Tuah Keris - Pada Jaman Sekarang



 
     Filosofi,
Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa.
  
 

Empat contoh tuah yang telah diuraikan pada halaman sebelumnya, yaitu tuah untuk kesaktian, tuah untuk wibawa
kekuasaan, tuah untuk kerejekian dan tuah untuk keilmuan dan kesepuhan, adalah tuah-tuah pokok / dasar yang diberikan oleh sebuah keris sesuai tujuan awal pembuatan kerisnya, yang tuah-tuah itu berasal dari karakter gaib kerisnya yang sudah dicocokkan dengan karakter dan status si manusia calon pemilik keris yang itu menjadi tujuan spiritual dari diciptakannya sebuah keris untuk menunjang kehidupan si manusia pemilik keris.

Penekanan istilah tuah pokok keris adalah bahwa tuah-tuah itu merupakan satu kesatuan tuah utama yang diberikan oleh sebuah keris, lengkap, tidak kurang, sesuai tujuan keris itu dibuat yang sudah disesuaikan dengan karakter kepribadian dan status / jalan kehidupan manusia pemiliknya.

Tuah keris jawa yang disebutkan oleh Penulis adalah tuah yang dominan dari sebuah keris, yang berasal dari karakter gaib kerisnya (karakter wahyu kerisnya), yang karakter itu sudah dicocokkan dengan karakter dan status orang pertama pemilik kerisnya dulu. Karakter wahyu kerisnya itulah yang dominan menentukan apakah sebuah keris lebih menonjolkan sifat-sifat kesaktian, wibawa dan kekuasaan, kerejekian ataukah kesepuhan. Tuah lainnya dari kerisnya mengikuti sugesti batin si pemilik keris. Dengan demikian tuah keris berbeda dengan tuah dari benda-benda gaib yang khusus diminta / dibuat bertuah untuk wibawa, pengasihan, penglarisan, dsb.

Dalam rangka pembuatan keris, pembedaan jenis keris, karakter keris dan tuah keris dilakukan sendiri oleh sang empu untuk menyesuaikan keris-keris buatannya dengan si manusia calon pemilik kerisnya. Tuah kerisnya bukanlah tuah permintaan dari si pemesan keris, dan bukan menjadi tujuan sang empu membuat sebuah benda yang memberikan tuah khusus kepada manusia seperti halnya permintaan orang jaman sekarang atas benda-benda jimat bertuah. Orang-orang itu percaya bahwa keris bersifat wahyu, keris yang diterimanya dari seorang empu keris pasti baik untuknya. Yang menjadi permintaan si pemesan keris biasanya hanyalah bentuk kerisnya saja dan kelengkapan aksesories kerisnya.

Pada jaman dulu orang-orang yang memesan sebuah keris kepada seorang empu, atau orang-orang yang menerima keris dari orang tuanya atau dari orang lain, tidak mencaritahu dan tidak mempermasalahkan apa jenis tuah kerisnya, karena mereka percaya (bersugesti) bahwa keris buatan seorang empu adalah benda pusaka yang baik, sehingga kalau mereka bisa menyatu dengan keris miliknya, apapun jenis keris dan tuahnya, mereka akan terbantu jalan hidupnya, dan keris itu akan melindunginya dari adanya gangguan gaib dan menjauhkannya dari kesulitan. Karena itu mereka tidak terdorong untuk memiliki banyak keris dengan tuah yang bermacam-macam, cukup satu saja, apapun tuahnya, karena satu keris itu saja sudah cukup untuk mendampinginya dan membantu jalan kehidupannya.


Pada perkembangan selanjutnya, atau pada masa sekarang, setelah keris-keris itu tidak lagi dimiliki oleh
si manusia pertama pemilik keris (yang menerima langsung dari empu pembuatnya), keris-keris tersebut menyesuaikan dirinya dengan pemiliknya yang baru. Karena tidak semua manusia baru pemilik keris kondisi kepribadian dan kehidupannya sama dengan pendahulunya dan tidak semua karakternya sesuai dengan keris yang dimilikinya, tuah-tuah yang diberikan oleh keris pun tidak sama lagi dengan tuah-tuahnya yang dulu, menurun fungsinya, tidak lagi sama dengan tujuan pertama keris itu dibuat. Hawa aura dan wibawa mistis yang dipancarkan oleh keris juga sudah banyak berkurang, mengikuti kondisi manusia pada jaman sekarang.

Pada jaman sekarang, banyak keris yang hawa aura mistisnya sudah redup, sudah dingin / adem / anyeb, mirip seperti keris kosong tidak berpenghuni gaib. Hawa auranya sudah menurun karena terpengaruh perkembangan jaman dimana keberadaan keris sudah mulai diabaikan, tetapi aura keris-keris tersebut akan kembali terasa ketika sudah menyatu dengan seorang pemilik yang sesuai.

Pada jaman dulu umumnya manusia memahami kebatinan kejawen dan memahami aspek spiritualitas keris. Mereka dapat mengerti dan dapat membedakan keris-keris yang cocok dan yang tidak cocok dengan dirinya. Seandainya pun mereka memiliki sebuah keris yang tidak cocok dengan dirinya, maka keris-keris itu tidak akan disimpannya untuk dirinya sendiri, biasanya akan diserahkannya kepada orang lain yang dipandangnya lebih cocok dan pantas untuk memiliki keris itu. Dengan demikian, keris-keris yang disimpannya untuk menjadi miliknya hanyalah keris-keris yang cocok dan sejalan saja dengan dirinya, menjadi pusaka dan piyandel-nya.

Kondisinya berbeda dengan kehidupan manusia jaman sekarang yang umumnya sudah tidak lagi menghayati spiritualitas kejawen dan tidak banyak mengerti sisi spiritualitas perkerisan. Ditambah lagi manusia sudah hidup secara agamis, yang menjauhkan keris dari kehidupan manusia, yang semakin menjauhkan manusia dari pengertian yang benar tentang keris.

Kebanyakan keberadaan keris hanya dihubungkan dengan hal-hal gaib, sehingga memunculkan banyak kesalahpahaman dan pengkultusan yang seringkali bersifat menyesatkan.
Orang tidak lagi menginginkan keris. Orang-orang yang masih menginginkan keris kebanyakan hanya menilainya dari sisi khodam dan tuahnya saja, sehingga orang terdorong untuk memiliki banyak keris dengan tuah yang bermacam-macam, karena orangnya juga menginginkan khodam dan tuah yang bermacam-macam.

Pada dasarnya, pada jaman sekarang ini keris-keris itu masih menyimpan tuah-tuah pokoknya, namun tidak semuanya diberikannya kepada si pemilik keris, karena kondisi si pemilik keris tidak sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan oleh kerisnya dan tingkat penyatuan kebatinan antara si manusia pemilik keris dengan kerisnya juga sudah jauh berkurang. Menurunnya tuah dan karisma keris terjadi karena keris-keris itu menyesuaikan dirinya dengan manusia pemiliknya yang baru.

Demikianlah yang terjadi pada masa sekarang. Mungkin keris
-keris yang kita miliki sudah tidak lagi memberikan tuah-tuah pokoknya, sudah menurun fungsinya, tidak lagi sama dengan kondisi pertama keris itu dibuat. Namun mungkin kondisi itu lebih baik untuk kita, mengingat kondisi kita juga mungkin tidak sama dengan manusia pendahulu kita, tidak sama dengan kondisi yang dipersyaratkan oleh si keris. Kehidupan kita pada jaman sekarang juga tidak sama dengan kehidupan manusia jaman dulu.

Jadi, yang dominan menentukan sifat tuah dan karakter keris pada jaman sekarang ini bukanlah semata-mata sifat dan karakter asli dari sebuah keris, tetapi terutama adalah kepribadian si manusia pemilik keris itu sendiri yang si keris terpaksa harus menyesuaikan dirinya supaya dapat sejalan dengan si manusia baru pemilik keris dan sugesti / pemahaman / keyakinan si pemilik kerisnya itu sendiri atas tuah kerisnya apakah bersifat kewibawaan, kerejekian, dsb, sehingga kondisi karakter keris itu tidak sama lagi dengan kondisinya pada saat pertama kali keris itu diciptakan.

Sedangkan keris-keris yang tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan manusia si pemilik keris, karena ketidak-cocokkannya dengan kepribadian dan jalan kehidupan si manusia, atau karena orangnya tidak sesuai dengan tujuan keris itu diciptakan, secara umum kondisi inilah yang disebut sebagai keris-keris yang tidak cocok dengan manusia pemiliknya.


Dalam sejarah keris, memang tidak semua keris membawa pengaruh positif bagi pemiliknya, bahkan ada di antaranya yang justru membawa petaka bagi pemiliknya. Efek buruk dari sebuah keris baru muncul ketika keris tersebut tidak cocok dengan manusia pemiliknya atau ada perbuatan si pemilik keris yang si keris tidak berkenan. Karena itu kita yang sekarang memiliki keris-keris "bekas pakai" milik orang-orang jaman dulu memang harus bisa menilai apakah keris-keris kita itu cocok dan sejalan dengan kita. Yang tidak cocok dengan kita sebaiknya dipindahtangankan saja kepada orang lain yang cocok memilikinya.


Sebagai tambahan untuk dasar pemahaman, tujuan keris dibuat adalah sejalan dengan tujuan diturunkannya wahyu dewa kepada seseorang, sehingga jenis keris yang dibuat dan karakternya (dan tuahnya) sudah disesuaikan dan sejalan dengan karakter kepribadian dan kehidupan si manusia pertama pemilik keris.

