https://sites.google.com/site/thomchrists/Kebatinan-dan-Spiritual/Terawangan--Melihat-Gaib/Meditasi%202jpg.jpg


 

    Terawangan  /  Melihat Gaib     


 

Halaman ini berisi ringkasan, editan dan kelanjutan tulisan dari halaman-halaman lain tentang kemampuan terawangan dan melihat gaib, terutama kelanjutan dari halaman berjudul : Olah Sukma dan Kebatinan.

Mudah-mudahan berguna untuk menambah pengetahuan.


________



Di masyarakat ada banyak orang yang bisa terawangan / melihat gaib (atau "merasa" bisa melihat gaib). Melihat gaib merupakan salah satu bentuk kemampuan yang dianggap istimewa yang banyak sekali orang ingin menguasai kemampuannya, sehingga mereka rela membayar sejumlah uang asalkan bisa (instan) melihat gaib.

Walaupun orang-orang yang sudah bisa melihat gaib merasa dirinya istimewa, merasa lebih daripada orang lain yang umum, dan merasa apa yang dilihatnya adalah benar (bukan ilusi / halusinasi), tetapi seringkali penglihatan gaibnya itu berbeda dengan yang dilihat oleh orang lain. Apa yang dilihatnya itu hanya bisa dinikmatinya sendiri saja, karena orang lain yang sama-sama bisa juga melihat gaib tidak melihat yang sama dengan yang mereka lihat. Mereka akan menyalahkan penglihatan gaib orang lain yang berbeda karena dianggapnya hanya penglihatannya sendiri sajalah yang benar.

Terjadinya perbedaan-perbedaan dalam melihat gaib di antara orang-orang yang sudah bisa melihat gaib ada banyak penyebabnya. Penyebabnya yang utama adalah karena adanya perbedaan dalam cara dan metode orang melihat gaib antara seseorang yang melihat gaib berdasarkan aslinya kemampuannya sendiri melihat gaib dengan orang yang bisa melihat gaib dengan amalan atau dengan bantuan khodam.

Dalam halaman ini Penulis menuliskan teknis cara orang melihat gaib dan faktor-faktor yang menyebabkan melihat gaib menjadi tidak akurat, yang menyebabkan penglihatan gaib seseorang atas suatu objek gaib yang sama berbeda dengan yang dilihat oleh orang lain yang sama-sama bisa melihat gaib.

Dalam halaman ini Penulis menuliskan sebagian hubungan roh sedulur papat dengan kemampuan seseorang dalam keilmuan batin / gaib.

Untuk dapat lebih memahami isi dari tulisan di halaman ini, sebaiknya memahami lebih dulu penjelasan tentang roh sedulur papat dalam tulisan berjudul :  Sedulur Papat Kalima Pancer.


Kemampuan memiliki ilmu dalam olah sukma, termasuk melihat gaib / terawangan gaib seperti c
ontoh-contoh di bawah ini lebih banyak ditentukan oleh kegaiban sukma. Salah satu tanda bahwa sukma seseorang sudah memiliki kegaiban adalah sukmanya sudah bisa berperan sebagai roh, rohnya sudah bisa melihat / mendeteksi keberadaan roh lain.

Setinggi-tingginya kekuatan sukma seseorang kemampuan sukmanya akan terbatas bila orang itu sendiri tidak melatih kegaiban sukmanya. Orang-orang kebatinan jaman dulu memiliki kegaiban sukma yang tinggi dari lakunya manembah, dari sukmanya yang menyembah Tuhan. Pada orang-orang itu peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, melihat gaib, terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan kemampuan yang tidak terpisahkan dari kegaiban sukma mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai efek dari kegaiban sukma mereka, efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual, laku prihatin, semedi dan tapa brata mereka.

Pada jaman sekarang ini salah satu cara kita melatih kegaiban sukma adalah dengan tekun menjalankan apa yang tertulis di tulisan berjudul Kebatinan Dalam Keagamaan. Itu bisa menjadi sarana kita memperdalam laku ketuhanan yang bila itu tekun dijalani, dan cara dan hasilnya sesuai dengan yang dituliskan disitu, sukma kita bisa menjadi sukma yang berkegaiban tinggi.

Karena itu untuk orang-orang yang ingin bisa melihat gaib tetapi tidak juga berhasil bisa melihat gaib, termasuk walaupun sudah menjalankan latihan olah rasa atau sudah dibukakan mata ketiganya, lebih baiklah bila ia melatih kegaiban sukmanya dulu dengan cara yang disebutkan di atas untuk lebih dulu menggali potensi kegaiban rohnya.



   Ilmu Terawangan / Melihat Gaib


Terawangan Gaib
adalah kemampuan untuk melihat secara gaib ke tempat-tempat yang jauh jaraknya yang tidak cukup jelas untuk dapat dilihat dengan mata kepala kita.

Banyak orang yang mampu melihat gaib tetapi tidak mengetahui prinsip cara kerjanya, sehingga seringkali terawangan gaib tidak dibedakan dengan kebisaan melihat gaib, sehingga oleh banyak orang terawangan gaib dan melihat gaib seringkali dianggap sama, walaupun sebenarnya berbeda, sehingga orang tidak mampu mengembangkannya menjadi suatu bentuk keilmuan tersendiri.

Kemampuan melihat gaib adalah dasar untuk terawangan gaib. Terawangan gaib adalah mendayagunakan kemampuan melihat gaib untuk dapat melihat suatu objek di tempat yang jauh. 

Ilmu terawangan gaib ini bisa digunakan untuk melihat sosok-sosok gaib di alam gaib atau untuk melihat suatu lokasi / objek tertentu di tempat yang jauh. Kemampuan melihat gaib menjadi dasar untuk terawangan gaib.

Kemampuan melihat gaib dapat dilakukan dengan 3 cara utama, yaitu :

1. Melihat gaib dengan cakra mata ketiga,

2. Melihat secara batin

3. Melihat secara roh.

Masing-masing cara melihat gaib di atas mempunyai cara kerja sendiri-sendiri yang tidak sama dan memiliki juga kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri, sehingga untuk tujuan melatih dan mengembangkan masing-masing kemampuan melihat gaib itu harus dilakukan dengan cara yang masing-masing juga berbeda.

Tetapi kebanyakan orang tidak tahu bagaimana cara kerja melihat gaib, karena yang diinginkannya hanyalah untuk bisa melihat gaib saja, terserah bagaimana caranya, sehingga orang tidak bisa mengembangkannya menjadi kemampuan yang lebih tinggi lagi, malah banyak yang tidak bisa membedakan apakah penglihatan gaibnya itu benar ataukah penglihatannya itu sebenarnya ilusi dan halusinasi.


 1. Melihat gaib dengan cakra mata ketiga.


Melihat gaib dengan cakra mata ketiga adalah melihat gaib dengan mendayagunakan kemampuan gaib dari cakra energi yang ada di dahi, di antara 2 alis mata (cakra mata ketiga).

Yang tidak disadari oleh banyak orang adalah pada saat seseorang melihat gaib dengan cakra mata ketiga ini roh sedulur papatnya bergerak keluar dari tubuhnya (pergerakannya tidak disengaja dan tidak disadari). 

Bila digunakan untuk melihat jauh, maka roh sedulur papatnya akan keluar dari tubuhnya mendatangi objek sasaran yang ingin dilihat, kemudian mengirimkan gambarannya kepada roh pancernya di dalam tubuh (kesadaran / pikiran) melalui jalur energi cakra mata ketiga.

Dengan kata lain, yang bisa melihat gaib adalah sedulur papatnya, bukan pancernya (bukan orangnya). Apa saja yang dilihat oleh roh sedulur papatnya itu disampaikan (disambungkan) kepada pancernya melalui jalur energi cakra mata ketiga, sehingga pancernya dapat ikut melihatnya, sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib secara langsung dan secara sadar.

Jadi, yang melihat gaib adalah sedulur papatnya, yang pada saat seseorang sedang melihat gaib roh sedulur papatnya itu bergerak keluar dari tubuhnya mendekati objek yang ingin dilihat dan kemudian mengirimkan gambaran penglihatannya kepada sukma di dalam tubuh (roh pancer) melalui jalur komunikasi cakra energi mata ketiga.

Kemampuan melihat gaib dengan mata ketiga kuncinya adalah pada adanya ikatan kuat dan komunikasi antara sedulur papat yang berada diluar tubuh dengan sukma di dalam tubuh melalui jalur komunikasi cakra energi mata ketiga. 

Sebenarnya tidak tepat menyebut kemampuan ini sebagai melihat gaib dengan cakra mata ketiga, karena yang bisa melihat gaib adalah sukmanya (sedulur papat dan pancernya), bukan cakra mata ketiganya, sehingga orang tidak bisa memiliki kemampuan ini hanya dengan cara membuka cakra mata ketiganya.

Orang-orang yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga, sebenarnya bukanlah dengan cakra mata ketiganya itu ia melihat gaib. Orang bisa melihat gaib karena sudah aktifnya saraf-saraf imajinasi di kepalanya yang itu memudahkan pikirannya (pancernya) menangkap sinyal gaib dari sedulur papatnya atau dari khodamnya atau dari roh halus lain, sehingga orang tidak bisa melihat gaib hanya dengan cara dibuka cakra mata ketiganya saja.

Aktifnya saraf-saraf imajinasi itu adalah yang dengan sengaja dirangsang dalam orang bermeditasi untuk tujuan melihat gaib, atau dengan melatih kepekaan (olah rasa) atau dengan cara orangnya membiasakan diri berdiam di tempat yang gelap dan sunyi. Aktifnya saraf-saraf imajinasi itu bisa juga terjadi karena ada beban energi dari adanya mahluk halus yang berdiam di dalam kepala (ketempatan mahluk halus di dalam kepala). Tetapi jika saraf-saraf imajinasinya itu belum aktif orang bisa juga mendeteksi kegaiban dengan rasa, dengan saraf-saraf kepekaan rasa di dada (bisa juga terjadi pada orang-orang yang ketempatan mahluk halus di dalam badannya).

Kemampuan melihat gaib ini tidak begitu saja secara otomatis terjadi pada orang yang telah terbuka cakra energi mata ketiganya. Dengan telah terbukanya cakra energi di dahi memang akan memfasilitasi  "jalur komunikasi" antara sedulur papat di luar tubuh dengan sukma di dalam tubuh. Tetapi cakra-cakra tubuh yang dibuka dengan teknik pengolahan energi tubuh tidak langsung berhubungan dengan alam gaib dan kegaiban, misalnya yang dibuka dengan tenaga dalam / prana / kundalini. Untuk bisa melihat gaib harus ada sugesti pergerakan sukma, walaupun pergerakan itu seringkali terjadi tidak disadari dan tidak disengaja. Untuk keperluan melihat gaib, maka cakra-cakra tersebut harus dibuka khusus untuk tujuan kegaiban, bukan dengan tujuan dan cara yang sama dengan pengolahan energi tubuh.

Bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga merupakan suatu kelebihan dibandingkan orang lain yang tidak bisa, tetapi dari sisi keilmuan, kemampuan itu juga masih mempunyai kelemahan.

Walaupun dengan kemampuan melihat gaib melalui cakra mata ketiga orang merasa dapat melihat gaib secara langsung dengan cukup jelas, tetapi seringkali kemampuan melihat gaib dengan cara ini hanya dapat untuk melihat kegaiban tingkat rendah saja. 

Melihat gaib melalui cakra mata ketiga mengharuskan adanya komunikasi antara roh sedulur papat dengan roh pancer. Dengan demikian orangnya harus melakukannya dengan konsentrasi khusus (dan seringkali juga akan melelahkan pikiran). Selain kualitas energi di cakra mata ketiganya, kualitas penglihatan gaibnya juga tergantung pada kemampuannya membaca gambaran gaib yang dikirimkan oleh roh sedulur papatnya yang mengalir di pikirannya.

Cakra mata ketiga merupakan bagian dari fisik biologis manusia yang kekuatannya terbatas, dan kemampuan melihat gaib dengan cakra mata ketiga tersebut sangat bergantung pada kekuatan energi cakranya. Sesudah bisa melihat gaib, biasanya orangnya sudah merasa puas, kekuatan energi cakra mata ketiganya tidak ditingkatkan kualitasnya, sukmanya sendiri (roh pancer dan sedulur papatnya) juga tidak diolah untuk memiliki kekuatan gaib yang tinggi, kepekaan batinnya juga tidak dilatih supaya lebih tajam, sehingga secara keseluruhan seringkali kemampuan ini hanya dapat digunakan untuk melihat / mendeteksi keberadaan gaib yang berdimensi rendah saja, tidak bisa melihat / mendeteksi keberadaan gaib yang berdimensi tinggi.

Ketergantungan pada kemampuan melihat gaib juga akan menyebabkan orang menjadi tidak peka batinnya, tidak bisa mendeteksi kegaiban di lingkungannya berada, tidak bisa mengedepankan "rasa".

Orang-orang yang peka rasa batinnya akan dapat merasakan suasana gaib di lingkungannya berada, tetapi orang-orang yang terbiasa melihat gaib dengan mata ketiga seringkali tidak peka, tidak dapat merasakan suasana gaib di lingkungannya, kecuali mereka melihat sendiri sosok-sosok wujud gaibnya. Karena kurangnya kepekaan dan ketajaman batinnya seringkali juga pemahaman mereka menjadi dangkal, yang mampu mereka lihat hanya sebatas kulitnya saja, hanya luarnya saja, dan yang dimensinya rendah saja, tidak mampu menelisik lebih dalam, tidak mampu mengetahui kesejatian dari apa yang dilihatnya, malahan seringkali orang-orang itu tertipu oleh penglihatannya sendiri. Dan dari apa yang dilihatnya itu dirinya merasa benar-benar mumpuni menguasai ilmu melihat gaib, kepada orang lain yang awam mereka akan memberikan cerita-cerita dan penjelasan yang seringkali tidak sesuai dengan aslinya hakekat dan kesejatian dari kegaibannya, ceritanya dilebih-lebihkan, akan banyak bersifat dogma dan pengkultusan.

Kelemahan lainnya, orang-orang yang memiliki kemampuan melihat gaib seperti di atas seringkali tidak dapat mengendalikan penglihatannya, mata ketiganya terus terbuka dan terus melihat gaib, walaupun orangnya sedang tidak ingin melihat gaib. Penglihatan gaibnya tidak terkendali.

Pada orang-orang tersebut, kelemahan lainnya adalah jika kekuatan sukmanya masih rendah dan penyatuan antar sukma belum cukup kuat. Misalnya saja kemampuan melihat gaibnya itu digunakannya untuk melihat sesosok gaib yang ternyata "berbahaya", atau dalam kondisi tidur dan bermimpi roh sedulur papatnya pergi sendiri keluar dari tubuhnya diluar kontrolnya. Kondisi itu suatu saat akan dapat menjadi musibah jika roh sedulur papatnya itu ditangkap oleh roh halus lain. Akibatnya, orang tersebut akan dapat menjadi lemah ingatan, lupa ingatan, lemah tubuhnya dan sakit-sakitan, sering bengong melamun tak sadar diri, dsb. Apalagi jika sedulur papatnya itu disiksa oleh sosok gaib yang menangkapnya, atau dikejar-kejar, sedulur papatnya itu akan memberikan gambaran apa yang dialaminya itu kepada orangnya (pancernya) yang kemudian bisa menyebabkan orangnya selalu merasa ketakutan, merasa berhadapan, diserang atau dikejar-kejar mahluk halus, karena sedulur papatnya itu memang sedang berhadapan dengan mahluk halus, ditangkap, disiksa atau dikejar-kejar. Orangnya bisa gila.

Kasus di atas ada juga yang terjadi pada orang-orang yang sedulur papat terpisahnya ditangkap, disandera, atau disiksa oleh mahluk halus lain (baca : Sedulur Papat Yang Terpisah).


Kemampuan melihat gaib dengan mata ketiga banyak dimiliki oleh orang-orang yang melatih melihat gaib dengan jalur ilmu gaib kebatinan, dengan mantra dan amalan melihat gaib. Tetapi isi penglihatannya banyak yang berupa ilusi, karena apa saja yang dilihatnya akan mengikuti sugesti dalam mantra / amalan gaibnya. Dan bila orang-orang itu juga berkhodam, maka penglihatan gaibnya itu akan sama dengan yang disebut oleh Penulis sebagai melihat gaib dengan bantuan khodam.

Umumnya mereka itu masih dalam tahap pemula, yang kekuatan sukmanya belum cukup tinggi, sehingga sedulur papatnya harus pergi keluar mendatangi objek yang ingin dilihat supaya penglihatannya menjadi jelas. Sedangkan bila kekuatan sukmanya sudah tinggi umumnya orang-orang itu melihat gaib secara batin. Dengan melihat secara batin itu orangnya dengan kebatinan dan kekuatan sukmanya yang tinggi bisa "bermain" di alam roh, bukan sekedar melihat gaib saja. Pada tingkatan yang sangat tinggi orang melihat gaib secara roh, tetapi sedikit sekali orang yang mampu melakukannya.

Pada masa sekarang ini sangat jarang ada orang yang bisa melihat gaib dengan mata ketiga, kecuali yang terjadi secara alami. Kebanyakan orang melakukannya dengan melihat gaib secara batin, termasuk para praktisi paranormal dan praktisi ilmu gaib yang sering muncul di televisi. Sebenarnya yang mereka lihat juga hanya sekelebatan bayangan saja, tidak sempurna, sehingga pengetahuan mereka tentang alam gaib juga terbatas. Tetapi ada yang dengan mempertunjukkan keilmuan gaibnya yang lain, menarik dan memasukkan mahluk halus ke dalam tubuh orang lain - mediumisasi, mereka tampak seolah-olah mereka benar mumpuni dalam hal melihat gaib (padahal apa dan siapa mahluk yang masuk ke dalam orang yang dijadikan medium itu seringkali mereka sendiri tidak tahu). Tetapi ada juga sebagian dari mereka yang kemampuan itu sudah dilatih, sehingga penglihatan mereka dapat lebih tajam dan lebih jelas, bukan hanya melihat sekelebatan bayangan saja.


Pada masa sekarang ini orang-orang yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga, yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cukup jelas, yang kebanyakan kemampuannya itu terjadi dengan sendirinya tanpa orang itu pernah melatih kepekaan melihat gaib, kebanyakan sebenarnya adalah orang-orang yang dirinya mengalami ketempatan sesosok mahluk halus di dalam tubuhnya, terutama di dalam kepalanya. Mengenai kasus dan fenomena ketempatan mahluk halus ini silakan dibaca di : Pengaruh Gaib thd Manusia.

Pada orang-orang itu sosok gaib di dalam kepalanya itu memberikan banyak bisikan gaib, penglihatan gaib, termasuk ilusi dan halusinasi. Ketika orangnya ingin melihat / menerawang jauh, karena kondisi kekuatan sukma dan kebatinan orangnya masih lemah, tidak cukup kekuatannya untuk bisa melihat / menerawang jauh, maka di luar sepengetahuannya sosok halus di dalam kepalanya itu memaksa sedulur papatnya untuk keluar mendatangi objek yang ingin dilihatnya supaya penglihatannya menjadi jelas. Sesudah sedulur papatnya itu melihat objeknya, kemudian mereka "melapor" kepada sosok halus yang di dalam kepala melalui jalur energi cakra mata ketiga. Sesudahnya barulah kemudian si sosok halus di dalam kepalanya itu memberikan penglihatan gaibnya itu kepada orangnya (pancernya), sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib. Tetapi apa saja isi penglihatan gaibnya itu semuanya sudah "disetir", sudah "dibentuk" oleh sosok halus di kepalanya itu, tidak semuanya asli apa adanya.

Tetapi dengan ia merasa bisa melihat gaib itu tanpa disadarinya ia sudah "memperbudak" sedulur papatnya sendiri dan meresikokan sedulur papatnya untuk bertemu / berhadapan dengan mahluk-mahluk halus di alam gaib.

Di sisi lain ada juga orang-orang yang ketempatan mahluk halus di dalam badannya. Pada orang-orang ini sosok gaib di dalam badannya itu juga memberikan banyak penglihatan gaib, termasuk ilusi dan halusinasi. Tetapi ketika orangnya ingin melihat / menerawang jauh, biasanya sosok halus di badannya itu tidak memaksa sedulur papatnya untuk keluar mendatangi objek yang ingin dilihatnya, sehingga penglihatan gaibnya tidak cukup jelas dibandingkan orang-orang yang ketempatan mahluk halus di kepalanya. Tetapi kasusnya sama juga, apa saja isi penglihatan gaibnya itu semuanya sudah "disetir" atau sudah "dibentuk" oleh sosok halus di badannya itu, tidak semuanya asli apa adanya.

Selain sesosok halus yang berdiam di dalam kepala / badan, ada juga orang-orang yang memiliki khodam ilmu atau khodam pendamping. Khodam-khodam itu juga banyak yang sering memberikan gambaran gaib kepada orangnya sehingga orangnya merasa bisa melihat gaib (merasa mengerti gaib).

Pada orang-orang itu, yang merasa bisa melihat gaib karena dirinya menerima penglihatan gaib dari sesosok mahluk halus di dalam kepala / badannya atau dari khodam ilmu / pendampingnya, yang sebenarnya bukan orangnya sendiri yang bisa melihat gaib, tetapi orangnya merasa bisa melihat gaib karena orangnya menerima gambaran gaib yang mengalir di dalam kepalanya, kemampuan mereka melihat gaib itu Penulis kategorikan sebagai melihat gaib dengan bantuan khodam.

Uraian lebih lanjut tentang melihat gaib dengan bantuan khodam ini dituliskan di bagian bawah halaman ini.



 2. Melihat secara batin. 

Melihat gaib secara batin berbeda dengan melihat gaib dengan cakra mata ketiga.

Melihat gaib secara batin adalah melihat gaib dengan mengandalkan ketajaman / kepekaan rasa dan batin (ketajaman indera keenam), ditambah kekuatan kebatinan dan spiritual orangnya.

Dengan cara ini yang melihat gaib bukanlah mata dan kesadaran kita, tetapi adalah kepekaan batin kita yang mampu mendeteksi sesuatu yang gaib atau menginderai suasana gaib di sekitar kita. Sedulur papat tidak bergerak keluar tubuh (kecuali disengaja supaya keluar dari tubuh), biasanya cakra mata ketiganya juga belum terbuka.

Melihat gaib secara batin, pada tingkat dasar, kalau tidak kuat lama berfokus pada kepekaan batin, seringkali gambaran gaib yang tertangkap hanya sekelebatan-sekelebatan bayangan saja, dan untuk mendapatkan informasi gambaran yang lengkap akan banyak mengandalkan bisikan wangsit atau ilham dari roh sedulur papatnya.

Kemampuan menginderai atau melihat secara batin ini biasanya terjadi pada orang-orang yang peka / tajam batinnya, atau pada orang-orang yang menekuni penghayatan kebatinan atau ilmu-ilmu batin. Orang-orang yang menekuni laku kebatinan tertentu biasanya memiliki batin yang peka, kuat dan tajam, dan memiliki kedekatan dengan roh sedulur papatnya, sehingga orang-orang tersebut mengerti kegaiban, tanggap rasa dan firasat dan peka sasmita. Kepekaan dan ketajaman batin (indera keenam) mereka bersifat umum dalam semua bidang kehidupan, tidak semata-mata hanya untuk bisa melihat gaib saja.

Kepekaan dan ketajaman batin mereka biasanya digunakan untuk peka rasa terhadap suasana gaib di sekitar mereka berada dan untuk berkomunikasi batin (kontak rasa dan batin) dengan mahluk-mahluk gaib yang ada. Komunikasi dan interaksi dengan roh-roh lain (juga dengan roh sedulur papatnya) dilakukan secara kontak batin atau kontak rasa, bukan melalui jalur komunikasi cakra mata ketiga. Untuk keperluan itu orangnya tidak harus melakukannya dengan konsentrasi khusus melihat gaib.

Kepekaan dan ketajaman batin mereka biasanya bukan hanya dapat untuk mendeteksi keberadaan sesosok mahluk gaib, tetapi juga peka untuk merasakan tanda-tanda alam beserta kegaiban di dalamnya, peka rasa untuk menilai kepribadian orang lain, peka rasa tentang suatu kejadian yang akan terjadi (weruh sak durunge winarah) dan sering mendapatkan firasat / ilham / wangsit tentang suatu kejadian tertentu yang akan terjadi. Kepekaan dan ketajaman batin mereka itu juga dapat untuk mengetahui kegaiban tingkat tinggi, tergantung pencapaian masing-masing orang. Bukan sekedar untuk melihat gaib, kepekaan rasa yang disatukan dengan kekuatan kebatinan juga menjadi kekuatan mereka untuk mengusir roh-roh halus atau untuk menjadikan suatu kejadian gaib.

Secara keseluruhan kemampuan mereka melihat gaib itu tergantung pada kepekaan rasa dan batin mereka untuk menangkap getaran-getaran kegaiban dan menangkap sinyal gaib dari roh sedulur papatnya, tingkat kesatuan sukmanya dan kekuatan sukmanya.


Melihat gaib secara batin tidak mengharuskan adanya komunikasi antar roh melalui cakra energi mata ketiga. Disitulah kelebihannya, yaitu tidak bergantung pada adanya komunikasi antar roh melalui cakra energi mata ketiga, dan tidak harus dilakukan dengan konsentrasi khusus.

Melihat gaib secara batin kuncinya adalah pada proses awalnya, yaitu kemampuan peka / kontak rasa untuk mendapatkan gambaran awal penglihatan batin dari roh sedulur papatnya. Sesudah mendapatkan gambaran awalnya barulah kita (pancer) fokus batin untuk mempertegas lagi gambarannya. Untuk keperluan itu bisa dilakukan dengan mata terbuka maupun terpejam, yang penting bisa hening peka rasa untuk menangkap informasi gambaran awal dari roh sedulur papat, kemudian barulah ditindaklanjuti dengan pancernya fokus batin kepada sosok gaibnya untuk menjadikannya gambaran penglihatan gaib yang utuh.

Biasanya, dengan mengedepankan kepekaan batin ini seseorang juga akan mendapatkan informasi yang lain mengenai objeknya, misalnya apakah wataknya baik / jahat, apakah sifat keberadaannya membahayakan, apakah tujuan keberadaannya baik, apakah ada pesan-pesannya, dsb. Karena itu dalam melihat gaib secara batin interaksi batin dengan roh sedulur papat bersifat pokok.

Bila kepekaan batin kuat orang akan mudah untuk merasakan suasana gaib di lingkungannya berada, mudah untuk menerima sinyal dari roh sedulur papatnya berupa rasa firasat, ide / ilham, tanda-tanda petunjuk, rasa / feeling / intuisi, bisikan-bisikan gaib dan penglihatan / gambaran-gambaran gaib.

Bila tingkat kesatuan antara sedulur papat dengan kesadaran / pancer-nya lemah, gambaran gaib yang diterimanya hanya akan berupa sekelebatan-sekelebatan bayangan saja, tidak jelas, dan untuk mendapatkan informasi gambaran yang lengkap akan banyak mengandalkan bisikan wangsit / ilham.  Tetapi bila tingkat kesatuan antara sedulur papat dengan kesadaran / pancer-nya kuat dan memiliki kemampuan yang baik untuk fokus dengan kepekaan batinnya (tidak dengan pikirannya), gambaran-gambaran gaib itu dapat diperjelas dan dapat diikuti gerakannya.

Untuk belajar kemampuan melihat gaib secara batin dapat dilakukan dengan latihan olah rasa seperti dicontohkan dalam tulisan berjudul : Olah Rasa dan Kebatinan.


Kelemahan melihat gaib secara batin adalah sifat penglihatannya yang oleh para pemula dianggap tidak langsung, penglihatannya hanya bisa dibatin saja, mengawang-awang, hanya sekelebatan saja, tidak bisa dipastikan apakah yang dilihatnya itu sungguhan ataukah hanya halusinasi saja. 

Yang umum dirasakan oleh orang-orang yang baru sekedar bisa peka rasa adalah tahapan awalnya itu saja, yaitu ia menerima gambaran gaib dari sedulur papatnya, tapi tidak mampu menegaskannya menjadi gambaran gaib yang utuh, gambaran gaib yang tertangkap hanya sekelebatan saja.

Kelemahan itu terjadi karena orangnya (pancernya) tidak bisa menindaklanjuti sinyal yang diterimanya dari sedulur papatnya untuk dipertegas lagi menjadi gambaran gaib yang utuh, tidak bisa fokus batin untuk mempertegasnya menjadi informasi gambaran gaib yang utuh, gambaran gaib yang tertangkap hanya sekelebatan saja. Dalam kondisi itu diartikan orang itu baru ada pada tahapan awal peka rasa, ia belum bisa melihat gaib secara batin.

Kelemahan itu bisa diatasi dengan cara melatih olah rasa dan batin, berlatih untuk bisa bertahan lama dengan kepekaan batin untuk menerima gambaran gaibnya sampai gambarannya utuh, kemudian mempertegasnya dengan fokus batin kepada sosok gaibnya sampai kita bisa melihatnya secara utuh. Sesudah bisa begitu barulah mulai bisa kita dikatakan bisa melihat gaib secara batin. Lebih baik lagi kalau kita dapat berinteraksi langsung secara energi (kontak rasa dan energi) dengan sosok-sosok gaib yang kita lihat, sehingga kita dapat memastikan bahwa sosok gaibnya itu benar ada di tempat keberadaannya yang kita lihat, tidak mengawang-awang lagi, dan bukan berilusi.

