https://sites.google.com/site/thomchrists/Benda-Benda-Gaib-dan-Bertuah/jimat-rajahan--Khodam-Isian/Wafak%20Kulit.JPG


   Jimat Rajahan  dan

   Khodam Isian / Asma'an

 


Dalam halaman ini Penulis membahas sedikit tentang jimat rajahan dan apa yang seharusnya dilakukan orang dengan jimat rajahan miliknya, dan sedikit panduan untuk menjadikan sebuah benda menjadi bertuah, sama seperti jimat yang dibuat oleh orang pinter. Tetapi Penulis tidak bermaksud mengajarkan cara mengisi khodam gaib ke dalam sebuah benda untuk menjadikannya benda berkhodam yang bertuah. Penulis hanya ingin menunjukkan bahwa tanpa berpikir klenik dan tidak melakukannya dengan cara-cara klenik kita juga bisa menjadikan sebuah benda menjadi bertuah, dengan kekuatan penghayatan kebatinan kerohanian kita kepada Tuhan, dengan doa-doa yang tulus kepada Tuhan, supaya kepercayaan kita kepada Tuhan menjadi lebih hidup dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari kita, karena keagamaan bukanlah hanya sebatas dogma dan doktrin saja dan tidak perlu kita menyalahi agama untuk keperluan ilmu gaib dan ilmu khodam.



Secara umum ada 3 macam bentuk / cara membuat sugesti gaib :
1. Rajahan yang berupa simbol / gambar
2. Rajahan yang berupa rangkaian kata-kata atau kalimat-kalimat sugesti
3. Rajahan berupa simbol atau rangkaian kalimat sugesti yang ke dalamnya diisikan kegaiban

No.1 dan 2 di atas lebih banyak digunakan untuk praktek keilmuan oleh pelaku-pelaku ilmunya.
No.3 di atas lebih banyak berupa jimat yang bisa digunakan oleh banyak orang.
Penjelasannya sbb :

1. Rajahan yang berupa simbol / gambar
Rajahan berupa simbol / gambar ini berfungsi sama dengan rajahan yang berupa kalimat-kalimat sugesti / doa amalan ilmu / mantra.
Sifatnya tinggi.
Cara mempelajarinya adalah dengan cara menyelami sisi spiritual dari simbol / gambarnya.
Biasanya ini dibuat oleh orang-orang yang sudah menguasai spiritualitas dari keilmuannya dan ditujukan untuk orang-orang di kalangannya saja yang juga sudah menguasai sisi spiritualitas keilmuannya, untuk kalangan "senior" saja yang sudah mampu bersugesti hanya dengan melihat simbolnya saja.
Selain yang digunakan untuk tujuan yang sama seperti kalimat-kalimat sugesti, gambar / simbol ini banyak dijadikan simbol keilmuan / perguruan.

2. Rajahan yang berupa serangkaian kata-kata atau kalimat-kalimat sugesti
Jenis ini berupa serangkaian kata-kata atau kalimat-kalimat sugesti yang sama fungsi dan bentuknya dengan doa amalan ilmu / mantra.
Jenis ini kebanyakan bersifat tradisi keilmuan yang diturunkan kepada murid-muridnya atau orang lain yang levelnya umum / pemula, yang belum mampu bersugesti kalau tidak dituntun dengan kalimat-kalimat sugesti / mantra.
Pembuatnya juga biasanya bukan orang-orang yang menguasai spiritual keilmuan (sekalipun sudah menjadi guru dan mumpuni menguasai keilmuannya, tapi tidak menguasai kebatinan / spiritual dari keilmuannya, orangnya tidak mampu bersugesti kalau tidak dituntun dengan kalimat-kalimat sugesti / mantra).

3. Rajahan berupa simbol atau rangkaian kalimat sugesti yang ke dalamnya diisikan kegaiban
Jenis ini lebih banyak berupa jimat yang bisa digunakan oleh orang banyak.
Cara membuatnya sama dengan membuat benda jimat.
Kegaibannya berasal dari energi kekuatan doa pembuatnya atau karena bendanya berisi khodam.



