HALAMAN MUKA

 banner

 



 http://www.co.cc/?id=172553

Menu Utama : Al-Qur'an, Al-Hadits. Undang-Undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah, Keputusan Kepala Daerah.

Menu File: Menumbuhkan Jiwa Wirausaha, Memahami Wirausaha, Berpikir Bisa, Positif Tinkking,

  

Item Thumbnail

Item Thumbnail


 



MELIHAT JIWA KEWIRAUSAHAAN

posted Jul 29, 2011, 9:36 AM by NU Solihin   [ updated Jul 29, 2011, 9:37 AM ]

BAGAIMANA MELIHAT JIWA KEWIRAUSAHAAN DALAM DIRI KITA

Apa yang membedakan seorang entrepreneur dengan yang bukan entrepreneur? Pendidikannya? Network-nya? Penampilannya? Seorang teman berpendapat, satu-satunya hal yang membedakan seorang entrepreneur dengan yang bukan entrepreneur adalah jantungnya. Jantung? Ya, jantung. Benda berotot tebal seberat kurang lebih 300 gr, yang tidak berhenti berdenyut dalam rongga dada kita.
 

Jiwa Kewirausahaan dalam diri kita bisa dilihat

Respons benda itu menghadapi keadaan darurat berbeda-beda antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Pada keadaan relax jantung kita akan berdetak sekitar 70 kali dalam satu menit. Tetapi ketika menghadapi emergency, hormon adrenalin yang dilepaskan tubuh menyebabkan jantung berdebar cepat dan kuat, disertai timbulnya keringat dingin dan nafas memburu.  Disinilah letak keistimewaan seorang entrepreneur. Ia dapat menghadapi  risiko dengan tenang.

Maka dalam dunia investasi, kita mengenal dua sisi pendulum yang bertolak-belakang. Risk averse, orang yang berpikir keras, lama, dan sangat hati-hati, ketika menghadapi risiko. Risk lover, sejenis orang gila yang menyukai tantangan, dan hidupnya terasa belum lengkap tanpa risiko. Dan ditengah-tengah pendulum itu, berdiam risk neutral, orang yang bersedia mengambil risiko, asalkan return-nya sesuai.

Saya memiliki sepasang teman entrepreneur. Pada suatu ketika, tiba-tiba mereka menghilang begitu saja. Teman ini tidak lagi hang out di tempat kami biasa kumpul-kumpul, selalu tidak ada jika didatangi kerumahnya, bahkan  enggan menjawab telepon. Demikian, hingga bertahun-tahun. Ketika saya sudah hampir pasrah tidak  lagi dapat bertemu mereka, ternyata mereka muncul kembali. Lengkap dengan mobil mewah keluaran terbaru. Dengan santai mereka bercerita, bahwa mereka kehilangan usahanya yang dulu, dan dikejar-kejar kreditur. Namun kini mereka telah bangkit kembali dan tengah sibuk memenuhi permintaan konsumen.

Di tengah rasa syukur karena mendapatkan mereka kembali, diam-diam saya mengelus dada. Knock on wood. Jangan sampai saya harus mengalami hidup seperti roller coaster begitu. Sebentar di atas, sebentar lagi di bawah. Waktu menanjaknya sih menyenangkan. Tapi  waktu terhempas, pastilah sangat, sangat, sangat sakit. Biarlah saya tetap mengendarai mobil butut saya, belanja kebutuhan secukupnya saja, dan menantikan gaji tiap akhir bulan, asalkan itu memberikan rasa aman. Lupakan tentang menjadi boss bagi diri sendiri, apalagi menciptakan lapangan kerja buat banyak orang. Jantung saya tidak sanggup menanggungnya.

Sepasang teman saya itu memang species yang istimewa. Entrepreneur sejati. Pahlawan gagah berani, berkeinginan teguh, tekun, inovatif, berpandangan jauh ke depan. Maka memang sudah sepantasnyalah segala puja dan puji diperuntukkan bagi orang-orang dengan kualitas demikian.

Jantung Entrepreneur dalam Diri Kita
Manusia diciptakan untuk mengelola bumi dengan  segala  isinya untuk kemuliaan Sang Pencipta. Untuk melaksanakan tugas tersebut, kepada manusia diberikan seperangkat anugerah yang luar biasa. Seperangkat anugerah tersebut antara lain adalah: akal budi, emosi, nurani, kemampuan berkehendak, kemampuan mengelola, kemampuan berkomunikasi, menghendaki kebenaran dan kesempurnaan, kreatif, imajinatif, dan mampu menciptakan sesuatu. Semua ini adalah miniatur yang tidak sempurna dari karakter Sang Pencipta yang sempurna.

