Menghormat kepada Keris




  Ngobrol Santai Tentang Keris

    Filosofi, Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa.

 


Halaman ini berisi ringkasan dan cuplikan / editan tanya jawab Penulis dengan pembaca dan obrolan santai dengan teman-teman, para pembaca atau orang lain tentang keris. Mudah-mudahan berguna untuk menambah pengetahuan.


--------------




 A :     Salam kenal dan hormat pak,
Saya penggemar tosan aji dan sejauh ini sudah mengoleksi sekitar 40 bilah keris, 10 tombak dan jenis tosan aji lainnya. Aspek esoteri merupakan hal yang dahulu belum bisa saya pelajari dan beruntung saya bisa menemukan tulisan bapak di internet sehingga saya perlahan-lahan bisa memahaminya.
Saya ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan:

1. Saya memiliki sebuah tombak dhapur Korowelang luk 13 estimasi tangguh Mataram awal.
Oleh beberapa orang, dikatakan tombak ini memiliki angsar yang sangat kuat. Awalnya saya tidak terlalu percaya tapi suatu kejadian memperlihatkan saya ketika saya pegang pertama kali, terasa ada seperti angin puting beliung menerpa padahal itu di dalam kamar. Sesudah saya menegur supaya berhenti barulah angin tersebut berhenti. Unsur esoteri apakah yang terdapat di dalamnya ? Kira-kira berapa kekuatannya dan apa fungsinya? Foto terlampir.

2. Saya memiliki sebuah keris luk 17 dhapur Ngamper Buto estimasi tangguh Amangkuratan.
Perasaan saya tertarik kepada keris ini cukup kuat dan seolah keris ini merupakan representasi jati diri saya. Mengapa bisa demikian pak? apakah itu faktor sejarah pemilik terdahulu? ataukah karena isinya?

3. Mohon masukan yang sama untuk bahasan esoteri dari tiga koleksi saya pak, dhapur Banyak Angrem, Trisula dan Megantara.
Saya kurang paham tangguhnya kecuali Megantara estimasi Pajajaran abad ke-12.
Menurut bapak apakah ketiga pusaka ini bisa diletakkan berdampingan dengan tombak lainnya?  Bagaimana pula dengan kekuatan serta fungsinya?

4. Baru-baru ini saya memperoleh sebuah wedhung dengan estimasi tangguh Maja.
Entah mengapa, malam harinya saya bermimpi bersetubuh dengan seorang perempuan cantik namun yang membuat saya kaget adalah begitu banyak sesaji / bebanten (saya beragama HIndu) di kanan kirinya.
Esok malamnya saya bermimpi membunuh seekor ular raksasa dan ular itu akhirnya dikeroyok ramai-ramai orang banyak orang2 yang saya tidak kenal. Saya hanya mengingat kalau ular itu berwarna-warni seperti pelangi dan memiliki tiga pasang mata.
Kira-kira apakah maksudnya pak? apakah wedhung tersebut menampakkan isi atau energinya?

Terimakasih banyak pak atas waktunya untuk menjawab keingintahuan saya.
Fernando RS


 J :     
1. Tombak dhapur Korowelang luk 13.
Khodamnya sejenis dgn khodam keris jawa, sosoknya bapak2 berjubah, 90 md.
Tuah utamanya untuk kewibawaan dan penjagaan gaib.
Katanya dulunya dibuat di daerah Salatiga, sekitar 300 tahun yg lalu.
Angsarnya kuat, karena dulunya mjd lambang kehormatan / kebesaran seorang bangsawan Solo.
Sebaiknya tombaknya diberikan tatakan / jagrak.

2. Keris luk 17 dhapur Ngamper Buto.
Isinya sukma manusia ibu2 bangsawan Yogya yg hidup sekitar 300 tahun yg lalu.
Katanya beliau adalah leluhur anda, tapi saya belum bisa memastikan kebenarannya.
Mungkin saya bisa mencocokkannya nanti sesudah saya melihat foto diri bapak.
Sebaiknya kerisnya diberikan tatakan / jagrak.


