Masalah Keakuratan Menayuh

     Langkah awal belajar menilai kegaiban
         
 


Halaman ini adalah kelanjutan dan penjelasan tambahan dari halaman sebelumnya Ilmu Tayuh / Menayuh Keris. Di halaman ini dituliskan masalah-masalah yang mempengaruhi keakuratan kita menayuh gaib. Bila kita mengalami kesulitan dalam menayuh atau dirasakan ada ketidak-akuratan dalam menayuh, mungkin sumber penyebabnya ada di tulisan ini yang itu harus bisa kita tangani lebih dulu supaya penayuhan kita bisa benar.

Cara-cara menayuh yang sudah dipaparkan sebelumnya adalah cara-cara menayuh keris yang sederhana dan praktis, tetapi benar, bukan tipuan. Selama melakukan tayuhan itu usahakan untuk kita bisa menetralkan hati dan pikiran, menerima jawaban si keris apa adanya.

Inti dari ilmu menayuh adalah menyampaikan komunikasi manusia kepada sesuatu yang gaib untuk mendapatkan jawaban / informasi tentang sesuatu hal dari gaib yang bersangkutan
(dalam hal menayuh keris, berarti si manusia berkomunikasi dengan gaib si keris). Ilmu menayuh ini dapat juga dilakukan kepada sosok gaib dari benda-benda lain selain keris, seperti kepada isi gaib dari batu cincin dan mustika, khodam pendamping atau kepada mahluk gaib lain di rumah kita. Jika pertanyaannya tentang khodam pendamping atau kepada mahluk gaib lain di rumah kita, maka pertanyaannya harus ditujukan langsung kepada khodamnya / mahluk halusnya itu.

Syarat dasar untuk kita bisa berkomunikasi dengan gaib adalah kita harus bisa menyampaikan sugesti kita keluar, sugesti kita harus bisa sampai dan bisa dimengerti oleh gaibnya, bukan seperti kita berkata-kata sendiri di dalam hati, atau suara kita hanya berputar-putar di dalam pikiran kita saja. Bisa tidaknya kita menayuh dengan model ayunan keris atau bandul (cara 2 dan 3), bisa menjadi petunjuk apakah kita bisa menyampaikan sugesti / komunikasi kita keluar, kepada sosok gaibnya. Dengan kata lain, cara itu bisa menjadi tanda apakah kita bisa berkata-kata kepada sosok gaib yang kita tuju, apakah kata-kata kita itu sampai kepadanya.

Jadi bila anda belum bisa menggerakkan keris dan bandul seperti dalam contoh tayuhan, mungkin sugesti anda tidak sampai kepada si keris. Jika itu yang terjadi maka anda harus melatih fokus rasa kepada keris / bandulnya supaya sugesti anda benar sampai kepadanya. Kalau perlu ucapan anda itu disampaikan sambil anda berbicara, supaya lebih pasti bahwa sambat anda sampai kepada yang dituju.

Dalam menyampaikan sugesti di atas kita lakukan di dalam hati, tetapi ditujukan kepada si keris, bukan sekedar berkata-kata di dalam hati. Kalau sugesti anda tidak sampai, maka jika anda meminta si keris datang ke dalam mimpi anda, bisa dipastikan bahwa anda tidak akan mendapatkan mimpi jawaban dari si keris, karena sugesti komunikasi anda tidak sampai kepada si keris.

Cobalah energi di tangan kita salurkan seolah-olah menyatukannya dengan energi keris / bandulnya. Dengan cara itu fokus kita akan ada pada rasa , bukan pikiran. Dengan demikian diharapkan dengan rasa kita akan bisa kontak rasa dan batin dengan keris / bandulnya.

Jadi kuncinya adalah pada penyatuan rasa, sehingga terjadi kontak rasa dan batin.

Kalau fokus kita masih di pikiran, maka kejadiannya akan sama seperti kita berkata-kata sendiri di dalam hati atau berkata-kata di dalam pikiran kita sendiri, kata-kata kita tidak sampai kepada keris / bandulnya. Berarti kita hanya berputar-putar saja di dalam pikiran atau perasaan kita, tidak mampu menyampaikan sugesti kita keluar, tidak sampai kepada keris / bandulnya.

Itulah juga sebabnya sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan yang serupa dari beberapa pembaca, yaitu ketika mereka meminta kerisnya datang ke dalam mimpinya, mereka tidak mendapatkan mimpi yang diharapkannya itu, atau ketika mereka mencoba menayuh dengan ayunan keris atau dengan bandul, keris atau bandulnya itu tidak mantap bergerak menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Jika anda juga mengalami itu, ada kemungkinan sugesti / kontak batin anda tidak sampai kepada khodam / gaib yang dituju. Berarti anda masih harus belajar menyampaikan sugesti / kontak batin anda supaya bisa sampai kepada khodam / gaib yang dituju. Kalau perlu ucapan anda itu disampaikan sambil anda  berbicara, supaya lebih pasti lagi bahwa sambat anda sampai kepada yang dituju.

Coba saja anda terus melatih menayuh dengan bandul batu dengan menekan rasa di dada.
Sesudah batunya diayunkan kencang maju mundur, kalau batunya mau bergerak berputar ke kanan ketika anda perintahkan berputar ke kanan, atau ke kiri ketika anda perintahkan berputar ke kiri, berarti sugesti anda sampai. Tapi kalau batunya masih juga tidak bereaksi berarti sugesti anda tidak sampai. Mungkin anda masih harus latihan olah rasa.

Latihan menayuh itu juga berguna untuk melatih rasa supaya anda bisa kontak rasa dan batin terutama dengan khodam keris / bandul tayuhannya. Nantinya bisa ditingkatkan untuk kontak rasa dengan khodam pendamping atau dengan mahluk halus yang lain.

Atau jika dengan cara di atas keris / bandulnya masih belum juga bergerak, coba saja dengan cara berbicara dengan mulut kita berikan perintah supaya bandulnya berputar ke kanan atau ke kiri (jangan lupa sebelumnya bandulnya digerakkan dulu maju-mundur untuk memudahkannya bergerak berputar ke kanan atau ke kiri).


Keakuratan dalam menayuh keris no.1, yaitu menayuh keris lewat mimpi, penjelasannya sbb :

Pertama, masalah rasa dan sugesti.
Kita harus bisa bersugesti kontak rasa dan batin dengan si keris (dilatih terus). Artinya, jangan kita hanya sekedar berkata-kata di dalam hati, tetapi komunikasi pikiran kita itu harus bisa sampai kepada si gaib keris, sehingga si keris bisa "mendengar" komunikasi kita dan kemudian akan menjawabnya. Sama dengan kita berkomunikasi dengan orang lain, mungkin kita harus berkata-kata dengan keras dan fokus berhadapan dengan orangnya supaya orang itu jelas menangkap ucapan-ucapan kita.

Kedua, bila seseorang sudah memiliki beberapa buah keris, maka menayuh keris-kerisnya itu harus dilakukan satu per satu, tidak sekaligus, supaya jelas bahwa mimpi tayuhan yang didapatkannya adalah berasal dari keris A, bukan dari keris B, dsb.

