2. Kedua terbaik, makanan jajan pasar 7 macam, dimakan sebagai makanan berbuka puasa.
3. Bubur merah putih, yaitu bubur tepung beras (bubur sumsum) yang diberi gula jawa cair, dimakan sebagai
    makanan berbuka puasa.

Karena itu bila anda menjalankan puasa weton sebaiknya pada penutupan puasanya anda memberikan sesaji untuk roh pancer dan sedulur papat anda supaya kegaiban wetonan anda itu lebih sempurna, bukan sekedar berpuasa saja.

Puasa weton adalah salah satu sarana pemberian perhatian seseorang kepada roh sedulur papatnya dan menjadi sarana memperkuat kesatuan antara seseorang (pancer) dengan roh sedulur papat dan roh para leluhurnya.

Mandi kembang menjadi sarana pemberian perhatian seseorang kepada roh sedulur papatnya, "memandikan" / membersihkan roh pancer dan sedulur papatnya yang hasil akhirnya akan juga "membersihkan" orang itu sendiri dari aura-aura negatif tubuh dan sukmanya dan "membersihkan" hidupnya dari kesulitan-kesulitan yang berasal dari dirinya sendiri. Kegaiban seseorang yang berasal dari
kesatuannya dengan roh sedulur papatnya itu akan membantu membukakan jalan hidupnya dan membuat keinginan-keinginannya menjadi semakin mudah terwujud.

Bagi yang niat wetonan, tapi tidak sempat menjalankan puasanya, atau berhalangan, cukup mandi kembang saja, bisa pagi hari, bisa siang atau sore hari, dan berdoa tulus kepada Tuhan.


Masing-masing bentuk laku prihatin dan tirakat mempunyai tujuan dan kegaiban sendiri-sendiri yang dapat dirasakan oleh para pelakunya, dan mempunyai kegaiban sendiri-sendiri dalam membantu mewujudkan tujuan niat laku pelakunya.

Puasa weton terkait dengan kepercayaan dan kegaiban sukma (kepercayaan pada kesatuan dan kebersamaan pancer dan roh sedulur papat). Biasanya dilakukan
untuk menjaga kedekatan hubungan orangnya dengan para roh sedulur papatnya, supaya kuat sukmanya, selalu peka rasa dan batin, peka firasat, dan untuk mendapatkan restu pengayoman dari para leluhur, supaya hidupnya keberkahan dan lancar segala urusannya, atau untuk terkabulnya suatu keinginan yang sifatnya penting. Puasa weton tidak bisa disamakan, digantikan atau ditukar dengan puasa bentuk lain, karena sifat dan kegaibannya berbeda.

Yang dilakukan dalam budaya jawa :

Untuk keperluan sehari-hari, misalnya untuk mempermudah jalan hidup, cukup rajin puasa weton 1 hari, atau bisa juga mandi kembang saja (bisa hari apa saja sekali sebulan).

Dalam hal menjaga supaya hidupnya selalu 'keberkahan', dimudahkan jalan hidup, usaha dan kerejekiannya dan dijauhkan dari kesulitan-kesulitan, puasa ngebleng wetonan adalah yang terbaik, dilakukan setiap bulan selama 1 hari 1 malam pada hari weton kelahiran seseorang (wetonan) dan ditutup dengan mandi kembang.

Untuk keperluan sehari-hari untuk mempermudah jalan hidup dan mengejar sesuatu yang diinginkan, misalnya untuk kemantapan bekerja dan perbaikan posisi / karir, cukup puasa weton 1 hari saja secara rutin setiap bulan. Lebih baik lagi jika disertai dengan mandi kembang untuk membersihkan diri dari aura-aura negatif di dalam tubuh.

Dalam hal keinginan terkabulnya suatu hajat / keinginan khusus, sesuatu yang kejadiannya tidak terjadi setiap hari, yang biasa dilakukan adalah puasa ngebleng 3 hari 3 malam pada hari weton kelahiran seseorang.

Dalam hal keinginan terkabulnya suatu keinginan khusus yang disertai nazar, yang biasa dilakukan adalah puasa ngebleng 3 hari 3 malam pada hari weton kelahiran seseorang, dilakukan selama 7 kali (7 bulan) berturut-turut tanpa putus dan ditutup dengan suatu ritual dan sesaji penutup, atau acara tumpengan syukuran.

Dalam hal mencari suatu petunjuk gaib / wangsit, puasa ngebleng adalah yang terbaik. Biasanya dilakukan selama 3 hari 3 malam tanpa putus, hari Selasa Kliwon atau Jum'at Kliwon diapit di tengah, dan berdoa di malam hari di tempat terbuka menghadap ke timur.

Dan sesuai ajaran kejawen, saat memulai puasa berdoalah di luar rumah menghadap ke timur.
Begitu juga pada malam hari selama berpuasa, berdoalah di luar rumah menghadap ke timur.
Setelah selesai berpuasa berdoa juga mengucap syukur karena telah diberi kekuatan sehingga dapat menyelesaikan hajat puasanya. Lebih baik lagi jika ritual puasanya
diawali dengan mandi dan keramas (shampo) dan ditutup dengan mandi kembang untuk membersihkan diri dari aura-aura negatif di dalam tubuh.

