1331days since
Company Picnic

Wise words

Portofolio

Bagaimana menyusun portofolio saham yang optimal ?

Meskipun investasi di pasar modal menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi, namun kita perlu ingat bahwa semakin besar return, maka tingkat resiko-nya akan semakin besar pula. Oleh karena itu, hal yang paling penting untuk diperhatikan investor adalah bagaimana investasi dapat menghasilkan return optimal pada tingkat resiko yang minimal. Dalam memaksimalkan return dan meminimalkan resiko, investor dapat melakukan diversifikasi, diversifikasi dapat diwujudkan dengan cara mengkombinasikan berbagai pilihan saham dalam investasinya (membentuk portofolio saham optimal). Melalui portofolio ini diharapkan akan dapat memaksimalkan keuntungan dengan tingkat risiko tertentu atau berusaha meminimalkan risiko untuk sasaran tingkat keuntungan tertentu.

Ada beberapa model yang dapat digunakan untuk menyusun portofolio saham optimal, salah satunya adalah CAPM (Capital Asset Pricing Model).  Capital Asset Pricing Model merupakan suatu model keseimbangan yang menggambarkan atau memprediksi realitas di pasar, sehinga dapat membantu kita melihat hubungan return dan resiko di dunia nyata yang terkadang sangat kompleks. Selain itu CAPM juga dapat dipergunakan untuk menentukan harga suatu aktiva modal (capital assets), dengan mengingat segala karakteristik aktiva tersebut. Yang dimaksud karakteristik aktiva tersebut adalah risikonya. Dengan model ini kita mencoba menentukan berapa harga yang seharusnya bersedia dibayar oleh para investor terhadap suatu aktiva modal.

Model ini hasil penyempurnaan dari model portofolio Markowitz  oleh Sharpe dengan menambahkan asumsi: (1) adanya tingkat bebas risiko; (3) investasi bisa dipecah-pecah dalam bentuk yang sekecil mungkin; (3) adanya kebebasan short sales (4) semua aktiva bisa diperjual belikan. Dengan demikian maka portofolio yang efisien suatu garis pasar modal (capital market line) yang intersepnya adalah tingkat bebas risiko (rf). Untuk mengambarkan trade-off antara risiko dan return untuk seluruh surat berharga, baik yang efisien maupun yang tidak, maka ukuran yang dipakai bukanlah varian, tetapi adalah risiko sistematisnya (β). Hubungan antara risiko sistematis dengan return tersebut apabila digambarkan dalam suatu model akan membentuk Capital Asset Pricing Model (CAPM).

Model CAPM : E(Ri)=Rf+[E(Rm)-Rf]βi

Dimana,
E(Ri)              = return yang diharapkan dari surat berharga i
(β)                  = resiko sistematis
[E(Rm)-Rf]    = market risk premium


Dalam CAPM, β adalah ukuran dari hubungan paralel dari sebuah saham biasa dengan seluruh tren dalam pasar saham. Bila β > 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi daripada pasar. β < 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih rendah daripada indek pasar secara umum (general market index). Perubahan persamaan risiko dan perolehan (Equation Risk and Return) dengan memasukan faktor β dinyatakan sebagai:
Rs = Rf + βs (Rm – Rf)
Rs = Expected Return on a given risky security
Rf = Risk-free rate
Rm = Expected return on the stock market as a whole
βs = Stock’s beta, yang dihitung berdasarkan waktu tertentu

Jika tingkat keuntungan yang dipersyaratkan (required rate of return) lebih besar dari tingkat keuntungan yang diharapkan (expected rate of return), maka saham tersebut sebaiknya jangan di beli.

Contoh :

Jika diketahui expected rate of return saham TLKM sebesar 22%, beta (β) 1.5 dan tingkat keuntungan portofolio pasar (IHSG) 20% serta tingkat keuntungan bebas resiko (deposito) 10%, "apakah saham TLKM layak dibeli ?"

Rs = Rf + βs (Rm – Rf) = 10% + (20% - 10%) x 1.5 = 25%

Keuntungan yang dipersyaratkan 25% lebih besar dari keuntungan yang diharapkan 22%, maka saham TLM jangan di beli.


