Sultankecap

Search this site

Puisi,sajak,cerita sindiran,Cinta

"Kemana kini kau berada?"aku tak tahu dimana kau tidur,dimana kau makan,hai Matahari.Kusambangi tubuhmu terasa panas menggetarkan nadi dan urat-urat ku.Mau kemana kini kau Matahari?semalaman ku menungu di balik jendela yang sunyi.Terbakar hatiku,menjadi debu dan berterbangan kesana-kemari.Matahari yang membara membawa berkah dan malapetaka karena aku melangkahi matahari Mu.Matahariku kau cairkan kutub setelah berabad-abad kau diamkan bersemadi menjadi beku.Matahariku biarlah ku berjalan diatasmu,tanpa alas dan baju,kunikmati terbakarnya diriku,biar ku hidup bersama mu nanti oh matahari.Darah menjadi hitam beku selaksah arang terbakar matahari,tersenggal napas menyalat hati..panasmu telah membakar tubuhku,hai Matahari kau hitamkan tubuh dan darah ini ..walau itu aku tetap membutuhkan mu.
Malam kau tidur siang kau berjalan tak henti-henti menyinari alam nan indah oh matahari.bergetar ku mendengarmu,setelah aku layu dan hitam gelap terseret sinarmu.berlalu dan berlau,kutegur kau diam terpana,kurayu kau berpaling muka,kenapa kau Matahari...hidupmu tak pernah sepi,mukamu tak pernah tersenyum,apalagi tertawa..oh matahari,berjalanlah menurut aturanmu matahari,jangan pernah mau berhenti walau cuma satu kali..salam untukmu matahari,bagai pemimpin yang menerangi rakyat yang sedang sakit,rakyat yang sedang miskin,semalam aku tak tidur,lelah terlalu banyak aku berjalan,bermimpi matahari.walau mungkin tak mau lagi.Kesinilah hai matahari,kau sirami aku dengan sinarmu,kesinilah hai kau pemimpi,majukanlah rakyat ini.Biarlah aku pemimpi asal kami jadi manusia baik,jauhkanlah kami dari pemimpin yang dholim menyakiti hati rakyat ini.
Subpages (1): Buriram Yang Indah
Comments