Secara umum tujuan keris-keris dibuat dimaksudkan dengan cara pendampingannya masing-masing keris itu akan memberikan tuahnya kepada si manusia pemiliknya, dan untuk hasil kegaiban yang maksimal dalam pendampingan itu dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan si manusia dengan kerisnya (ada interaksi batin).

Karena sisi gaib sebuah keris jawa adalah bersifat wahyu, maka kegaiban keris jawa akan bekerja sendiri sesudah ada penyatuan kebatinan dengan manusia pemiliknya dan akan melipatgandakan pengaruh aktivitas dan perbuatan si manusia pemiliknya yang sejalan dengan sifat kegaiban kerisnya, sehingga perbuatan-perbuatannya itu memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dirinya tanpa keris. Keris jawa yang sudah dimiliki oleh seseorang akan pasif peranan dan pengaruhnya jika belum ada penyatuan kebatinan dengan orang si pemilik keris dan bila orangnya tidak melakukan aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban kerisnya.

Karena itu kegaiban keris jawa tidak akan bisa langsung dirasakan oleh orang-orang pemilik keris dan banyak pemilik keris yang tidak bisa merasakan manfaat kerisnya, karena kegaibannya akan bekerja hanya sesudah ada penyatuan kebatinan pemiliknya dengan kerisnya. Kegaiban keris tidak sama dengan benda-benda bertuah lain yang otomatis memberikan tuahnya sesudah bendanya dimiliki, apalagi mengharapkannya bekerja sendiri mendatangkan rejeki dan kekayaan seperti bertuah pesugihan. Sifat kegaiban keris adalah melipatgandakan pengaruh aktivitas dan perbuatan si pemilik keris yang sejalan dengan sifat kegaiban kerisnya. Jadi, orangnya sendiri yang harus sakti, orangnya harus bekerja, dsb, dan sesudah ada penyatuan kebatinan kerisnya dengan pemiliknya, aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban kerisnya pengaruhnya akan dilipatgandakan oleh kerisnya.


Karena itu sebaiknya dipahami, bila kita mempunyai sebuah keris, apapun jenis kerisnya dan tuahnya, untuk mendapatkan kegaibannya yang maksimal dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan kita dengan si keris (ada interaksi batin), bukan sekedar rasa memiliki sebuah keris dan jangan menyamakan keris dengan benda-benda jimat yang dinilai hanya dari keampuhannya sebagai jimat keselamatan / keberuntungan.

Dengan demikian penggolongan jenis-jenis tuah keris di bawah ini adalah untuk mengakomodir keperluan manusia jaman sekarang yang kebanyakan menilai sebuah keris hanya dari bentuk fisiknya dan dari jenis tuahnya saja untuk menilai apakah sebuah keris (dan tuahnya) sejalan dengan kehidupannya, untuk manusia jaman sekarang yang dalam memiliki keris tidak mengedepankan penyatuan kebatinannya dengan kerisnya dan yang tidak memahami bahwa apapun jenis kerisnya, kerisnya itu akan dapat membantu semua aspek dalam kehidupannya.

Sebagai catatan, untuk mengetahui tuah dari masing-masing turunan tuah antara keris yang satu dengan keris yang lain agak sulit membedakannya secara fisik, karena yang membedakannya adalah tuahnya itu sendiri, bukan fisik kerisnya. Pembedaannya hanya bisa dilakukan secara kebatinan saja. Misalnya ada sebuah keris yang dulu dibuat untuk memberikan tuah kesaktian, kekuasaan dan wibawa, ternyata keris itu (keris yang sama) sekarang hanya memberikan tuah keselamatan saja, atau kesaktian saja, atau wibawa saja. Padahal kerisnya sama.


Tuah keris jawa yang disebutkan oleh Penulis adalah tuah yang dominan dari sebuah keris, yang berasal dari karakter wahyu kerisnya, yang karakter itu sudah dicocokkan dengan karakter dan status orang pertama pemilik kerisnya dulu. Tuah lainnya dari kerisnya mengikuti sugesti batin si pemilik keris.

Karakter wahyu kerisnya adalah yang dominan menentukan apakah sebuah keris lebih menonjolkan sifat-sifat kesaktian, wibawa dan kekuasaan, kerejekian ataukah kesepuhan. Pembedaannya hanya bisa dilakukan secara kebatinan saja, bukan semata-mata dengan melihat fisik kerisnya.

Salah satu cara untuk
kita belajar mengetahui tuahnya adalah dengan cara :  Menayuh Keris.

Untuk menambah pemahaman tentang sifat-sifat tuah silakan dibaca tulisan berjudul  Khodam dan Kualitas Tuah.


Untuk menjelaskan "turunan" atau  "pecahan"  tuah pokok keris pada jaman sekarang ini Penulis membagi tuah pokok keris menjadi 2 kelompok besar, yaitu :
 1.  Tuah kesaktian
dan wibawa kekuasaan.
 2.  Tuah kerejekian dan kesepuhan.



 1Pecahan / Turunan Tuah
Kesaktian dan Wibawa Kekuasaan.

Pengertian dasar tentang tuah kesaktian dan wibawa kekuasaan yang adalah tuah induknya silakan dibaca pada halaman berjudul  Tuah Keris - Filosofi Dasar. Pada bagian ini dituliskan pecahan / turunan dari tuah-tuah itu.

Keris-keris yang karakter gaibnya menonjolkan sifat-sifat kesaktian dan wibawa kekuasaan sebagian besar dapat beradaptasi dengan pemiliknya yang baru, kecuali untuk
sebagian keris-keris kesaktian yang isi gaibnya tetap menjadi khodam senjata tarung, pasif dan tetap berdiam di dalam kerisnya menunggu untuk diperintah secara khusus, dan keris-keris keraton, kepangkatan dan keningratan yang tetap menginginkan pemiliknya adalah seorang manusia yang memiliki wahyu keraton atau keturunan ningrat.

Keris-keris itu bekerja dengan memancarkan suatu aura wibawa dan perlindungan gaib dan memberikan bisikan ide dan ilham tentang usaha dan pekerjaan dan membantu membuka wawasan tentang pengembangannya. Dalam hal kerejekian, keris-keris itu membantu terutama dalam hal kewibawaan dan kepangkatan / derajat.

Jenis tuah keris yang pertama, yaitu tuah kesaktian
dan wibawa kekuasaan, turunan atau pecahan tuah kerisnya pada jaman sekarang adalah sebagai berikut :

 1. Tuah Kesaktian dan Wibawa Kekuasaan.

Pada jaman sekarang jenis keris ini masih memberikan satu rangkaian tuah yang lengkap, yaitu tuah
kesaktian dan wibawa kekuasaan, jika, dan hanya jika, keris-keris ini dimiliki oleh orang-orang yang sesuai dengan tuntutan kerisnya.

Yang tergolong dalam jenis keris ini adalah
keris-keris keraton dan pusaka-pusaka yang dulu menjadi lambang kebesaran sebuah kerajaan / kadipaten / kabupaten dan pusaka-pusaka kerajaan yang hanya patut dimiliki oleh seorang raja, adipati, dan bupati jaman dulu atau keturunan mereka yang masih membawa sifat-sifat dan derajat leluhurnya itu.

Selain itu, yang tergolong dalam jenis keris ini adalah juga
keris-keris yang dulu diperuntukkan untuk keningratan dan kebangsawanan, seperti keris-keris ber luk 5, keris-keris berdapur nagasasra dan singa barong.












Contoh keris Pulanggeni
luk 5,
bertuah kesaktian
dan wibawa kekuasaan.














Contoh tombak
bertuah kesaktian dan wibawa kekuasaan.




Keris-keris lurus yang awal pembuatannya bert
uah kesaktian, kekuasaan dan wibawa, sampai sekarang masih banyak yang memberikan satu rangkaian tuah yang sama.

Keris-keris yang bertuah keningratan dan kebangsawanan, misalnya
keris-keris ber-luk 5 atau keris-keris singa barong, mengsyaratkan seorang pemilik yang juga memiliki garis keturunan ningrat / bangsawan, sesuai tujuan keris itu diciptakan. Kalau tidak terpenuhi, maka keris-keris itu hanya akan diam saja, pasif, tidak akan memberikan tuahnya dan tidak menunjukkan penyatuannya, karena pribadi pemiliknya tidak sesuai dengan peruntukkan kerisnya.

Untuk dapat memberikan tuah yang lengkap itu, selain terpenuhinya syarat kondisi manusia
pemiliknya seperti tertulis di atas, keris-keris itu juga mengsyaratkan manusia pemiliknya mempunyai ilmu-ilmu kesaktian atau keksatriaan, terutama yang bersifat kebatinan, sehingga kegaiban keris-keris itu bisa menyatu dengan kebatinan dan kesaktian manusia pemiliknya.


 2. Tuah Keselamatan / Penjagaan Gaib.

Secara umum pada jaman sekarang tuah inilah yang diberikan oleh sebuah keris kepada pemiliknya, yaitu untuk perlindungan 
gaib, menjaga keselamatan si pemilik dari serangan / gangguan gaib dan memberikan tanda peringatan atau isyarat berupa rasa firasat (dan mimpi) bila akan ada orang yang berniat jahat / mencelakakan atau bila akan terjadi kejadian musibah atau kecelakaan. Sedangkan bentuk tuahnya yang lain adalah pancaran aura energi khodamnya, karisma / kewibawaan / kerejekian, yang sesuai dengan sifat perwatakan khodamnya dan aktivitas keseharian manusia pemiliknya.


