Agama‎ > ‎

Agama dan Keperawatan

HUBUNGAN AGAMA DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

v  Merawat Bayi

v  Mengunjungi  Orang Sakit

v  Merawat Orang yang Sakaratul Maut

v  Merawat Janazah

v  Sholat bagi Orang Sakit

v  Makanan dan Minuman dari Sisi Agama

 

Oleh : Ustadz Rudiyanto Ubaidillah, M.A.

 

I.    Merawat Bayi Baru Lahir

Ketika bayi baru lahir yang pertama perlu dilakukan adalah mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Sebagai peletakan pondasi keimanan, karena yang pertama aktif itu pendengarannya, lalu matanya baru kemudian hatinya. Anak akhirnya mengerti sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An Nahl Q.S. (16) ayat 78

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. An Nahl:78)

 

II.  Mengunjungi  Orang Sakit dan Kegiatan Selama Perawatan

Diantara kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lainnya adalah melihat ketika saudara muslim yang lain sakit dan memberi semangat dalam menjalani sakitnya dengan penuh sabar dan ikhlas karena sakit yang dia derita hakekatnya ujian dari tuhan untuk dirinya. Sejauhmana kesabarannya dan keikhlasannya dalam menjalani ujian tersebut. Untuk si sakit dosa-dosanya diampuni oleh Tuhan sedangkan yang menjenguk dimintakan ampun oleh 70.000 ruh Malaikat pada hari itu, dan selama dalam perawatan kita harus banyak memberi dorongan semangat kepada si pasien bahwa penyakit itu pasti ada obatnya. Jadi janganlah putus asa untuk berusaha.

 

III.  Apa yang Kita Lakukan Bila Merawat Orang yang Akan Sakaratul Maut

Yang harus kita lakukan bila kita merawat orang yang sakaratul maut adalah mengajarnya berdzikir kepada Allah agar di akhir hayatnya dia mati khusnul khotimah, dan kalimat yang diajarkan adalah kalimat tahlil لاَ اِلَهَ اِلاَ الله sebagaimana yang pernah disampaikan Rasulullah SAW dalam haditsnya.

IV. Merawat Janazah

Kewajiban-kewajiban muslim kepada saudaranya yang meninggal dunia ada empat, yaitu:

1.      Memandikannya

2.      Mengkafaninya

3.      Mensholatkannya

4.      Menguburkannya

 

A.       Memandikan Mayit

Syarat-syarat mayit yang perlu dimandikan

1.      Mayit itu seorang Islam

2.      Ada tubuhnya walau sedikit

3.      Meninggal bukan karena mati syahid

Hadits dari Ummi Athiyah; Nabi telah masuk ke tempat kami sewaktu memanikan mayit anak beliau yang perempuan lalu beliau berkata: “Mandikanlah dia tiga kali, atau lima kali atau jika perlu lebih dari ituu, dengan air serta daun bidora dan basuhlah yang penghabisan dengan air yang bercampur dengan kapur barus” (H.R. Bukhori Muslim)

B.       Mayit yang haram dimandikan

1.      Orang mati syahid di medan perang, mayat ini haram pula untuk disholatkan

2.      Orang kafir dan munafik

C.       Bagaimana mayat orang bunuh diri

Pendapat para ulama’, orang yang meninggal karena bunuh diri, tidak dilakukan sholat atasnya, melainkan cukup dikubur saja mayatnya sebagaimana sabda Nabi:

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِي الله عَنْهُ قَالَ : اُتِيَ النَّبِيُّ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَم بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمُشَاقِصَ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ   (رواه مسلم و ابو داوود)

Pernah didatangkan kepada Nabi SAW seorang laki-laki yang mati karena membunuh diri dengan anak panahnya, maka tidak dilakukan sholat atasnya” (H.R. Muslim & Abu Dawud)

D.       Aturan Memandikan Mayit

1.      Mayat laki-laki dimandikan orang laki-laki dan sebaliknya wanita dengan orang wanita, kecuali muhrim yang laki-laki diperbolehkan, sebagaimana Hadits dari Imam Ahmad dan Ibnu Majah

2.      Sebaiknya yang memandikan keluarga terdekat

3.      Suami boleh memandikan istrinya dan sebaliknya, sebagaimana wasiat St. Fatimah supaya Ali r.a. memandikannya jika meninggal (H.R. Darru Qutni)

4.      Yang memandikan tidak boleh menceritakan tentang cacat tubuh si mayit.

E.        Mengkafani Mayit

Setelah mayit dimandikan dengan sempurna, maka fardlu kifayah bagi tiap-tiap orang yang hidup mengkafaninya paling sedikit dengan 1 lapis kain yang menutup seluruh tubuh.

Bagi laki-laki disunnahkan 3 lapis kain ditambah dengan baju kurung dan serban, sedangkan wanita disunnahkan lima lapis kain, masing-masing berupa sarung, baju dan kerudung dan dua lapis yang menutup seluruh tubuhnya.