Jangan lupa baca doa niat :

sebelum mandi kembang :

    Ya Allah, niat saya mandi kembang untuk membersihkan diri saya dari pengaruh dan hal-hal negatif

    dalam diri saya dan untuk ......................

atau niat puasa mutih :

    Ya Allah, niat saya puasa mutih untuk menguatkan permohonan terkabulnya keinginan saya supaya

    ................  dan untuk  ..................

atau niat puasa weton :

    Saudara-saudara kembarku para roh sedulur papat, aku berpuasa untukmu.

    Ya Allah, niat saya puasa weton untuk menguatkan permohonan terkabulnya keinginan saya supaya

    ................  dan untuk  ..................


   Ya Allah berkahilah saya.

    Amin.



Puasa weton (wetonan) adalah salah satu laku budaya kebatinan yang sudah umum dilakukan dalam masyarakat jawa. Tetapi sehubungan dengan adanya pengaruh budaya Islam dalam masyarakat jawa, orang-orang jawa yang masih melakukan puasa weton ini sudah tidak lagi melakukannya sesuai aslinya ajaran jawa, yaitu dengan puasa ngebleng, tetapi melakukan puasanya sama dengan puasa biasa saja, yaitu puasa dari subuh sampai mahgrib saja. Sekalipun laku puasa weton yang dipengaruhi budaya Islam itu masih memberikan kegaiban, tetapi sudah tidak lagi besar seperti seharusnya, bahkan banyak orang yang tidak lagi dapat merasakan kegaibannya sehingga kemudian tidak lagi melakukannya, kemudian digantikan dengan puasa Senin - Kamis, puasa mutih, atau puasa berpantang makanan tertentu saja.



Ada pertanyaan dari seorang pembaca :
Salam kang java. Saya mau tanya tentang mandi kembang telon.
Kembang kantilnya yang kuning atau putih, trus jumlah kembang telon itu berapa, apa 3 macam kembang jumlahnya 3 biji. apa jumlahnya terserah
mohon maaf kang java.
matur nuwun.

Jawab :
Kantil kuning atau putih boleh, kalo bisa yang sudah harum baunya.
Masing2 kembang satu saja juga boleh, tapi sebaiknya dinilai sendiri jumlahnya yang dianggap cukup untuk mandi kembang.
thanks


Ada juga pertanyaan :
Sewaktu ngebleng terutama saat weton, apakah kekuatan sukma bisa sampai 2 x lipat dari keadaan normal ataukah tidak.

Jawab :
Dengan syarat selama berpuasa menjauhi kondisi / suasana bersenang-senang / hiburan dan puasanya sebelumnya sudah diniatkan (bukan asal puasa), ngebleng hari apa saja sesuai niatnya, termasuk wetonan :
 - ngebleng 1 hari bisa menaikkan kekuatan sukma menjadi 1,5 kali kondisi normalnya
 - ngebleng 3 hari bisa menaikkan kekuatan sukma
menjadi 3 kali kondisi normalnya

Tapi sesudahnya ketika sudah tidak lagi berpuasa kondisi kekuatan sukmanya bisa menurun lagi, apalagi jika sehari-harinya sering menonton hiburan, televisi, atau hidupnya banyak bersenang-senang.

Jika tujuannya adalah untuk menaikkan kekuatan sukma, sebenarnya laku berpuasa itu tidak wajib. Yang lebih diutamakan adalah laku kebatinan yang efeknya memperkuat sukma. Laku puasa itu berfungsi untuk menambah kekerasan batinnya / sukmanya dan mendekatkan hubungan pancer dengan sedulur papatnya.
Karena itu kalau diniatkan puasanya untuk menaikkan kekuatan sukma, maka puasanya itu harus dijadikan kebiasaan rutin. Lebih bagus lagi kalau sehari-harinya tidak mengumbar kesenangan hidup.


Ada juga pertanyaan :
puasa apa yang efektif meningkatkan kekuatan sukma.

Jawab :
Kalau tujuannya untuk meningkatkan kekuatan sukma, kalau hanya berpuasa saja, efek peningkatannya tidak signifikan. Efek dari puasa lebih banyak bersifat "membangkitkan" kegaiban sukma dan menambah kekerasan batin manusia.

Kalau tujuannya untuk meningkatkan kekuatan sukma, seharusnya yang dilakukan adalah "membangun" kekuatan sukma, misalnya dengan olah batin dan oleh energi untuk membangun kekuatan sukma. Selama menjalankan olah batin itu, laku berpuasa itu sangat baik untuk memperkuat efek meningkatnya kekuatan sukma.

Kalau kita belum pernah menjalani suatu laku yang efeknya memperkuat sukma, maka kemungkinan besar kondisi kekuatan sukma kita masih sama dengan orang yang umum.

Secara umum kondisi sukma manusia adalah lemah, bahkan masih lebih lemah dibandingkan mahluk halus kuntilanak yang di alam gaib termasuk jenis halus yang paling lemah, sehingga sekuat apapun fisiknya, orang akan mudah untuk dipengaruhi atau diserang secara gaib, mudah terpengaruh ilmu pengasihan, kewibawaan, pelet, penundukkan, juga gampang mengalami kesambet. Sukmanya akan kuat jika orang itu menjalankan laku yang efeknya memperkuat sukma.

