Related Topics



  Pra-kata,

 Filosofi Kebatinan dan Spiritual.

 


Dalam penulisan-penulisan bertema kebatinan dan spiritual Penulis ingin menekankan bahwa pengertian keilmuan kebatinan dan spiritual bersifat luas, bukan hanya kebatinan dan spiritual kegaiban, ilmu kebatinan dan ilmu gaib kejawen atau ilmu-ilmu duniawi lainnya, tetapi juga kebatinan dan spiritual keagamaan / ketuhanan yang dijalani oleh masing-masing orang, dan tergantung juga pada manusia yang bersangkutan apakah kemampuan yang terbangkitkan, jika ada, termasuk dari lakunya berkebatinan keagamaan / ketuhanan, apakah akan digunakannya murni untuk urusan keagamaan / ketuhanan ataukah juga akan digunakannya untuk tujuan keilmuan.

Pada jaman dulu kebatinan yang bersifat kerohanian secara umum tujuannya adalah untuk kebatinan pribadi, merupakan jalan yang ditempuh orang untuk lakunya berketuhanan / berkeagamaan. Jika itu dilakukan di dalam suatu kelompok yang sehaluan, maka kelompok itu akan menjadi suatu kelompok / paguyuban kebatinan yang pada masa sekarang sering disebut sebagai aliran kebatinan atau aliran kepercayaan, atau pada masa sekarang menjadi aliran dan perkumpulan agama yang masing-masing tokohnya mempunyai umat / pengikut. Sedangkan laku kebatinan yang bersifat keilmuan tujuan utamanya adalah untuk mengolah potensi kebatinan manusia (kekuatan sukma) untuk dijadikan sumber kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan maupun kesaktian gaib.

Pada jaman sekarang sudah jarang ada orang yang menekuni olah kebatinan, apalagi yang memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi dan mengajarkan / menularkan keilmuan kebatinannya kepada orang lain, sehingga jarang sekali p
ada jaman sekarang ini ada orang yang memiliki pemahaman yang benar tentang kebatinan. Pemahaman tentang kebatinan saja belum tentu benar, apalagi memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi.

Karena itu pada masa sekarang banyak sekali sudah terjadi kesalah-pahaman dan pendegradasian dalam citra dan pemikiran orang tentang kebatinan. Bahkan ada yang menyamakan kebatinan hanya sebagai aliran kebatinan / kepercayaan, yang harus diberantas, karena dianggap penuh dengan ajaran klenik, atau dianggap sama dengan paham animisme / dinamisme, yang bisa merusak keimanan seseorang.

Begitu juga dengan banyaknya tulisan yang membabarkan kebatinan dan spiritualitas kejawen. Tulisan-tulisan itu kebanyakan adalah sudut pandang orang jaman sekarang tentang kebatinan dan spiritualitas jawa, yang sebenarnya itu hanya mengupas kulitnya saja yang berupa keilmuan gaib kejawen. Sedangkan tentang budaya dan ritual-ritual masyarakat jawa yang sampai sekarang masih dilakukan pun sudah tidak lagi murni berdasarkan budaya kebatinan jawa yang asli, yang ke dalamnya sudah masuk unsur-unsur agama Islam, sudah menjadi budaya Islam kejawen, bukan asli jawa lagi.

Ada juga yang menyamakan ilmu kebatinan sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam, atau bahkan disamakan dengan keilmuan perdukunan. tetapi sebenarnya ilmu kebatinan sama sekali tidak bisa disamakan dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, apalagi perdukunan, karena sifat keilmuannya berbeda.

Yang sekarang masih banyak dijalani dan dipraktekkan orang, yang sering dikatakan sebagai ilmu kebatinan, seperti ilmu kejawen atau ilmu Islam kejawen, kebanyakan proporsinya sebagai ilmu kebatinan sangat kecil, mungkin 10%-nya saja tidak sampai. Sekalipun dalam ilmu-ilmu tersebut di dalamnya ada banyak bentuk laku keilmuan yang mirip, seperti adanya mantra dan amalan-amalan gaib, laku prihatin, puasa dan tirakat, dsb, ilmu-ilmu itu sebenarnya lebih banyak bersifat sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam, bukan kebatinan.

Begitu juga dengan banyaknya laku yang dilakukan orang di tempat-tempat yang wingit dan angker. Walaupun sering dikatakan sebagai laku kebatinan, tetapi sebenarnya itu lebih banyak arahnya pada usaha "
ngelmu gaib", yaitu usaha untuk mendapatkan suatu ilmu gaib / khodam atau ilmu kesaktian berkhodam, atau suatu bentuk laku dalam rangka "ngalap berkah", bukan kebatinan.


