MENGUMPULKAN DAN MENGUJI VALIDITAS SUMBER SEJARAH

A.  Mengumpulkan sumber

Peristiwa sejarah hanya dapat direkonstruksi apabila didukung oleh fakta-fakta yang mencukupi. Dengan kata lain, fakta memiliki posisi sentral karena menjadi landasan bagi kerja sejarawan. Tanpa fakta sejarawan tidak dapat melakukan sesuatupun.

Berpijak pada posisi penting dari fakta, maka pengumpulan sumber merupakan tahap yang sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah penelitian sejarah. Apabila seorang sejarawan mengalami kegagalan dalam mengumpulkan sumber tentang topik yang diteliti, maka otomatis penelitian tersebut akan terhenti.

Pada ilmu sejarah, sumber dibedakan menjadi primer, sekunder dan tersier. Sumber primer adalah informasi yang disampaikan oleh pihak yang terdekat dengan peristiwa yang dikaji. Apabila tokoh-tokoh yang menjadi pelaku dalam peristiwa dijadikan sumber, misalnya melalui wawancara, maka tokoh tersebut ditempatkan sebagai sumber primer. Hasil investigasi polisi, berita surat kabar dan laporan pemerintah juga dapat dikelompokkan sebagai sumber primer.

Sumber informasi dikelompokkan sebagai sekunder apabila diperoleh melalui perantara yang tidak terkait langsung dengan peristiwa sejarah. Contoh yang paling mudah tentang sumber sekunder adalah informasi yang disampaikan oleh sejarawan, baik melalui buku, paper, maupun artikel surat kabar. Sumber tersier dan kategori selanjutnya adalah informasi yang disampaikan oleh pihak ketiga atau lebih.

Dilihat dari wujudnya, sumber sejarah adalah sangat beragam, seperti artifak, laporan, berita, informasi lisan dan cerita rakyat. Oleh karena wujudnya yang beragam, maka cara untuk memperolehnyapun harus menggunakan berbagai jalan. Sebagai contoh untuk mengumpulkan sumber yang berupa artifak diperlukan ekskavasi atau penggalian, untuk sumber-sumber tertulis dikumpulkan melalui studi arsip dan pustaka, sedang untuk pengumpulan sumber-sumber lisan dilakukan dengan wawancara dan penyebaran questioner.

B.  Menguji validitas sumber

Pengujian dilakukan untuk memastikan sumber yang dikumpulkan sungguh-sungguh dapat dipercaya dan memiliki kaitan erat dengan topik yang diteliti. Pada ilmu sejarah tahap ini dikenal sebagai heuristik. Pengujian sumber dilakukan dengan:

1. Kritik ektern.

Kritik ektern bertujuan untuk menguji otentisitas atau keaslian sumber. Apabila sumber berupa tulisan tangan di atas kertas, maka pengujian dapat mencocokkan antara tanggal penulisan dengan jenis kertas yang digunakan. Seandainya keduanya cocok dalam arti sejaman, maka langkah berikutnya adalah membandingkan tipe tulisan atau tanda tangan antara laporan satu dengan laporan lain yang ditulis oleh pembuat yang sama.

 2. Kritik intern

Kritik intern bertujuan untuk menguji kredibilitas atau kebenaran informasi yang disampaikan oleh sumber sungguh-sungguh dapat dipercaya. Tahap ini sangat penting, karena mempengaruhi kredibilitas narasi sejarah yang akan dihasilkan. Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk menguji kredibilitas sumber adalah dengan membandingkan dengan sumber-sumber lain yang memberi informasi tentang hal yang sama. Semakin banyak sumber yang memberikan informasi sama, maka informasi tersebut semakin dapat dipercaya kebenarannya.

Selain dengan membandingkan, pengujian juga dapat dilakukan dengan melihat posisi sumber informasi dalam peristiwa yang dikaji. Apabila posisinya sebagai pelaku, maka informasinya lebih dapat dipercaya dari pada saksi.

         3. Kritik Konstruk Mental

Kritik konstruk mental ditujukan untuk membersihkan sumber dari subyektivitas aktor pembuat sumber yang dapat mengganggu atau menghalangi munculnya kebenaran faktual. Pembersihan biasanya dilakukan dengan mencermati istilah-istilah teknis, idiom, pandangan stereotipikal yang melekat pada status, peran dan keanggotaan sosio-kultural dari pembuat sumber. Misalnya pada sumber sekunder, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II tertulis:

Berdasarkan silsilahnya dapat dipastikan, bahwa Kudunga adalah seorang Indonesia asli, yang barangkali untuk pertama kalinya tersentuh oleh pengaruh budaya India. Tetapi sedemikian jauh, Kudunga sendiri masih tetap mempertahankan ciri-ciri keindonesiaannya, dan itu pulalah rupanya yang menyebabkan ia tidak dianggap sebagai pendiri keluarga raja. Dari data yang sedikit itu dapat disimpulkan, bahwa rupanya pengertian keluarga raja pada waktu itu, terbatas kepada keluarga kerajaan yang telah menyerap budaya India di dalam kehidupan sehari-harinya. (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, ed., 1984: 34)

Dari kutipan itu tampak wacana penulis yang hendak menyampaikan pemikiran bahwa “keindonesiaan perlu disingkirkan, apabila tidak hendak diabaikan seperti Kudunga” perlu dicermati untuk menemukan kebenaran faktualnya.

Bagian terkait:

Pengertian Sejarah

Penentuan Topik

Analisis & Interpretasi

Historiografi