Related Topics

 
  Keris Kyai Condong Campur,
  Keris Kyai Nagasasra
dan Kyai Sabuk Inten,
  Keris Kyai Sengkelat


   
Filosofi, Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa.
 


  Pagebluk di Majapahit



Ketika sinar kegemilangan kerajaan Majapahit mulai meredup dan berkembangnya aliran ilmu gaib dan ilmu khodam di Jawa Timur dan Jawa Tengah, muncul gagasan untuk membuat keris yang paling sakti di tanah Jawa, untuk menunjang kekuasaan dan wibawa kerajaan Majapahit. Idenya adalah mengkombinasikan proses pembuatan keris dengan para ahli ilmu gaib. Empu keris ditugaskan membuat fisik kerisnya, sedangkan urusan kesaktian gaib keris diserahkan kepada orang-orang yang ahli di bidang ilmu gaib dan ilmu perkhodaman. Dan bahan pembuatannya harus banyak mengandung bahan meteorit supaya kerisnya sakti, berwibawa dan angker.


Demikianlah idenya dilaksanakan. Fisik kerisnya dibuat oleh 2 orang empu keraton, dan melibatkan lebih dari seratus orang spiritualis ahli ilmu gaib dan ilmu khodam dan ahli perdukunan untuk menjadikannya keris yang paling sakti di tanah Jawa. Itulah sebabnya keris tersebut disebut keris Condong Campur, karena sang raja sebagai sesembahan para kawula saat itu lebih condong untuk menerima pendapat untuk mencampurkan pembuatan keris dengan para ahli-ahli ilmu gaib untuk menghasilkan keris yang paling sakti, mematahkan pakem pembuatan keris oleh empu keris.

Tetapi setelah jadi, keris lurus itu ternyata berwatak jahat. Hawa aura energinya sangat tajam. Bahkan sesaat setelah selesai pembuatannya, tidak ada orang yang tahan berada di dekatnya. Keris itu kemudian dibuatkan kotak penyimpanan tersendiri terpisah dari pusaka-pusaka yang lain.

Sebulan setelah keris itu disimpan di dalam ruang pusaka keraton, di dalam wilayah kerajaan Majapahit, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terjadi wabah penyakit sampar (pagebluk). Wabah kali ini jauh lebih ganas dan berbahaya daripada yang sebelumnya pernah terjadi. Banyak rakyat, abdi dalem, prajurit, bangsawan dan pendeta yang menjadi korban. Pagi sakit sore meninggal, sore sakit paginya meninggal. Dan bukan hanya manusia saja yang terserang wabah ini, bahkan juga hewan ternak dan binatang liar, sehingga bisa ditemukan tubuh mati manusia dan binatang dimana-mana.

Pada kejadian wabah pagebluk sebelumnya, berbagai ritual gaib dan keagamaan diselenggarakan, namun wabah tersebut tidak juga mereda. Tetapi setelah keris Kyai Nagasasra dikeluarkan dari sarungnya dan diarak keliling keraton, wabah itu pun mereda. Kesaktian keris Nagasasra berhasil mengatasi wabah yang terjadi.

Tetapi kali ini sekalipun berbagai ritual gaib dan keagamaan telah dilakukan dan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten telah dikeluarkan dari sarungnya dan diarak keliling keraton, wabah tersebut tetap saja tidak mereda. Bahkan semua pusaka keraton juga sudah dikeluarkan, tetapi wabah tersebut tidak juga mereda.

Pada wabah kali ini Putri Ayu Sekar Kedaton ikut jatuh sakit. Sudah banyak ahli tabib dari penjuru negeri dihadirkan untuk menyembuhkan sang putri, namun tidak ada yang menampakkan hasil. Bahkan ketika malam tiba sakit sang putri semakin menjadi-jadi. Sang prabu menugaskan segenap abdi dalem untuk bergiliran menjaga sang putri, khususnya di malam hari. Bahkan keris Kyai Condong Campur pun ikut diletakkan di kamar tidur sang putri untuk membantu menjaganya.

Setiap malam para prajurit dan punggawa kerajaan ditugaskan jaga bergiliran, berjaga di setiap posisi penting di dalam lingkungan istana. Sebagian ditempatkan berjaga di luar kamar tidur sang putri raja dan ada 2 orang pengawal raja yang khusus berjaga di dalam kamar tidur sang putri, duduk bersila di pinggir pembaringan sang putri dan masing-masing dibekali keris Nagasasra dan Sabuk Inten di belakang pinggang mereka. 

