https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/perawatan-keris-jawa/LOGO1.jpg
  

   Perawatan Keris Jawa

     dan Sesajinya.

       Filosofi, Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa.
 

Dalam budaya Jawa keris adalah sesuatu yang khusus di hati orang-orang Jawa, termasuk pada orang-orang Jawa yang tidak memiliki atau tidak mengerti seluk beluk keris. Itulah sebabnya banyak yang memperlakukan keris dengan cara yang “istimewa”,  terutama adalah perlakuan mereka dalam hal perawatan dan penyimpanan keris. Ini disebabkan oleh kepercayaan mereka tentang adanya kegaiban di dalam keris. Selain mengharapkan tuahnya, mereka juga berhati-hati supaya jangan sampai mereka sendiri menjadi celaka oleh keberadaan kerisnya itu. Keris akan mereka perlakukan dengan sangat hormat. Bahkan ada juga yang menyediakan satu kamar atau satu ruangan atau satu lemari di dalam rumahnya khusus untuk menyimpan keris atau benda-benda pusaka lain miliknya.

Pada jaman sekarang ini sebaiknya kita tidak terbawa-bawa pengkultusan keris. Kepemilikan keris jangan sama dengan kita berperilaku berhala, dan kita sendiri juga jangan memberhalakan diri dengan memelihara keris. 

Bila anda ingin memiliki keris sebaiknya jangan karena anda mengharapkan tuahnya. Itu sama saja dengan perbuatan ngalap berkah, muja, berhala. Juga jangan sampai anda kecewa bila anda tidak bisa merasakan tuahnya. Bila sekarang ini anda tidak memiliki keris, Penulis tidak menganjurkan anda memiliki / membeli keris. Tulisan ini lebih ditujukan untuk orang-orang yang sudah memiliki keris, untuk menambah pengetahuan perkerisan mereka dan bagaimana seharusnya mereka memelihara kerisnya itu.

Tanpa perlu kita berpikiran klenik dan berpamrih berhala, sisi kegaiban dan tuah keris adalah sesuatu yang menyatu dan ada di dalam sebuah keris. Memang kita perlu tahu manfaatnya, juga kita perlu tahu tentang kecocokkan keris itu dengan kita dan itu bisa dicaritahu sendiri dengan cara menayuhnya seperti contoh di tulisan yang berjudul : Ilmu Tayuh Keris. Sesudah tahu manfaatnya dan kecocokkannya, jangan lagi kita berpamrih kesitu. Kita hanya perlu menjaga hubungan batin yang baik dan menjaga penyatuan kita dengan keris kita karena keris itu "hidup" dan bisa menjadi "teman perjalanan" kita. Dan dalam hal pemeliharaan dan pemberian sesajinya kita harus mengkondisikan batin kita untuk tidak melakukan itu sebagai persembahan seperti halnya pemujaan berhala. Apakah perilaku kita terhadap keris kita itu termasuk sebagai perbuatan berhala, kita sendiri yang harus bisa menilainya. Sebaiknya kita sendiri juga harus sadar dan rela melepaskan pamrih yang bersifat berhala.

Jadikanlah mereka sebagai teman dari alam gaib. Dengan demikian kita juga dituntut untuk menjadi teman bagi mereka, diharapkan kita juga memperhatikan mereka dan bisa secara batin berinteraksi dengan mereka. Jangan kita sekedar menginginkan tuahnya saja yapi kita melakukan apa-apa sebagai bentuk perhatian kita kepada mereka.

Jangan mengkondisikan hati dan pikiran kita untuk bergantung kepada tuah mereka. Tuah dari khodam atau benda gaib adalah sesuatu yang intrinsik ada dari keberadaan mereka, sama seperti teman seperjalanan yang memberikan bantuan dan perhatiannya kepada kita. Sesudahnya kita tidak perlu bergantung kepada tuah mereka.

Jangan kita pasif menunggu dan berharap mereka akan bekerja sendiri memberikan tuahnya seolah-olah tuah mereka sama dengan tuah pesugihan, karena seharusnya yang bekerja, yang sakti, yang ampuh bertuah adalah diri kita sendiri. Mereka akan membantu melengkapi kekurangan kita, jangan malah kita yang bergantung kepada tuah mereka. Jadi kita sendiri harus tetap bekerja. Mereka bersifat membantu kelancaran dan keberhasilan usaha dan pekerjaan kita dan membantu menjauhkan kita dari kesulitan. Di sisi lain kita sendiri harus selalu bisa peka rasa untuk selalu bisa "mendengarkan" bisikan komunikasi dari mereka dalam bentuk ide dan ilham yang mengalir di dalam pikiran kita (dan mimpi) dan tanggap firasat, peka sasmita, dan waspada jangan sampai kita sendiri yang masuk ke dalam kesulitan.


Dalam tulisan berjudul  Kekhawatiran Melihat Gaib  Penulis sudah menuliskan bahwa sebenarnya hubungan manusia dengan mahluk halus hampir sama dengan hubungan manusia dengan binatang, atau hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Ada banyak manusia yang suka berkomunitas, bergaul dekat dengan sesamanya, saling menghormati, memberi dan menerima, saling memberi manfaat / bantuan adalah sesuatu yang umum dalam kehidupan mereka, tetapi ada juga yang lebih suka hidup sendiri, menyendiri. Ada juga manusia-manusia yang hanya ingin bergaul / berkomunitas dengan sesamanya saja, membentuk kelompok sendiri.

Ada banyak manusia yang suka memelihara binatang, dan ada banyak binatang yang suka berhubungan dekat dengan manusia dan akan mengikut kepada manusia bila si manusia bersikap bersahabat atau menunjukkan sikap memperhatikan mereka, apalagi bila si manusia memelihara mereka, walaupun awalnya mereka adalah hewan liar. Misalnya kucing, anjing, burung, ayam, hewan ternak, dsb. Hewan-hewan itu memberikan manfaat bagi manusia (tuah) secara langsung maupun tidak langsung, dan manusia bisa mengambil manfaat dari keberadaan mereka.

Begitu juga mahluk halus. Ada yang suka hidup dekat dengan manusia, biasanya bangsa jin yang sering menjadi pendamping atau prewangan, atau mereka tinggal di dalam rumah atau di sekitar rumah manusia yang seringkali keberadaannya tidak disadari oleh manusia, apalagi bila si manusia menghormati keberadaan mereka, suka memberi sesaji atau merawat tempat tinggal mereka (termasuk mahluk halus yang menjadi khodam jimat / pusaka). Bahkan ada banyak mahluk halus yang bertempat tinggal di dalam tubuh manusia (ketempatan mahluk halus).

Tetapi ada juga manusia yang memilih menjadi mahluk liar dan menjadi ancaman / gangguan bagi orang lain di luar kelompoknya. Juga ada jenis hewan tertentu yang berbahaya bila manusia mendekatinya, atau bila manusia melewati tempat tinggal / sarangnya, seperti ular dan hewan liar lainnya. Begitu juga mahluk halus. Ada di antara mereka yang berwatak keras dan tidak bersahabat dengan manusia, bisa menyerang manusia sewaktu-waktu, terutama di tempat-tempat yang sepi dan jauh dari permukiman manusia, yang biasanya adanya keberadaan manusia di lingkungan tempat tinggalnya akan dianggap mengganggu. Ada juga mahluk halus tertentu yang sulit ditebak jalan pikirannya, yang harus diwaspadai, karena sewaktu-waktu naluri / instingnya membuat mereka menyerang manusia.

Jadi sebenarnya hubungan manusia dengan mahluk halus / khodam hampir sama dengan hubungan manusia dengan binatang, atau hubungan manusia dengan manusia lainnya. Ada yang harus diwaspadai, ada juga yang bersahabat. Hanya saja karena berbeda jenis, berbeda alam dan tidak familiar, ditambah banyak manusia melebih-lebihkan cerita, menyebabkan banyak muncul dogma dan pengkultusan.

Karena itu jadikanlah mereka sebagai teman dari alam gaib. Dengan demikian kita harus merubah sikap berpikir kita, yaitu bahwa dalam kita memberikan perawatan dan sesaji itu adalah bentuk perhatian kita kepada benda-benda dan sosok-sosok halus yang sudah bersama kita, bukan sebagai sesaji / upeti persembahan kepada sesosok mahluk halus, dan jangan melakukannya dengan sikap batin seperti itu. Dengan demikian kita telah menempatkan diri kita tidak di bawah kungkungan perilaku dan pemikiran berhala. Kita sendiri juga harus rela melepaskan pamrih yang bersifat berhala, supaya kita tidak terjerumus dalam perbudakan dan kesesatan (perbudakan pamrih / hasrat dan kesesatan kita sendiri).

Pada masa sekarang sebaiknya kita merubah sikap berpikir kita, perlakukanlah keris sebagai teman hidup / pendamping perjalanan hidup kita dan jadikanlah pemeliharaan keris dan pemberian sesaji sebagai bentuk perhatian kita kepada si keris, sama seperti kita memperlakukan dengan baik seorang tamu / teman dan menyuguhkan makanan dan minuman kepadanya, atau seperti kita menawarkan rokok kepada teman seperjalanan.

Walaupun arti sesaji bagi para mahluk halus adalah sama dengan makanan dan minuman bagi manusia, tetapi sekalipun kita memberikan sesaji banyak, tetap saja semua sesaji dari kita itu tidak mencukupi semua kebutuhan "makan dan minum" mereka. Karena itu mereka memandang semua sesaji dari kita adalah bentuk perhatian kita kepada mereka, sehingga dengan bentuk pemberian sesaji itu kemudian terjalin rasa saling memberikan perhatian dan penghormatan, sedangkan kekurangan makan dan minum mereka, mereka sendiri yang akan mencari sendiri pemenuhannya.


Penulis sering menemukan keris-keris milik para pembaca yang pasif, belum aktif bertuah, belum memberikan penyatuannya dan tuahnya kepada manusia pemiliknya, padahal si pemilik keris berharap dengan ia memiliki benda-benda tersebut maka ia juga akan mendapatkan manfaat / tuahnya. 

