Olah Roh,

 Manunggaling Kawula Lan Gusti




Tulisan-tulisan yang terkait dengan hal-hal kegaiban, kebatinan dan spiritual dan ketuhanan tidak dimaksudkan untuk menyimpang dari ajaran agama apapun dan tidak perlu dipertentangkan dengan agama apapun, dan tidak ada maksud untuk mengedepankan atau membelakangkan agama tertentu, karena agama adalah bersifat pribadi bagi yang percaya dan mengimaninya. Tetapi di dalam pembahasannya ada ditekankan aspek kebatinan / spiritual ketuhanan, bukan agama, dan terkandung juga pesan-pesan moral untuk menambah kebijaksanaan manusia dalam memahami agama dan untuk hidup berkeagamaan yang lebih baik dan untuk menambah kesadaran manusia akan perilaku berbudi pekerti yang adalah dasar dari pribadi manusia yang berakhlak mulia.


Dalam memahami kegaiban, keilmuan gaib dan mahluk halus, kebatinan dan spiritual, ketuhanan / keagamaan dan spiritualitas berketuhanan dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh yang sangat tinggi. Jika masih belum matang dalam beragama dan berketuhanan dan masih rendah spiritualitas ketuhanannya maka akan muncul sentimen agama dan keAkuan agama yang itu akan semakin mempersempit dan memperdangkal alam berpikirnya. Tak ada maksud lain dari kami kecuali hanya ingin mengungkapkan kebatinan dan spiritualitas ketuhanan sepanjang pengetahuan yang kami miliki.


Segala sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan, selalu terkait erat dengan kepercayaan / keagamaan. Kami tidak bermaksud meninggikan atau pun merendahkan keagamaan / agama tertentu, tetapi penekanan kami adalah pada aspek kebatinan dan spiritual ketuhanan itu sendiri, bukan agama.


Penulis berusaha bersikap netral, tidak menggunakan agama tertentu sebagai dasar acuan tulisan. Sekalipun ada membahas ajaran agama, Penulis berusaha bersikap objektif sesuai apa adanya agama itu, tidak melebih-lebihkan suatu agama atau pun mengurangi nilainya, objektif sesuai apa adanya agama itu, dan objektif sesuai apa yang diketahui oleh Penulis.

Secara keseluruhan
Penulis tidak mengedepankan agama, yang Penulis tekankan adalah aspek ketuhanannya, karena agama hanyalah sebagian saja dari jalan / laku manusia berketuhanan. Jika pun ada kesamaan pandang dengan jalan keagamaan tertentu, tetap saja yang dikedepankan adalah sisi ketuhanannya, bukan agama, kebetulan saja itu terjadi karena jalan ketuhanannya searah.


Ketuhanan mengandung unsur rasa batin, panggilan batin, yang menarik orang untuk berketuhanan, percaya akan keberadaan Tuhan, dan memuja Tuhan, memuliakan Tuhan. Adanya agama dan jalan kepercayaan akan mengakomodir keinginan batin manusia untuk berketuhanan dan menuntunnya dalam tatalaku beribadah.


Tetapi adanya unsur pemujaan akan cenderung menjauhkan manusia dari pengenalan yang benar tentang sosok yang mereka puja. Termasuk kepercayaan dalam bentuk agama atau bentuk formal berketuhanan yang lain, dalam hal manusia mengimani agama dan beribadah, adanya unsur pemujaan akan cenderung menjauhkan manusia dari pengenalan yang benar tentang Tuhan, karena akan dipenuhi dengan persepsi, pencitraan dan pengkultusan yang cenderung melebih-lebihkan.


Agama hanyalah salah satu saja jalan bagi manusia untuk berketuhanan, tuntunan supaya manusia dapat mengenal Tuhan dan tuntunan untuk manusia beribadah kepadaNya, jangan agama malah dinomorsatukan menggantikan ketuhanan.


Rasa ketuhanan adalah yang menentukan ada-tidaknya panggilan batin manusia untuk mengenal Tuhan, untuk beragama, untuk beribadah dan beriman kepada Tuhan.


Rasa ketuhanan itulah yang menentukan ada-tidaknya panggilan batin manusia untuk memuliakan dan mengagungkan Tuhan (memuliakan Tuhan tidak selalu sama artinya dengan memuliakan agama).


Kurangnya rasa ketuhanan akan menjauhkan manusia dari keinginan untuk mengenal Tuhan.

Kurangnya rasa ketuhanan akan menjauhkan manusia dari keinginan untuk berketuhanan.

Kurangnya rasa ketuhanan akan menjauhkan manusia dari keinginan beriman dan beribadah kepadaNya.

Kurangnya rasa ketuhanan juga menyebabkan manusia merasa beriman, walaupun enggan beribadah.

Kurangnya rasa ketuhanan juga menyebabkan manusia merasa beriman, walaupun sehari-harinya dirinya mengabaikan Tuhan dan agama / ibadah.

Kurangnya rasa ketuhanan akan menjauhkan manusia dari keinginan memuliakan Tuhan, hanya memuliakan dirinya sendiri, agama dijadikan alat / kedok saja untuk memuliakan dirinya sendiri di mata orang lain.

Kurangnya rasa ketuhanan juga menyebabkan manusia merasa beriman, yang walaupun rajin beribadah, tetapi perbuatan-perbuatannya kerap menyimpang dari budi pekerti dan kesusilaan, tidak mencerminkan perbuatan-perbuatan mulia dari sesosok pribadi mulia yang sudah mengenal Tuhan, perbuatan-perbuatannya tidak mencerminkan kehidupan manusia mulia yang sudah mengenal Tuhan, tetapi tetap dirinya merasa beriman.

Kurangnya rasa ketuhanan akan membuat manusia merasa dirinya besar, tidak takut kepada Tuhan, tidak takut hukuman Tuhan, karena hatinya jauh dari Tuhan, hatinya jauh dari memuliakan Tuhan, hanya memuliakan dirinya dan dunianya sendiri saja.



Tentang Tuhan, masing-masing agama dan jalan ketuhanan mempunyai persepsi dan pernyataan sendiri-sendiri tentang Tuhan yang tidak semuanya sama, apalagi bila jalan keagamaannya berbeda. Tetapi walaupun masih dalam agama yang sama tokoh-tokoh di dalam agama itu pun bisa juga memiliki pandangan sendiri-sendiri yang berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya, persepsi keagamaan dan ketuhanan mereka tidak persis sama, sehingga kemudian muncul banyak perbedaan pandangan, muncul banyak aliran-aliran dan sekte, mazhab, dsb, dan para penganutnya juga terpecah-pecah mengikuti salah satu aliran atau tokoh agama. Tetapi adanya perbedaan pandangan itu secara positif seharusnya bisa menambah wawasan ketuhanan kita, minimal kita menjadi tahu bahwa ada pandangan ketuhanan lain yang berbeda dengan pandangan kita yang itu akan bisa menambah wawasan dan kebijaksanaan kita dalam berketuhanan, jangan malah gontok-gontokkan saling mencari pembenaran sendiri-sendiri.

Ketika kita bicara Tuhan, kebanyakan yang kita bicarakan adalah Tuhan menurut persepsi kita sendiri, Tuhan menurut agama dan cerita agama yang kemudian kita citrakan di dalam hati dan pikiran kita, yang itu bukanlah Tuhan yang sesungguhnya di atas sana, tetapi hanyalah persepsi dan citra Tuhan saja yang kita citrakan sendiri di dalam pikiran kita sendiri. Dengan pencitraan itu kemudian kita merasa tahu Tuhan, merasa mengenal Tuhan, walaupun sebenarnya itu hanyalah persepsi
kita sendiri saja, hanya pencitraan kita saja, bukan menunjukkan bahwa kita benar-benar sudah menemukan / mengenal Tuhan yang keberadaanNya di atas sana.

Kalau kita bicara Tuhan seharusnya fokus kita adalah kepada Tuhan itu sendiri, kepada Sosok PribadiNya, mengedepankan pengenalan kita pribadi terhadap Sesosok Pribadi yang disebut Tuhan, bukannya ngotot mengedepankan agama, apalagi sampai ngotot mempertentangkan kebenaran antar agama.


Begitu juga kalau kita ingin menemukan Tuhan, itu harus dilakukan dengan kita fokus pada KeberadaanNya dan pada Sosok PribadiNya, bukannya mengedepankan persepsi kita sendiri tentang Tuhan atau ngotot meninggikan agama dan membeo ayat-ayat seolah-olah dengan itu kita benar sudah tahu Tuhan atau sudah mencapai Tuhan.



Pemahaman yang salah tentang agama, tentang agamanya sendiri maupun agama orang lain, akan semakin menjauhkan manusia dari ketuhanan yang benar, menjauhkan manusia dari Tuhan yang benar, karena Tuhan yang benar menurut pendapatnya hanyalah Tuhan yang ada dalam pikirannya saja, Tuhan menurut pemikiran dan pendapatnya sendiri, Tuhan menurut pencitraan dan persepsinya sendiri, bukan Tuhan yang sebenarnya yang keberadaanNya di atas sana.


Seharusnya semua orang mengenal lebih dulu Tuhan-nya, mengenal lebih dulu siapa Tuhan yang benar yang harus disembahnya, barulah kemudian ia menentukan sendiri jalan agama / ketuhanan yang sesuai untuk mengakomodir ketuhanannya itu. Jangan lebih dulu berkeras dengan agama tanpa lebih dulu tahu siapa Tuhan sebenarnya yang harus disembahnya. Dan jangan menyembah Tuhan dengan jalan penyembahan yang salah.


Tetapi untuk benar-benar menemukan dan mengenal Tuhan hanya bisa dilakukan secara pribadi, tidak dengan hanya mendalami, apalagi sekedar mengikuti saja tuntunan agama, karena tidak semua agama mengantarkan penganutnya kepada Tuhan yang benar. Agama hanya berfungsi mengenalkan kita pada adanya Tuhan, sifat-sifatNya dan kehendak-kehendakNya, tetapi untuk menemukan Tuhan dan untuk mengenal sisi PribadiNya itu harus dilakukan secara pribadi. Sesudahnya itu akan menjadi hubungan yang pribadi antara si manusia dengan Tuhan.


Yang Penulis nomorsatukan adalah supaya manusia mampu mengenal Tuhan dengan benar (Tuhan yang benar, bukan persepsi dan citra Tuhan di dalam hati dan pikiran kita saja). Sesudah bisa mengenal Tuhan- nya dengan benar, manusia akan tahu peribadatan dan keagamaan bagaimana yang seharusnya dilakukannya. Semuanya terserah si manusianya sendiri sejauhmana ia akan berketuhanan, apakah hanya akan sebatas agamanya saja ataukah akan lebih jauh lagi berusaha mengenal Tuhan yang sesungguhnya dan kemudian dengan benar datang beribadah kepadaNya.


Karena itu bila belum matang dalam beragama dan berketuhanan maka akan muncul sentimen agama dan keAkuan agama yang itu akan semakin mempersempit dan memperdangkal alam berpikir. Tak ada maksud lain dari Penulis kecuali hanya untuk mengungkapkan pandangan ketuhanan dengan pendekatan kebatinan dan spiritual sepanjang pengetahuan yang kami miliki.


Mungkin tulisan ini terlalu tinggi untuk orang kebanyakan, sebaiknya dibaca hanya oleh pribadi-pribadi yang sepuh saja, atau dibaca hanya oleh orang-orang yang selama ini sudah menjalani laku kebatinan dan spiritual, terutama laku kebatinan dan spiritual ketuhanan dan laku kebatinan / spiritual untuk mencari kesejatian Tuhan yang dengan hikmat dan kearifan yang tinggi akan lebih bisa memahami isinya, dan mungkin juga akan bisa membuktikan sendiri kebenarannya.




_________






Laku kebatinan dan spiritual biasanya merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan, menjadi satu kesatuan yang dilakukan bersama-sama. Spiritualitas yang tinggi biasanya adalah hasil dari laku kebatinan dan spiritual seseorang dalam rangka pencarian ketuhanan.

Biasanya seseorang menekuni dunia spiritual sebagai kelanjutan dari laku kebatinannya, biasanya adalah laku kebatinan ketuhanan, yang kemudian dilanjutkan menjadi laku spiritual pencarian ketuhanan. Dengan demikian dari laku kebatinan dan spiritualnya itu orang tersebut menguasai sekaligus materi kebatinan dan spiritual, dan kekuatan sukmanya juga berasal dari laku kebatinan dan spiritualnya tersebut.

Biasanya walaupun proses laku yang dijalani oleh seseorang adalah olah kebatinan, hasilnya akan merupakan kombinasi dari kebatinan dan spiritual. Dalam setiap sisi kebatinan yang ditekuni seseorang selalu terkandung makna spiritual yang juga harus dikuasai. Dan dalam penggunaan kekuatan kebatinan biasanya juga disalurkan melalui kekuatan pikiran, sehingga biasanya orang-orang yang menekuni kebatinan, laku kebatinannya itu bukan hanya membentuk kekuatan kebatinan, tapi juga membentuk kekuatan gaib spiritual. Dan biasanya para tokoh kebatinan dan para praktisi kebatinan, orang-orang yang benar menekuni kebatinan, biasanya mempunyai kemampuan spiritual juga.

Tetapi tidak semua orang yang menjalani olah kebatinan, dia juga menjalani olah spiritual. Pada jaman dulu, di Jawa, ketika manusia masih hidup di jaman kesaktian, kekuatan kebatinan merupakan sumber utama kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan. Pada tingkat kesaktian yang tinggi orang melatih keilmuannya selain dengan olah kanuragan dan tenaga dalam, juga dilambari dengan kekuatan kebatinan. Laku prihatin, berpuasa bahkan tapa brata akan mengisi sehari-hari lakunya.


Kebanyakan laku kebatinan mereka tidak secara khusus dilakukan untuk mempelajari olah spiritual, tetapi lebih ditujukan untuk meningkatkan kesaktian kanuragan. Karena itu kebanyakan laku kebatinan dan spiritual yang tinggi dijalani oleh orang-orang yang sudah menepi, yang sudah tidak lagi mengedepankan olah kesaktian untuk lebih mengedepankan laku kebatinan ketuhanan, yang kemudian dilanjutkan dengan laku spiritual ketuhanan. Spiritualitas yang tinggi biasanya adalah hasil dari laku kebatinan dan spiritual seseorang dalam rangka pencarian ketuhanan.


Karena itu orang-orang jaman dulu yang menekuni laku kebatinan dan spiritual biasanya adalah juga orang-orang yang berilmu kesaktian tinggi, yang sudah melewati masa-masa pelatihan olah kanuragan dan tenaga dalam. Bahkan banyak kemudian yang pada masa tuanya mengaso meninggalkan keduniawiannya, mandito, dan menepi, menjadi seorang panembahan atau pertapa, untuk lebih menekuni dunia kerohanian ketuhanan. Karena itu seorang panembahan atau pertapa biasanya adalah orang-orang yang mumpuni dalam ilmu kesaktian, hanya saja kemudian kesaktiannya itu tidak kelihatan, karena mereka lebih mengedepankan sikap sebagai seorang yang sudah mandito, seorang yang kelihatan lebih menekuni dunia kerohanian. 