Tetapi menjelang tengah malam, semua penjaga istana selalu tertidur lelap. Sama sekali tidak ada yang mampu menahan kantuknya, seolah-olah mereka telah disirep. Tetapi kedua orang penjaga sang putri dapat tetap sadar terjaga. Mereka adalah orang-orang pilihan yang memiliki kesaktian dan kekuatan batin yang tinggi yang mampu melepaskan diri dari pengaruh sirep tersebut.

Di dalam keheningan pemusatan konsentrasi batin supaya tidak terbawa pengaruh ilmu sirep tersebut, mereka dapat melihat seleret sinar merah kehitaman melesat lurus ke langit, berpendar-pendar di udara menyebarkan teluh dan penyakit, kemudian berbelok ke arah timur seperti meteor merah kehitaman. Itulah sinar energi gaib keris Kyai Condong Campur. Sesaat kemudian 2 sinar gaib lain, sinar biru dan sinar biru keunguan, melesat juga ke langit mengejar sinar merah tersebut. Itulah sinar energi gaib keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Kedua sinar biru itu terus mengejar sinar merah tersebut yang setelah terbang ke timur kemudian melesat berkelok mengelilingi negeri. Kemana pun sinar merah tersebut melesat kedua sinar biru tersebut terus mengejarnya. Sinar merah terbang ke langit, sinar-sinar biru mengejar ke langit. Sinar merah masuk ke laut, sinar-sinar biru mengejar ke laut. Beberapa kali sinar-sinar tersebut saling berbelit dan berbenturan. Di langit menimbulkan pendaran sinar dan percikan kembang api. Di laut menimbulkan gelombang laut yang besar dan mendidih mengeluarkan uap panas, ikan-ikan bergelimpangan mati terpanggang. Menjelang pagi sinar merah tersebut kembali ke asalnya. Begitu juga kedua sinar biru tersebut. Kejadian mistis tersebut terus berulang dan terjadi setiap malam.

Selewat 7 hari kejadian mistis tersebut masih terjadi lagi. Seleret sinar merah melesat tinggi lurus ke langit, berpendar-pendar di udara menyebarkan teluh dan penyakit, kemudian berbelok ke arah timur seperti meteor merah kehitaman. Sinar-sinar biru melesat mengejar sinar merah, berbelit dan berbenturan menimbulkan pendaran sinar dan percikan kembang api di langit. Tetapi kali ini ada sinar lain yang ikut melesat terbang, seleret sinar ungu, energi gaib keris Kyai Sengkelat, terbang menyusul menggabungkan diri dengan sinar-sinar biru mengejar sinar merah tersebut. Tetapi kemudian sinar-sinar biru itu berbalik berputar arah kembali pulang ke asalnya. Tinggal sinar ungu saja yang masih terus mengejar sinar merah tersebut.

Sinar ungu itu terus mengejar sinar merah, berbelit, berbenturan dan bertabrakan, menimbulkan pendaran sinar dan percikan kembang api di langit dan gelombang yang besar dan mendidih di laut. Pendaran sinar dan percikan api kali ini lebih besar terlihat daripada sebelumnya. Sinar ungu itu lebih kuat dan berhasil mendesak sinar merah. Beberapa kali setelah saling berbenturan dan bertabrakan, sinar merah itu terbang terseok-seok tak terarah. Sinarnya pun semakin lama semakin mengecil dan meredup. Akhirnya sinar merah itu melesat tinggi ke langit dan berbelok ke utara seperti meteor di langit (lintang kemukus), tidak pulang kembali ke tempatnya semula. Hanya sinar ungu itu saja yang kembali lagi ke bumi.

Keesokan paginya didapati kotak penyimpanan keris Kyai Condong Campur telah terbuka dan kerisnya patah ujungnya sebagai tanda kekalahannya. Sebuah keris yang diagung-agungkan sebagai keris paling sakti di tanah Jawa, ternyata berwatak jahat. Keris yang bahkan diandalkan untuk menjaga kerajaan dan sang putri raja, ternyata justru adalah sumber malapetaka.

Setelah kejadian itu wabah pagebluk yang menyerang Majapahit mereda dan sang putri pun berangsur-angsur pulih kesehatannya. Keris Nagasasra dan Sabuk Inten telah berjasa menghalangi perbuatan Kyai Condong Campur, sehingga wabah penyakit tersebut tidak semakin mematikan dan sang putri raja tidak ikut meninggal menjadi korbannya, tetapi keris Kyai Sengkelat-lah yang berhasil mengalahkannya dan mengusirnya pergi dari tanah Majapahit.

