https://sites.google.com/site/thomchrists/budaya-kebatinan-jawa-kejawen/Hari-Baik-Hari-Buruk/Senja%202.jpg
 


Hari Baik - Hari Buruk 

 


Dalam kehidupan masyarakat Jawa yang masih memegang budaya dan kepercayaan tradisional dikenal adanya istilah ‘hari baik’ dan ‘hari buruk’. Maksudnya, ada suatu kepercayaan bahwa hari-hari dalam kehidupan manusia mempunyai pengaruh kegaiban tertentu bagi manusia, ada yang pengaruhnya baik, ada yang pengaruhnya buruk. Ada yang pengaruhnya hanya terjadi pada hari itu saja sehingga orang akan menghindari aktivitas tertentu pada hari yang dianggap tidak baik, ada juga yang pengaruhnya bersifat jangka panjang terhadap kehidupan manusia.

Ada juga dalam budaya Jawa konsep ilmu petungan (perhitungan), yang melibatkan alam pemikiran makro dan mikrokosmos, jagad gedhe dan cilik, alam semesta dan manusia. Petungan dibuat bukan berdasarkan tahayul, tetapi berdasarkan titen, yaitu mengamati dan memahami kegaiban dan perilaku alam, sehingga muncullah konsep pranata mangsa, ilmu tentang ramalan cuaca dan musim (perilaku alam), yang sehari-harinya banyak digunakan sebagai patokan hari untuk merencanakan waktu menanam padi supaya hasil panen-nya baik dan banyak, terhindar dari kekeringan / banjir, dan terhindar dari hama dan penyakit tanaman. 

Untuk suatu perbuatan yang hanya berlaku satu hari saja umumnya yang dipercaya orang untuk dihindari adalah apa yang disebut sebagai hari pantangan. Walaupun tidak banyak dijalankan, dalam melakukan suatu perbuatan yang dianggap penting masih ada orang jawa yang menyesuaikan waktu dan hari pelaksanaannya supaya tidak ada nasib buruk yang dialami. Misalnya yang akan bepergian jauh akan menghindari hari Jum'at dan Sabtu, karena hari Jum'at sifatnya panas, banyak yang rusuh, banyak masalah, banyak pertengkaran dan perselisihan, dan hari Sabtu sifatnya berat, banyak naas, nasib buruk dan musibah. Selain itu ada juga yang menghindari hari buruk yang menjadi pantangan dalam hari kelahiran mereka masing-masing (pantangan dalam hari weton kelahirannya, bisa dilihat di dalam primbon jawa).

Kepercayaan tentang hari yang baik dan buruk lebih diutamakan dalam melakukan suatu perbuatan penting yang pengaruhnya bersifat jangka panjang. Dalam melakukannya biasanya orang jawa akan menyesuaikan waktu dan hari pelaksanaannya, ada perhitungan harinya, supaya hasilnya baik seperti yang diharapkan dan tidak ada nasib buruk di belakang hari. Misalnya, orang-orang yang akan memulai hidup baru di rumah yang baru (pindah rumah), atau yang akan memulai hidup baru berkeluarga (melangsungkan pernikahan), atau memulai usaha baru seperti membuka warung / toko, mereka akan menghindari hari Jum'at dan Sabtu, karena hari Jum'at sifatnya panas, banyak yang rusuh, banyak masalah, banyak pertengkaran dan perselisihan, dan hari Sabtu sifatnya berat, banyak naas, nasib buruk dan musibah, dan mereka akan menghindari bulan Suro karena sifatnya sakral dan bernuansa gaib negatif.


Sifat-sifat hari yang akan disebut di bawah ini bersifat tidak mutlak, karena dipengaruhi juga oleh hari pasarannya (pon, pahing, wage, legi dan kliwon), jam (pagi, siang, malam), dan wukunya (mingguannya), bulannya, dsb. Tetapi Penulis tidak akan menuliskan tentang pengaruh lainnya, karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu. Penulis juga tidak akan membahas lebih daripada tulisan ini, misalnya tentang perjodohan, dsb.