Dengan kata lain, sesudah kita menerima gambaran gaib awal dari roh sudulur papat, sesudahnya kita sebagai pancer mempertegas lagi penglihatannya sampai keseluruhannya tampak secara mendetail. Dengan demikian bukan hanya sedulur papatnya itu saja yang bisa melihat gaib, tapi pancernya juga bisa melihat gaib.

Untuk keperluan itu sebaiknya kita melatih olah rasa dan kontak energi, dengan latihan olah rasa atau dengan cara-cara kebatinan lain yang ada. Satu hal yang perlu diperhatikan, gunakan selalu sebelumnya pagaran diri, dan jika naluri anda merasakan adanya sesuatu yang berbahaya, sebaiknya jangan diteruskan. Lebih baik : sama-sama selamat.


Sekalipun melihat gaib dengan mengandalkan kepekaan rasa oleh para pemula seringkali dianggap sebagai suatu kelemahan, tetapi sebenarnya disitulah kelebihannya, karena itu sebenarnya hanyalah dasar saja untuk ditingkatkan menjadi kemampuan yang lebih tinggi lagi. Kelemahan ini bisa diatasi dengan melatih ketahanan dan ketajaman fokus batin dan berinteraksi langsung secara energi (kontak energi) dengan sosok-sosok gaib yang kita lihat, seperti dalam latihan olah energi dan olah rasa, sehingga kita dapat memastikan bahwa sosok gaibnya itu benar ada di tempat keberadaannya yang kita lihat.

Pada orang-orang kebatinan jaman dulu mereka bisa "menyatukan" kegaiban batin dan kekuatan sukma mereka dengan alam gaib. Mereka peka suasana gaib dan secara kebatinan mereka bisa lebih "masuk" lagi ke alam gaib untuk merasakan suasana gaib di lingkungan mereka berada dan untuk "bermain" di alam gaib, untuk mengendalikan kegaiban di sekitar mereka, untuk mengusir / menarik / menyerang / menundukkan atau untuk berkomunikasi dengan sosok-sosok gaib tertentu, sehingga kelemahan melihat gaib secara batin itu tidak berlaku bagi mereka. Kelemahan itu hanya terjadi pada orang-orang yang baru bisa peka rasa saja, tidak mempunyai kemampuan lain yang lebih dari itu, dan tidak mempunyai kemampuan untuk "bermain" di alam gaib.

Dengan peka rasa itu orangnya bisa merasakan suasana gaib di sekitarnya. Kemudian secara kebatinan mereka berkonsentrasi untuk lebih dalam lagi "masuk" ke dalam kegaiban yang ditemuinya. Dan sambil berkonsentrasi melihat secara batin dengan kekuatan kebatinan / sukmanya orangnya bisa mengerahkan energinya untuk "bermain", bertarung dan "berkuasa" di alam gaib. Kekuatan gaib sukma mereka menjadikan mereka berkuasa di alam gaib, mengalahkan kekuasaan roh-roh dan mahluk halus tingkat tinggi sekalipun, dan mereka juga berkuasa menciptakan kegaiban-kegaiban tanpa perlu amalan gaib.

Sambil berkonsentrasi peka rasa dan melihat secara batin itu orangnya juga bisa mengetrapkan ilmu merogoh sukma tanpa perlu membaca amalan gaib. Secara batin mereka "masuk" ke alam kegaiban, rohnya keluar dari tubuhnya, masuk ke alam roh, merogoh sukma ..... Dengan merogoh sukma itu semakin leluasa mereka bepergian di alam gaib atau bertarung dengan mahluk halus (tetapi sebaiknya jangan anda sengaja merogoh sukma tanpa adanya pembimbingan dan pendampingan dari seorang guru yang benar menguasai keilmuannya).

Rahasia utama melihat secara batin adalah pada kemampuan pancernya yang sudah terasah dalam hal kegaiban, pancernya sudah aktif berfungsi sebagai roh, sehingga pancernya itu bisa juga mendeteksi dan melihat gaib, rohnya sudah bisa melihat roh-roh lain, tidak lagi berfungsi hanya secara biologis saja. Sedangkan sedulur papatnya sifatnya hanya melengkapi saja apa yang dibutuhkan oleh pancernya, memberikan tanda-tanda / firasat dan bisikan gaib jika ada sesuatu yang perlu diperhatikan, memberikan gambaran awal dalam melihat gaib yang itu kemudian ditegaskan lagi seluruhnya oleh pancernya dengan memfokuskan batin, sehingga informasi dan penglihatan gaibnya menjadi utuh dan detail, tidak setengah-setengah, tidak mengawang-awang, dan tidak sekelebatan lagi. Tetapi pada para pemula, mereka baru sampai pada bisikan gaib dari sedulur papatnya saja, pancernya belum aktif berfungsi sebagai roh, sehingga melihat gaibnya juga hanya sebatas gambaran gaib yang diterimanya dari sedulur papatnya itu saja, hanya sekelebatan saja.

Pada orang-orang yang tekun mendalami kebatinan / spiritual dan tapa brata, peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, melihat gaib, terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan kemampuan yang tidak terpisahkan dari kegaiban sukma mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, menjadikan mereka orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari kegaiban sukma mereka, sebagai efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual dan semedi / tapa brata mereka.

Selain mumpuni dalam kanuragan dan kebatinan, kegaiban sukma mereka juga menjadikan mereka mengerti dunia kegaiban tingkat tinggi, mengerti mahluk-mahluk halus tingkat tinggi, mengerti dewa dan wahyu dewa, dan weruh sak durunge winarah, dan kekuatan sukma mereka menjadikan mereka berkuasa di alam gaib, mengalahkan kekuasaan roh-roh dan mahluk halus tingkat tinggi sekalipun, dan mereka juga berkuasa menciptakan kegaiban-kegaiban tanpa perlu amalan gaib.



 3. Melihat secara roh


Melihat gaib secara roh adalah kemampuan tingkat lanjut dan tingkat tinggi dari melihat gaib secara batin, sehingga dalam melihat gaib secara roh ini ada banyak kesamaan penerapannya dengan melihat gaib secara batin, karena sebenarnya melihat gaib secara roh ini adalah kelanjutan / tingkat lebih tinggi dari melihat gaib secara batin, yaitu pada tingkatan kemampuan yang tinggi melihat gaib secara batin ditingkatkan kualitasnya menjadi melihat gaib secara roh.

Tetapi tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Kebanyakan sesudah orangnya kuat kebatinannya mereka bukan melihat gaib secara roh, tapi merogoh sukma keluar dari raganya untuk melihat dan mendatangi objek di tempat yang jauh untuk langsung melakukan suatu perbuatan di alam gaib.

Melihat gaib secara roh juga mengandalkan ketajaman / kepekaan rasa dan batin (ketajaman indera keenam), ditambah kekuatan kebatinan dan spiritual orangnya. 

Cara melihat gaib ini disebut melihat gaib secara roh, karena orang yang mampu melihat gaib dengan cara ini yang melihat gaib adalah murni rohnya, yang tidak lagi terikat secara jasmani dengan tubuh biologisnya, berbeda dengan melihat gaib dengan mata ketiga atau melihat secara batin yang masih ada ikatan dengan biologis tubuhnya. Setelah bisa terbebas secara roh orang akan lebih mudah untuk lebih lanjut meningkat menekuni keilmuan gaib kebatinan / spiritual yang lebih tinggi lagi.

Bila kekuatan sukma seseorang (kesatuan roh pancer dan sedulur papat) sudah cukup kuat, jika itu dimanfaatkan untuk masuk ke alam gaib roh pancer dan roh sedulur papat dapat saling melindungi, dapat saling menjadi perisai yang saling melindungi dari gangguan dan serangan mahluk halus dan dapat juga bersama-sama menyatukan kekuatan mereka untuk bertarung / berkelahi melawan mahluk halus tanpa orangnya harus bergerak secara fisik atau lebih dulu membaca amalan gaib.


Dalam melihat gaib, sedulur papat yang tidak disadari keluar dari tubuhnya mendatangi objeknya hanya terjadi pada orang-orang yang menerawang / melihat jauh dengan cakra mata ketiga. 

Dengan melihat gaib secara batin dan melihat gaib secara roh sedulur papatnya tidak pergi keluar dari tubuhnya (kecuali disengaja supaya keluar). Dengan cara-cara melihat gaib itu yang diandalkan terutama adalah kepekaan batin dan kekuatan sukma dari kebatinan dan spiritual orangnya, sesuai tingkatannya masing-masing.

Pada tingkat dasar, melihat secara roh sama dengan melihat secara batin. Tetapi pada tingkatan yang tinggi, melihat secara roh dapat mirip dengan melihat gaib dengan cakra mata ketiga, yaitu sedulur papatnya bisa dan disengaja bergerak keluar tubuh. Pada penguasaan tingkat lanjut, orang juga bisa mengetrapkan ilmu medhar sukma dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga apa saja yang dialami dan dilihat oleh sedulur papatnya itu, ia juga dapat mengetahuinya. 


Pada tingkat dasar, melihat secara roh sama dengan melihat gaib secara batin. Kalau tidak kuat lama berfokus pada kepekaan batin, seringkali yang kelihatan hanya sekelebatan-sekelebatan bayangan saja, dan untuk mendapatkan informasi gambaran yang lengkap banyak mengandalkan bisikan wangsit / ilham.

Pada tingkatan yang tinggi melihat secara roh akan mirip dengan melihat gaib dengan cakra mata ketiga, yaitu sedulur papatnya (bisa / disengaja) bergerak keluar tubuh. Tetapi ada perbedaannya, yaitu melihat secara roh tidak mengharuskan adanya komunikasi antar roh melalui cakra energi mata ketiga, tetapi dilakukan secara kontak rasa dan batin (menyatukan rasa dan batin). Disitulah kelebihannya, yaitu tidak bergantung pada cakra energi mata ketiga. 

Dengan melihat secara roh, seseorang bisa melihat gaib dengan roh pancer-nya saja, bisa juga dengan ia menerima saja penglihatan gaib dari roh sedulur papatnya, bisa juga kedua-duanya, pancer dan sedulur papat sama-sama melihat gaib. Melihat secara roh memiliki peluang yang luas untuk dikembangkan.

Dalam penyatuan rasa dan batin masing-masing roh dapat berinteraksi saling memberikan penglihatan gaib, tetapi masing-masing roh dapat juga berdiri sendiri-sendiri dalam melihat gaib.


1. Dengan melihat secara roh, orang dapat melihat gaib dengan roh pancer-nya saja. Ketika orangnya ingin melihat sesuatu secara langsung, atau ketika roh sedulur papatnya sedang pergi jauh ke suatu tempat orangnya tetap bisa melihat gaib dengan roh pancernya di dalam tubuh (melihat dengan sadar), tidak perlu menunggu adanya gambaran penglihatan ataupun komunikasi dari roh sedulur papatnya.


2. Dengan melihat secara roh, orang juga dapat melihat gaib dengan cara menerima saja penglihatan dari roh sedulur papatnya. Roh sedulur papat kita itu bisa pergi kemana saja yang kita inginkan. Dalam penyatuan rasa dan batin, pancernya menerima penglihatan dari roh sedulur papatnya, apa saja yang dilihat oleh para sedulur papat, kita (pancer) juga bisa melihatnya, apa yang dialami oleh para sedulur papat, kita (pancer) juga bisa merasakannya. Komunikasi dengan roh sedulur papat dilakukan secara kontak batin atau kontak rasa (menyatukan rasa dan batin), bukan melalui jalur komunikasi cakra mata ketiga, sehingga orangnya tidak harus melakukannya dengan konsentrasi khusus melihat gaib, bisa dilakukan sambil tetap sadar dan bekerja, bisa sambil menyetir mobil atau aktivitas lainnya.


3. Dengan melihat secara roh, orang dapat melihat gaib dengan roh pancer-nya (kesadarannya) sambil sekaligus menerima penglihatan gaib dari roh sedulur papatnya. Masing-masing roh (pancer dan sedulur papat) dapat saling memberikan penglihatan gaib dan dapat saling berkomunikasi / bertukar pikiran seolah-olah mereka adalah pribadi-pribadi yang berdiri sendiri-sendiri.

Pada tingkatan ini penerapan melihat secara roh akan sama dengan penerapan ilmu medhar sukma, yaitu rohnya dapat dengan sengaja dipecah, roh sedulur papatnya dapat terpisah keluar dari tubuhnya, terpisah dari pancernya, dapat dipecah menjadi 2, menjadi 3 atau menjadi 4. Selain dapat saling memberikan penglihatan gaib dan dapat saling berkomunikasi / bertukar pikiran seolah-olah mereka adalah pribadi-pribadi yang berdiri sendiri-sendiri, pancer dan para sedulur papat bisa juga menggabungkan penglihatan gaib mereka.

Seseorang yang menguasai ilmu merogoh sukma sekaligus juga menguasai ilmu medhar sukma, maka ketika keseluruhan rohnya merogoh sukma, keluar dari raganya, sukmanya itu dapat dipecahnya menjadi 5 roh yang masing-masing wujudnya mirip dan serupa, yaitu 1 roh pancer dan 4 roh sedulur papat. Roh pancer akan tampak lebih tebal dan jelas, sedangkan roh sedulur papat lebih tipis transparan (tetapi kebanyakan orang yang medhar sukma ketika sedang merogoh sukma, sukmanya hanya bisa dipecahnya menjadi 2 roh, yaitu 1 roh pancer dan 1 kesatuan roh sedulur papat).

Dengan demikian, dengan kombinasi penglihatan gaib di atas, orang dapat melihat banyak hal sekaligus. Atau bila difokuskan pada satu objek tertentu, orang akan dapat melihat dari banyak sisi dan akan memiliki pengetahuan lebih banyak, karena apa yang dilihatnya adalah penglihatannya sendiri ditambah penglihatan-penglihatan dari para roh sedulur papatnya.

Masing-masing roh dapat berperan seolah-olah mereka adalah pribadi-pribadi yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga antara mereka masing-masing dapat berkomunikasi dan bertukar pikiran, dan masing-masing dapat saling menceritakan penglihatannya dan pemikirannya dari sudut pandang dirinya masing-masing.

Bila penglihatan itu difokuskan pada satu objek yang sama, maka yang dilihatnya itu adalah penglihatannya sendiri (pancer) ditambah dengan apa yang dilihat oleh para sedulur papatnya. Pengetahuan yang didapatkan dari penglihatan itu adalah juga pengetahuan dari kesadarannya sendiri ditambah pengetahuan dari para sedulur papatnya. Pada tingkatan ini bila penglihatan gaibnya itu difokuskan pada satu objek yang sama, maka pengetahuan dan penglihatan yang didapatkannya akan sama seperti pengetahuan dan penglihatan dari 5 orang yang berbeda terhadap satu objek (penglihatan dari 1 roh pancer dan 4 roh sedulur papat).

Pada tingkatan yang tinggi, kekuatan roh dan ketajaman penglihatan gaib masing-masing roh juga dapat digabungkan / disatukan, sehingga kekuatan rohnya dan ketajamannya melihat gaibnya akan menjadi berlipat-lipat, berguna sekali untuk menghadapi kekuatan gaib yang tinggi dan untuk mempelajari kegaiban yang berdimensi tinggi.

Melihat secara roh ini akan menjadi penglihatan gaib spiritual dan akan mendatangkan pengetahuan spiritual. Cakra yang bekerja adalah cakra di dada, cakra di ubun-ubun dan cakra mahkota. Bila kemampuan ini ditekuni dan berhasil dikuasai akan bisa mengantarkan seseorang pada tingkatan spiritual yang tidak terhingga dan bisa sampai pada pengetahuan gaib yang berdimensi luar biasa tinggi, kemampuan-kemampuan yang akan sulit sekali dicapai oleh manusia yang umum, apalagi pada jaman sekarang ini.

Pada tingkatan ini roh para sedulur papat dapat berperan sebagai pribadi-pribadi tersendiri yang bisa diajak berpikir dan berkomunikasi, dan karenanya para sedulur papat itu sudah dapat berperan sebagai Guru Sejati bagi seseorang yang akan mengajarkan dan memberitahukan banyak hal kepadanya yang tidak akan diketahuinya jika ia sendirian saja yang kondisinya akan jauh lebih baik daripada sebelumnya yang para sedulur papat bersifat mendampingi saja seperti teman seperjalanan. Komunikasi antara pancer (kesadaran) dengan roh sedulur papat terjadi secara kontak batin, atau sebagai ilham yang mengalir di dalam pikiran, atau sama dengan komunikasi seseorang dengan khodam pendampingnya atau sama dengan komunikasi seseorang dengan sesosok gaib lain.

Cara melihat secara roh ini juga dapat digunakan dengan cara meminjam / melihat apa yang dilihat oleh sukma orang lain. Misalnya kita ingin mengetahui apa yang ada di dalam rumah seseorang, maka kita secara roh menyelaraskan frekuensi dengan sukma / roh orang si pemilik rumah, sehingga apa saja yang diketahui oleh orang tersebut (sukmanya), kita juga dapat mengetahuinya (cara yang serupa dengan ini biasanya dilakukan orang bukan dengan cara melihat secara roh, tetapi dengan menerima pemberitahuan dari khodam ilmu / pendampingnya).


Rahasia kemampuan deteksi dan melihat gaib ada pada tingkat kepekaan batin (kesatuan kesadaran (pancer) dan sedulur papat) untuk bisa mendeteksi dan melihat "sesuatu" yang gaib. Itulah juga sebabnya orang-orang yang sudah meninggal, di alam roh sukmanya belum tentu langsung bisa melihat mahluk halus lain, walaupun kondisinya sudah menjadi roh / arwah dan berada di alam roh (beruntunglah dirinya bila ada saudara / leluhur yang mendatanginya, sehingga di alam roh ia tidak merasa sendirian). Yang di alam roh sudah bisa melihat mahluk halus lain juga belum tentu bisa melihat mahluk halus yang kesaktiannya atau dimensinya tinggi. Semuanya itu tergantung pada kepekaan batinnya semasa hidupnya ketika dirinya masih menjadi manusia.

Kemampuan melihat gaib tidak begitu saja secara otomatis terjadi pada orang-orang yang telah terbuka cakra mata ketiganya di dahi atau cakra di ubun-ubun kepala atau cakra mahkota, misalnya yang dibuka dengan tenaga dalam / prana / kundalini. Dengan telah terbukanya cakra mata ketiga dan cakra di ubun-ubun kepala akan mempermudah "jalur komunikasi" antara sedulur papat di luar tubuh dengan sukma di dalam tubuh. Tetapi untuk bisa melihat gaib tidak cukup hanya dengan membuka dan mengolah cakra-cakra tubuh, tetapi harus dilatih untuk kepekaan dan ketajaman rasa / batin dan untuk keselarasan roh pancer dan sedulur papatnya.

Untuk bisa melihat gaib cakra-cakra itu harus dibuka untuk tujuan melihat gaib, bukan dengan cara dan tujuan yang sama dengan yang untuk tujuan pengolahan energi. Karena itu banyak orang yang kecewa yang setelah cakra-cakranya dibuka ternyata ia masih juga tidak bisa melihat gaib. Untuk tujuan melihat gaib pembukaan cakra-cakra itu harus dengan sugesti menggerakkan sukma (atau dengan cara memberikan khodam ilmu melihat gaib atau memasukkan khodamnya ke dalam kepala / badan yang nantinya kemampuannya melihat gaib akan sama dengan yang disebut melihat gaib dengan bantuan khodam  yang itu bukan sesuatu yang Penulis prefer).

Rahasia kemampuan mendeteksi dan melihat gaib bukan pada telah terbukanya cakra-cakra tubuh dan tidak harus lebih dulu cakra-cakranya dibuka, tetapi ada pada tingkat kepekaan rasa dan batin. Sesudah orang peka rasa terhadap sesuatu yang gaib, barulah peka rasanya itu ditingkatkan lagi untuk bisa melihat gaib.

Rahasia kemampuan melihat gaib ada pada tingkat kepekaan rasa dan batin dan keselarasan antara kesadaran (pancer) dan para sedulur papat dan komunikasinya. Pergerakan para sedulur papat ini tidak banyak diketahui orang, karena walaupun banyak orang bisa melihat gaib, tetapi jarang sekali orang bisa melihat roh sedulur papat, karena dimensinya lebih halus dan lebih sulit dilihat daripada kuntilanak, gondoruwo atau dedemit atau roh-roh halus tingkat rendah lainnya yang biasa dilihat orang (roh sedulur papat bahkan lebih sulit dilihat dibanding melihat bangsa Dewa yang para mahluk halus pun belum tentu bisa melihatnya. Pada kasus orang-orang yang sedulur papat terpisahnya ditawan oleh mahluk halus lain, mahluk halus lain itu mungkin tidak bisa melihat sedulur papatnya itu, tapi bisa merasakan keberadaannya dari rasa energinya).


Kekuatan batin / sukma dan kepekaan rasa menentukan tingkat dimensi gaib yang bisa dideteksi. Semakin peka batinnya dan kuat sukmanya, semakin tinggi tingkatan dimensi gaib yang bisa dideteksinya.

Melihat gaib dengan mata ketiga biasanya hanya dapat untuk melihat mahluk gaib tingkat rendah saja dan yang jaraknya tidak jauh. Bila sukmanya dan energi cakra mata ketiganya kurang kuat, maka bila digunakan untuk melihat jauh, yang dilihatnya hanya samar-samar saja, atau malah blank tidak tampak apa-apa (atau orangnya akan terbawa ilusi). Karena itulah sedulur papatnya terpaksa harus keluar dari tubuhnya untuk mendekati objek yang ingin dilihat.

Pada tingkatan dasar melihat secara batin dapat digunakan untuk mendeteksi tingkatan dimensi gaib rendah sampai menengah. Tetapi bila kepekaan batin dan kekuatan sukmanya sudah tinggi akan dapat juga ia mendeteksi tingkatan gaib berdimensi tinggi dan kekuatan sukmanya dapat digunakan untuk menundukkan mahluk gaib kelas atas.

Melihat secara roh bisa untuk mengetahui keberadaan mahluk halus tingkat rendah sampai yang berdimensi tinggi, juga bisa untuk mempelajari pengetahuan gaib berdimensi tinggi. Pengetahuan gaib yang didapatkan itu bukan hanya tentang kegaiban biasa, tetapi juga mengarah pada kegaiban dunia spiritual dan ketuhanan.


Pada masa sekarang ini banyak orang yang ingin bisa melihat gaib, ingin bisa melihat gaib dengan mata ketiga saja yang dianggapnya bisa mudah melihat gaib dan penglihatan gaibnya jelas, karena tujuan mereka hanyalah ingin bisa melihat gaib saja, dan menganggap melihat gaib secara batin bersifat mengawang-awang, tidak handal, tidak meyakinkan dan tidak bisa dibanggakan. Tetapi yang tidak disadari oleh umum adalah bahwa kelemahan melihat secara batin itu hanya terjadi pada orang-orang yang hanya mengandalkan kepekaan rasa saja untuk melihat gaib, yang tidak mempunyai kemampuan lain yang lebih dari itu.

Pada orang-orang yang menekuni dunia kebatinan dan spiritual, peka rasa dan kemampuan melihat secara batin adalah (hanyalah)  kemampuan dasar  saja yang adalah modal utama  untuk mempelajari kemampuan kebatinan dan spiritual yang lebih tinggi lagi yang akan mengantarkan seseorang menjadi linuwih dan waskita. Kemampuan peka rasa dan melihat secara batin gunanya bukan semata-mata untuk hanya bisa melihat gaib, tetapi bersifat umum untuk kepekaan kegaiban dalam semua bidang kehidupan.

Orang-orang yang mampu melihat gaib secara roh kebanyakan adalah orang-orang yang sudah mampu "melihat" secara batin untuk mengetahui dimensi gaib tingkat tinggi, terutama adalah orang-orang yang menekuni dunia spiritual ketuhanan. Dengan demikian kemampuan melihat gaib secara roh bukanlah suatu jenis keilmuan khusus yang bisa dipelajari tersendiri untuk kemudian diturunkan ilmunya, tetapi merupakan kelanjutan / peningkatan kualitas dari kemampuan melihat secara batin untuk orangnya bisa lebih dalam lagi masuk ke dalam dunia kegaiban.

Kalau sudah terbiasa mengasah kepekaan rasa, biasanya sukma kita juga akan bekerja, sehingga kita dapat mendeteksi keberadaan sesuatu yang gaib dan juga bisa terbayang sosoknya seperti apa. Kalau kita bisa fokus kuat dan lama pada kepekaan rasa, maka gambaran yang kita terima juga akan jelas. Dengan cara ini kita sudah menjalin komunikasi dengan sukma kita, sehingga pemberitahuan dari mereka berupa ide / ilham dan gambaran gaib bisa kita terima dengan baik sinyalnya di dalam pikiran kita dan kemampuan ini akan sama dengan melihat secara batin.

Bila kemampuan melihat secara batin dan roh digunakan untuk menerawang tempat atau objek yang jauh biasanya energi di cakra ubun-ubun kepala dan cakra mahkota akan menguat, akan terbentuk dan terbuka sedikit demi sedikit. Bila terlalu dipaksakan maka akan cepat lelah pikirannya. Tetapi bila sudah terbiasa, maka energi cakra di kepalanya akan kuat dan akan mampu juga melihat dimensi gaib tingkat tinggi. Selain itu, sukmanya juga akan meningkat kekuatannya dan memiliki kekuatan batin / roh yang tajam yang bisa digunakan melalui desakan nafas, sorot mata atau langsung dengan kekuatan pikiran untuk menyerang / mengusir / menangkap mahluk halus atau untuk menembus tabir-tabir kegaiban.


Catatan: 

Prinsip dasar melihat gaib adalah kepekaan batin dan rasa untuk menangkap sinyal berupa gambaran gaib yang dikirimkan oleh sukma / roh kita dalam bentuk ilham / bayangan penglihatan yang mengalir di pikiran kita. Dalam hal ini konsentrasinya ada pada fokus rasa batin, bukan pikiran. Kalau setelah kita menerima gambaran gaib itu kemudian kita memperjelas gambarannya dengan berpikir, biasanya kemudian gambaran gaibnya itu akan hilang. Karena itu tetaplah fokus batin, bukan pikiran. Biarkan gambaran gaibnya terus mengalir terbayang dalam pikiran kita sampai lengkap detailnya dan kita usahakan bisa lama berkonsentrasi batin seperti itu, jangan terus beralih menggunakan pikiran (istirahatkan pikiran, batin yang bekerja). Dalam hal ini kita tidak mengedepankan nalar / pikiran, tetapi penerimaan batin, sesudah itu barulah dinalar dengan pikiran.


Sebagai penjelasan tambahan, manusia terdiri dari 2 unsur pokok, yaitu tubuh biologis dan roh.

Roh manusia terbagi menjadi 2, yaitu roh Pancer dan roh Sedulur Papat. Roh Sedulur Papat sifatnya mendampingi Pancer karena ada ikatan kuat di antara mereka. Tetapi mereka tidak sungguh-sungguh menyatu, mereka terpisah (kecuali setelah si manusia meninggal dan roh-rohnya menyatu menjadi arwah).

Dalam kehidupan sehari-hari roh manusia ada di dalam tubuh biologisnya. Roh itu menentukan ada tidaknya energi kehidupan di dalam tubuh manusia. Roh itu menentukan berfungsinya bagian-bagian tubuh manusia, organ-organ dan saraf, dan otak / pikiran manusia, dan menghidupkan saraf-saraf motorik sehingga manusia bisa berjalan. Roh menjadi penunjang kehidupan manusia. 

Roh Pancer hadir secara biologis manusia. Berpikir dan berperasaan, berlogika, merencanakan kehidupan, merasa lapar, merasa sakit, ingin kaya, ingin hidup mulia, dsb, semuanya adalah biologis manusia. Dalam hal ini Roh Pancer manusia hadir, bertindak dan berkesadaran sebagai mahluk biologis.

Roh Pancer hadir di dalam kesadaran, hati dan pikiran, sehingga yang dominan berperan dalam sehari-harinya manusia adalah Roh Pancer.

Roh Sedulur Papat keberadaannya bersifat mendampingi Pancer dan membantu membentuk kebijaksanaan dan memberikan peringatan-peringatan (dalam bentuk ide dan ilham, bisikan hati / nurani dan mimpi).

Roh Pancer hadir di dalam kesadaran dan berpikir manusia, tetapi roh sedulur papat tidak menentukan jalan berpikir manusia. Roh sedulur papat tidak menyatu dengan pikiran manusia, tetapi hanya bersifat membantu membentuk kebijaksanaan dan memberikan peringatan-peringatan dalam bentuk rasa dan firasat (dan mimpi), gambaran-gambaran gaib, ide-ide dan ilham, yang mengalir di dalam pikiran manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita sok berlogika, atau tidak peduli situasi, mengesampingkan bisikan hati dan kebijaksanaan, atau lebih mengutamakan dogma dan doktrin, pemikiran sendiri, pendapat sendiri dan ke-Aku-an. Itulah sebabnya kita tidak akrab dengan rasa dan firasat. Tetapi bila kita mau peka dan memperhatikan rasa dan firasat, ide-ide dan ilham, maka kita akan memiliki naluri dan insting yang tajam. Dengan cara demikian kita sudah mengakrabkan diri dengan Sedulur Papat dan sudah memperhatikan komunikasi yang mereka lakukan.

