Related Topics

 

   Imperialisme - Kolonialisme

 

Halaman ini berisi tulisan mengenai informasi sederhana yang mungkin berguna untuk menambah pengetahuan kita, dan mungkin juga dapat meluruskan pengetahuan kita yang keliru selama ini, jika ada.


-----------------



Sumber informasi di bawah ini diambilkan dari sumbernya : dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



    Imperialisme

Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.

Imperialisme ialah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. "Menguasai" disini tidak perlu berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal saja dengan paksaan. Imperium disini tidak perlu berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi dapat berupa daerah-daerah pengaruh, asal saja untuk kepentingan diri sendiri. Apakah beda antara imperialisme dan kolonialisme ? Imperialisme ialah politik yang dijalankan mengenai seluruh imperium. Kolonialisme ialah politik yang dijalankan mengenai suatu koloni, sesuatu bagian dari imperium jika imperium itu merupakan gabungan jajahan-jajahan.

Lazimnya imperialisme dibagi menjadi dua:

  1. Imperialisme Kuno (Ancient Imperialism). Inti dari imperialisme kuno adalah semboyan gold, gospel, and glory (kekayaan, penyebaran agama dan kejayaan). Suatu negara merebut negara lain untuk menyebarkan agama, mendapatkan kekayaan dan menambah kejayaannya. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri dan dipelopori oleh Spanyol dan Portugal.
  2. Imperialisme Modern (Modern Imperialism). Inti dari imperialisme modern ialah kemajuan ekonomi. Imperialisme modern timbul sesudah revolusi industri. Industri besar-besaran (akibat revolusi industri) membutuhkan bahan mentah yang banyak dan pasar yang luas. Mereka mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri, kemudian juga sebagai tempat penanaman modal bagi kapital surplus.

Pembagian imperialisme dalam imperialisme kuno dan imperialisme modern ini didasarkan pada soal untuk apa si imperialis merebut orang lain.

Jika mendasarkan pandangan kita pada sektor apa yang ingin direbut si imperialis, maka kita akan mendapatkan pembagian macam imperialisme yang lain, yaitu:

  1. Imperialisme politik. Si imperialis hendak menguasai segala-galanya dari suatu negara lain. Negara yang direbutnya itu merupakan jajahan dalam arti yang sesungguhnya. Bentuk imperialisme politik ini tidak umum ditemui di zaman modern karena pada zaman modern paham nasionalisme sudah berkembang. Imperialisme politik ini biasanya bersembunyi dalam bentuk protectorate dan mandate.
  2. Imperialisme Ekonomi. Si imperialis hendak menguasai hanya ekonominya saja dari suatu negara lain. Jika sesuatu negara tidak mungkin dapat dikuasai dengan jalan imperialisme politik, maka negara itu masih dapat dikuasai juga jika ekonomi negara itu dapat dikuasai si imperialis. Imperialisme ekonomi inilah yang sekarang sangat disukai oleh negara-negara imperialis untuk menggantikan imperialisme politik.
  3. Imperialisme Kebudayaan. Si imperialis hendak menguasai jiwa (de geest, the mind) dari suatu negara lain. Dalam kebudayaan terletak jiwa dari suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, berubahlah jiwa dari bangsa itu. Si imperialis hendak melenyapkan kebudayaan dari suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan si imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti menguasai segala-galanya dari bangsa itu. Imperialisme kebudayaan ini adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.
  4. Imperialisme Militer (Military Imperialism). Si imperialis hendak menguasai kedudukan militer dari suatu negara. Ini dijalankan untuk menjamin keselamatan si imperialis untuk kepentingan agresif atau ekonomi. Tidak perlu seluruh negara diduduki sebagai jajahan, cukup jika tempat-tempat yang strategis dari suatu negara berarti menguasai pula seluruh negara dengan ancaman militer.