Sekalipun kita sudah memiliki sebuah keris, jimat batu akik atau mustika, atau bahkan sudah mengkoleksi banyak, bukan berarti kita secara otomatis akan juga menerima manfaat dari keberadaan mereka. Mereka bersifat "hidup", sama seperti manusia dan mahluk lain. Seberapa baik interaksi kita dengan mereka dan seberapa besar rasa penyatuan dan perhatian kita kepada mereka (dan perhatian kita pada sesajinya) akan juga menentukan kadar antusias mereka membantu dan memberikan manfaatnya kepada kita. 

Apapun yang kita miliki sebaiknya kita rawat dan pelihara dengan baik seperti seharusnya. Sayang sekali kalau manfaatnya tidak kita dapatkan hanya karena kita mengabaikannya, atau hanya karena salah perawatan. Padahal untuk memilikinya kita sudah mengeluarkan biaya dan usaha yang cukup besar, dan keberadaannya juga cukup membebani kita, ditambah lagi kita juga sudah terlanjur berharap akan tuahnya. Karena itu berilah perhatian yang semestinya seolah-olah mereka adalah teman kita dari alam gaib, jangan diabaikan dan jangan salah perlakuan. Seberapa baik perhatian kita kepada mereka akan juga berdampak balik kepada kita.

Kalau kita sudah memiliki sebuah keris, kalau tuahnya memang diinginkan sebaiknya sesajinya juga rutin kita berikan, minimal sebulan sekali. Penulis sering sekali melihat keris-keris (termasuk milik para pembaca) yang khodamnya pasif tidak menunjukkan penyatuannya dengan si manusia pemiliknya, dan tidak bertuah (khodamnya tidak memberikan tuahnya kepada pemiliknya) hanya karena sesajinya tidak diberikan, atau karena bentuk sesajinya tidak tepat, padahal orangnya sangat mengharapkan tuahnya, apalagi orangnya juga membanggakan kerisnya itu sebagai benda bertuah. Karena itu kalau tuahnya memang diinginkan sebaiknya sesajinya juga rutin kita berikan, minimal sebulan sekali, jangan kita menginginkan tuahnya tapi kita sendiri tidak memberikan perhatian apa-apa kepada kerisnya.

Karena itu bila kita sudah memiliki keris, sebaiknya perawatan dan sesajinya diperhatikan supaya keris-kerisnya aktif membantu kita dan tuahnya kuat. Kalau kita juga peka rasa dan tanggap firasat, itu akan menambah antusias kerisnya dalam membantu kita.


Halaman ini dikhususkan untuk kepemilikan keris Jawa atau benda-benda pusaka lain seperti pedang dan tombak yang isi gaibnya sejenis dengan khodam keris jawa (khodamnya dari jenis gaib wahyu keris) yang pembuatannya sama dengan keris jawa.

Secara umum halaman ini berlaku juga sebagai alternatif perawatan keris Bali. Dari banyaknya pusaka-pusaka Bali milik pembaca yang isi gaibnya sejenis dengan khodam keris jawa Penulis mendapati bahwa tuah-tuahnya tidak aktif bekerja karena masih kurang tepatnya pemeliharaannya. Umumnya bentuk sesaji untuk keris di Bali berbentuk kembang, tetapi sayangnya, menurut penilaian Penulis pribadi, kembang-kembang itu kadar sisi kegaibannya masih kurang baik tidak seperti kembang telon (kenanga, kantil dan melati) yang sering digunakan di Jawa.

Secara keseluruhan Penulis menganjurkan, supaya tuahnya lebih aktif dan pusaka-pusakanya menjadi lebih bermanfaat bagi pemiliknya, semua benda gaib yang isi gaibnya sejenis dengan khodam keris jawa sebaiknya tatacara pemeliharaannya disesuaikan mengikuti isi tulisan di dalam halaman ini, terutama pada penggunaan minyak cendana kupang sebagai sesajinya

Untuk keris-keris Jawa / Bali dan keris-keris lain yang sisi perkhodamannya sama dengan keris jawa sebaiknya perawatan dan sesajinya mengikuti tulisan di halaman ini.

Untuk benda-benda gaib lain selain keris jawa, misalnya keris kamardikan, batu akik berkhodam, jimat rajahan, mustika, jimat-jimat dan khodam pendamping sebaiknya perawatan dan sesajinya mengikuti tulisan yang berjudul Sesaji.

Tentang itu bisa juga ditayuh seperti dicontohkan dalam tulisan berjudul Ilmu Tayuh Keris , anda tanyakan langsung kepada keris-kerisnya dan benda-benda gaib anda apakah sekarang ini tuahnya masih pasif, dan apakah nantinya sesudah perawatan dan sesajinya mengikuti tulisan itu (sebutkan juga cara perawatannya dan sesajinya) keris-kerisnya dan benda-benda gaib anda itu akan menjadi aktif bertuah, tanyakan juga pendapatnya tentang perbedaannya sebelum dan sesudah perawatannya mengikuti isi tulisan di halaman ini.

Untuk jenis keris kamardikan, biasanya filosofi dalam pembuatannya dan isi gaibnya tidak sama dengan keris jawa, sehingga dalam hal pemeliharaan dan sesajinya jangan disamakan dengan keris jawa, sesajinya sebaiknya diperlakukan sama dengan jenis benda gaib lain selain keris jawa. Untuk pemeliharaan fisik kerisnya sebaiknya dibersihkan dengan minyak singer dan untuk sesajinya sebaiknya diolesi saja tipis-tipis dengan minyak misik putih di bagian ganja dan dapur kerisnya atau minyak misik itu bisa dicampur dengan minyak singer (silakan dibaca juga tulisan berjudul : Keris Kamardikan).


Selain pemeliharaan fisiknya, penghormatan kita kepada benda-benda pusaka kita dalam bentuk sesaji sangat menentukan aktif tidaknya pusakanya memberikan tuahnya kepada pemiliknya. Sekalipun kita sudah rajin memelihara fisiknya dan rajin memberikan sesajinya, seandainya tatacara pemeliharaannya dan bentuk sesajinya tidak sesuai dengan yang dikehendaki oleh isi gaibnya, itu akan berpengaruh juga pada aktif tidaknya pusakanya kepada manusia pemiliknya. 

Karena itu bila kita ingin benda-benda pusaka kita itu lebih bermanfaat untuk kita, yang bukan sekedar menjadi benda-benda pajangan / koleksi saja, sebaiknya pemeliharaan fisik dan sesajinya kita lakukan dengan disesuaikan pada keinginan isi gaibnya, bukan sekedar mengikuti tatalaku tradisi atau mengikuti keinginan kita sendiri. Atas benda-benda pusaka kita sebaiknya lebih dulu dicaritahu kebenarannya dengan cara menayuh keris apakah benda-benda pusaka kita sudah aktif bertuah dan apakah masih ada tatalaku pemeliharaan dan sesaji yang masih kurang tepat, dan apakah jika tatalaku pemeliharaan fisiknya dan sesajinya disesuaikan dengan mengikuti isi tulisan di dalam halaman ini pusaka-pusakanya menjadi lebih aktif bertuah.

Perlakuan perawatan keris jawa sebagai berikut :


    1Penjamasan Keris dan Sesaji


Penjamasan Keris

Secara tradisional perawatan keris dilakukan dengan cara yang khusus yang berbeda dengan cara orang memperlakukan benda-benda gaib lain. Yang dimaksud perawatan keris disini adalah perlakuan terhadap keris yang biasanya meliputi pemeliharaan fisik keris, penjamasan, dan pemberian sesaji. 

Banyak pemilik keris yang rajin melakukan penjamasan keris secara rutin, misalnya setiap bulan Suro atau Maulud, atau memberi sesaji seperti membakarkan dupa / kemenyan atau sesaji kembang setiap bulan sekali pada malam Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon. 

Bila anda ingin menjamas keris, bulan Maulud adalah waktu yang terbaik untuk menjamas keris. Secara spiritual bulan Maulud adalah bulan yang paling baik untuk semua keperluan yang bersifat sakral, seperti untuk ritual pembersihan diri, ruwatan nasib / sengkala, ritual selametan, syukuran, ritual bersih desa, menjamas pusaka, mandi kembang, berziarah, dsb.

Sebagian lain orang Jawa melakukan penjamasan keris pada bulan Sura (Suro).

Secara spiritual bulan Sura adalah bulan yang paling  tidak baik  untuk semua keperluan yang pengaruhnya bersifat jangka panjang, seperti untuk memulai usaha, pindah rumah atau perkawinan. Bulan Sura paling baik digunakan untuk upaya bersih diri dan lingkungan. Bulan Sura umumnya diisi dengan ritual bersih diri / ruwatan, membersihkan rumah dan pusaka, dsb (baca juga : Hari Baik - Hari Buruk).

Upaya bersih diri / ruwatan pribadi dapat dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan cara mandi kembang dan berdoa memohon supaya dilapangkan / dibukakan jalan hidup dan dijauhkan dari segala macam bentuk kesulitan (baca juga : Laku Prihatin dan Tirakat).  Sebaiknya juga dilengkapi dengan membersihkan rumah dan lingkungannya, baik yang bersifat fisik maupun gaib. Jika anda mengalami sakit / penyakit atau kesulitan yang berhubungan dengan gaib pembersihannya sebaiknya mengikuti isi tulisan yang bertema Pembersihan Gaib.

Penjamasan pusaka tidak termasuk sebagai sesaji, tetapi merupakan bentuk perhatian kita pada pemeliharaan fisiknya sebagai benda pusaka. Menjamas keris juga tidak harus dilakukan setiap tahun atau terlalu sering. Menjamas keris paling baik dilakukan pada bulan Maulud, dan bisa dilakukan 3 atau 4 tahun sekali, atau bahkan cukup sekali saja pada saat pertama memiliki keris tersebut, selebihnya tergantung pada kondisi kerisnya kotor berkarat atau tidak.

