7.  Olah Spiritual dan Kebatinan

 


  Pengertian Umum Olah Spiritual


Sama dengan istilah kebatinan yang pada masa sekarang sudah banyak terjadi kesalahpahaman orang tentang artinya, begitu juga dengan spiritual dan spiritualitas.

Laku meditasi adalah salah satu bentuk laku yang banyak dijalani oleh orang-orang di dunia spiritual, tetapi karena kesalahpahaman orang kemudian dianggap kalau ia ingin belajar spiritual maka ia harus latihan meditasi, dan kalau orang sudah latihan meditasi dianggap ia sudah menekuni olah spiritual.

Tapi sebenarnya spiritual dan olah spiritual lebih dari itu. Meditasi saja tidak cukup untuk orang dianggap sudah latihan spiritual. Dan jangan dianggap bahwa jika kita sudah latihan meditasi maka berarti kita juga sudah latihan spiritual. Meditasi saja tidak cukup signifikan menambah spiritualitas kita. Bahkan seorang master ahli meditasi sekalipun belum tentu ia memiliki spiritualitas yang tinggi.

Olah spiritual berkaitan dengan pengolahan kekuatan spiritual manusia, olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang gaib secara spiritual, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu atau kejadian-kejadian yang akan datang, sampai olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata dan berdimensi gaib tinggi.

Dalam mempelajari sesuatu, dalam olah spiritual orang akan mempelajari dan dapat mencapai pengetahuan tentang sesuatu bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi juga dapat sampai kepada hakekatnya (aspek filosofis dan kesejatian dari sesuatu).

Spiritualitas adalah mengenai segala sesuatu pengetahuan yang dengan laku spiritualnya pengetahuan itu berhasil dipahami atau orangnya bisa menemukan sendiri kebenarannya (bukan karena diberitahu).

Spiritualitas tidak sama dengan pengetahuan yang dimiliki / didapatkan seseorang dari suatu sumber atau dengan ia mendalami suatu ilmu / pengetahuan. Itu hanya sebanding dengan pengetahuan dan kebijaksanaan saja. Spiritualitas adalah pengetahuan dan kesadaran yang didapatkan oleh seseorang dengan ia menjalani sendiri olah laku spiritual yang dengan lakunya itu orangnya bisa sendiri menemukan kebenarannya.

Apa saja yang menjadi isi spiritualitas seseorang adalah apa saja objek spiritual / pengetahuan yang menjadi interest orang itu yang ditindaklanjutinya sendiri dengan laku spiritualnya. Spiritualitas setiap orang pelaku spiritual tidak semuanya sama, karena masing-masing objek / bidang interest orang juga tidak sama. Dan pada bidang / objek spiritual yang sama masing-masing orang juga tidak sama tingkat pencapaian spiritualitasnya. Spiritualitas yang tinggi biasanya berasal dari olah laku spiritual ketuhanan.

Laku meditasi dan perenungan adalah contoh bentuk laku yang banyak dilakukan orang dalam olah spiritual sampai dengan lakunya itu orang menemukan sendiri kesejatian dari sesuatu yang dipelajarinya. Sesudah itu barulah spiritualitasnya terbentuk.

Cakra-cakra tubuh yang bekerja adalah cakra-cakra yang berada di leher, di dahi dan yang di ubun-ubun kepala.

Di atas ubun-ubun kepala ada cakra mahkota, yaitu sebentuk energi seperti corong bersusun 2 yang hanya terbentuk sesudah cakra di ubun-ubun kepala kuat dan terbuka dan aktif bekerja dan orangnya aktif menjelajahi kegaiban tingkat tinggi (biasanya spiritual ketuhanan). Jadi cakra mahkota itu sebenarnya adalah "energi" yang terbentuk dari kuatnya laku spiritual sesudah cakra di ubun-ubun kepala kuat dan terbuka dan aktif bekerja dan orangnya aktif menjelajahi kegaiban tingkat tinggi. Dengan cakra di ubun-ubun dan cakra mahkota orang bisa menyerap energi spiritual alam semesta dan bisa menangkap intisari alam spiritual, sehingga bisa mengetahui rahasia alam semesta dan rahasia alam kehidupan.

Olah kemampuan untuk mengetahui kesejatian dari suatu pengetahuan yang didapat sendiri dari olah spiritual inilah yang membedakan ilmu spiritual dengan ilmu-ilmu kebatinan umum dan ilmu-ilmu kegaiban yang lain, dan apa saja pengetahuan / kebenaran yang diperolehnya itu akan menjadi isi spiritualitas seseorang, secara umum akan menjadi suatu hikmat kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.

Olah spiritual juga menghasilkan kekuatan, yaitu kekuatan spiritual, yang berasal dari cakra di ubun-ubun dan cakra mahkota, yang dapat disalurkan melalui kekuatan pikiran. Selain berasal dari kesadarannya sendiri, kekuatan itu juga berasal dari kekuatan roh (roh pancer dan sedulur papatnya) yang seolah-olah berada di belakangnya (di belakang kepalanya) dan menyatukan kekuatannya dengan kekuatan orangnya menjadi satu kesatuan kekuatan pikiran. Kegaiban kekuatan spiritual seseorang akan memampukannya membuka tabir-tabir kegaiban dan rahasia-rahasia yang bagi orang-orang umum masih tertutup. Bila digunakan untuk berhadapan dengan kekuatan mahluk halus kekuatannya itu dapat untuk mendeteksi dan menyerang mahluk halus, bukan hanya yang tingkatnya rendah, tetapi juga yang berkekuatan dan berdimensi gaib tinggi, yang dimensinya dan kesaktiannya lebih daripada buto. 



  Olah Kebatinan dan Olah Spiritual


Olah Kebatinan
 
berkaitan dengan pengolahan potensi
kebatinan manusia, potensi kegaiban sukma manusia, disertai dengan landasan filosofi spiritual kebatinan, misalnya dalam dunia kebatinan kejawen ada cerita saudara kembar sedulur papat kalima pancer, filosofi dalam pewayangan, ilmu kasampurnan (kesempurnaan), konsep manunggaling kawula lan Gusti, dsb.

Bagi orang-orang yang mempelajari kebatinan, berbagai cerita dalam filosofi kebatinan spiritual tersebut di atas adalah dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), tuntunan kerohanian, sasaran / tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita spiritual kebatinan. Pengetahuan gaib atau tentang kejadian-kejadian yang akan datang, dsb, seringkali didapatkan dari ilham / bisikan gaib / wangsit (dari kegaiban sukmanya / roh sedulur papatnya) yang ditindaklanjuti sampai ketemu kebenarannya.

Tetapi banyak para pemula (termasuk praktisi kebatinan, orang-orang pinter dan spiritualis yang sebenarnya keilmuan kebatinannya masih tingkat dasar) yang bisa bercerita banyak tentang hal-hal filosofis di atas, tetapi sebenarnya mereka sendiri belum sampai pada kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya, dan banyak orang yang bisa melihat gaib, tetapi tidak tahu kesejatian dari apa yang dilihatnya, apalagi yang hanya sekedar 'ngecap' saja, seolah-olah mereka benar sudah mumpuni menguasai ilmunya atau mengetahui sendiri kebenarannya

Mereka yang mendalami suatu olah kebatinan, biasanya juga memahami aspek spiritual dari olah kebatinan yang ditekuninya. Tetapi aspek spiritual lain yang lebih tinggi biasanya tidak ditekuni, karena biasanya lakunya hanya berkonsentrasi pada aspek spiritual yang terkait dengan apa yang sedang dijalani saja. Tetapi para tokoh kebatinan, yang menemukan konsep-konsep kebatinan, yang kemudian mengajarkannya kepada murid-murid atau para pengikutnya, biasanya menguasai aspek spiritual dari kebatinannya secara mendalam dan juga memiliki spiritualitas yang tinggi, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan yang tersebut di atas bukan lagi menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), sasaran / tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita kebatinan spiritual, tetapi mereka sendiri memiliki kemampuan untuk mengetahui kebenarannya, dan biasanya mereka juga menguasai aspek spiritual lain yang lebih tinggi.


Olah Spiritual  berkaitan dengan pengolahan potensi spiritual manusia, olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang gaib, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu atau kejadian-kejadian yang akan datang, sampai pada olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata dan berdimensi gaib tinggi. Dalam mempelajari sesuatu, dalam olah laku spiritual orang akan mempelajari bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi juga sampai kepada hakekatnya (aspek filosofis dan kesejatian dari sesuatu). 

Biasanya orang menekuni dunia spiritual bersamaan atau sebagai kelanjutan dari laku kebatinannya. Termasuk dalam laku kebatinan untuk kanuragan / kesaktian, olah spiritual dilakukan bersamaan atau sebagai kelanjutan laku kebatinannya untuk menelisik lebih dalam sisi spiritual / kesejatian dan potensi dari keilmuannya. Begitu juga laku kebatinan ketuhanan, biasanya kemudian dilanjutkan menjadi laku kebatinan-spiritual ketuhanan, untuk menelisik kesejatian dan kebenaran dari jalan ketuhanannya. Dengan demikian dari laku kebatinan dan spiritualnya itu orang tersebut menguasai sekaligus sisi kebatinan dan sisi spiritualnya, menguasai kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritualnya, dan kekuatan sukmanya juga berasal dari kekuatan kebatinan dan spiritual tersebut.

Pada orang-orang yang sudah menekuni tahapan laku spiritual, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan yang tersebut di atas bukan hanya menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), sasaran / tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita kebatinan spiritual, tetapi menjadi tujuan untuk dicaritahu kebenarannya, sehingga mereka bisa memiliki kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya. Cerita-cerita tersebut bukan hanya menjadi cerita atau menjadi bumbu pelajaran ilmu, tetapi mereka juga mempelajari kebenarannya berikut aspek filosofis di dalamnya.


Banyak orang yang baru mempelajari sesuatu ilmu, baru sepotong atau baru sebatas kulitnya saja sudah sesumbar seolah-olah ilmunya sudah mumpuni. Ia hanya bersensasi saja. Air beriak tanda tak dalam. Tetapi orang yang sudah dalam ilmunya biasanya lebih memilih diam dan diam-diam ia dapat mengukur kedalaman / ketinggian ilmu orang lain. Orang  'berisi'  yang memilih diam biasanya ilmunya lebih dapat berkembang, karena ia memiliki banyak waktu untuk memperhatikan lingkungan dan belajar dari kehidupan sehari-hari atau dari pengalaman orang lain.

Kebanyakan orang hanya
ingin mempraktekkan ilmunya saja dan mempertunjukkan ilmunya, sehingga dirinya dipandang hebat, tapi ia tidak berusaha mengembangkannya, apalagi setelah berpisah dari gurunya. Dengan demikian orang tersebut tidak akan bisa mencapai tingkatan seperti gurunya atau melebihinya. Apabila suatu saat nanti orang tersebut mempunyai murid, dan murid-muridnya itu sama juga perilakunya, maka dunia keilmuan semakin lama akan semakin surut. Padahal seharusnya setiap murid harus bisa melebihi gurunya, sehingga dunia keilmuan akan berkembang terus. Kesadaran itu yang seringkali tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.

Tetapi orang-orang yang sudah mendalami sisi spiritual dari sesuatu dan mampu menguasainya, walaupun hanya sebagian saja, kemudian akan lebih banyak diam, tidak pamer atau menonjolkan diri, karena mereka sendiri sadar bahwa mereka lebih mengetahui daripada orang lain, seringkali dianggap lebih baik untuk diam, tidak pamer, dan tidak mempertentangkannya dengan orang lain. Diperibahasakan seperti ilmu padi : " makin berisi makin merunduk ".  Inilah yang kemudian menjadi suatu kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.
 


Olah spiritual sebenarnya adalah bagian dari olah kebatinan. Tetapi karena pada masa sekarang ini banyak orang yang membedakan spiritual dengan kebatinan, apalagi ada juga orang yang mempelajari spiritual secara khusus yang tatacara pengolahannya tidak sama dengan olah kebatinan yang umum, maka dalam halaman ini dituliskan tentang pengertian spiritual itu yang sisi pengolahannya dan sifat-sifatnya berbeda dengan kebatinan yang umum. Tetapi jangan dilupakan bahwa sebenarnya olah spiritual adalah satu kesatuan dengan olah kebatinan, termasuk dalam hal tatacara mempelajarinya, dan sesungguhnya memang begitu. Kebatinan dan spiritual jangan dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri.

Olah kebatinan dan spiritual sebenarnya merupakan
satu kesatuan laku yang dilakukan bersama-sama, satu kesatuan laku yang tidak terpisahkan, dalam menjalankannya hanya proporsinya saja yang berbeda-beda. Di satu saat mungkin lakunya lebih besar proporsinya untuk kebatinan. Di saat yang lain mungkin porsinya lebih besar untuk spiritualitas, tergantung objek dan tujuan dari laku yang sedang dijalani.