Tulisan di dalam halaman ini yang berjudul  Olah Roh, Manunggaling Kawula Lan Gusti, adalah tingkatan lebih lanjut dari laku kebatinan dan spiritual. Di dalamnya diungkapkan tujuan tertinggi dari laku kebatinan dan spiritual yang umum dilakukan oleh orang-orang yang menjalaninya, yaitu laku kebatinan dan spiritual keTuhanan.

Puncak dari berbagai ilmu kebatinan dan spiritual adalah pencapaian manusia atas pengetahuan  tentang  rahasia kehidupan dan hakekat kehidupan, yaitu kehidupannya sendiri, kehidupan di alam ini, kehidupan di alam nanti, adanya kehidupan lain selain kehidupan manusia, asal-usul kehidupan, dan rahasia tentang Tuhan Sang Pencipta dan Penguasa Kehidupan dan jalan untuk dapat mencapaiNya.

Puncak lain dari berbagai ilmu kebatinan dan spiritual adalah pencapaian manusia  atas  kekuatan / kesaktian sesuai pencapaian keilmuannya.


Puncak dari laku kebatinan dan spiritual ketuhanan adalah pencapaian kesadaran atas pengetahuan akan adanya Tuhan dan kesadaran bahwa untuk mencapai Tuhan hanya dapat dilakukan dengan menyelaraskan roh manusia dengan Roh Tuhan dan menyelaraskan jalan hidup manusia dengan kehidupan yang dikehendaki oleh Tuhan, supaya nantinya manusia dapat kembali diterima menyatu dengan Tuhan. Pemahaman yang dicapai dalam laku ketuhanan ini kemudian mewujud menjadi ajaran ketuhanan, menjadi agama, menjadi aliran-aliran atau sekte di dalam suatu agama, atau menjadi kelompok / paguyuban kebatinan ketuhanan.

Puncak lain dari laku kebatinan dan spiritual ketuhanan adalah pencapaian kekuatan / kesaktian / kuasa yang berasal dari keselarasan roh manusia dengan Tuhan, walaupun itu mungkin baru bisa sebatas menyelaraskan- nya dengan "Cahaya"-Nya saja.


Puncak dari  Olah Roh, Manunggaling Kawula Lan Gusti  yang kemudian diwujudkan menjadi  Ajaran Roh  adalah pencapaian manusia atas  pengetahuan  yang  benar  tentang Tuhan, tentang SejatiNya Tuhan dan jalan yang benar menuju Tuhan, keselarasan manusia dengan Tuhan dan firman-firmanNya dan tinggal di dalam Tuhan dan KuasaNya, sehingga tercipta  kemanunggalan  yang  sempurna  antara manusia dengan Tuhan, menjadi Kemanunggalan yang mewujudkan sesuatu yang lebih besar daripada sekedar kekuatan dan kesaktian, yaitu  Kuasa  untuk melakukan berbagai perbuatan besar, termasuk perbuatan-perbuatan yang disebut mukjizat dan mendatangkan tanda-tanda dari langit (Tuhan), perbuatan-perbuatan besar yang tidak dapat dilakukan dengan hanya mengandalkan kekuatan manusia sendiri atau mengandalkan penyatuannya dengan roh-roh duniawi lain, dan Kemanunggalan dengan Tuhan itu bisa dicapai disaat manusia masih hidup, tidak perlu menunggu sampai nanti, berharap bahwa nantinya manusia dapat kembali menyatu dengan Tuhan.


Olah Roh adalah olah laku dan tingkatan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia.
T
ingkatan ini dijalani bukan lagi dengan olah fisik, olah batin atau olah spiritual, tetapi adalah dengan mengolah spiritual rohnya, termasuk mengolah penyatuan roh manusia dengan roh lain yang lebih tinggi.

Olah Roh tidak sama dengan olah sukma yang mengolah kemampuan sukma manusia di luar tubuh, tetapi tidak mengolah spiritual rohnya.

Olah Roh juga tidak sama dengan olah kebatinan dan spiritual, walaupun juga mengolah potensi sukma / roh manusia, tetapi masih berputar-putar di sekitar alam kehidupan dan pengetahuan duniawi.

Tetapi olah kebatinan dan spiritual, bersama dengan rasa kebatinan dan spiritual, dapat menjadi dasar untuk olah Roh, untuk menjalani 
laku  kebatinan dan spiritual keTuhanan , untuk melakukan pencarian Roh (Tuhan).


Dalam tulisan ini Penulis ingin menekankan pembedaan antara  roh  (
dengan huruf kecil)  yang adalah roh manusia atau roh-roh duniawi lain, dengan  Roh  (dengan huruf besar) yang adalah roh lain yang lebih besar dan lebih tinggi daripada roh manusia dan roh-roh duniawi lain atau penyatuan Roh itu dengan roh manusia.

Penulis belum mengetahui contoh-contoh manusia yang sudah pernah mencapai kondisi tertinggi ini selain beberapa Nabi Israel (tidak semuanya) dan murid-murid Yesus jaman dulu dan beberapa orang Kristen tertentu. Mereka tidak mempelajari ilmu ini, tetapi olah laku dan penyatuan roh mereka dengan Tuhan Penguasa Alam telah menjadikan mereka seolah-olah telah menguasai ilmu ini.



  Budaya Kebatinan dan Spiritual Ketuhanan


Di Jawa, pada jaman sebelum berkembangnya agama Islam, orang-orang Jawa hidup dengan kepercayaan kebatinan spiritual kejawen (kejawaan), yang sebagian juga mengadaptasi ajaran agama Hindu dan Budha. Mereka percaya akan keberadaan Roh Agung Alam Semesta (sekarang disebut Tuhan). Mereka menjalani laku untuk menyelaraskan rasa kebatinan mereka dan hidup mereka dengan kearifan sifat-sifat Tuhan. Mereka juga menyelaraskan hidup mereka dengan keserasian alam (termasuk dengan roh-roh halus). Tujuan tertinggi penghayatan kepercayaan mereka adalah penyatuan mereka dengan Tuhan, selain supaya hidup mereka di dunia direstui dan diberkahi, juga supaya nanti sesudah kematian mereka dapat kembali menyatu dengan Tuhan.

Ajaran-ajaran dalam kebatinan spiritual kejawen mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan dan mengarah pada ajaran  Kemanunggalan  seperti disebut di atas, misalnya ajaran Manunggaling Kawula Lan Gusti, Sangkan Paraning Dumadi,  Sukma Sejati, dsb, yang mengajarkan kesejatian diri sebagai manusia dan penyembahan kepada Roh Agung Alam Semesta (Tuhan). Mereka yang sangat dalam menekuni penghayatan kebatinan kejawaan itu memiliki kekuatan dan kegaiban sukma yang tinggi sekali, sehingga bila pada masa sekarang orang hanya bisa percaya atau tidak saja ketika mendengar istilah moksa, pada masa itu seorang tokoh kebatinan yang melakukan moksa adalah sesuatu yang biasa.

Dalam ajaran-ajaran kejawen tersebut manusia diajak mendekatkan diri kepada Tuhan, menyelaraskan sifat-sifat manusia dengan sifat-sifat Tuhan, bersandar dan menyelaraskan diri dengan kuasa Tuhan, dan diajak untuk melepaskan diri dari belenggu duniawi, melepaskan sifat-sifat tamak dan serakah pada kepemilikan duniawi yang dapat mengotori kesucian hati dan batin manusia dan dapat menghambat jalan manusia menuju Tuhan. Ajaran ini didasarkan pada kepercayaan untuk kembali pada kemurnian jati diri dan sifat-sifat manusia yang sejati sesuai kehendak Tuhan pada saat penciptaan manusia.

Ajaran-ajaran kejawen menekankan penghayatan keyakinan bahwa dalam diri manusia sebenarnya sudah terkandung roh agung ciptaan Tuhan yang berbeda dengan roh-roh lain, hanya saja dalam kehidupan sehari-hari manusia terlalu larut dalam hidup keduniawian, sehingga menjauhkan roh manusia dari Roh Tuhan. Manusia lebih dekat dengan duniawinya, sehingga jauh dari penciptanya.

Kebatinan Jawa pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia Jawa terhadap Tuhan, yang kemudian diajarkan turun-temurun menjadi tradisi dan warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, jauh sebelum hadirnya agama Hindu-Budha dan Islam di pulau Jawa. Penghayatan keTuhanan itu bukanlah agama. Agama mereka bisa apa saja, tetapi, di samping ajaran ketuhanan dalam agamanya, orang Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan. Agama Hindu dan Budha yang telah lebih dulu masuk ke Jawa telah diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa dan mewarnai sikap kebatinan Jawa, karena memiliki banyak kesamaan dengan spiritualisme Jawa.

Kebatinan ketuhanan Jawa (Kejawen) pada dasarnya adalah sebuah laku penghayatan kepercayaan ketuhanan, bukan agama. Pengertian Manunggaling Kawula Lan Gusti dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi. Kepercayaan ketuhanan kejawen tidak mendasarkan diri pada ajaran nabi-nabi dan tidak membutuhkan kitab suci seperti halnya agama-agama modern. Pendekatan mereka kepada Tuhan dilakukan secara langsung dan pribadi , dengan rasa , dengan batin.  Itulah yang disebut agama kaweruh , yang orang-orangnya berusaha mengerti dan mengenal Tuhan secara langsung dan pribadi sehingga orang memiliki pemahaman yang dalam tentang agamanya dan tentang Tuhan sesembahannya. Agama mereka bisa apa saja, tetapi di samping agamanya itu manusia Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan. Melalui olah rasa dan batin manusia Jawa berusaha secara pribadi mengenal langsung Tuhan-nya dan berusaha menyatu secara langsung denganNya.

Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan antara ketuhanan kejawen dengan agama-agama modern. Penganut agama modern menjadikan ajaran-ajaran dalam kitab sucinya sebagai sumber pengetahuan mereka tentang Tuhan dan menjadi acuan peribadatan mereka. Semua keharusan dan larangan di dalam kitab suci harus dipatuhi, kitab suci menjadi dasar peribadatan yang tidak boleh dilanggar. Pengenalan dan pengetahuan mereka tentang Tuhan umumnya hanyalah sebatas apa yang sudah tertulis dalam kitab suci saja dan sebatas interpretasi dan pemahaman yang diajarkan dalam keagamaan mereka saja, tidak lebih, dan tidak boleh lebih, apalagi menyimpang dari itu, yang kemudian malah memunculkan banyak pencitraan dan pengkultusan, dogma dan doktrin tentang Tuhan, tentang pahala dan dosa, tentang surga dan neraka, sehingga menjadi umum bahwa karena kurangnya pengenalan akan Tuhan orang akan beralih menjadi menekuni agama, meninggikan agama, memuliakan agama, bahkan mempertuhankan agama, lebih daripada mereka meninggikan dan mempertuhankan Tuhan.

Banyaknya pengkultusan dalam kehidupan beragama justru semakin menjauhkan manusia dari Tuhan, menjadikan Tuhan semakin jauh untuk dijangkau, sehingga dianggap mustahil manusia dapat mengenal Tuhan secara langsung, apalagi mencapaiNya, yang itu mendorong manusia untuk semakin melakukan pengkultusan tentang Tuhan, mengatasnamakan Tuhan dalam perbuatan-perbuatannya dan mendorong manusia untuk semakin mengedepankan agama dan ibadah formal, bukan ketuhanan.

Sedangkan penganut ketuhanan kejawen berusaha menyelaraskan kerohanian dan kehidupan mereka sesuai penghayatan ketuhanan mereka masing-masing untuk Manunggaling Kawula Lan Gusti. Agama yang mereka anut bisa apa saja, tetapi orang Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan.


Para pelaku penghayat kejawen, yang sangat dalam menekuninya, menemukan suatu kekuatan yang mengalir di dalam tubuh mereka, yaitu kekuatan Sukma Sejati, kekuatan roh agung yang diciptakan Tuhan dalam pribadi manusia, kekuatan yang sama sekali berbeda dengan kekuatan tenaga dalam kanuragan, dan kekuatan ini jauh lebih kuat daripada tenaga dalam. Kekuatan ini tidak bisa didapat dengan cara latihan fisik ataupun olah nafas. Kekuatan ini terbangkitkan ketika seseorang mesu raga, mengesampingkan kekuatan biologis dan hasrat keduniawian. Kekuatan ini berasal dari jiwanya yang paling dalam, dari  jiwa yang menyembah Tuhan.

Orang-orang yang menekuni kebatinan, perhatian kebatinan mereka lebih ditujukan "ke dalam" (ke dalam batin sendiri), berupa penghayatan kebatinan, sehingga juga menyentuh relung batin yang paling dalam, jiwanya, sukmanya, sehingga proses laku mereka "membangunkan" inner power, yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma. Dan kekuatan dan kegaiban sukma mereka jelas berbeda dibandingkan orang-orang lain yang tidak menekuni kebatinan.

Ketika kekuatan itu sudah terbangkitkan dan menyatu dengan diri seseorang, maka kekuatan dari niat batin dan kehendaknya bisa menjadikan suatu kejadian, tanpa perlu amalan gaib atau aji-aji. Kegaiban seorang yang linuwih dan waskita. Dan semua perkataannya jadi !  saking kersaning Allah. Dan ketika kekuatan itu menyatu dengan kesaktian fisiknya, maka sulit sekali ada orang yang dapat menandinginya, karena kesaktiannya menjadi berlipat-lipat ganda kekuatannya setelah dilambari dengan kekuatan sukmanya. Sekalipun seseorang tidak memiliki ilmu kesaktian kanuragan, tetapi kekuatan fisiknya akan menjadi jauh lebih kuat ketika dilambari dengan kekuatan sukmanya, suatu kekuatan yang jelas tidak semata-mata berasal dari kekuatan fisiknya.

Seseorang yang menekuni dan mendalami ajaran-ajaran kejawen ini biasanya akan memiliki kegaiban dan kekuatan sukma yang tinggi, yang berasal dari penghayatan kebatinan dan keselarasan sukmanya dengan kemaha-kuasa-an Tuhan, menjadikan mereka memiliki kegaiban tinggi sebagai orang-orang yang linuwih dan waskita. Mereka membentuk pribadi dan sukma yang selaras dengan keillahian Tuhan. Mereka membebaskan diri dari belenggu keduniawian, sehingga berpuasa dan berprihatin tidak makan dan minum berhari-hari bukanlah beban berat bagi mereka, dan melepaskan keterikatan roh mereka dari tubuh biologis mereka, kemampuan melolos sukma, bukanlah sesuatu yang istimewa. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian moksa, bersama raganya berpindah dari alam manusia ke alam roh tanpa terlebih dulu mengalami kematian.