Berbagai pengujian CAPM dengan data empiris telah banyak dilakukan. Pada tahun 2005, Saputra dan Leng menggunakan sampel saham-saham di BEJ pada tahun 1999, untuk melihat pegaruh risiko sistematis dan likuiditas terhadap return saham-saham. Likuiditas diukur dengan bid-ask spread. Hasilnya menunjukkan bahwa baik likuiditas maupun risiko sistematis secara signifikan mempengaruhi return, tetapi diantara kedua faktor tersebut yang paling banyak berpengaruh adalah risiko sistematis.

Risiko seringkali disinonimkan dengan ketidakpastian, karena risiko mengacu pada adanya variasi nilai antara nilai-nilai yang diperkirakan (expected values) dengan nilai-nilai observasi (observered values). Sehingga, risiko dapat diartikan sebagai adanya ketidakpastian tentang nilai-nilai yang akan terjadi. Dengan demikian, permasalahan yang muncul dalam melakukan investasi pada saham adalah sampai sejauh mana para investor mampu mengidentifikasi besarnya risiko dan sejauh mana pula para investor tersebut memiliki toleransi pada besaran risiko yang melekat pada investasi saham.

Risiko investasi saham, tercermin pada variabilitas return saham, baik return saham secara individual maupun return saham secara keseluruhan (market return). Besar kecil risiko investasi pada suatu saham, dapat diukur dengan varians atau standar deviasi dari return saham tersebut. Risiko ini disebut risiko total yang terdiri dari risiko sistematis dan risiko tidak sistematis.

Risiko tidak sistematis merupakan risiko yang hanya mempengaruhi satu atau sekelompok kecil perusahaan. Risiko ini dapat dihilangkan dengan dilakukannya diversifikasi, yaitu dengan menanamkan kekayaan pada berbagai bentuk investasi dalam suatu atau beberapa portofolio aset.

Sedangkan risiko sistematis ditentukan oleh besar kecilnya koefisien beta (β) yang menunjukkan tingkat kepekaan return suatu saham secara keseluruhan di pasar. Risiko ini tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi, karena risiko sistematis tergantung pada berbagai faktor makro seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai tukar valuta asing. Dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi seluruh perusahaan termasuk perusaahaan-perusahaan yang telah go public. Dilihat dari sifatnya yang tidak dapat dihilangkan dengan jalan diversifikasi, maka bagi investor, risiko sistematis lebih relevan untuk dipertimbangkan dalam memilih saham bagi portofolio yang dibentuk, dan bukan risiko total dari saham tersebut. Resiko tersebut akan disikapi secara berbeda oleh setiap individu investor.

Profil risiko setiap individu sebenarnya bisa dibagi dalam banyak kategori, namun secara umum ada lima kategori yaitu.

Conservative
Orang yang bersikap konservatif sangatlah tidak menyukai risiko. Mereka sama sekali tidak dapat mentolerir jika investasi mereka berkurang. Mereka menginginkan stabilitas, sehingga melindungi portfolio mereka dari kemungkinan rugi. Fokus mereka pada umumnya adalah jangka pendek. Sebagai konsekuensi sikap konservatif tersebut, mereka juga rela untuk tidak memperoleh return yang tinggi dari pasar.

Selain mungkin karena preferensi, konservatif mungkin juga bisa disebabkan karena kondisi investor. Misalnya, karena memang kondisi keuangan cukup ketat dan anggaran investasi hanya sedikit, sehingga mereka tidak kuat jika harus menanggung kerugian. Atau memang investor sudah pensiun, jadi mereka hanya mengandalkan pendapatan investasi saja. Namun, berinvestasi disini bukannya tidak berisiko. Karena keuntungan yang kecil, maka sangat berpotensi tergerus oleh inflasi ataupu pajak.

Pilihan investasi yang sesuai bagi mereka yang berprofil konservatif biasanya adalah lebih banyak alokasi pada cash atau cash equivalents seperti deposito, pasar uang, reksadana pasar uang serta sejumlah instrumen pendapatan tetap, reksadana pendapatan tetap dan hanya sebagian kecil ditaruh di saham. Komposisinya sekitar 40-50% pada cash dan cash equivalents, 40-50% pada instrumen pendapatan tetap, serta 10-15% pada saham.

Moderately Conservative
Investor dengan tipe ini cukup konservatif, karena mereka menghindari kerugian dalam jangka pendek, namun masih berusaha untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Investor ini masih bersedia untuk menghadapi sejumlah level volatilitas atau kerugian dalam portfolionya.