Olah Rasa dan Olah Batin akan menjadi dasarnya.
Setelah itu dilanjutkan dengan laku "membangun" kekuatan sukma, misalnya dengan olah batin dan olah energi untuk kekuatan sukma, seperti dicontohkan dalam tulisan-tulisan Penulis yang bertema
Meditasi Energi.
Selama menjalankan olah batin itu, laku berpuasa sangat baik untuk membantu meningkatnya kekuatan sukma.




  Pemahaman Kebatinan Laku Prihatin dan Tirakat


Semua bentuk laku prihatin dan tirakat hanya akan bermanfaat bila ada maksud dan tujuannya, kalau tidak ya .... hanya menyiksa tubuh saja, hanya lapar dan haus saja yang didapat. Karena itu sebelum dan selama melakukan laku tersebut kita harus selalu fokus pada tujuan lakunya dan berdoa tulus akan niat dan tujuannya.


Suatu laku puasa yang dilakukan sebagai kebiasaan rutin, walaupun dilakukan tanpa tujuan yang khusus, akan dapat menjadi upaya memperkuat kebatinan manusia, supaya kuat batinnya, bisa mengatasi belenggu duniawi lapar dan haus, mengatasi godaan hasrat dan nafsu duniawi, dan sebagai upaya membersihkan hati dan mencari keberkahan pada jalan hidup. Hasilnya akan lebih baik lagi bila sebelum dan selama melakukan laku tersebut selalu berdoa tentang niat dan tujuan / harapan-harapannya yang ingin dicapainya dengan lakunya itu.

Mengenai apa saja perubahan yang terjadi pada diri kita sesudah kita menjalaninya hanya kita sendiri saja yang bisa merasakan perubahannya. Dalam menjalankan laku puasa atau laku prihatin seharusnya kita sudah lebih dulu menentukan tujuan dari laku kita itu, sehingga sesudahnya kita bisa merasakan sendiri perbedaannya sebelum dan sesudah menjalankannya.

Dalam melakukan laku-laku prihatin dan tirakat di atas akan baik sekali bila dilakukan dengan menyendiri / menyepi (di dalam rumah) diisi dengan banyak berdoa, keluar rumah pada malam hari di tempat terbuka dan tidak mendatangi tempat-tempat keramaian dan tidak menonton hiburan atau tempat dan situasi lain yang membuat kita lupa bahwa kita sedang berprihatin. Manfaat dari suatu laku hanya akan didapatkan bila dilakukan dengan niat dan tujuan tertentu. Tanpa adanya niat dan tujuan, maka perbuatan itu hanya akan menjadi perbuatan yang sia-sia. Berdoalah kepada Tuhan memohon tercapainya tujuan dari laku tersebut pada awal dan selama pelaksanaannya.

Diawali dengan bersuci / mandi keramas, atau lebih baik lagi dengan mandi kembang telon atau kembang setaman / kembang tujuh rupa supaya aura dari kembang-kembang tersebut menyelaraskan aura-aura negatif di dalam tubuh agar menjadi positif, menjadi lebih bersih
dan lebih bercahaya, yang berguna untuk membantu mempermudah jalan hidup, membuang kesulitan-kesulitan yang berasal dari aura negatif di dalam tubuh.

M
andi kembang sekarang pun banyak diselenggarakan di spa-spa dan salon kecantikan modern. Kembang yang digunakan haruslah yang berbau harum dan masih segar, belum layu, apalagi kering. Sebelum digunakan mandi, biarkan selama 1 menit kembang-kembang itu terendam dulu di dalam air. Kemudian air dan kembangnya diaduk supaya aura energi kembang-kembangnya larut merata di dalam air. Laku ini dapat dilengkapi dengan laku-laku yang lain yang berguna untuk memperkuat aura positif seseorang dan membuat hidup lebih 'keberkahan'.


Ada beberapa pertanyaan serupa dari para pembaca mengenai hari, bentuk laku prihatin dan puasa, dan isi doa yang harus dilakukan seseorang untuk masing-masing keperluan / hajatnya. Secara inti garis besarnya kami jelaskan sebagai berikut.

Cerita tentang laku prihatin, puasa dan tirakat di atas adalah dalam konteks tradisi masyarakat jawa yang ingin hidupnya
selalu keberkahan, selamat dan sejahtera dalam lindungan Tuhan. Jadi bentuk laku puasanya dan hari-hari puasanya adalah berdasarkan tradisi jawa.

Untuk masing-masing orang, Penulis tidak bisa menentukan hari apa yang terbaik suatu laku prihatin, tirakat dan puasa harus dilakukan, karena semuanya tergantung pada tujuan dari niat dan lakunya.
Sebagai acuan dasar, sesuai tradisi jawa, kita bisa melakukannya pada hari weton kelahiran kita sendiri. Tetapi diluar itu, karena bersifat kebatinan, maka sebaiknya kita juga peka rasa, kita sendiri yang menentukan waktu dan bentuk lakunya sesuai
panggilan batin kita masing-masing, karena bentuk kegaibannya akan ditentukan oleh kegaiban sukma kita sendiri sesuai isi sugestinya.