Akibat Imperialisme

  1. Akibat politik
    1. Terciptanya tanah-tanah jajahan
    2. Politik pemerasan
    3. Berkobarnya perang kolonial
    4. Timbulnya politik dunia (wereldpolitiek)
    5. Timbulnya nasionalisme
  1. Akibat Ekonomis
    1. Negara imperialis merupakan pusat kekayaan, negara jajahan lembah kemiskinan
    2. Industri si imperialis menjadi besar, perniagaan bangsa jajahan lenyap
    3. Perdagangan dunia meluas
    4. Adanya lalu-lintas dunia (wereldverkeer)
    5. Kapital surplus dan penanaman modal di tanah jajahan
    6. Kekuatan ekonomi penduduk asli tanah jajahan lenyap

  2. Akibat sosial
    1. Si imperialis hidup mewah sementara yang dijajah serba kekurangan
    2. Si imperialis maju, yang dijajah mundur
    3. Rasa harga diri lebih pada bangsa penjajah, rasa harga diri kurang pada bangsa yang dijajah
    4. Segala hak ada pada si imperialis, orang yang dijajah tidak memiliki hak apa-apa
    5. Munculnya gerakan Eropa-isasi.

(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Imperialisme).




    Kolonialisme

Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.

Pendukung dari kolonialisme berpendapat bahwa hukum kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi. Mereka menunjuk ke bekas koloni seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Hong Kong dan Singapura sebagai contoh sukses pasca-kolonialisme.

Peneori ketergantungan seperti Andre Gunder Frank, berpendapat bahwa kolonialisme sebenarnya menuju ke pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke daerah pengkolonisasi, dan menghambat kesuksesan pengembangan ekonomi.

Pengkritik post-kolonialisme seperti Franz Fanon berpendapat bahwa kolonialisme merusak politik, psikologi, dan moral negara terkolonisasi.

Penulis dan politikus India Arundhati Roy berkata bahwa perdebatan antara pro dan kontra dari kolonialisme / imperialisme adalah seperti "mendebatkan pro dan kontra pemerkosaan".

(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kolonialisme).



    Neokolonialisme

Neokolonialisme adalah praktek Kapitalisme, Globalisasi, dan pasukan kultural untuk mengontrol sebuah negara (biasanya jajahan Eropa terdahulu di Afrika atau Asia) sebagai pengganti dari kontrol politik atau militer secara langsung. Kontrol tersebut bisa berupa ekonomi, budaya, atau linguistik; dengan mempromosikan budaya, bahasa atau media di daerah jajahan mereka, korporasi tertanam di budaya dapat membuat kemajuan yang lebih besar dalam membuka pasar di negara itu. Dengan demikian, neokolonialisme akan menjadi hasil akhir relatif dari ketertarikan kepada bisnis yang jinak memimpin untuk merusak efek kultural.

Kata 'Neokolonialisme' pertama kali diperkenalkan oleh Kwame Nkrumah, presiden pertama pasca-kemerdekaan Ghana, dan telah didiskusikan oleh banyak sarjana dan filsuf pada abad ke-20, termasuk Jean-Paul Sartre[1] dan Noam Chomsky.[2]

(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Neokolonialisme).





   Javanese2000 :


Di bawah ini adalah pembahasan singkat dari berbagai uraian di atas dan penyampaian pandangan singkat dari sudut pandang kami sebagai orang awam.


Pembahasan tentang imperialisme ini dilakukan dengan memperhatikan kondisi pada jaman sekarang, jadi tidak semata-mata hanya melihat pelaksanaan imperialisme atau teori-teori imperialisme jaman dulu.


Imperialisme adalah pengertian umum dan luas mengenai penguasaan, penundukkan, penaklukkan suatu negara terhadap wilayah-wilayah lain di luar negaranya, baik dengan cara memaksakan kekuasaan dan kekuatan maupun dengan cara-cara lain yang halus.


Kolonialisme adalah salah satu bentuk pelaksanaan imperialisme dengan mengirimkan / membentuk koloni-koloni di wilayah penguasaannya untuk mewakili kekuasaan negaranya.

Seperti tertulis di atas, imperialisme bisa dilakukan dalam beberapa bentuk, seperti imperialisme politik, militer, ekonomi dan kebudayaan.

1. Imperialisme Politik.
Sebuah negara mengendalikan jalannya pemerintahan negara lain. Walaupun tidak selalu disertai dengan pengiriman kekuatan militer, tetapi tetap saja ada pengaruh ancaman kekuatan militer, atau pada jaman sekarang ada negara yang memilih berada di bawah kendali politik negara lain karena adanya imbalan mendapatkan perlindungan militer atau imbalan bantuan ekonomi untuk kemajuan negaranya.

