Pra-kata,

 Filosofi Kebatinan dan Spiritual.

 


Dalam penulisan-penulisan bertema kebatinan dan spiritual Penulis ingin menekankan bahwa pengertian keilmuan kebatinan dan spiritual bersifat luas, bukan hanya kebatinan dan spiritual kegaiban, ilmu kebatinan dan ilmu gaib kejawen atau ilmu-ilmu duniawi lainnya, tetapi juga kebatinan dan spiritual keagamaan / ketuhanan yang dijalani oleh masing-masing orang.

Pada jaman dulu kebatinan yang bersifat kerohanian secara umum tujuannya adalah untuk kebatinan pribadi, merupakan jalan yang ditempuh orang untuk lakunya berketuhanan / berkeagamaan. Jika itu dilakukan di dalam suatu kelompok yang sehaluan, maka kelompok itu akan menjadi suatu kelompok / paguyuban kebatinan yang pada masa sekarang sering disebut sebagai aliran kebatinan atau aliran kepercayaan, atau pada masa sekarang menjadi aliran dan kelompok di dalam agama yang masing-masing tokohnya mempunyai umat / pengikut. Sedangkan laku kebatinan yang bersifat keilmuan tujuan utamanya adalah untuk mengolah potensi kebatinan manusia (kekuatan sukma) untuk dijadikan sumber kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan maupun kesaktian gaib.

Pada jaman sekarang sudah jarang ada orang yang menekuni olah kebatinan, apalagi yang memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi dan mengajarkan / menularkan keilmuan kebatinannya kepada orang lain, sehingga jarang sekali p
ada jaman sekarang ini ada orang yang memiliki pemahaman yang benar tentang kebatinan. Pemahaman tentang kebatinan saja belum tentu benar, apalagi memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi.

Karena itu pada masa sekarang banyak sekali sudah terjadi kesalah-pahaman dan pendegradasian dalam citra dan pemikiran orang tentang kebatinan. Bahkan ada yang menyamakan kebatinan hanya sebagai aliran kebatinan / kepercayaan, yang harus diberantas, karena dianggap penuh dengan ajaran klenik, atau dianggap sama dengan paham animisme / dinamisme, yang bisa merusak keimanan seseorang.

Begitu juga dengan banyaknya tulisan yang membabarkan kebatinan dan spiritualitas kejawen. Tulisan-tulisan itu kebanyakan adalah sudut pandang orang jaman sekarang tentang kebatinan dan spiritualitas jawa, yang sebenarnya itu hanya mengupas kulitnya saja yang berupa keilmuan gaib kejawen. Budaya dan ritual-ritual masyarakat jawa yang sampai sekarang masih dilakukan pun sudah tidak lagi murni berdasarkan budaya kebatinan jawa yang asli, ke dalamnya sudah masuk unsur-unsur agama Islam, sudah menjadi budaya Islam kejawen, bukan asli jawa lagi.

Ada juga yang menyamakan ilmu kebatinan sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam, atau bahkan disamakan dengan keilmuan perdukunan. tetapi sebenarnya ilmu kebatinan sama sekali tidak bisa disamakan dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, apalagi perdukunan, karena sifat keilmuannya berbeda.

Yang sekarang masih banyak dijalani dan dipraktekkan orang, yang sering dikatakan sebagai ilmu kebatinan, seperti ilmu kejawen atau ilmu Islam kejawen, kebanyakan proporsinya sebagai ilmu kebatinan sangat kecil, mungkin 10%-nya saja tidak sampai. Sekalipun dalam ilmu-ilmu tersebut di dalamnya ada banyak bentuk laku keilmuan yang mirip, seperti adanya mantra dan amalan-amalan gaib, laku prihatin, puasa dan tirakat, dsb, ilmu-ilmu itu sebenarnya lebih banyak bersifat sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam, bukan kebatinan.

Begitu juga dengan banyaknya laku yang dilakukan orang di tempat-tempat yang wingit dan angker. Walaupun sering dikatakan sebagai laku kebatinan, tetapi sebenarnya itu lebih banyak arahnya pada usaha "
ngelmu gaib", yaitu usaha untuk mendapatkan suatu ilmu gaib / khodam atau ilmu kesaktian berkhodam, atau suatu bentuk laku dalam rangka "ngalap berkah", bukan kebatinan.