Pengetahuan dan ajaran tentang  Sedulur Papat Kalima PancerManunggaling Kawula Lan GustiSangkan Paraning Dumadi,  Sukma Sejati, Guru Sejati, dsb, adalah puncak-puncak dari keilmuan kebatinan dan spiritual jawa jauh sebelum datangnya agama Islam di pulau Jawa. Konsep-konsep tersebut adalah terminologi asli kejawen dan adalah hasil pencapaian kebatinan dan spiritual tokoh-tokoh kejawen, yang kemudian diajarkan kepada para pengikutnya, dan akhirnya berkembang menjadi ajaran kebatinan jawa atau menjadi aliran kepercayaan kerohanian kejawen.

Istilah kebatinan Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu ajaran penghayatan penyatuan dan keselarasan manusia dengan Tuhan, adalah istilah di dalam kepercayaan kebatinan jawa dan menjadi tujuan dari laku penghayatan kepercayaan kejawen. Tetapi istilah itu menjadi populer setelah digunakan oleh Syech Siti Jenar dalam ajaran kebatinan Islam jawa, karena saat itu bertentangan dengan pendapat Sunan Kudus yang menganggap ajaran itu bukan murni ajaran Islam. Dalam hal ini Syech Siti Jenar sebagai seorang pemuka agama Islam dianggap sudah mengajarkan suatu ajaran yang bukan asli ajaran Islam, menyimpang dari ajaran Islam yang benar, dan dianggap sesat.

Syech Siti Jenar pada dasarnya adalah seorang ulama / pengajar agama Islam yang datang dari luar Jawa. Pengetahuan kebatinan kejawen dipelajarinya dari Ki Ageng Pengging, dan yang dipelajarinya hanyalah intisarinya saja, untuk menambah wawasan kebijaksanaannya tentang kejawaan dan menambah kedalaman kebatinan ketuhanannya. Ajaran kejawen itu pada dasarnya adalah ajaran penghayatan ketuhanan dari sudut pandang orang Jawa. Dan atas pemahamannya pada ajaran kebatinan ketuhanan kejawaan itu Syech Siti Jenar menemukan banyak pencerahan mengenai agamanya sendiri, agama Islam, mendapatkan sudut pandang lain tentang pemahaman ketuhanan yang tidak akan didapatkannya jika ia hanya mengikuti tata cara Islam seperti yang selama ini dijalaninya.

Kebatinan Jawa pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia Jawa kepada Tuhan, yang kemudian diajarkan turun-temurun menjadi tradisi dan warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, jauh sebelum hadirnya agama Hindu-Budha dan Islam di pulau Jawa. Penghayatan ketuhanan itu bukan agama. Agama mereka bisa apa saja, tetapi, di samping ajaran ketuhanan dalam agamanya, orang Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan. Agama Hindu dan Budha yang sudah lebih dulu masuk ke Jawa telah diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa dan mewarnai sikap kebatinan Jawa, karena memiliki banyak kesamaan dengan kebatinan dan spiritualisme Jawa.

Pemahaman yang dalam mengenai ketuhanan Islam setelah menjalani laku penghayatan kebatinan ketuhanan cara Jawa telah memperkaya wawasan ketuhanan Syech Siti Jenar dan menjadi bahan untuk mengajarkan agama Islam di pulau Jawa, menjadi pengetahuan yang berguna dalam mengadaptasikan ajaran Islam kepada masyarakat jawa pada saat itu yang mayoritas adalah penganut kejawen, dan berguna untuk bertukar pikiran atau berdebat tentang ketuhanan dan agama, tetapi selain itu laku penghayatan kebatinan itu juga telah menambah tinggi kekuatan kebatinan dan kegaiban sukma Syech Siti Jenar sendiri.


Di Jawa ada seorang pertapa / panembahan yang dulu hidup pada jaman kerajaan Kediri. Beliau adalah salah satu orang yang menekuni ketuhanan kejawaan di atas. Beliau juga moksa. Tetapi tidak seperti manusia moksa yang lain, beliau, karena kekuatan ilmunya, dapat bebas keluar masuk alam manusia dan alam gaib. Ketika masuk ke alam manusia, beliau benar-benar mewujud menjadi manusia berdaging. Ketika masuk ke alam gaib, beliau akan sama dengan sukma / roh manusia yang lain. 

Tidak seperti roh manusia lain yang sudah menerima hidupnya sebagai roh, beliau aktif mencari keberadaan Tuhan dan mengejar kesempurnaan menyatunya dirinya dengan Tuhan. Dari dulu sampai sekarang sudah banyak tokoh keagamaan di alam roh (almarhum) yang ditemuinya, tetapi tidak ada satu pun yang dapat menyempurnakan penyatuannya dengan Tuhan. Begitu juga ketika hadir dalam sosok manusianya di alam manusia yang masih hidup, tidak ada satu pun orang yang ditemuinya dapat mengantarkan dirinya menyatu dengan Tuhan. Mungkin suatu saat nanti kita sendiri dapat bertemu dengan beliau, di kehidupan yang sekarang atau nanti di kehidupan setelah kematian.

Ini adalah salah satu contoh kuatnya keyakinan kepercayaan manusia kepada Tuhan, tetapi manusia dengan usahanya sendiri tidak dapat mencapai Tuhan, dan Tuhan juga tidak menunjukkan kesejatianNya kepada semua orang, kecuali kepada orang-orang tertentu saja yang Ia berkenan.



Mereka yang mempelajari atau diberi ilmu-ilmu gaib, sudah umum bila mereka berkaitan dengan gaib, ada penyatuan secara langsung maupun tidak langsung, antara dirinya dengan gaibnya. Gaibnya itu bisa menjadi khodam pendampingnya, atau dihadirkan untuk diperintah melaksanakan tujuan dari ilmu gaibnya, seperti untuk keselamatan, kekuatan / kesaktian, pelet, santet, guna-guna, pengasihan, penglaris dagangan, dsb. Jenis-jenis ilmu inilah yang biasa disebut sebagai ilmu khodam, yaitu yang menggunakan jasa mahluk gaib lain (khodam ilmu / prewangan) sebagai kekuatan ilmunya. Tingkat kemanjuran dan kekuatan ilmunya tergantung pada tingkat penyatuan seseorang dengan khodamnya dan
tergantung pada kekuatan dari khodamnya itu sendiri.

Di beberapa tempat di Indonesia juga kerap terdengar cerita tentang seseorang yang ketempatan sesuatu roh, yang kemudian menyebabkan orang tersebut dapat melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di mata umum. Roh yang datang kepadanya itu bisa adalah khodam dari leluhurnya, bisa juga roh / mahluk halus lain yang merasa cocok dengannya dan mengikut. Roh itulah yang menyebabkannya dapat melakukan perbuatan-perbuatan ajaib yang sebelumnya sama sekali tidak dapat dilakukannya, seperti mengobati / menyembuhkan orang sakit secara gaib, meramal, memiliki kesaktian dan pukulan yang mematikan, dsb. R
oh gaib tersebut menyatu dengan orang tersebut, sehingga kekuatan ilmu
orang itu menjadi sebanding dengan roh tersebut.

Di negara India dan sekitarnya, yang hingga saat ini masih tetap merupakan wilayah dengan budaya kebatinan dan spiritual nomor 1 tertinggi di dunia, ada banyak ajaran tentang Kemanunggalan manusia dengan Sang Penguasa Alam. Bentuk
ajarannya umumnya adalah ajaran penyatuan dan pemujaan kepada Dewa-Dewi India yang mereka percayai sebagai figur-figur yang mewakili Sang Penguasa Alam, dan mereka menempatkan hidup mereka di bawah naungan para Dewa.

Di wilayah itu juga ada banyak sekali ajaran ilmu khodam (dan perdukunan), yaitu penyatuan manusia dengan roh lain sebagai kekuatan ilmunya. Penyatuan yang paling tinggi antara manusia dengan roh lain adalah berupa penitisan Dewa ke dalam diri seseorang, seperti penitisan Dewa Wisnu ke dalam diri pribadi Prabu Kreshna  (Dewa Wisnu juga pernah menitis ke dalam diri
Prabu Airlangga, raja kerajaan Kediri, dan Prabu Siliwangi, raja kerajaan Pajajaran). Penyatuan itu menghasilkan kesaktian dan kewaskitaan yang luar biasa, bahkan semenjak si manusia masih kecil dan belum belajar ilmu kesaktian. Penyatuan dari penitisan Dewa merupakan bentuk kemanunggalan tertinggi yang diketahui manusia, kecuali ada penitisan roh duniawi lain yang lebih tinggi daripada Dewa.

Budha Gautama adalah seorang keturunan bangsawan yang telah meninggalkan keduniawiannya untuk menjalani panggilan hidup sebagai seorang spiritualis yang akan menerangi orang lain agar menjadi lebih baik kualitas kepribadiannya sebagai manusia. Seorang spiritualis sejati, yang karena panggilan hidupnya, untuk mencapai tujuannya itu beliau telah meninggalkan segala pamrih duniawi dan menjalani berbagai macam laku, tirakat dan prihatin. Beliau telah mencapai tahapan "Pencerahan" setelah mengenal sifat-sifat Tuhan dari "Cahaya" -Nya dan karenanya beliau kemudian juga mengetahui banyak rahasia kehidupan, sehingga menjadi seorang yang "Tercerahkan" dan beliau mendedikasikan dirinya sesuai panggilan hidupnya.

Sesuai pencapaiannya itu juga semua keilmuan kesaktian kanuragan, kebatinan dan spiritualnya menjadi seperti bertumbuh-bertambah, karena beliau telah menguasai aspek filosofis dari keilmuannya, menjadi seorang yang digdaya, linuwih dan waskita, jiwa dan raganya. Karenanya, beliau menjadi seseorang yang memiliki kesaktian "super" dibandingkan manusia lain, semasa hidupnya di dunia maupun sukmanya setelah hidup di alam roh. Dan atas dedikasinya pada panggilan hidupnya itu menjadikannya seseorang yang memiliki hikmat kebijaksanaan kesepuhan yang digunakannya untuk menerangi dan mengayomi orang lain.

Banyak pengikutnya yang meneladani hidupnya dan melaksanakan keagamaan dan meditasi sesuai ajarannya untuk juga dapat mencapai tahapan "Pencerahan", dan beberapa di antaranya sudah berhasil mencapai tingkatan Budha. Tetapi ajarannya itu adalah untuk mendapatkan "Pencerahan", bukan untuk manunggal dengan Tuhan.

Berbagai bentuk ajaran dan keilmuan tersebut di atas, sekalipun terkait dengan ajaran ketuhanan, dan pada manusianya sudah mewujudkan suatu kegaiban yang tinggi yang berasal dari penyatuan dan keselarasan roh manusia dengan "sesuatu" yang tinggi, tetapi masih bukan merupakan kemanunggalan
Manunggaling Kawula Lan Gusti yang sempurna seperti yang dimaksudkan disini.



  Pencarian Roh dan Ketuhanan


Banyak manusia merasa jauh dari Tuhan, tidak menemukan jalan mencapai Tuhan, tidak menemukan "Terang" Tuhan, tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan manusia, karena tidak banyak manusia yang menyadari dan mengimani bahwa "Cahaya" dan "Kuasa"  Tuhan melingkupi / menyelimuti semua kehidupan di bumi. Ditambah lagi adanya rasa pemujaan yang memunculkan berbagai macam pencitraan dan pengkultusan manusia tentang Tuhan yang cenderung melebih-lebihkan, semakin mengaburkan kesejatianNya, hanya menjadikan Tuhan semakin jauh saja untuk dijangkau dan menjadikan mustahil manusia dapat mengenal Tuhan secara pribadi, apalagi untuk manunggal denganNya (sehingga seseorang yang mengaku mengenal Tuhan atau mengaku manunggal dengan Tuhan akan dikucilkan atau dihukum mati).

Tuhan memberikan "Cahaya" dan "Kuasa"- Nya ke seluruh penjuru bumi, sehingga sekalipun suatu daerah di bumi belum terjamah agama, belum mengenal agama-agama formal, tetapi manusia-manusia di tempat-tempat itu dapat memiliki kearifan ketuhanan, memiliki kesadaran akan adanya "Roh Agung Alam Semesta", dan beberapa orang di antara mereka "terpanggil" untuk lebih dalam lagi menekuni kebatinan dan spiritual ketuhanan, yang kemudian selaku seorang tokoh kepercayaan akan mengajarkannya kepada orang lain sebagai ajaran ketuhanan dan kerohanian.

Tuhan memberikan Cahaya dan Kuasa-Nya ke seluruh penjuru bumi, menjadi tanda bahwa Tuhan menaungi kehidupan di bumi, sehingga manusia dapat memiliki kearifan ketuhanan, dan mereka yang memerlukan pertolongan Tuhan bisa menggunakan kuasaNya itu, atau untuk meminta petunjuk, dengan berdoa menghayati kebersamaan dan bersugesti tersambung dengan Tuhan.

Cahaya dan Kuasa Tuhan
menyelimuti seluruh kehidupan di bumi, sehingga manusia yang percaya dan  menyelaraskan dirinya dengan penghayatan / kebatinan ketuhanan akan dapat menumbuhkan kekuatan batin dan sukma yang tinggi. Kuasa Tuhan itu juga bisa "dipinjam" dengan menyebut namaNya sesuai sugesti dan kekuatan kepercayaan masing-masing pelakunya. Di dalam penghayatan kepercayaan kepada
Kuasa Tuhan itu manusia dapat juga melakukan berbagai perbuatan besar dan ajaib. Tetapi itu hanyalah "meminjam" Kuasa Tuhan saja, kuasa yang sudah disediakan Tuhan untuk manusia dan dunia, bukan si manusianya yang sudah manunggal dengan Tuhan.


Banyak usaha manusia yang dilakukan untuk penyatuan dan penghayatan ketuhanan dan selalu menyebut nama Tuhan dalam kesehariannya, tetapi belum cukup untuk Tuhan berkenan manunggal dengan seseorang, karena Tuhan mempunyai jalanNya sendiri, dan Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu saja yang Ia berkenan untuk memanunggalkan diriNya kepadanya. Walaupun tidak semua manusia bisa manunggal dengan Tuhan, tetapi Cahaya dan Kuasa Tuhan yang menyelimuti semua kehidupan di bumi adalah karunia bagi manusia karena Tuhan menaungi kehidupan di bumi.

Kuasa dan Cahaya Tuhan itu harus dipahami dengan hikmat, tidak bisa dipahami hanya dengan mendalami agama dan ibadah formal saja, apalagi mendasarkan kepercayaannya hanya pada dogma dan doktrin agama saja dan pencitraan dan pengkultusan, apalagi tujuan dari berbagai ajaran ketuhanan dan agama bukanlah untuk dianut seperti baju seragam sekolah yang dipakai sebagai lambang identitas, lambang kelompok dan golongan, dan tidak untuk dipaksakan kepada orang lain, tetapi supaya manusia bisa lebih mengenal Tuhan, membentuk kearifan untuk manusia dapat hidup sebagai mahluk yang telah mengenal Tuhan, supaya manusia dapat menyelaraskan kehidupannya dengan kehidupan yang menjadi kehendak Tuhan, supaya meninggalkan cara hidup lama sebagai mahluk yang tidak mengenal Tuhan dan memulai hidup baru sebagai mahluk yang sudah mengenal Tuhan (bukannya mengenal agama tapi tidak mengenal Tuhannya), supaya nantinya manusia dapat layak untuk kembali menyatu dengan Tuhan Penciptanya.