Ketiga, bisa saja setelah kita meminta diberikan mimpi, pada malam harinya ada sosok halus lain yang datang kepada kita dan memberikan mimpi kepada kita sebagai tanda pemberitahuan tujuan kedatangannya, misalnya mimpi bercinta atau mimpi dikejar-kejar mahluk halus. Dalam kasus ini mimpi tersebut adalah mimpi perihal kedatangan sosok halus tersebut, bukan mimpi tayuhan keris.

Karena itu bila menayuh keris dilakukan lewat mimpi, sebaiknya dilakukan minimal 2 kali, supaya dari ke 2 mimpi tersebut kita dapat mengambil sebuah kesimpulan yang sama dan dapat merasa yakin bahwa mimpi itu adalah mimpi tayuhan yang diberikan sebagai jawaban dari si keris. Dan bila mimpinya sudah 2 kali diberikan, biasanya si keris tidak akan memberikan mimpi untuk ketiga kalinya, karena dianggap si manusia sudah tahu jawabannya.
Baca juga : Arti Mimpi Menayuh Keris.


Sebaiknya menayuh dengan mimpi dan dengan model ayunan keris / bandul itu dilakukan sebagai satu kesatuan teknik tayuhan, sehingga kita lebih mengerti artinya dan bisa mengambil kesimpulan yang benar.

Maksudnya, sesudah menayuh dengan mimpi dan kita sudah diberikan mimpinya, tayuhannya kita lanjutkan dengan ayunan keris / bandul, kita tanyakan lagi kepada kerisnya tentang mimpinya itu untuk lebih memastikan lagi arti mimpinya dan tentang detail pertanyaan-pertanyan lain yang tidak terjawab lewat mimpi.

Begitu juga sebaliknya, sesudah kita bisa kontak dengan gaib kerisnya, sesudah menayuh dengan model ayunan keris / bandul, tayuhannya kita lanjutkan dengan memintanya hadir di dalam mimpi kita untuk memberikan tanda kepada kita atau penjelasan lain yang kita belum mengetahuinya.


Keakuratan dalam menayuh keris no. 2 dan 3 (dengan ayunan keris / bandul) tergantung pada beberapa faktor :

Pertama, masalah rasa dan sugesti.

Kita harus bisa bersugesti kontak rasa dan batin dengan si keris (dilatih terus). Artinya,
jangan kita hanya sekedar berkata-kata di dalam hati, tetapi komunikasi pikiran kita itu harus bisa sampai kepada si gaib keris, sehingga si keris bisa "mendengar" komunikasi kita dan kemudian menjawabnya. Kalau kontak rasa / komunikasi kita tidak sampai kepada si keris, maka jawaban ayunan si keris akan mengambang, mungkin malah tidak menjawab sama sekali, karena pertanyaan-pertanyaan kita tidak sampai kepadanya.

Sama dengan kita berkomunikasi dengan orang lain, mungkin bukan hanya kita harus berkata-kata dengan jelas dan berhadapan dengan orangnya, tetapi suara kita juga harus jelas ditujukan kepadanya, supaya orang itu jelas menangkap ucapan-ucapan kita.


Kedua, keakuratan jawaban tayuhannya bisa dipengaruhi oleh ketidak-netralan sikap batin kita.

Bila kita mempunyai rasa takut dan was-was, atau ada keinginan tertentu supaya si keris menjawab sesuai keinginan kita, maka jawaban tayuhannya akan menjadi tidak akurat, bisa saja batin kita sendiri yang menggerakkan keris tersebut, atau si keris hanya mengiyakan saja, sehingga gerakan ayunan tersebut bukan asli jawaban si keris.

Dalam menayuh sebaiknya jangan kita terburu-buru, dan kita harus bisa netral, supaya jawaban tayuhannya bisa akurat dan jawaban tayuhannya tidak sekedar meng-iya-kan saja harapan / keinginan kita.


Ketiga, keakuratannya tergantung juga apakah ada pihak lain yang mempengaruhi gerakan jawaban si keris.

Ada kejadian ketika seorang teman mencoba belajar menayuh keris dengan model ayunan seperti di atas, ternyata tanpa sepengetahuannya ada leluhurnya (almarhum) yang memperhatikannya. Leluhur tersebut tidak ingin dia bermain-main dengan keris (karena pada jaman dulu orang tidak mengayun-ayunkan keris untuk menayuh), maka sang leluhur tersebut menyuruh kerisnya untuk menjawab dengan tidak benar. Dalam hal ini, gaib si keris mengikuti perintah si leluhur tersebut, bukan karena takut atau kalah kuat, tetapi karena sesuai etikanya si keris harus menghormati si leluhur tersebut, karena seharusnya yang menjadi pengayom dan pelindung orang tersebut adalah leluhurnya sendiri, bukan si keris (baca juga : Menyatunya Keris dgn Pemilik). Dengan demikian jawaban tayuhannya bukanlah asli jawaban si keris, tapi adalah jawaban yang diperintahkan oleh leluhur orang tersebut kepada si keris.

Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa kepemilikan keris jawa bisa menghubungkan seseorang dengan leluhurnya. Itu adalah salah satu keistimewaan keris jawa dibandingkan benda-benda gaib lain. Seandainya saja kemudian ada sesosok leluhur yang datang, mungkin beliau hanya mewakili kehadiran dari para leluhur yang lain.

Maka dalam proses menayuh itu kita tambahkan pertanyaan :
 " Apakah ini asli jawaban keris ini ? "
 " Apakah ada pihak lain yang mempengaruhi jawaban keris ini ? ",  jika jawabannya ya, tanya lagi :
 " Apakah keinginan batin saya sendiri ? ",  jika jawabannya ya, berarti anda harus bisa bersikap netral.
 " Apakah leluhur saya ? ",  jika jawabannya ya, tanya lagi :
 " Sekarang di manakah dia ?  Apakah di belakang saya (atau apakah di atas saya) ? ".
 " Tolong sampaikan kepadanya supaya saya diijinkan belajar menayuh, karena maksud keinginan saya
    adalah ingin lebih mengerti mengenai kegaiban keris, bukan sekedar bermain-main keris, dan sampaikan
    juga rasa terima kasih saya atas pengayomannya ".



Keempat, mungkin saja gaib kerisnya berbohong.
Misalnya yang kita tanyakan adalah bersifat sensitif dan rahasia dan si keris tidak ingin kita tahu tentang itu, si keris merasa berat untuk memberitahu, mungkin saja kemudian ia berbohong, atau jawabannya mengambang tidak jelas, atau kerisnya hanya mengiyakan saja. Kalau ini yang terjadi, menayuh dengan cara apapun, termasuk dengan terawangan atau dengan komunikasi gaib sekalipun tetap saja ia akan berbohong.

