https://sites.google.com/site/thomchrists/artikel-lain-lain/Kasta/Senja%201.jpg
 



Sistem Kasta Di Masyarakat 

 

Halaman ini berisi tulisan sederhana yang mungkin berguna untuk menambah pengetahuan kita, dan mungkin juga dapat meluruskan pengetahuan kita yang keliru selama ini, jika ada.


-----------




Sumber informasi di bawah ini diambilkan dari sumbernya : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (
http://id.wikipedia.org/wiki/Warna_(Hindu).

Dalam agama Hindu, istilah Kasta disebut dengan Warna (Sanskerta: वर्ण; varṇa). Akar kata Warna berasal dari bahasa Sanskerta vrn yang berarti "memilih (sebuah kelompok)". Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra (budak) ataupun Waisya (pedagang), apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.

Dalam tradisi Hindu, Jika seseorang ahli dalam bidang kerohanian maka ia menyandang status Brāhmana. Jika seseorang ahli atau menekuni bidang administrasi pemerintahan ataupun menyandang gelar sebagai pegawai atau prajurit negara, maka ia menyandang status Ksatriya. Apabila seseorang ahli dalam perdagangan, pertanian, serta profesi lainnya yang berhubungan dengan niaga, uang dan harta benda, maka ia menyandang status Waisya. Apabila seseorang menekuni profesi sebagai pembantu dari ketiga status tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya), maka ia menyandang gelar sebagai Sudra.

Warna yang utama :
  1. Brahmana, merupakan golongan pendeta dan rohaniwan dalam suatu masyarakat, sehingga golongan tersebut merupakan golongan yang paling dihormati. Dalam ajaran Warna, Seseorang dikatakan menyandang gelar Brahmana karena keahliannya dalam bidang pengetahuan keagamaan. Jadi, status sebagai Brahmana tidak dapat diperoleh sejak lahir. Status Brahmana diperoleh dengan menekuni ajaran agama sampai seseorang layak dan diakui sebagai rohaniwan.
  2. Ksatriya, merupakan golongan para bangsawan yang menekuni bidang pemerintahan atau administrasi negara. Ksatriya juga merupakan golongan para kesatria ataupun para Raja yang ahli dalam bidang militer dan mahir menggunakan senjata. Kewajiban golongan Ksatriya adalah melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Apabila golongan Ksatriya melakukan kewajibannya dengan baik, maka mereka mendapat balas jasa secara tidak langsung dari golongan Brāhmana, Waisya, dan Sudra.
  3. Waisya, merupakan golongan para pedagang, petani, nelayan, dan profesi lainnya yang termasuk bidang perniagaan atau pekerjaan yang menangani segala sesuatu yang bersifat material, seperti misalnya makanan, pakaian, harta benda, dan sebagainya. Kewajiban mereka adalah memenuhi kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra.
  4. Sudra merupakan golongan para pelayan yang membantu golongan Brāhmana, Ksatriya, dan Waisya agar pekerjaan mereka dapat terpenuhi. Dalam filsafat Hindu, tanpa adanya golongan Sudra, maka kewajiban ketiga kasta tidak dapat terwujud. Jadi dengan adanya golongan Sudra, maka ketiga kasta dapat melaksanakan kewajibannya secara seimbang dan saling memberikan kontribusi.


Banyak orang yang menganggap Caturwarna sama dengan Kasta yang memberikan seseorang sebuah status dalam masyarakat semenjak ia lahir. Namun dalam kenyataannya, status dalam sistem Warna didapat setelah seseorang menekuni suatu bidang/ profesi tertentu. Sistem Warna juga dianggap membeda-bedakan kedudukan seseorang. Namun dalam ajarannya, sistem Warna menginginkan agar seseorang melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya.

Keempat golongan tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra) saling membantu dan saling memenuhi jika mereka mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Dalam sistem Caturwarna, ketentuan mengenai hak tidak diuraikan karena hak diperoleh secara otomatis. Hak tidak akan dapat diperoleh apabila keempat golongan tidak dapat bekerja sama. Keempat golongan sangat dianjurkan untuk saling membantu agar mereka dapat memperoleh hak. Dalam sistem Caturwarna terjadi suatu siklus "memberi dan diberi" jika keempat golongan saling memenuhi kewajibannya.

Karena status seseorang tidak didapat semenjak lahir, maka statusnya dapat diubah. Hal tersebut terjadi jika seseorang tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana status yang disandangnya. Seseorang yang lahir dalam keluarga Brāhmana dapat menjadi seorang Sudra jika orang tersebut tidak memiliki wawasan rohani yang luas, dan juga tidak layak sebagai seorang pendeta. Begitu pula seseorang yang lahir dalam golongan Sudra dapat menjadi seorang Brāhmana karena memiliki pengetahuan luas di bidang kerohanian dan layak untuk menjadi seorang pendeta.