2. Imperialisme Militer.
Sebuah negara menguasai negara lain dengan mengirimkan kekuatan militernya, bisa ditempatkan secara merata di wilayah tersebut, bisa juga ditempatkan di posisi-posisi tertentu saja sebagai benteng. Bentuk imperialisme inilah yang secara umum disebut penjajahan, karena negara penjajah secara nyata menggunakan kekuatannya untuk menindas negara terjajah dan rakyat di negara terjajah benar-benar merasakan penjajahan.

3. Imperialisme Ekonomi.
Sebuah negara menguasai negara lain dengan melakukan hubungan ekonomi. Seringkali cara ini dilakukan dengan cara yang halus, yaitu dengan melakukan persahabatan antar negara. Dengan adanya hubungan persahabatan, maka negara imperialis bisa dengan lebih aman dan mudah menanamkan modalnya (investasi) di negara lain untuk perkebunan, pabrikan, pertambangan, dsb, atau negara lain tersebut dijadikan sumber bahan produksinya atau dijadikan pasar tempatnya menjual produk-produknya (hubungan perdagangan). Untuk menjaga hubungan persahabatan itu, sekaligus menciptakan rasa ketergantungan negara jajahannya, si imperialis seringkali juga menawarkan bantuan ekonomi / keuangan / hutang kepada negara jajahannya.

4. Imperialisme Kebudayaan.
Negara imperialis hendak menguasai jiwa dari suatu negara lain. Jika kebudayaannya dapat diubah, berubahlah jiwa dari bangsa itu. Dengan cara ini si imperialis hendak melenyapkan kebudayaan dan jati diri suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan dan jati diri si imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi satu dengan jiwa si penjajah.

Pelaksanaan imperialisme ini bisa dalam bentuk penanaman nilai-nilai moral dari negara penjajah, misalnya menciptakan pemahaman bahwa kehidupan di negara penjajah lebih modern, sehingga masyarakat negara terjajah juga akan merasa modern jika budaya kehidupannya sama dengan manusia di negara penjajah.
Pelaksanaan imperialisme ini bisa juga dalam bentuknya penyebaran agama, sehingga jika rakyat di negara terjajah sudah menganut agama yang sama dengan negara terjajah, maka secara psikologis mereka akan merasa satu dengan negara penjajah.

Jika jiwa dari manusia di negara terjajah itu bisa dikuasai, maka rakyat negara terjajah itu akan menjunjung tinggi si negara penjajah dan mudah untuk dijadikan sekutu atau dimanfaatkan untuk kepentingan yang lain karena mereka menganggap si negara penjajah sebagai "saudara tua", walaupun si negara penjajah tidak menganggap mereka sebagai "saudara muda".



Berbagai pengertian di atas, imperialisme dan kolonialisme, adanya pro dan kontra pandangan orang terhadap paham-paham tersebut adalah terutama berasal dari sudut mana mereka memandang.

Jika memandangnya dari sisi 'korban' imperialisme / kolonialisme, maka mereka akan menganggap imperialisme dan kolonialisme adalah tidak baik dan jahat, karena selalu disertai dengan kekerasan dan penindasan. Semua usaha perlawanan penduduk setempat terhadap penjajahan akan disebut sebagai perjuangan atau disebut sebagai usaha bela negara dan semua korbannya akan disebut sebagai pahlawan negara. Begitulah pandangan rakyat Indonesia ketika negaranya dijajah oleh Belanda dan Jepang.

Jika memandangnya dari sisi 'pelaku' imperialisme / kolonialisme, maka mereka akan menganggap imperialisme dan kolonialisme adalah baik, karena dapat memperkaya dan menambah kejayaan negara. Sah-sah saja sebuah negara dan pemerintahannya mempunyai wilayah kekuasaan yang luas. Dan semua usaha perlawanan dari penduduk setempat akan dianggap sebagai pemberontakan atau dianggap sebagai aktivis yang merongrong kedaulatan dan kekuasaan negara, sehingga harus ditekan, kalau perlu dengan kekerasan. Begitu juga pandangan negara Indonesia ketika menguasai Timor-Timur dan merasa sayang untuk melepaskannya.


Pada masa sekarang biasanya perbuatan imperialisme tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan seperti jaman dulu (walaupun masih juga terjadi). Pada masa sekarang kebanyakan bentuk imperialisme dilakukan secara halus melalui jalur persahabatan antar negara dan sifatnya saling menguntungkan. Walaupun si negara imperialis mendapatkan keuntungan yang lebih besar, tetapi si negara terjajah juga mendapatkan keuntungan, untuk negaranya, untuk kehidupan rakyatnya. Tinggal bagaimana si negara terjajah bersikap dalam hubungan antar negara itu, apakah dapat memanfaatkannya untuk kebaikan negara dan rakyatnya atau tidak.