Bila kita netral dan terbiasa dengan menayuh keris, maka dengan rasa dan sugesti kita akan tahu sendiri apakah jawabannya asli dari kerisnya ataukah tidak. Menayuh dengan cara apapun, termasuk dengan terawangan dan komunikasi gaib, ketajaman feeling kita juga diperlukan supaya kita tahu jawabannya itu benar atau tidak. Sama halnya kita ngobrol dengan teman-teman kita, perlu feeling untuk tahu apakah mereka berbohong ataukah tidak. Di luar semua itu, setidaknya cara menayuh keris ini bisa menjadi sarana melatih kontak batin kita dengan gaib keris kita.

Di saat lain, mungkin saja kerisnya tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita. Jika benar begitu, maka jawaban ayunan dari si keris akan mengambang tidak jelas. Karena itu dalam setiap pertanyaan kita itu sebaiknya jangan kita terburu-buru, kita berikan jeda beberapa saat supaya gaib si keris bisa mencaritahu jawabannya dengan lebih akurat, juga supaya kerisnya tidak asal meng-iya-kan saja.




  Masalah Keakuratan Menayuh


Walaupun urusan tayuh-menayuh ini kelihatannya sepele, tapi ternyata tidak semua orang bisa menayuh dengan benar dan akurat.

Faktor ketidak-akuratan menayuh :
1. Berasal dari diri kita sendiri.
2. Berasal dari luar luar diri kita.

Jadi faktor ketidak-akuratan menayuh ini bisa berasal dari diri kita sendiri, bisa juga dari luar diri kita. Kelemahan
tayuhan yang berasal dari diri kita sendiri seharusnya sudah lebih dulu bisa kita atasi, barulah tayuhan kita lebih bisa diharapkan benar. Jangan ada kesalahan tayuhan yang berasal dari diri kita sendiri. Sesudah itu barulah kita kritisi lagi apakah ada kesalahan tayuhan yang berasal dari luar diri kita.

Jadi tidak semua penyebab ketidak-akuratan dalam penayuhan berasal dari adanya pihak lain yang membelokkan jawaban tayuhan kita. Sebaiknya kelemahan-kelemahan dari diri sendiri ini kita atasi lebih dulu supaya tayuhan kita
lebih bisa diharapkan benar.



1. Faktor ketidak-akuratan menayuh yang berasal dari diri kita sendiri :

Ada beberapa poin yang perlu menjadi bahan koreksi kita yang berhubungan dengan keakuratan tayuhan kita yang sumber penyebabnya adalah kelemahan dari diri kita sendiri sbb :


1. K
ita belum bisa kontak rasa tersambung dengan sesuatu yang gaib.

Hal pokok dalam kita menayuh adalah kita harus bisa kontak rasa selain dengan benda alat bantu tayuhannya juga dengan benda objek tayuhannya. Kendorkan pikiran. Kedepankan kontak rasa.

Kelemahan ini sifatnya pokok dan mendasar sekali. Kelemahan ini harus bisa kita atasi sendiri. 
Karena kelemahan ini dalam semua penayuhan kita akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan jawaban yang benar. Mungkin jika menggunakan bandul atau keris, bandul atau keris kita itu akan sama sekali tidak bereaksi menjawab tayuhan kita. Mungkin juga ayunannya tidak mantap. Dan ketika kita meminta diberikannya mimpi tayuhan, mungkin tidak akan ada mimpi tayuhan yang diberikan kepada kita. Berarti kita masih perlu latihan olah rasa untuk bisa kontak rasa.

Bila anda masih mengalami kesulitan dalam hal kontak rasa sebaiknya anda belajar olah rasa saja dulu seperti yang dicontohkan di tulisan berjudul Olah Rasa dan Kebatinan.


2. S
ukma kita belum terlatih untuk mendeteksi kegaiban.

Dalam tahap latihan awal menayuh sebagai alat bantu tayuhannya ada baiknya kita menggunakan benda-benda yang berkhodam, yang berisi gaib di dalamnya. Dengan cara itu sambil kita latihan peka rasa dan latihan kontak rasa, kita juga latihan berkomunikasi dengan gaib tayuhannya. Sesudah itu bisa dikuasai, barulah latihan menayuhnya ditingkatkan dengan kita bertanya kepada batin kita sendiri, kepada sukma kita sendiri, sehingga nantinya kita akan bisa menayuh dengan benda apapun yang kita jadikan alat tayuhan, berkhodam maupun yang kosong tidak berisi gaib, karena yang menjawab tayuhannya adalah sukma kita sendiri, bukan khodam bendanya.

Dalam hal kita menayuh dengan menanyakannya kepada sukma kita sendiri, kepada pancer atau sedulur papat kita sendiri, mungkin ada tayuhan yang tidak tepat jawabannya yang penyebabnya berasal dari kelemahan kita sendiri. Penyebabnya mungkin adalah karena sukma kita belum terlatih untuk mendeteksi kegaiban.

Misalnya saja sukma kita belum bisa mendeteksi keberadaan sukma leluhur kita atau khodam pendamping yang sudah mendampingi kita, atau tentang sesuatu gaib yang lain.

Ini akan menjadi kesulitan ketika kita menayuh apakah ada gaib / khodam yang mendampingi kita, dimana posisi keberadaannya, apa sosok wujudnya, kekuatannya, dsb, karena sukma kita sendiri belum benar-benar bisa mendeteksi mahluk halus. Dengan demikian tayuhan kita mengenai sosok wujudnya, kekuatannya, dsb, akan juga tidak tepat jawabannya,
karena sukma kita sendiri masih belum sungguh-sungguh bisa mendeteksi keberadaannya, mungkin masih mengambang samar-samar.

Begitu juga bila kita bertanya tentang isi akik kita, sosok wujudnya, kekuatannya, dsb, atau tentang gaib-gaib yang tinggal di rumah kita apakah ada yang negatif atau tidak,
akan juga tidak tepat jawabannya, karena sukma kita sendiri masih belum sungguh-sungguh bisa mendeteksi mahluk halus.

Bila kondisi kita masih seperti ini maka dalam setiap penayuhan kita harus menggunakan benda-benda yang berkhodam, menayuhnya fokus kepada khodam bendanya, bukan kepada sukma kita, jawaban tayuhannya berasal dari khodam bendanya, bukan dari sukma kita.

Dengan kondisi yang masih seperti ini sebaiknya kita belajar olah rasa untuk meningkatkan kualitas roh kita supaya bisa juga berperan sebagai roh yang bisa juga mendeteksi adanya roh-roh halus lain seperti yang dicontohkan di tulisan berjudul Olah Rasa dan Kebatinan.

Sesudah roh kita bisa berperan sebagai roh yang sudah bisa mendeteksi adanya roh-roh halus lain, barulah kita menayuh dengan menanyakannya kepada diri kita sendiri, kepada sukma kita sendiri. Kemudian tinggal kita perbandingkan selisih jawaban tayuhan dari khodam tayuhannya dengan yang jawabannya dari sukma kita. Bila masih ada perbedaan jawaban tayuhan, itu menjadi bahan kita untuk dipelajari lagi apa yang membuat jawaban tayuhannya berbeda atau tidak akurat.

Jadi jangan mengandalkan diri sepenuhnya pada ayunan keris / bandul. Dalam setiap penayuhan kita harus juga peka rasa dan menghidupkan insting untuk bisa menilai sendiri apakah tayuhan kita sudah benar atau masih salah.


