Home‎ > ‎Genre‎ > ‎

Pengertian Genre

APA YANG DIMAKSUD DENGAN GENRE?


Menurut English Oxford Learner’s Thesaurus © Oxford University Press, 2008, genre diartikan sebagai "a particular style or type of literature, art, music or film that can be recognized because of its special features." Jadi genre merupakan suatu gaya atau jenis karya sastra , seni, musik atau film tertentu yang bisa dikenali atau dibedakan karena ciri khasnya. Kaitannya dengan bahasa, genre bisa diartikan sebagai jenis teks. Setiap jenis teks memiliki ciri khas sendiri, karena itu mudah dikenali jenis teks apa yang sedang dibaca atau ditulis seseorang.


Ciri khas suatu teks ada yang bersifat umum, ada pula yang terkait dengan budaya. Ambillah sebagai contoh teks fungsional surat undangan. Gaya surat undangan pesta pernikahan bahasa Indonesia berbeda dengan gaya surat undangan (uleman) bahasa Jawa dan berbeda pula dengan gaya surat undangan bahasa Inggris. Untuk beberapa jenis teks yang bersifat seni ada pula yang memiliki ciri khas yang hampir sama dan ada pula yang berbeda sama sekali. Gaya teks narrative, misalnya, ada beberapa ciri khas yang sama antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Namun gaya menulis karya seni tulis "tembang" tentu hanya akan lebih dipahami dan diungkapkan secara maksimal dengan bahasa Jawa.


TEKS BERBAHASA INGGRIS PERLU MENGIKUTI KAIDAH GENRE TEKS INGGRIS


Bila kita belajar bahasa Inggris, tentu jenis teks yang kita pelajari adalah jenis teks bahasa Inggris. Kita harus belajar membaca, menulis, mendengarkan atau berbicara teks bahasa Inggris - tentu teks yang betul-betul ada dalam masyarakat yang berbahasa Inggris yang diakui sebagai standar, dalam hal ini Inggris, Amerika, dan Australia. Kadang-kadang kita harus sedikit atau banyak mempelajari budaya yang melatar belakangi terciptanya jenis teks tersebut.


Sebagai contoh, seorang ingin melamar pekerjaan di sebuah perusahaan asing. Dia harus membuat resume atau curriculum vitae atau riwayat pekerjaan. Sebuah resume bahasa Inggris merupakan jenis teks yang khas. Dia harus tahu apa saja yang perlu dan tidak perlu dicantumkan dalam resume tersebut. Kekurang lengkapan informasi yang diperlukan atau kesalahan dalam pencatuman akan berakibat seseorang belum nampak kemampuannya atau bahkan dianggap tidak profesional. Untuk ini, dia harus memahami bahwa masyarakat terpelajar Barat memiliki budaya segala sesuatu "precise", persis dalam mengungkapkan atau menggambarkan sesuatu. Masyarakat terpelajar Barat juga terdidik untuk berbicara dan menulis dengan singkat, padat tapi jelas dan mencakup semuanya. Dalam merekrut pegawai mereka cenderungnya akan memperhitungkan seseorang yang memiliki keahlian yang tercantum dalam resume - sebelum wawancara - yang ditunjukkan dengan berbagai sertifikat. Namun bila mereka mengetahui bahwa sertifikat tidak menunjukkan kualitas seseorang apalagi ternyata palsu, bisa diduga apa yang akan terjadi. Didasari pemahaman tersebut, seseorang harus cerdas untuk memutuskan apa yang perlu dan tidak perlu ditulis dalam resumenya.


MASING-MASING TEKS MEMILIKI STRUKTUR TEKS SENDIRI



Masing-masing jenis teks memiliki struktur teks sendiri (Perhatikan: struktur teks bukan grammar). Ibarat bangunan, masing-masing jenis bangunan memiliki struktur bangunan sendiri. Masing-masing bangunan memiliki bagian-bagian bangunan sendiri. Sebuah bangunan ruang kelas atau rumah misalnya perlu memiliki pondasi, dinding dan atap. Bagian-bagian sebuah bangunan untuk toilet atau dapur tentu berbeda dengan ruang kelas. Dan semua bangunan memiliki urut-urutan dalam pembuatannya: ada yang ketat harus sedemikian rupa, ada pula hanya karena pertimbangan efisiensi. Misalnya saja tidak mungkin kita membangun ruang kelas dimulai dengan atap dulu baru pondasi dan yang paling akhir dindingnya.