3. Tiga koleksi dhapur Banyak Angrem, Trisula dan Megantara :

Keris dhapur Banyak Angrem
Khodamnya sejenis dgn khodam keris jawa, suami istri bapak2 tua berjubah dan istrinya, 2 KRK.
Tuah utamanya untuk kesepuhan.
Tuah lainnya mengikuti sugesti pemiliknya.
Katanya dulunya dibuat di daerah Cirebon sekitar 350 tahun yg lalu, untuk seorang spiritualis Cirebon.

Trisula
Khodamnya sejenis dgn khodam keris jawa, bapak2 berjubah 80 md.
Berfungsi sbg khodam senjata tarung.
Dulunya milik seorang senopati kerajaan Mataram Sultan Agung.

Tombak Megantara
Khodamnya sejenis dgn khodam keris jawa, bapak2 berjubah 70 md.
Berfungsi sbg khodam senjata tarung.
Dulunya milik seorang prajurit Cirebon 200 tahun yg lalu.


4. Mengenai mimpi bapak itu saya belum bisa menjawabnya, mungkin nanti kalau saya sudah menerima
    fotonya untuk saya cocokkan.


Pusaka2nya tidak masalah berdampingan dgn yg lainnya, tetapi yg saya berikan rekomendasi untuk dibuatkan jagrak sebaiknya dilaksanakan, karena pusaka2 itu memiliki kekhususan tersendiri.

Sebaiknya bapak juga belajar menayuh keris seperti dicontohkan dalam tulusan saya yg berjudul Ilmu Tayuh Keris, sambil dicocokkan juga dgn tayuhan saya, selain akan menjadi lebih mengerti dan tidak banyak bergantung kpd orang lain, atau bahkan diombang-ambingkan oleh pendapat orang yg berbeda2, juga akan menambah sisi pengertian bapak.

terima kasih


 A :  
Terimakasih pak atas jawabannya, sangat membantu saya untuk melihat aspek esoteris dan relasi kecocokan data yang saya dapat dari pemilik sebelumnya.

Untuk tombak dhapur korowelang memang saya dapat dari daerah Sukoharjo Solo dan bersama dengan tombak lain saya taruh dalam jagrak dan ditempatkan di voyer rumah persis dekat pintu masuk utama. Mudah-mudahan posisinya sudah tepat karena kalau tidak salah saya pernah membaca bahwa angsar tombak biasanya jauh lebih panas dibandingkan dengan keris karena banyak digunakan untuk untuk lambang dan untuk tarung, apakah benar demikian adanya pak?

Mengenai keris ngamper buta yang berisi sukma leluhur saya; dari pihak ibu saya memang adalah orang Jawa asli walau ibu saya lahir dan besar di Jakarta. Semasa kecil saya pernah diajak eyang putri ke dua kompleks makam yang dikatakan beliau adalah garis leluhurnya, yakni Arumbinang di Kebumen dan Nyai Bagelen di Purworejo.

Saya sendiri tidak terlalu memahami hal ini hingga ada suatu pengalaman menarik ketika suatu hari saya menemani ibu saya yang berniat untuk jalan-jalan di Taman Sari, Jogjakarta. Kami berdua naik becak. Tiba disana dalam keadaan sepi sekitar jam dua siang tanpa ada orang sama sekali. Mulanya kami tidak sadar karena biasanya tempat itu ramai pengunjung. Sampai di depan pintu masuk, kami disambut seorang abdi dalem yang bersedia mengantar kami berkeliling ke dalam.