Seseorang yang dalam hidupnya dominan mengutamakan sikap berpikirnya atau sok berlogika, menonjolkan kepintarannya, mengutamakan pendapat sendiri dan ke-Aku-an dan dogma / doktrin, atau tidak peduli situasi, dan mengesampingkan bisikan hati dan kebijaksanaan, maka ia lebih mengedepankan aspek biologisnya, aspek manusia keduniawiannya, sehingga ia tidak peka terhadap sesuatu yang bersifat roh, rasa dan firasat. Tetapi seseorang yang selalu menjaga peka batin, memperhatikan rasa dan firasat, ia akan tajam nalurinya, dan mungkin juga mengerti tentang kegaiban alam, karena ia kental berhubungan dengan rohnya.

Roh kita sebagai Pancer, sebenarnya juga bersifat roh, sehingga sebenarnya kita juga dapat mengetahui hal-hal yang bersifat roh. Tetapi sehari-harinya roh Pancer ini terbelenggu dalam kehidupan biologis manusia, banyak memunculkan ego dan keAkuan, sehingga manusia tidak peka dengan hal-hal yang bersifat roh, apalagi atas hal-hal yang bersifat ke-Allah-an. Karena itu seringkali seseorang harus bisa membersihkan hati, pikiran dan batinnya, harus bisa melepaskan belenggu keduniawiannya (bukan meninggalkan keduniawiannya tetapi melepaskan belenggu keduniawiannya) untuk bisa mendalami hal-hal yang bersifat roh dan keTuhanan.

Bila kita dekat dengan para Sedulur Papat (peduli / memperhatikan), karena sifat keberadaan mereka mendampingi kita sebagai Pancer, mungkin kita juga akan bisa peka rasa mengenai keberadaan roh-roh lain dan dapat peka rasa mengenai sesuatu kejadian sebelum kejadiannya terjadi (weruh sakdurunge winarah) melalui pemberitahuan dari mereka sebelumnya. Pemberitahuan / peringatan dari para Sedulur Papat ini bisa berupa suatu kejadian perlambang, rasa, firasat, mimpi, wangsit / penglihatan / bisikan gaib, ide-ide dan ilham, dsb. Diperlukan kepekaan rasa dan batin untuk dapat menangkap sinyal komunikasi dari para Sedulur Papat dan untuk bisa mengetahui maksud dan artinya.



----------




Pada masa sekarang banyak orang yang ingin bisa melihat gaib, sehingga mereka juga rela mengeluarkan sejumlah rupiah untuk bisa instan melihat gaib (walaupun akhirnya banyak juga yang kecewa karena mereka tetap saja mereka tidak bisa melihat gaib walaupun sudah banyak mengeluarkan rupiah).

Pengertian melihat gaib dengan mata ketiga di atas, yang pada masa sekarang banyak orang menyebutnya sebagai penglihatan mata ketiga, atau ilmu batin, atau ilmu mata batin,
bahkan dikultuskan dan dikatakan sebagai kemampuan gaib tingkat tinggi, yang dikatakan orang bisa melihat gaib dengan menggunakan cakra mata ketiga, adalah pengertian orang pada masa sekarang yang berorientasi hanya ingin bisa melihat gaib saja, yang menganggap kemampuan melihat gaib adalah sesuatu yang sangat istimewa, yang sudah membuat banyak orang ingin bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga yang berada di dahi di antara 2 alis mata, yang umumnya pengertian itu berkembang di kalangan ilmu gaib dan ilmu khodam.

Pengertian itu tidak sejalan dengan pengertian di dunia keilmuan kebatinan dan spiritual karena umumnya cara itu sulit dikembangkan untuk bisa melihat / mendeteksi kegaiban tingkat tinggi, sulit untuk bisa digunakan melihat dewa dan buto, apalagi untuk bertarung berkelahi (kontak energi) melawan mahluk halus tingkat tinggi sekelas dewa dan buto. Cara itu juga tidak mendatangkan pengetahuan gaib yang berdimensi tinggi, seperti pengetahuan tentang dewa dan wahyu dewa atau tentang rahasia kegaiban hidup lainnya yang mengantarkan orang menjadi waskita, sehingga untuk dipandang mumpuni orang akan banyak memunculkan dogma dan pengkultusan yang seringkali tidak sejalan dengan kondisi kegaiban aslinya tetapi dogma dan pengkultusan itu harus dipercayai sebagai benar.

Di dunia kebatinan dan spiritual, semua kemampuan melihat gaib di atas, terutama melihat secara batin dan melihat secara roh, adalah apa yang disebut sebagai  penglihatan mata ketiga , artinya orangnya memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu dengan selain mata wadagnya, yang kemampuan itu akan mendatangkan pengetahuan tersendiri, kebijaksanaan tersendiri, mendatangkan kebijaksanaan spiritual tentang kegaiban hidup dan kegaiban alam, yang akan mengantarkan seseorang memiliki hikmat kebijaksanaan kesepuhan dalam dirinya, peka sasmita, menjadi linuwih dan waskita.

Begitu juga dengan indera keenam. Yang dimaksud indera keenam adalah kepekaan seseorang untuk menginderai sesuatu yang tidak kelihatan mata, dan itu tidak harus orangnya bisa melihat gaib, karena pengertian indera keenam itu terutama adalah kemampuan peka rasa seseorang untuk bisa mendeteksi dan memahami sesuatu yang tidak tampak mata wadagnya, yang tidak dapat diinderai dengan panca inderanya. Kepekaan indera keenam banyak terasah pada orang-orang yang selalu menjaga kepekaan batinnya, yang selalu menjaga untuk selalu bisa peka rasa dan tanggap firasat, mengerti kegaiban, bukannya bisa melihat gaib tapi tidak tanggap sasmita.

Pada orang-orang yang tekun mendalami kebatinan / spiritual dan tapa brata, peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, melihat gaib, terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan kemampuan yang tidak terpisahkan dari kegaiban mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai efek dari kegaiban sukma mereka, efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual, laku prihatin, semedi dan tapa brata mereka.


Ada pembaca yang bertanya tentang apa tandanya seseorang sudah bisa melihat gaib secara roh, yang berbeda dengan melihat
gaib secara batin.

Biasanya orang tidak membeda-bedakan cara melihat gaib, karena tujuannya adalah hanya untuk bisa melihat gaib saja, terserah bagaimana caranya. Pembedaan istilah melihat gaib dengan mata ketiga, melihat gaib secara batin dan melihat gaib secara roh dilakukan oleh Penulis supaya bila kita bisa membedakannya dan tahu cara kerjanya, maka masing-masing kemampuan melihat gaib itu bisa ditingkatkan menjadi kemampuan yang lebih tinggi lagi.

Melihat secara roh adalah tingkat lanjut dari kemampuan melihat secara batin, sehingga di dalamnya ada banyak hal yang mirip yang membuat sulit untuk membedakan melihat secara roh dengan melihat secara batin. Yang utama membedakannya adalah tingkat kemampuannya.

Melihat secara roh biasanya terkait dengan kemampuan lain seperti merogoh sukma atau medhar sukma, atau kemampuan lain secara roh, sehingga penekanannya adalah mendayagunakan kemampuan roh/ sukma, bukan batin lagi.




 4. Melihat Gaib dengan bantuan Khodam 


Selain 3 cara utama melihat gaib yang sudah diuraikan di atas, masih ada satu cara lagi dalam melihat gaib, yaitu melihat gaib dengan bantuan khodam. Cara inilah yang umumnya berkembang di kalangan keilmuan gaib jaman sekarang.

Dengan cara ini bisanya orang melihat gaib adalah dengan orangnya menerima penglihatan gaib, yaitu bukan orangnya bisa melihat gaib, tetapi ia menerima suatu gambaran gaib di dalam pikirannya dari sesosok gaib tertentu tentang sosok-sosok gaib, atau tentang suatu objek di suatu tempat, atau tentang suatu kejadian pada masa lalu atau masa depan, atau hal-hal gaib lainnya, sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib.

Cara melihat gaib ini banyak dilakukan oleh peramal-peramal dan spiritualis / paranormal dalam meramalkan suatu kejadian, atau untuk melihat sesuatu yang gaib atau untuk melihat suatu objek di tempat yang jauh, karena dengan cara ini mereka mendapatkan bisikan pemberitahuan atau dapat melihat sesuatu kejadian atau sesuatu yang gaib dengan cukup jelas di dalam pikiran mereka (orang Jawa sering menyebut ini sebagai kaweruh / wangsit / wahyu).

Kemampuan ini seringkali didapatkan sejak seseorang masih kecil, sehingga sering disebut "bakat bawaan lahir".  Kondisi ini sama seperti seseorang yang ketempatan gaib, yang tanpa pernah belajar sebelumnya tetapi kemudian ia bisa melihat gaib, bisa mengobati orang atau bisa meramal.

Melihat gaib cara ini banyak terjadi pada orang-orang yang memiliki khodam ilmu / pendamping, orang-orang yang di dalam tubuhnya ketempatan mahluk halus, dan orang-orang yang mengamalkan ilmu gaib / mantra untuk melihat gaib. Penglihatan gaibnya itu diterima orangnya di dalam pikirannya dari khodam ilmunya, khodam pendamping, atau sosok gaib lain yang membantunya, sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib.

Khodam, selain yang sengaja didatangkan atau yang diberikan oleh orang lain, ada banyak mahluk halus yang datang sendiri kepada seseorang, baik yang masih awam maupun yang tekun rajin berzikir / wirid, atau yang sedang ngelmu gaib, dan kemudian menjadi khodamnya.

Selain yang datang untuk menjadi khodam pendamping, banyak mahluk halus yang datang dan masuk bersemayam di dalam badan / kepala seseorang, menjadikan tubuh orangnya sebagai rumahnya yang baru (ketempatan mahluk halus) yang kejadian awalnya melalui proses ketindihan (baca : Pengaruh Gaib thd Manusia).

Kelemahan melihat gaib dengan bantuan khodam dan dengan amalan / mantra adalah bahwa kondisi alam gaib yang dilihat oleh orangnya mungkin saja adalah kondisi gaib yang sebenarnya, tetapi kadangkala juga palsu (fiktif / ilusi / halusinasi), atau hanya merupakan pencitraan saja atau perlambang saja dari sesuatu yang gaib, karena apa yang dilihatnya itu bukanlah kondisi / kejadian gaib yang sesungguhnya ia lihat, tetapi adalah gambaran gaib yang diberikan oleh khodamnya, yaitu gambaran gaib yang si khodam ingin supaya si manusia melihatnya, bukan sungguh-sungguh orangnya bisa melihat gaib. Kebisaannya melihat gaib lebih banyak ditentukan oleh khodamnya itu.

Tetapi walaupun melihat gaibnya dengan bantuan khodam, bila melihat gaibnya itu tekun dilatih itu akan menjadi kemampuan yang bagus untuk bisa melihat gaib, hanya saja kita harus bisa fokus tahan lama pada objek melihat gaibnya, jangan mengambang, dan jangan sampai berilusi.


Pada masa sekarang ini orang-orang yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga, yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cukup jelas, apalagi yang kemampuannya itu terjadi dengan sendirinya tanpa orangnya pernah melatih kepekaan melihat gaib, kebanyakan sebenarnya adalah orang-orang yang dirinya mengalami ketempatan sesosok mahluk halus di dalam tubuhnya, di dalam kepalanya atau di dalam badannya, atau orangnya berkhodam (walaupun mungkin orangnya tidak menyadari bahwa dirinya berkhodam). Baca juga : Pengaruh Gaib thd Manusia.

Pada orang-orang yang ketempatan mahluk halus di dalam kepalanya mahluk gaibnya itu memberinya banyak penglihatan gaib, termasuk ilusi dan halusinasi. Ketika orangnya ingin melihat / menerawang jauh, karena kondisi kekuatan sukma dan kebatinan orangnya masih lemah, tidak cukup kekuatannya untuk bisa melihat / menerawang jauh, maka di luar sepengetahuannya sosok halus di dalam kepalanya itu memaksa sedulur papatnya untuk keluar mendatangi objek yang ingin dilihatnya supaya penglihatannya menjadi jelas. Sesudah sedulur papatnya itu melihat objeknya, kemudian mereka "melapor" kepada sosok halus yang di dalam kepalanya melalui jalur energi cakra mata ketiga. Sesudahnya barulah kemudian si sosok halus di dalam kepalanya itu memberikan penglihatan gaibnya itu kepada orangnya (pancernya), sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib. Tetapi apa saja isi penglihatan gaibnya itu semuanya sudah "disetir", sudah "dibentuk" oleh sosok halus di kepalanya itu, tidak semuanya asli apa adanya.

Tetapi dengan dirinya merasa bisa melihat gaib itu tanpa disadarinya ia sudah "memperbudak" sedulur papatnya sendiri dan meresikokan sedulur papatnya untuk bertemu / berhadapan dengan mahluk-mahluk halus di alam gaib.

Selain yang ketempatan di dalam kepala, ada juga orang-orang yang ketempatan sesosok mahluk halus di dalam badannya. Pada orang-orang ini sosok gaib di dalam badannya itu juga memberikan banyak penglihatan gaib, termasuk ilusi dan halusinasi. Tetapi ketika orangnya ingin melihat / menerawang jauh, biasanya sosok halus di badannya itu tidak memaksa sedulur papatnya untuk keluar mendatangi objek yang ingin dilihatnya, sehingga penglihatan gaibnya tidak cukup jelas dibandingkan orang-orang yang ketempatan mahluk halus di kepalanya. Tetapi kasusnya sama juga, apa saja isi penglihatan gaibnya itu semuanya sudah "disetir" atau sudah "dibentuk" oleh sosok halus di badannya itu, tidak semuanya asli apa adanya.

Selain yang ketempatan mahluk halus di dalam kepala / badan, ada juga orang-orang yang memiliki khodam ilmu atau khodam pendamping. Khodam-khodam itu juga banyak yang sering memberikan gambaran gaib kepada orangnya sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib (merasa mengerti gaib).

Pada orang-orang itu, yang merasa bisa melihat gaib karena dirinya menerima penglihatan gaib dari sesosok mahluk halus di dalam tubuhnya, atau menerima penglihatan gaib dari khodam ilmu / pendampingnya, yang sebenarnya bukan orangnya sendiri yang bisa melihat gaib, tetapi orangnya merasa bisa melihat gaib karena si mahluk halus memberinya gambaran gaib, yang orangnya merasa bisa melihat gaib karena ia menerima gambaran gaib yang mengalir di dalam kepalanya dari khodamnya, kemampuan mereka melihat gaib itu oleh Penulis dikategorikan sama dengan melihat gaib dengan bantuan khodam.


Dalam hal ini orang-orang tersebut "merasa" bisa melihat gaib karena mereka menerima suatu gambaran gaib di dalam pikirannya dari sesosok halus yang bertempat di dalam tubuhnya atau dari khodamnya itu. Tetapi seringkali yang dilihatnya itu bukanlah kondisi gaib yang sebenarnya, banyak yang palsu / fiktif. Malah seringkali terjadi sosok halus yang di dalam tubuhnya itu memenuhi kepalanya dengan gambaran-gambaran gaib fiktif, sehingga orangnya sering berilusi / berhalusinasi. Ada yang orangnya sampai "merasa" rohnya dibawa keluar dari tubuhnya (merasa bisa merogoh sukma) untuk berjalan-jalan atau melihat-lihat alam gaib, tetapi seringkali itu juga bukanlah alam gaib yang sesungguhnya, hanya rasa suasananya saja yang mirip, dan tidak sungguh-sungguh rohnya keluar dari tubuhnya, tidak sungguh-sungguh mereka merogoh sukma. 

Kemampuan melihat gaib pada orang-orang ini didapat sendiri tanpa pernah belajar, tanpa usaha, tanpa perlu menjalankan suatu laku tirakat, tanpa melatih kepekaan melihat gaib, dan bukan berasal dari kemampuannya sendiri, karena penglihatan gaibnya itu diterimanya saja di dalam pikirannya yang seringkali siapa yang memberikan gambaran gaibnya itu orangnya juga tidak tahu. Walaupun orangnya "merasa" bisa melihat gaib, tetapi sebenarnya ia tidak bisa melihat gaib kalau tidak dibantu, kalau tidak diberikan gambaran gaibnya. Karena ada gambaran gaib yang diterimanya di dalam pikirannya maka ia merasa bisa melihat gaib.

Dengan adanya uraian di atas, maka untuk kita yang merasa bisa melihat gaib, yang kemampuan itu terjadi dengan sendirinya tanpa kita pernah melatih kepekaan rasa, tanpa kita pernah melatih kepekaan batin untuk bisa melihat gaib, apalagi kalau kita sering melihat gaib di saat-saat yang tidak kita inginkan, melihat gaibnya mengalir sendiri di luar kontrol kita, sebaiknya menjadi bahan tersendiri untuk kita mawas diri, jangan-jangan kita sendiri sudah mengalami diri kita ketempatan sesosok mahluk halus, entah di dalam kepala ataupun di dalam badan kita, atau mungkin juga sebenarnya kita memiliki sesosok khodam pendamping. 

Begitu juga upaya kita untuk meminta dibukakan mata batin atau mata ketiga kita untuk bisa melihat gaib, yang melihat gaibnya bukan hasil usaha kita sendiri dalam melatih kepekaan batin, harus juga diwaspadai, jangan sampai caranya membuat kita bisa melihat gaib itu adalah dengan cara memasukkan / mengisikan mahluk halus (khodam) ke dalam kepala kita, yang kalau itu berhasil terjadi, maka kemudian kita akan merasa bisa melihat gaib, tetapi nantinya kepala kita akan dipenuhi oleh ilusi dan halusinasi, dan penglihatan gaib kita tidak semuanya sesuai dengan aslinya apa adanya. Banyak fiktifnya.

Terhadap semua bentuk pengisian ilmu dan khodam yang langsung mengisikannya ke dalam tubuh kita haruslah kita lebih berhati-hati, terutama pada efek samping selanjutnya, karena jika ternyata nantinya ada resiko negatifnya yang benar-benar kita alami, tidak semua orang mampu mendeteksi faktor penyebabnya, termasuk gurunya sendiri, apalagi untuk menangkal dan menanggulanginya. Tidak semua orang yang bisa melihat gaib, termasuk para spiritualis kawakan, bahkan gurunya sendiri, mampu dengan benar mendeteksi / melihat sosok gaib yang berdiam di dalam badan atau kepala seseorang. Seringkali mereka sendiri malah ditipu penglihatan gaib dan pengertiannya, sehingga mereka akan keliru dan mengatakan bahwa orang yang ketempatan mahluk halus itu mempunyai khodam penjaga, khodam macan, khodam leluhur, dsb. Dengan demikian mereka tidak dapat mendeteksi dengan benar untuk menilai sisi negatifnya, apalagi untuk menangkalnya.


Melihat gaib dengan cara menerima penglihatan gaib itu bisa juga dipelajari sendiri. Ada banyak amalan ilmu gaib yang tujuannya khusus untuk orang bisa melihat gaib, untuk mendatangkan penglihatan gaib, atau untuk menggerakkan khodam ilmu / pendamping untuk memberikan penglihatan gaib atau untuk merogoh sukma.

Proses yang umum untuk mempelajarinya adalah dengan cara "pengisian ilmu / khodam" (diijazahkan). Biasanya sesosok mahluk halus disatukan dengan seorang murid dengan cara memberikan air minum yang dibumbui minyak dan mantra, rajah gaib, kapsul telan (susuk loloh) atau media spiritual lainnya. Tapi banyak juga orang yang tanpa pernah diisi tapi sudah berkhodam, karena ada banyak sosok gaib yang datang sendiri kepada seseorang, termasuk kepada orang yang masih awam, dan kemudian menjadi khodamnya (atau masuk bersemayam di dalam badan atau kepalanya).

Dengan bantuan khodam orang bisa melihat gaib dengan cara :

1. Sosok gaib itu memberikan gambaran penglihatan gaib di dalam pikirannya.
2. Orangnya membacakan amalan gaib untuk melihat gaib atau untuk merogoh sukma.
3. Sosok gaib itu memberikan mimpi-mimpi rohnya keluar dari tubuhnya melihat-lihat alam gaib (bermimpi keluar dari tubuhnya).

Kelemahan melihat gaib dengan bantuan khodam dan dengan amalan / mantra adalah bahwa kondisi alam gaib yang dilihat oleh si manusia mungkin saja adalah kondisi gaib yang sebenarnya, tetapi kadangkala juga palsu (fiktif / ilusi / halusinasi) atau hanya merupakan pencitraan saja, atau perlambang saja dari sesuatu yang gaib, karena apa yang dilihatnya itu bukanlah kondisi / kejadian gaib yang sesungguhnya ia lihat, tetapi adalah gambaran gaib yang diberikan oleh si khodam, yaitu gambaran gaib yang si khodam ingin supaya si manusia melihatnya, bukan sungguh-sungguh orangnya bisa melihat gaib. Kebisaannya melihat gaib ditentukan oleh interaksi khodamnya itu.


Jadi, selain 3 cara utama di atas, yaitu melihat gaib dengan mata ketiga, melihat gaib secara batin dan melihat gaib secara roh, masih ada satu cara lagi untuk
melihat gaib, yaitu melihat gaib dengan dibantu  khodam atau menggunakan amalan / mantra melihat gaib.

Cara melihat gaib
yang terakhir ini, yaitu melihat gaib dengan bantuan khodam dan yang menggunakan amalan / mantra dipisahkan tersendiri dan diurutkan belakangan, karena bukan merupakan cara melihat gaib yang menjadi prefer Penulis, karena seringkali terjadi penglihatan gaib cara ini tidak bisa diandalkan keakuratannya, tidak riil, banyak berupa ilusi dan halusinasi, atau hanya berupa pencitraan dan perlambang saja, bukan kondisi kegaiban yang sesungguhnya, tetapi justru cara inilah yang sekarang umum dan paling banyak dilakukan orang dalam melihat gaib, yang umumnya terjadi pada orang-orang yang bisa melihat gaib tanpa orangnya pernah melatih peka rasa untuk bisa mendeteksi / melihat gaib atau yang melihat gaib dengan mengamalkan amalan / mantra melihat gaib.

Penglihatan gaib yang tidak riil ini biasanya dialami oleh orang-orang yang berkhodam atau orang-orang yang di dalam badannya atau di dalam kepalanya ada ketempatan mahluk halus, atau pada orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan mantra / amalan melihat gaib. 


Penglihatan gaib tidak riil
yang biasanya "dilihat" oleh orang-orang yang berkhodam dan yang dirinya ketempatan mahluk halus (selain yang ketempatan mahluk halus jenis sukma) atau pada orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan mantra / amalan melihat gaib biasanya berupa citra dan perlambang saja yang menggambarkan arti dan makna kegaiban yang sesungguhnya. Penglihatan gaibnya bukannya palsu / fiktif, tetapi hanya berupa citra dan perlambang saja dari kegaiban yang sesungguhnya. Kejadian gaibnya benar terjadi, sosok gaib yang dilihatnya benar ada, tetapi yang dilihatnya itu hanya berupa citra / perlambangnya saja dari kejadian gaib dan sosok-sosok gaibnya yang citra dan perlambang itu menggambarkan arti dan makna kegaibannya. 

Penglihatan gaib yang palsu / fiktif paling banyak dialami oleh orang-orang yang ketempatan mahluk halus jenis sukma / arwah manusia di dalam kepala / badannya. Seringkali kejadian gaib yang dilihatnya fiktif / palsu, kejadian gaibnya tidak sungguh-sungguh terjadi dan seringkali sosok-sosok gaibnya juga tidak sungguh-sungguh ada (hanya ilusi / halusinasi), karena itu adalah gambaran gaib rekayasa si sukma tersebut untuk dilihat oleh si manusia. Pikiran orangnya dimanipulasi.

Bahkan ada juga orang yang sampai diberikan halusinasi sedemikian rupa sampai orangnya merasa bisa merogoh sukma, merasa rohnya keluar dari badannya berjalan-jalan di alam gaib, dan di alam gaib ia melihat / bertemu dengan gaib-gaib lain, tetapi itu juga fiktif. Kejadian ia merogoh sukma itu tidak sungguh-sungguh terjadi, tidak sungguh-sungguh rohnya keluar dari tubuhnya dan ia berjalan-jalan di alam gaib, tidak sungguh-sungguh orangnya merogoh sukma. Itu hanya ilusi / halusinasi saja. Pada mereka itu persyaratan merogoh sukma, yaitu rohnya tidak boleh terlalu lama berada di luar tubuhnya, tidak berlaku, karena rohnya tidak sungguh-sungguh keluar dari tubuhnya. Ia hanya berilusi / berhalusinasi saja dirinya merogoh sukma.

Dalam kondisi ilusi dan halusinasi yang parah ada orang yang pikirannya dimanipulasi sedemikian rupa sampai orangnya merasa selalu melihat gaib dimanapun ia berada, ada yang sampai orangnya ketakutan sendiri, bahkan ada juga yang sampai gila, walaupun sesungguhnya penglihatan dan gambaran gaibnya itu fiktif / palsu, kejadian gaibnya tidak sungguh-sungguh terjadi dan sosok-sosok gaib yang dilihatnya tidak sungguh-sungguh ada (hanya ilusi / halusinasi). Itu adalah gambaran gaib rekayasa si khodam yang ingin supaya si manusia melihatnya, bukan sungguh-sungguh orangnya bisa melihat gaib.

Ilusi / halusinasi paling banyak diberikan kepada orang-orang yang ketempatan mahluk halus di dalam kepalanya yang kejadian awalnya melalui proses ketindihan yang orangnya oleh si gaib ada yang sampai dibuat mati suri yang selama mati suri itu orangnya dibuat merasa seolah-olah dirinya sudah benar-benar mati, merasa rohnya benar-benar keluar dari tubuhnya masuk ke alam kubur. Tetapi pada kasus mati suri itu juga orangnya tidak sungguh-sungguh mati dan rohnya tidak sungguh-sungguh keluar dari tubuhnya. Hanya ilusi.

Ketempatan mahluk halus di kepala juga banyak dialami oleh orang-orang yang ngelmu gaib dengan cara pati geni dan tapa pendem yang sesudah melakoni itu orangnya kemudian merasa berilmu, merasa bisa melihat gaib.


P
englihatan gaib yang palsu / fiktif paling banyak dialami oleh orang-orang yang ketempatan mahluk halus jenis sukma manusia. Seringkali kejadian gaibnya fiktif / palsu, kejadian gaibnya tidak sungguh-sungguh terjadi dan seringkali sosok-sosok gaibnya juga tidak sungguh-sungguh ada (hanya ilusi / halusinasi), karena itu adalah gambaran gaib rekayasa si sukma tersebut untuk dilihat oleh si manusia.

Bahkan ada juga orang yang sejak awalnya sudah ditipu, dibuat mati suri, dibuat berilusi melihat alam kubur, siksa kubur, surga / neraka, dsb, dibuat sedemikian rupa supaya orangnya nantinya merasa sudah pernah benar-benar meninggal. Sesudahnya ada juga yang orangnya diberikan halusinasi sedemikian rupa sampai orangnya merasa bisa merogoh sukma, merasa rohnya keluar dari badannya berjalan-jalan di alam gaib, dan di alam gaib ia melihat / bertemu dengan gaib-gaib lain. Tetapi itu semuanya fiktif. Kejadian ia merogoh sukma itu tidak sungguh-sungguh terjadi, tidak sungguh-sungguh rohnya keluar dari tubuhnya dan ia berjalan-jalan di alam gaib, tidak sungguh-sungguh orangnya merogoh sukma. Itu hanya ilusi / halusinasi saja. Dan juga tidak sungguh-sungguh ia pernah mati.

Tetapi jika mahluk halus yang masuk ke dalam kepalanya adalah selain jenis sukma manusia, misalnya bangsa jin, biasanya penglihatan gaibnya tidak parah fiktifnya. Ada kalanya kejadian gaibnya benar terjadi, sosok gaibnya benar ada, hanya saja yang dilihatnya itu bukanlah kejadian gaib dan sosok wujud mahluk halus yang aslinya. Biasanya yang dilihatnya hanyalah berupa perlambang saja yang menggambarkan arti dan makna kegaibannya. Biasanya itu bukanlah maksud khodamnya itu menipu si manusia, tapi itu adalah caranya ia membantu si manusia mengerti gaib. Hanya saja semua penglihatan yang sifatnya perlambang itu seringkali disalah-artikan oleh orangnya sebagai benar asli sesuai apa yang ia lihat.


Catatan khusus :

Ada orang-orang yang karena dirinya ketempatan mahluk halus atau karena dirinya berkhodam kemudian orangnya menjadi memiliki kemampuan lebih. Bila mahluk halusnya atau khodamnya itu berwatak baik, tidak menipu dan tidak menyesatkan, dan tidak ada tipu daya di dalamnya, keberadaannya dapat berguna bagi orangnya. Mahluk halusnya atau khodamnya itu membantu orangnya memiliki kemampuan lebih seperti bisa melihat gaib, bisa meramal, bisa menyembuhkan orang sakit, dsb. Kemampuannya itu bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Ada juga yang karena dirinya ketempatan mahluk halus orangnya menjadi memiliki kelebihan / istimewa dibanding manusia lainnya yang umum. Orangnya bisa terpicu menjadi pintar dan cerdas (atau jenius), dan kaya akan ide, dan hidupnya penuh keberuntungan, keduniawiannya sukses, atau orangnya menjadi kuat tubuhnya dan terampil dan berprestasi tinggi dalam olah raga atau kanuragan.

