3Olah Rasa dan Kebatinan

Membangkitkan Indera Keenam dan Melihat Gaib Secara Batin. 

 

 

  Kepekaan Rasa dan Kekuatan Rasa


Olah rasa
 berhubungan dengan kepekaan rasa batin dan indra ke 6 manusia
.

Dengan rasa, orang akan lebih peka terhadap sesuatu yang bersifat gaib, dapat mendeteksi / merasakan keberadaan sesuatu yang gaib, dapat mendeteksi apakah sakit yang diderita oleh seseorang merupakan sakit biasa ataukah karena adanya pengaruh negatif dari sesosok mahluk halus (ketempelan, kesambet, disantet, guna-guna, dsb), dapat mengetahui cara penyembuhannya dan dapat merasakan sesuatu yang akan terjadi (feeling / intuitif). Dan dalam tingkatan kemampuan kebatinan yang tinggi kekuatan rasa ini digunakan untuk segala perbuatan yang berhubungan dengan kegaiban, untuk mengobati seseorang, mengusir / menyerang / menundukkan mahluk halus tingkat rendah sampai yang kelas atas, atau untuk memusnahkan keilmuan gaib, khodam dan tenaga dalam seseorang, dan untuk menerima pengetahuan spiritual tingkat tinggi yang mengantarkan seseorang menjadi linuwih dan waskita.

Di dalam semua jenis keilmuan, ada satu hal mendasar yang seringkali pengertiannya dikesampingkan orang, yaitu adanya unsur kebatinan. Unsur kebatinan hadir pada semua aspek kehidupan manusia, termasuk di dalam aktivitas manusia dalam mempelajari dan menekuni berbagai jenis keilmuan. Unsur kebatinan itu adalah apa yang biasa disebut sebagai penjiwaan atau penghayatan yang sangat erat hubungannya dengan rasa dan sugesti.

Di dalam aktivitas manusia berolah raga, kanuragan, mengolah tenaga dalam, maupun ilmu gaib dan ilmu khodam, atau olah spiritual, sampai ilmu modern fisika, matematika, biologi, sistem komputer dan pekerjaan-pekerjaan teknis modern sekalipun selalu terkandung di dalamnya unsur kebatinan berupa penjiwaan dan penghayatan pada masing-masing hal yang dijalani, yang seringkali kualitas penjiwaan dan penghayatan seseorang itu akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang diraihnya dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Secara umum unsur kebatinan hadir pada semua aspek kehidupan manusia, tidak hanya dalam hal keilmuan, tetapi juga dalam semua aspek kehidupan manusia, termasuk di dalam pekerjaan-pekerjaan teknis di jaman modern ini, tetapi istilah kebatinan sendiri seringkali secara dangkal dikonotasikan sebagai kegiatan klenik. Namun di luar itu memang ada orang-orang tertentu yang secara khusus mempelajari keilmuan kebatinan, bukan hanya pada aspek yang bersifat umum, tetapi juga secara khusus dan mendalam mengenai keilmuan kebatinan itu sendiri.


Semua laku yang bersifat kebatinan di dalamnya selalu disebutkan tujuannya (termasuk tujuan sugestinya) dan selalu mengedepankan penghayatan, baik itu laku kebatinan yang bersifat kerohanian / ketuhanan / keagamaan, maupun yang bersifat keilmuan, bukan mengedepankan kepintaran berpikir dan berlogika, bukan sebatas terlaksananya bentuk laku formalitasnya, bukan juga mengedepankan amalan doa dan mantra. Pemahaman seseorang akan tujuan lakunya dan kualitas penghayatan dan penjiwaannya dalam lakunya itu, selain ketekunannya, akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang mampu diraihnya dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Karena itu jika seseorang menjalani suatu laku yang bersifat kebatinan, baik kerohanian maupun keilmuan, selalu dituntut supaya orangnya memahami tujuan dari lakunya itu dan
mampu menghayati lakunya, sehingga jika orang itu mengalami kesulitan dalam ia menjalani lakunya itu kemungkinan penyebabnya adalah karena ia belum bisa menghayati lakunya (atau belum tahu tujuan dari lakunya).

Jika seseorang sudah bisa menghayati lakunya, maka ia akan menemukan suatu rasa yang bersifat khusus, yang itu hanya ada dalam lakunya itu saja, tidak ada dalam aktivitasnya yang lain, yang kemudian setelah semakin didalami dan matang, maka itu akan menjadi kekuatan rasa.

Kekuatan rasa setelah semakin didalami dan matang, jika seseorang menerapkan itu dalam semua aktivitas kehidupannya maka semua perbuatan-perbuatannya akan mengandung suatu kegaiban yang akan bisa dirasakan perbedaan kegaibannya dibanding jika ia melakukan perbuatan yang sama dengan sikap batin yang normal saja.

Pada tahap selanjutnya untuk ia melakukan suatu perbuatan dalam lakunya itu ia melakukannya dengan cara bersugesti, yaitu mengkondisikan sikap batinnya secara khusus , mendayagunakan penghayatan rasa untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, mendayagunakan kekuatan rasa.

Penghayatan, olah rasa dan olah sugesti adalah dasar-dasar dalam keilmuan kebatinan dan dpiritual, selalu ada dalam semua laku yang bersifat kebatinan dan spiritual yang itu harus lebih dulu bisa dikuasai oleh para pelakunya sebelum menapak ke tingkatan yang lebih tinggi.


Karena itu jika para pembaca ingin mempelajari dan menjalani suatu laku yang bersifat kebatinan dan spiritual, poin-poin di atas harus lebih dulu dimengerti dan harus diterapkan dalam laku-lakunya supaya laku-lakunya itu lebih bisa diharapkan keberhasilannya dibanding jika poin-poin itu belum dikuasai. Pemahaman anda atas tujuan lakunya akan menuntun laku anda ke arah tujuan yang benar, tidak mengambang mengawang-awang tak tentu arah, dan dalam proses lakunya, selain ketekunan anda, kualitas penghayatan dan penjiwaan anda akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang mampu anda raih dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Jika kita bisa menghayati lakunya, kita akan menemukan suatu rasa yang bersifat khusus, yang itu hanya ada dalam laku itu saja, tidak ada dalam aktivitas kita yang lain. Kualitas kita atas penghayatan atau penjiwaan itu akan sangat membedakan kondisi batin kita sebelum, selama dan sesudah kita melakukannya, akan ada pencerahan tersendiri dalam kerohanian kita dan itu akan membedakan kita dengan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama. Sesudahnya setiap kita menjalani laku yang sama diharapkan agar kita selalu mampu menghayati laku kita itu supaya juga dapat memperbaiki kualitas pencapaian kita. Kalau dengan cara itu sesudah menjalani lakunya kita tidak mendapatkan pencerahan apa-apa, kemungkinan besar penyebabnya adalah karena kita belum tahu tujuan lakunya atau belum bisa menghayati lakunya.

Kemampuan  menayuh gaib  (baca: Ilmu Tayuh / Menayuh Keris)  dan kemampuan olah rasa  adalah satu kesatuan kemampuan dasar yang seharusnya bisa dikuasai oleh orang-orang yang interest dengan kegaiban. Kami harapkan kemampuan-kemampuan itu juga dapat anda kuasai, karena itu akan berguna sekali sebagai kemampuan dasar dalam hal mempelajari kebatinan dan kegaiban, bisa menjadi alat kontrol anda dalam memantau hasil dan perkembangan latihan anda, dan akan menjadi dasar untuk kemampuan yang lebih tinggi lagi bagi anda yang ingin mengerti atau interest dengan hal-hal gaib, apalagi bila anda  memiliki benda-benda gaib dan khodam pendamping. 

Kalau kita ingin mempelajari dunia kebatinan dan spiritual, untuk awalnya sebaiknya dipelajari dulu isi dari tulisan-tulisan yang berjudul  Olah Rasa dan Kebatinan  dan  Ilmu Tayuh Keris. Sebaiknya pelajaran-pelajaran di dalamnya bisa dipelajari sampai matang dan mahir, jangan asal bisa, karena itu adalah satu kesatuan kemampuan dasar yang sebaiknya sudah kita kuasai lebih dulu sebelum mempelajari yang lain.


Kepekaan rasa dan kekuatan rasa adalah dasar dari kebatinan dan kekuatan batin / spiritual.

Kekuatan yang dibangun dalam olah rasa adalah kekuatan rasa (bersifat gaib), dihasilkan oleh cakra tubuh di bagian dada. Tetapi pembukaan cakra energi di dada tidak ditujukan untuk yang bersifat gaib, biasanya untuk tujuan kanuragan. Begitu juga dengan pengolahannya. Untuk tujuan kebatinan dan kegaiban, cakra energi di dada tidak diolah dengan teknik pernafasan, tetapi dengan cara olah rasa dan kebatinan (ada juga yang menyebutnya sebagai ilmu rahsa atau ilmu rasa sejati).

Pada orang awam, kekuatan rasa biasanya muncul secara spontan, misalnya saat panik, histeris atau lari ketakutan. Dalam kondisi itu kekuatannya bisa berkali-kali lipat dibandingkan dalam kondisi normalnya. Dalam hal ini kekuatan rasa muncul sebagai kekuatan bawah sadar manusia. Kekuatan bawah sadar ini tidak sengaja terjadi, tetapi bagi yang sudah terbiasa olah rasa dan batin, kekuatan itu dapat dengan sengaja dimunculkan dan kekuatannya bisa berkali-kali lipat daripada kekuatan rasa orang-orang yang masih awam.

Pada orang awam, sebagian kekuatan rasa muncul tidak disengaja, misalnya dalam kondisi ketakutan yang sangat, panik, histeris, dsb.

Kekuatan rasa juga bisa muncul dalam kondisi bergembira dan bersemangat, sehingga saat seseorang beraktivitas berat akan terasa lebih ringan dan tidak cepat lelah. Kondisi ini banyak dialami manusia pada masa kanak-kanak, yang pada saat bergembira bermain berlari-larian tidak cepat merasa lelah. Sekalipun lelah, akan cepat pulih kembali. Berbeda dengan yang sudah dewasa, biasanya akan cepat lelah dan kalau sudah lelah akan lebih lama pulihnya, karena di dalam aktivitasnya banyak menggunakan pikiran, bukan rasa.

Sebagian lagi kekuatan rasa muncul dalam kondisi marah dan benci, sehingga perbuatan yang dilambari rasa marah dan benci kekuatannya berlipat-lipat.

Inti dari kekuatan rasa adalah kekuatan yang dilambari rasa hati, spontan, tidak dipikir-pikir dulu, sehingga perbuatan yang dilakukan dengan sepenuh rasa (sepenuh rasa, bukan sepenuh hati) akan berlipat-lipat kekuatannya (dan ada efek kegaibannya), tidak cepat lelah, dan kelelahannya akan cepat pulih kembali.  Kekuatan rasa bisa dengan sengaja dimunculkan. Pada orang-orang yang kekuatan rasa sudah dengan sengaja dilatihnya kekuatannya akan jauh lebih besar daripada kekuatan rasa orang biasa yang sifatnya spontan.

Seseorang yang sudah melatih olah nafas biasanya juga akan merasakan bagian dari olah rasa (kepekaan rasa), walaupun hanya dasarnya saja. Penggunaan energi dari olah pernafasan biasanya juga dilakukan dengan ‘rasa’, bukan lagi dengan pikiran atau perasaan.


Dalam laku mempelajari olah rasa biasanya
orang melakukannya dengan cara yang mirip dengan olah batin, yaitu banyak menyepi / tirakat, puasa, laku prihatin, meditasi, membaca amalan-amalan, dsb, bahkan sampai bertirakat di tempat-tempat yang wingit dan angker. Dalam kehidupan jaman sekarang cara-cara tersebut tidak praktis untuk dilakukan. Bila anda ingin mencoba mempelajarinya, ada beberapa cara praktis yang bisa anda lakukan tanpa perlu banyak mengganggu aktivitas anda sehari-hari sbb :

1. Menyepi.

Pengertian menyepi ini bukan berarti anda harus pergi menyepi ke tempat-tempat sepi di gunung, di tempat-tempat angker, dsb. Cukup anda luangkan waktu untuk berdiam diri, di rumah, di kantor atau dimanapun anda berada, untuk merasakan suasana batin anda (lebih baik bila dilakukan di tempat terbuka pada malam hari). Biarkan ide dan ilham mengalir dalam pikiran anda. Perhatikan, mungkin akan ada ide-ide tertentu atau jawaban-jawaban dari masalah anda yang tidak terpikirkan sebelumnya (secara sederhana laku ini mirip seperti orang melamun / merenung).

Menyepi ini juga bisa anda lakukan di tempat yang ramai. Artinya anda belajar menemukan suasana sepi (hening) di dalam keramaian tanpa harus pergi keluar dari keramaian. Tujuan dari menyepi ini adalah untuk membiasakan diri menciptakan suasana hening di dalam rasa dan pikiran, untuk belajar mengendorkan pikiran dan perasaan, dan belajar memisahkan pikiran dengan perasaan, sebagai dasar untuk peka rasa dan batin dan untuk memperhatikan munculnya ide / ilham, dsb, yang mengalir dari batin anda sendiri, dan untuk belajar tidak terbawa suasana untuk bisa mengendalikan diri (mengendalikan emosi, pikiran dan perasaan). 

2. Peka suasana batin.

Belajar peka terhadap bisikan-bisikan hati dan nurani, firasat, dsb. Jangan mengabaikan bisikan hati dan firasat, tetapi juga jangan mengada-ada, jangan ber-ilusi. Peka terhadap ilham yang mengalir di dalam pikiran dan rasa. Kalau bisa, carilah sumbernya darimana ilham itu berasal.

Cara ini bermanfaat untuk "mendengarkan" mengalirnya ide dan ilham yang dapat bermanfaat untuk membantu pemecahan masalah-masalah yang sedang anda hadapi, atau informasi tentang kondisi keluarga anda, dsb, yang sebelumnya anda tidak tahu atau sebelumnya tidak terpikirkan.

3. Peka suasana alam.

Belajar peka terhadap suasana alam di manapun anda berada. Cobalah sesekali pergi ke tempat yang wingit atau angker, bisa juga di pasar atau mall. Di tempat itu berdiam dirilah sejenak. Rasakan suasana kegaiban di tempat tersebut. Bila merasakan keberadaan sesuatu roh halus atau energi gaib, dengan getaran rasa di dada atau dengan merasakan getarannya di telapak tangan, cobalah tentukan dimana posisinya berada. Kalau bisa coba rasakan / bayangkan seperti apa sosok wujudnya. 


Cara-cara di atas berguna untuk melatih kepekaan rasa dan ketajaman insting / naluri.

Bila anda sudah dapat merasakan suasana alam di suatu tempat, mungkin anda juga akan dapat merasakan bila ada sesuatu yang mengancam, dimana pun anda berada, misalnya ada mahluk halus atau binatang berbahaya, atau ada orang jahat yang sedang mengincar anda, dsb, akan menambah kebijaksanaan anda untuk bersikap hati-hati tidak sembrono di tempat-tempat yang "sensitif" dan rawan bahaya, atau anda juga akan dapat merasakan sesuatu kejadian yang akan terjadi di suatu tempat (misalnya di rumah anda, mungkin anda akan bisa merasakan bila akan ada anggota keluarga yang akan mengalami musibah, akan ada kebakaran, dsb).

Ke 3 cara di atas adalah contoh-contoh cara untuk anda "masuk" ke dalam diri anda sendiri dan belajar mendengarkan aliran ide dan ilham dan belajar tanggap firasat, dapat diterapkan bukan hanya di tempat sepi, tetapi juga di tempat ramai, di manapun anda sedang berada, tidak perlu banyak membuang ongkos, tenaga dan waktu. Bila anda sudah terbiasa melakukan ke 3 cara di atas, berarti anda sudah melakukan olah rasa dan dasar-dasar kebatinan. Belajarlah untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari anda dalam berbagai bidang. Rasa / feeling / intuisi anda akan lebih tajam, dapat mengkira-kira hasil (berhasil-tidaknya) dari sesuatu yang anda lakukan, atau merasakan sesuatu kejadian (baik atau buruk) yang akan terjadi, dan akan lebih mudah mendapatkan ide-ide / ilham atas jawaban permasalahan yang sedang anda hadapi.

Dalam semua proses meditasi dan perenungan usahakan supaya tidak mengedepankan pikiran. Biarkan ide / ilham / bisikan gaib mengalir sampai lengkap, jangan bereaksi dengan berpikir yang dapat menyebabkan aliran ide / ilham itu terputus.


Dalam kehidupan manusia sehari-hari, apalagi dalam kehidupan modern ini, rasa dan firasat seringkali diabaikan. Namun bila seseorang memperhatikan rasa dan firasatnya, ia sendiri yang akan mendapatkan manfaatnya. Rasa dan firasat seringkali muncul berupa perlambang rasa. Misalnya, seseorang yang akan bepergian ke luar kota, karena merasa tidak enak hati kemudian membatalkan keberangkatannya. Ternyata kemudian ia mendapatkan berita bahwa kendaraan yang seharusnya ditumpanginya mengalami kecelakaan. Untunglah dia tidak jadi berangkat. Apakah ini kebetulan saja ?

Mungkin kita tidak akan terburu-buru berangkat kerja, walaupun sudah terlambat / kesiangan, seandainya saja sebelumnya kita tahu atau dapat merasakan bahwa pada hari itu ada anggota keluarga kita yang akan mengalami musibah.

Kadangkala mungkin kita "merasa" mengalami suatu kejadian yang persis sama seperti yang dahulu sudah pernah terjadi. Tetapi kita tidak tahu kejadian yang dahulu itu apakah itu kejadian nyata ataukah kejadian di dalam mimpi. Biasanya kejadian yang dahulu itu adalah kejadian di dalam mimpi. Sedulur Papat kita sendiri yang memberikan mimpi tersebut. Kita saja yang tidak tanggap.

Kadangkala kita melamun atau ilham mengalir begitu saja, hanya kita saja yang tahu, atau mungkin secara spontan kita mengucapkan sesuatu tanpa dipikir dahulu, tentang sesuatu kejadian yang akan datang atau tentang seseorang (biasanya seorang tokoh manusia) yang akan mengucapkan / berbuat sesuatu, dan ternyata kemudian kejadian tersebut benar-benar terjadi. Dalam hal ini, Sedulur Papat kitalah (atau khodam) yang memberitahukan hal tersebut. Sayang sekali kalau kita tidak mengasah kedekatan dengan para sedulur tersebut. Kepekaan (rasa) itu merupakan suatu potensi besar kemampuan kebatinan yang sayang sekali jika tidak diasah dengan benar. Mungkin potensi untuk bisa meramal, atau merasakan suatu kejadian yang akan terjadi, atau potensi kemampuan mengobati / menyembuhkan, dsb, akan dilewatkan begitu saja.

Kepekaan rasa / insting seringkali sangat berguna sebagai alat radar kita untuk deteksi / peringatan awal, jangan sampai kita terlena / lengah ketika merasakan sesuatu yang berbahaya. Jangan sampai kita masuk ke dalam kesulitan tanpa sebelumnya menangkap peringatan apa-apa.

Beberapa tanda yang bila dilatih / dipertajam akan menjadi suatu potensi kemampuan tersendiri :
 -
merasa tahu apa yang akan dikatakan seseorang saat mendengarkan seseorang sedang berbicara.
 - cepat mengenal kepribadian terdalam seseorang walaupun baru kenal.
 - banyak ilham tentang kejadian yang akan terjadi (kejadiannya kemudian benar-benar terjadi).
 - mengenal firasat, atau bisa membedakan suatu kejadian yang merupakan tanda dari akan terjadinya
   kejadian lain entah baik atau buruk. Dan ketika kejadian itu terjadi ia tahu bahwa sebelumnya ia sudah
   menerima tanda tentang akan terjadinya kejadian itu.

Kemampuan-kemampuan di atas, jika sudah terlatih, sering disebut sebagai daya linuwih  yang merupakan dasar-dasar dari kemampuan seseorang yang waskita.

Kemampuan-kemampuan di atas dapat juga terjadi karena seseorang berkhodam atau dirinya ketempatan mahluk halus. Dalam hal ini orangnya merasa peka rasa atau merasa mendapat banyak ilham karena mahluk halus yang bersamanya itu memberitahunya dalam bentuk bisikan gaib dan rasa. Bila kemampuan peka rasa atas bisikan-bisikan gaib itu juga sudah terlatih orang itu dapat juga menjadi waskita.

Intinya adalah kepekaan rasa.
Sesudah itu tinggal kemampuan orangnya sendiri untuk mendayagunakannya.

Untuk tahap awal
belajarnya yang harus kita latih adalah belajar untuk bisa hening dan "memperhatikan".