Kadangkala seseorang lahir dalam keluarga yang memiliki status sosial yang tinggi dan membuat anaknya lebih bangga dengan status sosial daripada pelaksanaan kewajibannya. Sistem Warna mengajarkan seseorang agar tidak membanggakan ataupun memikirkan status sosialnya, melainkan diharapkan mereka melakukan kewajiban sesuai dengan status yang disandang karena status tersebut tidak didapat sejak lahir, melainkan berdasarkan keahlian mereka. Jadi, mereka dituntut untuk lebih bertanggung jawab dengan status yang disandang daripada membanggakannya.

Di Indonesia (khususnya di Bali) sendiri pun terjadi kesalahpahaman terhadap sistem Catur Warna. Catur Warna harus secara tegas dipisahkan dari pengertian kasta. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Drs. I Gusti Agung Gde Putera, waktu itu Dekan Fakultas Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma Denpasar pada rapat Desa Adat se-kabupaten Badung tahun 1974. Gde Putera yang kini Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama mengemukakan:

Kasta-kasta dengan segala macam titel-nya yang kita jumpai sekarang di Bali adalah suatu anugerah kehormatan yang diberikan oleh Dalem (Penguasa daerah Bali), oleh karena jasa-jasa dan kedudukannya dalam bidang pemerintahan atau negara maupun di masyarakat. Dan hal ini diwarisi secara turun temurun oleh anak cucunya yang dianggap sebagai hak, walaupun ia tidak lagi memegang jabatan itu. Marilah jangan dicampur-adukkan soal titel ini dengan agama, karena titel ini adalah persoalan masyarakat, persoalan jasa, persoalan jabatan yang dianugerahkan oleh raja pada zaman dahulu. Dalam agama, bukan kasta yang dikenal, melainkan "warna" dimana ada empat warna atau Caturwarna yang membagi manusia atas tugas-tugas (fungsi) yang sesuai dengan bakatnya. Pembagian empat warna ini ada sepanjang zaman.

Menurut I Gusti Agung Gede Putera, kebanggaan terhadap sebuah gelar walaupun jabatan tersebut sudah tidak dipegang lagi merupakan kesalahpahaman masyarakat Bali turun-temurun. Menurutnya, agama Hindu tidak pernah mengajarkan sistem kasta melainkan yang dipakai adalah sistem Warna.

(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Warna_(Hindu).



 Javanese2000 :


Walaupun aslinya ada pengertian yang berbeda antara Catur Warna dan Kasta, tetapi di dalam masyarakat umum yang tidak menganut agama Hindu, pengertian Catur Warna dan Kasta dianggap sama. Dan sepanjang tidak mengaburkan pengertian dasarnya (tidak menyimpang), maka dalam tulisan ini tidak dilakukan pembedaan antara pengertian Catur Warna dan Kasta, istilahnya disamakan menjadi Kasta saja.

Ajaran Catur Warna / Kasta sebenarnya mengandung makna sebagai ajaran moral dan budi pekerti yang baik dan dapat berlaku di banyak tempat ternasuk di Indonesia. Manusianya saja yang seringkali pengertiannya menyimpang. Walaupun dalam kehidupannya sehari-hari masyarakat umum tidak menyebut istilah kasta, tetapi sistem kasta itu sebenarnya sudah bekerja dan sudah berlaku di negara manapun di bumi ini.

Sekalipun sebenarnya ajaran Kasta itu bersifat luhur, namun ternyata ada banyak kesalah-pahaman orang dalam mengartikan sistem kasta tersebut, selain adanya kesalah-pengertian pada para pelakunya sendiri (misalnya di Bali), juga ada upaya pihak-pihak tertentu yang sengaja menyesatkan maknanya, terutama dalam persaingan dan propaganda penyebaran agama, yang sengaja dilakukan untuk menjatuhkan citra suatu agama.

Karena kesalah-pengertian itu ada yang menganggap sistem kasta adalah bersifat diskriminasi, dianggap sebagai pembagian kelas-kelas dan status seseorang dalam masyarakat, sehingga masing-masing orang akan menjadi terbatasi sesuai kastanya masing-masing dan orang yang kastanya lebih rendah akan merasa hina dibandingkan orang yang kastanya lebih tinggi, sedangkan pada umumnya orang menganggap bahwa manusia diciptakan sederajat dan kedudukan manusia sama di mata Tuhan.