Misalnya,
  -  Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, lakunya bisa hari apa saja dengan diisi banyak berdoa.
  -  Untuk memenuhi kewajiban beragama, lakunya harus sesuai dengan aturan agama.
  -  Untuk mendekatkan diri kepada roh sedulur papat, lakunya pada hari weton kelahiran.
  -  Untuk mendekatkan diri kepada roh-roh leluhur, lakunya pada hari weton kelahiran.
  -  Untuk urusan kegaiban, wangsit dan bisikan gaib, roh-roh leluhur atau roh-roh halus lain, lakunya biasanya
     pada malam Selasa Kliwon atau Jum'at Kliwon, disertai bertirakat dengan berdoa di luar rumah atau
     berziarah ke makam-makam atau tempat mistis tertentu.

  -  Untuk mempelajari suatu keilmuan gaib, lakunya sesuai persyaratan ilmunya.
  -  Untuk tujuan keperluan lain, lakunya hari apa saja sesuai keperluannya atau sesuai niat batinnya.


Tujuan laku dan bentuk hajat / keinginan yang ingin terkabul juga sendiri-sendiri. Masing-masing bentuk laku prihatin memiliki kegaiban sendiri-sendiri yang bentuk pelaksanaan lakunya disesuaikan dengan kadar berat / ringannya suatu hajat / keinginan yang ingin terkabul. Semakin berat / tinggi kadar suatu hajat / keinginan, maka lakunya juga seharusnya lebih berat. Dan suatu hajat keinginan yang sifatnya jangka panjang, maka lakunya juga seharusnya dilakukan secara rutin dalam jangka panjang (setiap bulan), bukan hanya sekali atau dua kali saja.

Misalnya :


 -  Yang kadarnya ringan, untuk keperluan rutin sehari-hari, cukup secara rutin
menjalankan puasa mutih saja,
    atau puasa senin - kamis saja, atau puasa berpantang makanan tertentu saja, atau rutin puasa weton 1 hari,
    atau mandi kembang saja sebulan sekali.


 -  Untuk kemudahan jalan hidup atau keinginan menjaga kelangsungan pekerjaan dan perbaikan posisi / derajat,
    
cukup secara rutin menjalankan puasa weton 1 hari.

 -  Untuk keinginan khusus yang kejadiannya tidak terjadi setiap hari, misalnya ingin lulus ujian pendidikan,
    ingin terpilih diterima bekerja atau ingin terpilih naik jabatan ketika ada kesempatan naik jabatan, lakunya
    puasa ngebleng
3 hari (hari apa saja) atau puasa weton 3 hari, sebelum ujian pendidikan, sebelum melamar
    pekerjaan atau sebelum ada kenaikan jabatan.


 -  Untuk keinginan khusus yang berat untuk dicapai (relatif bagi setiap orang) dan waktu pencapaiannya masih
    panjang, misalnya ingin bisa terpilih menjadi bupati / gubernur,
ingin bisa cukup menabung untuk memiliki
    rumah sendiri bagi yang belum memiliki rumah sendiri, ingin bisa mempunyai pabrik / perusahaan sendiri,
    ingin karir bisa naik sampai menjadi kepala kantor, dsb, biasanya lakunya puasa weton ngebleng 3 hari
    selama 7 kali berturut-turut tanpa putus dan ditutup dengan ritual penutup atau tumpengan selametan setelah
    semua puasanya selesai. Biasanya lelaku jenis ini juga disertai nazar (sama dengan sumpah Tan Ayun
    Amuktia Palapa-nya Gajah Mada).
Sesudah puasa 7 kali itu tercapai, bulan-bulan berikutnya tetap puasa
    wetonan.

Doa selama berpuasa itu juga tidak perlu muluk-muluk, sederhana saja, doa yang tulus dari hati sendiri kepada Tuhan, tetapi intinya kita harus menegaskan apa niat dan keinginan yang ingin dicapai, untuk mengarahkan kegaibannya supaya sesuai dengan tujuan kita.

Dalam rangka mencari keberkahan hidup laku-laku prihatin di atas seharusnya dilakukan juga secara berkala, dan harus dihayati lakunya sebagai cara kita fokus batin kepada tujuan dari laku kita, bukan sekedar berpuasa saja, bukan sekedar mandi kembang saja, dan bukan sekedar berdoa saja.

Laku-laku yang disebutkan di atas adalah berasal dari tradisi budaya jawa, karena itu melakukannya juga harus dengan mengikuti tatacara dalam budaya jawa, jangan menggunakan atau dicampurkan dengan tatacara yang lain seperti tatacara dan doa-doa keagamaan, doa-doa amalan, dsb. Sesuai ajaran kebatinan jawa selama berpuasa itu orangnya berdoa di malam hari kepada Tuhan di atas sana di luar rumah menghadap ke timur.

Laku-laku di halaman ini adalah berasal dari tradisi budaya jawa dalam rangka orang menjaga supaya hidupnya keberkahan. Jika kita menjalankannya, janganlah kita berpikiran yang sama dengan ngalap berkah, karena berkah yang dari Tuhan bisa juga turun tanpa kita harus mengotori diri dengan pikiran dan hasrat ngalap berkah.