Dalam semua hal yang kita jalani ada satu hal mendasar yang seringkali pengertiannya dikesampingkan orang, yaitu adanya unsur kebatinan. Unsur kebatinan hadir pada semua aspek kehidupan manusia, termasuk di dalam aktivitas manusia dalam mempelajari dan menekuni berbagai jenis keilmuan. Unsur kebatinan itu adalah apa yang biasa disebut sebagai penjiwaan atau penghayatan, yang sangat erat hubungannya dengan rasa dan sugesti.

Di dalam aktivitas manusia berolah raga, kanuragan, mengolah tenaga dalam, maupun ilmu gaib dan ilmu khodam, atau olah spiritual, bahkan dalam berkeagamaan / berketuhanan dan dalam menjalankan aktivitasnya dalam kehidupan modern dan menggunakan alat-alat canggih dan modern ataupun dalam mempelajari keilmuan modern seperti ilmu kimia dan fisika ataupun ilmu teknik dan sistem komputer, selalu terkandung di dalamnya unsur kebatinan berupa penjiwaan dan penghayatan pada masing-masing hal yang dijalani, yang seringkali kualitas penjiwaan dan penghayatan ini akan sangat membedakan hasil / prestasi yang diperoleh seseorang dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Secara umum unsur kebatinan hadir pada semua aspek kehidupan manusia, tidak hanya dalam hal keilmuan, tetapi dalam semua aspek kehidupan manusia, termasuk di jaman modern ini, tetapi istilah kebatinan sendiri seringkali secara dangkal dikonotasikan sebagai kegiatan klenik. Namun di luar itu memang ada orang-orang tertentu yang secara khusus mempelajari keilmuan kebatinan, bukan hanya pada aspek yang bersifat umum, tetapi juga secara khusus dan mendalam mengenai keilmuan kebatinan itu sendiri.

Sebenarnya sisi kebatinan, spiritual, kegaiban dan keagamaan sudah dijalani sejak manusia masih muda (bahkan ketika masih anak-anak). Lingkungan kehidupan dan alam sekitarnya membantu manusia untuk lebih peka terhadap adanya hal-hal yang sebenarnya ada tetapi tidak terlihat mata, bahwa ada dimensi lain yang bersifat gaib dalam kehidupan ini.

Saat masih anak-anak dan muda, suara hati dan nurani masih bersih dan menuntun kepada perilaku yang baik, walaupun juga kenyataannya watak dan perbuatan jahat juga sudah ada, yang mempengaruhi seseorang menjadi senang menonjolkan diri, mementingkan dirinya sendiri dan berbuat untuk kesenangan dan keuntungannya sendiri.

Ketika masih muda atau anak-anak, biasanya pembelajarannya adalah pengertian kebatinan dan spiritual yang bersifat keagamaan dan budi pekerti, atau belajar ilmu beladiri / kanuragan, seperti pencak silat, karate, dsb, yang dalam pelajarannya juga ditanamkan pengertian-pengertian budi pekerti, keksatriaan dan hal-hal yang mengarah pada kebatinan dan spiritualitas umum.

Di dalam perguruan-perguruan tertentu, selain diajari ilmu kanuragan, ada yang juga diajari ilmu kebatinan, terutama adalah ilmu gaib, sebagai rangkapan ilmu kanuragan, supaya hasilnya lebih dahsyat, berupa amalan-amalan atau aji-aji untuk kekuatan dan keselamatan, untuk memayungi diri dari serangan fisik dan non-fisik, sehingga mereka yang mempraktekkan ilmu beladiri kanuragan menjadi kuat dan bahkan sakti, karena selain memiliki kemampuan beladiri, tubuhnya juga kuat, memiliki pukulan yang mematikan, kuat menahan pukulan, mampu mematahkan kayu, besi, dsb, atau bahkan tubuhnya menjadi kebal, tidak mempan senjata tajam, dsb.

Kanuragan biasanya diminati oleh golongan muda. Setelah melihat sendiri hasilnya yang menakjubkan bila dirangkap dengan ilmu kebatinan atau ilmu gaib, mereka menjadi lebih percaya kepada hal-hal yang bersifat supranatural. 