Sebagai catatan, dalam penanggalan Jawa, hari dimulai pada pukul 5 sore hari sebelumnya dan akan berakhir pada pukul 5 sore hari yang bersangkutan.
Jadi, batas suatu hari adalah pk.5 sore, dan mulainya hari adalah hari sebelumnya pk.5 sore.
Hari Senin dimulai pada hari sebelumnya (Minggu) pk.5 sore dan berakhir pada hari Senin tersebut pk.5 sore.
Hari Senin itu pada pk.6 sore (mahgrib) sudah terhitung sebagai hari Selasa, karena sudah melewati batas hari Senin pk.5 sore.

Dalam hubungannya dengan aktivitas tertentu hitungan hari menurut penanggalan jawa ini pengaruhnya tidak semata-mata secara formal ditentukan oleh hari atau tanggal di dalam penanggalan jawa, tetapi terutama ditentukan oleh suasana batin orangnya sendiri yang kegaibannya terjadi karena ia mengsugesti batinnya sendiri.

Misalnya, hari seseorang memulai usaha warung / toko tidak semata-mata ditentukan oleh hari saat seseorang mengisi tokonya dengan barang-barang dagangan atau hari saat pertama orangnya membuka tokonya, tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang tersebut merasa mulai berdagang atau berjualan.

Begitu juga dengan perkawinan, tidak semata-mata ditentukan oleh hari saat seseorang melamar, ijab kabul atau hari resepsi perkawinannya, tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang-orang tersebut merasa telah resmi menjadi suami-istri.

Hari seseorang pindah rumah tidak ditentukan oleh saat seseorang memindahkan barang-barang lamanya ke rumahnya yang baru atau hari saat pertama ia tidur di rumahnya yang baru, tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang tersebut merasa sudah pindah ke rumahnya yang baru. Biasanya dimulai saat perlengkapan tidur sudah dipindahkan, sudah tidur di rumahnya yang baru, sudah merasa pindah ke rumah yang baru dan tidak lagi memikirkan rumah yang lama.

Pengaruh hitungan hari menurut penanggalan jawa ini berlaku untuk orang Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan orang Bali di pulau Bali. Untuk masa sekarang, orang Jawa yang sudah tidak tinggal di Jawa Tengah atau Jawa Timur, dan orang Bali yang sudah tidak tinggal di Bali, pengaruhnya terhadap mereka sedikit (masih berpengaruh tetapi kadarnya kecil). Tetapi bila mereka masih meyakininya di dalam hatinya, maka pengaruhnya terhadap mereka tetap besar, karena mereka mengsugesti dirinya begitu.

Pengaruh hari baik dan hari buruk dalam tulisan ini hanya berlaku untuk orang Jawa di Jawa saja dan untuk orang Bali di Bali saja. Untuk orang lain dari suku lain akan berbeda, karena kondisi alamnya juga berbeda.

Yang terkait dengan kegaiban hari, yang menjadi patokan dalam menentukan pengaruh kegaibannya dan dalam menghitung hari yang baik atau tidak baik, yang terutama harus diperhatikan adalah lokasi / tempat anda melakukan hajat, karena tempatnya (suasana alam gaibnya) itulah yang paling berpengaruh.


A
da pertanyaan :

Menyangkut Hari Baik / Buruk, apakah hanya berlaku bagi orang Jawa di Jawa saja Pak ?

Apakah jika kita tinggal di pulau lain kita harus mengikuti hitungan hari setempat (walaupun kita orang Jawa) ? Contohnya :
Saya orang Jawa menikah dengan orang bukan Jawa , apakah hitungan Nikahnya mengikuti hitungan Jawa ?
Lalu, saya bukan orang Jawa menikah dengan orang bukan Jawa dan tinggal di Jawa apakah hitungan Nikahnya mengikuti hitungan Jawa ?
Saya mohon juga bapak berbagi pengetahuan mengenai hitungan Jodoh Jawa......

