Ngobrol 10

  Kebatinan dan Kegaiban

 
Halaman ini berisi ringkasan dan editan tanya jawab Penulis dengan pembaca. Mudah-mudahan berguna untuk menambah pengetahuan dan hiburan.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



 A
  
Sugeng Ndalu, kangmas pengasuh Javanese2000..
Perkenalkan nama saya S. Beberapa minggu ini saya intens membaca tulisan anda, dan saya merasa interest. Gaya dan pemahaman anda sangat berbeda dengan blog2 lain yang pernah saya baca. Tulisan anda detail mengupas inti dari pemahaman spiritual berikut laku2nya. Hal yang tidak dilakukan oleh pengasuh blog2 lain. Semoga kangmas sekeluarga selalu mendapat rahmat dan perlindungan dari Allah, Tuhan Semesta Alam.

Dalam laku saya mencari "kesejatian diri", sudah banyak guru, dan orang pintar yang menuntun saya, termasuk banyak tempat2 ziarah dan wingit yang saya kunjungi. Tetapi semua itu belum membuat saya menemukan basic dari pemahaman agama dan kebatinan saya. Insya Allah dari tulisan2 kangmas saya bisa belajar untuk mencari dan memahami basic tersebut.

Memang sejak 7 atau 8 tahun lalu saya seperti memiliki kepekaan batin dari interaksi saya dengan makhluk2 gaib. Semua itu sepertinya saya dapat dari kesenangan saya untuk puasa dan mewirid berbagai amalan. Tapi beberapa tahun setelahnya saya tidak terlalu interest lagi, karena akal sehat saya mengatakan kalau saya bisa "gila" kalau meneruskan itu. Penyebabnya karena banyak bisikan gaib yg terkadang menipu dan gambaran2 gaib yang menyesatkan.

Namun setelah menyimak blog kangmas ini saya seperti mendapat gairah baru. Mohon kesediaan dari kangmas untuk menuntun saya yang awam ini agar mengenal jatidiri saya yang sebenarnya.
Saya mau sharing sedikit, semoga kangmas sudi membacanya...

Banyak sekali pertemuan saya dengan makhluk2 ghaib, dari bgs jin, arwah, siluman, termasuk ratu2 mereka, para wali tanah jawa dan juga tokoh2 pewayangan.
Ada hal yg menggelitik saya.....

Beberapa malam yg lalu, saya coba raba gambar seseorang yg sdh wafat. Saya lihat dia sendirian berada di bawah sebuah pohon rindang. Selang satu jam kemudian sosok itu hadir di sebelah saya ketika saya berkendara pulang ke rumah.
Kami akhirnya "mengobrol". Tapi kehati-hatian saya bekerja !  Saya minta dia agar membaca ayat kursi.....sesampainya sepertiga bagian akhir ayat, dia terbakar. Kesimpulan saya, dia adalah setan yg menyaru.

Nah, menurut kangmas bagaimana cara agar kita bisa jeli mendeteksi dini bhw sosok yg berhadapan dengan kita adalah asli atau sosok lain yg menyaru, termasuk informasi yg diberikan dia benar atau tipuan ?

Mohon jawaban dan pencerahannya, dan terimakasih sekali kangmas atas kesediaannya.
Sugeng Rahayu..

 J :     
Mengenai cerita2 gaib yg bapak sampaikan saya tidak bisa berkomentar, karena sebelumnya bapak banyak menerima gambaran2 gaib dari sosok2 halus yg mungkin tidak semuanya sejalan dgn kejadian yg sesungguhnya.

Supaya tidak mudah tertipu berarti kita harus mempertajam insting kita. Di tulisan berjudul  Olah Rasa dan Kebatinan  ada disebutkan sebaiknya kita bukan hanya sekedar bisa mendeteksi / melihat mahluk halus, tetapi juga harus bisa merasakan kepribadian sosok halusnya, dan peka rasa, karena rasanya akan berbeda antara sukma / arwah dgn bgs jin, kuntilanak, dsb. Tapi memang dibutuhkan latihan dan jam terbang yg banyak untuk benar2 bisa cepat membedakan mahluk halus. Dan memang instingnya harus tajam.


----------


date: Tue, Aug 27, 2013
subject: Sugesti kepada Tuhan

 A :    
Sugesti langsung kepada Tuhan

Saya punya pendapat begini kangmas...
Kalau kita selalu terus tergantung kepada khadam kita agar memberikan tuahnya membantu berbagai urusan kita sehari-hari, sebenarnya keimanan kita kepada Allah, Tuhan Semesta Alam sedikit demi sedikit akan tereduksi. 
Kita sengaja maupun tidak sengaja membuka ruang dalam konsep berketuhanan kita bahwa makhluk selainNya dapat memberi pertolongan dan bantuan kepada kita. Hal mana yang seharusnya menjadi hak mutlak Allah. Kita seolah-olah menafikan peran Tuhan dalam menyelesaikan setiap persoalan kita.
Yang saya rasakan pada saat saya berkomunikasi dan sambat kepada khadam2 untuk meminta bantuan mereka, saya merasa selingkuh dengan ketauhidan saya. Saya merasa memalingkan wajah dari Gusti Allah yang Maha Pengasih, menoleh kepada hal lain yang notabene adalah ciptaanNya.

Sebenarnya beberapa khadam saya termasuk eyang leluhur saya sudah mengingatkan, agar selalu berdoalah dan memohon kepada Allah, kami hanya sekedar membantu dan jangan menyandarkan semuanya kepada kami.

Perbincangan dengan mereka mungkin terlalu panjang untuk saya tuliskan di sini, tapi kesimpulannya saya akan mulai belajar untuk terhubung, bersugesti dan bermunajat langsung kepada  'Pribadi' Gusti Allah.

Mohon dicek Kangmas, guru dan mentor kebatinan saya, beberapa hasil dari percobaan saya dalam upaya untuk bersugesti langsung kepada Tuhan :

1. Pagaran Diri

Saya bermunajat langsung kepada Tuhan untuk menurunkan selimut energi yang membungkus diri saya. Kekuatannya saya mohonkan 500 KRK, energinya padat, dan beraura positif serta baik untuk kesehatan dan metabolisme tubuh. Dalam permohonan tsb saya juga sampaikan walaupun kekuatannya hanya 500 KRK, tapi mampu menolak kekuatan gaib lain, termasuk tipu daya sukma manusia berkekuatan tinggi yang mencoba masuk.