Anehnya, bapak ini hanya mengikuti dari belakang sehingga kami harus selalu berhenti memastikan langkah dan arah. Saya menegur beliau, kenapa bapak tidak jalan di depan saja biar kami tinggal mengikuti mau keliling ke arah mana terlebih dahulu. Beliau mengatakan dalam bahasa Jawa halus (saya hanya bisa menangkap secara pasif) bahwa beliau tidak berani karena derajat leluhur ibu saya lebih tinggi jadi tidak berani berjalan di depannya. Ibu saya pun tidak begitu lancar berbicara bahasa Jawa.

Saya menanyakan secara penasaran, darimana bapak bisa tahu derajat leluhur seseorang itu lebih tinggi atau lebih rendah ?
Abdi dalem itu menjawab bahwa dia sudah 30 tahun lebih bertugas dan bisa membedakannya dari getaran yang muncul di tangan seperti kesetrum. Jika orang di hadapannya lebih rendah secara derajat leluhurnya maka ia tidak merasakan apa-apa atau hanya kesemutan hingga telapak tangan. Jika lebih tinggi, maka rasa kesetrum itu bisa sampai ke pangkal lengan seperti saat itu.
Awalnya saya tidak begitu percaya informasi ini tapi sejalan dengan waktu, saya mengakui bahwa pengalaman kasat mata tentunya ada dan dialami setiap orang secara berbeda.

Berikut foto saya pribadi saya lampirkan agar lebih jelas (maaf saya hanya punya satu pose).
Mengenai mimpi saya, saya sertakan juga foto wedhung yang dimaksud.

Selain itu saya juga bermaksud sharing pengalaman saya mengenai keris kamardikan.
Dari beberapa empu yang saya temui baik di Yogya, Surakarta, Malang dan Den Pasar, ternyata ritual untuk membuat keris masih disertakan. Hanya saja di pulau Jawa ritual tersebut menjadi tambahan sesuai dengan maksud si pemesan. Jika keris tersebut hanya untuk hiasan, souvenir atau sekedar ageman biasanya ritual tidak diminta oleh pemesan dan empu tidak menawarkan. Jika pemesan bermaksud menjadikan keris tersebut sebagai piyandel, paling hanya puasa dan sudah jarang dilakukan dengan sesaji.

Saya pernah memesan dua bilah keris Bali,  pertama keris Pasopati dhapur Buntel Mayat yang saya gunakan sebagai keris pawiwahan / pernikahan, dan kedua Keris Carita Keprabon kelengan yang saya pakai saat sembahyang. Kedua foto terlampir. Khusus untuk kedua keris ini saya hanya bisa merasakan kekuatan doa yang menyertai karena keduanya sudah dipasupati.
Jika bapak berkenan bisakah menerangkan lebih lanjut apakah kekuatan doa baik empu, pendeta / pemuka agama yang memberkati, dan tindakan manusia terhadapnya apakah sama dengan isi atau tuah jika dihuni oleh makhluk lain ? Lantas bagaimana pendapat bapak melihat kedua keris tersebut apakah energi doa atau penggunaannya di dalam memuja Tuhan juga menghasilkan getaran tersendiri ?

Sementara di Bali (karena postingan tentang pembuatan keris di Bali yang ada di web bapak, kebetulan saya kenal baik dengan empu yang dimaksud) adat tradisi masih menopang tugas empu keris. Sekarang memang sudah mulai bermunculan empu tiban seperti sahabat saya itu tapi tugasnya luar biasa berat bila tanpa dukungan keluarga, kawan-kawan, komunitas dan adat tradisi. 

Saya memang baru mencoba untuk menerapkan tayuh keris dan mudah-mudahan bisa membantu mengasah kepekaan yang selama ini saya abaikan. Sekali lagi terimakasih atas diskusi yang menyenangkan ini.

 J :    
Katanya benar, anda adalah keturunan beliau.

Wedung anda itu sekarang ini kosong, tidak berkhodam,
sebelumnya isinya adalah mahluk halus mirip barong bali, putih, berkuku panjang dan matanya mendelik keluar, tapi sayangnya wataknya jahat, sehingga mungkin kemudian diusir dikeroyok ramai2 oleh khodam2 pusaka anda yg lain.