Jawab :

Pengaruh hari baik dan hari buruk dalam tulisan saya itu hanya berlaku untuk orang Jawa di Jawa saja dan untuk orang Bali di Bali saja. Untuk orang lain dari suku lain akan berbeda, karena kondisi alamnya juga berbeda. Yang menjadi patokan perhitungannya adalah lokasi / tempat anda melakukan hajat, karena tempatnya (suasana alam gaibnya) itulah yang paling berpengaruh.

Jika anda adalah orang Jawa yang sudah tinggal di luar Jawa atau orang Bali yang sudah tinggal di luar Bali sebaiknya jangan meyakini tulisan saya itu, supaya kondisi kebatinan anda tidak besar mengsugestinya, supaya pengaruhnya tetap kecil (tetap berpengaruh tetapi kecil). Itu juga berguna supaya kondisi batin dan perilaku anda tidak berlawanan dengan adat-istiadat masyarakat setempat dan tidak menjadi halangan bagi anda untuk mengikuti adat-istiadat setempat.

Mengenai pertanyaan anda tentang pernikahan, yang menjadi patokan adalah
lokasi / tempat anda menikah, karena tempatnya (suasana alam gaibnya) itulah yang paling berpengaruh. Baik di Jawa / Bali, maupun di luar Jawa / Bali, lokasi / tempat anda menikah (suasana alam gaibnya) itulah yang paling berpengaruh. Termasuk jika anda menikah di tempat yang wingit / angker, tempat itulah (kegaiban tempatnya) yang paling besar pengaruhnya.

Jika anda adalah orang Jawa, ingin menikah dengan orang Jawa juga maupun yang bukan Jawa (suku lain), jika menikahnya di Jawa, maka sebaiknya tatacaranya memperhatikan hitungan Jawa. Jika menikahnya di luar Jawa, maka pengaruh ke-jawa-an anda kecil, sehingga tidak menjadi halangan bagi anda untuk mengikuti tatacara lain atau untuk mengikuti tatacara / adat setempat.

Begitu juga bila anda bukan orang Jawa, misalnya anda adalah orang Sunda, ingin menikah dengan orang Sunda juga maupun yang bukan Sunda (suku lain), jika menikahnya di tanah Sunda (tempat asal leluhur anda), maka sebaiknya tatacaranya memperhatikan adat Sunda. Tetapi jika menikahnya di luar tanah Sunda, pengaruh ke-sunda-an anda kecil, tidak menjadi halangan bagi anda untuk mengikuti tatacara lain atau untuk mengikuti tatacara / adat setempat.

Ini juga berlaku untuk anda yang orang Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dsb. Bila anda menikahnya di tanah tempat asal leluhur anda, maka sebaiknya tatacaranya memperhatikan adat setempat. Tetapi bila menikahnya di lokasi / pulau lain yang bukan tanah asal leluhur anda, pengaruh Sumatera, Sulawesi, Kalimantan anda kecil, tidak menjadi halangan bagi anda untuk mengikuti tatacara lain atau untuk mengikuti tatacara / adat setempat.

Kejawaan atau kesundaan anda di tempat yang bukan tempat asal leluhur anda pengaruhnya kecil, tetapi kondisi sukma anda tetap. Semua kegaiban dan tatalaku yang terkait dengan sukma (pancer dan sedulur papat) anda tetap, walaupun anda entah berada dimana.

Tulisan tentang Hari Baik dan Buruk sudah disesuaikan dengan pengamatan atas kejadian aslinya.

Mengenai hitungan Jodoh Jawa, saya tidak bisa menguraikannya, karena terlalu banyak hitungannya yang tidak semuanya saya kuasai hitungannya, dan nantinya malah bisa menjadi pengkultusan.



 Watak Hari untuk memulai usaha / kegiatan :

  Hari Senin    :  hari yang baik untuk semua keperluan.