Biasanya orang menekuni dunia spiritual bersamaan atau sebagai kelanjutan dari laku kebatinannya. Termasuk dalam laku kebatinan untuk kanuragan / kesaktian, olah spiritual dilakukan bersamaan atau sebagai kelanjutan laku kebatinannya untuk menelisik lebih dalam sisi spiritual / kesejatian dan potensi dari keilmuannya. Begitu juga laku kebatinan ketuhanan, biasanya kemudian dilanjutkan menjadi laku kebatinan-spiritual ketuhanan, untuk menelisik kesejatian dan kebenaran dari jalan ketuhanannya. Dengan demikian dari laku kebatinan dan spiritualnya itu orang tersebut menguasai sekaligus sisi kebatinan dan sisi spiritualnya, menguasai kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritualnya, dan kekuatan sukmanya juga berasal dari kekuatan kebatinan dan spiritual tersebut.

Biasanya walaupun proses laku yang dijalani oleh seseorang adalah olah kebatinan, hasilnya akan merupakan kombinasi dari kebatinan dan spiritual. Dalam setiap sisi kebatinan yang ditekuni orang selalu terkandung makna spiritual yang juga harus dikuasai. Dan dalam penggunaan kekuatan kebatinan biasanya juga disalurkan melalui kekuatan pikiran, sehingga biasanya orang-orang yang menekuni kebatinan, laku kebatinannya itu bukan hanya membentuk kekuatan kebatinan, tapi juga membentuk kekuatan gaib spiritual. Dan biasanya para tokoh kebatinan dan para praktisi kebatinan, orang-orang yang benar menekuni kebatinan, biasanya mempunyai kemampuan spiritual juga.

Pengetahuan yang didapat dari laku kebatinan bersifat dalam, berupa penghayatan kesejatian akan sesuatu, sehingga pengetahuannya itu tidak dangkal, tidak mengawang-awang, tidak berisi dogma dan pengkultusan, yang pengetahuan itu akan juga bisa dibuktikan oleh orang lain yang sama-sama mempelajari kesejatiannya. 

Dengan olah laku spiritual suatu pengetahuan yang secara kebatinan sudah diketahui itu ditindaklanjuti lagi untuk menelisik kesejatiannya yang lebih tinggi lagi. Karena itu olah laku spiritual adalah kelanjutan pencarian kesejatian yang lebih tinggi dari suatu objek pengetahuan yang secara kebatinan sudah diketahui kesejatiannya 

Karena itu orang-orang yang tekun di dalam olah kebatinan dan spiritual akan memiliki penghayatan atas sesuatu secara mendalam, sekaligus juga tinggi, dibandingkan pemahaman orang lain yang umum atas suatu objek yang sama.


Seseorang yang menjalani laku kebatinan akan merasakan kekuatan kebatinannya di dada. Sesuai penguasaan dan pencapaiannya kekuatan kebatinannya itu akan mengisi kekuatan tangan, kaki, tubuh, menjadi kekuatan gaib yang melipatgandakan kesaktian kanuragan seseorang. Selain itu kegaiban sukma dari laku kebatinannya akan membentuk dirinya menjadi seorang yang linuwih dan waskita. Pada penggunaannya selain kekuatan itu digunakan sebagai kekuatan yang mengisi tubuh untuk kanuragan, kekuatan itu juga dipusatkan di kepala, menjadi kekuatan spiritual.

Dalam proses awal laku kebatinan-spiritual, orang memusatkan perhatiannya secara batin, memusatkan rasa dan kebatinannya pada suatu objek tertentu yang menjadi perhatiannya. Pada proses selanjutnya, orang itu memusatkan perhatiannya di kepala, mempertegas apa yang ada di "awang-awang", untuk menindaklanjuti ide / ilham dan bisikan gaib / wangsit, untuk mempelajari lebih lanjut kesejatian spiritual dari objek yang menjadi perhatiannya itu sampai kepada aspek hakekatnya. Selanjutnya berdasarkan semua objek perhatian yang sudah dikuasai pengetahuannya itu, dengan mendayagunakan aliran ide / ilham sebagai sumber inspirasinya orang itu akan melanjutkan pencariannya kepada objek-objek pengetahuan selanjutnya hingga ke dimensi spiritual yang lebih tinggi lagi. Karena itu kebanyakan laku kebatinan dan spiritual seseorang akan menciptakan suatu kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya tinggi bagi orang kebanyakan yang mengantarkannya menjadi seorang yang linuwih dan waskita.

Dalam laku pencarian spiritual itu olah kebatinan dan olah spiritual dilakukan secara bersama-sama, sehingga laku kebatinan dan
laku spiritual menjadi satu kesatuan laku yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi isi spiritualitas setiap orang tidak sama, tergantung pada objek spiritual yang menjadi interest-nya. Untuk objek spiritual yang sama yang membedakan pencapaian masing-masing orang hanyalah sejauhmana laku kebatinan dan spiritual itu dilakukan oleh seseorang dan seberapa besar minat seseorang mempelajari sampai mendalam apa yang menjadi interest-nya itu. Selain itu pencapaian setiap orang juga dipengaruhi oleh "kecerdasan batin"-nya dan kepekaan batinnya untuk mendapatkan ide / ilham / wangsit sebagai bahan untuk ditindaklanjuti. Energi di dada, cakra di ubun-ubun kepala dan cakra mahkota akan bekerja dengan sendirinya mengikuti proses laku kebatinan dan spiritual orang tersebut.

Tetapi tidak semua orang yang menjalani olah kebatinan, maka dia juga pasti menjalani olah spiritual. Pada jaman dulu, di Jawa, ketika manusia masih hidup di jaman kesaktian, kekuatan kebatinan merupakan sumber utama kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan, bukan ilmu gaib dan ilmu khodam dan bukan tenaga dalam. Pada tingkat kesaktian yang tinggi orang melatih keilmuannya dengan lambaran kekuatan kebatinan. Laku prihatin, berpuasa bahkan tapa brata akan mengisi sehari-hari lakunya.


Di kalangan kesaktian kanuragan itu kebanyakan olah laku kebatinan mereka tidak secara khusus dilakukan untuk juga mempelajari olah spiritual, tetapi olah laku kebatinannya lebih ditujukan untuk meningkatkan kesaktian kanuragannya, sehingga sekalipun kesaktian kanuragan mereka tinggi, tetapi tingkat spiritualitas dan kekuatan sukmanya terbatas dibandingkan orang-orang yang benar-benar menekuni olah kebatinan dan spiritual yang mengolah kekuatan dan kegaiban sukmanya.


Laku spiritual yang tinggi kebanyakan dijalani oleh orang-orang yang sudah menepi, yang sudah mandito, para pertapa, resi atau panembahan, yang sudah tidak lagi melulu mengedepankan kesaktian kanuragan untuk lebih mengedepankan laku kebatinan ketuhanan, yang kemudian dilanjutkan dengan olah laku spiritual ketuhanan. Spiritualitas yang tinggi biasanya adalah hasil dari laku kebatinan dan spiritual seseorang dalam rangka pencarian ketuhanan (karena Tuhan adalah materi spiritualitas yang tertinggi).


Karena itu orang-orang jaman dulu yang menekuni kebatinan dan spiritual biasanya adalah juga orang-orang yang berilmu kesaktian tinggi, yang sudah melewati masa-masa pelatihan olah kanuragan atau tenaga dalam. Bahkan banyak kemudian yang pada masa tuanya mengaso meninggalkan keduniawiannya, mandito, dan menepi, menjadi seorang panembahan atau pertapa, untuk lebih menekuni dunia kerohanian ketuhanan. Karena itu seorang panembahan atau pertapa biasanya adalah orang-orang yang mumpuni dalam ilmu kesaktian dan kebatinan, hanya saja kemudian kesaktiannya itu tidak kelihatan, karena mereka lebih mengedepankan sikap dan penampilan sebagai orang yang sudah mandito, yang kelihatan lebih menekuni dunia kerohanian, tidak lagi melulu menonjolkan kejayaan keduniawian.


Tidak seperti di jaman sekarang yang orang memandang olah spiritual sebagai jenis keilmuan tersendiri yang berbeda dengan olah kebatinan yang kemudian secara khusus diajarkan / diwujudkan dalam kursus / perguruan meditasi pembangkitan kundalini, reiki, dsb, pada jaman dulu orang-orang yang benar menekuni dunia spiritual memahami bahwa olah laku kebatinan dan olah spiritual adalah sesuatu yang menyatu, merupakan satu kesatuan laku yang salah satunya tidak boleh diabaikan.

Ilmu kebatinan dan ilmu spiritual bukanlah jenis-jenis keilmuan yang berdiri sendiri-sendiri. Begitu juga dengan olah lakunya. Olah laku kebatinan menjadi dasar untuk ditindaklanjuti dengan olah laku spiritual, atau olah spiritual adalah kelanjutan dari laku kebatinan seseorang. Penggunaan kekuatan spiritual juga sebenarnya adalah kekuatan kebatinan yang kekuatannya difokuskan di kepala. Kekuatan spiritual dan tingkat spiritualitas seseorang akan lemah jika tidak didasari oleh olah kebatinan. Olah laku kebatinan merupakan pondasi bagi kemampuan spiritual seseorang.

Dengan demikian olah laku spiritual biasanya dijalani orang bersama-sama atau merupakan kelanjutan dari laku kebatinan, sehingga olah spiritual itu sebenarnya bukanlah suatu jenis ilmu yang berdiri sendiri-sendiri yang dipelajari secara sendiri-sendiri seperti yang pada masa sekarang diajarkan dalam pelajaran praktis meditasi kundalini dan reiki. Olah spiritual sebenarnya berhubungan dan menjadi satu kesatuan dengan olah kebatinan dan merupakan tindak lanjut dari laku kebatinan. Dengan demikian seseorang yang menjalani laku spiritual biasanya adalah bagian dan kelanjutan dari laku kebatinannya dan seseorang yang menjalani laku kebatinan biasanya juga menguasai tingkat spiritualitas tertentu sesuai pencapaian spiritualnya pada bidang interest-nya masing-masing.

Begitu juga dalam laku melatih energi kekuatan spiritual, biasanya juga dijalani dengan kombinasi kebatinan. Pada jaman dulu orang-orang yang sedang khusus menjalani laku kebatinan dan spiritual (olah batin) biasanya akan melakukannya dengan jalan menyepi, berpuasa, semadi, atau tapa brata. Selain dilakukan untuk tujuan mendapatkan pencerahan spiritual yang terkait dengan kesaktian atau dunia spiritual dan untuk menambah tinggi kekuatan kesaktian dan spiritualitas mereka, kekuatan dari laku mereka itu juga akan menambah tinggi kekuatan sukma mereka.

Karena itu jika kita sudah masuk ke dunia kebatinan sebaiknya kita juga mempelajari sisi spiritual dari apa yang sedang kita jalani itu, supaya kita juga mengetahui secara mendalam apa yang sedang kita jalani itu dan kita bisa mengetahui potensi dan arah pengembangannya dari apa yang menjadi interest kita itu.



  Kebatinan dan Spiritual Pencarian Tuhan


Tuhan (Sosok Tuhan, Pribadi yang menjadi Tuhan, kesejatianNya dan keberadaanNya) adalah materi spiritual yang tertinggi. Karena itu tidak banyak orang yang mampu mencapai pengetahuannya, tidak banyak orang yang mampu dengan benar mengenal Tuhan (Sosok, Pribadi Tuhan dan kesejatianNya), bahkan banyak orang yang walaupun agamis, tetapi tidak tahu siapa sesungguhnya Tuhannya. Lebih banyak orang yang untuk menutupi ketidaktahuannya tentang Tuhan mereka memunculkan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan seolah-olah mereka benar tahu Tuhan. Karena itulah kebanyakan orang yang menekuni kebatinan / spiritual ketuhanan untuk melakukan pencarian ketuhanan banyak yang mempunyai lingkaran halo di belakang kepalanya sebagai tanda kuatnya laku kebatinan / spiritual mereka.

Penulis sudah menuliskan di banyak tulisan tentang Tuhan dan ketuhanan dan spiritualitas ketuhanan bahwa dari tempat keberadaanNya Allah memancarkan "Energi"-Nya ke seluruh penjuru bumi, sehingga semua orang di berbagai penjuru bumi bisa merasakan adanya tarikan rasa untuk bertuhan dan
untuk berketuhanan.

Pancaran 'Energi' Tuhan itu disebut Roh Agung Alam Semesta yang
dengan rohnya orang bisa merasakannya dimana-mana dimanapun ia berada di seluruh belahan bumi ini, karena pancaran Energi-Nya itu memang juga terpancar kemana-mana ke seluruh penjuru bumi, menjadi Roh Bumi. Roh Agung Alam Semesta atau Roh Bumi itu disembah orang dalam banyak bentuk agama dan jalan ketuhanan.

Dari sifat-sifat rasa Energi-Nya itu orang bisa "merasakan" sifat-sifat Allah, dan bisa dirasakan juga kehendak-kehendak Allah, disebut orang sebagai Cahaya Allah. Itulah yang umumnya dirasakan oleh orang-orang yang berusaha menyelami sifat-sifat Allah dan yang mendalami agama, yaitu Cahaya Allah, sifat-sifat Allah yang dirasakan orang dari rasa 'Energi' yang dipancarkan oleh Roh Agung Alam Semesta, yang Cahaya Allah itu dirasakan menyelimuti semua kehidupan di bumi.