Pada masa sekarang sebaiknya kita lebih kritis dan objektif, tidak bersikap sinis, atau tendensius, dalam menilai imperialisme ini. Tidak semua hubungan 2 negara pantas disebut penjajahan atau imperialisme, walaupun salah satu pihak mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar daripada negara yang lainnya. Dan juga belum tentu bahwa negara yang mendapatkan keuntungan lebih besar itu berniat berlaku sebagai penjajah / imperialis. Masalah untung dan rugi dalam suatu hubungan dagang atau pergaulan adalah hal yang biasa, jangan selalu dikaitkan dengan perbuatan penjajahan atau imperialis.

Pada masa sekarang hubungan internasional banyak didasarkan pada persahabatan antar negara dan didasarkan pada hubungan yang saling menguntungkan. Sudah biasa bila seorang pengusaha mencari lahan bisnis baru di tempat lain, termasuk di luar negeri. Dan biasa juga investor dari luar negeri membangun perkebunan, kantor, pabrik, pertambangan, dsb, di dalam negeri.
Dan sudah biasa juga masyarakat membeli produk-produk dari luar negeri, atau menjual hasil produksi dalam negeri ke luar negeri. Dalam batasan ini dianggap hubungan kedua negara bersifat saling menguntungkan. Si penanam modal mendapatkan keuntungan dari usahanya, dan negara tempat dibangunnya pabrik, perkebunan, pertambangan, dsb, juga diuntungkan karena rakyatnya bisa bekerja, sehingga membantu menaikkan penghasilan dan perekonomian rakyatnya dan jumlah pengangguran berkurang, perekonomian secara keseluruhan menjadi lebih berkembang dengan adanya inspirasi produk dan teknologi yang bisa ditiru / dikembangkan oleh rakyatnya dan para usahawan, negara juga diuntungkan dari adanya setoran pajak penghasilan.

Untuk menjaga hubungan persahabatan, suatu negara yang ekonominya lebih kuat kadangkala juga menawarkan bantuan ekonomi / keuangan / hutang kepada negara lain. Walaupun bantuan ekonomi / hutang itu menyebabkan munculnya beban dan ikatan bagi negara penerimanya, tetapi bantuan ekonomi itu bisa dimanfaatkan untuk membangun dan memajukan perekonomian negerinya. Tinggal diawasi saja penggunaannya supaya sesuai dengan tujuan diterimanya bantuan itu, jangan sampai ada kebocoran dan penyalahgunaan. Di sisi lain, negara si pemberi bantuan juga menanggung resiko pinjamannya itu tidak terlunasi. Secara normatif, hubungan kedua negara ini tidak dikatakan sebagai bentuk penjajahan, karena hubungan kedua negara ini bersifat saling menguntungkan dan saling memberi manfaat.

Kemajuan peradaban suatu negara seringkali juga menjadi panutan negara-negara lain untuk dicontoh. Masuknya barang-barang impor, teknologi, ilmu pengetahuan, ilmu pemerintahan, peradaban dan kebudayaan dari negara-negara yang sudah maju dapat bermanfaat untuk masyarakat di negara-negara yang lebih terbelakang supaya dapat menjadi sarana belajar untuk menjadi lebih maju. Penyebaran agama juga baik sepanjang dilakukan dengan jalan damai dan tidak ada tipu daya dan kekerasan / pemaksaan di dalamnya.

Dalam hal ini dituntut adanya sikap kritis dan bijaksana untuk bisa mem-filter pengaruh apa saja yang baik untuk diterima dan diadaptasikan untuk menambah kualitas budaya, peradaban dan jati diri suatu bangsa dan mana pengaruh yang seharusnya ditolak. Tetapi bodoh sekali kiranya jika masuknya pengaruh-pengaruh dari luar itu sampai menyebabkan budaya dan jati diri bangsa sendiri dianggap rendah dan ditinggalkan untuk digantikan dengan budaya dan jati diri bangsa lain, apalagi sampai menjunjung tinggi dan menganggap negara lain itu sebagai "saudara tua", padahal negara lain itu sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai saudara muda.






--------------------











Comments