2. Pagaran Gaib Tempat Usaha

Tempat usaha saya ini sebelumnya sudah ada pagaran gaib dari khadam. Dalam percobaan ini saya memohon kepada Tuhan untuk menurunkan energinya sebesar 50 KRK, yang dalam imajinasi saya berbentuk gapura bergaris lengkung. Dari gapura ini terpancar energi radius 100 meter untuk penarik calon pembeli. Pagaran gapura ini juga sebagai filter untuk menangkal pengaruh buruk, dan gangguan jahat makhluk2 gaib. 
Sugesti saya juga agar gapura ini tidak merubah pagaran gaib yang sudah terbentuk sebelumnya.

Mohon koreksinya kangmas atas dua percobaan saya ini, karena jika berhasil saya akan mencoba lebih lanjut untuk larut dalam penyatuan dengan Tuhan dalam mencari solusi setiap permasalahan hidup.


Akurasi Ilham dan Petunjuk

Mohon pembabarannya kangmas, manakala kita kontak batin dengan sedulur papat untuk mencari solusi suatu permasalahan maka akan terbayang gambaran atau ilham bahkan bisikan dalam benak kita. Beberapa kali ilham atau gambaran batin itu ketika coba saya terapkan adalah jawaban yang tepat. 

Beberapa kesempatan ketika saya dihadapkan pada pilihan2 untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat dalam berbisnis, saya libatkan sedulur papat. Ide atau ilham yang mengalir dari sedulur papat itu kadangkala adalah solusi yang tepat dan menguntungkan. Tapi beberapa kali juga saya mengalami salah langkah sehingga mengalami kerugian dan kegagalan setelah mengambil keputusan menuruti ide atau ilham itu.

Beberapa saat setelah kegagalan itu saya hening lagi untuk kontak batin dengan sedulur papat, dan jawaban darinya adalah bahwa yang terbayang atau ilham itu adalah nafsu saya sendiri. Berarti dasar pengambilan keputusan saya saat itu adalah nafsu.
Nah, bagaimana menurut kangmas cara kita memilah mana yang dari sedulur papat, dan mana dari gejolak nafsu kita sendiri ?
Atau bahkan mungkin ada bisikan atau ilham itu yang berasal dari khadam / makhluk gaib lain di sekitar kita?

Namun dari semua pengalaman batin saya, solusi yang paling sempurna dan akurat dan selama ini tidak pernah meleset adalah ketika saya dihadapkan pada suatu permasalahan (umumnya berat dan kepepet) maka saya langsung mencoba untuk terhubung vertikal dengan Gusti Allah, saya bayangkan saya mengadu dan berkeluh denganNya dan tak ada lagi tempat yang lain untuk saya meminta pertolongan selain kepadaNya.
Maka jawaban dari permasalahan saya, baik itu ilham atau gambaran batin yang terbayang adalah solusi sempurna. Beberapa kali saya membuktikannya. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam  yang membukakan hikmah dan pengetahuan kepada kita. 

Memang sih pada awal-awal saya merasa canggung dan kurang yakin ketika bersugesti langsung kepada 'sosok' Tuhan. Apa iya kita yang rendah dan bodoh ini pantas untuk bermunajat kepadaNya. Tapi keyakinan bahwa Dia Maha mengasihi kepada hambaNya menebalkan keyakinan saya, sehingga keragu-raguan itu perlahan sirna berganti keyakinan dan pengharapan.

Bagaimana menurut Kangmas, adakah yang perlu diluruskan dari cara ini sebagai langkah awal bagi saya untuk belajar kebatinan dalam berketuhanan ?


 J :    
Saya sependapat dengan bapak mengenai kebatinan ketuhanan itu.
Secara ketuhanan jangan kita menyandarkan pengandalan kita kepada mahluk halus.
Mengandalkan kekuatan kita sendiri, kemampuan berpikir, akal sehat sebagai manusia juga jangan.

Sekalipun dalam kehidupan sehari-hari kita sudah merasa benar karena tidak pergi ke dukun, tidak ngelmu gaib, tidak memuja keris, tidak memakai jimat, dsb, lebih mengutamakan akal sehat untuk tidak klenik, menjaga rasionalitas kita supaya hidup lebih modern, kalau sakit lebih memilih pergi berobat ke dokter atau ke rumah sakit, dari sisi ketuhanan itu juga salah. Dan berbesar diri m
engandalkan kekuatan kita sendiri sebagai manusia (komunal) itu juga sama dengan menduakan Tuhan,
sama dengan paham komunisme.

Dari sisi ketuhanan, semua perbuatan dan sikap berpikir yang tidak bersandar, tidak mengandalkan diri kepada Kuasa Tuhan sama dengan menduakan Tuhan.

Implementasinya akan sulit sekali karena akan banyak berbenturan dengan kehidupan kita sebagai mahluk duniawi. Belum lagi adanya pemikiran2 dan pendapat, baik pribadi maupun
keagamaan dan ketuhanan, yang semuanya tidak selalu sejalan dengan pandangan keagamaan dan ketuhanan orang lain. Ditambah lagi ada banyak pemaksaan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan dan agama yang kalau kita menunjukkan sikap tidak sejalan, maka kita akan dikatakan sesat, murtad, tidak beriman atau bahkan dikatakan kafir, dan ada banyak pandangan yang sengaja dibelokkan untuk mencari pembenaran sendiri. Sulit mencari pandangan yang benar mengenai ketuhanan, apalagi pandangan yang benar mengenai Tuhan itu sendiri.

Karena itu kebanyakan sikap ketuhanan hanya akan menjadi sikap batin seseorang tentang dirinya dan Tuhan
(bersifat pribadi). Selebihnya terserah kita sendiri akan sejauhmana kita berketuhanan, apakah cukup sebatas keagamaan saja, ataukah juga akan membina hubungan yang pribadi dengan Tuhan.

Sebenarnya hubungan kita dengan mahluk halus sama saja hubungannya kita dengan binatang atau dengan manusia lainnya. Karena itu saya sudah sampaikan pandangan saya supaya kita memandang mahluk halus dan khodam sebagai teman dari alam gaib , dan semua sesaji dari kita untuk mereka hanyalah dilakukan untuk menghormati mereka, jangan kita lakukan sama dengan sesaji persembahan berhala dengan adanya pamrih di dalamnya. Kita sendiri juga harus bisa melepaskan pamrih yg bersifat berhala, jangan sampai kita diperbudak oleh hasrat, pamrih dan kesesatan kita sendiri.


1. Pagaran Diri
Selain pagaran lama dan yg dibuat oleh khodam2 bapak, saya tidak mendeteksi adanya pagaran baru.
Kalau sudah bisa bermunajat langsung kepada Tuhan, sebaiknya dalam permohonannya tidak perlu pagarannya dibatasi 500 KRK, minta saja pagaran yang akan menjauhkan bapak dari semua yang jahat.

