817hari sejak
Ujian Nasional 2012

Key To Success

Kepala Sekolah

Fotografi

Pemilik situs

  • sunaryo surya

CHATTING

Profile Sekolah


Sekilas Info Tentang SMA N 85 Jakarta

Berdasarkan kondisi yang terdapat di SMA Negeri 85 Jakarta sampai tahun pelajaran 2009/2010, maka SMA Negeri 85 Jakarta mengajukan usulan Proposal guna mendapatkan dana Block Grant Rintisan Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional.

SMA Negeri 85 Jakarta sejak tahun 2008/2009 mempunyai visi “Mengunggulkan kebersihan sebagai modal utama untuk menunjang aktivitas kegiatan belajar mengajar di sekolah”. Untuk itu SMA Negeri 85 Jakarta ditunjuk sebagai sekolah yang diikut sertakan untuk di nilai sebagai sekolah penerima “Adipura tingkat DKI Jakarta”.

Potensi lain yang dimiliki oleh SMA Negeri 85 Jakarta yang dapat mendukung program Rintisan Sekolah Kategori Mandiri , antara lain:

  1. Lokasi sekolah berdampingan dengan komplek MIGAS dan Perumahan Elite  Intercon/Taman Kebon Jeruk, suasana belajar kondusif, tenang, jauh dari kebisingan, tempat hiburan dan keramaian, dan berjarak 200 meter dari jalan raya.
  2. Sebagai sekolah yang ditunjuk untuk mewakili penilaian Adipura tingkat nasional.
  3. Hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat, Lurah Srengseng, Camat Kembangan dan aparat keamanan.
  4. Peranan pengurus Komite Sekolah  yang mendukung kegiatan belajar mengajar dan peningkatan mutu sekolah melalui Rintisan Sekolah Kategori Mandiri.
  5. Kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik.
  6. Peraturan dan tata tertib sekolah dilaksanakan oleh seluruh pendidik  dan tenaga pendidikan secara efektif.
  7. Kegiatan keagamaan berjalan dengan baik dan selalu dibimbing oleh guru.
  8. Adanya tingkat kepedulian yang tinggi dari para guru/pendidik terhadap kegiatan siswa baik akademik maupun non akademik.
  9. Siswa tidak pernah terlibat kasus narkoba, perkelahian atau tawuran pelajar
  10. Siswa selalu peduli dan mencintai sekolah, serta aktif dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.

BAB I

PENDAHULUAN

1)                  Latar Belakang

Menurut undang-undang No. 2 tahun 1989, tetang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya di masa datang, dan menetapkan bahwa sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar.

Sekolah sebagai sistem terbuka, sebagai sistem sosial, dan sekolah sebagai agen perubahan harus dapat menyesuaikan diri dan dapat mengantisipasi terhadap perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu. Perubahan terjadi sepanjang hidup, sekolah yang berkembang artinya berubah menjadi lebih baik. Perubahan di sekolah selalu melibatkan banyak pihak antara lain, pendidik, tenaga pendidikan, siswa, orangtua siswa, dan sebagainya. Tugas kepala sekolah adalah sebagai agen utama perubahan yang mendorong dan mengelola agar semua pihak yang terkait, termotivasi dan berperan aktif dalam perubahan tersebut.

Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan telah menetapkan kebijakan tentang pengkategorian sekolah berdasarkan tingkat keterlaksanaan standar nasional pendidikan ke dalam kategori standar, mandiri dan bertaraf internasional. Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional (SKM/SSN) adalah sekolah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi standar nasional pendidikan.  Pasal 11, Ayat 3 menjelaskan beban belajar dinyatakan dalam satuan kredit semester (SKS). Penjelasan pasal 11, Ayat 2 dan 3 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Sekolah Kategori Mandiri (SKM) adalah sekolah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan.

Pelaksanaan program rintisan sekolah kategori mandiri didukung pemberian dana block grant oleh pemerintah yang mempunyai  prinsip dan tujuan seperti terkandung dalam program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) yaitu memandirikan dan memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif.

Kurikulum tingkat sekolah atau kurikulum tingkat satuan tendidikan (KTSP) disusun dan dilaksanakan oleh sekolah sebagai kurikulum operasional. KTSP dikembangkan oleh sekolah sesuai dengan situasi dan konteks yang dimilikinya. Dalam pengembangannya pihak sekolah selalu mengacu kepada standar nasional pendidikan (SNP), sesuai dengan peraturan pemerintah (PP) Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Untuk mencapai standar nasional pendidikan (SNP) maka dalam penyusunan KTSP diawali dengan melakukan analisis situasi sekolah dengan berpedoman kepada peraturan mendiknas (permendiknas) nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi (SI), permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan (SKL).