Masing-masing jenis laku prihatin mempunyai manfaat sendiri-sendiri yang bisa dirasakan, yang membuat para pelakunya tetap menjalankannya, tetapi manfaat apa yang dirasakan oleh masing-masing pelakunya tidak selalu sama, dan juga tidak bisa dipastikan bahwa semua hajat / keinginan akan dapat terkabul dengan menjalankan suatu bentuk laku prihatin, puasa dan tirakat. Harus disadari bahwa semua bentuk laku adalah dilakukan orang sesuai keyakinannya sendiri, sebagai tambahan dari usaha dan tindakan nyata yang sudah dilakukannya untuk pencapaian keinginannya itu.

Semua bentuk laku akan bermanfaat bila dalam menjalankannya didasarkan pada kebutuhan dan panggilan hati. Kadar kegaibannya akan semakin tinggi kalau anda menghayati lakunya, bukan sekedar anda menjajal suatu bentuk laku, dan bukan sekedar anda berhasil berpuasa. Dan jangan menyandarkan harapan terkabulnya suatu keinginan dengan hanya melakukan suatu bentuk laku prihatin. Tidak bisa suatu bentuk laku kebatinan / prihatin dianggap ampuh sebagai jalan pintas untuk terkabulnya suatu keinginan. Jangan dijadikan sarana ngalap berkah.

Puasa dan laku prihatin di atas adalah berdasarkan panggilan dan niat batin dari diri sendiri. Kegaibannya berasal dari kegaiban diri sendiri. Karena itu seharusnya anda mengajak semuanya pancer dan sedulur papat berpuasa bersama, jangan jalan sendiri saja.

Puasa dan laku prihatin di atas bersifat kebatinan, jangan tata-lakunya dianggap sama seperti puasa agama yang banyak pantangan dan larangannya dan semuanya harus dipatuhi, harus begini, harus begitu, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Apapun yang anda lakukan semuanya akan bermuara pada kadar kegaiban yang akan anda alami sendiri. Kadar kegaiban yang anda alami akan semakin tinggi kalau anda menghayati lakunya. Karena itu banyak orang yang sengaja menambah-nambahi lakunya supaya kegaibannya semakin tinggi, terutama yang tujuannya adalah untuk ngelmu gaib dan ngalap berkah. Tetapi puasa agama justru tidak boleh diubah-ubah aturan dan tatalakunya. Entah anda menghayati / mengimani lakunya atau tidak, puasa agama harus dijalankan sesuai tuntutan dan tuntunan agama.

Dalam melaksanakan laku-laku prihatin itu tidak diperlukan doa-doa khusus atau doa-doa amalan atau doa-doa hapalan, walaupun itu asalnya dari agama. Yang diperlukan hanyalah doa dari niat batinnya saja, doa permohonan yang tulus kepada Tuhan agar keinginan-keinginannya dapat tercapai, sebagai sarana fokus pada tujuan.

Dalam berdoa sebaiknya fokuskan batin anda kepada Tuhan di atas sana seperti dicontohkan di dalam tulisan  berjudul Kebatinan Dalam Keagamaan supaya doa anda lebih pasti tersambung kepada Tuhan. Lebih baik lagi jika selama menjalankan laku berprihatin kita juga menjalankan laku kebatinan keagamaan seperti yang dicontohkan dalam tulisan itu.

Laku prihatin dan tirakat jangan dijadikan sarana jalan pintas untuk mengejar berkah. Lakukanlah sebagai cara untuk kita lebih fokus dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Berkat yang dari Tuhan akan datang dengan sendirinya sesuai perkenanNya tanpa kita harus berpikiran ngalap berkah.

Pada jaman sekarang ini kalau kita rajin menjalankan laku prihatin, lengkapi dengan banyak berdoa, tidak harus menghadap ke timur, yang utama adalah sambungkan doa kita kepada Tuhan di atas sana dengan cara seperti yang dicontohkan di tulisan berjudul Kebatinan Dalam Keagamaan.

Mengenai pengapesan, semua orang mengalaminya, hanya bentuk kejadiannya saja yang tidak sama.
Sebaiknya kita peka rasa untuk bisa tanggap firasat, sehingga jika ada suatu kejadian yang tidak mengenakkan, kita sudah lebih dulu menerima pemberitahuan / tandanya sehingga kita bisa menghindarinya dan bisa mengambil suatu tindakan untuk menghindari / meminimalisir resiko negatifnya.

Pada jaman sekarang yang kehidupan manusia penuh dengan rutinitas dan kesibukan, urusan pekerjaan tetap-lah dijalankan, jangan ditinggalkan hanya karena sedang berpuasa, dan juga tidak perlu melakukan puasa, laku prihatin dan tirakat sambil menyepi atau tapa seperti orang jaman dulu. Kita hanya perlu menghindari perilaku dan suasana bersenang-senang untuk diisi dengan banyak berdoa. Perlu diketahui bahwa sugesti kebatinan dalam kondisi berprihatin akan jauh lebih kuat dibandingkan pada hari-hari lain saat tidak sedang berprihatin. Karena itu dalam menjalankan laku berprihatin akan lebih baik jika dilakukan dengan banyak berdoa, tidak mendatangi tempat-tempat keramaian, tidak menonton hiburan atau suasana bersenang-senang yang membuat kita lupa bahwa kita sedang berprihatin.