Jadi ketempatan mahluk halus tidak selalu bersifat buruk atau merugikan, bisa juga bermanfaat, kecuali pada kasus itu orangnya mengalami masalah kejiwaan / kesehatan dari adanya keberadaan mahluk halus dan beban energinya di dalam badannya / kepalanya.

Tetapi ada banyak kejadian pada orang-orang yang sangat yakin dirinya bisa melihat gaib, merasa mengerti gaib, yang sering mempertunjukkan / mempamerkan kemampuannya itu kepada orang lain, banyak yang khodamnya itu semakin kurang ajar menipu orangnya. Dari yang semula penglihatan gaibnya biasa saja, hanya mengenai gaib-gaib yang biasa saja, kemudian meningkat orangnya diberikan penglihatan atas sesuatu yang bersifat istimewa. Ada banyak orang yang sampai diberikan penglihatan gaib atau mimpi tentang alam kubur, siksa kubur, neraka dan surga, melihat raja-raja, dewa-dewa, melihat nabi-nabi dan orang-orang mulia, melihat malaikat, bahkan melihat Pribadi-Pribadi yang menjadi Tuhan dan merasa bisa berkomunikasi dengan mereka. Orangnya merasa mengalami pengalaman gaib yang istimewa, padahal semuanya itu adalah palsu belaka. Penglihatan gaibnya fiktif. Bila orangnya tidak bisa memfilter mana yang benar dan mana yang palsu, maka orangnya akan semakin tenggelam di dalam penipuan / penyesatan oleh khodamnya itu, merasa asyik dirinya ditipu dan disesatkan. 

Begitu juga banyak terjadi pada orang-orang yang keilmuan gaibnya sangat mengandalkan khodamnya, yang keilmuannya sangat mengandalkan bacaan doa-doa dan amalan / mantra, banyak yang khodamnya itu menipu orangnya (dan pasiennya). Banyak terjadi pada usaha pembersihan gaib yang ketika si pasien sedang disembuhkannya dari tubuh si pasien keluar benda-benda santet, padahal aslinya si pasien tidak disantet. Ada juga yang si pasien oleh khodam orangnya sengaja dibuat kesurupan, padahal aslinya si pasien tidak ada masalah dengan gaib.

Dalam kasus-kasus di atas khodamnya menipu orangnya. Orangnya diberikan gambaran-gambaran gaib palsu dan sifatnya menyesatkan. Akhirnya orangnya juga tertipu karena menganggap apa yang dilihatnya adalah benar. Itu riskan sekali bila yang dilihatnya adalah tentang orang lain, apalagi bila orangnya sudah berpraktek sebagai spiritualis, orang pinter atau konsultan gaib yang sering ditanyai oleh orang lain / pasien. Orang itu bisa salah menilai orang.

Jadi sekalipun diri kita merasa memiliki khodam, khodam yang ampuh bertuah, dan ilmu-ilmu yang ampuh, kita sendiri harus selalu waspada dan harus bisa memfilter mana yang benar dan mana yang tidak. Jangan sampai diri kita sendiri malah ditipu oleh khodam kita sendiri.

Dan sekalipun kita bisa melihat gaib sebaiknya kita juga hati-hati, jangan sampai penglihatan gaib yang berupa perlambang saja, hanya citranya saja tentang sesosok gaib atau kondisi gaib kita anggap aslinya sosok gaib atau kondisi gaib yang sesungguhnya. Kalau dari penglihatan gaib sesaat itu kita anggap itu adalah gambaran sosok gaib atau kondisi gaib yang sesungguhnya, maka kita sudah tertipu oleh penglihatan kita sendiri. Kita masih harus fokus untuk mencaritahu seperti apa gambaran gaib yang sesungguhnya dan harus mengkritisi lagi apa arti sesungguhnya dari kegaiban yang kita lihat itu.

Mengenai kasus-kasus ketempatan mahluk halus ini silakan dibaca di tulisan : Pengaruh Gaib thd Manusia.


Singkatnya, secara keseluruhan ada 4 cara dalam melihat gaib, tetapi yang utama adalah 3 cara saja, yaitu melihat gaib dengan mata ketiga, melihat secara batin, melihat secara roh. Dari ketiga cara melihat gaib itu hubungan antara roh pancer dan sedulur papat bersifat pokok yang akan menentukan kemampuan dan kualitas seseorang dalam melihat gaib. Dan terakhir adalah melihat gaib dengan bantuan khodam yang kebisaannya melihat gaib lebih banyak ditentukan oleh khodamnya itu.

Pada prinsipnya dalam hal melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaib, seharusnya roh pancer kita sendiri yang sudah bisa melihat gaib, sudah bisa berperan aktif sebagai roh sehingga pancer kita bisa juga melihat dan berkomunikasi dengan roh-roh lain, tidak lagi hanya berperan secara biologis saja. Sedangkan sedulur papat kita bersifat mendampingi dan membantu pancernya.

Pada proses awal melihat gaib, yang melihat gaib pertama adalah sedulur papat kita. Kemudian atas apa yang dilihatnya itu sedulur papat memberitahukannya kepada pancernya, sehingga kemudian kita sebagai pancer merasa bisa melihat gaib. Karena itulah kalau seseorang hubungan pancer dan sedulur papatnya kurang baik, kurang baik dalam penyatuan dan keselarasan rasa, biasanya dalam melihat gaib ia hanya bisa melihat sekelebatan saja, hanya bersitan saja, gambaran gaibnya tidak utuh dan tidak jelas.

Begitu juga dalam hal berkomunikasi dengan gaib.

Dalam berkomunikasi dengan gaib umumnya prosesnya adalah roh pancer (kita sendiri) menyampaikan maksudnya kepada sedulur papatnya, kemudian sedulur papat kita itulah yang berinteraksi dengan mahluk halus yang dituju. Dan jawaban komunikasi gaib yang kita terima sebenarnya adalah jawaban dari mahluk halusnya kepada sedulur papat kita yang kemudian oleh sedulur papat kita itu disampaikan kepada kita (pancer), bukan jawaban yang kita (pancer) terima langsung dari mahluk halusnya.

Sedulur papat bisa mengetahui semua
yang terpikirkan oleh pancernya, termasuk keinginan untuk melihat / berkomunikasi dengan gaib, karena sedulur papat itu sebenarnya adalah satu kesatuan dengan pancer sebagai roh manusia. Bahkan sebenarnya antara pancer dan sedulur papat itu juga sering berkomunikasi. Biasanya kita akan merasakannya sebagai mengalirnya ide / ilham di pikiran kita. Paling terasa adalah ketika kita sedang melamun, ada semacam tanya dan jawab yang mengalir begitu saja diluar kontrol kita.

Tetapi bila diri kita ketempatan mahluk halus, atau diri kita berkhodam, biasanya peranan sedulur papat kita itu diambil alih oleh khodam atau mahluk halus itu. Melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaibnya sama dengan melihat gaib dengan bantuan khodam.


 Tambahan 

Dalam olah sukma kita mengolah sukma kita, yaitu khusus mengolah roh kita, tentang apa yang dapat dilakukan oleh roh kita di luar tubuh kita.

Seseorang yang belum pernah melakukan olah batin, berarti sukmanya masih lemah. Walaupun ada guru yang dapat mengajari anda cara merogoh sukma, bila anda sendiri belum memiliki dasar kekuatan kebatinan yang cukup, dengan mempertimbangkan efek buruk yang dapat terjadi, sebaiknya jangan anda mencobanya. Apalagi bila di kemudian hari, tanpa pendamping, anda mencoba melakukannya sendiri.

Resiko yang dapat terjadi, selain yang sudah disebutkan di atas, juga resiko karena berhubungan dengan mahluk halus lain di alam gaib.  Baca :  Roh Manusia Lanjutan 2.

Dengan terawangan gaib anda bisa melihat ke tempat-tempat yang jauh dan tersembunyi. Tetapi resikonya juga sama bila roh anda bertemu dengan roh halus lain. Banyak kejadian yang setelah roh sedulur papatnya itu keluar jauh dari badannya, kemudian tidak dapat kembali lagi. Rohnya ditahan / ditangkap oleh mahluk halus lain. Akibatnya, orang itu akan terus-terusan melihat gaib, dan sosok gaib yang menahan rohnya itu akan terus menghantuinya (karena sosok gaib itu memang menahan roh sedulur papatnya dan roh sedulur papatnya yang ditangkap itu terus-terusan berhadapan dengan sosok gaib itu). Sudah jelas bahwa orang itu kemudian akan terganggu jiwanya.

Lebih baik bila anda melatih lebih dulu kepekaan rasa (baca: Olah Rasa dan Kebatinan) sambil anda belajar melihat secara batin, mempersiapkan mental dan menguatkan kebatinan anda. Bila sudah mengerti resikonya (untuk kehati-hatian), sudah siap secara psikologis dan memang ingin bisa melihat gaib, mintalah diajari cara melihat gaib dengan cakra mata ketiga saja, jangan merogoh sukma. Kemampuan melihat gaib ini akan menjadi dasar yang baik sekali untuk mempelajari ilmu-ilmu kebatinan yang lain, termasuk ilmu terawangan gaib dan ilmu merogoh sukma.

Memang walaupun kita sering berinteraksi dengan mahluk halus belum tentu kita mengalami kejadian yang pahit. Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan pengetahuan saja supaya kita berhati-hati, jangan sampai kita menjadi salah satu orang yang apes, mengalami pahitnya.  Baca juga :  Kekhawatiran Melihat Gaib.



 

  Ketidak-akuratan Dalam Melihat Gaib


Walaupun orang-orang yang sudah bisa melihat gaib merasa dirinya istimewa, merasa lebih daripada orang lain yang umum, dan merasa apa yang dilihatnya adalah benar (bukan ilusi / halusinasi), tetapi seringkali penglihatan gaibnya itu berbeda dengan yang dilihat oleh orang lain. Apa yang dilihatnya itu hanya bisa dinikmatinya sendiri saja, karena orang lain yang sama-sama bisa juga melihat gaib tidak melihat yang sama dengan yang mereka lihat, dan mereka menyalahkan penglihatan gaib orang lain yang berbeda.

Terjadinya perbedaan-perbedaan dalam melihat gaib di antara orang-orang yang sudah bisa melihat gaib ada banyak penyebabnya. Perbedaan yang utama adalah antara seseorang yang melihat gaib berdasarkan aslinya kemampuannya sendiri melihat gaib dengan orang yang bisa melihat gaib dengan bantuan khodam.

Ada beberapa hal yang menjadikan melihat gaib tidak akurat sbb :

1. Melihat gaib dengan bantuan khodam atau amalan gaib.
2. Ber-ilusi membayang-bayangkan sosok gaibnya.
3. Sebelumnya sudah mempunyai sugesti / citra gaib sendiri.
4. Pengkultusan.
5. Dikelabui oleh gaib.


 Uraiannya sbb :

1. Melihat gaib dengan bantuan khodam atau dengan amalan gaib.

Melihat gaib dengan bantuan khodam berarti ada suatu penglihatan gaib yang diterima oleh seseorang di dalam pikirannya dari sesosok khodam ilmu, khodam pendamping, atau sosok gaib lain yang berkenan memberikan penglihatan gaib kepadanya. Sosok gaib itu memberikan suatu gambaran gaib di dalam pikiran orangnya, sehingga orangnya "merasa" bisa melihat gaib.

Cara penglihatan gaib ini banyak dilakukan oleh peramal-peramal dan spiritualis dalam melihat sesuatu yang gaib atau dalam meramalkan suatu kejadian, karena dengan cara ini mereka dapat melihat sesosok gaib atau suatu kejadian dengan cukup jelas di dalam pikirannya (orang Jawa sering menyebut itu sebagai kaweruh / wangsit / wahyu). Ada juga orang-orang tertentu yang diberi Dewa wahyu spiritual sehingga orang-orang itu bisa menyampaikan ramalan-ramalan atau penglihatan gaib tentang kejadian-kejadian hingga beratus-ratus tahun ke depan atau beratus-ratus tahun ke belakang.

Melihat gaib dengan cara menerima penglihatan gaib bisa juga dilakukan dengan membacakan amalan gaib. Ada banyak amalan / mantra ilmu gaib yang tujuannya khusus untuk bisa melihat gaib, untuk mendatangkan penglihatan gaib, untuk merogoh sukma, untuk bertemu sedulur papat atau untuk bertemu mahluk halus tertentu.

Seseorang yang mempunyai khodam pendamping atau yang ketempatan sesosok halus tertentu di dalam tubuhnya, ketika ia melihat gaib, yang dilihatnya adalah penglihatan gaib yang diberikan oleh sosok halus yang bersamanya itu. Kadangkala dalam kondisi tertentu atau ketika sedang berada di suatu lokasi tertentu khodamnya itu juga memberikan rasa dan penglihatan gaib tertentu kepadanya. Adanya "pemberian" dari sosok halus tersebut menjadikan orang tersebut "merasa" dapat mendeteksi dan melihat gaib.

Kadangkala sosok halus itu juga memberikan mimpi-mimpi tertentu kepadanya. Dalam hal ini jika seseorang merasa bahwa mimpinya bukanlah mimpi biasa, maka ia harus mencaritahu sendiri arti mimpinya itu, termasuk menanyakannya kepada sosok gaib yang telah memberinya mimpi itu, siapa tahu itu adalah suatu bentuk pemberitahuan kepadanya atas sesuatu yang penting.

Kelemahan utama melihat gaib dengan bantuan khodam atau dengan amalan / mantra adalah kondisi / kejadian gaib yang orang merasa melihatnya sesungguhnya bukanlah kejadian gaib dan sosok-sosok gaib yang sesungguhnya, karena sebenarnya itu adalah gambaran gaib yang diberikan oleh si khodam, yaitu gambaran gaib yang si khodam ingin supaya si manusia melihatnya, bukan sungguh-sungguh orangnya bisa melihat gaib. Kegaiban yang dilihat oleh si manusia yang diberikan oleh khodamnya itu mungkin saja adalah kejadian yang sebenarnya, tetapi bisa juga palsu, bukan yang sebenarnya, kadangkala bukan penampakan atau kondisi alam gaib yang sesungguhnya, karena khodamnya itu mempunyai maksud tertentu dengan gambaran gaib yang diberikannya kepada si manusia.

Kelemahan lain melihat gaib dengan bantuan khodam atau dengan amalan gaib adalah bahwa sosok-sosok gaib dan kondisi alam gaib yang dilihatnya seringkali adalah berupa pencitraan atau perlambang saja.

Maksudnya pencitraan dan perlambang itu adalah bahwa orangnya menerima suatu gambaran gaib, tetapi gambaran gaib itu bukanlah gambaran wujud / kondisi gaib yang aslinya, tetapi hanya mirip saja dengan gambaran aslinya, atau gambaran itu bukanlah gambaran aslinya tetapi dari gambaran itu nantinya orangnya akan menangkap maksud dan arti (citra) yang sama sesuai arti dan maksud dari objek yang sesungguhnya. Walaupun gambarannya ada yang mirip dengan gambaran gaib yang aslinya, tetap saja itu bukanlah yang sesungguhnya, hanya pencitraan dan perlambang saja.

Jika seseorang sudah terbiasa menggunakan bantuan khodam atau menggunakan amalan gaib, maka semua yang dilihatnya adalah berupa "pencitraan" atas sesuatu yang menjadi objeknya, sesuai dengan isi sugesti dalam amalan gaibnya, atau penglihatannya berupa "perlambang" saja yang gambarannya sesuai dengan maksud dan arti objeknya.

Kelemahan melihat gaib ini bisa terjadi pada siapa saja yang menggunakan amalan / mantra dan memiliki sesosok gaib / khodam bersamanya, baik orang-orang yang masih dalam taraf belajar, maupun para praktisi paranormal dan spiritualis kawakan yang terbiasa menggunakan amalan dan khodam untuk melihat gaib.

Ada juga seseorang yang sesosok halus leluhurnya memperhatikannya. Sosok sukma leluhur ada yang tinggal di rumah seseorang, ada juga yang tampil mendampingi orangnya. Sosok leluhur itu sering memberitahu jika ada keberadaan sesosok halus tertentu dengan cara membisikkan di pikirannya sekaligus memberikan gambaran sosok wujudnya, sehingga orangnya merasa peka rasa. Tetapi tanpa disadarinya yang dilihatnya itu hanyalah berupa gambaran perlambang atau citranya saja yang walaupun sama dengan arti kejadian dan sosok wujud gaibnya, tapi tetap saja itu bukanlah yang sesungguhnya, hanya perlambang atau citranya saja yang sama.

Kelemahan lain dalam menggunakan bantuan khodam atau amalan gaib, terutama pada orang-orang yang dirinya ketempatan mahluk halus jenis sukma / arwah, adalah banyaknya kejadian dan gambaran gaib fiktif / halusinasi yang diberikan kepada seseorang sampai orangnya merasa bisa melihat gaib, bisa merogoh sukma berjalan-jalan di alam gaib, bisa melihat atau pergi ke tempat-tempat yang jauh, tetapi sebenarnya itu hanya halusinasi saja. Tidak sungguh-sungguh sukma orang itu keluar dari raganya dan merogoh sukma. Itu hanya sensasi saja yang diberikan oleh si khodam kepada si manusia. Ibaratnya seperti orang yang merasa ikut balapan mobil, padahal ia hanya mengendarai mobil di depan mesin simulasi saja. Dengan kata lain, tidak sungguh-sungguh orangnya merogoh sukma.


Singkatnya, banyak orang yang mampu melihat gaib, tetapi kemampuan melihat gaibnya itu adalah karena menggunakan amalan gaib, atau ada bantuan dari khodam atau sesosok halus lain, atau karena di tubuhnya bersemayam sesosok mahluk halus yang sudah membantunya peka rasa atau bisa melihat gaib. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan banyak penglihatan gaib yang sebenarnya berupa "pencitraan", yang seringkali bukanlah kondisi gaib atau wujud gaib aslinya, malah banyak yang sifatnya fiktif, hanya ilusi / halusinasi saja, yang seringkali penglihatan gaibnya itu tidak bisa dicocokkan dengan orang lain yang sama-sama bisa melihat gaib.

Seseorang yang melihat gaib dengan bantuan khodam ini paling mudah ditandai dengan ketidak-akuratannya dalam melihat sesosok gaib yang berada di dalam tubuh seseorang.

Mendeteksi dan melihat sosok wujud mahluk halus yang bersemayam di dalam tubuh seseorang biasanya sulit sekali dilakukan bahkan oleh orang-orang yang sudah lama berpraktek sebagai pakar supranatural. Ketika ada seseorang yang di dalam tubuhnya bersemayam (ketempatan) sesosok mahluk halus, sering sekali akan dikatakannya bahwa orang itu memiliki khodam penjaga harimau, prajurit, cahaya, khodam leluhur, dsb. Padahal sesungguhnya tidak begitu. Yang dikatakannya itu sesungguhnya tidak ada. Dan pada posisi yang dikatakannya ada khodam penjaga itu, jika kita deteksi keberadaan energinya dengan rabaan tangan kita, tidak akan kita rasakan keberadaan energinya, tidak ada khodam di sebelah kanannya, kiri, depan, belakang, atas, bawah, karena di tempat posisi yang ia sebutkan itu memang tidak ada sesosok gaib apapun, karena sosok gaib aslinya sebenarnya posisinya bertempat di dalam badan orangnya.

Seseorang yang di dalam badannya atau di dalam kepalanya ketempatan sesosok gaib biasanya tidak mempunyai khodam pendamping, biasanya tidak ada sesosok gaib yang mau mendampingi orang yang di dalam tubuhnya ada bersemayam sesosok mahluk halus. Sehingga jika orang itu merasa punya banyak khodam pendamping, jika khodam pendampingnya itu dideteksi keberadaan energinya dengan rabaan tangan, tidak akan kita rasakan keberadaan energinya, tidak ada khodam di sebelah kanannya, kiri, depan, belakang, atas, bawah, karena ia memang tidak mempunyai khodam pendamping. Khodam yang ada hanyalah yang ada di dalam tubuhnya itu saja.

Ketidak-akuratan itu juga sering terjadi bila sosok gaib yang dideteksi / dilihatnya itu kekuatannya lebih tinggi daripada khodamnya, apalagi jika khodamnya itu merasa takut / terancam. Dalam kondisi ini sering sekali khodamnya itu akan memberikan gambaran fitnah, sehingga orangnya merasa orang lain yang dilihatnya itu seperti setan / iblis, seperti orang jahat, seperti berniat mencelakakannya, dsb.

Orang yang melihat gaib dengan bantuan khodam mudah ditandai dengan adanya pencitraan, dogma dan pengkultusan gaib yang diucapkan oleh orang itu. Apalagi bila orangnya hidup di kalangan agamis. Orang itu sendiri sudah disesatkan oleh gaibnya itu dan orang-orang di sekitarnya atau para pengikutnya akan juga ikut disesatkan karena dogma dan pengkultusan dari orang itu harus dipercaya sebagai benar.


2. Ber-ilusi membayang-bayangkan sosok gaibnya.

Pada taraf belajar melihat gaib seringkali orang berusaha membayang-bayangkan wujud sosok gaibnya, sehingga yang muncul di dalam pikirannya adalah sosok-sosok tertentu yang bukan sosok wujud aslinya.

Ini banyak terjadi pada orang-orang yang di suatu tempat tertentu mereka merasa ketakutan, membayang-bayangkan suatu sosok halus, menghubung-hubungkan suatu keadaan yang menakutkan dengan sesosok halus tertentu. Misalnya di suatu ruangan yang mereka merasa ketakutan, mereka merasa ada sesosok kuntilanak, gondoruwo, arwah, dsb, yang mengikuti / membayangi mereka.

Dalam rangka belajar melihat gaib sebaiknya dilakukan sesuai petunjuk dalam meditasi olah rasa, yaitu dengan belajar mempertahankan sugesti fokus rasa kepada benda gaibnya atau kepada keberadaan energi mahluk halusnya dan memperhatikan gambaran gaib yang mengalir di dalam pikiran. Sesudah terdeteksi energi keberadaannya kemudian kita lakukan kontak rasa dengan sosok halusnya. Sebaiknya belajar untuk bisa tidak mengambang mengawang-awang, belajar mempertahankan kontak rasa dan batin dengan benda gaibnya atau dengan sosok halusnya, fokus kepada sosok gaibnya, tidak membayang-bayangkan sosoknya, tetapi menerima apa adanya gambaran sosok gaib yang muncul, barulah kemudian dipertegas fokus batin kepada sosok gaib tersebut.


3. Sebelumnya sudah mempunyai sugesti / citra gaib sendiri.

Ada banyak orang yang menghubung-hubungkan suatu kejadian gaib dengan mahluk halus tertentu, walaupun kejadian yang sebenarnya tidak selalu benar begitu.
Ada orang yang bila bulu kuduknya merinding kemudian ia menganggap ada sesosok sukma / arwah yang datang, bisa sukma leluhur atau sukma orang lain yang sudah meninggal.
Ada juga orang yang ketika berada di suatu tempat yang sepi ia merasa takut, merinding, atau merasa ada yang mengawasi, kemudian dianggap ada kuntilanak atau ada mahluk halus lain di tempatnya berada.

Dalam kejadian-kejadian di atas, jika benar kejadiannya ada hubungannya dengan mahluk halus, seringkali gambaran sosok halus di dalam pikirannya itu tidak sejalan dengan mahluk halus yang sesungguhnya, karena itu adalah pencitraannya sendiri tentang mahluk halus.

Ada juga beberapa teman Penulis yang bisa melihat gaib, tetapi mempunyai sugesti-sugesti sendiri dalam pikirannya, mempunyai pencitraan sendiri tentang mahluk halus sbb :

Ada yang mencitrakan mahluk halus itu seperti kuntilanak, sehingga hampir semua mahluk halus yang dilihatnya akan tampak olehnya sebagai sosok perempuan berpakaian putih panjang seperti kuntilanak.
Ada yang mencitrakan (hidup dalam dogma) bahwa mahluk halus sama dengan setan yang berkerudung hitam menakutkan, sehingga semua mahluk halus yang dilihatnya akan tampak olehnya sebagai sosok setan berkerudung hitam menakutkan.
Ada juga yang mencitrakan (hidup dalam dogma) bahwa mahluk halus sama dengan setan yang badannya hitam besar menakutkan, sehingga semua mahluk halus yang dilihatnya akan tampak olehnya sebagai setan hitam besar menakutkan.


Ada banyak orang yang bisa melihat gaib yang jika orangnya melihat sesosok mahluk halus, gambaran gaib yang diterimanya, yang tampak di matanya / pikirannya, adalah citra-nya atau perlambang-nya saja, bukan sosok wujud gaib aslinya.

Itu banyak terjadi pada orang-orang yang melihat gaib dengan bantuan khodam atau dengan amalan / mantra. Itu juga banyak terjadi pada orang-orang yang melihat gaibnya dibantu oleh sedulur papatnya, terutama yang pancer orangnya belum bisa melihat gaib. Dalam hal ini khodam dan sedulur papat itu mempermudah orangnya mengerti gaib dengan cara memberikan citra / perlambang dari gaibnya.

Misalnya ada pencitraan / perlambang bahwa sosok gaib harimau adalah sosok halus penjaga / pelindung, maka jika orang itu melihat orang lain yang mempunyai khodam penjaga / pelindung, maka apapun wujud asli khodam orang lain itu, yang tampak di matanya / pikirannya adalah sosok harimau, sehingga akan dikatakannya bahwa si orang lain itu mempunyai khodam harimau.

Ada juga pencitraan bahwa fungsi penjagaan gaib dicitrakan sebagai sosok prajurit, atau ksatria, sehingga jika orang itu melihat orang lain yang mempunyai khodam penjaga, maka apapun wujud asli khodam orang lain itu, yang tampak di matanya / pikirannya adalah sesosok prajurit, atau ksatria, membawa tombak, pedang, dsb, sehingga akan dikatakannya bahwa orang lain itu mempunyai khodam prajurit atau ksatria penjaga di belakangnya.

Ada juga orang yang mengatakan sebuah keris jawa khodamnya macan. Dalam hal ini yang ia ketahui hanyalah citra dan perlambang khodamnya saja, macan, artinya kerisnya itu berfungsi untuk penjagaan gaib / keselamatan. Khodamnya sendiri aslinya wujudnya bukan macan. Khodam wahyu keris jawa tidak ada yang wujudnya macan (kecuali isinya jin yang bukan khodam aslinya). Itu hanya perlambang saja dari fungsi / tuah kerisnya yang untuk penjagaan gaib.

Dalam hal ini walaupun orang-orang itu bisa melihat gaib, atau mampu mendeteksi keberadaan sesuatu yang gaib, tetapi kebanyakan sosok-sosok mahluk halus yang dilihatnya bukanlah sosok wujud aslinya, tetapi adalah gambaran citra / perlambang saja dari sosok-sosok gaib yang gambarannya sejalan dengan arti / fungsi / tuah / jatidiri sosok halus yang dilhatnya.

Walaupun sosok macan atau prajurit atau ksatria itu citranya sama dengan khodam penjaga, tapi tetap saja itu bukanlah gambaran gaib yang sesungguhnya, hanya citranya saja yang sama, maksud dan artinya saja yang sama, yaitu orang itu mempunyai sesosok halus penjaga, tetapi sosok wujud asli khodamnya tidak sama, karena perwujudan asli khodamnya mungkin bukan macan atau prajurit atau ksatria, mungkin aslinya wujudnya adalah sesosok bapak-bapak berjubah, bangsa jin berbulu hitam, laki-laki ksatria, laki-laki kekar bertelanjang dada, dsb. Dan pada posisi yang dikatakannya ada khodam penjaga itu, macan di depan atau prajurit di belakang tubuhnya, jika khodamnya itu kita deteksi keberadaan energinya dengan rabaan tangan, tidak akan kita rasakan keberadaan energinya, karena di posisi yang ia sebutkan itu, di depan atau di belakang tubuhnya memang tidak ada sesosok gaib apapun, karena khodam penjaganya itu sebenarnya posisinya di sebelah kanannya atau mungkin di dalam badannya.

Dalam kasus ini walaupun mereka bisa melihat gaib, atau bisa mendeteksi gaib, dan mengerti maksud dan arti dari kegaiban yang dilihatnya (sesuai citra / perlambangnya), tetapi jika gambaran sosok wujud gaib yang macan atau prajurit itu dianggapnya adalah sosok wujud gaib aslinya, maka mereka telah tertipu oleh pikiran mereka sendiri.