  Hari Selasa   :  awalnya baik, tetapi hal-hal yang baik waktunya pendek, yang tidak baik lebih panjang.

  Hari Rabu      :  baik untuk semua keperluan, tetapi tidak sebaik hari Senin.

  Hari Kamis    :  hari yang keras. Usaha dan perkawinan akan banyak kesulitannya.

  Hari Jum’at   :  hari yang ‘panas’.  Usaha dan perkawinan akan banyak berisi gangguan dan keributan /                                       pertengkaran / perselisihan dan kejengkelan.

  Hari Sabtu    :  hari yang berat untuk semua urusan. Usaha dan perkawinan akan banyak berisi kesulitan,                                  penyakit, naas, kecelakaan, musibah dan sakit hati.

  Hari Minggu  :  hari yang netral untuk semua urusan.


Memulai usaha dan perkawinan lebih baik dilakukan pada hari-hari yang malamnya adalah bulan purnama (atau dari bulan sabit menuju bulan purnama), karena aura energi alamnya sedang dalam kondisi yang baik dibanding hari-hari yang malamnya adalah bulan sabit (atau dari bulan purnama menuju bulan sabit) yang auranya kurang baik untuk psikologis dan kesehatan tubuh.

Sebaiknya memulai usaha tidak dilakukan pada malam hari, karena banyak pengaruh jeleknya. Hari masih malam, belum waktunya bekerja. Akan banyak mendapatkan halangan dan kesulitan. Seringkali walaupun sudah berusaha keras, hasil / imbalan yang didapat tidak sebanding dengan kerasnya usahanya.
Sebaiknya memulai usaha dilakukan pada pagi hari, karena banyak pengaruh energi positif, sehingga usaha dan pekerjaan dapat berjalan lebih lancar.
Usaha yang dimulai pada siang hari akan lebih banyak mendapatkan kesulitan dan halangan dibanding pagi hari.
Usaha yang dimulai pada sore hari akan lebih banyak lagi mendapatkan kesulitan dan halangan dibanding yang dimulai pada siang hari.

Bulan Haji (bulan musim haji) adalah bulan yang paling baik untuk semua keperluan, untuk memulai usaha, pindah rumah atau pun perkawinan.

Bulan Maulud adalah bulan yang paling baik untuk semua keperluan yang bersifat sakral , untuk ruwatan nasib / sengkala, ritual pembersihan diri, ritual syukuran, ritual bersih desa, menjamas pusaka, ritual mandi kembang, berziarah, dsb.

Bulan Sura (Suro) adalah bulan yang paling  tidak baik  untuk semua keperluan, untuk memulai usaha, pindah rumah atau pun perkawinan. Paling baik digunakan untuk upaya bersih diri dan lingkungan. Bulan Sura umumnya diisi dengan ritual bersih diri / ruwatan, membersihkan rumah dan pusaka, dsb. 


Upaya bersih diri / ruwatan pribadi dapat dilakukan sendiri dengan cara sederhana, yaitu dengan cara mandi kembang dan berdoa tulus memohon kepada Tuhan supaya
Tuhan melapangkan / membukakan jalan hidup dan menjauhkan anda dari segala macam bentuk kesulitan (baca : Laku Prihatin dan Tirakat). Sesudahnya sebaiknya juga dilengkapi dengan anda membersihkan seisi rumah dan lingkungan, baik yang bersifat fisik maupun gaib.

Bagi yang memiliki pusaka atau benda-benda gaib lainnya, pada bulan Suro terhadap pusaka dan benda-benda gaibnya itu tidak ada keharusan untuk dilakukan penjamasan pusaka, cukup dibersihkan saja fisiknya, diberikan sesajinya dan disugestikan supaya pusakanya memberikan bantuan yang positif dan supaya membersihkan segala sesuatu yang bersifat negatif di lingkungan rumah dan keluarga.


