6.  Olah Sukma dan Kebatinan

 

Dalam dunia kebatinan jawa istilah roh sedulur papat lan kalima pancer  selalu disebutkan, karena pengertian itu melandasi kekuatan sukma manusia, yang bila diyakini dan diolah dengan mendalam akan memunculkan suatu kegaiban dan kekuatan gaib yang berasal dari diri manusia sendiri, kegaiban sukma manusia, yang diolah melalui ketekunan kepercayaan dan penyelarasan hidup dan pemujaan kepada Gusti Allah. Termasuk ucapan yang dilandasi kekuatan batin dan keyakinan akan terjadi, maka itu akan benar terjadi, saking kersaning Allah.  Orang yang sudah sedemikian itu sering disebut ucapannya mandi (manjur / idu geni).

Sebenarnya sudah disadari bahwa pengetahuan tentang Sedulur Papat Kalima Pancer, yang biasanya terkait dengan konsep kebatinan tentang  Manunggaling Kawula Lan GustiSangkan Paraning Dumadi,  Sukma SejatiGuru Sejati, dsb, sebenarnya adalah puncak-puncak dari keilmuan kebatinan dan spiritual jawa, jauh sebelum datangnya agama Islam di pulau Jawa. Konsep-konsep tersebut adalah terminologi asli kejawen dan adalah hasil pencapaian kebatinan dan spiritual tokoh-tokoh kejawen, yang kemudian diajarkan kepada para pengikutnya, dan akhirnya berkembang menjadi ajaran keilmuan kebatinan jawa atau menjadi aliran kepercayaan kerohanian kejawen.

Tetapi banyak orang yang kurang mengerti tentang Roh Sedulur Papat kemudian memberikan pandangan-pandangan lain, misalnya menyamakan artinya sebagai sifat-sifat tanah, air, api, dsb  dalam diri manusia. Atau juga dalam penyebaran agama Islam di tanah jawa dulu, sebagai tandingan ajaran kejawen dan untuk menghapuskan pengaruh ajaran Syech Siti Jenar yang telah diterima secara umum di masyarakat Jawa, roh sedulur papat sering disamakan sebagai empat jenis nafsu manusia atau disamakan dengan malaikat-malaikat pendamping manusia  (juga untuk keperluan penyebaran agama Islam, kata pusaka kalimasada dalam cerita pewayangan disimpangkan menjadi kalimah syahadat (Wikipedia)).

Tanpa bermaksud menyalahkan atau merendahkan pandangan-pandangan lain tersebut, Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa konsep-konsep kejawen tersebut di atas adalah asli terminologi kebatinan jawa dan memiliki arti dan makna sendiri yang tidak dapat disamakan atau digantikan dengan arti dan makna dalam pandangan-pandangan lain tersebut. Jika pun dihubungkan dengan penghayatan kebatinan masyarakat Jawa, laku prihatin dan puasa, wetonan, dsb, maka arti dan makna dalam konsep pandangan lain tersebut sama sekali berbeda dengan arti dan makna roh pancer dan sedulur papat dalam konsep kejawen di masyarakat. Apalagi kalau diterapkan dalam keilmuan kebatinan kejawen, arti dan makna roh pancer dan sedulur papat dalam pandangan lain tersebut sama sekali tidak berguna. Dengan demikian menjadi jelas bahwa konsep-konsep kejawen itu sama sekali tidak dapat disamakan atau digantikan dengan konsep-konsep dalam pandangan lain tersebut.


Dalam halaman ini Penulis menuliskan sebagian hubungan roh sedulur papat dengan kemampuan seseorang dalam keilmuan batin / gaib.

Banyak orang bisa bercerita tentang roh pancer dan sedulur papat, tetapi seringkali orang-orang itu, walaupun mampu melihat gaib, dan walaupun juga adalah praktisi kebatinan atau spiritualis kawakan, tidak menyadari keberadaan roh sedulur papat dan tidak mampu melihatnya, sehingga mereka tidak mempunyai pemahaman yang dalam tentang roh sedulur papat dan tidak dapat mendaya-gunakan kemampuan roh-roh itu atau mendaya-gunakan kombinasi kesatuan roh Sedulur Papat dan roh Pancer.

Memang tidak semua orang, yang mampu melihat gaib, mampu juga melihat roh sedulur papat, karena dimensinya lebih halus dan lebih sulit dilihat daripada kuntilanak, gondoruwo atau dedemit lainnya atau roh-roh halus tingkat rendah lainnya yang biasa dilihat orang, sehingga sekalipun di sekitar mereka ada roh-roh sedulur papatnya orang lain (sedulur papat orang lain yang terpisah), mereka tidak bisa melihatnya. Roh Saudara Kembar / Sedulur Papat menjadi sesuatu yang sulit untuk dilihat, sehingga seseorang yang sudah dapat melihat atau pernah bertemu dengan roh sedulur papat-nya sendiri sering dianggap sebagai suatu keberuntungan dan keistimewaan tersendiri.

Bahkan seringkali dikatakan, dalam hubungannya dengan kebatinan jawa, bahwa ilmu seseorang sudah mencapai puncaknya apabila sudah dapat menemui wujud Guru Sejati, yang tidak lain adalah roh sedulur papatnya yang wujudnya secara halus benar-benar mirip dengan orang yang bersangkutan. Tetapi sebenarnya itu barulah awal dari suatu tahapan penting yang harus dikembangkannya lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Hanya sekedar bisa melihat atau bertemu dengan roh sedulur papat tidak berarti apa-apa dan tidak akan memberi manfaat apa-apa. Tetapi kesempurnaan akan didapatkan jika seseorang bisa mendayagunakan kesatuan roh sedulur papat dengan orang itu sendiri dalam setiap usaha dan perbuatannya.

Pendayagunaan sedulur papat sebagai Pamomong dan Guru Sejati  dapat dilakukan dengan memperhatikan semua pemberitahuan dari mereka yang berupa rasa dan firasat, gambaran dan penglihatan gaib, ide dan ilham, dan jawaban dari berbagai pertanyaan dan permasalahan, atau menjadikannya sebagai satu kekuatan sukma yang mendasari perbuatan-perbuatan, atau pada tingkatan yang tinggi dapat mendayagunakannya sebagai sosok-sosok pribadi yang bisa diajak berpikir, berkomunikasi dan berbuat seolah-olah mereka adalah sosok-sosok pribadi lain yang berdiri sendiri-sendiri.

Untuk dapat lebih memahami isi dari tulisan di halaman ini, sebaiknya memahami lebih dulu penjelasan tentang roh sedulur papat dalam tulisan berjudul :  Sedulur Papat Lan Kalima Pancer.


Olah Sukma adalah bagian dari olah batin, tetapi tingkatannya lebih tinggi daripada ilmu-ilmu kebatinan biasa, dan di sisi lain, olah sukma ini juga menjadi dasar menuju tingkatan ilmu kebatinan dan spiritual yang lebih tinggi lagi.

Dalam olah batin kita mengolah kekuatan kebatinan dan ilmu-ilmu kebatinan, sedangkan dalam olah sukma kita mengolah sukma kita. Cakra tubuh yang bekerja adalah cakra-cakra yang berada di dada, leher sampai dahi dan ubun-ubun.

Dalam olah batin kita mengolah kemampuan kebatinan,  yaitu kekuatan kebatinan dan kepekaan / ketajaman batin kita, kesatuan kesadaran (pancer) dan sedulur papat yang menyatu di dalam tubuh kita, yang menjadi bagian dari kebatinan kita. Di dalamnya terdapat olah rasa dan olah sugesti, olah kekuatan kebatinan dan kepekaan kebatinan dan pengolahan ilmu-ilmu kebatinan.

Dalam olah sukma kita mengolah kemampuan sukmayaitu khusus mengolah kemampuan sukma kita, tentang apa yang dapat dilakukan oleh sukma kita, kesatuan kesadaran (pancer) dan sedulur papat, di dalam tubuh maupun di luar tubuh kita (di alam manusia maupun di alam gaib). Kekuatan sukma yang didapat dari hasil olah batin dan spiritual akan menentukan sejauhmana kemampuan yang dapat dilakukan oleh sukma tersebut.

Contoh-contoh ilmu dalam olah sukma :


 1. Ilmu Terawangan Gaib.


Terawangan Gaib
adalah kemampuan untuk melihat secara gaib ke tempat-tempat yang jauh jaraknya yang tidak cukup jelas untuk dapat dilihat dengan mata kepala kita.

Banyak orang yang mampu melihat gaib, tetapi tidak mengetahui prinsip cara kerjanya, sehingga seringkali terawangan gaib tidak dibedakan dengan kebisaan melihat gaib, sehingga oleh banyak orang terawangan gaib dan melihat gaib seringkali dianggap sama, walaupun sebenarnya berbeda, sehingga orang tidak mampu mengembangkannya menjadi suatu bentuk keilmuan tersendiri.

Kemampuan melihat gaib adalah dasar untuk terawangan gaib. Terawangan gaib adalah mendayagunakan kemampuan melihat gaib untuk dapat melihat suatu objek di tempat yang jauh. 

Ilmu terawangan gaib ini bisa digunakan untuk melihat sosok-sosok gaib di alam gaib atau untuk melihat suatu lokasi / objek tertentu di tempat yang jauh. Kemampuan melihat gaib menjadi dasar untuk ilmu terawangan gaib.

Kemampuan melihat gaib dapat dilakukan dengan 3 cara utama, yaitu :

1. Melihat gaib dengan cakra mata ketiga,

2. Melihat secara batin

3. Melihat secara roh.

Masing-masing cara melihat gaib di atas mempunyai cara kerja sendiri-sendiri yang masing-masing tidak sama dan memiliki juga kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri, sehingga untuk tujuan melatih dan mengembangkan masing-masing kemampuan melihat gaib itu harus dilakukan dengan cara yang masing-masing juga berbeda.

Tetapi kebanyakan orang tidak tahu bagaimana cara kerja melihat gaib, karena yang diinginkannya hanyalah untuk bisa melihat gaib saja, terserah bagaimana caranya, sehingga orang tidak bisa mengembangkannya menjadi kemampuan yang lebih tinggi lagi, malah banyak orang yang tidak bisa membedakan apakah penglihatan gaibnya itu benar ataukah penglihatannya itu sebenarnya adalah ilusi / halusinasi.


 1. Melihat gaib dengan cakra mata ketiga.


Melihat gaib dengan cakra mata ketiga adalah melihat gaib dengan mendayagunakan kemampuan gaib dari cakra energi yang ada di dahi, di antara 2 alis mata (mata ketiga).

Yang tidak disadari oleh banyak orang adalah pada saat seseorang melihat gaib dengan cakra mata ketiga ini roh sedulur papatnya bergerak keluar dari tubuhnya (pergerakannya tidak disengaja dan tidak disadari). 

Bila digunakan untuk melihat jauh, maka roh sedulur papatnya akan keluar dari tubuhnya mendatangi objek sasaran yang ingin dilihat, kemudian mengirimkan gambarannya kepada roh pancernya di dalam tubuh (kesadaran / pikiran) melalui jalur energi cakra mata ketiga.

Dengan kata lain, yang bisa melihat gaib adalah sedulur papatnya, bukan pancernya (bukan orangnya). Apa saja yang dilihat oleh roh sedulur papatnya itu disampaikan (disambungkan) kepada pancernya melalui jalur energi cakra mata ketiga, sehingga pancernya dapat ikut melihatnya, sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib secara langsung dan secara sadar.

Jadi, yang melihat gaib adalah sedulur papatnya, yang pada saat seseorang sedang melihat gaib roh sedulur papatnya itu bergerak keluar dari tubuhnya mendekati objek yang ingin dilihat dan kemudian mengirimkan gambaran penglihatannya kepada sukma di dalam tubuh (roh pancer) melalui jalur komunikasi cakra energi mata ketiga.

Kemampuan melihat gaib dengan mata ketiga kuncinya adalah pada adanya ikatan kuat dan komunikasi antara sedulur papat yang berada diluar tubuh dengan sukma di dalam tubuh, melalui jalur komunikasi cakra energi mata ketiga.

Sebenarnya tidak tepat menyebut kemampuan ini sebagai melihat gaib dengan cakra mata ketiga, karena yang bisa melihat gaib adalah sukmanya (sedulur papat dan pancernya), bukan cakra mata ketiganya, sehingga orang tidak bisa memiliki kemampuan ini hanya dengan cara membuka cakra mata ketiganya.

Orang-orang yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga, sebenarnya bukanlah dengan cakra mata ketiganya itu ia melihat gaib. Orang bisa melihat gaib karena sudah aktifnya saraf-saraf imajinasi di kepalanya yang itu memudahkan pikirannya (pancernya) menangkap sinyal gaib dari sedulur papatnya atau dari khodamnya atau dari roh halus lain, sehingga orang tidak bisa melihat gaib hanya dengan cara membuka cakra mata ketiganya saja.