Biasanya, tipe investor ini adalah mereka yang sudah mau pensiun atau memang sudah pensiun. Selain itu, mereka yang pernah punya pengalaman buruk dalam berinvestasi dan kapok, juga masuk dalam kategori ini.

Portfolio investasi yang cocok untuk investor ini adalah lebih banyak pada cash& cash equivalents, reksadana pasar uang serta instrumen pendapatan tetap dan reksadana pendapatan tetap, dengan sejumlah alokasi yang lumayan pada saham. Komposisinya sekitar 30-40% pada cash dan cash equivalents, 40-50% pada instrumen pendapatan tetap, dan 10-20% pada saham.

Moderate
Investor dengan profil risiko ini bersedia menerima risiko dalam level moderat. Mereka menginginkan return yang bagus, sehingga mereka bersedia untuk menerima sejumlah risiko. Mereka mau kinerja portfolio yang lebih bagus dibandingkan pasar, namun mereka juga tidak mau portfolionya sejeblok pasar ketika bearish.

Sebagian besar investor termasuk dalam klasifikasi ini. Alasannya bermacam-macam, ada yang mempersiapkan pensiun, ada yang menyiapkan dana pendidikan, dana untuk membeli rumah, dan sebagainya.

Portfolio investasinya yang cocok adalah yang seimbang antara instrumen pendapatan tetap dan reksadana pendapatan tetap dengan instrumen saham. Komposisi portfolionya antara lain sekitar 10% cash/cash equivalents, 40% instrumen pendapatan tetap, dan 50% pada instrumen saham.

Moderately Aggressive
Investor ini bersedia untuk menerima sejumlah risiko yang cukup besar. Fokus mereka terletak pada peningkatan kinerja portfolio, sehingga bersedia untuk menghadapi volatilitas yang cukup tinggi dalam portfolionya. Mereka mau berinvestasi cukup agresif, namun juga tidak mau mengalami banyak kerugian dalam waktu yang pendek. Tipe investor ini adalah bersedia untuk menunggu keuntungan dalam jangka waktu yang cukup panjang, demi memulihkan kerugian yang mungkin diderita dalam jangka pendek.

Portfolio investasi yang cocok bagi orang dengan profil demikian adalah sejumlah kecil instrumen pendapatan tetap, dan lebih banyak alokasi untuk instrumen saham. Komposisi portfolionya antara lain sekitar 5% pada cash/cash equivalents, 20% pada instrumen pendapatan tetap, sementara 75% pada instrumen saham.

Aggressive
Investor ini sadar betul bahwa mereka terekspos risiko yang sangat besar, bahkan melebihi risiko pasar. Mereka berfokus untuk memperoleh kinerja portfolio di atas rata-rata, sehingga mereka juga sudah bersedia untuk menghadapi volatilitas tinggi yang terjadi di pasar. Mereka sadar betul bahwa investasi yang dilakukannya dapat menghasilkan investasinya habis, bahkan hingga kerugian yang signifikan.

Biasanya yang punya profil agresif adalah mereka yang masih muda dan mapan. Disini, investor agressive juga bisa mengalokasikan sejumlah investasinya pada instrumen derivatif seperti forex, index, atau option.

Portfolio yang cocok untuk investor agresif adalah alokasi yang jauh lebih banyak untuk saham, dan hanya sedikit pada instrumen pendapatan tetap. Komposisi yang sesuai diantaranya adalah 90-95% pada instrumen saham atau derivatif, dan sisanya pada instrumen pendapatan tetap.

Speculative
Tipe investor ini lebih dari aggressive, karena mereka tidak hanya sadar terhadap risiko yang besar, melainkan justru `mencari` risiko demi potensi keuntungan yang sangat besar. Buat mereka, investasi merupakan aktivitas yang meningkatkan adrenalinenya. Portfolio yang cocok untuk investor spekulatif adalah alokasi yang lebih banyak untuk instrumen derivatif, sejumlah saham dan hanya sedikit sekali pada instrumen pendapatan tetap. Komposisi yang sesuai diantaranya adalah sekitar 50% pada instrumen derivatif, 45% saham, dan sisanya pada instrumen pendapatan tetap