Itulah yang umumnya diajarkan sebagai agama, yaitu Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dan Cahaya Allah yang menggambarkan sifat-sifat dan kehendak-kehendak
Allah, ajaran agama yang didasarkan pada kesepuhan ketuhanan. Pengetahuan mereka hanya sedikit, karena mereka belum sampai pada pengetahuan tentang Sosok Allah, Pribadi yang menjadi Allah dan KeberadaanNya, dan mereka juga belum bisa tersambung langsung (kontak rasa) dengan Tuhan sehingga mereka tidak sungguh-sungguh mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi kehendak
Allah (mereka akan banyak memunculkan pemikiran dan pendapat sendiri dan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan dan kehendak-kehendakNya).
 
Tetapi pengetahuan tentang Tuhan yang hanya sebatas Roh Agung Alam Semesta itu tidak memuaskan bagi para pelaku pencari Tuhan. Dengan rohnya, dengan olah laku kebatinan dan spiritual mereka berusaha mencari Tuhan sampai bisa ditemukan seperti apa SosokNya, siapa sesungguhnya Pribadi yang menjadi Tuhan dan dimana tepatnya keberadaanNya. Dengan demikian mereka berharap bahwa nantinya mereka akan bisa lebih baik lagi dalam
mereka menyelaraskan diri dan kehidupan mereka dengan yang menjadi kehendak Tuhan dan akan semakin terbuka peluang untuk nantinya mereka bisa kembali menyatu dengan Tuhan.

Tetapi Tuhan mempunyai jalanNya sendiri. Tidak semua orang yang mencari Tuhan itu berhasil dalam usahanya. Apalagi Tuhan juga tidak kepada semua orang Ia berkenan menunjukkan diriNya.
Dengan demikian pengetahuan orang-orang tersebut masih tetap hanya sebatas Tuhan sebagai Roh Agung Alam Semesta saja dan sifat-sifat Tuhan dari Cahaya-Nya yang itu diajarkan sebagai agama / kepercayaan ketuhanan.


Tetapi diluar itu ada tokoh-tokoh agama jawi sebelum datangnya agama Islam yang berhasil "bertemu" dengan Tuhan dalam "Penampakkan"-Nya serupa bola energi besar bercahaya kuning terang benderang (Roh Kudus) yang itu hanya bisa dilihat secara batin dan roh saja. Mereka juga bisa tersambung kontak rasa dan batin dengan Tuhan, bisa mendapatkan pengajaran-pengajaran langsung dari Tuhan, dsb, sehingga mereka bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang kesejatian manusia, kesejatian hidup, dsb, yang itu kemudian mereka ajarkan dalam banyak nama dan istilah dalam kepercayaan agama jawi.

Karena itu selain tuntunan kerohanian / keagamaan yang diberikan oleh tokoh-tokoh agamanya, agama-agama jawi mengajarkan para penganutnya untuk bisa fokus batin kontak rasa langsung dengan Tuhan dan untuk bisa mendapatkan pengajaran-pengajaran langsung dari Tuhan,
olah roso untuk manunggaling kawula lan Gusti, sehingga mereka masing-masing secara pribadi bisa menjadi lebih mengerti sifat-sifat Tuhan dan kehendak Tuhan atas kehidupan mereka dan pemahaman itu mereka jalankan dalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka menyelaraskan kehidupan mereka dengan kehidupan yang menjadi kehendak Tuhan. Dengan demikian mereka tidak membutuhkan Nabi dan kitab suci, karena hubungan mereka dengan Tuhan bersifat langsung, pribadi dan personal.

Pencapaian ketuhanan orang-orang Jawa itu belum bisa disebut sebagai manunggal dengan
Tuhan, belum mencapai tahap kasampurnan. Walaupun mereka sudah bisa tersambung dengan Tuhan, tetapi ternyata Tuhan masih belum berkenan manunggal dengan mereka, karena Tuhan mempunyai JalanNya sendiri. Tapi ketekunan mereka dalam usaha mereka mengenal langsung Tuhannya, berusaha senantiasa tersambung kontak rasa dan batin dengan Tuhan dan sepenuh hati menyelaraskan pemahaman ketuhanan mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari sudah mendapatkan perhatian tersendiri dari Tuhan. Usaha mereka tidak ada yang sia-sia, karena dibandingkan manusia-manusia lain di tempat-tempat dan belahan bumi lain mereka dan tanah Jawa mendapatkan nilai tersendiri di mata Tuhan, mereka akan mendapatkan kemuliaan dan kemurahan tersendiri dari Tuhan pada akhir zaman.

Dan dengan jalan kebatinan ketuhanan mereka itu mereka memiliki pemahaman sendiri yang cukup mendalam tentang Tuhan, tidak perlu memunculkan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahu tapi sok tahu tentang Tuhan.

Apapun agama yang mereka anut, mereka memiliki pemahaman sendiri tentang
Tuhan, dan pemahaman itu mereka wujudkan dalam keseharian kehidupan mereka. Mereka berusaha mendekatkan hati mereka dengan Tuhan dan berusaha menyelaraskan jalan hidup dan perbuatan-perbuatan mereka dengan yang menjadi kehendak Tuhan sesuai yang mereka pahami. Pengertian Manunggaling Kawula Lan Gusti dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi , dengan rasa , dengan batin.  Itulah yang disebut Agama Kaweruh , yang orang-orangnya berusaha mengerti dan mengenal Tuhan secara langsung dan pribadi sehingga orang memiliki pemahaman yang dalam tentang agamanya dan tentang Tuhan sesembahannya.



  Lambang-Lambang Pencapaian Spiritual


Secara umum lambang-lambang pencapaian spiritual seseorang yang bisa dilihat oleh orang lain (secara gaib) adalah berupa aura-aura dan energi spiritual pada tubuh orangnya.

Lambang-lambang pencapaian spiritual yang umum adalah :
1. Adanya cakra mahkota di atas kepala.
2. Adanya lingkaran halo di belakang kepala.
3. Adanya aura spiritualitas yang memancar dari wajah atau dari seluruh tubuh.

Tetapi tidak semua orang bisa melihat lambang-lambang pencapaian spiritual di atas. Tidak semua orang yang bisa melihat gaib bisa juga melihat adanya cakra mahkota, lingkaran halo dan aura spiritualitas pada diri seseorang. Lebih banyak orang yang hanya bisa berteori saja, tapi tidak sungguh-sungguh bisa / pernah melihat lambang-lambang pencapaian spiritual itu. Lambang-lambang pencapaian spiritual itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang melihat gaibnya sangat tajam dan dalam dan tinggi kebatinannya.

Lambang-lambang pencapaian spiritual di atas, yaitu cakra mahkota di atas kepala, lingkaran halo di belakang kepala dan aura spiritualitas yang memancar dari wajah atau dari seluruh tubuh, ada yang dominan bersifat biologis tubuh manusia, ada juga yang dominan berasal dari sukmanya.

Bila dominan bersifat biologis tubuh manusia, ketika orangnya sudah meninggal (atau moksa) sukmanya di alam gaib masih akan menampakkan lambang-lambang pencapaian spiritual itu, tetapi penampakannya tipis halus. Tetapi bila dominan berasal dari sukmanya lambang-lambang pencapaian spiritual itu akan tampak lebih jelas.


Cakra-cakra utama tubuh :

https://sites.google.com/site/thomchrists/Kebatinan-dan-Spiritual/ilmu-spiritual/Cakra%20utama%20tubuh.jpg

1. Cakra di ujung tulang ekor.
2. Cakra di antara dubur dan alat kelamin.
3. Cakra di antara alat kelamin dan pusar (4 jari di bawah pusar).
4. Cakra di ulu hati (di bawah tulang rusuk).
5. Cakra di tengah dada (sering disebut cakra jantung).
6. Cakra di tenggorokan (di leher)
7. Cakra di antara 2 alis mata (di dahi - cakra mata ketiga).
8. Cakra di ubun-ubun kepala.
9. Cakra mahkota (di atas ubun-ubun kepala).


Cakra-cakra no.1 - 5, yaitu cakra di ujung tulang ekor sampai cakra yang ada di tengah dada adalah yang terkait dengan orang olah nafas latihan tenaga dalam dan kanuragan (baca : Kanuragan & Tenaga Dalam).

Cakra-cakra no.5 - 9, yaitu cakra di tengah dada sampai cakra mahkota, biasanya bekerja pada orang-orang di kalangan ilmu gaib, kebatinan dan spiritual. Pengembangan energi cakra di leher dan di kepala (no.6 - 9) hanya sedikit saja hasilnya bila dibangun dengan olah nafas.


Cakra no.1, yaitu cakra di ujung tulang ekor, adalah cakra utama tubuh yang paling dasar. Cakra ini menjadi pintu utama keluarnya energi dari tulang belakang. Energinya disebut hawa murni.

Pada orang-orang yang energi di cakra ini sudah khusus dilatih dan diolah dan sudah padat energinya, cakranya di ujung tulang ekornya itu akan memunculkan sinar aura berwarna putih terang, diolah dengan cara meditasi (seperti meditasi kundalini), bukan dengan olah nafas, hanya sedikit saja hasilnya bila dibangun dengan olah nafas.

Cakra di ujung tulang ekor ini dilatih dengan cara meditasi seperti meditasi kundalini dengan fokus melancarkan jalan energi di tulang belakang dan memadatkan energi pada cakra di ujung tulang ekor, bukan memadatkan energi dengan cara memompa energi ke dalam cakra seperti di latihan olah nafas tenaga dalam, bukan juga dengan membangkitkan / membersihkan / mengalirkan energi atau memutar cakra saja.

Walaupun orang sudah latihan tenaga dalam dan meditasi dan semua cakranya sudah terbuka, tetapi bila cakra di ujung tulang ekor ini belum pernah diolah secara khusus, dan belum padat energinya, maka sinar aura cakra putih terang itu tidak muncul, yang ada hanyalah sebentuk energi saja. 

Secara umum bila dideteksi secara gaib cakra di ujung tulang ekor ini hanya berupa energi saja, sama dengan cakra-cakra yang lain. Tetapi pada orang-orang di kalangan kebatinan dan spiritual yang sudah berhasil memadatkan energi cakranya yang di ujung tulang ekor ini cakranya itu akan beraura putih terang.

Tetapi tentang cakra di ujung tulang ekor ini tidak banyak orang yang mengetahuinya, termasuk bagaimana mengolahnya, sehingga secara umum di dalam penjelasan dan gambar posisi cakra utama tubuh, cakra di ujung tulang ekor ini tidak disebutkan orang.


Cakra-cakra no.1 - 8, yaitu cakra di ujung tulang ekor sampai cakra di ubun-ubun kepala adalah cakra-cakra yang alami ada pada tubuh manusia, tetapi cakra mahkota tidak. 

Cakra mahkota bukanlah sesuatu yang alami ada pada setiap orang.

Cakra mahkota adalah bentukan energi sesudah cakra di ubun-ubun kepala aktif bekerja dan kuat energinya untuk mengakomodir aktivitas spiritual seseorang, bukan sesuatu yang alami ada pada setiap orang. Terbentuknya cakra mahkota akan sejalan dengan kekuatan laku dan pencapaian spiritual seseorang.

Dengan demikian cakra-cakra utama tubuh yang alami ada pada tubuh manusia hanyalah 8 cakra saja, sedangkan cakra yang ke 9, yaitu cakra mahkota, hanya ada sesudah terjadinya kondisi khusus, yaitu sesudah cakra di ubun-ubun kepala aktif bekerja dan kuat energinya dan orangnya aktif menjelajahi dunia spiritual tingkat tinggi.


Masing-masing cakra tubuh dan energinya berhubungan erat dengan saraf-saraf manusia dan sedikit banyak akan juga mempengaruhi psikologis dan kejiwaan orangnya.

Cakra energi di bawah pusar bisa mempengaruhi orangnya menjadi kalem, tenang, teduh. Tapi di sisi lain energinya juga dapat merangsang saraf-saraf di sekitar pusar dan tulang belakang, bisa menaikkan libido dan syahwat.

Cakra energi di ulu hati dan di dada bisa mempengaruhi orangnya merasa percaya diri, merasa kuat dan gagah, senang dengan kekerasan.

Cakra energi di leher dan di dahi bisa mempengaruhi orangnya menjadi inspiratif dalam berpikir dan berbicara dan dalam menyampaikan ide dan pendapat.

Cakra energi di dahi, ubun-ubun dan cakra mahkota bisa mempengaruhi orangnya menjadi inspiratif dalam dunia kebatinan dan spiritual, senang dengan hal-hal yang bersifat spiritual dan kesepuhan. Bisa juga mempengaruhi orangnya untuk tidak getol atau kurang bersemangat mengejar keduniawian.

Bila dirasakan ada efek pengaruh energi cakra-cakra tersebut yang bersifat negatif secara psikologis sebaiknya orangnya mawas diri dan berusaha mengendalikan / mengalihkan yang negatif itu menjadi sesuatu yang positif, jangan membiarkan diri terus dikuasai oleh sesuatu yang negatif.

Secara umum cakra-cakra utama tubuh itu (cakra mayor) adalah pusat-pusat saraf yang mengandung energi yang bentuknya seperti lingkaran cakram dan antar cakra energinya saling tersambung. Masing-masing cakra itu mengeluarkan dan mengsuplai energi kepada cakra-cakra tubuh lain yang lebih kecil (cakra minor) dan kepada organ-organ tubuh di sekitar cakra. Bila ada masalah dengan cakra-cakra itu, seperti adanya infeksi pada cakranya atau adanya penyumbatan pada jalan energinya, selain dapat menyebabkan terjadinya ketidakselarasan energi tubuh yang membuat orangnya sering mengalami sakit panas dalam dan sering masuk angin, juga dapat berpengaruh negatif terhadap organ-organ tubuh di sekitar cakra yang bermasalah itu.