Aktifnya saraf-saraf imajinasi itu adalah yang dengan sengaja dirangsang dalam orang bermeditasi olah rasa untuk tujuan melihat gaib, atau dengan melatih kepekaan rasa dengan cara orangnya membiasakan diri berdiam di tempat yang gelap dan sunyi. Tetapi jika saraf-saraf imajinasinya itu belum aktif orang bisa juga mendeteksi kegaiban dengan rasa, dengan saraf-saraf kepekaan rasa di dada.

Kemampuan melihat gaib ini tidak begitu saja secara otomatis terjadi pada orang yang telah terbuka cakra energi mata ketiganya. Dengan telah terbukanya cakra energi di dahi memang akan memfasilitasi  "jalur komunikasi" antara sedulur papat di luar tubuh dengan sukma di dalam tubuh. Tetapi cakra-cakra tubuh yang dibuka dengan teknik pengolahan energi tubuh tidak langsung berhubungan dengan alam gaib dan kegaiban, misalnya yang dibuka dengan tenaga dalam / prana / kundalini. Untuk dapat melihat gaib harus ada sugesti pergerakan sukma, walaupun pergerakan itu seringkali terjadi tidak disadari dan tidak disengaja. Untuk keperluan melihat gaib, maka cakra-cakra tersebut harus dibuka khusus untuk tujuan kegaiban, bukan dengan tujuan dan cara yang sama dengan pengolahan energi tubuh.

Kemampuan seseorang yang bisa melihat gaib melalui cakra mata ketiga merupakan suatu kelebihan dan keistimewaan dibandingkan orang lain yang tidak bisa, tetapi dari sisi keilmuan, kemampuan itu juga masih mempunyai kelemahan.

Walaupun dengan kemampuan melihat gaib melalui cakra mata ketiga orang merasa dapat melihat gaib secara langsung dengan cukup jelas, tetapi seringkali kemampuan melihat gaib dengan cara ini hanya dapat untuk melihat kegaiban tingkat rendah saja. 

Melihat gaib melalui cakra mata ketiga mengharuskan adanya komunikasi antara roh sedulur papat dengan roh pancer. Dengan demikian orangnya harus melakukannya dengan konsentrasi khusus (dan seringkali juga akan melelahkan pikiran). Selain kualitas energi di cakra mata ketiganya, kualitas penglihatan gaibnya juga tergantung pada kemampuannya membaca gambaran gaib yang dikirimkan oleh roh sedulur papatnya yang mengalir di pikirannya.

Cakra mata ketiga merupakan bagian dari fisik manusia yang kekuatannya terbatas, dan kemampuan melihat gaib dengan cakra mata ketiga tersebut sangat bergantung pada kekuatan energi cakranya. Sesudah bisa melihat gaib, biasanya seseorang sudah merasa puas, kekuatan energi cakra mata ketiganya tidak ditingkatkan kualitasnya, sukmanya sendiri (roh pancer dan sedulur papatnya) juga tidak diolah untuk memiliki kekuatan gaib yang tinggi, kepekaan batinnya juga tidak dilatih supaya lebih tajam, sehingga secara keseluruhan seringkali kemampuan ini hanya dapat digunakan untuk melihat / mendeteksi keberadaan gaib yang berdimensi rendah saja, tidak bisa melihat / mendeteksi keberadaan gaib yang berdimensi tinggi.

Ketergantungan pada kemampuan melihat gaib juga menyebabkan orang menjadi tidak peka batinnya, tidak bisa mendeteksi kegaiban di lingkungannya berada, tidak bisa mengedepankan "rasa".

Orang-orang yang peka rasa batinnya akan dapat merasakan suasana gaib di lingkungannya berada, tetapi orang-orang yang terbiasa melihat gaib dengan mata ketiga seringkali tidak peka, tidak dapat merasakan suasana gaib di lingkungannya, kecuali mereka melihat sendiri sosok-sosok wujud gaibnya. Karena kurangnya kepekaan dan ketajaman batinnya seringkali juga pemahaman mereka menjadi dangkal, yang mampu mereka lihat hanya sebatas kulitnya saja, hanya luarnya saja, dan yang dimensinya rendah saja, tidak mampu menelisik lebih dalam, tidak mampu mengetahui kesejatian dari apa yang dilihatnya, malahan seringkali orang-orang itu tertipu oleh penglihatannya sendiri. Dan dari apa yang dilihatnya itu, seolah-olah dirinya benar-benar mumpuni menguasai ilmu melihat gaib, kepada orang lain yang awam mereka akan memberikan cerita-cerita dan penjelasan yang seringkali tidak sesuai dengan aslinya hakekat dan kesejatian dari kegaibannya, ceritanya dilebih-lebihkan, ketinggian, akan banyak bersifat dogma dan pengkultusan.

Kelemahan lainnya, orang-orang yang memiliki kemampuan melihat gaib seperti di atas seringkali tidak dapat mengendalikan penglihatannya, mata ketiganya terus terbuka dan terus melihat gaib, walaupun orangnya sedang tidak ingin melihat gaib. Penglihatan gaibnya tidak terkendali.

Pada orang-orang tersebut, kelemahan lainnya adalah jika kekuatan sukmanya masih rendah dan penyatuan antar sukma belum cukup kuat. Misalnya saja kemampuan melihat gaibnya itu digunakannya untuk melihat sesosok gaib yang ternyata "berbahaya", atau dalam kondisi tidur dan bermimpi diluar kontrolnya roh sedulur papatnya pergi sendiri keluar dari tubuhnya. Kondisi itu suatu saat dapat menjadi musibah jika roh sedulur papatnya itu ditangkap oleh roh halus lain. Akibatnya, orang tersebut akan dapat menjadi lemah ingatan, lupa ingatan, lemah tubuhnya dan sakit-sakitan, sering bengong melamun tak sadar diri, dsb. Apalagi bila sedulur papatnya itu disiksa oleh mahluk gaib yang menangkapnya, atau dikejar-kejar, sedulur papatnya itu akan memberikan gambaran apa yang dialaminya itu kepada orangnya (pancernya) yang kemudian bisa menyebabkan orangnya selalu merasa ketakutan, merasa berhadapan, diserang atau dikejar-kejar mahluk halus, karena sedulur papatnya itu memang sedang berhadapan dengan mahluk halus, ditangkap, disiksa atau dikejar-kejar. Orangnya bisa gila.


Kemampuan melihat gaib dengan mata ketiga banyak dimiliki oleh orang-orang yang melatih melihat gaib dengan jalur ilmu gaib kebatinan, dengan mantra dan amalan melihat gaib. Tetapi umumnya mereka itu masih dalam tahap pemula, yang kekuatan sukmanya belum cukup tinggi, sehingga sedulur papatnya harus pergi keluar mendatangi objek yang ingin dilihat supaya penglihatannya menjadi jelas. Sedangkan jika kekuatan sukmanya sudah tinggi umumnya orang-orang itu melihat gaib secara batin. Dengan melihat secara batin itu orangnya dengan kebatinan dan kekuatan sukmanya yang tinggi bisa "bermain" di alam roh, bukan sekedar melihat gaib saja. Pada tingkatan yang sangat tinggi orang melihat gaib secara roh, tetapi sedikit sekali orang yang mampu melakukannya.

Pada masa sekarang ini sangat jarang ada orang yang bisa melihat gaib dengan mata ketiga, kecuali yang terjadi secara alami. Kebanyakan orang melakukannya dengan melihat gaib secara batin, termasuk para praktisi paranormal dan praktisi ilmu gaib yang sering muncul di televisi. Sebenarnya yang mereka lihat juga hanya sekelebatan bayangan saja awalnya, tidak sempurna, sehingga pengetahuan mereka tentang alam gaib juga terbatas. Tetapi ada yang dengan mempertunjukkan keilmuan gaibnya yang lain, menarik dan memasukkan mahluk halus ke dalam tubuh orang lain - mediumisasi, mereka tampak seolah-olah mereka benar mumpuni dalam hal melihat gaib (padahal apa dan siapa mahluk yang masuk ke dalam orang yang dijadikan medium itu seringkali mereka sendiri tidak tahu). Tetapi kemampuan mereka itu (pada sebagian saja dari mereka) sudah dilatih, sehingga penglihatan mereka dapat lebih tajam dan lebih jelas, bukan hanya melihat sekelebatan bayangan saja.


Tetapi pada masa sekarang ini orang-orang yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga, yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cukup jelas, yang kebanyakan kemampuannya itu terjadi dengan sendirinya tanpa orang itu pernah melatih kepekaan melihat gaib, kebanyakan sebenarnya adalah orang-orang yang dirinya mengalami ketempatan sesosok mahluk halus di dalam tubuhnya, terutama di dalam kepalanya. Mengenai kasus dan fenomena ketempatan mahluk halus ini silakan dibaca di : Pengaruh Gaib thd Manusia.

Pada orang-orang itu sosok gaib di kepalanya itu memberikan banyak penglihatan gaib, termasuk ilusi dan halusinasi. Ketika orangnya ingin melihat / menerawang jauh, karena kondisi kekuatan sukma dan kebatinan orangnya masih lemah, tidak cukup kekuatannya untuk bisa melihat / menerawang jauh, maka di luar sepengetahuannya sosok halus di dalam kepalanya itu memaksa sedulur papatnya untuk keluar mendatangi objek yang ingin dilihatnya supaya penglihatannya menjadi jelas. Sesudah sedulur papatnya itu melihat objeknya, kemudian mereka "melapor" kepada sosok halus yang di dalam kepala melalui jalur energi cakra mata ketiga. Sesudahnya barulah kemudian si sosok halus di dalam kepalanya itu memberikan penglihatan gaibnya itu kepada orangnya (pancernya), sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib. Tetapi apa saja isi penglihatan gaibnya itu semuanya sudah "disetir", sudah "dibentuk" oleh sosok halus di kepalanya itu, tidak semuanya asli apa adanya.

Tetapi dengan ia merasa bisa melihat gaib itu tanpa disadarinya ia sudah "memperbudak" sedulur papatnya sendiri dan meresikokan sedulur papatnya untuk bertemu / berhadapan dengan mahluk-mahluk halus di alam gaib.

Di sisi lain ada juga orang-orang yang ketempatan mahluk halus di dalam badannya. Pada orang-orang ini sosok gaib di dalam badannya itu juga memberikan banyak penglihatan gaib, termasuk ilusi dan halusinasi. Tetapi ketika orangnya ingin melihat / menerawang jauh, biasanya sosok halus di badannya itu tidak memaksa sedulur papatnya untuk keluar mendatangi objek yang ingin dilihatnya, sehingga penglihatan gaibnya tidak cukup jelas dibandingkan orang-orang yang ketempatan mahluk halus di kepalanya. Tetapi kasusnya sama juga, apa saja isi penglihatan gaibnya itu semuanya sudah "disetir" atau sudah "dibentuk" oleh sosok halus di badannya itu, tidak semuanya asli apa adanya.

Selain sesosok halus yang berdiam di dalam kepala / badan, ada juga orang-orang yang memiliki khodam ilmu atau khodam pendamping. Khodam-khodam itu juga banyak yang sering memberikan gambaran gaib kepada orangnya sehingga orangnya merasa bisa melihat gaib (merasa mengerti gaib).

Pada orang-orang itu, yang merasa bisa melihat gaib karena dirinya menerima penglihatan gaib dari sesosok mahluk halus di dalam tubuhnya, atau menerima penglihatan gaib dari khodam ilmu / pendampingnya, yang sebenarnya bukan orangnya sendiri yang bisa melihat gaib, tetapi orangnya merasa bisa melihat gaib karena orangnya menerima gambaran gaib yang mengalir di dalam kepalanya dari khodamnya, kemampuan mereka melihat gaib itu oleh Penulis dikategorikan sebagai melihat gaib dengan bantuan khodam.

Uraian lebih lanjut tentang melihat gaib dengan bantuan khodam ini dituliskan di bagian bawah halaman ini.



 2. Melihat secara batin. 

Melihat gaib secara batin berbeda dengan melihat gaib dengan cakra mata ketiga.

Melihat gaib secara batin adalah melihat gaib dengan mengandalkan ketajaman / kepekaan rasa dan batin (ketajaman indera keenam), ditambah kekuatan kebatinan dan spiritualitas orangnya.

Dengan cara ini yang melihat gaib bukanlah mata dan kesadaran kita, tetapi adalah kepekaan batin kita yang mampu mendeteksi sesuatu yang gaib atau menginderai suasana gaib di sekitar kita. Sedulur papat tidak bergerak keluar tubuh (kecuali disengaja supaya keluar dari tubuh), biasanya cakra mata ketiganya juga belum terbuka.

Melihat gaib secara batin, pada tingkat dasar, kalau tidak kuat lama fokus pada kepekaan batin, seringkali gambaran gaib yang tertangkap hanya sekelebatan-sekelebatan bayangan saja, dan untuk mendapatkan informasi gambaran yang lengkap akan banyak mengandalkan bisikan wangsit atau ilham dari roh sedulur papatnya.

