Status Keris  dan  Kelas Keris   


Filosofi, Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa.  




Status Keris dan Kelas Keris di Dunia Manusia 



Mungkin awalnya sebuah keris hanyalah sebuah senjata tikam dan sabet saja. Tetapi kemudian orang membuat keris mengandung kegaiban di dalamnya, menjadi senjata yang berbeda dibanding jenis senjata lain, memiliki kegaiban sebagai senjata tarung, sebagai alat keselamatan dari serangan gaib, sekaligus juga sebagai pusaka dan berkah dari Dewata.

Seiring perkembangan jaman, di pulau Jawa khususnya, pada jamannya,
selain faktor kegaibannya, sebuah keris berkembang menjadi lambang status dan derajat orang pemiliknya yang oleh empu pembuatnya dibuat khusus untuk orang si pemilik keris, lebih daripada sekedar sebuah senjata tarung. Fisik keris, kegaiban / tuah dan tingkat kesaktiannya oleh si empu disesuaikan dengan kondisi si pemesan sesuai batas kemampuan si empu. Bila keris hanya menjadi sebuah alat kegagahan, hanya menjadi sebuah senjata tarung atau senjata tikam saja tidak mungkin keris akan dibuat sangat indah bentuknya atau beraksesoris mewah bila akhirnya hanya menjadi sebuah senjata pembunuh yang berlumuran darah.

Di dalam masyarakat Jawa keris tidak ditampilkan sebagai lambang kegagahan dan keberadaannya juga tidak ditonjolkan. Keris dikenakan dengan diselipkan di belakang pinggang, tetapi yang bentuknya kecil biasanya dikenakan di depan, dibalik baju (tidak kelihatan). Sangat tidak elok (dianggap sombong tidak tahu tatakrama) bila seorang Jawa menonjolkan kerisnya dalam kehidupan sehari-hari, karena sesuai filosofinya, yang sakti itu seharusnya adalah orangnya, bukan kerisnya. Dalam kondisi bertarung / berkelahi pun kerisnya tetap dikenakan di belakang pinggang, karena akan mengganggu pergerakan tangan dan badan jika dikenakan di depan.

Pada awalnya, di tanah Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur) keris diciptakan hanya untuk tujuan
kesaktian, untuk memberikan tuah perlindungan gaib dan untuk wibawa kekuasaan. Keris adalah sebuah benda yang menjadi kebanggaan masyarakat pada umumnya dan juga menjadi lambang status / derajat pemiliknya. Keris menjadi "keharusan" untuk dimiliki oleh para pejabat, baik raja, keluarga kerajaan dan bangsawan, orang-orang kaya, para senopati sampai prajurit (prajurit biasanya menggunakan jenis tombak), adipati / bupati sampai lurah desa. Di kalangan masyarakat umum-pun hampir semua orang laki-laki ingin memiliki keris, terutama mereka yang memiliki ilmu beladiri dan orang-orang tua yang menghayati spiritual kejawen.

Di pulau Jawa khususnya, pada jamannya, keris berkembang menjadi lambang status dan derajat pemiliknya, lebih daripada sekedar sebuah senjata tarung. Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi di masyarakat mengenai  tatacara mengenakan keris dan mengenai jenis-jenis keris yang boleh dimiliki oleh seseorang.
- Seorang yang bukan ningrat tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang ningrat.
- Seorang rakyat biasa tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang lurah.
- Seorang lurah tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang bupati.
- Seorang senopati tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang raja.
- Seorang raja juga tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang senopati
.

Kehormatan pribadi seseorang bukan hanya ditentukan oleh status keningratan atau jabatan, kemewahan atau kekayaan, tetapi ditentukan juga oleh kepantasannya dalam berperilaku dan berpenampilan, kepantasannya dalam menempatkan diri di dalam pergaulan dan di masyarakat, dan kepantasannya dalam mengenakan busana dan pusaka, sesuai derajatnya masing-masing.

Keris berkembang menjadi bersifat pribadi, menjadi lambang derajat pemiliknya.
Bila ada seseorang memiliki keris yang derajatnya lebih tinggi dari derajat dirinya di masyarakat, orang itu tidak akan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Biasanya akan dipersembahkannya kepada orang lain yang pantas untuk memilikinya. Begitu juga b
ila seseorang memiliki keris yang peruntukkannya untuk kelas derajat yang lebih rendah, biasanya akan diberikannya kepada orang lain yang lebih pantas untuk memilikinya.