Mengenai pendapat angsar tombak biasanya jauh lebih panas dibandingkan dengan keris, saya justru berpendapat sebaliknya. Banyak keris yg angsarnya jauh lebih keras dan panas daripada tombak.

Keris adalah pusaka yg bersifat pribadi.
Kalau pemiliknya berwatak keras, atau suka bertarung / berkelahi, sedikit banyak kerisnya akan mengikuti / mengimbangi perwatakan pemiliknya.
Dan lebih banyak keris yg mjd lambang, dibanding tombak, tetapi jenis keris lebih banyak menyatu dgn orangnya, shg sesudah ada pergantian kepemimpinan, keris itu dibawa oleh pemiliknya yg lama, tidak semuanya diturunkan kpd pemimpin yg baru.

Kalau ada yg anda anggap keras / panas, atau negatif, seharusnya jangan ditaruh di bagian depan rumah, karena pengaruhnya akan mengisi seluruh rumah. Sebaiknya ditaruh di bagian belakang atau samping rumah.

Untuk tombak yg sudah dipasangi jagrak, terutama untuk tombak2 yg mjd lambang, paling baik ditaruh di bagian dalam rumah yg posisinya menghadap langsung ke pintu depan rumah, spy wibawanya terasa sampai keluar rumah, berguna untuk meredam niat negatif orang maupun mahluk halus yg masuk ke dalam rumah.

Yg anda alami di Tamansari itu mungkin memang benar begitu. Orang2 yg diserahi sebagai kuncen (yg diserahi, bukan yg menampilkan diri sbg kuncen) biasanya memang memiliki kemampuan / pengetahuan yg terkait dgn yg mjd amanatnya.

Empu di jawa mungkin tatalaku pembuatan kerisnya sudah lebih sederhana.
Empu di Bali mungkin masih lebih memegang tradisi, karena masih sejalan dgn laku keagamaan setempat.

Keris2 yg bapak sebutkan : Keris Pasopati dhapur Buntel Mayat yang digunakan sebagai keris pawiwahan/pernikahan dan Keris Carita Keprabon kelengan, keris2nya fotonya masing2 yg mana yah pak ? Kok saya bingung membedakannya...


 A :  
Maaf pak jika gambarnya kurang menjelaskan, saya upload lagi disertai titlenya.
Biasanya sih dalam membuat keris baru, empu hanya puasa menjelang tempa pertama, karena jika puasa saat menempa tidak akan kuat.
Sebagai calon pemilik, saya hanya mutih dan bisu tiga hari seperti yang saya lakukan pada saat apit weton kelahiran (saya lahir Kamis Wage).
Di Jawa pasca menempa memang sudah tidak ada tradisi untuk memberi energi / mempasupati keris, tetapi di Bali masih dilakukan hal tersebut, tidak hanya pas Tumpek Landep, tapi setelah keris benar-benar sudah siap untuk digunakan.
Keris Pasopati di gambar itu digunakan untuk pernikahan saya dan keris Carita Keprabon digunakan untuk sehari-hari menemani panjatan doa. 
Kembali ke pertanyaan saya, apakah kekuatan doa manusia dapat mengisi tosan aji sama halnya dengan kekuatan mahluk yang mendiami ? ataukah memang energi yang dihasilkan juga berbeda ? terimakasih banyak atas kesediaannya :)


 J :     
Keris Pasopati Buntel Mayat
Isi gaibnya sejenis dengan keris jawa, sosoknya bapak2 berjubah, 1,5 KRK.
Tuahnya akan mengikuti sugesti bapak dan jalan kehidupan bapak.

Keris Carita Keprabon
Isi gaibnya sejenis dengan keris jawa, sosoknya suami istri laki2 ksatria dan ibu2 berkemben, 2 KRK.
Tuahnya akan mengikuti sugesti bapak dan jalan kehidupan bapak.