Kemampuan menginderai atau melihat secara batin ini biasanya terjadi pada orang-orang yang peka / tajam batinnya, atau pada orang-orang yang menekuni penghayatan kebatinan atau ilmu-ilmu batin. Orang-orang yang menekuni laku kebatinan tertentu biasanya memiliki batin yang peka, kuat dan tajam, dan memiliki kedekatan dengan roh sedulur papatnya, sehingga orang-orang tersebut mengerti kegaiban, tanggap rasa dan firasat dan peka sasmita. Kepekaan dan ketajaman batin (indera keenam) mereka bersifat umum dalam segala bidang kehidupan, tidak semata-mata hanya untuk bisa melihat gaib saja.

Kepekaan dan ketajaman batin mereka biasanya digunakan untuk peka rasa terhadap suasana gaib di sekitar mereka berada dan untuk berkomunikasi batin (kontak rasa dan batin) dengan para mahluk gaib yang ada. Komunikasi dan interaksi dengan roh-roh lain (juga dengan roh sedulur papatnya) dilakukan secara kontak batin atau kontak rasa, bukan melalui jalur komunikasi cakra mata ketiga. Untuk keperluan itu orangnya tidak harus melakukannya dengan konsentrasi khusus melihat gaib.

Kepekaan dan ketajaman batin mereka biasanya bukan hanya dapat untuk mendeteksi keberadaan sesosok mahluk gaib, tetapi juga peka untuk merasakan tanda-tanda alam beserta kegaiban di dalamnya, peka rasa untuk menilai kepribadian orang lain, peka rasa tentang suatu kejadian yang akan terjadi (weruh sak durunge winarah) dan sering mendapatkan firasat / ilham / wangsit tentang suatu kejadian tertentu yang akan terjadi. Kepekaan dan ketajaman batin mereka itu juga dapat untuk mengetahui kegaiban tingkat tinggi, tergantung pencapaian masing-masing orang. Bukan sekedar untuk melihat gaib, kepekaan rasa yang disatukan dengan kekuatan kebatinan juga menjadi kekuatan mereka untuk mengusir roh-roh halus atau untuk menjadikan suatu kejadian gaib.

Secara keseluruhan kemampuan mereka melihat gaib itu tergantung pada kepekaan rasa dan batin mereka untuk menangkap getaran-getaran kegaiban dan menangkap sinyal gaib dari roh sedulur papatnya, tingkat kesatuan sukmanya dan kekuatan sukmanya.


Melihat gaib secara batin tidak mengharuskan adanya komunikasi antar roh melalui cakra energi mata ketiga. Disitulah kelebihannya, yaitu tidak bergantung pada adanya komunikasi antar roh melalui cakra energi mata ketiga, dan tidak harus dilakukan dengan konsentrasi khusus.

Melihat gaib secara batin kuncinya adalah pada proses awalnya, yaitu kemampuan peka / kontak rasa untuk mendapatkan gambaran awal penglihatan batin dari roh sedulur papatnya. Sesudah mendapatkan gambaran awalnya barulah kita (pancer) fokus batin untuk mempertegas lagi gambarannya. Untuk keperluan itu bisa dilakukan dengan mata terbuka maupun terpejam, yang penting bisa hening peka rasa untuk menangkap informasi gambaran awal dari roh sedulur papat, kemudian barulah ditindaklanjuti dengan pancernya fokus batin kepada sosok gaibnya untuk menjadikannya gambaran penglihatan gaib yang utuh.

Biasanya, dengan mengedepankan kepekaan batin ini seseorang juga akan mendapatkan informasi yang lain mengenai objeknya, misalnya apakah wataknya baik / jahat, apakah sifat keberadaannya membahayakan, apakah tujuan keberadaannya baik, apakah ada pesan-pesannya, dsb. Karena itu dalam melihat gaib secara batin interaksi batin dengan roh sedulur papat bersifat pokok.

Bila kepekaan batin kuat orang akan mudah untuk merasakan suasana gaib di lingkungannya berada, mudah untuk menerima sinyal dari roh sedulur papatnya yang dapat berupa rasa firasat, ide / ilham, tanda-tanda petunjuk, rasa / feeling / intuisi, dan penglihatan / gambaran-gambaran gaib.

Bila tingkat kesatuan antara sedulur papat dengan kesadaran / pancer-nya lemah, gambaran gaib yang diterimanya hanya akan berupa sekelebatan-sekelebatan bayangan saja, tidak jelas, dan untuk mendapatkan informasi gambaran yang lengkap akan banyak mengandalkan bisikan wangsit / ilham.  Tetapi bila tingkat kesatuan antara sedulur papat dengan kesadaran / pancer-nya kuat dan memiliki kemampuan yang baik untuk fokus dengan kepekaan batinnya (tidak dengan pikirannya), gambaran-gambaran gaib itu dapat diperjelas dan dapat diikuti gerakannya.

Untuk belajar kemampuan melihat gaib secara batin dapat dilakukan dengan latihan olah rasa seperti dicontohkan dalam tulisan berjudul : Olah Rasa dan Kebatinan.


Kelemahan melihat gaib secara batin adalah sifat penglihatannya yang oleh para pemula dianggap tidak langsung, penglihatannya hanya bisa dibatin saja, mengawang-awang, hanya sekelebatan saja, tidak bisa dipastikan apakah yang dilihatnya itu sungguhan ataukah hanya halusinasi saja. 

Yang umum dirasakan oleh orang-orang yang baru sekedar bisa peka rasa adalah tahapan awalnya itu saja, yaitu ia menerima gambaran gaib dari sedulur papatnya, tapi tidak mampu menegaskannya menjadi gambaran gaib yang utuh, gambaran gaib yang tertangkap hanya sekelebatan saja.

Kelemahan itu terjadi karena orangnya (pancernya) tidak bisa menindaklanjuti sinyal yang diterimanya dari sedulur papatnya untuk dipertegas lagi menjadi gambaran yang utuh, tidak bisa fokus batin untuk mempertegasnya menjadi informasi gambaran gaib yang utuh, gambaran gaib yang tertangkap hanya sekelebatan saja. Dalam kondisi itu diartikan orang itu baru ada pada tahapan peka rasa, ia belum bisa melihat gaib secara batin.

Kelemahan itu bisa diatasi dengan cara melatih olah rasa dan batin, berlatih untuk bisa bertahan lama dengan kepekaan batin untuk menerima gambaran gaib sampai gambarannya utuh, kemudian mempertegasnya dengan fokus batin kepada sosok gaibnya, sehingga kita bisa melihatnya secara utuh. Sesudah bisa begitu barulah mulai bisa kita dikatakan bisa melihat gaib secara batin. Lebih baik lagi kalau kita dapat berinteraksi langsung secara energi (kontak rasa dan energi) dengan sosok-sosok gaib yang kita lihat, sehingga kita dapat memastikan bahwa sosok gaibnya itu benar ada di tempat keberadaannya yang kita lihat, tidak mengawang-awang lagi, dan bukan berilusi.

Dengan kata lain, sesudah kita menerima gambaran gaib awal dari roh sudulur papat, sesudahnya kita sebagai pancer mempertegas lagi penglihatannya sehingga keseluruhannya akan tampak secara mendetail. Dengan demikian bukan hanya sedulur papatnya itu saja yang bisa melihat gaib, tapi pancernya juga bisa melihat gaib.

Untuk keperluan itu sebaiknya kita melatih olah rasa dan kontak energi, dengan latihan olah rasa atau dengan cara-cara kebatinan lain yang ada. Satu hal yang perlu diperhatikan, gunakan selalu sebelumnya pagaran diri, dan jika naluri anda merasakan adanya sesuatu yang berbahaya, sebaiknya jangan diteruskan. Lebih baik : sama-sama selamat.


Sekalipun melihat gaib dengan mengandalkan kepekaan rasa oleh para pemula seringkali dianggap sebagai suatu kelemahan, tetapi sebenarnya disitulah kelebihannya, karena itu sebenarnya hanyalah dasar saja untuk ditingkatkan menjadi kemampuan yang lebih tinggi lagi. Kelemahan ini bisa diatasi dengan melatih ketahanan dan ketajaman fokus batin dan berinteraksi langsung secara energi (kontak energi) dengan sosok-sosok gaib yang kita lihat, seperti dalam latihan olah energi dan olah rasa, sehingga kita dapat memastikan bahwa sosok gaibnya itu benar ada di tempat keberadaannya yang kita lihat.

Pada orang-orang kebatinan jaman dulu mereka bisa "menyatukan" kegaiban batin dan kekuatan sukma mereka dengan alam gaib. Mereka peka suasana gaib dan secara kebatinan mereka bisa lebih "masuk" lagi ke alam gaib untuk merasakan suasana gaib di lingkungan mereka berada dan untuk "bermain" di alam gaib, untuk mengendalikan kegaiban di sekitar mereka, untuk mengusir / menarik / menyerang / menundukkan atau untuk berkomunikasi dengan sosok-sosok gaib tertentu, sehingga kelemahan melihat gaib secara batin itu tidak berlaku bagi mereka. Kelemahan itu hanya terjadi pada orang-orang yang baru bisa peka rasa saja, tidak mempunyai kemampuan lain yang lebih dari itu, dan tidak mempunyai kemampuan untuk "bermain" di alam roh.

Dengan peka rasa itu orangnya bisa merasakan suasana gaib di sekitarnya dan secara kebatinan bisa semakin "masuk" lebih dalam lagi ke dalam kegaiban yang ditemuinya. Dan sambil berkonsentrasi melihat secara batin dengan kekuatan kebatinan / sukmanya orangnya bisa mengeluarkan energinya untuk "bermain", bertarung dan "berkuasa" di alam gaib. Kekuatan gaib sukma mereka menjadikan mereka berkuasa di alam gaib, mengalahkan kekuasaan roh-roh dan mahluk halus tingkat tinggi sekalipun, dan mereka juga berkuasa menciptakan kegaiban-kegaiban tanpa perlu amalan gaib.

Sambil berkonsentrasi peka rasa dan melihat secara batin itu orangnya juga bisa mengetrapkan ilmu merogoh sukma tanpa perlu membaca amalan gaib. Secara kebatinan ia semakin "masuk" ke alam kegaiban, rohnya keluar dari tubuhnya, masuk ke alam roh, merogoh sukma ..... Semakin leluasa ia bepergian di alam gaib atau untuk bertarung dengan mahluk halus (tetapi sebaiknya jangan anda sengaja melakukan rogoh sukma tanpa adanya pembimbingan dan pendampingan dari seorang guru yang benar menguasai keilmuannya).

Rahasia utama kemampuan melihat secara batin adalah pada kemampuan pancernya yang sudah terasah dalam hal kegaiban, pancernya sudah aktif berfungsi sebagai roh, sehingga pancernya itu bisa juga mendeteksi dan melihat gaib, tidak lagi berfungsi hanya secara biologis saja. Sedangkan sedulur papatnya sifatnya hanya melengkapi saja apa yang dibutuhkan oleh pancernya, memberikan tanda-tanda / firasat dan bisikan gaib jika ada sesuatu yang perlu diperhatikan, memberikan gambaran awal dalam melihat gaib yang itu kemudian ditegaskan lagi seluruhnya oleh pancernya dengan memfokuskan batin, sehingga informasinya dan penglihatan gaibnya menjadi utuh dan mendetail, tidak setengah-setengah, tidak mengawang-awang, dan tidak sekelebatan lagi. Tetapi pada para pemula, mereka baru sampai pada bisikan gaib dari sedulur papatnya saja, pancernya belum aktif berfungsi sebagai roh, sehingga melihat gaibnya juga hanya gambaran gaib yang diterimanya dari sedulur papatnya itu saja, hanya sekelebatan saja.

Pada orang-orang yang tekun mendalami kebatinan / spiritual dan tapa brata, peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, melihat gaib, terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan kemampuan yang tidak terpisahkan dari kegaiban sukma mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, menjadikan mereka orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari kegaiban sukma mereka, sebagai efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual dan semedi / tapa brata mereka.

Selain mumpuni dalam kanuragan dan kebatinan, kegaiban sukma mereka juga menjadikan mereka mengerti dunia kegaiban tingkat tinggi, mengerti mahluk-mahluk halus tingkat tinggi, dewa dan wahyu dewa, dan weruh sak durunge winarah, dan kekuatan gaib sukma mereka menjadikan mereka berkuasa di alam gaib, mengalahkan kekuasaan roh-roh dan mahluk halus tingkat tinggi sekalipun, dan mereka juga berkuasa menciptakan kegaiban-kegaiban tanpa perlu amalan gaib.



 3. Melihat secara roh


Melihat gaib secara roh adalah kemampuan tingkat lanjut dan tingkat tinggi dari melihat gaib secara batin, sehingga dalam melihat gaib secara roh ini ada banyak kesamaan penerapannya dengan melihat gaib secara batin, karena sebenarnya melihat gaib secara roh ini adalah kelanjutan / tingkat lebih tinggi dari melihat gaib secara batin, yaitu pada tingkatan yang tinggi melihat gaib secara batin ditingkatkan kualitasnya menjadi melihat gaib secara roh. 

Tetapi tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Kebanyakan sesudah orangnya kuat kebatinannya mereka bukan melihat gaib secara roh, mereka lebih sering merogoh sukma keluar dari raganya untuk melihat dan mendatangi objek di tempat yang jauh untuk langsung melakukan suatu perbuatan gaib.