Bagi para pemilik pusaka, keris atau tombak, sebenarnya tidak ada keharusan terhadap pusaka itu untuk dilakukan penjamasan pada bulan Sura atau Maulud, tetapi cukup dibersihkan saja fisiknya dan diberikan sesajinya dan disugestikan supaya pusakanya memberikan bantuan (tuah) yang positif dan disugestikan supaya membantu membersihkan segala sesuatu yang bersifat negatif. Penjamasan pusaka pada bulan Sura atau Maulud adalah bersifat tradisi dalam rangka nguri-uri budaya, tetapi tidak bersifat keharusan. Hanya perlu dijaga saja jangan sampai pusakanya kotor atau karatan.

Khusus untuk keris-keris yang mempunyai lapisan emas / keemasan sebaiknya hati-hati dalam penjamasannya karena lapisan emas / keemasan itu bisa luntur / rusak terkikis oleh jamasan keris. Jangan asal menjamasnya dan penjamasnya sendiri harus sudah ahli dalam menjamas keris yang mempunyai lapisan emas / keemasan. Sebaiknya keris-keris seperti itu jangan terlalu sering dijamas.


Ada juga orang yang rajin menjamas kerisnya, selain karena tradisi, juga karena dalam penjamasan itu ada proses melumuri keris dengan warangan arsenik, yang walaupun beracun, tetapi berguna untuk membantu mengawetkan logam keris dan berguna untuk menonjolkan motif pamor pada badan keris, sehingga gambar pamor keris akan tampak kontras dan bilah kerisnya kelihatan lebih indah.

Sebagai sebuah senjata tarung pada jaman dulu keris-keris diwarangi dengan racun / bisa binatang atau racun dari tumbuh-tumbuhan beracun. Karena itu keris-keris jarang dikeluarkan dari sarungnya, kecuali untuk dijamas atau untuk diberikan sesajinya (sesajinya biasanya berbentuk pengasapan atau sesaji kembang). Di dalam perkelahian / pertarungan pun keris hanya akan digunakan bila benar-benar orangnya berniat membunuh lawannya atau ketika kondisi pertarungannya sangat menentukan apakah dirinya akan tetap hidup atau mati.

Pada jaman sekarang pewarangan keris sering menggunakan bahan arsenik yang berguna juga sebagai bahan perawat logam. Penggunaan arsenik sebagai bahan warangan akan membuat logam bilah keris menjadi hitam (menjadi lebih gelap), tetapi logam gambar pamor keris tidak ikut berubah menjadi gelap, sehingga gambar pamornya akan kelihatan menonjol putih / keperakan di atas bilah kerisnya yang berwarna gelap.

Dengan demikian penggunaan bahan arsenik itu dapat membantu menonjolkan motif pamor pada badan keris, gambar pamor keris akan tampak kontras dan keseluruhan bilah kerisnya akan kelihatan lebih indah. Tetapi penjamas keris di kota kecil atau di pedesaan tidak semuanya melakukan pewarangan keris dengan bahan arsenik, sehingga mungkin efek pewarangan kerisnya tidak sebagus yang menggunakan arsenik. Tetapi penjamas yang menggunakan arsenik ini pun harus sudah mahir menggunakannya, kalau tidak, maka bilah keris dan pamornya semuanya malah akan kelihatan hitam gelap.

Karena bahan warangan sifatnya beracun, maka serahkan saja urusannya kepada si penjamas keris, jangan kita sendiri yang melakukan pewarangan dengan arsenik. Dan setiap sesudah memegang keris sebaiknya kita segera mencuci tangan dengan sabun cuci pakaian (jangan sabun mandi karena kurang kuat kadar pembersihannya). Entah kerisnya diwarangi ataupun tidak, sebaiknya setiap sesudah memegang keris kita segera mencuci tangan, untuk kehati-hatian.

Mengenai penjamasan keris, sekalipun penjamasan keris bermaksud baik, tetapi sayangnya kebanyakan keris  'merasa'  tidak cocok dengan cara orang sekarang menjamas keris. Terlalu sering menjamas keris juga dapat mengikis logam keris. Sebaiknya setelah penjamasan itu ditanyakan kepada kerisnya  (seperti contoh dalam tulisan berjudul Ilmu Tayuh / Menayuh Keris ) apakah kerisnya merasa cocok dengan jamasannya. Jika kerisnya merasa cocok, berarti dilain waktu bisa dijamas lagi oleh penjamas yang sama, tetapi bila jawabannya tidak cocok, sebaiknya pada penjamasan berikutnya dicoba dijamas oleh penjamas yang lain.


Sesaji

Panjangnya waktu di dunia mahluk halus berbeda dengan panjangnya waktu di dunia manusia (silakan dibaca tulisan berjudul : Sukma di Alam Roh). Tetapi untuk mahluk halus yang sudah berada di dunia manusia, misalnya mahluk halus yang sering berinteraksi dengan manusia, atau yang menjadi khodam benda jimat dan pusaka atau khodam ilmu / pendamping, waktu bagi mereka di dunia manusia secara umum sudah sesuai dengan perhitungan waktu dalam kalender jawa, yaitu bersiklus 35 hari sekali. Karena itu ada orang yang rajin memberikan sesaji setiap bulannya setiap malam Jum'at Kliwon, atau Selasa Kliwon.

Dalam memberikan sesaji sebaiknya kita juga mengikuti kalender jawa itu, yaitu 35 hari sekali. Tetapi untuk mudahnya, sebaiknya dilakukan paling sedikit sekali saja setiap bulan. Lebih mudah kalau kita melakukannya misalnya setiap tanggal 1 - 10 setiap bulannya, supaya tidak lupa.

Sesaji diberikan paling sedikit sekali setiap bulan, bisa hari apa saja. Paling baik adalah hari atau malam Jum'at. Hari pasarannya bisa hari apa saja.

Sesaji untuk keris jawa dan benda-benda pusaka lain yang isi gaibnya sejenis dengan isi gaib keris jawa sebaiknya menggunakan sesaji yang bernuansa jawa, karena tidak semua keris menyukai sesaji bentuk lain. Sepengetahuan Penulis sesaji yang menjadi favorit bagi gaib keris jawa adalah kemenyan jawa, cendana kupang dan dupa. Tapi kalau sesaji-sesaji itu tidak ada, sesaji lain mungkin boleh juga.

Contoh sesaji yang sudah umum digunakan secara tradisional untuk keris jawa adalah sbb :

 
Kemenyan jawa.

Penggunaan kemenyan jawa sebagai sesaji adalah dengan cara dimasukkan ke dalam bakaran arang kayu, tetapi pada jaman sekarang kemenyan itu bisa langsung dinyalakan dengan korek api. Diusahakan supaya apinya tidak menyala, hanya berasap saja. Yang menjadi sesaji adalah asap bakarannya.


Contoh kemenyan jawa.



Setelah asapnya keluar, paling baik adalah bilah kerisnya diasapkan di atas kemenyan itu. Tapi boleh juga kerisnya diletakkan di dekatnya dan disugestikan bahwa bakaran kemenyan itu adalah untuk kerisnya.

Jika bilah kerisnya diasapkan di atas bakaran kemenyannya, sebaiknya posisi bilah kerisnya itu jangan terlalu dekat dengan bakaran kemenyannya, karena asap yang dekat dengan kemenyannya dapat memberikan endapan minyak lengket di bilah kerisnya.


Di pasaran Penulis ada menemukan kemenyan madu bermerk 555 yang sangat baik dan disukai oleh isi gaib keris jawa dibandingkan kemenyan jawa dari merk yang lain.

Kemenyan jawa memberikan pengaruh kegaiban yang besar pada keris jawa yang dapat juga membuat tuahnya lebih ampuh terasa dan aura wibawanya menjadi lebih menonjol keluar. Jadi kalau diinginkan kerisnya lebih terasa aura wibawanya dan lebih terasa keampuhan tuahnya sebaiknya sesajinya adalah bakaran kemenyan jawa. Hanya saja sekalipun jenis sesaji kemenyan ini efek pengaruh gaibnya besar, tetapi pada masa sekarang penggunaannya sangat tidak nyaman, karena bau asapnya kentara sekali dan akan dikatakan orang sebagai klenik.


Dupa.

Sesaji dupa disukai oleh banyak jenis mahluk halus secara umum, termasuk khodam keris jawa, keris kamardikan, bangsa jin, dedemit, dsb, selain yang dari jenis sukma manusia / leluhur.

Pada jaman dulu penggunaan sesaji dupa ditaburkan ke dalam bakaran arang kayu, tetapi di pasaran Penulis ada menemukan jenis dupa berbentuk kerucut dari sebuah merk, yang kotaknya berwarna merah lebih baik daripada yang kotaknya berwarna biru. Dupa kerucut itu bisa dibakar di dalam bakaran arang kayu, bisa juga langsung dibakar dengan korek api, tidak menggunakan bakaran arang kayu lagi.


Cara penggunaan sesaji dupa sama dengan kemenyan, yaitu dibakar, tetapi diusahakan supaya apinya tidak menyala, hanya berasap saja. Yang menjadi sesaji adalah asap bakaran dupanya.
S
etelah asapnya keluar, paling baik adalah bilah kerisnya diasapkan di atasnya. Tapi boleh juga kerisnya diletakkan di dekatnya dan disugestikan bahwa bakaran dupa itu adalah untuk kerisnya.
Tetapi sama juga dengan kemenyan, pada masa sekarang penggunaan sesaji dupa ini sangat tidak nyaman, karena bau asapnya kentara sekali dan akan dikatakan klenik.


Kayu dan Minyak Cendana.

Ada juga sesaji kayu cendana jawa dan cendana kupang. Kayu cendana kupang lebih disukai karena baunya yang lebih harum.

Pada jaman dulu penggunaan kayu cendana sebagai sesaji keris jawa lebih dulu dijadikan serbuk atau serpihan-serpihan kecil dan ditaburkan ke dalam bakaran arang kayu. Biasanya dikombinasikan dengan kemenyan jawa dan dupa.

Pada masa sekarang sudah ada minyak cendana kupang yang penggunaannya cukup dioleskan saja pada badan kerisnya, sehingga penggunaannya lebih praktis daripada yang dibakar. Walaupun lebih merepotkan, tetapi penggunaan minyak cendana yang dibakar dalam bakaran arang kayu akan memberikan efek yang lebih baik pada kegaiban keris jawa dibandingkan yang penggunaannya dioleskan dan tidak mengotori badan kerisnya.