Keris Pasopati Buntel Mayat itu tadinya saya kira keris pasopati berdapur buntel mayit seperti di jawa, ternyata bukan, makanya saya cari yg berdapur buntel mayit, kok tidak ada. Saya takut salah membedakannya, takut tidak sejalan dgn pengertian bapak.


Tentang keris kamardikan, saya ada tulisannya tersendiri tentang itu.
Saya juga ada tulisan tentang Keris Ageman dan Keris Tayuhan.
Silakan bapak baca2 supaya bisa mengerti jalan pikiran saya.

Secara umum keris kamardikan dalam pembuatannya tidak lagi sama dengan filosofi pembuatan keris jawa. Umumnya dibuat oleh kalangan seni rupa untuk melestarikan seni perkerisan, atau kalangan empu yg sudah beragama baru, yg tidak lagi sama dengan agama lama para empu dulu. Bentuk kerisnya bisa saja sama, tetapi kegaibannya berbeda, karena filosofi pembuatannya, doa-doa, dsb, sudah tidak sama lagi dengan para empu lama dalam membuat keris. Yg membedakan apakah sebuah keris tergolong sejenis dengan keris lama ataukah tergolong sbg keris kamardikan adalah sisi kegaibannya.

Secara umum keris Bali sejenis dengan keris jawa (yg bukan keris kamardikan).
Mungkin di Bali pembuatan keris wahyu sulit dibedakan dengan pembuatan keris kamardikan.
Mungkin kalau pengerjaannya sebentar, tidak lama, tidak dengan laku ritual yg rumit dan berat, keris yg dibuat akan dianggap sbg keris kamardikan. Tetapi apakah benar itu keris kamardikan, harus dilihat dulu sisi kegaibannya.

Secara spiritual umum, dan secara agamis, banyak orang menganggap isi kegaiban di dalam keris adalah kekuatan doa dari si empu keris. Tetapi secara kegaiban, apakah isinya bersifat "energi" doa, ataukah ada sosok gaibnya, harus diungkap secara terbuka tanpa membawa2 dogma dan pengkultusan.

Dalam membuat keris para empu menyampaikan doa-doanya kepada Dewa untuk orang si calon pemilik keris. Isi gaib kerisnya kemudian dianggap sebagai bentuk restu Dewa bagi si manusia pemilik keris. Begitu filosofinya. Karena itu secara umum keris jawa sama dengan keris Bali, karena tujuan doanya sama, walaupun bentuk ritualnya berbeda. Dan karena doa-doanya masih sama dengan cara empu lama, maka walaupun dibuat pada jaman sekarang dan pengerjaannya tidak berat dan bentuk kerisnya juga dianggap sama dengan keris kamardikan, tetapi sisi kegaibannya masih sama dan sejenis dengan keris-keris lama.

Karena isi gaibnya berhubungan dengan Dewa, maka kegaibannya juga bisa menghubungkan manusia dengan Dewa, jika kerisnya digunakan dalam berdoa kepada Dewa.

Mungkin itu berbeda dengan cara orang jaman sekarang membuat keris, yg doanya tidak lagi kepada Dewa, tetapi kepada Tuhan, sesuai agama umum jaman sekarang. Mungkin malah tidak ada ritual doanya sama sekali, hanya kreasi saja. Dengan demikian sisi kegaiban kerisnya juga akan berbeda. Itulah yg kemudian menjadi keris kamardikan.
Tetapi kalau spiritual doanya masih sama dengan para empu lama, maka sisi kegaiban kerisnya juga akan sama dengan keris-keris lama (keris wahyu).

Pada jaman dulu di Jawa, berat-ringannya pembuatan keris sangat ditentukan oleh status si manusia calon pemilik keris dan status kerisnya itu sendiri nantinya.