2. Pagaran Gaib Tempat Usaha
Saya juga tidak mendeteksi adanya pagaran baru untuk tempat usaha bapak selain pagaran lama dan yg dibuat oleh khodam2 bapak.
Mungkin bapak bisa mencoba mendeteksi keberadaan pagarannya dari arah luar ke dalam tempat usaha bapak.

Mohon maaf bapak, dari deteksian keberadaan pagaran itu kelihatannya bapak belum bisa bersugesti tersambung langsung dengan Tuhan.
Mungkin nanti kalau bapak sudah benar2 bisa lepas dari kekuatan duniawi yang sekarang untuk total beralih kpd Kuasa Tuhan.


Akurasi Ilham dan Petunjuk

Bisikan gaib atau penglihatan gaib yang bapak terima bisa saja berasal dari Tuhan, atau dari khodam2 bapak atau mahluk halus lain, atau dari roh pancer dan sedulur papat bapak sendiri.

Kalau kita tergesa2 atau
memiliki pamrih / hasrat, biasanya bisikannya berasal dari roh pancer kita sendiri.

Kalau kita sedang santai, pikiran sedang kendor mengambang, mungkin suara itu berasal dari yang lainnya. Untuk mengenalinya siapa sumbernya memang susah, tapi kalau kita teliti mungkin kita bisa membedakan masing2 sumbernya, misalnya dari perbedaan tekanan suaranya atau irama suaranya.


Itu saja dulu yang bisa saya sampaikan saat ini.
Terima kasih atas sharing bapak.
Selamat malam



 A :    
Selamat Pagi Kangmas...
Semoga kabar baik selalu menyertai, dan selamat memulai aktifitas di hari ini.

Menyambung email sebelumnya, saya sependapat sekali dengan kangmas.
Bentuk pengandalan kita terhadap rasio, kecerdasan berpikir, kemampuan dan penguasaan teknologi dalam rutinitas kita sehari-hari, dengan menafikan peran Tuhan sebenarnya adalah sikap menduakan Tuhan.

Kita sakit dan berobat ke dokter dan ternyata kita sembuh. Kalau pandangan kita menganggap dokter semata yang menyembuhkan sakit kita, maka sikap itu adalah pengingkaran kepada peran Tuhan. Seharusnya dipahami bahwa Kuasa Tuhan menyembuhkan penyakit kita melalui peran sang dokter. 

Seorang supervisor yang mendapat promosi menjadi manajer, kalau dia meyakini kenaikan jabatannya adalah semata buah dari kerja keras dan prestasi kerjanya sendiri adalah juga bentuk pengingkaran kepada Tuhan.

Tuhan memang menciptakan mekanisme dalam alam semesta. Mekanisme (sunatulLah) ini sudah diatur oleh Penciptanya dan berlangsung dengan sempurna.
Pegawai yang bekerja keras dan berpikir cerdas, tekun, cermat maka bukan hal yang sulit buat dia untuk naik jabatan atau promosi.
Wirausaha yang hemat, bekerja keras dan jeli melihat peluang serta berpikiran maju lumrah juga untuk dia menjadi sukses.
Peneliti-peneliti yang inovatif dan tekun mencari terobosan baru di bidang keahliannya, bukan mustahil bisa menciptakan penemuan2 baru yang bahkan akhirnya menjadi prestasi monumental dalam sejarah.  
Tapi semua itu juga atas peran dan karya Tuhan, yang memberi kuasa dan daya kepada manusia.


Sugesti kepada Tuhan

Saya ingin mengutip kalimat Kangmas tempo hari : dari deteksian keberadaan pagaran itu kelihatannya bapak belum bisa bersugesti tersambung langsung dengan Tuhan. Mungkin nanti kalau bapak sudah benar2 bisa lepas dari kekuatan duniawi yang sekarang untuk total beralih kpd Kuasa Tuhan.

Saya menyimak dengan teliti kalimat ini. Dari analisa saya, saya berpendapat dengan ketinggian maqam spiritual kangmas sepertinya kangmas mengetahui bahwa jalan saya selama ini untuk tersambung langsung dengan Tuhan, masih terhalang oleh sikap ketergantungan dan pengandalan saya kepada tuah khadam2 saya.
Tapi saya juga merasa peluang saya untuk belajar tersambung langsung denganNya masih terbuka.

Hehe..Saya jadi tersenyum dan malu sendiri mengingat sugesti saya kala itu dengan visualisasi dalam benak saya seolah-olah Tuhan menjadi secondlines, dan frontlinenya adalah khadam2 saya.
Saya menyadari orientasi saya kala itu adalah penyimpangan tauhid (syirik). Walaupun ada yang menggolongkan sebagai syirik kecil, tapi tetap saja bagi saya cara pandang itu sebelas-duabelas dengan cara pandang penyembah berhala. 
Tuhan tidak mau diperlakukan seperti itu, Dia ingin berkuasa mutlak atas diri hambaNya karena memang Dialah yang berkuasa mutlak atas segala sesuatu.
Terima kasih kangmas untuk koreksinya yang luar biasa ini.


Sinonim atau Padanan Kata

Mohon maaf sebelumnya kangmas, berikut ini saya utarakan pandangan pribadi saya.
Saya bukan orang yang fanatik beragama. Semua itu membentuk saya sebagai pribadi yang opened dan toleran terhadap keyakinan umat beragama lain.

Agama bagi saya tujuan utamanya adalah penghayatan mendalam tentang konsep ketuhanan untuk selanjutnya menjadi penyatuan total hamba dengan Tuhannya. Dalam "penyatuan" ini maka segala urusan duniawi, ras, jender dan atribut agama bahkan tata cara dalam laku spritual kita menuju Tuhan pun akan kita tanggalkan berganti keheningan dan hampa dalam "manunggaling kawula lan Gusti".
Konsep ini dalam islam disebut makrifatulLah. Tahapannya melalui syariat, tariqat, hakikat dan terakhir makrifat.

Saya mencoba mencari persamaan istilah2 untuk dua keyakinan kita masing2 yang paling prinsip, karena bagi saya nama dan istilah2 di bawah ini objectnya adalah satu, penamaannya saja yang boleh bermacam2.
Mohon juga koreksinya jika ada kesalahan.
Dituliskan sebagai Bapa kami di surga tidak lain adalah Allah Azza wajalla
Roh Kudus adalah Ruh dari Allah sendiri (karena dalam firmanNya : Maka kepadanyalah Aku tiupkan RuhKu)


Berbicara kepada Tuhan

Beberapa hari yang lalu, pada suatu kesempatan saya berdoa kepada Allah, seperti biasa setelahnya maka saya membaca surah al fatiha (sugesti saya agar supaya lebih mantap dan doa saya didengar serta dikabulkan Tuhan). 