Selain minyak cendana kupang, ada juga minyak cendana jawa dan minyak cendana keraton, tetapi sepengetahuan Penulis minyak-minyak itu tidak menjadi favorit bagi khodam-khodam keris jawa.

Dari adanya banyak jenis kayu dan minyak cendana, di dalam kita menanyakan / menayuh apa jenis sesaji yang lebih disukai oleh kerisnya, maka pertanyaan-pertanyaan tentang minyak cendana, minyak cendana keraton dan minyak cendana kupang itu harus dipisahkan secara mendetail.
Misalnya kita bertanya :
Manakah yang lebih disukai sebagai sesaji, apakah minyak cendana, minyak cendana keraton, ataukah minyak cendana kupang ?
Apakah minyak cendana ?
Apakah minyak cendana keraton ?
Apakah minyak cendana kupang ?

Lebih baik lagi bila dalam menayuh itu kita letakkan di hadapan kerisnya contoh-contoh minyaknya sehingga kerisnya bisa memilih mana minyak yang ia paling suka.

Sesaji kembang

Sesaji kembang, yaitu kembang telon (kenanga, kantil dan melati) dan kembang setaman / tujuh rupa (kembang tujuh rupa lebih baik daripada kembang telon) adalah contoh sesaji yang sangat umum digunakan dalam masyarakat jawa dalam berbagai jenis ritual. Sesaji kembang bersifat netral dan cocok untuk semua jenis keris jawa.

Untuk keperluan sesaji, kembang-kembang tersebut ditempatkan dengan dasar daun pisang di atas piring / mangkuk dan diletakkan di dekat kerisnya atau bisa juga kerisnya diletakkan di atas kembang-kembang tersebut (keris-kerisnya dikeluarkan dulu dari sarungnya). Lebih baik lagi bila sesaji kembangnya diberi dasar daun pisang. Keesokan harinya kembang-kembangnya sudah boleh dibuang.

Tentang kembang telon dan kembang setaman / tujuh rupa ini silakan dibaca pada penjelasan tentang kembang sesaji di halaman berjudul  Laku Prihatin dan Tirakat.

Ada juga minyak mawar dan minyak melati (minyak melati lebih baik daripada minyak mawar), biasanya digunakan sebagai pengganti sesaji kembang, tetapi kadar efek kegaibannya tidak sebaik sesaji kembang itu sendiri. 

Minyak kembang sebaiknya digunakan hanya untuk keris jawa yang berkarakter halus saja, yang isi gaibnya ibu-ibu, misalnya yang untuk kerejekian, pengasihan, dsb, bukan untuk keris yang berkarakter keras seperti yang untuk kewibawaan, penjagaan gaib, dsb, karena sesaji minyak kembang itu akan dapat menurunkan kadar kegaibannya (mempengaruhi karakter keras khodamnya menjadi berkarakter halus mengarah pada pengasihan).


Kopi Tubruk

Kopi tubruk manis panas bisa juga diberikan sebagai sesaji untuk keris-keris jawa (kalau tidak punya sesaji jenis lain). Yang dimaksud kopi tubruk adalah minuman kopi seperti di kampung, kopi tradisional, bisa juga kopi bermerk Kapal Api, bukan kopi modern seperti Nescafe. Sajikan di dalam gelas tanpa tutup dan diletakkan di atas meja, di dekat kerisnya. Sampaikan kepada kerisnya bahwa kopi itu adalah untuk kerisnya. Biarkan sesajinya demikian selama semalam. Esok harinya sudah boleh dibuang.



Alternatif Perawatan Keris dan Sesaji


Bila anda tidak rajin menjamas keris anda, Penulis ingin memberikan masukan sebagai alternatif, seperti yang sudah Penulis lakukan sendiri, untuk dilakukan oleh para pemilik keris, terutama pada penggunaan minyak cendana kupang sebagai sesaji, dengan maksud supaya perawatan kerisnya menjadi lebih sederhana (lebih praktis), tidak berbiaya mahal, tidak mengurangi kegaiban kerisnya, dan juga akan menambah kedekatan si pemilik keris dengan keris-kerisnya, dengan syarat si pemilik keris menayuh dulu kerisnya, sebelum atau sesudahnya, untuk mengetahui apakah yang dilakukannya terhadap
keris-kerisnya itu cocok dengan keinginan kerisnya  (baca :  Ilmu Tayuh Keris ).

Sebagai alternatif perawatan, lakukanlah meminyaki keris dengan minyak cendana merah wangi (minyak cendana Kupang)  sebagai sesaji, dicampur sedikit minyak singer sebagai perawat logam supaya bilah kerisnya tidak berkarat dengan perbandingan 5 : 1 (minyak cendana 5 bagian, minyak singer 1 bagian). Pilihlah minyak cendana yang baik kualitasnya mengingat harga per cc-nya tidak mahal.

Di Jakarta, minyak cendana kupang bisa dibeli di toko minyak arab di Condet, Cililitan, Jakarta Timur. Di kawasan itu ada banyak toko minyak yang menjual minyak cendana kupang.

Di Condet itu Penulis menemukan juga satu jenis minyak cendana, yang kata penjualnya buatan India, harganya termasuk yang paling murah dibandingkan minyak cendana lainnya, tetapi ternyata paling disukai oleh gaib-gaib keris (baunya juga lebih pekat dan harum).

Secara umum jenis-jenis sesaji minyak arab, minyak cendana, dupa, bisa dibeli di toko-toko minyak wangi arab di pinggir jalan atau di toko-toko yang menjual perlengkapan haji atau perlengkapan agama Islam (di Jakarta bisa dibeli di Condet, Cililitan, Jakarta Timur).
Minyak cendana, selain bisa dibeli di toko minyak arab di pinggir jalan, bisa juga dicari di pasar di tempat orang menjual keris, biasanya ada yang menjual minyak cendana merah / kupang.
Minyak singer bisa dicari di super market atau di toko sparepart mesin atau
bengkel kendaraan bermotor.



Minyak Singer dan Minyak Cendana Kupang.

Cara penggunaannya sbb :

Minyak cendana dan minyak singer dicampurkan di tempat tersendiri (di mangkok beling) dengan jumlah yang cukup untuk meminyaki keris, tidak berlebihan, dengan perbandingan 5 : 1.  Campuran minyak tersebut dioleskan tipis-tipis saja dengan kuas pada seluruh badan kerisnya. 

Jika anda cukup telaten, anda juga bisa melepaskan gagang kerisnya untuk meminyaki bagian pesi kerisnya, tetapi dalam melepaskan gagang kerisnya itu haruslah hati-hati, karena biasanya bagian pesi keris lebih karatan dan lebih keropos daripada bilah kerisnya.






Setelah selesai diolesi minyak, kemudian keris-kerisnya disandarkan ke dinding dengan posisi bagian tajamnya di bawah dan diberi dasar lipatan koran atau kain, supaya minyak yang berlebihan turun mengalir ke bawah.



Jika menggunakan jagrak keris, keris-kerisnya bisa ditempatkan di jagrak tersebut dengan posisi bagian tajamnya di bawah dan diberi dasar lipatan koran atau kain, supaya minyak yang berlebihan turun menetes ke bawah.

Biarkan demikian selama semalam sampai minyaknya tiris. Keesokan paginya setelah minyaknya tiris, keris-keris sudah bisa dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.


Penulis sudah menelusuri banyak macam minyak pelumas dan minyak perawat logam. Minyak singer sengaja dipilih oleh Penulis karena efek negatifnya terhadap kegaiban keris sangat kecil, sehingga cukup baik untuk digunakan dalam perawatan logam keris dibanding jenis minyak pelumas / minyak perawat logam lainnya yang efek negatifnya terhadap kegaiban keris lebih besar yang bahkan bisa membuat khodam kerisnya pergi menghilang. Karena itu sebaiknya para pembaca berhati-hati dalam menggunakan minyak perawat logam selain minyak singer itu.


Untuk perawatan fisik keris, lakukanlah peminyakan keris seperti di atas beberapa bulan sekali setiap tahun supaya kerisnya tidak berkarat (jika anda tidak rajin menjamas keris).

Untuk sesaji, setiap bulan keris-keris diminyaki dengan minyak cendana, cukup dioleskan tipis-tipis saja di bagian ganja dan dapurnya, atau di bagian badan kerisnya (sebelumnya kerisnya dikeluarkan dulu dari sarungnya). Sesudah itu kerisnya bisa dimasukkan kembali ke dalam sarungnya (sebaiknya minyak cendana itu dicampur juga dengan sedikit minyak singer untuk perawatan logam kerisnya supaya tidak mudah berkarat).

Untuk keris-keris yang fungsi tuahnya untuk kerejekian atau ketentraman keluarga, terutama untuk yang isi gaibnya adalah perempuan (ibu-ibu) pada bulan-bulan yang lain dapat ditambahkan mengolesinya dengan minyak melati atau minyak mawar, tetapi minyak-minyak kembang itu jangan digunakan untuk keris-keris yang bertuah untuk kewibawaan, penjagaan gaib, dsb, karena akan dapat menurunkan kadar kegaibannya (mempengaruhi karakter keras khodamnya menjadi berkarakter halus).

Pemberian minyak melati atau minyak mawar tersebut bersifat tidak wajib, sebenarnya juga tidak perlu, karena pemberian minyak cendana saja sudah cukup (apalagi gaib-gaib keris lebih menyukai minyak cendana daripada minyak melati atau minyak mawar), dan kadar kegaiban minyak cendana juga masih lebih baik daripada minyak kembang.

Jika peminyakan keris dengan minyak cendana ini dianggap merepotkan, sebagai gantinya dapat diberikan sesaji kembang telon (lebih baik lagi kembang tujuh rupa), ditempatkan dengan dasar daun pisang di sebuah piring, dan diletakkan di dekat kerisnya yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, atau bilah kerisnya diletakkan di atas kembang tersebut. Jika kerisnya banyak, kembang tujuh rupa yang cukup banyak bisa ditempatkan dengan dasar daun pisang di sebuah nampan atau tampah, dan keris-keris itu diletakkan di atas kembang tersebut. Biarkan demikian selama semalam. Keesokan harinya kembang-kembangnya sudah boleh dibuang.