Laku puasa, prihatin dan tirakat berdasarkan tradisi jawa di atas dilakukan berdasarkan panggilan hati dan rasa ketuhanan jawa, akan berbeda dengan laku yang dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan laku dalam rangka memenuhi kewajibannya beragama atau yang sedang laku ngelmu gaib (yang sedang menuntut ilmu gaib / khodam / kesaktian) atau yang sedang ngalap berkah.

Laku puasa, prihatin dan tirakat di dalam halaman ini adalah berdasarkan tradisi dan budaya kebatinan jawa. Jangan dilakukan bersamaan dengan kewajiban puasa agama, dan jangan dicampurkan dengan tatacara dan doa-doa keagamaan, supaya sugestinya tidak berubah dan tidak memunculkan pertentangan di dalam agama. Jangan sampai karena itu kemudian anda dikatakan sesat / murtad / kafir.

Laku puasa, prihatin dan tirakat di dalam halaman ini adalah berdasarkan tradisi budaya kebatinan jawa, sangat erat kaitannya dengan kepercayaan akan kesatuan seseorang (pancer) dengan sedulur papatnya. Karena itu dalam menjalankannya seharusnya kita mengkondisikan sikap batin yang sejalan dengan sugesti kebatinan jawa. Untuk pemahaman yang lebih lengkap silakan dibaca juga tulisan berjudul : Sedulur Papat Kalima Pancer.


Ada pertanyaan :

Pak saya mau bertanya, kalau orang puasa ngebleng kan seharusnya tidak boleh makan, minum, tidur, selama hari yg ditentukan, tetapi jaman sekarang ada orang puasa ngebleng tidak makan dan minum tapi boleh tidur, mengingat jaman skrg orang dituntut jadwal pekerjaan yg sangat ketat.

Menurut pak javanes sendiri, puasa ngebleng yg sudah dikurangi lakunya dan direnovasi spt di atas apa masih efektif dan ada kegaiban yg dapat meningkatkan kekuatan sukma ?
Mohon jawaban dan sarannya.
Sebelumnya saya ucapkan trimakasih

Ulasannya sbb :

Ada banyak sekali ajaran laku prihatin dan puasa.
Tapi secara umum ada 2 aliran besar ajarannya.

1. Ajaran penghayatan kebatinan dan agama.
Dalam ajaran penghayatan kebatinan dan agama, seperti ajaran penghayatan kebatinan jawa atau ajaran dalam keagamaan hindu, budha, islam dan kristen, biasanya ajaran dan tatalakunya sederhana, hanya prinsip-prinsipnya saja yang harus dijalankan. Walaupun berat melakukannya, tapi tidak ada yang aneh-aneh.

2. Ajaran ngelmu gaib dan ngalap berkah.
Dalam ajaran ngelmu gaib dan ngalap berkah orang melakukan banyak tatalaku yg aneh2 yg secara kebatinan dianggap tidak perlu sampai seperti itu.

Jadi kalau ada orang yg mengajarkan anda laku yg aneh2 biasanya itu adalah ajaran dari orang2 dulu yg biasa ngelmu gaib, atau itu sebenarnya adalah laku untuk tujuan ngalap berkah, misalnya mandi berendam di tempuran sungai yg angker, tirakat / semedi di tempat yg angker dan wingit, tapa melek, tapa bisu, tapa lelono, tirakat sambil bakar menyan, tirakat di pinggir laut / sungai, di makam / kuburan keramat, di dekat sumur tua, mandi air 7 sumur, dsb. Tatalaku yang aneh2 itu biasanya untuk tujuan ngelmu gaib, atau untuk mencari wangsit, atau untuk ngalap berkah.

Secara kebatinan, puasa ngebleng itu aslinya hanya tidak makan dan tidak minum saja, boleh tidur.
Puasanya dilakukan sambil berprihatin, menjauhkan diri dari bersenang-senang.
Puasanya sehari-semalam, boleh tidur.
Buka puasa juga makan-minumnya biasa saja.

Tapi kalau dikatakan tidak boleh tidur, atau berbuka puasanya hanya minum saja, nasi sekepal, tujuh kepal, ngrowot, dsb, biasanya itu mengikuti tatacara ngelmu gaib.

