Sejarah Gereja HKBP Sukapura

Gereja HKBP Sukapura dimulai dari perkumpulan suku batak di daerah perumahan Walikota, Bea Cukai, BPP dan Pertamina pada tahun 1982 dengan nama Parsahutaon Holong Ni Roha yang diketuai (Alm) JM Manurung dan JH Napitupulu sebagai sekretaris. Perkumpulan ini terus berkembang dan pada acara bona taon tahun 1985, para pengurus mengusulkan mendirikan parmingguan dan mengadakan sekolah minggu di wilayah tersebut dengan pengajar Ani Manurung dan Mega Manurung

Pada bulan April ditahun yang sama, para pengurus mengambil keputusan memilih HKBP Resort Menteng Jl. Jambu untuk mendukung dan membimbing berdirinya gereja HKBP Sukapura karena HKBP Semper, resort yang terdekat, tidak membantu disebabkan adanya masalah intern dilingkungannya. Parhalado HKBP Menteng yang pertama kali memberikan dukungan adalah (Alm) St. LMS Sihombing dan (Alm) St. MH Hutabarat dengan jadwal sermon yang dilakukan secara bergiliran seperti halnya juga acara kebaktian.

Tanggal 27 Oktober 1985, dipimpin oleh (Alm) St.LMS Sihombing dan St. O.Pakpahan, terbentuknya parmingguan Sukapura secara resmi dengan surat keputusan praeses Distrik VIII Jawa Kalimantan No. 244/DJ/H/ 1988 23 Des sebagai bagian dari HKBP Resort Menteng Jl. Jambu.

Pada tahun 1987, terbentuklah panitia pembangunan yang diketuai oleh JH Napitupulu. Februari 1987, panitia mampu membeli sebuah rumah untuk tempat peribadatan di daerah komplek walikota. Bersamaan dengan berjalannya waktu, masyarakat setempat tidak menghendaki adanya gereja berdiri di lingkungan tersebut dan meminta agar parmingguan gereja dipindah. Inilah permulaan berpindah-pindahnya kebaktian jemaat.

  • 18 Juli 1993, di depan rumah kel. P. Hutajulu, SH
  • 25 Juli 1993, di depan rumah  kel. R. Manurung, Jl. Kepodang
  • 15 Agustus 1993, di depan rumah kel. R. Tampubolon
  • 13 September 1993, di halaman SDN 02 Sukapura
  • dan beberapa tempat lainnya

Tanggal 27 September 1993, kebaktian diadakan di ruang serba guna RW Gading Griya Lestari dan berkat perjuangan dan doa guru huria St. V. Panggabean serta para parhalado, jemaat kemudian mendapat pinjaman tempat pemadam kebakaran Gading Griya Lestari untuk beribadah dengan lebih baik.

Februari 2001 St. V. Panggabean meminta penggantian pengurus gereja. Kemudian terpilihlah pengurus baru dengan ketua pembangunan, St.B.Gultom. Bersama mereka bekerja mengusahakan pembelian tanah gereja di areal Biro Asri Sukapura seluas 755 m2.

Pada suatu pertemuan parsahutaon BPP, Drs. F.Nainggolan mengusulkan pembelian tanah PT. JIEP seluang 606 m2 yang berada di samping tanah pemadam kebakaran. Sungguh Tuhan begitu pemurah, mulai Oktober 2003, pembangunan gereja dapat dimulai. Tanggal 2 Mei 2004, gereja telah dapat dipakai sebagai tempat peribadatan dan mangojakhon;  parmingguan sukapura yang sudah berlangsung selama 19 tahun sehingga menajdi Huria Na Gok. Kebaktian itu sendiri dipimpin oleh Ephorus HKBP, Pdt. DR JR. Hutauruk.

19 September 2004, seluruh pembangun telah selesai seperti yang sekarang ini berdiri. dan tanggal 30 April 2006, terjadi pergantian uluan dari St. B. Silaban kepada Pdt. O.Simanjuntak.

 

PSALM 90: 12

"Sai Parohai ma hami mamilangi angka ari-ari nami asa dapothan roha na bisuk hami."