Hasil analisis situasi sekolah dapat dijadikan landasan untuk menentukan kedalaman dan keluasan target-target yang ditetapkan, tujuan yang ingin dicapai, serta isi dan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan sekolah tersebut.

Penyusunan dan pengembangan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja atau lokakarya sekolah atau kelompok sekolah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru (BSNP, 2006: 33). Sistematika dalam pemyusunan KTSP, yaitu analisis sekolah, penyiapan dan penyusunan draf, reviu dan revisi, serta finalisasi, pemantapan dan penilaian.

Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 85 Jakarta, berlokasi di wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat, tepatnya Jl. Srengseng Raya, Kecamatan Kembangan. SMA Negeri 85 Jakarta diresmikan pada tanggal 10 Desember 1986, berarti saat ini usianya sudah 23 tahun.

Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-23, SMA Negeri 85 Jakarta telah meiliki 6 (enam) kepala sekolah, yaitu:

1)        H. Sudiono, tahun 1986 -  1990

2)        Drs. Iwan Trikarso, tahun 1990 – 1994

3)        Drs. Kasim Sembiring, tahun 1994 – 1997

4)        Drs. H. Arfissalam, tahun 1997 – 2000

5)        Kasman Pandjaitan, S.IP, tahun 2000 – 2004

6)        Drs. Suharto, M.SI, M.Pd, tahun 2004 – 2007

7)        Drs. Endang Hidayat, SE, Ed.M, tahun 2007 – sekarang

Manajemen sekolah dibagi menjadi tiga bidang, yaitu bidang akademi & humas, bidang sarana & prasarana, dan bidang kesiswaan.

Setelah dilakukan Supervisi dan Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja Rintisan SKM/SSN dan Profil Rintisan SKM/SSN, oleh Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Propinsi DKI Jakarta, maka pada SMA Negeri 85 Jakarta pada tahun pelajaran 2009/2010 ditetapkan sebagai sekolah kategori “Siap Melaksanakan SKM”, yaitu Sekolah Katagori Mandiri/Sekolah Standar Nasional (SKM/SSN).

Sekolah Kategori Mandiri (SKM) adalah sekolah yang sudah melaksanakan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan (SNP), menerapkan sistem Satuan Kredit Semester (SKS) dan Moving Class. Dengan ditetapkannya SMA Negeri 85 Jakarta sebagai sekolah dengan kategori “siap SKM”, maka dua tahun ke depan sekolah harus menyiapkan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik sekolah kategori mandiri (SKM), yaitu sistem SKS dan moving class.

SMA Negeri 85 Jakarta, pada tahun pelajaran 2009/2010 memiliki tenaga pendidik (guru) 48 orang, karyawan/tata usaha 12 orang, dan 780 peserta didik (siswa), terdiri dari 19 rombongan belajar, yaitu: 6 (enam) kelas X, 3 (tiga) kelas XI IPA, 3 (tiga) kelas XI IPS, 4 (empat) kelas XII IPA, dan 3 (tiga) kelas XII IPS.

Untuk memahami sistem SKM secara komprehensip sehingga dapat diimplementasikan secara tepat dan efisien dengan harapan mencapai hasil yang maksimal maka seluruh warga sekolah terus meningkatkan kinerja untuk mencapai berstandar Nasional (PP 19 tahun 2005). Melalui program bantuan  Block Grant SKM salah satu programnya adalah pelaksanaan Workshop Peningkatan Kemampuan Profesional Guru dan Pemahaman Sekolah Katagori Mandiri, seperti Sosialisasi SKM, Seminar dan Workshop Analisis SKL/Silabus, dan Workshop Sistem SKS dan Moving Class.

Pengembangan Soft Skill Sebagai Landasan  SKM/SSN, sebagai pilar pertama yang harus dibangun adalah Sumber Daya Manusia (SDM) Sekolah, sehingga untuk memenuhi 8 standar SKM/SSN  tidak  hanya pemenuhan pilar sarana namun diperlukan SDM yang handal disekolah yang mampu membawa perubahan sekolah menuju sekolah standar yang diidamkan.