Tetapi di benak saya seperti ada yang menegur saya. Intinya dikatakan kalau saya mengandalkan al fatiha agar doa saya sampai kepada Tuhan, maka sama halnya saya mengandalkan "sesuatu" sebagai media pengantar doa saya agar sampai kepada Tuhan. Satukan rasamu denganNya dan yakinlah bahwa kau sedang berhadapan dengan Tuhanmu dan Tuhan pun "memandang dan mendengar" mu. Yakinlah pada dirimu dan jangan mengandalkan segala sesuatu untuk menghubungkanmu dengan Tuhan. 
Untuk beberapa saat saya merenung, dan meresapi benar2 kalimat itu.

Maka, ketika saya akan berangkat berdagang, saya berdoa dan fokus kepada "sosok" Tuhan. Saya seperti mendengarNya berbicara kepada saya.
"Aku mendengar doamu, yakinilah ...dan memintalah hanya kepadaKu, maka engkau akan Kucukupi".

Ketika saya bertanya kepadaNya, bagaimana saya harus memperlakukan benda2 ghaib saya (karena tekad saya mulai total untuk terlepas dari segala kekuatan duniawi dan hanya berserah diri kepada Nya), dan Tuhan menjawab: "Kenakanlah cincin2mu jika memang itu untuk perhiasan dan keindahan. tapi janganlah mengharapkan tuahnya, bahkan walaupun hanya dalam angan-anganmu. Mintalah hanya kepadaKu dan Aku akan mencukupimu".

Pada lain kesempatan ketika saya bermunajat kepadaNya, Tuhan mengajarkan kepada saya agar hening sehening2nya untuk menyatukan rasa saya dengan Nya. "Ketika kau hening, dan rasamu menyatu dengan Ku, maka kau akan mendengar bahwa Aku berbicara denganmu".

Saya menanyakan bagaimana saya harus memanggilNya, Tuhan berkata: "Panggillah Aku dengan panggilan apa yang menjadi kata hatimu. Nama-namaKu adalah apa yang Kuajarkan kepada hamba-hambaKu untuk menyebutKu".
Maka selanjutnya setiap berdoa dan merasa terhubung denganNya, saya selalu memulai dengan menyebut "Tuhanku...."

Demikian kangmas pengalaman batin saya beberapa hari terakhir ini, dan saya merasakan suasana batin yang berbeda dengan masa sebelumnya. Mohon koreksi dan pencerahannya kangmas, apakah ini benar suara Tuhan, atau ada gaib lain yang seolah2 mengambil "peran" Tuhan itu ?

Tapi yang saya rasakan tentang suara itu, intonasinya cenderung relatif datar (tidak naik-turun drastis), tekanannya pun teratur (tidak menghentak spt ada penekanan pada suatu poin). Ibaratnya kita seperti berlayar tenang dengan kapal di malam purnama di atas hamparan lautan yang teduh tak bergelombang. 
Juga saya merasakan seperti suara itu berlatar belakang ruang yang kosong dan hening dan tidak ada anasir lain, di mana saya merasa rasa saya terfokus untuk tekun menyimaknya.

Dan yang membuat saya bingung, mengapa ia menyebut saya dengan anakku...? Sesuatu yang sama sekali tak terbersit dalam pikiran saya.

Sekali lagi mohon koreksinya kangmas, karena saya tidak ingin terjebak dengan sesuatu yang menyesatkan.

Itu dulu kangmas yang dapat saya sampaikan, terimakasih atas waktunya buat membaca email ini dan mohon maaf merepotkan. 
Terimakasih dan selamat pagi.


 J :    
Wah .... kelihatannya bapak sudah naik nih tingkatannya, sudah mulai masuk ke dunia Hikmat ...

Tapi saya ingin menunjukkan sedikit perbedaan sikap berpikir saya, bukan mengoreksi pandangan bapak, hanya ingin menunjukkan sikap berpikir saya dari sudut pandang ketuhanan.

Dari sudut pandang ketuhanan, semua perbuatan dan sikap berpikir yang tidak bersandar, tidak mengandalkan diri kepada Kuasa Tuhan sama dengan menduakan Tuhan.
Implementasinya akan sulit sekali karena akan banyak berbenturan dengan kehidupan kita sebagai mahluk duniawi.


Misalnya seperti contoh yang bapak sampaikan :

1. "
Kita sakit dan berobat ke dokter dan ternyata kita sembuh. Kalau pandangan kita menganggap dokter semata yang menyembuhkan sakit kita, maka sikap itu adalah pengingkaran kepada peran Tuhan. Seharusnya dipahami bahwa Kuasa Tuhan menyembuhkan penyakit kita melalui peran sang dokter ".

Dari
sudut pandang ketuhanan (sekali lagi : dari sudut pandang ketuhanan), kalau kita sakit kemudian berobat ke dokter, entah sembuh entah tidak, kita mengganggap dokter itu adalah perantara Tuhan untuk kesembuhan kita, dari sisi ketuhanan pandangan yg seperti itu salah. Itu adalah perbuatan munafik.

Dengan berbuat begitu kita sudah menunjukkan bahwa pada dasarnya kita lemah, tidak percaya pada kuasa Tuhan yg mampu menyembuhkan kita secara langsung, kita tidak mengimani itu.
Kita lebih percaya kpd dokter dan rumah sakit.
Apakah Tuhan menyerahkan perantaraannya kepada dokter ?
Kalau dokter menjadi perantara Kuasa Tuhan, kalau dokternya sendiri yg sakit, apakah pasti ia bisa menyembuhkan dirinya sendiri ?
Dari
sudut pandang ketuhanan, apa bedanya berobat ke dokter dengan ke dukun atau ke pengobatan alternatif ?
Sama saja.
Sama-sama tidak mengandalkan Kuasa Tuhan. Lebih percaya pada kemampuan manusia (dokter / dukun / pengobat alternatif / manusia lain).
Kita lemah iman.
Lebih buruk lagi, kita malah menutupi kelemahan iman kita itu
dengan mengatasnamakan (menghalalkan / membenarkan) sebutan dokter sebagai perantara Kuasa Tuhan.


2. Contoh lain :
Saya bekerja sbg pegawai yg gajian.
Bapak wiraswasta berdagang.

Saya, begitu juga dengan bapak, kalau berdoa memohonkan rejeki, apakah kita akan berdoa sedemikian khusyuknya sama seperti orang yg benar2 sedang butuh rejeki dan
benar2 sangat mengandalkan Tuhan memberikan kita rejeki karena tidak ada sumber lain yg bisa kita harapkan (kondisi yg terpaksa) ?

Saya yakin sehari2nya doa kita memohonkan rejeki hambar, karena sifatnya hanya
rutinitas / formalitas saja, karena dalam hati kecil, kita yg gajian, tanpa berdoa pun nantinya kita akan gajian, dan kita yang berdagang, pasti nanti akan ada pemasukan, sama dengan hari2 biasanya.
Sehari-harinya kita "memuja" sumber kerejekian kita itu.