Itu juga kalau citranya, arti dan maksudnya sama dengan yang sesungguhnya. Dalam banyak kasus justru banyak orang diberikan gambaran citra, arti dan maksud yang berbeda / menyimpang dari arti dan maksud yang sesungguhnya. Ini banyak terjadi pada kasus orang-orang yang ketempatan mahluk halus di dalam kepalanya atau di dalam badannya, atau yang memiliki khodam pendamping, yang khodamnya itu bukanlah sosok gaib yang baik wataknya, yang telah dengan sengaja menyesatkan orangnya. Banyak yang orangnya dipenuhi dengan gambaran jelek (fitnah dari khodamnya) tentang orang lain sehingga orang itu juga menjadi selalu berpikiran jelek / jahat tentang orang lain, orangnya menjadi berpikiran / berprasangka jahat terhadap orang lain. Dalam kondisi yang parah orangnya bisa menjadi penyebar fitnah, kebencian dan permusuhan. Ada juga orang yang diberikan banyak gambaran gaib fiktif, ilusi / halusinasi sampai merasa terganggu pikirannya. Ada juga yang orangnya sampai mengalami gangguan jiwa karena dihantui oleh banyaknya ilusi / halusinasi di kepalanya.


4. Pengkultusan

Contoh pengkultusan adalah tentang Ibu Ratu Kidul yang penampilannya seperti seorang perempuan putri keraton berparas cantik berpakaian tradisional jawa berwarna hijau. Tentang beliau ada banyak pengkultusan di banyak kalangan, sehingga mereka, termasuk orang awam, walaupun belum pernah bertemu langsung, tetapi bisa bercerita tentang beliau. Dan jika suatu saat mereka bertemu / melihat sesosok gaib yang penampilannya mirip seperti itu, maka mereka menganggap bahwa mereka telah bertemu dengan Ibu Ratu Kidul, atau prajuritnya, sehingga banyak orang yang "merasa" pernah bertemu / melihat beliau, padahal ada banyak sekali di alam ini mahluk halus yang penampilannya putri keraton seperti beliau yang mereka itu sebenarnya bukan Ibu Ratu Kidul.

Ada juga dogma pengkultusan bahwa sesosok halus yang datang kepada seseorang dan kemudian menjadi khodam pendampingnya disebut khodam dari leluhur. Begitu juga mahluk halus yang berdiam di dalam tubuh seseorang (ketempatan mahluk halus), sering disebut khodam dari leluhur. Apalagi bila dengan adanya mahluk-mahluk halus tersebut orangnya menjadi memiliki kemampuan supranatural tertentu. Padahal mahluk-mahluk halus itu sama sekali tidak ada hubungan asal-usul dengan dirinya ataupun leluhurnya, mereka datang sendiri kepada orang tersebut.

Adanya pengkultusan seperti contoh-contoh di atas, selain tidak mengungkapkan kegaiban yang sebenarnya, seringkali juga menjadikan orangnya senang dan menjauhkannya dari niat "membersihkan" dirinya, walaupun sebenarnya keberadaan sesosok halus yang bersamanya bersifat tidak baik dan "harus" diusir pergi. Pernyataan pengkultusan di atas sering berasal dari orang-orang yang mengalami ketidak-akuratan melihat gaib karena faktor no.1, 2, 3 di atas.

Karena penglihatan gaibnya adalah berupa ilusi / halusinasi, pencitraan, dsb, seringkali orang-orang tersebut memunculkan cerita-cerita kegaiban yang lebih banyak bersifat dogma, pengkultusan, mitos dan tahayul, yang kebenarannya tidak bisa dibuktikan oleh orang lain yang sama-sama bisa melihat gaib. Apalagi bila orang itu hidup di lingkungan agamis atau menjadi tokoh di lingkungan keilmuan tertentu.

Pada orang-orang itu yang kebanyakan penglihatan gaibnya adalah berupa ilusi / halusinasi, pencitraan, dsb, oleh orang lain yang juga bisa melihat gaib seringkali tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Dari 10 orang yang cara melihat gaibnya sama seperti itu, jarang sekali ada penglihatan gaib mereka yang sama, padahal objek yang mereka lihat sama, dan hanya satu. Itulah bedanya ilusi, pencitraan, dsb, dengan yang benar melihat gaib, sehingga penglihatan gaib mereka itu yang berupa pencitraan atau ilusi tidak bisa dicocokkan dengan penglihatan orang lain yang sama-sama bisa melihat gaib, termasuk dengan penglihatan gaib teman-teman dan guru mereka sendiri.

Karena itu atas penglihatan gaib seseorang (termasuk penglihatan gaib Penulis) sebaiknya janganlah itu dianggap sebagai benar, cukuplah diartikan bahwa mungkin memang benar ada sesuatu yang gaib. Lebih baik bila kita sendiri bisa membuktikan benar-tidaknya dan tahu sendiri sosok wujud aslinya.


5. Dikelabui oleh gaib.

Kadangkala sosok halus tertentu yang dilihat oleh seseorang bukanlah sosok gaib aslinya. Ini bisa terjadi jika sosok halus yang dilihatnya itu tidak berkenan untuk dilihat, sehingga sedapat mungkin ia akan menutupi jati dirinya. Biasanya sosok halus itu akan memalingkan mukanya, atau menutupi wajahnya dengan rambutnya. Ada juga yang melakukannya dengan menghalangi / mem-blok penglihatan kita ke arah wajahnya, sehingga para pemula atau orang-orang yang belum mempunyai kekuatan energi penglihatan yang cukup biasanya akan kesulitan, terasa berat melihat wajah asli sosok halus tersebut. Karena itu kita harus "belajar" bersikap "sopan", meminta izin supaya diperkenankan melihat wajahnya.

Tetapi ada juga sosok-sosok halus yang sengaja mengelabui pikiran orang-orang tertentu (ilusi / halusinasi), sehingga yang dilihat oleh orang-orang tersebut adalah sosok wujud lain yang bukan sosok wujud aslinya. Selain karena tidak ingin diketahui jatidirinya, itu juga dilakukan dengan sengaja oleh sesosok halus tertentu dengan tujuan mengelabui manusia. Itu banyak terjadi pada orang-orang yang datang ke situs-situs dan makam-makam yang dikeramatkan atau di tempat-tempat orang "ngalap berkah" sehingga orang-orang yang datang ke tempat itu merasa bahwa yang memberinya berkah, atau sesosok halus yang ditemuinya disitu, adalah sukma dari orang yang dimakamkan disitu.

Dikelabui oleh gaib paling banyak terjadi pada orang-orang yang melihat gaibnya dengan bantuan khodam atau dengan amalan gaib, terutama dialami oleh orang-orang yang khodamnya tidak baik wataknya, biasanya adalah mahluk halus jenis sukma / arwah yang bersemayam di dalam tubuh seseorang, di dalam badan atau di dalam kepalanya (ketempatan mahluk halus), karena walaupun orangnya merasa bisa melihat gaib, tetapi kebanyakan penglihatan gaibnya itu adalah ilusi / halusinasi, pencitraan, dsb. Juga walaupun orangnya merasa sering mendapatkan bisikan gaib, ilham / wangsit, seringkali itu fiktif. Dalam hal ini yang mengelabui mereka adalah khodam mereka sendiri.

Sisi positif adanya bantuan khodam dan amalan gaib adalah bisa membantu orangnya peka rasa atau merasa bisa melihat gaib, merasa mengerti gaib.

Tetapi kondisi orang itu dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia gaib bisa dikatakan bahwa orang itu masuk ke dunia gaib fiktif, paling banyak dialami oleh orang-orang yang ketempatan mahluk halus di dalam kepalanya, terutama yang jenis gaibnya adalah sukma (arwah) manusia.

Dengan kondisi gaib yang serba fiktif itu jika pun orang itu menjalani keilmuan kebatinan yang lain, misalnya belajar menurunkan energi, melihat gaib, merogoh sukma, dsb, semuanya itu tidak benar-benar terjadi. Walaupun orangnya merasa berhasil menurunkan energi yang besar, merasa bisa melihat mahluk halus, merasa rohnya keluar dari raganya, tetapi semuanya fiktif, karena sesungguhnya tidak ada energi yang diturunkan, sosok wujud mahluk halus yang dilihatnya tidak sama dengan aslinya, dan rohnya tidak sungguh-sungguh keluar dari raganya, semuanya fiktif.

Dan jika pun orang itu mencocokkan penglihatan / terawangan gaibnya kepada orang lain yang ternyata bisa melihat gaib karena dirinya juga ketempatan mahluk halus di kepala atau badannya, maka kemungkinan besar hasil penglihatan / terawangan orang itu juga fiktif sifatnya, sosok wujud mahluk halus yang dilihatnya tidak sama dengan aslinya. Penglihatan gaib mereka sama-sama fiktif. Penglihatan gaib mereka tidak akan sama, walaupun objek yang dilihatnya sama, dan hanya satu.

Mengenai ketidak-akuratan melihat dan berkomunikasi dengan gaib ini silakan dibaca juga tanya jawab Penulis dengan pembaca di halaman berjudul Ketempatan Mahluk Halus 5.



 Tambahan :

Di keilmuan dalam negeri kebanyakan cara orang bersugesti melihat gaib adalah dengan cara mengamalkan amalan gaib untuk melihat gaib, atau dengan amalan untuk merogoh sukma. Kesannya mistik. Sedangkan di negeri barat orang mengkondisikan keilmuan itu dengan cara yang berkesan ilmiah, seperti yang dipelajari orang di akademisi supranatural, dengan menggunakan nama dan istilah yang juga terkesan ilmiah.

Di internet banyak ditulis orang tentang Astral Projection, OBE (Out of Body Experience), dsb.
Secara umum Astral Projection dan OBE diartikan orang sebagai suatu keadaan dimana pikiran atau roh kita melakukan perjalanan gaib ke tempat lain. Sebagian orang ada yang mengatakan Astral Projection atau OBE itu sama dengan merogoh sukma, roh orangnya keluar dari raganya pergi berjalan-jalan di alam gaib.

Tetapi dari penelusuran Penulis, Astral Projection dan OBE itu tidak sama dengan merogoh sukma, karena orang-orang yang melakukannya tidak sungguh-sungguh rohnya keluar dari raganya, tidak sungguh-sungguh orangnya merogoh sukma. Itu kebanyakan hanyalah ilusi / halusinasi saja dari orang-orang yang kepalanya ketempatan mahluk halus. Dan apa saja yang dilihatnya adalah gambaran gaib dari khodamnya di kepalanya, tidak sungguh-sungguh roh orangnya keluar dari raganya dan orangnya merogoh sukma. Dan juga tidak sungguh-sungguh mereka bisa melihat gaib. Walaupun gambaran gaib yang dilihatnya ada yang hanya ilusi / halusinasi saja dan ada juga yang benar, tetapi tetap saja rohnya tidak keluar dari raganya, orangnya tidak merogoh sukma, dan gambaran gaib yang dilihatnya adalah pemberian dari khodamnya, bukan orangnya sendiri yang bisa melihat gaib.

Sampai sekarang kasus orang ketempatan mahluk halus (atau berkhodam) di dalam kepala atau badannya, tetap menjadi kegaiban tingkat tinggi, termasuk bagi orang-orang yang sok rasional, memandang kegaiban dengan cara-cara yang rasional dan modern, sehingga tidak terkesan klenik. Termasuk walaupun mereka berhasil secara ilmiah mengkondisikan gelombang pikiran menjadi gelombang alfa, theta, dsb, tetap saja kebenaran objektifnya belum bisa dibuktikan. Berhasilnya mereka mengkondisikan gelombang pikiran menjadi gelombang alfa, theta, dsb, dan merasa bisa melihat gaib, bukan berarti mereka benar-benar bisa melihat gaib, karena objektivitasnya harus bisa dibuktikan kebenarannya.

Seharusnya semua teknik berkesan ilmiah mereka itu bisa dibuktikan kebenarannya, setidaknya oleh mereka sendiri secara bersama-sama. Misalnya dengan cara duduk bersama, salah satu atau dua orang di antara mereka mencoba mengeluarkan rohnya dari raganya, merogoh sukma. Kemudian orang-orang lain di sekitarnya bersama-sama memperhatikan apakah benar roh orang itu keluar dari raganya, sama seperti melihat gaib atas roh seseorang yang keluar dari raganya ketika orangnya meninggal.

Tetapi selama ini belum ada yang bisa membuktikan itu apakah benar roh seseorang keluar dari raganya dan orangnya merogoh sukma. Kebanyakan hanya ilusi saja. Orangnya berilusi bahwa rohnya keluar dari tubuhnya. Bahkan ketika mereka bersama-sama melihat gaib pada sesosok mahluk halus yang sama pun penglihatan gaib mereka tidak sama, padahal objek gaibnya sama, dan hanya satu. Mereka bersama-sama hanya berilusi saja.

Dari sisi keilmuan kebatinan dan spiritual, Astral Projection dan OBE itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang istimewa. Itu hanyalah salah satu teknik bersugesti saja, teknik sugesti batin dalam melihat gaib yang sebenarnya itu sudah umum dilakukan oleh orang-orang kebatinan.

Contohnya adalah ketika kita ingin melihat kondisi suatu lokasi di bumi. Kita bisa melakukannya dengan cara kita mengkondisikan batin seolah-olah kita mendatangi lokasinya, atau dengan cara seperti memposisikan diri kita di atas, di langit, seperti melihat bumi dari atas. Dengan cara itu kita melihat lokasinya secara gaib seolah-olah pikiran dan roh kita melakukan perjalanan gaib ke lokasi itu. Itu hanyalah salah satu saja teknik bersugesti melihat gaib. Sedangkan merogoh sukma adalah sesuatu yang lain lagi, bukan sekedar teknik bersugesti melihat gaib, harus bisa dilihat / dibuktikan bahwa roh orangnya benar keluar dari raganya.

Contoh lainnya adalah ketika kita ingin mendatangi sesosok gaib atau sebuah komunitas gaib untuk tujuan berkelahi / mengusir mereka. Secara kebatinan kita bisa melakukannya dengan cara kita mengkondisikan batin seolah-olah kita mendatangi lokasinya, melihat sosok gaib atau komunitasnya secara gaib seolah-olah pikiran dan roh kita melakukan perjalanan gaib ke lokasinya. Dengan cara itu kita bisa bertarung jarak jauh dengan melontarkan energi tanpa kita perlu merogoh sukma.




 Pembukaan Mata Ketiga Untuk Melihat Gaib dan Kasus Ketempatan Mahluk Halus


Dalam kehidupan sehari-hari sudah banyak terjadi mahluk halus bersemayam di dalam tubuh manusia, baik di dalam badan maupun di dalam kepala. Banyak mahluk halus yang datang sendiri kepada seseorang, selain yang kemudian menjadi khodam pendampingnya, banyak juga yang masuk bersemayam di dalam badan / kepala manusia. Kita saja yang tidak mengetahuinya.

Bila yang bersemayam di dalam tubuh manusia itu adalah dari jenis selain sukma manusia, misalnya jenis bangsa jin, dan bukan golongan hitam, mungkin jenis itu tidak bersifat menyesatkan, mungkin bisa berguna, bisa menjadi khodam, bisa membantu orangnya melihat gaib, walaupun mungkin melihat gaibnya itu tidak selalu akurat, banyak yang bersifat perlambang, karena gambaran dalam penglihatan gaibnya itu sebenarnya adalah pemberian khodamnya itu, bukan aslinya orangnya bisa melihat gaib.

Khodam-khodam itu yang berfungsi sebagai khodam ilmu / pendamping akan membantu / mempermudah kita dalam semua hal yang bersifat keilmuan dan kegaiban (termasuk memberikan gambaran gaib di pikiran kita) dan menambah kuat efek sugesti kita. Tetapi dengan adanya khodam-khodam itu mungkin penglihatan gaib kita itu, atau jika masih ada fenomena-fenomena gaib lain yang juga kita alami, mungkin ada yang benar, mungkin juga ada yang sifatnya ilusi, tidak semuanya sungguhan. Fenomena ini oleh Penulis dikategorikan sama dengan melihat gaib dengan bantuan khodam.

Umumnya gambaran penglihatan gaib dari khodam kita itu, gambaran gaib yang tidak sungguhan itu, tidak bersifat menipu / menyesatkan. Gambaran-gambaran gaib itu diberikan oleh khodam-khodam kita sebagai cara mereka membantu kita berimajinasi, atau bersugesti batin, sesuai fungsi mereka sebagai khodam.

Tetapi gambaran-gambaran gaib tidak sungguhan itu, walaupun tidak bersifat menipu / menyesatkan, bagi kita gambaran-gambaran gaib itu tetap kita anggap sama dengan tidak riil, tidak sungguh-sungguh sesuai aslinya. Karena itu kita harus bisa membedakan mana yang riil dan mana yang tidak. Jangan semuanya dianggap riil atau tidak riil, atau semuanya dianggap ilusi. Dan jangan yang sifatnya tidak sungguhan kita katakan sungguhan, atau sebaliknya, yang sungguhan kita katakan ilusi. Kita sendiri yang harus bisa membedakannya, karena penglihatan gaib yang asli dengan yang ilusi sebenarnya berbeda rasanya.

Walaupun gambaran gaibnya tidak semuanya riil, tetapi itu adalah bantuan khodam kita sesuai fungsi mereka sebagai khodam. Lebih baik pada saat kita mengalami suatu fenomena gaib atau penglihatan gaib, kita perintahkan khodam-khodam kita supaya tidak memberikan gambaran gaib, supaya mereka mengikuti saja aliran pikiran kita, sehingga gambaran gaib yang akan kita dapatkan bisa diharapkan bersifat sungguhan, riil, bukan ilusi.

Itu tidak sama dengan keberadaan jenis sukma / arwah di dalam badan / kepala seseorang yang sebagian besar gambaran gaibnya bersifat ilusi dan halusinasi yang tujuannya memang untuk menyesatkan / menipu. Keberadaan mereka di dalam tubuh manusia saja sudah menunjukkan itikad dan perwatakan mereka yang tidak baik.

Jenis sukma / arwah manusia biasanya akan cenderung menyesatkan, memberikan banyak gambaran gaib fiktif, ilusi dan halusinasi, bahkan bisa memenuhi pikiran si manusia dengan penglihatan gaib fiktif dan bisikan-bisikan gaib yang menyesatkan yang dalam kondisi yang parah bisa sampai membuat orangnya gila.

Salah satu ciri umum dari seseorang yang ketempatan mahluk halus (atau orangnya berkhodam) adalah orang itu memiliki kemampuan gaib tertentu, terutama merasa bisa melihat gaib tanpa sebelumnya orangnya pernah melatih keilmuan itu, atau orang itu merasa ada keberuntungan-keberuntungan atau kata-katanya manjur terjadi. Artinya ada sesuatu yang lain yang sudah membuatnya bisa melihat gaib, sudah membuatnya mempunyai kemampuan gaib dan sudah mendatangkan keberuntungan-keberuntungan dan kata-katanya manjur terjadi.

Ciri lainnya yang menjadi kemungkinan besar seseorang ketempatan mahluk halus di dalam tubuhnya (atau orangnya berkhodam) adalah ketika ia bermeditasi memejamkan mata (atau ketika sedang tidur bermimpi) sering sekali orangnya merasa pikirannya (atau rohnya) seperti melayang pergi keluar tubuhnya, merasa melambung terbang tinggi ke langit, atau merasa masuk ke alam gaib, merasa dibawa berjalan-jalan di alam gaib, atau bahkan merasa bisa merogoh sukma, atau merasa bertemu dengan sosok-sosok halus lain, yang sebenarnya kejadian-kejadian gaib yang dialaminya itu adalah gambaran gaib / ilusi / halusinasi atau mimpi yang diberikan oleh si mahluk halus yang bersamanya, bukan kejadian gaib sungguhan.

Seseorang yang melihat gaib dengan bantuan khodam paling mudah ditandai dengan ketidak-akuratannya dalam melihat wujud sesosok gaib yang berada di dalam tubuh seseorang yang ketempatan mahluk halus.

Seseorang yang melihat gaib dengan bantuan khodam ini juga mudah ditandai dengan adanya pencitraan, dogma dan pengkultusan gaib yang diucapkannya, apalagi jika orangnya agamis atau hidup di lingkungan agamis, atau menjadi tokoh di lingkungan keilmuan tertentu.


Orang-orang yang bisa melihat gaib karena dirinya berkhodam atau karena dirinya ketempatan mahluk halus, selain sebenarnya mereka sudah bisa melihat gaib (dengan bantuan khodam), mungkin dengan dirinya membaca suatu amalan gaib penglihatan gaibnya itu menjadi semakin jelas dan tajam (walaupun mungkin banyak fiktifnya).

Walaupun amalannya itu dirasakannya ampuh untuk dirinya sendiri, tetapi jika amalan gaibnya itu, atau amalan gaib ciptaannya sendiri, ditawarkannya kepada orang lain yang awam dan tidak berkhodam, mungkin orang lain itu akan tetap tidak bisa melihat gaib. Atau jika amalan gaibnya itu digunakannya untuk ia membukakan penglihatan gaib orang lain yang awam dan tidak berkhodam, mungkin orang lain itu juga akan tetap tidak bisa melihat gaib. Mungkin amalan gaibnya itu efektif hanya untuk dirinya sendiri saja atau hanya untuk orang lain yang kondisinya sama dengan dirinya yang ketempatan mahluk halus (atau berkhodam).

Walaupun banyak orang di internet mengatakan bahwa melihat gaib itu mudah, dan banyak amalan melihat gaibnya ditawarkan kepada orang-orang, tapi ternyata tidak semua orang yang menjalankannya berhasil mendapatkan hasil dirinya bisa melihat gaib. Itulah bedanya orang biasa yang tidak berkhodam yang belajar untuk bisa melihat gaib dengan orang-orang yang bisa melihat gaib tanpa dirinya dulu pernah belajar melihat gaib (yang melihat gaibnya adalah karena dirinya ketempatan mahluk halus atau berkhodam).

Jadi jika anda sudah mencoba berbagai macam amalan ilmu melihat gaib yang dikatakan pemiliknya ampuh untuk melihat gaib, tapi ternyata anda tetap saja tidak bisa melihat gaib, sebaiknya tidak usah dipaksakan, mungkin memang amalan itu tidak ampuh untuk anda, mungkin itu karena kondisi anda tidak sama dengan orang si pemilik amalannya yang ketempatan mahluk halus (atau berkhodam).

Begitu juga bila anda sudah mencoba berbagai macam pembukaan cakra untuk bisa melihat gaib yang ternyata anda tetap saja tidak bisa melihat gaib. Orang yang sudah bisa melihat gaib karena dirinya ketempatan mahluk halus di kepalanya, walaupun orangnya tidak pernah cakra mata ketiganya dibukakan, kemungkinan besar cakra mata ketiganya sudah terbuka dengan sendirinya. Tapi anda dan orang lain tidak akan langsung bisa melihat gaib hanya dengan cara dibukakan saja cakra mata ketiganya. Mungkin memang kondisi anda tidak sama dengan orang si pemilik ilmunya yang kepalanya ketempatan mahluk halus.

Usaha membukakan penglihatan gaib yang berhasil kebanyakan adalah yang proses laku keilmuannya itu mendatangkan sesosok khodam ilmu / pendamping khusus untuk membantu melihat gaib. Mungkin posisi khodamnya itu ada di sebelah kanan atau mungkin masuk ke dalam kepala. Tapi kebanyakan spiritualisnya / gurunya tidak menyadari bahwa laku keilmuannya membukakan penglihatan gaib orang lain itu sudah mendatangkan sesosok khodam (itu juga menunjukkan bahwa spiritualisnya itu tidak sungguh-sungguh bisa melihat gaib, apa yang dilihatnya hanyalah penglihatan gaib yang diberikan oleh khodamnya).


Jika anda mengetahui bahwa diri anda ketempatan mahluk halus di kepala anda dari adanya fenomena-fenomena seperti disebutkan di atas, yang indikasinya dengan adanya mahluk halus itu anda merasa bisa melihat gaib tanpa sebelumnya anda pernah melatih kemampuan itu, Penulis menganjurkan supaya sosok gaib itu dikeluarkan saja dari kepala anda supaya anda bisa lebih jernih dalam menganalisa kegaiban dan supaya anda tidak sampai dipengaruhi oleh sosok halus itu menjadi selalu berpikiran jelek dan jahat tentang orang lain. Hanya saja Penulis belum tahu dan tidak bisa memastikan apakah sesudah sosok gaib itu dikeluarkan anda akan masih bisa melihat gaib. Jadi sebelumnya anda harus rela kalau sesudahnya anda tidak lagi bisa melihat gaib.

Tetapi bila keberadaan energi mahluk halusnya itu sudah merangsang aktifnya saraf-saraf imajinasi di kepala anda sehingga sesudah mahluk halusnya itu dikeluarkan ternyata anda masih bisa melihat gaib, walaupun kemampuan melihat gaib anda itu berkurang dibanding sebelumnya, kondisi melihat gaibnya akan lebih baik, tidak lagi banyak fiktifnya.

Begitu juga upaya kita untuk minta dibukakan mata batin atau mata ketiga kita agar kita bisa melihat gaib, harus juga diwaspadai, jangan sampai caranya membuat kita bisa melihat gaib itu adalah dengan cara memasukkan / mengisikan mahluk halus ke dalam kepala kita, yang kalau itu berhasil terjadi maka kita akan merasa bisa melihat gaib, tetapi penglihatan gaib kita itu tidak semuanya benar sesuai aslinya apa adanya, kasusnya sama dengan melihat gaib dengan bantuan khodam. Lebih buruk lagi kalau sampai kemudian kepala kita dipenuhi oleh ilusi dan halusinasi, atau bahkan sampai membuat kita merasa dihantui gambaran-gambaran gaib atau membuat kita merasa diikuti sosok-sosok gaib yang itu bisa membuat kita gila.

Terhadap semua bentuk pengisian ilmu dan khodam yang langsung mengisikannya ke dalam tubuh kita haruslah kita lebih berhati-hati, terutama pada efek samping selanjutnya, karena efek negatifnya yang terjadi, jika ada, jika sampai benar terjadi, tidak semua orang pinter, termasuk gurunya, mampu mendeteksi faktor penyebabnya, apalagi untuk menangkal dan menanggulanginya (termasuk yang sesudah belajar ilmunya kemudian muridnya itu menjadi gila).

Tetapi dengan adanya kejadian dirinya ketempatan sesosok mahluk halus ada juga orang yang merasa beruntung karena merasa dirinya berkhodam dan bisa melihat gaib. Jadi semuanya berpulang kepada orangnya itu sendiri.

Tetapi jika fenomena ketempatan mahluk halus itu benar terjadi, dan dideteksi jenis mahluk halusnya adalah dari jenis sukma manusia (arwah), siapapun dia, apapun sosok wujudnya, di dalam tubuh bagian manapun posisinya berdiam, Penulis menganjurkan supaya sosok sukma arwah manusia itu diusir pergi (lebih baik lagi kalau sebelumnya sukma arwah itu dibungkus dengan pagaran absolut supaya tidak dapat mengganggu manusia yang lain).

Kalau keberadaan mahluk halus itu dirasakan tidak baik, atau bersifat mengganggu, sebaiknya dikeluarkan saja. Yang berdiam di dalam kepala biasanya kekuatannya ringan, tidak lebih dari 2 md (lebih dari itu bisa memicu munculnya kanker otak, stroke, dsb, indikasi awalnya biasanya orangnya merasa kepalanya sering pusing karena kebebanan energi khodamnya). Yang di dalam kepala bisa mudah diusir pergi dengan bantuan khodam pusaka, khodam batu akik, dsb. Sebaiknya sesudahnya kepalanya dibuatkan pagaran gaib absolut supaya tidak lagi dimasuki gaib yang lain.

Sebaiknya kondisinya ditayuh dulu dengan cara-cara tayuhan yang sudah dicontohkan di halaman berjudul :   Ilmu Tayuh Keris.

Ketergantungan pada melihat gaib juga menyebabkan orang menjadi tidak peka rasa batinnya, tidak dapat mendeteksi kegaiban di lingkungannya berada, tidak bisa mengedepankan "rasa", kecuali ia melihat sendiri sosok-sosok gaibnya.  Karena kurangnya kepekaan dan ketajaman batinnya seringkali juga menjadikan pemahaman mereka menjadi dangkal, yang mampu dilihatnya hanya sebatas kulitnya saja, tidak mampu mengetahui kesejatian dari apa yang dilihatnya, bahkan seringkali orang-orang tersebut tertipu dengan penglihatannya sendiri. Kepada orang lain yang awam mereka akan memberikan cerita-cerita dan penjelasan yang seringkali tidak sesuai dengan hakekat kesejatian dari apa yang sesungguhnya ada / terjadi, ceritanya akan banyak bersifat dogma dan pengkultusan, apalagi kalau orangnya menjadi tokoh di dalam kelompok keilmuan gaib atau hidup di lingkungan agamis.

Faktor-faktor ketidak-akuratan di atas menyebabkan banyak terjadi ketidak-akuratan dalam melihat gaib, juga ketidak-akuratan pengetahuan tentang mahluk halus. Sehingga secara keseluruhan, dalam hal melihat gaib, sekalipun seseorang bisa melihat gaib, tetapi tidak semua orang mampu menggali dan mengungkap isi dan kesejatian dari apa yang dilihatnya, lebih banyak orang yang melakukan pencitraan saja, atau memunculkan dogma, pengkultusan, mitos dan tahayul, dan banyak orang yang tertipu oleh penglihatan gaibnya sendiri.




  Solusi atas ketidak-akuratan melihat gaib.