Untuk belajar peka rasa dan firasat kita harus belajar hening dan memperhatikan, belajar merasakan adanya tanda rasa di dada tentang suatu kejadian yang akan terjadi dan belajar mendengarkan bisikan gaib / ilham yang mengalir di benak / pikiran kita mengenai informasi kejadian yang akan terjadi.

Untuk belajar melihat gaib kita harus belajar hening dan memperhatikan gambaran gaib yang muncul di benak / pikiran kita.

Untuk belajar berkomunikasi dengan gaib kita harus belajar hening dan memperhatikan / mendengarkan bisikan gaib yang mengalir di benak / pikiran kita. Kita harus fokus memperhatikan bisikan gaib yang asalnya dari gaib yang kita sedang berkomunikasi, bukan asal ada bisikan gaib.


Di dalam halaman ini digunakan beberapa istilah sbb :

Rasa adalah sesuatu yang langsung dirasakan, berdasarkan kepekaan rasa / batin, tidak melalui proses perenungan atau analisa.
Batin lebih dalam lagi, ada proses mengendapkan, merenungkan dan menganalisa.

Rasa berhubungan dengan kepekaan rasa batin dan indra ke 6 manusia.
Secara awam rasa bisa diartikan sebagai feeling / insting.
Rasa adalah awal sebelum masuk ke proses yang lebih dalam untuk direnungkan atau dianalisa secara kebatinan.

Misalnya kita kedatangan orang sakit yang minta disembuhkan sakitnya.
Pada pertemuan pertama kita sudah langsung bisa me-rasa-kan bahwa sakitnya bukanlah sakit medis biasa, tetapi sakitnya berhubungan dengan gaib.
Sesudah itu barulah di-batin, direnungkan, dianalisa, apa yang menjadi penyebabnya, apakah benar sakitnya itu berhubungan dengan sesuatu yang gaib, apakah sakitnya yang karena pengaruh gaib itu adalah karena ketempelan mahluk halus, ataukah kesambet, ataukah karena diguna-guna. Kalau diguna-guna, apa penyebab awalnya, apakah karena orang itu menyalahi orang lain ?  Siapakah yang menjadi lawannya itu ?  Apakah obatnya ?

Contoh lain, ada orang yang sudah berbulan-bulan sakit kepala berat, vertigo,
Sudah bolak-balik ke dokter dan rumah sakit, tapi tidak sembuh juga.
Pada pertemuan pertama kita sudah ada rasa, sudah bisa mendeteksi, berdasarkan kepekaan rasa, bahwa sakitnya adalah karena pengaruh gaib.
Sesudah itu barulah dilakukan proses lebih lanjut, dianalisa dengan batin, yang kemudian diketahui ternyata sakitnya itu adalah karena adanya sesosok gondoruwo yang bersemayam di kepalanya. Dengan demikian sesudah diketahui sumber penyebab sakitnya maka tindak lanjut penyembuhannya menjadi lebih terarah.

Jadi rasa adalah proses awal yang dirasakan, sebelum masuk ke proses selanjutnya untuk dianalisa secara batin.

Begitu juga bedanya antara kekuatan rasa dan kekuatan kebatinan.
Misalnya penggunaan secara fisik :
Kekuatan rasa dilakukan secara spontan setelah merasakan adanya desakan kekuatan rasa di dada.
Kekuatan kebatinan dilakukan setelah menghimpun kekuatan kebatinan, sampai terasa energinya seperti aliran tenaga dalam atau tubuh terasa tebal berselimut energi, dan setelah mantap kekuatannya dan batinnya barulah kekuatan kebatinan itu digunakan.

Jadi, rasa adalah proses awal sebelum proses selanjutnya secara batin.


Ilham itu seperti ide-ide pemikiran yang terbersit di dalam pikiran, yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Ilham dan ide-ide pemikiran itu bisa juga merupakan jawaban dari suatu permasalahan.

Firasat adalah rasa tentang suatu kejadian yang merupakan pertanda akan terjadinya kejadian yang lain. Biasanya ditandai dengan rasa enak atau tidak enak di hati ketika kejadian pertanda itu terjadi. Jadi suatu kejadian yang merupakan pertanda / firasat ini bukanlah sekedar pengkultusan yang menyama-ratakan bahwa bila suatu kejadian terjadi pasti akan terjadi kejadian yang lain.

Misalnya kita akan berangkat ujian pendidikan. Ketika sedang berbenah, pulpen kita jatuh. Seketika itu juga muncul rasa tidak enak di hati. Ternyata terbukti kemudian bahwa kita memang tidak lulus ujian.

Dalam kasus itu rasa tidak enak di hati ketika pulpennya jatuh itu menjadi pertanda bahwa usaha kita akan gagal. Rasa tidak enak di hati itu  merupakan sebuah tanda / firasat bahwa kita akan mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Tetapi jangan dijadikan pengkultusan bahwa kalau pulpen kita jatuh berarti ujian kita akan gagal, sehingga kita akan berusaha supaya pulpen kita tidak jatuh.

Pada kejadian di atas yang menjadi inti perhatian adalah rasa tidak enak di hati, bukan kejadian pulpennya jatuh. Rasa tidak enak di hati itulah yang disebut firasat.

Firasat itu ditandai dengan rasa di hati, bukan sekedar pada kejadiannya. Diperlukan kepekaan rasa untuk bisa merasakan kejadian yang merupakan sebuah pertanda. Firasat ini menjadi bentuk peringatan supaya kita lebih berhati-hati dan waspada dan mengusahakan yang terbaik, supaya kejadian yang tidak mengenakkan tidak sampai benar-benar terjadi pada kita. Baik atau buruk suatu kejadian yang akan kita alami biasanya sebelumnya ditandai dengan adanya rasa di dada. " If it's going to get better or worse, it starts with a feeling ", begitu katanya orang barat.

Intuisi adalah keseluruhan ide dan ilham, firasat, feeling, insting, wangsit, prediksi, dsb, yang mengalir di dalam pikiran yang biasanya digunakan untuk mengambil keputusan tertentu. Ada tipe orang-orang tertentu yang dalam mengambil keputusan tertentu lebih mengandalkan feeling / insting, yang keseluruhannya disebut intuisi, tidak menekankan pada bukti-bukti lain atau analisa, rasio dan perhitungan tertentu sebagai dasar pertimbangan.

Wahyu, pengertiannya secara umum adalah diturunkannya restu Tuhan (Dewa) kepada seseorang yang kewahyon sesuai tujuan wahyunya. Wahyu hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja yang para Dewa berkenan, bukan kepada sembarang orang, sehingga walaupun seseorang melakukan tapa brata atau bertirakat di tempat yang wingit dan angker, tidak pasti bahwa kemudian orang itu akan mendapatkan wahyu yang diharapkannya. Mungkin yang didapatkannya hanyalah sebatas wangsit / wisik saja dari gaib-gaib yang menghuni tempatnya bertirakat.

Wahyu, dalam bahasa sehari-hari di masyarakat ada yang diartikan sama dengan wangsit / wisik, yaitu suatu bentuk pemberitahuan / bisikan gaib kepada seseorang tentang akan terjadinya suatu kejadian tertentu.


Rasa dan firasat s
eringkali dianggap tahyul dan klenik, apalagi bila ada pengkultusan di dalamnya. Karena itu kita harus bisa membedakan sesuatu rasa, apakah itu hanya rasa biasa saja ataukah rasa yang merupakan suatu  pertanda  tentang suatu kejadian yang akan terjadi. Belajarlah peka terhadap bisikan-bisikan nurani. Jangan mengabaikan bisikan hati dan firasat, tetapi juga jangan mengada-ada, jangan melebih-lebihkan, jangan mengkultuskan, jangan ber-ilusi.

Ada juga manfaat lain jika kita peka rasa dan tanggap firasat.

Misalnya, sudah umum sebenarnya, walaupun sering diabaikan atau dianggap tahayul, tapi sebenarnya sudah sering sekali terjadi di kehidupan manusia di manapun di dunia, yaitu kasus orang kesambet, ketempelan, atau ketempatan mahluk halus. Pengaruh negatifnya bisa berdampak pada kesehatan, psikologis dan pikiran (psikis), bisa juga berpengaruh negatif terhadap jalan hidup dan kerejekian dan rumah tangga.

Kalau kasus yang berhubungan dengan mahluk halus ini menyebabkan kita (atau anggota keluarga kita) sakit, baik pegal-pegal, pusing, sakit organ dalam, atau bahkan tumor dan kanker, karena ketidak-tahuan kita umumnya kita hanya mengupayakan pengobatannya secara medis saja, ke dokter, rumah sakit atau minum obat saja. Tapi kesembuhannya hanya sementara saja, nantinya akan kambuh lagi, atau muncul menjadi sakit / penyakit di bagian tubuh lain, apalagi kalau sakitnya parah yang bahkan bisa berujung kematian. Sakit-penyakit yang sumbernya karena gaib tidak semuanya bisa tuntas ditangani oleh medis.

Tapi kalau kita peka rasa mungkin kita akan bisa membedakan sakit-penyakit yang asli medis dengan yang asalnya adalah pengaruh gaib, sehingga yang sakitnya asli medis kita akan mengobatinya secara medis, dan yang asalnya dari pengaruh gaib kita akan menambahkan penyembuhannya dengan cara-cara kegaiban atau dengan pembersihan gaib.

Dengan demikian kita menjadi lebih tahu bagaimana harus bersikap jika ada sesuatu yang negatif menimpa diri kita (atau keluarga kita), apakah penanganannya harus secara modern duniawi ataukah harus ditambahkan dengan cara-cara kegaiban. Begitu juga bila ada dampaknya yang negatif terhadap psikologis dan pikiran (psikis), atau terhadap jalan hidup dan kerejekian dan rumah tangga. Baca juga : Pengaruh Gaib Thd Manusia).

Atau mungkin kita tidak akan terburu-buru berangkat kerja, walaupun sudah terlambat / kesiangan, seandainya saja sebelumnya kita tahu atau dapat merasakan bahwa pada hari itu ada anggota keluarga kita yang akan mengalami musibah.

B
ila kita tanggap firasat biasanya ada beberapa tandanya yang bisa kita rasakan. Misalnya ada rasa berat meninggalkan rumah atau keluarga. Atau justru kita mengabaikan mereka. Atau kita merasa jengkel berlebihan ketika ada anak kita yang rewel meminta sesuatu. Mungkin sehari-harinya rasa-rasa itu sudah sering terjadi tapi biasanya kadarnya tidak sebesar dibanding ketika akan terjadi pengapesan.

Bila pengapesannya kita sendiri yang mengalami biasanya ada rasa-rasa yang kadarnya lebih besar daripada hari-hari biasanya. Misalnya ada lebih besar rasa semangat / senang, atau rasa berat meninggalkan rumah, atau pikiran terasa mengambang, banyak melamun, tidak fokus.
Mungkin rasa-rasa itu sehari-harinya sudah sering juga terjadi tapi biasanya kadarnya tidak sebesar dibanding ketika akan terjadi pengapesan. Bila kita tanggap firasat kita akan dapat merasakan adanya ketidakwajaran di dalam rasa-rasa itu.

Mengenai pengapesan, semua orang mengalaminya, hanya bentuk kejadiannya saja yang tidak sama.
Sebaiknya kita peka rasa untuk bisa tanggap firasat, sehingga jika ada suatu kejadian yang tidak mengenakkan, kita sudah lebih dulu mengerti pemberitahuan / tandanya sehingga kita bisa menghindarinya dan bisa mengambil suatu tindakan untuk meminimalisir resiko negatifnya.


Kekuatan batin dan kepekaan rasa berguna juga untuk mendeteksi keberadaan mahluk halus, bukan untuk melihat gaib. Tetapi kalau sudah terbiasa mengasah kepekaan rasa batin, biasanya sukma kita juga akan bekerja, sehingga kita dapat mendeteksi sesuatu yang gaib dan bisa juga terbayang sosok wujudnya seperti apa (melihat gaib secara batin). Kalau fokus kita bisa kuat dan lama dengan kepekaan rasa, maka gambaran gaib yang kita terima juga akan lebih jelas. Dengan cara ini kita menjalin komunikasi dengan sukma kita (roh sedulur papat), sehingga pemberitahuan dari mereka berupa ide dan ilham dan gambaran-gambaran gaib bisa kita terima dengan baik sinyalnya.

Orang-orang yang menekuni kebatinan biasanya juga mengerti tentang kegaiban, memiliki kepekaan tertentu mengenai kegaiban, kegaiban hidup dan kegaiban alam, dapat membedakan suatu rasa yang merupakan pertanda dari akan terjadinya suatu kejadian, atau tentang kejadian-kejadian yang akan datang, dsb, yang selain berasal dari pengetahuannya sendiri, biasanya juga didapatkannya dari ilham atau bisikan gaib (wangsit).

Secara sederhana batin diartikan sebagai sesuatu yang dirasakan manusia pada hatinya yang paling dalam.
Istilah batin dalam konteks keilmuan tidak persis sama dengan kosa kata pengertian umum, karena pengertian batin dalam konteks keilmuan lebih banyak arahnya kepada kebatinan dan ilmu kebatinan.

Sebagai pemahaman dasar, keilmuan kebatinan adalah jenis keilmuan berdasarkan olah kebatinan, jangan disamakan dengan aliran ilmu gaib yang mengedepankan amalan gaib dan mantra, dan jangan disamakan konotasinya seperti cerita perdukunan di televisi.

Ilmu kebatinan adalah jenis keilmuan yang mengolah potensi kebatinan manusia, mengolah potensi kegaiban sukmanya, rohnya. Dan itu tidak selalu mudah bagi semua orang, karena tidak semua orang mampu "masuk" ke dalam dirinya yang terdalam, lebih banyak orang yang hanya mampu mengolah apa yang ada di luar, kulitnya saja, bukan yang ada di dalam, isinya. Dan jangan berharap ada jalan pintas atau belajar cara mudah dengan hanya menghapalkan dan mewirid amalan gaib dan mantra atau mengedepankan keampuhan khodam jimat dan pusaka.

Dalam rangka mempelajari ilmu kebatinan seseorang harus bisa mengedepankan batinnya, bukan pikirannya, untuk bisa peka rasa merasakan apa yang ada di dalam batinnya yang terdalam, dan dengan olah kebatinan potensi kegaiban kebatinan / sukma manusia itu digali dan ditingkatkan kualitasnya, yang jika orangnya berhasil mencapai tingkatan yang tinggi kegaiban sukma orang itu akan dapat melebihi kegaiban roh-roh gaib yang ada di bumi ini.

Dalam rangka mempelajari ilmu kebatinan dan kegaiban jangan sekali-kali menyombongkan nalar dan logika, kepintaran dan kejeniusan berpikir. Tidak semua orang dengan pikirannya mampu mencerna sesuatu yang hanya bisa diinderai dengan rasa dan batin, sesuatu yang nyata ada tetapi tidak kelihatan mata, sehingga banyak hal-hal gaib dan kegaiban sering dikatakan orang sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, dan  dianggap mitos, pengkultusan atau klenik.

Dalam olah kebatinan dan kegaiban yang lebih banyak berperan adalah rasa dan batin (olah rasa dan batin, bukan olah pikiran) dan kecerdasan batin (bukan kepintaran dan kejeniusan). Jika terlalu mengedepankan sikap berpikir, maka sesuatu yang mudah diinderai oleh orang yang peka rasa akan sulit sekali diinderai oleh orang yang terlalu mengedepankan sikap berpikirnya. Dalam hal ini semua kegaiban itu bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal, tetapi akalnya saja yang tidak sampai, akalnya saja yang tidak mampu mencerna. Mampu mencerna saja tidak, apalagi menciptakan alat-alat modern untuk membuktikan kebenaran atas hal-hal gaib.

Dalam hal ini sudah terjadi kesalahan metode dan sikap berpikir. Hal-hal kegaiban hanya bisa diinderai dengan rasa dan kecerdasan batin, bukan dengan pikiran atau kejeniusan berpikir atau sok berlogika. Semua fakta dan bukti-bukti empiris harus lebih dulu didapatkan dengan olah rasa dan batin, sesudahnya barulah dinalar dengan pikiran. Seharusnya orang bisa peka rasa untuk menginderai kegaiban, sesudahnya barulah dinalar dengan pikiran.

Sebenarnya tidak harus seseorang menjadi seorang yang mumpuni dalam hal kegaiban, karena semuanya tergantung pada unsur interest dan aspek manfaat bagi masing-masing orang, tetapi sebaiknya minimal bisa peka rasa supaya bisa merasakan dan mengetahui sesuatu yang sifatnya negatif yang akan atau sedang terjadi pada dirinya sendiri maupun keluarga dan orang-orang terdekatnya, supaya kemudian bisa melakukan tindakan preventif yang diperlukan. Jangan membodohi diri dengan menganggap semua kejadian di dunia manusia bisa dinalar dan bisa ditangani dengan cara-cara dan peralatan modern, apalagi cara-cara dan peralatan modern pun masih mempunyai keterbatasan, tidak mampu untuk digunakan mendeteksi, apalagi menangani, hal-hal yang terkait dengan kegaiban. Kebatinan / kegaiban dan cara-cara modern tidak saling menggantikan, tidak saling menghapuskan, tetapi saling melengkapi kekurangan masing-masing.




  Kekuatan Rasa dan Sugesti


Olah rasa berhubungan dengan kepekaan rasa batin dan indra ke 6 manusia.

Dengan rasa, orang akan lebih peka terhadap sesuatu yang bersifat gaib, dapat mendeteksi / merasakan keberadaan sesuatu yang gaib, dapat
mendeteksi apakah sakit yang diderita oleh seseorang merupakan sakit fisik biasa saja ataukah karena adanya pengaruh energi negatif dari sesosok mahluk halus (ketempelan gaib, kesambet, disantet, diguna-guna, dsb), dapat mengetahui cara penyembuhannya dan dapat merasakan sesuatu yang akan terjadi (feeling / intuisi).

Setelah dengan cara-cara latihan kepekaan rasa di atas anda juga dapat merasakan rasa tekanan / desakan di dada, berarti anda sudah mulai dapat merasakan  kekuatan rasa  di dada. Latihlah terus cara-cara di atas untuk membangkitkan dan menghimpun kekuatan rasa di dada. Kekuatan rasa adalah dasar dari tenaga batin (dasar dari kekuatan sukma yang mengisi tubuh seseorang).

Dengan olah sugesti kekuatan rasa dapat anda manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Cara menggunakan kekuatan rasa itu tidaklah dengan dipikirkan dahulu atau dengan mengempos seluruh tenaga, tetapi
harus dilakukan secara spontan bersamaan dengan rasa desakan nafas di dada (ada timing waktunya).

Misalnya akan mengangkat beban yang berat, maka mengangkatnya harus dilakukan secara spontan bersamaan dengan munculnya rasa desakan nafas di dada, dilakukan sambil
menekan rasa di dada. Dengan cara itu bebannya akan terasa lebih ringan.

Kekuatan pukulan yang dilambari kekuatan rasa, dengan
menekan rasa di dada , walaupun tidak dilakukan sepenuh tenaga, efeknya akan berkali-kali lipat dibanding pukulan biasa sepenuh tenaga (ada efek gaibnya). Dari pengamatan Penulis, ada contoh seorang petinju (mantan) yang dalam bertanding ia selalu menggunakan kekuatan rasa dalam pukulan-pukulannya. Walaupun pukulan-pukulannya tidak dilakukan sepenuh tenaga, sehingga ia bisa menghemat tenaga, tetapi pukulan-pukulannya dikatakan oleh lawan-lawannya sebagai terasa menyengat. Petinju itu adalah Muhamad Ali.

Jika anda dapat mengsugestikan kekuatan rasa itu menyatu ke seluruh tubuh, menjadikan tubuh terasa tebal bertenaga, hasilnya akan luar biasa,
kekuatan anda bisa sama seperti 10 orang sekaligus. Apalagi kalau anda juga mempunyai tenaga dalam, jika bisa menyatukannya dengan kekuatan rasa maka efeknya akan menjadi berlipat-lipat.

Kekuatan rasa ini juga mempunyai kegaiban tersendiri jika diwujudkan dalam kata-kata. Berkata-kata dengan dilambari getaran kekuatan desakan rasa di dada, dengan
menekan rasa di dada , pengaruhnya akan sama seperti menggunakan aji-aji kewibawaan / penundukkan, aji gelap ngampar, gelap sayuta, gelap saketi atau senggoro macan.

Dengan demikian tanpa ajian / amalan gaib dan tanpa tambahan khodam, dengan kekuatan rasa itu kita dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang pengaruhnya mirip dengan orang yang menggunakan aji-aji kesaktian.

