https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/wahyu-keraton-di-dalam-keris-jawa/Tombak-1.JPG




   Wahyu Keraton

   di dalam Keris Jawa 

    
     Filosofi,
Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa.

 

Di dalam dunia perkerisan dikenal adanya keris-keris khusus yang hanya patut dimiliki oleh orang-orang tertentu saja sesuai peruntukkan kerisnya, tidak semua orang cocok memilikinya dan tidak semua orang bisa mendapatkan manfaat dari keris-keris itu.

Keris-keris yang paling tinggi bersifat khusus adalah Keris Keraton.

Di bawah tingkatan keris keraton yang mengandung wahyu keraton, ada keris-keris lain yang mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai wahyu kepangkatan dan derajat dan wahyu keningratan.


Keris Keraton adalah keris-keris dan pusaka bentuk lain yang maksud dan tujuan dalam pembuatannya adalah dikhususkan untuk nantinya dipasangkan dengan orang si penerima wahyu keraton, menjadi lambang kebesaran sebuah keraton, menjadi lambang kebesaran sebuah kerajaan / kadipaten / kabupaten sesuai tingkatan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya).

Keris Keraton, pusaka yang menjadi lambang kebesaran sebuah keraton, terkandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton, yaitu wahyu kepemimpinan pemerintahan / kenegaraan, yang akan dapat mengantarkan orang pemiliknya kepada posisi dan derajat yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja / kepala negara atau kepala daerah, sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya). 

Pengertian keraton bukanlah semata-mata sebuah bangunan keraton yang menjadi istana raja / adipati / bupati. Sebuah keraton melambangkan kebesaran sebuah pemerintahan. Bangunannya sendiri hanyalah simbol saja dari adanya sebuah pemerintahan.

Pengertian keraton terbagi dalam 3 tingkatan, yaitu keraton kerajaan, kadipaten dan kabupaten, sehingga pengertian keraton ini meliputi, sesuai tingkatannya masing-masing, kekuasaan dan kebesaran sebuah pemerintahan kerajaan, kadipaten dan kabupaten.

Dan yang disebut Keris Keraton bukanlah semua keris yang dimiliki oleh sebuah keraton atau semua keris yang dijadikan pusaka kerajaan atau semua keris yang menjadi perbendaharaan sebuah keraton dan disimpan di dalam ruang pusaka kerajaan. Keris Keraton adalah keris-keris yang mengandung wahyu keraton yang dalam pembuatannya khusus ditujukan untuk dipasangkan dengan wahyu kepemimpinan keraton yang sudah ada pada orang yang menjadi pemimpin di sebuah keraton untuk menjadi pusaka lambang kebesaran keraton tersebut.

Dalam kategori pusaka keraton ini termasuk juga, sesuai tingkatannya masing-masing, pusaka-pusaka yang menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran sebuah keraton kadipaten atau kabupaten.

Sebuah keris keraton baru akan menyatu dan memberikan tuahnya kepada seorang manusia pemiliknya yang memiliki wahyu keraton di dalam dirinya, atau kepada seorang pemiliknya yang cocok untuk menjadi wadah wahyunya.

Keris keraton adalah keris keningratan yang paling tinggi tingkatannya dan bersifat khusus, hanya untuk orang yang memiliki wahyu keraton saja di dalam dirinya.

Keris Keraton tidak boleh dipakai oleh sembarang orang, termasuk walaupun ia adalah anak seorang raja. Hanya orang-orang yang sudah menerima wahyu keraton saja yang boleh memakainya, karena keris itu pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan orang si penerima wahyu keraton, sehingga wahyu di dalam orang itu dan wahyu dari kerisnya akan mewujudkan sebuah sinergi kegaiban yang kegaibannya tidak akan bisa disamai oleh jenis pusaka apapun.

Keris Keraton dan Keris Pusaka Kerajaan biasanya disimpan di dalam ruang pusaka kerajaan dan tempatnya disendirikan, terpisah dari pusaka-pusaka yang lain dan baru akan dikeluarkan bila ada upacara-upacara kerajaan atau bila terjadi situasi yang mendesak dan berbahaya.

P
usaka kerajaan berbentuk tombak dan payung raja, yang juga merupakan lambang kebesaran sebuah keraton biasanya diletakkan berdiri di belakang singgasana raja.