Melihat gaib secara roh juga mengandalkan ketajaman / kepekaan rasa dan batin (ketajaman indera keenam), ditambah kekuatan kebatinan dan spiritualitas orangnya. 

Cara melihat gaib ini disebut melihat gaib secara roh, karena orang yang mampu melihat gaib dengan cara ini yang melihat gaib adalah murni rohnya, yang tidak lagi terikat secara jasmani dengan tubuh biologisnya, berbeda dengan melihat gaib dengan mata ketiga atau melihat secara batin yang masih ada ikatan dengan biologis tubuhnya. Setelah bisa terbebas secara roh orang akan lebih mudah untuk lebih lanjut meningkat menekuni keilmuan gaib kebatinan / spiritual yang lebih tinggi lagi.

Bila kekuatan sukma seseorang (kesatuan roh pancer dan sedulur papat) sudah cukup kuat, jika itu dimanfaatkan untuk masuk ke alam gaib roh pancer dan roh sedulur papat dapat saling melindungi, dapat saling menjadi perisai yang saling melindungi dari gangguan dan serangan mahluk halus dan dapat bersama-sama menyatukan kekuatan mereka untuk mengusir / bertarung melawan mahluk halus tertentu tanpa orangnya harus bergerak secara fisik atau lebih dulu membaca amalan gaib.


Dalam melihat gaib, sedulur papat yang keluar mendatangi objeknya hanya terjadi pada orang-orang yang menerawang / melihat jauh dengan cakra mata ketiga. 

Dengan melihat gaib secara batin atau melihat gaib secara roh sedulur papatnya tidak pergi keluar (kecuali disengaja supaya keluar). Dengan cara-cara melihat gaib itu yang diandalkan terutama adalah kepekaan batin dan kekuatan sukma dari kebatinan dan spiritual orangnya, sesuai tingkatannya masing-masing.

Pada tingkat dasar, melihat secara roh sama dengan melihat secara batin. Tetapi pada tingkatan yang tinggi, melihat secara roh dapat mirip dengan melihat gaib dengan cakra mata ketiga, yaitu sedulur papatnya (bisa dan disengaja) bergerak keluar tubuh. Pada penguasaan tingkat lanjut, orang juga bisa mengetrapkan ilmu medhar sukma dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga apa saja yang dialami dan dilihat oleh sedulur papatnya itu, ia juga dapat mengetahuinya.


Pada tingkat dasar, melihat secara roh sama dengan melihat gaib secara batin. Kalau tidak kuat lama berfokus pada kepekaan batin, seringkali yang kelihatan hanya sekelebatan-sekelebatan bayangan saja, dan untuk mendapatkan informasi gambaran yang lengkap banyak mengandalkan bisikan wangsit / ilham.

Pada tingkatan yang tinggi melihat secara roh akan mirip dengan melihat gaib dengan cakra mata ketiga, yaitu sedulur papatnya (bisa / disengaja) bergerak keluar tubuh. Tetapi ada perbedaannya, yaitu melihat secara roh tidak mengharuskan adanya komunikasi antar roh melalui cakra energi mata ketiga, tetapi dilakukan secara kontak rasa dan batin (menyatukan rasa dan batin). Disitulah kelebihannya, yaitu tidak bergantung pada cakra energi mata ketiga. 

Dengan melihat secara roh, seseorang bisa melihat gaib dengan roh Pancer-nya saja, bisa juga dengan ia menerima saja penglihatan gaib dari roh sedulur papatnya, bisa juga kedua-duanya, pancer dan sedulur papat sama-sama melihat gaib. Melihat secara roh memiliki peluang yang luas untuk dikembangkan.

Dalam penyatuan rasa dan batin masing-masing roh dapat berinteraksi saling memberikan penglihatan gaib, tetapi masing-masing roh dapat juga berdiri sendiri-sendiri dalam melihat gaib.


1. Dengan melihat secara roh, orang dapat melihat gaib dengan roh Pancer-nya saja. Ketika orangnya ingin melihat sesuatu secara langsung, atau ketika roh sedulur papatnya sedang pergi jauh ke suatu tempat orangnya tetap bisa melihat gaib dengan roh Pancernya di dalam tubuh (melihat dengan sadar), tidak perlu menunggu adanya gambaran penglihatan ataupun komunikasi dari roh sedulur papatnya.


2. Dengan melihat secara roh, orang juga dapat melihat gaib dengan cara menerima saja penglihatan dari roh sedulur papatnya. Roh sedulur papat kita itu bisa pergi kemana saja yang kita inginkan. Dalam penyatuan rasa dan batin, pancernya menerima penglihatan dari roh sedulur papat, apa saja yang dilihat oleh para sedulur papat, kita (pancer) juga bisa melihatnya, apa yang dialami oleh para sedulur papat, kita (pancer) juga bisa merasakannya. Komunikasi dengan roh sedulur papat dilakukan secara kontak batin atau kontak rasa (menyatukan rasa dan batin), bukan melalui jalur komunikasi cakra mata ketiga, sehingga orangnya tidak harus melakukannya dengan konsentrasi khusus melihat gaib, bisa dilakukan sambil tetap sadar dan bekerja, bisa sambil menyetir mobil atau aktivitas lainnya.


3. Dengan melihat secara roh, orang dapat melihat gaib dengan roh Pancer-nya (kesadarannya) sambil sekaligus menerima penglihatan gaib dari roh sedulur papatnya seolah-olah roh sedulur papatnya itu adalah pribadi-pribadi lain yang tidak terkait dengan dirinya. Masing-masing roh dapat saling memberikan penglihatan gaib dan dapat saling berkomunikasi / bertukar pikiran seolah-olah mereka adalah pribadi-pribadi yang berdiri sendiri-sendiri.

Pada tingkatan ini penerapan melihat secara roh akan sama dengan penerapan ilmu medhar sukma, yaitu rohnya dapat dengan sengaja dipecah, sehingga roh sedulur papatnya dapat terpisah keluar dari tubuhnya, terpisah dari Pancernya, dapat dipecah menjadi 2, menjadi 3 atau menjadi 4, dan secara bersama-sama pancer dan para sedulur papat bisa menggabungkan penglihatan gaib mereka.

Saat seseorang yang menguasai ilmu merogoh sukma sekaligus juga menguasai ilmu medhar sukma, maka ketika keseluruhan rohnya merogoh sukma, keluar dari raganya, sukmanya itu dapat dipecahnya menjadi 5 roh yang wujudnya mirip dan serupa, yaitu 1 roh pancer dan 4 roh sedulur papat  (roh pancer akan tampak lebih tebal dan jelas, sedangkan roh sedulur papat lebih tipis transparan).  Tetapi kebanyakan orang yang medhar sukma ketika sedang merogoh sukma, sukmanya hanya bisa dipecahnya menjadi 2 roh, yaitu 1 roh pancer dan 1 kesatuan roh sedulur papat.

Dengan demikian, dengan kombinasi penglihatan gaib di atas, orang dapat melihat banyak hal sekaligus. Atau bila difokuskan pada satu objek tertentu, orang akan dapat melihat dari banyak sisi dan akan memiliki pengetahuan lebih banyak, karena apa yang dilihatnya adalah penglihatannya sendiri ditambah penglihatan-penglihatan dari para roh sedulur papatnya.

Masing-masing roh dapat berperan seolah-olah mereka adalah pribadi-pribadi yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga antara mereka masing-masing dapat berkomunikasi dan bertukar pikiran, dan masing-masing dapat saling menceritakan penglihatannya dan pemikirannya dari sudut pandang dirinya masing-masing.

Bila penglihatan itu difokuskan pada satu objek yang sama, maka yang dilihatnya itu adalah penglihatannya sendiri (pancer) ditambah dengan apa yang dilihat oleh para sedulur papatnya. Pengetahuan yang didapatkan dari penglihatan itu adalah juga pengetahuan dari kesadarannya sendiri ditambah pengetahuan dari para sedulur papatnya. Pada tingkatan ini bila penglihatan gaibnya itu difokuskan pada satu objek yang sama, maka pengetahuan dan penglihatan yang didapatkannya akan sama seperti pengetahuan dan penglihatan dari 5 orang yang berbeda terhadap satu objek (penglihatan dari 1 roh pancer dan 4 roh sedulur papat).

Pada tingkatan yang tinggi, kekuatan roh dan ketajaman penglihatan gaib masing-masing roh juga dapat digabungkan / disatukan, sehingga kekuatan rohnya dan ketajamannya melihat gaib akan menjadi berlipat-lipat, berguna sekali untuk menghadapi kekuatan gaib yang tinggi dan untuk mempelajari kegaiban yang berdimensi tinggi.

Melihat secara roh ini akan menjadi penglihatan gaib spiritual dan akan mendatangkan pengetahuan spiritual. Cakra yang bekerja adalah cakra di dada, ubun-ubun dan cakra mahkota. Bila kemampuan ini ditekuni dan berhasil dikuasai akan bisa mengantarkan seseorang pada tingkatan spiritual yang tidak terhingga dan bisa sampai pada pengetahuan gaib yang berdimensi luar biasa tinggi, kemampuan-kemampuan yang akan sulit sekali dicapai oleh manusia yang umum, apalagi pada jaman sekarang ini.

Pada tingkatan ini roh para sedulur papat dapat berperan sebagai pribadi-pribadi tersendiri yang bisa diajak berpikir dan berkomunikasi, dan karenanya para sedulur papat itu sudah dapat berperan sebagai Guru Sejati bagi seseorang yang akan mengajarkan dan memberitahukan banyak hal kepadanya yang tidak akan diketahuinya jika ia sendirian saja yang kondisinya akan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya yang para sedulur papat bersifat mendampingi saja seperti teman seperjalanan. Komunikasi antara pancer (kesadaran) dengan roh sedulur papat terjadi secara kontak batin, atau sebagai ilham yang mengalir di dalam pikiran, atau sama dengan komunikasi seseorang dengan khodam pendampingnya atau sama dengan komunikasi seseorang dengan sesosok roh gaib lain.

Cara melihat secara roh ini juga dapat digunakan dengan cara meminjam / melihat apa yang dilihat oleh sukma orang lain. Misalnya kita ingin mengetahui apa yang ada di dalam rumah seseorang, maka kita secara roh menyelaraskan frekuensi dengan sukma / roh orang si pemilik rumah, sehingga apa yang diketahui oleh orang tersebut (sukmanya), kita juga dapat mengetahuinya (cara yang serupa dengan ini biasanya dilakukan orang bukan dengan cara melihat secara roh, tetapi dengan menerima pemberitahuan dari khodam ilmu / pendampingnya).


Rahasia kemampuan deteksi dan melihat gaib ada pada tingkat kepekaan batin (kesatuan kesadaran (pancer) dan sedulur papat) untuk bisa mendeteksi dan melihat "sesuatu" yang gaib. Itulah juga sebabnya orang-orang yang sudah meninggal, di alam roh sukmanya belum tentu langsung bisa melihat mahluk halus lain, walaupun kondisinya sudah menjadi roh / arwah dan berada di alam roh (beruntunglah dirinya bila ada saudara / leluhur yang mendatanginya, sehingga di alam roh ia tidak merasa sendirian). Yang di alam roh sudah bisa melihat mahluk halus lain juga belum tentu bisa melihat mahluk halus yang kesaktiannya atau dimensinya tinggi. Semuanya itu tergantung pada kepekaan batinnya semasa hidupnya sebagai manusia.

Kemampuan melihat gaib tidak begitu saja secara otomatis terjadi pada orang-orang yang telah terbuka cakra mata ketiganya di dahi atau cakra di ubun-ubun kepala atau cakra mahkota, misalnya yang dibuka dengan tenaga dalam / prana / kundalini. Dengan telah terbukanya cakra mata ketiga dan cakra di ubun-ubun kepala akan mempermudah "jalur komunikasi" antara sedulur papat di luar tubuh dengan sukma di dalam tubuh. Tetapi untuk bisa melihat gaib tidak cukup hanya dengan membuka dan mengolah cakra-cakra tubuh, tetapi harus dilatih untuk kepekaan dan ketajaman rasa / batin dan keselarasan roh pancer dan sedulur papatnya.

Untuk bisa melihat gaib cakra-cakra itu harus dibuka untuk tujuan melihat gaib, bukan dengan cara dan tujuan yang sama dengan yang untuk tujuan pengolahan energi. Karena itu banyak orang yang kecewa yang setelah cakra-cakranya dibuka ternyata ia masih juga tidak bisa melihat gaib. Untuk tujuan melihat gaib pembukaan cakra-cakra itu harus dengan sugesti menggerakkan sukma (atau dengan cara memberikan khodam melihat gaib atau memasukkan khodamnya ke dalam kepala / badan yang nantinya kemampuannya melihat gaib akan sama dengan yang disebut melihat gaib dengan bantuan khodam yang itu bukan sesuatu yang Penulis prefer).

Rahasia kemampuan mendeteksi dan melihat gaib bukan pada telah terbukanya cakra-cakra tubuh dan tidak harus lebih dulu cakra-cakranya dibuka, tetapi ada pada tingkat kepekaan rasa dan batin.