Itulah yang terjadi pada keris Kyai Condong Campur, yang menurut sejarahnya bersifat jahat, menyebarkan hawa penyakit dan ketakutan dan tidak mengenal siapa tuannya. Sebuah keris yang sakti sekali, yang ide pembuatannya didasarkan pada ambisi membuat keris paling sakti di tanah Jawa, yang bahkan sepasang keris sakti Nagasasra dan Sabuk Inten, sepasang keris sakti yang bahkan lebih sakti daripada Ibu Kanjeng Ratu Kidul dan semua prajuritnya, tidak mampu menundukkannya. Kesaktian keris Kiai Condong Campur hanya berhasil dikalahkan oleh keris Kiai Sengkelat, dengan ujung kerisnya patah sebagai tanda kekalahannya, yang kemudian dilebur kembali menjadi segumpal logam dan dilarung di pantai Tuban.

Bersama empu pembuatnya keris Kyai Sengkelat diperkenalkan kepada raja. Dan bukan hanya sang raja saja, tetapi semua orang yang melihat keris tersebut berdecak kagum. Walaupun sangat sederhana tanpa ada hiasan mewah di kerisnya, tetapi indah sekali bentuknya dan kualitas tempaan logamnya baik sekali. Keris itu sangat teduh, tidak angker seperti keris kebanyakan, tetapi dapat dirasakan kandungan kekuatan gaib yang tajam di dalamnya. Dan sekalipun dalam pembuatannya menggunakan bahan meteorit, tetapi sama sekali tidak menimbulkan gambar pamor pada badan kerisnya. Keris tersebut hitam gelap (keleng) tidak berpamor. Ciri-ciri keris seperti itu baru kali itu ada dalam dunia perkerisan.

Karena itulah keris tersebut kemudian dinamai keris Sengkelat, artinya tidak diduga bahwa keris yang tampak sederhana bentuknya, tidak menampakkan tanda-tanda kemewahan dan kewibawaan, ternyata menyimpan sebuah kekuatan yang besar. Di dalam kesederhanaan bentuknya, keris Kyai Sengkelat telah menepiskan keraguan banyak orang tentang keampuhannya (soponyono).

Walaupun keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten tetap dipelihara sebagai keris-keris andalan dan tetap menjadi pusaka lambang kebesaran kerajaan Majapahit, tetapi sejak saat itu pula keris-keris tersebut seperti kehilangan pamornya, tenggelam oleh ketenaran keris Kyai Sengkelat.



------------------



Ada contoh lain tentang sebuah keris yang bersifat tidak baik.

Penulis pernah mendapati sebuah keris milik seseorang yang ketika itu ditunjukkan kepada Penulis, tetapi keris itu tidak boleh dikeluarkan dari sarungnya. Ketika Penulis menanyakan kepadanya mengapa tidak boleh dikeluarkan dari sarungnya, dia hanya berkata : "Berbahaya kalau dikeluarkan dari sarungnya".

Sampai sekarang Penulis belum bertemu lagi dengan pemilik keris itu, tetapi jawabannya itu telah membuat Penulis penasaran. Secara fisiknya Penulis tidak dapat mengetahui bentuk kerisnya seperti apa, apakah keris lurus ataukah keris luk, tetapi dari luar sarungnya kelihatannya bentuknya cukup besar. Pemiliknya juga tidak mau menceritakan asal-usul keris tersebut. Tetapi dari sisi per-khodam-annya akhirnya Penulis berhasil mendapatkan jawabannya.

Ternyata keris tersebut dulunya dibuat karena pesanan seorang tokoh sakti kelompok penjahat yang hidup pada jaman kerajaan Demak, yang bernama Sima Rodra dari gunung Tidar. Sepasang suami istri Sima Rodra adalah tokoh penjahat yang sangat ditakuti pada jamannya karena kesaktian dan kekejamannya. Pemimpin utama kelompok penjahat itu sendiri adalah tokoh yang disebut Singa Lodaya, guru dan mertua dari Sima Rodra.