Seseorang yang masih berusia muda, biasanya masih dipenuhi hasrat keduniawian yang tinggi, ego dan ke-Aku-an yang tinggi, sehingga bila mempelajari suatu ilmu atau pun keagamaan, biasanya hanya berfokus pada ajaran-ajaran, dogma dan doktrin, akan menonjolkan ke-Aku-annya, dan berorientasi pada hasil yang ingin diraih. Dan segala apa yang telah dicapainya akan cenderung untuk dipamerkan supaya dipandang hebat oleh orang lain dan cenderung untuk memaksakan kebenarannya sendiri kepada orang lain. Terjadi demikian karena orang tersebut belum memiliki kebijaksanaan kesepuhan dalam dirinya.

Semakin dewasa umur seseorang dan kepribadiannya, akan menjadi lebih sabar dan bijaksana, lebih mampu mengendalikan diri, dan secara alami akan lebih memilih penggunaan doa-doa dan amalan keselamatan yang berguna tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan orang lain, daripada aji-aji kanuragan yang hanya berguna untuk dirinya sendiri.

Baik tua ataupun masih muda, dan orang-orang yang masih senang menggeluti kenikmatan yang melulu bersifat keduniawian, seperti masih senang dengan kekuatan, harta kekayaan dan status sosial, biasanya tidak / belum tertarik pada olah batin dan spiritual, terutama yang bersifat kesepuhan. Bila mereka menggeluti hal-hal kebatinan, yang ditekuninya hanyalah ilmu-ilmu tertentu saja yang berguna untuk keduniawiannya. Arahnya adalah kepada ilmu gaib, atau menggunakan jasa paranormal atau orang pinter  untuk mendapatkan suatu ilmu atau kegaiban tertentu, atau tirakat dan berziarah untuk mendapatkan berkah duniawi sesuai keperluannya masing-masing, bukan olah kebatinan / kesepuhan.

Orang-orang yang mempelajari kebatinan dan spiritual yang bersifat
kesepuhan biasanya adalah orang-orang yang telah matang dalam usia dan kepribadian. Seseorang biasanya akan mulai menekuni spiritualitas yang bersifat kesepuhan bila usia dan kehidupannya sudah mapan, sudah menerima kondisi kehidupan, sudah merasa cukup, tidak lagi melulu mengejar kehormatan dan kebendaan. Pada tahapan ini manusia telah memiliki kesadaran bahwa selain kehidupan duniawi yang harus baik dan benar, juga ada kehidupan spiritual yang harus dipahami dan dijalani. Apalagi setelah menyadari bahwa hidup di dunia ini relatif tidak lama, maka orang akan berusaha bersikap bijak dan mulai menapaki kehidupan
kebatinan-spiritual / keagamaan sebagai sarana kesempurnaan hidup di dunia.


Cerita tentang kegaiban, kebatinan dan spiritual dipenuhi dengan mitos dan tahayul. Sulit untuk mencari kebenaran yang sejati, kecuali bagi mereka yang mempunyai kemampuan untuk menyingkap misterinya. Cara mempelajari dan memahami dunia supranatural berbeda dengan mempelajari ilmu pasti, tidak berdasarkan kekuatan otak dan logika, namun menggunakan kepekaan rasa dan batin, dengan laku prihatin, doa-doa dan amalan, ditambah bumbu-bumbu cerita mitos dan tahayul, menjadikan dunia supranatural seringkali konotasinya sama dengan mistik dan klenik.

Karena itulah dalam kehidupan modern ini banyak orang yang memaksakan sikap berpikirnya untuk tidak percaya dengan hal-hal yang bersifat mistis. Mereka tidak percaya karena itu adalah kuno, kehidupan masa lampau, dan  tidak masuk akal.


Tetapi banyak juga orang berpandangan lain, karena hal-hal atau kejadian-kejadian gaib pun masih terjadi hingga hari ini. Semua pandangan di atas hanya berlaku bagi mereka yang tidak mengerti dan tidak menguasai masalah kegaiban, kegaiban hidup dan kegaiban alam. Pandangan di atas tidak berlaku untuk mereka yang mau mengerti dan mampu menyingkap rahasia kegaibannya. Sekalipun hal-hal gaib itu tidak tampak mata biasa, tetapi bisa dipelajari dan bisa ditemukan kebenarannya, dengan cara atau metode tertentu, asalkan tahu caranya, dan keilmuan gaib juga bisa dipelajari, bisa dikembangkan dan bisa dipertunjukkan. 