Ketika langit sedang dalam kondisi mendung tebal kita dapat membubarkan konsentrasi mengumpulnya awan dengan sugesti kekuatan rasa (ditambah visualisasi pikiran). Dengan menekan rasa di dada (atau cukup dengan visualisasi di pikiran) kita visualisasikan mengeluarkan segulungan energi yang besar yang mendorong awan-awan ke depan / belakang dan ke samping kiri-kanan, sehingga kemudian konsentrasi awan itu menjadi berkurang.

Rahasia kekuatan rasa adalah adanya penyatuan kekuatan roh sedulur papat dengan roh pancer kita (secara satu kesatuan menjadi kekuatan sukma). Dengan bersugesti menggunakan kekuatan rasa itu berarti kita sudah menyatukan kekuatan roh sedulur papat dan pancer kita, menjadi satu kesatuan kekuatan sukma, menjadi satu kesatuan perbuatan yang mempunyai efek kegaiban tersendiri, yang hasilnya akan berbeda dibanding hanya menggunakan kekuatan fisik saja walaupun dilakukan sepenuh tenaga.

Contoh-contoh di atas adalah contoh-contoh penggunaan sugesti kekuatan rasa dan batin pada tingkatan dasar. Pada tingkatan kemampuan kebatinan yang tinggi (dengan olah kebatinan) kekuatan rasa ini dapat digunakan untuk segala perbuatan yang berhubungan dengan kegaiban, untuk menyembuhkan / mengusir sakit / penyakit seseorang, mengusir / menyerang / menundukkan / menangkap mahluk halus tingkatan rendah sampai yang kelas atas, untuk mempengaruhi / mengendalikan pikiran seseorang atau mahluk halus, untuk memusnahkan keilmuan gaib, khodam dan tenaga dalam seseorang, menjadikan kata-kata seseorang manjur (idu geni) dan untuk mendatangkan ide / ilham dan wangsit dan pengetahuan spiritual tingkat tinggi yang mengantarkan seseorang menjadi linuwih dan waskita.

Kekuatan rasa menjadi dasar dari kekuatan kebatinan
.
Cara penggunaannya adalah dengan menggerakkan kekuatan rasa, dengan menekan rasa di dada.
Seperti contoh latihan belajar olah rasa di atas, setelah dengan tangan dan dengan rasa di dada kita bisa merasakan keberadaan sesosok mahluk halus, kemudian dengan :
menekan rasa
  kita mendesak / mendorong keberadaan sosok halus itu pindah dari posisinya semula, atau
menekan rasa
  untuk menyingkirkan keberadaan bakteri, virus, dsb, dari sakit-penyakit seseorang (dibuang jauh ke luar angkasa).

Jika seseorang sudah menguasai kekuatan rasa dan kebatinan, untuk keperluan pembersihan gaib orang akan bisa mengukur kekuatannya sendiri ketika berhadapan dengan sosok-sosok gaib tertentu. Jika kita sudah menguasai kekuatan kebatinan yang cukup tinggi, melakukannya tidak perlu dengan cara melihat gaib, cukup dengan cara kontak rasa untuk mendeteksi sasarannya (keberadaan gaibnya), kemudian kita pancarkan energi kebatinan untuk mengusirnya.

Harap diperhatikan, untuk kehati-hatian, penggunaan kekuatan rasa di atas adalah dengan menekan rasa untuk mendorong atau menggeser  posisi keberadaan sesosok mahluk halus, bukan untuk memukul / menyerang, jangan sampai malah berbalik mahluk halus itu kemudian menyerang kita. Kita sendiri harus bisa mengukur kekuatan kita, jangan sampai ternyata kekuatan kita lebih rendah daripada si mahluk halus, sehingga kemudian kita menjadi celaka. Kalau belum kuat secara kebatinan, kekuatan rasa itu jangan digunakan untuk menyerang.

Karena itu sebelumnya kita harus belajar "membangun" kekuatan rasa dan kekuatan kebatinan terlebih dulu. Selain meningkatkan kemahiran latihan oleh rasa, untuk membangun kekuatan rasa dan kebatinan silakan dibaca tulisan :

- Olah Batin dan Kebatinan

- Olah Spiritual dan Kebatinan

- Kebatinan dan Kanuragan

- Kebatinan dalam Keagamaan

- Meditasi Energi

- Pembersihan Gaib 4

- Sukma Sejati

Sedapat mungkin semua kekuatan kebatinan dan energi yang berhasil dihimpun dapat diolah menjadi kekuatan rasa dan dapat disatukan dengan kepekaan rasa, supaya menjadi satu kesatuan kemampuan.



  Potensi Alami Indera Keenam


Ada banyak kejadian yang ketika orang sedang dalam kondisi tidak sadar, tidak dengan sengaja ingin melihat / mendeteksi gaib, di matanya / pikirannya ia mendapatkan gambaran gaib adanya sesosok mahluk halus, tapi hanya sekelebatan saja. Kejadian-kejadian itu lebih sering lagi terjadi pada orang-orang yang berkhodam atau memiliki sesosok gaib yang mendampinginya, atau pada orang-orang yang ketempatan mahluk halus. Dari adanya kejadian-kejadian yang umum itu sebenarnya bisa dimengerti bahwa orang-orang itu mempunyai potensi bisa melihat gaib. Sebenarnya itu terjadi pada banyak orang, hanya saja tidak semua orang menyadarinya, tidak menyadari bahwa itu adalah potensi dirinya bisa melihat gaib, sehingga tidak dilatih.

Biasanya itu terjadi ketika kita sedang tidak sadar, ketika baru memejamkan mata, ketika dalam kondisi setengah tidur atau ketika baru terbangun dari tidur, ketika sedang melamun, atau bahkan ketika kita sedang dalam kondisi sibuk bekerja. Artinya, kondisinya terjadi ketika kita sedang tidak fokus berpikir tentang mahluk halus atau ketika pikiran kita sedang kendor, yang dalam kondisi itu sukma kita bekerja. Dalam kondisi yang tidak disengaja itu biasanya gambaran gaibnya hanya sekelebatan saja, tidak jelas.

Sebenarnya itulah yang dilatih dalam meditasi olah rasa, yaitu untuk dengan sengaja mengendorkan pikiran, belajar mengedepankan kepekaan rasa dan batin dan belajar fokus pada gambaran gaib yang diterima supaya gambaran gaibnya lebih jelas dan lebih mendetail, tidak lagi hanya sekelebatan saja dan tidak mengawang-awang, apalagi berilusi / berhalusinasi.

Latihan olah rasa adalah untuk
kita belajar memberdayakan kemampuan sukma kita yang adalah roh, supaya sukma kita bisa juga berperan sebagai roh, tidak lagi melulu terbelenggu secara biologis, supaya bisa juga mendeteksi dan melihat roh lain (melihat gaib) dan supaya bisa memberitahukan segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh panca indera biologis kita.

Jadi kalau anda mau melatihnya mungkin anda juga akan bisa melihat gaib (secara batin). Bisa dengan cara latihan khusus olah rasa atau cukup dengan anda berdiam diri
di luar rumah di malam hari membuka kepekaan rasa pada kegaiban di sekitar anda atau fokus pada khodam pendamping atau khodam benda gaib anda sendiri. Sesekali perlu juga sambil berdiam diri itu anda memejamkan mata. Kalau anda masih takut kepada gaib-gaib liar, setidaknya anda bisa kontak rasa dengan khodam anda, atau fokus kepada gaib-gaib yang tinggal di rumah anda untuk anda belajar mendeteksi keberadaannya dan untuk belajar bisa membedakan yang tidak baik yang harus anda usir.

Mengenai kekhawatiran terhadap mahluk-mahluk halus dan apakah anda dapat mengusir gaib-gaib yang tidak baik, itu tergantung kemampuan anda sendiri. Anda bisa melakukan pengusiran dengan bantuan khodam pendamping, khodam jimat atau pusaka. Kalau ingin melakukannya dengan kekuatan sendiri tapi belum mampu,
anda bisa menyambungkan kekuatan batin anda kepada Tuhan. Kalau anda mampu benar-benar menyambungkan kekuatan batin anda kepada Tuhan kami yakin anda akan mampu mengusir gaib-gaib yang tidak baik setinggi apapun kekuatannya. Kami anjurkan supaya anda menjaga ketersambungan anda dengan Tuhan. Caranya adalah dengan anda tekun dan rajin melakukan penghayatan kebatinan seperti dicontohkan dalam tulisan berjudul Kebatinan Dalam Keagamaan.




______





Tulisan singkat ini mudah-mudahan bisa memberikan gambaran kepada kita mengenai sikap hati dan batin orang jawa dulu sehari-harinya.

Biasanya rasa kekeluargaan dan rasa ikatan batin orang-orang jawa dulu itu cukup kuat, terutama para anggota masyarakat yang tinggal di desa yang sama. Apalagi bila disitu ada seorang sesepuh kebatinan yang mengayomi masyarakat dalam hal ibadah dan keagamaan, dan ada waktunya sendiri mereka bersama-sama beribadah menghadap kepada Tuhan di atas sana. Kegiatan-kegiatan itu membantu memperkuat
rasa kekeluargaan dan rasa ikatan batin orang-orang jawa antar sesama mereka.

Selain itu ada juga orang-orang yang secara khusus lebih mendekat lagi kepada sang sesepuh kebatinan. Biasanya selalu saja ada acara-acara yang mereka adakan sebagai sarana mereka untuk sering kumpul di rumah sang sesepuh seperti mengadakan acara gendingan, yaitu memainkan lagu-lagu jawa dengan alat-alat musik jawa. Pada jadwal waktu yang lain ada penyanyinya laki-laki.
Pada jadwal waktu yang lain lagi ada penyanyinya / sinden perempuan. Biasanya acara-acara seperti ini diselenggarakan pada malam hari.

Ada juga yang suka ngobrol dengan sang sesepuh untuk hal-hal yang umum sehari-hari. Misalnya masalah benih dan waktu menanam padi, tentang beternak ayam dan bebek, dsb. Tapi biasanya mereka akan belajar juga cara-cara mengobati orang sakit, mulai dari yang dengan ramuan herbal daun-daunan, akar-akaran, atau yang dengan sugesti kekuatan kebatinan, sampai yang dengan doa meminta langsung pertolongan kepada Tuhan. Kalau sudah bisa mengobati, mudah-mudahan bisa juga kemudian mereka menangkal.

Bila yang datang berkumpul adalah kaum perempuan dan ibu-ibu biasanya mereka mencari-cari acara untuk bisa belanja besar
bersama, masak besar bersama. Setelah dimakan bersama keluarga sesepuh kebatinan, mereka dan suami-suami mereka, sisa masakannya dibagi-bagi di antara mereka untuk mereka bawa pulang. Mereka semangat sekali bila akan ada acara besar di desa mereka, seperti acara sedekah bumi, ritual ucap syukur, dsb.

Dengan cara-cara normal seperti itu saja, dengan pergaulan normal, belajar mengobati dan menjalani ibadah menghadap kepada Tuhan mereka di atas sana, tanpa belajar khusus untuk menaikkan kekuatan sukma, sukma mereka sudah aktif bekerja, kekuatannya juga tinggi walaupun mereka sendiri tidak pernah mengukurnya, dan dengan kekuatan sukma mereka itu mereka sudah bisa mengusir mahluk halus, mengobati orang sakit, dsb.

Tapi juga sudah umum bila ada sesuatu yang bersifat pribadi seperti adanya rasa tertentu tentang sesuatu,
mereka hanya menyimpannya saja di dalam hatinya. Dirasa-rasa sendiri apa penyebabnya, kenapa. Atau hanya dibicarakan saja dengan teman dekat.

Selebihnya mereka akan merenungkan sendiri jawabannya.
Dalam merenung itu juga dilakukan tidak secara khusus, tapi bisa dilakukan di sela-sela bekerja di sawah, atau di malam hari di sawah saat mengontrol mengalirnya air irigasi di sawah mereka. Ide dan ilham dibiarkan mengalir sendiri. Dengan cara alami seperti itu saja mereka bisa menjadi peka rasa dan peka batin, peka firasat dan peka sasmita. 

Tidak buru-buru harus saat itu juga jawabannya harus ketemu. Mungkin saja ide dan ilham yang muncul malam itu adalah jawaban tentang sesuatu yang sudah terjadi jauh-jauh hari yang lalu. Jawabannya itu kemudian dirangkum sendiri di pikiran mereka, dirasa-rasa lagi, dibatin lagi, apalagi bila jawabannya itu ternyata berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya lebih tinggi lagi.

Itu adalah kehidupan yang umum pada jaman dulu. Tetapi yang banyak dikeluhkan orang / pembaca situs ini adalah sebagai orang jaman sekarang
mereka merasa sulit untuk bisa benar-benar peka rasa dan peka batin dan sulit untuk bisa menguasai latihan olah rasa di halaman ini hingga bisa mencapai hasil seperti di tahap akhir latihannya.

Orang-orang jaman sekarang harus menyadari bahwa sikap hidup dan sikap berpikir mereka sangat berbeda dengan orang-orang jaman dulu. Untuk tujuan latihan olah rasa setidaknya kita bisa perhatikan sikap hidup orang dulu itu. Untuk latihan olah rasa dan mengaktifkan indera keenam orang memang harus mengendorkan pikirannya, jangan malah keras berpikir. Itu adalah syarat yang harus terpenuhi. Dan dalam latihan-latihannya juga diusahakan di tempat-tempat yang cukup sepi dan gelap, yang menunjang aktifnya indera keenam, dan jangan dilakukan buru-buru seperti mengejar target.

Orang-orang jaman dulu memang tidak pernah secara khusus latihan olah rasa. Itu sudah terbentuk dengan sendirinya dalam kehidupan mereka yang harus terbiasa hidup di kegelapan hanya mengandalkan cahaya bulan dan api obor.



______





  Belajar Olah Rasa


Pada masa sekarang banyak orang yang ingin bisa melihat gaib, dikatakan melihat gaib dengan mata ketiga, sehingga mereka juga rela mengeluarkan sejumlah rupiah untuk bisa instan melihat gaib (walaupun akhirnya banyak juga yang kecewa karena tetap tidak bisa melihat gaib walaupun sudah banyak mengeluarkan rupiah).

Pengertian melihat gaib dengan mata ketiga di atas, yang pada masa sekarang banyak orang menyebutnya sebagai penglihatan mata ketiga, atau ilmu batin, atau ilmu mata batin, yang
dikatakan orang bisa melihat gaib dengan menggunakan cakra mata ketiga, adalah pengertian orang pada masa sekarang yang berorientasi hanya ingin bisa melihat gaib saja, yang menganggap kemampuan melihat gaib adalah sesuatu yang sangat istimewa, bahkan dikultuskan dan dikatakan sebagai kemampuan gaib tingkat tinggi,
yang sudah membuat banyak orang ingin bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga yang berada di dahi di antara 2 alis mata, yang umumnya pengertian itu berkembang di kalangan ilmu gaib dan ilmu khodam.

Pengertian itu tidak sejalan dengan pengertian di dunia keilmuan kebatinan dan spiritual karena umumnya cara itu sulit untuk dikembangkan untuk bisa melihat / mendeteksi kegaiban tingkat tinggi, sulit untuk bisa digunakan melihat dewa dan buto, apalagi untuk bertarung berkelahi (kontak energi) melawan mahluk halus tingkat tinggi sekelas dewa dan buto. Cara itu juga tidak mendatangkan pengetahuan gaib yang berdimensi tinggi, seperti pengetahuan tentang dewa dan wahyu dewa atau tentang rahasia kegaiban hidup lainnya yang mengantarkan orang menjadi waskita, tidak mengantarkan orang memiliki hikmat kebijaksanaan kesepuhan dalam dirinya, tidak menjadikan orang peka sasmita, tidak linuwih dan tidak waskita, sehingga untuk dipandang mumpuni orang akan banyak memunculkan dogma dan pengkultusan yang seringkali tidak sejalan dengan kondisi kegaiban yang sesungguhnya, mengada-ada, tetapi dogma dan pengkultusan itu harus dianggap sebagai benar.

Di dunia kebatinan dan spiritual, semua kemampuan melihat gaib, terutama melihat secara batin dan melihat secara roh, adalah apa yang disebut sebagai penglihatan mata ketiga , artinya orang mempunyai kemampuan untuk melihat sesuatu dengan selain mata wadagnya, yang kemampuan itu akan mendatangkan pengetahuan tersendiri, kebijaksanaan tersendiri, mendatangkan kebijaksanaan spiritual tentang kegaiban hidup dan kegaiban alam, yang akan mengantarkan seseorang memiliki hikmat kebijaksanaan kesepuhan dalam dirinya, menjadikannya lebih peka sasmita, menjadikannya lebih sepuh, linuwih dan waskita.

Begitu juga dengan indera keenam. Yang dimaksud indera keenam adalah kepekaan seseorang untuk bisa menginderai sesuatu yang tidak kelihatan mata, dan itu tidak harus orangnya bisa melihat gaib, karena pengertian indera keenam itu terutama adalah kemampuan peka rasa seseorang untuk bisa mendeteksi dan memahami sesuatu yang tidak tampak mata wadagnya, yang tidak dapat diinderai dengan panca inderanya. Kepekaan indera keenam banyak terasah pada orang-orang yang selalu menjaga kepekaan batinnya, yang selalu menjaga untuk selalu bisa peka rasa dan tanggap firasat, mengerti kegaiban, bukannya bisa melihat gaib tapi tidak tanggap sasmita dan tidak sepuh.

Pada orang-orang yang tekun mendalami kebatinan / spiritual dan tapa brata, peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, melihat gaib, terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan kemampuan yang tidak terpisahkan dari kegaiban mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi adalah kegaiban sukma yang terjadi dengan sendirinya sebagai efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual, laku prihatin, semedi dan tapa brata mereka.



Dalam keilmuan kebatinan dan spiritual,  yang  pertama  dan  yang  utama  harus dimiliki dahulu adalah  kepekaan rasa batin, dan sudah aktifnya indera keenam, bukan kemampuan melihat gaib, bukan juga pembukaan cakra-cakra tubuh.

Kepekaan rasa dan aktifnya indera keenam itu nantinya akan berlanjut dengan ide-ide / ilham yang mengalir di dalam pikiran yang
akan menginspirasi / mengantarkan seseorang pada pengetahuan
kebatinan dan spiritual yang lebih tinggi lagi.

Yang ditekankan sebagai tujuan dari olah rasa di halaman ini bukan hanya akan aktifnya indera keenam, tetapi secara keseluruhan adalah kepekaan seseorang dalam komunikasinya dengan sedulur papatnya sendiri sebagai sosok-sosok gaib pendampingnya (teman dari alam gaib) dan kepekaannya terhadap lingkungan / suasana gaib di sekitarnya, termasuk kepekaannya dalam menangkap / menerima rasa dan firasat dan
bisikan gaib / wisik / wangsit dari sekitarnya (tanggap sasmita).

Sesudah dengan kepekaan rasa seseorang dapat merasakan sesuatu yang bersifat gaib, yang tidak dapat diinderai dengan mata fisik, barulah kemudian itu dipertegas lagi dengan melihat gaib atau dengan cara-cara kebatinan yang lain. Kalau sudah terbiasa mengasah kepekaan rasa batin, biasanya sukma kita juga akan bekerja, sehingga walaupun tidak bisa melihat gaib, tetapi kita dapat juga mendeteksi keberadaan sesuatu yang gaib dan bisa terbayang sosok wujudnya seperti apa, termasuk sosok gaib yang berdimensi tinggi,
dan tujuan keberadaannya dan pesan-pesannya, jika ada.

Walaupun tidak harus, tetapi kepekaan rasa seringkali harus diasah melalui perkumpulan kebatinan / spiritual atau berkumpul dengan orang-orang yang sejalan dan gemar dengan hal-hal gaib.

Pada prinsipnya, berkomunikasi dengan sesuatu yang gaib, termasuk roh leluhur, adalah dengan cara kontak rasa dan batin.
Kalau sudah bisa melihat gaib, maka
komunikasinya bisa dilakukan dengan cara melihat gaib dan saling bertatap muka, seperti orang yang sedang mengobrol.
Kalau belum bisa melihat gaib, maka
komunikasinya dilakukan dengan cara kontak rasa dan batin.

Jika kita sudah mempunyai sesosok halus yang mendampingi kita, bisa sukma leluhur ataupun khodam pendamping, secara sederhana dan awam kontak batin bisa dilakukan dengan cara memperhatikan ketika ada bisikan gaib mengalir di pikiran atau hati kita, biasanya kita akan menyebut itu sebagai ide / ilham yang mengalir di pikiran kita, bisa juga bentuknya firasat dan mimpi. Mungkin saja itu adalah bisikan gaib yang diberikan oleh leluhur kita atau oleh sosok halus pendamping kita. Bisikan itu bisa tentang apa saja. Dengan begitu berarti kita sudah berusaha peka rasa, memperhatikan. Nantinya
kontak batin dan peka rasa itu bisa berlanjut menjadi seperti orang yang bertanya jawab. Tetapi usahakan untuk bisa fokus kepada sedulur papat kita sendiri, jangan kepada yang lain.