Rahasia kemampuan melihat gaib ada pada tingkat kepekaan rasa dan batin dan keselarasan antara kesadaran (pancer) dan para sedulur papat dan komunikasinya. Pergerakan para sedulur papat ini tidak banyak diketahui orang, karena walaupun banyak orang bisa melihat gaib, tetapi jarang sekali bisa melihat roh sedulur papat, karena dimensinya lebih halus dan lebih sulit dilihat daripada kuntilanak, gondoruwo atau dedemit lainnya atau roh-roh halus tingkat rendah lainnya yang biasa dilihat orang (roh sedulur papat bahkan lebih sulit dilihat dibanding melihat bangsa Dewa yang para mahluk haluspun belum tentu bisa melihatnya. Pada kasus orang-orang yang sedulur papat terpisahnya ditawan oleh mahluk halus lain, mahluk halus lain itu mungkin tidak melihat sedulur papatnya itu, tapi bisa merasakan keberadaan energinya).


Kekuatan batin / sukma dan kepekaan rasa menentukan tingkat dimensi gaib yang bisa dideteksi. Semakin peka batinnya dan kuat sukmanya, semakin tinggi tingkatan dimensi gaib yang bisa dideteksinya.

Melihat gaib dengan mata ketiga biasanya hanya dapat untuk melihat mahluk gaib tingkat rendah saja dan yang jaraknya tidak jauh. Bila sukmanya dan energi cakra mata ketiganya kurang kuat, maka bila digunakan untuk melihat jauh, yang dilihatnya hanya samar-samar saja, atau malah blank tidak tampak apa-apa. Karena itulah sedulur papatnya terpaksa harus keluar dari tubuh untuk mendekati objek yang ingin dilihat.

Pada tingkatan dasar melihat secara batin dapat digunakan untuk mendeteksi tingkatan dimensi gaib rendah sampai menengah. Tetapi bila kepekaan batin dan kekuatan sukmanya sudah tinggi akan dapat juga ia mendeteksi tingkatan gaib berdimensi tinggi dan kekuatan sukmanya dapat digunakan untuk menundukkan mahluk gaib kelas atas.

Melihat secara roh bisa untuk mengetahui keberadaan mahluk halus tingkat rendah sampai yang berdimensi tinggi, juga bisa untuk mempelajari pengetahuan gaib berdimensi tinggi. Pengetahuan gaib yang didapatkan itu bukan hanya tentang kegaiban biasa, tetapi juga mengarah pada kegaiban dunia spiritual dan ketuhanan.


Pada masa sekarang ini banyak orang yang ingin bisa melihat gaib, ingin bisa melihat gaib dengan mata ketiga saja yang dianggapnya bisa mudah melihat gaib dan penglihatan gaibnya jelas, dan menganggap melihat gaib secara batin bersifat mengawang-awang, tidak handal, tidak meyakinkan dan tidak bisa dibanggakan. Tetapi yang tidak disadari oleh umum adalah bahwa kelemahan melihat secara batin itu hanya terjadi pada orang-orang yang hanya mengandalkan kepekaan rasa saja untuk melihat gaib, yang tidak mempunyai kemampuan lain yang lebih dari itu, karena tujuan mereka hanyalah ingin bisa melihat gaib saja.

Pada orang-orang yang menekuni dunia kebatinan dan spiritual, peka rasa dan kemampuan melihat secara batin adalah (hanyalah)  kemampuan dasar saja yang menjadi modal utama untuk mempelajari kemampuan kebatinan dan spiritual yang lebih tinggi lagi yang akan mengantarkan seseorang menjadi linuwih dan waskita. Kemampuan peka rasa dan melihat secara batin gunanya bukan semata-mata untuk hanya bisa melihat gaib, tetapi bersifat umum untuk kepekaan kegaiban dalam segala bidang kehidupan.

Orang-orang yang mampu melihat gaib secara roh kebanyakan adalah orang-orang yang sudah mampu "melihat" secara batin untuk mengetahui dimensi gaib tingkat tinggi, terutama adalah orang-orang yang menekuni dunia spiritual ketuhanan. Dengan demikian kemampuan melihat gaib secara roh bukanlah suatu jenis keilmuan khusus yang bisa dipelajari tersendiri untuk kemudian diturunkan ilmunya, tetapi merupakan pengembangan / peningkatan kualitas dari kemampuan melihat secara batin untuk orangnya bisa lebih dalam lagi masuk ke dalam dunia kegaiban.

Kalau sudah terbiasa mengasah kepekaan rasa, biasanya sukma kita juga akan bekerja, sehingga kita dapat mendeteksi keberadaan sesuatu yang gaib dan bisa juga terbayang sosoknya seperti apa. Kalau kita bisa fokus kuat dan lama pada kepekaan rasa, maka gambaran yang kita terima juga akan jelas. Dengan cara ini kita sudah menjalin komunikasi dengan sukma kita, sehingga pemberitahuan dari mereka berupa ide / ilham dan gambaran gaib bisa kita terima dengan baik sinyalnya di dalam pikiran kita dan kemampuan ini akan sama dengan melihat secara batin.

Bila kemampuan melihat secara batin dan roh digunakan untuk menerawang tempat atau objek yang jauh, biasanya cakra di ubun-ubun kepala dan cakra mahkota energinya akan menguat, akan terbentuk dan terbuka sedikit demi sedikit. Bila terlalu dipaksakan maka akan cepat lelah pikirannya. Tetapi bila sudah terbiasa, maka energi cakra di kepalanya akan kuat dan akan mampu juga melihat dimensi gaib tingkat tinggi. Selain itu, sukmanya juga akan meningkat kekuatannya dan memiliki kekuatan batin / roh yang tajam yang bisa digunakan melalui desakan nafas, sorot mata atau langsung dengan kekuatan pikiran untuk menyerang / mengusir / menangkap mahluk halus atau untuk menembus tabir-tabir kegaiban.


Catatan: 

Prinsip dasar melihat gaib adalah kepekaan batin dan rasa untuk menangkap sinyal berupa gambaran gaib yang dikirimkan oleh sukma / roh kita dalam bentuk ilham / bayangan penglihatan yang mengalir di pikiran kita. Dalam hal ini konsentrasinya ada pada fokus rasa batin, bukan pikiran. Kalau setelah kita menerima gambaran gaib itu kemudian kita memperjelas gambarannya dengan berpikir, biasanya kemudian gambaran gaib itu akan hilang. Karena itu tetaplah fokus pada batin, bukan pikiran. Biarkan gambaran gaibnya terus mengalir terbayang dalam pikiran kita sampai lengkap detailnya dan kita usahakan bisa lama berkonsentrasi batin seperti itu, jangan terus beralih menggunakan pikiran (istirahatkan pikiran, batin yang bekerja). Dalam hal ini kita tidak mengedepankan nalar / pikiran, tetapi penerimaan batin, sesudah itu barulah dinalar dengan pikiran.


Sebagai penjelasan, manusia terdiri dari 2 unsur pokok, yaitu tubuh biologis dan roh.

Roh manusia terbagi menjadi 2, yaitu roh Pancer dan roh Sedulur Papat. Roh Sedulur Papat sifatnya mendampingi Pancer karena ada ikatan kuat di antara mereka. Tetapi mereka tidak sungguh-sungguh menyatu, mereka terpisah (kecuali setelah si manusia meninggal dan roh-rohnya menyatu menjadi arwah). 

Dalam kehidupan sehari-hari roh manusia ada di dalam tubuh biologisnya. Roh itu menentukan ada tidaknya energi kehidupan di dalam tubuh manusia. Roh itu menentukan berfungsinya bagian-bagian tubuh manusia, organ-organ dan saraf, dan otak / pikiran manusia, dan menghidupkan saraf-saraf motorik sehingga manusia bisa berjalan. Roh menjadi penunjang kehidupan manusia. 

Roh Pancer hadir secara biologis manusia. Berpikir dan berperasaan, berlogika, merencanakan kehidupan, merasa lapar, merasa sakit, ingin kaya, ingin hidup mulia, dsb, semuanya adalah biologis manusia. Dalam hal ini Roh Pancer manusia hadir, bertindak dan berkesadaran sebagai mahluk biologis.

Roh Pancer hadir di dalam kesadaran, hati dan pikiran, sehingga yang dominan berperan dalam sehari-harinya manusia adalah Roh Pancer.

Roh Sedulur Papat keberadaannya bersifat mendampingi Pancer dan membantu membentuk kebijaksanaan dan memberikan peringatan-peringatan (dalam bentuk ide dan ilham, bisikan hati / nurani dan mimpi).

Roh Pancer hadir di dalam kesadaran dan berpikir manusia, tetapi roh sedulur papat tidak menentukan jalan berpikir manusia. Roh sedulur papat tidak menyatu dengan pikiran manusia, tetapi hanya bersifat membantu membentuk kebijaksanaan dan memberikan peringatan-peringatan dalam bentuk rasa dan firasat (dan mimpi), gambaran-gambaran gaib, ide-ide dan ilham, yang mengalir di dalam pikiran manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita sok berlogika, atau tidak peduli situasi, mengesampingkan bisikan hati dan kebijaksanaan, atau lebih mengutamakan dogma dan doktrin, pemikiran sendiri, pendapat sendiri dan ke-Aku-an. Itulah sebabnya kita tidak akrab dengan rasa dan firasat. Tetapi bila kita mau peka dan memperhatikan rasa dan firasat, ide-ide dan ilham, maka kita akan memiliki naluri dan insting yang tajam. Dengan cara demikian kita sudah mengakrabkan diri dengan para Sedulur Papat dan sudah memperhatikan komunikasi yang mereka lakukan.

Seseorang yang dalam hidupnya dominan mengutamakan sikap berpikirnya atau sok berlogika, menonjolkan kepintarannya, mengutamakan pendapat sendiri dan ke-Aku-an dan dogma / doktrin, atau tidak peduli situasi, dan mengesampingkan bisikan hati dan kebijaksanaan, maka ia lebih mengedepankan aspek biologisnya, aspek manusia keduniawiannya, sehingga ia tidak peka terhadap sesuatu yang bersifat roh, rasa dan firasat. Tetapi seseorang yang selalu menjaga peka batin, memperhatikan rasa dan firasat, ia akan tajam nalurinya, dan mungkin juga mengerti tentang kegaiban alam, karena ia kental berhubungan dengan rohnya.

Roh kita sebagai Pancer, sebenarnya juga bersifat roh, sehingga sebenarnya kita juga dapat mengetahui hal-hal yang bersifat roh. Tetapi sehari-harinya roh Pancer ini terbelenggu dalam kehidupan biologis manusia, banyak memunculkan ego dan keAkuan, sehingga manusia tidak peka dengan hal-hal yang bersifat roh, apalagi atas hal-hal yang bersifat ke-Allah-an. Karena itu seringkali orang harus bisa membersihkan hati, pikiran dan batinnya, harus bisa melepaskan belenggu keduniawiannya (bukan meninggalkan keduniawiannya, tetapi melepaskan belenggu keduniawiannya) untuk bisa mendalami hal-hal yang bersifat roh dan keTuhanan.

Bila kita dekat dengan para Sedulur Papat (peduli / memperhatikan), karena sifat keberadaan mereka mendampingi kita sebagai Pancer, mungkin kita juga akan bisa peka rasa mengenai keberadaan roh-roh lain dan dapat peka rasa mengenai sesuatu kejadian sebelum kejadiannya terjadi (weruh sakdurunge winarah) melalui pemberitahuan dari mereka sebelumnya. Pemberitahuan / peringatan dari para Sedulur Papat ini bisa berupa suatu kejadian perlambang, rasa, firasat, mimpi, wangsit / penglihatan / bisikan gaib, ide-ide dan ilham, dsb. Diperlukan kepekaan rasa dan batin untuk dapat menangkap sinyal komunikasi dari para Sedulur Papat dan untuk bisa mengetahui maksud dan artinya.



 2.  Ilmu  Merogoh Sukma  (Melolos Sukma).


Dengan menerapkan ilmu ini keseluruhan sukma / roh kita dapat pergi keluar dari raga kita. Jadi secara sadar kita bisa keluar dari badan kita untuk pergi ke tempat lain yang kita ingin datangi.

Secara umum, ketika kita merogoh sukma, yang keluar dari tubuh adalah roh pancer kita, sedangkan roh sedulur papat kita tetap tinggal di dalam tubuh kita. Badan yang kita tinggalkan (bersama roh sedulur papat di dalamnya) akan tampak seperti badan orang yang sedang tidur atau seperti mati suri. Keseluruhan roh pancer dan sedulur papat dapat keluar dari tubuh jika kita menguasai ilmu merogoh sukma sekaligus juga menguasai ilmu medhar sukma.

Secara umum ada 2 macam kondisi merogoh sukma :

1. Rohnya keluar dari tubuhnya untuk rohnya berjalan-jalan di dunia manusia.
Dengan ilmu merogoh sukma ini kita (pancer) bisa pergi mendatangi tempat lain yang jauh di dunia manusia.
Badan kita ada di rumah, sedangkan kita (pancer) pergi jauh ke tempat lain.