Selain benda-benda gaib berbentuk pusaka, mustika, batu akik dan jimat-jimat kecil lainnya, yang biasa dimiliki orang adalah benda gaib berupa jimat rajahan. Di dalam masyarakat jawa, jimat rajahan yang paling banyak adalah yang beraksara arab dan jawa. Selain itu ada juga rajahan khusus dalam aksara cina, sansekerta, dsb.

Benda-benda rajahan banyak digunakan sebagai jimat pribadi atau dipasang di dinding rumah sebagai sarana tolak bala atau pengusir gangguan mahluk halus. Namun sayangnya, Penulis seringkali mendapati rajahan-rajahan itu, sekalipun masih menyimpan tuah sebagai pengusir aura-aura negatif, tetapi kadar kekuatan gaibnya sudah sangat menurun.

Sebagai benda gaib asma'an, dan sebagai benda gaib isian, seharusnya benda-benda itu digunakan sebagai sarana doa dengan cara si pemakainya sering membaca ulang doa atau amalan yang tertulis dalam rajahan itu, dengan tangannya menyentuh dan bergerak mengikuti bentuk tulisan / gambar rajahannya, atau dengan cara digenggam jika bendanya kecil, untuk mengsugesti supaya kekuatan gaib benda itu tetap hidup dan energinya tetap kuat.

Sebuah jimat rajahan (dan semua benda gaib asma'an dan isian)  tidak bisa dianggap sekali dibuat akan terus kuat kegaibannya dan berfungsi selamanya, karena kekuatan jimat itu menyatu dengan sugesti pemakainya. Semakin kuat dan sering seseorang menuangkan sugesti ke dalam jimat rajahan itu, kekuatan gaibnya akan semakin kuat. Bila seseorang tidak memperhatikannya, apalagi hanya dipajang di dinding saja atau hanya disimpan di dalam dompet saja, maka lama-kelamaan kekuatan gaibnya akan melemah. Sama juga dengan ilmu gaib / khodam, jika jarang dibaca amalannya, kekuatan gaibnya akan memudar. Semua benda gaib yang kita miliki, dalam bentuknya keris dan pusaka, batu cincin / akik, mustika, dsb, akan hidup dan kuat kegaibannya bila kita sering menuangkan doa dan sugesti ke dalamnya.

Dalam penyimpanannya, sebaiknya semua benda gaib tidak dibungkus dengan plastik atau dimasukkan ke dalam benda-benda yang terbuat dari plastik, karena bahan plastik itu akan membatasi / menghambat pancaran gaib dari benda gaibnya.

Sebuah benda gaib untuk pengasihan atau kerejekian misalnya, pancaran pengasihan atau kerejekiannya akan terhambat jika bendanya dibungkus dengan bahan plastik. Begitu juga benda isian energi kekuatan doa yang berfungsi untuk membantu kesehatan dan keselamatan gaib, pancaran energinya akan terhambat oleh bungkus plastiknya. Efektivitasnya sebagai benda gaib akan berkurang.

Ada beberapa benda jimat / amulet Thailand milik pembaca yang ditunjukkan kepada Penulis. Dari deteksian Penulis benda-benda itu berisi energi kekuatan doa kebatinan, tidak berkhodam (mungkin ada juga yang lainnya yang berkhodam). Kebanyakan berfungsi utama untuk membantu kesehatan dan stamina dan pagaran gaib sejarak 1 meter dari bendanya. Cocok untuk sehari-hari dipakai / dibawa oleh pemakainya. Penulis mendeteksi bahwa benda-benda itu di dalamnya mengandung kekuatan energi yang cukup besar, tetapi karena dibungkus / diselimuti adonan bahan semacam plastik / resin (mungkin dibuat masal secara pabrikan), dalam kondisi kandungan energinya masih baik kekuatan energi yang terpancar dari bendanya hanya sekitar 70 - 80 md saja, padahal tanpa pembungkus plastiknya seharusnya kekuatan energi yang terpancar bisa lebih dari itu.