Jika anda memiliki keris atau banyak keris dan penyimpanannya ditempatkan di sebuah kamar / ruangan tersendiri yang tidak masalah jika ruangan itu berbau asap bakaran sesaji, akan lebih mudah jika sesajinya adalah berupa asap bakaran (asap bakaran minyak cendana, kemenyan jawa atau dupa). Sesaji berupa asap bakaran yang cukup banyak disugestikan kepada keris-kerisnya bahwa asap bakaran sesaji itu adalah untuk mereka semua.

Untuk keris-keris jawa, jika sesajinya menggunakan jenis minyak, misalnya minyak cendana, paling baik dilakukan dengan cara pengasapan (dibakar dalam bakaran arang kayu). Selain akan memberikan efek kegaiban yang lebih baik, juga tidak akan mengotori bendanya, dibanding yang penggunaannya dengan cara dioleskan. Hanya saja bau asapnya kentara sekali dan akan dikatakan klenik.

Baca juga : Sesaji.


Catatan :
 

Kalau sebelumnya anda sudah menjamas keris, atau anda rajin menjamas keris anda, dan kondisi kerisnya masih baik, tidak karatan, sebaiknya peminyakan ini jangan dilakukan, karena peminyakan ini dapat melunturkan warangan keris. 

Apalagi kalau anda menyukai penjamasan keris karena adanya proses mewarangi keris yang sesudah selesai penjamasan itu badan kerisnya akan tampak lebih bagus, sebaiknya sesajinya jangan yang berbentuk minyak dan tidak melakukan peminyakan, karena akan dapat melunturkan warangan kerisnya. Lebih baik sesajinya adalah dalam bentuk asap bakaran (asap bakaran minyak cendana, kemenyan atau dupa) atau berupa kembang telon / tujuh rupa.

Cara membuat asap bakaran :

Jika bentuk sesajinya adalah kemenyan dan dupa, bisa langsung dibakar dengan korek api, tapi paling baik dimasukkan ke dalam bara arang kayu.

Jika bentuknya adalah minyak, misalnya minyak cendana kupang, mengasapkannya bisa dengan cara diteteskan ke dalam bara arang kayu, bisa juga dengan cara sebelumnya minyaknya dioleskan ke sekeliling beberapa batang rokok (jangan rokok putih / rokok impor) yang kemudian rokoknya dinyalakan. Baca juga : Sesaji.

Sesaji berbentuk pengasapan ini lebih baik dalam hal kegaibannya sebagai sesaji dan tidak mengotori badan kerisnya, tetapi bau asapnya akan kentara sekali dan akan dikatakan klenik.


Perhatian :

Sebuah keris adalah sebuah benda antik kuno tradisional yang membutuhkan perlakuan yang khusus, perlakuan yang juga bersifat tradisional, tidak selalu cocok diperlakukan dengan cara-cara praktis modern jaman sekarang. Di dalam dunia perkerisan ada pakem dan aturan tertentu yang harus kita ikuti dalam kita merawat dan memperlakukan keris. Sisi kegaibannya juga tidak selalu merasa cocok menerima perlakuan yang sembarangan terhadap kerisnya.

Jika anda baru mendapat / menerima sebuah keris yang karatan karena tidak terawat, kalau kerisnya kotor berkarat ringan, minyak singer bisa digunakan bersama sikat gigi untuk digunakan membersihkan / menghilangkan kotoran karatnya. Tetapi kalau sesudahnya ternyata karatnya masih ada, atau karatnya tebal, sebaiknya dilakukan penjamasan kepada penjamas keris, jangan melakukan penjamasan sendiri karena hasilnya belum tentu baik.

Di bawah ini dituliskan beberapa perlakuan terhadap keris dan penggunaan bahan-bahan yang sangat berpengaruh negatif terhadap sisi kegaiban keris, yang bahkan bisa membuat khodamnya pergi meninggalkan kerisnya. Sebaiknya dihindari.

1. Selain minyak singer, sebaiknya jangan menggunakan minyak pelumas / perawat logam lain.

2. Air keras, air aki, bensin, minyak tanah, solar.

3. Sabun colek dan sabun cuci bubuk, brasso, bahan poles cat mobil / motor.

4. Penyepuhan atau pelapisan emas / perak terhadap bilah / dapur / ganja keris.

5. Amplas, kikir, gerinda, bor.

Ada juga bahan berupa parafin yang sering digunakan orang dalam penjamasan / peminyakan keris. Sebaiknya ditayuh dulu apakah penggunaan parafin itu akan berdampak buruk terhadap sisi kegaiban kerisnya, karena Penulis mendapatkan jawaban dari banyak keris bahwa mereka tidak menyukai penggunaan minyak parafin.



     2.  Penambahan Aksesoris.

Bagi yang ingin menambahkan aksesoris pada kerisnya, walaupun penambahan berbagai aksesoris itu bermaksud baik, tetapi Penulis menganjurkan supaya si pemilik keris mengerti juga sisi spiritualnya (misalnya terlebih dahulu menayuh kerisnya)  supaya pemberiannya itu lebih dapat memberi manfaat, selain bermanfaat memperindah fisik keris itu sendiri, juga cocok dengan keinginan si gaib keris dan menambah kedekatan psikologis si pemilik keris dengan gaib kerisnya, tidak malah mengurangi sisi kegaiban kerisnya.

https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/perawatan-keris-jawa/Mendak%20dan%20Salut%20Keris.jpg


Mendak dan Salut Keris



Pemasangan mendak dan salut pada gagang keris biasanya dimaksudkan untuk menambah keindahan dan kemewahan pada gagang kerisnya.

Ada juga yang mengganti sarung dan gagang kerisnya dengan kayu yang lebih baik dan lebih mahal. Ada juga yang mengganti sarung kerisnya dengan yang memakai pendok, dari pendok biasa sampai yang berlapis emas.



Kayu asem
sebaiknya tidak digunakan karena akan memberikan bau yang tidak sedap pada kerisnya. Kayu jati sebaiknya tidak digunakan karena kayu itu bisa menyerap / melunturkan / meredam aura wibawa keris (termasuk bila kayu jati digunakan sebagai kayu tatakan keris).

Yang paling sering dipakai orang adalah kayu timaha / timoho. Kayu timoho disukai karena mempunyai corak berwarna coklat kehitaman yang bagus setelah dijadikan sarung keris (setelah dipolitur dan dipernis). Selain itu juga ada bentuk corak-corak tertentu pada kayu timoho yang oleh sebagian orang dianggap mempunyai tuah tertentu.

Untuk tujuan menjaga kegaiban keris, biasanya si gaib keris menghendaki benda-benda aksesoris yang sudah berusia tua (bekas pakai). Penggantian / pemberian mendak keris, kayu gagang keris dan kayu sarung keris biasanya si gaib keris menginginkan yang bekas pakai, bukan yang masih baru dibuat. Secara kegaiban, benda-benda logam dan kayu-kayu tua dan dulunya sudah pernah dipakai oleh manusia (sama halnya seperti perabotan tua dari logam atau lemari dan meja dari kayu) memang lebih cocok untuk urusan kegaiban, karena benda logam dan kayu-kayu tua itu lebih menyimpan energi / aura "kehidupan gaib", dibanding kayu dan benda-benda logam yang baru. Sebaiknya digunakan cara seperti menayuh keris untuk mengetahui kebenarannya.

Pemberian butiran emas pada keris-keris berdapur naga (dimasukkan ke dalam mulut naganya) biasanya dimaksudkan sebagai sesaji. Pemberian butiran emas, mendak dan salut  yang terbuat dari emas atau dilapisi emas dan pemberian kalung emas biasanya dimaksudkan sebagai penambah keindahan dan kemewahan keris, tetapi secara spiritual pemberian yang berbahan emas itu juga dimaksudkan untuk meredam sifat galak dari gaib kerisnya supaya lebih kalem, hawa panasnya menjadi lebih adem, dsb, walaupun kadar penurunan pengaruhnya tidak banyak.

Karakter-karakter keris yang keras dan panas dan sifat energinya yang tajam bukanlah sifat-sifat negatif dari sebuah keris, sehingga kondisi itu tidak dapat diredam dengan menggunakan keris tindih. Keris-keris itu memang sengaja dibuat begitu karena disesuaikan dengan pribadi manusia pemilik kerisnya dulu. Pemilik keris berikutnya atau manusia pemiliknya yang sekarang saja yang tidak cocok dengan keris-keris tersebut. Karena itu sebelum membeli / menerima sebuah keris, selain menilai jenis tuahnya, kita juga harus cermat dalam menilai karakter kerisnya, supaya keris yang akan kita miliki benar-benar sesuai untuk kita (baca juga : Keris Berhawa Aura Panas).

Sifat galak dan hawa panas keris akan banyak teredam dengan menyelubungi keris berikut sarungnya dengan kain katun hitam. Walaupun tidak seluruhnya hawa panas itu teredam, tapi akan banyak berkurang. Tetapi ini akan menjadi perlakuan yang tidak pantas dan tidak enak dilihat bila kita membungkus keseluruhan keris dengan kain hitam. Bisa diakali dengan cara lain, yaitu melilitkan kain katun hitam pada bagian pendok keris atau pada bagian pesi kerisnya.

Pemberian kain tertentu kepada keris, biasanya digunakan sebagai selimut pembungkus / sarung keris, biasanya dilakukan dengan latar belakang alasan kebatinan. Mengenai warna kain yang digunakan di masyarakat ada banyak macamnya. Yang sering digunakan adalah kain-kain yang berwarna hitam, kuning, merah, putih dan hijau tua. Kebanyakan orang melakukannya hanya berdasarkan tradisi kebiasaan saja, tapi ada juga yang bisa merasakan pengaruhnya, terutama kain merah yang dapat membuat kerisnya terasa lebih "galak".