Bulan Suro adalah bulan perkabungannya leluhur-leluhur jawa yang dulu menjadi korban dalam penyebaran agama Islam di Jawa pada jaman kerajaan Demak. Kuatnya kebatinan leluhur-leluhur jawa itu menjadikan bulan Suro perkabungannya dari tahun ke tahun selalu beraura negatif  (baca : Syech Siti Jenar). Dan secara spiritual bulan Suro memang diketahui beraura negatif (puncaknya pada tanggal 15 kalender jawa).

Selama bulan Suro kondisi alam gaib di pulau Jawa diliputi oleh aura yang tidak baik, dihawatirkan semua hajat yang dilakukan pada bulan Suro akan membawa pengaruh yang tidak baik, seperti dipenuhi hawa kebencian dan permusuhan, pertengkaran, sakit hati, sakit-penyakit, apes / kesialan, dsb.

Pengaruh aura negatif bulan Suro hanya berlaku pada orang-orang Jawa di pulau Jawa saja dan pengaruhnya itu bisa bersifat jangka panjang, karena pengaruhnya itu akan menyatu dengan sukma.

Bagi orang-orang Islam bulan Muharam (jawa : Suro) adalah Tahun Baru-nya Islam. Sudah sepantasnya mereka merayakannya dengan ritual-ritual keagamaan Islam.

Tetapi orang-orang Jawa sudah sepantasnya menghormati bulan Suro, minimal dengan tidak menyelenggarakan hajat atau perbuatan-perbuatan lain yang sifatnya bersenang-senang, karena tidak sepantasnya itu dilakukan dalam situasi para leluhurnya sedang berkabung.

Sekarang ini kadar aura negatif bulan suro sudah banyak berkurang karena banyak di antara mereka sukma leluhur-leluhur jawa itu yang sekarang ini sudah mendapatkan penghiburan, tidak lagi sedemikian berkabungnya seperti sebelumnya, hanya masih merasa prihatin saja. Bulan Suro masih tetap beraura negatif, tetapi kadar negatifnya tidak lagi sebesar sebelumnya. Meskipun begitu aura negatifnya itu dikhawatirkan masih dapat memberikan pengaruh negatif kepada orang-orang Jawa yang mengadakan hajat pada bulan Suro, dikhawatirkan mereka akan dirundung masalah dan kesulitan, karena memang tidak sepantasnya di bulan perkabungan leluhurnya itu orang Jawa menyelenggarakan hajat.

Bagi orang Jawa di Jawa yang ingin mengadakan suatu hajat di bulan Suro, sebenarnya sih boleh-boleh saja, terserah individunya, tetapi secara spiritual memang dianjurkan untuk tidak mengadakan hajat pernikahan, memulai usaha ekonomi, pindah ke rumah baru atau hajat lain yang bersifat jangka panjang di bulan Suro.



 Watak Hari Kelahiran :

 Hari Senin :
     Dibanding hari kelahiran lainnya, yang lahir pada hari Senin lebih mudah dan lebih lancar dalam semua
     urusan-urusannya. Lebih banyak peruntungannya dan banyak hal-hal baik yang sifatnya kebetulan.

 Hari Selasa
     Banyak peruntungannya. Hal-hal yang baik dalam hidupnya pada mulanya banyak, lebih banyak daripada
     orang lain, tetapi pada akhirnya banyak kemalangan atau nasib jelek. Banyak susahnya daripada senangnya.
     Awalannya baik, tetapi semua yang baik waktunya pendek, yang kurang baik lebih panjang.
     Kalau sedang bernasib baik jangan membuat tindakan yang menjadikan peruntungannya jelek.

 Hari Rabu :
     Lancar dalam semua urusan-urusannya, tetapi tidak sebaik kelahiran hari Senin.
     Lebih cocok bila bekerjanya mengikut kepada orang lain (menjadi karyawan / pegawai).