Keberadaan sebuah keris bersifat pribadi. Keris menjadi lambang kehormatan pribadi dan harga diri seseorang. Keris diakui sebagai sesuatu yang menyatu dengan pribadi pemiliknya, sehingga sebuah keris milik seseorang akan sangat dihormati, sama seperti menghormati manusia pemiliknya, sehingga keris seseorang dapat diterima dan diakui untuk melambangkan kehadiran seseorang sebagai pengantin pria yang berhalangan hadir dalam acara pinangan atau perkawinan, atau mewakili kehadirannya dalam acara penting kekeluargaan, dan keris seorang raja dapat mewakili kehadiran sang raja dalam acara kenegaraan.

Keris menjadi kelengkapan "wajib" untuk dikenakan sebagai busana kehormatan dalam acara-acara resmi kenegaraan, kekeluargaan, perkawinan, dan acara-acara ritual kerohanian, seperti acara ruwatan, selametan, bersih desa, dsb. Dan dalam setiap acara formal, seseorang yang terpandang atau berderajat tinggi akan jatuh martabatnya / kehormatannya jika menghadiri acara tersebut tanpa mengenakan keris.

Demikianlah, keris memiliki status tersendiri di masyarakat jawa dan menjadi unsur penting dalam budaya dan kehidupan sehari-hari, lebih daripada sekedar sebuah senjata tarung.
Dan seseorang lebih baik mati dalam pertarungan daripada membiarkan kerisnya dirampas oleh orang lain, karena kerisnya itu melambangkan harga diri dan kehormatan dirinya.

Sebuah keris, walaupun seseorang sudah memiliki banyak keris, karena bersifat pribadi, tidak akan begitu saja sebuah keris diberikan kepada orang lain. Sebuah kerisnya yang dihadiahkan kepada orang lain adalah sebuah bentuk penghargaan tertinggi darinya dibandingkan bentuk hadiah yang lain, sehingga seseorang yang menerima sebuah keris dari orang lain yang derajatnya tinggi akan sangat mempertinggi derajat kehormatan dirinya di mata umum, apalagi bila pemberinya adalah seorang raja.

Posisi dan status keris semakin tinggi bila sebuah keris berhubungan dengan raja atau kerajaan. Sebuah keris kerajaan yang dihadiahkan kepada seseorang karena jasa-jasanya kepada kerajaan, atau jasanya kepada raja dan keluarga raja, adalah bentuk penghargaan tertinggi kerajaan dibandingkan bentuk hadiah yang lain.

Dalam penobatan-penobatan pejabat kerajaan biasanya juga ada keris yang dianugerahkan kepada pejabatnya.
Keris-keris itu biasanya memiliki tanda khusus yang melambangkan status dan jabatan mereka di kerajaan dan biasanya memiliki hiasan-hiasan / simbol yang melambangkan derajat mereka. Karena itu seorang pejabat tinggi kerajaan biasanya minimal ia memiliki 2 keris. Yang satu adalah kerisnya pribadi dan satunya lagi adalah keris yang melambangkan status dan jabatannya di kerajaan. Dalam sehari-harinya ketika sedang bertugas, yang dikenakannya adalah keris jabatannya itu, sedangkan keris pribadinya hanya dikenakannya dalam acara-acara pribadi atau kekeluargaan saja.

Gajah Mada dinobatkan menjadi patih pada jaman raja Majapahit yang bernama Ratu Tribhuana Tunggadewi. Keris lurusnya yang bernama Surya Panuluh adalah sebuah keris pemberian dari raja Majapahit sebelumnya, Raja Jayanegara, sebagai lambang untuk dilihat oleh anggota kerajaan yang lain bahwa ia adalah seorang abdi kerajaan yang menerima kepercayaan penuh dari sang raja, mengemban kekuasaan dari sang raja dan apapun perintahnya dan tindakannya harus dipatuhi sama dengan perintah raja. Kerisnya menjadi tanda pengenal bahwa ia menerima anugerah itu dari raja Jayanegara.