Kalau si calon manusianya adalah orang2 yg memiliki wahyu dewa dalam dirinya, misalnya para raja / adipati / bupati, ksatria utama, tokoh kesepuhan, atau nantinya kerisnya akan menjadi lambang sebuah pemerintahan, kerajaan / kadipaten / kabupaten, dsb, biasanya laku pembuatannya lama dan berat, karena yg didatangkan juga kelas gaibnya khusus, tatacara teknis dan ritual pengerjaannya dan bentuk kerisnya pun mengikuti tuntutan persyaratan dari gaib kerisnya itu, sehingga setelah semua persyaratan dipenuhi nantinya kerisnya akan menjadi berdaya magis tinggi, yg tidak sama dgn keris2 yg dibuat untuk orang biasa.

Kira2 begitulah ulasan saya untuk menjawab pertanyaan2 bapak itu.


 A :    
Terimakasih atas keterangan bapak.

Mengenai pamor buntel mayat sebenarnya merujuk kepada beberapa sumber buku atau tertulis di dalam perkerisan, memang masih ada perdebatan atau keterangan yang berbeda tentang pamor itu.
Kalau dari aspek teknik tempa, beberapa sumber mengatakan bahwa asal kata aslinya adalah buntel mayat dalam bahasa Jawa yakni nguntel (melilit) dan mayat (miring). Jadi pamor yang melilit miring ke atas. Filosofinya adalah pencapaian cita-cita hingga puncaknya dengan jalan yang berliku namun pasti.

Dalam perkembangan waktu, kata mayat dalam bahasa Jawa tersebut dimaknai dalam bahasa Indonesia yang berarti jenazah, sehingga intepretasi terhadap pamor tersebut juga menjadi seram serupa pocong. Akhirnya, pamor itu dianggap tidak cocok bagi semua orang bahkan dikatakan membawa sial bagi yang tidak kuat. Soal ketidakcocokan, memang banyak pamor rekan yang sulit pembuatannya dan mahal. Wajar jika tidak semua orang cocok.

Terlepas dari perdebatan itu, keris dhapur Pasopati saya memang dipahami pembuatannya dalam definisi pamor Buntel Mayat tapi Agal yakni lipatan pamor yang besar-besar, sehingga berbeda dengan Buntel Mayat biasa yang menyerupai lilitan garis karena rapat. Oleh karena itu, banyak juga yang melihat Buntel Mayat Agal sebagai pamor Segara Muncar.


Mengenai wedhung yang kosong kemarin, saya sudah kembali mengisinya dengan menaruh dan mendoakannya di sanggah / tempat sembahyang keluarga. Mudah-mudahan bisa menjadi yang terbaik.

Sekali lagi terimakasih atas diskusinya.
Saya harap bapak tidak keberatan diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul lagi kelak.
Salam hormat.

 J :   
Iya pak
Ini juga sudah menambah wawasan saya
terima kasih


---------



 A :    
Salam pak, apa kabar ?
Semoga baik-baik saja

Jika tidak merepotkan ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan;

(1) Setelah melakukan beberapa kali upaya untuk mengetahui aspek esoteris sesuai dengan petunjuk / metode yang bapak tulis di blog, saya menemukan (tentunya berdasarkan pengalaman saya) bahwa keris-keris dengan tangguh tua seperti Majapahit memiliki energi yang lebih stabil dibandingkan dengan keris-keris yang lebih muda seperti Mataram atau nom-noman. Ibaratnya lilin, keris tangguh Majapahit tetap menyala secara konstan seberapa kecil dayanya, sementara keris yang lebih muda saya merasakan energinya naik turun. Mengapa bisa demikian ya pak ?

(2) Berikut saya sertakan gambar dari beberapa tangguh Majapahit.
Pertanyaan saya, apakah karakteristik esoterinya dalam arti energi keris tersebut memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan tangguh lain ?
Lantas bagaimanakah membedakannya dengan isi berupa khodam atau sukma ?