 Hari Kamis :
     Yang lahir pada hari Kamis harus lebih banyak bekerja keras, supaya apa yang diusahakan dapat mencapai
     hasil seperti yang diinginkan, karena akan banyak kesulitannya, terutama berasal dari lingkungannya.

 Hari Jum’at :
     Berwatak ‘panas’, cerewet.  Hidupnya banyak "urusan". Tetapi urusan rejeki juga banyak peluangnya.
     Harus pintar menjaga hubungan dengan orang lain, karena watak panasnya suatu saat dapat menjadi
     batu sandungan.

 Hari Sabtu :
     Berwatak keras. Hidupnya berat dan keras dalam semua urusan. Banyak kesulitan dan nasib jelek.
     Banyak hambatan dari lingkungan. Harus lebih banyak bekerja keras, karena walaupun sudah bekerja keras,         kadangkala hasilnya / imbalannya tidak sebanding dengan kerasnya usahanya.
     Harus pintar mencari peluang / usaha / pekerjaan lain yang lebih baik.

 Hari Minggu :
     Netral dalam semua urusan. Kalau bekerja keras, hasil yang didapat akan sebanding dengan usahanya.


Orang-orang yang lahir pada pagi hari biasanya kehidupannya lebih lancar, tidak banyak mendapatkan halangan dan kesulitan dalam urusan-urusannya.

Orang-orang yang lahir pada siang hari biasanya kehidupannya lebih banyak mendapatkan halangan dan kesulitan dibanding orang kelahiran pagi hari, terutama dari lingkungannya berada.

Orang-orang yang lahir pada sore hari biasanya kehidupannya lebih banyak lagi mendapatkan halangan dan kesulitan, terutama dari lingkungannya berada. Harus lebih keras berusaha.

Orang-orang yang lahir pada malam hari biasanya kehidupannya lebih banyak lagi mendapatkan halangan dan kesulitan. Harus bekerja lebih keras. Seringkali walaupun sudah berusaha keras, hasil dan imbalan yang didapat tidak sebanding dengan kerasnya usahanya. Tetapi orang-orang yang lahir pada malam hari biasanya memiliki insting, intuisi dan kepekaan batin yang lebih, biasanya juga memliki kekerasan batin yang lebih untuk tidak mudah takut, termasuk lebih tidak mudah takut terhadap sesuatu yang gaib, lebih bisa mengendalikan rasa takutnya, dibanding orang lain yang lahir pada waktu yang berbeda. 

Sifat-sifat hari yang disebut di atas bersifat tidak mutlak, karena dipengaruhi juga oleh hari pasaran (pon, pahing, wage, legi dan kliwon), jam kelahiran (pagi, siang, malam), dan wukunya (mingguannya), bulannya, dsb.


Dari sisi kegaiban, hari Sabtu dan Kliwon adalah hari yang paling tua.

Orang-orang kelahiran Jum'at Kliwon, apalagi yang lahir malam Jum'at Kliwon, biasanya suka dengan hal-hal gaib, biasanya cocok menekuni keilmuan jenis ilmu gaib / khodam dan suka dengan urusan ngelmu gaib dan tirakat. Kelahiran Jum'at Kliwon dapat menjadi penarik mahluk halus datang kepadanya, memudahkannya bila ingin bertirakat mencari khodam dan untuk ia menekuni ilmu gaib berkhodam. Tapi hari kelahirannya itu bisa juga menjadikan dirinya banyak masalah yang terkait dengan mahluk halus.

Orang-orang kelahiran Selasa Kliwon, apalagi yang lahir malam Selasa Kliwon, biasanya juga suka dengan hal-hal gaib, biasanya cocok menekuni keilmuan jenis ilmu gaib / khodam dan suka dengan urusan ngelmu gaib dan tirakat. Kelahiran Selasa Kliwon dapat juga menjadi penarik mahluk halus datang kepadanya, memudahkannya kalau ingin bertirakat mencari khodam dan untuk ia menekuni ilmu gaib berkhodam. Tapi kelahiran Selasa Kliwon agak penakut dan biasanya sukmanya agak lemah, memudahkan dirinya banyak masalah yang terkait dengan mahluk halus.