Keris Keraton dan Keris Pusaka Kerajaan sulit membedakannya. Orang harus memiliki spiritualitas yang tinggi untuk bisa membedakan kandungan wahyu di dalam masing-masing keris untuk bisa membedakan mana yang adalah Keris Keraton dan mana yang bukan Keris Keraton tetapi dijadikan Pusaka Kerajaan dan diperlakukan sama seperti sebuah Keris Keraton.

Contoh pusaka yang dijadikan Pusaka Kerajaan adalah pusaka tombak Kyai Plered yang dijadikan pusaka lambang kerajaan Mataram, sebuah pusaka yang dulunya diberikan oleh Adipati Adiwijaya (Sultan Adiwijaya / Jaka Tingkir / Mas Karebet) kepada Sutawijaya sebagai bekal untuk mengalahkan Raden Arya Penangsang, yang kemudian mengantarkan Sutawijaya menjadi penguasa Mataram (Panembahan Senopati).

Contoh lainnya adalah Bende Mataram yang diandalkan oleh kerajaan Mataram (Panembahan Senopati) untuk menaikkan semangat tempur prajurit Mataram, sekaligus ditujukan untuk merusak psikologis prajurit musuh pada saat Mataram berperang melawan kerajaan Pajang (Sultan Adiwijaya).

Ada juga keris yang menjadi lambang serah-terima tahta kerajaan, yaitu sebuah keris yang diserahkan kepada anaknya atau raja penggantinya ketika sang raja turun tahta. Keris ini menjadi lambang bahwa sang raja sudah lengser, sudah menyerahkan tahtanya kepada orang yang kepadanya kerisnya itu ia serahkan. Keris ini juga bukan keris keraton, tetapi tergolong sebagai keris raja, dan biasanya kemudian oleh raja penggantinya akan disimpan dalam ruang pusaka kerajaan, menjadi keris pusaka kerajaan (baca juga : Status Keris dan Kelas Keris).


Keris Keraton mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton.

Sesuai sebutannya sebagai Keris Keraton, keris-keris itu mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton, yaitu wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan, yang akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja atau kepala negara, atau kepala daerah, sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya).

Pada masa sekarang ini keris-keris itu tetap menjadi keris keraton, yaitu keris-keris yang mengandung di dalamnya wahyu keraton, wahyu kepemimpinan pemerintahan / kenegaraan, yang akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi dan derajat yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja / kepala negara (presiden) atau kepala daerah (adipati / bupati), sesuai kelas dan peruntukan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya). Tetapi keris-keris ini sulit dibedakan jika hanya melihat bentuk fisiknya saja, hanya bisa diketahui dengan memeriksa kandungan wahyu keris di dalamnya.

Tetapi sebuah keris keraton hanya akan bekerja kegaibannya, baru akan menyatu dan memberikan tuahnya kepada seorang manusia pemiliknya yang memiliki wahyu keraton di dalam dirinya.


Di bawah tingkatan keris keraton adalah keris-keris lain yang mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai wahyu kepangkatan dan derajat, yaitu wahyu yang akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi / derajat yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat atau daerah sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya), akan menaikkan posisi dan jabatan orangnya supaya dalam setiap aktivitas / pekerjaannya mendukung orang lain si penerima wahyu keraton.

Contohnya adalah keris-keris yang tujuan pembuatannya dulu adalah untuk menjadi keris raja atau untuk menjadi pusaka kerajaan, yang terkandung di dalamnya sifat-sifat wahyu kepangkatan dan derajat, yaitu sifat-sifat wahyu yang akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi / jabatan yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat ataupun daerah, sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya).

Keris-keris dan pusaka yang mengandung wahyu kepangkatan dan derajat ini termasuk juga pusaka kerajaan / kadipaten / kabupaten berbentuk tombak dan payung, biasanya diletakkan berdiri di belakang singgasana. Dalam kategori ini termasuk juga, sesuai tingkatannya masing-masing, pusaka-pusaka tombak dan payung yang dijadikan lambang kekuasaan dan kebesaran seorang bangsawan yang memiliki status dan jabatan di dalam lingkungan kerajaan, kadipaten, kabupaten, kademangan, kelurahan, dsb.

Tetapi keris-keris ini sulit dibedakan jika kita hanya melihat bentuk fisiknya saja, karena hanya bisa diketahui dengan memeriksa kandungan wahyu keris di dalamnya.

Keris-keris yang dulunya adalah keris-keris raja atau yang menjadi Pusaka Kerajaan pada masa sekarang ini secara umum adalah keris-keris yang mengandung di dalamnya wahyu kepangkatan dan derajat yang akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi / jabatan yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat atau daerah sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya).