Ada juga yang menganggap Kasta Waisya adalah kelompok orang kaya dan Kasta Sudra adalah kelompok orang miskin dan rakyat kebanyakan. Padahal yang benar, Kasta Waisya adalah golongan masyarakat yang memiliki usaha ekonomi sendiri, dan Kasta Sudra statusnya adalah pekerja / pelayan, bukan pemilik usaha.

Dengan demikian seorang petani miskin atau nelayan atau pemilik warteg (warung kecil) pun termasuk sebagai kelompok Waisya, karena mereka memiliki usaha sendiri dan bisa mempekerjakan orang lain sebagai Sudra. Sedangkan seorang pelayan, buruh ataupun pegawai, baik yang miskin karena bayarannya kecil maupun yang kaya karena penghasilannya besar dan jabatannya tinggi atau karena mereka bekerja di perusahaan besar, dan sekalipun statusnya adalah seorang supervisor, manajer, atau bahkan direktur dan komisaris, tetaplah mereka termasuk dalam kelompok Sudra, karena status mereka adalah pekerja / pelayan, bukan pemilik usaha.


Pembagian masyarakat berdasarkan istilah Kasta adalah berasal dari ajaran kerohanian Hindu yang menekankan pada Kewajiban, Dharma, Bakti seseorang dalam hidupnya sesuai statusnya masing-masing.

  1. Golongan Brahmana berkewajiban untuk memberikan pengetahuan dan pengayoman rohani kepada golongan Ksatriya, Waisya, dan Sudra, membentuk akhlak dan moralitas manusia yang baik dan memberi tuntunan dalam beragama dan beribadah.
  2. Golongan Ksatriya, sebagai pejabat / pelaksana pemerintahan, aparatur negara, aparat hukum dan keamanan, berkewajiban untuk menciptakan sistem pemerintahan yang baik, mengayomi dan melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra sebagai anggota masyarakat dan rakyat mereka.
  3. Golongan Waisya sebagai pemilik usaha ekonomi, berkewajiban melaksanakan kewajibannya untuk diserahkan kepada golongan Brahmana (berdasarkan kewajiban agama), Ksatriya (berdasarkan hukum negara), dan Sudra (upah / gaji mereka sebagai pekerja).
  4. Golongan Sudra sebagai pekerja dan pembantu orang-orang dalam kasta yang lain, berkewajiban untuk bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai posisinya masing-masing.


Bagaimana jika kalangan brahmana (pendeta / ulama) tidak menjalankan kewajibannya dengan benar untuk membentuk umatnya berkepribadian dan berahklak mulia ?  Atau mereka menyimpangkan tujuan kerohanian untuk menggalang / menunggangi kekuatan massa / umat untuk kekuasaan politik ?  Atau malah sesama brahmana saling berseteru berebut pengikut dan kekuasaan ?

Bagaimana jika kalangan Ksatriya (aparatur negara) tidak menjalankan kewajibannya dengan benar untuk mengayomi dan melindungi rakyatnya, tetapi malah memeras rakyat ?  Bagaimana jika mereka tidak menjalankan kewajibannya untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih, tapi malah berebut tahta dan kekuasaan atau mengkorup / menggelapkan keuangan negara ?

Bagaimana jika kalangan Waisya (pemilik usaha ekonomi) tidak menjalankan kewajibannya dengan benar untuk memenuhi kewajiban agama, tidak melaksanakan tata aturan hukum dan undang-undang dan pajak berdasarkan hukum negara, atau sewenang-wenang terhadap pekerjanya dan tidak membayarkan upah / gaji pekerjanya ?

Bagaimana jika kalangan Sudra sebagai pekerja dan pembantu orang-orang dalam kasta yang lain tidak menjalankan kewajibannya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai tugas / pekerjaannya masing-masing ?

Makna di dalam ajaran Kasta itu baik. Dalam ajaran Kasta itu orang diajar untuk beretika dan berkesadaran tinggi sebagai mahluk Tuhan dan supaya orang menjalankan kewajiban hidupnya sebagai Dharma-nya.

Masing-masing orang mempunyai hak, kewajiban dan tanggung jawab sendiri-sendiri sesuai posisinya masing-masing. Bila masing-masing orang menjalankan kewajibannya masing-masing dengan baik sesuai status posisinya masing-masing di masyarakat seperti tertulis dalam pengertian Kasta di atas, maka kehidupan manusia secara umum juga akan baik. Dengan demikian mereka telah menjalankan Dharma mereka dalam hidup mereka masing-masing.



-----------------














Comments