 3. Tuah Kesaktian.

Keris yang memberikan tuah kesaktian / ksatriaan, selain berguna untuk menaikkan kekuatan dan ketajaman batin pemakainya, untuk menunjang kesaktian kanuragan, juga berguna untuk tujuan adu kekuatan gaib atau kesaktian gaib, yaitu untuk menembus / melumpuhkan benteng pertahanan gaib lawannya (perlindungan gaib atau ilmu kebal lawan) dan menghapuskan kegaiban ilmu lawan. Serangan secara fisik bisa dilakukan oleh siapa saja yang memegang keris. Namun penggunaan kekuatan gaib keris biasanya dilakukan oleh orang-orang yang mengerti tentang ilmu gaib / khodam dan yang bisa menggunakan kekuatan khodam gaib.












Contoh keris lurus jaman Kediri
untuk
kesaktian.




Keris-keris yang bertuah kesaktian
bila berada di tangan orang-orang yang menjalani ksatriaan dan memiliki keilmuan kebatinan yang tinggi, penyatuan gaib keris dengan orang tersebut akan menambah ketajaman dan kekuatan keilmuan orang tersebut menjadi bertambah berlipat-lipat.

Keris-keris yang bertuah kesaktian ini sampai sekarang masih berfungsi untuk kesaktian dengan cara menambahkan kegaiban kesaktian pada orangnya, khodam kerisnya berfungsi sebagai khodam senjata tarung. Karena isi gaibnya berfungsi sebagai khodam senjata tarung, maka bila kerisnya berada di tangan orang-orang yang tidak menjalani ksatriaan dan tidak menjalani keilmuan kebatinan biasanya hanya akan diam saja, pasif. Untuk mendapatkan fungsi lainnya maka kerisnya harus diperintah secara khusus, misalnya diperintah untuk membuatkan pagaran gaib, pembersihan gaib, pengobatan gaib, dsb.

Namun ada sebagian keris-keris bertuah kesaktian yang dapat menyesuaikan dirinya dengan pribadi pemiliknya yang baru.
Walaupun si manusia pemiliknya tidak aktif menjalani ksatriaan dan tidak memiliki keilmuan kebatinan yang tinggi, gaib kerisnya tetap aktif menunjukkan penyatuannya dengan si manusia dengan cara keluar dari kerisnya dan mendampingi manusia pemiliknya dimana pun si manusia pemilik keris itu berada untuk memberikan perlindungan gaib, jika si manusia pemiliknya merawat dengan baik kerisnya (berikut sesajinya) dan menunjukkan penyatuannya dengan kerisnya.


 4. Tuah Kekuasaan dan Wibawa.

Keris yang memberikan tuah untuk kekuasaan dan wibawa berguna untuk menaikkan derajat pemiliknya hingga dapat mencapai derajat, pangkat dan kekuasaan yang tinggi, mengamankan posisinya dari persaingan dan menjaga wibawanya di mata atasan dan bawahan maupun yang sederajat.


Yang tergolong dalam jenis keris ini adalah keris-keris yang dulu menjadi pusaka keraton atau yang dulu diperuntukkan untuk kebangsawanan, seperti keris-keris ber luk 5 dan
singa barong, keris-keris berdapur nagasasra atau keris-keris keningratan lainnya.

Tuah kekuasaan dan wibawa hanya akan aktif bekerja
pada orang-orang yang mempunyai posisi sebagai pemimpin / penguasa daerah atau memiliki jabatan tertentu di tempat kerjanya dan mempunyai bawahan, kalau tidak, maka keris-keris itu hanya akan memberikan tuah kewibawaan atau kepangkatan saja.


 5. Tuah Kewibawaan / Kepangkatan.

Keris bertuah kewibawaan akan memberikan tuah untuk menjaga wibawa si pemilik keris di mata atasan maupun bawahan dan di mata orang-orang lain di sekitarnya. Selain menjadikan pemiliknya dihormati dan disegani oleh banyak orang, dihormati untuk menjadi pemimpin atau untuk memegang jabatan tertentu (kepangkatan), tuah ini juga berguna untuk menjauhkan si pemilik keris dari fitnah yang mungkin
akan menjatuhkan martabatnya. Keris-keris berdapur naga biasanya memberikan tuah jenis ini.

Ada juga keris yang tidak dominan menambah kewibawaan, tetapi bertuah membantu kepangkatan, yaitu menambah sedikit kewibawaan untuk menunjang kepangkatan / kenaikan derajat pemiliknya.

Tuah menunjang kepangkatan sifatnya mirip dengan tuah kerejekian, tetapi asalnya adalah turunan dari tuah wibawa kekuasaan, bukan dari tuah kerejekian.

Di dalam tuah yang membantu kerejekian di dalamnya ada unsur pengasihan umum yang membuat seseorang dikasihi dan disukai di lingkungan kerjanya, dikasihi dan disukai oleh atasannya, mempermudah urusan kerejekiannya.

Di dalam tuah yang membantu kepangkatan ada unsur kewibawaan yang membuat seseorang dihormati, tidak disepelekan, dipercaya oleh atasan dan rekan kerja, menunjang urusan kerejekian dan naiknya derajat dan kepangkatan.

Di dalam tuah yang membantu kepangkatan ada unsur kewibawaan untuk menunjang kepangkatan, yaitu memperlancar jalan kerejekian pemiliknya dengan membantu kepangkatan / kenaikan derajat pemiliknya.


 6. Tuah Penundukan.

Tuah ini merupakan turunan dari tuah kekuasaan dan wibawa, berguna untuk menundukkan lawan bicara, sehingga pembicaraan si pemilik keris tidak akan dibantah oleh orang yang mendengarkannya dan perintahnya kepada orang lain akan dituruti.



 7. Tuah Pambungkem.

Jenis tuah ini sebenarnya adalah turunan dari keris bertuah
kekuasaan dan wibawa. Walaupun tuahnya adalah turunan dari tuah kekuasaan dan wibawa, keris ini tidak lagi memberikan tuah untuk kekuasaan ataupun wibawa, namun memberikan tuah yang lebih ekstrim, yaitu membungkam mulut lawan bicara si pemilik keris, membuat lawan bicara berat / takut untuk berbicara atau membuatnya menjadi seolah-olah lupa atas apa yang akan diucapkannya.

Keris-keris jenis ini berguna sekali saat si pemilik keris sedang berdebat atau mengalami tuntutan / dakwaan. Orang-orang yang menuntutnya akan banyak diam atau lupa atas apa yang akan dituntutnya, sehingga si pemilik keris akan terbebas dari
tuntutan / dakwaan.

Ciri-ciri dari keris pambungkem secara fisik biasanya adalah yang kembang kacang-nya melingkar dan ujungnya menyatu / menempel dengan badan kerisnya. Kerisnya biasanya adalah keris lurus.

Keris-keris yang bertuah untuk
kekuasaan, kewibawaan, penundukkan atau pambungkem mungkin dimanfaatkan oleh orang-orang pemiliknya yang bermasalah di pengadilan dengan membawanya ke dalam ruang sidang (di dalam tas tentunya) untuk mengamankan dirinya dari tuntutan hukum.




  2Pecahan / Turunan Tuah Kerejekian dan Kesepuhan.

Pengertian dasar tentang tuah kerejekian dan kesepuhan yang adalah tuah induknya silakan dibaca pada halaman berjudul  Tuah Keris - Filosofi Dasar. Di bawah ini dituliskan pecahan / turunan dari tuah-tuah itu.

Keris-keris yang karakter gaibnya menonjolkan sifat-sifat halus
kerejekian dan kesepuhan sebagian besar dapat beradaptasi dengan pemiliknya yang baru, kecuali sebagian keris-keris kesepuhan yang tuahnya masih bersifat khusus untuk kesepuhan, dan keris-keris keningratan yang tetap menginginkan pemiliknya adalah seorang manusia yang memiliki garis keturunan ningrat.


Secara umum keris-keris yang bertuah untuk kerejekian mengandung tuah pengasihan dan memberikan aura yang baik untuk
keteduhan hati dan membantu hubungan sosial, membantu juga untuk penjagaan gaib. Jenis keris ini lebih bisa beradaptasi dengan pemiliknya yang baru. Sekalipun ada yang kemudian menjadi bertuah khusus, misalnya bertuah khusus untuk pengasihan, kesuburan, kerejekian perdagangan, dsb, biasanya adalah karena kerisnya mengikuti kepribadian si manusia pemilik keris. Tetapi secara umum semua keris-keris kerejekian masih tetap memberikan tuah kerejekian umum dan pengasihan dan mampu mengikuti apapun aktivitas kerejekian manusia pemiliknya.

Keris-keris yang tuahnya dikatakan bagus untuk kerejekian jangan diharapkan tuahnya bekerja sendiri seperti tuah pesugihan. Keris-keris itu bekerja dengan cara memancarkan aura yang baik untuk kerejekian, membantu hubungan sosial dan hubungan kerja, memberikan bisikan ide dan ilham tentang usaha dan pekerjaan dan membantu membuka wawasan tentang pengembangannya. Jadi manusia pemiliknya harus membuka diri untuk menerima bisikan gaib kerisnya, punya pekerjaan dan usaha sebagai sarana kerejekiannya dan membuka wawasan untuk mengembangkan usahanya.

Keris-keris kerejekian lebih bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki usaha sendiri, yang penghasilannya tidak berasal dari gaji / upah, sehingga dengan bantuan interaksi dari kerisnya orang-orang itu mendapatkan banyak ide dan ilham untuk pengembangan usahanya.