Orang-orang yang dikatakan bisa melihat gaib dengan cakra mata ketiga, sebenarnya bukanlah dengan cakra mata ketiganya itu ia melihat gaib. Orang bisa melihat gaib karena sudah aktifnya saraf-saraf imajinasi di kepalanya yang itu memudahkan pikirannya (pancernya) menangkap sinyal gaib dari sedulur papatnya atau dari khodamnya atau dari roh halus lain, sehingga orang tidak bisa melihat gaib hanya dengan cara membuka cakra mata ketiganya saja, saraf-saraf imajinasinya itu harus juga aktif. Tetapi jika saraf-saraf imajinasinya itu belum aktif, orang bisa belajar melihat gaib / mendeteksi kegaiban dengan rasa, dengan melatih saraf-saraf kepekaan rasa di dada. Sesudah itu tinggal dilatih untuk mendayagunakan saraf-saraf imajinasi yang ada di kepala, melihat secara batin.

Aktifnya saraf-saraf imajinasi itu adalah yang dengan sengaja dirangsang dalam orang bermeditasi untuk tujuan melihat gaib, atau dengan melatih kepekaan / olah rasa atau dengan cara orangnya membiasakan diri berdiam di tempat yang gelap dan sunyi (seperti di acara uji nyali di TV).


Berikut ini kami tuliskan cara latihan olah rasa untuk mempertajam kepekaan rasa,
belajar membuka diri terhadap kegaiban. Latihannya berupa beberapa tahapan meditasi sederhana yang masing-masing tahapan meditasinya mempunyai sasaran dan tujuan untuk dikuasai. Jika anda interest melatihnya, sebaiknya masing-masing tahapan meditasinya dilatih dengan seksama sampai masing-masing sasaran dan tujuannya tercapai, dan matang, bukan asal bisa.

Secara keseluruhan dari awal sampai akhir, tahapan, sasaran dan tujuan latihannya adalah sbb :
 1. Belajar membuka diri terhadap kegaiban, memisahkan antara pikiran dengan rasa dan batin.
 2. Belajar mendeteksi keberadaan "energi-energi gaib".
 3. Mengaktifkan kepekaan sukma dan batin dan latihan mengsugesti batin.
 4. Melihat gaib secara batin.
 5. Berkomunikasi dengan gaib.

Jika keseluruhan sasaran dan tujuan latihan di atas sudah berhasil anda kuasai, dan matang, berarti anda akan bisa menelisik sisi perkhodaman / kegaiban benda-benda anda. Syarat dasarnya, kendorkan pikiran. Tujuan akhirnya adalah supaya anda juga bisa berinteraksi batin dengan khodam-khodam jimat, pusaka atau khodam pendamping dan sedulur papat anda sendiri, atau mendeteksi keberadaan mahluk halus lain dan diharapkan anda juga bisa mengenal rasa mengenai sesuatu yang tidak baik untuk tujuan dihindari atau untuk diusir / dibersihkan (pembersihan gaib). Anda juga akan bisa berlaku sebagai konsultan supranatural untuk teman-teman anda.


Faktor terbesar yang menjadi penghalang pencapaian keberhasilan dari suatu laku meditasi adalah adanya khodam ilmu / pendamping atau adanya mahluk halus di dalam kepala atau badan (ketempatan mahluk halus) yang keberadaan mereka itu sering sekali memberikan rasa-rasa yang mengganggu, bisikan dan penglihatan gaib yang bersifat fiktif, ilusi dan halusinasi, terutama dalam meditasi mata terpejam. Mungkin malah sampai orangnya dibuat seolah-olah dirinya merogoh sukma, rohnya terbang ke langit atau berjalan-jalan di alam gaib atau berhalusinasi bertemu dengan sosok halus tertentu.

Karena itu bila anda sadar diri anda berkhodam sebaiknya sebelum bermeditasi anda sampaikan kepada khodam-khodam anda itu dan semua mahluk halus yang bersama anda supaya jangan memberikan gambaran dan bisikan gaib apapun. Perintahkan supaya mereka mengikuti saja jalan pikiran anda.

Sesudah diperintahkan begitu mudah-mudahan semua gaib yang bersama anda tidak akan memberikan halusinasi kepada anda, tetapi gaib yang di dalam badan / kepala, terutama yang jenisnya adalah sukma / arwah manusia, kemungkinannya akan tetap memberikan halusinasi, karena sudah watak dasarnya menipu dan menyesatkan. Karena itu atas adanya jenis sukma di dalam tubuh manusia Penulis menganjurkan untuk diisolasi dan dikeluarkan saja. Selebihnya tinggal anda sendiri untuk kritis membedakan mana yang nyata dan mana yang fiktif / ilusi, jangan sampai terbawa mengikuti yang sifatnya fiktif / menipu.
Usahakan untuk belajar bisa fokus kepada sedulur papat kita sendiri dalam hal inspirasi, ide dan ilham dan gambaran gaib, jangan kepada yang lain.


Untuk keberhasilan mencapai hasil latihannya Penulis memberikan masukan :

Secara keseluruhan, tujuan latihan olah rasa di halaman ini adalah untuk melatih kepekaan rasa kita dan untuk membangkitkan indera keenam kita atas segala sesuatu yang bersifat gaib, atas segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh panca indera kita. Jangan semata-mata ditujukan untuk langsung bisa melihat gaib.

Kepekaan rasa adalah dasar yang harus lebih dulu dikuasai. Kalau itu tidak bisa dikuasai, kemungkinan besar akan ada kesulitannya ketika kita ingin belajar yang lebih tinggi lagi. Sesudah bisa peka rasa akan lebih mudah untuk kita mempelajari yang lainnya, apalagi jika ingin mempelajari yang lebih tinggi lagi.

Yang jangan sampai dilupakan adalah bahwa latihan olah rasa
di halaman ini, termasuk sampai tujuan bisa melihat gaib, didasarkan pada keilmuan kebatinan, harus dilakukan dengan sugesti kebatinan, harus ada penghayatan pada setiap tahapan lakunya. Karena itu jangan terburu-buru melakukannya, dan jangan terburu-buru ingin cepat mencapai hasil.

Meditasi olah rasa
di halaman ini jangan disamakan dengan meditasi mengheningkan cipta atau meditasi-meditasi lain yang biasa diajarkan orang, dan jangan disamakan dengan hanya mewirid doa / amalan. Meditasi di halaman ini punya tujuan dan metode sendiri dan menjalankannya harus dengan rasa kebatinan. Semua lakunya harus dihayati.



Latihan olah rasa ini diawali dengan meditasi sederhana untuk latihan mempertajam kepekaan rasa pada ujung-ujung jari tangan kita, belajar membuka diri terhadap kegaiban.

Latihan awal dalam latihan olah rasa ini adalah untuk belajar memisahkan pikiran dan perasaan, dengan belajar memfokuskan batin pada kepekaan untuk merasakan adanya setruman listrik halus pada benda jimat / mustika / akik/ pusaka sebagai tanda / indikasi bahwa benda itu berpenghuni gaib (ada kandungan energinya).

Latihan ini adalah cara sederhana untuk mendeteksi apakah sebuah benda ada isi gaibnya ataukah kosong. Latihan dasar ini tidak ditujukan khusus untuk mengetahui / melihat sosok gaibnya atau kegunaannya. Tetapi bila kepekaan batin / rasa sudah terbentuk, biasanya juga dapat terbayang sosok gaibnya dan kegunaan / tuahnya.

Meditasi dalam latihan awal ini bisa dilakukan dengan duduk di kursi ataupun duduk bersila, bisa dilakukan kapan saja siang atau malam, tidak perlu mematikan lampu dan tidak harus memejamkan mata, bisa 5 menit atau lebih (terserah anda) dan bisa dilakukan sambil berdoa / zikir.
Kendorkan pikiran, biar rasa dan batin yang bekerja.


Latihan Pembuka.

1. Duduklah santai dengan punggung ditegakkan, tetapi tidak tegang dan tidak juga terlalu santai.
    Kedua tangan diletakkan di atas paha dan terbuka menghadap ke atas.
    Ujung ibu jari (jempol) ditempelkan dengan ujung jari tengah.
    Pejamkan mata. Dalam kondisi terpejam, pandangan mata diarahkan santai ke bawah.


2.  Tariklah nafas panjang dengan halus dan lepaskan juga dengan halus. Lakukan dengan rileks.
    Rasakan jalannya nafas. Rasakan detak jantung anda.

3.  Tenangkan hati dan pikiran anda. 
    Sekalipun suasana tempat anda ramai, usahakan dapat mencari keheningan di dalam keramaian.
    Bisa juga sambil berdoa / zikir.

4.   Ulangi langkah-langkah di atas sampai anda dapat merasakan ketenangan dan keheningan dan
    bisa
merasakan setruman listrik halus di ujung ibu jari dan ujung jari tengah.
    Bila setruman itu sudah dapat dirasakan, teruskan saja sampai setrumnya terasa kencang di jari-jari
    tangan anda. Jari tengah kemudian bisa diganti dengan jari telunjuk atau jari manis atau tangan mengepal
    (jempol dimasukkan ke dalam kepalan), supaya 
semua jari dan kepalan tangan mendapatkan ketajaman
    rasa yang sama.


5.  Jika sudah dianggap cukup, sebagai penutup, bentangkan kedua tangan ke samping dan hiruplah udara
    bersih yang panjang
beberapa kali dan rasakan energi alam yang segar mengisi tubuh, hati dan pikiran
    anda dan setelah itu
anda merasa bersih, sehat dan segar dan siap kembali beraktivitas.


Laku meditasi di atas tidak perlu dilakukan berlama-lama, biasanya 5 - 15 menit saja sudah cukup dan bisa dilakukan dimana saja kapan saja, tidak harus melakukannya secara khusus di waktu dan tempat yang khusus, tidak harus malam hari, siang hari pun bisa.

Latihan awal olah rasa di atas tujuan utamanya adalah untuk kita belajar memisahkan antara pikiran dengan rasa dan batin, untuk belajar mengedepankan kepekaan rasa dan belajar memfokuskan rasa pada tangan.
Dengan cara itu fokus kita ada pada rasa , bukan pikiran.
Kalau anda masih kuat berfokus dengan pikiran, maka anda tidak akan merasakan apa-apa.
Kalau itu sudah bisa, sudah berhasl, berarti anda sudah berhasil memisahkan antara pikiran dengan rasa.
Kalau latihan itu sudah benar dikuasai, barulah kemudian anda melangkah ke latihan tahap berikutnya.


Latihan di atas adalah contoh sederhana untuk kita belajar memisahkan pikiran dengan perasaan. Karena sifatnya adalah pelajaran dasar, maka tulisan itu tidak untuk menuliskan tentang bagaimana secara ekplisit kita melakukan pemisahan pikiran dengan perasaan, atau tentang bagaimana menggunakan sugesti kebatinan sesudah kita bisa memisahkan pikiran dan perasaan. Tapi kalau kita sudah bisa memisahkan pikiran dan perasaan, sesudahnya kita bisa berimprovisasi sendiri untuk menggunakannya.

Kalau kita sudah bisa memisahkan pikiran dengan perasaan, atas adanya suatu masalah / beban pikiran dalam sekejap kita bisa membalik pikiran dan perasaan kita untuk tidak lagi memikirkannya. Memang tidak bisa 100% hilang dari pikiran dan perasaan, tapi setidaknya kita bisa tidak merasa tersiksa. Malah kita bisa bersyukur jika pernah berkesempatan merasakan manisnya. Pahitnya yang kita berusaha melupakan.
Dengan cara itu
kita bisa mengevaluasi dan "menikmati" penderitaan tanpa harus merasa menderita. Bisa juga dimanfaatkan untuk menganalisa / mengevaluasi masalah tertentu tanpa kita harus terbawa perasaan.

Kalau sudah bisa memisahkan pikiran dan rasa nantinya bisa dipraktekkan untuk kita memanipulasi pikiran kita sendiri. Dengan cara memanipulasi pikiran akan lebih mudah untuk kita bisa menghilangkan rasa sakit, sakit perut, pusing, dsb, dengan cara tidak merasakannya (tidak memikirkan rasa sakitnya, atau dengan cara mengalihkan pikiran memikirkan yang lain). Atau ketika sedang dipijat refleksi, atau sedang diurut karena keseleo, akan lebih mudah untuk kita tidak terlalu merasakan rasa sakitnya dengan cara tidak fokus kepada rasa sakitnya, tetapi dengan memikirkan hal yang lain atau sambil mengobrol.

Kita juga akan lebih mudah untuk memanipulasi pikiran kita sendiri untuk tidak berlarut-larut dalam rasa sedih ketika putus cinta atau kasus lain yang membuat kita stress / depresi (bahkan mungkin kita bisa membalik perasaan dan pikiran kita untuk seketika melupakannya). Juga dalam suasana yang berisik kita bisa tidak terganggu konsentrasinya, karena kita bisa mencari keheningan di dalam keramaian dan bisa tetap fokus kepada diri sendiri atau kepada sesuatu yang sedang kita kerjakan.

Biasanya orang laki-laki lebih kuat dengan pikirannya dan pikirannya kuat menyatu dengan perasaannya.
Sedangkan orang perempuan lebih dekat dengan perasaannya, mudah larut / terbawa perasaan, kurang kritis dalam menggunakan pikirannya, karena selalu melibatkan perasaannya.

Dalam latihan di atas yang bisa cepat merasakan efek setruman di jari-jari tangan biasanya adalah orang perempuan, karena secara alami perempuan memang lebih dekat dengan perasaannya, lebih mudah merasakan rasa. Sedangkan orang laki-laki
pikirannya kuat menyatu dengan perasaannya, diperlukan usaha yang lebih untuk bisa berhasil memisahkan pikiran dengan perasaan, harus benar-benar bisa mengendorkan pikirannya untuk bisa merasakan rasa (dan dalam laku kebatinan yang lain laki-laki harus bisa mengendorkan pikirannya untuk bisa mengedepankan batinnya).

Tetapi untuk bisa memanipulasi pikiran biasanya laki-laki lebih mudah melakukannya, karena secara alami laki-laki lebih dekat dengan pikirannya dan lebih kritis dalam menggunakan pikiran, sedangkan perempuan lebih sering terbawa / larut dengan perasaannya. Karena itu diharapkan yang perempuan jangan lagi mudah terbawa perasaan, harus
bisa memisahkan pikiran dengan perasaannya, dan bisa fokus mengedepankan pikirannya, sehingga ia akan bisa lebih kritis, bisa mengedepankan pikirannya, atau jika diperlukan ia akan bisa memanipulasi pikirannya.



Set
elah tahapan latihan di atas sudah anda kuasai, sesudah anda bisa merasakan adanya setruman halus di ujung-ujung jari tangan anda, maka anda sudah bisa lanjut ke latihan berikutnya untuk mengimplementasikan hasil latihan tersebut.


Latihan selanjutnya adalah implementasi dari hasil latihan pertama di atas untuk belajar merasakan adanya setruman listrik halus pada benda jimat / mustika / pusaka sebagai tanda bahwa benda itu berpenghuni gaib (ada kandungan energinya). Lebih mudah jika anda menggunakan batu akik berkhodam milik anda sendiri. Kalau tidak punya, anda bisa meminjam milik teman anda.

Pada latihan tahap berikut ini latihannya diarahkan untuk lebih dalam lagi mengasah olah rasa dan batin, karena itu sebaiknya tahap demi tahap latihannya bisa dikuasai dengan baik sebelum mencoba tahapan latihan yang berikutnya.

Sebaiknya latihannya tidak dilakukan dengan mata terpejam, karena kondisi mata terpejam bisa mendorong munculnya ilusi dan halusinasi. Juga tidak harus dilakukan dengan duduk bersila, bisa dilakukan dengan berdiri atau bergerak berjalan menyesuaikan dengan kondisi dan sugesti dalam latihannya. Tetap kendorkan pikiran, biar rasa dan batin yang bekerja, fokuskan batin kepada proses latihannya.

Untuk tujuan mendeteksi sosok-sosok gaib berikut gambaran sosok wujudnya lebih baik dilakukan dengan mata terbuka. Tetap fokus pada kepekaan dan penglihatan batin. Kalau dilakukan dengan mata terpejam kemungkinannya yang akan anda dapatkan adalah gambaran gaib yang bersifat perlambang saja, atau pencitraan, bukan gambaran asli sosok wujudnya.

Sebaiknya sebelumnya kita oleskan minyak jafaron merah di tangan, perut, punggung dan leher kita untuk menjauhkan mahluk halus berenergi negatif dan yang golongan hitam dari sekitar kita, untuk meminimalisir resiko dari keberadaan mereka (lebih baik lagi kalau mandi dulu dengan campuran minyak jafaron).

Tahapan latihannya adalah sebagai berikut :


Latihan Tahap 1.

Tenangkan hati dan pikiran.
Gunakan kepekaan rasa, fokus pada benda yang sedang dipegang.

Benda yang akan kita rasakan keberadaan isi gaibnya kita pegang dengan ujung ibu jari dan jari tengah, atau digenggam.

Untuk batu akik, bendanya
kita pegang dengan ujung ibu jari dan jari tengah, atau digenggam. Pegangan tangan rileks, tidak kaku / keras menggenggam. Kalau setrumannya kurang terasa, bendanya dapat digerak-gerakkan sedikit.

Untuk benda keris atau tombak dan sejenisnya, merasakan setrumannya harus di bagian logam kerisnya, bukan di gagang kayunya. Dengan hormat kita keluarkan kerisnya dari sarungnya, kemudian kerisnya dipegang dengan tangan kiri. Dengan jari tangan kanan cukup kita sentuhkan ujung jari kita pada bagian logamnya. Kalau setrumannya kurang terasa, sambil menyentuhkan ujung jari tangan ke logamnya ujung jari kita gerakkan menelusuri bilah keris, dari pangkal keris sampai ujungnya. Lakukanlah dengan cara santai dan sopan.


Bila benda tersebut berpenghuni gaib di dalamnya, biasanya akan terasa di tangan kita rasa setruman halus. Bila rasa setruman itu kurang terasa, anda dapat berkata dalam hati tetapi diarahkan kepada benda tersebut, kontak batin, seolah-olah anda berkomunikasi dengannya : " Jika batu / keris ini ada isi gaibnya, tolong berikan getaran kencang di tangan saya ".  Lakukan sugesti tersebut beberapa kali sampai anda yakin dengan rasa getaran di tangan anda.

Jika benda tersebut ada berpenghuni gaib, biasanya akan dapat dirasakan setruman energinya di tangan kita, bahkan ada yang sampai membuat genggaman tangan
terasa seperti keras kesemutan, atau pada bagian bilah keris bisa sampai terasa ujung jari kita seperti ditusuk-tusuk jarum atau seperti sengatan-sengatan listrik halus. Bila lama memegangnya akan terasa panas di tangan kita. Bila bendanya kosong tidak berpenghuni gaib, maka tidak akan ada rasa setrumannya.

Sesudah meditasi pembuka di atas yang untuk belajar merasakan setruman halus di ujung-ujung jari kita, biasanya sesudahnya ujung-ujung jari kita akan menjadi lebih peka. Bahkan ada orang yang terus merasakan adanya setruman ketika menyentuh benda apa saja. Dalam hal ini tangannya harus dinetralkan dari rasa-rasa setruman. Kalau perlu selama beberapa hari ia tidak lagi melatih tangannya itu, supaya netral dulu.

Dalam mendeteksi rasa setruman kita harus teliti menentukan rasa setruman yang kita rasakan di tangan kita itu, jika ada, apakah benar
rasa setrumannya berasal dari bendanya ataukah berasal dari tangan kita sendiri, jangan sampai keliru. Dalam hal ini kita harus fokus pada rasa setruman yang asli berasal dari bendanya, bukan sekedar pada adanya rasa setruman di tangan kita. Jangan sampai benda-benda yang kosong dan tidak berenergi pun di tangan kita terasa ada setrumannya.

Masing-masing benda yang berpenghuni gaib akan memberikan rasa setruman yang berbeda-beda. Ada yang
setrumannya halus tipis, ada yang keras terasa. Halus atau kerasnya rasa setruman itu tidak menandakan tingkat kesaktian atau kekuatan gaib di dalamnya, tetapi hanya menandakan perangai isi gaibnya yang halus ataukah berwatak keras. Sosok gaib yang berwatak keras akan memberikan rasa getaran / setruman yang lebih keras daripada yang berwatak halus. Selain itu, benda yang khodamnya selalu berada di dalam bendanya akan memberikan rasa setruman yang lebih keras dibanding benda yang khodamnya sudah keluar dari bendanya mendampingi pemiliknya. Benda yang isinya jenis sukma manusia, walaupun sebenarnya kekuatannya tinggi sekali, lebih halus setrumannya (hampir tidak terasa) dibandingkan benda yang berisi khodam bangsa jin. Karena itu benda yang rasa setrumannya lebih keras bukan berarti khodamnya lebih sakti, tetapi hanya menunjukkan bahwa bendanya mengandung "energi".