Tetapi orang-orang kelahiran Sabtu Kliwon, apalagi yang lahir malam Sabtu Kliwon, memliki kekerasan batin dan insting / kepekaan yang lebih, biasanya cocok dengan keilmuan kebatinan, kesepuhan dan laku prihatin, dan ketinggian kekuatan kebatinan dari hasil lakunya itu biasanya lebih daripada orang-orang lain yang lahir pada waktu yang berbeda, dan lebih mudah untuk dirinya peka firasat dan peka sasmita.


Tulisan tentang watak dan karakter orang berdasarkan hari-hari kelahiran di atas dimaksudkan sebagai penambah pengetahuan saja, supaya kita lebih bisa mengetahui potensi dan "hoki" diri kita sendiri, supaya kita lebih bisa meningkatkan kebaikan dan potensi kita. Begitu juga sebaliknya untuk kita yang kadang merasakan beban berat / kesialan dalam hidup kita, atau merasa mengalami seperti hitungan hari seperti yang dituliskan di atas (kebetulan saja cocok), supaya kita lebih dapat menerima bahwa itulah tantangan hidup yang harus kita jalani, supaya kita lebih keras lagi dalam berusaha, tidak mudah kesal hati, apalagi putus asa dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan peruntungan kita menjadi buruk.

Jika sedang bernasib baik, maksimalkan hasil usahanya dan jangan melakukan kesalahan atau tindakan yang dapat mengakibatkan peruntungan menjadi jelek. Jika sedang bernasib jelek, jangan kesal hati atau putus asa, usahakan lagi pada hari lain yang lebih baik.

Ini juga menjadi petuah. Untuk kita yang peruntungannya lebih baik daripada orang lain, janganlah sombong dan takabur, karena peruntungan dan nasib baik kita itu bersifat karunia (given), tidak semata-mata semuanya berasal dari keberhasilan dan prestasi kita sendiri. Kita hanya menjalani saja kemudahan hidup yang diberikan kepada kita. Dan untuk kita yang peruntungannya kurang baik dibandingkan orang lain, walaupun seringkali hasil / imbalan yang kita dapatkan tidak sebanding dengan kerasnya usaha dan kerja kita, janganlah kesal hati dan hilang semangat. Itu adalah tantangan hidup untuk diperjuangkan.


 

 Latar Belakang Kegaiban Hari


Di dalam kehidupan mahluk halus banyak sekali terdapat komunitas gaib, baik berupa kerajaan gaib yang ada rajanya, maupun komunitas biasa yang di dalamnya ada sesosok gaib yang menjadi pemimpin / penguasa.
Para raja / penguasa itu memiliki rakyat atau bawahan yang harus melaksanakan semua perintah pemimpinnya. Bila perintah sang penguasa tidak berhasil dilaksanakan, hukuman sudah menanti mereka. Pancaran aura energi dari suasana batin / psikologis para mahluk halus itulah yang mempengaruhi psikologis manusia dan pengaruhnya itu bisa berdampak jangka panjang, karena aura energinya akan menyatu dengan sukma manusia.

Biasanya aktivitas mereka dalam menjalankan tugasnya dimulai pada hari Senin pagi dan diakhiri pada hari Jum’at sore.

Pada hari Senin pagi mereka 'turun ke lapangan'. Mereka bersemangat. Mereka memancarkan aura energi yang oleh manusia dirasakan baik.

Pada hari Selasa ada saja yang merasa kesal, mungkin karena pada hari Senin ada usaha mereka yang tidak berhasil. Ada di antara mereka yang memancarkan aura energi yang bagi manusia bersifat tidak baik.

Pada hari Rabu kondisi kembali tenang.