3. Ketidaksepahaman bahasa dalam tayuhan.

Sama seperti kita berkomunikasi atau bercakap-cakap dengan orang lain, kita harus menggunakan bahasa dan istilah-istilah yang artinya dipahami bersama. Bila ada penggunaan bahasa, kata-kata atau istilah yang artinya tidak sepaham mungkin akan ada bagian-bagian pembicaraan yang maksudnya tidak sepenuhnya dimengerti bersama. Apalagi bila anda bertanya, mungkin pertanyaan-pertanyaan anda akan membuatnya bingung.

Khusus dalam kita mengajukan pertanyaan usahakan untuk kita menggunakan bahasa dan kata-kata yang cermat mengikuti sikap berpikir pihak yang memberikan jawaban, jangan sampai karena adanya kesalahpahaman bahasa kemudian ia bingung menjawab, atau hanya meng-iya-kan saja, atau jawabannya malah membuat kita salah paham.

Begitu juga ketika kita menayuh, apalagi menayuh suatu kekuatan gaib, sebaiknya kita menggunakan bahasa yang cermat mengikuti sikap berpikir pihak yang memberikan jawaban,
jangan sampai karena adanya kesalahpahaman bahasa kemudian ia bingung menjawab, atau jawaban tayuhannya hanya meng-iya-kan saja, atau jawabannya malah membuat kita salah paham.


4. S
ukma kita belum terlatih untuk mengukur kekuatan gaib.

Mungkin sukma kita sudah bisa mendeteksi adanya mahluk gaib dan kita sudah bisa mendapatkan jawaban tayuhan tentang keberadaan sesuatu yang gaib, tetapi mungkin
sukma kita belum terlatih untuk mengukur kekuatan gaib.

Ini akan menjadi kesulitan ketika kita menayuh kekuatan gaib, misalnya tayuhan untuk mengukur kekuatan khodam akik kita atau kekuatan sesuatu gaib yang lain atau untuk mengukur kekuatan sukma kita sendiri. Jawaban tayuhannya akan tidak akurat.

Jika kondisinya begitu, untuk mengatasi kelemahan ini maka dalam tayuhan kita tentang kekuatan dari sesuatu gaib / khodam sebaiknya kita menanyakannya langsung kepada gaib yang bersangkutan dan untuk mengukur kekuatan sukma kita sendiri lebih baik kita menanyakannya kepada khodam keris / akik kita (menanyakan kesaksian dari khodam keris / akik kita).

Dalam kondisi ini sebaiknya dalam kita menayuh kita menggunakan benda-benda yang berkhodam, menayuhnya fokus kepada khodam bendanya, bukan kepada sukma kita, jawaban tayuhannya akan berasal dari khodam bendanya, bukan dari sukma kita.

Kita sendiri harus mengerti betul tentang sosok gaib yang kita jadikan patokan ukuran kekuatan gaib
dan kekuatannya dan bisa menyampaikan itu kepada khodam tayuhan kita supaya pemahamannya sejalan. Bila tidak, maka jawaban tayuhannya mungkin tidak akurat. Mengenai ukuran kekuatan gaib md dan KRK silakan dibaca penjelasannya di : Kesaktian Mahluk Halus.



Dalam menayuh dan mendeteksi gaib yang harus dikedepankan adalah rasa, bukan pikiran. Sesudah itu barulah hasilnya dinalar dengan pikiran.

Dengan rasa nantinya akan
ada energi yang tersalur setelah terjadi kontak rasa, sehingga nantinya akan bisa dirasakan apakah kita sudah tersambung dengan sesuatu yang gaib ataukah tidak. Bila kita masih keras dengan pikiran maka kondisinya akan sama seperti ucapan-ucapan kita hanya berputar-putar saja di pikiran kita, dan tidak ada energi yang tersalur untuk kontak rasa. Dalam hal kita belum bisa kontak rasa tersambung dengan sesuatu yang gaib berarti kita perlu latihan olah rasa untuk belajar melatih kontak rasa.

Pikiran, perasaan, pancer dan sedulur papat masing-masing adalah sesuatu yang berbeda, dan bisa dibedakan, dengan rasa. Semuanya tergantung pada kedalaman rasa kebatinan kita masing-masing.

Di dalam kita menayuh, ada kondisinya yang kita menanyakannya kepada sukma kita sendiri, jawabannya adalah kesaksian
dari sukma kita sendiri. Misalnya itu diterapkan ketika kita menayuh ada-tidaknya sosok-sosok halus di dalam rumah kita. Jawaban tayuhannya adalah kesaksian dari sukma kita sendiri.

Di dalam tayuhan di atas yang pertanyaan tayuhannya ditujukan kepada sukma kita sendiri, fokus batin kita adalah kepada pancer atau sedulur papat kita sendiri. Dalam hal ini kita harus sudah cukup matang dalam latihan olah rasa untuk kita bisa membedakan kontak kita apakah dengan pancer atau dengan sedulur papat kita, karena antara kita kontak dengan pancer dan dengan sedulur papat rasanya berbeda dan bisa dibedakan.

Paling baik adalah kita fokus kepada pancer kita sendiri,
sehingga nantinya yang akan menjawab / menggerakkan bandulnya adalah pancer kita sendiri.
Syaratnya, pancer kita harus sudah bisa berperan sebagai roh yang bisa juga mendeteksi adanya roh-roh halus lain.

Ada kalanya fokus batin kita kepada sedulur papat agak mengambang, tidak benar-benar kita bisa fokus kepada sedulur papat, sehingga kita tidak bisa membedakan apakah jawaban tayuhannya adalah benar dari sedulur papat kita ataukah dari khodam keris / akik, ataukah dari sesuatu gaib yang lain. Ini adalah bahan pemicu untuk kita membiasakan fokus batin kepada pancer kita sendiri, terutama untuk meminimalisir adanya ketidak-akuratan tayuhan yang berasal dari pembelokan jawaban tayuhan oleh sesuatu gaib yang lain, terutama jika ternyata di sekitar kita atau bahkan di dalam tubuh kita ada roh-roh penyesat.

Bila sukma kita sudah bisa mendeteksi mahluk halus, bila kadar kegaibannya rendah mungkin jawaban sukma kita benar, sukma kita bisa mendeteksi gaib yang kadar kegaibannya rendah. Tetapi untuk kegaiban lain yang lebih tinggi mungkin sukma
kita belum terlatih, sukma kita belum bisa mendeteksi semua kegaiban, apalagi yang kadar kegaibannya tinggi. Jawabannya akan tidak akurat.

Misalnya sukma
kita sudah bisa mendeteksi adanya khodam pendamping jin laki-laki ksatria di sebelah kanan kita, tetapi belum sungguh-sungguh bisa mendeteksi keberadaan sukma leluhur yang mendampingi kita, atau belum bisa mendeteksi dengan benar sosok wujud mahluk halus yang berdiam di dalam tubuh kita atau di dalam tubuh orang lain, jika mahluk halus itu benar-benar ada.