2. Rohnya keluar dari tubuhnya untuk rohnya berjalan-jalan di dunia mahluk halus.
Dengan ilmu merogoh sukma ini kita (pancer) bisa berjalan-jalan di dunia mahluk halus, melihat dunia gaib beserta sosok-sosok halus penghuninya, untuk bertemu dengan sesosok halus tertentu, atau di dunia mahluk halus kita bertarung melawan mahluk halus lain.


D
engan ilmu merogoh sukma ini
badan kita ada di rumah tetapi kita sebagai pancer bisa pergi mendatangi tempat lain yang jauh atau berjalan-jalan di dunia mahluk halus melihat dunia gaib beserta sosok-sosok halus penghuninya, untuk bertemu dengan sesosok halus tertentu, atau di dunia mahluk halus kita bertarung secara roh melawan mahluk halus lain. Dan badan yang kita tinggalkan akan tampak seperti badan orang yang sedang tidur atau seperti orang yang mati suri.

Kelemahan ilmu ini adalah kita tidak boleh berlama-lama keluar dari badan kita.  Roh manusia atau sukma adalah penentu adanya energi kehidupan di dalam tubuh manusia. Jangan sampai karena roh kita kelamaan keluar dari raga kita, maka energi kehidupan di dalam raga kita menjadi mati.

Kelemahan lainnya adalah pada saat kita merogoh sukma, badan kita tidak boleh disentuh atau dikagetkan atau dibangunkan oleh orang lain yang tidak tahu kalau kita sedang merogoh sukma. Bila hal itu terjadi, maka mungkin kemudian penyatuan sukma kita dengan badan kita tidak sempurna (bisa lemah tubuhnya, atau lemah ingatannya atau terganggu jiwanya).

Karena itu, seringkali orang yang akan menjalankan ilmu ini akan mengunci diri di dalam kamar tertutup, atau menyepi di goa / tempat yang sepi tidak berpenghuni, supaya tidak ada yang mengganggu. Dan di alam gaib, sukmanya tidak boleh sampai ditahan atau ditangkap oleh sosok gaib lain untuk waktu yang lama. Jika itu terjadi, maka sukmanya tidak dapat kembali lagi menyatu dengan raganya, karena raganya itu sudah mati.

Roh / Sukma adalah penentu adanya energi kehidupan di tubuh manusia. Seseorang yang sedang merogoh sukma tidak boleh terlalu lama rohnya keluar dari tubuhnya, jangan sampai ketika ia kembali ternyata tubuhnya telah mati (karena energi kehidupannya telah mati).

Jadi kalau seseorang keasyikan berada di alam roh atau rohnya ada yang menahan sehingga ia tidak dapat segera kembali ke tubuhnya, terlalu lama rohnya berada di luar tubuhnya, mungkin ia tidak akan bisa kembali lagi ke tubuhnya, karena bisa jadi energi kehidupan di tubuhnya itu telah mati.

Resiko merogoh sukma semakin tinggi jika disadari bahwa hitungan waktu di alam gaib tidak sama dengan hitungan waktu di alam manusia. Seberapa lama tubuh manusia mampu bertahan tetap hidup tanpa roh di dalamnya dan tanpa makan dan minum ?  Sehari ?  Seminggu ?  Sebulan ?   Untuk pemahamannya silakan dibaca tulisan berjudul  Sukma / Arwah di Alam Roh.

Pada saat seseorang merogoh sukma ada sinar garis putih keperakan yang menghubungkan pusar tubuhnya dengan pusar di tubuh rohnya. Kandungan energi di tubuhnya dan kekuatan sukma orangnya menentukan tebal tipisnya garis sinar perak itu. Semakin lama rohnya berada di luar tubuhnya, sinar keperakan itu akan semakin memudar. Ketika sinar itu sudah semakin memudar / menipis, itulah tanda bahwa roh orang itu harus secepatnya kembali ke tubuhnya. Kalau sinar itu sampai sirna / hilang, maka putuslah hubungan kehidupan rohnya dengan tubuhnya. Sinar putih keperakan itu juga menjadi petunjuk kemana nantinya ia harus pulang.

Pada jaman dulu orang yang menekuni dan mendalami kebatinan / spiritual dan tapa brata biasanya memiliki kegaiban dan kekuatan batin yang tinggi, yang berasal dari keyakinan batin dan keselarasan dengan ke-maha-kuasa-an Tuhan.  Banyak di antara mereka yang memiliki kegaiban tinggi dan menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita. Mereka membentuk pribadi dan sukma yang selaras dengan keillahian Tuhan. Mereka membebaskan diri dari belenggu keduniawian, sehingga berpuasa dan hidup prihatin tidak makan dan minum berhari-hari bukanlah beban berat bagi mereka, dan melepaskan keterikatan roh mereka dari tubuh biologis mereka, melolos sukma, bukanlah sesuatu yang istimewa. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian moksa, bersama raganya berpindah dari alam manusia ke alam roh tanpa terlebih dulu mengalami kematian.

Ketika sedang merogoh sukma mereka bisa melakukannya selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, karena kuatnya kebatinan dan sukmanya. Biasanya itu mereka lakukan sambil bersemedi dan bertapa brata.

Pada orang-orang tersebut, peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, melihat gaib, terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan kemampuan yang tidak terpisahkan dari kegaiban sukma mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, menjadikan mereka orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari kegaiban sukma mereka, sebagai efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual dan tapa brata mereka. 

Selain mumpuni dalam hal kesaktian kanuragan dan kebatinan, kegaiban sukma mereka juga menjadikan mereka mengerti dunia kegaiban tingkat tinggi, mahluk-mahluk halus tingkat tinggi, dewa dan wahyu dewa, dan weruh sak durunge winarah, dan kekuatan gaib sukma mereka menjadikan mereka berkuasa di alam roh, mengalahkan kekuasaan roh-roh dan mahluk halus tingkat tinggi sekalipun, dan mereka juga berkuasa menciptakan kegaiban-kegaiban, tanpa perlu amalan gaib.

Pada jaman sekarang kebanyakan kemampuan merogoh sukma ini didapatkan dengan cara mengamalkan mantra / amalan ilmu gaib dan ilmu khodam. Seringkali penggunaan ilmu merogoh sukma itu di dalam amalan / mantranya dikhususkan hanya untuk tujuan tertentu saja, tidak bisa digunakan untuk tujuan lain yang tidak disebutkan di dalam mantranya. Misalnya isi sugesti merogoh sukma di dalam mantranya hanya untuk melihat suatu lokasi tertentu di alam manusia saja, atau hanya untuk berjalan-jalan dan melihat sosok-sosok gaib di alam gaib saja, atau dikhususkan hanya untuk melihat / bertemu dengan sesosok halus tertentu saja (tidak untuk melihat sosok-sosok halus yang lain dan tidak untuk melihat lokasi yang lain). Dengan demikian penggunaannya menjadi terbatas karena mengikuti isi sugesti dari amalan gaibnya.

Selain adanya keterbatasan pada penggunaannya seperti disebutkan di atas, para pelaku merogoh sukma, dalam kondisinya ketika tidak sedang merogoh sukma belum tentu orang itu dapat melihat gaib, karena kemampuannya melihat gaib hanya bisa dilakukannya ketika ia sedang merogoh sukma, itu pun hanya untuk tujuan tertentu saja sesuai isi mantranya. Bisa terjadi begitu karena orang itu secara sadar (ketika tidak sedang merogoh sukma) belum bisa membebaskan rohnya dari belenggu biologisnya, rohnya di dalam tubuhnya belum bisa berinteraksi dengan dunia roh.

Tetapi pada masa sekarang ini orang-orang yang dikatakan bisa merogoh sukma (atau orangnya merasa bisa merogoh sukma) kebanyakan orang-orang itu hanya berilusi saja, hanya halusinasi saja sebagai akibat dari diri mereka ketempatan mahluk halus, tidak sungguh-sungguh roh mereka keluar dari tubuhnya dan mereka merogoh sukma. Pada mereka itu persyaratan rohnya tidak boleh terlalu lama berada di luar tubuhnya tidak berlaku, karena rohnya tidak sungguh-sungguh keluar dari tubuhnya. Mereka hanya berilusi / berhalusinasi saja dirinya merogoh sukma.



 3. Ilmu Medhar Sukma  ( ilmu untuk memecah sukma ).


I
lmu ini lebih tinggi dari Ilmu Merogoh Sukma. 
Dengan ilmu ini kita bisa  dengan sengaja  memecah sukma kita. Kesadaran kita adalah pancer, sedangkan sukma kita yang lain disebut sedulur kita. Sedulur kita inilah yang kita pecah, sehingga bisa terpisah dari pancer kita, bisa dipecah menjadi 2, menjadi 3 atau menjadi 4. Sedulur kita itu bisa pergi kemana saja yang kita inginkan. Apa yang dilihatnya kita juga bisa melihatnya, apa yang dialaminya kita juga bisa merasakannya.

Ilmu ini diterapkan untuk mengatasi kelemahan yang ada pada ilmu merogoh sukma, yaitu supaya kita bisa mengontrol kegaiban, bisa melakukan perbuatan-perbuatan gaib di alam gaib atau di tempat lain di dunia manusia tanpa kita harus khusus keluar tubuh merogoh sukma. Kita bisa mengamalkan ilmu ini kapan saja sambil kita tetap sadar dan bekerja, menyetir mobil atau sambil melakukan aktivitas lain, tidak lagi harus melakukannya dengan konsentrasi khusus, tidak perlu lagi mengunci diri di dalam kamar dan tidak masalah berapa lama sukma kita terpecah berada di luar tubuh kita. Apa yang dilihat oleh para sedulur papat, kita juga bisa melihatnya, apa yang dialaminya kita juga bisa merasakannya, tetapi aturannya sama, di alam gaib sukma kita tidak boleh sampai ditahan atau ditangkap oleh gaib lain.

Bila seseorang menguasai ilmu merogoh sukma dan sekaligus juga ilmu medhar sukma, maka ketika ia merogoh sukma, keluar dari raganya, sukmanya itu dapat dipecah menjadi 5 roh yang wujudnya mirip dan serupa, yaitu 1 roh pancer dan 4 roh sedulur papat  (roh pancer akan tampak lebih tebal dan jelas, sedangkan roh sedulur papat lebih tipis transparan). Tetapi kebanyakan orang yang memecah sukmanya ketika merogoh sukma, sukmanya hanya bisa dipecah menjadi 2 roh, yaitu 1 roh pancer dan 1 kesatuan roh sedulur papat.

Pada orang-orang yang menguasai ilmu merogoh sukma dan sekaligus juga ilmu medhar sukma, penerapan ilmunya itu akan sama dengan memecah roh untuk melihat gaib secara roh. Ketika ia merogoh sukma keluar dari raganya, sukmanya itu dapat dipecah menjadi 5 roh yang wujudnya mirip dan serupa. Roh pancer dan 4 roh sedulur papatnya dapat saling berkomunikasi bertukar pikiran sebagai pribadi sendiri-sendiri.

Kelima roh itu juga bisa bersama-sama bertarung berkelahi melawan mahluk halus atau manusia, atau kelima roh itu dapat menyatu menjadi 1 roh yang kekuatannya lebih tinggi dibanding bila mereka terpecah sendiri-sendiri.

Ilmu medhar sukma ini dapat juga digunakan untuk keperluan lain, seperti untuk memerintahkan sedulur papatnya masuk merasuk ke dalam diri seseorang, untuk mempengaruhi pikirannya, untuk menyampaikan suatu berita / perintah kepada seseorang atau untuk berkomunikasi dengan orang lain (bisa juga diperintahkan untuk memberikan mimpi atau menampakkan diri di hadapan seseorang).

Ketika sedulur papat sudah medhar, sedulur papatnya itu dapat berfungsi dan dapat difungsikan sama seperti khodam pendamping yang umum. Tatacara penggunaannya juga sama, hanya diperlukan sugesti saja kepada sedulur papatnya itu, tidak perlu amalan khusus.


Kemampuan medhar sukma dapat juga terjadi secara alami , yaitu pada orang-orang yang sukmanya sudah memiliki kekuatan gaib yang tinggi, biasanya sesudah sedulur papatnya berkekuatan gaib di atas 20 kalinya kekuatan gaib Ibu Ratu Kidul. Pada orang-orang itu sedulur papatnya sendiri yang berinisiatif medhar, karena sedulur papatnya itu merasa sudah kuat, merasa sudah bisa menjadi khodam penjaganya dan bisa setiap saat keluar dari tubuh untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan (dalam hal ini hendaknya dipahami bahwa kekuatan sukma dan khodam dan mahluk halus di bawah 20 kalinya kekuatan gaib Ibu Ratu Kidul secara kebatinan kekuatan gaib setingkat itu dianggap masih rendah).

Pada kasus di atas, pada medhar sukma yang terjadi secara alami, biasanya yang medhar hanyalah separoh saja dari roh sedulurnya. Jika sedulurnya hanya 2, maka yang medhar hanya 1. Jika sedulurnya ada 4, maka yang medhar hanya 2. Sedangkan sedulur yang separohnya lagi masih tinggal bersama pancernya di dalam tubuh untuk menerima pemberitahuan gaib dari sedulur yang medhar itu dan menyampaikannya kepada pancernya.