Kalo niatnya untuk meningkatkan kekuatan sukma seharusnya lakunya mengikuti ajaran penghayatan kebatinan, bukan mengikuti ajaran ngelmu gaib atau ngalap berkah.

thanks



Ada pertanyaan :

Pak di dalam artikel bapak, kalau orang yg melakukan laku tirakat kebatinan seperti puasa ngebleng maka sukma org tsb meningkat 1,5 dan banyak para makhluk gaib dan leluhur kita memperhatikan kita.
Kalau ada kasus seperti ada orang yg menjalani laku tirakat puasa ngebleng tetapi ada orang yg jahil, yaitu menangkap sedulur papat orang tsb dan memasungnya. Apakah sedulur papat org tsb yg dipasung dapat melepaskan diri dgn sendirinya ?
Mohon pencerahannya.
Saya ingin menimba ilmu dari bapak.
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

Ulasan :

Berarti kasus yg bapak sampaikan itu sama dengan kasus sedulur papat yg terpisah yg disandera oleh pihak lain.
Soal apakah sedulur papatnya itu akan bisa melepaskan diri atau tidak, itu tergantung kekuatan sedulur papat itu sendiri, juga tergantung apakah sedulur papatnya itu berusaha membebaskan dirinya sendiri atau tidak.

Mengenai laku tirakat yg bapak sampaikan itu, termasuk ngebleng, sebenarnya yg dilakukan orang itu belum tentu sifatnya kebatinan, mungkin sebenarnya itu adalah laku ngelmu gaib. Yang seperti itu sering memunculkan kasus gangguan gaib, apalagi kalau orangnya bertirakat di tempat2 yg angker.

Jadi kita perlu bisa membedakan antara laku tirakat penghayatan kebatinan dengan laku yg sebenarnya tujuannya untuk ngelmu gaib atau ngalap berkah.
Juga jangan asal mengikuti ajaran orang, jangan sampai laku kita itu malah mendatangkan efek yg tidak baik.

Sebenarnya puasa ngebleng yg dilakukan oleh orang2 keilmuan kebatinan adalah sebagai pengganda kekuatan kebatinan, untuk membantu kenaikan yg signifikan kekuatan sukma dan kebatinan, bukan semata2 ngebleng.

Kalau dilakukan oleh orang biasa yg tidak melakukan olah kebatinan, kenaikan kekuatan sukmanya tidak banyak (tapi kegaibannya tetap ada).
Tapi kalau dilakukan oleh orang2 penghayat dan pelaku kebatinan, orang2 yg melakukan olah kebatinan, puasa ngebleng itu bisa menunjang kenaikan kekuatan sukma yg signifikan.

terima kasih



Pertanyaan :

Aura seseorang itu 1 warna dan permanen, atau berwarna-warni dan berubah-ubah sesuai suasana hati ?
kalau aura saya, warnanya apa ya pak?
bisa minta tolong untuk dibantu buka aura saya pak?
atau saya harus melakukan amalan apa untuk membuka aura?

Ulasan :

Aura orang itu ada banyak macamnya.
Ada :
1. Aura energi tubuh / organ2 tubuh (dan penyakit),
2. Aura psikologis (suasana hati),
3. Aura kejiwaan / kepribadian (lebih bersifat permanen) dan
4. Aura spiritualitas.
Itu adalah aura2 dasar manusia.
Aura2 lainnya adalah kembangan dari itu.

Kalau ada orang yg bertanya tentang auranya, sebenarnya saya bingung, aura yg mana ?
Kalau dirincikan nantinya orangnya bingung (saya sendiri juga jadi capek sendiri he he he)
Tapi saya sendiri tidak begitu memperhatikan detail aura, jadi jangan tanya itu deh ya he he he

Tapi kalau anda ingin auranya bagus dan bersih setidaknya ada caranya yg bisa anda lakukan sendiri :

1. Rajin mandi kembang seperti dicontohkan dalam tulisan saya yang berjudul Laku Prihatin Dan Tirakat.
Nantinya aura tubuh dan wajah anda akan bersih dan terang.

2. Menjalankan laku kebatinan ketuhanan seperti dalam tulisan saya yg berjudul  Kebatinan Dalam Keagamaan dan  Pembersihan Gaib 4.  Nantinya aura spiritualitas anda akan bersinar putih bersih. Sukma anda akan kuat. Aura tubuh dan kejiwaan juga akan lebih baik, karena bukan hanya energi tubuh anda akan baik, tapi kejiwaan dan kepribadian anda juga akan menjadi lebih baik.




  Laku Prihatin dan Tirakat,  Masih Relevankah ?


Banyak orang menjalani laku mulai dari laku prihatin menahan diri dan berpuasa, tidak tidur, berendam di sungai, sampai ritual yang aneh-aneh dan tidak masuk logika orang modern dalam rangka ngalap berkah atau ngelmu gaib, yang semuanya bertujuan supaya apa yang mereka harapkan dan usahakan bisa tercapai.

Jaman sekarang, sikap berpikir masyarakat sudah lebih modern, kehidupan manusia penuh dengan kesibukan dan rutinitas yang menyita banyak waktu dan menuntut manusia untuk tetap fit dan dalam kondisi yang prima. Jika demikian keadaannya, apakah konsep laku prihatin dan tirakat ini masih relevan dan masih perlu dijalankan ?

Jawabannya adalah:  Ya

Konsep laku prihatin dan tirakat janganlah dipandang secara dangkal dan sempit. Konsep laku prihatin dan tirakat bersifat universal, tetapi bentuk lakunya sendiri bisa berbeda-beda sesuai kondisi kebatinan masyarakatnya masing-masing dan dalam menjalankannya harus dilakukan penyesuaian sesuai tempat dan jamannya.