Untuk benda-benda pribadi :
Kalau lebih diinginkan kekuatan gaibnya, misalnya yang tuahnya untuk kekebalan, kekuatan badan dan untuk penjagaan gaib, sebaiknya diberikan bungkus kain katun hitam.
Kalau lebih diinginkan kekuatan tuahnya, misalnya yang tuahnya untuk kewibawaan, pengasihan, sebaiknya diberikan bungkus kain katun merah terang.

Benda-benda gaib yang sengaja diciptakan manusia dengan menuangkan sugesti / doa, selain yang berbentuk rajahan, juga bisa dituangkan ke dalam batu cincin / akik, batu kristal, air putih, sabuk kulit, dsb. Bahkan rumah kita sendiri pun, warung, dsb, bisa dijadikan bertuah atau berdaya kekuatan gaib, dengan kita menuangkan doa dan sugesti yang melingkupi rumah kita, dengan sambil berdoa kita menggerakkan tangan mengsugesti doa kita melingkupi rumah kita. Perajahan doa dan kekuatan gaib juga dapat dilakukan dengan cara menuliskan rajah gaib atau rajah energi di dada atau punggung seseorang, dilakukan dengan membacakan doa / amalan / mantranya sambil tangannya menulis rajah gaib di dada atau punggung orangnya.

Kalung salib, yang biasa dipakai oleh umat kristiani, juga bisa menjadi sebuah benda yang mengandung kekuatan gaib yang tinggi, kecuali bila kalung salib itu hanya dipakai saja sehari-hari sebagai lambang identitas. Jika dalam keseharian berdoa kalung salib itu biasa digunakan sebagai sarana sugesti / konsentrasi dalam berdoa, atau dalam perenungan-perenungan, kalung salib itu akan dapat menjadi sebuah benda yang berdaya gaib tinggi melebihi kegaiban dari benda-benda gaib lain yang umum. Kekuatan gaib dari kalung salib itu bukan berasal dari sesosok mahluk halus atau khodam, tetapi berasal dari penghayatan kebatinan kerohanian si pemakai yang tersalur ke dalamnya, menjadi sarana doa dan kesatuan dengan Tuhan yang akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari si pemakai.

Kaca cermin yang dipasang di bagian luar rumah (di atas pintu atau jendela) dan menghadap keluar rumah, dapat berfungsi sebagai penangkal aura energi negatif dari alam di sekeliling rumah. Berguna untuk rumah-rumah yang berada di sekitar lokasi pemakaman, di lingkungan padat penduduk, di dekat pasar, rumah sakit, dsb. Kaca yang digunakan ukuran diameternya paling kecil sejengkal orang dewasa. Bisa berbentuk empat persegi panjang atau lingkaran, tetapi berbentuk bujur sangkar adalah yang paling baik.

Kaca cermin itu akan menjadi semakin baik kualitasnya sebagai penangkal aura negatif dengan dijadikan jimat rajahan, yaitu kita sendiri menuliskan doa-doa penangkal gaib negatif di cermin itu menggunakan kuas dan cat minyak untuk melukis dan menuliskannya sambil membacakan / melafalkan doanya untuk membantu kekuatan sugesti. Dan sama dengan jimat rajahan yang lain, secara berkala kita mengulangi doa yang tertulis dalam rajahan itu dengan tangan kita menyentuh atau bergerak menunjuk mengikuti bentuk tulisan / gambar rajahnya.


Ada banyak cara kita bisa membuat jimat rajahan sendiri. Bahan dasarnya bisa terbuat dari kulit, kaca cermin, kertas putih atau kain katun putih. Yang terbaik adalah bahan dari kulit (kulit apa saja, asalkan asli kulit, bukan sintetis). Bahan dari kulit cukup baik untuk menyimpan energi gaib.