Tetapi keris-keris itu hanya akan bekerja kegaibannya jika sudah berada di tangan orang-orang yang memiliki wahyu kepangkatan dan derajat atau wahyu keningratan di dalam dirinya.

Jika berada di tangan orang-orang yang tepat sesuai peruntukkan kerisnya keris-keris itu akan dapat mengantarkan orang-orang itu kepada pangkat dan derajat yang tinggi menjadi tangan kanan atau bawahan langsung dari orang si penerima wahyu keraton.

Sebagai keris-keris wahyu, keris-keris tersebut akan efektif  bekerja  hanya  pada manusia pemiliknya yang sudah memiliki wahyu kepemimpinan / kepangkatan / keningratan dalam dirinya, atau sesudah dimiliki oleh seorang manusia keturunan ningrat yang cocok untuk menjadi wadah sifat-sifat wahyunya.

(Baca juga : Dewa dan Wahyu Dewa).


Sisi kegaiban keris jawa bersifat wahyu.
Tujuan spiritual tertinggi pembuatan keris jawa adalah untuk dipasangkan kepada orang-orang yang memiliki wahyu dewa di dalam dirinya.

Keris keraton yang di dalamnya terkandung wahyu keraton pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan orang-orang yang memiliki wahyu keraton di dalam dirinya.

Orang-orang yang sudah memiliki wahyu keraton di dalam dirinya, sekalipun dirinya tidak memiliki sebuah keris keraton, apapun jenis keris yang dimilikinya, semua keris-kerisnya itu akan mewujud menjadi keris keraton, akan menunjang wahyu keraton di dalam dirinya, mengimbangi dirinya yang sudah memiliki wahyu keraton.

Tetapi keris-keris itu, yang aslinya bukan keris keraton, akan kembali lagi kepada kondisi aslinya yang bukan keris keraton setelah berpindahtangan kepada orang lain yang tidak memiliki wahyu keraton di dalam dirinya.


Keris-keris yang mengandung di dalamnya wahyu kepangkatan dan derajat pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan orang-orang yang memiliki wahyu kepangkatan dan derajat di dalam dirinya.

Orang-orang yang sudah memiliki wahyu kepangkatan dan derajat di dalam dirinya, sekalipun dirinya tidak memiliki sebuah keris jenis itu, apapun jenis keris yang dimilikinya, semua keris-kerisnya itu akan mewujud menjadi keris wahyu kepangkatan dan derajat, akan menunjang wahyu kepangkatan dan derajat dalam dirinya, mengimbangi dirinya yang sudah memiliki wahyu kepangkatan dan derajat.

Tetapi keris-keris itu, yang aslinya bukan keris wahyu kepangkatan dan derajat, akan kembali lagi kepada kondisi aslinya setelah berpindahtangan kepada orang lain yang tidak memiliki wahyu kepangkatan dan derajat di dalam dirinya.


Keris keningratan yang di dalamnya terkandung wahyu keningratan pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan orang-orang yang memiliki wahyu keningratan di dalam dirinya atau untuk orang-orang yang ningrat dan keturunan ningrat.

Orang-orang yang sudah memiliki wahyu keningratan di dalam dirinya, sekalipun dirinya tidak memiliki sebuah keris keningratan, apapun jenis keris yang dimilikinya, semua keris-kerisnya itu akan mewujud menjadi keris keningratan, akan menunjang wahyu keningratan di dalam dirinya, mengimbangi dirinya yang sudah memiliki wahyu keningratan.

Tetapi keris-keris itu, yang aslinya bukan keris keningratan, akan kembali lagi kepada kondisi aslinya yang bukan keris keningratan setelah berpindahtangan kepada orang lain yang bukan ningrat.

Mengenai keris keningratan silakan dibaca : Keris Keningratan.



Secara umum keris-keris tersebut di atas adalah keris-keris yang bertuah wibawa kekuasaan dan hanya cocok untuk orang-orang yang status dan posisinya juga berkaitan dengan wibawa dan kekuasaan. Secara umum pada jaman sekarang ini keris-keris tersebut akan memberikan tuah yang bersifat menunjang wibawa kekuasaan, kepangkatan dan derajat (dan kerejekian). 