(3) Mohon bapak dapat memberikan keterangan tentang indikator kekuatan bilah masing-masing selain fungsi dan energinya. Terus terang saya masih bingung tentang penentuan indikator tersebut apakah dapat dilakukan secara eksak / pasti, misalnya perbedaan antara 60 dengan 70 md, atau 90 md dengan 1 KRK. Bagaimana perbedaan itu dapat ditentukan secara nominal dan seperti apakah efek dari energi dengan satuan yang berbeda ?
Saya juga penasaran, apakah ada tosan aji yang juga mempunyai energi tinggi setingkat buto seperti yang bapak tulis di blog sebagai satuan energi yang terbesar ?

Terimakasih banyak dan maaf sudah merepotkan :)


 J :   
1. Saya kurang mengerti mengenai pendapat energi keris yg kurang stabil pada keris2 dari tangguh tertentu.

Sebenarnya pendapat seperti itu pernah juga saya dengar dulu, tapi sampai sekarang saya belum tahu pasti apa maksudnya. Apakah yg dimaksudkan itu adalah keberadaan energi pada bilah kerisnya, apakah berhubungan dgn tuahnya, ataukah yg dimaksudkan itu adalah kekuatan gaibnya / khodamnya.

Sepengetahuan saya tentang kegaiban keris, secara umum angsar dan tuah keris berasal dari adanya "khodam" di dalam keris, yg bentuk tuahnya dan angsar keris dulunya sudah "diprogram" oleh sang empu keris pada saat pembuatan keris.
Pada jaman sekarang angsar dan bentuk tuah itu sudah tidak persis sama lagi seperti ketika dulunya keris2 diciptakan, karena keris2nya sudah mengikuti kepribadian dan kehidupan manusia si pemilik keris berikutnya.

Dari sisi energi pada bilah kerisnya secara umum :
Keris-keris yang isi gaibnya tetap berdiam di dalam kerisnya biasanya isi energi pada bilah kerisnya lebih terasa, lebih stabil, bentuk tuahnya juga lebih stabil, tidak banyak berubah.
Sedangkan keris-keris yang isi gaibnya keluar dari kerisnya menjadi khodam pendamping si pemilik keris biasanya
isi energi pada bilah kerisnya kurang terasa, tidak stabil, karena khodamnya tidak berada di dalam kerisnya. Bentuk tuahnya juga sudah mengikuti jalan kehidupan manusia pemiliknya, cenderung berorientasi menjadi untuk penjagaan gaib (keselamatan), bentuk tuah yang lain menjadi kurang kuat, sehingga untuk bentuk tuah yang lain itu perlu diberikan sugesti lagi kepada kerisnya.


2. Keris2 yg fotonya anda kirimkan :

Buto Ijo.jpg
Isi gaibnya sejenis dgn khodam keris jawa, bapak2 tua berjubah, 90 md.
Tuah utamanya untuk kesepuhan dan penjagaan gaib.
Katanya benar keris itu dibuat pada jaman majapahit, jaman Ratu Tri Buana Tunggadewi, untuk seorang panembahan di gunung Kelud.
Energi pada bilahnya kurang, karena khodamnya sudah keluar dari kerisnya mjd khodam pendamping.

Kalanadah.jpg
Isi gaibnya suami istri sukma manusia bangsawan Gresik pada era sebelum raja majapahit Brawijaya (raja majapahit yg lengser keprabon).
Mereka dulunya adalah keluarga kerabat kerajaan majapahit.
Keris itu dulunya adalah milik istrinya.
Energi pada bilahnya lebih terasa, karena isi gaibnya berdiam di dalam kerisnya.
Tapi mungkin suami istri itu tidak akan lama lagi berdiam di dalam keris itu, akan pindah ke tempat lain yg lebih baik.