Untuk solusi mengatasi masalah-masalah ketidak-akuratan melihat gaib di atas, selain kemampuan melihat gaib
dan kemampuan konsentrasi (fokus) batin, perlu juga dilatih ketajaman penglihatan dan ketajaman rasa batinnya supaya dapat melihat sesosok gaib dengan jelas sesuai kondisi dan wujud aslinya dan supaya tidak mudah tertipu.

Selain itu perlu juga kita mengembangkan kepekaan rasa untuk bisa mengenal sifat dan rasa energi masing-masing jenis mahluk halus. Contoh latihan dalam tulisan berjudul  Olah Rasa dan Kebatinan  cukup baik digunakan untuk kita melatihnya (misalnya melatih deteksian dengan rabaan tangan).

Masing-masing jenis mahluk halus memancarkan suatu rasa energi tertentu sesuai sifat energinya dan sesuai perwatakannya masing-masing.

Misalnya, jenis kuntilanak atau gondoruwo memancarkan rasa energi sendiri-sendiri dan mempunyai kekuatan dan kepadatan energi sendiri-sendiri yang berbeda dengan jenis mahluk halus lainnya. Semua kuntilanak dan semua gondoruwo kekuatannya dan sifat energinya sama sesuai jenisnya masing-masing. Sehingga kalau ada bangsa jin yang sosoknya serupa dengan kuntilanak atau gondoruwo, kita akan bisa mengenali dengan rasa bahwa itu sebenarnya adalah bangsa jin, bukan kuntilanak dan bukan gondoruwo, karena rasa energinya berbeda. Dan walaupun sosoknya mirip, tetapi karena kepadatan energinya dan kekuatan gaibnya berbeda, maka bisa dipastikan bahwa itu sebenarnya bukanlah jenis kuntilanak atau gondoruwo, tetapi adalah bangsa jin yang tidak bisa diusir pergi oleh daun kelor seperti kuntilanak dan gondoruwo.

Roh / arwah / sukma manusia biasanya energinya halus, tipis, tetapi tajam, sehingga kalau ada jenis bangsa jin atau kuntilanak atau dhanyang yang menyamar sebagai sukma seseorang yang sudah meninggal, kita akan bisa mengetahui bahwa itu adalah tipuan, karena energi mereka lebih padat / tebal tidak seperti energi sukma manusia dan hawa energinya juga berbeda.

Dalam melihat gaib mungkin akan lebih baik kalau kita bisa meminta sosok halusnya untuk duduk atau berdiri di hadapan atau di samping kita untuk kita ajak berkomunikasi, sehingga akan lebih jelas tampilan sosoknya dan terasa hawa energinya untuk dikenali, bukan hanya berupa gambaran gaib di awang-awang. 

Untuk memeriksa apakah penglihatan / terawangan kita benar atau salah bisa juga mencocokkannya dengan orang lain yang juga mampu melihat gaib. Kalau penglihatannya sama, berarti mungkin memang sudah benar. Kalau penglihatannya berbeda, berarti harus diperiksa apa yang membuat berbeda. Mungkin ada unsur yang menjadi penyebab ketidak-akuratan seperti dituliskan di atas.

Tetapi bila kita bisa melihat gaib karena diri kita ketempatan mahluk halus atau karena diri kita berkhodam dan kita mencocokkan penglihatan gaib kita kepada orang lain yang ternyata bisanya melihat gaib juga karena dirinya ketempatan mahluk halus atau melihat gaibnya dengan amalan atau dengan bantuan khodam, maka kemungkinan besar hasil melihat gaib orang itu juga tidak benar. Penglihatan gaib kita sama-sama tidak benar.


Solusi untuk mengatasi atau menguji ulang apakah penglihatan gaib kita sudah benar adalah dengan melakukan kombinasi  melihat gaib  dengan  kepekaan rasa  seperti yang dicontohkan dalam tulisan berjudul  Olah Rasa dan Kebatinan

Kombinasi melihat gaib dengan kepekaan rasa di atas baik untuk menjadi solusi mengatasi kebimbangan kita atas penglihatan gaib kita yang mengawang-awang, atau ketika kita mendapatkan adanya perbedaan penglihatan gaib antara kita dengan orang lain. Teknis pelaksanaannya akan diuraikan di bawah ini.

Misalnya untuk memeriksa khodam kita atau khodamnya orang lain lebih baik bila khodamnya itu kita minta untuk duduk atau berdiri di hadapan atau di samping kita untuk kita ajak berkomunikasi, sehingga akan lebih jelas tampilan sosoknya, dan bisa diraba hawa energinya untuk dikenali, sehingga penglihatan kita akan lebih baik setelah ditambah deteksian atas keberadaan energinya untuk membuktikan bahwa sosok gaibnya itu memang ada di tempat keberadaannya yang kita deteksi, bukan hanya berupa gambaran gaib di awang-awang yang diragukan kebenarannya.


Teknis untuk menguji ulang keakuratan penglihatan gaib kita sendiri supaya penglihatan gaib kita tidak mengawang-awang atau untuk membuktikan mana yang benar antara penglihatan kita sendiri dengan penglihatan gaib orang lain ketika terjadi perbedaan melihat gaib, melihat gaibnya dikombinasikan dengan kepekaan rasa dengan rabaan tangan untuk mendeteksi keberadaan energi gaibnya sbb :


1. Untuk menguji apakah benar diri kita berkhodam, kita bisa mendeteksi keberadaan energi khodam-khodam kita itu dengan rabaan tangan ke sebelah kanan, kiri, depan dan belakang tubuh kita dan ke atas kepala kita. Nantinya kita akan tahu apakah benar diri kita didampingi oleh sesosok halus / khodam, karena masing-masing rasanya akan berbeda pada posisi yang disitu ada sesosok gaib dengan posisi yang kosong tidak ada apa-apa.

Misalnya ada orang yang mengatakan bahwa kita berkhodam di depan kita sesosok harimau gaib, maka kita coba deteksi keberadaan khodam harimau itu dengan rabaan tangan ke arah depan kita. Begitu juga kalau ada orang yang mengatakan bahwa kita berkhodam di belakang kita sesosok gaib berwujud prajurit, maka kita coba deteksi keberadaan khodam prajurit itu dengan rabaan tangan ke arah belakang kita. Kalau dengan rabaan tangan itu kita tidak mendeteksi adanya energi dari keberadaan khodam kita itu, maka kemungkinan besar khodam itu tidak ada. Berarti penglihatan gaib orang itu tentang khodam kita itu mungkin salah. Mungkin sebenarnya diri kita tidak berkhodam, atau mungkin juga benar diri kita berkhodam, tetapi wujudnya bukan harimau atau prajurit, dan posisinya tidak di depan atau di belakang kita.

Begitu juga kalau ada orang yang mengatakan bahwa kita berkhodam di sebelah kanan kita sesosok gaib, maka kita coba deteksi keberadaan khodam itu dengan rabaan tangan ke arah kanan kita. Kalau dengan rabaan tangan itu kita tidak mendeteksi adanya energi dari keberadaan khodam kita itu, maka kemungkinan khodam itu tidak ada, karena disitu tidak terdeteksi adanya sesuatu yang gaib. Berarti penglihatan gaib orang itu tentang khodam kita itu mungkin salah. Mungkin sebenarnya diri kita tidak berkhodam, atau mungkin juga benar diri kita berkhodam, tetapi wujudnya dan posisinya tidak sama dengan yang dikatakan orang itu.

Kalau dengan rabaan tangan itu di posisi yang dikatakan oleh orang itu kita benar mendeteksi adanya energi dari keberadaan khodam kita itu, maka mungkin benar khodam itu memang ada. Berarti penglihatan gaib orang itu tentang khodam kita itu mungkin benar. Mungkin diri kita memang berkhodam. Tetapi mengenai sosok wujudnya apakah benar seperti yang dikatakan orang itu masih harus kita pertegas lagi gambaran gaibnya.

Apabila terdeteksi bahwa di posisi rabaan tangan kita itu benar terasa ada sesuatu yang gaib, rabaan energi dengan tangan kita itu kita teruskan sampai tergambar sosok wujudnya. Sesudah tergambar sosok wujudnya barulah kemudian kita bisa mengambil kesimpulan apakah benar diri kita berkhodam dan apakah benar sosok wujud khodamnya sama dengan yang disampaikan oleh orang itu.

Jika dari perabaan di sebelah kanan, di depan atau di belakang kita tidak mendeteksi adanya sesuatu yang gaib, dicoba saja untuk meraba dalam jarak 1 cm di badan dan kepala kita, barangkali saja khodam atau mahluk halusnya sebenarnya berdiam di dalam kepala atau di dalam badan kita.

Rabaan tangan bisa juga dilakukan 1 cm dari tubuh kita untuk mendeteksi keberadaan energi dari sesuatu yang gaib apakah tubuh kita ada ketempatan / ketempelan mahluk halus, atau apakah ada benda gaib yang menempel di badan kita, rabaannya diarahkan ke seluruh tubuh kita mulai dari kepala, badan, tangan sampai kaki.

Dengan cara perabaan dan kontak energi terhadap keberadaan khodamnya itu kita tidak mengawang-awang, bisa jelas apakah di posisi rabaan tangan kita itu benar ada sesuatu yang gaib, mudah-mudahan juga bisa jelas tergambar sosok wujud gaibnya dan dengan kontak batin bisa kita tanyakan langsung apa saja tuahnya.

Seandainya pun kita tidak jelas melihat sosok wujudnya, tetapi dengan kita mendeteksi ada keberadaan energinya disitu kita bisa lebih yakin bahwa disitu memang ada sesuatu yang gaib, mungkin saja benar itu adalah khodam kita. Berarti mungkin benar diri kita berkhodam.
Begitu juga sebaliknya, jika kita mendeteksi tidak ada keberadaan energinya disitu kita bisa lebih yakin bahwa disitu memang tidak ada apa-apa, tidak ada sesuatu yang gaib, mungkin diri kita tidak berkhodam.

Tetapi jika benar disitu memang ada sesuatu yang gaib, kita harus lebih kritis untuk menentukan apakah benar itu adalah khodam kita, ataukah sebenarnya itu adalah mahluk halus yang sedang menghantui kita (diri kita sedang kesambet, ketempelan, dipelet, diguna-guna, dsb). Walaupun kita belum bisa menentukannya, tapi setidaknya dengan cara itu kita menjadi lebih yakin bahwa disitu memang ada sesuatu yang gaib. Ini berguna untuk kehati-hatian kita.

Prinsip pembuktian di atas bisa juga diterapkan untuk menentukan apakah di suatu lokasi tertentu benar dihuni mahluk halus dan untuk mencaritahu sosok wujudnya. Sebaiknya kita juga tahu apakah sosok-sosok halus yang menghuni disitu berwatak baik ataukah jahat.


2. Untuk benda-benda gaib kita seperti keris dan batu akik, dengan cara perabaan pada bendanya kita bisa mendeteksi dari keberadaan energinya apakah benda gaib kita itu benar berkhodam ataukah kosong isinya.

Jika bendanya kita deteksi benar berkhodam, kemudian khodamnya itu kita perintahkan duduk di samping kita sehingga kita bisa mendeteksi energi keberadaannya dan kita bisa lebih jelas melihat sosok wujudnya. Tangan kita juga kita julurkan untuk mendeteksi energi keberadaan khodamnya itu apakah benar dia sudah ada di samping kiri / kanan kita.

Jika gambaran sosok gaibnya sudah didapatkan, walaupun samar, fokuskan penglihatan batin kita kepada sosok gaibnya itu untuk mempertajam penglihatan batin kita sampai jelas detail gambaran sosok wujudnya, jangan hanya sekelebatan saja. Dengan demikian kita tidak lagi hanya mengawang-awang, bisa mendeteksi keberadaannya dan bisa lebih jelas melihat wujud khodamnya dan dengan kontak batin bisa kita tanyakan langsung apa saja tuahnya.

Sambil kita fokuskan penglihatan batin kepada sosok gaibnya itu kita sampaikan pertanyaan-pertanyaan kita mengenai bendanya kepada sosok gaibnya itu, ajaklah berkenalan, dengan cara berkata-kata di dalam hati tetapi ditujukan kepada sosok gaibnya, tanyakan apa saja tuahnya, apa saja sesajinya, bagaimana kecocokkannya dengan kita, dsb. Dengan cara ini selain kita belajar "melihat" secara batin, kita juga belajar "menyampaikan" komunikasi batin dan belajar "mendengar" secara kontak batin jawaban komunikasi dari sosok gaibnya itu berupa ilham yang mengalir dalam benak kita. Selain itu cobalah menerapkan kepekaan rasa / insting untuk membaca kepribadiannya, apakah sosok halus itu adalah dari jenis yang baik ataukah dari jenis yang tidak baik yang harus dihindari. Lakukanlah dengan hormat dan sopan.


3. Untuk benda gaib, yang bentuknya masih gaib, yang ditengarai menempel di tubuh kita, sebelumnya kita deteksi dulu dengan rabaan tangan untuk menentukan apakah di posisi rabaan tangan kita itu benar ada sesuatu yang gaib. Jika benar ada, jika itu adalah benda gaib, kemudian kita raih benda gaibnya (dan energinya), dipegang dengan tangan, kemudian kita kontak energi dengan bendanya dan dilihat wujud asli bendanya apakah wujudnya batu mustika, keris, dsb.

Kemudian khodam benda gaibnya kita perintahkan duduk di samping kita sehingga kita bisa mendeteksi energi keberadaannya dan bisa lebih jelas melihat wujudnya. Dengan demikian kita tidak mengawang-awang, bisa mendeteksi keberadaannya dan bisa lebih jelas melihat wujud bendanya dan wujud khodamnya dan dengan kontak batin bisa kita tanyakan langsung apa saja tuahnya.

Sesudahnya benda gaibnya itu kita kembalikan ke tempatnya semula, atau digeser sejengkal jika posisi keberadaannya terasa mengganggu (misalnya membuat badan pegal), atau dibuang jauh jika tidak diinginkan.

Keseluruhan cara-cara di atas adalah untuk menguji ulang apakah penglihatan kita sebelumnya atas benda gaibnya dan khodamnya atau penglihatan gaib kita atas sesosok mahluk halus sama dengan penglihatan kita yang sekarang setelah cara melihatnya dilakukan dengan cara-cara di atas itu. 

Cara-cara di atas juga baik untuk dilakukan bersama-sama dengan orang lain yang bisa melihat gaib untuk bersama-sama menguji ulang apakah penglihatan gaib sebelumnya kita dan orang lain itu sama dengan penglihatan yang sekarang setelah cara melihatnya dilakukan dengan cara itu.

Kombinasi melihat gaib dan kepekaan rasa untuk mendeteksi energi keberadaannya itu sebaiknya selalu dilakukan dalam kita menerawang sesuatu yang gaib, supaya penglihatan kita lebih akurat, tidak mengawang-awang dan tidak berilusi atau dikelabui oleh gaib.

Lakukanlah dengan sopan dan hati-hati.


Catatan khusus :

Bila diri kita ternyata ketempatan mahluk halus atau berkhodam di dalam badan atau di kepala kita, ada kemungkinan khodam kita itu bisa mengacaukan deteksian kita di atas, sehingga sekalipun di depan kita tidak ada gaib apa-apa kita tetap akan merasakan tangan kita kesetrum atau terasa panas / dingin seolah-olah disitu memang ada sesuatu yang gaib. Begitu juga dengan gambaran gaib yang kita terima, kemungkinan besar tidak sama dengan gambaran gaib aslinya. Dengan kondisi diri kita yang ketempatan mahluk halus atau berkhodam ini deteksian kita menjadi tidak valid. Kemungkinan besar tidak akurat.

Karena itu bila kita sadar bahwa diri kita ketempatan mahluk halus atau berkhodam (bisa dicaritahu sendiri jawabannya dengan cara menayuhnya seperti dicontohkan di tulisan berjudul Ilmu Tayuh Keris) sebaiknya kita perintahkan mahluk halusnya atau khodam kita itu untuk diam saja, jangan membantu kita. Dengan begitu diharapkan mudah-mudahan deteksian kita menjadi benar, deteksiannya asli sesuai kondisi aslinya.

Tetapi bila ternyata mahluk halus yang bersemayam di dalam diri kita adalah dari jenis sukma / arwah, kemungkinan besar mereka akan tetap menipu kita. Deteksian kita akan terus saja tidak valid. Karena itu Penulis menganjurkan atas adanya sesosok sukma / arwah di dalam diri kita sebaiknya diusir saja.


Ketidak-akuratan  juga dapat terjadi dalam  berkomunikasi dengan gaib.

Orang-orang yang sudah bisa melihat gaib belum tentu ia bisa juga berkomunikasi dengan gaib.

Begitu juga sebaliknya, orang-orang yang sudah bisa "mendengarkan" suara-suara gaib, atau yang sudah bisa berkomunikasi dengan gaib, peka rasa dan firasat, peka sasmita, menjadi spiritualis atau praktisi ilmu gaib atau kebatinan, jagonya ilmu gaib, punya banyak amalan dan mantra, bisa penarikan gaib, sudah sering bertirakat ngelmu gaib, belum tentu ia bisa juga melihat gaib.

Masing-masing kemampuan itu, melihat dan berkomunikasi dengan gaib, tidak otomatis terjadi bersamaan, harus dipelajari sendiri-sendiri.

Berkomunikasi dengan gaib berarti berbicara dan mendengarkan, berkomunikasi 2 arah dengan mahluk gaibnya. Syaratnya  harus bisa peka rasa dan kontak batin untuk menyampaikan komunikasi dan untuk mendengarkan jawaban komunikasinya.

Sama dengan melihat gaib yang dilakukan dengan kepekaan batin, berkomunikasi dengan gaib (berbicara dan mendengar, komunikasi dua arah) juga dilakukan dengan kontak rasa dan batin yang secara awam disebut mengalirnya ilham atau bisikan gaib. Kalau sudah terbiasa nantinya menyampaikan komunikasinya bisa juga dengan cara berbicara. Tapi dengan berbicara itupun sebenarnya masih kontak batin juga, karena walaupun kita menyampaikan komunikasi dengan cara berbicara dan kita "merasa" mendengar suara mereka berbicara, sebenarnya "suara" mereka itu kontak batin juga, hanya kita saja yang bisa mendengar suaranya, orang lain di dekat kita tidak mendengarnya.


Pada prinsipnya dalam hal melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaib, seharusnya roh pancer kita sendiri yang sudah bisa melihat gaib, sudah bisa berperan aktif sebagai roh sehingga
pancer kita bisa juga melihat dan berkomunikasi dengan roh-roh lain, tidak lagi hanya berperan secara biologis saja. Sedangkan sedulur papat kita hanya bersifat mendampingi dan membantu pancernya saja.

Pada proses awal melihat gaib, yang melihat gaib pertama adalah sedulur papat kita. Kemudian atas apa yang dilihatnya itu sedulur papat memberitahukannya kepada pancernya, sehingga kemudian kita sebagai pancer merasa bisa melihat gaib. Karena itulah kalau seseorang hubungan pancer dan sedulur papatnya kurang baik, kurang baik dalam penyatuan dan keselarasan rasa, biasanya dalam melihat gaib ia hanya bisa melihat sekelebatan saja, hanya bersitan saja, gambaran gaibnya tidak utuh dan tidak jelas.

Begitu juga dalam hal berkomunikasi dengan gaib.

Dalam berkomunikasi dengan gaib umumnya prosesnya adalah roh pancer (kita sendiri) menyampaikan maksudnya kepada sedulur papatnya, kemudian sedulur papat kita itulah yang berinteraksi dengan mahluk halus yang dituju. Dan jawaban komunikasi gaib yang kita terima sebenarnya adalah jawaban dari mahluk halusnya kepada sedulur papat kita yang kemudian oleh sedulur papat kita itu disampaikan kepada kita (pancer), bukan jawaban yang kita (pancer) terima langsung dari mahluk halusnya.

Sedulur papat bisa mengetahui semua
yang terpikirkan oleh pancernya, termasuk keinginan untuk melihat / berkomunikasi dengan gaib, karena sedulur papat itu sebenarnya adalah satu kesatuan dengan pancer sebagai sukma manusia. Bahkan sebenarnya antara pancer dan sedulur papat itu juga sering berkomunikasi. Biasanya kita akan merasakannya sebagai mengalirnya ide / ilham di pikiran kita. Paling terasa adalah ketika kita sedang melamun, ada semacam tanya dan jawab yang mengalir begitu saja diluar kontrol kita.

Tetapi bila diri kita ketempatan mahluk halus, atau diri kita berkhodam, biasanya peranan sedulur papat kita itu diambil alih oleh khodam atau mahluk halus yang bersama kita itu. Melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaibnya sama dengan melihat gaib dengan bantuan khodam.


Ketidak-akuratan dalam berkomunikasi dengan gaib paling banyak terjadi dalam proses "mendengar" jawaban dari sosok gaibnya. Penyebabnya banyak, sama seperti ketidak-akuratan dalam melihat gaib.

Paling banyak terjadi kalau di dalam pikiran kita berkecamuk bermacam-macam pikiran, atau selama berkomunikasi itu kita juga aktif dengan pikiran, bukan batin, sehingga pikiran kita tidak jernih dan tidak bisa membedakan aliran jawaban dari sosok gaib yang kita ajak bicara dengan bersitan pikiran kita sendiri. Karena itu kita harus bisa hening, fokus kepada sosok gaibnya, mengendorkan pikiran, mengedepankan rasa dan batin.

Penyebab lain yang paling banyak terjadi adalah jika kita mempunyai sosok halus pendamping atau ada sosok gaib lain yang bersemayam di dalam tubuh kita, sehingga "suaranya" bercampur, kadang kita tidak bisa membedakan itu suaranya siapa, apakah berasal dari sosok halus yang kita ajak berkomunikasi ataukah itu sebenarnya suaranya khodam kita itu.

Biasanya sosok halus pendamping yang baik, yang berwatak baik, keberadaannya akan mempermudah kita berkomunikasi dengan sosok gaib mana saja, karena walaupun kita tidak bisa menyampaikan komunikasi dan tidak bisa mendengar "suara" jawaban sosok gaib yang kita ajak berkomunikasi, sosok pendamping kita itulah yang akan menyampaikan komunikasi dan jawabannya kepada kita (berupa ilham yang mengalir dalam pikiran kita). Atau seandainya pun sesosok gaib yang kita ajak bicara tidak memberikan jawaban, sosok pendamping kita itu yang akan memberitahu kita jawabannya (sosok pendamping kita itulah yang aktif berinteraksi dengan sosok gaib yang kita tuju dan menyampaikan jawaban interaksinya kepada kita).

Tetapi sosok pendamping yang tidak baik, yang berwatak tidak baik, apalagi jika sosok pendamping kita itu dari jenis sukma / arwah jahat yang bersemayam di dalam badan / kepala kita, atau jin golongan hitam, biasanya keberadaannya akan menyesatkan usaha komunikasi kita dengan sosok gaib mana saja. Biasanya sosok pendamping kita yang tidak baik itu akan sengaja memberikan jawaban yang salah, sengaja menipu dan menyesatkan kita, sengaja membuat kita keliru, atau mereka sengaja menutup-nutupi kebenarannya, karena mereka mempunyai tujuan tertentu.


Baik melihat gaib ataupun berkomunikasi dengan gaib, apa saja yang dilakukan / dirasakan oleh seseorang ketika ia melihat gaib atau berkomunikasi dengan gaib itu tidak semuanya sama, hanya orangnya saja yang tahu, sehingga apa saja yang menjadi kesulitan orang per orang dalam melakukannya kita tidak bisa menentukannya dengan pasti.

Ada kasusnya gaib yang kita berkomunikasi dengannya itu memang sengaja menipu kita, atau kita ditipu oleh gaib yang bersama kita (banyak terjadi pada orang-orang yang dirinya ketempatan mahluk halus).
Tetapi kalaupun gaibnya tidak menipu, ada kasusnya juga yang kita sendiri tidak benar dalam berkomunikasi.

Kalau kita bisa berkomunikasi dengan kontak rasa dan batin, bahasa di dalam komunikasi gaib itu akan terkonversi menjadi bahasa yang kita mengerti.

Tapi ada kalanya juga kita sendiri yang tidak benar dalam berkomunikasi.
Ada kasusnya yang kita mengikuti jalan pikiran kita sendiri, bukan mengikuti aslinya komunikasi dari gaibnya.

1. Kasusnya ada yang mirip seperti saat kita sedang mengobrol, yang saat itu kita seperti sedang melamun, pikiran kita mengawang-awang, sehingga kita tidak utuh "mendengarkan" perkataan dari gaibnya, mungkin malah kita terbawa pikiran kita sendiri,
atau
2. Kita tidak sepenuhnya mengedepankan kontak batin, kita masih mengikuti pikiran kita sendiri, belum utuh mendengarkan komunikasinya tapi sudah mengambil kesimpulan sendiri, sehingga seringkali kesimpulan
kita atau pembacaan kita dari hasil komunikasinya tidak sepenuhnya akurat.

Dalam kasus-kasus di atas seringkali komunikasi yang kita tangkap hanya berupa bersitan-bersitan pikiran saja, tidak bisa dirunut teratur seperti halnya percakapan yang sistematis, sehingga kesimpulan yang kita buat juga bukan berasal dari keseluruhan hasil percakapan yang sistematis, tapi adalah kesimpulan kita sendiri dari bersitan-bersitan pikiran kita sendiri.

Jadi seringkali ketidak-akuratan itu terjadi karena kita sendiri yang mengikuti pikiran kita sendiri.
Karena itu sama halnya seperti melihat gaib, dalam kita berkomunikasi dengan gaib juga dituntut untuk kita bisa fokus batin pada percakapan gaib itu, jangan membiarkan munculnya bersitan-bersitan pikiran yang mengganggu fokus batin kita, dan jangan beralih menggunakan pikiran yang menyebabkan komunikasinya terputus.


Perhatian :

Dalam semua latihan maupun praktek sesungguhnya melihat gaib, terawangan gaib, olah rasa atau menayuh, Penulis sangat menekankan supaya para pembaca belajar keras untuk bisa membedakan mahluk halus yang baik dan yang tidak baik. Itu adalah upaya kita untuk berhati-hati.

Dalam kita
menayuh, melihat gaib, menerawang atau mendeteksi sesuatu yang gaib usahakan supaya secara otomatis kita bisa langsung mengetahui apakah yang sedang kita terawang itu perwatakannya baik ataukah tidak baik.

Jika awalnya kita sudah merasakan bahwa sosok gaibnya itu tidak baik wataknya, sebaiknya terawangannya jangan dipertegas, jangan sampai karena adanya kontak rasa dan batin, yang tidak baik itu menjadi perhatian kepada kita, atau malah mendatangi kita. Karena itu untuk langkah awal kehati-hatiannya lebih baik kalau kita menggunakan minyak jafaron dan membuat pagaran gaib untuk perlindungan kita.



   Meditasi Untuk Melihat Gaib


Untuk menindaklanjuti banyaknya pertanyaan mengenai cara-cara melihat gaib dan keinginan untuk melihat gaib dengan cakra mata ketiga, di bawah ini Penulis sajikan metode meditasi sederhana untuk keperluan itu dengan pertimbangan kehati-hatian, sebaiknya anda juga melakukannya dengan hati-hati.

Penulis tidak memaksudkan cara melihat gaib dengan mata ketiga sebagai metode melihat gaib yang berdiri sendiri. Sebaiknya kemampuan itu dijadikan kemampuan yang melengkapi kemampuan kebatinan yang lain. Sebaiknya sebelumnya anda sudah menguasai cara-cara melihat gaib dengan batin dan rasa, seperti yang sudah Penulis tuliskan cara latihannya dalam tulisan berjudul  Olah Rasa dan Kebatinan  dan  Ilmu Tayuh / Menayuh Keris , sebagai kemampuan dasar yang harus lebih dulu dikuasai sebelum mempelajari metode yang lebih tinggi. Cara-cara dalam latihan olah rasa itu cukup efektif untuk meminimalisir ketidakakuratan dalam melihat gaib. Latihlah lebih dulu kepekaan rasa dan batin dan latihlah dulu kekerasan batin dan mental anda dengan membiasakan diri berada di lingkungan gaib.

Setelah itu sebaiknya anda juga belajar "membangun" kekuatan kebatinan dan energi dan cara-cara penggunaannya, misalnya seperti yang sudah Penulis tuliskan dalam judul  Kebatinan dalam KeagamaanMeditasi Energi, atau dengan cara-cara kebatinan dan spiritual yang lain. Sedapat mungkin semua kekuatan kebatinan yang berhasil dihimpun dapat diolah menjadi kekuatan rasa dan dapat disatukan dengan kepekaan rasa, menjadi satu kesatuan kemampuan kebatinan.


Untuk keamanan dan kenyamanan sebaiknya meditasinya dilakukan di rumah anda sendiri, di dalam kamar tidur anda sendiri, untuk meminimalisir adanya gangguan-gangguan dari arah luar rumah. Matikan semua lampu supaya kondisi kamar gelap gulita.