STRUKTUR TEKS PROCEDURE TEXT



Begitu pula dengan sebuah teks. Kalau kita akan membuat sebuah recipe (resep makanan) yang dalam bahasa Inggris merupakan sebuah procedure text, tentu kita tidak akan memulai dengan memperkenalkan setting tokoh, waktu, tempat seperti dalam teks konvensional narrative. Kita tidak mungkin mulai dengan kalimat "Once upon a time, ...." untuk menulis sebuah resep. Dalam menulis resep masakan, secara konvensional dengan pertimbangan efisiensi dan agar mudah dibaca orang lain, kita perlu menyebutkan tujuan membuat resep (goal), yaitu menyebutkan teks itu akan menuntun orang untuk membuat apa. Tidak mungkin orang mengikuti resep sesuai dengan bahan (ingredients) dan langkah-langkah memasaknya (steps) yang ditulis, setelah selesai baru mengetahui teks resep masakan itu memandu pembaca untuk membuat makanan apa (goal) yaitu dengan melihat hasil masakannya. Bagian-bagian procedure text berupa resep masakan (the generic structure) dari the procedure text perlu ada semua, yaitu : goal-ingredients-steps. Urutan-urutan dalam pembuatan teks tersebut juga tidak boleh dibalik-balik, bila ingin teksnya berhasil dalam memandu orang dalam memasak seperti yang ada dalam resep. Kerangka bangunan teks seperti itulah yang disebut dengan the generic structure atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi ''struktur generik'' atau ''langkah-langkah retorika' sebuah teks.


Karena sebuah resep bertujuan untuk memandu orang memasak, yang mungkin resepnya juga dibawa di dapur, perlu dipertimbangan juga teksnya harus mudah dipahami dan cepat terbaca. Teksnya harus 'readable' (bisa terbaca). Perlu dipertimbangakan besar kecilnya huruf (font size), jarak (space) dan penomorannya (numberingnya). Misalnya nomor urut jangan sampai salah terbaca dengan ukuran jumlah suatu bahan makanan.


CIRI TEKS YANG BAIK ADALAH BILA TUJUAN TEKS TERCAPAI 



Salah satu kriteria teks yang baik adalah bila tujuan pembuatan teks tersebut berhasil baik. Kalau kita membuat teks pengumuman (announcement ) dan ternyata banyak orang yang masih perlu menanyakan kejelasannya atau bahkan banyak orang yang salah paham, berarti teks yang kita buat tidaklah berhasil dengan baik. Dan jangan lupa, teks bahasa Inggris yang kita buat adalah sesuai dengan teks yang biasa ada dalam budaya bahasa Inggris. Bukan sekedar teks bahasa Indonesia yang dialihbahasakan menjadi bahasa Inggris. Bahasa dan struktur teksnya harus acceptable, dipahami dalam konteks budaya bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia. Karena, buat apa kita membuat teks berbahasa Inggris bila yang paham hanya masyarakat berbahasa Indonesia? Bukankah lebih baik berbahasa Indonesia saja, setidaknya bahasanya acceptable, oleh kita sendiri.


Salah satu yang kita perlu ektra hati-hati adalah bila teks yang kita buat berupa sebuah 'notice' atau 'warning' berbahasa Inggris, yang akan dapat dibaca berulang-ulang karena tertulis. Harus kita pertimbangkan kalimat seperti yang tertulis ada dalam masyarakat berbahasa Inggris atau tidak. Tentu tidaklah lucu bila orang barat yang berbahasa Inggris tidaklah paham dengan notice atau warning yang kita pasang dijalan atau di tempat umum, karena bahasa Inggrisnya is not English. Jadi hanya orang Indonesia yang berbahasa Inggris yang paham maksudnya. Jika begitu, mengapa tidak berbahasa Indonesia saja?


(Written in Magelang, October 2010)

(To see the next page, click Grammar )

====================

Magelang, 25th February 2011

https://sites.google.com/site/tamanbahasaku/