Sambil menunggu Kurikulum SKS dari Direktorat Jendral Manajemen pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan SMA, sekolah terus dituntut untuk menyiapkan instrumen 8 standart dalam SNP dan instrumen yang diruntut dalam profil SKM/SSN. Pelaksanaan Rintisan SKM/SSN di SMA Negeri 85 Jakarta akan mulai dilaksanakan pada tahun pelajaran 2011/2012.

2)                 Tujuan

Tujuan penyusunan proposal dan program kerja sekolah adalah untuk mendapatkan dana Block Grant Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (SKM), yang akan digunakan dalam rangka mencapai tujuan jangka pendek sekolah, yaitu menyiapkan sumber daya sekolah untuk menjadi rintisan Sekolah Kategori Mandiri, secara terinci tujuan tersebut terurai menjadi:

1)        Meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui kegiatan workshop, pelatihan dan seminar.

2)        Pembuatan Program Tahunan, Program Semester, Rencana Program Pembelajaran, dan Silabus yang berbasis ICT.

3)        pembelajaran dan  meningkatkan wawasan pengetahuan.

4)        Meningkatkan minat baca pendidik, tenaga kependidikan dan siswa.

1.3.             Hasil Yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari penggunaan dana block grant Rintisan Sekolah Kategri Mandiri di SMA Negeri 85 Jakarta adalah:

1)        Seratus persen pendidik dan tenaga kependidikan di SMA Negeri 85 Jakarta kompeten dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, mengerti dan memahami hakikat pendidikan, serta meningkat wawasan keilmuannya.

2)        Seratus persen guru SMA Negeri 85 Jakarta membuat program semester, rencana program pembelajaran, dan silabus yang berbasis ICT.

3)        Seratus persen pendidik, tenaga kependidikan dan siswa aktif menggunakan perpustakaan sebagai tempat penunjang pembelajaran dan sumber ilmu pengetahu

BAB II

RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (RPS)

2.1.             Pengertian Rencana Pengembangan Sekolah

Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) adalah satu kesatuan tata cara perencanaan sekolah untuk menghasilkan rencana-rencana sekolah dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara sekolah dan masyarakat (diwakili oleh komite sekolah).

Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia.

RPS adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Rencana pengembangan sekolah penting dimiliki untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka menuju perubahan atau tujuan sekolah yang lebih baik (peningkatan, pengembangan) dengan resiko yang kecil dan untuk mengurangi ketidakpastian masa depan.

2.2.             Tujuan RPS

Rencana Pengembangan Sekolah disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil; (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah; (3) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar pelaku sekolah, antarsekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota, dan antarwaktu; (4) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; (5) mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat; dan (6) menjamin tercapainya penggunaan sumber-daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.

2.3.             Identifikasi Masalah

2.3.1.        Pengertian Analisis SWOT

SWOT adalah sebuah singkatan dari, S adalah strenght (kekuatan), “W” adalah weakness (kelemahan), “O” adalah opportunity (kesempatan), dan “T” adalah threat (ancaman). Analisis swot digunakan untuk menganalisis suatu kondisi dimana akan dibuat sebuah rencana untuk melakukan sesuatu, sebagai contoh, program kerja.

Dalam sebuah organisasi biasanya setiap awal periode kepengurusan akan dilaksanakan pembuatan rencana program kerja, untuk itu biasanya akan dilakukan sebuah analisis kondisi mengenai suatu organisasi tersebut. Analisis swot ini merupakan sebuah “penyelidikan” tentang situasi dan kondisi dalam suatu lingkungan. Setelah dilakukan analisis swot maka jadi mengetahui kondisi nyata apa yang terjadi di lingkungan internal dan external organisas, maka dapat mulai membuat rencana program kerja yang sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan dan mampu untuk dilaksanakan oleh pengurus tersebut.

2.3.2.        Identifikasi Tantangan Nyata

Berdasarkan tujuan dan hasil yang diharapkan dalam Rintisan Sekolah Kategori Mandiri, kami coba melakukan identifikasi tantangan nyata sekolah yang nantinya akan dikerjakan dengan dukungan dana Block Grant guna meningkat menjadi Sekolah Kategori Mandiri, yaitu:

1)       Baru sekitar 90 % guru SMA Negeri 85 Jakarta yang kompeten dan profesional di bidangnya.

Tantangan:

Mengadakan kegiatan workshop, pelatihan dan seminar, mengikut  sertakan guru-guru  dalam pelatihan-pelatihan mata pelajaran.

2)       Baru sekitar 70 % guru SMA Negeri 85 Jakarta, yang melakukan Pembuatan Program Tahunan, Program Semester, Rencana Program Pembelajaran, dan Silabus yang berbasis ICT.