Sarana menulis / menggambar rajahnya bisa cat minyak untuk melukis, minyak misik, minyak jafaron, dsb. Sebenarnya pensil, spidol, pulpen, dsb, bisa juga digunakan untuk merajah, tetapi yang terbaik adalah yang bentuknya kental dan setelah kering bentuknya agak menonjol (tebal), sehingga cukup baik untuk menyimpan energi gaib dan tulisan / gambarnya tidak cepat memudar.

Sebelum melakukan pembuatan rajah, sebaiknya anda menguasai dahulu kemampuan-kemampuan olah rasa dan menayuh (baca : Olah Rasa dan Kebatinan dan Ilmu Tayuh / Menayuh Keris) untuk bisa menentukan apakah sugesti doa-doa anda sudah benar mengisi benda-benda tersebut, apakah kegaibannya kuat, apakah benda-benda gaib yang anda buat itu benar berisi energi kekuatan doa ataukah berisi sesosok mahluk halus, jika berpenghuni sesosok mahluk halus apakah sifat karakternya baik atau tidak, apakah dari jenis yang baik atau tidak baik dan apakah sesuai dengan tuah yang diharapkan semula.

Sebelum menulis / menggambar rajahan, sebaiknya anda berdoa dahulu, luangkanlah waktu sejenak untuk mengkondisikan hati dan batin anda pada kedekatan dengan Tuhan. Setelah itu tuangkanlah isi hati anda sepenuh hati dan sepenuh rasa, doa-doa permohonan, keinginan-keinginan, dsb, ke dalam bentuk tulisan atau rajah, misalnya doa-doa supaya dilindungi dan dijauhkan dari kejahatan dan roh-roh jahat, kemudahan rejeki, karir, ketentraman keluarga, dsb. Doa-doa bisa juga diambilkan dari ayat-ayat suci, amalan-amalan gaib, mantra-mantra atau apa saja  (termasuk doa-doa pribadi dari hati sendiri)  yang anda anggap memiliki kekuatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan anda (doa-doa itu bisa juga digunakan untuk mengisikan kegaiban pada batu cincin atau benda-benda lain dengan cara batunya digenggam dan disugestikan doanya tersalur mengisi batu tersebut).

Selama melakukan perajahan itu doanya dibacakan / dilafalkan  sepenuh hati  dan  sepenuh rasa  mengikuti jalannya tulisan perajahan. Setelah selesai perajahan itu lakukanlah doa yang sama beberapa kali sambil mengikuti bentuk tulisan rajah anda untuk memperkuat sugesti doa anda, sampai anda merasa semua doa dan semua keinginan sudah tertuang ke dalam rajahan anda itu. Setelah tulisan / gambar rajah tersebut kering, rajah tersebut sudah bisa dipakai atau dipasang di dinding rumah / kamar. Secara berkala anda baca ulang apa yang tertulis dalam rajahan itu dengan tangan menyentuh dan bergerak mengikuti bentuk tulisan / gambar rajahannya. Tanamkan sugesti keyakinan bahwa rajahan anda itu akan menjadi sarana doa untuk mewujudkan keinginan anda sesuai maksud yang tertulis / tergambar dalam rajahan anda.

Dalam hal mengisikan kekuatan doa ke dalam batu akik atau benda-benda gaib lain, maka tidak perlu dilakukan perajahan. Cukup batunya digenggam dan disugestikan doanya tersalur mengisi batu tersebut.

Begitu juga dalam hal mengisikan kekuatan doa ke dalam air mandi (misalnya untuk dibasuhkan ke wajah untuk pengasihan, karisma, kewibawaan, dsb) atau air putih (misalnya untuk dibasuhkan atau diminum untuk tujuan pengobatan), cukup disugestikan doanya tersalur ke dalam air itu.