Sang empu keris yang tidak mampu menolak permintaan pesanan keris dari Sima Rodra, akhirnya terpaksa membuatkan keris untuknya. Tetapi dalam pembuatan keris itu tidak ada Dewa yang mau mengirimkan gaib wahyu keris kepadanya. Namun karena ketekunan dan kesungguhan sang empu, akhirnya gaib wahyu keris itu didapatkannya juga, yaitu dari Batari Durga.

Atas perintah Batari Durga itu sang gaib keris menjadikan keris itu sakti. Dan keris itu akan membunuh siapa saja yang menjadi lawannya ketika keris itu dikeluarkan dari sarungnya. Walaupun keris itu kemudian tidak jadi digunakan untuk membunuh manusia dan kembali dimasukkan ke dalam sarungnya, tetap saja manusia lawannya itu akan mati dengan cara lain, yaitu dengan cara gaib. Hingga sekarang keris itu tidak dikeluarkan dari sarungnya, kecuali pemiliknya meniatkannya untuk membunuh seseorang.

Dalam hal ini sebenarnya perwatakan asli gaib wahyu keris itu tidaklah jahat, tetapi dia menjadi begitu karena berada di bawah kekuasaan dan perintah Batari Durga, sedangkan para Dewa yang lain tidak dapat berbuat apa-apa (mungkin karena sungkan). Dibutuhkan suatu kekuatan yang jauh melebihi kekuatan Batari Durga untuk dapat membebaskan gaib keris itu dari kekuasaannya dan mengembalikannya kepada sifat-sifat yang baik seperti yang seharusnya.


--------------------


Contoh-contoh cerita di atas adalah contoh-contoh adanya keris yang bersifat tidak baik karena sejak awal pembuatannya dilakukan dengan maksud dan tujuan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah kebaikan.

Keris-keris yang sudah dikenal umum dan kisahnya melegenda adalah keris-keris dan pusaka yang kisahnya terkait dengan orang-orang tertentu yang terkenal dan menjadi tokoh di masyarakat. Perilaku dan kisah hidup seorang tokoh masyarakat, beserta segala sesuatu yang terkait dengannya, selalu menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya dan menjadi cerita yang tersebar dari mulut ke mulut, turun-temurun dan menjadi legenda. Selain yang sudah dikenal orang, masih ada banyak keris sakti di tanah Jawa ini yang juga telah melakukan perbuatan-perbuatan besar, tetapi karena pemiliknya tidak terkenal atau menutup diri dari dunia ramai, keris-keris itu juga menjadi tidak dikenal umum.

Dari cerita di atas kita dapat mengambil pelajaran berharga. Ada beberapa poin penting yang dapat memberi kita pelajaran :

1. Janganlah kita menjadi sombong dan tamak, dan menuruti keinginan hati dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang didasari pada ambisi yang melawan norma-norma kebaikan dan kepantasan.

2. Janganlah sombong dan takabur, dan menuruti keinginan hati dengan menyombongkan kemampuan manusia dan keilmuannya.

3. Pembuatan sebuah keris tidak dapat disamakan dengan pembuatan benda jimat berkhodam. Dalam rangka  pembuatan sebuah keris, sang empu keris selalu mendatangkan gaib yang berwatak baik dan dicocokkan dengan kepribadian calon pemiliknya. Dalam pembuatan jimat berkhodam, pembuatnya hanya mendatangkan sosok gaib tertentu yang dapat memberikan tuah sesuai yang diinginkan, tetapi tidak dapat menilai baik / tidaknya watak dari isi gaibnya dan tidak mencocokkan baik tidaknya suatu benda gaib bagi calon pemiliknya.

4. Sama halnya dalam hubungan manusia yang satu dengan manusia lainnya, dalam hubungan manusia dengan mahluk gaib, atau dalam kepemilikan sebuah benda jimat atau pusaka, yang pertama dan yang utama untuk dilakukan adalah kita harus bisa menilai perwatakan mahluk gaib dan isi gaib bendanya, apakah berwatak baik ataukah tidak. Sesudah itu barulah kita menilai sisi lainnya, misalnya apakah keberadaannya memberikan tuah / kegunaan dan pengaruhnya bersifat positif ataukah negatif, kemudian yang terakhir mengukur tingkat kekuatan / kesaktian gaibnya untuk mengukur juga tingkat kemampuan kita untuk mengendalikannya. Itu adalah prinsip dasar untuk kita bisa menilai baik / tidaknya sesuatu milik kita itu bagi kita dan tingkat keamanan memilikinya.



--------------------









Comments