Misalnya :
Masalah pada cakra-cakra di bawah pusar dapat berpengaruh negatif pada organ-organ tubuh di dalam perut dan di sekitar perut bawah.
Masalah pada cakra di dada dapat menyebabkan orangnya mengalami lemah jantung, pembengkakan jantung, paru-parunya lemah mudah sesak nafas dan tersengal-sengal.
Masalah pada cakra di tenggorokan dapat menyebabkan orangnya sering mengalami sakit radang tenggorokan.
Masalah pada cakra di ubun-ubun dapat menyebabkan orangnya pikirannya mengambang sering melamun, sulit konsentrasi berpikir dan sering mengalami ilusi / halusinasi.

Karena itu bila orang sering sekali mengalami sakit-penyakit di organ-organ tubuhnya seperti disebut di atas, selain memeriksakan dirinya secara medis, ada baiknya ia juga memeriksakan kondisi cakranya kepada orang yang mengerti, bisa juga memeriksanya sendiri dengan cara yang sama seperti menayuh keris.

Bila ada masalah dengan cakra seperti disebutkan di atas, mengatasinya adalah dengan cara memperlancar energi cakra-cakranya. Orangnya bisa mengikuti latihan olah nafas tenaga dalam murni atau ikut latihan di perguruan kundalini. Dengan meditasi menurunkan energi juga bisa, dengan fokus sugesti mengisi tubuhnya dengan energi positif dari langit menggusur energi-energi negatif dari tubuhnya, kemudian menyelaraskan energinya merata ke seluruh tubuh dari kepala sampai ke kaki.



Ada juga yang disebut halo.
Halo juga bukan sesuatu yang alami ada pada setiap orang.

Bila anda memiliki kemampuan melihat gaib, dan bila kemampuan anda itu sangat tajam dan dalam, anda akan melihat suatu lingkaran aura cahaya yang biasa disebut  halo  di belakang kepala orang-orang yang sudah dalam menekuni olah spiritual.

Halo adalah pancaran
cahaya aura energi dari kekuatan spiritual  yang telah dicapai oleh seseorang.
Semakin luas / lebar lingkarannya menandakan kuatnya spiritualitasnya.

Selain
kuatnya spiritualitas yang ditandai oleh luas lingkarannya, ada bentuk / tanda lain dari halo yang melambangkan tingkat dimensi pengetahuan gaib  yang telah dicapai oleh seseorang, yaitu warna dari cahaya halo tersebut.

Warna cahaya lingkaran halo berdasarkan urutan proses terjadinya adalah sbb :
 1.  Warna Ungu.
 2.  Warna Kuning.
 3.  Warna Emas. 
 (Warna emas adalah tingkatan tertinggi).

Pengetahuan gaib di dunia spiritual terutama terkait dengan hal-hal gaib tingkat tinggi yang tidak dapat diketahui bila hanya mengandalkan kemampuan berpikir saja, berlogika saja atau mengandalkan kemampuan melihat gaib saja. Contohnya adalah untuk mendeteksi dan mengetahui keberadaan mahluk halus berdimensi tinggi seperti dewa dan buto, pengetahuan gaib tentang dewa dan wahyu dewa dan untuk mengetahui ada tidaknya suatu wahyu pada diri seseorang yang kewahyon, atau pengetahuan tentang kesejatian hidup dan pengetahuan tentang kesejatian Tuhan (walaupun mungkin pencapaian spiritualnya itu baru sampai sebatas Tuhan sebagai Roh Agung Alam Semesta saja dan "Cahaya"-Nya).

Adanya sinar halo berwarna kuning dan emas menandakan bahwa orangnya sudah menjalani tingkatan pengetahuan spiritual dimensi yang tertinggi, yaitu spiritual ketuhanan, biasanya adalah laku kebatinan dan spiritual dalam rangka pencarian ketuhanan. Laku spiritual ketuhanan ini bukan dijalani dengan mempelajari atau mendalami agama saja, bukan juga dengan hanya membaca / mewirid doa atau amalan doa, tetapi dijalani dengan perbuatan nyata untuk menemukan "Sosok" Tuhan dan keberadaanNya beserta aspek ketuhanan lain di dalamnya dan untuk menelisik kesejatian dan kebenaran dari laku ketuhanannya dengan cara olah kebatinan dan spiritual.

Cahaya
halo di belakang kepala seseorang sangat sulit dilihat, termasuk oleh orang-orang yang bisa melihat gaib, apalagi bila energi halo-nya tipis, tidak tebal, dan belum berwarna. Biasanya pancaran cahaya halo ini hanya dapat dilihat oleh orang yang kemampuan melihat gaibnya sangat tajam dan dalam. Tetapi lingkaran halo yang warnanya tebal mungkin akan lebih mudah dilihat daripada yang sinarnya tipis. Tebal-tipisnya warna cahaya lingkaran halo itu melambangkan kedalaman pengetahuan spiritual  yang dikuasai seseorang sesuai tingkatan dan objek pengetahuannya masing-masing.

Uraian di atas adalah uraian mengenai lambang-lambang pencapaian spiritualitas seseorang.

Yang menjadi kekuatan energi spiritual seseorang adalah kepadatan energi di cakra ubun-ubun kepala dan cakra mahkota. Bila dihubungkan / diperbandingkan dengan mahluk halus, energi kekuatan spiritual ini bukan hanya dapat digunakan untuk menghadapi mahluk halus kelas rendah seperti dedemit dan jin kelas bawah, tetapi juga bisa digunakan untuk berhadapan dengan kekuatan mahluk gaib tingkat tinggi yang lebih daripada buto.



Pada masa sekarang ini ada kesalahpahaman orang tentang istilah cakra mahkota. Dalam banyak tulisan orang menyebut istilah cakra di ubun-ubun kepala sebagai cakra mahkota. Sebenarnya itu keliru. Cakra mahkota dan cakra di ubun-ubun kepala masing-masing adalah cakra-cakra tersendiri yang berbeda, tidak sama.

Di banyak tulisan orang menganggap cakra mahkota adalah cakra di ubun-ubun kepala yang bisa dengan mudah dimiliki sesudah dibuka dengan latihan kundalini dengan cara memasukkan bola energi dari luar ke dalam tubuh melalui kepala. Tapi sebenarnya itu keliru. Mungkin yang baru terbuka adalah cakra di ubun-ubun kepala saja, bukan cakra mahkota. Jadi yang dimaksud orang dengan pembukaan cakra mahkota sebenarnya adalah pembukaan cakra di ubun-ubun saja, bukan cakra mahkota.

Cakra di ubun-ubun kepala adalah cakra energi tubuh yang posisinya di kepala bagian atas (di ubun-ubun).
Sedangkan cakra mahkota adalah cakra energi di atas cakra ubun-ubun.

Cakra mahkota adalah sebentuk energi di atas kepala (di atas ubun-ubun) yang bentuknya seperti corong bersusun 2 yang hanya terbentuk sesudah cakra di ubun-ubun kepala kuat dan padat energinya dan orangnya aktif menjalani dunia spiritual tingkat tinggi.

Cakra mahkota dan halo akan terbentuk dengan sendirinya bila anda sudah mapan bergerak di dunia spiritual, sudah menyelami dunia kegaiban berdimensi tinggi, yang bukan sekedar bisa melihat gaib saja, tetapi juga bisa melihat gaib-gaib berdimensi tinggi, menjalani pengetahuan-pengetahuan yang bersifat kegaiban tingkat tinggi, seperti mengenai kesejatian dewa dan wahyu dewa, kesejatian hidup dan rahasia kehidupan manusia setelah kematian, dan pencarian "Sosok Tuhan". 

Dengan demikian cakra mahkota dan halo itu adalah bentukan energi sesudah cakra di ubun-ubun aktif bekerja dan kuat energinya untuk mengakomodir aktivitas spiritual anda, bukan sesuatu yang alami ada pada setiap orang. Terbentuknya cakra mahkota, halo, warna halo dan lebarnya lingkaran halo akan sejalan dengan kekuatan laku dan pencapaian spiritual anda.

Halo dan cakra mahkota bukan sesuatu yang alami ada pada setiap orang, dan tidak mudah untuk orang bisa memiliki halo dan cakra mahkota. Sekalipun seseorang adalah ahlinya ilmu gaib,
ahlinya tenaga dalam, atau ahlinya kebatinan dan sukmanya sudah berkekuatan tinggi, ahlinya meditasi, yoga, reiki, kundalini, bahkan sudah bergelar Master, belum tentu orangnya punya halo dan cakra mahkota. Meditasi saja dan olah energi saja tidak cukup untuk menjadikan orang memiliki halo dan cakra mahkota. Mungkin baru cakra di ubun-ubun saja yang sudah terbuka, bukan cakra mahkota. Lagipula belum tentu orangnya sungguh-sungguh menyelami dunia spiritual tingkat tinggi.

Halo dan cakra mahkota baru akan terbentuk dan mapan sesudah cakra di ubun-ubun kuat dan padat energinya dan orangnya sudah terbiasa merambah dunia kegaiban tingkat tinggi. Jadi anda perlu bersabar dan harus bertekun ke arah itu kalau anda menginginkannya.



Ada juga yang disebut aura spiritualitas.
Aura spiritualitas juga bukan sesuatu yang alami ada pada setiap orang.

Aura dasar manusia ada 4 macam, yaitu :
1. Aura energi tubuh / organ-organ tubuh (dan penyakit),
2. Aura psikologis (dan suasana hati),
3. Aura kejiwaan / kepribadian (lebih bersifat permanen - tidak mudah berubah-ubah),
4. Aura spiritualitas.

Itu adalah aura-aura dasar manusia. Masing-masing aura memiliki arti / perlambang sendiri-sendiri.
Aura-aura lainnya, jika ada, adalah kembangan dari aura-aura itu.
Aura-aura itu lebih mudah dilihat daripada halo dan cakra mahkota.

3 jenis aura yang pertama adalah aura dasar yang alami ada pada setiap orang, tetapi aura spiritualitas tidak.
Aura spiritualitas bukan sesuatu yang alami ada pada setiap orang.
Aura spiritualitas adalah pancaran aura dari roh / sukma seseorang yang sangat menghayati ketuhanan atau yang sudah dalam menjalani laku kerohanian / kebatinan / spiritual ketuhanan (yang bukan sebatas menekuni / mendalami agama saja).

Pada tingkatan dasar aura spiritualitas akan tampak pada aura wajah seseorang yang menghayati ketuhanan. Aura wajahnya akan putih bersih.

Pada orang-orang yang menjalani kebatinan dan spiritual ketuhanan, yang sukma orangnya sudah berkekuatan tinggi dan sungguh-sungguh ia menghayati ketuhanan, seluruh tubuhnya akan memancarkan aura putih terang.
Terlebih lagi pada orang-orang yang mengkondisikan seluruh kekuatan tubuh dan sukmanya pada kebatinan dan spiritual ketuhanan, aura spiritual tubuhnya akan berwarna kuning terang (atau kuning keemasan).

Tetapi aura spiritualitas yang putih bersih atau kuning terang itu bukan berarti orangnya suci dan bersih hatinya, karena bisa saja ia mempunyai pikiran lain yang menyimpang. Aura spiritualitas yang putih bersih atau kuning terang itu adalah aura energi dari kuatnya laku penghayatan ketuhanan seseorang, tetapi orangnya sendiri belum tentu suci bersih hatinya dan menjalankan dengan benar dan tulus semua aspek ketuhanan dalam hidupnya.

Jadi aura spiritualitas itu tidak bisa dijadikan patokan untuk kita menilai kesucian hati. Untuk menilai kesucian hati dan kebersihan hatinya kita harus melihat aura kejiwaan / kepribadiannya (no.3) apakah berwarna putih terang dan bersih ataukah berwarna hitam / gelap ataukah ada kekotoran di dalamnya, karena aura kejiwaan itu berasal dari kejiwaan orangnya dan menggambarkan juga sikap hati dan pikirannya.

Tetapi dalam hal ini kita harus bisa membedakan agama dengan ketuhanan.

Tentang ketuhanan dan orang-orang yang kuat menjalani penghayatan ketuhanan, apapun agamanya, bisa memunculkan aura spiritualitas putih bersih atau kuning terang / keemasan seperti di atas.

Tetapi orang-orang yang kuat pada agamanya, yang orangnya sangat agamis dan tinggi rasa keagamaannya justru bisa memunculkan aura spiritualitas berwarna hitam / gelap di wajahnya bila karena tingginya rasa keagamaannya itu sudah memunculkan rasa jahat di hatinya terhadap orang lain, terutama terhadap orang-orang yang berbeda agamanya. Agamis, tetapi jahat hatinya. Apalagi pada orang-orang yang sangat agamis tetapi menyimpang dari ketuhanan yang benar, yang sudah buta hatinya karena agama, yang orangnya sangat agamis tetapi hati dan pikirannya jahat, penuh kebencian dan permusuhan (dan kelicikan / tipu muslihat jahat), dan orangnya juga senang mengumbar dan menyebarkan rasa jahat, kebencian dan permusuhan. Orang-orang itu bukan hanya sinar wajahnya saja, tetapi seluruh tubuhnya juga akan beraura hitam gelap. Hawa aura energinya sama dengan mahluk halus golongan hitam.