Untuk jenis keris yang bertuah kerejekian dan kesepuhan turunan atau pecahan tuah kerisnya adalah
sebagai berikut :

 1. Tuah Kerejekian, Kesuburan dan Penglarisan

Keris-
keris ini masih memberikan satu rangkaian tuah yang lengkap (kerejekian umum), yaitu tuah kerejekian, kesuburan dan penglarisan dan cocok untuk dimiliki oleh kebanyakan orang. Jenis kerisnya biasanya adalah keris lurus yang bertuah kerejekian.


 2. Tuah Kesuburan / Kemakmuran.

Keris-
keris yang bertuah kerejekian untuk kesuburan dan kemakmuran lebih cocok dimiliki oleh orang yang memiliki sumber pendapatan sendiri dari pertanian dan peternakan. Keris-keris ini akan membantu memberikan aura yang baik untuk kesuburan tanah dan ternak dan menjauhkan dari serangan hama dan penyakit hewan dan tumbuhan.

Agak sulit membedakan keris ini secara fisik dari keris kerejekian yang lain, karena fungsinya memang mirip. Pembedaannya hanya bisa dilakukan secara kebatinan saja.
Kujang yang berwarna hitam, yang proses pembuatannya (tempaan logamnya) mirip keris, biasanya juga memberikan tuah jenis ini.


 3. Tuah Penglarisan.

Keris-
keris yang bertuah kerejekian untuk penglarisan lebih cocok dimiliki oleh orang yang memiliki sumber pendapatan sendiri dari perdagangan, misalnya seorang pedagang / pengusaha. Keris-keris ini membantu memberikan aura yang membuat orang senang dengan si pemilik keris, senang datang ke tempat usahanya (dan merasa betah) dan senang untuk melakukan transaksi bisnis dengannya.
Sama dengan jenis keris sebelumnya, agak sulit membedakan keris ini secara fisik dari keris kerejekian yang lain. Pembedaannya hanya bisa dilakukan secara kebatinan saja.


 4. Tuah Pengasihan.

Tuah pengasihan bukanlah tuah asli dari sebuah keris jawa, tetapi merupakan tuah yang diberikan oleh sebuah keris karena menyesuaikan bentuk tuah yang bermanfaat bagi manusia pemiliknya sekarang. Tuah pengasihan dari sebuah keris jawa tidak sama dengan tuah pengasihan dari benda jimat dan mustika pengasihan, apalagi pelet. Tuah pengasihannya lebih bersifat membantu hubungan sosial / pergaulan, mendekatkan banyak orang kepadanya dan membantu jalan kerejekian si pemilik keris.

Keris-
keris jenis ini memberikan tuah pengasihan dan cocok untuk dimiliki oleh kebanyakan orang, terutama adalah pedagang, karyawan dan pegawai, yang jalan kerejekiannya berhubungan langsung dengan orang lain, atau yang bekerja kepada orang lain. Keris ini akan memancarkan aura pengasihan, sehingga si pemilik keris akan dikasihi oleh orang lain di sekitarnya, rekanan / pelanggan dan atasan ataupun bawahannya, membantu jalan kerejekiannya.













Contoh keris bertuah
pengasihan.



Jenis keris bertuah pengasihan ini juga agak sulit dibedakan secara fisik dari keris kerejekian yang lain. Pembedaannya hanya bisa dilakukan secara kebatinan saja. Namun ada keris-keris lurus kerejekian yang badan fisiknya memiliki lubang memanjang di bagian tengah kerisnya (keris combong). Keris ini mudah dikenali dan bisa digunakan untuk memikat hati seseorang. 

Biasanya semua keris bertuah kerejekian memberikan
juga tuah pengasihan.


 5. Tuah Karisma.

Tuah ini adalah turunan dari tuah kesepuhan.
Keris-
keris ini memberikan aura karisma dan cocok untuk dimiliki oleh kebanyakan orang, terutama yang sudah matang kepribadiannya. Keris ini akan memancarkan aura perbawa dan karisma, sehingga si pemilik akan dihormati dan dikasihi oleh orang lain di sekitarnya, oleh atasan maupun bawahannya.

Berbeda dengan tuah kewibawaan yang menyebabkan seseorang disegani oleh orang lain, tuah karisma menyebabkan seseorang disukai dan didekati oleh banyak orang.
Bila berbicara atau berpidato, orang akan mendengarkan dengan rasa suka.

Jenis keris ini juga agak sulit membedakannya secara fisik dari keris yang lain. Pembedaannya hanya bisa dilakukan secara kebatinan saja.


 6. Tuah Keteduhan dan Ketentraman Keluarga.

Tuah ini adalah turunan dari tuah kesepuhan dan kerejekian.
Keris-
keris ini memberikan tuah untuk keteduhan dan ketentraman keluarga dan cocok untuk dimiliki oleh kebanyakan orang. Keris-keris ini akan memancarkan hawa aura yang teduh, membawakan suasana teduh dalam rumah tangga dan suasana teduh dalam rumah pemiliknya. Tuahnya akan juga meredam hawa panas dari mahluk-mahluk halus yang berdiam di rumah pemiliknya atau di sekitarnya.

Berbeda dengan tuah wibawa yang menyebabkan seseorang dan tempat tinggalnya disegani oleh orang lain, tuah 
untuk keteduhan dan ketentraman keluarga menyebabkan tempat tinggalnya nyaman untuk didatangi dan nyaman untuk menjadi tempat berkumpul dan berbincang.


 7. Tuah Kesepuhan.

Tuah Kesepuhan itu maksudnya adalah keris-keris itu akan memberikan pengaruh yang membuat orangnya menjadi bersikap pikir dan berkepribadian lebih sepuh dan bijak, dan membantunya jika orang pemiliknya menjalani hal-hal yang bersifat kerohanian / ketuhanan, atau yang bersifat untuk kematangan kebijaksanaan hidup, atau menjalani laku kebatinan / spiritual dan keilmuan yang bersifat kesepuhan, yang bukan kanoman.

Kewibawaan yang dipancarkan oleh jenis keris ini adalah seperti kewibawaan dan karisma seorang tua yang disegani orang (kesepuhan), lebih mengarah pada aura perbawa dan pengayoman seorang tua.


Sisi gaib keris ini juga akan membantu dan mendampingi pemiliknya dalam menekuni keilmuan kesepuhan (kebatinan) dan kerohanian, membantunya menjadi seorang yang waskita, peka rasa tentang kejadian yang akan terjadi dan tajam indera keenamnya, dan mendampinginya (membantunya) menjalani keilmuan kebatinan / spiritual yang berdimensi tinggi.

Secara umum jenis keris ini
akan memberikan pengaruh berupa ketenangan hati, pikiran dan batin, membuka pikiran si pemilik keris dalam pemecahan masalah, membantu memberikan ide-ide
dan ilham (atau wangsit), memberikan bisikan petuah-petuah kebijaksanaan / kesepuhan, membantu orangnya menjadi lebih bijak dan berpikiran sepuh, membantu kesehatan dan ketentraman keluarga dan membantu melancarkan segala urusannya yang berhubungan dengan hubungan sosial di masyarakat.

Jenis keris ini menyesuaikan dirinya kepada pemiliknya dengan tidak melulu hanya memberikan tuah yang bersifat kesepuhan, tetapi juga tuah lain yang bersifat umum, membuka wawasan pikiran manusia pemiliknya dalam banyak hal sehari-hari, menambah karisma wibawa, membantu kelancaran pekerjaan, juga membantu memberikan ide dan ilham tentang kerejekian, dan membuka wawasan tentang pengembangan usaha atau karir (kepangkatan), dsb.

Jenis keris ini yang masih bertuah khusus untuk kesepuhan lebih cocok dimiliki oleh orang-orang yang sudah cukup berumur, memiliki kebijaksanaan kesepuhan dan yang menekuni kebatinan kerohanian.
Tetapi keris jenis ini yang sudah menyesuaikan dirinya dengan pemiliknya yang baru akan memberikan tuah bukan hanya
yang terkait dengan kesepuhan, tetapi juga tuah lain yang bersifat umum, cocok untuk dimiliki oleh banyak orang yang mau membuka pikirannya.



--------------




Keris-keris yang isi gaibnya tetap berdiam di dalam kerisnya biasanya isi energi pada bilah kerisnya lebih terasa, lebih stabil, bentuk tuahnya juga lebih stabil, tidak banyak berubah.

Sedangkan keris-keris yang isi gaibnya keluar dari kerisnya menjadi khodam pendamping si pemilik kerisnya biasanya
isi energi pada bilah kerisnya kurang terasa, tidak stabil, karena khodamnya tidak berada di dalam kerisnya.

Karena khodamnya sudah keluar dari kerisnya untuk mendampingi dan mengikuti jalan kehidupan manusia pemiliknya, apalagi kalau manusianya banyak berhubungan dengan gaib-gaib negatif, maka khodam-khodam pendamping itu yang aslinya bertuah kewibawaan, kesepuhan, pengasihan, kerejekian, dsb, kemudian menjadi berorientasi pada pertahanan dan perlindungan terhadap gangguan dari gaib lain, cenderung menjadi khodam penjagaan gaib (keselamatan) supaya si manusia tidak diganggu oleh gaib lain. Karena itulah seringkali tuah aslinya menjadi kurang terasa keampuhannya, karena khodamnya tidak lagi bertuah khusus, tetapi cenderung bertindak sebagai khodam multi fungsi, mengikuti jalan kehidupan dan permasalahan si manusia.