Seseorang harus memiliki kearifan yang tinggi dan sikap kerohanian yang benar dalam berkeagamaan dan berketuhanan (termasuk berkebatinan dalam agama)  untuk dapat dengan benar memahami ketuhanan, untuk dapat dengan benar mengenal Tuhan, dan untuk dapat menyelaraskan kehidupannya dengan pengenalannya atas kehidupan yang menjadi kehendak Tuhan, sehingga kemudian akan dapat dirasakan bahwa agama adalah bersifat pribadi bagi para penganutnya, karena agama adalah cara dan jalan manusia untuk mengenal Tuhan, yang tidak boleh dipaksakan kepada orang lain, apalagi digunakan untuk menghakimi orang lain.

Seseorang yang ingin mencari Tuhan, haruslah percaya pada keberadaanNya, pada kesejatianNya, percaya bahwa Tuhan ada di atas semua agama dan ajaran ketuhanan yang ada (Tuhan tidak terkungkung di bawah agama atau ketuhanan tertentu), dan kepercayaan kepada Tuhan harus melebihi kepercayaan kepada agama atau apapun juga.

Seseorang yang ingin mencari Tuhan haruslah murni terbebas dari segala urusan dan belenggu duniawi, termasuk bebas dari aturan-aturan agama dan ajaran ketuhanan yang ada, karena keberadaan dan kesejatian Tuhan tidak dibatasi oleh agama dan segala macam ajaran ketuhanan. Fokus kepada pribadi Tuhan dan KesejatianNya. Yang bila kemudian ketuhanan yang benar sudah didapatkan, bila itu memang terkait dengan agama tertentu,
seseorang akan tahu perbuatan apa dan keagamaan bagaimana yang seharusnya dilakukannya untuk menyelaraskan dirinya dengan kehendak Tuhan atas manusia dan dunia.

Mereka yang benar telah manunggal dengan Tuhan, atau yang sudah mengenal Tuhan walaupun baru sebatas "Cahaya" -Nya saja, akan tidak lagi menginginkan pamrih apa-apa dari dunia ini, termasuk pamrih atas kekuatan keilmuan dan kepemilikan duniawi. Walaupun dengan kuasa dari kemanunggalan itu seseorang dapat menjadi penguasa dunia dan tidak ada satupun mahluk dan roh duniawi yang dapat melawan kuasanya, tetapi semuanya itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan Kemuliaan dan Keagungan Tuhan yang sudah dikenalnya, yang tidak dapat digantikan dengan apapun juga yang dapat diberikan oleh dunia ini. Yang kemudian diinginkannya hanyalah untuk dapat sesegera mungkin menyatu dengan Kemuliaan dan Keagungan itu. Dan kepada semua orang yang mau mendengarkannya, tanpa paksaan dan ancaman kekerasan, akan diajarkannya semua apa yang diketahuinya tentang Tuhan, yang kemudian akan mewujud menjadi sebuah ajaran keTuhanan, walaupun itu mungkin baru sebatas "Cahaya" -Nya saja.

Seseorang yang mengaku mengenal Tuhan, tetapi masih memiliki hasrat dan pamrih duniawi yang tinggi, apalagi memaksakan kekuasaan untuk menyebarkan ajarannya supaya ajarannya dianut oleh orang lain, maka bisa dipastikan bahwa semua pengakuannya itu adalah palsu belaka.  Penipu !   Pendusta !   Karena Kemuliaan dan Keagungan Tuhan menuntut manusia menjadi pribadi yang juga mulia dan agung, yang selaras dengan sifat-sifat Tuhan, yang jauh dari rasa kebencian dan permusuhan, termasuk kepada orang-orang yang berbeda keyakinan, karena hubungan dan kedekatan manusia dengan Tuhan bersifat pribadi, tidak dapat dipaksakan kepada orang lain, apalagi dengan kekerasan, dan manusia juga bukan robot yang bisa
diprogram / dipaksa untuk percaya dan beribadah tanpa adanya keyakinan dan pengetahuan dalam dirinya yang mengantarkannya pada kesadaran yang tinggi akan Tuhan.

Selain sebagai mahluk biologis, manusia juga dibekali roh, sehingga juga dapat mengetahui hal-hal yang bersifat roh. Tetapi sehari-harinya roh manusia itu terbelenggu dalam kehidupan biologis manusia, sehingga manusia tidak peka dengan hal-hal yang bersifat roh, bahkan banyak orang yang sudah tumpul batinnya dan buta hatinya. Karena itu seringkali orang harus bisa membersihkan hati, pikiran dan batinnya, harus bisa melepaskan belenggu keduniawiannya untuk bisa mendalami hal-hal yang bersifat roh dan keTuhanan. Jika tidak bisa membersihkan hati, pikiran dan batinnya, maka dalam hal-hal yang bersifat roh dan keTuhanan (dan agama) yang muncul kemudian adalah sifat-sifat ke-Aku-an, sok suci, sok beriman, sok tahu, sok benar, malah banyak orang yang mempertuhankan dirinya sendiri, memaksakan kehendak bahwa pemikiran dan perkataannya adalah kebenaran mutlak dan harus dipatuhi, dan membuat orang-orang pengikutnya
memujanya, mempertuhankannya, bukannya mempertuhankan Tuhan.


Allah itu Gaib.

Keberadaan Tuhan hanya bisa dirasakan secara roh, karena itu untuk mempelajarinya juga harus dilakukan dengan mengedepankan roh (kebatinan / spiritual).  Pencarian kesejatian Tuhan dan pengetahuan tentang "Sosok Pribadi" yang menjadi Tuhan melibatkan pengetahuan gaib berdimensi tinggi, diperlukan pengertian yang dalam tentang kegaiban, kebatinan dan spiritual, tidak bisa dijalani hanya dengan jalan mendalami agama saja yang itu hanya akan memunculkan banyak pencitraan dan pengkultusan saja, dogma dan doktrin saja.


Tuhan (Sosok Tuhan, Pribadi yang menjadi Tuhan, kesejatianNya dan keberadaanNya) adalah materi spiritual yang tertinggi. Karena itu tidak banyak orang yang mampu mencapai pengetahuannya, tidak banyak orang yang mampu dengan benar mengenal Tuhan (Sosok, Pribadi Tuhan dan kesejatianNya), bahkan banyak orang yang walaupun agamis, tetapi tidak tahu siapa sesungguhnya Tuhannya. Lebih banyak orang yang untuk menutupi ketidaktahuannya tentang Tuhan mereka memunculkan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan seolah-olah mereka benar tahu Tuhan. Karena itulah kebanyakan orang yang menekuni kebatinan / spiritual ketuhanan untuk melakukan pencarian ketuhanan banyak yang mempunyai lingkaran halo di belakang kepalanya sebagai tanda kuatnya laku kebatinan / spiritual mereka.

Orang-orang yang memiliki sinar lingkaran halo berwarna kuning dan emas menandakan bahwa orang-orang tersebut sudah menjalani tingkatan pengetahuan spiritual dimensi yang tertinggi, yaitu spiritual ketuhanan, biasanya adalah laku kebatinan dan spiritual dalam rangka pencarian ketuhanan. Laku spiritual ketuhanan ini bukan dijalani dengan hanya mempelajari atau mendalami agama saja, bukan juga dengan hanya membaca / mewirid doa atau amalan doa, tetapi dijalani dengan perbuatan nyata untuk menemukan "Sosok" Tuhan dan keberadaanNya beserta aspek ketuhanan lainnya dan untuk menelisik kesejatian dan kebenaran dari laku ketuhanannya dengan cara olah kebatinan dan spiritual.


Penulis sudah menuliskan di banyak tulisan tentang Tuhan dan ketuhanan dan spiritualitas ketuhanan bahwa dari tempat keberadaanNya Allah memancarkan "Energi"-Nya ke seluruh penjuru bumi, sehingga semua orang di berbagai penjuru bumi dengan rohnya bisa merasakan adanya tarikan rasa untuk bertuhan dan berketuhanan.

Pancaran 'Energi' Tuhan itu disebut Roh Agung Alam Semesta yang
dengan rohnya orang bisa merasakannya dimana-mana dimanapun ia berada di seluruh belahan bumi ini, karena pancaran Energi-Nya itu memang juga terpancar kemana-mana ke seluruh penjuru bumi, menjadi Roh Bumi. Roh Agung Alam Semesta atau Roh Bumi itu disembah orang dalam banyak bentuk agama dan jalan ketuhanan.

Dari sifat-sifat Energi-Nya itu orang bisa "merasakan" sifat-sifat
Allah, dan bisa dirasakan juga kehendak-kehendak Allah, disebut orang sebagai Cahaya Allah. Itulah yang umumnya dirasakan oleh orang-orang yang berusaha menyelami sifat-sifat Allah dan yang mendalami agama, yaitu Cahaya Allah, sifat-sifat Allah yang dirasakan orang dari rasa 'Energi' yang dipancarkan oleh Roh Agung Alam Semesta, yang Cahaya Allah itu dirasakan menyelimuti semua kehidupan di bumi.

Itulah yang umumnya diajarkan sebagai agama, yaitu Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dan Cahaya Allah yang menggambarkan sifat-sifat dan kehendak-kehendak Allah, ajaran agama yang didasarkan pada kesepuhan ketuhanan. Pengetahuan mereka hanya sedikit, karena mereka belum sampai pada pengetahuan tentang Sosok Allah, Pribadi yang menjadi Allah dan KeberadaanNya, dan mereka juga belum bisa tersambung langsung (kontak rasa) dengan Tuhan sehingga mereka tidak sungguh-sungguh mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi kehendak
Allah (mereka akan banyak memunculkan pemikiran dan pendapat sendiri dan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan dan kehendak-kehendakNya).

 
Tetapi pengetahuan tentang Tuhan yang hanya sebatas Roh Agung Alam Semesta itu tidak memuaskan bagi para pelaku pencari Tuhan. Dengan rohnya, dengan olah laku kebatinan dan spiritual mereka berusaha mencari Tuhan sampai bisa ditemukan seperti apa SosokNya, siapa sesungguhnya Pribadi yang menjadi Tuhan dan dimana tepatnya keberadaanNya. Dengan demikian mereka berharap bahwa nantinya mereka akan bisa lebih baik lagi dalam mereka menyelaraskan diri dan kehidupan mereka dengan yang menjadi kehendak Tuhan dan akan semakin terbuka peluang untuk nantinya mereka bisa kembali menyatu dengan Tuhan.

Tetapi tidak semua orang yang mencari Tuhan itu berhasil dalam usahanya. Apalagi Tuhan juga tidak kepada semua orang Ia berkenan menunjukkan diriNya.
Dengan demikian pengetahuan orang-orang tersebut masih tetap hanya sebatas Tuhan sebagai Roh Agung Alam Semesta saja dan sifat-sifat Tuhan dari Cahaya-Nya yang itu diajarkan sebagai agama / kepercayaan ketuhanan.


Tetapi diluar itu ada tokoh-tokoh agama jawi sebelum datangnya agama Islam yang berhasil "bertemu" Tuhan dalam "Penampakkan"-Nya serupa bola energi besar bercahaya kuning terang benderang (Roh Kudus) yang itu hanya bisa dilihat secara batin dan roh saja. Mereka juga bisa tersambung kontak rasa dan batin dengan Tuhan, bisa mendapatkan pengajaran-pengajaran langsung dari Tuhan, dsb, sehingga mereka bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang Tuhan, tentang kesejatian manusia, kesejatian hidup, dsb, yang itu kemudian mereka ajarkan dalam banyak nama dan istilah dalam kepercayaan jawa.

Karena itu selain tuntunan kerohanian / keagamaan yang diberikan oleh tokoh-tokoh agamanya, agama-agama jawi mengajarkan para penganutnya untuk bisa fokus batin kontak rasa langsung dengan Tuhan dan untuk bisa mendapatkan pengajaran-pengajaran langsung dari Tuhan,
olah roso untuk manunggaling kawula lan Gusti, sehingga mereka masing-masing secara pribadi bisa menjadi lebih mengerti sifat-sifat Tuhan dan kehendak Tuhan atas kehidupan mereka dan pemahaman itu mereka jalankan dalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka menyelaraskan kehidupan mereka dengan kehidupan yang menjadi kehendak Tuhan. Dengan demikian mereka tidak membutuhkan Nabi dan kitab suci, karena hubungan mereka dengan Tuhan bersifat langsung, pribadi dan personal.

Tetapi pencapaian ketuhanan orang-orang Jawa itu belum bisa disebut sebagai manunggal dengan Tuhan, belum mencapai tahap kasampurnan seperti yang dimaksudkan di halaman ini. Walaupun mereka sudah bisa tersambung dengan Tuhan, tetapi ternyata Tuhan masih belum berkenan manunggal dengan mereka. Tetapi ketekunan mereka dalam usaha mereka mengenal langsung Tuhannya, berusaha senantiasa tersambung kontak rasa dan batin dengan Tuhan dan sepenuh hati menyelaraskan pemahaman ketuhanan mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari sudah mendapatkan perhatian tersendiri dari Tuhan. Usaha dan ketulusan mereka itu tidak ada yang sia-sia karena dibandingkan manusia-manusia lain di tempat-tempat dan belahan bumi lain mereka dan tanah Jawa mendapatkan nilai tersendiri di mata Tuhan, mereka akan mendapatkan kemuliaan dan kemurahan tersendiri dari Tuhan pada akhir zaman.

Dan dengan jalan kebatinan ketuhanan mereka itu mereka memiliki pemahaman sendiri yang cukup mendalam tentang Tuhan, tidak perlu memunculkan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang sok tahu tentang Tuhan.

Apapun agama yang mereka anut, mereka memiliki pemahaman sendiri tentang
Tuhan, dan pemahaman itu mereka wujudkan dalam keseharian kehidupan mereka. Mereka berusaha mendekatkan hati mereka dengan Tuhan dan berusaha menyelaraskan jalan hidup dan perbuatan-perbuatan mereka dengan yang menjadi kehendak Tuhan sesuai yang mereka pahami. Pengertian Manunggaling Kawula Lan Gusti dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi , dengan rasa , dengan batin.  Itulah yang disebut Agama Kaweruh , yang orang-orangnya berusaha mengerti dan mengenal Tuhan secara langsung dan pribadi sehingga orang memiliki pemahaman yang dalam tentang agamanya dan tentang Tuhan sesembahannya.




  Manunggaling Kawula Lan Gusti


Termasuk yang sudah disebutkan di atas, ada banyak sekali ajaran tentang  Kemanunggalan,  bukan hanya di Jawa, tetapi juga di negara-negara lain di berbagai belahan bumi ini dalam banyak bentuk ajaran agama dan ketuhanan, tetapi tidak ada satu pun ajaran itu yang dapat memberikan hasil pencapaian yang sempurna seperti yang seharusnya.