Sebuah keris kerajaan yang dihadiahkan kepada kerajaan lain juga adalah sebuah bentuk penghargaan tertinggi dibandingkan bentuk hadiah yang lain. Kerajaan Singasari dan kerajaan Majapahit ketika menguasai nusantara banyak memberikan keris-keris cantik kepada kerajaan-kerajaan di wilayah kekuasaannya, sebagai lambang kekuasaan mereka, juga sebagai tanda kekeluargaan. Juga sepasang keris cantik dipersembahkan sebagai mas kawin untuk 2 orang putri kerajaan negeri Campa yang dipinang untuk dibawa ke tanah Jawa.


Pada jaman itu seorang empu keris adalah juga seorang spiritualis dan pemuka agama (baca: Keris dan Empu Keris). Karena itu sebuah keris yang diterima seseorang dari seorang empu keris akan sangat dihargai dan juga 'dikeramatkan', lebih daripada sekedar jimat dan senjata, karena berisi doa-doa keselamatan dan kesejahteraan dari seorang spiritualis / pemuka agama untuk si pemilik keris dan wahyu keris di dalamnya menjadi lambang diturunkannya restu Tuhan kepada si manusia pemilik keris.

Dengan demikian, lebih daripada sekedar sebuah senjata, keris bagi pemiliknya secara psikologis juga menjadi lambang dan sarana kerohanian mendekatkan hati dengan Tuhan (sesuai jalan kepercayaan dan keagamaan manusia saat itu). Karena itulah sang pemilik keris akan benar-benar menjaga dan memelihara kerisnya, bahkan akan meng-keramat-kannya, lebih daripada sekedar sebuah senjata atau jimat. Keris menjadi sarana mendekatkan hati dengan Tuhan dan juga menjadi sarana pemujaan kepada Tuhan. Karena itu seorang pemilik keris akan selalu menjaga kelurusan hati, tekun beribadah, menjaga moral dan budi pekerti dan sikap ksatria. Itulah juga sebabnya orang-orang yang hidup dalam dunia kejahatan, yang menjadi penyamun, perampok, dsb, orang-orang golongan hitam, biasanya tidak memakai keris, biasanya menggunakan senjata jenis lain.

Mengenai kelengkapan dan kemewahan hiasan / perabot keris adalah tergantung pada akan diberikan kepada siapa keris itu nantinya, tergantung pada status pribadi si pemilik keris di masyarakat. Selain kesanggupannya untuk membayar biaya pembuatan keris, status pribadi itulah yang menentukan kepantasan keris yang akan dikenakannya. Semakin tinggi status kedudukan sang pemilik keris, seharusnya semakin lengkap dan mewah hiasan kerisnya.

Lebih daripada sekedar sebuah senjata berkhodam, atau sebagai bagian dari kelengkapan busana seseorang, sebuah keris dibuat dengan mengikuti suatu filosofi dan pakem pembuatan keris yang tata aturannya tidak boleh dilanggar.

Masing-masing wahyu keris, wahyu dewa, begitu juga manusia, mempunyai kelas dan status sendiri-sendiri.

Keris beserta kegaibannya diciptakan dengan mengikuti tata aturan hirarki status dan kelas wahyu keris yang aturannya sama dengan status dan kelas wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, karena filosofi dasar sebuah keris dan tujuan spiritual tertinggi diturunkannya wahyu keris adalah untuk dipasangkan dengan wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia.
Dengan demikian dalam rangka pembuatannya masing-masing keris sudah disesuaikan dengan status si manusia calon pemiliknya di masyarakat,
sehingga hirarki status dan kelas dari wahyu keris dan wahyu dewa itu sejalan (baca juga: Dewa dan Wahyu Dewa).

Sesuai status pemiliknya di masyarakat yang kepadanya pembuatan kerisnya ditujukan, keris dan wahyunya mempunyai status dan kelas sendiri-sendiri sebagai berikut :

     1. 
Keris Pusaka Kerajaan.
Tingkatannya :
1. Keris Keraton,
    adalah keris-keris dan pusaka-pusaka bentuk lain (tombak, payung raja) yang
terkandung di
    dalamnya
apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton yang maksud dan tujuan pembuatannya    
    dikhususkan untuk nantinya dipasangkan dengan orang si penerima wahyu keraton, untuk
   
menjadi
lambang kekuasaan dan kebesaran sebuah keraton.
2. Keris / Pusaka Kerajaan,
    adalah keris dan pusaka-pusaka lain
yang bukan keris keraton, tidak
mengandung Wahyu Keraton,         tetapi oleh pemerintahan kerajaan diperlakukan seperti keris keraton, dijadikan lambang kekuasaan 
    dan
kebesaran
kerajaan atau diandalkan
untuk mengamankan kerajaan dari gangguan kerusuhan,
    pemberontakan atau serangan / gangguan
gaib.