F.        Sholat Janazah

1.      Syarat-syarat sholat janazah

a.       Suci dari hadats besar dan kecil

b.      Mayit sudah dimandikan dan dikafani

c.       Letak mayt di sebelah qiblat, kecuali sholat di atas kubur atau sholat ghaib

2.      Rukun sholat janazah

a.       Niat

b.      Berdiri bagi yang kuasa

c.       Takbir empat kali

d.      Membaca Surat Al Fatihah

e.       Membaca sholawat

f.       Mendo’akan mayit

 

V.  Sholat bagi Orang yang Sakit

Orang yang sedang sakit wajib mengerjakan sholat selama akal dan ingatannya masih sadar.

1.      Kalau tidak dapat berdiri boleh sambil duduk sebagaimana hadits Nabi;

صَلِّى قَائِمًا . فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبِكْ ( رواه جماعة إلا مسلمًا )

Sholatlah dengan berdiri, kalau tak dapat hendaklah dengan duduk, dan kalau tak dapat maka dengan berbaring.

o   Rukuknya dengan duduk sedikit membungkuk

o   Sujudnya seperti sujud biasa.

2.      Jika tidak dapat duduk, boleh dengan cara kedua belah kaki diarahkan ke qiblat, kepalanya ditinggikan dengan dialasi bantal, muka menghadap ke qiblat

o   Rukuknya cukup menggerakkan kepala ke muka

o   Sujudnya menggerakkan kepala lebih ke muka dan lebih ditundukkan.

3.      Jika duduk seperti biasa dan berbaring tidak bisa, maka boleh seluruh tubuh dihadapkan ke qiblat, rukuk, sujud cukup menggerakkan kepala menurut kemampuan,

4.      Jika tidak dapat mengerjakan dengan berbaring, maka cukuplah dengan isyarat saja, dan jika semua tidak mungkin boleh dikerjakan dalam hati selama akal dan jiwa masih ada.

 

VI.  Gizi, Makanan dan Minuman dari Sisi Agama

1.      Makanan

a.       Dalam Al Qur’an dan Hadits tidak ada yang mengharamkan tumbuhan dan buah-buahan. Karena itu semua boleh dimakan, kecuali yang dianggap membahayakan

b.      Racun dan bisa hukumnya haram walaupun sedikit, kecuali orang yang kebal terhadapnya

c.       Sesuatu yang keji (menjijikkan) seperti, ingus, ludah, peluh dan sebagainya, hukumnya haram dimakan.

2.      Minuman

a.       Semua minuman halal kecuali yang memberi madhorot atau memabukkan, seperti; arak, sedikit atau banyak sama hukumnya

b.      Makanan dan minuman yang kena najis hukumnya haram dimakan dan diminum

c.       Makanan dan  minuman yang beku dan kena najis setelah dibuang najisnya, maka makanan dan minuman itu boleh dimakan dan diminum.

3.      Hukum Binatang yang Halal dan Haram

a.       Halal

1)     Semua binatang yang hidup dalam air dan tidak dapat bertahan lama di darat hukumnya halal, meskipun bentuknya seperti hewan yang haram di darat, seperti; babi, kecuali hewan yang mengandung racun.

Dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 96.

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442] dan makanan (yang berasal) dari laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Q.S. Al Maidah 96)

 

[442]   Maksudnya: binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail, memukat dan sebagainya. Termasuk juga dalam pengertian laut disini Ialah: sungai, danau, kolam dan sebagainya.

[443]   Maksudnya: ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah, karena telah mati terapung atau terdampar dipantai dan sebagainya.

 

2)     Binatang-binatang dari yang halal, seperti; sapi, lembu, kambing, kuda, kerbau, unta, kijang/rusa, pelanduk, landak, kancil, kelinci dan lain-lain.

Firman Allah Q.S. Al Maidah ayat 1

Dihalalkan bagimu binatang ternak. (Q.S. Al Maidah:1)

3)     Burung yang halal, seperti; itik, angsa, ayam, belibis, merpati, tekukur, merbuk, deruk, burung ayam-ayaman dan lain-lain.

4)     Segala makanan yang baik dan lezat halal hukumnya, sebagaimana Firman Allah dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (Q.S. Al A’raaf:157)

 

b.      Haram

1)     Semua binatang yang dapat hidup di dua tempat seperti katak, penyu, buaya, kepiting, dan lain-lain.

2)     Semua binatang yang bertaring kuat, seperti; singa, harimau, serigala, beruang, kera, anjing, kucing dan lain-lain.

Sabda Nabi:

كُلُّ ذِى تَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

Semua binatang yang bertaring itu haram dimakan (H.R. Muslim)

Ditambah lagi Sabda Nabi:

نَهَى كُلُّ ذِى مَخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ

Nabi melarang makan semua burung yang mempunyai kuku tajam. (H.R. Muslim)

3)     Semua hewan yang berkuku tajam dan menyambar, seperti; burung rajawali, garuda, kakak tu, dan lain-lain

4)     Hasyarat (binatang bumi yang kecil-kecil) juga haram, seperti; semut, lalat, cacing, ulat, lintah, lebah dan lain-lain.

 

Comments