Kebanyakan upaya yang dilakukan orang adalah untuk menaikkan "power" nya, dalam artian supaya kerisnya kelihatan lebih bertuah, "galak" dan berwibawa. Usaha menaikkan power benda gaib selain dengan memberikan kain merah, biasanya adalah dengan rajin mewiridkan amalan gaib.

Tetapi power itu hanya terkait dengan sifat galak dan berwibawa keris, bukan kekuatan gaib keris. Untuk menaikkan kekuatan gaib keris secara permanen hanyalah dengan memberikannya energi yang lebih tinggi dari kekuatan gaib kerisnya untuk diserapnya.

Masing-masing warna kain, warna hitam, merah, putih dan hijau (yang bahannya asli katun, bukan tetiron) dan kain kuning yang mengkilat (nilon) memberikan pengaruh sendiri-sendiri terhadap keris. Uraiannya sbb :

1. Kain putih bersifat netral.

2. Kain hijau tua dapat menambah keteduhan aura keris.

3. Kain kuning mengkilat dapat menambah karisma kewibawaan / keagungan / aura keningratan.

4. Kain katun merah terang dapat menaikkan "power" keris, dalam arti dapat menaikkan aura galak dan berwibawa dari kerisnya.

5. Kain katun hitam dapat menambah kepadatan energinya (menaikkan kekuatan / kesaktian gaib keris), menurunkan aura panas keris dan menambah kekerasan watak khodamnya.

Kalau lebih diinginkan kekuatan gaibnya, misalnya yang tuah utamanya untuk penjagaan gaib / tolak bala, sebaiknya diberikan bungkus kain katun hitam.

Kalau lebih diinginkan kekuatan tuahnya, misalnya yang tuahnya untuk kewibawaan, dsb, sebaiknya diberikan bungkus kain katun merah terang.

Kalau karisma kewibawaan / keagungan / aura keningratan lebih diinginkan, supaya tampak lebih berkarisma / elegan di mata orang lain, sebaiknya diberikan bungkus kain kuning mengkilat.

Bungkus kain kuning mengkilat ini biasanya digunakan untuk tombak dengan gagang panjang dan penyimpanannya diberdirikan seperti tombak-tombak di belakang singgasana raja. Tetapi menutup besi bilah tombak dengan kain atau dengan sarung kayu justru akan sangat mengurangi pancaran karisma kewibawaan / keagungan / aura keningratannya.

Untuk jenis tombak sebaiknya bagian bilah logamnya tidak diberi tutup. Penyimpanannya sebaiknya diberdirikan dengan bagian bilah runcingnya di atas. Dan penggunaan kain kuning sebagai aksesories paling baik bentuknya seperti rumbai-rumbai yang mengelilingi bagian bawah bilah besi tombaknya.

Secara umum Penulis menganjurkan pemberian kain katun yang berwarna hitam, karena pemberian kain katun hitam dapat memberikan efek menambah kepadatan energinya (menaikkan kekuatan / kesaktian gaib keris), menurunkan aura panas keris dan menambah kekerasan watak khodamnya.

Kain hitam sudah biasa dipakai, tetapi mungkin tidak ada orang yang mengetahui bahwa pemberian kelengkapan keris, seperti batu akik hitam pada mulut dapur keris nagasasra (atau berdapur naga), melilitkan benang wol hitam pada pesi keris, dan pemberian kain katun hitam sebagai sarung / selimut keris atau sebagai dasar penyimpanan keris, dapat memberikan efek menaikkan kekuatan / kesaktian gaib keris, menurunkan aura panas keris dan menambah kekerasan watak khodamnya.

Untuk maksud di atas kain katun hitam itu bisa dijadikan selimut pembungkus / sarung keris. Tetapi ini akan menjadi perlakuan yang tidak pantas dan tidak enak dilihat bila kita membungkus keseluruhan keris dengan kain hitam. Bisa dengan cara lain, yaitu melilitkan kain katun hitam pada bagian pendok keris atau pada bagian pesi keris, atau dijadikan dasar untuk meletakkan keris. Selain kain katun hitam, bisa juga kita melilitkan benang wol hitam pada bagian pesi keris, supaya tidak longgar pada bagian gagang pegangan keris. Pada keris berdapur nagasasra (atau yang berdapur naga) juga baik bila ditambahkan batu akik hitam pada lubang di mulutnya. Secara kegaiban, pemberian kain katun hitam, benang wol hitam atau batu akik hitam ini dapat menambah kekuatan dan kegaiban keris.

Pemberian batu akik hitam pada mulut dapur keris nagasasra (atau dapur naga) atau melilitkan benang wol hitam pada pesi keris, dapat meningkatkan kekuatan gaib keris hingga menjadi 2 kali lipat kondisi aslinya. Untuk lebih maksimal, lilitan benang wol hitam itu bisa diganti dengan lilitan kain katun hitam yang sudah dipotong-potong memanjang untuk dililitkan di pesi keris.

Sedangkan pemberian kain katun hitam sebagai selimut / sarung keris atau sebagai dasar penyimpanan keris (bisa juga sebagai dasar keris di jagrak keris), dapat memberikan efek meningkatkan kekuatan gaib keris hingga menjadi 4 kali lipat kondisi aslinya.

Efek peningkatan kekuatan gaib keris ini bersifat sementara, hanya terjadi selama keris-keris itu masih bersama dengan kain hitam tersebut. Artinya jika keris-keris itu dijauhkan dari kain hitam tersebut, maka kondisi kekuatannya akan kembali lagi seperti aslinya. Alternatif lain yang lebih bersifat permanen adalah memberikan lilitan kain katun hitam yang sudah dipotong-potong memanjang untuk dililitkan di pesi keris. Biasanya bagian pesi keris sangat jarang dibuka, sehingga selama lilitan kain hitamnya tidak dilepas / dibuang, kekuatan gaib kerisnya akan tetap lebih tinggi daripada kondisi aslinya tanpa lilitan kain hitam itu.

Peningkatan kekuatan gaib keris bisa dibuktikan sendiri dengan cara menayuh keris, atau berkomunikasi menanyakan langsung kebenarannya kepada gaib kerisnya. Atau sewaktu akan diminta melakukan pengusiran terhadap mahluk gaib tertentu, jika sebelumnya saat ditayuh gaib si keris menyatakan tidak mampu (kalah kuat), setelah diberi kain hitam sebagai dasar meletakkan keris, coba lagi ditayuh, apakah sekarang sudah lebih kuat, apakah sekarang sudah lebih mampu mengusir mahluk gaib tersebut.

Sebagai catatan, yang dimaksud kain katun hitam di atas adalah kain yang asli katun, bukan tetiron. Efek peningkatan kekuatan gaib keris ini hanya terjadi selama keris-keris itu masih bersama dengan kain hitam tersebut, artinya jika keris-keris itu dijauhkan dari kain hitam tersebut, maka kondisi kekuatannya akan kembali lagi seperti aslinya semula.

Efek kegaiban penggunaan kain katun hitam ini juga berlaku untuk benda-benda gaib lain dalam bentuk batu akik, mustika, jimat rajahan atau jimat-jimat yang lain (selain dijadikan dasar wadah penyimpanan benda-benda gaib, bisa juga dijadikan kantong penyimpanan).

Pemberian kain di atas maksudnya adalah untuk membungkus warangka keris (melapisi warangka keris di bagian luarnya, bukannya menggantikan fungsi warangka keris). Tapi kelihatannya kurang elok kalau sehari-harinya keris tertutupi oleh kain pembungkus, karena itu lebih baik kalau kainnya itu dijadikan dasar menyimpan / meletakkan keris, dijadikan dasar keris di jagrak keris, atau dililitkan di pesi keris. Penggunaan kain sebagai selimut / pembungkus keris sebaiknya hanya digunakan ketika kerisnya akan dibawa pergi ke suatu tempat, supaya kerisnya tertutupi, lebih terlindungi tidak mudah lecet / rusak karena berbenturan / bergesekan dengan benda keras lain dan tidak terlalu kelihatan wujudnya sebagai keris.

Bila bagian pesi keris (besi gagang keris) sudah sangat keropos atau tipis karena termakan karat, untuk menambah kekuatannya dan supaya lebih aman tidak mudah patah bisa diakali dengan memasangkan pipa bekas antena televisi atau pipa lain yang ukuran lubangnya pas dengan ukuran pesi keris, dipasang menyelubungi pesi keris (ditambah lilitan benang wol hitam atau potongan memanjang kain katun hitam pada pesi keris supaya tidak longgar dengan pipanya) dan pipa antena itu diusahakan pas dengan lubang pada kayu gagang keris (ditambah lilitan benang wol hitam).

Tetapi bila pesi keris tersebut sudah patah pada bagian pangkalnya, sehingga tidak dapat diperbaiki dengan bantuan pipa antena itu, dan terpaksa harus diganti, bisa diupayakan menggantinya dengan gagang besi lain dengan terlebih dulu menyampaikan niat anda itu sebagai pemberitahuan awal kepada si keris.



     3Penyimpanan Keris.






Jagrak Keris.


Dalam hal penyimpanannya, simpanlah keris di tempat yang bersifat pribadi, yang tidak sembarang orang boleh masuk ke dalamnya dan menjamah keris, misalnya di kamar tidur, tidak di ruang tamu.

Letakkan keris di tempat yang tinggi, tidak lebih rendah dari tinggi dada orang dewasa. Jangan di bawah, apalagi di lantai, tapi juga jangan ditempel / digantung di dinding. Lebih baik kalau digunakan tatakan khusus untuk keris (jagrak keris). Bila disimpan di lemari, letakkan di rak paling atas.

https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/perawatan-keris-jawa/LOGO1.jpg



Penyimpanan pusaka jenis tombak sebaiknya posisi tombaknya diberdirikan, bagian gagangnya di bawah dan bagian tajam bilahnya di atas, s
ebaiknya juga bilahnya tidak dipakaikan sarung supaya auranya lebih bebas keluar. Bila tidak menggunakan jagrak, berdirinya disandarkan juga boleh.