Tidakkah karakteristik yang telah dianugerahkan kepada kita tersebut merupakan semua karakteristik seorang entrepreneur? Maka sesungguhnya semua manusia memiliki potensi untuk menjadi seorang entrepreneur dan telah menjadi seorang entrepreneur dalam satu dan lain hal. Semua kita adalah manusia kreatif yang selalu memandang ke depan, selalu mencari jawaban, selalu mencari cara baru untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih benar dan lebih baik.

Seorang entrepreneur adalah seseorang yang bertindak, mengambil tanggung jawab bagi sebuah bisnis dan bersedia menanggung risiko yang timbul karenanya. Dan bukankah semua kita bertindak, mengambil tanggung jawab dan menghadapi risiko dalam hidup? Selalu ada kemungkinan gagal dalam semua hal yang kita lakukan, dalam permainan, dalam pendidikan, dalam persahabatan, dalam pernikahan, dalam pekerjaan, bahkan dalam hidup itu sendiri. Tidak pernah ada keberhasilan yang pasti dalam bisnis maupun dalam hidup.

Jika demikian, mengapa bagi kebanyakan orang, menjadi seorang entrepreneur lebih ‘menakutkan’ daripada menjadi seorang karyawan?

Sense of Belonging dan Sense of Ownership
Keterampilan seorang entrepreneur untuk mengkoordinasi armada kerja, menyusun berbagai sumber daya  dan modal, juga merupakan keterampilan yang hadir dalam dunia kerja. Perbedaan persepsi akan intensitas risiko yang harus ditanggung antara seorang entrepreneur dan seorang employee lebih karena kadar sense of belonging dan sense of ownership yang berbeda.

Sense of belonging, adalah perasaan bahwa seseorang diterima dan berarti bagi perusahaan, sehingga ia dapat mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai bagian dari perusahaan tersebut. Sense ini terbentuk ketika seseorang berbagi sejarah dan nilai-nilai yang sama dengan perusahaannya, serta memiliki ikatan emosi dan pengaruh timbal-balik yang kuat. Sehingga sense of belonging yang kuat membuat seseorang yakin, bahwa apa yang dilakukannya membawa pengaruh bagi perusahaan, dan apa yang dilakukan atau terjadi pada perusahaan akan mempengaruhi dirinya.

Sense of ownership, terjadi ketika seseorang menolak untuk play safe. Dengan semangat, antusiasme, dan tanggung-jawab mendedikasikan dirinya pada visi dan tujuan perusahaan. Pekerjaannya adalah hal yang penting baginya,  dan merupakan hal yang sungguh-sungguh ingin ia kerjakan. Ia memiliki sikap dan moral kerja seorang owner, jatuh-bangun perusahaan adalah pedih-bahagia baginya. Ia tidak dikuasai oleh situasi, melainkan menguasai situasi.
Ia terbuka terhadap bantuan orang lain, tidak takut mendelegasikan tugas, bersedia mempelajari hal-hal baru, dan peka terhadap intuisi. Ia menjadi sumber inspirasi yang mempersiapkan orang lain untuk menjadi lebih baik. Ia bersyukur untuk apa yang dimilikinya, dan ini bukan melulu tentang materi, namun mengenai kontribusi, pencapaian, dan kepuasan.

Baik entrepreneur maupun employee dapat memiliki kedua unsur di atas dalam derajat yang berbeda-beda.  Rendahnya kedua unsur tersebut dalam diri seseorang menjadikan ia  mediocre entrepreneur atau mediocre employee. Sebaliknya entrepreneur dan employee mencapai aktualisasi diri ketika memiliki kedua unsur ini sepenuhnya. Perusahaan yang tidak memiliki orang-orang dengan derajat yang memadai dari kedua unsur ini hanya akan menjadi mediocre enterprise. Perusahaan mencapai nilai terbaiknya ketika orang-orang didalamnya memiliki sense of belonging dan sense of ownership yang tinggi. (Investor)

Membangun Jiwa Kewirausahaan

posted Jun 22, 2011, 9:48 PM by NU Solihin   [ updated Jul 26, 2011, 7:17 PM ]