Berikut ini Penulis menuliskan tips praktis latihan memperkuat energi kebatinan dan spiritual yang kekuatannya dipusatkan di kepala.

Dalam proses awal laku kebatinan-spiritual, orang memusatkan perhatiannya secara batin, mengedepankan rasa dan kebatinannya pada suatu objek tertentu yang menjadi perhatiannya. Pada proses selanjutnya orang itu memusatkan perhatian batinnya di kepala, mempertegas apa yang ada di "awang-awang", menindaklanjuti ide / ilham dan bisikan gaib / wangsit untuk mempelajari lebih lanjut kesejatian spiritual dari objek yang menjadi perhatiannya itu sampai kepada aspek hakekat kesejatiannya.

Selanjutnya berdasarkan semua objek perhatian yang sudah dikuasai
pengetahuan dan kesejatiannya itu dengan mendayagunakan aliran ide / ilham sebagai sumber inspirasinya ia akan melanjutkan pencariannya kepada objek-objek pengetahuan selanjutnya, ke dimensi spiritual yang lebih tinggi lagi.
Karena itu kebanyakan laku kebatinan dan spiritual seseorang akan menciptakan suatu kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya tinggi bagi orang kebanyakan yang mengantarkannya menjadi seorang yang linuwih dan waskita.


Dalam tulisan berjudul  Menayuh Keris  dan   Olah Rasa dan Kebatinan.  Penulis sudah menuliskan langkah-langkah praktis olah rasa dan melihat gaib secara batin. Setelah dalam latihan itu anda dapat menerima gambaran sesosok mahluk halus, kemudian fokuskan batin anda (memfokuskan batin, bukan pikiran) untuk mempertegas gambaran sosok wujud halusnya sampai dapat terlihat sosok wujudnya secara lebih mendetail. Kalaupun anda tidak bisa melihat sosoknya secara mendetail, minimal anda bisa tahan kuat lama tidak putus berfokus batin kepada sosok halusnya itu, jangan sekelebatan saja (lebih baik sambil diajak berkomunikasi).

Dengan cara itu saja anda akan bisa merasakan beban yang berat di kepala (di dahi / mata dan di ubun-ubun), yang jika sudah terlatih dan terbiasa nantinya kekuatan energi di kepala (cakra di dahi dan di ubun-ubun kepala) akan meningkat kekuatannya.

Kekuatan dan kepadatan energi di kepala itu pada tingkatan tertentu yang tinggi akan memunculkan suatu gambaran gaib lingkaran halo (aura energi) yang tebal-tipisnya auranya dan lebar-sempitnya lingkaran halo itu akan sesuai dengan pancaran aura energi dari kekuatan energi cakra di kepala anda (tetapi gambaran halo itu belum berwarna).


Jika anda mampu fokus lama pada sosok-sosok halus tingkat tinggi, seperti bangsa jin yang kekuatannya tinggi atau sesosok halus yang berdimensi tinggi seperti dewa, maka gambaran halo di kepala anda akan mulai menampakkan warna sejalan dengan kemampuan anda fokus pada hal-hal gaib yang berdimensi tinggi.


Cara lainnya adalah dengan cara mendeteksi dan melihat gaib pada orang-orang yang di dalam tubuhnya, di dalam badannya atau di dalam kepalanya, ada ketempatan sesosok mahluk halus, baik itu bangsa jin yang sosoknya berbulu hitam tinggi besar, bangsa jin yang sosoknya seperti manusia laki-laki kekar bertelanjang dada, sukma (arwah) manusia bapak-bapak atau ibu-ibu, atau jenis sosok-sosok halus lainnya.

Mahluk halus yang berdiam di dalam tubuh manusia, di dalam badan atau di dalam kepala, biasanya sulit untuk dilihat aslinya sosok wujudnya. Biasanya mereka akan sengaja menipu, memberikan gambaran ilusi / halusinasi dan ilham / bisikan gaib yang menyesatkan orang-orang yang berusaha mendeteksinya. Karena itu sudah umum bila orang-orang yang dikatakan mengerti gaib akan mengatakan bahwa orang-orang yang ketempatan mahluk halus di dalam tubuhnya itu sebagai memiliki sesosok gaib penjaga, dikatakannya berwujud harimau, prajurit, laki-laki ksatria, atau dikatakan sebagai khodam leluhur, dsb. Padahal jika benar melihatnya, sosok-sosok halus yang disebutkannya itu sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah ilusi / halusinasi dan bisikan gaib fiktif. Orangnya sudah tertipu.

Karena itu pada kasus orang-orang yang ketempatan mahluk halus, jika keberadaan mahluk halusnya bersifat negatif / mengganggu, jarang sekali ada orang yang mampu menanggulanginya, karena deteksiannya sendiri tidak benar (disesatkan / ditipu). Apalagi jika pelakunya adalah dari jenis sukma manusia, kebanyakan sifatnya menjadi kegaiban tingkat tinggi, karena banyak di antara sukma-sukma itu yang berkesaktian gaib tinggi, ditambah lagi bila mereka juga menutupi keberadaannya dengan sejenis ilmu halimunan yang membuat keberadaan mereka semakin tersamarkan. Apalagi jika mereka juga menarik masuk mahluk halus lain untuk menutupi keberadaan mereka di dalam tubuh manusia.

Mahluk halus yang menjadi khodam pendamping seseorang biasanya tidak sulit untuk dilihat, tetapi yang berdiam di dalam tubuh seseorang biasanya sulit sekali untuk dilihat wujud sosok aslinya. Ini bisa menjadi latihan untuk kita mendeteksi dan menegaskan sosok wujud mahluk halusnya, menjadi latihan fokus penglihatan gaib pada kegaiban tingkat tinggi (tapi tidak terlalu tinggi). Dengan cara latihan ini juga kita akan bisa merasakan beban yang berat di mata / kepala. Tetapi dalam melakukannya sebaiknya hati-hati. Lakukanlah dengan sopan.


Contoh tokoh manusia yang telah menekuni dunia kebatinan dan spiritual tingkat tinggi adalah Budha Gautama, dengan lingkaran halo berwarna kuning dan tepi lingkarannya berwarna emas. Budha Gautama adalah seorang bangsawan yang telah meninggalkan keduniawiannya untuk menjalani panggilan hidup sebagai seorang spiritualis yang akan menerangi orang lain agar menjadi lebih baik kualitas kepribadiannya sebagai manusia. Seorang spiritualis sejati, yang karena panggilan hidupnya telah menjalani berbagai macam laku prihatin dan tirakat dan telah meninggalkan semua pamrih keduniawian untuk mencapai tujuannya. Beliau telah mencapai tahapan "Pencerahan" setelah mengenal sifat-sifat Tuhan dari "Cahaya" -Nya dan karenanya kemudian juga mengetahui banyak rahasia kehidupan, menjadi seorang yang "Tercerahkan" dan ia mendedikasikan dirinya sesuai panggilan hidupnya.

Sesuai pencapaiannya itu juga segala keilmuan kesaktian kanuragan, kebatinan dan spiritualnya menjadi seperti "bertumbuh-bertambah", karena beliau telah menguasai sisi filosofis / kesejatian dari keilmuannya, menjadi seorang yang digdaya, linuwih dan waskita, jiwa dan raganya. Karenanya, beliau menjadi seorang yang memiliki kesaktian "super" dibandingkan manusia lain, semasa hidupnya di dunia maupun sukmanya sekarang di alam roh. Dan dedikasinya pada panggilan hidupnya itu telah menjadikannya seorang tokoh manusia yang memiliki hikmat kebijaksanaan kesepuhan yang digunakannya untuk menerangi dan mengayomi orang lain.

Dewi Kuan Im adalah salah satu dewa yang telah memberinya wahyu besar keilmuan dan spiritual, dan beliau mengetahui itu. Karena itu beliau sangat menghormati sang Dewi.



   Meditasi dan Energi


Meditasi, semadi, tapa brata, merenung, menyepi, dsb, adalah bentuk-bentuk laku yang sangat umum dilakukan oleh orang-orang yang sedang menekuni suatu laku kebatinan dan spiritual.

Laku meditasi adalah salah satu bentuk laku yang banyak dijalani oleh orang-orang di dunia spiritual, tetapi karena kesalahpahaman orang kemudian dianggap kalau ia ingin belajar spiritual maka ia harus latihan meditasi, dan kalau orang sudah latihan meditasi, maka dianggap ia sudah menekuni olah spiritual.

Tapi sebenarnya spiritual dan olah spiritual lebih dari itu. Meditasi saja tidak cukup untuk orang dianggap sudah belajar spiritual. Dan jangan dianggap bahwa jika kita sudah latihan meditasi maka berarti kita juga sudah latihan spiritual. Meditasi saja tidak cukup signifikan menambah spiritualitas kita. Bahkan seorang master ahli meditasi sekalipun belum tentu ia memiliki spiritualitas yang tinggi.

Di negara India dan sekitarnya, yang sampai sekarang masih tetap menjadi wilayah dengan budaya kebatinan dan spiritual tertinggi nomor 1 di dunia, ada banyak sekali ajaran tentang keilmuan kebatinan dan spiritual. Salah satunya adalah ajaran membangkitkan dan mengolah energi kundalini dengan olah kebatinan dan spiritual yang banyak dilakukan orang dengan cara yoga dan meditasi. Dalam pembelajaran meditasi kundalini diajarkan cara membuka cakra-cakra tubuh, dari cakra yang paling dasar sampai cakra di ubun-ubun (bukan cakra mahkota).

Keilmuan membuka cakra-cakra tubuh dan pengendalian kundalini itu diajarkan sebagai pelajaran tingkat tinggi dan tingkat lanjut untuk orang-orang yang sebelumnya sudah menjalani keilmuan kebatinan / spiritual dan tenaga dalam / prana / kundalini / kanuragan, sebagai pelengkap, sebagai laku tingkat tinggi untuk melipat-gandakan besarnya energi tubuh, bukan seperti sekarang yang diajarkan kepada orang-orang awam yang belum mengerti apa-apa tentang kundalini dan kebatinan.

Tujuan utama pembukaan cakra-cakra tubuh tersebut adalah untuk mempermudah orangnya mengolah energi yang dihasilkan oleh masing-masing cakra tubuh untuk kesehatan dan vitalitas, juga untuk menambah kekuatan tenaga dalam / kundalini, kesaktian gaib dan untuk tujuan olah spiritual.

Pembukaan cakra-cakra tersebut tidak dikhususkan untuk bisa melihat gaib. Dengan pembukaan cakra-cakra itu, sudah terbukanya cakra di dahi tidak berarti orangnya langsung bisa melihat gaib, dan dengan sudah terbukanya cakra di ubun-ubun kepala tidak berarti orangnya langsung mengetahui seluk-beluk alam dunia spiritual. Untuk dapat melihat gaib sugesti pembukaan cakranya haruslah untuk melihat gaib, dan pengetahuan spiritual haruslah dipelajari sendiri berdasarkan proses “pencarian spiritual”.

Orang yang ingin memiliki kemampuan tertentu yang terkait dengan pembukaan cakra-cakra energi tersebut harus datang ke tempat-tempat membuka dan mengolah cakra yang sesuai dengan tujuan niatnya, karena masing-masing cakra tubuh harus dibuka dan diolah dengan cara / sugesti sendiri-sendiri sesuai masing-masing tujuannya.

- Untuk pengolahan energi, maka sugesti membuka dan mengolahnya haruslah untuk tujuan pengolahan energi.

- Untuk melihat gaib, maka sugesti membuka dan mengolahnya haruslah untuk tujuan kemampuan melihat gaib.

- Untuk olah spiritual, maka sugesti membuka dan mengolahnya haruslah untuk tujuan olah spiritual.


Awalnya suatu pengetahuan spiritual dapat diterima dari ajaran orang lain atau dari cerita di masyarakat, tetapi kemudian harus dicari sendiri kebenarannya. Segala kegaiban dan rahasia yang tidak terungkap melalui indera manusia, yang hanya bisa dirasakan secara batin, itulah yang harus dipelajari, dari kegaiban tingkat rendah sampai kegaiban tingkat tinggi. Seberapa kuat ketekunan dan olah spiritual yang dilakukan seseorang akan menentukan tingkat kekuatan spiritualnya (yang ditandai dengan lebar / luas lingkaran halo di belakang kepalanya), dan seberapa dalam dan tingginya dimensi pengetahuan yang telah dicapainya akan menentukan tingkat pengetahuan spiritual yang berhasil dicapainya (yang ditandai dengan warna dari lingkaran halo di belakang kepalanya).

Setelah seseorang dapat mendeteksi dan membuktikan sendiri kebenarannya, barulah dia benar menguasai laku dan pengetahuan spiritual itu. Cakra di ubun-ubun kepala akan terbuka dan menguat dan cakra mahkota akan terbentuk dengan sendirinya mengikuti perkembangan spiritual seseorang. Jadi dengan telah terbukanya cakra ubun-ubun tidak berarti seseorang langsung mengetahui seluk-beluk alam spiritual  (misalnya yang dibuka dengan cara meditasi kundalini). Tetapi dengan telah terbukanya cakra di ubun-ubun akan mempermudah laku seseorang menyerap dan menghimpun intisari energi alam spiritual dan mempermudah mempelajari dunia spiritual.