Dunia supranatural berbeda dengan mitos dan tahayul dan juga tidak sama dengan sulap dan sihir, ilusi dan halusinasi. Dunia supranatural berkenaan dengan kegaiban yang benar-benar ada, tetapi tidak tampak mata biasa, hanya bisa dirasakan dengan rasa dan batin. Karena itu cara-cara mempelajari dan memahaminya pun berbeda dengan cara mempelajari matematika dan ilmu pasti, yaitu tidak dengan mengedepankan kekuatan otak dan logika, namun mengedepankan rasa dan batin. Setelah mampu menginderai dengan rasa dan batin, barulah dinalar dengan otak dan logika, sehingga dunia keilmuan gaib pun bisa dipelajari oleh banyak orang, bisa dikembangkan dan bisa dipertunjukkan. Jadi hal-hal mistis dan gaib itu bukannya tidak masuk akal, tetapi akalnya saja yang tidak sampai.


Mengerti tentang kegaiban yang nyata ada dan dialami manusia saja tidak mampu, bagaimana dapat mengerti dan mengenal Tuhan, yang sejatinya adalah sumber segala kegaiban. Itulah keterbatasan pikiran dan akal budi manusia. Karena itulah Tuhan membekali manusia dengan roh, supaya dengan rohnya manusia dapat mengerti hal-hal yang bersifat roh, kegaiban hidup dan kegaiban alam, dan dapat mengenal Tuhan dan jalan yang benar menuju Tuhan, supaya manusia tidak hanya berkeras diri membela ajaran-ajaran dan dogma-doktrin yang membelenggu akal sehat, yang manusianya sendiri tidak mampu mengetahui kebenarannya (bisanya hanya percaya saja), dan juga supaya manusia memiliki hikmat kebijaksanaan dalam dirinya tentang Allah dan kebenaranNya.


Penulisan-penulisan ini diharapkan bisa memperkaya pemahaman kita tentang dunia kegaiban, kebatinan dan spiritual, bisa menjadi bahan untuk menyingkap misterinya secara logis dan bisa mengambil manfaatnya dalam kebijaksanaan bersikap.


Dalam rangka mempelajari ilmu kebatinan orang harus bisa mengedepankan batinnya, bukan pikirannya, untuk bisa peka rasa merasakan apa yang ada di dalam batinnya yang terdalam. Dengan olah kebatinan potensi kegaiban kebatinan / sukma manusia itu digali dan ditingkatkan kualitasnya, yang jika berhasil mencapai tingkatan tertentu yang tinggi kegaiban sukma manusia akan dapat melebihi kegaiban roh-roh gaib apapun yang ada di bumi ini.

Dalam rangka mempelajari ilmu kebatinan dan kegaiban jangan sekali-kali menyombongkan nalar dan logika, atau kepintaran dan kejeniusan berpikir. Tidak semua orang dengan pikirannya mampu mencerna sesuatu yang hanya bisa diinderai dengan rasa dan batin, sesuatu yang nyata ada, tetapi tidak kelihatan mata, sehingga banyak hal-hal gaib dan ilmu gaib sering dikatakan orang sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, akan dianggap klenik, mitos atau pengkultusan.

Dalam olah kebatinan dan kegaiban yang lebih banyak berperan adalah rasa dan batin (olah rasa dan olah batin, bukan olah pikiran) dan kecerdasan batin (bukan kejeniusan). Jika terlalu mengedepankan sikap berpikir, maka sesuatu yang mudah diinderai oleh orang yang peka rasa akan sulit sekali diinderai oleh orang yang terlalu mengedepankan sikap berpikirnya. Dalam hal ini semua kegaiban itu bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal, tetapi akalnya saja yang tidak sampai, akalnya saja yang tidak mampu mencerna. Mampu mencerna saja tidak, apalagi menciptakan alat-alat modern untuk membuktikan kebenaran atas hal-hal gaib.

Dalam hal ini sudah terjadi kesalahan metode dan sikap berpikir. Hal-hal kegaiban hanya bisa diinderai dengan rasa dan kecerdasan batin, bukan dengan pikiran atau kejeniusan berpikir, apalagi sok berlogika. Secara logis semua fakta dan bukti-bukti empiris harus didapatkan dengan olah rasa dan batin, sesudahnya barulah dinalar dengan pikiran. Orang harus bisa peka rasa untuk menginderai kegaiban, sesudahnya barulah dinalar dengan pikiran. Itulah metodenya sehingga kemampuan gaib dan ilmu-ilmu gaib bisa dikembangkan.