Jika khodam kerisnya sudah menjadi khodam pendamping, dalam pendampingannya itu mereka tetap memancarkan tuahnya, hanya saja seringkali kadar tuahnya bisa berubah-ubah mengikuti kondisi psikologis mereka selama mengikuti jalan kehidupan manusia. Tetapi secara umum, sebagai khodam pendamping mereka akan lebih banyak berinisiatif berinteraksi batin dengan manusia, tetapi efektivitasnya tergantung apakah si manusia "memperhatikan" interaksi mereka itu.

Untuk yang khodamnya sudah mendampingi dan mengikuti jalan kehidupan manusianya, maka si manusianya perlu rajin berinteraksi (batin) dengan khodamnya itu supaya khodamnya tetap memberikan tuahnya sesuai keinginannya, sama seperti mengkoordinasikan teman sekerja supaya kerjanya lebih terarah, bisa dengan cara sambat, bisa juga dengan mewiridkan amalan gaib. Tuah mereka bergantung pada seberapa baik kita mengarahkan kerja mereka. Kalau perlu kita bacakan amalan gaib kepada masing-masing mereka supaya tuahnya bagus.



Pada dasarnya, pada jaman sekarang ini keris-keris jawa masih menyimpan tuah-tuah pokoknya, namun tidak semuanya diberikannya kepada si pemilik keris, karena kondisi si pemilik keris tidak sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan oleh kerisnya dan tingkat penyatuan kebatinan antara si manusia pemilik keris dengan kerisnya juga sudah jauh berkurang. Menurunnya tuah dan karisma keris terjadi karena keris-keris itu menyesuaikan dirinya dengan manusia pemiliknya yang baru yang kondisinya tidak sama lagi dengan manusia yang dulu untuknya keris itu diciptakan.

Pada jaman dulu umumnya manusia memahami
spiritualitas kejawen dan memahami aspek spiritualitas keris. Mereka dapat mengerti dan dapat membedakan keris-keris yang cocok dan yang tidak cocok dengan dirinya. Dengan demikian, keris-keris yang disimpannya untuk menjadi miliknya hanyalah keris-keris yang cocok dan sejalan saja dengan dirinya.

Berbeda dengan kehidupan manusia jaman sekarang yang umumnya sudah tidak lagi menghayati spiritualitas kejawen dan tidak banyak yang mengerti sisi spiritualitas perkerisan. Kebanyakan keberadaan keris hanya dihubungkan dengan hal-hal gaib, keris lebih banyak dinilai dari harapan akan tuahnya dan banyak keris yang digunakan untuk urusan ilmu gaib dan perdukunan, sehingga memunculkan banyak kesalah-pahaman dan pencitraan / pengkultusan yang seringkali bersifat menyesatkan. Ditambah lagi manusia sudah hidup secara agamis, yang menjauhkan keris dari kehidupan manusia, yang semakin menjauhkan manusia dari pengertian yang benar tentang keris.

Kebanyakan orang pada jaman sekarang keinginannya memiliki keris hanyalah karena mengharapkan tuahnya. Keris dianggap sama dengan benda jimat lainnya. Ada juga orang yang sangat mengandalkan tuah keris dan benda-benda gaib dalam kehidupannya, seolah-olah tuah benda-benda gaib itu ampuh sebagai jalan pintas untuk mentuntaskan keperluan-keperluan hidupnya. Tetapi banyak juga orang yang kemudian kecewa karena mereka ternyata sama sekali tidak merasakan keampuhan tuah benda gaib miliknya, tidak sesuai "iklan" penjualnya. Kelemahan peka rasa dan kurangnya pemahaman spiritual perkerisan juga menyebabkan orang tidak menyadari bahwa benda yang dimilikinya sebenarnya adalah "barang bagus" dan dengan demikian ia juga menjadi tidak dapat mendayagunakannya, karena tidak tahu caranya dan tidak bisa membedakan mana yang 'bagus" dan mana yang tidak.


Soal kekuatan gaib dan tuah sebuah keris, lemah atau kuat, sebaiknya janganlah terlalu dipermasalahkan, karena yang paling penting sebenarnya adalah kemampuan kita sendiri untuk mendayagunakannya.

Seperti contohnya banyak keris sakti dan ampuh yang dimiliki orang pada masa sekarang, tetapi sayangnya pemiliknya tidak mengerti sisi kegaibannya, tidak mampu mendayagunakannya, dan tidak bisa merasakan tuahnya, akhirnya keris-keris itu hanya dianggap sama saja dengan keris-keris yang umum, padahal pada jaman dulu orang bisa malang-melintang di dunia persilatan atau berkuasa dan berpengaruh di pemerintahan dan di masyarakat hanya dengan pendampingan keris yang tidak terlalu sakti.

Pada jaman sekarang ini kadangkala kita mengetahui ada tokoh-tokoh tertentu orang kaya atau pejabat yang memiliki keris dan masih suka menjalankan ritual-ritual spiritual. Seringkali kita memandang sinis perilaku mereka dan menyamakannya dengan perilaku klenik, atau ada juga yang menganggapnya sebagai pesugihan.

Tetapi satu hal yang tidak kita sadari, yaitu bahwa perilaku mereka itu menunjukkan bahwa mereka percaya terhadap "sesuatu" yang lain yang tidak semuanya bisa dinalar, dan "sesuatu" itu bisa mendatangkan keberuntungan (hoki), tetapi bisa juga mendatangkan kesulitan, dan mereka mau untuk tetap menjalani tatalaku untuk menjadikan kegaiban dari "sesuatu" itu menyatu menjadi kebaikan baginya, sekalipun perilakunya itu dikatakan klenik.

Banyak orang-orang kaya, pejabat dan penguasa yang sukses berkuasa dan berwibawa dengan pendampingan keris-keris yang sebenarnya tidak terlalu ampuh bertuah, tetapi karena mereka meyakininya (mengsugesti dirinya sendiri) dan mau menyatukan diri dengan benda-benda gaibnya (ditambah bimbingan "orang pinter") mereka benar bisa sukses.

Dan dalam hal kepemilikan keris, sugesti keyakinan mereka telah menyatukan mereka dengan keris-keris mereka. Mereka juga membuka diri terhadap hal-hal gaib, peka rasa dan tanggap firasat, insting mereka tajam, sehingga dengan adanya pendampingan keris-keris mereka, mereka mendapatkan banyak ide dan ilham yang mengarahkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah pada kesuksesan dan mereka juga tanggap firasat (peringatan) yang menjauhkan mereka dari perbuatan-perbuatan dan kejadian yang dapat mengakibatkan kesulitan.

Jadi mengenai kegaiban dan tuah keris, intinya adalah kemampuan si manusia pemilik keris itu sendiri untuk bisa mendayagunakan kegaiban keris-kerisnya dan dibutuhkan peka rasa dan firasat untuk bisa merasakan manfaat dari kebersamaan keris-kerisnya. Rahasia sukses orang-orang tersebut bersama kerisnya dapat menjadi contoh untuk kita tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dengan keris-keris kita.


Pada jaman sekarang ini sebaiknya kita tidak terbawa-bawa pengkultusan keris. Kepemilikan keris jangan dipandang sebagai perilaku berhala, dan kita sendiri juga jangan memberhalakan diri dengan memelihara keris. 

Bila anda ingin memiliki / memelihara keris sebaiknya jangan karena anda mengharapkan tuahnya. Itu sama dengan perbuatan ngalap berkah, muja, berhala. Juga jangan sampai anda kecewa bila anda tidak bisa merasakan tuahnya.

Tanpa perlu kita berpikiran klenik dan berpamrih berhala, sisi kegaiban dan tuah keris adalah sesuatu yang menyatu dan ada di dalam sebuah keris. Memang kita perlu tahu manfaatnya, juga tentang kecocokkan keris itu dengan kita. Sesudah tahu manfaatnya, jangan lagi kita berpamrih kesitu. Kita hanya perlu menjaga hubungan batin yang baik dan penyatuan keris dengan kita sebagai pemiliknya, karena keris itu "hidup" dan bisa menjadi "teman perjalanan" kita. Dan dalam hal pemeliharaan dan pemberian sesajinya kita harus mengkondisikan batin kita untuk tidak melakukan itu sebagai persembahan seperti halnya pemujaan berhala. Apakah perilaku kita terhadap keris kita itu termasuk sebagai perbuatan berhala, kita sendiri yang harus bisa menilainya. Sebaiknya kita sendiri juga harus sadar dan rela melepaskan pamrih yang bersifat berhala.

Keris-keris pada umumnya, selain memancarkan aura / energi tuahnya, biasanya juga aktif memberikan ide dan ilham yang mengalir di pikiran si pemilik keris untuk mengarahkan jalan hidupnya. Kalau si pemilik keris mau dan bisa "mendengarkan"-nya dan menjalankannya, mereka benar bisa sukses. Tetapi kalau tidak peka, maka mereka tidak akan bisa mendayagunakannya, malahan pengaruh tuah keris-keris itu tidak akan bisa mereka rasakan. Dalam hal ini haruslah kita bisa membedakan bahwa sikap kebatinan dalam kepemilikan sebuah keris janganlah disamakan dengan sikap kebatinan dalam kepemilikan sebuah benda jimat, apalagi mengharapkan tuahnya bekerja sendiri seperti pesugihan.