Keris-keris tersebut di atas biasanya disimpan di dalam ruang khusus pusaka kerajaan dan tempatnya disendirikan, terpisah dari pusaka-pusaka yang lain dan baru akan dikeluarkan bila ada upacara-upacara kerajaan atau bila terjadi situasi yang mendesak dan berbahaya.

P
usaka kerajaan berbentuk tombak dan payung kebesaran, yang juga merupakan lambang kebesaran sebuah keraton biasanya diletakkan berdiri di belakang singgasana raja.

Dalam kategori keris
keraton termasuk juga, sesuai tingkatannya masing-masing, pusaka-pusaka yang menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran sebuah keraton kadipaten / kabupaten.


Keris Keraton  dan  Keris Pusaka Kerajaan  sulit membedakannya. Orang harus memiliki spiritualitas yang tinggi untuk bisa membedakan kandungan wahyu di dalam masing-masing keris untuk bisa membedakan mana yang adalah Keris Keraton dan mana yang bukan Keris Keraton tetapi dijadikan Pusaka Kerajaan dan diperlakukan sama seperti sebuah Keris Keraton.

Dalam pengertian Keris Keraton, pusaka-pusaka yang tujuan pembuatannya adalah khusus untuk menjadi lambang kebesaran sebuah keraton, terkandung di dalamnya Wahyu Keraton.

Keris keraton adalah keris keningratan yang paling tinggi tingkatannya dan bersifat khusus, hanya untuk orang yang memiliki wahyu keraton saja di dalam dirinya.

Keris Keraton tidak boleh dipakai oleh sembarang orang, termasuk walaupun ia adalah anak seorang raja. Hanya orang-orang yang sudah menerima wahyu keraton saja yang boleh memakainya, sehingga wahyu di dalam orang itu dan wahyu dari kerisnya akan mewujudkan sebuah sinergi kegaiban yang hasil kegaibannya tidak akan bisa disamai oleh jenis pusaka apapun.
(Baca : Wahyu Keraton Di Dalam Keris Jawa).

Contoh Keris Keraton adalah Keris Nagasasra dan Keris Sabuk Inten, sepasang keris yang menjadi lambang kebesaran keraton Majapahit.
Setelah masa kerajaan Majapahit berakhir dan kekuasaan pemerintahan berpindah ke kerajaan Demak, sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten juga ikut diambil dan dipindahkan ke Demak, dijadikan lambang kebesaran kerajaan Demak, tetapi sayangnya, di Demak itu wahyu kerisnya tidak bekerja.

Contoh pusaka yang dijadikan Pusaka Kerajaan adalah pusaka tombak Kyai Plered yang dijadikan pusaka lambang kerajaan Mataram, sebuah pusaka yang dulunya diberikan oleh Adipati Adiwijaya (Sultan Adiwijaya / Jaka Tingkir / Mas Karebet) kepada Sutawijaya sebagai bekal untuk mengalahkan Raden Arya Penangsang, yang kemudian mengantarkan Sutawijaya menjadi penguasa Mataram (Panembahan Senopati).

Contoh lainnya adalah Bende Mataram yang digunakan oleh kerajaan Mataram (Panembahan Senopati) untuk menaikkan semangat tempur prajurit Mataram, tetapi sekaligus ditujukan untuk merusak psikologis prajurit musuh, pada saat Mataram berperang melawan kerajaan Pajang (Sultan Adiwijaya).

Ada juga keris yang menjadi lambang serah-terima tahta kerajaan, yaitu sebuah keris yang diserahkan oleh sang raja kepada anaknya atau raja penggantinya ketika sang raja turun tahta. Penyerahan keris ini menjadi lambang bahwa sang raja sudah lengser, sudah menyerahkan tahtanya kepada orang yang kepadanya kerisnya itu ia serahkan. Keris ini juga bukan keris keraton, tetapi tergolong sebagai keris raja, dan biasanya kemudian oleh raja penggantinya akan disimpan dalam ruang pusaka kerajaan, menjadi keris pusaka kerajaan

     2.  Keris Raja.  
Keris raja ada 3 macam, yaitu :
  -  keris yang menjadi pegangan / piyandel sang raja sehari-hari  (bersifat pribadi dan dipakai oleh
     sang raja sehari-hari).