Sesudah bisa merasakan rasa setrumannya dengan cara menyentuhkan jari atau dengan menggenggamnya, latihannya kita lanjutkan dengan tidak menyentuhnya, dilakukan dalam jarak satu atau dua centimeter dari bendanya.

Dengan ujung jari atau telapak tangan yang ter
buka dalam jarak satu atau dua centimeter dari bendanya kita coba merasakan setrumannya. Jika setrumannya kurang terasa, ujung jari atau telapak tangan kita bisa kita gerakkan berputar ke kanan-kiri atau digerakkan maju-mundur sampai setrumannya terasa di ujung jari atau di telapak tangan kita. Selain rasa setrumannya, biasanya juga kita akan bisa merasakan hawa panas atau dingin energi benda tersebut.

Secara umum pada posisi keberadaan mahluk halus orang akan bisa merasakan adanya hawa panas / dingin yang adalah tanda dari keberadaan energinya. Jika dalam latihan di atas kita sudah bisa merasakan adanya rasa setruman listrik halus di tangan kita, berarti tingkat kepekaan kita sudah lebih baik daripada kondisi orang awam yang hanya
merasakan adanya hawa panas / dingin saja.

Jika anda sudah cukup mahir, cara itu dapat digunakan untuk merasakan posisi keberadaan sesosok mahluk halus di dalam suatu ruangan di rumah anda atau di lokasi tertentu. Julurkan tangan anda ke posisi-posisi tertentu di tempat-tempat yang diduga ada keberadaan sesosok mahluk halus. Dengan rabaan telapak dan ujung-ujung jari tangan kita coba merasakan posisi tempat keberadaan sosok gaibnya.

Pada bagian ruangan yang tepat di posisi itu berpenghuni gaib kita akan merasakan bukan hanya rasa panas / hangat / dingin dari hawa energi si mahluk gaib, tetapi juga rasa setruman dari energinya di tangan kita. Cobalah beberapa kali di posisi lainnya. Posisi dimana suatu mahluk halus berada akan memberikan rasa yang berbeda dengan posisi lain yang tidak berpenghuni mahluk halus.

Bila kepekaan
batin / rasa sudah terbentuk, biasanya juga terbayang sosok wujud gaibnya dan tujuan keberadaannya disitu dan anda juga dapat merasakan adanya rasa tertekan di dada. Jadi setelah dengan rabaan tangan itu anda bisa merasakan adanya sesuatu yang gaib, rabaannya diteruskan sampai di pikiran anda tergambar sosok wujudnya.

Contoh lainnya, misalnya saja ada orang yang mengatakan bahwa kita berkhodam sesosok gaib di sebelah kanan kita.

Kita coba mendeteksi keberadaan khodam kita itu dengan rabaan tangan ke arah kanan kita. Kalau dengan rabaan tangan itu kita tidak mendeteksi adanya energi dari keberadaan khodam kita itu, maka kemungkinan besar khodam itu tidak ada. Berarti penglihatan gaib orang itu tentang khodam kita itu mungkin salah.

Kalau dengan rabaan tangan kita itu benar
kita mendeteksi adanya energi dari keberadaan khodam kita itu, maka mungkin khodam itu memang ada. Berarti penglihatan gaib orang itu tentang khodam kita itu mungkin benar. Tetapi mengenai benar tidaknya sosok wujudnya masih harus kita pertegas lagi gambaran gaibnya.

Sesudah terdeteksi bahwa di posisi rabaan tangan kita itu benar terasa ada sesuatu yang gaib, rabaan energi dengan tangan kita itu kita teruskan sampai tergambar sosok wujudnya di pikiran kita. Sesudah tergambar sosok wujudnya dan ditambah dengan kepekaan rasa untuk mengetahui tujuan keberadaannya barulah kemudian kita bisa mengambil kesimpulan apakah benar diri kita berkhodam dan apakah benar sosok wujud khodamnya sama dengan yang disampaikan oleh orang itu, ataukah sebenarnya diri kita sedang diikuti mahluk halus karena kita
ketempelan / kesambet / diguna-guna / dipelet, dsb. Gunakan kepekaan rasa, jangan dengan keras berpikir.

Cara di atas juga dapat dilakukan pada jarak sejengkal sampai satu meter dari tubuh seseorang di bagian depan, belakang, samping kanan / kiri tubuhnya, untuk mendeteksi apakah seseorang ada diikuti oleh sesosok gaib (ketempelan / kesambet / guna-guna / khodam pendamping / ketempelan benda gaib, dsb).

Jika sudah mahir dengan kepekaan rasa di atas, c
ara ini dapat digunakan untuk merasakan keberadaan suatu mahluk halus di tubuh kita sendiri ataupun di tubuh orang lain, jika ada, untuk mengetahui apakah sakit yang sedang kita alami atau yang sedang diderita oleh seseorang adalah sakit fisik biasa saja ataukah sebenarnya karena adanya pengaruh energi negatif dari sesosok gaib di tubuhnya (ketempelan / ketempatan / kesambet / diguna-guna). Dengan telapak dan ujung-ujung jari tangan kita coba merasakan di posisi sakitnya untuk mendeteksi keberadaan gaibnya. Bila cara ini dilakukan terhadap bagian tubuh seseorang, lakukanlah pendeteksian pada jarak beberapa sentimeter dari kulitnya (sopan).

Kalau anda sudah pernah meminta dibuatkan pagaran gaib untuk diri anda (kepada khodam benda gaib atau kepada khodam pendamping), anda bisa mencoba mendeteksi apakah pagaran gaibnya benar sudah dibuat.
Caranya, anda coba rasakan (dicari) keberadaan energi pagarannya, mungkin rasanya panas atau terasa seperti rasa setruman di tangan anda, diraba dari badan anda sampai jarak terjauh jangkauan tangan anda, tergantung bentuk pagarannya. Begitu juga caranya untuk mendeteksi adanya pagaran gaib pada rumah atau pada orang lain.

Dengan cara perabaan dan kontak energi dengan keberadaan khodamnya itu kita tidak mengawang-awang, bisa jelas apakah di posisi rabaan tangan kita itu benar ada sesuatu yang gaib, mudah-mudahan juga bisa jelas tergambar sosok wujud gaibnya dan dengan kontak batin bisa kita tanyakan langsung apa saja tuahnya.


Harus diperhatikan

Cara mendeteksi langsung posisi keberadaan mahluk halus adalah termasuk cara yang berbahaya. Lakukanlah secara hati-hati dan sopan. Lakukanlah di dalam / di lingkungan rumah anda sendiri, jangan langsung mendatangi tempat-tempat yang angker. Pada saat kita latihan tersebut, jangan berpikir dan bersikap bahwa kita akan melawan mahluk halus tersebut
atau adu kuat, sok berani dan tidak takut, apalagi menantang, tetapi tanamkan dalam hati bahwa kita hanya berusaha untuk belajar mendeteksi. Jika selama berada di tempat tersebut kita merasakan rasa merinding dan rasa takut yang mencekam, itu berarti ada mahluk
halus yang tidak suka dengan kehadiran kita. Untuk amannya, sebaiknya kita menyingkir saja.
Yang penting : sama-sama selamat

Sebaiknya sebelumnya kita oleskan minyak jafaron merah di tangan, perut, punggung dan leher kita untuk menjauhkan mahluk halus berenergi negatif dan yang golongan hitam dari sekitar kita, untuk meminimalisir resiko negatif dari keberadaan mereka.




Latihan Tahap 2.

Latihan tahap 2 ini tujuannya adalah untuk kita belajar mendeteksi dari jauh adanya sesosok mahluk halus dari keberadaan energinya. Kita belajar kontak rasa dan belajar mengaktifkan kepekaan rasa batin.

Jika digunakan untuk mendeteksi keberadaan sesosok mahluk halus di rumah kita, kita melakukannya dari jauh, dari jarak 2 atau 3 meter atau lebih jauh lagi, tidak mendatangi posisi keberadaannya.
Jika digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya khodam pada sebuah benda gaib batu akik atau pusaka, kita melakukannya dari jauh juga, dari jarak 2 atau 3 meter atau lebih jauh lagi, tidak memegang bendanya.

Bila kita sudah cukup mahir melakukan latihan tahap 1 di atas dan bisa dengan tepat menentukan posisi keberadaan suatu mahluk halus, latihan deteksi itu kita tingkatkan lagi kualitasnya dalam latihan ini dengan melakukannya dari jarak yang cukup jauh dari target sasaran yang akan kita deteksi, tidak harus kita datang mendekat dan menyentuhnya.

Sebagai latihan
awal tahap kedua ini, kita lakukan dulu latihan tahap 1 di atas sampai mahir, yaitu mendeteksi keberadaan suatu mahluk gaib dengan mencari rasa setruman energinya di tangan kita. Cobalah kita bedakan dengan lokasi lain di dekatnya sampai kita yakin bahwa disitu benar terdapat "sesuatu" yang "gaib". 

Kemudian kita coba dari jarak beberapa meter dari lokasi tersebut, julurkan tangan anda dan salurkan energi anda melalui tangan anda dan sugestikan atau bayangkan dalam pikiran bahwa tangan anda terjulur dan bisa mencapai target sasaran dan energi anda bisa bersentuhan dan bisa merasakan keberadaan energi gaibnya dan bandingkan dengan posisi lain di sekitarnya. Energi di tangan anda disugestikan hanya bersentuhan saja dengan energi mahluk gaibnya, tidak mendorong / menekan / menyerang.

Perhatikan rasa di tangan dan rasa di dada  mengenai jawaban keberadaan mahluk halus tersebut.

Pada posisi tempat yang berpenghuni gaib kita akan merasakan adanya setruman halus di jari-jari tangan kita, juga ada rasa berat tertekan di dada kita. Rasa itu tidak akan kita dapatkan dari lokasi / posisi lain yang tidak berpenghuni gaib.

Bila menggunakan benda-benda gaib seperti keris atau batu akik, sama dengan cara latihan sugesti di atas cobalah anda rasakan keberadaan energinya, dari jarak dekat dulu, kemudian dicoba lagi sampai jarak yang lebih jauh, dari jarak sejengkal sampai jarak beberapa meter. Lebih baik
lagi kalau anda bisa merasakan persentuhan energi anda dengan energi bendanya dan bisa merasakan adanya rasa tertekan di dada. Cara itu adalah untuk menguji seberapa jauh kepekaan anda dalam mendeteksi keberadaan energi gaib dari pancaran energinya.

Kalau belum bisa, sebaiknya dilakukan sama dengan
cara di atas, julurkan tangan dan salurkan energi anda melalui tangan anda dan bayangkan dalam pikiran anda bahwa tangan anda terjulur dan bisa mencapai target sasaran, bayangkan tangan anda menggenggam bendanya dan anda bisa merasakan keberadaan energi gaibnya berupa rasa kesetrum, rasa panas, dsb (bayangkan tangan anda terjulur dan bisa memegang / menyentuh bendanya). Cara ini juga bisa untuk mendeteksi dari jauh apakah ada pagaran gaib di rumah anda.

Kalau latihan tahap 2 ini berhasil anda lakukan berarti anda sudah belajar mengaktifkan kepekaan rasa batin dan sudah belajar kontak rasa.

Catatan :
Bila diri anda mempunyai pagaran gaib, pagaran gaib itu bisa mengurangi / menghambat peka rasa anda. Anda harus bersugesti bahwa tangan anda terjulur keluar dari pagaran gaibnya dan sampai kepada targetnya.



Latihan Tahap 3.

Setelah cukup mahir dengan latihan
tahap pertama dan kedua di atas, cobalah latihan tahap ketiga.

Pada tahapan ketiga ini kita melatih kontak rasa sambil memperhatikan rasa di dada , yaitu rasa berat dan tertekan di dada ketika anda melakukan latihan cara pertama dan kedua di atas.

Latihan tahap ketiga dilakukan dengan tidak menjulurkan tangan.

Cukup sugestikan / bayangkan tangan anda terjulur mencapai target sasaran dan bisa merasakan keberadaan energi gaibnya sambil memperhatikan rasa di dada.

Latihan
ini bisa juga dilakukan dengan mengedepankan rasa di dada, dengan menekan rasa di dada atau dengan membusungkan dada seolah-olah membenturkan rasa di dada dengan keberadaan energi mahluk halus di hadapan kita. 


Dengan latihan ini kita belajar peka / kontak rasa terhadap suasana gaib di sekitar kita.

Di dalam ruangan / lokasi tempat latihan pertama di atas, tanpa menjulurkan tangan, cobalah fokuskan rasa pada posisi tertentu yang sebelumnya sudah terdeteksi berpenghuni gaib, kemudian dicoba lagi pada 
posisi lainnya. Ketika konsentrasi anda terfokus pada posisi yang benar berpenghuni gaib, anda akan merasakan getaran dan rasa berat di dada. Coba juga dibayangkan wujud sosok gaibnya seperti apa (tetap kendorkan pikiran, biar rasa dan batin yang bekerja).

Jika dalam latihan di atas anda sudah dapat merasakan rasa berat tertekan di dada, di saat lain ketika anda sedang berada di dalam suatu ruangan atau lokasi yang berpenghuni gaib, biasanya secara otomatis anda akan merasakan rasa berat tertekan di dada. Kendalikan rasa tertekan di dada itu dengan cara menekan nafas (bukan menghembuskan nafas, tetapi menekan nafas) dan otot perut dikeraskan. Setelah kondisi anda normal kembali, latihan berikutnya dapat dimulai kembali.

Bila kita telah mendapatkan suatu posisi yang berpenghuni gaib, sambil berdiam diri, lakukan terus fokus rasa di atas dan cobalah untuk membayangkan sosok gaibnya seperti apa (biarkan rasa dan ilham mengalir sendiri memberikan suatu bayangan gaib, jangan kita membayang-bayangkan sosok gaibnya, jangan ber-ilusi).
Latihlah terus sampai anda yakin berhasil menguasai tahap ketiga latihan ini.


Cara ini juga bisa untuk mendeteksi kondisi pagaran gaib anda atau rumah anda, cukup dengan cara membayangkan tangan anda terjulur mencari keberadaan dinding pagarannya, cobalah dideteksi bagaimana bentuknya, apa warnanya, bagaimana kekuatannya, energinya keras / lembek / kenyal, dsb. 

Setelah anda cukup mahir dengan tahapan ketiga ini, dengan bersugesti memfokuskan rasa batin, anda akan dapat mendeteksi keberadaan mahluk gaib di sekitar anda, atau
mendeteksi keberadaan mahluk halus di suatu tempat hanya dengan berdiam diri saja, atau dengan melihat lokasinya saja dari jauh, atau hanya dengan melihat fotonya saja, atau hanya dengan membayangkan suatu lokasi yang sudah pernah anda lihat sebelumnya, atau membayangkan lokasi yang disebutkan oleh orang lain yang bertanya kepada anda, dengan mengsugesti diri untuk fokus berkontak batin atau kontak rasa dengan mahluk gaibnya atau dengan lokasinya.



Latihan Tahap 4.

Pada tahapan ini kita tingkatkan kualitas kemampuan kita di atas, yaitu selain mempertajam kepekaan rasa tentang posisi keberadaan sesosok mahluk halus dengan rasa tertekan di dada, juga mempertajam kepekaan rasa untuk mendapatkan informasi mengenai seperti apa wujud sosok gaibnya (melalui ilham gambaran gaib yang mengalir dalam benak kita) dan belajar berkomunikasi langsung dengan sosok gaibnya.

Usahakan untuk tidak mengedepankan pikiran, tetapi satukan rasa dengan keberadaan sosok gaibnya.

Jangan kita membayang-bayangkan sosok wujudnya. Jika gambaran sosok
gaibnya belum didapatkan,
belum terbayang di pikiran anda, fokuskan saja rasa batin anda untuk terus kontak rasa dengan keberadaan energinya (tetap kendorkan pikiran, biar rasa dan batin yang bekerja).

Jika kemudian gambaran sosok
gaibnya sudah didapatkan, sudah terbayang di dalam pikiran anda, walaupun samar, fokuskan penglihatan batin anda pada gambaran sosok tersebut, usahakan untuk bisa lama berfokus batin memperjelas gambaran sosok gaibnya itu, jangan hanya sekelebatan saja (untuk memperjelas gambarannya jangan menggunakan pikiran, tapi tetap dengan fokus batin pada gambaran sosok gaibnya). Jika anda sudah berhasil menguasai latihan ini berarti anda sudah bisa melihat gaib secara batin.

Dengan kata lain pada tahapan awal latihannya kita mematangkan kepekaan rasa untuk mendapatkan gambaran gaibnya, yaitu dengan latihan mengawang-awang seperti orang melamun. Nantinya sesudah gambaran gaibnya terbayang di pikiran kita, itu ditindaklanjuti dengan kita fokus pada gambaran gaib yang sesungguhnya, jangan lagi mengawang-awang.

Jika dalam proses ini anda
merasakan rasa takut, atau merasakan rasa yang tidak baik, sebaiknya jangan diteruskan. Mungkin sosok gaibnya memang tidak baik dan berbahaya, atau dia tidak suka berinteraksi dengan kita.

Cara yang lebih aman adalah menerawang kondisi pagaran gaib anda atau rumah anda, dicoba dideteksi bagaimana bentuknya, apa warnanya, bagaimana kekuatannya, energinya keras atau kenyal, dsb. 

Cara yang juga cukup aman adalah menerawang sosok gaib dari sebuah benda gaib milik kita sendiri, seperti keris, batu akik atau mustika, atau bisa juga dilakukan kepada sosok khodam pendamping, jika kita memilikinya. Usahakan untuk tidak mengedepankan pikiran, tetapi satukan rasa dengan keberadaan energi dan sosok gaibnya.

Untuk benda-benda gaib kita seperti keris dan batu akik, dengan cara perabaan pada bendanya kita bisa mendeteksi keberadaan energinya apakah benda gaib kita itu benar berkhodam ataukah kosong isinya.

Jika bendanya kita deteksi benar berkhodam, kita pegang terus bendanya sambil kita kontak rasa dengan energinya sampai terbayang sosok wujud khodamnya di pikiran kita, kemudian barulah kita konsentrasi pada gambaran sosok wujudnya itu supaya lebih jelas lagi gambarannya, jangan hanya sekelebatan saja.

Atau, sesudah bendanya kita deteksi benar berkhodam, kemudian khodamnya itu kita perintahkan duduk di samping kita sehingga kita bisa mendeteksi energi keberadaannya dan kita bisa lebih jelas memandang sosok wujudnya.

Jika gambaran sosok gaibnya sudah didapatkan, walaupun samar, fokuskan penglihatan batin anda kepada sosok gaibnya itu untuk mempertajam penglihatan batin anda sampai jelas detail gambarnya, jangan lagi hanya sekelebatan saja. Dengan demikian kita tidak mengawang-awang, bisa mendeteksi keberadaannya dan bisa lebih jelas melihat wujud khodamnya dan dengan kontak batin bisa kita tanyakan langsung apa saja tuahnya.

Sambil kita fokuskan
penglihatan batin kepada sosok gaibnya itu kita sampaikan pertanyaan-pertanyaan kita mengenai bendanya kepada sosok gaibnya itu, ajaklah berkenalan, tanyakan apa saja tuahnya, apa saja sesajinya, bagaimana kecocokkannya dengan anda, dsb, dengan cara berkata-kata di dalam hati tetapi ditujukan kepada sosok gaibnya. Dengan cara ini selain kita belajar "melihat" secara batin, kita juga belajar "menyampaikan" komunikasi batin kepadanya dan belajar "mendengar" secara kontak batin jawaban komunikasi dari sosok gaibnya itu berupa ilham yang mengalir dalam benak kita. Selain itu cobalah menerapkan kepekaan rasa / insting untuk membaca kepribadiannya, apakah sosok halus itu adalah dari jenis yang baik ataukah dari jenis yang tidak baik yang harus dihindari. Lakukanlah dengan hormat dan sopan.

Dalam usaha anda berkomunikasi dengan gaib, sampaikan komunikasi anda itu (atau pertanyaan-pertanyaan anda) dengan kontak rasa langsung kepada sosok gaibnya. Fokus kepada sosok gaibnya, jangan mengawang-awang. Nantinya jawaban mereka akan seperti ilham yang mengalir di pikiran anda, jadi anda perlu mengendorkan pikiran seperti orang melamun untuk mendengarkan jawaban / komunikasi mereka.