Jika keris-keris wahyu itu sudah dimiliki oleh seseorang yang sesuai dengan peruntukkan kerisnya, keris-keris itu akan memancarkan aura wibawanya dan akan dapat mengantarkan orang tersebut kepada posisi dan derajat yang tinggi sesuai peruntukkan kerisnya dan akan membantunya mengamankan posisi dan derajatnya dari gangguan atau perbuatan orang lain yang merongrong martabat dan wibawanya.


Keris-keris yang dalam pembuatannya khusus ditujukan untuk menjadi pusaka lambang kebesaran dan yang untuk menjadi keris-keris pusaka keraton (kerajaan, kadipaten / kabupaten), yang maksud pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan wahyu keraton atau wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan yang sudah ada pada diri seseorang, memiliki tuah yang luar biasa, yang tidak bisa disejajarkan dengan keris-keris yang umum ataupun jimat dan mustika. Selain biasanya kerisnya berkesaktian tinggi, tuah dan wibawanya pun tidak sebatas hanya melingkupi diri manusia pemakainya, tetapi melingkupi suatu area yang luas yang menjadi wilayah kekuasaan yang harus dinaunginya. Biasanya sosok gaibnya juga adalah raja dan penguasa di alamnya. Karakter isi gaibnya menyerupai perwatakan wahyu keprabon yang menjadikan para mahluk halus dan manusia di dalam lingkup kekuasaannya menghormati si keris dan si manusia sebagai pemimpin dan penguasa di wilayah itu.

Itulah juga sebabnya pada masanya keris-keris keraton dan keris-keris pusaka kerajaan sering sekali menjadi bahan perebutan, bahkan juga menjadi incaran pencurian. Contohnya adalah sepasang keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten yang ketika sudah menjadi pusaka kerajaan Demak menjadi bahan incaran pencurian, bahkan pernah juga hilang dicuri oleh orang-orang dunia persilatan golongan hitam (golongan yang jahat) yang menganggap akan mudah baginya untuk berkuasa dan akan jaya berkuasa di Jawa setelah dirinya memiliki keris-keris itu. Atau juga seperti kisah keris Kiai Sumelang Gandring milik kerajaan Majapahit yang sempat hilang dicuri oleh Adipati Blambangan.

Karena itulah pada masanya, mungkin juga sampai sekarang, banyak orang memiliki pengertian yang salah seolah-olah siapa saja yang memiliki pusaka-pusaka keraton itu akan menjadikannya lebih mudah menduduki tahta kekuasaan dan akan jaya berkuasa, sehingga banyak orang yang memiliki pamrih atas pusaka-pusaka tersebut.

Padahal segala sesuatunya tergantung pada orangnya itu sendiri, dan tergantung kepadanya juga apakah jiwa pusaka-pusaka keraton itu dapat luluh atau tidak ke dalam dirinya. Itulah yang disebut wahyu. Dan wahyu itu tidak dapat diperoleh hanya melalui pemilikan keris saja. Untuk dapat menerima wahyu, seseorang harus menjadikan dirinya sebagai wadah yang sesuai dengan watak dan sifat-sifat wahyunya. Karena itulah untuk dapat menerima sebuah wahyu seseorang harus bekerja keras, mesu raga penuh keprihatinan dan membentuk sifat-sifat kepribadian diri dan perbuatan yang sesuai dengan sifat-sifat wahyunya.

Seseorang yang memiliki sebuah keris / pusaka keraton, bukanlah jaminan bahwa orang itu akan dapat mencapai tampuk pemerintahan selama jiwa keris-kerisnya itu masih belum luluh dengan orang pemiliknya. Apabila seseorang telah benar-benar menguasai keris-keris tersebut, serta jiwa keris-keris itu telah luluh ke dalam dirinya, barulah orang tersebut mendapatkan sipat kandel  yang sebenarnya. Selama masih ada selisih kebatinan antara orangnya dengan keris-keris itu, maka selama itu pula keris-keris keramat tersebut tidak akan berguna. Keris-keris itu hanya cocok untuk orang-orang tertentu saja. Bisa saja kerisnya dimiliki oleh seseorang, tapi tidak semua orang pemiliknya bisa mendapatkan wahyunya

Karena itulah, meskipun seseorang berhasil menyimpan keris-keris itu untuk dirinya sendiri, dan seandainya ia ingin meraih tampuk pemerintahan, tidak akan dapat dicapainya dengan bantuan keris-keris itu, karena jiwa keris-keris itu tidak luluh ke dalam dirinya. Itulah yang terjadi pada orang-orang yang berambisi menjadi penguasa, walaupun mereka membekali dirinya dengan bermacam-macam pusaka, tetapi tuah pusaka-pusaka itu tidak menyatu dengan dirinya. Yang kemudian terjadi adalah keberadaan dan perbuatan orang-orang itu hanya membuat kacau keadaan, pemerintahan yang tengah berjalan menjadi goyah karena digerilya oleh orang-orang tersebut. Rakyat yang menjadi korban.