Jika itu masalahnya berarti
dalam tayuhannya kita masih harus bergantung pada jawaban khodam keris / bandul kita, dan kita sendiri masih harus terus latihan mendeteksi kegaiban, jangan hanya latihan menayuh saja. Misalnya dengan latihan olah rasa. Dalam hal ini selain kita harus sudah menguasai teknik tayuhannya sebaiknya tayuhannya juga dikombinasikan dengan deteksian rabaan tangan untuk kita mendeteksi benar-tidaknya adanya keberadaan si mahluk halus.

Di dalam kita menayuh, ada juga kondisinya yang kita harus kontak dengan objek tayuhannya, bukan sebatas hanya menanyakan saja kepada sukma kita sendiri.
Misalnya itu
kita terapkan dalam kita menayuh sukma leluhur atau khodam yang mendampingi kita.
Dalam tayuhan
kita itu yang kita menanyakan informasi tentang sukma leluhur atau khodam yang mendampingi kita, kita harus juga kontak dengan mereka, selain untuk mendeteksi benar-tidaknya adanya keberadaan pendamping kita itu, juga untuk mendapatkan jawaban tayuhan langsung dari mereka.

Benar-tidaknya jawaban tayuhan sifatnya terbatas, tergantung apakah subyek yang kita tanyai itu benar mengetahui permasalahannya dan untuk pertanyaan yang sifatnya kegaiban tingkat tinggi tergantung apakah subyek yang kita tanyai itu berspiritualitas tinggi.

Mereka
yang di alam gaib, termasuk sedulur papat kita, statusnya sebenarnya sama juga dengan kita. Kondisinya tergantung apakah mereka berspiritualitas tinggi dan apakah mereka punya lingkungan pergaulan yang luas.

Kalau spiritualitasnya tinggi mereka bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan kita yang bersifat kegaiban tingkat tinggi.
Kalau pergaulannya luas mereka bisa mendapatkan banyak bocoran dari gaib-gaib lain, termasuk untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan kita yang bersifat kegaiban tingkat tinggi.

Jawaban mereka akan banyak tidak akurat kalau mereka tidak berspiritualitas tinggi dan tidak punya pergaulan yang luas.


Walaupun urusan tayuh-menayuh ini kelihatannya sepele, tapi ternyata belum tentu kita bisa menayuh dengan benar dan akurat. Mungkin kita masih punya kelemahan yang membuat tayuhan kita tidak akurat. Sebaiknya kelemahan yang dari diri kita sendiri sudah bisa kita atasi supaya tayuhan kita bisa diharapkan benar. Jangan sekedar asal bisa menayuh.

Kalau dirasakan masih ada tayuhan yang salah sebaiknya kita menayuh diri kita sendiri dulu, apakah ada faktor-faktor di dalam diri kita yang membuat tayuhan kita tidak akurat. Misalnya apakah sukma kita belum mampu mendeteksi kegaiban, ataukah di dalam diri kita, di dalam badan / kepala ada bersemayam mahluk halus yang membelokkan / menyesatkan tayuhan kita (diri kita ketempatan mahluk halus). Sebelum kita bisa mengatasi masalah-masalah keakuratan tayuhan yang berasal dari pihak lain seharusnya kita sudah lebih dulu mengatasi kelemahan-kelemahan kita sendiri dalam menayuh, mengkondisikan diri kita sendiri untuk benar-benar punya kemampuan menayuh. Sesudahnya barulah kita mengatasi kesalahan penayuhan yang asalnya dari luar diri kita.

Secara keseluruhan untuk kita bisa mengatasi kelemahan-kelemahan
diri kita itu berarti kita perlu latihan olah rasa untuk belajar melatih kontak rasa dan batin dengan sosok-sosok halus. Ikuti saja latihannya di tulisan berjudul  Olah Rasa Dan Kebatinan.

Tetapi bila kita belum bisa mengatasi masalah-masalah yang berasal dari diri kita sendiri itu sebaiknya dalam kita menayuh kita menggunakan benda-benda yang berkhodam, menayuhnya fokus kepada khodam bendanya, bukan kepada sukma kita, jawaban tayuhannya juga berasal dari khodam bendanya, bukan dari sukma kita.

Tayuhan dan olah rasa sifatnya sangat mendasar dan pokok dalam semua hal yang terkait dengan pendeteksian dan pengetahuan gaib. Selain harus sudah bisa menguasai teknik tayuhannya sebaiknya tayuhannya juga dikombinasikan dengan deteksian rabaan tangan.
Misalnya sebelum kita menayuh ada-tidaknya khodam di dalam keris / akik kita, dengan deteksian rabaan tangan kita coba dulu mendeteksi apakah ada tanda-tanda rasa setruman halus di ujung-ujung jari kita atau rasa panas / dingin di telapak tangan kita sebagai penanda awal apakah
keris / akik kita benar berisi khodam.
Misalnya juga dari tayuhan dikatakan di depan atau di samping kanan
kita ada khodam, coba kita raba ke arah depan atau samping kanan kita, apakah benar disitu ada sesuatu yang gaib (khodam). Dengan cara begitu kita bisa lebih pasti apakah tayuhan kita itu benar.



2. Faktor ketidak-akuratan menayuh yang berasal dari luar diri kita :

Faktor terbanyak penyebab ketidak-akuratan menayuh yang berasal dari luar diri kita :
1. Alat tayuhannya disusupi oleh sesosok gaib penyesat.
2. Adanya sesosok gaib yang bersama kita.

Faktor-faktor penyebab ketidak-akuratan menayuh di atas, yang berasal dari luar diri kita, cara mengatasinya haruslah dengan mengedepankan kepekaan rasa dan insting, ditambah melihat gaib (secara batin). Bila hanya ditayuh saja, biasanya jawaban tayuhannya akan disesatkan / dibelokkan.

Jadi jangan mengandalkan diri sepenuhnya pada ayunan keris / bandul. Dalam setiap penayuhan kita harus juga peka rasa dan menghidupkan insting untuk bisa menilai sendiri apakah tayuhan kita sudah benar atau masih salah, ataukah sebenarnya kita sudah ditipu / disesatkan.

Bila hasil tayuhannya dirasakan ada yang tidak benar maka kita harus kritis untuk mencaritahu penyebabnya.
Bila penyebabnya berasal dari diri kita sendiri maka kita harus berusaha sendiri mengatasi penyebab kesalahan tayuhan kita itu.

Bila dirasakan penyebabnya adalah dari luar diri kita maka kita harus melakukan deteksian gaib atau melihat gaib untuk mencaritahu siapa sosok wujud gaib yang sudah menipu / menyesatkan / membelokkan tayuhan kita itu berikut posisi keberadaannya untuk kita lakukan pembersihan gaib, bila perlu. Silakan dibaca-baca juga tulisan Penulis yang bertema Pembersihan Gaib.