Contoh-contoh sikap di atas, dalam agama kristen itu yang disebut mamon, yaitu sikap kita yang tidak mengandalkan diri kepada Tuhan.
Jadi ada istilah berhala, ada istilah mamon.
Dua-duanya sama hakekatnya, yaitu : berpaling dari Tuhan.

Dari sudut pandang ketuhanan, semua perbuatan dan sikap berpikir kita yang tidak bersandar, tidak mengandalkan diri kepada Kuasa Tuhan, sama dengan menduakan Tuhan.

Implementasinya akan sulit sekali bagi semua orang (termasuk saya) karena akan banyak berbenturan dengan kehidupan kita yg secara manusiawi harus lebih banyak mengandalkan usaha kita sendiri sebagai
mahluk duniawi. Ditambah lagi kita sulit sekali tersambung dengan Tuhan, tidak setiap saat kita bisa terhubung dengan Tuhan, dan Kuasa dan pertolongan Tuhan juga tidak setiap saat bisa kita terima. Tapi secara ketuhanan, itu bisa untuk mengukur seberapa besar keimanan dan pengandalan kita kepada Tuhan.


Sugesti kepada Tuhan

Sekali lagi saya ingin menunjukkan sedikit perbedaan sikap berpikir saya, bukan mengoreksi pandangan bapak, hanya ingin menunjukkan sikap berpikir saya dari sudut pandang ketuhanan.
Tapi kita berbeda pendapat juga tidak apa-apa.
Tapi mohon bapak jangan marah dan sakit hati yah pak.
Ini untuk sharing saja.

Perbuatan yg bapak katakan sbg syirik, atau bapak katakan ada yg menganggap sbg syirik kecil, dalam rasa ketuhanan saya justru sebaliknya.

Pada jaman dulu di Israel, perbuatan itu bisa mendatangkan murka Tuhan, bahkan perbuatan kita itu hukumannya bukan hanya akan ditimpakan kepada kita, tapi juga kepada anak dan cucu keturunan kita.
Karena selain kita sendiri tidak mengandalkan Tuhan, kita juga sudah sedemikian merendahkan Tuhan, kita memperlakukan Tuhan seolah-olah Tuhan sama dgn khodam kita.
Tapi ini hanya pendapat saya saja loh pak ....


Sinonim atau Padanan Kata

Saya merasa padanan kata untuk Allah Bapa dan Roh Kudus tidak persis seperti itu. Pengertiannya lebih besar daripada itu. Tapi sulit memang menjelaskannya dengan kata-kata. Panjang ceritanya.


Berbicara kepada Tuhan

Saya menyimak betul pengalaman batin bapak dengan Tuhan.

Kalau kita mempunyai hajat keinginan, atau kita ingin berdoa secara pribadi kepada Tuhan, memang seharusnya itu disampaikan dengan tulus dari hati sendiri kepada Tuhan, jangan mencari perantaraan, dan jangan melakukan perbuatan2 seolah-olah dengan berbuat itu Tuhan menjadi lebih memperhatikan kita. Seharusnya itu dilakukan dengan tulus dan bersugesti tersambung langsung dengan Tuhan.

Dan kalau kita ingin mendekatkan diri dengan Tuhan, mengaji, zikir atau sembahyang, seharusnya kita bisa bersugesti bhw itu kita lakukan untuk dan kepada Tuhan.

Tetapi dari yg lain-lainnya yg bapak sampaikan, saya mendapati adanya sikap berpikir dan sikap berbicara Tuhan yg berbeda dengan Tuhan yg saya kenal (menurut rasa saya).
Yang bapak sampaikan itu sama dengan pandangan
klasik (sudah umum terjadi) orang2 yang mengenal Tuhan sebagai Roh Agung Alam Semesta, yang mengenal Tuhan dari "Cahaya"-Nya saja, bukan yang mengenal Tuhan dari PribadiNya.

Dari rasa saya, itu berasal dari sesuatu
yang lain, bukan berasal dari Pribadi Tuhan.
Maka, saya menyimak betul pertanyaan bapak : apakah ini benar suara Tuhan, ataukah ada gaib lain yang seolah2 mengambil "peran" Tuhan itu ?

Akhirnya setelah saya telusuri dan saya deteksi secara menyeluruh, saya mendapati ada sosok lain
yang "menggantikan" suara Tuhan, yaitu sesosok sukma manusia bapak2 di bagian dalam warung bapak, 1.000 KRK.

Coba pak dideteksi, dan dirasakan sekali lagi, ketika bapak "berkomunikasi" dengan Tuhan itu, apakah bapak bisa merasakan bahwa suara Tuhan yg bapak terima berasal dari sosok itu ?


 A :    
Selamat pagi Kangmas...dan selamat berakhir pekan..

Membaca email kangmas sebelumnya, saya merasakan perbedaan maqam spiritual yang begitu jomplang antara saya dengan kangmas. Saya merasa tidak ada seujung kukunya. Pemahaman kangmas soal spiritual ketuhanan begitu dalam hingga menyentuh hakikat ketuhanan itu sendiri.

Mohon maaf kangmas, sekali lagi mohon maaf...Kalau saya boleh membuat pengandaian, manusia biasa untuk mencapai tataran pemahaman akan hakikat ketuhanan dan tingkat kebatinan seperti tingkatan kangmas mungkin minimal dibutuhkan waktu seribu tahun belajar terus menerus. Hal yang tidak mungkin bagi manusia biasa.

Tetapi saya meyakini ada faktor eksternal yang terlibat, yaitu "given"...Kangmas membawa "berkat" itu dan "terberkati", sehingga sesuatu yang bagi manusia biasa adalah mustahil, tapi tidaklah bagi Tuhan dengan KuasaNya terhadap siapa manusia yang dipilihNya.


Penyandaran kepada Tuhan

Saya ingin mengutip kalimat kangmas tempo hari: Dengan berbuat begitu kita sudah menunjukkan bahwa pada dasarnya kita lemah, tidak percaya pada kuasa Tuhan yg mampu menyembuhkan kita secara langsung, kita tidak mengimani itu.

Ya, tepat sekali pendapat kangmas. Saya menyadari kekeliruan dogma atau pemahaman saya selama ini. Tuhan memang tidak perlu orang atau sesuatu sebagai pemeran pembantuNya atau perantara KuasaNya. Tinggal manusia saja yang perlu memohon langsung kepadaNya, hal yang sepertinya mudah untuk diucap tapi sangat sulit sekali untuk diimplementasikan. 