Dapat diibaratkan seperti seseorang yang sedang mencari makanan untuk dimakannya. Setelah ditemukannya makanan itu dan dia akan memakannya, maka otomatis mulutnya akan terbuka dengan sendirinya untuk ia memakan makanan itu. Berbeda dengan orang yang sejak awal sudah membuka mulutnya. Sekalipun mulutnya sudah terbuka, tidak secara otomatis makanan akan masuk sendiri ke dalam mulutnya dan ia bisa kenyang. Makanan itu harus dicarinya lebih dulu. Setelah ditemukannya, barulah ia memasukkannya ke dalam mulutnya.

Tanda-tanda cakra mata ketiga di dahi untuk tujuan melihat gaib mulai terbuka adalah ketika pada saat meditasi mata terpejam seolah-olah kita seperti melihat kabut putih tebal. Sesudah itu akan kelihatan gelap gulita. Sesudah itu barulah, dengan mata tetap terpejam, kita mulai bisa melihat sosok-sosok halus di dalam kegelapan. Kalau sudah sering melatihnya dan sudah terlatih nantinya sosok-sosok halus itu akan tampak lebih jelas dan kita akan dapat juga melihatnya dengan mata terbuka, tidak lagi harus dengan mata terpejam.

Tanda-tanda cakra di ubun-ubun kepala mulai terbuka adalah ketika kita memikirkan atau menerawang gaib akan terasa ada tekanan di ubun-ubun kepala. Tapi itu baru cakra di ubun-ubun kepala. Di atas kepala masih ada cakra mahkota. Cakra mahkota akan terbentuk dan terbuka dengan sendirinya mengikuti perkembangan spiritual seseorang setelah cakra di ubun-ubun kepala terbuka dan kuat energinya.

Cahaya dan bola energi bisa dibuat dengan visualisasi pikiran, tapi hanya bisa dilihat secara gaib. Itulah yang diajarkan dalam pelatihan meditasi kundalini. Dalam pembelajaran meditasi kundalini energi yang terbentuk digunakan untuk membuka cakra-cakra tubuh yang kemudian dapat juga digunakan untuk menambah kekuatan tenaga dalam / kanuragan atau untuk menambah kekuatan kebatinan / spiritual. Sebenarnya itu pelajaran tingkat tinggi, pelajaran tingkat lanjut, yang hanya diajarkan kepada seseorang yang sudah menguasai olah kanuragan, tenaga dalam / kundalini / prana dan kebatinan. Jadi seperti sekarang diajarkan kepada masyarakat umum dan awam, seringkali pesertanya bingung energinya mau digunakan untuk apa ? 

Dalam menurunkan energi di dalam meditasi kundalini dan reiki sugestinya menggunakan olah pikiran, sehingga energinya bersifat tajam. Energi-energi yang tajam tidak boleh diserap ke dalam tubuh karena energi tajam itu tidak selaras dengan energi alami tubuh manusia. Energi yang tajam hanya baik untuk digunakan keluar, seperti untuk kekuatan pukulan atau untuk membunuh sel-sel kanker, atau untuk menyerang mahluk halus, tidak untuk dimasukkan / diserap ke dalam tubuh. Jika energi tajam itu dimasukkan dan diserap ke dalam tubuh maka itu bisa menimbulkan efek negatif seperti contoh kasus kundalini syndrome yang sulit disembuhkan, bahkan oleh gurunya sendiri.

Sedangkan di dalam semua metode meditasi menurunkan energi Penulis menekankan digunakannya sugesti yang berasal dari batin dan rasa, kekuatan rasa, bukan pikiran, sehingga energi yang diturunkan besar dan padat, tetapi tidak tajam, selaras dengan energi tubuh, boleh dimasukkan ke dalam tubuh, boleh juga diturunkan untuk orang lain (baca :  Meditasi Energi).

Setelah mengetahui perbedaannya seperti tertulis di atas, jika para pembaca berniat menjalankan metode-metode meditasi dari Penulis diharapkan supaya bisa menerapkan kekuatan rasa. Kekuatan pikiran hanya digunakan untuk bervisualisasi saja membentuk energi tertentu yang sifatnya tidak diserap tubuh, misalnya untuk membuat bola cahaya, pagaran gaib, sinar laser, dsb, yang itu tidak untuk dimasukkan ke dalam tubuh, supaya tidak terjadi efek resiko dari adanya kesalahan prosedur.

Mengenai sisi plus-minus pembukaan cakra tubuh silakan dibaca tulisan berjudul Kanuragan dan Tenaga Dalam.


Laku spiritual biasanya dijalani orang bersama-sama atau merupakan kelanjutan dari laku kebatinan, sehingga olah spiritual itu sebenarnya bukanlah suatu jenis ilmu yang berdiri sendiri yang dipelajari secara tersendiri, tetapi sebenarnya berhubungan dan menjadi satu kesatuan dengan olah kebatinan dan merupakan tindak lanjut dari laku kebatinan. Dengan demikian seseorang yang menjalani laku spiritual biasanya adalah bagian dan kelanjutan dari laku kebatinannya dan seseorang yang menjalani laku kebatinan biasanya juga menguasai tingkat spiritualitas tertentu sesuai pencapaian spiritualnya pada bidang interest-nya masing-masing.

Begitu juga dalam laku melatih energi kekuatan spiritual, biasanya juga dijalani dengan kombinasi kebatinan. Pada jaman dulu orang-orang yang
sedang khusus menjalani laku kebatinan dan spiritual (olah batin) biasanya akan melakukannya dengan jalan menyepi, berpuasa, semadi, atau tapa brata. Selain dilakukan untuk tujuan mendapatkan pencerahan spiritual yang terkait dengan kesaktian atau dunia spiritual, kekuatan dari laku mereka itu juga akan menambah tinggi kekuatan gaib kebatinan dan spiritual mereka, sekaligus juga menambah tinggi kekuatan kesaktian kanuragan mereka.

Di dalam halaman-halaman yang bertema Meditasi Energi atau dalam halaman berjudul  Pembersihan Gaib 4, Penulis sudah menuliskan beberapa contoh metode kebatinan-spiritual yang sudah sangat disederhanakan dalam bentuk meditasi energi dengan sugesti kebatinan-spiritual. Jika seseorang menguasai pemahaman tentang olah energi, olah kebatinan dan olah spiritual, maka energi yang berhasil dihimpun dari laku meditasi kebatinan spiritual itu bisa diolah menjadi kekuatan kanuragan, kekuatan kebatinan atau kekuatan spiritual, juga bisa diolah menjadi kekuatan roh / sukma yang berasal dari sugesti dan laku kebatinan / spiritual.

Semua laku yang bersifat kebatinan dan spiritual di dalamnya selalu mengedepankan penghayatan, baik itu laku yang bersifat kerohanian / ketuhanan / keagamaan, maupun yang bersifat keilmuan, bukan kepintaran berpikir dan berlogika, bukan sebatas terlaksananya bentuk laku formalitasnya, bukan juga mengedepankan amalan doa dan mantra. Kualitas seseorang atas penghayatan dan penjiwaan itu, selain ketekunannya, akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang mampu diraihnya dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Karena itu jika seseorang menjalani suatu laku yang bersifat
kebatinan dan spiritual, baik kerohanian maupun keilmuan, selalu dituntut supaya orangnya memahami tujuan dari lakunya itu dan mampu menghayati lakunya, sehingga jika orang itu mengalami kesulitan dalam ia menjalani lakunya itu kemungkinan penyebabnya adalah karena ia belum bisa menghayati lakunya (atau belum tahu tujuan dari lakunya).

Jika seseorang sudah bisa menghayati lakunya, maka ia akan menemukan suatu rasa yang bersifat khusus, yang itu hanya ada dalam lakunya itu saja, tidak ada dalam aktivitasnya yang lain, yang kemudian setelah semakin didalami dan matang, maka itu akan menjadi kekuatan rasa.

Kekuatan rasa setelah semakin didalami dan matang, jika seseorang menerapkan itu dalam semua aktivitas kehidupannya maka semua perbuatan-perbuatannya akan mengandung suatu kegaiban yang akan bisa dirasakan perbedaan kegaibannya dibanding jika ia melakukan perbuatan yang sama dengan sikap batin yang normal saja.

Pada tahap selanjutnya untuk ia melakukan suatu perbuatan dalam lakunya itu ia melakukannya dengan cara bersugesti, yaitu mengkondisikan sikap batinnya secara khusus , mendayagunakan penghayatan rasa untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, mendayagunakan kekuatan rasa.

Penghayatan, olah rasa dan olah sugesti adalah dasar-dasar dalam keilmuan kebatinan dan dpiritual, selalu ada dalam semua laku yang bersifat kebatinan dan spiritual yang itu harus lebih dulu bisa dikuasai oleh para pelakunya sebelum mereka menapak ke tingkatan yang lebih tinggi.


Karena itu jika para pembaca ingin mempelajari dan menjalani suatu laku yang bersifat kebatinan dan spiritual, maka poin-poin di atas harus lebih dulu dimengerti dan harus diterapkan dalam lakunya itu supaya lakunya itu lebih bisa diharapkan keberhasilannya dibanding jika
poin-poin itu belum dikuasai. Selain ketekunan anda, kualitas penghayatan dan penjiwaan anda itu akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang mampu anda raih dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.



Dalam laku meditasi energi, energi yang berhasil dihimpun dari alam (energi potensial) jika sudah diolah menjadi energi kekuatan kanuragan, atau kekuatan kebatinan / spiritual, kemudian akan menjadi berbeda sifat dan karakteristiknya, tidak sama lagi dengan energi aslinya yang dari alam, mengikuti bentuk pengolahannya.

Energi alam sangat besar dan berlimpah, tetapi sifatnya halus, tidak padat dan tidak tajam.

Jika energi alam itu hanya dihimpun / ditampung saja di dalam tubuh, maka kemudian akan menjadi energi potensial yang sewaktu-waktu bisa digunakan dalam aktivitas tertentu dengan kekuatan rasa, atau secara alami kekuatannya akan muncul sendiri tanpa disengaja, misalnya ketika sedang emosi atau sedang berkelahi. Tetapi jika seseorang sudah menguasai teknik penggunaan energi, maka energi potensial itu akan dapat digunakannya untuk banyak tujuan penggunaan energi, bisa untuk kekuatan kanuragan, untuk pengobatan gaib, membuat pagaran gaib, pembersihan gaib atau untuk menyerang mahluk halus sampai yang kekuatannya setingkat dengan energi potensial itu.

Jika energi potensial itu berhasil disatukan dengan energi tubuh, akan menjadikan tubuh seseorang terasa bertenaga, padat dengan energi. Metode ini berguna sekali untuk orang-orang yang aktif secara fisik, para pesilat, olah ragawan, dsb, yang jika mahir menguasai tekniknya akan bisa dengan seketika menyerap energi alam untuk menambah kekuatannya sehingga tubuhnya terasa padat bertenaga, dan untuk mengisi kembali energinya yang habis terkuras (recharge), dan untuk membersihkan tubuh dari sampah-sampah energi sisa-sisa pembakaran tubuh dan menggantinya dengan energi baru yang bersih.

Jika energi hasil laku meditasi energi itu berhasil disatukan dengan tenaga dalam, energinya dialirkan mengisi cakra-cakra energi tubuh, yang sesudahnya diolah kembali bersama dengan olah gerak dan olah nafas untuk menyatukan energinya dengan energi tenaga dalamnya, akan bisa signifikan memperbesar kandungan energi tenaga dalam seseorang.

Jika energi hasil laku meditasi energi itu berhasil disatukan dengan kekuatan kebatinan, energinya akan menjadi besar dan padat, diolah dengan olah kebatinan yang mengedepankan kekuatan rasa di dada (dan visualisasi). Selain murni untuk kemampuan kebatinan, energi kebatinan ini juga dapat diolah untuk tujuan mempertinggi kekuatan kanuragan seseorang (dikombinasikan dengan kekuatan tenaga dalam atau bahkan menggantikan kekuatan tenaga dalam), disatukan dengan kekuatan kebatinan dan kanuragan, misalnya dengan olah laku dan amalan lembu sekilan seperti dicontohkan dalam tulisan berjudul Sedulur Papat Kalima Pancer.

Jika ditujukan untuk menaikkan kekuatan sukma, maka selama menurunkan energinya kondisikan batin untuk kita sebagai pancer menyerap langsung energinya dan sugestikan para sedulur papat untuk bersama-sama menyerap langsung energi yang turun.

Jika energi hasil laku meditasi energi itu diolah dengan laku dan sugesti spiritual, energinya akan menjadi halus tetapi tajam, diolah dengan olah spiritual yang mengedepankan kekuatan pikiran (dan visualisasi). Kekuatan spiritual ini lebih banyak bersifat kekuatan gaib yang tajam yang dapat disalurkan melalui kekuatan pikiran.

Dalam laku meditasi tersebut di atas kekuatan energi potensial di dalam tubuh bisa diolah dengan sugesti kebatinan supaya menjadi energi yang besar dan padat, menjadi kekuatan kebatinan atau menjadi kekuatan fisik / kanuragan, atau diolah dengan sugesti spiritual supaya menjadi energi gaib yang tajam.