Dalam tayuhan para pembaca ada yang kasusnya benda alat tayuhannya disusupi / diganduli gaib penyesat, sehingga tayuhannya menjadi tidak benar karena oleh gaibnya itu jawabannya sengaja disesatkan / dibelokkan. Gaibnya biasanya adalah jenis sukma / arwah yang wataknya jahat dan penyesat. Jenis gaib itu juga sering masuk bersemayam di dalam badan / kepala manusia (ketempatan mahluk halus).

Ada banyak gaib di sekitar kita yang memperhatikan tingkah laku kita, apalagi bila perbuatan-perbuatan kita berhubungan langsung dengan kegaiban, termasuk dalam hal menayuh gaib. Walaupun sebelumnya alat tayuhan kita kosong tidak berkhodam, tetapi sesudah digunakan menayuh kemudian bendanya itu menjadi dihuni gaib atau diganduli / ditempeli gaib. Karena itu bila dirasakan tayuhannya tidak benar kita bisa mencoba lagi menayuh dengan alat lain yang kosong tidak berkhodam, gonta-ganti alat tayuhan sampai dirasakan tayuhan kita benar. Dicoba saja menggunakan bandul batu kali hitam dari pinggir jalan.


Ketidak-akuratan jawaban tayuhan paling banyak berasal dari adanya sesosok gaib yang datang dan mengikut kita, atau kita mempunyai sesosok gaib pendamping / khodam yang sebelumnya kita tidak mengetahuinya, mungkin itu khodam pendamping atau sukma leluhur, atau ada sesosok gaib yang berdiam di dalam kepala / badan kita (ketempatan mahluk halus).

Yang banyak terjadi bila kita menayuh menanyakan kekuatan sukma kita, jawaban tayuhan tentang kekuatan sukma kita itu jawabannya adalah kekuatan gaib si gaib pendamping kita itu, bukannya kekuatan asli sukma kita. Karena itu supaya tayuhan kita menjadi benar lebih baik yang pertama kita tayuh adalah apakah ada mahluk gaib / khodam yang bersama kita, sesudah itu barulah kita menayuh diri kita sendiri.

Bila kekuatan sukma kita masih lebih rendah daripada kekuatan gaib-gaib yang bersama kita, bila mahluk halus / khodamnya itu kekuatannya 100 md, maka tayuhannya akan dijawab 100 md. Begitu juga bila mahluk halus / khodamnya itu kekuatannya 200 KRK, maka tayuhannya akan dijawab 200 KRK. Itu adalah kekuatan gaib-gaib yang bersama kita, bukan aslinya kekuatan kita sendiri. Artinya, walaupun kekuatan kita sendiri aslinya tidak segitu, tetapi dengan mahluk halus / khodamnya itu bersama kita maka kekuatan kita secara satu kesatuan akan menjadi segitu, dan kekuatan itu bisa dimanfaatkan untuk perbuatan-perbuatan gaib atau untuk berhadapan dengan mahluk halus lain.

Jika dalam tayuhan kita menanyakan kekuatan sukma kita, bila jawabannya terlalu tinggi di atas perkiraan kita, itu mengindikasikan adanya kemungkinan diri kita ketempatan mahluk halus atau sebenarnya diri kita berkhodam atau ada sesosok gaib yang bersama kita.

Misalnya kita bertanya : " Berapakah kekuatan sukma saya ?"

Bila didapat jawaban yang terlalu tinggi diluar perkiraan kita, misalnya ratusan md, padahal kita belum pernah latihan menaikkan kekuatan sukma, atau bahkan ratusan atau ribuan KRK, padahal diperkirakan kekuatan sukma kita belum sampai segitu, itu mengindikasikan ada kemungkinannya diri kita ketempatan mahluk halus, atau ada sesosok gaib yang bersama kita.


Dalam kita menayuh menanyakan kekuatan sukma kita seperti contoh di atas, usahakan untuk kita memisahkan pertanyaannya antara kekuatan asli pancer dan sedulur papat kita, dengan kekuatan lain selain kekuatan asli kita, sehingga kita bisa menyimpulkan apakah benar diri kita ketempatan mahluk halus, atau diri kita berkhodam.

Yang pertama kita tayuh adalah mengenai keberadaan mahluk halus / khodam yang bersama kita dulu, misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan :
 - Apakah ada kekuatan lain yang bersama saya ?
Bila jawabannya ya :
 - Apakah saya berkhodam ?
 - Di manakah posisi khodamnya ? 
    - Apakah di dalam badan saya ?
    - Apakah di dalam kepala saya ?
    - Apakah di sebelah kanan saya ?
    - Apakah di sebelah kiri saya ?
    - Apakah di belakang saya ?
    dsb.
Sesudah kita menayuh adanya "sesuatu" yang lain yang bersama kita barulah kita menayuh diri kita sendiri :
 - Berapakah kekuatan asli pancer saya ?
 - Berapakah kekuatan asli sedulur papat saya ?

Jika dari jawaban-jawaban tayuhan kita didapat indikasi bahwa ada kekuatan lain yang bersama kita, pertanyaan-pertanyaan tayuhannya kita kembangkan lagi sampai kita bisa menyimpulkan apakah benar diri kita ketempatan mahluk halus, atau sebenarnya diri kita berkhodam, dan apakah sifatnya dan keberadaannya baik. Lebih baik  dipertegas juga jawaban tentang sosok wujudnya.

Jika benar diri kita ketempatan mahluk halus, mungkin perlu dipertimbangkan untuk kita melakukan pembersihan gaib jika mahluk halusnya menurut pertimbangan kita sendiri sifatnya dan keberadaannya tidak baik (baca : Pengaruh Gaib Thd Manusia).


Bila kita tahu bahwa diri kita ada didampingi / didatangi oleh sesosok sukma leluhur kita, sebaiknya kita lebih dulu menayuh tentang mereka, berkenalan dulu dengan mereka, berusaha mencaritahu tentang jatidiri mereka, karena sebenarnya mereka itulah yang lebih dulu harus ditayuh, supaya kita sendiri menyadari keberadaan mereka dan mengenal mereka. Jangan sampai mereka menjadi tamu yang merasa tidak diperhatikan oleh si tuan rumah.

Karena merasa ingin diperhatikan, ingin supaya kita tahu perihal keberadaan mereka untuk kita, kadangkala cara mereka menarik perhatian kita adalah dengan cara membelokkan jawaban tayuhan kita. Karena itu supaya tayuhan kita tidak dibelokkan sebaiknya kita mencaritahu dan berkenalan dengan mereka dulu. Sesudahnya barulah kita menayuh yang lain.

Kalau mereka merasa kita sudah mengetahui perihal mereka, maka tidak perlu lagi mereka menarik perhatian kita dengan membelokkan jawaban-jawaban tayuhan kita, justru nantinya mereka akan membantu tayuhan kita dan akan memberikan peringatan-peringatan atas sesuatu yang penting yang akan terjadi pada kita, biasanya lewat mimpi. Sebaiknya sesudahnya kalau kita ada menerima suatu pemberitahuan, lewat mimpi atau berupa ide / ilham dan rasa firasat, sebaiknya kita tanggap, siapa tahu itu adalah pemberitahuan yang sifatnya penting untuk kita.