Secara umum keris-keris dibuat adalah untuk tujuan mendampingi manusia pemiliknya, tuahnya dan kekuatan gaibnya sudah disesuaikan dengan si manusia pertama pemilik keris. Jika kita pada masa sekarang memiliki keris "bekas pakai" milik orang terdahulu, berarti kita harus memilih-milih keris yang cocok dengan kita dan harus juga berusaha menyesuaikan diri kita dengan keris itu, bukan sekedar mengharapkan keris itu mengikuti kemauan kita dan memberikan tuahnya kepada kita. Secara umum tujuan keris dibuat dimaksudkan dengan pendampingannya masing-masing keris-keris itu akan memberikan tuahnya kepada manusia, dan untuk hasil kegaiban yang maksimal dalam pendampingan itu dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan si manusia dengan kerisnya (ada interaksi batin).

Sifat kejiwaan keris sama seperti orang tua yang memomong dan menjaga anaknya, atau bersifat mendampingi, sama seperti seorang teman dalam perjalanan. Bila si manusia pemilik keris, sebagai pihak yang "dimomong", mampu peka rasa, bisa mendengarkan bisikan kerisnya yang berupa ide dan ilham dan firasat (dan mimpi), maka orang itu akan dituntun kepada jalan / perbuatan yang mengantarkannya sukses sesuai jenis tuah kerisnya dan menjauhkannya dari kesulitan. Sesuai filosofi kejiwaan keris ini haruslah dipahami bahwa diciptakannya sebuah keris tidak ditujukan untuk menjadi benda berhala, atau menjadi jimat pesugihan, dsb, dan sifat kejiwaan sebuah keris tidak mendorong pemiliknya untuk memuja berhala atau mengagung-agungkan keris, dan keberadaan sebuah keris tidak bersifat klenik, tetapi sakral.

Semua perbuatan manusia adalah kehendaknya sendiri dan menjadi tanggung jawab si manusia itu sendiri. Keberadaan keris bersifat mendampingi, memberikan arahan supaya manusia melakukan perbuatan yang benar dan memberikan tanda peringatan rasa firasat (dan mimpi) bila akan terjadi kejadian yang tidak mengenakkan supaya manusia pemiliknya tidak melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan kesulitan.

Sifat kejiwaan yang seperti itu tidak kita dapatkan dari benda-benda gaib lain. Umumnya orang-orang jawa jaman dulu peka rasa dan batin, sehingga akan mudah penyatuan kebatinannya dengan keris-kerisnya. Itulah sebabnya orang-orang jawa jaman dulu, yang peka rasa, lebih memilih keris daripada benda-benda gaib lain.

Karena itu sebaiknya dipahami, jika kita mempunyai sebuah keris, apapun jenis keris dan tuahnya, untuk mendapatkan kegaibannya yang maksimal dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan kita dengan si keris (ada interaksi batin), bukan sekedar memiliki / menyimpan keris seperti jimat yang hanya diharapkan tuahnya saja, jangan mengharapkan kerisnya akan bekerja sendirii memberinya berkah.

Karena itu jika kita merasa tidak bisa bersikap seperti contoh orang-orang di atas yang bisa peka rasa dan firasat dan bisa menyatukan dirinya dengan keris-kerisnya, kita tidak bisa "mendengarkan suara kerisnya"  dan tidak mau menjalankan tuntunan yang diberikannya kepada kita, sebaiknya janganlah kita memiliki keris, lebih baik kita memiliki benda-benda gaib lain saja sebagai jimat ampuh untuk keselamatan, kesuksesan dan keberuntungan. Lagipula umumnya keris-keris tidak begitu terasa keampuhan tuahnya dibandingkan benda-benda jimat. Tetapi bagi orang-orang pemiliknya yang bisa peka rasa dan bisa menyatukan batinnya dengan kerisnya, dalam kehidupannya kerisnya itu akan bertuah melebihi yang bisa diberikan oleh benda-benda gaib lain.



Pada jaman dulu keris-keris bertuah kesaktian dan kewibawaan adalah keris-keris "bergengsi" yang sangat diinginkan orang untuk dimiliki, karena pada masa itu kehidupan manusia kental berhubungan dengan dunia kekuasaan dan kesaktian dan sering sekali berinteraksi dengan mahluk halus, baik yang bersikap bersahabat maupun yang mengganggu, secara langsung maupun tidak langsung. Keris-keris jenis itu dulunya ditujukan untuk kalangan ksatria dunia persilatan dan untuk para penguasa daerah, pejabat pemerintahan, kalangan bangsawan dan kerabat kerajaan. Tapi secara umum banyak orang menginginkan keris-keris jenis itu.

Tetapi pada jaman sekarang sudah terjadi pergeseran interest dimana orang memiliki keris hanya karena mengharapkan tuahnya saja, untuk keselamatan, kerejekian, kepangkatan dan kekayaan (
junjung derajat), yang dulunya keris-keris jenis itu kebanyakan dibuat untuk kalangan pengusaha, pedagang / saudagar dan tuan tanah, dan untuk kalangan rakyat biasa.

Karena itu pada jaman sekarang orang-orang yang mengagung-agungkan keilmuan gaib dan kesaktian akan menjadi kecewa bila kerisnya adalah keris kerejekian, dan sebaliknya,
orang-orang yang tidak bergerak di dunia kesaktian kadangkala kecewa jika kerisnya ternyata adalah jenis keris kesaktian yang dianggapnya tidak memberikan tuah-tuah kesuksesan duniawi / ekonomi yang lebih dibutuhkan orang pada jaman sekarang.

Mengenai keris-keris bertuah kerejekian, sebenarnya sifatnya relatif, tergantung pengertiannya.
Pada saat pembuatannya dulu memang ada jenis-jenis keris yang dibuat khusus untuk tujuan kerejekian, yang dibuat untuk kalangan saudagar, orang-orang kaya, tuan tanah, dan untuk rakyat umum. Tuahnya umumnya adalah untuk kejayaan perdagangan, penglarisan dan kesuburan.

Tapi pada masa sekarang tuah kerejekian ini lebih luas maknanya, bukan hanya berasal dari keris-keris khusus kerejekian, tapi juga dari keris-keris bertuah kewibawaan dan keris-keris bertuah lain, karena khodamnya bisa menyesuaikan dirinya dengan aktivitas manusia si pemilik keris, hanya saja bentuk dan sifat tuah kerejekiannya berbeda dengan keris-keris kerejekian, karena mengikuti sifat karakter isi gaibnya.

Keris-keris kewibawaan juga menunjang kerejekian. Bila pemiliknya adalah seorang pegawai keris-keris itu memberikan aura karisma wibawa dan bisa menunjang kepangkatan dan derajat. Jadi yang tuahnya bersifat kerejekian bukan hanya keris-keris yang khusus untuk kerejekian, tapi terutama adalah keris-keris yang sisi kegaibannya bersifat menunjang jalan kerejekian yang sesuai dengan jalan hidup / aktivitas pemiliknya dalam memenuhi kerejekiannya.


Banyak keris-keris (dan tombak) bertuah kesaktian sosok gaibnya akan tetap berdiam di dalam kerisnya untuk menjadi khodam senjata tarung, dan pasif, tidak aktif berfungsi, hanya diam saja menunggu untuk diperintah secara khusus, jika pemiliknya bukanlah orang yang aktif bergerak di dunia ksatriaan. Tetapi sebagian lainnya ada yang bisa beradaptasi dengan manusia pemiliknya yang baru dan akan keluar dari kerisnya mendampingi si pemilik keris dimana saja dia berada, walaupun kerisnya ditinggal di rumah, untuk
memberikan fungsi perlindungan gaib, jika si manusia pemiliknya juga menunjukkan penyatuannya dengan kerisnya.

Tetapi keris-keris bertuah kesaktian itu juga dapat memberikan tuah lain yang dibutuhkan orang pada jaman sekarang, jika tahu caranya. Begitu juga dengan keris-keris bertuah kerejekian, dapat juga disugestikan untuk memberikan tuah kesaktian, kewibawaan atau perlindungan gaib. Tetapi karena tuah-tuah lain tersebut tidak sejalan dengan tuah aslinya, tidak sesuai dengan tujuan keris itu dibuat, maka sebaiknya mengsugestikannya hanya sekali saja, bukan disugestikan
untuk setiap hari memberikan tuah-tuah lain tersebut.
Misalnya :
- kita bisa mengsugestikan keris-keris kita yang berkarakter halus, yang bertuah pengasihan / kerejekian dan
  kesepuhan untuk memberikan tuah kewibawaan hanya untuk keperluan ketika kita akan menemui seseorang
  supaya kita tidak disepelekan, atau kita mintakan tuah kewibawaan yang bersifat jangka panjang dengan
  mengsugestikannya untuk memberikan kita aura kewibawaan hanya dengan cara sekali saja memintanya
  membungkus kita dengan aura kewibawaan yang bungkus auranya itu bersifat jangka panjang.
- kita bisa mengsugestikan keris-keris kita yang berkarakter keras, yang bertuah kesaktian, kewibawaan atau
  penjagaan gaib, untuk memberikan tuah pengasihan dan kerejekian, hanya  dengan cara sekali saja
  memintanya membungkus kita atau tempat usaha kita dengan aura pengasihan dan kerejekian yang
  bungkus auranya itu bersifat jangka panjang
, supaya hubungan sosial dan jalan kerejekian kita baik.

Dalam hal mengsugestikan tuah yang berlawanan / tidak sejalan dengan tuah asli keris di atas, misalnya keris-keris berkarakter halus disugestikan untuk memberikan aura kewibawaan, atau keris-keris berkarakter keras disugestikan untuk memberikan aura pengasihan / kerejekian, sebaiknya sugestinya dilakukan hanya untuk keperluan tertentu saja,  tetapi jika aura kewibawaan atau pengasihan itu diinginkan bersifat jangka panjang, maka kerisnya disugestikan (sekali saja) untuk memberikan bungkus aura kewibawaan atau pengasihan / kerejekian yang bersifat jangka panjang, bukan mengsugestikan khodamnya untuk setiap hari memberikan aura kewibawaan atau pengasihan / kerejekian yang berlawanan dengan tuah aslinya, karena itu akan dapat merubah kepribadian khodamnya.