Tetapi pada kasus medhar sukma yang alami itu, sedulur papatnya hanya keluar sebentar-sebentar saja, tidak lama, hanya dalam kondisi tertentu yang diperlukan saja. Sedulur papatnya belum sungguh-sungguh aktif memedharkan diri.  Sedulur papat  hanya akan aktif medhar  jika orangnya (pancernya) aktif menjalani kebatinan dan spiritual tingkat tinggi dan berdimensi gaib tinggi. Dalam kondisi itu aktifnya sedulur papatnya adalah karena tersugesti oleh laku kebatinan dan spiritual pancernya, sedulur papatnya akan aktif mencarikan inspirasi dan pengetahuan gaib berdimensi tinggi dan memberitahukannya kepada pancernya berupa ide / ilham dan penglihatan gaib, sehingga pancernya juga menjadi tahu. Dalam kondisi ini pancernya sudah bisa menjadikan sedulur papatnya itu sebagai Guru Sejati-nya yang mengajarkan segala sesuatu pengetahuan kepadanya, yang memberikan banyak pengetahuan, penglihatan dan inspirasi untuk ditindaklanjuti.


Kebanyakan orang jaman sekarang yang menguasai ilmu medhar sukma tidak berasal dari kekuatan kebatinan / spiritualnya, tetapi dari penerapan ilmu gaib atau menekuni ilmu-ilmu khusus kebatinan.

Pada jaman sekarang ilmu-ilmu olah sukma di atas tidak harus dipelajari dengan menjalani olah kebatinan terlebih dahulu. Seseorang yang sudah dapat merogoh sukma juga tidak berarti dia sudah menguasai perihal ilmu kebatinan yang lain, karena mungkin ilmu merogoh sukma itu saja yang dia bisa, sedangkan ilmu kebatinan yang lain tidak ditekuninya. Bisa terjadi demikian karena ilmu merogoh sukma atau ilmu-ilmu sukma yang lain bisa juga didapat tanpa melalui tahapan olah kebatinan, tetapi melalui keilmuan aliran Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam yang dalam keilmuannya mempelajari secara khusus satu per satu ilmu-ilmu tersebut.

Tetapi bagi orang-orang yang sukmanya belum kuat, tubuhnya akan menjadi lemah dan mudah sakit bila sukmanya itu terpecah atau terpisah. Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang secara khusus mempelajari ilmu merogoh sukma atau medhar sukma bukan dengan jalan kebatinan / spiritual, tetapi dengan amalan ilmu gaib / khodam. Karena sukmanya sendiri belum cukup kuat, maka resikonya besar di alam gaib sukmanya itu dapat ditahan / ditangkap oleh mahluk halus lain, walaupun mahluk halus yang menangkapnya hanya setingkatan gondoruwo saja.


Kebanyakan orang belum dapat menggunakan ilmu medhar sukma untuk melihat gaib seperti contoh melihat gaib secara roh di atas. Kebanyakan orang menguasai ilmu medhar sukma hanya pada tingkatan dasar saja, yaitu hanya untuk memerintah roh sedulur papatnya keluar dari tubuh, untuk melakukan suatu perbuatan tertentu seperti untuk menyerang / mengusir sesosok mahluk halus, atau untuk diperintah mengambilkan suatu benda pusaka dari alam gaib (roh sedulur papatnya diperlakukan seperti khodam ilmu).

Penggunaan ilmu medhar sukma untuk melihat gaib (melihat gaib secara roh) adalah suatu kemampuan khusus tingkat tinggi yang tidak semua orang yang menguasai ilmu medhar sukma dapat melakukannya.

Jika seseorang belum bisa menyelaraskan kepekaan rasa dan penglihatan gaibnya dengan para sedulur papatnya, maka orang itu belum bisa mendayagunakan medhar-nya sukmanya untuk kemampuan melihat gaib secara roh, hanya sedulur papatnya saja yang medhar untuk menjadi khodam penjaganya atau untuk diperintah melakukan suatu perbuatan tertentu. Dalam arti, sedulur papatnya itu memang sudah bisa medhar, baik medhar sendiri ataupun dengan amalan ilmu, hanya medhar saja, tapi itu bukan ilmu medhar sukma.

Jadi, baik medhar sendiri ataupun dengan amalan ilmu, untuk bisa sampai pada ilmu medhar sukma yang sesungguhnya seseorang harus bisa menyelaraskan kepekaan rasa dan penglihatan gaibnya dengan para sedulur papatnya, supaya orang itu bisa mendayagunakan medhar-nya sukmanya untuk kemampuan melihat gaib secara roh. Itulah hakekat dari ilmu medhar sukma, yang bukan sekedar bisa medhar, bukan sekedar bisa memerintahkan sedulur papatnya keluar dari tubuhnya.

Ada ilmu lain atau kejadian yang mirip dengan kejadian pada ilmu medhar sukma. Misalnya ada beberapa orang yang bersaksi telah melihat si A ada di suatu tempat atau ada di beberapa tempat sekaligus pada saat yang bersamaan. Mungkin saja ini adalah penerapan dari ilmu medhar sukma, tapi bisa juga itu adalah penampakkan gaib dari khodam ilmu seseorang, atau bisa juga itu adalah penampakan dari mahluk jadi-jadian. Kebanyakan kasus seperti itu adalah penampakan gaib dari khodam ilmu seseorang, tetapi kebenaran kejadian itu tidak bisa dipastikan, karena orang yang bersaksi itu juga tidak dapat memastikan apakah yang dilihatnya itu benar si A ataukah itu suatu bentuk penampakkan gaib.



-------------




Pada masa sekarang banyak orang yang ingin bisa melihat gaib, sehingga mereka juga rela mengeluarkan sejumlah rupiah untuk bisa instan melihat gaib (walaupun akhirnya banyak juga yang kecewa karena mereka tetap saja tidak bisa melihat gaib walaupun sudah banyak mengeluarkan rupiah).

Pengertian melihat gaib dengan mata ketiga di atas, yang pada masa sekarang banyak orang menyebutnya sebagai penglihatan mata ketiga, atau ilmu batin, atau ilmu mata batin, yang dikatakan orang bisa melihat gaib dengan menggunakan cakra mata ketiga, adalah pengertian orang pada masa sekarang yang berorientasi hanya ingin bisa melihat gaib saja, yang menganggap kemampuan melihat gaib adalah sesuatu yang sangat istimewa, bahkan dikultuskan dan dikatakan sebagai kemampuan gaib tingkat tinggi, yang sudah membuat banyak orang ingin bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga yang berada di dahi di antara 2 alis mata, yang umumnya pengertian itu berkembang di kalangan ilmu gaib dan ilmu khodam.

Pengertian itu tidak sejalan dengan pengertian di dunia keilmuan kebatinan dan spiritual karena umumnya cara itu sulit dikembangkan untuk bisa melihat / mendeteksi kegaiban tingkat tinggi, sulit untuk bisa digunakan melihat dewa dan buto, apalagi untuk bertarung berkelahi (kontak energi) melawan mahluk halus tingkat tinggi sekelas dewa dan buto.
Cara itu juga tidak mendatangkan pengetahuan gaib yang berdimensi tinggi, seperti pengetahuan tentang dewa dan wahyu dewa atau tentang rahasia kegaiban hidup lainnya yang mengantarkan orang menjadi waskita, sehingga untuk dipandang mumpuni orang akan banyak memunculkan dogma dan pengkultusan yang seringkali tidak sejalan dengan kondisi kegaiban aslinya tetapi dogma dan pengkultusan itu harus dipercayai sebagai benar.

Di dunia kebatinan dan spiritual, semua kemampuan melihat gaib di atas, terutama melihat secara batin dan melihat secara roh, adalah apa yang disebut sebagai  penglihatan mata ketiga , artinya orangnya mempunyai kemampuan untuk melihat sesuatu dengan selain mata wadagnya, yang kemampuan itu akan mendatangkan pengetahuan tersendiri, kebijaksanaan tersendiri, mendatangkan kebijaksanaan spiritual tentang kegaiban hidup dan kegaiban alam, yang akan mengantarkan seseorang memiliki hikmat kebijaksanaan kesepuhan dalam dirinya, peka sasmita, menjadi linuwih dan waskita.

Begitu juga dengan indera keenam. Yang dimaksud indera keenam adalah kepekaan seseorang untuk menginderai sesuatu yang tidak kelihatan mata, dan itu tidak harus orangnya bisa melihat gaib, karena pengertian indera keenam itu terutama adalah kemampuan peka rasa seseorang untuk bisa mendeteksi dan memahami sesuatu yang tidak tampak mata wadagnya, yang tidak dapat diinderai dengan panca inderanya. Kepekaan indera keenam banyak terasah pada orang-orang yang selalu menjaga kepekaan batinnya, yang selalu menjaga untuk selalu bisa peka rasa dan tanggap firasat, mengerti kegaiban, bukannya bisa melihat gaib tapi tidak tanggap sasmita.

Pada orang-orang yang tekun mendalami kebatinan / spiritual dan tapa brata, peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, melihat gaib, terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan kemampuan yang tidak terpisahkan dari kegaiban mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual, laku prihatin, semedi dan tapa brata mereka.


Ada pembaca yang bertanya tentang apa tandanya seseorang sudah bisa melihat gaib secara roh, yang berbeda dengan melihat
gaib secara batin.

Biasanya orang tidak membeda-bedakan cara-cara melihat gaib, karena tujuannya adalah hanya untuk bisa melihat gaib saja, terserah bagaimana caranya. Pembedaan istilah melihat gaib dengan mata ketiga, melihat gaib secara batin dan melihat gaib secara roh dilakukan oleh Penulis supaya jika kita bisa membedakannya dan tahu cara kerjanya, maka masing-masing kemampuan itu bisa ditingkatkan menjadi kemampuan yang lebih tinggi lagi.

Melihat secara roh adalah kemampuan tingkat lanjut dari melihat secara batin, sehingga di dalamnya ada banyak hal yang mirip yang membuat sulit untuk membedakan melihat secara roh dengan melihat secara batin. Yang utama membedakannya adalah tingkat kemampuannya.

Melihat secara roh biasanya terkait dengan kemampuan lain seperti merogoh sukma atau medhar sukma, atau kemampuan lain secara roh, sehingga penekanannya adalah mendayagunakan kemampuan roh/ sukma, bukan batin lagi.




 4. Melihat Gaib dengan bantuan Khodam 


Selain 3 cara utama melihat gaib yang sudah diuraikan di atas, masih ada satu cara lagi dalam melihat gaib, yaitu melihat gaib dengan bantuan khodam. Cara inilah yang umumnya berkembang di kalangan keilmuan jaman sekarang.

Dengan cara ini bisanya orang melihat gaib adalah dengan orangnya menerima penglihatan gaib, yaitu bukan orangnya bisa melihat gaib, tetapi ia menerima suatu gambaran gaib di dalam pikirannya dari sesosok gaib tertentu tentang sosok-sosok gaib, atau tentang suatu objek di suatu tempat, atau tentang suatu kejadian pada masa lalu atau masa depan, atau hal-hal gaib lainnya. 

Cara melihat gaib ini banyak dilakukan oleh peramal-peramal dan spiritualis / paranormal dalam meramalkan suatu kejadian, atau untuk melihat sesuatu yang gaib atau untuk melihat suatu objek di tempat yang jauh, karena dengan cara ini mereka dapat melihat sesuatu kejadian atau sesuatu yang gaib dengan cukup jelas di dalam pikiran mereka (orang Jawa sering menyebut ini sebagai kaweruh / wangsit / wahyu).

Kemampuan ini seringkali didapatkan sejak seseorang masih kecil, sehingga sering disebut "bakat bawaan lahir".  Kondisi ini sama seperti seseorang yang ketempatan gaib, yang tanpa pernah belajar sebelumnya tetapi kemudian ia bisa mengobati orang atau bisa meramal.

Melihat gaib cara ini banyak terjadi pada orang-orang yang memiliki khodam ilmu / pendamping, orang-orang yang di dalam tubuhnya ketempatan mahluk halus, dan orang-orang yang mengamalkan ilmu gaib / mantra untuk melihat gaib. Penglihatan gaibnya itu diterima orangnya di dalam pikirannya dari khodam ilmunya, khodam pendamping, atau sosok gaib lain yang membantunya.

Sesosok gaib yang menjadi khodam bagi seseorang, selain yang dengan sengaja didatangkan atau yang diberikan oleh orang lain, ada banyak yang datang sendiri kepada seseorang, baik yang masih awam ataupun yang tekun rajin berzikir / wirid, atau yang sedang ngelmu gaib, dan kemudian menjadi khodamnya.

Selain yang datang untuk menjadi khodam pendamping, banyak mahluk halus yang datang dan masuk bersemayam di dalam badan / kepala seseorang, menjadikan tubuh orangnya sebagai rumahnya yang baru (ketempatan mahluk halus) yang kejadian awalnya melalui proses ketindihan (baca : Pengaruh Gaib thd Manusia).