Pulanggeni.jpg
Isi gaibnya suami istri sukma manusia bangsawan Tuban pada era raja majapahit R.Wijaya.
Keris itu dulunya adalah milik istrinya.
Energi pada bilahnya lebih terasa, karena isi gaibnya berdiam di dalam kerisnya.
Tapi mungkin suami istri itu tidak akan lama lagi berdiam di dalam keris itu, akan pindah ke tempat lain yg lebih baik.

Panji Paniwen.jpg
Isi gaibnya sejenis dgn khodam keris jawa, bapak2 tua berjubah, 100 md.
Tuah utamanya untuk penjagaan gaib.
Katanya benar keris itu dibuat pada jaman majapahit Hayam Wuruk.
Energi pada bilahnya lebih terasa, karena isi gaibnya berdiam di dalam kerisnya.

Cengkrong Damar Murub.jpg
Isi gaibnya sejenis dgn khodam keris jawa, laki2 ksatria, 80 md.
Tuah utamanya sbg khodam senjata tarung.
Katanya keris itu dibuat di jawa tengah pada jaman kerajaan Mataram P. Senopati.
Energi pada bilahnya lebih terasa, karena isi gaibnya berdiam di dalam kerisnya.

Sejalan dgn uraian saya sebelumnya, secara umum kegaiban keris berasal dari adanya "khodam" di dalam keris.
Mengenai apakah khodamnya itu dari jenis sukma manusia ataukah mahluk halus lainnya, untuk tahu itu memang harus dgn mengedepankan sisi spiritualitas kita.
 
Dan dari sisi energi pada bilah kerisnya secara umum saya tidak menemukan adanya perbedaan yg signifikan dari keris2 era majapahit dgn keris2 lain dari tangguh yg berbeda.
Secara umum :
Keris-keris yang isi gaibnya tetap berdiam di dalam kerisnya energi pada bilah kerisnya lebih terasa.
Sedangkan keris-keris yang isi gaibnya keluar dari kerisnya menjadi khodam pendamping si pemilik keris
energi pada bilah kerisnya kurang terasa.


3. Tentang indikator kekuatan mahluk halus dan khodam saya sudah menuliskannya dalam tulisan berjudul  Kesaktian Mahluk Halus.

Untuk mahluk halus dan benda gaib yang kekuatannya dijadikan indikator kekuatan gaib, kita harus mengenal betul sosok gaibnya dan karakteristik kekuatannya, bukan sekedar tahu tuahnya atau sekedar pernah melihatnya.

Bagi orang umum memang akan susah untuk mengukur sendiri kekuatan mahluk halus, karena mungkin kita tidak pernah mengukur kekuatan gaib kuntilanak, gondoruwo, wk, md, ibu ratu kidul, dewa dan buto, melihatnya pun mungkin belum pernah. Tapi akan lebih mudah kalau kita tanyakan langsung kepada masing-masing mahluk halusnya.

Misalnya untuk mengukur kekuatan khodam sebuah keris, akan lebih mudah kalau kita tanyakan langsung kepada kerisnya, misalnya, berapa ukuran kekuatannya jika dibandingkan dengan md atau KRK.
Mudah-mudahan khodam kerisnya tahu sosok yang dimaksud dan bisa mengukur kekuatan md dan KRK, sehingga bisa mengukur kekuatannya sendiri dibandingkan mereka.

Lebih baik lagi kalau hasil pengukurannya ditanyakan lagi kepada keris yang lainnya, sehingga dari perbandingan itu kita bisa mengambil kesimpulan yang lebih baik.

Tapi memang hasil pengukurannya tidak bisa 100% akurat, karena hanya bersifat perkiraan saja, tidak seperti mengukur dengan alat meteran. Mudah-mudahan selisihnya tidak banyak.

Saya belum pernah menemukan ada pusaka yg kekuatan gaibnya setingkat buto, tapi mahluk halus lain ada banyak sekali yg kekuatannya di atas itu.

terima kasih






------------------




 







Comments