Bila anda menyimpan keris dengan menggunakan jagrak keris, urutkanlah penempatan keris-kerisnya sbb :
Urutan dari kanan ke kiri :

  1. Keris-keris berdapur nagasasra dan singa barong, keris-keris ber-luk 5, keris pandawa, keris pulanggeni luk 5, dan keris-keris keningratan lain.
  2. Keris bertuah wibawa kekuasaan.
  3. Keris bertuah kewibawaan.
  4. Keris bertuah kesaktian.
  5. Keris bertuah kesepuhan.
  6. Keris bertuah kerejekian.
  7. Keris bertuah pengasihan.


Posisi kanan dan kiri itu ditentukan sebagai berikut :

  1. Bila posisi jagrak itu ada di hadapan kita, maka posisi kanan dan kiri jagrak tersebut adalah sesuai posisi tangan kanan dan kiri kita dalam berdiri menghadap jagrak tersebut.
  2. Jika posisi jagrak tersebut di belakang kita (seperti penempatan jagrak untuk tombak dan payung kebesaran yang berada di belakang kursi singgasana), maka posisi kanan dan kiri jagrak tersebut adalah sesuai posisi tangan kanan dan kiri kita dalam berdiri membelakangi jagrak tersebut.

Baca juga : Status Keris dan Kelas Keris  dan  Status & Hierarki Khodam.


https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/perawatan-keris-jawa/Jagrak%206.jpg

 

Jagrak Keris.


Jika beberapa keris anda ada yang mempunyai fungsi tuah yang sama, misalnya ada beberapa keris yang sama-sama mempunyai tuah untuk kewibawaan, atau sama-sama mempunyai tuah untuk kerejekian, maka keris-keris yang sama tuahnya itu diurutkan dari kanan ke kiri berdasarkan umur kerisnya, yaitu dimulai dari keris yang paling tua. 


Dalam rangka mengurutkan keris-keris kita itu kita bisa melakukannya sambil menayuhnya. Kita bisa tanyakan keris yang mana yang posisinya paling kanan. Kemudian keris yang mana yang posisinya di sebelah kirinya. Kemudian keris yang mana yang posisinya di sebelah kirinya lagi, dst, sampai semua keris selesai diurutkan. Setelah semua keris selesai dipasang dan diurutkan kita bisa tanyakan lagi apakah posisi urutan keris yang sekarang sudah benar ?  Kalau ternyata masih ada yang belum benar kita bisa mencaritahu lagi keris mana yang posisinya masih belum tepat.

Pengurutan keris-keris itu sebenarnya tidak wajib. Tujuannya hanya untuk membantu saja supaya keris-kerisnya (sisi gaibnya) terkondisikan menjadi lebih terorganisir, supaya lebih teratur dan selaras dalam pendampingannya kepada kita pemiliknya sesuai posisi dan status kerisnya masing-masing.


Hindarilah melakukan kesalahan terhadap keris anda, seperti yang sudah dituliskan dalam tulisan : Penyatuan Keris dgn Pemilik.

Usahakan untuk mengetahui sendiri keperluan keris kita. Walaupun perlu, tetapi jangan bergantung kepada pendapat orang lain, walaupun ia seorang ahli perkerisan atau kebatinan. Kita bisa mengetahui sendiri tentang karakter keris kita dengan cara menayuhnya (baca : Menayuh Keris). Manfaat lainnya adalah kita akan menjadi lebih mengerti mengenai keris kita dan secara psikologis kita dan si keris akan menjadi lebih dekat.



 Tambahan :

Masing-masing keris besi bilahnya mempunyai bau sendiri-sendiri yang tidak sama satu dengan lainnya, karena kematangan penempaan dan unsur logam kerisnya yang tidak sama. Ada yang baunya agak harum, ada juga yang bau apek dan bau besi karatan.

Ada banyak keris jawa timur yang penempaan besinya matang, pori-pori besinya halus, baunya agak wangi.
Sedangkan keris-keris dari jawa tengah dan jawa barat kebanyakan penempaan besinya tidak sematang keris-keris jawa timur, pori-pori besinya juga lebih besar, banyak
yang baunya agak apek. Ada juga keris-keris yang pernah terbengkalai tidak terawat, besinya berbau besi karatan walaupun sudah berkali-kali dijamas.

Selain itu ada juga bilah keris yang baunya harum seperti bau melati atau bau minyak wangi lain, baunya enak. Biasanya itu adalah keris yang dulunya didapat dari penarikan gaib, ditarik dari alam gaib.
Keris
yang seperti itu kalau kondisinya masih baik tidak kotor karatan sebaiknya jangan dijamas, dan kalau diminyaki juga menggunakan minyak yang halus dan netral efeknya, supaya bau wanginya itu tidak hilang.  Sesajinya juga sebaiknya dalam bentuk pengasapan atau berbentuk kembang telon atau kembang tujuh rupa, supaya bau wanginya tidak luntur.

Penulis juga pernah punya keris
yang seperti itu dulu. Hasil penarikan gaib. Baunya tetap wangi walaupun sudah berbulan-bulan. Sayangnya sesudah dijamas di penjamas keris, bau wanginya itu hilang.

Penggunaan kayu tertentu sebagai sarung keris juga bisa membuat bilah kerisnya berbau sama dengan kayunya.

Misalnya kayu asem yang bisa membuat bilah kerisnya berbau asem. Sesudah bercampur dengan bau asli logam kerisnya baunya bisa berubah menjadi cenderung seperti bau tembelek ayam, tidak sedap. Jadi sebaiknya kayu asem jangan digunakan.

Atau kayu cendana kupang
yang wangi yang bisa membuat bilah kerisnya berbau cendana. Tapi Penulis kurang tahu bagaimana selanjutnya sesudah bercampur dengan bau asli logam kerisnya, apakah tetap akan terus berbau cendana atau malah berubah menjadi berbau tidak sedap.
Kayu cendana jawa biasanya baunya kurang wangi dibanding cendana kupang.
Begitu juga dengan minyaknya. Minyak cendana jawa dan cendana keraton biasanya baunya kurang wangi dibanding cendana kupang.



 Tambahan :

Terkait dengan tanya-jawab via email dengan para pembaca, ada beberapa pertanyaan serupa dari para pembaca mengenai minyak cendana yang tertulis di atas, dan sebagian perlu diungkapkan disini sebagai bahan informasi untuk pembaca yang lain sbb :

 Tanya :

Sesaji dengan model pengasapan baiknya berapa banyak dan berapa lama ?

 Ulasan :

Ya sampai sesaji bakarannya habis.

Jadi sebelumnya ditentukan dulu seberapa banyak yang akan dibakar.
Misalnya sepotong kemenyan jawa, sebelumnya ditentukan dulu seberapa banyak yang akan dibakar, apakah semuanya, ataukah hanya setengahnya ataukah seperempatnya saja. Sesudah ditentukan, kemenyannya dipotong sesuai ukuran yang akan dibakar.

Setelah sesajinya dibakar dan keluar asapnya, paling baik adalah bendanya kita pegang dan diasapkan di atasnya. Tapi juga tidak harus begitu, bisa juga bendanya diletakkan di samping pengasapannya.

Kalau itu adalah keris, paling baik sesudah kerisnya dikeluarkan dari sarungnya, kemudian kerisnya kita pegang dan bilahnya diasapkan di atasnya, tapi bisa juga kerisnya diletakkan di samping pengasapannya.

Kalau yang dibakar adalah jenis dupa, hio, dsb, sebaiknya dupa atau hio yang dibakar itu jumlahnya ganjil, yaitu 1 atau 3 atau 5, dst.


 Tanya :

1. Maaf mas saya mau tanya, untuk perawatan pusaka / keris antara minyak cendana NTT (Kupang) yang asli yang berwarna putih itu dengan minyak cendana yang kata mas itu minyak cendana india warna merah itu lebih bagus mana?

2. Di internet minyak cendana yang dari India harganya 100.000 - 200.000 rupiah per-gram-nya. Apakah harganya memang semahal itu ?


 Ulasan :
Jenis-jenis sesaji minyak arab, minyak cendana, dupa, bisa dibeli di toko-toko minyak wangi arab di pinggir jalan atau di toko-toko yang menjual perlengkapan haji atau perlengkapan agama Islam (di Jakarta bisa dibeli di Condet, Cililitan, Jakarta Timur).
Minyak cendana, selain bisa dibeli di toko minyak arab di pinggir jalan, bisa juga dicari di pasar di tempat orang menjual keris, biasanya ada yang menjual minyak cendana merah / kupang.
Minyak singer bisa dicari di super market atau di toko sparepart mesin atau bengkel kendaraan bermotor.

Memang agak membingungkan kalau melihat penamaannya. Penulis sendiri sebelumnya sempat bingung di toko minyak arab, di Condet, Jakarta Timur, di tempat Penulis biasa membeli minyak. Tetapi Penulis memutuskan untuk tidak menggunakan penamaan sendiri, Penulis mengikuti saja model penamaan dari penjualnya, sehingga diharapkan kalau kita datang ke toko-toko minyak yang lain kita tidak akan bingung karena mudah-mudahan penyebutannya seragam antara penjual yang satu dengan penjual lainnya.

Di toko itu ada beberapa jenis minyak cendana.
Kelompok pertama adalah yang disebut minyak cendana. Dalam kategori ini ada minyak cendana jawa (lokal) dan minyak cendana keraton.
Kelompok kedua adalah minyak cendana merah (yang baunya lebih wangi). Dalam kategori ini ada minyak cendana Kupang, minyak cendana yang katanya penjualnya dari Arab, dan minyak cendana yang katanya dari India.

Dilihat dari warnanya, minyak kelompok pertama dan minyak kelompok kedua itu hampir sama, yaitu kuning dan kuning kemerahan / kecoklatan.
Masing-masing jenis minyak cendana mengandung hawa energi gaib dan aroma wangi yang disukai oleh gaib-gaib keris jawa. Prioritas Penulis dalam memilih minyak cendana adalah berorientasi pada jenis minyak cendana yang paling disukai oleh gaib-gaib keris, bukan sekedar wanginya, atau harganya, atau kekentalannya.
 