Contoh lain, jika energi itu dimaksudkan untuk dijadikan pagaran gaib, dengan sugesti kebatinan diolah supaya energi
nya membentuk bola pagaran yang besar dan padat, dan dengan sugesti spiritual diolah supaya energi pagarannya menjadi tajam, sehingga kesudahannya energi pagarannya akan menjadi besar, padat dan tajam, yang hasilnya akan jauh berbeda dengan pagaran energi yang hanya berbentuk bola atau perisai energi saja, tetapi energi pagarannya tidak besar, tidak padat dan tidak tajam, yang akan mudah ditembus walaupun oleh serangan gaib yang rendah kekuatannya.


Dalam latihan resmi pengolahan tenaga dalam yang menggunakan teknik olah pernafasan tenaga dalam, dasar asumsinya adalah mengisi tubuh dengan energi dari olah gerak pernafasan, dimasukkan / dihisap ke dalam tubuh, ditekan / dipompa ke dalam cakra-cakra tenaga dalam untuk merangsang / membangikitkan / menambah besar kandungan isi tenaga dalam di cakra-cakra yang terkait. Ini adalah teknik dasar pengolahan tenaga dalam yang diterapkan untuk para pemula.

Pada tingkat keilmuan yang tinggi orang melakukannya tidak lagi melulu dengan teknik pernafasan dan olah gerak, tetapi dengan laku kebatinan dan spiritual, dengan teknik meditasi energi dan doa-doa sugesti, menyepi, berpuasa dan bertapa brata, untuk bisa lebih efisien dan efektif memasukkan energi yang besar ke dalam tubuhnya, sesudah itu barulah disempurnakan penyatuannya dengan tenaga dalamnya dengan olah pernafasan dan olah gerak.

Dengan demikian teknik meditasi energi itu adalah teknik keilmuan tingkat tinggi yang jika seseorang belum memiliki pemahaman tentang teknik olah energi, maka efektivitasnya dalam memperbesar tenaga dalam seseorang atau untuk keperluan kanuragan, atau untuk kekuatan tubuh, menjadi terbatas. Begitu juga jika seseorang belum memiliki pemahaman tentang olah batin dan olah spiritual dan keilmuannya, maka efektivitas penggunaannya dalam keilmuan kebatinan dan spiritual menjadi terbatas. Karena itu metode meditasi energi itu bukanlah suatu ilmu / teknik yang berdiri sendiri, tetapi adalah pelajaran tingkat tinggi dan tingkat lanjut dari keilmuan lain yang menjadi dasarnya, bersifat menambahkan efektivitasnya, bukan menggantikan. Karena itu para pelakunya diharapkan sudah mengikuti pelatihan tenaga dalam, atau sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang olah energi, olah kebatinan dan olah spiritual, supaya laku meditasi itu bisa efektif secara signifikan meningkatkan kapasitas kemampuan seseorang.


Semua laku meditasi merupakan laku tingkat tinggi yang biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah "senior" dalam keilmuannya, bukan untuk yang masih "yunior". Jika laku meditasi dilakukan untuk tujuan kebatinan / spiritual, sebelumnya
orangnya harus sudah memiliki pemahaman tentang tujuan meditasinya dan proses lakunya, sehingga laku meditasinya menjadi lebih terarah, lebih fokus kepada tujuannya, supaya menjadi lebih efektif dalam mencapai apa yang menjadi tujuan dari meditasinya, tidak mengambang mengawang-awang.

Semua laku meditasi merupakan laku tingkat tinggi yang untuk melakukannya seseorang diharapkan sudah cukup "sepuh" secara psikologis untuk bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya, untuk bisa mengendapkan gelombang energi tubuh, pikiran dan perasaan, untuk bisa semuanya diselaraskan dalam laku meditasinya. Jika itu belum bisa dikuasai, maka akan sulit seseorang berhasil menjalankan suatu laku meditasi, apalagi mencapai hasil dari tujuannya bermeditasi.

Bukan berarti laku meditasi hanya cocok dilakukan oleh orang-orang yang sudah cukup sepuh psikologisnya, justru laku meditasi itu bisa menjadi sarana untuk belajar membentuk psikologis yang sepuh, untuk belajar mengendalikan dan mengendapkan gelombang energi tubuh, pikiran dan perasaan. Tetapi untuk bisa mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan meditasinya, maka orangnya harus lebih dulu bisa mengkondisikan kebatinan dan spiritualnya, pikirannya, perasaannya, kondisi psikologisnya,
menyelaraskannya dengan kondisi yang disyaratkan dalam meditasinya.

Yang perlu dipahami jika seseorang ingin melakukan meditasi adalah sebelumnya
orangnya harus sudah tahu, memiliki pemahaman tentang tujuan meditasinya dan proses lakunya, sehingga laku meditasinya menjadi lebih terarah, lebih fokus kepada tujuannya, supaya menjadi lebih efektif dalam mencapai apa yang menjadi tujuan meditasinya, tidak mengambang mengawang-awang. Semua proses lakunya harus dijalankan dengan benar, jangan ada kesalahan, jangan menyimpang, dan jangan dicampurkan dengan metode meditasi lain yang berbeda supaya lakunya bermeditasi tidak mendatangkan efek resiko dari adanya kesalahan prosedur.

Biasanya tatalaku dan prosedur, tahapan-tahapan laku dalam suatu laku meditasi sudah disusun sistematis sedemikian rupa untuk bisa dipelajari dan dipraktekkan sekalipun oleh orang-orang yang masih awam dan tidak akan mendatangkan resiko / masalah selama prosedur-prosedur dan tahapan lakunya dijalankan dengan benar. Karena itulah tatalaku dalam bermeditasi (termasuk tatalaku dalam latihan keilmuan yang lain) seringkali oleh para pelakunya atau pesertanya dianggap tidak praktis, bertele-tele, dsb. Tetapi sebaiknya aturan itu tetap dihormati. Bagaimanapun juga itu adalah prosedur standar yang sudah disusun sedemikian rupa supaya seseorang aman melakukannya. Jika
orangnya benar sudah menguasai proses lakunya dan benar sudah berhasil mencapai tujuan dari meditasinya, barulah ia boleh melakukan improvisasi untuk menambah kepraktisan dan efektivitas dari laku meditasinya, atau diimprovisasikan supaya bisa juga digunakan untuk tujuan meditasi yang lain.




Ada pertanyaan :

 A :     Ada yang ingin saya tanyakan kepada bapak dan untuk menindaklanjuti pembelajaran kedepannya
nanti, saya masih muda dan awam dalam hal ini,
saya minta saran dari bapak untuk kedepannya nanti metode apa yang harus saya jalankan.
untuk saat ini setruman di tangan terasa semakin kuat, badan terasa ringan dan rokok terasa nikmat.

Dalam laku meditasi untuk masuk suasana hening patokannya gimana ya,
yang saya alami terlalu hening saya malah tak sadar atau tertidur tidak bisa memasukkan sugesti.
di lain waktu terlalu kuat bersugesti malah terasa ngambang berputar2 di pikiran saja.
di lain waktu pernah juga merasakan sugesti yang masuk tapi tidak di semua laku meditasi.


 J :     Yang bapak lakukan meditasi apa ?

 A :     belajar menurunkan energi pak .

 J :      Masing-masing meditasi ada tujuannya sendiri2 dan ada langkah2 pelaksanaannya sendiri2.
Sebaiknya semua meditasi dilakukan dgn mengikuti petunjuk panduannya masing2 dgn benar, jangan dicampur-adukkan, karena masing2 meditasi tujuan dan pelaksanaannya tidak semuanya sama.

Tidak semua meditasi harus memejamkan mata dan mengheningkan cipta.
Meditasi menurunkan energi tidak harus memejamkan mata dan mengheningkan cipta.
Mata boleh tetap terbuka, tetapi santai seperti orang melamun
Fokuskan batin anda untuk membayangkan suatu kondisi, jangan mengambang mengawang-awang.




-------------



Seorang pembaca mengirimkan pertanyaan lewat email :

From     :  Nikoagus S.

To         :  javanese2000

Date      :  Tue, Nov 22, 2011

Bagaimanakah cara olah spriritual agar dapat mengetahui hakekat kesejatian alam semesta ?
Apakah dengan tirakat ?

 

 Jawab :

Seseorang yang sudah mempelajari dunia spiritual, termasuk yang digelari master spiritual sekalipun, tidak berarti dia mengetahui segala-galanya. Tentang aspek pengetahuan apa yang diketahuinya dan akan menjadi sejauhmana pengembangan spiritualitasnya akan tergantung pada bidang interest-nya masing-masing. Penulis juga tidak bermaksud sok tahu untuk menjawab pertanyaan anda tersebut di atas.

Untuk kita yang hidup di jaman sekarang ini, apalagi sehari-harinya kita memiliki kesibukan sendiri-sendiri, pengetahuan spiritual biasanya berasal dari pencarian pribadi. Pengetahuan spiritual tidak melulu harus dipelajari dengan mengikuti suatu perkumpulan kebatinan / spiritual, dan tidak harus dalam bentuk pengetahuan khusus atau diperoleh dengan cara meditasi khusus, atau menyepi menjadi seperti seorang panembahan / pertapa jaman dulu, karena bisa juga berasal dari perenungan-perenungan.

Bila suatu objek atau pengetahuan tidak dapat dibuktikan kebenarannya, termasuk dengan cara kebatinan / spiritual maupun dengan cara-cara modern, maka pengetahuan itu hanyalah sebuah cerita, legenda, teori (termasuk teori ilmiah), atau mitos dan tahayul, atau dogma dan doktrin, dan pengkultusan, dan atas hal itu orang hanya mempunyai 2 pilihan saja, percaya atau tidak percaya, atau diabaikan saja.

Tetapi prinsip dasar-nya sama. Orang harus memiliki suatu kepekaan / kebijaksanaan / kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang benar-benar ada, tetapi tidak tertangkap indera manusia, hanya bisa dirasakan dengan batin, dengan rasa.  Itulah yang harus dipelajari dan harus bisa dibuktikan sendiri kebenarannya. Dan dibutuhkan suatu kebijaksanaan untuk dapat memisahkan mana yang sudah berupa kebenaran dan mana yang masih berupa mitos, kepercayaan, dogma dan doktrin, dsb, yang masih harus dibuktikan dulu kebenarannya. Dan juga dibutuhkan suatu kebijaksanaan untuk tidak mempertentangkan apa yang diketahuinya dengan pandangan dan pendapat orang lain yang tidak mempunyai kemampuan untuk membuktikan kebenarannya, sehingga baginya semuanya itu akan menjadi suatu pengetahuan dan kebijaksanaan pribadi yang bersifat kesepuhan.

Dalam proses pembelajaran kebatinan dan spiritual, yang pertama dan yang utama harus dimiliki dahulu adalah kepekaan rasa / batin  (baca: Olah Rasa & Ilmu Kebatinan), bukan kemampuan melihat gaib, bukan juga pembukaan cakra mahkota. Kepekaan rasa itu juga yang nantinya akan berlanjut dengan ide-ide atau ilham-ilham jawaban yang mengalir dalam pikiran seseorang, yang akan menginspirasi dan menuntunnya dalam proses pencarian dan proses pembuktian kebenarannya.

Setelah dengan kepekaan rasa seseorang dapat merasakan sesuatu yang bersifat "gaib" (karena tidak dapat diinderai dengan panca indera ataupun dengan alat modern) barulah kemudian dipertegas lagi dengan cara melihat gaib, atau dengan cara-cara lain kebatinan dan spiritual. Kalau kita sudah terbiasa mengasah kepekaan rasa batin, biasanya sukma kita juga akan bekerja, sehingga walaupun tidak bisa melihat gaib, tetapi kita dapat juga mendeteksi keberadaan sesuatu yang gaib dan bisa terbayang juga sosok wujudnya seperti apa, termasuk sosok-sosok gaib yang berdimensi tinggi. Begitu juga dengan pengetahuan yang sifatnya berdimensi tinggi.

Walaupun tidak harus, tetapi kepekaan rasa dan kemampuan melihat gaib seringkali harus diasah atau dipelajari melalui program-program atau perkumpulan kebatinan / spiritual dan perkumpulan orang-orang yang gemar dengan hal-hal gaib.

Objek pengetahuan yang akan dipelajari bisa didapatkan dari cerita agama, atau cerita misteri alam gaib di masyarakat, atau tentang suatu keilmuan tertentu, atau apa saja dalam kehidupan kita, yang nantinya akan berkembang sendiri sesuai objek interest kita masing-masing. Dalam proses mempelajari kebenaran dan aspek pengetahuan di dalamnya, keberadaan sosok guru sejati akan sangat berguna untuk membantu menuntun ke arah pengetahuan yang benar dan dalam tempo yang lebih singkat, dibandingkan jika harus melakukan pencarian sendiri. Sosok guru sejati ini bisa siapa saja, bisa manusia, bisa khodam ilmu / pendamping, bisa roh-roh leluhur, bangsa jin, dewa, roh sedulur papat, dsb.