Menayuh tentang leluhur itu bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti kita menayuh keris. Pada awalnya pertanyaan-pertanyaan kita bisa kita minta tolong kepada kerisnya untuk disampaikan kepada leluhur kita itu, dan jawaban dari leluhur adalah berupa gerakan ayunan keris.

Tetapi jika kita sudah bisa dan sudah biasa menayuh, kita bisa bertanya dengan fokus batin langsung kepada sosok-sosok leluhur kita. Misalnya kita sudah tahu posisinya di sebelah kanan kita, atau di sebelah belakang kita, maka fokus batin kita ditujukan untuk bertanya langsung kepada sosok leluhur di kanan atau di belakang kita itu, sedangkan jawaban dari leluhur kita tetap berupa gerakan ayunan keris.

Cara menayuh itu bisa ditingkatkan dengan olah rasa untuk belajar kontak rasa dan batin dengan sosok-sosok leluhur kita itu. Dengan cara ini fokus batin kita ditujukan untuk bertanya langsung kepada sosok leluhur di kanan atau di belakang kita itu, dan untuk menangkap jawaban dari leluhur kita itu kita juga berusaha untuk peka rasa, sehingga jawaban dari leluhur selain tetap berupa gerakan ayunan keris, juga bisa kita tangkap dengan rasa berupa ide dan ilham yang mengalir dalam pikiran kita, sehingga jawaban yang bisa kita tangkap menjadi lebih lengkap, misalnya jawaban tentang namanya, asal-usul mereka, pesan-pesannya, dsb.

Selebihnya, kalau kita sadar ada sosok leluhur yang datang / mendampingi kita, walaupun tidak harus, tetapi sebaiknya kita memberikan sesaji untuk mereka sebagai bentuk penghormatan kita kepada orang-orang tua kita yang mau datang berkunjung kepada anak cucu keturunannya, bahkan mau mendampingi kehidupan kita.
Baca juga : Sesaji.

Harus disadari bahwa sosok-sosok leluhur yang datang kepada kita, apalagi yang sudah aktif mendampingi kita (menjadi khodam pendamping), keberadaan mereka itu adalah karena adanya rasa ikatan batin antara mereka sebagai orang tua kepada anak-cucu keturunannya. Tidak semua orang mendapatkan perhatian dari para leluhurnya dan tidak semua orang didampingi oleh sukma leluhurnya. Karena itu jika ada leluhur yang khusus datang untuk kita, sebaiknya kita lebih memperhatikan mereka, termasuk lebih mendahulukan dalam hal sesajinya daripada benda-benda gaib atau khodam kita yang lain, karena ikatan batin mereka kepada kita lebih kuat daripada khodam-khodam kita yang lain, dan untuk menghormatinya, janganlah kita memperlakukan mereka sama seperti khodam-khodam kita yang lain, perlakukanlah mereka sebagai orang tua yang datang mendampingi dan menaungi kita keturunannya.

Seringkali mengenai sosok-sosok dan nama-nama leluhur bersifat pribadi yang si leluhur tersebut lebih suka kalau orang keturunannya itu sendiri yang mencaritahu dan berkenalan langsung dengan mereka, tidak melalui orang lain. Karena itu sebaiknya kita belajar untuk bisa berkontak batin dengan gaib, jangan menanyakan perihal leluhur kita kepada orang lain (termasuk kepada Penulis). Kalau ada keperluan tertentu, para leluhur itu juga lebih suka si keturunannya itu sendiri yang menyampaikan langsung keperluannya kepada mereka.

Karena itu yang berhubungan dengan leluhur kita itu sebaiknya kita sendiri yang menanyakan / menelusurinya, jangan melalui orang lain. Kita bisa mencaritahu sendiri dengan cara olah rasa, bisa juga dengan cara menayuh keris kita meminta bantuan dari keris / tombak kita untuk menjadi perantaranya (bisa juga kepada keris kita minta disampaikan kepada leluhur kita itu supaya hadir di dalam mimpi untuk berkenalan). Selebihnya kita melatih olah rasa untuk belajar kontak rasa untuk berinteraksi langsung dengan mereka.


Begitu juga bila ternyata diri kita berkhodam, atau ada sesosok gaib yang mengikuti kita. Karena merasa ingin diperhatikan, ingin supaya kita tahu perihal keberadaan mereka untuk kita, kadangkala cara mereka menarik perhatian kita adalah dengan cara membelokkan jawaban tayuhan kita. Karena itu sebaiknya kita mencaritahu dan berkenalan dengan mereka dulu. Sesudahnya barulah kita menayuh yang lain. Kalau mereka merasa kita sudah mengetahui perihal mereka, maka tidak perlu lagi mereka menarik perhatian kita dengan membelokkan jawaban-jawaban tayuhan kita, justru nantinya mereka akan membantu tayuhan kita dan akan memberikan peringatan-peringatan atas sesuatu yang penting yang akan terjadi pada kita, biasanya lewat mimpi. Sebaiknya sesudahnya kalau kita ada menerima suatu pemberitahuan, lewat mimpi atau berupa ide / ilham dan rasa firasat, sebaiknya kita tanggap, siapa tahu itu adalah pemberitahuan yang sifatnya penting untuk kita.

Karena itu dalam kita menayuh lebih baik yang pertama kita tayuh adalah mengenai keberadaan mahluk gaib / khodam yang bersama kita dulu, sesudah itu barulah kita menayuh diri kita sendiri.


Tetapi masalah ketidak-akuratan jawaban tayuhan bisa juga berasal dari adanya sosok-sosok gaib penyesat yang mengikuti kita atau yang berdiam di dalam kepala / badan kita. Mahluk gaibnya itu bisa adalah sesosok mahluk halus golongan hitam / abu-abu, bisa juga adalah sesosok sukma (arwah) manusia jahat / penyesat.

Jika mahluk halusnya adalah sejenis bangsa jin golongan hitam, jawaban tayuhannya masih bisa diharapkan benar. Bahkan ia juga akan mengaku bahwa ia adalah dari jenis golongan hitam. Tapi bila mahluk halusnya itu adalah sukma / arwah manusia jahat, kemungkinan besar jawaban tayuhan kita akan disesatkannya. Ia juga tidak akan mengaku bahwa ia dari golongan yang jahat. Umumnya mereka akan mengaku sebagai leluhur kita. Bahkan bukan saja ia akan memberikan jawaban tayuhan yang salah, tapi juga akan sengaja menyesatkan dengan memberikan ilusi dan halusinasi yang tidak benar. Karena itu diperlukan juga ketelitian dan kepekaan kita dalam mendeteksi kegaiban yang bersama kita atau yang ada di lingkungan kita. Diperlukan kemampuan kita sendiri untuk bisa mendeteksi dan menilai apakah sesosok gaib yang bersama kita atau yang berada di lingkungan kita adalah dari jenis yang baik ataukah yang tidak baik perwatakannya.


Bila kita merasakan adanya jawaban tayuhan yang terasa menyesatkan, paling baik mengatasinya adalah dengan kita fokus kepada pancer kita sendiri, terutama bila pancer kita sudah mampu berfungsi sebagai roh, dilatih dengan latihan olah rasa sampai pancer kita bukan hanya berfungsi secara biologis saja, tetapi juga mampu berperan sebagai roh yang mengerti dan mampu mendeteksi roh / gaib lain.