Bila anda cukup mahir dengan tahapan keempat ini, berarti anda sudah melatih kepekaan dan ketajaman rasa batin. Bila dengan cara itu anda juga dapat mengetahui wujud sosok-sosok gaib yang anda temui (dengan ilham gambaran gaib yang mengalir di pikiran anda), berarti anda sudah memasuki tahapan cara melihat gaib secara batin, tinggal diperdalam saja, dimatangkan. Bila anda juga sudah bisa kontak batin bertanya-jawab dengan sosok gaibnya, bisa menyampaikan komunikasi dan bisa mendengarkan jawabannya, berarti anda sudah bisa berkomunikasi dengan gaib. Latihlah terus sampai mahir dan matang supaya itu bisa sempurna menjadi kemampuan anda pribadi.

Di saat yang lain anda bisa juga mempraktekan latihan mendeteksi gaib dan berkomunikasi dengan gaib di depan rumah, di kantor, di tempat wisata, dsb, dengan berdiam diri sejenak merasakan suasana gaib di tempat anda berada. Sebaiknya jangan melakukannya di tempat-tempat yang angker dan berbahaya.

Jika keseluruhan sasaran dan tujuan latihan di atas sudah berhasil anda kuasai, dan matang, berarti anda akan bisa menelisik sisi perkhodaman / kegaiban benda-benda anda. Tujuan akhirnya adalah supaya anda juga bisa berinteraksi batin dengan khodam-khodam jimat, pusaka atau khodam pendamping dan sedulur papat anda sendiri, dan diharapkan anda juga bisa mengenal rasa mengenai sesuatu yang tidak baik untuk tujuan dihindari atau untuk diusir / dibersihkan (pembersihan gaib). Jika itu sudah dikuasai nantinya anda akan bisa juga berinteraksi dengan mahluk halus yang lain lagi (atau dengan sukma / sedulur papatnya orang lain).

Setelah anda mahir dan menguasai semua sasaran dan tujuan latihan di atas, dan matang, intuisi anda akan tajam dalam banyak hal di kehidupan anda. Praktek penggunaannya juga bisa dilakukan kapan saja dan tidak harus dengan sikap khusus seperti kondisi latihan. Anda juga dapat
berlaku sebagai konsultan supranatural untuk teman-teman anda.


____



Jika anda sudah memiliki khodam pendamping, atau ada sesosok sukma leluhur yang sudah mendampingi anda, atau tinggal di rumah anda, sebaiknya anda
sendiri yang mencaritahu perihal kedatangan mereka dan "menyapa" mereka, jangan melalui orang lain, juga jangan melalui Penulis. Mereka akan menghargai kalau anda sendiri yang mencaritahu dan menyambut mereka (berarti anda perlu mendalami kemampuan untuk itu). Sama halnya ketika anda datang berkunjung kepada seseorang, anda akan lebih menghargai jika orang yang anda kunjungi itu sendiri yang menyambut kedatangan anda, bukannya ia menyuruh orang lain untuk menemui anda.

Setidaknya itu bisa menjadi sarana pemicu untuk anda belajar menayuh dan belajar olah rasa untuk bisa berinteraksi dengan mereka, tunjukkan juga sikap bahwa anda sudah mengetahui kedatangan mereka dan sampaikan juga terima kasih anda atas kesediaan mereka datang / mendampingi anda.


____



Olah rasa di atas yang berkenaan dengan pendeteksian dan komunikasi dengan sesuatu yang gaib bisa juga disebut tayuhan, yaitu menayuh dengan rasa. Jika anda masih kesulitan dalam mendapatkan hasil dari olah laku di atas, mungkin karena bentuk tatalakunya yang bermeditasi terasa agak formal, terasa agak kaku, anda bisa mencoba cara lain, yaitu dengan cara yang rileks santai.

Misalnya sambil anda menggenggam batu akik berkhodam milik anda, anda duduk santai bersandar, atau tiduran.
Kendorkan pikiran anda. Jangan keras berpikir. Sambill santai itu anda buka kepekaan rasa dan batin. Anda coba kontak rasa dengan "isi" batu akik anda. Kalau berhasil, nantinya akan ada kontak batin berupa tanya jawab seperti aliran ilham yang mengalir di pikiran anda. Mudah-mudahan nantinya bisa juga terbayang sosok wujud gaibnya. Kalau anda tertidur, mudah-mudahan anda akan bertemu dengan "isi" akik anda di dalam mimpi.

Memang tidak semua orang bisa mudah melihat gaib.
Kalau anda ingin belajar bisa melihat mahluk halus, anda harus
belajar membuka kepekaan rasa, jangan berkeras pada sikap berpikir, karena itu bisa menumpulkan kepekaan batin.

Dalam semua laku kebatinan dan spiritual kita harus mengedepankan rasa dan batin, bukan pikiran. Karena itu dalam proses latihan di atas kita harus mengedepankan
rasa dan batin, bukan pikiran. Biarkan ilham dan gambaran gaib mengalir sendiri di dalam pikiran kita. Jika dalam kondisi itu kita beralih menggunakan pikiran, maka kemudian aliran kontak batin itu akan terputus, sehingga terpaksa kita harus mengulang lagi dari awal. Kalau semuanya sudah dapat dimengerti dengan rasa dan batin, barulah kemudian dinalar dengan pikiran.

Kemampuan  menayuh gaib  (baca: Ilmu Tayuh Keris) dan kepekaan rasa  adalah satu kesatuan kemampuan yang seharusnya dikuasai oleh orang-orang yang interest dengan kegaiban. Kami harapkan kemampuan-kemampuan itu dapat juga anda kuasai, karena itu akan berguna sekali sebagai kemampuan dasar dalam hal mempelajari kebatinan dan kegaiban dan akan menjadi dasar untuk kemampuan yang lebih tinggi lagi bagi anda yang ingin mengerti atau interest dengan hal-hal gaib, apalagi jika anda memiliki benda-benda gaib dan khodam pendamping.



____



Catatan penting :

Kemampuan memiliki ilmu dalam olah sukma, termasuk melihat gaib / terawangan gaib seperti contoh di atas lebih banyak ditentukan oleh kegaiban sukma. Salah satu tanda bahwa sukma seseorang sudah memiliki kegaiban adalah sukmanya sudah bisa berperan sebagai roh, rohnya sudah bisa melihat / mendeteksi keberadaan roh-roh lain.

Setinggi-tingginya kekuatan sukma seseorang kemampuan sukmanya akan terbatas bila orang itu sendiri tidak melatih kegaiban sukmanya. Karena itu bila anda lebih termotivasi menaikkan kekuatan sukma anda, kemampuan anda dalam olah rasa mungkin tidak sejalan dengan tingginya kekuatan sukma anda. Olah rasa, olah batin dan kekuatan sukma harus dilatih sendiri-sendiri.

Orang-orang kebatinan jaman dulu memiliki kegaiban sukma yang tinggi dari lakunya oleh batin dan dari lakunya manembah, dari sukmanya yang menyembah Tuhan. Pada orang-orang itu peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, melihat gaib, terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan kemampuan yang tidak terpisahkan dari kegaiban sukma mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai efek dari kegaiban sukma mereka, efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual, laku prihatin, semedi dan tapa brata mereka.

Pada jaman sekarang ini salah satu cara kita melatih kegaiban sukma adalah dengan kita melakukan olah batin secara pribadi, dengan sering menjalankan puasa ngebleng, wetonan, dsb. Laku-laku itu jangan dijalankan secara biologis saja, jangan hanya sekedar menjalankan formalitas berpuasa saja, tetapi harus dijalankan dengan sugesti kebatinan, dengan sikap batin berlaku prihatin, karena pengaruh yang diharapkan adalah bersifat kegaiban roh / sukma, bukan biologis. Silakan dibaca uraiannya di tulisan berjudul Laku Prihatin dan Tirakat.

Cara lainnya adalah dengan tekun menjalankan apa yang tertulis di tulisan berjudul Kebatinan Dalam Keagamaan. Itu bisa menjadi sarana kita memperdalam laku ketuhanan yang bila itu tekun dijalani, dan cara dan hasilnya sesuai dengan yang dituliskan disitu, sukma kita bisa menjadi sukma yang berkegaiban tinggi.

Karena itu untuk orang-orang yang ingin bisa melihat gaib tetapi tidak juga berhasil bisa melihat gaib, termasuk walaupun sudah dibukakan mata ketiganya dan sudah menjalankan latihan olah rasa di atas, lebih baiklah bila ia melatih kegaiban sukmanya dulu dengan cara-cara yang disebutkan di atas untuk lebih dulu ia menggali potensi kegaiban rohnya.



____




  Berkomunikasi Dengan Gaib.


Pada prinsipnya, berkomunikasi dengan sesuatu yang gaib, termasuk roh leluhur atau khodam pendamping dan khodam benda-benda gaib, adalah dengan cara kontak rasa dan batin. Untuk bisa berkomunikasi dengan gaib itu tidak harus seseorang bisa melihat gaib, dan yang sudah bisa melihat gaib juga belum tentu bisa berkomunikasi dengan gaib.

Kalau sudah bisa melihat gaib, maka
berkomunikasinya itu bisa dilakukan dengan cara melihat gaib saling bertatap muka seperti orang yang sedang mengobrol.
Kalau belum bisa melihat gaib, maka
berkomunikasinya itu dilakukan dengan mengedepankan kontak rasa dan batin.

Bila kita berhasil menguasai tahapan ini berarti kita sudah belajar mempertajam kepekaan rasa batin, sehingga walaupun keberadaan suatu sosok mahluk halus tidak terasakan / terdeteksi kehadiran energinya dan tidak dapat dilihat dengan kemampuan melihat gaib (karena mahluk halus yang berkesaktian tinggi dan berdimensi tinggi semakin sulit dirasakan keberadaan energinya dan semakin sulit dilihat dengan penglihatan gaib mata ketiga), tetapi kita akan bisa mendeteksi keberadaannya dari adanya benturan energi di dada, dari adanya rasa berat di dada, pada jarak yang cukup jauh (sebelum muncul rasa merinding)  dan bisa juga terbayang sosok wujudnya seperti apa. Sesudah terbayang bentuk awal sosok wujudnya barulah kemudian kita fokuskan batin kepada sosok gaibnya itu untuk menegaskan lagi detail sosoknya seperti apa.

Kalau jaraknya dekat kita bisa mendeteksi keberadaannya dengan merasakan keberadaan energinya secara langsung dengan rabaan tangan kita. Kalau jaraknya jauh maka kita menggunakan sugesti olah rasa di atas untuk mendeteksi keberadaan gaib yang jaraknya jauh. Selain itu dengan kepekaan rasa kita juga bisa mengetahui tujuan keberadaan sesosok mahluk halus, baik atau bertendensi negatif, sifatnya berbahaya atau tidak, dsb.

Ketika sudah terbayang wujud sesosok mahluk halus (yang adalah pemberitahuan dari para sedulur papat), kemudian kita fokuskan batin untuk bisa lebih jelas lagi melihat detail sosoknya, supaya penglihatannya jelas, tidak mengawang-awang. Usahakan untuk bisa lama memfokuskan batin, jangan sekelebatan lagi.

Dengan kata lain, dalam proses awal melihat gaib di atas kita meminta diberikannya gambaran awal dari sedulur papat, tapi kemudian kita sendiri (pancer) pertegas sendiri gambaran gaibnya sampai lengkap. Artinya, dalam melihat gaib itu kemampuan kita yang utama adalah pada pancernya untuk bisa melihat gaib (supaya pancernya bisa juga berperan sebagai roh, jangan hanya berperan secara biologis saja). Kalau masih sekelebatan saja, berarti pancer kita masih belum aktif berperan sebagai roh, kita hanya bisa menerima bisikan / gambaran gaib saja dari sedulur papat.

Sambil melakukan itu usahakan untuk juga bisa merasakan sifat-sifat watak mahluk halusnya, baik / jahat, apa tujuan keberadaannya, dsb, dengan mendengarkan bisikan ilham di pikiran kita (yang juga adalah pemberitahuan dari para sedulur papat). Dengan cara itu pancer dan sedulur papatnya saling berinteraksi.

Di tempat lain yang berpenghuni gaib mungkin kita juga akan mendapatkan pemberitahuan yang sama dari para sedulur papat berupa rasa berat di dada, merinding, dan sekelebatan gambaran wujud sosok gaib di lokasi itu, juga ilham dan bisikan gaib berupa sifat-sifatnya apakah baik / jahat, berbahaya ataukah tidak, dsb. Sesudahnya barulah kita (pancer) pertegas lagi untuk melihat detail sosok wujudnya.

Dengan melakukan latihan di atas berarti kita sudah dengan sengaja berlatih mendengarkan dan "tanggap" atas informasi yang disampaikan oleh sedulur papat kita. Usahakan untuk sehari-harinya kita juga "tanggap" atas informasi pemberitahuan dan komunikasi dari mereka berupa rasa dan firasat, ide dan ilham (dan mimpi). Dengan berbuat begitu maka sukma kita secara keseluruhan akan aktif memberikan manfaat dalam hidup kita. Kecerdasan batin kita akan tinggi dalam banyak hal, ide dan ilham mengalir lancar, dan kita tidak akan menemukan kebuntuan dalam kesulitan.

Rasa berat di dada adalah benturan energi sukma kita (kesatuan pancer dan sedulur papat). Itu adalah dasar dari "kekuatan rasa". Jika anda sudah mempunyai kekuatan sukma yang cukup tinggi, dengan menekan rasa, dengan kekuatan rasa, anda dapat melakukannya untuk mengusir mahluk halus atau untuk melakukan pembersihan gaib. Untuk melakukan itu anda perlu lebih dulu "membangun" kekuatan sukma dengan latihan olah energi atau dengan laku kebatinan / spiritual yang lain. Usahakan untuk lebih dulu berlatih membuat pagaran diri sebagai benteng anda dalam berhadapan dengan sesuatu yang gaib (baca : Pagaran Gaib).



--------



Mungkin ada banyak kejadian dan fenomena yang anda alami ketika bermeditasi, yang Penulis tidak bisa menjelaskan satu per satu semua fenomena yang anda alami itu.

Latihan olah rasa di atas tujuannya adalah untuk mempertajam rasa dan insting dan untuk belajar fokus batin, jangan dipaksakan untuk langsung
bisa melihat gaib seperti melihat gaib dengan mata ketiga. Khusus untuk bisa melihat gaib dengan mata ketiga itu Penulis ada menuliskan meditasinya di bagian akhir halaman berjudul Terawangan / Melihat Gaib , tetapi untuk keberhasilannya dituntut ketekunan yang lebih, karena tidak selalu mudah bagi semua orang untuk bisa berhasil dan tidak semua orang berhasil melakukannya.

Dalam latihan olah rasa di atas melihat gaibnya adalah dengan kepekaan rasa dan kontak energi.
B
iarkan gambaran gaibnya mengalir di pikiran anda. Sesudah tampak gambaran gaibnya, barulah batin anda difokuskan kepadanya, sehingga penglihatan anda tidak mengawang-awang dan tidak berilusi. Jika anda sudah berhasil menguasainya maka kemampuan anda mendeteksi dan melihat gaibnya adalah yang disebut melihat gaib secara batin.

Rabaan tangan untuk mendeteksi keberadaan gaib yang kita lihat adalah untuk membantu kita supaya kita bisa lebih yakin dengan apa yang kita lihat dan bisa lebih pasti menentukan bahwa yang kita lihat itu benar ada dan benar berada di tempat posisinya yang kita lihat. Dengan demikian penglihatan kita itu tidak mengawang-awang dan penglihatannya benar, bukan ilusi / halusinasi.

Tujuan mendeteksi keberadaan energinya dengan tangan adalah untuk memastikan apakah benar sosok gaibnya itu berada di hadapan anda ataukah sebenarnya ada di samping kanan, kiri, dsb, sesuai gambaran gaib yang anda dapat, sehingga penglihatan gaib anda tidak mengawang-awang, ataukah sebenarnya mahluk halusnya tidak ada (hanya ilusi / halusinasi).
Jika anda sudah memiliki kekuatan kebatinan / spiritual atau tenaga dalam, dsb, yang cukup tinggi, maka dengan cara kontak energi itu anda akan bisa berinteraksi langsung dengan mahluk halusnya untuk tujuan berkomunikasi, atau bahkan untuk bertarung mengusirnya (pembersihan gaib).

Mungkin kita bisa melihat contohnya di televisi dimana Ustad Soleh Pati selalu melakukan kontak rasa dan kontak energi untuk mendeteksi / melihat gaib, berinteraksi dan berkomunikasi dengan sosok-sosok halus, atau untuk menangkap / mengusirnya. Itu bisa menjadi bahan motivasi untuk kita bisa juga seperti beliau.


Jika dalam latihan olah rasa di atas anda menggunakan benda-benda gaib, misalnya keris atau batu akik berkhodam, jika anda memegang bendanya, akan lebih baik kalau anda menyalurkan energi di tangan untuk merasakan persentuhan dengan energi bendanya. Dengan cara itu biasanya kemudian akan ada kontak rasa dan akan terbayang sosok gaibnya seperti apa, termasuk tuah dan kekuatannya.

Untuk menayuh benda-benda gaib melalui fotonya, akan lebih baik jika dilakukan dengan cara sambil anda membayangkan benda aslinya anda menyalurkan energi di tangan untuk bersentuhan dengan energi benda aslinya di dalam fotonya, bayangkan benda di dalam foto adalah benda aslinya, sehingga biasanya kemudian akan ada kontak rasa dan akan terbayang sosok gaibnya seperti apa, termasuk tuah dan kekuatannya. Dengan sambil membayangkan / bersugesti pada benda aslinya nantinya pada fotonya itu anda juga bisa merasakan rasa setruman halus, panas / dingin di tangan anda yang menandakan apakah bendanya itu mengandung energi / berkhodam. Begitu juga kalau melihat foto orang, cara di atas dilakukan sambil membayangkan orang aslinya, bukan sekedar memperhatikan fotonya.

Cara-cara latihan olah rasa di atas serupa dengan cara-cara olah rasa dalam menayuh keris. Untuk belajar olah rasa, selain mengikuti panduan seperti cara-cara di atas, sebaiknya anda juga belajar olah rasa dalam menayuh keris, panduan latihannya sudah dituliskan dalam halaman yang berjudul  Ilmu Tayuh / Menayuh Keris untuk menambah variasi latihan untuk kematangan anda.

Sebaiknya juga anda belajar menayuh untuk melengkapi cara-cara anda mencari jawaban atas sesuatu yang menjadi pertanyaan anda atau atas suatu kejadian yang anda alami. Dengan cara olah rasa dan menayuh itu nantinya anda akan semakin mudah mencari jawabannya sehingga akan lebih jelas juga dalam membuat kesimpulan berikut solusinya untuk ditindaklanjuti barangkali saja ada sesuatu yang penting yang harus segera anda tindaklanjuti.

Cara-cara latihan di atas juga akan melatih rasa kepekaan dan ketajaman batin kita dalam banyak hal, dan termasuk juga menjadi salah satu cara untuk belajar "mendengarkan" (membaca) pikiran orang lain.


Kelemahan melihat gaib secara batin adalah sifat penglihatannya yang dianggap tidak langsung, tidak seperti melihat dengan mata kepala kita,
seringkali terjadi pada para pemula, penglihatannya hanya bisa dibatin saja, mengawang-awang, tidak bisa dipastikan apakah yang dilihatnya itu sungguhan atau hanya halusinasi saja.

Kelemahan itu bisa diatasi kalau saja kita
bisa kuat lama dalam fokus batin (pancer) kepada sosok gaibnya dan bisa berinteraksi langsung secara energi (ada persentuhan / kontak energi) dengan sosok-sosok gaib yang kita lihat seperti dengan cara latihan di atas, sehingga kita dapat memastikan bahwa sosok gaibnya itu benar ada di tempat keberadaannya yang kita lihat ataukah sebenarnya hanya ilusi.

Pada orang-orang kebatinan jaman dulu, kegaiban batin dan sukma mereka selain bisa untuk mendeteksi suasana gaib di lingkungan mereka, mereka juga dapat menggerakkan kekuatan batin dan sukma mereka untuk mengusir / menyerang / menarik / menundukkan atau berkomunikasi dengan sosok-sosok gaib, sehingga kelemahan melihat gaib secara batin itu tidak berlaku bagi mereka. Kelemahan itu hanya terjadi pada orang-orang yang hanya mengandalkan kepekaan rasa dan batin saja dan tidak punya kemampuan lain yang lebih dari itu.

Karena itu sebaiknya kita juga melatih "membangun kekuatan gaib", dengan cara olah energi, dengan latihan tenaga dalam murni atau meditasi energi (baca: Meditasi dan Energi), atau cara-cara kebatinan lain yang ada.