Sebenarnya tidak harus seseorang menjadi seorang yang mumpuni dalam hal kegaiban, karena semuanya tergantung pada unsur interest dan aspek manfaat bagi masing-masing orang, tetapi sebaiknya minimal kita bisa peka rasa supaya bisa merasakan dan mengetahui sesuatu yang sifatnya negatif yang akan atau sedang terjadi pada dirinya sendiri maupun keluarga dan orang-orang terdekatnya, supaya kemudian bisa melakukan tindakan preventif yang diperlukan. Jangan membodohi diri dengan menganggap semua kejadian di dunia manusia bisa dinalar dan bisa ditangani dengan cara-cara dan peralatan modern, apalagi cara-cara dan peralatan modern pun masih mempunyai keterbatasan, tidak mampu untuk digunakan mendeteksi, apalagi menangani, hal-hal yang terkait dengan kegaiban. Kebatinan / kegaiban dan cara-cara modern tidak saling menggantikan, tidak saling menghapuskan, tetapi saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Memang ada hal-hal yang dulu dianggap gaib, sekarang tidak lagi menjadi hal gaib setelah bisa dibuktikan rahasianya dengan sikap berpikir dan peralatan modern. Misalnya saja ada sebuah sendang, mata air atau sungai yang walaupun airnya kelihatan bening dan bersih, tetapi akan membuat orang sakit bila meminum airnya. Pada jaman dulu dianggap tempat-tempat tersebut adalah angker / wingit, berpenghuni gaib, tidak boleh didatangi manusia, yang bahkan jika mengambil dan meminum airnya saja akan membuat orang sakit (dianggap kesambet). Tetapi pada jaman sekarang hal di atas bukan rahasia lagi, karena sudah diketahui penyebabnya, yaitu adanya unsur kuman di dalam air, yang tidak akan menyebabkan orang sakit meminumnya setelah airnya dimasak terlebih dahulu. Tetapi memang ada tempat-tempat sumber air yang berpenghuni gaib yang jika kita mendatanginya atau meminum airnya, maka kemudian kita akan jatuh sakit, bahkan walaupun airnya sudah lebih dulu dimasak, karena penyebab sakitnya itu bukanlah kuman, yang penyebab
sakitnya itu tidak bisa diketahui dengan alat-alat dan sikap berpikir modern.

Tetapi ada juga kegaiban yang sampai sekarang belum bisa ditemukan rahasianya dengan sikap berpikir dan peralatan modern. Misalnya sampai sekarang dengan cara modern dan peralatan canggihnya manusia belum bisa menemukan rahasianya mengapa air sungai Gangga di India bisa bersih dari kuman (bakteri, virus, amuba), padahal airnya keruh dan sehari-harinya sungai itu selain berisi sampah rumah tangga juga diisi oleh mayat-mayat manusia dan bangkai yang mengambang (sungai Gangga menjadi tempat ritual melabuh jenazah dan abu kremasi). Secara kebatinan dan spiritual diketahui bahwa penyebabnya adalah Dewi Gangga yang dengan kegaibannya menjaga kesucian sungai Gangga, tetapi dengan sikap berpikir dan peralatan modernnya manusia belum bisa menemukan rahasianya. Sekalipun bisa menemukan unsur yang membersihkan sungai Gangga dari kuman, tetapi tidak ada manusia yang mampu meniru membuatnya, walaupun sudah banyak dilakukan penelitian dengan peralatan modernnya.

Atau dengan seketika manusia bisa menghilangkan kuman dan virus dari tubuh orang yang sedang sakit dengan menggunakan tenaga dalam, kekuatan kebatinan atau khodam, yang dengan kejeniusannya manusia belum bisa menciptakan alat untuk menirunya. Yang masih dilakukan sampai sekarang adalah membunuh kuman dan virus dengan obat-obatan medis dan antibiotik.