Menurut sepengetahuan Penulis, minyak cendana kelompok kedua lebih disukai oleh gaib-gaib keris daripada yang kelompok pertama. Kebetulan baunya paling kuat, paling wangi dan paling disukai oleh gaib-gaib keris. Kebetulan juga harga per cc-nya di toko itu paling murah. Dari kelompok kedua ini, prioritas pertama yang dipilih adalah minyak cendana yang katanya buatan India. Prioritas kedua adalah minyak cendana Kupang.

Minyak cendana Arab dan India itu, yang dijual di toko itu, mungkin di toko lain tidak ada. Jadi secara umum minyak cendana merah / Kupang lebih baik daripada minyak cendana lokal (kelompok pertama).
Jadi untuk mudahnya beli saja minyak cendana Kupang.

Ada beberapa macam minyak cendana dan harganya juga bermacam-macam tidak sama.
Harganya ada yang murah sekitar Rp. 3.000 per cc nya,
Yang menengah sekitar Rp. 5.000 - 10.000 per cc nya,
Yang mahal juga ada yang lebih dari Rp.10.000 per cc nya.
Mahal tidaknya harganya tergantung toko penjualnya dan tergantung jenis / asal minyaknya.

Disini Penulis ingin menggaris-bawahi keterangan Penulis sebelumnya bahwa sebenarnya Penulis masih awam dalam hal secara fisik membedakan mana minyak yang asli impor dengan yang lokal, atau membedakan minyak yang asli impor tapi oplosan dengan yang lokal, atau membedakan minyak yang asli dengan yang palsu.

Jadi Penulis sendiri tidak tahu apakah minyak cendana yang Penulis beli itu benar asli impor dari India ataukah sebenarnya minyak lokal, ataukah sebenarnya oplosan. Istilah minyaknya dari Kupang atau Arab atau India adalah katanya penjualnya, Penulis sendiri tidak tahu apakah benar minyak-minyak itu asalnya dari sana.

Dalam hal ini Penulis tidak mempermasalahkan minyak itu asalnya darimana, apakah asli impor atau bukan.  Pada saat membelinya Penulis fokus kepada minyaknya itu sendiri sehingga Penulis tahu bahwa minyak yang Penulis beli benar-benar disukai oleh gaib-gaib keris jawa, tidak mengurangi kegaibannya dan harga minyaknya murah, kurang lebih per-cc-nya tidak sampai Rp.10.000,- (tetapi mungkin sewaktu-waktu harganya bisa berubah).

Baca juga : Sesaji Untuk Benda Gaib.


 Tanya :

Saya dua kali beli minyak cendana merah di condet, dua tempat yg berbeda dan minyaknya dua duanya juga beda.
Yg pertama lebih kental,
lha yg kedua ini warnanya merah dan ada warna endapan keemasannya dan lebih encer.
Mohon pencerahan apakah kedua keris saya cocok dgn minyak wanginya.
Maturnuwun...

 Jawab :
Beli saja minyak cendana kupang pak.
thanks


 Tanya :

Bapak yg terhormat saya mau tanya mengenai minyak yg bapak sarankan kepada saya untuk pusaka saya yg tempo hari saya kirim gambarnya itu pak. Bapak menyarankan menggunakan cendana kupang sedangkan di surabaya untuk cendana kupang gak ada pak, adanya cendana keraton merah, cristal, kental itu aja
Mohon penjelasannya Bpk
Terima kasih sblmnya
salam rahayu

 Jawab :
Kalau tidak ada minyak cendana kupang, minyak cendana yg lain juga boleh pak.
Pilih saja yang baunya harum.
thanks


 Tanya :

Sugeng dalu pak javanes, salam sejahtera dan bahagia.
Pak saya ingin memberikan masukan.

Di artikel bapak yg berjudul perawatan keris, ada tata cara penjamasan pusaka. Tapi itu tidak komplit, tidak ada doanya, bahan2 yg diperlukan, hari dan jam yg tepat untjuk penjamasan, dan ritual yg harus dilakukan sebelum penjamasan. Maaf pak masukan saya terlalu banyak dan mungkin membuat anda pusing hehehe...

Pernah saya tanya sama penjamas pusaka pada saat gebyar pusaka nusantara di museum, dia bilang 1 pusaka Rp 250.000. Bayangkan saya punya 11 pusaka, kalau saya menyewa penjamas pusaka saya harus merogoh kantong saya Rp 2.750.000 kan sayang juga segitu bisa untuk kebutuhan hehehe...

 Jawab :
He he he anda teliti juga yah
Tapi kalau anda mengerti latar belakang berpikir saya mungkin anda tidak akan menyampaikan ide itu.

Penjamasan pusaka memerlukan laku yg teliti, karena tujuannya bukan sekedar memandikan pusaka saja, bukan sekedar merendam di air kelapa, air kembang, dsb, tapi juga supaya kerisnya sesudahnya menjadi bagus terawat. Jangan ada perlakuan yg salah yg nantinya hasilnya malah jelek. Apalagi kalau dalam penjamasan itu diinginkan juga adanya pewarangan keris yang itu tidak boleh sembarangan dilakukan orang, apalagi cuma iseng coba2.

Menurut hemat saya dalam kehidupan kita sekarang ini sebaiknya jangan kita merepotkan diri dengan urusan2 yg selayaknya ditangani oleh orang2 yg ahli di bidangnya. Lagipula menjamas keris itu bukanlah keharusan. Menjamas keris hanya perlu dilakukan dalam rangka merawat keris supaya fisiknya terawat. Kalau fisiknya masih baik tidak kotor karatan ya tidak perlu dijamas. Apalagi biayanya tidak murah. Sesajinya saja yg harus kita telaten memberikannya, karena itu adalah lambang perhatian kita sehari2 kepada kerisnya.

Sebaiknya anda mengerti juga sisi filosofinya, jangan sampai sesuatu yg sifatnya tradisi kemudian dianggap sebagai keharusan / kewajiban.
Penjamasan keris lebih banyak dilakukan dalam rangka nguri-uri budaya. Tidak ada keharusan pusakanya dijamas.
Sama juga dgn ngarak pusaka, itu hanya nguri-uri budaya. Tidak ada keharusan pusakanya diarak.

Tapi biaya 250.000 itu per keris kayaknya sih terlalu mahal.



---------------


Ada beberapa hal yang ingin disampaikan oleh penulis kepada para pembaca untuk dilakukan,  karena sifat  pentingnya,  sebagai berikut :

  1. Bila kita memiliki keris, perlakukanlah keris itu seolah-olah adalah manusia anggota keluarga kita. Kita harus menghormatinya, sehingga ia pun menghormati kita. Jangan memperlakukannya dengan tidak hormat, tetapi juga jangan terlalu meninggikan dia dan memperlakukannya dengan terlalu istimewa (jangan mengkultuskan keris). Jangan menjadi suatu bentuk pemujaan.
  2. Simpanlah keris di tempat yang bersifat pribadi, yang tidak sembarang orang boleh masuk ke dalamnya dan menjamah keris, misalnya di kamar tidur, tidak di ruang tamu. Letakkan di posisi yang tinggi, tidak lebih rendah daripada tinggi dada orang dewasa. Jangan di bawah, apalagi di lantai. Bila disimpan di lemari, letakkan di rak paling atas.
  3. Jangan menciumi bau keris dan jangan menyimpan keris di sela-sela tumpukan pakaian, karena keris mengandung racun yang tidak baik untuk kesehatan dan uapnya juga bisa meracuni kita.
  4. Bila bermimpi berkelahi jangan sampai kalah, kalau dikejar jangan sampai tertangkap.
  5. Jangan terlalu sering melakukan jamasan (memandikan) keris, karena dapat mengikis logam keris. Cukup sekali saja dalam setahun, bulan suro atau maulid (bulan maulid yang terbaik) atau sekali saja seumur hidup kita, yaitu pada saat pertama memiliki keris itu. Selebihnya cukup kita minyaki saja setiap 3 atau 6 bulan sekali supaya keris itu tidak karatan.
  6. Jangan memberi sesaji macam-macam. Cukup kembang telon atau kembang setaman (kembang tujuh rupa) sesuai budaya jawa. Lebih praktis kalau kita meminyakinya sendiri dengan minyak cendana merah yang dicampur sedikit minyak singer, cukup dua atau tiga kali dalam setahun. Bila tempat menyimpan keris diberi dasar kain berwarna hitam akan dapat menaikkan kekuatan dan kegaibannya.
  7. Usahakan untuk mengetahui sendiri keperluan keris kita. Walaupun perlu, tetapi jangan bergantung pada pendapat orang lain, walaupun dia seorang ahli kebatinan. Kita bisa tahu sendiri tentang karakter keris dengan menayuhnya sendiri. Manfaat lainnya adalah kita akan menjadi lebih mengerti mengenai keris kita dan secara psikologis kita dan si keris akan menjadi lebih dekat. 
  8. Keris yang baik untuk kita akan menyesuaikan diri dengan kehidupan kita, dan tidak akan meminta perlakuan yang merepotkan kita. Bila keris itu meminta perlakuan yang aneh atau merepotkan kita, misalnya minta dibakarkan menyan, minta diberi sesaji daging mentah, telor ayam mentah, darah ayam, dsb, berarti keris itu tidak baik untuk kita. 
  9. Keris yang tidak baik atau tidak sejalan dengan kita sebaiknya jangan kita paksakan untuk kita miliki, supaya kita tidak terbebani oleh pengaruh buruknya.
  10. Bila kita tidak menginginkan keberadaan suatu keris, dengan alasan pribadi ataupun alasan agama, jangan kemudian keris itu disepelekan dengan begitu saja dibiarkan tersimpan di gudang, di kolong tempat tidur, dsb, apalagi dibuang. Lebih baik kalau kita serahkan kepada orang lain yang mungkin lebih mengerti dan bisa merawat keris itu atau kita serahkan saja ke museum.







 
https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/perawatan-keris-jawa/Perawatan%20Keris.JPG
Perawatan Keris
 
Keris di Jagrak
 
https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/perawatan-keris-jawa/Sesaji%20Dupa.JPG
Bakaran Dupa

 
Minyak Sesaji
 
Sarung keris, pendok, gagang dan mendak keris
 

Jagrak dan sarung keris
Comments