Jika anda sudah berhasil membangun kekuatan gaib, sudah mempunyai suatu kekuatan yang bisa digunakan di alam gaib, latihan olah rasa ini bisa ditingkatkan kualitasnya untuk membentuk kemampuan anda "bermain" di alam gaib, yaitu dengan latihan yang dicontohkan dalam tulisan berjudul  Meditasi Olah Rasa dan Energi. Satu hal yang harus diperhatikan, gunakan selalu sebelumnya pagaran diri, dan jika naluri anda merasakan hal berbahaya, sebaiknya jangan diteruskan. Yang penting : sama-sama selamat.


Bagi anda yang sudah mengikuti pelatihan tenaga dalam murni, dalam rangka mendeteksi keberadaan mahluk halus di atas anda dapat memancarkan energi anda melalui telapak tangan dan usahakan peka rasa untuk merasakan adanya
persentuhan energi anda dengan energi sosok mahluk halusnya (sugestikan bahwa energi anda tidak bersifat menyerang atau mengganggunya, hanya bersentuhan saja). Dari persentuhan energi itu cobalah untuk menentukan bentuk wujud mahluk halus tersebut, besar-kecil tubuhnya, dsb.

Dalam penggunaan sehari-hari kepekaan rasa dapat digunakan untuk merasakan suasana alam di sekitar kita. Misalnya untuk mendeteksi rumah kita sendiri atau tempat kerja
kita apakah berpenghuni gaib, apakah ada gaib-gaib yang tidak baik, apakah ada yang berpengaruh negatif terhadap suasana kerja dan kerejekian, dsb. Ataukah ada orang lain yang menggunakan cara-cara kegaiban untuk tujuan yang tidak baik, seperti untuk pengasihan, pelet, kewibawaan, penundukkan, dsb. Itu berguna untuk kita melatih juga ketahanan terhadap pengaruh gaib, juga pembersihan gaib, kalau bisa, untuk menangkal / mengusir gaib-gaib yang ditujukan untuk mempengaruhi kita sendiri atau orang lain dalam bentuk pengasihan, pelet, kewibawaan, penundukkan, atau yang tujuannya membuat sakit atau yang tujuannya untuk menjatuhkan.

Atau jika
ada anggota keluarga atau teman
kita yang sedang sakit. Dengan kepekaan rasa kita bisa mengetahui apakah anggota keluarga atau teman kita itu sakit fisik biasa dan alami saja ataukah sakit karena adanya gangguan / ketempelan / kesambet mahluk halus. Dengan demikian kita menjadi lebih tahu cara menyembuhkannya, apakah harus dibawa ke dokter ataukah harus dengan cara-cara kegaiban.

Dengan sudah terbukanya kepekaan rasa kita juga dapat memanfaatkannya di tempat kerja atau dimana saja. Kita akan lebih mudah mendapatkan jawaban-jawaban permasalahan dalam bentuk mengalirnya ide dan ilham, atau gambaran dan bisikan gaib. Permasalahan akan lebih mudah terpecahkan dan kita tidak akan terus terjebak di dalam kesulitan. Kita akan banyak mendapatkan pencerahan, tidak akan buntu di dalam kesulitan.

Sama dengan melihat orang lain atau fotonya, kita bisa merasakan apakah orang tersebut berwatak baik atau jahat. Begitu juga dengan mahluk halus dan khodam, kita juga bisa merasakan hawa teduh atau panas, baik atau jahat, berbahaya atau tidak, dsb.

Suasana gaib alam di sekitar kita yang berasal dari keberadaan "sesuatu" yang gaib, masing-masing rasanya akan berbeda antara keberadaan sesosok kuntilanak, jin, gondoruwo, juga berbeda bila ada mustika dan pusaka di alam gaib. Sosok-sosok halus yang kita rasakan keberadaannya juga bisa dikenali perwatakannya, apakah berwatak baik atau jahat, dari golongan putih ataukah hitam, juga bisa dikenali dari rasa energinya, apakah energi mahluk halus itu bersifat positif ataukah negatif (apakah energinya selaras dengan energi manusia ataukah justru bisa menyebabkan sakit-penyakit pada manusia).

Berarti tinggal ditambah lagi latihan kepekaan rasa, yaitu selain untuk mengetahui posisi keberadaannya dan melihat rupa sosoknya, juga belajar supaya bisa mengenali hawa / rasa energi masing-masing mahluk halus, karena masing-masing sosok halus mempunyai rasa sendiri-sendiri mengenai hawa / aura energinya yang juga melambangkan sisi perwatakannya.

Langkah awal latihannya adalah dengan berusaha mengenali perbedaan rasa energi sesosok mahluk halus yang berjenis laki-laki dengan yang perempuan, karena masing-masing rasanya berbeda. Sesudah terbiasa dan mahir, maka jika kita mendapatkan sosoknya perempuan (misalnya sosoknya seperti kuntilanak), tetapi dari hawa energinya terasa berasal dari sosok gaib laki-laki, maka itu bisa menjadi bahan kehatian-hatian kita, jangan-jangan sosok gaibnya sedang menipu kita, menampilkan sosok yang lain yang bukan aslinya. Ini akan juga melatih ketajaman insting kita supaya kita tidak mudah tertipu dengan apa yang kita lihat.

Untuk belajar mengenal bentuk sosok wujud mahluk halus, sifat-sifatnya, jenis-jenisnya, dsb, sebaiknya dibaca juga tulisan-tulisan :

- Hakekat Wujud Mahluk Halus

- Penggolongan Mahluk Halus


Cara lain mengolah kepekaan rasa dan untuk anda yang sudah memiliki benda-benda gaib, khodam ilmu / pendamping atau ketempatan khodam leluhur, ada beberapa panduan yang berguna untuk mengoptimalkan fungsinya, seperti yang tertulis dalam :

- Ilmu Tayuh / Menayuh Keris

- Menyatukan Keris dgn Pemilik.

- Mengoptimalkan Fungsi Keris

- Olah Sukma dan Kebatinan



  Tambahan :

Latihan pada tahapan awal olah rasa di atas tujuan utamanya adalah untuk kita belajar memisahkan antara pikiran dengan rasa dan batin. Tujuan akhir latihan olah rasa di atas adalah untuk membuka dan mengasah kepekaan rasa dan batin, mengasah kemampuan pancer dan sedulur papat supaya mampu juga berperan aktif sebagai roh, dan supaya sebagai roh mampu berinteraksi dengan roh-roh lain, tidak lagi hanya berperan secara biologis saja.

Sudah banyak pembaca yang mengirimkan email tentang hasil latihan mereka bermeditasi olah rasa tersebut.
Ada orang yang mudah menjalankannya, sehingga latihannya bisa terus berlanjut sampai tahapan akhirnya, tapi ada juga yang
mengalami kesulitan.

Yang kesulitan untuk berhasil dalam
latihan tahap awalnya, yaitu masih belum bisa merasakan setruman halus di ujung-ujung jarinya, biasanya adalah karena orangnya masih belum bisa mengendorkan pikirannya untuk beralih mengedepankan rasa batinnya, belum bisa memisahkan pikiran dengan batinnya. Belajarlah untuk mengendorkan pikiran, jangan terus-terusan keras berpikir.

Ada juga yang sudah bisa peka rasa merasakan adanya setruman dari benda-berda "berenergi", tetapi tidak berhasil sampai bisa melihat gaib secara batin, komunikasi gaib atau kontak rasa dan batin dengan gaib, tidak berhasil menguasai kemampuan seperti disebutkan sampai tahap terakhir latihan meditasi di atas.

Biasanya yang mengalami kesulitan itu adalah yang ingin langsung bisa menguasai tahapan akhirnya.
Bagi yang
mengalami kesulitan, sebaiknya tahapan latihannya dilakukan intens secara bertahap, setahap demi setahap sampai mahir pada masing-masing tahapannya, jangan buru-buru ingin cepat bisa dan jangan ada tahapan latihan yang disepelekan.

Secara keseluruhan, tujuan latihan olah rasa di atas adalah untuk melatih kepekaan rasa kita dan untuk membangkitkan indera keenam kita atas segala sesuatu yang bersifat gaib, atas segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh panca indera kita. Jangan semata-mata ditujukan untuk langsung bisa melihat gaib.

Kepekaan rasa adalah dasar yang harus lebih dulu dikuasai. Kalau itu tidak bisa dikuasai, kemungkinan besar akan ada kesulitannya ketika kita ingin belajar yang lebih tinggi lagi. Sesudah bisa peka rasa, akan lebih mudah untuk kita mempelajari yang lainnya, apalagi jika ingin mempelajari yang lebih tinggi lagi.

Yang jangan sampai dilupakan adalah bahwa latihan olah rasa di atas, termasuk sampai tujuan bisa melihat gaib, didasarkan pada keilmuan kebatinan, harus dilakukan dengan sugesti kebatinan, harus ada penghayatan pada setiap tahapan lakunya. Karena itu jangan terburu-buru melakukannya, dan jangan terburu-buru ingin cepat mencapai hasil.

Meditasi olah rasa di atas jangan disamakan dengan meditasi-meditasi lain yang biasa diajarkan orang, dan jangan disamakan dengan mewirid doa / amalan. Meditasi di atas punya tujuan sendiri dan menjalankannya harus dengan sugesti kebatinan.
Semua lakunya harus dihayati.

Bagi para pembaca yang masih mengalami kesulitan dalam mencapai hasil akhir latihan di atas Penulis mengingatkan lagi bahwa ilmu kebatinan adalah jenis keilmuan yang mengolah potensi kebatinan manusia, mengolah potensi kegaiban sukmanya, rohnya. Dan itu tidak selalu mudah bagi semua orang, karena tidak semua orang mampu "masuk" ke dalam dirinya yang terdalam, lebih banyak orang yang hanya mampu mengolah apa yang ada di luar, kulitnya saja, bukan yang ada di dalam, isinya. Dan jangan berharap ada jalan pintas atau belajar cara mudah dengan hanya menghapalkan dan mewirid amalan gaib dan mantra saja atau mengedepankan keampuhan khodam jimat dan pusaka.

Dalam rangka mempelajari ilmu kebatinan seseorang harus bisa mengedepankan batinnya, bukan pikirannya, untuk bisa peka rasa merasakan apa yang ada di dalam batinnya yang terdalam, dan dengan olah kebatinan potensi kegaiban kebatinan / sukma manusia itu digali lagi dan ditingkatkan kualitasnya, yang jika orangnya berhasil mencapai tingkatan tertentu kegaiban sukma manusia itu akan dapat melebihi kegaiban roh-roh gaib yang ada di bumi ini.

Dalam hubungannya dengan latihan kepekaan di atas berarti kita harus tahu dulu tujuan latihannya. Sesudah itu semua proses lakunya dihayati, membangkitkan potensi kepekaan kita. Tahap per tahap latihannya harus dihayati, jangan terburu-buru ingin cepat mencapai hasil. Apapun kepekaan yang sudah kita dapatkan, itu kita gali lagi, kita "masuk" terus semakin dalam ke dalam diri kita sendiri. Sesudah terbangkitkan kepekaannya kemudian ditingkatkan lagi kualitasnya, jangan mengambang dan jangan asal bisa.

Karena itu walaupun kelihatannya mudah dan sepele, tapi ternyata itu tidak selalu mudah bagi semua orang. Tidak semua orang mampu mencapai hasil yang baik. Tidak semua orang cukup tekun untuk masuk dan menggali potensi dirinya, lebih banyak orang yang inginnya cara mudah dan instan saja, hanya mengolah kulitnya saja.

Ilmu kebatinan memang seperti itu. Dan kalau anda ingin menekuninya, anda harus menempatkan sikap berpikir dan penghayatan anda dalam suasana kebatinan.

Berarti anda masih perlu menjiwai suasana keilmuan kebatinan.
Singkatnya, nuansa keilmuan kebatinan lebih mengedepankan rasa batin, banyak mengawang-awang, banyak mengendorkan pikiran, dan harus menghayati setiap proses lakunya, bukannya keras berpikir seperti merapal amalan dan mantra. Itu harus selalu dijiwai selama anda menjalankan sesuatu yang bersifat kebatinan.


Metode latihan olah rasa di atas memang sudah disusun sedemikian rupa sebagai metode latihan yang sangat sederhana, praktis dan efisien,
juga sudah dibabarkan dengan bahasa yang juga sederhana, sehingga kelihatannya sepele, walaupun sebenarnya sangat efektif. Tapi walaupun kelihatannya sepele belum tentu kita benar bisa menguasainya.

Faktor terbesar dari para pembaca yang sudah bisa peka rasa merasakan adanya setruman dari benda-berda "berenergi" tetapi tidak berhasil menguasai kemampuan seperti disebutkan di tahap terakhir latihan meditasi di atas adalah karena menyepelekannya. Karena metode latihan di atas sudah sangat dipermudah, disusun sedemikian rupa untuk para pemula sehingga kelihatannya sederhana,
kelihatannya mudah dimengerti, kelihatannya mudah dijalankan, maka para pembaca banyak yang merasa dirinya sudah "mengerti", merasa sudah bisa. Tapi sesungguhnya kalau belum dijalankan sendiri sampai terbukti sudah bisa, maka tidak bisa dikatakan ia sudah bisa. Itu hanya bersensasi saja, merasa bisa.

Merasa bisa belum tentu sungguh-sungguh kita bisa. Itu hanya perasaan kita saja yang merasa bisa.
Sudah bisa ataukah belum, itu harus dibuktikan dulu.
Dijalankan dulu sampai terbukti kita benar sudah bisa, ataukah nantinya ternyata kita masih belum bisa.
Diperlukan kemauan dan ketekunan kita untuk menjalankannya, jangan menyepelekannya.
Mudah-mudahan kita bukan hanya sekedar bisa, tapi benar-benar menguasainya.

Kalau kita mengikuti latihan di perguruan kebatinan lain, untuk latihan olah rasa kita akan diberikan program untuk bertirakat di tempat-tempat yang wingit dan angker untuk belajar merasakan kegaiban di tempat tersebut (semacam uji nyali atau seperti orang bertirakat ngelmu gaib / ngalap berkah). Yang seperti i
tu Penulis tidak prefer untuk level pemula. Akan merepotkan, memberatkan, dan berbahaya, tapi belum tentu efektif, karena belum tentu sesudahnya pesertanya langsung bisa peka rasa, langsung bisa mendeteksi keberadaan mahluk halus, apalagi melihat gaib. Yang dirasakannya mungkin hanya rasa takut saja dari adanya suasana gaib di tempat tersebut, belum lagi adanya tambahan resiko dari keberadaan gaib-gaib di tempat itu yang bisa membuat orangnya ketempelan, kerasukan, celaka, dsb yang gurunya sendiri pun belum tentu mampu menangkalnya.

Kepekaan rasa adalah dasar yang harus lebih dulu dikuasai. Kalau itu tidak bisa dikuasai, kemungkinan besar akan ada kesulitannya ketika kita ingin belajar yang lebih tinggi lagi. Sesudah bisa peka rasa, akan lebih mudah untuk kita mempelajari yang lainnya, apalagi jika ingin mempelajari yang lebih tinggi lagi.

Latihan awal olah rasa di atas tujuan utamanya adalah untuk belajar memisahkan antara pikiran dengan rasa dan batin. Walaupun kelihatannya sepele, tetapi jangan disepelekan. Sebaiknya dilatih dulu tahapan 1 di atas sampai anda berhasil mendeteksi setruman listrik di tangan dan di benda-benda gaib. Kalau itu sudah bisa, berarti anda sudah berhasil memisahkan antara pikiran dengan rasa.
Kalau anda masih kuat berfokus dengan pikiran, maka anda tidak akan merasakan apa-apa.
Kalau itu sudah benar dikuasai, barulah kemudian
anda melangkah ke tahapan latihan berikutnya.
Begitu juga dengan latihan tahap 2 di atas, dikuasai dulu sampai mahir, barulah kemudian anda melangkah ke tahapan latihan berikutnya.

Kalau sudah bisa memisahkan pikiran dan rasa nantinya bisa dipraktekkan untuk kita
memanipulasi pikiran kita sendiri. Dengan cara memanipulasi pikiran akan lebih mudah untuk kita bisa menghilangkan rasa sakit, sakit perut, pusing, dsb, dengan cara tidak merasakannya (tidak memikirkan rasa sakitnya). Atau ketika sedang dipijat refleksi, atau sedang diurut karena keseleo, akan lebih mudah untuk kita tidak terlalu merasakan rasa sakitnya. Kita juga akan lebih mudah untuk memanipulasi pikiran kita sendiri untuk tidak berlarut-larut dalam rasa sedih ketika putus cinta atau kasus lain yang membuat kita stress / depresi (bahkan kita bisa membalik perasaan dan pikiran untuk seketika melupakannya).

Kalau digunakan untuk mendeteksi mahluk halus, sebaiknya dicoba dulu untuk mendeteksi yang ada di kamar atau di bagian lain di rumah anda. Itu saja dulu yang anda coba deteksi. Jangan langsung mendatangi tempat-tempat yang banyak berpenghuni gaib atau tempat-tempat yang angker dan berbahaya.


Tujuan akhir latihan olah rasa di atas adalah untuk membuka dan mengasah kepekaan rasa dan batin.
Kepekaan rasa dan batin adalah dasar, tetapi pokok, di dalam semua keilmuan kebatinan dan spiritual. Manfaatnya luas, bukan hanya untuk tujuan melihat gaib dan tidak semuanya melulu berhubungan dengan mahluk halus. Tujuan utamanya adalah untuk mengaktifkan fungsi roh / sukma kita, pancer dan sedulur papat, supaya bisa juga berperan sebagai roh. Implementasinya akan bisa kita manfaatkan dalam banyak aspek di kehidupan kita.

Jika
kepekaan rasa dan batin belum dikuasai, maka kita akan kesulitan dalam melangkah ke keilmuan kebatinan yang lebih tinggi.

Jika dihubungkan dengan mahluk halus, kalau sudah bisa peka rasa, dengan anda berdiam diri saja nantinya akan ada rasa / tanda / bisikan, dsb, tentang keberadaan mahluk halus di sekitar anda berikut posisi keberadaannya. Sesudahnya barulah ditindaklanjuti dengan interaksi energi atau
dengan melihat batin untuk menegaskan sosok wujudnya.

Kontak rasa dan batin itu berarti membuka frekwensi gaib.
Awalnya kita menerima kontak rasa-batin berupa aliran ilham, anggap saja seperti
radio - suara, rasanya seperti bisikan gaib / obrolan / komunikasi maya.
Kalau bisa ditingkatkan kualitasnya nantinya
kita bisa menerima sinyal gambar, seperti televisi, bisa melihat gaib secara batin.
Tapi kalau sudah bisa kontak rasa / batin sebaiknya kita membatasi diri untuk tidak kontak dengan sosok-sosok gaib yang tidak baik, jangan sampai yang tidak baik itu menjadi perhatian kepada kita, atau malah mendatangi kita. Jadi kita harus peka rasa untuk bisa seketika itu juga menilai baik-tidaknya mahluk halusnya.


Perhatian :


Dalam latihan olah rasa di atas Penulis sangat menekankan supaya para pembaca yang interest untuk melatihnya supaya belajar keras untuk bisa membedakan mahluk halus yang baik dengan yang tidak baik. Itu adalah upaya kita untuk berhati-hati karena segala sesuatu perbuatan selalu saja ada resikonya. Termasuk juga walaupun selama ini kita tidak berhubungan langsung dengan sesuatu yang gaib, tetap saja kita beresiko mendapatkan gangguan gaib. Ada banyak kasus gangguan gaib yang dialami orang terhadap kesehatan dan psikologisnya yang sulit disembuhkan oleh dokter, karena sebenarnya sakitnya itu bukanlah semata-mata bersifat medis, tetapi adalah dari perbuatan gaib.

Dalam kita menerawang atau mendeteksi sesuatu yang gaib usahakan supaya secara otomatis kita bisa langsung mengetahui apakah yang sedang kita terawang itu perwatakannya baik ataukah tidak baik. Atau jika kita mendeteksi keberadaan gaib di sekitar rumah tinggal kita sebaiknya kita bisa juga menilai
perwatakan gaibnya itu apakah baik ataukah tidak baik.

Sebaiknya anda juga belajar mendeteksi sesuatu yang negatif, sehingga kalau anda merasakan ada sesuatu yang tidak baik atau tidak "beres" anda bisa mencaritahu sumbernya dan bisa diupayakan penanganannya.

Jika dalam langkah awal kita sudah merasakan bahwa sosok gaibnya itu tidak baik wataknya, sebaiknya penerawangannya jangan dipertegas, jangan sampai karena adanya kontak rasa dan batin sesuatu yang tidak baik itu menjadi perhatian kepada kita, atau malah mendatangi kita. Karena itu untuk langkah awalnya lebih baik kalau kita menggunakan minyak jafaron dan membuat pagaran gaib untuk perlindungan kita.