KATA PENGANTAR

Menjadi wirausaha atau tidak menjadi wirausaha, sesungguhnya  merupakan pilihan hidup. Tetapi pilihan yang tidak  didasari atas  pemahaman, pertimbangan dan pengetahuan yang luas dan mendalam  mengenai apa yang akan dilakukan, dapat menjadi awal yang tidak baik  jika ternyata pilihan tersebut di kemudian hari ternyata keliru. Pilihan  menjadi wirausaha merupakan alternatif yang paling menjanjikan untuk  kehidupan yang akan datang. Sayangnya pilihan menjadi wirausaha ini  belum begitu banyak tumbuh di kalangan generasi muda kita. Untuk itu  membangun jiwa kewirausahaan harus terus menerus dilakukan oleh siapapun yang peduli terhadap masa depan dirinya, keluarga dan  masyarakat.

 

Intensi menjadi wirausaha yang cukup tinggi, tidak  selalu diikuti oleh  perilaku wirausaha dalam bentuk mendirikan, mengelola, dan  mengembangkan usaha. Di sini ada faktor-faktor  lain yang menyebabkan  mengapa mereka hanya sekedar menginginkan tetapi tidak  berani ’memulai’ atau ’mewujudkannya’.

Modul pelatihan 1 (membangun jiwa kewirausahaan) ini merupakan  bagian dari Buku Materi Pelatihan Kewirausahaan yang dikembangkan  Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan Ditjen  PNFI.

Modul ini  disusun untuk membantu Instruktur Lembaga Kursus dalam mengembangkan pelatihan kewirausahaan di masing-masing lembaga  kursus. Namun demikian Modul ini juga dapat digunakan oleh siapa saja yang berminat membantu generasi muda dalam rangka membangun jiwa  kewirausahaan, mendorong mereka lebih termotivasi menjadikan dirinya

sebagai wirausaha. Dalam praktik di lapangan, motivasi yang tinggi saja  tidak cukup untuk menjadi wirausaha, tetapi tanpa motivasi juga tidak  mungkin mewujudkan wirausaha. Untuk itu setelah mempelajari modul  ini, diharapkan mampu membuka ’pintu’ hati yang masih terkunci untuk  menjadi wirausaha, kemudian terdorong untuk mewujudkannya dalam  bentuk perilaku nyata MEMULAI, MENDIRIKAN, MENGELOLA DAN  MENGEMBANGKAN USAHA untuk mewujudkan cita-citanya menjadi  manusia sukses dalam hidupnya melalui karir wiraus.

A. PENDAHULUAN

1. Komptensi Peserta Pelatihan

Membangun jiwa kewirausahaan harus dimulai dari adanya kesadaran  bahwa jiwa kewirausahaan dapat ditumbuhkan melalui berbagai cara dan  strategi. Wirausaha bukan semata-mata masalah bakat (meskipun bakat  tetap merupakan faktor penting), tetapi juga sebuah motivasi,  perjuangan dan keinginan yang kuat untuk mewujudkannya. Modul ini ditulis dengan menggunakan bahasa pelatihan. Prosedur pembelajaran  tergambar dengan jelas, mulai dari penjelasan tujuan pembelajaran,  pelaksanaan pembelajaran, sampai pada evaluasi dan refleksi.  Proses pembelajaran dikemas dalam suasana permainan, dan setiap permainan selalu mengandung makna yang relevan dengan nilai dan jiwa  kewirausahaan. Untuk memperjelas apa makna dan nilai dari setiap permainan, maka setelah permainan peserta diberikan materi penguatan  sehingga mereka mampu mengkonstruksikan sendiri apa yang diperoleh  selama mengikuti pelatihan dari modul 1. Materi penguatan yang  diberikan meliputi Kepribadian Wirausaha, Membangun Motivasi Sukses,  Revolusi Sikap Menjadi Entrepreneur, dan  Etika Bisnis.

 

Di bagian akhir  dipaparkan beberapa contoh orang-orang sukses yang merintis karir  dalam bidangnya masing-masing, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi  peserta dalam menekuni dunia wirausaha.  Dengan pemikiran tersebut maka kompetensi yang diharapkan bagi  peserta setelah mengikuti pelatihan ini adalah :

a.    Mampu menumbuhkan jiwa dan semangat kewirausahaan dalam  dirinya melalui : mengenal diri secara tepat, mengenal faktor-faktor  pendorong dan penghambat pengembangan jiwa dan semangat  kewirausahaan, mengenal ciri-ciri psikologis dan perilaku

b.    kewirausahaan, serta mengenal cara memotivasi diri menjadi  wirausaha.

c.    Mampu mengaplikasikan nilai-nilai kewirausahaan dalam kehidupan  sehari-hari dengan mengutamakan pada pengembangan kreativitas  dan inovasi.

d.    Memahami etika bisnis dan mampu menerapkan dalam praktik  wirausaha.