  -  keris yang merupakan keharusan untuk dimiliki oleh seorang raja (keris yang diterima oleh sang
     raja dalam acara serah-terima tahta kerajaan, atau keris yang harus dikenakan sang raja dalam
     upacara-upacara kerajaan).

  -  keris yang dipersembahkan oleh orang lain kepada raja.
Selain yang sehari-hari dikenakan oleh sang raja, keris-keris lainnya disimpan dalam ruangan pusaka kerajaan.

     3. 
Keris Keningratan.
Keris-keris ini adalah yang dulu secara khusus dibuat hanya untuk kalangan ningrat saja, bukan untuk orang umum, yang hanya boleh dimiliki oleh raja, keluarga raja dan kerabat kerajaan, bangsawan adipati / bupati dan anggota keluarganya (kalangan ningrat) dan keturunan mereka saja.
Selain mereka itu bahkan menteri kerajaan, panglima, senopati dan prajurit, tumenggung, demang dan lurah, dan orang-orang kaya, yang tidak memiliki garis kebangsawanan / keningratan dan bukan kerabat kerajaan, tidak boleh memilikinya, apalagi rakyat biasa.

Keris keningratan adalah turunan dari keris keraton (derajat yang lebih rendah daripada keris keraton), tetapi k
eris keningratan lebih bersifat umum, boleh dimiliki oleh siapa saja sepanjang dirinya adalah kalangan ningrat.
Ada jenis keris keningratan
yang memiliki bentuk / tanda tersendiri untuk mencirikan statusnya, seperti keris-keris berdapur nagasasra dan singa barong, keris-keris dan tombak ber-luk lima, keris pandawa, dan keris pulanggeni luk 5.
Keris-keris berdapur nagasasra hanya patut dimiliki oleh seorang raja dan anggota keluarga raja saja. 
Keris-keris berdapur singa barong untuk kelas di bawahnya, yaitu untuk adipati / bupati dan keluarganya.

     4.  Keris untuk menteri dan pejabat kerajaan, panglima, senopati dan prajurit.
Keris-keris ini (dan tombak) biasanya memiliki tanda khusus yang melambangkan status dan jabatan mereka di kerajaan dan biasanya memiliki hiasan-hiasan / simbol yang melambangkan derajat mereka.

     5.  Keris untuk orang-orang kaya, tumenggung, demang dan lurah
(yang bukan kalangan ningrat).
Biasanya memiliki hiasan-hiasan yang melambangkan derajat mereka.

     6.  Keris
untuk seorang panembahan / spiritualis / sesepuh masyarakat dan keris untuk seorang raja atau
          keluarga raja yang sudah mandito (meninggalkan keduniawian).
Biasanya ber-luk 7 atau 9.
Biasanya bentuknya sederhana dan tidak memiliki hiasan-hiasan mewah sesuai kondisi mereka yang sudah meninggalkan keduniawian dan kerisnya mengandung sifat kesepuhan.

     7.  Keris untuk ksatria dan rakyat biasa.
Biasanya tidak memiliki hiasan-hiasan yang mewah sesuai budaya dan kebiasaan mereka untuk merendahkan hati. 

Keris yang khusus dibuat untuk para ksatria, pesilat dan pendekar dunia persilatan biasanya sederhana bentuknya, tidak menunjukkan kesan angker, tetapi memiliki kesaktian gaib yang tinggi dan banyak yang mengandung energi gaib yang tajam. Keris-keris jenis ini biasanya aktif berinteraksi dengan kebatinan pemiliknya, walaupun kerisnya tidak dikeluarkan dari sarungnya.

Keris untuk rakyat biasa, sesuai status pemiliknya, biasanya sifat-sifat kerisnya tidak menonjolkan sifat-sifat kesaktian, kekuasaan atau wibawa, tetapi halus dan teduh untuk membantu ketentraman keluarga, kerejekian dan kesuburan. Keris untuk rakyat biasa biasanya pembuatannya dilakukan secara masal oleh sang empu, karena tidak bersifat pesanan khusus, dan yang melakukan finishing-nya adalah para cantrik-cantriknya.