Untuk perlindungan fisik anda bisa membentuk pagaran gaib yang sifatnya memfilter ataupun absolut.
Sebaiknya anda juga belajar membangun "ketahanan" gaib, baik fisik maupun psikologis, karena walaupun
yang gaib-gaib itu tidak bisa menembus pagaran anda tetapi mereka masih bisa mempengaruhi pikiran anda.

Kalau sudah punya pagaran gaib tinggal anda memperkuat psikologis anda sendiri supaya tidak mudah dipengaruhi oleh sesuatu yang gaib, bukan hanya oleh gaib-gaib tingkat tinggi, termasuk juga yang kelas rendah yang banyak bersarang di pinggir jalan / laut / sungai. Diperlukan juga kekritisan anda untuk tanggap atas sesuatu yang tidak kelihatan mata. Semuanya itu akan menjadi ketahanan anda terhadap pengaruh gaib,
termasuk juga akan menjadi ketahanan anda terhadap pengaruh ilmu pelet, pengasihan, kewibawaan, penundukkan, dsb yang dilakukan oleh orang lain.




Jika anda berkeinginan untuk mengasah indera keenam, kepekaan / ketajaman insting dan naluri (dan melihat gaib), sebaiknya anda membiasakan diri berdiam diri di tempat yang sepi dan gelap (seperti acara uji nyali di TV).

Latihan ini
sebaiknya jangan dilakukan di tempat-tempat yang angker dan wingit seperti halnya orang-orang yang sedang bertirakat ngelmu gaib, tetapi lakukanlah di tempat yang aman di rumah kita sendiri seperti di ruang tamu atau di depan rumah kita sendiri dengan cara mematikan semua lampu ketika orang lain sudah tidur.

Di dalam kondisi normal yang terang penuh cahaya, tubuh dan sukma kita akan mengedepankan panca indera, penglihatan, pendengaran, dsb.

Di dalam kondisi yang sepi dan sedikit cahaya, tubuh dan sukma kita akan secara alami memunculkan kepekaan panca indera, penglihatan, pendengaran, dsb, supaya dalam kondisi sepi dan minim cahaya itu kita tetap bisa melihat, bisa mendengar, dsb.

Di dalam kondisi yang sepi dan gelap tanpa cahaya (gelap gulita), tubuh dan sukma kita akan secara alami memunculkan dan mempertajam kepekaan panca indera, penglihatan, pendengaran, dsb, supaya dalam kondisi sepi dan minim cahaya itu kita tetap bisa melihat, bisa mendengar, dsb.

Tetapi dalam hal kita sengaja berlama-lama berada dalam kondisi sepi dan gelap gulita itu yang mata kita tidak dapat melihat apa-apa, yang dalam kondisi itu panca indera kita tidak banyak berguna, maka secara otomatis sukma kita akan lebih banyak berperan daripada
panca indera fisik kita, sukma kita akan mengedepankan indera keenam kita, yaitu kepekaan rasa dan batin, insting dan naluri. Karena sukma kita bersifat roh, maka aktivitas roh kita itu akan menjadikan kita lebih peka dengan hal-hal yang bersifat roh, menjadikan kita lebih peka terhadap keberadaan mahluk halus dan bisikan-bisikan gaib. Mungkin juga akan menjadikan kita bisa melihat gaib.

Kondisi di atas adalah kondisi kita tidak memejamkan mata, kondisi santai melihat di dalam kegelapan ketika kita sengaja berlama-lama di dalam kondisi yang sepi dan gelap gulita. Dalam kondisi itu sukma kita akan mempertajam kemampuan deteksinya terhadap sesuatu yang berada di "luar tubuh".

Jika kita ingin memunculkan aktivitas batin dan sukma yang sebenarnya, maka dalam kondisi di atas itu seharusnya kita memejamkan mata, "masuk" ke dalam diri kita sendiri, ke dalam batin kita sendiri. Kondisi ini akan lebih efektif "membangkitkan" aktivitas sukma kita dalam hal-hal yang bersifat gaib.

Karena itu aktivitas sengaja berlama-lama berada di dalam kegelapan di atas, yang tidak memejamkan mata, bisa kita jadikan latihan awal untuk kita mengasah kepekaan sukma kita. Sedangkan kondisi memejamkan mata bisa kita jadikan latihan tingkat lanjut untuk dengan sengaja memunculkan aktivitas sukma kita. Tetapi latihan di atas
sebaiknya jangan dilakukan di tempat-tempat yang angker dan wingit seperti halnya orang-orang yang sedang bertirakat ngelmu gaib, tetapi lakukanlah di tempat yang aman di rumah kita sendiri seperti di ruang tamu atau di depan rumah kita sendiri dengan cara mematikan semua lampu ketika orang lain sudah tidur.

Ada juga pertanyaan :

Bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan suasana hening ?
Yang gampang ya berdiam diri di tempat yang sepi.
Sesudah terbiasa hening, kemudian bisa dilanjutkan dengan mencari keheningan di dalam keramaian.



  Tips Menguji Penglihatan Gaib :


Seperti yang sudah Penulis tuliskan dalam halaman berjudul Terawangan Gaib solusi untuk mengatasi atau menguji ulang apakah penglihatan gaib kita sudah benar adalah melakukan kombinasi melihat gaib dengan kepekaan rasa seperti dicontohkan di atas.

Rabaan tangan untuk mendeteksi keberadaan gaib yang kita lihat adalah untuk membantu kita supaya kita bisa lebih yakin dengan apa yang kita lihat dan bisa lebih pasti menentukan bahwa yang kita lihat itu benar ada dan benar berada di tempat posisinya yang kita lihat. Dengan demikian penglihatan kita itu tidak mengawang-awang dan penglihatannya benar, bukan ilusi.

Sosok halus khodam kita lebih baik kalau kita minta untuk duduk atau berdiri di hadapan atau di samping kita untuk kita ajak berkomunikasi, sehingga akan lebih jelas tampilan sosoknya, dan bisa diraba hawa energinya untuk dikenali, sehingga penglihatan kita akan lebih baik setelah ditambah deteksian atas keberadaan energinya, untuk membuktikan bahwa sosok gaibnya itu memang ada di tempat keberadaannya yang kita deteksi, bukan hanya berupa gambaran gaib di awang-awang yang diragukan kebenarannya.

Untuk menguji ulang keakuratan penglihatan gaib kita sendiri supaya penglihatannya tidak mengawang-awang melihat gaibnya dikombinasikan dengan kepekaan rasa dengan rabaan tangan untuk mendeteksi keberadaan energi gaibnya sbb :


1. Untuk menguji apakah benar diri kita berkhodam, kita bisa mendeteksi keberadaan energi khodam-khodam kita itu dengan rabaan tangan ke sebelah kanan, kiri, depan dan belakang tubuh kita dan ke atas kepala kita. Nantinya kita akan tahu apakah benar diri kita didampingi oleh sesosok halus atau khodam, karena masing-masing rasanya akan berbeda pada posisi yang disitu ada sesosok gaib dengan posisi lain yang kosong tidak ada apa-apa.

Misalnya ada orang yang mengatakan bahwa kita berkhodam di depan kita sesosok macan gaib, maka kita coba deteksi keberadaan khodam macan itu dengan rabaan tangan ke arah depan kita. Begitu juga kalau ada orang yang mengatakan bahwa kita berkhodam di belakang kita sesosok gaib berwujud prajurit, maka kita coba deteksi keberadaan khodam prajurit itu dengan rabaan tangan ke arah belakang kita. Kalau dengan rabaan tangan itu kita tidak mendeteksi adanya energi dari keberadaan khodam kita itu, maka kemungkinan besar khodam itu tidak ada. Berarti penglihatan gaib orang itu tentang khodam kita itu mungkin salah. Mungkin sebenarnya diri kita tidak berkhodam, atau mungkin juga benar diri kita berkhodam, tetapi wujudnya bukan macan atau prajurit, dan posisinya tidak di depan atau di belakang kita.

Begitu juga kalau ada orang yang mengatakan bahwa kita berkhodam di sebelah kanan kita sesosok gaib, maka kita coba deteksi keberadaan khodam itu dengan rabaan tangan ke arah kanan kita. Kalau dengan rabaan tangan itu kita tidak mendeteksi adanya energi dari keberadaan khodam kita itu, maka kemungkinan khodam itu tidak ada, karena disitu tidak terdeteksi adanya sesuatu yang gaib. Berarti penglihatan gaib orang itu tentang khodam kita itu mungkin salah. Mungkin sebenarnya diri kita tidak berkhodam, atau mungkin juga benar diri kita berkhodam, tetapi wujudnya dan posisinya tidak sama dengan yang dikatakan orang itu.

Kalau dengan rabaan tangan itu di posisi yang dikatakan oleh orang itu kita benar mendeteksi adanya energi dari keberadaan khodam kita itu, maka mungkin khodam itu memang ada. Berarti penglihatan gaib orang itu tentang khodam kita itu mungkin benar. Mungkin diri kita memang berkhodam. Tetapi mengenai sosok wujudnya apakah benar seperti yang dikatakan orang itu masih harus kita pertegas lagi gambaran gaibnya.

Sesudah terdeteksi bahwa di posisi rabaan tangan kita itu benar terasa ada sesuatu yang gaib, rabaan energi dengan tangan kita itu kita teruskan sampai tergambar sosok wujudnya. Sesudah tergambar sosok wujudnya barulah kemudian kita bisa mengambil kesimpulan apakah benar diri kita berkhodam dan apakah benar sosok wujud khodamnya sama dengan yang disampaikan oleh orang itu.

Jika dari perabaan di sebelah kanan, di depan atau di belakang kita tidak mendeteksi adanya sesuatu yang gaib, dicoba saja untuk meraba dalam jarak 1 centi di badan dan kepala kita, barangkali saja khodam atau mahluk halusnya sebenarnya berdiam di dalam kepala atau badan kita.

Rabaan tangan bisa juga dilakukan se-centi dari tubuh kita untuk mendeteksi keberadaan energi dari sesuatu yang gaib apakah tubuh kita ada ketempatan / ketempelan mahluk halus, atau apakah ada benda gaib yang menempel di badan kita, rabaannya diarahkan ke seluruh tubuh kita mulai dari kepala, badan, tangan sampai kaki.

Dengan cara perabaan dan kontak energi dengan keberadaan khodamnya itu kita tidak mengawang-awang, bisa jelas apakah di posisi rabaan tangan kita itu benar ada sesuatu yang gaib, mudah-mudahan juga bisa jelas tergambar sosok wujud gaibnya dan dengan kontak batin bisa kita tanyakan langsung apa saja tuahnya.

Seandainya pun kita tidak jelas melihat sosok wujudnya, tetapi dengan kita mendeteksi ada keberadaan energinya disitu kita bisa lebih yakin bahwa disitu memang ada sesuatu yang gaib, mungkin saja benar itu adalah khodam kita. Berarti diri kita benar berkhodam.
Begitu juga sebaliknya, jika kita mendeteksi tidak ada keberadaan energinya disitu kita bisa lebih yakin bahwa disitu memang tidak ada apa-apa, tidak ada sesuatu yang gaib, mungkin diri kita tidak berkhodam.

Tetapi jika benar disitu memang ada sesuatu yang gaib, kita harus bisa lebih kritis untuk menentukan apakah benar itu adalah khodam kita, ataukah sebenarnya itu adalah mahluk halus yang sedang menghantui kita (diri kita sedang mengalami kesambet, dipelet, ditenung, dsb). Tapi setidaknya kita menjadi lebih yakin bahwa disitu memang ada sesuatu yang gaib. Ini berguna untuk kehati-hatian kita.

Prinsip pembuktian di atas bisa juga diterapkan untuk menentukan apakah di suatu lokasi tertentu benar dihuni mahluk halus dan untuk mencaritahu sosok wujudnya. Sebaiknya kita juga tahu apakah sosok-sosok halus yang tinggal disitu berwatak baik ataukah jahat.


2. Untuk benda-benda gaib kita seperti keris dan batu akik, dengan cara perabaan pada bendanya kita bisa mendeteksi keberadaan energinya apakah benda gaib kita itu benar berkhodam ataukah kosong isinya.

Jika bendanya kita deteksi benar berkhodam, kemudian khodamnya itu kita perintahkan duduk di samping kita sehingga kita bisa mendeteksi energi keberadaannya dan kita bisa lebih jelas melihat wujudnya.

Jika gambaran sosok gaibnya sudah didapatkan, walaupun samar, fokuskan penglihatan batin anda kepada sosok gaibnya itu untuk mempertajam penglihatan batin anda sampai jelas detail gambarannya, jangan hanya sekelebatan saja. Dengan demikian kita tidak mengawang-awang, bisa mendeteksi keberadaannya dan bisa lebih jelas melihat wujud khodamnya dan dengan kontak batin bisa kita tanyakan langsung apa saja tuahnya.

Sambil kita fokuskan penglihatan batin kepada sosok gaibnya itu kita sampaikan pertanyaan-pertanyaan kita mengenai bendanya kepada sosok gaibnya itu, ajaklah berkenalan, tanyakan apa saja tuahnya, apa saja sesajinya, bagaimana kecocokkannya dengan anda, dsb, dengan cara berkata-kata di dalam hati tetapi ditujukan kepada sosok gaibnya. Dengan cara ini selain kita belajar "melihat" secara batin, kita juga belajar "menyampaikan" komunikasi batin dan belajar "mendengar" secara kontak batin jawaban komunikasi dari sosok gaibnya itu berupa ilham yang mengalir dalam benak kita. Selain itu cobalah menerapkan kepekaan rasa / insting untuk membaca kepribadiannya, apakah sosok halus itu adalah dari jenis yang baik ataukah dari jenis yang tidak baik yang harus dihindari. Lakukanlah dengan hormat dan sopan.


3. Semua benda gaib, yang bentuknya masih gaib, yang menempel di tubuh kita, sebelumnya kita deteksi dulu dengan rabaan tangan untuk menentukan apakah di posisi rabaan tangan kita itu benar ada sesuatu yang gaib. Jika benar ada, jika itu adalah benda gaib, kemudian kita raih benda gaibnya (dan energinya), dipegang dengan tangan, kemudian kita kontak energi dengan bendanya dan dilihat wujud asli bendanya. 

Kemudian khodam benda gaibnya kita perintahkan duduk di samping kita sehingga kita bisa mendeteksi energi keberadaannya dan bisa lebih jelas melihat wujudnya. Dengan demikian kita tidak mengawang-awang, bisa mendeteksi keberadaannya dan bisa lebih jelas melihat wujud khodamnya dan dengan kontak batin bisa kita tanyakan langsung apa saja tuahnya.

Sesudahnya benda gaibnya itu kita kembalikan ke tempatnya semula, atau digeser sejengkal jika posisi keberadaannya terasa mengganggu (misalnya membuat badan pegal), atau dibuang jauh jika tidak diinginkan.


Keseluruhan cara-cara di atas adalah untuk menguji ulang apakah penglihatan kita sebelumnya atas benda gaibnya dan khodamnya (atau penglihatan gaib kita atas sesosok mahluk halus) sama dengan penglihatan kita yang sekarang setelah cara melihatnya dilakukan dengan cara itu. 

Cara-cara di atas juga baik untuk dilakukan bersama-sama dengan orang lain yang bisa melihat gaib untuk menguji ulang apakah penglihatan kita dan orang lain itu sebelumnya sama dengan penglihatan yang sekarang setelah cara melihatnya dilakukan dengan cara itu.

Kombinasi melihat gaib dan kepekaan rasa untuk mendeteksi energi keberadaannya itu sebaiknya selalu dilakukan dalam kita menerawang sesuatu yang gaib, supaya penglihatan kita lebih akurat, tidak mengawang-awang dan tidak berilusi atau dikelabui oleh gaib.

Lakukanlah dengan sopan dan hati-hati.



Tambahan :

Melihat gaib itu sebenarnya mudah, hanya saja tidak semua orang bisa menggali potensi dirinya sendiri dalam melihat gaib, lebih banyak yang menginginkan sesuatu yang mudah dan instan dan "indah" katanya orang, yang adanya rasa keinginan itu sebenarnya malah semakin mempersulit orangnya bisa melihat gaib.

Lebih baik kalau anda menggali potensi roh anda sendiri, roh pancer dan sedulur papat, supaya mereka juga bisa aktif berfungsi sebagai roh, supaya tidak hanya aktif secara biologis saja,
supaya bisa juga mendeteksi kegaiban. Caranya adalah dengan Olah Rasa seperti yang sudah dicontohkan di atas.

Kalau yang anda inginkan adalah instan melihat gaib seperti yang dikatakan orang melihat dengan mata ketiga, anda harus berusaha keras untuk bisa itu, tapi tetap saja ada kemungkinan anda tidak berhasil. Itu tidak selalu mudah untuk semua orang.

Orang-orang yang bisa melihat gaib dengan mata ketiga kebanyakan adalah kemampuan yang sifatnya "given", kebanyakan adalah orang-orang yang di dalam tubuhnya ketempatan mahluk halus (baca : Pengaruh Gaib Thd Manusia), atau mereka berkhodam, bukan orangnya sendiri yang dulunya melatih diri untuk bisa melihat gaib dengan mata ketiganya. Ia hanya mengasah saja (menikmati saja) apa yang sudah ia terima.

Hanya saja seringnya orang yang "given" itu menyombongkan kebisaannya itu seolah-olah sekarang ini ia bisa melihat gaib karena dulunya ia belajar melihat gaib, sehingga orang lain yang awam ingin juga belajar supaya bisa juga melihat gaib. Tetapi kalau kondisi anda tidak sama dengan mereka, tidak "given", maka tidak mudah untuk anda bisa sama seperti mereka.

Banyak orang inginnya cepat dan instan, ingin langsung bisa melihat gaib, ingin langsung bisa melakukan perbuatan-perbuatan gaib, dsb, apalagi yang sudah terbiasa melakukan cara mudah dengan hanya mewirid / mengamalkan mantra / amalan gaib. Itu hanya cocok untuk keilmuan gaib yang bukan kebatinan - spiritual.

Bahkan orang-
orang yang sejak awal sudah bisa melihat gaib kebanyakan akan kesulitan dalam menekuni jenis ilmu kebatinan, karena orangnya sendiri belum tentu peka rasa. Yang kebanyakan dialaminya justru adalah banyaknya ilusi dan halusinasi. Kebanyakan orangnya berkhodam, atau melihat gaibnya dengan bantuan khodam. Penglihatannya banyak ilusinya, tidak bisa membuktikan sendiri penglihatannya dengan cara mengkombinasikan penglihatan gaibnya dengan kepekaan rasa untuk mendeteksi apakah sesosok gaib yang dilihatnya itu benar ada di posisi / lokasi yang dilihatnya ataukah itu hanya ilusi saja, apalagi untuk melakukan perbuatan gaib dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan amalan ilmu dan khodamnya.

Kalau yang ditekuni adalah jenis ilmu kebatinan dan spiritual, walaupun latihan
olah rasa itu kelihatannya sepele, tapi jangan disepelekan, karena kepekaan rasa (dan kekuatan rasa dan sugesti dan visualisasi) sifatnya pokok, harus bisa dikuasai, karena itu adalah kemampuan dasar sejak dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

Walaupun sudah berhasil membangun kekuatan sukma yang tinggi, orangnya akan kesulitan untuk menekuni yang lain kalau peka rasa, kekuatan rasa dan
kekuatan bersugesti (dan visualisasi) belum dikuasai.

Apapun yang kita pelajari, apa yang menjadi dasarnya sebaiknya dikuasai lebih dulu sebelum mempelajari yang lebih tinggi.
Kalau dasarnya belum dikuasai kita akan kesulitan untuk mempelajari yang lebih tinggi lagi.



Catatan khusus :
Bila di dalam latihan-latihan di atas anda masih belum bisa merasakan adanya energi-energi gaib atau adanya
energi-energi mahluk halus (atau belum bisa melihatnya), itu adalah tanda bahwa anda harus bersungguh-sungguh dalam latihan olah rasa.

Dalam latihan olah rasa itu anda harus menjiwai suasana kebatinan, akan sulit kalau anda keras berpikir, apalagi bila anda sudah terbiasa mewirid amalan-amalan. Jadi latar belakang dan pikiran-pikiran anda yang lain harus anda pinggirkan dulu supaya anda bisa masuk ke dalam suasana kebatinan.

Latihan olah rasa yang sifatnya adalah pelajaran dasar seharusnya tidak disepelekan, seharusnya benar-benar sudah dikuasai. Anda akan kesulitan mempelajari yang lebih tinggi lagi bila pelajaran dasarnya saja belum anda kuasai.




----------------


  >>   Olah Batin dan Kebatinan









Comments