Kegagalan  dalam mencapai tingkat kesempurnaan dari berbagai ajaran Kemanunggalan tersebut disebabkan oleh tidak adanya 2 unsur pokok dalam ajarannya, yaitu :

 1.  Tidak adanya konsep yang benar tentang Tuhan.
Konsep tentang tujuan yang ingin dicapai dalam suatu ajaran akan menentukan arah, jalan dan cara yang dijalani oleh para pelakunya. 
Konsep yang keliru tentang Tuhan, dan cara dan jalan yang keliru untuk mencapai Tuhan, tidak akan mengantarkan siapapun kepada Tuhan, apalagi manunggal denganNya.

 2.  Tidak adanya Guru Sejati.
Dalam semua ajaran harus ada sosok Guru Sejati, yang benar telah menguasai ajarannya, yang benar telah mencapai tingkat kesempurnaan ajarannya, dan yang benar dapat membawa semua orang yang bertekun pada pengajarannya kepada tingkat kesempurnaan seperti dirinya.


Dalam ajaran Kemanunggalan tersebut di atas, yang menjadi Guru Sejati haruslah yang benar sudah mengetahui kebenaran tentang Tuhan dan benar sudah mencapai tingkat Kemanunggalan, supaya dapat menuntun semua orang yang diajarnya, yang bertekun pada pengajarannya, kepada pengetahuan yang benar dan tingkat yang sama dengan dirinya.

Tetapi yang umumnya terjadi, yang ada adalah figur-figur tertentu, yang sekalipun belum mencapai pengetahuan yang benar tentang Tuhan dan belum mencapai tingkat Kemanunggalan, tetapi mengajarkan ajaran tersebut, ajaran yang berupa "agama" atau kepercayaan, ada juga yang sampai menciptakan dogma dan doktrin yang 'memaksa' mengharuskan orang lain untuk melaksanakan ajarannya, ditambah 'sangsi" dan hukuman bagi yang tidak mematuhinya.


Banyak orang berusaha mencari jalan untuk mendapatkan  "Pencerahan"  mengenai pengetahuan yang benar tentang Tuhan dan jalan yang benar untuk mencapaiNya, tentang "Sejati"-nya Tuhan, dan tentang "Pribadi" Tuhan yang sejati, tentang siapa sejatinya "Sosok Pribadi" yang menjadi Tuhan. Tetapi tidak semua orang yang mencari Tuhan berhasil dalam usahanya itu, dan Tuhan
sendiri juga tidak menunjukkan  Kesejatian-Nya  kepada semua orang, karena Tuhan mempunyai jalan-Nya sendiri

Dengan kemampuan dan usahanya sendiri manusia tidak mungkin dapat mencapai Tuhan, karena Tuhan-lah yang berkuasa menentukan kepada
siapa Ia berkenan menunjukkan diriNya dan kepada siapa Ia berkenan memanunggalkan diriNya.

Tetapi kepada mereka yang tekun mencariNya, Tuhan memberikan 'Cahaya' -Nya, sehingga mereka tidak pulang dengan tangan hampa, tidak menghabiskan hidup untuk perbuatan yang sia-sia, berhasil mendapatkan pencerahan atas apa yang dicarinya, walaupun mungkin itu baru sebatas 'Cahaya'-Nya saja, bukan 'Sejati'-Nya.

Itulah yang kemudian diajarkan kepada banyak orang,  yaitu  'Cahaya' - Nya, bukan  'Sejati' - Nya, ajaran yang selalu disebutkan berasal dari  "Wahyu"  Tuhan. Padahal yang dibutuhkan adalah ajaran yang benar tentang 'Sejati' - Nya Tuhan, supaya manusia dapat mengenal Pribadi-Nya dengan benar dan dapat mengetahui juga jalan yang benar menuju Tuhan.

Tetapi bila konsep tentang Tuhan, tentang siapa sesungguhnya Pribadi yang menjadi Tuhan saja masih belum tepat, ajaran-ajarannya itu tidak akan dapat mengantarkan siapa pun untuk dapat sampai kepada Tuhan. Semua orang yang bertekun pada ajarannya tidak ada satu pun yang dapat membuktikan bahwa dirinya telah mencapai kondisi manunggal dengan Tuhan, tidak ada tanda-tandanya bahwa mereka telah
manunggal dengan Tuhan, bahkan tidak ada tanda-tandanya bahwa mereka sudah menuju Tuhan yang benar.

Konsep yang keliru tentang Tuhan, dan cara dan jalan dan kendaraan yang keliru untuk mencapai Tuhan, tidak akan mengantarkan siapapun kepada Tuhan, apalagi manunggal denganNya.


Seseorang yang akan menganut suatu agama atau jalan ketuhanan tertentu seharusnya ia sudah lebih dulu tahu siapa Tuhan yang seharusnya menjadi tujuannya. Sesudahnya barulah ia menganut agama dan jalan ketuhanan yang benar sesuai Tuhan yang ditujunya itu. Jangan lebih dulu memperdebatkan mana agama yang benar atau memperbandingkan kebenaran agama tanpa lebih dulu tahu dengan benar siapa Tuhan sesungguhnya yang seharusnya ditujunya. Jangan menganut agama dan jalan ketuhanan yang salah, jangan menyembahNya dengan jalan penyembahan yang salah, dan jangan berbakti kepadaNya dengan cara dan perbuatan yang salah.

Orang harus lebih dulu tahu siapa sesungguhnya Tuhan, siapa Pribadi yang
sesungguhnya menjadi Tuhan. Apalagi bila ada keinginan untuk orang tersambung atau bahkan manunggal dengan Tuhan, orang harus sudah lebih dulu tahu dengan Tuhan yang mana ia akan menyambungkan dirinya atau manunggal denganNya.

Mungkin dari sini kita akan bisa memahami bahwa Tuhan, ketuhanan dan jalan ketuhanan seseorang adalah hubungan yang pribadi
seseorang dengan
Tuhan yang menjadi tujuan keimanannya, sehingga seharusnya agama (dan keimanan) tidak dipaksakan kepada orang lain.


Tetapi dalam olah kebatinan dan spiritual, seseorang yang sudah dapat menyelaraskan dirinya, kebatinan dan spiritual rohnya dengan sifat-sifat Tuhan, dengan "Cahaya"
Tuhan, walaupun pencapaiannya itu masih belum sampai kepada "Sejati" - Nya Tuhan, sudah dapat mendatangkan suatu kekuatan yang luar biasa besar dalam dirinya dan memampukannya melakukan banyak perbuatan besar dan ajaib. Mungkin itulah yang menyebabkan mereka "merasa" sudah sampai kepada Tuhan, merasa sudah manunggal dan selaras dengan Tuhan, walaupun sebenarnya itu baru "Cahaya"-Nya saja, belum sampai pada "Sejati"-Nya Tuhan.

Seseorang yang sudah dapat menyelaraskan dirinya, kebatinan dan spiritual rohnya dengan
sifat-sifat Tuhan, dengan "Cahaya" Tuhan, sudah dapat mendatangkan suatu kekuatan yang besar dalam dirinya dan mampu melakukan banyak perbuatan besar dan ajaib. Tetapi kadarnya masih jauh dibandingkan orang-orang yang benar-benar telah mengenal SejatiNya Pribadi yang menjadi Tuhan, telah "manunggal" dengan Tuhan, dan telah menyelaraskan kebatinan dan spiritual rohnya dengan Tuhan, mereka bukan hanya mampu melakukan perbuatan-perbuatan ajaib, tapi juga mampu mendatangkan tanda-tanda dari langit (Tuhan) ke atas bumi, termasuk mendatangkan bala tentara malaikat, jika diperlukan.

Pencapaian kebatinan dan spiritual tentang Tuhan akhirnya akan mewujud menjadi suatu ajaran kepercayaan kerohanian, ajaran ketuhanan / agama, bukan lagi tentang keilmuan, termasuk mereka yang awalnya melakukan pencarian Tuhan sebagai bagian dari laku keilmuan kesaktian, kebatinan dan spiritualnya. Mereka yang sudah menyelaraskan spiritual rohnya dengan Roh Tuhan, walaupun baru sebatas "Cahaya"-Nya saja, bukan "Sejati" -Nya, dapat menghadirkan ke dalam dirinya suatu kuasa yang memampukan dirinya melakukan perbuatan besar dan ajaib yang berasal dari dirinya sendiri, dirinya yang "baru", tidak perlu lagi mengandalkan ilmu-ilmu atau amalan-amalan gaib atau aji-aji kesaktian, yang dengan kekuatan rohnya ilmu-ilmu itu dapat seketika dengan mudah ia musnahkan keampuhannya.


Banyak keajaiban bila orang menyelaraskan dirinya dengan Tuhan, walaupun belum manunggal denganNya. Orang-orang yang menyelaraskan diri dengan roh-roh duniawi pun banyak yang bisa membuat keajaiban, seperti dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, atau pada orang-orang yang berkhodam, yang ketempatan mahluk halus atau yang ketitisan dewa. Dalam hal ini mereka memanunggalkan diri dengan yang bersifat duniawi.


Dalam hal kemanunggalan dengan Tuhan, berarti ada interaksi antara 2 pihak, yaitu si manusia dan Tuhan.

 - Si manusia menyambungkan dirinya, memanunggalkan dirinya dengan Tuhan, menyelaraskan rasa dan
   batin, hati dan pikirannya dengan Tuhan, mengimani kebersamaannya dengan Tuhan dan menempatkan
   dirinya di dalam Firman-Firman dan Kuasa Allah, sehingga Roh Allah hidup di dalam dirinya, menjadikannya
   menyatu dengan Allah, dan Kuasa Allah mengisi dirinya, menjadikan dirinya
penuh dengan keillahian,
   menjadi manusia yang illahi.

 - Tuhan memanunggalkan diri-Nya dengan si manusia dan memberinya Kuasa-Nya (Kuasa Illahi).


Ada suatu tanda yang menyatakan bahwa
seseorang yang dengan laku ketuhanannya mendapatkan perkenan / penghargaan dari Tuhan, yaitu sukma / roh-nya dipakaikan pakaian illahi jubah panjang putih bersih. Ini adalah tanda dari Tuhan bahwa orangnya sudah benar menuju Tuhan yang benar.

Dan seseorang yang dianugerahi menerima "Cahaya" Tuhan  (menerima , bukan mencapai karunia), wajahnya akan beraura putih bersih.

Terlebih lagi orang-orang yang telah manunggal dengan Tuhan, tubuh roh dan wajahnya akan
terang seperti matahari dan pakaian jubah panjang putih bersihnya terang berkilau lebih daripada malaikat, penuh keillahian. 


Di dalam beragama dan berketuhanan diharapkan supaya orang bisa benar dalam mereka berketuhanan, setidaknya orang bisa tersambung / menyambungkan dirinya dengan Tuhan yang itu menjadi tanda baginya bahwa ia sudah benar menuju Tuhan yang benar, bukan kepada Tuhan yang tidak ada, apalagi Tuhan palsu (baca : Kebatinan Dalam Keagamaan). Dan bila Tuhan juga berkenan menyambungkan diriNya dengan orang itu akan ada sinar terang dari langit yang melingkupi orang itu, tanda bahwa Tuhan menaunginya dan Roh Tuhan terhubung dengan roh-nya. Tetapi bila orang itu sendiri belum bisa menyelaraskan rasa dan batinnya dengan Tuhan, maka ia tidak selalu bisa mendengarkan suara Tuhan, banyak jawaban doa dan perintah Tuhan yang ia lewatkan, walaupun Tuhan sudah menghubungkan diriNya dengan roh orang itu.

Pada orang-orang yang sudah manunggal dengan Tuhan ada sinar terang dari langit yang melingkupi dirinya, tanda bahwa Tuhan menaunginya dan roh-nya terhubung dengan Roh Tuhan. Di dalam kemanunggalan itu Rohnya terhubung dengan Tuhan dan keselarasan roh dan batinnya dengan Tuhan membuatnya dapat selalu setiap saat mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan dan dapat menjalankan Kuasa-Nya setiap saat tanpa perlu menunggu turunnya wahyu atau perintah dari Tuhan.


Mereka yang sudah manunggal dengan Tuhan, Tuhan mengangkat derajatnya. Rohnya menjadi roh yang baru, Roh Allah menyatu dengan dirinya, tubuh rohnya menjadi Roh Kudus, penuh keillahian. Rohnya tidak lagi tergolong sebagai roh-roh duniawi, tetapi sudah terhitung sebagai Roh Illahi. Allah menjadikannya memiliki Kuasa KeAllahan. Rohnya yang baru itu memiliki kuasa yang besar, yang lebih daripada kuasa roh apapun di bumi ini. Dan bersama Kuasa Tuhan di dalam dirinya mereka berkuasa pula mendatangkan tanda-tanda dari langit, tanda-tanda dari Tuhan, ke atas bumi, bila diperlukan.

Itulah tanda-tanda dari Tuhan pada orang-orang yang sudah manunggal dengan diriNya. Tuhan mengangkat derajatnya, rohnya mendapatkan tubuh roh yang baru,
tubuh rohnya menjadi Roh Kudus, penuh keillahian. Rohnya yang sudah menjadi Roh Kudus itu menjadikan tubuh Roh dan wajahnya terang seperti matahari dan pakaian jubah panjang putih bersihnya terang berkilau lebih daripada malaikat. Dengan Roh-nya yang baru itu ia memiliki kuasa yang besar, kuasa yang  lebih  daripada kuasa roh apapun di bumi ini. Dan ia berkuasa pula mendatangkan tanda-tanda dari langit, tanda-tanda dari Tuhan, ke atas bumi, jika diperlukan.

Mereka yang telah manunggal dengan Tuhan, semua perkataan mereka, yang berasal dari kemanunggalan itu, akan sama dengan Firman Tuhan, karena Tuhan hadir di dalam kemanunggalan itu dan berkata-kata melalui mereka. Mereka bukan Nabi, tetapi  lebih  daripada Nabi, karena Kuasa mereka lebih daripada Nabi. Allah hadir di dalam kemanunggalan itu menaruh KuasaNya di dalam orang itu. Dan di dalam kemanunggalan itu, semua perbuatan-perbuatan mereka, termasuk mendatangkan tanda-tanda dari langit, adalah perbuatan Tuhan sendiri yang berkenan menunjukkan KuasaNya kepada dunia, melalui mereka.

Dalam hal kemanunggalan dengan Tuhan, berarti bukan hanya si manusia yang memanunggalkan diirinya dengan Tuhan, tetapi Tuhan juga memanunggalkan diri-Nya kepada orang itu. Yang sudah tertulis di atas adalah tanda-tanda gaib manusia yang manunggal dengan Tuhan yang jelas berbeda dengan orang-orang yang manunggal dengan yang bersifat duniawi, walaupun juga mampu membuat mukjizat.

Tetapi tanda-tanda itu hanya dapat dilihat secara gaib, karena itu adalah tanda-tanda dari Roh-nya, bukan tubuh fisiknya. Tanda-tanda gaib di atas adalah tanda-tanda bahwa Tuhan berkenan manunggal dengan seseorang, memuliakannya dan menaunginya, sehingga si manusia tidak lagi tergolong sebagai mahluk duniawi, tetapi sudah menjadi mahluk illahi beserta segala KuasaNya.