Tantangan: 

Mewajibkan semua guru membuat Program Tahunan, Program Semester, Rencana Program Pembelajaran, dan Silabus yang berbasis ICT.

3)       Baru sekitar 70% buku pegangan pembelajaran dan buku pengetahuan umum yang tersedia di perpustakaan serta kurangnya minat baca dikalangan  siswa, ditandai dengan jumlah pengunjung perpustakaan yang hanya 60 %.

 

Tantangan: 

Perlu ditambah buku-buku penunjang pembelajaran dan buku pengetahuan umum serta ditingkatkan minat dan budaya membaca/menulis di kalangan guru dan siswa melalui kegiatan pemberdayaan perpustakaan dan pengadaan fasilitas internet.

2.3.3.        Rekapitulasi Identifikasi Tantangan Nyata

Rekapitulasi identifikasi tantangan nyata sekolah dapat dirangkum sebagai berikut:

No

Uraian

Fakta

Diharapkan

Tantangan

1

Kompetensi dan Profesional Guru.

90 %

100 %

10 %

2

Penyusunan program pembelajaran (Prota, Prosem, RPP, Silabus berbasis ICT).

70 %

100 %

30 %

3

Fasilitas internet perpustakaan

0 %

60 %

60 %

4

Pengunjung Perpustakaan

60 %

100 %

40      

2.4.             Identifikasi Fungsi-Fungsi Sasaran

2.4.1.        Kompetensi Dan Profesional Guru

Usaha meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru dalam pengajaran dengan cara mengadakan pembinaan melalui workshop, pelatihan dan seminar-seminar baik yang diadakan oleh sekolah maupun instansi lain yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan keilmuan, pengetahuan dan memahami hakikat pendidikan.

2.4.2.        Penyusunan Program Pembelajaran

Usaha peningkatan mutu pembelajaran, setiap guru diwajibkan membuat perangkat pembelajaran, seperti program tahunan, program semester, rencana program pembelajaran, silabus yang berbasis ICT, yang dilaksanakan pada awal tahun pembelajaran.

2.4.3.        Pemberdayaan Perputakaan

Usaha meningkatkan aktivitas siswa untuk gemar membaca, yang secara langsung dapat  menunjang sistem pembelajaran di kelas, ruang perpustakaan akan dilengkapi prasarana/sarana yang lebih memadai, seperti penambahan buku-buku penunjang pembelajaran dan buku pengetahuan umum serta pengadaan fasilitas internet. Juga menambah kenyamanan suasana belajar di perpustakaan dan mengkondisikan siswa dan guru serta karyawan untuk secara aktif mengunjungi perpustakaan dan menjadikannya sebagai sumber belajar.

 

2.5.             Analisis Tingkat Kesiapan Fungsi (Analisis SWOT)

2.5.1.       Kompetensi dan Profesionalisme Guru

Faktor

Kriteria Kesiapan

Kondisi Nyata

Tingkat Kesiapan

Siap

Tidak

A.        INTERNAL





1. Pendidikan guru

Sesuai

Cukup


2. Kompetensi guru

Cukup

Kurang


3. Metode pengajaran

Cukup

Kurang


4.  Motivasi guru

Cukup

Kurang


6.   Kualitas proses pembelajaran

Cukup

Kurang


7.  Kualitas/ kuantitas penilaian

Cukup

Kurang


8.   Pencapaian Standar Kompetensi

Sesuai

Cukup


B.    EKSTERNAL





1.     Dukungan orangtua

Tinggi

Cukup


2.     Dukungan Pemerintah

Tinggi

Cukup


3.     Minat dan kesiapan belajar siswa

Tinggi

Cukup


4.     Buku penunjang

Cukup

Kurang


5.     Media pendidikan

Cukup

Kurang


6.     Lingkungan sbg sumber belajar

Ada

Cukup


7.     Fasilitas komputer

Tersedia

Cukup


8.     Internet

Tersedia

Cukup


9.     Pelatihan dan penataran

Terjadwal

Kurang


 

2.5.2.        Penyusunan Program Pembelajaran

Faktor

Kriteria Kesiapan

Kondisi Nyata

Tingkat Kesiapan

Siap

Tidak

A.         INTERNAL





1.     Perangkat Pembelajaran

Cukup

Cukup


2.     Perangkat penilaian

Cukup

Cukup


3.     Media Pembelajaran

Memadai

Cukup


B.    EKSTERNAL





1.       Kegiatan MGMP sekolah

Terjadwal

Terlaksana


2.       Fasilitas pendukung MGMP

Tersedia

Memadai


 