Secara umum semua jenis keris di atas mengandung sifat-sifat wahyu wibawa dan derajat, spiritual dan kesepuhan yang masing-masing sifat wahyunya akan menyesuaikan dirinya dengan orang si pemilik keris, yang akan membantu mengangkat derajat orangnya sesuai jalan
kehidupannya masing-masing.

Tetapi keris-keris dalam nomor 1, 2, dan 3 di atas adalah keris-keris yang bersifat khusus, yang sifat-sifat khusus wahyu di dalamnya, wahyu keraton, kepangkatan dan derajat dan wahyu keningratan tidak bisa begitu saja diterima oleh semua orang yang menjadi pemilik kerisnya. Keris-keris itu hanya akan bekerja kegaibannya, baru akan menyatu dan memberikan tuahnya kepada orang-orang tertentu saja yang cocok untuk menjadi wadah wahyunya.

Secara umum pada masa sekarang keris-keris dalam nomor 1, 2, dan 3 di atas
sudah mewujud menjadi Keris Keningratan dan mau mengikut / dimiliki oleh seorang keturunan ningrat, tetapi hanya akan berlaku sebagai keris keningratan saja, jika orangnya tidak memiliki wahyu keraton, wahyu kepangkatan dan derajat atau wahyu keningratan di dalam dirinya, walaupun ia adalah seorang keturunan ningrat. Secara umum keris-keris itu adalah yang pada masa sekarang disebut Keris Keningratan , yaitu keris-keris yang bersifat khusus yang hanya patut dimiliki oleh orang-orang tertentu saja yang sesuai dengan tujuan keris-keris itu diciptakan, bukan untuk orang kebanyakan (baca juga : Keris Keningratan).

Walaupun sifat keningratannya ada tingkatan dan kelasnya sendiri-sendiri, secara umum keris-keris yang tergolong sebagai keris keningratan di atas hanya patut dimiliki oleh orang-orang ningrat atau keturunan ningrat saja, karena keris-keris itu tidak akan menyatukan dirinya dan memberikan tuahnya kepada orang-orang yang tidak sesuai dengan tujuan keris-keris itu diciptakan, yaitu orang-orang yang bukan keturunan ningrat.


Sejalan dengan yang sudah dituliskan di atas, keris-keris yang dibuat oleh para empu keris ada tingkatan-tingkatannya, ada kelas-kelasnya, yang sisi kegaiban kerisnya masing-masing tidak sama, karena disesuaikan dengan tujuan pembuatan kerisnya dan disesuaikan juga dengan status dan pribadi manusia calon pemiliknya, baik yang memiliki wahyu dewa dalam dirinya ataupun tidak.

Kemampuan para empu keris dalam membuat masing-masing jenis keris di atas dan kemampuannya dalam mendatangkan wahyu keris yang sesuai dengan jenis dan kelas kerisnya pun terbagi-bagi, menjadi ukuran kualitas seorang empu keris yang diterima dan diakui di masyarakat perkerisan, yaitu empu kerajaan, empu kelas menengah dan empu desa. Penentunya bukan semata-mata kemampuan pribadi sang empu keris dalam membuat keris, tetapi adalah kualitas wahyu dewa pada masing-masing empu keris.

Kualitas dan kelas wahyu dewa pada masing-masing empu menentukan setinggi apa kelas keris yang akan mampu dibuatnya dan setinggi apa kelas wahyu keris yang akan mampu didatangkannya.

Karena isi gaib keris jawa bersifat "wahyu", maka :
 - Empu desa tidak akan mampu membuat keris-keris yang isi gaibnya membawakan sifat-sifat wahyu
   keningratan
dan wahyu kepangkatan dan derajat, apalagi wahyu keraton.
 - Empu desa dan empu kelas menengah tidak akan mampu membuat keris keraton yang di dalamnya
  
terkandung wahyu keraton.






   Status Keris dan Kelas Keris di Dunia Gaib Perkerisan


Bukan hanya di dunia manusia, di dunia gaib khodam keris (wahyu keris) juga ada aturan hirarki status dan kelas gaib keris yang aturannya sama dengan status dan kelas wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, karena filosofi dasar diturunkannya
gaib wahyu keris adalah untuk dipasangkan dengan wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, sehingga hirarki status dan kelas dari wahyu keris dan wahyu dewa itu sejalan.