Dalam semua hal yang kita jalani ada satu hal mendasar yang seringkali pengertiannya dikesampingkan orang, yaitu adanya unsur kebatinan. Unsur kebatinan hadir pada semua aspek kehidupan manusia, termasuk di dalam aktivitas manusia dalam mempelajari dan menekuni berbagai jenis keilmuan. Unsur kebatinan itu adalah apa yang biasa disebut sebagai penjiwaan atau penghayatan, yang sangat erat hubungannya dengan rasa dan sugesti.

Di dalam aktivitas manusia berolah raga, kanuragan, mengolah tenaga dalam, maupun ilmu gaib dan ilmu khodam, atau olah spiritual, bahkan dalam berkeagamaan / berketuhanan dan dalam menjalankan aktivitasnya dalam kehidupan modern dan menggunakan alat-alat canggih dan modern ataupun dalam mempelajari keilmuan modern seperti ilmu kimia dan fisika ataupun ilmu teknik dan sistem komputer, selalu terkandung di dalamnya unsur kebatinan berupa penjiwaan dan penghayatan pada masing-masing hal yang dijalani, yang seringkali kualitas penjiwaan dan penghayatan ini akan sangat membedakan hasil / prestasi yang diperoleh seseorang dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Secara umum unsur kebatinan hadir pada semua aspek kehidupan manusia, tidak hanya dalam hal keilmuan, tetapi dalam semua aspek kehidupan manusia, termasuk di jaman modern ini, tetapi istilah kebatinan sendiri seringkali secara dangkal dikonotasikan sebagai kegiatan klenik. Namun di luar itu memang ada orang-orang tertentu yang secara khusus mempelajari keilmuan kebatinan, bukan hanya pada aspek yang bersifat umum, tetapi juga secara khusus dan mendalam mengenai keilmuan kebatinan itu sendiri.

Sebenarnya sisi kebatinan, spiritual, kegaiban dan keagamaan sudah dijalani sejak manusia masih muda (bahkan ketika masih anak-anak). Lingkungan kehidupan dan alam sekitarnya membantu manusia untuk lebih peka terhadap adanya hal-hal yang sebenarnya ada tetapi tidak terlihat mata, bahwa ada dimensi lain yang bersifat gaib dalam kehidupan ini.

Saat masih anak-anak dan muda, suara hati dan nurani masih bersih dan menuntun kepada perilaku yang baik, walaupun juga kenyataannya watak dan perbuatan jahat juga sudah ada, yang mempengaruhi seseorang menjadi senang menonjolkan diri, mementingkan dirinya sendiri dan berbuat untuk kesenangan dan keuntungannya sendiri.

Ketika masih muda atau anak-anak, biasanya pembelajarannya adalah pengertian kebatinan dan spiritual yang bersifat keagamaan dan budi pekerti, atau belajar ilmu beladiri / kanuragan, seperti pencak silat, karate, dsb, yang dalam pelajarannya juga ditanamkan pengertian-pengertian budi pekerti, keksatriaan dan hal-hal yang mengarah pada kebatinan dan spiritualitas umum.

Di dalam perguruan-perguruan tertentu, selain diajari ilmu kanuragan, ada yang juga diajari ilmu kebatinan, terutama adalah ilmu gaib, sebagai rangkapan ilmu kanuragan, supaya hasilnya lebih dahsyat, berupa amalan-amalan atau aji-aji untuk kekuatan dan keselamatan, untuk memayungi diri dari serangan fisik dan non-fisik, sehingga mereka yang mempraktekkan ilmu beladiri kanuragan menjadi kuat dan bahkan sakti, karena selain memiliki kemampuan beladiri, tubuhnya juga kuat, memiliki pukulan yang mematikan, kuat menahan pukulan, mampu mematahkan kayu, besi, dsb, atau bahkan tubuhnya menjadi kebal, tidak mempan senjata tajam, dsb.

Kanuragan biasanya diminati oleh golongan muda. Setelah melihat dan mengalami sendiri hasilnya yang menakjubkan bila dirangkap dengan ilmu kebatinan atau ilmu gaib, mereka menjadi lebih percaya kepada hal-hal yang bersifat supranatural. 

Seseorang yang masih berusia muda, biasanya masih dipenuhi hasrat keduniawian yang tinggi, ego dan ke-Aku-an yang tinggi, sehingga bila mempelajari suatu ilmu atau pun keagamaan, biasanya hanya berfokus pada ajaran-ajaran, dogma dan doktrin, berorientasi pada hasil yang ingin diraih, dan akan menonjolkan ke-Aku-annya. Dan segala apa yang telah dicapainya akan cenderung untuk dipamerkan supaya dipandang hebat oleh orang lain dan cenderung untuk memaksakan kebenarannya sendiri kepada orang lain. Terjadi demikian karena orang tersebut belum memiliki kebijaksanaan kesepuhan dalam dirinya.