Kesulitannya karena selain manusia adalah makhluk biologis dan duniawi, juga pola pemikiran dan doktrin yang berkembang selama ini yang menempatkan suatu keharusan bahwa manusia harus berusaha / kerja atau bersyariat buat mendapatkan hasil. Tidak mungkin ada (bahkan dianggap pemimpi) bila hanya berdoa dan meyakini sebagai jalan potong kompas buat mencapai hasil.

Tapi memang bukan hal yang mustahil apabila faktor2 penghubung antara manusia dan Tuhan sudah terpenuhi. Faktor-faktor ini saya yakini sebagai dasar dan prasyarat kondisi terhubungnya antara manusia dan Tuhan.
Saya juga agak bingung buat mengungkapkannya. Tapi saya yakin pasti kangmas memahami maksud saya dan mungkin berkenan menjelaskannya.


Kemurkaan Tuhan

Waduh, saya sampai tidak bisa nyenyak tidur setelah membaca kalimat kangmas : " perbuatan itu bisa mendatangkan murka Tuhan, bahkan perbuatan kita itu hukumannya bukan hanya akan ditimpakan kepada kita, tapi juga kepada anak dan cucu keturunan kita ".

Saya memang menyadari kesalahan, tapi saya tidak bertindak seekstrim seperti interpretasi kangmas. Saya tidak bermaksud melakukan pembelaan loh... kangmas, karena saya juga memaklumi bahwa 2 atau 3 baris kalimat dalam email tidaklah cukup buat menuangkan suasana batin saya sewaktu bersugesti membuat pagaran gaib di tempat usaha dengan memohon kekuatan dari Tuhan.

Sekitar 10 tahun yang lalu ketika saya mulai belajar membuat pagaran gaib, saya berimprovisasi dalam batin dengan amalan2 pribadi. Saya ciptakan garis imajiner di sekeliling tempat usaha saya dengan keempat sudutnya saya bentuk sosok dalam tokoh persilatan yang sedang mengetrapkan jurus. Beberapa waktu kemudian saya tanyakan kepada seorang spiritualis yang "tajam" penglihatannya. Saya rahasiakan bentuknya, dan dia tersenyum sambil menirukan gaya "sosok" tersebut, persis !
Saya anggap percobaan saya berhasil.

Beberapa minggu sebelum ini saya sambat kpd khadam saya untuk membuat pagaran gaib di tempat usaha saya ini. Nah, ketika sampai waktu saya untuk mulai tahapan belajar bersugesti langsung dengan Tuhan, saya mencoba membuat pagaran sendiri (bentuknya perisai di bagian depan) dengan bersandar langsung kepada Tuhan, agar Dia memberikan kekuatan kepada saya. Saya juga meminta agar double perisai dengan pagaran gaib dari pagaran sebelumnya. 
Menurut deteksian kangmas pagaran hasil sugestian saya dengan Tuhan itu tidak terbentuk. Jadi, dalam hal ini saya tidak mensugestikan Tuhan menjadi khadam saya (Naudzubillah..)
Tapi sekiranya menurut kangmas prilaku saya itu bisa mendatangkan murka Tuhan saya benar2 bertobat memohon kemurahanNya buat mengampuni saya, dan saya anggap pemahaman baru ini adalah pengetahuan tingkat tinggi.
Terima kasih kangmas atas koreksinya.


Sosok dan Pribadi Tuhan

Mohon penjelasannya kangmas. Ketika saya berdoa bersugesti langsung dengan Tuhan (dan ketika pada akhirnya doa saya dikabulkan) dalam batin saya tampak "sosok" Yesus Kristus, tapi dalam "rupa" yang lebih sepuh. Dan juga dalam beberapa kesempatan sebelumnya saya melihat sepasang mata yang melihat saya. Sepasang mata ini seumur-umur tidak pernah saya lihat sebelumnya, dan juga seperti ada cahaya terang dari langit turun menyorot.
Saya sampai detik ini hanya bersangkaan bahwa sepasang mata itu lambang bahwa Tuhan "melihat" saya. 


Padang Kurusetra

Kenapa ya kangmas, ketika saya melihat foto2 di bab 'Bharatayuda di alam gaib' bulu kuduk dan seluruh badan saya meremang, apalagi di kepala terasa sekali meremangnya. Rasa meremang ini terus ada manakala melihat lintasan peristiwanya. Seorang ksatria 80.000 krk bersenjata pedang terang dengan mendak dari emas bertarung dengan iblis berkepala seperti T-rex 45.000 krk. Seekor burung reptil hitam 25.000 krk yang ditebas dadanya oleh ksatria berpakaian putih. Panji-panji lambang kekuasaan hitam yang ditancapkan ke leher dan dada iblis2 oleh para tentara Tuhan.
Begitu mencekamnya padang kurusetra ini.... 
Mohon izin buat share foto2 ini kangmas.

Terima kasih atas atensinya kangmas, dan selamat pagi...


 J :    
Semua yg sudah bapak sampaikan itu saya rangkum kesimpulan penyebabnya, yaitu karena manusia tidak mengenal SejatiNya Pribadi Tuhan, sehingga kemudian manusia banyak membuat dogma2 dan pemikiran2 sendiri dan dalih.

Semuanya itu tidak akan terjadi kalau manusia mengenal PribadiNya dan tahu sikap berpikir Tuhan (termasuk mencari jawabannya langsung kpd Tuhan apakah benar perbuatan kita akan mendatangkan

berkat Tuhan ataukah murka Tuhan, mendatangkan berkat ataukah laknat).

Sejak dulu sampai sekarang Tuhan yang kita sembah adalah Tuhannya Israel.
Nabi2Nya juga adalah nabi2 Israel.
Dengan mengimani itu akan mudah untuk kita mengenal sisi Pribadi Tuhan yg sesungguhnya (kecuali kita membuat2 Tuhan sendiri yang bukan Tuhannya Israel).

Tapi sejak dulu kita berusaha mengingkari itu, mengingkari bhw Tuhan yg kita sembah adalah Tuhan Allah kita sendiri, bukan Tuhannya Israel.

Bagaimana kita akan sampai kpd Tuhan kalau kita sendiri mengingkari Tuhan kita ?

Apakah kita mempunyai Tuhan sendiri yg menjadi tujuan kita ?

Itulah penyebab terbesar mengapa kita sulit sekali mengenal Pribadi Tuhan yang benar, apalagi untuk tersambung denganNya.

Untuk bisa menyambungkan diri dengan Tuhan
kita harus lebih dulu tahu Tuhan, dengan Tuhan yang mana kita akan menyambungkan diri.

Apalagi kalau ada keinginan untuk manunggal dengan Tuhan kita harus lebih dulu tahu dengan Tuhan yang mana kita akan memanunggalkan diri.