Mungkin tidak mudah orang bisa mendapatkan perkenan Tuhan untuk Tuhan manunggal dengan dirinya. Mungkin juga tidak mudah untuk orang bisa menyambungkan dirinya dengan Tuhan, apalagi mendapatkan perkenan Tuhan untuk Tuhan menyambungkan Roh-Nya dengan dirinya. Tetapi diharapkan supaya setidaknya orang bisa benar dalam mereka berketuhanan, setidaknya sudah benar bahwa laku ketuhanan mereka sudah benar menuju Tuhan yang benar. Jangan sampai orang tidak tahu bahwa mereka tidak menuju Tuhan yang benar. Jangan sampai seumur hidup laku mereka beragama dan berketuhanan ternyata sia-sia saja, sama sekali tidak mengantarkan mereka kepada Tuhan yang benar.

Bila anda menemukan 
tanda-tanda  (gaib) 
orang yang  manunggal  dengan Tuhan, seperti disebut di atas, siapapun dia, apapun agamanya, belajarlah kepadanya, supaya dapat menjamin bahwa jalan kepercayaan dan keagamaan anda benar menuju Tuhan yang benar, bukan menghabiskan hidup hanya untuk bersikukuh dan fanatik dengan agama dan kepercayaan, pengkultusan, dogma dan doktrin, atau ego, pendapat dan keAkuan sendiri. Jangan sampai akhirnya ternyata seumur hidup hanya memperebutkan pepesan kosong saja yang tidak akan pernah mengantarkan siapapun kepada Tuhan yang benar.




  Ajaran Yesus Tentang Roh


Ajaran Manunggaling Kawula Lan Gusti yang diajarkan oleh Yesus adalah bersifat kepercayaan ketuhanan, bukan agama, dan bukan tentang kesaktian atau keampuhan ilmu kebatinan-spiritual dan ilmu gaib / khodam, walaupun pada kenyataannya semuanya tergantung pada yang bersangkutan apakah akan digunakannya murni untuk tujuannya berketuhanan ataukah juga
untuk tujuan kesaktian. Karena kenyataannya, selain berkuasa melakukan banyak perbuatan besar dan mukjizat dan mampu mendatangkan tanda-tanda dari langit, berkuasa menundukkan mahluk halus dan setan-setan, juga berkuasa atas hidup dan matinya orang lain, dan bukan hanya mampu membunuh tubuh, tetapi juga mampu membunuh jiwa, Kuasa atas perbuatan-perbuatan yang tak dapat dicari padanannya dengan kemampuan seseorang yang sakti mandraguna sekalipun.

Yesus mengajar manusia untuk tidak mengkultuskan Tuhan. Segala macam pencitraan dan pengkultusan manusia tentang Tuhan cenderung melebih-lebihkan dan akan semakin mengaburkan kesejatianNya, hanya menjadikan Tuhan semakin jauh saja untuk dijangkau dan menjadikan mustahil manusia dapat mengenal Tuhan secara pribadi. Padahal Tuhan sendiri ingin dekat dengan manusia, ingin supaya manusia mengenalNya dengan benar. Betapa banyak berkat kehidupan sudah dicurahkanNya kepada dunia karena kasih sayangNya, dan berapa banyak Nabi sudah dikirimkanNya untuk menyadarkan manusia akan kesejatianNya, tetapi tetap saja manusia tidak dapat mengenalNya dengan benar, dan karena kesombongan dan kemunafikan tetap saja manusia merasa benar sendiri, merasa tahu agama dan Tuhan, tetapi melakukan bakti dan penyembahan dengan cara yang salah.

Yesus mengajar manusia untuk tidak mengkultuskan agama, apalagi mempertuhankan agama, dan tidak menjadikan agama sebagai alat untuk berkuasa dan menghakimi sesama manusia. Yesus mengajar manusia untuk mengerti dengan benar kehendak-kehendak Allah di dalam agama, supaya manusia menjalankan agama dengan benar, bukan hanya sebatas apa yang sudah dinyatakan saja di dalam agama, bukan hanya sebatas apa saja yang sudah tersurat, tetapi juga yang tersirat, harus lebih mengedepankan hikmat ketuhanannya, karena agama hanyalah pengetahuan dan tuntunan saja untuk manusia dapat mengenal Allah dan untuk mengerti dengan benar kehendak-kehendakNya untuk dilaksanakan oleh manusia supaya manusia dapat layak dan mulia di hadapan Tuhan.

Yesus tidak pernah menyebut ajaranNya sebagai agama. Yang diinginkanNya adalah supaya ajaranNya menjadi teladan sebagai ajaran yang benar, supaya manusia mengenal Allah yang benar, bisa mengenal pribadi Allah dengan benar, mengenal Sejati Allah dengan benar, dan melaksanakan kehendak-kehendakNya dengan benar, tidak lagi terkungkung dalam paradigma agama dan pemikiran-pemikiran manusia yang salah, yang menjadi dogma dan doktrin dalam agama, yang adalah ajaran dan perintah manusia sendiri untuk dilaksanakan dalam hidup berkeagamaan, seolah-olah itu benar adalah perintah Tuhan.

Ada pokok-pokok ajaran yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya untuk Kemanunggalan dengan Tuhan, yaitu untuk melakukan segala sesuatu perbuatan secara roh dan melakukan doa dan peribadatan secara roh, karena manusia dan Tuhan terhubung secara roh.  Menyatu secara roh dengan Tuhan, tinggal di dalam Tuhan, menyatu dengan firman-firmanNya dan menjalankannya dan mengimani keberadaan Tuhan dan Kuasa-Nya, yang akan menjadi suatu bentuk kesaksian bahwa Allah benar ada dan Kuasa-Nya nyata. 

Firman Yesus: "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam Roh dan Kebenaran". 

Dalam menyembah Tuhan, manusia harus melakukannya dalam Roh dan Kebenaran, secara roh menyatu  dengan Tuhan, dan benar, bebas dari kesombongan hatikepalsuan dan kemunafikan.

Berdoa secara roh. Beribadah juga secara roh. Jangan berdoa dan beribadah hanya dengan tubuh, hati dan pikiran saja, tetapi juga secara roh. Jangan sampai tubuh, hati dan pikiran kita khusyuk berdoa, tetapi roh kita tidak ikut berdoa, dan tidak tersambung dengan Tuhan. Jangan sampai tubuh, hati dan pikiran kita beribadah, tetapi secara roh kita tidak beribadah. Jangan sampai peribadatan dilakukan hanya sebagai kewajiban formal beragama saja tanpa adanya penyatuan roh dengan Tuhan. Dan tanpa kebenaran, bebas dari kesombongan hatikepalsuan dan kemunafikan, tidak ada gunanya manusia berdoa dan beribadah kepada Tuhan. Ibadahnya tidak akan dibenarkan oleh Tuhan.

Firman Yesus : "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan Kebenaran."

Berdoa dan berpuasa. Berpuasa bukan hanya puasa fisik, tetapi terutama adalah puasa secara roh, yaitu puasa hati, puasa batin, puasa di dalam pikiran dan perbuatan, meninggalkan cara hidup lama duniawi yang penuh dengan hasrat cinta diri, hawa nafsu, ketamakan dan kemunafikan, terlahir baru sebagai orang yang telah mengenal Allah, menjalankan perintah-perintah Allah, melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan hati Allah, sepanjang hidup menjaga kekudusan diri, kudus di dalam Allah.

Berkata-kata dengan bahasa Roh. Itulah yang dilakukan Yesus setiap mengajar orang, sehingga sekalipun orang-orang yang datang kepadaNya berasal dari tempat-tempat yang jauh, berbeda-beda daerah dan berbeda bahasa dengan tempat asal Yesus, tetapi mereka dapat mengerti semua yang diucapkan oleh Yesus, karena Yesus tidak hanya berkata-kata dengan mulutNya, tetapi juga dengan Roh-Nya. Mereka yang mendengarkan hanya dengan telinganya saja, pasti tidak akan mengerti karena bahasa mereka berbeda. Tetapi bahasa Roh yang diucapkan oleh Yesus dapat ditangkap oleh roh orang-orang yang mendengarkanNya, sehingga mereka semua dapat mengerti. 

Berkata-kata dengan bahasa Roh. Itu juga yang dilakukan murid-murid Yesus ketika pertama kali mereka kepenuhan Roh Kudus di Yerusalem, Israel. Bahasa Roh mereka ucapkan kepada semua orang yang hadir di tempat itu. Sekalipun yang hadir di tempat itu banyak yang berasal dari tempat-tempat yang jauh, bahkan ada yang datang dari Mesir dan Libya, yang bila hanya mendengarkan dengan telinganya saja pastilah tidak akan mengerti, tetapi roh mereka dapat menangkap bahasa roh yang disampaikan oleh murid-murid Yesus, sehingga mereka semua dapat mengerti. Sekalipun mereka tidak mengerti bahasa asal murid-murid Yesus, tetapi mereka "merasa" mendengar murid-murid Yesus itu berbicara dalam bahasa mereka masing-masing, sehingga masing-masing mereka dapat mengerti. Bahkan banyak orang yang tercengang dan takut karena dengan Kuasa Roh murid-murid Yesus banyak melakukan perbuatan mukjizat dan tanda-tanda yang dari Tuhan.


Seseorang yang dengan kepercayaannya dapat melakukan segala sesuatu secara Roh, mereka juga akan dapat mengerti sesuatu yang bersifat roh. Termasuk juga melihat secara Roh, yang tidak sama dengan melihat dengan cakra mata ketiga yang hanya mampu melihat kegaiban tingkat rendah saja, dan tidak akan pernah mampu untuk melihat, yang bahkan para mahluk halus dan Dewa sekalipun tidak mampu untuk melihatnya, yaitu keberadaan Roh Kudus yang melingkupi kepala orang-orang percaya dan telah menerima dirinya dibaptis dan tanda serupa sepasang sayap burung merpati di dahi mereka yang adalah meterai dari Allah. Dan dengan Kuasa Roh, Kuasa Tuhan hadir di dalam diri mereka, sehingga mereka dapat melakukan banyak perbuatan ajaib di mata umum.

Yesus telah menjadi Terang yang menerangi manusia akan Allah yang benar dan jalan yang benar kepadaNya. Barangsiapa mengerti perkataan dan Firman-FirmanNya, percaya dan melaksanakannya, ia sama dengan orang yang sudah keluar dari kegelapan dan masuk ke dalam terang dan kegelapan tidak menguasainya lagi. Dan semua orang yang percaya kepadaNya dan menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi Anak-Anak Allah, yaitu mereka yang percaya kepada Allah dalam nama-Nya, orang-orang yang terlahir baru karena Allah.

Mereka yang percaya kepada Allah dan Yesus, dan sudah menerima dirinya dibaptis, dikaruniakan Roh Kudus. Mereka yang sungguh-sungguh bertekun di dalam Allah dan mampu bersaksi tentang keimanannya kepada Allah dan Yesus, mengimani Kuasa Roh itu akan memampukan orang melakukan perbuatan besar dan mukjizat. Firman Yesus: " Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku ”. 

Kebulatan kepercayaan dan penyatuan dengan Roh Allah menjadikan murid-murid Yesus mampu melakukan berbagai perbuatan mukjizat. Bahkan setan-setan pun tunduk kepada mereka, karena Kuasa Roh yang ada pada mereka lebih daripada kuasa roh apapun di bumi ini. Tidak ada satu pun mahluk yang mampu melawan Allah. Tidak perlu lagi khawatir diserang oleh roh atau orang yang tinggi ilmunya. Dapat dikatakan bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus, percaya dan mampu mengamalkan setiap firmanNya, mampu mengimani kuasa ke-Anak Allah-annya dan mampu menjadi saksi Kristus dalam setiap perbuatannya, menjadi orang yang sekti tanpa aji

Inilah yang disebut tingkat kasampurnan  dalam ilmu kebatinan-spiritual, yaitu menyatunya roh manusia dengan Roh Allah, menyatunya roh manusia dengan tujuan hidup : Sang Hidup.  Kebulatan kepercayaan dan Roh itu membuat manusia menjadi ciptaan baru, terlahir baru, menjadi  Aku yang baru , menjadi memiliki hayat kekal Allah. Inilah yang disebut kasampurnan atau sempurna, menyatunya roh manusia dengan Roh Allah. Dalam hal ini Yesus adalah  Mahaguru dari Ajaran Roh  dan adalah  Guru Sejati  bagi murid-muridNya dan orang-orang yang percaya kepadaNya.

Tetapi dalam segala sesuatu kemampuan, tingkat kemanjurannya adalah tergantung pada tingkat keyakinan dan penyatuannya. Sayang sekali banyak pengikutNya sampai sekarang yang tidak mengerti tentang ajaran ini. Malahan segala sesuatu yang bersifat roh seringkali dianggap klenik dan musyrik, dijauhi dan tabu untuk dibicarakan, tidak menyadari bahwa seharusnya mereka-lah yang berkuasa atas segala roh di bumi ini. Yang kemudian berkembang hanyalah kepercayaan tradisi dan rutinitas peribadatan saja, berpegang pada agama saja, pada gereja dan imam / pendeta, bukan pada ajaran Yesus yang murni, sehingga tidak semua pengikut Yesus dengan kepercayaannya mampu mencapai kesempurnaan kemanunggalan, tidak semua pengikutnya mampu untuk berbuat dan memberi kesaksian iman dan perbuatan seperti yang sudah difirmankan oleh Yesus. 



------------



  Jalan, Kendaraan dan Tujuan


https://sites.google.com/site/thomchrists/Kebatinan-dan-Spiritual/Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti/Jalan.JPG
Kelihatannya searah, mengarah kepada tujuan yang sama, tapi ternyata tujuan akhirnya tidak semuanya sama.
Tidak semua jalan dan tidak semua kendaraan mengantarkan orang kepada tujuan yang sama.
Salah jalan dan salah kendaraan tidak akan mengantarkan orang kepada tujuannya yang benar.


Di dunia ini sejak jaman dulu sampai sekarang ada banyak sekali jalan ketuhanan, ada banyak sekali laku ketuhanan dan laku pencarian Tuhan yang dilakukan orang, baik secara kebatinan, secara keagamaan, maupun dengan cara pendekatan logika berpikir manusia. Yang disebut agama itu hanyalah sebagian kecil saja dari jalan ketuhanan yang ada, bukan satu-satunya jalan ketuhanan sampai-sampai orang memaksakan agamanya kepada orang lain. 

Masing-masing orang dan masing-masing agama mempunyai persepsi sendiri-sendiri tentang Tuhan dan agama. Apa yang dituliskan di halaman ini bukanlah tentang agama, dan tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada agama tertentu, tetapi adalah tentang Tuhan, dan tentang citra dan persepsi manusia tentang Tuhan, dan tentang laku ketuhanan yang sudah dijalani oleh banyak orang dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang lakunya itu benar dapat sampai kepada Tuhan, ada yang tidak.