 

2. Strategi Pembelajaran

Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi pembelajaran yang ditempuh  adalah sebagai berikut :

a.    Penjelasan umum tentang skenario pembelajaran

b.    Permainan dan diskusi 

c.    Penguatan

d.    Penugasan

e.    Refleksi

f.     Penilaian

 

Rambu-rambu Pelaksanaan Pembelajaran Modul 1

Modul 1 merupakan bahan pelatihan dengan target utama untuk  mencapai kompetensi satu yaitu ’memiliki jiwa dan sikap positif terhadap  kewirausahaan sebagai pilihan karier’. Ada beberapa hal yang perlu  diperhatikan dalam mendalami modul 1 yaitu :

a.    Jumlah peserta dalam satu kelas (rombongan belajar) berkisar antara  30 – 50 orang

b.    Pelatihan ini dapat dilaksanakan ’in class’ atau ’out class’ atau  gabungan ’in class dan out class’. Pihak instruktur harus cermat dalam  mengelola kelas

c.    Jika pelatihan akan dilaksanakan ‘out class’ model out bound, maka  harus dipilih lokasi yang ada sedikit lapangan terbuka dengan banyak  pepohonan. Pohon-pohon itu akan digunakan untuk menempel  berbagai atribut dan sekaligus untuk berteduh ketika panas terik  matahari menyengat. Fasilitas waerless tentu harus disiapkan.

d.    Jika pelatihan ’in class’ maka posisi ruang kelas harus diusahakan 2  kali lebih luas dari kapasitas kursi 50 orang. Dikurangi banyak meja  dan tempat duduk yang mudah diubah untuk keperluan permainan.

e.    Jika semua materi dalam modul harus terbahas semua, pelatihan ini  sekurang-kurangnya membutuhkan waktu sekitar 6 – 8 jam. Jika  waktu yang disediakan kurang dari 6 jam, maka beberapa game harus  ditiadakan, atau gamenya tetap diselesaikan tetapi pembahasan dari setiap game, dapat dikurangi dan cukup dijadikan satu pada saat  evaluasi dan refleksi akhir pelatihan.

f.     Beberapa peralatan dalam pelatihan ini harus disediakan sebelumnya  secara memadai sesuai dengan jumlah peserta. Di antaranya :

1)        kertas karton/plano untuk kegiatan kelompok (minimal 15 lembar)

2)        spidol warna warni satu kelompok satu set

3)        papan untuk menempel kertas plano setiap kelompok satu papan (5 papan)

4)        pipa pralon ukuran ¼ dim 2 m sekurangnya 5 batang

5)        pipa pralon ukuran ¼ dim 30 cm sejumlah peserta

6)        bola plastik ukuran bola kaki sedikit lebih kecil (5 buah)

7)        sedotan plastik sejumlah peserta

8)        balon yang belum dibesarkan sejumlah peserta

9)        gelang karet sejumlah peserta

10)     telur ayam mentah 3 biji, sapu tangan

11)     gunting, pines, stepler, lim, isolasi, kertas secukupnya

g.    Selama proses pelatihan, Instruktur yang mengampu materi Modul 1  harus didampingi atau dibantu asisten instruktur sekurang-kurangnya  5 orang. Jika tidak tersedia, Instruktur akan meminta bantuan kepada  panitia yang ada sebagai asisten. 

h.    Pada sesi akhir, evaluasi dan refleksi dilakukan untuk mengetahui  respon peserta mengenai pelatihan yang sedang diikuti, baik proses  maupun hasil yang diperoleh. Peserta diajak untuk membangun  komitmen bersama mewujudkan cita-cita menjadi wirausaha yang  sukses.

 

B. URAIAN MATERI, CONTOH, DAN LATIHAN

Bagian 1 : Ice Breacking

1. Peserta duduk dengan bebas pada tempat yang tersedia

2. Instruktur melakukan langkah-langkah berikut :

(1) Ikuti permintaan Instruktur : semua berdiri di tempat, angkat tangan ke atas tinggi-tinggi, lepas kembali, mari kita nyanyikan lagu hallo-hallo bandung (bagi peserta ke dalam 3 kelompok dengan aaa, iii, uuu).