Selama mengisikan doa ke dalam benda-benda itu lakukanlah dengan sepenuh hati dan sepenuh rasa, dengan sugesti kedekatan dengan Tuhan, karena itu akan menentukan seberapa kuat kegaiban yang kita tuangkan ke dalam benda-benda itu. Jika kegaiban bendanya kurang kuat, maka doa-doa kita itu harus sering kita ulangi dan dilakukan dengan sepenuh hati dan sepenuh rasa.


Ada banyak kejadian orang membuat sebuah lukisan yang kemudian ternyata lukisannya tersebut mengandung suatu aura kegaiban atau ada keanehan gaib. Seringkali ini terjadi pada seorang pelukis yang melukis sesosok manusia yang sudah meninggal, yang ketika melukisnya, sang pelukis sangat larut dengan sosok si manusia dalam lukisannya itu. Tapi umumnya hawa kegaiban di lukisan itu kemudian menjadikan lukisannya tersebut memunculkan rasa takut bagi orang yang melihatnya.

Contoh lain yang mungkin sudah sering kita dengar adalah lukisan sosok gaib Ibu Kanjeng Ratu Kidul yang seringkali mengandung suatu aura kegaiban tersendiri, yang sebelum melukisnya sang pelukis harus meminta izin kepada beliau terlebih dahulu.

Kegaiban yang lain contohnya adalah wayang-wayang kulit. Wayang-wayang kulit sebenarnya adalah hasil dari seni melukis, yang setelah lukisan atau gambar dasarnya telah jadi kemudian dilakukan pemotongan dan penatahan sesuai bentuk gambarnya. Seringkali dalam pembuatan wayang-wayang kulit itu sang seniman / pengrajin wayang kulit sangat larut menjiwai sosok asli wayangnya dan kejiwaan dari wayang kulitnya. Bahkan banyak juga yang sebelum memulai pembuatannya, selama pembuatannya dan setelah selesai pembuatannya, dilakukan ritual doa tertentu, karena pembuatan wayang kulit dan sosok-sosok aslinya dianggap sakral.

Karena itu banyak wayang kulit yang mengandung kegaiban tertentu, meskipun mungkin tidak banyak orang yang mengetahuinya, bukan hanya yang biasa dimainkan dalang dalam pertunjukkan wayang kulit, tetapi juga wayang-wayang kulit yang dibeli orang untuk hiasan di rumahnya. Wayang-wayang kulit itu memancarkan suatu aura gaib yang sesuai dengan perwatakan masing-masing tokoh wayangnya.

Karena itu jangan memasang / menyimpan wayang kulit dari tokoh yang perwatakannya "panas" seperti wayang raksasa buto. Juga jangan memasang wayang kulit yang bersuasana perang, misalnya wayang kulit dari tokoh Rahwana yang berhadapan dengan Hanoman atau Prabu Rama, atau suasana perang Bharatayudha. Walaupun tokoh-tokoh jahat dalam pewayangan itu semuanya sudah dikalahkan oleh tokoh yang benar, tetapi keberadaan wayang-wayang itu dapat menimbulkan hawa panas, kebencian dan permusuhan di dalam rumah yang bisa mempengaruhi psikologis orang-orang yang berdiam di dalamnya. Apalagi wayang-wayang kulit itu juga banyak yang kemudian dihuni mahluk halus yang perwatakannya sejalan dengan tokoh asli wayangnya.

Kegaiban-kegaiban di atas terjadi karena manusia sang seniman pembuatnya sangat larut dalam penjiwaan terhadap sosok-sosok dan objek dalam lukisannya. Bila tidak begitu, maka lukisannya itu tidak akan mengandung suatu kegaiban, hanya akan menjadi sama dengan lukisan-lukisan biasa yang lain. Dengan caranya itu sang seniman sudah menuangkan sugesti / kekuatan rohnya ke dalam lukisannya, sehingga menjadikan lukisannya seolah-olah hidup, seolah-olah memiliki "roh" yang menyebabkan lukisan tersebut memiliki suatu kegaiban tersendiri yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang peka batinnya dan yang cerdas batinnya yang bisa mengenali kegaiban itu.