Masing-masing agama sebenarnya adalah ajaran ketuhanan. Dan masing-masing laku orang beragama dan beribadah sebenarnya adalah laku ketuhanan. Tetapi karena manusia sudah melakukan penyederhanaan sikap berpikir, sudah melakukan pengkotak-kotakkan, sudah terbiasa berpikiran agama, semua laku ketuhanan dan ajaran ketuhanan secara sempit diartikan hanya sebatas agama saja, dikelompokkan sebagai agama yang eksklusif yang masing-masing agama dianggap berbeda dengan agama lainnya, sehingga kita akan memandang sebuah laku ketuhanan dan ajaran ketuhanan secara sempit hanya sebagai agama Kristen, Katolik, Islam, Budha, Hindu, dsb, atau dianggap sebagai aliran kepercayaan yang bukan agama.

Tokoh-tokoh manusia yang sudah disebutkan sepanjang tulisan di atas adalah orang-orang yang telah menjalani laku kebatinan / spiritual ketuhanan dan masing-masing telah juga mengajarkan pengetahuan kebatinan / spiritual ketuhanannya kepada orang-orang yang mau menerimanya. Tetapi karena masing-masing orang merasa sudah mempunyai agama sendiri-sendiri, ditambah lagi adanya pengkotak-kotakkan agama, dan adanya keAkuan dan fanatisme agama, maka tokoh-tokoh tersebut di atas pada masa sekarang ini lebih banyak dikaitkan dengan keagamaan atau aliran kepercayaan tertentu saja, tidak dipandang sebagai tokoh-tokoh manusia yang dulunya sudah menjalani laku kebatinan dan spiritual ketuhanan.

Walaupun pada masa sekarang tokoh-tokoh di atas selalu dikaitkan dengan keagamaan tertentu saja sesuai ajarannya masing-masing dan masing-masing tokoh juga mempunyai pengikut, tetapi pada masanya masing-masing mereka adalah tokoh-tokoh pelaku kebatinan / spiritual ketuhanan, terutama pada masa-masa mereka mencari jatidiri. Untuk mengenal pribadi dan kesejatian dari ajaran masing-masing tokoh di atas, untuk menambah pengetahuan dan wawasan ketuhanan kita diperlukan pengenalan secara langsung dan pribadi terhadap sosok masing-masing tokoh tersebut yang tidak boleh dilakukan dengan mengedepankan fanatisme dan sentimen agama.


Dalam ulasan mengenai laku ketuhanan dan pencarian Tuhan di halaman ini harus dipahami bahwa Penulis tidak menekankan pada bentuk agama, apalagi dianggap menjual agama. Agama adalah bersifat pribadi bagi para penganutnya.
Apa agama yang dianut dan sejauhmana orangnya akan berkeagamaan / berketuhanan itu terserah orangnya sendiri. Seandainya saja para pembaca dan orang yang lain mempunyai laku dan jalan yang lain, jalan yang berbeda, silakan saja, tidak perlu dipertentangkan, mudah-mudahan kita semua benar dapat sampai kepada Tuhan yang benar.

Tentang agama dan Tuhan, bisa dikatakan bahwa semua orang mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin mengenal, ingin datang dan berbakti dan mencapai Tuhan Sang Penguasa Kehidupan. Tetapi persepsi orang tentang Tuhan, tentang siapa Sosok Pribadi yang menjadi Tuhan, berbeda-beda, dan untuk mencapai Tuhan itu jalan dan jurusan yang dilalui juga berbeda-beda, kendaraannya juga berbeda-beda, tidak sama. Dari sekian banyak laku keagamaan dan ketuhanan masing-masing orang itu ada yang sudah benar jalannya dan bisa mengantarkan orangnya kepada Tuhan yang benar, ada juga yang tidak. Jangan lebih dulu mempertentangkan kendaraannya tanpa lebih dulu tahu dengan benar tujuannya dan tahu dengan benar jalan / jurusan yang harus dilaluinya, karena tujuan, kendaraan, jalan dan jurusan yang salah, walaupun diyakini orang sebagai benar, tidak akan pernah mengantarkan siapapun kepada tujuannya yang benar.

Seharusnya manusia sudah lebih dulu dengan benar mengenal Tuhan yang benar yang harus disembahnya, yang menjadi tujuannya dalam ia beribadah. Orang harus sudah lebih dulu tahu siapa Tuhannya yang benar, barulah kemudian ia memilih agama yang sesuai untuk dianutnya sebagai jalan yang dipilihnya untuk dengan benar ia datang, menyembah dan beribadah kepada Tuhannya. Agama menjadi sarananya menuju Tuhan. Jangan lebih dulu mempertentangkan agama, apalagi membanding-bandingkan kebenaran agama bila belum tahu Tuhan yang benar yang harus disembah, karena tidak semua agama mengantarkan penganutnya kepada Tuhan yang benar.

Orang harus sudah lebih dulu tahu Tuhan yang benar yang harus disembahnya, sesudah itu barulah ia datang beribadah kepadaNya dengan jalan ibadah yang benar. Sesudahnya sejauhmana ia akan berketuhanan, apakah akan hanya sebatas jalan agamanya saja ataukah akan lebih jauh lagi berketuhanan itu terserah orangnya sendiri, karena itu akan menjadi hubungan yang pribadi masing-masing orang dengan Tuhannya.

Mungkin perlu untuk kita bisa membedakan pengertian agama dengan ketuhanan.
Tuhan tidak sama dengan agama.
Begitu juga sebaliknya, agama tidak sama dengan Tuhan.
Ada saatnya kita harus fokus menjalankan keagamaan.
Di saat yang lain, walaupun masih dalam lingkup keagamaan, ada saatnya yang kita harus fokus langsung kepada Tuhan.

Dalam kita menjalankan peribadatan agama, bersembahyang, ritual-ritual keagamaan, dsb, tatacara di dalam keagamaan seharusnya dijalankan dengan benar sesuai tata aturannya yang berlaku.

Tetapi dalam kita berdoa, fokus kita haruslah langsung kepada Tuhan, bukan kepada agama dan jangan menempatkan diri terkungkung di dalam agama.

Berkat dan hikmat yang dari Tuhan adalah berasal dari Tuhan, harus dimintakan langsung kepada Tuhan, bukan kepada agama. Kalau kita menginginkan berkat Tuhan, fokus kita haruslah kepada
Tuhan, bukan kepada agama.

Keselamatan yang dari Tuhan adalah berasal dari Tuhan, harus dimintakan langsung kepada Tuhan, bukan kepada agama. Agama saja tidak menjamin orang akan selamat sampai kepada Tuhan. Kalau kita menginginkan keselamatan yang dari Tuhan fokus kita haruslah kepada Tuhan dan menjalankan tata aturan yang ditetapkan oleh Tuhan.

Begitu juga bila ada keinginan untuk kita "tersambung", apalagi "manunggal" dengan Tuhan, fokus kita haruslah langsung kepada Tuhan, bukan kepada agama. Sebelumnya kita harus sudah lebih dulu tahu Tuhan, dengan "Tuhan" yang mana kita ingin tersambung / manunggal. Jangan sampai salah.

Dalam hal ini jangan kita terjebak dalam pemikiran sempit fanatisme agama.
Kalau kita dengan benar memandang agama sebagai jalan ketuhanan, sebagai jalan kita pribadi menuju Tuhan, ditambah laku kebatinan ketuhanan untuk tersambung
langsung dengan Tuhan, maka nantinya kita akan tahu sendiri apakah jalan dan agama kita itu benar menuju Tuhan yang benar ataukah tidak.

Tetapi jika kita hanya berkeras pada "baju" agama saja, kita tidak akan tahu apa-apa apakah jalan kita itu benar menuju Tuhan yang benar karena kita akan terdorong untuk meyakini dan meninggikan citra dan persepsi kita sendiri tentang Tuhan dan agama dan akan terdorong untuk menekankan keseragaman baju agama saja. Itu juga sebenarnya yang sudah menimbulkan banyak pertikaian, karena walaupun baju seragamnya sama, tapi ternyata ada bagian di baju itu yang tidak semuanya seragam.

Atau mungkin memang kita sendiri yang masih tidak bisa membedakan pengertian agama dengan ketuhanan, walaupun sudah diusahakan menggunakan kalimat dan bahasa yang sederhana dan universal, karena kita sudah terlanjur terbiasa berpikiran agama, sudah terlanjur terbiasa berpikiran sempit hanya pada agama saja, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan dan ketuhanan selalu dihubungkan dengan agama, dan setiap kita berbicara tentang Tuhan dan ketuhanan selalu dibelokkan menjadi berbicara agama. Akibatnya setiap kita berbicara tentang Tuhan dan ketuhanan, bila kita berbicara dengan orang-orang yang seagama kita tidak boleh berbicara menyimpang dari yang sudah digariskan oleh agama, supaya tidak dikatakan sesat, murtad, kafir, dan setiap kita berbicara dengan orang lain yang berbeda agama selalu berpotensi memunculkan perselisihan.

Mungkin tulisan ini terlalu tinggi untuk orang kebanyakan, mungkin lebih cocok untuk dibaca oleh orang-orang yang selama ini sudah menjalani sendiri laku kebatinan dan spiritual, terutama laku kebatinan dan spiritual ketuhanan dan laku kebatinan / spiritual untuk mencari kesejatian Tuhan, yang dengan hikmat dan kearifan yang tinggi akan lebih bisa memahami isinya, dan mungkin juga akan bisa membuktikan sendiri kebenarannya. Dan bagi orang-orang yang masih mencari Tuhan dan kesejatianNya mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat baginya.


Penulis ada menuliskan konsep olah kebatinan ketuhanan dalam tulisan berjudul Kebatinan Dalam Keagamaan yang tujuannya adalah untuk kita belajar olah roh, olah roso untuk bisa tersambung dengan Tuhan (Tuhan menurut jalan kepercayaan kita masing-masing), yang kalau benar berhasil tercipta ketersambungan dengan Tuhan, itu akan menjadi bekal / dasar untuk manunggaling kawula lan Gusti. Itu juga akan menjadi dasar untuk kita menilai sendiri laku keagamaan kita selama ini apakah benar sudah menuju Tuhan yang benar.



--------------



Kiranya tulisan ini dapat menjadi masukan yang berharga untuk menyegarkan kepercayaan orang-orang yang percaya kepada Yesus dan Tuhan. AjaranNya yang murni dan benar, ajaran yang mengenalkan manusia pada Sejati-Nya Tuhan, yang menjadikan manusia dengan benar mengenal pribadi Allah dan dengan benar mengenal kehendak-kehendakNya, janganlah digantikan dengan dogma, pengkultusan, ajaran-ajaran dan perintah-perintah manusia seolah-olah benar itu adalah perintah Tuhan untuk dilaksanakan dalam manusia beragama dan beribadah, yang menjadikan manusia terkotak-kotak menjadi pengikut-pengikut fanatik agama, aliran-aliran, gereja-gereja atau menjadi pengikut fanatik pendeta dan imam tertentu, menjadi terkotak-kotak antara orang Kristen yang satu dengan lainnya. Masing-masing gereja merasa lebih baik dan lebih penting daripada gereja lainnya. Masing-masing orang Kristen merasa berbeda dengan orang Kristen yang lain. Masing-masing anggota menganggap pendetanya / imamnya lebih baik daripada pendetanya orang lain, dsb.

Bagaimana mengimani firman Yesus : "Akulah pokok anggur yang benar dan kamu adalah ranting-rantingnya", jika masing-masing gereja dan anggotanya merasa diri menjadi pokok anggur utama yang memiliki ranting / pengikut yang banyak, mengesampingkan Yesus yang adalah pokok anggur yang utama, merasa diri lebih besar daripada lainnya, tidak menyadari bahwa mereka hanya-lah salah satu saja dari ranting-rantingNya yang masih harus menghasilkan buah-buah kepercayaan. Bagaimana memahami "Satu tubuh tetapi banyak anggota", jika masing-masing gereja dan anggota merasa lebih penting daripada lainnya, tangan merasa lebih penting daripada kaki, tangan kanan merasa lebih penting daripada tangan kiri.

Jangan mengkultuskan gereja dan pendeta / imam, apalagi sampai menganggap gerejanya sendiri-lah yang benar di hadapan Allah, dan menganggap pendeta / imam-nya lebih memiliki berkat daripada pendetanya orang lain. Jangan mempertuhankan gereja, pendeta dan imam karena gereja dan pendeta / imam adalah sarana Allah saja supaya umatNya tidak tercerai-berai di dalam kepercayaan, menjadi sarana Allah mengumpulkan umatNya seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya. Jangan mempertuhankannya.

Kepercayaan dan peribadatan memang penting, jangan mengabaikannya. Tetapi janganlah terjebak dalam kepercayaan tradisi dan bentuk formal rutinitas peribadatan, yang sesudah ke gereja kemudian dianggap semua kewajiban kita beribadah sudah selesai. Ibadah dengan datang ke gereja bukanlah satu-satunya ibadah kita kepada Tuhan. Ke gereja adalah sarana orang-orang percaya untuk berkumpul supaya tidak tercerai-berai di dalam kepercayaan. Masih banyak firman Tuhan yang harus dilaksanakan (silakan dibaca lagi di Injil / Alkitab). Dari banyaknya firman Tuhan itu apa saja yang sudah kita imani dan sudah kita laksanakan akan menjadi dasar untuk kita menilai sendiri sudah sejauhmana keimanan kita itu dan sudah berapa banyak buah-buah perbuatan kepercayaan yang kita hasilkan. Jangan sampai hanya karena kita merasa rajin ke gereja, rajin berdoa, rajin ikut perkumpulan doa kemudian kita merasa diri kita beriman dan merasa ibadah kita sudah benar dan sempurna, padahal masih ada banyak firman yang belum kita laksanakan.

Sama seperti yang dikatakan Yesus : "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya". Keseluruhan ibadah kita adalah melaksanakan kehendak-kehendak Tuhan seperti yang sudah tertuang di dalam firman-firmanNya, yang tersurat dan yang tersirat, dan itu bukan hanya ke gereja saja. Jangan merasa beriman hanya karena rajin ke gereja. Jangan sampai kita merasa beriman dan menganggap semua ibadah sudah kita laksanakan hanya karena kita rajin ke gereja, rajin berdoa atau rajin membaca kitab suci. Jangan sampai ternyata masih banyak firman Tuhan yang tidak kita laksanakan. Jangan sampai ternyata didapatiNya timbangan kita ringan.

Yesus tidak pernah memberi perintah untuk rajin ke gereja. Sejatinya ajaran Yesus adalah ajaran ketuhanan, bukan agama, dan ajaran ketuhananNya itu tidak menekankan kehidupan yang agamis formal. Yang diinginkanNya adalah supaya kita dengan benar mengenal Tuhan dan mengerti kehendak-kehendakNya dan menghasilkan perbuatan-perbuatan nyata sebagai buah-buah kepercayaan kita, menjadi kesaksian dan pernyataan iman kita kepada Tuhan, dan supaya para pengikutNya melakukan persekutuan , persekutuan orang percaya , sehingga api semangat kepercayaan yang sudah redup bertemu dengan api semangat kepercayaan anggota yang lain dan semuanya kembali menyala berkobar-kobar. Persekutuan yang menyegarkan semangat kepercayaan, yang anggota-anggotanya dapat menjadi gembala bagi anggota yang lain, sehingga tidak sampai ada domba Allah yang hilang, dan itu tidak sama dengan peribadatan yang hanya mengikuti atau mendengarkan saja sang pengkotbah dan tidak sama dengan gereja-gereja yang merasa berdiri sendiri-sendiri.