Kalau yg dimaksudkannya adalah Tuhan yg ada di dalam pikiran
kita sendiri, atau Tuhan yg lain sesuai bentukan kita sendiri, sampai kapanpun tidak akan pernah terbukti bhw kita akan tersambung dgn Tuhan, apalagi manunggal denganNya.

Karena itulah dalam banyak tulisan saya menuliskan bahwa saya tidak menekankan pada bentuk agama, juga saya tidak bermaksud menyebarkan agama, terserah manusia mau beragama apa.
Yang saya tekankan adalah sisi ketuhanannya, supaya manusia benar mengenal Tuhan
yang benar, supaya jalannya jelas dan benar menuju Tuhan yang benar, supaya lebih terjamin jalannya untuk sampai dan menyatu dengan Tuhan.

Diperlukan ketulusan hati untuk menyembah Tuhan dengan benar, apalagi ingin sampai kepadaNya.


 A :    
Selamat pagi, kangmas...

Akhirnya saya sampai pada fase ini....
Fase dimana perjalanan kebatinan spiritual dan ketuhanan saya akan menentukan akan sampaikah saya kepada Tuhan, Roh Agung...ilLah dari segala illah. Atau hanya sekedar mimpi kosong dan obsesi belaka.
Seperti yang pernah saya sampaikan kepada kangmas pada postingan email pertama kali, akan laku dan proses panjang saya mencari kesejatian diri, dan kesejatian Tuhan.

Sebelum masuk ke poin2 di bawah ini saya mohon bantuan kangmas untuk deteksiannya....karena apakah kejadian ini selanjutnya akan mempengaruhi psikologis dan suasana batin saya setelahnya termasuk kala menulis email ini ?

Hari senin kemaren, setelah saya baca email balasan kangmas, batin saya merasa gamang sampai ketika saya istirahat tidur.


Pencarian Tuhan

Pada kesempatan ini juga saya utarakan bahwa saya sepaham dengan kangmas, bahwa kita tidak ingin masuk ke wilayah agama. Nilai objectivitaslah yg saya tekankan sehingga netralitas dan kebersihan niat / batin akan saya junjung tinggi.
Kalau mungkin ada beberapa hal yang menyangkut agama mungkin itu adalah ekses yang tak bisa terhindarkan. Tapi dalam ketulusan hati hal2 itu tetap ingin saya hindari. 
Sekali lagi hanya netralitas dan objectivitas.


Terus terang kangmas, saya menulis ini dengan sadar sesadar-sadarnya dan objectif... bahwa proses saya sekarang seperti Werkudara mencari 'tirta perwita sucining urip'. Hehe...mungkin agak lebay ya kalau menyamakan dengan kisah pewayangan itu.

Kalau Tuhan ingin menyediakan hikmat dalam diri saya, maka Ia pasti akan membuka jalan pikiran saya.
Saya berpedoman bahwa agama adalah 'ageman', baju (pakaian). 
Saya menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa kalau saya tetap memakai baju yang sekarang, akan kekecilan...Gerak saya tidak leluasa untuk "mencari" Tuhan, apalagi bila baju (pemberian orang tua) saya ini kotor sehingga Tuhan tidak berkenan dengan saya. Saya sangat sedih bila Tuhan 'memalingkan wajahNya' dari saya.
Kemana lagi saya akan mencari Tuhan, kalau Tuhan Yang Esa ini tidak menerima saya....?

Mohon bimbingannya kangmas, bagaimana / darimana saya harus memulai mencari Tuhan yang Agung, Tuhan Yang Maha Asih dan Pemurah, yang kepadaNya kita semua akan kembali.
Tapi saya tetap meyakini anak manusia ini akan dituntun oleh Allah Bapa Nya untuk kembali pulang ke rumahNya.....amin

Terimakasih dan selamat pagi..

 J :    
Mengenai pertanyaan bapak :
" apakah kejadian ini selanjutnya akan mempengaruhi psikologis dan suasana batin saya setelahnya termasuk kala menulis email ini ? "

Setidaknya ini sejak awal sudah menambah kematangan kesepuhan bapak dan saya, karena memang tanya jawabnya "dalam" dan "mengakar" yang untuk menjawab pertanyaan2 bapak saya harus benar2 menyimak dan menggali lebih dalam. Sudah pasti itu akan menambah dalam pemahaman kita bersama. Mengenai bagaimana selanjutnya, itu terserah masing2 individunya.


Dalam kehidupan kita sehari-hari
yang seringkali dikaitkan dgn Tuhan, selain agama Islam adalah agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi selain itu sebenarnya ada banyak sekali di Timur Tengah agama dan sekte yg juga menyembah Tuhannya Israel, yang masing2 mereka tidak mau disamakan sebagai agama Islam, agama Yahudi ataupun Nasrani.

Memang agama hanyalah baju seragam saja.
Selebihnya tinggal orangnya yg memakai baju itu.
Kalau baju seragam itu dinomorsatukan, itulah yg terjadi ketika anak2 berseragam SMP / SMA tawuran dgn anak2 berseragam
SMP / SMA lain.
Padahal
nantinya sesudah mereka kuliah atau bekerja, seragam lamanya akan ditanggalkan, campur dgn orang2 lain yg dulunya seragamnya berbeda.

Dalam usaha mencari kesejatian dari sesuatu, aturannya tetap sama, yaitu kita harus bisa objektif dan realistis untuk melihat dan menerima apa adanya dari sesuatu yang kita cari kesejatiannya.
Jangan sampai terjadi seperti cerita Malin Kundang yg mengaku mempunyai orang tua, tetapi mengingkari orang tuanya sendiri karena ia menginginkan identitas yg lain yg bukan sejatinya dirinya.

Tuhan kita berkepribadian sama dari dulu sampai sekarang. Sekalipun
sesudah jaman Yesus ada sisi PribadiNya yg berubah, yg berbeda, yg tidak sama lagi dgn sebelumnya, karena adanya pembaruan dalam sikap berpikir dan kebijakan Tuhan atas manusia (perjanjian baru), tetapi secara garis besarnya tetap sama. Karena itu kalau kita sudah mengenal sisi pribadinya yg asli, kita tidak akan tertipu dgn adanya pribadi2 yg lain.

Dengan adanya restu dari Yesus, Tuhan memberikan kemurahan untuk pribadi2 yg ingin mengenal sejatinya Tuhan.

Allah itu Roh.
Karena itu untuk mengenalnya kita harus mengedepankan roh.

terima kasih



 A :    
Selamat pagi kangmas...
Semoga kabar baik selalu menyertai...

Terima kasih kangmas atas pencerahannya yang sangat luar biasa.
Terima kasih juga atas kesabaran kangmas melayani pertanyaan2 saya tentang kesejatian Tuhan.
Kangmas ibarat lentera yang menuntun saya keluar dari kegelapan menuju jalan terang.
Semoga Tuhan selalu memberkati kangmas...