Untuk keperluan di atas akan lebih baik kalau kita minta kepada keris kita untuk diberikan pagaran gaib yang energinya mengandung hawa aura pengasihan atau
kewibawaan. Selama pagaran gaib itu masih ada maka aura pengasihan atau kewibawaan itu juga masih ada, sehingga tidak perlu kita setiap hari minta diberikan aura pengasihan atau kewibawaan. Kira-kira 6 bulan atau setahun kemudian kita bisa minta ulang diberikannya pagaran gaib lagi yang sama (pagarannya dibentuk ulang).

Untuk menambah pengetahuan tentang sifat-sifat gaib keris atau
khodam gaib secara umum, silakan dibaca tulisan berjudul  Khodam dan Kualitas Tuah.




  Keris Berhawa Aura Panas.

Hawa panas pada pusaka maksudnya adalah hawa panas dari aura yang ditimbulkan oleh sebuah pusaka, yang konotasinya dianggap bersifat negatif bagi manusia pemiliknya. Pada masa sekarang hawa aura panas keris menjadi salah satu faktor yang dominan menentukan apakah sebuah keris akan cocok untuk dimiliki oleh seseorang. Faktor lain yang dominan menentukan apakah sebuah keris akan cocok untuk dimiliki oleh seseorang adalah tajam atau tidaknya sifat energi kerisnya.

Keris-keris yang dimiliki oleh orang-orang jaman sekarang umumnya adalah keris-keris "bekas pakai", yaitu keris-keris bekas milik orang jaman dulu yang menerima langsung dari empu pembuatnya. Umumnya keris-keris tersebut kegaiban dan sifat-sifat karakternya sudah disesuaikan oleh empu pembuatnya dengan orang pemiliknya dulu. Karena orang-orang jaman dulu itu sifat karakternya belum tentu sama dengan orang-orang jaman sekarang, maka orang-orang jaman sekarang harus cermat untuk memilih keris-keris yang cocok untuknya, jangan sampai kepemilikannya atas sebuah keris justru menjadi kesialan baginya.
Uraian lengkapnya silakan dibaca dalam tulisan berjudul : Keris Berhawa Aura Panas.



  Keris Junjung Derajat.

Pada masa sekarang ada dikenal istilah Keris Junjung Derajat. Istilah itu, walaupun sudah umum dikenal di kalangan perkerisan, tetapi terutama dipopulerkan oleh kalangan "pedagang" untuk menaikkan nilai jual dan untuk menaikkan citra dari keris-keris dagangannya karena banyak orang yang ingin memiliki keris yang bisa mengangkat derajat / kepangkatan yang akan mengantarkan seseorang pada kekayaan dan kemuliaan.
Uraian lengkapnya silakan dibaca dalam tulisan berjudul : Keris Junjung Derajat.



  Keris Combong dan Keris Pamengkang Jagad.

Pada jaman sekarang ada ditemukan keris-keris yang memiliki retakan atau lubang memanjang di badan kerisnya. Retakan atau lubang memanjang itu terjadi secara alami, bukan dengan sengaja dibuat.
Secara umum di kalangan perkerisan, keris-keris tersebut sering dikatakan sebagai keris cacat,
atau tidak berkualitas, keris-keris yang dianggap tidak sempurna proses pembuatan / penempaan logamnya, ada juga yang menganggapnya sebagai keris yang tidak baik, yang akan memberikan pengaruh gaib yang tidak baik.

Adanya retakan atau lubang memanjang di badan kerisnya, jika itu terjadi pada keris-keris bertuah kerejekian dan kesepuhan, ada orang yang menyebut keris-keris tersebut sebagai  Keris Combong, sedangkan bila terjadi pada keris-keris bertuah kesaktian, kekuasaan dan wibawa, ada orang yang menyebut keris-keris tersebut sebagai  Keris Pamengkang Jagad.

Keris-keris yang memiliki retakan atau lubang memanjang di badan kerisnya secara teknis memang termasuk keris yang tidak sempurna penggarapannya, walaupun penyebab retakan atau lubang memanjang itu belum diketahui pasti penyebabnya. Tetapi apakah keris-keris itu adalah keris yang tidak baik, yang akan memberikan pengaruh gaib yang tidak baik, itu masih harus dikaji dan dibuktikan.
Uraian lengkapnya silakan dibaca dalam tulisan berjudul : Keris Combong dan Keris Pamengkang Jagad.



  Keris Tindih.

Umumnya orang-orang menginginkan adanya tuah yang melindunginya dari adanya gangguan / serangan gaib. Yang dimaksudkannya biasanya adalah gangguan / ancaman yang datangnya dari luar, tetapi tidak terpikirkan olehnya untuk melindungi dirinya sendiri dari ancaman / gangguan yang berasal dari dalam, yaitu dari benda-benda koleksinya sendiri.

Sehubungan dengan itu dalam dunia perkerisan jawa ada dikenal istilah Keris Tindih.

Yang dimaksud  keris tindih  adalah sebuah keris atau benda pusaka yang memberikan tuah, selain tuah pokok keris, juga memberikan tuah untuk meredam gangguan / keanehan gaib dan pengaruh negatif dari keris-keris atau benda-benda gaib lain selain keris.

Sebagian dari keris-keris lurus, terutama yang dulu dibuat di Jawa Tengah, merupakan keris tindih, yang mampu meredam gangguan / keanehan gaib dari jimat, pusaka atau sosok-sosok gaib lain di sekitarnya. Tuah dari keris tindih juga melunturkan (meredam) kegaiban dari ilmu gaib dan jimat / pusaka yang bersifat agresif dan menonjolkan kesaktian / kegagahan.

Uraian lengkapnya silakan dibaca dalam tulisan berjudul : Keris Tindih.



  Keris Kamardikan.

Keris Kamardikan adalah keris-keris yang dibuat pada jaman sekarang (keris-keris jaman kemerdekaan) untuk tujuan melestarikan seni perkerisan.

Filosofi, ritual
dan proses laku pembuatan dan bentuk-bentuk keris kamardikan sudah disesuaikan dengan tatacara dan kreasi manusia pada jaman sekarang, tidak sama lagi dengan keris-keris dan tatacara empu keris jaman dulu.

Pada jaman sekarang unsur gaib keris seringkali berbenturan dengan agama dan sikap berpikir manusia jaman sekarang yang tidak mau lagi dikait-kaitkan dengan yang bersifat gaib. Sebagian besar keris-keris kamardikan dalam pembuatannya sudah disesuaikan dengan pertimbangan manusia jaman sekarang, dan tidak lagi dilakukan dengan laku dan ritual yang serupa dengan cara empu-empu keris jaman dulu dalam membuat keris. Selain filosofi dan laku pembuatan keris yang berbeda, kematangan tempaan logam, bentuk-bentuk dapur dan pamor keris pun berbeda. Pada keris-keris kamardikan ada banyak sekali variasi model dapur dan pamor keris.

Keris-keris kamardikan dibuat untuk tujuan melestarikan seni perkerisan yang dalam pembuatannya sudah disesuaikan dengan pertimbangan kebijaksanaan manusia jaman sekarang yang tidak mau mengagung-agungkan benda mistik. Dengan maksud demikian keris-keris kamardikan diharapkan bisa dinikmati sebagai hasil karya seni yang akan bisa diterima secara global dan bisa diperjual-belikan hingga ke mancanegara, karena tidak termasuk sebagai benda-benda sejarah / purbakala yang harus dilindungi dan dilestarikan, tetapi akan dianggap sebagai benda seni atau sebagai cinderamata.

Karena itu pada keris-keris kamardikan kita tidak bisa mengharapkan kegaiban yang sama seperti halnya keris-keris tua jaman dulu. Seringkali malah keris-keris kamardikan tersebut kosong tidak berpenghuni gaib, karena dalam pembuatannya memang hanya ditujukan untuk melestarikan unsur seninya saja, bukan unsur gaib atau mistisnya.

Uraian lengkapnya silakan dibaca dalam tulisan berjudul : Keris Kamardikan.



  Keris Tayuhan dan Keris Ageman.

Dalam dunia perkerisan jaman sekarang dikenal istilah adanya dua jenis keris, yaitu keris tayuhan dan keris ageman. Pengertian umum tentang keris tayuhan dan keris ageman adalah sebagai berikut :

Keris Tayuhan  adalah jenis keris yang tujuan pembuatannya lebih mengedepankan sisi isoteri keris (kegaiban sebuah keris)  dan sangat diharapkan tuahnya. Bentuk fisiknya tidak selalu bagus / indah dipandang dan tidak selalu memiliki atau dipasangi aksesories yang memperindah bentuknya. Jenis keris ini lebih diutamakan sisi kegaibannya, bukan
sisi keindahannya.

Keris Ageman  adalah jenis keris
yang tujuan pembuatannya lebih mengedepankan sisi keindahan bentuknya (tampak luar sebuah keris / eksoteri).  Jenis keris ageman biasanya memiliki atau dipasangi aksesories untuk memperindah penampilan fisiknya.  Walaupun tuahnya juga diharapkan, jenis keris ageman lebih diutamakan keindahan penampilannya.

Uraian lengkapnya silakan dibaca dalam tulisan berjudul : Keris Tayuhan & Keris Ageman.