Dalam proses meditasi ini tubuh anda akan memancarkan gelombang energi tertentu dan pikiran anda akan memancarkan gelombang pikiran tertentu yang itu dapat mengundang datangnya sosok-sosok halus tertentu. Kalau anda merasa takut (atau merinding takut) atau merasakan sesuatu yang berbahaya, sebaiknya jangan dilanjutkan, mungkin memang ada sesosok gaib yang datang, atau di sekitar tempat anda tinggal mungkin ada sosok-sosok gaib negatif, dan mungkin situasinya memang berbahaya. Sebaiknya sebelum bermeditasi anda mengoleskan sedikit minyak jafaron di tangan, perut, punggung, dan belakang leher anda untuk menjauhkan sosok-sosok halus negatif dari dekat anda. Lebih baik lagi kalau anda juga punya pagaran gaib. Dan jika anda belum berhasil pada hari pertama sebaiknya tidak usah dipaksakan. Masih bisa dilakukan lagi pada hari yang lain.

Sugesti meditasi kebatinan ini adalah untuk belajar melepaskan pikiran dan mengedepankan batin. Kendorkan pikiran biar batin yang bekerja. Kedepankan rasa dan batin dan istirahatkan pikiran.

Meditasi ini sebaiknya dilakukan tanpa keinginan yang menggebu-gebu untuk segera dapat melihat gaib, karena kemampuan itu nantinya akan terjadi dengan sendirinya. Hilangkan semua hasrat dan keinginan. Hasrat yang menggebu-gebu dan keinginan untuk bisa melihat gaib justru akan membuat pikiran anda tegang dan dapat menghalangi proses peka rasa dan pembukaan cakra (apalagi kalau meditasinya direncanakan).

Tidak semua orang berhasil melepaskan pikirannya untuk mengedepankan batinnya. Kalau perlu meditasinya jangan direncanakan. Lakukan saja ketika kita sedang iseng dan santai tak ada kegiatan. Kalau kita santai melakukannya dan tak ada beban hasrat, biasanya sekali saja melakukannya sudah berhasil. Tetapi ada juga orang lain yang harus melakukannya sampai berkali-kali baru bisa berhasil. Tetapi ada juga yang tidak pernah berhasil. Mungkin memang bukan rejekinya. Memang peruntungan orang berbeda-beda dan faktor penghalangnya juga berbeda-beda.

Faktor terbesar yang menjadi penghalang pencapaian keberhasilan dari suatu laku meditasi adalah adanya khodam ilmu / pendamping atau ketempatan mahluk halus di dalam kepala atau badan yang keberadaan mereka itu sering sekali memberikan bisikan gaib dan penglihatan yang bersifat fiktif, ilusi dan halusinasi, terutama dalam meditasi mata terpejam. Mungkin malah orangnya sampai dibuat seolah-olah dirinya merogoh sukma, rohnya terbang ke langit atau berjalan-jalan di alam gaib atau berhalusinasi bertemu dengan sosok-sosok halus tertentu.

Karena itu jika anda sadar diri anda berkhodam sebaiknya sebelum bermeditasi anda sampaikan kepada khodam-khodam anda itu dan semua mahluk halus yang bersama anda supaya jangan memberikan gambaran dan bisikan gaib apapun. Perintahkan supaya mereka mengikuti saja jalan pikiran anda.

Sesudah diperintahkan begitu mudah-mudahan semua gaib yang bersama anda tidak akan memberikan halusinasi kepada anda, tetapi gaib yang di dalam badan / kepala, terutama yang jenisnya adalah sukma (arwah) manusia, kemungkinan akan tetap memberikan halusinasi, karena sudah watak dasarnya mereka menipu dan menyesatkan. Karena itu atas adanya mahluk halus jenis sukma / arwah di dalam tubuh manusia, siapapun dia, darimanapun asal-usulnya, Penulis menganjurkan untuk diisolasi dan dikeluarkan. Selebihnya tinggal anda sendiri untuk kritis membedakan mana kegaiban yang nyata dan mana yang fiktif / ilusi, jangan sampai terbawa mengikuti yang sifatnya fiktif / tipuan. Usahakan untuk belajar fokus kepada pancer dan sedulur papat kita sendiri dalam hal inspirasi, ide dan ilham dan gambaran gaib, jangan kepada yang lain.

Kalau dalam kondisi meditasi ini anda merasakan ada tekanan / gerakan di dahi, hidung, atau ubun-ubun, mungkin itu adalah getaran cakra-cakra tubuh yang bergerak / bereaksi.

Dalam meditasi
ini jangan menggunakan pikiran untuk berkonsentrasi.
Jangan berusaha keras untuk berkonsentrasi.
Pikiran yang seharusnya santai, jangan sampai justru pikirannya bekerja keras untuk berkonsentrasi. Kendorkan pikiran. Baca doa dalam hati.

Meditasinya dengan duduk bersila.
Meditasinya bisa dilakukan kapan saja, paling baik antara jam 22.00 - jam 03.00 pagi.
Lampu kamar dimatikan, sehingga suasana menjadi gelap.
Pada awal meditasinya sebaiknya anda berdoa dahulu meminta perlindungan Tuhan.
Sebaiknya meditasinya dilakukan di kamar tidur, tidak di luar rumah, untuk menghindarkan datangnya sosok-sosok gaib yang tidak diundang, yang tidak jelas juntrungannya.

Kondisi mata terpejam juga dapat mendorong orang untuk keras berkonsentrasi dengan pikirannya. Jika anda mengalami itu mungkin akan lebih mudah jika anda melakukannya tidak dengan memejamkan mata. Dalam kondisi kamar gelap gulita mata boleh tetap terbuka, pandangan diarahkan santai ke bawah seperti orang melamun. Tetap alirkan doa dalam hati supaya pikiran tidak kosong melayang (tetapi juga jangan keras berkonsentrasi untuk berdoa).

(Kalau anda masih merasa takut / was-was, meditasinya bisa dilakukan siang hari, tapi usahakan kondisi kamar / ruangannya gelap dan hening).

Sejak awal meditasinya dan seterusnya diharapkan anda berdoa (zikir / wirid di dalam hati), tujuannya adalah untuk memfokuskan batin anda dan mengarahkan supaya pikiran anda tidak kosong atau mengambang melayang-layang tidak jelas, tetapi juga jangan berusaha keras untuk terus berdoa. Doa itu hanya berfungsi untuk mengisi kekosongan pikiran, jangan malah anda keras berdoa. Sebaiknya anda tidak menggunakan doa dan amalan yang bersifat keilmuan. Lantunkan doa-doa pribadi dari hati kepada Tuhan, atau doa dan amalan yang sifatnya netral, bukan yang bersifat keilmuan, apalagi amalan untuk melihat gaib.

Untuk yang beragama Islam anda bisa mengucapkan syahadat dan melantunkan doa Al Fateha, sedangkan untuk umat beragama lain silakan memilih sendiri doa yang sesuai untuk pembukaan batin atau melihat alam gaib. Untuk umat Kristen, sepertinya doa Bapa Kami tidak bisa digunakan disini, karena doa itu mengandung makna khusus dan sifat kerohaniannya tidak untuk tujuan meditasi ini.

Bagi yang tidak mempunyai doa sendiri, di bawah ini ada doa kebatinan kejawen yang mungkin berguna untuk diwirid di dalam hati. Bunyinya sbb :

  Sukma ingsun sukma sejati
  Sukma sejatining urip
  Urip sejatining manungsa
  Tiluhur tak usap dampal
  Di tengah puser udel
  Serbudi aptoroso diroso keno kuoso
  Ya Alloh kul goib
  Kulo nyuwun ijin
  Ya Alloh kulo nyuwun kekuatan
  Ya Alloh kulo nyuwun kesaktian
  Ya Alloh kulo nyuwun kegaiban
  Mugi-mugi Alloh kul goib ngabulaken panyuwun kulo
  Hong wilaheng sekare bahwono langgeng
(3x)

Amalan di atas tujuan sugestinya adalah untuk memohonkan terkabulnya suatu keinginan, selain permohonan kepada Tuhan, kegaiban sukma juga akan membantu mewujudkan keinginan itu, tetapi secara umum sugesti di atas, yang bersifat kebatinan, akan dapat membangkitkan kemampuan kebatinan seseorang, akan dapat mengantarkan seseorang menjadi linuwih dan waskita secara kebatinan.

Dalam meditasi, doa / zikir / wirid berfungsi untuk membantu supaya pikiran kita tidak kosong, supaya tidak mengambang melayang-layang, supaya lebih terarah menuju keheningan. Lebih baik jika kita menggunakan tasbih. Sesuai fungsinya yang untuk membantu supaya pikiran kita lebih terarah menuju keheningan, maka selama bermeditasi itu jangan kita berkonsentrasi keras untuk berdoa. Doa / zikir / wirid harus difungsikan untuk mengantarkan kita menuju keheningan.


 Meditasi 1.

Dengan cara bermeditasi, melihat gaib dan berkomunikasi dengan sesosok gaib biasanya dilakukan dengan kita secara batin masuk ke dalam "frekwensi gaib", atau secara sadar masuk ke alam bawah sadar. Implisit dalam uraian tersebut, latihan meditasi ini adalah ditujukan untuk itu. Karena itu jika kita sudah masuk ke dalam frekwensi gaib itu, janganlah kemudian beralih menggunakan pikiran, jangan berpikir atau berkata-kata dengan pikiran, sampaikan semua pertanyaan seperti orang yang sedang kontak rasa, semuanya dilakukan secara imajiner. Biarkan semua ilham dan kontak rasa / batin mengalir sampai selesai, jangan terputus karena kita menggerakkan pikiran.

Tahap pertama belajar melihat gaib dilakukan untuk "melihat" atau bertemu dengan sosok gaib tertentu atau mendapatkan penglihatan gaib dari khodam benda-benda jimat, keris / pusaka dan sosok-sosok khodam pendamping, jika anda sudah memilikinya (atau meminjam keris milik teman, kalau tidak punya). Sebelumnya disiapkan dulu bendanya dan dipastikan dulu dengan cara seperti menayuh keris atau dengan cara olah rasa bahwa khodamnya baik dan berkenan membantu anda belajar melihat gaib. Cara ini lebih aman daripada langsung berinteraksi dengan sosok-sosok halus lain yang anda belum kenal atau belum merasa dekat yang sosok dan wataknya seperti apa juga belum tahu.

Kalau anda sudah mempunyai benda gaib atau khodam pendamping, sebaiknya anda manfaatkan untuk menjadi lebih mengerti tentang dunia gaib. Ajaklah mereka untuk berkomunikasi secara langsung dengan cara yang sama seperti menayuh keris atau bisa juga dicoba dengan cara hening meditasi ini. Bila anda sudah merasa dekat dengan khodam anda dan bisa bersugesti seharusnya cara ini mudah dilakukan dan pasti berhasil. Jika anda masih merasa takut, sebaiknya disugestikan kepada khodam anda supaya menampilkan diri sebagai sesosok manusia yang enak dipandang mata, yang tidak menyeramkan.

Jika anda berhasil "masuk" ke dalam frekwensi gaib dalam meditasi 1 ini, pada awalnya mungkin anda akan merasakan rasa hening yang mencekam. Itu tidak apa-apa. Itu adalah reaksi dari roh pancer anda ketika pertama kali merasakan suasana alam gaib.

Jika kita berhasil "masuk" ke dalam frekwensi gaib kita akan mendapati suasana dan lingkungan yang sangat berbeda dengan kondisi aslinya di tempat kita bermeditasi. Walaupun kita melakukan meditasinya di kamar tidur kita, dalam kondisi kita "masuk" ke dalam frekwensi gaib itu, masih dalam kondisi mata terpejam, mungkin kita akan melihat mahluk halus, tetapi kita tidak akan melihat meja, lemari, tempat tidur atau bangunan rumah kita, karena di alam gaib, meja, lemari, tempat tidur atau bangunan rumah kita itu tidak ada.

Dalam kondisi melihat gaib itu roh sedulur papat kita menyatukan diri dan penglihatannya dengan pancernya, sehingga apa yang dilihat oleh sedulur papatnya, pancernya juga bisa ikut melihatnya, sehingga kemudian
kita bisa melihat gaib. Dalam hal ini sedulur papat kita tidak keluar dari tubuh, tetapi menyatukan dirinya dengan pancernya, berbeda dengan melihat gaib dengan mata ketiga yang keberadaan khodam di kepala seseorang memaksa sedulur papatnya keluar dari tubuh.

Tujuan laku meditasi ini adalah untuk memunculkan aktivitas sukma kita yang bersifat roh, tidak bersifat fisik. Karena itu dalam melakukannya kita harus bisa mengendapkan semua aktivitas yang bersifat fisik, pikiran dan perasaan, semuanya diselaraskan menuju keheningan, menuju titik nol.

Kalau anda merasa kaki anda pegal, anda bisa merubah posisi kaki anda, bisa juga diluruskan. Usahakan untuk terus memejamkan mata dan berdoa / zikir di dalam hati, jangan beralih menggerakkan pikiran.

Kalau dalam bermeditasi ini anda mengantuk dan tertidur, itu tidak apa-apa. Kalau meditasinya dihentikan dan kemudian anda pergi tidur, itu juga tidak apa-apa. Tapi kalau ingin diteruskan, sebaiknya memang diteruskan.
Itu adalah tahapan anda sudah masuk ke dalam frekwensi alam bawah sadar yang membawa anda masuk ke alam mimpi. Untuk meneruskannya mata tetap dipejamkan dan teruskan berdoa / zikir di dalam hati. Jangan menggunakan pikiran, biarkan semua kesadaran mengalir hanya dalam hati.


Proses meditasinya sbb :
1. Kendorkan pikiran, biar batin yang bekerja
    Gunakan kepekaan rasa dan batin
    Duduklah bersila dengan punggung tegak sempurna, tetapi santai, tidak kaku
2. Berdoalah di dalam hati (zikir / wirid di dalam hati) sampai anda merasa tenang, nyaman dan hening.
    Teruskan saja berdoa sampai anda masuk ke dalam suasana gaib (frekwensi gaib)
3. Setelah anda berada dalam suasana hening atau suasana gaib itu, kalau khodamnya tidak masuk sendiri
    ke dalam penglihatan gaib anda, anda panggil khodamnya supaya masuk ke dalam penglihatan gaib anda.
    Perintahkan supaya khodamnya duduk di hadapan atau di sebelah anda.
4. Sesudah khodamnya masuk ke dalam penglihatan batin anda, ajaklah berkomunikasi, misalnya ajukan
    pertanyaan seperti siapa namanya, kegunaannya, asal-usulnya, dsb, dan "dengarkan" jawabannya.
5. Sesudahnya, jika dianggap cukup, ucapkan terima kasih atas bantuannya.


Biasanya saat masih baru belajar bermeditasi di kegelapan, dalam kondisi menuju keheningan, dalam kondisi mata terpejam, kita akan merasa melihat kilatan-kilatan cahaya atau garis-garis menyala yang bergerak melingkar-lingkar atau berputar tidak beraturan atau suara letupan-letupan di telinga / pikiran. Itu adalah gambaran gelombang energi pikiran kita. Jika sudah terbiasa bermeditasi biasanya letupan-letupan dan sinar-sinar itu tidak tampak lagi, atau penampakkannya sudah lebih halus, karena pikiran kita sudah bisa beradaptasi untuk selaras menuju keheningan.

Tanda-tanda anda sudah masuk ke dalam "frekwensi gaib" adalah ketika anda sudah sampai pada kondisi meditasi yang terasa suasananya hening dan gelap, tetapi dalam kegelapan itu dan mata tetap dalam kondisi terpejam anda merasa bisa "melihat".

Meditasi di atas dikhususkan untuk bisa melihat dan berkomunikasi secara langsung dengan sosok-sosok gaib tertentu, seperti khodam dari benda-benda jimat, keris atau khodam pendamping atau roh sedulur papat atau sosok lain yang kita inginkan. Gunakanlah insting dan kepekaan rasa untuk bisa menilai sosok-sosok yang bersifat tidak baik atau jahat, jangan sampai anda berinteraksi dengan yang tidak baik.

Dalam proses meditasi di atas, pada saat anda sudah masuk dalam "frekwensi gaib", yang di dalam kegelapan anda merasa bisa "melihat", denan mata tetap dalam kondisi terpejam anda panggillah khodam anda supaya duduk di hadapan anda dan ajaklah berkomunikasi. Anda bisa tanyakan nama lengkapnya, pesan-pesannya, dsb dan anda bisa juga tanyakan hal-hal lain yang anda ingin ketahui jawabannya.

Komunikasi dilakukan dengan aliran rasa batin, bisa juga menyampaikan kata-kata dengan cara berbicara dengan mulut seperti orang mengobrol, tetapi tetap saja nantinya jawaban dari sosok gaib itu adalah kontak rasa / batin, walaupun anda merasa mendengar jawabannya dengan telinga anda.

Dalam semua proses meditasi dan perenungan usahakan supaya tidak mengedepankan pikiran. Biarkan ide / ilham / bisikan gaib mengalir sampai lengkap, jangan berkonsentrasi keras dengan berpikir yang dapat menyebabkan aliran ide / ilham itu terputus, jangan nantinya terpaksa harus mengulang lagi dari awal.




 Meditasi 2.

Tahap kedua belajar melihat gaib adalah untuk mencoba membuka penglihatan gaib "mata ketiga", yaitu cakra energi di antara 2 alis mata. Sebelum melakukannya, anda harus memantapkan tekad dan niat anda. Kalau masih ragu-ragu atau ada rasa takut, sebaiknya tidak usah dilanjutkan.

Sebaiknya sebelumnya anda sudah menguasai cara-cara melihat gaib dengan batin dan rasa, sebagai kemampuan dasar yang harus lebih dulu dikuasai sebelum mempelajari metode ini, seperti yang sudah Penulis tuliskan dalam tulisan Olah Rasa dan Kebatinan dan Ilmu Tayuh / Menayuh Keris.  Latihlah dulu kepekaan rasa dan batin untuk mempersiapkan batin dan mental anda dengan membiasakan diri berada di lingkungan gaib.

Dalam melakukan meditasi 2 ini sebaiknya dilakukan tanpa ada keinginan yang menggebu-gebu untuk segera bisa melihat gaib, karena kemampuan itu nantinya akan terjadi dengan sendirinya. Hilangkan semua hasrat dan keinginan. Hasrat yang menggebu-gebu dan keinginan untuk bisa melihat gaib justru akan membuat pikiran kita tegang dan bisa menghalangi proses peka rasa dan pembukaan cakra (apalagi kalau meditasinya direncanakan).

Laku meditasi untuk berhasil mencapai frekwensi gaib dan untuk bisa melihat gaib memang tidak selalu mudah bagi semua orang, sifatnya untung-untungan. Lebih baik melakukannya tanpa ada hasrat ingin cepat berhasil melihat gaib. Bahkan kalau meditasinya direncanakan pun akan menambah beban pikiran kita.
Lebih baik ketika kita sedang santai, tiba-tiba ingin meditasi, barulah itu dilakukan. Biasanya yang hanya iseng saja seperti itu malah bisa berhasil.

Tujuan laku meditasi ini adalah untuk memunculkan aktivitas sukma kita yang bersifat roh, tidak bersifat fisik. Karena itu dalam melakukannya kita harus bisa mengendapkan semua aktivitas yang bersifat fisik, pikiran dan perasaan, semuanya diselaraskan menuju keheningan, menuju titik nol.

Tidak semua orang berhasil melepaskan pikirannya untuk mengedepankan batinnya. Karena itu kalau kita santai melakukannya dan tak ada beban hasrat, biasanya sekali saja melakukannya sudah berhasil, bahkan ada orang yang tidak sengaja, awalnya iseng saja, tetapi berhasil melakukannya. Tetapi ada juga orang yang harus melakukannya sampai berkali-kali baru bisa berhasil. Tetapi ada juga yang tidak pernah berhasil. Mungkin memang bukan rejekinya. Memang peruntungan orang berbeda-beda dan faktor penghalangnya juga berbeda-beda.


Tahap kedua belajar melihat gaib ini adalah untuk mencoba membuka penglihatan gaib "mata ketiga", yaitu cakra energi di antara 2 alis mata. Walaupun dikatakan meditasinya untuk membuka cakra mata ketiga, tetapi hasil yang diharapkan sebenarnya lebih dari itu, karena orang tidak bisa melihat gaib hanya dengan sudah terbukanya cakra mata ketiganya. Hasil utama yang diharapkan adalah meditasi ini berhasil mengaktifkan saraf-saraf imajinasi di dalam kepala supaya orang bisa lebih mudah menangkap sinyal gaib yang bisa digunakan untuk melihat gaib dan untuk berkomunikasi dengan gaib.

Meditasi membuka mata ketiga ini sama dengan meditasi 1 di atas, tetapi dilakukan terus sampai terbuka mata ketiganya dan bisa melihat alam gaib. Meditasinya paling cepat 2 - 3 jam, bisa juga lebih lama lagi, itu juga kalau langsung berhasil.
Biasanya orang melakukannya sampai berkali-kali baru berhasil. Jika anda belum berhasil pada hari pertama sebaiknya tidak usah dipaksakan. Masih bisa dicoba lagi pada hari yang lain.

Kalau anda merasa kaki anda pegal, anda bisa merubah posisi kaki anda, bisa juga diluruskan. Mata tetap terpejam. Usahakan untuk terus memejamkan mata dan berdoa / zikir di dalam hati, jangan berpikir.

Kalau dalam meditasi ini anda mengantuk dan tertidur, itu tidak apa-apa. Kalau meditasinya dihentikan dan kemudian anda pergi tidur, itu juga tidak apa-apa. Tapi kalau ingin diteruskan, sebaiknya memang diteruskan.
Itu adalah tahapan anda sudah masuk ke dalam frekwensi alam bawah sadar yang membawa anda masuk ke alam mimpi. Untuk meneruskannya mata tetap dipejamkan dan teruskan berdoa / zikir di dalam hati. Jangan berpikir, biarkan semua kesadaran mengalir hanya dalam hati.


Tanda-tanda mulai terbukanya cakra mata ketiga adalah ketika dalam kondisi mata terpejam itu kita seperti melihat tabir putih atau gumpalan kabut putih. Itu adalah tabir gaib yang harus dilewati. Teruskan saja meditasinya.
Sesudah itu akan tampak gelap gulita. Teruskan saja meditasinya.
Sesudah itu barulah anda mulai bisa melihat sosok-sosok gaib di dalam kegelapan, masih samar-samar. Teruskan saja meditasinya sampai anda yakin sudah
bisa melihat sosok-sosok gaib dengan cukup jelas.
Ingat, jangan beralih menggunakan pikiran !

Ketika anda sudah bisa melihat sosok-sosok halus di dalam kegelapan, walaupun samar-samar, sebaiknya meditasinya diteruskan sampai anda merasa kemampuan melihat gaib anda "matang", sampai bisa dengan jelas melihat sosok-sosok halus, karena pada esok harinya belum tentu anda bisa mencapai kondisi yang sama seperti itu lagi (mungkin cakranya kembali menutup atau tingkat sugesti / antusias anda berkurang).

Pada tahapan awal bisa melihat gaib biasanya kita hanya bisa melihat sosok-sosok gaib gelap / hitam di dalam kegelapan dan hanya bisa melihat kondisi warna hitam dan putih saja. Pada hari-hari selanjutnya, kalau meditasinya sering dilatih nantinya penglihatannya akan lebih jelas dan bisa melihat warna-warni pakaian sosok-sosok halus, ada yang berpakaian putih, hitam, merah, hijau, kuning, dsb. Kalau penglihatan gaibnya sudah terbuka, sudah bisa melihat
sosok-sosok gaib di tempat gelap, nantinya juga akan bisa melihat sosok-sosok gaib di tempat terang dan tidak harus memejamkan mata.

Usahakan supaya sosok-sosok gaib yang pertama kita lihat itu adalah khodam pendamping atau khodam benda-benda gaib kita sendiri. Jangan mencari-cari mahluk halus yang belum jelas juntrungannya.

Untuk tahapan awal sebaiknya digunakan untuk melihat sosok-sosok gaib yang tidak "berbahaya", misalnya untuk melihat isi gaib dari benda-benda gaib dan pusaka atau khodam pendamping anda, atau untuk melihat sosok-sosok gaib di dalam rumah atau di sekitar rumah anda dengan cara menerawang / mencari keberadaan mereka, jangan digunakan untuk melihat gaib-gaib di kuburan atau tempat-tempat angker yang sosok-sosok gaibnya tidak jelas juntrungannya. Sesudahnya juga akan bisa anda gunakan untuk melihat / bertemu dengan sosok-sosok leluhur anda atau sosok sedulur papat anda dengan cara memanggilnya untuk hadir di hadapan anda, kalau kemampuan melihat gaib anda sudah cukup tajam dan dalam.

Selebihnya dalam melihat gaib itu usahakanlah untuk juga mengedepankan kepekaan rasa, sehingga anda juga akan dapat menilai perwatakan dan rasa energi sosok-sosok halus yang anda lihat, menilai pengaruhnya terhadap anda apakah baik atau buruk, bersifat negatif ataukah positif, dari golongan putih ataukah hitam, keberadaannya membahayakan atau tidak. Secara keseluruhan usahakanlah supaya
kemampuan melihat gaib itu bisa anda gunakan untuk menilai kesejatian dari apa yang anda lihat, jangan sekedar bisa melihat gaib saja.


Jika anda berhasil mencapai kondisi tujuan meditasi yang disebutkan dalam meditasi 1 dan 2 di atas, pada tahap awalnya mungkin anda akan merasakan rasa yang mencekam. Itu adalah rasa yang dirasakan oleh roh pancer anda ketika pertama kali merasakan suasana alam gaib.

Jika kita berhasil "masuk" ke dalam frekwensi gaib kita akan mendapati suasana dan lingkungan yang sangat berbeda dengan kondisi aslinya di tempat kita bermeditasi. Walaupun kita melakukan meditasinya di kamar tidur kita, dalam kondisi kita "masuk" ke dalam frekwensi gaib itu kita akan bisa melihat mahluk halus, tetapi kita tidak akan melihat meja, lemari, tempat tidur atau bangunan rumah kita, karena di alam gaib, meja, lemari atau bangunan rumah kita itu tidak ada.

Dalam kondisi melihat gaib itu roh sedulur papat kita menyatukan diri dan penglihatannya dengan pancernya, sehingga apa yang dilihat oleh sedulur papatnya, pancernya juga bisa ikut melihatnya, sehingga kemudian
kita sebagai pancer bisa juga melihat gaib. Dalam hal ini sedulur papat kita tidak keluar dari tubuh, tetapi menyatukan dirinya dengan pancernya, berbeda dengan melihat gaib dengan mata ketiga di atas yang keberadaan khodam di kepala seseorang memaksa sedulur papatnya keluar dari tubuh.


Perlu disampaikan disini bahwa dalam laku meditasi di atas tubuh dan pikiran anda akan mengeluarkan gelombang energi tertentu yang bisa menarik perhatian sosok-sosok halus di sekitar anda untuk datang. Karena itu sebaiknya anda melakukan meditasinya di tempat yang cukup aman (misalnya di kamar tidur). Kalau anda sudah memiliki benda-benda gaib berkhodam, akan lebih baik kalau sebelumnya anda minta dibuatkan pagaran gaib. Lebih baik juga kalau anda mengoleskan minyak jafaron di perut, punggung, tengkuk dan dahi anda untuk menolak datangnya sosok-sosok halus golongan hitam dan yang berenergi negatif. Tetapi mahluk halus
selain jenis itu tidak dapat diusir oleh minyak jafaron, sehingga kalau anda deteksi ada sesosok gaib yang datang sebaiknya anda tolak kehadirannya, atau kalau anda merasakan sesuatu yang tidak baik sebaiknya meditasinya anda hentikan.

Kondisi memejamkan mata juga dapat mendorong munculnya gambaran-gambaran ilusi / halusinasi yang berasal dari alam bawah sadar anda. Mungkin juga muncul kejadian-kejadian lain karena adanya reaksi dari gaib-gaib di sekitar anda berada karena adanya gelombang energi yang keluar dari tubuh dan pikiran anda. Karena itu dalam rangka meditasi di atas (yang memejamkan mata), jika ada gambaran-gambaran gaib yang tampak di mata atau di pikiran anda, baik itu hanya ilusi / halusinasi, ataupun yang benar ada sosok gaibnya, sebaiknya diabaikan saja, tidak perlu dipikirkan dan tidak perlu dipermasalahkan.

Kondisi memejamkan mata juga dapat mendorong munculnya gambaran-gambaran ilusi / halusinasi, terutama jika anda berkhodam atau di dalam kepala / badan anda ketempatan mahluk halus, yang mungkin sampai membuat anda merasa seperti merogoh sukma, atau merasa roh anda terbang tinggi ke langit. Jika anda mempunyai khodam ilmu / pendamping sebaiknya khodam-khodam anda itu diperintahkan untuk tidak memberikan gambaran-gambaran ataupun bisikan-bisikan gaib, supaya netral mengikuti saja aktivitas anda. Tetapi jika di tubuh anda ketempatan mahluk halus, mungkin perlu dipertimbangkan untuk anda melakukan pembersihan gaib, jika mahluk halusnya tidak baik.