Ke gereja memang bukanlah satu-satunya jalan beribadah kepada Tuhan, tetapi jangan mengabaikannya, karena itu adalah sarana Tuhan untuk mengumpulkan anak-anakNya supaya tidak tercerai-berai di dalam kepercayaan. Lakukanlah dengan sikap hati memuliakan Tuhan, jangan melakukannya hanya sebagai pemenuhan kewajiban formal beragama saja.

Manusia dibebaskan untuk memilih hari dan waktu beribadah. Yang penting adalah kita menghormati peribadatan dan melaksanakannya. Dan yang lebih penting lagi adalah kita menghormati (memperingati) hari-hari besar agama, terutama adalah hari kelahiran, penyaliban / wafat, kebangkitan dan hari kenaikan Yesus Kristus, jangan mengabaikannya, karena itu akan menjadi bentuk penghormatan dan pernyataan iman kita kepadaNya.

Membaca kitab suci dan mengerti firman Allah memang penting, jangan mengabaikannya. Tetapi janganlah sombong merasa lebih beriman daripada orang lain karena merasa lebih mengerti, banyak membaca atau bahkan hafal Alkitab, karena tidak ada keselamatan di dalamnya. Yang diinginkanNya adalah supaya kita dengan benar mengenal Allah, mengerti kitab suci dan mengerti sejatinya kehendak-kehendakNya yang tertuang di dalam masing-masing FirmanNya dan melaksanakannya di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Salah dan dosa akan diampuni bila kita bertobat. Tetapi bersih dari dosa juga bukan ukuran untuk diterima oleh Tuhan. Pengampunan dosa adalah wilayah kekuasaanNya sebagai wujud kasihNya kepada manusia yang lemah dan tak mampu untuk tidak berbuat dosa, dan adalah karunia bagi kita bila kita diampuni. Selebihnya, hasilkanlah buah-buah kepercayaan dengan perbuatan-perbuatan kita yang nyata, jangan sampai didapatiNya timbangan kita ringan. Jangan juga hidup menyendiri, karena itu akan mengurangi kesempatan kita untuk menghasilkan buah-buah kepercayaan.

Jangan juga mengkultuskan agama, apalagi mempertuhankan agama, karena agama hanyalah pengetahuan dan tuntunan saja untuk manusia dapat mengenal Allah dan untuk mengerti kehendak-kehendakNya untuk dilaksanakan oleh manusia supaya manusia menjadi mahluk mulia dan layak di hadapan Tuhan dan layak untuk diterimaNya menyatu kembali denganNya. Yesus sendiri tidak pernah menyebut ajaranNya sebagai agama. Justru orang lain yang menyebut begitu dan pengikut-pengikutNya disebut umat Kristiani. Yang diinginkanNya adalah supaya ajaran-ajaranNya menjadi teladan sebagai ajaran yang benar, yang menjadikan manusia dengan benar mengenal Allah yang benar, mengenal pribadi Allah dengan benar, mengenal Sejati Allah dengan benar, mengerti dan melaksanakan kehendak-kehendakNya dengan benar, tidak lagi terkungkung dalam paradigma agama dan pemikiran-pemikiran manusia yang salah, yang menjadi dogma dan doktrin dalam agama, yang menjadi ajaran dan perintah manusia untuk dilaksanakan dalam hidup berkeagamaan, seolah-olah itu adalah perintah Tuhan.

Walaupun banyak orang berpikiran agama dan sudah juga mengkotak-kotakkan agama sehingga orang-orang yang percaya kepada Yesus disebut beragama kristiani / nasrani dan di dalamnya pun terpecah-pecah lagi ke dalam banyak aliran gereja dan sekte, tetapi sesungguhnya kepercayaan tentang Yesus bukanlah agama, tetapi adalah kepercayaan ketuhanan, yaitu kepercayaan terhadap ketuhanan Yesus Kristus dan tentang Tuhan yang diwartakanNya dan terhadap KuasaNya dalam mengeluarkan ajaran dan Firman. Karena itu jangan terjebak di dalam agama dan jangan berpikiran sempit hanya pada agama saja.

Agama adalah istilah, nama dan bentukan pemahaman dan sikap berpikir manusia tentang Tuhan dan ketuhanan. Masing-masing agama mempunyai persepsi dan versi sendiri-sendiri tentang Tuhan. Tetapi tidak semua agama mengenalkan manusia tentang Tuhan yang benar dan tidak semua agama bisa mengantarkan manusia kepada Tuhan yang benar.

Untuk belajar mengenal agama, kita harus belajar dari orang yang sudah tahu tentang agama.

Untuk belajar mengenal Tuhan, kita harus belajar dari orang yang sudah tahu tentang Tuhan.

Yesus adalah Sesosok Pribadi yang menjadi Tuhan, yang jelas tahu siapa Tuhan, dan jelas tahu jalannya menuju Tuhan, bukan sesosok pribadi yang masih mencari Tuhan dan bukan sesosok pribadi yang berharap nantinya ia akan dimuliakan dan diterima Tuhan. KepadaNya sudah diserahkan semua Firman dan Kuasa. Ia sudah dengan benar mengajar manusia tentang Tuhan yang benar, SejatiNya Pribadi Tuhan yang benar dan Kehendak-KehendakNya yang benar yang harus dilaksanakan oleh manusia, dan dengan KuasaNya Ia sudah menunjukkan jalan yang benar untuk manusia datang kepada Tuhan. 

Dan yang menjadi isi firman Yesus adalah supaya kita sempurna hidup di dalam Allah,  Firman Allah sempurna hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Allah, manunggal dengan Allah, tidak lagi terlepas dari Tuhan, dan itu bukanlah sekedar beragama kristen seperti yang selama ini kita pikirkan.

Sejatinya ajaran Yesus adalah ajaran ketuhanan, bukan agama, dan ajaran ketuhananNya itu tidak menekankan kehidupan yang agamis formal. Ajaran ketuhanan itu juga yang menyebabkan ajaran Yesus berbenturan dengan orang-orang yang berpikiran agama dan yang mempertuhankan agama (ahli-ahli Taurat, kaum Farisi dan Saduki). Sehingga kalau kita berkeras pada agama, gereja, pendeta / imam, maka kita akan hidup dalam dunia dogma dan doktrin dan tidak akan mampu mengenal Allah dengan benar dan akan menjadi sama dengan orang-orang yang berpikiran agama dan yang mempertuhankan agama.

Adalah suatu kemunduran besar jika orang berorientasi hanya kepada agama saja, karena agama itu derajatnya rendah bagi orang-orang yang sudah mengenal Tuhan, karena Tuhan lebih daripada agama. Tetapi jangan juga kita mengabaikan agama, karena agama itu adalah juga sarana kita berketuhanan. Tuhan dan agama masing-masing ada tempatnya sendiri-sendiri, jangan disamakan dan jangan dicampur-adukkan.

Orang harus benar-benar mengenal Tuhannya yang benar, kemudian datang sendiri dan beribadah kepadaNya dengan jalan yang benar. Selanjutnya terserah orangnya itu sendiri sejauhmana ia akan berketuhanan, apakah akan hanya sebatas agamanya saja ataukah akan lebih jauh lagi berketuhanan, karena itu akan menjadi hubungannya yang pribadi dengan Tuhan.

Sekalipun kita beragama, tapi sebaiknya kita tidak menempatkan diri di bawah agama. Kita tidak boleh mengabaikan agama, tapi juga jangan kita mengikat diri pada agama jika itu (dan aturan-aturannya) menghalangi / merintangi kita datang kepada Tuhan. Secara pribadi agama dan ketuhanan adalah jalan kita kepada Tuhan, kita tidak boleh mengabaikannya, tetapi hubungan kita yang pribadi dengan Tuhan lebih daripada agama. Itu berbeda dengan orang-orang yang menganggap hubungannya dengan Tuhan hanya sebatas agama saja, sehingga mereka akan mempertuhankan agama.

Pemikiran-pemikiran manusia tidak akan pernah mampu menjangkau Tuhan dan tidak akan mampu untuk mengenal pribadi Allah dengan benar. Karena itu Allah memberikan RohNya (Roh Kudus) kepada manusia supaya manusia dengan rohnya dan Roh Kudus itu lebih mampu mengenal Allah dengan benar, dan lebih mampu mengetahui apa yang menjadi kehendak-kehendakNya untuk dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Roh Kudus dikaruniakan Allah kepada semua orang yang percaya kepadaNya dalam nama Yesus Kristus dan yang telah menerima dirinya dibaptis. Karena itu orang-orang yang telah menerima Roh Kudus itu haruslah mereka membuka hati dan pikirannya dan "mendengarkan" suaraNya untuk mendengarkan pengajaranNya untuk ia membangun hikmat ketuhanannya.

Jangan mengkultuskan Tuhan. Allah bukanlah Yang Maha Baik atau Yang Maha Adil ataupun Yang Maha Jahat, karena Ia bisa mengasihi, bisa juga murka dan membinasakan, dan menimpakan kesalahan seseorang kepada anak keturunannya. Allah bukanlah Yang Maha ini atau Yang Maha itu, karena Ia bisa berbuat sebaliknya. Pemikiran-pemikiran manusia tidak bisa memaksakan sifat-sifat pribadi Allah bahwa Allah itu begini atau Allah itu begitu, juga tidak bisa membatasi sifat-sifat Allah bahwa Allah itu tidak begini atau Allah itu tidak begitu.

Tetapi yang pastiAllah itu Maha Kuasa. Tidak ada kuasa yang lebih besar daripada Kuasa-Nya. Semua mahluk harus tunduk kepadaNya. Kepatuhan adalah segalanya. Segala sesuatu dilakukanNya berdasarkan KuasaNya. Ia berkuasa membenarkan ataupun menyalahkan. Sekalipun mungkin salah di mata manusia, tetapi kita akan dibenarkan Allah karena iman kita kepadaNya. Perbuatan yang kita lakukan karena iman akan dibenarkanNya (karena itu kita harus membangun hikmat yang dari Tuhan supaya kita bisa dengan benar mengerti kehendak-kehendakNya, kemudian mengimaninya dengan perbuatan-perbuatan kita yang nyata, jangan berkeras pada pemikiran sempit agama dan jangan menyembahNya / beribadah / berbakti dengan cara yang salah).

Dan yang juga pastiAllah itu baikDan Ia selalu menggenapi janjiNyaIa berkuasa atas segala mahluk dan kehidupan, tetapi Ia tidak sok kuasa, tidak menindas semua mahluk di bawah kekuasaanNya. Justru Ia ingin supaya semua mahluk juga baik, terlebih adalah manusia, supaya baik sesuai dengan citraNya pada saat penciptaan, baik sama seperti diriNya, supaya manusia dapat layak masuk ke dalam KemuliaanNya. Tidak ada manusia atau mahluk apapun yang mulia di mataNya, kecuali Allah memuliakan dia dan memasukkannya ke dalam kemuliaanNya, dan semua yang tidak mulia bagiNya akan dibuangNya ke tempat sampah dan dibakar bersama dengan sampah-sampah yang lain.

Jangan juga mengkultuskan Yesus. Memang nanti pada Hari Penghakiman Ia akan turun ke dunia sebagai Raja Besar yang menghakimi manusia. Tetapi sebelum Hari Penghakiman itu tiba, karena kasihNya, sekarang-sekarang ini pun beliau sering turun ke dunia, menyambangi umatNya, menaungi kepercayaan umatNya, menjadi seorang kakak yang mengayomi adik-adikNya. Jangan menganggap Yesus jauh dari kehidupan manusia, karena Ia sendiri aktif mengayomi umatNya. Tetapi sama seperti perkataanNya dulu, pada saat Anak Manusia turun ke dunia, akankah Ia menemukan iman di bumi ?

Yesus bukan perantara manusia kepada Tuhan.

Yesus adalah TUJUAN  !

Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Tidak seorang pun dapat datang kepada Allah Bapa tanpa ia melalui Yesus.

Orang harus lebih dulu datang kepada Yesus sebelum ia dapat sampai kepada Bapa.

Yesus telah menjadi Terang yang menerangi manusia akan Allah yang benar dan jalan yang benar kepadaNya. Barangsiapa mengerti perkataan dan Firman-FirmanNya, percaya dan melaksanakannya, ia sama dengan orang yang sudah keluar dari kegelapan dan masuk ke dalam terang dan kegelapan tidak menguasainya lagi. Dan semua orang yang percaya kepadaNya dan menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi Anak-Anak Allah, yaitu mereka yang percaya kepada Allah dalam nama-Nya, orang-orang yang terlahir baru karena Allah.

Allah memuliakan orang-orang yang percaya kepadaNya melalui pemberitaan PutraNya Yesus Kristus, sehingga Ia mengaruniakan Roh-Nya, Roh Kudus, kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus dan yang telah menerima dirinya dibaptis, sebagai tanda menyatunya Roh Allah dengan manusia, supaya mereka menjadi Anak-Anak Allah, dan memiliki kuasa yang lebih daripada kuasa roh apapun di bumi ini.

Roh Kudus adalah perantara manusia kepada Tuhan, perantara doa-doa, dan pembuka Hikmat yang dari Allah untuk manusia supaya manusia dapat dengan benar mengenal Allah. 

Roh Kudus itu juga adalah tanda penyatuan Allah dengan manusia, tinggal si manusia-nya sendiri apakah percaya dengan kemanunggalan Allah itu dan percaya juga pada ke-Anak Allah-annya sendiri dan ia sendiri memanunggalkan dirinya dengan Allah. Roh Kudus menjadi perantara manusia dengan Tuhan. Roh Kudus akan aktif bekerja jika si manusia juga aktif tersambung dengan Tuhan. Dengan Roh Kudus itu manusia berkuasa mengusir setan-setan dan roh-roh jahat, dan berkuasa juga melakukan perbuatan-perbuatan besar dan mukjizat.

Dan itu tetap berlaku hingga jaman ini, sehingga mereka yang percaya kepada Allah dalam nama Yesus Kristus, dan percaya juga pada ke-"Anak Allah"-an mereka sendiri, dapat juga melakukannya. Perbuatan-perbuatan yang akan menjadi kesaksian bahwa Allah benar ada dan Kuasa-Nya nyata, dan bahwa cerita tentang Allah dan Yesus bukan hanya menjadi cerita kehidupan jaman dulu saja, tetapi juga berlaku hingga sekarang, karena Allah itu kekal adanya dan firman-firman-Nya berlaku sepanjang masa.





https://sites.google.com/site/thomchrists/Kebatinan-dan-Spiritual/Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti/Orang%20Majus.JPG
Comments