(2) Semua tetap dalam posisi berdiri dengan jarak sekitar  setengah lencang kanan. Marilah sekarang kita bermain  dengan otak kanan dan kiri. Ikuti contoh gerakan Instruktur.

a). Siapa namamu? ....  (ikuti gerakan tangan kanan)

b). Apa cita-citamu? ..... (ikuti gerakan tangan kiri)

c).  Siaaappp………….. (ikuti gerakan ke 2 tangan)

(3) Instruktur menjelaskan makna permainan tadi

(4) Sekarang, semua peserta keluar dari tempat duduk, cari  tempat yang mudah melakukan mobilitas. Ikuti perintah  Instruktur.

a). Bergabung dengan 5 orang (yang tidak dapat teman, maju untuk mengenalkan diri). Lainnya diberi waktu 2 menit untuk saling mengenal.

b). mencari kenalan sebanyak-banyaknya (5 menit) mencatat nama, asal, dan latar pendidikan. Peserta dengan jumlah kenalan terbanyak dan tersedikit diminta maju untuk menjelaskan bagaimana strategi yang ditempuh masingmasing.

c). Bergabung dengan 9 orang (yang tidak dapat teman,  disuruh maju memperkenalkan diri), yang lain diberi waktu 3 menit untuk saling mengenal. 

 

Bagian 2 : Permainan/Game I (Who am I)

1.     Semua peserta dibagikan form isian atau lembar kerja untuk menuliskan : binatang apa yang paling disukai, dan mengapa ia menyukai binatang tersebut (nilai dari binatang). Lembar kerja 1 terlampir. 

2.     Peserta secara acak diminta menyajikan hasil tulisannya, dan peserta yang lain, diminta memberikan komentar atas pilihan tersebut.

3.     Peserta diminta berkelompok dengan 2 orang, diutamakan yang sudah saling mengenal dengan baik. Pertama, peserta diminta menuliskan kekuatan dan kelemahan dirinya secara jujur dalam kolom lembar kerja yang telah disediakan. (Lembat kerja 2a, dan 2b terlampir). Kedua, Peserta diminta saling menuliskan kelebihan dan kekurangan teman yang menjadi pasangannya dalamNkelompok. Setelah itu secara acak, berikan kesempatan untuk  memaparkannya dengan catatan mereka tidak boleh tersinggung.

 

Bagi yang tidak bersedia, jangan dipaksakan. Dari lembar kerja tersebut, selanjutnya diskusikan mengapa terdapat perbedaan persepsi antara dirinya dengan orang lin tentang dirinya sendiri?.

 

Bagaimana cara mengatasi perbedaan tersebut?

4. Jika sudah selesai, Instruktur mencoba membuat rumus Johary  window yang intinya ada wilayah terbuka dan tertutup. Jika anda ingin maju dan berkembang, maka harus ada keberanian untuk  mebuka bagian-bagian yang tertutup.

a. Kuadran 1 : area bebas, diri sendiri tahu orang lain tahu

b. Kuadran 2 : area buta, diri sendiri tidak tahu, orang lain tahu

c. Kuadran 3 : area tersembunyi (tidak jujur), diri sendiri tahu, orang lain tidak tahu

d. Kuadran 4 : area asing (tidak diketahui), diri sendiri tidak tahu orang lain tidak tahu

 

LEMBARAN KERJA 1 (binatang yang paling disukai):

 

BINATANG YANG PALING DISUKAI

ALASAN

(Tulis alasan sekurang-kurangnya 3 alasan)

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBARAN KERJA 2.a (mengenal diri)

Nama (Kode Nama) : …………………………………………………………….

 

Kekuatan/ Kelebihan saya

(Menurut saya)

Kekurangan/Kelemahan saya

(Menurut Saya)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBARAN KERJA 2.b (mengenal diri)

Nama (Kode Nama) : …………………………………………………………….

 

Kekuatan/ Kelebihan saya

(Menurut orang lain)

Kekurangan/Kelemahan saya

(Menurut orang lain)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIK ANALISIS SWOT

(kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) Setelah anda mengetahui diri anda menurut anda dan menurut orang lain, coba buatlah analisis kekuatan,kelemahan, peluang dan ancaman untuk  MENJADI WIRAUSAHA (individual)

 

Faktor Internal (dari dalam diri sendiri)

Faktor Ekternal (dari luar dirinya

Kekuatan

Kelemahan

Peluang

Ancaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari SWOT yang anda buat tersebut, apa yang dapat anda simpulkan?