Semakin dewasa umur seseorang dan kepribadiannya, akan menjadi lebih sabar dan bijaksana, lebih mampu mengendalikan diri, dan secara alami akan lebih memilih penggunaan doa-doa dan amalan keselamatan yang berguna tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan orang lain, daripada aji-aji kanuragan yang hanya berguna untuk dirinya sendiri.

Orang yang masih senang menggeluti kenikmatan yang melulu bersifat keduniawian, seperti masih senang dengan kekuatan, harta kekayaan dan status sosial, tentu tidak atau belum tertarik pada olah batin dan spiritual, terutama yang bersifat kesepuhan. Bila mereka menggeluti hal-hal kebatinan, yang ditekuninya hanyalah ilmu-ilmu tertentu saja yang berguna untuk duniawinya. Arahnya adalah kepada ilmu gaib, atau menggunakan jasa paranormal atau orang pinter  untuk mendapatkan suatu ilmu atau kegaiban tertentu, atau melakukan tirakat dan berziarah untuk mendapatkan berkah duniawi sesuai keperluannya masing-masing, bukan olah kebatinan / kesepuhan.

Orang-orang yang mempelajari kebatinan dan spiritual yang bersifat
kesepuhan biasanya adalah orang-orang yang telah matang dalam usia dan kepribadian. Seseorang biasanya akan mulai menekuni spiritualitas yang bersifat kesepuhan bila usia dan kehidupannya sudah mapan, sudah menerima kondisi kehidupan, sudah merasa cukup, tidak lagi melulu mengejar kehormatan dan kebendaan. Pada tahapan ini manusia telah memiliki kesadaran bahwa selain kehidupan duniawi yang harus baik dan benar, juga ada kehidupan spiritual yang harus dipahami dan dijalani. Apalagi setelah menyadari bahwa hidup di dunia ini relatif tidak lama, maka orang tersebut akan berusaha bersikap bijak dan mulai menapaki kehidupan
kebatinan-spiritual / keagamaan sebagai sarana kesempurnaan hidup di dunia.


Cerita tentang kegaiban, kebatinan dan spiritual dipenuhi dengan mitos dan tahayul. Sulit untuk mencari kebenaran yang sejati, kecuali bagi mereka yang mempunyai kemampuan untuk menyingkap misterinya. Cara mempelajari dan memahami dunia supranatural pun berbeda dengan mempelajari ilmu pasti, tidak berdasarkan kekuatan otak dan logika, namun menggunakan kepekaan rasa dan batin, dengan laku prihatin, doa-doa dan amalan, ditambah bumbu-bumbu cerita mitos dan tahayul, menjadikan dunia supranatural seringkali dikonotasikan sebagai mistik dan klenik.

Karena itulah dalam kehidupan modern ini banyak orang yang memaksakan sikap berpikirnya untuk tidak percaya dengan hal-hal yang bersifat mistis. Mereka tidak percaya karena itu adalah kuno, kehidupan masa lampau, dan  tidak masuk akal.


Tetapi banyak juga orang berpandangan lain, karena hal-hal atau kejadian-kejadian gaib pun masih terjadi hingga hari ini. Semua pandangan di atas hanya berlaku bagi mereka yang tidak mengerti dan tidak menguasai masalah kegaiban, kegaiban hidup dan kegaiban alam. Pandangan di atas tidak berlaku untuk mereka yang mau mengerti dan mampu menyingkap rahasia kegaibannya. Sekalipun hal-hal gaib itu tidak tampak mata biasa, tetapi bisa dipelajari dan bisa ditemukan kebenarannya, dengan cara atau metode tertentu, asalkan tahu caranya, dan keilmuan gaib juga bisa dipelajari, bisa dikembangkan dan bisa dipertunjukkan. 


Dunia supranatural berbeda dengan mitos dan tahayul dan juga tidak sama dengan permainan sulap dan sihir. Dunia supranatural berkenaan dengan kegaiban yang benar-benar ada, tetapi tidak tampak mata biasa, hanya bisa dirasakan dengan rasa dan batin. Karena itu cara-cara mempelajari dan memahaminya pun berbeda dengan cara mempelajari matematika dan ilmu pasti, yaitu tidak dengan mengedepankan kekuatan otak dan logika, namun mengedepankan rasa dan batin. Setelah mampu menginderai dengan rasa dan batin, barulah dinalar dengan otak dan logika, sehingga dunia keilmuan gaib pun bisa dipelajari oleh banyak orang, bisa dikembangkan dan bisa dipertunjukkan. Jadi hal-hal mistis dan gaib itu bukannya tidak masuk akal, tetapi akalnya saja yang tidak sampai.