Sesuai status dan kelas wahyu keris di dunia gaib perkerisan, maka urutan keris-keris yang menonjol dalam menunjukkan penyatuannya dengan manusia adalah :

    1. Keris Keningratan.
Untuk kriteria ini Keris Keraton, Keris Pusaka Kerajaan dan Keris Keningratan secara umum disatukan penggolongannya sebagai Keris Keningratan, seperti keris-keris dan tombak luk 5, keris pandawa, keris pulanggeni luk 5, keris-keris berdapur nagasasra dan singa barong dan keris-keris keningratan lainnya, yang dalam pembuatannya ditujukan untuk dimiliki oleh seorang raja atau orang-orang yang memiliki status keningratan karena status keluarga / keturunan seorang raja / bangsawan.
Secara umum jenis keris keningratan ini hanya akan menunjukkan penyatuannya dengan pemiliknya yang adalah seorang keturunan raja, keluarga raja, para bangsawan, atau keturunan mereka (keturunan ningrat).
    2. Keris-keris bertuah wibawa kekuasaan.
    3. Keris-keris bertuah kewibawaan.
    4. Keris-keris bertuah kesaktian.
    5. Keris-keris bertuah kesepuhan.
    6. Keris-keris bertuah kerejekian.
    7. Keris-keris bertuah pengasihan.

Sesuai status dan kelas gaib keris di dunia gaib perkerisan itu kemampuan para empu keris dalam membuat masing-masing jenis keris dan kelas keris di atas pun terbagi-bagi sesuai kualitas masing-masing empu keris yang ditentukan berdasarkan kelas / tingkatan wahyu dewa yang sudah diterima oleh masing-masing empu keris, tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan pribadi manusia sang empu keris dalam membuat keris.

Dalam pendampingannya kepada manusia pemiliknya, jika seseorang memiliki beberapa / sekelompok keris yang mempunyai fungsi tuah yang sama, misalnya ada beberapa keris yang sama-sama mempunyai tuah untuk kekuasaan dan wibawa, atau sama-sama mempunyai tuah untuk kerejekian, maka keris-keris yang sama tuahnya itu yang lebih tua akan mewakili keris-keris yang lebih muda umurnya.

Sehubungan dengan tulisan di atas, mengenai bentuk penyatuan / pendampingan isi gaib keris dengan manusia pemiliknya, maka jika seseorang mempunyai beberapa buah keris, mungkin tidak semua gaib keris akan tampak mendampingi si manusia, mungkin hanya satu saja mewakili gaib keris yang lain, dan tidak semuanya menonjol dalam memberikan tuahnya kepada manusia, karena ada aturan hierarki status dan kelas gaib keris seperti tertulis di atas.


Secara umum pada masa sekarang, yang lebih menonjol menunjukkan penyatuannya dengan manusia adalah keris-keris yang berfungsi untuk penjagaan gaib, terutama didapatkan dari keris-keris keningratan dan yang bertuah untuk kekuasaan dan/ atau wibawa. Karena itu jika seseorang memiliki beberapa buah keris yang fungsinya berbeda-beda dan ingin semua keris memberikan tuah secara bersama-sama dan terkoordinasi, maka harus ada upaya dari si manusia untuk menyatu dan mengsugesti keris-kerisnya.

Jika seseorang mempunyai beberapa buah keris, sebenarnya masing-masing keris itu dapat memberikan tuahnya secara terkoordinasi sesuai jenis tuahnya masing-masing. Namun dalam pelaksanaannya tergantung juga pada tingkat penyatuan masing-masing keris dengan manusia pemiliknya.

Secara alami tingkat penyatuan masing-masing keris dengan manusia pemiliknya itu selain tergantung pada tingkat penyatuan masing-masing pihak secara hati dan batin, juga tergantung pada kecocokan sifat fungsi keris dengan aktivitas keseharian pemiliknya, sehingga seorang pemilik keris yang kesehariannya bekerja sebagai seorang karyawan, mungkin hanya kerisnya yang berfungsi kerejekian-pengasihan saja yang menonjol tuahnya, bukan yang bertuah kekuasaan dan wibawa.

Informasi lebih lengkap mengenai penyatuan keris dengan manusia pemiliknya dapat dibaca di : KHODAM.




-----------------



 >>  Wahyu Keraton Di Dalam Keris Jawa















Comments