Sesudah diperintahkan begitu mudah-mudahan semua gaib yang bersama anda tidak akan memberikan halusinasi kepada anda, tetapi gaib yang di dalam badan / kepala, terutama yang jenisnya adalah sukma (arwah) manusia, kemungkinannya akan tetap memberikan halusinasi, karena sudah watak dasarnya menipu dan menyesatkan. Karena itu jenis sukma di dalam tubuh manusia Penulis menganjurkan untuk diisolasi dan dikeluarkan. Selebihnya tinggal anda sendiri untuk kritis membedakan mana yang nyata dan mana yang fiktif / ilusi, jangan sampai terbawa mengikuti yang sifatnya fiktif / menipu. Usahakan untuk belajar fokus kepada pancer dan sedulur papat kita sendiri dalam hal inspirasi, ide dan ilham dan gambaran gaib, jangan kepada yang lain.


Ditekankan juga disini beberapa tanda dan gejala sebagai rambu-rambu untuk diperhatikan, yang kalau terasa tanda-tanda ini terjadi sebaiknya meditasinya dihentikan sejenak. Konsentrasi lagi, pikiran jangan kosong melayang, alirkan doa dalam hati,
yaitu kondisi  :

1. Tubuh bergetar kencang, atau
2. Roh terasa naik ke atas, terasa dingin dari kaki naik ke atas, atau
3. Pikiran terasa melayang, rohnya terasa seperti mengambang keluar tubuh.

Kondisi-kondisi di atas mungkin saja adalah gejala merogoh sukma.

4.
Pikiran terasa melayang / mengambang.
    Jangan biarkan
pikiran melayang / mengambang. Bisa-bisa nanti malah kesurupan.
5. M
erinding atau muncul perasaan takut yang mencekam.
    Mungkin psikologis anda belum siap.
    Mungkin juga ada sesosok gaib yang datang.
Kalau ini yang terjadi sebaiknya meditasinya dihentikan
    saja, dilanjutkan lagi pada
hari yang lain. Sebaiknya sebelum bermeditasi oleskan minyak jafaron merah
    di telapak tangan, perut dan
punggung dan di tengkuk (bagian belakang leher), supaya tidak didekati
    oleh sosok halus yang tidak baik.


Kalau terasa terjadi tanda-tanda seperti di atas sebaiknya meditasinya dihentikan sejenak.
Konsentrasi lagi, pikiran jangan kosong melayang, alirkan doa dalam hati.

Cara bermeditasi yang benar itu pikiran jangan kosong, tetapi dikendorkan, diistirahatkan, alirkan doa / zikir dalam hati supaya pikiran tidak kosong mengambang.

Jadi yang benar itu pikiran tidak kosong, tetapi dikendorkan, diistirahatkan, untuk lebih mengedepankan rasa dan batin.

Tetapi ada orang-orang yang kesulitan untuk mengendorkan pikiran. Pikiran yang seharusnya diistirahatkan malah keras dipakai untuk berkonsentrasi hening. Bermeditasi dengan kondisi mata terpejam juga dapat mendorong orang untuk keras berkonsentrasi dengan pikiran, yang jika diteruskan meditasinya, sesudah meditasinya itu kepala orangnya akan terasa pusing / penat.

Untuk orang-orang yang mengalami kesulitan
mengendorkan pikiran seperti di atas, pemecahannya adalah pikiran dikendorkan seperti sedang melamun, mata boleh terbuka tetapi tetap santai dan pandangan mata diarahkan santai ke bawah, tetap alirkan doa dalam hati supaya pikiran tidak kosong melayang (dalam kondisi kamar gelap tanpa cahaya).


Mengenai laku meditasi, memang tidak selalu mudah awalnya bagi semua orang, terutama kalau orangnya memiliki suatu masalah di dalam dirinya yang sebelumnya tidak disadarinya (selain masalah yang timbul dari adanya ketempatan mahluk halus di dalam tubuh).
Misalnya :

1.
Ada orang-orang yang tidak biasa hening, sehingga agak susah awalnya untuk langsung bisa hening,
    mungkin juga akan tidak sabar dalam bermeditasi.

2.
Ada orang-orang yang terbiasa keras berpikir, sehari-harinya lebih aktif dengan pikirannya, kepalanya
    penuh dan penat dengan energi,
sehingga agak sulit ketika ia harus mengendorkan pikirannya, mungkin
    untuk hening pun ia akan keras
berkonsentrasi supaya bisa hening, bukannya mengendorkan pikirannya.

    Ketika bermeditasi memejamkan mata, gelombang energi pikiran akan tampak berkecamuk seperti
    sinar-sinar atau garis-garis bersinar merah atau lingkaran-lingkaran sinar yang bergerak liar, atau seperti
    melihat ada kilatan-kilatan cahaya atau ada suara-suara letupan di dalam pikiran atau di telinga (saraf
    keseimbangan). Nantinya sesudah terbiasa bermeditasi gelombang pikirannya akan menjadi lebih halus
    dan teratur, karena sudah terbiasa untuk selaras menuju keheningan.

3. Ada
orang-orang yang mengalami ketidakseimbangan saraf, sehingga sebentar saja memejamkan mata,
    ia merasa dirinya goyang hendak jatuh.

4. Ada juga
orang-orang yang ada ketidakseimbangan gelombang energi dalam tubuhnya, sehingga sebentar
    saja memejamkan mata, ia merasa dirinya melambung / melayang.

5. Ada juga orang-orang yang kondisi saraf dan energi otak dan jantungnya kurang baik, sehingga ketika
    memaksakan diri untuk bermeditasi, sesudahnya kepalanya terasa pening atau pusing, tekanan
    darahnya turun, dsb, gejalanya seperti orang masuk angin.

Jadi jika selama atau sesudah bermeditasi ada rasa dan gejala-gejala di atas yang kita alami, mungkin saja sebenarnya kita mengalami salah satu masalah di atas yang mungkin selama ini tidak kita sadari.

Jadi laku bermeditasi itu sebenarnya juga menjadi cara untuk kita mendeteksi masalah di dalam diri kita. Walaupun dalam kondisi sehari-harinya masalah-masalah itu tidak muncul, tidak terasa gejalanya, tetapi sesudah menjalankan laku meditasi itu kemudian masalahnya akan tampak dan terasa gejalanya. Nantinya kalau sudah terbiasa bermeditasi, maka masalah-masalah di atas akan teratasi, karena tubuh, pikiran dan energi kita akan beradaptasi menyelaraskan diri menuju titik nol. Itu juga sebenarnya manfaat meditasi yang ditawarkan dalam meditasi-meditasi untuk relaksasi, penyembuhan, dsb.

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, untuk langkah awalnya bisa saja meditasinya dilakukan dengan tidak memejamkan mata. Dalam kondisi ruangan gelap gulita mata boleh tidak terpejam, tetapi tetap santai, seperti orang melamun, pandangan diarahkan santai ke bawah.


Tetapi pada latihan meditasi selanjutnya
sebaiknya kita membiasakan diri untuk memejamkan mata, untuk memunculkan aktivitas batin dan sukma yang sebenarnya, yang juga berfungsi untuk mengsugesti diri untuk menyelaraskan semua energi, pikiran dan batin untuk selaras menuju titik nol.



 Alternatif Meditasi

Jika anda berkeinginan untuk mengasah indera keenam, kepekaan / ketajaman insting dan naluri, sebaiknya anda membiasakan diri hening berada di tempat yang sepi dan gelap, seperti dicontohkan dalam tulisan berjudul Olah Rasa dan Kebatinan.

1. Di dalam kondisi normal yang terang penuh cahaya, tubuh dan sukma kita akan mengedepankan panca indera, penglihatan, pendengaran, dsb.

2. Di dalam kondisi yang sepi dan sedikit cahaya, tubuh dan sukma kita akan secara alami mengoptimalkan kepekaan panca indera, penglihatan, pendengaran, dsb, supaya dalam kondisi sepi dan minim cahaya itu kita tetap bisa melihat, bisa mendengar, dsb.

3. Di dalam kondisi yang sepi dan gelap tanpa cahaya (gelap gulita), tubuh dan sukma kita akan secara alami
mengoptimalkan dan mempertajam kepekaan panca indera, penglihatan, pendengaran, dsb, supaya dalam kondisi sepi dan tanpa cahaya itu kita tetap bisa melihat, bisa mendengar, dsb.

4. Dalam hal kita sengaja berlama-lama berada dalam kondisi sepi dan gelap gulita yang mata kita tidak dapat melihat apa-apa, yang dalam kondisi itu penglihatan mata kita tidak banyak berguna, maka secara otomatis
tubuh dan sukma kita akan mengoptimalkan dan mempertajam kepekaan panca indera selain penglihatan. Pendengaran, perabaan, dsb, akan menjadi lebih tajam. Sukma kita juga akan lebih banyak berperan daripada tubuh fisik kita. Sukma kita akan mengedepankan indera keenam kita, yaitu kepekaan rasa dan batin, insting dan naluri. Karena sukma kita bersifat roh, maka aktivitas roh kita itu akan menjadikan kita lebih peka terhadap hal-hal yang bersifat roh, menjadikan kita lebih peka terhadap keberadaan mahluk halus dan bisikan-bisikan gaib. Mungkin juga akan menjadikan kita bisa melihat gaib.

Kondisi-kondisi di atas adalah kondisi kondisi ketika kita tidak memejamkan mata, kondisi santai melihat di dalam kegelapan ketika kita sengaja berlama-lama di dalam kondisi yang sepi dan gelap gulita. Kondisinya mirip seperti di acara "Uji Nyali" di televisi. Dalam kondisi itu sukma kita akan mempertajam kemampuan deteksinya terhadap segala sesuatu yang berada di "luar tubuh".
Dengan sering berbuat begitu mungkin akan menjadikan kita lebih peka dan bisa melihat gaib.

Jika kita ingin memunculkan aktivitas batin dan sukma yang sebenarnya, maka dalam kondisi di atas itu seharusnya kita memejamkan mata, "masuk" ke dalam diri kita sendiri, ke dalam batin kita sendiri. Kondisi ini akan lebih efektif untuk "membangkitkan" aktivitas sukma kita dalam hal-hal yang bersifat gaib.

Karena itu aktivitas sengaja berlama-lama berada di dalam kegelapan di atas, yang tidak memejamkan mata, bisa kita jadikan latihan awal untuk kita mengasah kepekaan sukma kita. Sedangkan kondisi memejamkan mata bisa kita jadikan latihan tingkat lanjut untuk dengan sengaja memunculkan aktivitas sukma kita. Tetapi latihan di atas
sebaiknya jangan dilakukan di tempat-tempat yang angker dan wingit seperti halnya orang-orang yang sedang bertirakat ngelmu gaib, tetapi lakukanlah di tempat yang aman di rumah kita sendiri dengan cara mematikan semua lampu ketika orang lain sudah tidur.




 Tambahan :

Jika kita sudah bisa kontak rasa dengan gaib, misalnya belajar kontak rasa seperti contoh di halaman berjudul Olah Rasa dan Kebatinan , untuk mengusir mahluk halus yang bersemayam di dalam kepala atau di dalam badan kita, atau juga pada orang lain, sambil dengan rabaan tangan berkontak rasa pada keberadaan mahluk halusnya yang di dalam badan atau kepala, dengan cara halus persuasif kita memintanya untuk pergi. Mudah-mudahan ia mau pergi.

Cara ini juga bisa dilakukan untuk secara halus mengusir pergi keberadaan mahluk halus yang berdiam di rumah kita atau untuk kasus gangguan gaib lainnya seperti kesambet, ketempelan, dipelet, diguna-guna, dsb (lebih baik ditambah dengan olesan minyak jafaron atau misik putih di bagian tubuh yang sakit untuk merayunya supaya ia mau pergi). Tapi kalau ternyata dengan cara halus persuasif itu mahluk halusnya tidak juga mau pergi, maka terpaksa pembersihannya harus dilakukan dengan cara lain yang lebih keras.

Ada banyak kejadian yang sifatnya terlalu tinggi untuk bisa kita atasi sendiri atau diatasi dengan meminta bantuan orang lain. Sebaiknya kita belajar memperkuat benteng kita dan perlindungan kita dengan bersandar pada kekuatan yang paling tinggi, yaitu Tuhan, juga dalam hal meminta pertolongan. Salah satu caranya adalah dengan kita menekuni laku kebatinan ketuhanan seperti yang sudah dituliskan dalam tulisan berjudul  Kebatinan Dalam Keagamaan  dan  Pembersihan Gaib 4  untuk kita belajar tersambung dengan Tuhan.

Sebagai catatan tambahan, jika anda ingin mengupayakan laku permbersihan gaib, anda bisa mengkombinasikan cara-cara pembersihan gaib seperti contoh-contoh yang sudah dituliskan dalam halaman-halaman bertemakan Pembersihan Gaib.

Jika anda ingin melakukan suatu laku ritual untuk mencoba mencari kesembuhan dan upaya pembersihan gaib, anda bisa datang ke tempat-tempat mistis seperti yang dicontohkan dalam tulisan berjudul Tempat-tempat Mistis  karena aura positifnya dan para penghuni gaibnya akan menjauhkan mahluk halus yang beraura dan bertendensi negatif.




  Alat bantu melihat Gaib - Alternatif Unfavourable


Melihat gaib memang adalah kemampuan yang banyak diinginkan oleh orang-orang yang interest dengan kegaiban. Tetapi ternyata tidak mudah untuk semua orang bisa melihat gaib. Bahkan karena itu juga ada orang-orang tertentu yang merasa bisa melihat gaib kemudian memunculkan pengkultusan-pengkultusan tentang ilmu melihat gaib.

Karena rasa penasarannya banyak orang yang ingin instan bisa melihat gaib, ingin dibukakan penglihatan gaibnya atau mata ketiganya, supaya bisa langsung melihat gaib, karena secara awam akan istimewa jika dirinya bisa melihat gaib, dan rasanya akan "indah" kalau ia bisa melihat gaib.

Penulis banyak menerima keluhan dari para pembaca yang sudah berusaha keras latihan melihat gaib, tapi ternyata tidak berhasil, bahkan banyak juga yang sudah datang kepada spiritualis / paranormal untuk minta dibukakan mata ketiganya, tetapi ternyata tidak berhasil juga, walaupun sudah membayar mahar ilmunya.

Penulis juga banyak menerima permintaan dari pembaca yang ingin dibukakan penglihatan gaibnya, mata ketiganya, supaya mereka bisa melihat gaib. Jika anda ingin begitu, ingin dibukakan penglihatan gaibnya, maka Penulis sampaikan bahwa Penulis tidak bisa membukakan penglihatan gaib anda. Penulis tidak punya keilmuan untuk membukakan penglihatan gaib orang lain.

Melihat gaib itu sebenarnya mudah, hanya saja tidak semua orang mau tekun menggali potensi dirinya sendiri dalam melihat gaib, lebih banyak orang yang menginginkan sesuatu yang indah katanya orang dengan cara instan tanpa mau berusaha lebih, yang itu malah semakin mempersulit orangnya bisa melihat gaib.

Lebih baik kalau anda menggali potensi roh anda sendiri, roh pancer dan sedulur papat anda, supaya mereka bisa aktif berfungsi sebagai roh, supaya bisa juga mendeteksi kegaiban, bukan cuma aktif secara biologis saja. Caranya adalah dengan latihan olah rasa.

Kalau yang anda inginkan adalah melihat gaib seperti yang dikatakan orang melihat dengan mata ketiga, anda harus berusaha keras untuk bisa itu, tapi tetap saja ada kemungkinan anda tidak berhasil. Itu tidak selalu mudah untuk semua orang.

Orang-orang yang bisa melihat gaib dengan mata ketiga kebanyakan adalah kemampuan yang sifatnya "given", orangnya ketempatan mahluk halus di kepalanya / badannya yang mahluk halus itu membantunya untuk bisa melihat gaib, bukan orangnya sendiri yang dulunya melatih diri untuk bisa melihat gaib dengan mata ketiganya, ia hanya mengasah saja apa yang sudah ia terima.

Hanya saja seringnya orang-orang yang "given" itu menyombongkan kebisaannya melihat gaib seolah-olah ia dulunya belajar melihat gaib sehingga sekarang ia bisa melihat gaib, sehingga orang-orang lain yang awam ingin belajar juga supaya bisa juga melihat gaib. Tetapi kalau kondisi anda tidak sama dengan mereka, tidak "given", maka tidak mudah untuk anda bisa seperti mereka.

Untuk bisa mendeteksi dan melihat gaib paling baik adalah dengan kemampuan asli kita sendiri, kemampuan yang kita latih sendiri dengan kita melatih mempertajam kepekaan batin dan rasa. Untuk bisa mendeteksi adanya sesuatu yang gaib dari keberadaan energinya seharusnya tidak sulit dilakukan jika kita tekun melatih olah rasa dan selalu menjaga peka rasa. Tetapi untuk benar bisa melihat gaib tidak semua orang mampu mencapainya, walaupun sudah sering melakukan banyak macam meditasi, semedi, tirakat, atau bahkan sudah dibukakan cakra mata ketiganya. Ada orang yang harus melakukannya sampai berkali-kali baru bisa berhasil, tetapi ada juga yang tidak pernah berhasil. Mungkin memang bukan rejekinya. Memang peruntungan orang berbeda-beda dan faktor penghalangnya juga berbeda-beda.

Eksplisit dalam tulisan di atas tentang melihat gaib dengan bantuan khodam bahwa ada orang-orang yang "merasa" bisa melihat gaib setelah mereka dibantu oleh gaib tertentu,
mereka bisa melihat gaib karena mereka menerima di pikirannya gambaran-gambaran gaib dari sesosok gaib atau khodam. Melihat gaibnya sifatnya "given", bukan karena mereka dulunya belajar melihat gaib.

Hanya saja adanya khodam ilmu / pendamping atau adanya mahluk halus di dalam kepala atau badan  keberadaan mereka itu sering sekali memberikan bisikan gaib dan penglihatan yang bersifat fiktif, palsu, ilusi dan halusinasi. Mungkin malah orangnya sampai dibuat seolah-olah dirinya bisa merogoh sukma, rohnya terbang ke langit atau berjalan-jalan di alam gaib atau berhalusinasi bertemu dengan sosok-sosok halus tertentu.

Orang-orang yang bisa melihat gaib karena dirinya berkhodam atau karena dirinya ketempatan mahluk halus, selain sudah bisa melihat gaib, mungkin dengan dirinya membaca suatu amalan gaib penglihatan gaibnya itu menjadi semakin jelas dan tajam (walaupun mungkin banyak fiktifnya).

Walaupun amalannya itu dirasakannya ampuh untuk dirinya sendiri, jika amalan gaibnya itu, atau amalan gaib ciptaannya sendiri, ditawarkannya kepada orang lain yang awam dan tidak berkhodam, mungkin orang lain itu akan tetap tidak bisa melihat gaib. Atau jika amalan gaibnya itu digunakannya untuk ia membukakan penglihatan gaib orang lain yang awam dan tidak berkhodam, mungkin orang lain itu juga akan tetap tidak bisa melihat gaib. Mungkin amalan gaibnya itu efektif hanya untuk orang lain yang kondisinya sama dengan dirinya yang ketempatan mahluk halus atau yang berkhodam.

Jadi jika anda sudah mencoba berbagai amalan ilmu melihat gaib yang dikatakan pemiliknya ampuh untuk melihat gaib, tapi ternyata anda tetap saja tidak bisa melihat gaib, sebaiknya tidak usah dipaksakan. Mungkin memang amalan itu tidak ampuh untuk anda. Mungkin itu adalah karena kondisi anda tidak sama dengan orang si pemilik amalannya yang berkhodam atau ketempatan mahluk halus.

Usaha membukakan penglihatan gaib yang berhasil adalah yang laku keilmuannya itu mendatangkan sesosok khodam ilmu / pendamping khusus untuk membantu melihat gaib. Mungkin posisi khodamnya itu ada di sebelah kanannya atau masuk ke dalam kepalanya. Tapi kebanyakan spiritualisnya malah tidak menyadari bahwa laku ilmunya itu sudah mendatangkan sesosok khodam.

Implisit dalam tulisan itu jika anda sudah berkali-kali latihan melihat gaib, atau bahkan sudah juga dibukakan cakra mata ketiganya, tetapi tetap saja anda tidak bisa melihat gaib, maka untuk membantu anda belajar "mengerti" alam gaib dan kegaiban, maka anda bisa menggunakan cara-cara di atas untuk bisa melihat gaib, yaitu anda meminta diberikannya gambaran gaib oleh khodam anda.
Dengan demikian tidak perlu lagi anda membuang-buang uang dan waktu untuk meminta dibukakannya penglihatan gaib anda.

Syarat dasarnya : anda harus bisa menyelaraskan rasa dan batin dengan khodam anda itu, kontak rasa. Selama anda masih belum bisa selaras rasa dan batin anda dengan khodam anda, kemungkinan besar penglihatan gaib dari khodam anda itu tidak bisa anda terima. Dalam hal ini anda sendiri yang masih harus belajar menyelaraskan rasa dan batin anda dengan khodam anda. Mungkin anda perlu lebih dulu latihan olah rasa.

Selain itu, syarat lainnya yang tetap harus terpenuhi : jangan tegang dan jangan keras berpikir. Kendorkan pikiran biar batin yang bekerja.

Dalam usaha menerima gambaran gaib dari khodam anda itu anda harus bisa hening peka rasa, membuka kepekaan rasa anda supaya anda bisa menerima bisikan dan penglihatan gaib dari khodam anda itu. Jangan keras berpikir. Lakukan seperti anda sedang latihan olah rasa supaya rasa dan batin anda bisa selaras kontak rasa dengan khodam anda.

Untuk laku ini usahakan untuk anda menggunakan khodam anda sendiri yang sudah ada, khodam batu akik atau pusaka, khodam pendamping, atau sukma leluhur yang sudah mendampingi, jangan mengharapkan ada khodam baru yang datang kepada anda supaya jangan ada mahluk halus / khodam yang masuk ke dalam badan atau kepala anda.

Jika anda sadar diri anda berkhodam, atau anda sudah memiliki batu akik berkhodam atau pusaka, anda bisa memintakan itu kepada khodam anda itu, anda minta diberikan gambaran gaib yang mengalir di pikiran anda. Tetapi sebaiknya sebelum bermeditasi anda sampaikan kepada khodam-khodam anda itu dan semua mahluk halus yang bersama anda supaya tidak memberikan gambaran dan bisikan gaib yang berlebihan, apalagi sampai membuat anda merasa merogoh sukma. Perintahkan supaya mereka memberikan gambaran gaib yang nyata saja,
gambaran gaib yang sama dengan kejadian dan sosok-sosok gaib yang sebenarnya.

Caranya, sebelum bermeditasi bendanya anda pegang / genggam. Jika yang anda gunakan adalah khodam pendamping anda minta duduk / berdiri di sebelah anda, anda minta kepada khodam anda itu untuk membantu anda melihat gaib,
anda minta diberikan gambaran gaib sosok wujud khodam anda atau tentang suatu kondisi gaib di tempat lain, tetapi jangan sampai ia memberikan gambaran gaib yang berlebihan, apalagi sampai membuat anda merasa merogoh sukma. Lakukan dengan cara anda bermeditasi seperti meditasi olah rasa untuk membuka kepekaan rasa anda. Doa untuk diwirid bisa sama dengan doa yang digunakan dalam meditasi sebelumnya, bisa juga dengan cara anda mewiridkan amalan untuk melihat gaib yang amalannya bisa sendiri anda cari di internet.

Dengan cara begitu mudah-mudahan semua gaib yang bersama anda akan membantu dengan memberikan gambaran gaib tetapi tidak sampai memberikan halusinasi yang berlebihan kepada anda. Tetapi jika ternyata sebelumnya anda sudah ketempatan mahluk halus di dalam badan / kepala, terutama yang jenisnya adalah sukma (arwah) manusia, kemungkinannya mereka akan tetap memberikan halusinasi, karena sudah watak dasarnya mereka menipu dan menyesatkan. Karena itu atas adanya mahluk halus jenis sukma / arwah di dalam tubuh manusia, siapapun dia, darimanapun asal-usulnya, Penulis menganjurkan untuk diisolasi dan dikeluarkan. Selebihnya tinggal anda sendiri untuk kritis membedakan mana kegaiban yang nyata dan mana yang fiktif / ilusi, jangan sampai terbawa mengikuti yang sifatnya fiktif / menipu. Usahakan untuk belajar bisa fokus kepada pancer dan sedulur papat kita sendiri dalam hal inspirasi, ide dan ilham dan gambaran gaib, jangan kepada yang lain.

Masukan ini ditujukan hanya kepada anda yang sudah berkali-kali mencoba meditasi melihat gaib yang dicontohkan di atas tetapi tidak pernah berhasil, bukan untuk yang baru pertama mencoba belajar melihat gaib, dan bukan untuk yang sekedar ingin cara mudah melihat gaib.

Dan harus disadari bahwa dengan cara ini apapun kegaiban yang anda "lihat", yang anda rasakan dan alami, sifatnya adalah pemberian dari khodamnya, melihat gaib anda adalah bantuan khodam, bukan kemampuan anda sendiri bisa melihat gaib. Kemungkinan besar gambaran gaibnya sifatnya tidak riil, tidak sama dengan kondisi kegaiban aslinya.
Mungkin benar ada sosok gaibnya, tapi kemungkinan besar sosoknya yang anda lihat hanyalah citranya saja atau sifatnya hanya perlambang jati dirinya. Atau mungkin juga anda akan merasa masuk dan berjalan-jalan di alam gaib, atau diperlihatkan sosok-sosok gaib tertentu.

Masukan ini hanya untuk membantu anda saja untuk belajar "mengerti" alam gaib dan kegaiban, tidak dimaksudkan sebagai cara mudah untuk anda melihat gaib. Selebihnya tinggal anda sendiri untuk kritis membedakan mana kegaiban yang nyata dan mana yang fiktif / ilusi, jangan sampai hanyut terbawa mengikuti atau bahkan menganggap benar sesuatu yang sifatnya fiktif / tidak sungguhan, apalagi yang sifatnya tipuan.

Dan apapun yang anda lihat / rasakan cukup anda saja yang tahu, tidak perlu disampaikan kepada orang lain seolah-olah benar anda bisa melihat gaib dan seolah-olah apa yang anda lihat itu pasti benar. Akan lebih baik jika sesudah anda diberikan gambaran adanya sesosok gaib atau khodam, kemudian dengan kepekaan rasa anda raba keberadaan energinya di tempat posisinya yang anda lihat supaya anda bisa mendeteksi kebenaran keberadaannya, dan jangan sampai semua yang anda lihat anda anggap benar atau
anda anggap tidak benar tanpa anda lebih dulu tahu kebenarannya yang sebenarnya.


Ada ide / pertanyaan :

Pak saya ingin memberikan masukan di artikel bapak yg berjudul olah batin dan olah sukma, sekalian tulisan tatacara membuka mata ketiga dan meraga sukma dengan media minyak2 tertentu yang dimana dengan cara ini banyak memberikan manfaat bagi orang2 yg belajar ilmu kebatinan dan ilmu gaib dgn cepat.
Terima kasih


Ulasan :

Terima kasih atas masukannya.
Ide dan pertanyaan anda ini bagus juga.

Di tulisan saya itu tentang melihat gaib dan merogoh sukma, implisit saya menyatakan bahwa saya lebih prefer pada kemampuan yg sungguh2 berasal dari kemampuan orangnya sendiri, yg asli dari kemampuan orangnya sendiri.

Tetapi di tulisan itu saya juga menuliskan bahwa ada juga keilmuan untuk itu yg aslinya tidak berasal dari kemampuan orangnya sendiri, yaitu yg saya sebut sebagai melihat gaib dengan bantuan khodam.
Melihat gaib dgn bantuan khodam ini saya kurang prefer, karena ada yg sifatnya benar membantu, tapi lebih banyak lagi yg sifatnya fiktif, ilusi dan halusinasi.

Tetapi ada kalanya memang dibutuhkan adanya bantuan (khodam), karena tidak semua orang mampu menguasai keilmuan melihat gaib dgn kemampuannya sendiri, karena itu di bagian akhir halaman ini saya juga menuliskan cara-cara untuk bisa melihat gaib dengan bantuan khodam.

Melihat gaib dgn bantuan khodam itu bisa dilakukan dgn mewirid amalan untuk melihat gaib (bisa dicari sendiri di internet), mungkin bisa juga untuk merogoh sukma kalau diwiridkan amalan yg untuk merogoh sukma (walaupun kemungkinan besar merogoh sukmanya fiktif).

Mungkin akan lebih baik lagi hasilnya kalau digunakan juga minyak2 tertentu (untuk sesaji khodamnya supaya khodamnya lebih antusias membantu laku keilmuannya).

Selain minyak2 tertentu yg difungsikan sbg sesaji untuk khodamnya, ada juga minyak2 tertentu yg dijual orang khusus untuk ilmu melihat gaib dan merogoh sukma.

Dari beberapa minyak yg dijual orang di internet saya mendeteksi bhw minyaknya sudah diisi khodam, sehingga potensi keberhasilannya lebih besar kalau ada orang yg menggunakan minyak itu untuk melihat gaib atau merogoh sukma (dgn bantuan khodam). Hanya saja sebaiknya diwaspadai jangan sampai khodamnya itu kemudian masuk ke kepala kita, jangan sampai nantinya khodamnya akan memenuhi kepala kita dengan gambaran2 gaib, ilusi dan halusinasi.

Jadi masukan anda tentang penggunaan minyak2 itu cukup baik, mungkin bisa memperbesar peluang keberhasilan laku keilmuannya, tetapi sebaiknya hati-hati dalam penggunaannya.



________












Comments