Bila kemudian aspek suatu pengetahuan sudah didapatkannya, jika sudah tidak ada lagi sosok guru yang dapat menuntunnya, maka dia harus bergerak sendiri melakukan pencarian ke dimensi pengetahuan yang lebih tinggi. Ketika seseorang sudah sampai pada tahapan ini maka kedekatannya dengan roh sedulur papat akan berguna sekali untuk menuntunnya mencapai pengetahuan yang tidak dapat diketahui sendiri bila hanya mengandalkan kesadaran atau logika berpikir. Para roh sedulur papat akan membantu dengan cara memberikan penglihatan-penglihatan, ide-ide dan ilham tentang suatu objek pencarian atau jawaban atas suatu permasalahan, menjadi sosok Guru Sejati  bagi seseorang.

Bila para guru sejati dapat menuntun kita, atau kita sendiri bersama para sedulur papat, dapat menemukan jalan atau dapat mendeteksi keberadaan Roh Agung Alam Semesta, Roh Tuhan, walaupun mungkin baru sebatas "Cahaya' -Nya saja, berarti kita sudah mencapai awal dari suatu tahapan dimensi spiritual yang tertinggi. Itu adalah awal yang sangat berharga untuk dapat mengetahui kesejatian kehidupan. Apalagi bila kemudian kita dapat Manunggal dengan-Nya  (baca: Olah Roh, Manunggaling Kawula Lan Gusti). Proses ini juga bisa diawali dari kepercayaan agama atau keTuhanan, yang kemudian dibuktikan sendiri kebenarannya, yaitu kebenaran agama dan kebenaran Tuhan, bukan sebatas mendalami agama saja, atau hanya percaya saja pada ajaran agama, berkeras pada agama dan kemudian memaksakan dogma dan doktrin agama. Pengetahuan apapun yang kita peroleh akan menambah hikmat dan kebijaksanaan kita sendiri (baca : Kebatinan Dalam Keagamaan).

Pada jaman sekarang ini objek pengetahuan yang untuk dipelajari tidak harus selalu mengenai alam gaib dan kegaiban, tetapi bisa juga pengetahuan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Dengan kepekaan rasa batin dan ilham jawaban yang mengalir, seseorang akan dapat lebih mudah mencari jawaban dari suatu permasalahan beserta cara-cara pembuktian kebenarannya. Pengetahuan-pengetahuan itu akan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh yang sederhana adalah cerita sehari-hari tentang adanya suatu mahluk hidup yang secara umum disebut kuman (bakteri, virus, amuba), yang sering disebut sebagai penyebab suatu sakit / penyakit, yang sedemikian kecilnya ukuran tubuhnya sehingga tidak dapat dilihat dengan mata kita, hanya dapat dilihat melalui mikroskop.

Bagi kita yang belum pernah melihatnya secara langsung, kita hanya bisa percaya / tidak saja dengan cerita keberadaan kuman itu (sama dengan percaya saja pada ajaran agama atau pada cerita tentang mahluk halus). Walaupun tidak bisa membuktikan sendiri kebenarannya, tetapi kita percaya, karena kita banyak mendengar  cerita kedokteran, juga karena ada bukti-bukti berupa foto-foto gambarnya, tapi tetap saja kita belum melihatnya sendiri. Orang-orang di bidang kedokteran / kesehatan atau petugas laboratorium biologi / mikrobiologi dapat menuntun dan mengajar kita, menjadi guru sejati kita, bila kita ingin melihatnya sendiri dan membuktikan sendiri kebenaran keberadaannya berikut aspek pengetahuan di dalamnya.

Cerita tentang kuman sebagai penyebab suatu sakit / penyakit adalah cerita yang umum di masyarakat, sudah dibuktikan secara logis dengan berbagai macam peralatan modern dan sudah diterima secara luas sebagai sebuah kebenaran. Ini adalah contoh sederhana sebuah dogma dan doktrin pada jaman modern yang pasti kita akan dicemooh bila kita mempunyai pandangan yang berbeda.

Tetapi, apakah itu adalah sebuah kebenaran mutlak ? 

Apakah perlu dikaji lagi kebenarannya ? 

Bila dikritisi lebih lanjut tentang suatu sakit / penyakit yang berhubungan dengan kuman, benarkah kuman itu pasti adalah penyebab awal dari sakit / penyakit itu ?  

Benarkah kuman itu pasti adalah sumber penyebab dari sakit / penyakit, sehingga perhatian dunia kedokteran telah banyak dicurahkan untuk menciptakan obat-obatan untuk menangkal / membunuh keberadaan kuman ini ?

(Mengenai pandangan lain tersebut silakan dibaca tulisan berjudul  Penyebab Awal Sakit-Penyakit).


Bila kita memiliki kebijaksanaan, kita akan dapat menerima pandangan lain walaupun tidak sejalan dengan pandangan umum, yang walaupun mungkin tidak bisa dibuktikan dengan cara-cara modern (karena cara-cara modern juga mempunyai keterbatasan), tetapi mungkin bisa dibuktikan kebenarannya dengan cara lain, atau bisa diterima kebenarannya dengan rasa.  Apapun juga pengetahuan yang kita dapatkan sesudahnya akan menjadi kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan (hanya baik bila hanya kita sendiri yang tahu dan tidak perlu dipertentangkan dengan pandangan dan pendapat orang lain yang tidak sejalan).  

Begitu juga dengan keberadaan mahluk halus di sekitar kita, yang tidak dapat diinderai dengan mata kita. Bila secara rasa batin kita dapat merasakan keberadaannya, kita dapat memperjelasnya dengan cara penglihatan gaib, atau dengan cara kebatinan / spiritual yang lain. Kemampuan melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaib akan sangat berguna untuk melihat sendiri kebenaran keberadaannya. Kemampuan melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaib juga akan sangat berguna untuk mendapatkan sosok-sosok gaib yang dapat menuntun kita untuk mengetahui hal-hal gaib yang akan sulit kita ketahui bila melakukan pencarian hanya sendirian saja, apalagi mengenai pengetahuan gaib yang sifatnya berdimensi tinggi. 

Begitu juga bila kita memiliki kepekaan batin yang tinggi, yang kita bisa merasakan sesuatu kejadian yang akan terjadi, seringkali terpaksa itu harus disimpan untuk diri kita sendiri. Tidak semua orang dapat menerima ucapan kita tentang sesuatu yang akan terjadi, dan tidak semua orang dapat menghargai kelebihan kita itu. Tetapi orang-orang yang bijaksana mungkin akan mendapatkan manfaat dari pengetahuan dan ucapan-ucapan kita.

Kemampuan kita untuk mengetahui kesejatian tentang sesuatu mahluk halus, kegaiban alam, keagamaan, ketuhanan, atau apapun juga yang secara umum tidak diketahui oleh orang lain, apalagi yang sifatnya terlalu tinggi bagi orang lain, akan menjadi kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan (hanya baik bila hanya kita sendiri yang tahu dan tidak perlu dipertentangkan dengan pandangan orang lain yang tidak sejalan).  

Dalam laku olah spiritual sesuatu objek yang sudah kita ketahui keberadaannya kemudian kita pelajari lagi sisi spiritualnya, seperti aspek asal-usul keberadaannya, tujuan keberadaannya, apa saja perbuatannya, apa saja pengaruhnya, dsb. Secara pribadi pengetahuan itu akan menjadi pengetahuan yang bersifat kebatinan / spiritual. Seseorang yang mempelajari dunia spiritual, atau bahkan yang digelari master spiritual sekalipun, tidak berarti ia mengetahui segala-galanya, karena tentang apa saja yang diketahuinya dan akan sejauhmana pengembangan spiritualitasnya sangat tergantung pada objek interest-nya dan tergantung juga pada ketekunannya masing-masing (perkembangan dan pencapaian pengetahuannya akan tergantung juga pada "kecerdasan batin"-nya).


Bila kita membahas hakekat kesejatian alam semesta, akan sulit sekali pembuktiannya, karena pengetahuan dunia nyata manusia tentang alam semesta, tentang Galaksi Bima Sakti saja masih terbatas, apalagi tentang Penciptanya. Lebih baik kita dongeng tentang sesuatu yang nyata kita alami sendiri, yang jika saat ini masih belum bisa dibuktikan, mungkin pada masa selanjutnya manusia akan bisa membuktikan kebenarannya atau ketidakbenarannya dengan kemampuannya dan alat-alat modernnya, yaitu tentang tata surya kita sendiri dengan matahari sebagai pusatnya.

Komponen utama sistem Tata Surya adalah matahari. Hampir semua objek-objek besar yang mengorbit / mengelilingi matahari terletak pada bidang edaran bumi yang dinamai ekliptika. Semua lintasan planet terletak sangat dekat pada ekliptika, sementara komet dan objek-objek asteroid biasanya memiliki beda sudut yang sangat besar dibanding ekliptika.

Objek yang mengorbit matahari dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan, yaitu planet, planet kerdil, dan benda kecil Tata Surya.

Matahari memiliki delapan planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, dan Neptunus.

Matahari memiliki lima buah planet kerdil: Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris.

Ribuan objek-objek lain berikutnya yang mengitari matahari adalah benda-benda kecil Tata Surya.

(Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_tata_surya#Daerah_terjauh ).


 >>  Bagaimana pembuktiannya bila suatu hasil pencarian spiritual mengatakan :

1. Masih ada 2 lagi objek besar yang mengitari matahari, yang belum ditemukan dengan teknologi manusia. Posisi lintasan orbitnya tidak dekat dengan ekliptika. Masing-masing bentuknya tidak bulat seperti planet, tetapi seperti pecahan batu, sehingga tergolong asteroid (atau planet batu). Yang satu ukurannya kira-kira sebesar bumi dan yang satunya lagi seukuran 3/4 bumi.

2. Ketika planet-planet berada pada posisi satu garis lurus terhadap matahari, ada "tangan gaib" yang bekerja menjaga, menetralisir pengaruh akumulasi gravitasi matahari dan planet-planet, sehingga planet-planet dan satelitnya tidak saling bersentuhan dan bumi yang berada di tengah garis planet-planet itu tidak pecah berantakan dan kehidupan di dalamnya tidak binasa. Tangan-tangan gaib yang sama juga ada di galaksi-galaksi lain di luar galaksi Bima Sakti.

3. Di luar galaksi Bima Sakti juga ada kehidupan lain, tetapi mereka tidak memiliki roh dan tidak hidup dengan perasaan seperti manusia di bumi. Mereka tidak hidup dengan nafsu kekuasaan, ketamakan, kemalasan, kesombongan, dsb. Mereka menjalani kehidupan dengan melakukan yang benar menurut pikiran mereka. Mereka hidup dengan insting, naluri dan pikiran, tidak dengan perasaan, sehingga hidupnya lebih rasional dan bisa membangun kehidupan teknologi yang lebih maju dibandingkan kehidupan dan teknologi manusia di bumi.

4. Teori Albert Einstein dengan rumusnya yang terkenal  E = mc2 mengasumsikan besarnya energi yang dihasilkan dari massa suatu materi tanpa ada sisa sampah (residu), sehingga semuanya bisa terkonversi menjadi energi. Teori ini belum dapat diterapkan dalam dunia nyata, karena seperti contohnya energi nuklir saja masih menyisakan sampah radioaktif (residu), tidak semuanya dapat hilang terkonversi menjadi energi.

Lompatan besar teknologi manusia akan terjadi pada penggunaan listrik, elektromagnet dan teori Einstein tersebut, sampai kombinasi penggunaannya berhasil menghasilkan suatu energi baru yang disebut energi plasma (seperti dalam film Startrek).

Dengan kemajuan teknologi listrik dan elektromagnet manusia dapat membuat pergerakan benda mekanik menjadi minim gesekan dan benturan, dapat lepas dari gaya gravitasi dan dapat bergerak cepat di udara atau di luar angkasa tanpa mengalami hambatan udara atau pergesekan / benturan dengan benda lain (dapat membuat perisai magnetik). Dengan telah ditemukannya energi plasma, manusia akan sedikit sekali bergantung pada BBM dan akan mulai menggunakan mineral lain sebagai penggantinya, mineral yang bisa ditemukan manusia di planet bumi maupun yang akan ditemukan di planet-planet lain, dan dapat menjadi sumber energi untuk peralatan yang berteknologi tinggi dan yang mengkonsumsi energi yang besar dan banyak.



----------

 Tambahan :

Mengenai poin nomor 1 di atas, selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada lagi objek besar yang mengitari matahari, yang belum ditemukan dengan teknologi manusia sekarang ini, di antaranya sbb :

- Selain 2 buah objek besar yang sudah disebutkan di atas, masih ada 3 buah objek besar lagi.
  Bentuknya seperti planet batu.
Masing-masing ukurannya kira-kira  1¼1½, dan 1¾  ukuran bumi.

- Ada satu objek besar seukuran 2 kali ukuran bumi yang bergerak dan bercahaya berekor seperti komet
  ketika mendekati matahari.

- Ada satu buah objek besar tidak kelihatan mata, wujudnya seperti sebentuk energi yang bergerak
  memanjang. Bila ada batu atau benda-benda kecil antariksa berada di jalur lintasannya, ketika energi ini
  bergerak melintasinya, maka benda-benda tersebut akan terdorong menyingkir / terlempar yang jika sampai
  bergerak masuk ke atmosfir bumi benda-benda tersebut akan menjadi meteor. Jika bentuk energi ini dapat
  terlihat oleh mata, maka penampakkannya mirip seperti komet panjang berekor.




_________




  >>  Olah Roh, Manunggaling Kawula Lan Gusti










Comments