2.5.3.        Pengembangan  Perpustakaan

Faktor

Kriteria Kesiapan

Kondisi Nyata

Tingkat Kesiapan

Siap

Tidak

A.    INTERNAL





1.     Ruang perpustakaan

Memadai

Cukup


2.     Buku penunjang belajar

Cukup

Kurang


3.     Buku pengetahuan umum

Cukup

Kurang


4.     Meja dan kursi

Cukup

Cukup


5.     Frekuensi kunjungan

Cukup

Kurang


B.    EKSTERNAL





1.     Sistem manajemen perpustakaan

Baik

Cukup


2.     Tenaga perpustakaan

Terampil

Cukup


3.     Perpustakaan online

Tersedia

Belum



BAB III

VISI, MISI DAN TUJUAN SEKOLAH

 

3.1.             Visi

Sekolah yang mengunggulkan Kebersihan, Disiplin, Karya, dan Prestasi

3.2.             Misi

1)             Menanamkan kecintaan pada kebersihan, keindahan dan penghijauan.

2)             Melibatkan seluruh warga sekolah dalam melaksanakan kebersihan, keindahan dan penghijauan.

3)             Meningkatkan kedisiplinan dalam pelaksanaan tugas-tugas kependidikan.

4)             Meningkatkan kedisiplinan dalam kegiatan pembelajaran.

5)             Menerapkan inovasi dan teknologi dalam pembelajaran dan administrasi.

6)             Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme seluruh sumber daya manusia sekolah.

7)             Membiasakan siswa untuk menghasilkan karya.

8)             Meningkatkan prestasi siswa dalam kegiatan akademik dan non akademik.

9)             Melaksanakan kegiatan keagamaan secara teratur.

10)          Meningkatkan kesejahteraan seluruh warga sekolah.

3.3.             Tujuan

3.3.1.        Tahun Pelajaran 2008/2009 (Jangka Pendek)

1)             Meningkatkan kedisiplinan warga sekolah.

2)             Memelihara kebersihan, dan kemanfaatan sarana prasarana sekolah.

3)             Memelihara keindahan, kehijauan, dan kenyamanan lingkungan sekolah.

4)             Meningkatkan pemberdayaan fasilitas pembelajaran (laboratorium, perpustakaan, dan ruang  multimedia).

5)             Meningkatkan efektifitas pemanfaatan sarana SAS.

6)             Meningkatkan kemampuan guru dalam menguasai IT.

7)             Melengkapi sarana prasarana sekolah.

8)             Aktif mencari dukungan instansi terkait untuk merealisasikan tambahan gedung baru.

9)             Mempersiapkan diri untuk menjadi pelaksana Rintisan Sekolah Kategori Mandiri.

10)          Setiap siswa dalam setiap semester menghasilkan minimal satu karya yang dapat diapresiasikan/dipamerkan.

11)          Meningkatkan perolehan nilai Ujian Nasional siswa.

12)          Meningkatkan jumlah siswa yang masuk Perguruan Tinggi Negeri  melalui PMDK dan SPMB.

13)          Mengaktifkan kegiatan ektrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja  dan meningkatkan aktifitas kegiatan ekskul yang lain.

14)          Memiliki tim Olimpiade Sain yang tangguh.

15)          Meningkatkan kekeluargaan dan kesejahteraan warga sekolah.

16)          Menyiapkan sumber daya sekolah untuk menjadi rintisan Sekolah Kategori Mandiri.

3.3.2.        Tahun Pelajaran 2009/2010 (Jangka Menengah)

1)             Mempertahankan tingkat kelulusan pada angka 100%.

2)             Memelihara 7 K sekolah.

3)             Mempertahankan sekolah pada posisi sekolah berbasis IT.

4)             Memiliki guru profesional yang unggul dalam penguasaan IT.

5)             Memiliki ruang pamer aneka karya unggulan siswa.

6)             Meningkatkan kepuasan pelayanan pembelajaran siswa.

7)             Meningkatkan nilai rata-rata Ujian Nasional pada angka 7,5.

8)             Memiliki siswa yang masuk PTN hingga 60%.

9)             Meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris para guru.

10)          Memiliki tambahan satu unit gedung baru.

11)          Memiliki Laboratorium dan multimedia yang lengkap sebagai penunjang proses pembelajaran.

12)          Terbentuknya komunitas sekolah yang disiplin, rukun, religius, dan akrab.