Laku adalah usaha / upaya-upaya.
Prihatin adalah sikap menahan diri, menjauhi perilaku bersenang-senang enak-enakan.
Tirakat adalah perbuatan-perbuatan tertentu sebagai tambahan, untuk terkabulnya suatu keinginan / niat.

Hakekat dan tujuan dari laku prihatin dan tirakat adalah usaha menjaga agar kehidupan manusia selamat dan 'keberkahan', agar dihindarkan dari kesulitan-kesulitan dalam segala urusan dan usahanya dan tercapai / terkabul keinginan-keinginannya. Proses laku mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang agar selalu bersikap positif dan menjauhi hal-hal yang bersifat negatif dan tidak bijaksana, demi tercapainya tujuan hidup.
Laku prihatin akan akan membuat peka hati nurani dan melandasi perbuatan yang berbudi pekerti.

Dalam kehidupan jaman modern ini memang banyak orang yang memaksakan sikap berpikirnya untuk tidak percaya lagi dengan hal-hal yang bersifat mistis, karena dianggap itu adalah kuno, kehidupan masa lalu, tidak masuk akal, bertentangan dengan agama, bisa merusak iman dan agama, dsb. Akibatnya, banyak orang yang sudah tumpul kepekaan batinnya dan tidak bisa merasakan firasat. Bahkan banyak orang yang sudah buta hati nuraninya, ego dan keakuan dinomorsatukan, sehingga banyak menimbulkan pertentangan dengan manusia lainnya. Tetapi banyak juga orang yang berpandangan lain, masih banyak orang yang selalu menjaga kepekaan batinnya, banyak orang yang masih menjaga sikap hidup berprihatin.

Memang banyak bentuk laku yang dulu biasa dilakukan orang sekarang sudah banyak yang ditinggalkan, karena merepotkan dan tidak sesuai jaman. Kelemahan ritual tradisional dari sudut pandang orang jaman modern adalah tidak adanya penjelasan yang memuaskan secara logika, hanya bisa dirasakan dengan rasa, dengan hati dan batin, dan dengan penghayatan pada lakunya. Tetapi sesungguhnya laku dan hal-hal yang bersifat tradisional itu tidak sungguh-sungguh ditinggalkan, bentuk lakunya saja yang berbeda, manfaatnya juga masih bisa dirasakan, termasuk oleh orang-orang jaman sekarang.

Sebagai gantinya, laku tersebut dilakukan dengan cara-cara yang lebih modern yang sesuai dengan jaman. Banyak orang melakukan penelitian untuk mengkaji hal-hal yang berbau mistis dan tradisional untuk dicoba menjelaskannya dengan sikap berpikir modern, logis dan analitis. Dan hal-hal yang tidak dapat diselesaikan dengan cara modern selalu saja ada laku untuk mencari cara-cara alternatif yang bersifat alami dan tradisional. Sakit-penyakit dan obat-obatan medis pun diusahakan alternatif pengobatannya yang bersifat alami dan tradisional. Ilmu-ilmu yang dulu untuk kesaktian dan sebagian merupakan ilmu gaib, masih banyak digeluti orang, dijadikan bahan pertunjukkan entertainment dan dikomersialkan.

Berendam atau mandi kembang setaman / kembang tujuh rupa, yang aslinya tujuannya adalah supaya aura dari kembang-kembang tersebut menyelaraskan aura-aura negatif di dalam tubuh agar menjadi positif, aura tubuh dan wajah menjadi lebih bersih dan lebih bercahaya, membuang kesulitan-kesulitan yang berasal dari aura negatif di dalam tubuh dan untuk membantu mempermudah jalan hidup, sekarang, mandi kembang, luluran, dsb, banyak diselenggarakan di spa-spa dan salon kecantikan modern.

Sesuai hakekat dan tujuannya, maka walaupun jaman sekarang kondisinya sudah sangat berbeda dengan jaman dulu, tetapi proses laku berprihatin tetap dilakukan orang, hanya saja bentuk lakunya yang berbeda. Laku prihatin untuk menahan diri, tidak sombong, rajin beribadah, tekun berdoa dan berusaha, tidak malas, menjauhi kebiasaan dan etos kerja yang buruk, hidup sederhana (relatif) dan menabung, mensyukuri apa yang dimiliki dan tidak boros menghambur-hamburkannya, menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama, tidak memperkaya diri dengan mencuri / korupsi, menjauhi perbuatan dosa, dsb, dilakukan oleh banyak orang. Itu adalah bentuk-bentuk laku berprihatin yang umum pada jaman sekarang walaupun orang tidak menganggapnya sama dengan bentuk formal laku prihatin dan tirakat.

Proses laku berprihatin tetap dilakukan orang, hanya bentuk dan caranya saja yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi jaman dan kondisi masyarakat. Yang membuat orang berhasil mencapai tujuannya dengan menjalankan suatu laku adalah bukan semata-mata karena bentuk lakunya, melainkan karena mereka tetap menjaga hal-hal yang positif dan menjauhi hal-hal yang bersifat negatif dan tidak bijaksana, sehingga segala sesuatu yang dikerjakan selalu terkondisi pada arah yang benar untuk tercapainya tujuan dan niatnya.




_________










Comments