Sebuah keris yang mengandung kekuatan gaib yang cukup tinggi, ketika sedang dibawa bepergian dengan diselipkan di pinggang atau di balik baju, kondisi cuaca yang sedang mendung tebal sekalipun, tidak akan ada hujan yang turun. Atau ketika sedang turun hujan, ketika si manusia pembawanya terpaksa harus berjalan menerobos hujan, maka hujannya akan segera berhenti. Keris tersebut juga dapat diperintahkan untuk meredakan hujan dan angin badai, atau memadamkan api yang sedang membakar sebuah rumah.

Kejadian di atas hanya terjadi dalam kondisi alami, tidak dengan sengaja
dilakukan untuk menguji sebuah keris. Tetapi bila seseorang memang sengaja ingin menguji kerisnya, mungkin kegaiban di atas dapat juga terjadi, bila sebelumnya si pembawa keris meminta kerisnya untuk menunjukkan kegaibannya.

Perwatakan sebuah keris tidak sama dengan
jimat batu yang adalah benda alam dan tidak sama dengan jenis tombak yang adalah senjata di lapangan, yang tidak masalah bila harus basah terkena hujan. Sebuah keris adalah bersifat pribadi. Sama dengan si pembawanya yang tidak ingin basah kehujanan, keris itu juga tidak mau basah kehujanan. Secara alami kegaiban keris itu akan menahan turunnya hujan, atau meredakan hujan yang sedang turun. Begitu juga bila terjadi kebakaran, Penulis belum mengetahui apakah pernah ada di dalam sejarah sebuah keris yang ikut gosong dalam peristiwa kebakaran. Biasanya tempat dimana keris itu berada akan selamat dari kebakaran.

Anda juga dapat memanfaatkan kegaiban keris anda, yang kesaktian gaibnya cukup tinggi, untuk membantu anda menyingkirkan angin dan hujan dalam acara-acara khusus, seperti acara hajatan pernikahan. Dengan demikian, dengan bantuan keris anda itu anda dapat berperan sebagai seorang pawang hujan untuk diri anda sendiri ataupun untuk orang lain.

Caranya :
Setelah keris dikeluarkan dari sarungnya, keris diangkat tegak ke atas kepala di depan wajah, dan sambil menunduk keris tersebut disentuhkan ke dahi. Dalam posisi itu kita berkata-kata kepada si keris, berkata-kata dalam hati tetapi ditujukan kepada si keris :
" Besok saya akan melangsungkan hajatan perkawinan. Bantulah saya. Singkirkan awan mendung dan hujan sehari itu sampai acaranya selesai, jangan ada turun hujan di acara hajatan saya, pindahkan ke tempat lain yang lebih membutuhkannya. Singkirkan juga gangguan gaib dan orang-orang yang berniat mengganggu sampai acaranya selesai ".

Kalau perlu, sugesti anda itu diucapkan beberapa kali untuk memastikan bahwa sugesti anda benar sampai kepada si keris. Sesudah itu berikanlah sesaji kembang telon atau meminyakinya dengan minyak cendana kupang sebagai tanda terima kasih atas bantuannya.



Tuah-tuah keris pada jaman sekarang, selain dipengaruhi oleh perkembangan jaman, juga dipengaruhi karakter kepribadian dan aktivitas sehari-hari
kehidupan manusia pemiliknya. Sebuah keris yang sudah cocok mengikut kepada seseorang akan menyesuaikan karakter dan tuahnya dengan pribadi manusia pemiliknya.

Sebagai contoh, si A memiliki sebuah keris pandawa ber-luk 5 yang aslinya adalah bertuah untuk karisma dan wibawa kebangsawanan, yang didapatkannya dari bapaknya. Bapaknya 
mendapatkan keris itu dari bapaknya lagi (kakek si A). Kakek si A mendapatkannya dari bapaknya lagi (kakek buyut si A). Keris itu menjadi pusaka keluarga yang diturunkan kepada anak - cucu keturunan.

Kakek buyut si A adalah seorang lurah pada jamannya dan masih memiliki garis keturunan kebangsawanan. Ketika keris itu masih menjadi miliknya, keris itu memberikan tuah wibawa dan kebangsawanan, sesuai status pribadinya di masyarakat, menjadikannya seorang lurah yang dicintai dan dihormati warganya.

Kakek buyut si A memberikan keris itu kepada anaknya, kakek si A. Kakek si A semasa hidupnya gigih berjuang melawan penjajah Belanda dan Jepang. Ketika keris itu bersamanya, keris itu memberikan tuah karisma wibawa yang membuat kakek si A dihormati kawan-kawannya, dan tuah kesaktian yang menjadikan kakek si A kuat tubuhnya dan penuh semangat pantang menyerah dan tak takut mati. Instingnya tajam bila akan ada serangan dari Belanda atau ada penghianat di lingkungannya. Sekalipun kakek si A pernah tertembak paha 
kakinya, tetapi tubuhnya tetap kuat dan cepat sembuhnya. 

Kakek si A memberikan keris itu kepada bapak si A. Bapak si A berpenghidupan sebagai seorang pemilik toko kelontong. Keris itu memberikan tuah karisma dan perbawa yang menjadikan dirinya disukai oleh banyak orang dan tokonya selalu dikunjungi orang.

Bapak si A memberikan keris itu kepada si A. Si A hidup sebagai seorang karyawan. Bersama si A keris itu memberikan tuah karisma, menjadikan si A tampak elegan di mata orang lain di sekitarnya. Penampilannya yang elegan membedakannya dengan orang lain di tempatnya bekerja, sehingga atasannya memperhatikannya dan mempunyai rasa hati tertentu kepadanya, lebih daripada kepada teman-teman kerjanya yang lain. 

Demikianlah, keris si A, sebuah keris yang sama, dapat memberikan bentuk tuah yang berbeda-beda, tergantung penyesuaiannya dengan karakter pemiliknya,
karena ada perbedaan kehidupan dan karakter kepribadian antara pemilik yang terdahulu dengan pemilik yang kemudian. Keris tersebut masih memberikan sifat tuah karisma dan wibawa kebangsawanan dan terkandung juga kesaktian di dalamnya, tetapi bentuk tuah yang diberikannya kemudian tidak selalu sama karena menyesuaikan dirinya dengan karakter dan kebatinan pemiliknya yang baru.


Sebagai catatan tambahan, semua keris jawa kegaibannya dapat juga disugestikan untuk membantu dalam hal lain, misalnya diminta menyembuhkan anggota keluarga yang sedang sakit (sakit biasa maupun sakit karena guna-guna, pelet atau santet), diminta membuatkan pagaran gaib untuk rumah dan orang-orang penghuninya, diminta membersihkan rumah dari keberadaan gaib-gaib negatif, membantu menjaga keteduhan rumah dan ketentraman keluarga, membantu melariskan dagangan, dsb.

Bagi anda yang memiliki benda-benda gaib (termasuk keris), khodam pendamping atau ketempatan khodam leluhur, ada beberapa panduan yang berguna untuk mengoptimalkan fungsinya, seperti yang tertulis dalam tulisan-tulisan berjudul :

 - Ilmu Tayuh / Menayuh Keris

 - Olah Rasa dan Kebatinan

 - Menyatukan Keris dgn Pemilik.

 - Mengoptimalkan Fungsi Keris 1

 - Khodam dan Kualitas Tuah

 - Pembersihan Gaib 3



Sebagai tambahan, tuah-tuah keris pada jaman sekarang juga ditentukan oleh kondisi fisik keris tersebut saat sekarang. Ada keris-keris tertentu yang karena kondisi fisiknya tidak utuh lagi, atau sudah keropos banyak tergerus oleh karat, sekarang tidak lagi memberikan tuah seperti tuah aslinya yang dulu diberikannya kepada manusia.

Misalnya ada sebuah keris yang dulu untuk kesaktian, kekuasaan dan wibawa,
karena kondisi fisik kerisnya sekarang termakan karat dan ada bagian yang patah, keris itu kemudian tidak lagi memberikan tuah kesaktian, kekuasaan dan wibawa, tetapi memberikan tuah kesaktian saja. Dan keris itu hanya akan berfungsi jika dia merasa dibutuhkan, merasa dipelihara, dan ditugaskan secara khusus oleh pemiliknya. Selain itu dia hanya akan berdiam diri saja menunggu untuk diperintah.

Contoh lainnya adalah seperti di bawah ini, contoh sebuah keris milik Penulis, pemberian dari seorang teman, yang aslinya dulu adalah bertuah untuk kesaktian, karisma dan kesepuhan. Karena kondisi fisiknya sekarang sudah sangat keropos termakan karat, tuah yang
sekarang diberikannya adalah tuah pengasihan.

Ketika keris itu ditanyakan kepada ahli-ahli perkerisan, biasanya akan disepelekan, karena bentuknya sudah keropos, tidak bagus lagi, dan tidak ada aura wibawanya. Tetapi isi gaib keris itu berterima kasih karena kerisnya dirawat, makanya tuahnya sekarang adalah kasih sayang (pengasihan), dan tuahnya bagus dan kuat.

Untuk keris-keris jenis ini, walaupun tuahnya sekarang untuk pengasihan, tetapi keris itu aslinya bukanlah untuk pengasihan (perwatakan aslinya bukan untuk pengasihan). Karena itu untuk sesajinya jangan diberikan minyak melati atau minyak kembang lain. Untuk sesajinya cukup diberikan kembang telon saja atau diolesi dengan minyak cendana saja di badan kerisnya.





 >> Tuah Keris Jaman Sekarang 2








Comments