Kelemahan melihat gaib dengan bantuan khodam dan dengan amalan / mantra adalah bahwa kondisi alam gaib yang dilihat oleh orangnya mungkin saja adalah kondisi gaib yang sebenarnya, tetapi kadangkala juga palsu (fiktif / ilusi / halusinasi) atau hanya merupakan pencitraan saja, atau perlambang saja dari sesuatu yang gaib, karena apa yang dilihatnya itu bukanlah kondisi / kejadian gaib yang sesungguhnya ia lihat, tetapi adalah gambaran gaib yang diberikan oleh si khodam, yaitu gambaran gaib yang si khodam ingin supaya si manusia melihatnya, bukan sungguh-sungguh orangnya bisa melihat gaib. Kebisaannya melihat gaib lebih banyak ditentukan oleh khodamnya itu.


Jadi, selain 3 cara utama di atas, yaitu melihat gaib dengan mata ketiga, melihat gaib secara batin dan melihat gaib secara roh, masih ada satu cara lagi untuk
melihat gaib, yaitu melihat gaib dengan dibantu  khodam atau menggunakan amalan / mantra melihat gaib.

Cara melihat gaib yang terakhir ini, yaitu melihat gaib dengan bantuan khodam dan yang menggunakan amalan / mantra dipisahkan tersendiri dan diurutkan belakangan, karena bukan merupakan cara melihat gaib yang menjadi rekomendasi Penulis, karena seringkali terjadi penglihatan gaib cara ini tidak bisa diandalkan keakuratannya, tidak riil, banyak berupa ilusi dan halusinasi, atau hanya berupa pencitraan dan perlambang saja, bukan kondisi kegaiban yang sesungguhnya, tetapi justru cara inilah yang sekarang umum dan paling banyak dilakukan orang dalam melihat gaib, yang umumnya terjadi pada orang-orang yang bisa melihat gaib tanpa orangnya pernah melatih peka rasa untuk bisa mendeteksi / melihat gaib.

Penglihatan gaib yang tidak riil ini biasanya dialami oleh orang-orang yang berkhodam atau orang-orang yang di dalam badannya atau di dalam kepalanya ada ketempatan mahluk halus, atau pada orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan mantra / amalan melihat gaib.

Mengenai kasus-kasus yang orang ketempatan mahluk halus silakan dibaca di dalam : Pengaruh Gaib thd Manusia.

Tulisan selanjutnya tentang melihat gaib silakan dibaca dalam halaman berjudul : Terawangan / Melihat Gaib.


Ada ide / pertanyaan :

Pak saya ingin memberikan masukan di artikel bapak yg berjudul olah batin dan olah sukma, sekalian tulisan tatacara membuka mata ketiga dan meraga sukma dengan media minyak2 tertentu yang dimana dengan cara ini banyak memberikan manfaat bagi orang2 yg belajar ilmu kebatinan dan ilmu gaib dgn cepat.
Terima kasih


Ulasan :

Terima kasih atas masukannya.
Ide dan pertanyaan anda ini bagus juga.

Di tulisan saya itu tentang melihat gaib dan merogoh sukma, implisit saya menyatakan bahwa saya lebih prefer pada kemampuan yg sungguh2 berasal dari kemampuan orangnya sendiri, yg asli dari kemampuan orangnya sendiri.

Tetapi di tulisan itu saya juga menuliskan bahwa ada juga keilmuan untuk itu yg aslinya tidak berasal dari kemampuan orangnya sendiri, yaitu yg saya sebut sebagai melihat gaib dengan bantuan khodam.
Melihat gaib dgn bantuan khodam ini saya kurang prefer, karena ada yg sifatnya benar membantu, tapi lebih banyak lagi yg sifatnya fiktif, ilusi dan halusinasi. Banyak orang yang ditipu oleh khodamnya sendiri.

Tetapi ada kalanya memang dibutuhkan adanya bantuan (khodam), karena tidak semua orang bisa mampu menguasai keilmuan itu dgn kemampuannya sendiri, karena itu di bagian akhir halaman berjudul Terawangan / Melihat Gaib saya juga menuliskan cara-cara untuk bisa melihat gaib dengan bantuan khodam.

Melihat gaib dgn bantuan khodam itu bisa dilakukan dgn mewirid amalan untuk melihat gaib, mungkin bisa juga untuk merogoh sukma kalau diwiridkan amalan yg untuk merogoh sukma (walaupun kemungkinan besar merogoh sukmanya fiktif). Mungkin akan lebih baik lagi hasilnya kalau digunakan juga minyak2 tertentu (untuk sesaji khodamnya).

Selain minyak2 tertentu yg difungsikan sbg sesaji untuk khodamnya (supaya khodamnya lebih antusias membantu laku keilmuannya) ada juga minyak2 tertentu yg dijual orang khusus untuk ilmu melihat gaib dan merogoh sukma.

Dari beberapa minyak yg dijual orang itu saya mendeteksi bhw minyaknya sudah diisi khodam, sehingga potensi keberhasilannya lebih besar kalau ada orang yg menggunakan minyak itu untuk melihat gaib atau merogoh sukma (dgn bantuan khodam). Hanya saja sebaiknya diwaspadai jangan sampai khodamnya itu kemudian masuk ke kepala kita, jangan sampai nantinya khodamnya akan memenuhi kepala kita dengan gambaran2 gaib fiktif, ilusi dan halusinasi, melihat gaib dan merogoh sukmanya hanya ilusi saja.

Jadi masukan anda tentang penggunaan minyak2 tertentu itu cukup baik, mungkin bisa memperbesar peluang keberhasilan laku keilmuannya, tetapi sebaiknya hati-hati dalam penggunaannya.


 Tambahan 

Dalam olah sukma kita mengolah sukma kita, yaitu khusus mengolah roh kita, tentang apa yang dapat dilakukan oleh roh kita di luar tubuh kita.

Seseorang yang belum pernah melakukan olah batin, berarti sukmanya masih lemah. Walaupun ada guru yang dapat mengajari anda cara merogoh sukma, bila anda sendiri belum memiliki dasar kekuatan kebatinan yang cukup, dengan mempertimbangkan efek buruk yang dapat terjadi, sebaiknya jangan anda mencobanya. Apalagi bila di kemudian hari, tanpa pendamping, anda mencoba melakukannya sendiri.

Resiko yang dapat terjadi, selain yang sudah disebutkan di atas, juga resiko karena berhubungan dengan mahluk halus lain di alam gaib.  Baca :  Roh Manusia Lanjutan 2.

Dengan terawangan gaib anda bisa melihat ke tempat-tempat yang jauh dan tersembunyi. Tetapi resikonya juga sama bila roh anda bertemu dengan roh halus lain. Banyak kejadian yang setelah roh sedulur papatnya itu keluar jauh dari badannya, kemudian tidak dapat kembali lagi. Rohnya ditahan / ditangkap oleh mahluk halus lain. Akibatnya, orang itu akan terus-terusan melihat gaib, dan sosok gaib yang menahan rohnya itu akan terus menghantuinya (karena sosok gaib itu memang menahan roh sedulur papatnya dan roh sedulur papatnya yang ditangkap itu terus-terusan berhadapan dengan sosok gaib itu). Sudah jelas bahwa orang itu kemudian akan terganggu jiwanya.

Lebih baik bila anda melatih lebih dulu kepekaan rasa (baca: Olah Rasa dan Kebatinan) sambil anda belajar melihat secara batin, mempersiapkan mental dan menguatkan kebatinan anda. Bila sudah mengerti resikonya (untuk kehati-hatian), sudah siap secara psikologis dan memang ingin bisa melihat gaib, mintalah diajari cara melihat gaib dengan cakra mata ketiga saja, jangan merogoh sukma. Kemampuan melihat gaib ini akan menjadi dasar yang baik sekali untuk mempelajari ilmu-ilmu kebatinan yang lain, termasuk ilmu terawangan gaib dan ilmu merogoh sukma.

Memang walaupun kita sering berinteraksi dengan mahluk halus belum tentu kita mengalami kejadian yang pahit. Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan pengetahuan saja supaya kita berhati-hati, jangan sampai kita menjadi salah satu orang yang apes, mengalami pahitnya.  Baca juga :  Kekhawatiran Melihat Gaib.


-----------


Menindaklanjuti pertanyaan-pertanyaan seputar kehatian-hatian dalam bermeditasi supaya tidak terjadi merogoh sukma di luar kendali, berikut ini diuraikan penjelasannya.

Masing-masing meditasi mempunyai tujuan dan tatacara sendiri-sendiri.
Sebaiknya diikuti saja tatacaranya sesuai tujuan meditasinya masing-masing, jangan disamakan atau dicampurkan tata pelaksanaannya.

Tentang proses awal merogoh sukma biasanya ada tanda-tanda awalnya, antara lain :
1. Tubuh bergetar kencang, atau
2. Roh terasa naik ke atas, terasa dingin dari kaki naik ke atas, atau
3. Pikiran terasa melayang, rohnya terasa seperti mengambang keluar tubuh.

Kalau terasa terjadi tanda-tanda seperti di atas sebaiknya meditasinya dihentikan sejenak.
Konsentrasi lagi, pikiran jangan kosong melayang, alirkan doa dalam hati.

Cara bermeditasi yang benar itu pikiran jangan kosong, tetapi dikendorkan, diistirahatkan, alirkan doa / zikir dalam hati supaya pikiran tidak kosong melayang, atau mewirid amalan gaib jika tujuannya untuk itu.

Jadi yang benar itu pikiran tidak kosong, tetapi dikendorkan, diistirahatkan, untuk lebih mengedepankan rasa dan batin.

Tetapi ada orang-orang yang kesulitan untuk mengendorkan pikiran. Pikiran yang seharusnya diistirahatkan malah dipakai keras berkonsentrasi. Bermeditasi dengan mata terpejam juga dapat mendorong orang untuk keras berkonsentrasi dengan pikirannya, yang jika diteruskan meditasinya, maka sesudah meditasinya itu kepala orangnya akan terasa pusing / penat.

Untuk orang-orang yang mengalami kesulitan
mengendorkan pikiran seperti di atas, pemecahannya adalah pikiran dikendorkan seperti sedang melamun. Dalam kondisi kamar gelap gulita mata boleh tetap terbuka, pandangan diarahkan santai ke bawah seperti orang melamun. Tetap alirkan doa dalam hati supaya pikiran tidak kosong melayang (tetapi juga jangan keras berkonsentrasi untuk berdoa). 

Tidak semua orang berhasil melepaskan pikirannya untuk mengedepankan batinnya. Kalau perlu meditasinya jangan direncanakan. Lakukan saja ketika kita sedang iseng dan santai tak ada kegiatan. Kalau kita santai melakukannya dan tak ada beban hasrat, biasanya sekali saja melakukannya sudah berhasil. Tetapi ada juga orang lain yang harus melakukannya sampai berkali-kali baru bisa berhasil, bahkan ada juga yang tidak pernah berhasil. Mungkin memang bukan rejekinya. Memang peruntungan orang berbeda-beda dan faktor penghalangnya juga berbeda-beda.

Faktor terbesar yang menjadi penghalang pencapaian keberhasilan dari suatu laku meditasi adalah adanya khodam ilmu / pendamping atau adanya mahluk halus di dalam kepala atau badan yang keberadaan mereka itu sering sekali memberikan bisikan gaib dan penglihatan yang bersifat fiktif, ilusi dan halusinasi, terutama dalam meditasi mata terpejam. Mungkin malah orangnya sampai dibuat dibuat seolah-olah dirinya merogoh sukma, rohnya terbang ke langit atau berjalan-jalan di alam gaib atau berhalusinasi bertemu dengan sosok halus tertentu.

Karena itu jika anda sadar diri anda berkhodam sebaiknya sebelum bermeditasi anda sampaikan kepada khodam-khodam anda itu dan semua mahluk halus yang bersama anda supaya jangan memberikan gambaran dan bisikan gaib apapun. Perintahkan supaya mereka mengikuti saja jalan pikiran anda.

Sesudah diperintahkan begitu mudah-mudahan semua gaib yang bersama anda tidak akan memberikan halusinasi kepada anda, tetapi gaib yang di dalam badan / kepala, terutama yang jenisnya adalah sukma (arwah) manusia, kemungkinannya akan tetap memberikan halusinasi, karena sudah watak dasarnya menipu dan menyesatkan. Karena itu atas adanya mahluk halus jenis sukma / arwah di dalam tubuh manusia, siapapun dia, darimanapun asal-usulnya, Penulis menganjurkan untuk diisolasi dan dikeluarkan. Selebihnya tinggal anda sendiri untuk kritis membedakan mana kegaiban yang nyata dan mana yang fiktif / ilusi, jangan sampai terbawa mengikuti yang sifatnya fiktif / menipu. Usahakan untuk belajar bisa fokus kepada sedulur papat kita sendiri dalam hal inspirasi, ide dan ilham dan gambaran gaib, jangan kepada yang lain.




--------------



  >>  Terawangan / Melihat Gaib









Comments