Pada hari Kamis mereka sudah harus bergegas menyelesaikan tugasnya, karena batas waktunya semakin pendek. Mereka harus bisa mengatasi halangan dan hambatan pekerjaannya. Mereka memancarkan hawa aura yang keras terhadap rasa batin manusia.

Pada hari Jum’at banyak di antara mereka yang marah dan panik, karena tugasnya belum selesai, sedangkan pada sore harinya mereka harus sudah kembali ke komunitasnya. Mereka memancarkan hawa yang panas bagi psikologis manusia, menyebabkan manusia mudah marah, benci dan bertengkar / rusuh.

Hari Sabtu adalah hari terakhir mereka di ‘lapangan’. Selesai atau tidak selesai pekerjaan mereka, pada sore harinya mereka harus kembali ke komunitasnya. Hukuman sudah menunggu mereka, apalagi bila tugasnya tidak selesai. Mereka diliputi rasa marah, putus asa, kebencian, ingin mengamuk, dsb, apalagi bila melihat ada mahluk halus lain atau manusia yang bersenang-senang, atau menyelenggarakan hajatan, bepergian, dsb. Pada hari Sabtu itu mereka memancarkan hawa yang berat terhadap rasa batin manusia, hawa penyakit dan kematian, kesialan, nasib jelek, keputus-asaan, dsb.  Bila bertemu dengan manusia yang sedang bepergian berkendaraan, atau bersenang-senang di jalan, mungkin saja dengan sengaja mereka akan mencelakakannya.

Pada hari Minggu mereka sudah bebas dari semua urusan pekerjaan. Aura-aura negatif mereka tidak terasa lagi di alam.


Bila kekuatan aura batin manusia cukup kuat, maka pengaruh pancaran aura para mahluk halus tersebut hanya akan berdampak kecil. Sebaliknya, bila kekuatan aura batin manusia lemah, maka pengaruh pancaran aura para mahluk halus tersebut akan berdampak dominan dalam kehidupan manusia yang bersangkutan.

Tetapi aura batin seseorang kuat ataupun lemah, seandainya dalam kehidupannya tidak dapat merubah pengaruh aura yang negatif menjadi positif, misalnya seseorang larut dalam kekesalan, marah, stress, depresi, atau larut dalam permasalahan hidup, dsb, maka kuatnya batinnya itu justru akan memperparah ke-negatif-an dalam dirinya, sehingga jalan hidupnya akan semakin buruk dan terpuruk, sedikit peruntungannya, banyak kesulitan, dan sulit untuk memperbaiki derajat.

Pengaruh negatif dari pancaran aura batin dan aura mahluk halus tersebut dapat dicoba diakali dengan suatu laku untuk membersihkan aura batin dan sukma. Misalnya diawali dengan mandi keramas, kemudian berendam / mandi kembang telon / kembang tujuh rupa. Dilakukan dengan guyuran dari atas kepala hingga basah seluruh tubuh. Dengan cara ini diupayakan supaya aura dari kembang-kembang tersebut menyelaraskan aura-aura negatif di dalam tubuh supaya menjadi positif. Berguna untuk membantu mempermudah jalan hidup dan membuang kesulitan-kesulitan yang berasal dari aura negatif di dalam tubuh.

Sarana mandi kembang ini juga dapat membersihkan pancaran aura tubuh dan membuatnya lebih bercahaya. Kembang yang digunakan haruslah yang masih berbau harum dan masih segar, belum layu, apalagi kering. Laku ini dapat dilengkapi dengan laku-laku lain yang berguna untuk memperkuat aura positif seseorang dan membuat hidup lebih 'keberkahan'. (Baca juga : Laku Prihatin dan Tirakat).

Jangan lupa baca doa niat :

  Ya Allah,

  Niat saya mandi kembang untuk membersihkan diri saya dari pengaruh dan hal-hal negatif dalam diri saya

  dan untuk ...........................

  Mudah-mudahan Tuhan menolong saya.

  Amin.




-----------------








Comments