13)          Memiliki siswa yang berprestasi dalam lomba kegiatan ekstrakurikuler sampai tingkat provinsi.

14)          Sekolah sudah mencapai tahap kategori mandiri (SKM/SSN).

 

3.3.3.        Tahun Pelajaran 2010/2011 (Jangka Panjang)

1)             Terbentuknya komunitas sekolah dengan disiplin tinggi.

2)             Terbentuknya sekolah dengan kondisi bersih, asri dan nyaman.

3)             Memiliki guru-guru yang kompeten, menguasai IT dan Bhs Inggris.

4)             Sudah terbentuk tradisi sekolah bahwa setiap siswa mampu mengaktualisasikan diri dengan karyanya masing-masing.

5)             Menjadi Sekolah SKM/SSN dan sudah mencapai peringkat unggulan nasional.

6)             Prestasi non akademik siswa mencapai tingkat nasional.

7)             Memiliki prosentase jumlah siswa yang diterima di PTN tinggi.

8)             Sudah terbentuk komunitas sekolah yang disiplin, rukun, religius, berdedikasi,  akrab, dan sejahtera.

9)             Sekitar 10 – 20% alumni melanjutkan di luar negeri.

10)          Sekitar 10 – 20% alumni melanjutkan ke S-1 dengan bea siswa.

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1.             Alternatif Pemecahan Masalah

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dan untuk mengatasi kelemahan sebagaimana tertera pada tabel di atas, diperlukan alternatif langkah-langkah pemecahan masalah, sebagai berikut:

4.1.1.        Kompetensi dan Profesionalisme Guru:

1)         Seminar dan Lokakarya tentang sekolah kategori mandiri/sekolah standar nasional.

2)         Workshop dan pelatihan pembuatan bahan ajar berbasis ICT dan berstandar nasional.

4.1.2.        Penyusunan Program Pembelajaran:

1)         Mengaktifkan kegiatan MGMP Sekolah sesuai jadwal.

2)         Menyusun program tahunan, program semester, rencana program pembelajaran, dan silabus yang berbasis ICT.

4.1.3.       Pengembangan Perpustakaan:

1)         Melengkapi perpustakaan dengan buku-buku penunjang pembelajaran di kelas.

2)         Melengkapi perpustakaan dengan buku-buku pengetahuan umum.

3)         Mengadakan fasilitas internet perpustakaan.

4)         Meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan dengan memberdayakan perpustakaan secara optimal.

5)         Mengembangkan budaya baca bagi siswa, guru dan karyawan.

4.2.             Program Kerja

4.2.1.                     Program Kerja 1: 

Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Guru.

Nama Kegiatan:

Seminar, Workshop dan Lokakarya bagi guru.

Sasaran:  

1.          Seratus persen guru mengikuti Seminar dan Lokakarya Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional.

2.          Seratus persen guru mengikuti Workshop pembuatan silabus dan bahan ajar berbasis ICT.

 

Rincian Program:

1.          Membuat program kegiatan seminar, workshop dan lokakarya.

2.          Seminar dan Workshop tentang Revisi Silabus, Analisis SKL, SK dan KD SKM/SSN dilaksanakan di sekolah diikuti oleh semua guru dengan bimbingan ketua tim RSKM SMA Negeri 85 Jakarta.

3.          Melaksanakan workshop pembuatan bahan ajar yang berbasis ICT, diikuti oleh semua guru dan dilaksanakan selama 2 hari di sekolah dibimbing oleh TIM RSKM SMA Negeri 85 Jakarta.

 

4.2.2.        Program Kerja 2:

Penyusunan Program Pembelajaran.

 

Nama Kegiatan:

Kelompok Kerja MGMP Sekolah.

Sasaran:

1.          Seratus persen guru aktifk  mengikuti kegiatan MGMP Sekolah.

2.          Seratus persen guru berhasil menyusunan program pembelajaran yang berbasis ICT.

Rincian Program:

1.          Membuat program kegiatan MGMP sekolah.

2.          Penyusunan Program tahunan, program semester, dan rencana program pembelajaran setiap mata pelajaran.

3.          Pembuatan alat evaluasi pembelajaran.

4.          Penyusunan bahan ajar pembelajaran setiap mata pelajaran.

5.          Pelatihan analisis hasil evaluasi

6.          Mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran.

4.2.3.       Program Kerja 3:

Pengembangan Perpustakaan.

 

Nama Kegiatan:

Program Pengembangan Perpustakaan.