Mengerti tentang kegaiban yang nyata ada dan dialami manusia saja tidak mampu, bagaimana dapat mengerti dan mengenal Tuhan, yang sejatinya adalah sumber segala kegaiban. Itulah keterbatasan pikiran dan akal budi manusia. Karena itulah Allah membekali manusia dengan roh, supaya dengan rohnya manusia dapat mengerti hal-hal yang bersifat roh, kegaiban hidup dan kegaiban alam, dan dapat mengenal Allah dan jalan yang benar menuju Tuhan, supaya manusia tidak hanya berkeras diri membela ajaran-ajaran dan dogma-doktrin yang membelenggu akal sehat, yang manusianya sendiri tidak mengetahui kebenarannya (bisanya hanya percaya saja), dan juga supaya manusia memiliki hikmat kebijaksanaan dalam dirinya tentang Allah dan kebenaranNya.


Penulisan-penulisan ini diharapkan bisa memperkaya pemahaman kita tentang dunia kegaiban, kebatinan dan spiritual, bisa menjadi bahan untuk menyingkap misterinya secara logis dan bisa mengambil manfaatnya dalam kebijaksanaan bersikap.



Keilmuan Supranatural / Metafisika yang dipelajari dan dikembangkan manusia umumnya adalah dalam bentuk Ilmu Kanuragan dan Tenaga Dalam, Kebatinan, Spiritual, Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam. Ilmu-ilmu itu berdiri sendiri-sendiri dan memiliki kekuatannya sendiri-sendiri, tetapi bisa juga merupakan satu rangkaian kesatuan ilmu. Walaupun sebenarnya masing-masing adalah berbeda dan masing-masing memiliki kekuatannya sendiri-sendiri, tetapi masing-masing juga memiliki kesamaan, yaitu berhubungan dengan kegaiban. Bahkan ilmu-ilmu tersebut di atas dapat dirangkaikan menjadi satu kesatuan ilmu, ilmu yang satu dirangkap dengan ilmu lainnya, sehingga hasilnya akan berlipat ganda dibandingkan bila hanya sendiri-sendiri.

Seseorang yang menekuni olah beladiri kanuragan dan olah gerak, kekuatan ilmunya akan bertambah berlipat-lipat puluhan atau ratusan kali setelah dilambari dengan kekuatan tenaga dalam. Yang telah memiliki tenaga dalam, kekuatan ilmunya juga akan berlipat-lipat bila dilambari dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, atau dilambari dengan kekuatan kebatinan dan spiritual. Karena itu, biasanya pada penguasaan tingkat lanjut, seseorang memperdalam kekuatan keilmuannya tidak lagi melulu dengan olah gerak dan olah pernafasan, tetapi akan banyak melakukan pendalaman dengan mewirid amalan gaib kesaktian, laku puasa dan tirakat, meditasi, semadi, bahkan tapa brata.

Untuk menjelaskan berbagai ilmu tersebut di atas, yang semuanya juga berhubungan dengan kegaiban, Penulis mengambil pendekatan dari cara seseorang menekuni ilmu tersebut. Biasanya jika seseorang mempelajari ilmu kanuragan dan tenaga dalam, kebatinan dan spiritual melalui suatu perguruan, tahapan yang dilalui adalah sebagai berikut : 

  1.  Olah Raga dan Olah Fisik Kanuragan

  2.  Olah Nafas dan Tenaga Dalam

  3.  Olah Rasa

  4.  Olah Batin

  5.  Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam

  6.  Olah Sukma

  7.  Olah Spiritual

  8.  Olah Roh - Manunggaling Kawula Lan Gusti



Tahapan-tahapan di atas tidak berarti harus dilalui seseorang untuk sampai pada tahapan berikutnya, karena ada orang yang hanya menekuni tahapan tertentu saja, sedangkan tahapan lainnya tidak ditekuninya. Dan tidak
juga berarti bahwa seseorang yang menekuni sesuatu ilmu, maka pasti dia sudah menguasai tahapan ilmu sebelumnya. Misalnya ada yang menekuni olah raga atau oleh fisik saja, tetapi tidak mempelajari olah nafas dan tenaga dalam. Orang yang mempelajari olah batin, mungkin itu saja yang dipelajari, tidak mempelajari tahapan ilmu sebelumnya seperti olah nafas dan tenaga dalam. Begitu juga bila ada orang yang menekuni olah kebatinan dan spiritual, mungkin itu saja yang dipelajarinya, tidak mempelajari ilmu gaib dan ilmu khodam. Begitu juga sebailiknya pada orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, mungkin itu saja yang dipelajarinya, tidak menekuni olah kebatinan dan spiritual ataupun tenaga dalam. Itu semua tergantung pada interest masing-masing orang dan program ilmu yang ditekuninya.




-------------------




  >>  Kanuragan & Tenaga Dalam













Comments