Dalam menayuh itu kita usahakan bertanya kepada pancer kita sendiri, karena sebenarnya aspek biologis kita, pikiran dan perasaan bisa dibedakan dengan aspek roh kita, pancer dan sedulur papat. Rasanya akan berbeda.
Tapi tidak mudah memang untuk bisa membedakannya, tapi bukannya mustahil. Perlu latihan fokus olah rasa yang lebih untuk kita lebih dalam lagi mengenal dan menggali sisi terdalam diri kita sendiri.

Kalau sudah bisa begitu, potensi kesalahan dalam menayuh yang berasal dari kesalahan menangkap suara dari sedulur papat atau dari khodam kita akan lebih bisa diminimalisir. Dan sekalipun di dalam diri kita, di dalam badan / kepala atau di sekitar kita ada mahluk halus penyesat kita akan tetap bisa membedakannya antara suara mereka dengan yang berasal dari roh pancer kita sendiri, karena rasanya akan berbeda. Dengan fokus kepada pancer (kesadaran kita) sendiri kita akan bisa mendapatkan jawaban tayuhan yang lebih akurat, tidak terdistorsi oleh suara-suara lain.


____


 Tambahan :

Dalam hal kita menayuh, apalagi menayuh suatu kekuatan gaib, sebaiknya kita menggunakan bahasa yang cermat mengikuti sikap berpikir pihak yang memberikan jawaban, jangan sampai karena adanya kesalahpahaman karena bahasa kemudian jawaban tayuhannya malah membuat kita salah paham.
Misalnya kita bertanya tentang kekuatan khodam sebuah keris :
- Apakah keris ini kekuatannya 80 md ?
Jika keris itu benar kekuatannya 80 md, maka akan dijawab ya.
Bagaimana kalau dijawab tidak ?
Apakah itu berarti kekuatan keris itu di bawah 80 md ?
Atau malah lebih dari itu ?

Sebutan kekuatan 80 md itu adalah ukuran tingkat kekuatan yang presisi, yang akurat, yang setingkat, yang sama dengan 80 md. Jadi kalau kekuatannya tidak tepat 80 md, maka tayuhannya akan dijawab tidak. Jadi kalau jawabannya tidak, maka jangan dulu kita menganggap kekuatannya kurang dari itu, mungkin saja kekuatannya malah lebih dari itu.

Kalau kekuatan sesungguhnya 80 md,
maka jika ditanya :
Apakah kekuatannya 70 md, tayuhannya akan dijawab tidak.
Apakah kekuatannya 100 md, juga akan dijawab tidak, karena kekuatan 100 md itu tidak sama dengan 80 md.

Lebih baik kalau pertanyaannya diganti bahasanya menjadi :

- Apakah keris ini kekuatannya ada 80 md ?
Kalau kekuatan keris itu 70 md, maka tayuhannya akan dijawab tidak, tapi
kalau kekuatan keris itu 80 md atau lebih, maka tayuhannya akan dijawab ya.

Kalau kekuatan keris itu 100 md, maka tayuhannya :
- Apakah keris ini kekuatannya ada sampai 80 md ? jawabannya ya.
- Apakah keris ini kekuatannya ada sampai 90 md ? jawabannya ya.
- Apakah keris ini kekuatannya ada sampai 100 md ? jawabannya ya.
- Apakah keris ini kekuatannya ada sampai 110 md ? jawabannya tidak.
- Apakah keris ini kekuatannya ada sampai 120 md ? jawabannya tidak.
Berarti kesimpulannya : kekuatan keris itu 100 md.

Jawaban tentang ketinggian kekuatan gaib itu sifatnya adalah perkiraan saja, hanya kira-kira saja, jangan dianggap akurat seperti mengukur dengan alat meteran. Jadi kalau ada perbedaan dengan tayuhan orang lain, termasuk dengan tayuhan Penulis, kalau selisihnya tidak banyak sebaiknya tidak perlu dipermasalahkan. Tapi kalau selisihnya banyak, mungkin memang ada tayuhan yang salah.

Kita sendiri harus mengerti betul tentang sosok gaib dan kekuatannya yang kita jadikan ukuran kekuatan gaib dan bisa menyampaikan itu kepada khodam tayuhan kita supaya pemahamannya sejalan. Bila tidak, maka jawaban tayuhannya mungkin tidak akurat.

Tambahan lagi, untuk menayuh suatu kekuatan gaib yang kekuatannya tinggi sekali mungkin jawaban tayuhannya tidak bisa akurat, karena bukan hanya manusia, mahluk halus (dan khodam) juga belum tentu bisa mengukur dengan akurat suatu kekuatan gaib yang jauh lebih tinggi daripada kekuatannya sendiri. Begitu juga sebaliknya, mungkin tayuhannya juga tidak akurat untuk mengukur suatu kekuatan yang jauh lebih rendah dari kekuatannya sendiri.

Mengenai ukuran kekuatan gaib md dan KRK silakan dibaca penjelasannya di : Kesaktian Mahluk Halus.


______



Faktor terbanyak yang menjadi masalah keakuratan pendeteksian gaib dan tayuhan adalah adanya khodam atau mahluk halus di dalam kepala atau di dalam badan yang keberadaan mereka itu sering sekali memberikan bisikan gaib dan penglihatan yang bersifat fiktif, ilusi dan halusinasi.

Karena itu jika anda sadar diri anda berkhodam sebaiknya sebelum melakukan tayuhan anda sampaikan kepada khodam-khodam anda itu dan semua mahluk halus yang bersama anda supaya jangan memberikan gambaran dan bisikan gaib apapun yang tidak sejalan dengan aslinya. Perintahkan supaya mereka mengikuti saja jalan pikiran anda.

Sesudah diperintahkan begitu mudah-mudahan semua gaib yang bersama anda tidak akan memberikan halusinasi kepada anda, tetapi gaib yang di dalam badan / kepala, terutama yang jenisnya adalah sukma (arwah) manusia, kemungkinannya akan tetap memberikan halusinasi, karena sudah watak dasarnya menipu dan menyesatkan. Karena itu atas adanya jenis sukma di dalam tubuh manusia Penulis menganjurkan untuk diisolasi dan dikeluarkan saja. Selebihnya tinggal
kita sendiri untuk kritis membedakan mana yang nyata dan mana yang fiktif / ilusi, jangan sampai terbawa mengikuti yang sifatnya fiktif / menipu. Usahakan untuk belajar bisa fokus kepada pancer dan sedulur papat kita sendiri dalam hal inspirasi, ide dan ilham dan gambaran gaib, jangan kepada yang lain.






https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/menayuh-keris-ilmu-tayuh-keris/Menghormat%20kpd%20keris.JPG





https://sites.google.com/site/thomchrists/Keris-Jawa-Spiritual-Kebatinan/menayuh-keris-ilmu-tayuh-keris/3.JPG
                                                                                                                                                                     
Comments