Itu juga yang terjadi pada lukisan-lukisan para pelukis terkenal dunia yang lukisan karyanya dihargai hingga milyaran atau bahkan trilyunan rupiah. Ahli-ahli karya seni dan seniman banyak yang berusaha mempelajari rahasia dari lukisan mereka yang telah menjadikan hasil karya lukisan mereka itu sebuah maha karya dalam seni lukis. Dari cara gerakan tangan melukis, cara menorehkan kuas, cara mencampurkan cat lukis dan kombinasi warnanya, sampai trik-trik membuat lukisan terlihat hidup juga diterapkan. Tetapi, cara dan teknik melukis bisa dipelajari. Permainan / trik-trik untuk menjadikan sebuah lukisan tampak hidup juga bisa dipelajari. Yang tidak bisa ditiru adalah seni menuangkan kekuatan roh sang pelukis ke dalam lukisannya yang menjadikan lukisannya memiliki kegaiban tersendiri dan tampak "hidup",  yang membedakan hasil karya seorang pelukis dengan hasil karya pelukis lainnya, dan yang menjadikan lukisan mereka sulit untuk dengan sempurna ditiru, walaupun semua trik dan teknik melukis, penggunaan bahan lukis dan warnanya sudah semuanya ditiru.

Contoh-contoh kegaiban di atas menunjukkan kepada kita bahwa manusia juga bisa membuat kegaiban pada benda-benda tertentu, tidak harus melakukannya dengan japa mantra dan amalan-amalan ilmu gaib dan ilmu khodam, dan bukan monopolinya orang-orang pinter. Tetapi yang menentukan apakah kegaiban benda-benda itu akan bermanfaat untuk diri kita sendiri adalah sugesti atau doa-doa tulus sepenuh hati dari kita sendiri yang tertuang ke dalam bendanya yang mengarahkan kegaibannya menjadi terbentuk seperti apa yang kita inginkan (bukan asal jadi).


Selain yang berisi kekuatan doa, semua jimat rajahan dan semua benda gaib isian / asma'an bisa saja berisi sesosok mahluk halus sebagai sumber kekuatan kegaibannya. Khodam jimat batu akik, jimat rajahan, khodam jimat isian / asma'an, khodam keris kamardikan, dsb, khodamnya bisa dari jenis apa saja, bisa dari jenis bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, sukma / arwah manusia atau pun jenis mahluk halus lainnya.

Bisa terjadi demikian, karena biasanya dalam pembuatannya si pembuatnya hanya mengamalkan saja suatu amalan gaib tertentu, sehingga kekuatan gaib benda itu bukan berisi kekuatan doa, tetapi kekuatan gaib dari amalan gaib, yang bisa berupa sesosok mahluk gaib yang datang dan mengisi benda-benda gaib itu. Seringkali fokus perhatian manusia yang membuat jenis-jenis jimat tersebut hanyalah pada fungsi dan keampuhan tuahnya saja, asal-usul kekuatan gaibnya sendiri, apa, siapa dan darimana, seringkali tidak dianggap penting. Lagipula tidak semua praktisi ilmu gaib mampu melihat gaib, karena kemampuan ilmunya hanya berasal dari kekuatan sugestinya pada amalan gaib. Dan yang mampu melihat gaib pun belum tentu tahu kesejatian dari apa yang dilihatnya.

Jika dalam mengisikan doa ke dalam jimat rajahan itu (atau batu akik dan benda-benda lain) doanya kita ambil dari doa-doa khusus, seperti amalan gaib atau mantra-mantra, biasanya kemudian benda-benda tersebut akan menjadi berisi sesosok mahluk halus (bisa dari jenis apa saja).

Jika dalam mengisikan doa ke dalam jimat rajahan itu (atau batu akik dan benda-benda lain) doanya berasal dari doa pribadi kita yang berasal dari hati sendiri dan dilakukan sepenuh rasa, biasanya benda-benda tersebut akan menjadi berisi energi kekuatan doa, walaupun kemudian bisa juga ada sesosok mahluk halus, bisa dari jenis apa saja dan bisa dari golongan hitam atau pun putih, yang datang masuk dan mengisi benda-benda tersebut.