 

Sasaran:

1.          Tersedianya buku-buku penunjang pembelajaran untuk setiap mata pelajaran.

2.          Tersedianya buku-buku pengetahuan umum.

3.          Meningkatkan budaya baca bagi siswa dan guru dan aktif mengunjungi perpustakaan.

Rincian Program:

1.          Membuat program pengembangan perpustakaan.

2.          Melakukan pembelian dan atau mencari donatur buku-buku penunjang pembelajaran untuk setiap mata pelajaran.

3.          Melakukan pembelian dan atau mencari donatur buku-buku pengetahuan umum.

4.          Mengadakan lomba mengarang dan menulis karya ilmiah bagi seluruh siswa.

5.          Mengikuti seminar dan pelatihan petugas perpustakaan.

6.          Menambah jumlah koleksi buku-buku cerita dan majalah remaja.

7.          Menertibkan administrasi perpustakaan.

8.          Membentuk kelompok kerja tiap-tiap kelas

9.          Memperbaiki dan menambah prasarana/sarana serta pengadaan internet perpustakaan.

 

4.3.             Kriteria Keberhasilan

Kriteria keberhasilan yang digunakan sebagai landasan untuk mengembangkan sekolah dimasa datang adalah hasil monitoring & evaluasi (ME) yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

(terlampir)

4.4.   Total Quality Management (TQM)

Konsep kualitas total (Total Quality Management) saat ini telah banyak dikenal orang. Filosofi mendahulukan kepentingan pelanggan sudah menjadi hal yang akrab di kalangan pelaku bisnis saat ini. Demikian pula dengan mengintegrasikan konsep total manajemen ini dengan kebijakan Pendidikan.

TQM adalah sistem pengendalian mutu yang didasarkan pada filosofi bahwa memenuhi kebutuhan pelanggan sebaik-baiknya adalah yang utama dalam setiap usaha. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan budaya kerja yang baik harus terbina dan berkembang dengan baik dalam diri setiap karyawan yang terlibat dalam pendidikan itu. Motivasi, sikap, kemauan dan dedikasi adalah bagian terpenting dari budaya kerja tersebut.

Konsep TQM ditelaah kemungkinan penerapannya di dunia pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Dalam dunia pendidikan filosofi TQM memandang pendidikan sebagai jasa dan usaha lembaga pendidikan sebagai industri jasa dan bukan proses produksi. Oleh sebab itu TQM tidak bicara soal masukan (input) yaitu peserta didik dan keluaran (output) yaitu lulusan. Tetapi TQM berbicara tentang pelanggan-pelanggan yang mempunyai berbagai kebutuhan dan tentang bagaimana memuaskan para pelanggan tersebut.

TQM yang baik harus memiliki karakteristik berikut: kepemimpinan; kepuasan pelanggan total; keterlibatan total; pencegahan error; komitmen; perbaikan terus-menerus; pelatihan dan pendidikan; penghargaan dan pengakuan; dan kerjasama dan tim kerja. Terdapat kesesuaian pendapat di kalangan para ahli bahwa komitmen manajemen, pelatihan, kerja tim, kepemimpinan, motivasi, dst; masing-masing memiliki peran vital dan komplementer untuk membangun lingkungan kualitas total. Kontribusi terpenting dalam menciptakan lingkungan kualitas total adalah mengenali kebutuhan bagi program-program perbaikan terus-menerus menggunakan perangkat.

Konsep TQM (Total Quality Management) merupakan sebuah sistem yang terintegrasi yang menggunakan strategi, data, dan komunikasi efektif untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip kualitas ke dalam budaya dan aktivitas organisasi.

Penerapan prinsip-prinsip Total Quality Management (TQM) di SMA Negeri 85 Jakarta, memiliki 5 (lima) aspek, yaitu:

1)        Fokus Pada Siswa.  

Apapun yang  kita  lakukan atau  ACTION apapun yang dijalankan, yang jelas juri akhir yang menentukan apakah yang kita lakukan itu meningkatkan kualitas atau tidak adalah siswa. Jadi meski kita sudah bersusah payah merombak produk, hasalnya, menghadirkan versi terbaru produk anda, tapi jika konsumen tidak merasakan ada suatu hal yang bermanfaat, hal itu tidak ada artinya. Karena itu, biasakan setiap anda melakukan sesuatu tanyakan apakah ini bermanfaat bagi siswa.  Apakah jika saya terapkan ini, akan lebih memudahkan konsumen

2)        Mengedepankan Mutu.