Perbincangan kita tempo hari membuka mata hati dan logika saya. Walau bagaimanapun agama tetap harus bisa dinalar dan dilogika.
Saya juga yakin bahwa kangmas TIDAK mengarahkan saya kepada agama tertentu. 
Kangmas menyajikan kebenaran dan fakta yang obyektif tentang ketuhanan. 
Tuhan telah membuka hikmat dalam diri saya, dan saya harus membuka diri seluasnya untuk hikmat itu agar Terang / Kasih Tuhan bersemayam dalam diri saya.
Semoga Allah mencerahkan kehidupan dan keimanan saya. Amin...

 J :    
Sebenarnya saya memang tidak menyebarkan agama.
Dan tidak ada kepentingan saya untuk menyebarkan agama.

Apapun agama seseorang, agama itu tidak menjamin seseorang akan sampai kpd Tuhan
Sekalipun seseorang sudah menganut agama yang benar, tetapi agama saja tidak cukup, ia masih harus menghasilkan buah2 perbuatan dari kepercayaannya itu, yang nantinya itu akan ditimbang lagi pada Hari Penghakiman.

Seharusnya semua manusia berada di atas agama, tidak di bawah agama
dan seharusnya manusia tidak menempatkan dirinya di bawah kungkungan agama
Karena tujuannya adalah kepada Tuhan, agama menjadi sarana saja
Manusia sendiri yg membentuk agama menjadi eksklusif
yang bahkan kemudian memunculkan banyak sekali aliran dan sekte
baik dalam agama kristen, Islam, hindu, budha, ada banyak sekali aliran / sekte di dalamnya yg masing2 merasa eksklusif, mengkotak-kotakkan diri, merasa berbeda satu dgn lainnya walaupun masih dalam wadah agama yg sama.

Seharusnya semua manusia berada di bawah ketuhanan yang sama
karena Tuhannya satu
hanya saja tidak semua orang mengenal Tuhannya, sehingga mereka mencitrakan Tuhan sendiri2, dan membentuk "agama" sendiri2 yang eksklusif.

Karena itu saya tidak interest untuk menyebarkan agama (walaupun banyak orang mengatakan agama)
Saya hanya interest untuk mengajarkan ketuhanan yang benar
karena Tuhan sendiri tidak mengajarkan agama, apalagi menyebarkan agama
yang diajarkanNya adalah  Ketuhanan yang benar  dan  Hukum
supaya manusia mengenal Tuhan dengan benar, sehingga nantinya manusia akan menyembah dan beribadah kepadaNya dgn cara yg benar.

Pekerjaan2 dan kegaiban2 Tuhan bukan hanya terjadi pada jaman dulu saja pada jamannya Nabi2, tetapi juga terjadi pada jaman sekarang, bahwa pada jaman sekarang pun tidak mustahil manusia bisa mengenal Tuhan secara langsung, terhubung, berkomunikasi, bahkan manunggal dengan Tuhan, dan bahwa pada jaman sekarang ini pun pekerjaan dan kegaiban Tuhan tetap bekerja. Apalagi sekarang ini Tuhan sedang membuka lebar Pintu Kemurahan, sehingga orang akan lebih mudah untuk bisa mengenal Tuhan, padahal orang2 jaman dulu tidak berkesempatan untuk itu walaupun sudah bertapa berpuluh2 tahun untuk mendekat kpd Tuhan.

Pada jaman sekarang kebijakan Tuhan sudah lebih lunak, tidak lagi keras dan kaku seperti dulu
Jaman sekarang sudah lebih mudah untuk kita bersugesti tersambung dengan Tuhan,
Tuhan mulai banyak membuka diri kepada pribadi2 yg ingin mengenalNya
Allah Bapa berkenan memberikan Roh Kudus dalam bentuk bola energi, jubah gaib, dsb, bahkan kepada orang2 non-kristiani, walaupun status Roh Kudus itu tidak sama dgn Roh Kudus baptisan.
Itu adalah jawaban Tuhan kpd orang2 yg ingin lebih mengenalNya.

Mungkin itu dimaksudkan untuk meringankan manusia dari belenggu2 duniawi yg memberatkan jalannya kepada Tuhan, memudahkan manusia mengenal sesuatu yang illahi yang berbeda dengan yang duniawi, sebagai tanda bahwa ia sudah berhubungan dengan Allah yang illahi, yang tidak sama dengan roh-roh duniawi. Sesudahnya tinggal terserah si manusia sendiri bagaimana ia akan menjalani hidupnya sbg orang yang sudah mengenal Tuhan yg benar. Itulah Kemurahan Tuhan yg diberikan pada jaman sekarang, terkait dgn keberadaan "sosok keempat".


Saya tidak mengarahkan bapak untuk datang kpd seorang pendeta / pastur untuk minta dibaptis menjadi orang kristen, saya hanya ingin mengenalkan bapak kepada Tuhan yg sebenarnya, karena bapak sendiri sudah mempunyai pemahaman tentang Tuhan, walaupun pemahamannya masih berbeda dengan saya. Saya senang dan bahagia mengetahui bahwa bapak sudah membuka hati dan pikiran kepada Tuhan. Selebihnya itu akan menjadi hubungan yang pribadi antara bapak dgn Tuhan. Terserah bapak sendiri nantinya sejauhmana akan berketuhanan, karena itu akan menjadi sesuatu yang jauh lebih berkualitas daripada sekedar beragama saja.

Sejak awal saya tidak berkeinginan mengarahkan orang masuk agama kristen atau agama apapun.
Apa yg saya tuliskan di situs saya adalah tentang ketuhanan, dan itu lebih daripada 
agama. Justru orang2 kristen sendiri akan terbuka pemahamannya, bahkan akan terkoreksi pemahamannya tentang agama mereka dan tentang pemahaman mereka akan Tuhan.

Kalau orang memeluk agama, seharusnya itu dilakukannya sebagai sarana ia berketuhanan, bukan karena berpikiran agama, dan jangan kemudian ia mempertuhankan agama.

Saya sadar bahwa tulisan2 saya mungkin akan mendapatkan tentangan dari kalangan agamis dari berbagai agama.

Tulisan2 dan isi tanya jawab yang saya upload mungkin juga akan mendapatkan tentangan dari kalangan kristen sendiri, karena ada isinya yg mungkin tidak sejalan dgn pemahaman agamis mereka.


Mengenai ketuhanan sebaiknya bapak selalu berusaha tersambung dengan Tuhan. Dengan begitu bapak akan bisa belajar langsung dari sumbernya, tidak lagi harus lewat perantara.






-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------













Comments