Termasuk benda-benda gaib dan jimat rajahan yang kita buat sendiri, bisa saja kemudian berisi sesosok mahluk halus di dalamnya. Karena itu jika kita memiliki benda-benda gaib tersebut sebaiknya berwaspada, terutama pada perwatakan mahluk halusnya dan pengaruh negatif dari keberadaannya (misalnya mencari tahu dengan cara yang sama seperti menayuh keris). Jika jelas bahwa perwatakan sosok gaib benda itu tidak baik dan ada memberikan pengaruh negatif, maka sebaiknya kita segera melakukan  Pembersihan Gaib.

Jika benda-benda gaib dan rajahan yang kita buat itu berisi energi kekuatan doa, tidak berpenghuni sesosok gaib di dalamnya, maka untuk pemeliharaannya hanya dibutuhkan pembacaan / sugesti doa yang sama, untuk menjaga dan menambah kekuatan kegaibannya, dan tidak perlu sesaji.

Tetapi jika benda-benda tersebut berisi sesosok mahluk halus yang berkarakter baik dan memberikan tuahnya seperti yang kita harapkan, dan kita ingin memelihara benda itu, maka kemudian benda itu bersifat sama dengan benda-benda gaib lain yang berkhodam, yang dalam penggunaannya memerlukan sesaji  (baca :
Sesaji Untuk Benda Gaib).  Untuk jimat rajahan yang berisi khodam, sesajinya sebaiknya berbentuk pengasapan / asap bakaran, supaya tidak mengotori bendanya. Jika amalan gaibnya tidak dibacakan, minimal sesajinya tetap diberikan, untuk mengsugesti supaya khodam gaibnya tetap bekerja.

Dengan demikian seharusnya kita sudah bisa memperkirakan sejak awal, apakah nantinya benda rajahan kita itu akan berisi kekuatan doa ataukah berisi sesosok khodam. Tetapi bila dari awal tujuan kita adalah untuk mengisikan khodam ke dalam sebuah jimat rajahan, sebenarnya tidak perlu kita repot-repot menulis atau menggambar rajahan, karena sejak awal bendanya bisa langsung dibacakan doanya / amalannya tanpa perlu kita menuliskan rajah apapun (baca juga : Mengisi Khodam Batu Cincin). Daripada repot-repot membuat jimat rajahan berkhodam lebih baik kita mengisikan khodamnya ke sebuah batu akik, dsb.

Jika tujuan kita memang adalah untuk mengisikan khodam, maka selain khodamnya harus dari jenis yang baik, tuahnya juga harus bagus, sudah diproses sampai kualitas tuahnya bagus, sesudah itu barulah dinilai kekuatan tuahnya. Kelemahannya, karena sifatnya adalah benda gaib isian / asma'an, mungkin nantinya tuahnya akan memudar, sehingga harus diwirid lagi amalannya. Jadi sifatnya untung-untungan. Kalau bisa bertuah jangka panjang, ya untunglah kita. Tapi kalau ternyata kemudian tuahnya memudar, terpaksa deh harus dicharge ulang (diwirid lagi amalan gaibnya).

Dari masing-masing kekuatan doa atau wiridan pembuatnya, efek tuah benda gaibnya ada yang bisa kuat bertahan dalam kondisi bagus sampai 6 bulan, ada juga yang sampai setahun. Sesudahnya harus diwirid lagi (dicharge lagi). Sempurna tidaknya hasil doa / wiridannya itu tergantung kemampuan masing-masing orangnya. Tetapi jika kita mampu bersugesti selalu tersambung dengan khodamnya, maka tidak perlu benda itu diwiridkan dengan amalan gaib, cukup kita arahkan dengan cara sambat atau kontak batin dan divisualisasikan kepadanya apa yang kita inginkan.



_________














Comments