Kemampuan berpikir dan peralatan canggih dan modern masih mempunyai keterbatasan. Jika dengan cara itu manusia belum bisa menemukan rahasia dari hal-hal gaib, maka janganlah itu dipaksakan, berarti cara-cara itu tidak cukup ampuh untuk digunakan membuktikan
dan menemukan rahasia dari hal-hal gaib dan kegaiban. Dan atas terjadinya suatu fenomena gaib, karena tidak bisa membuktikan / menemukan rahasianya, janganlah kita membodohi diri dengan mengatakannya klenik / mitos / pengkultusan, karena kejadiannya memang ada. Tetapi jika kejadian dan fenomenanya memang aslinya tidak ada, maka itu sama saja dengan kita mengada-ada.


Keilmuan Supranatural / Metafisika yang dipelajari dan dikembangkan manusia umumnya adalah dalam bentuk Ilmu Kanuragan dan Tenaga Dalam, Kebatinan, Spiritual, Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam. Ilmu-ilmu itu berdiri sendiri-sendiri dan memiliki kekuatannya sendiri-sendiri, tetapi bisa juga dijadikan satu kombinasi rangkaian ilmu. Walaupun sebenarnya masing-masing adalah berbeda dan masing-masing memiliki kekuatannya sendiri-sendiri, tetapi masing-masing juga memiliki kesamaan, yaitu berhubungan dengan kegaiban. Bahkan ilmu-ilmu tersebut di atas dapat dirangkaikan menjadi satu kesatuan ilmu, ilmu yang satu dirangkap dengan ilmu lainnya, sehingga hasilnya akan berlipat ganda dibandingkan bila ilmu-ilmu itu hanya sendiri-sendiri saja.

Seseorang yang menekuni olah beladiri kanuragan dan olah gerak, kekuatan ilmunya akan bertambah berlipat-lipat puluhan atau ratusan kali setelah dilambari dengan kekuatan tenaga dalam. Yang telah memiliki tenaga dalam, kekuatan ilmunya juga akan berlipat-lipat bila dilambari dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, atau dilambari dengan kekuatan kebatinan dan spiritual. Karena itu, biasanya pada penguasaan tingkat lanjut, seseorang memperdalam kekuatan keilmuannya tidak lagi melulu dengan olah gerak dan olah pernafasan, tetapi akan banyak melakukan pendalaman dengan mewirid amalan gaib kesaktian, laku puasa dan tirakat, meditasi, semadi, bahkan tapa brata.

Untuk menjelaskan berbagai ilmu tersebut di atas, yang semuanya juga berhubungan dengan kegaiban, Penulis mengambil pendekatan dari cara seseorang menekuni ilmu tersebut. Biasanya jika seseorang mempelajari ilmu kanuragan dan tenaga dalam, kebatinan dan spiritual melalui suatu perguruan, tahapan yang dilalui adalah sebagai berikut : 

  1.  Olah Raga dan Olah Fisik Kanuragan

  2.  Olah Nafas dan Tenaga Dalam

  3.  Olah Rasa

  4.  Olah Batin

  5.  Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam

  6.  Olah Sukma

  7.  Olah Spiritual

  8.  Olah Roh - Manunggaling Kawula Lan Gusti



Tahapan-tahapan di atas tidak berarti harus dilalui seseorang untuk sampai pada tahapan berikutnya, karena ada orang yang hanya menekuni tahapan tertentu saja, sedangkan tahapan lainnya tidak ditekuninya. Dan tidak
juga berarti bahwa seseorang yang menekuni sesuatu ilmu, maka pasti dia sudah menguasai tahapan ilmu sebelumnya. Misalnya ada yang menekuni olah raga atau oleh fisik saja, tetapi tidak mempelajari olah nafas dan tenaga dalam. Orang yang mempelajari olah batin, mungkin itu saja yang dipelajari, tidak mempelajari tahapan ilmu sebelumnya seperti olah nafas dan tenaga dalam. Begitu juga bila ada orang yang menekuni olah kebatinan dan spiritual, mungkin itu saja yang dipelajarinya, tidak mempelajari ilmu gaib dan ilmu khodam. Begitu juga sebailiknya pada orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, mungkin itu saja yang dipelajarinya, tidak menekuni olah kebatinan dan spiritual ataupun tenaga dalam. Itu semua tergantung pada interest masing-masing orang dan program ilmu yang ditekuninya.




-------------------




  >>  Kanuragan & Tenaga Dalam













Comments