Dalam setiap rancangan perencanaan bisnis internet, pertimbangan kualitas dinomorsatukan.

3)        Satu Visi-Misi.

Setiap elemen dalam organisasi bisnis tersebut mengerti misi dan visi yang dituju. Kesatuan misi dan visi ini akan memudahkan untuk bergerak bersama menuju satu tujuan.

4)        Berdasar Fakta.

Pengambilan keputusan untuk strategi di dalam sekolah, didasarkan pada fakta dan bukan hanya karena dugaan semata. Mungkin kalau sedikit cerita, kira-kira analoginya seperti ketika

5)        Peningkatan Kualitas Berkelanjutan.

Selalu mencari cara bagaimana agar kegiatan sekolah yang dilakukan bisa menjadi lebih efektif.

Kelima prinsip TQM (Total Quality Management) ini bila diterapkan secara terarah, akan mampu meningkatkan kualitas sekolah.

 

BAB V

KESIMPULAN

 

Berdasarkan kondisi yang terdapat di SMA Negeri 85 Jakarta sampai tahun pelajaran 2009/2010, maka SMA Negeri 85 Jakarta membuat rencana pengembangan sekolah (RPS) guna menuju sekolah kategori Mandiri (SKM). SMA Negeri 85 Jakarta yang dapat mendukung program Rintisan Sekolah Kategori Mandiri , antara lain:

1)             Lokasi sekolah berdampingan dengan komplek MIGAS dan Perumahan Elite  Intercon/Taman Kebon Jeruk, suasana belajar kondusif, tenang, jauh dari kebisingan, tempat hiburan dan keramaian, dan berjarak 200 meter dari jalan raya.

2)             Sebagai sekolah yang ditunjuk untuk mewakili penilaian Adipura tingkat nasional.

3)             Hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat, Lurah Srengseng, Camat Kembangan dan aparat keamanan.

4)             Peranan pengurus Komite Sekolah  yang mendukung kegiatan belajar mengajar dan peningkatan mutu sekolah melalui Rintisan Sekolah Kategori Mandiri.

5)             Kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik.

6)             Peraturan dan tata tertib sekolah dilaksanakan oleh seluruh pendidik  dan tenaga pendidikan secara efektif.

7)             Kegiatan keagamaan berjalan dengan baik dan selalu dibimbing oleh guru.

8)             Adanya tingkat kepedulian yang tinggi dari para guru/pendidik terhadap kegiatan siswa baik akademik maupun non akademik.

9)             Siswa tidak pernah terlibat kasus narkoba, perkelahian atau tawuran pelajar.

10)          Siswa selalu peduli dan mencintai sekolah, serta aktif dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.



  
Wakil Kepala Sekolah:
  • SUNARYO, S.Pd, MM
  • Dra. Hj. SITI DARODJAH, M.Pd
  • Dra. RESMININGSIH
Staff:
  • Dra. K, IDA ERIKA MUNTHE
  • EKO PARMINTO, S.Pd
  • IKHSAN HENDARJAYA, S.Pd
  • Drs. SUKRING PLURDANA

Wali Kelas:
1. X (Sepuluh):
  1. X.1 : Erlina, S.Kom
  2. X.2 : Dra. Yulieta
  3. X.3 : Tina Sumartina, S.Pd
  4. X.4 : Unik Susilowati, S.Pd
  5. X.5 : Jumadi, S.Pd
  6. X.6 : Dra. K. Ida Erika
  7. X.7 : Anna Maelani, S.Pd
2. XI:
  • IPA.1 : Dra. Sumi
  • IPA.2 : Sri Alam, S.Pd
  • IPA.3 : Yulfitri, S.Pd
  • IPS.1 : Ferawati, S.Pd
  • IPS.2 : Hadi Sobari, S.Pd
  • IPS.3 : Hj. Darlina, S.Pd
3. XII:
  • XII.IPA.1 : Dra. Ni Putu Lasmini
  • XII.IPA.2 : Dra. Sri Sumaryani
  • XII.IPA.3 : Purnama S, Pd
  • XII.IPS.1 : Dra. Yeni Mulyani
  • XII.IPS.2 : Risa Ambarwati, S.Pd
  • XII.IPS.3 : Drs. Yoyo Sukarya
Menunjukkan 0 unsur
NoNamaKegiatanUraianKegiatan WaktuKegiatan
Urutkan 
 
Urutkan 
 
Urutkan 
 
Urutkan 
 
Menunjukkan 0 unsur
Comments