Demikianlah keris-keris tersebut baru akan bermanfaat bagi pemiliknya apabila jiwa keris-keris itu telah luluh ke dalam dirinya.


Contoh Keris Keraton adalah Keris Nagasasra dan Keris Sabuk Inten, sepasang keris yang pernah menjadi lambang kebesaran keraton Majapahit.

Setelah masa kerajaan Majapahit berakhir dan kekuasaan pemerintahan berpindah ke kerajaan Demak, sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten juga diambil dan dipindahkan ke Demak, dijadikan lambang kebesaran kerajaan Demak, tapi sayangnya, di Demak itu wahyu kerisnya tidak bekerja.

Keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang fisiknya cemerlang seperti emas dan intan, apabila mereka telah luluh ke dalam diri seseorang, maka kecemerlangannya akan hilang, menjadi seperti keris biasa saja yang bersalutkan emas dan intan. Dan orang, yang jiwa keris-keris itu luluh ke dalam dirinya, orang itu akan memiliki sifat-sifat khusus yang meresap di dalam dirinya.

Kyai Nagasasra mempunyai karakter berwibawa dan berkuasa, disujuti oleh kawula, dicintai dan dihormati rakyat, berperikemanusiaan, melindungi dan memberi kesejahteraan kepada rakyat.

Kyai Sabuk Inten mempunyai watak seperti lautan, luas tak bertepi, menampung arus sungai dan banjir yang bagaimanapun besarnya. Dan airnya selalu bergerak ke tempat yang membutuhkannya, tetapi gelombangnya dapat menunjukkan kedahsyatannya bila diperlukan.

Keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten melambangkan perwatakan Dewa Wisnu.

Keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten masih harus dilengkapi dengan Kyai Sengkelat, keris yang juga tidak kalah pentingnya. Keris yang memiliki watak lengkap seorang prajurit sejati, mewakili perwatakan Dewa Hanoman, yang setia dan patuh pada kewajibannya, yang bekerja dan berjuang bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk tanah tumpah darah dan rakyatnya dengan penuh kejujuran tanpa pamrih, dan setia menjalankan perintah-perintah Yang Maha Kuasa.


Watak-watak manusia yang demikian jugalah yang dicari oleh mereka, yang diharapkan layak dan mampu menjadi pemimpin dan berbudi luhur, sejalan dengan watak dari keris-keris tersebut. Karenanya kesejahteraan rakyat dapat dijamin dan memberi kesempatan mengalirkan bantuannya kepada yang membutuhkannya.

Itulah sebabnya keris-keris tersebut di atas dan keris-keris lain yang dulu terkenal kegaiban dan kesaktiannya sekarang sudah tidak ada lagi dalam kehidupan manusia, sudah moksa, masuk ke alam gaib bersama dengan fisik kerisnya, karena tidak mau jatuh ke tangan orang-orang yang mereka tidak berkenan. Tetapi pada waktunya nanti sesudah ditemukan sesosok manusia yang sesuai dengan perkenan mereka, mereka akan datang dengan sendirinya menyatukan diri kepada orang tersebut tanpa perlu diminta (baca juga : Pusaka & Mustika di Alam Gaib).

Keris-keris tertentu dulu yang terkenal kesaktian dan tuahnya, karena banyak orang yang ingin memilikinya dan memesan untuk dibuatkan, kemudian banyak dibuatkan tiruan / turunan-nya, sehingga kemudian banyak keris yang bentuknya seragam. Contoh keris yang banyak ditiru adalah keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dan keris Kyai Sengkelat, dan keris-keris tiruannya sering disebut keris-keris berdapur nagasasra (atau berdapur naga), berdapur sabuk inten atau berdapur sengkelat.

Bila yang membuat keris-keris berdapur naga, sabuk inten atau sengkelat itu adalah empu yang sama dengan yang membuat keris-keris aslinya, maka keris-keris itu disebut keris turunannya (mutrani), tetapi bila yang membuatnya adalah empu lain, maka keris-keris itu disebut keris tiruannya (tetiron).




--------------




  >>  Keris Keningratan










Comments