Apakah Anda cukup berpeluang untuk menjadi wirausaha? Apa pula yang harus anda lakukan agar anda berhasil dalam berwirausaha?. Pertanyaan ini dapat Anda kerjakan di rumah (PR) dan dilaporkan pada hari berikutnya. 

 

Bagian 3 : Permainan/Game II 

1.         Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok (sekitar 5 – 10 orang per kelompok). 

2.         Peserta diajak menyanyikan lagu ’burung kakak tua’ (satu grup) dan ’topi saya bundar’ (satu grup sisanya). Mereka diteliti siapasiapa yang mudah terpengaruh akhirnya mengikuti nyanyian grup yang lain.

3.         Setiap kelompok disediakan kertas karton dan spidol untuk menuliskan sebanyak-banyaknya faktor-faktor yang mungkin menjadi penghambat dan pendorong pengembangan jiwa kewirausahaan.

4.         Setelah  beberapa saat (sekitar 15 menit), mereka diminta menempelkan kertas karton yang telah diisi tersebut ke tembok atau tempat lain yang tersedia dan mudah dibaca.

5.         Tiap kelompok diminta memaparkan hasil diskusi tersebut dan kelompok lain saling menanggapi. 

6.         Selanjutnya instruktur memberikan penguatan dan pendalaman materi yang relevan.

 

Bagian 4: Permainan/Game III 

1.            Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok (sekitar 5 – 10 orang per kelompok) – gunakan kelompok sebelumnya yang sudah berjalan.

2.            Peserta diminta melakukan permainan ‘tiup balon dengan sedotan’. 

3.            Dari permainan tersebut peserta diminta mengambil manfaat nilai-nilai apa yang dapat diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. 

4.            Setiap kelompok disediakan kertas karton dan spidol untuk menuliskan sebanyak-banyaknya ciri-ciri dan karakteristik jiwa dan perilaku kewirausahaan sesuai dengan yang mereka fahami.

5.            Setelah  beberapa saat (sekitar 15 menit), mereka diminta menempelkan kertas karton yang telah diisi tersebut ke tembok atau tempat lain yang tersedia dan mudah dibaca.

6.            Tiap kelompok diminta memaparkan hasil diskusi tersebut dan kelompok lain saling menanggapi. 

7.            Selanjutnya instruktur memberikan penguatan dan pendalaman materi yang relevan.

 

Bagian 5: Permainan/Game IV

1.           Peserta tetap dalam kelompoknya diminta berbaris. Pada saat ini instruktur menghitung dengan teori Bus. Setelah itu dilanjutkan dengan permainan SANG MOTIVATOR MEMINTA.

2.           Setelah selesai peserta diminta duduk kembali, dan diminta apa elajaran yang dapat dipetik dari game tersebut.

3.           Instruktur memberikan penguatan dan pendalaman materi yang relevan.

4.           Peserta diberikan kesempatan beristirahat.

 

C. PENGUATAN DAN PENDALAMAN MATERI

1. KEPRIBADIAN WIRAUSAHA

Hasil studi seorang pakar kewirausahaan Indonesia Sukardi (1991) menyimpulkan adanya sifat-sifat umum wirausaha:

1)           Sifat instrumental, yaitu tanggap terhadap peluang dan kesempatan berusaha maupun yang berkaitan dengan perbaikan kerja

2)           Sifat prestatif, yaitu selalu berusaha memperbaiki prestasi, mempergunakan umpan balik, menyenangi tantangan dan berupaya agar hasil kerjanya selalu lebih baik dari sebelumnya

3)           Sifat keluwesan bergaul, yaitu selalu aktif bergaul dengan siapa saja, membina kenalan-kenalan baru dan berusaha menyesuaikan diri dalam berbagai situasi

4)           Sifat kerja keras, yaitu berusaha selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak mudah menyerah sebelum pekerjaan selesai. Tidak pernah memberi dirinya kesempatan untuk berpangku tangan, mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan, dan memiliki tenaga untuk  terlibat terus menerus dalam kerja

5)           Sifat keyakinan diri, yaitu dalam segala kegiatannya penuh optimisme bahwa usahanya akan berhasil. Percaya diri dengan bergairah langsung terlibat dalam kegiatan konkrit, jarang terlihat ragu-ragu.

6)           Sifat pengambil resiko yang diperhitungkan, yaitu tidak khawatir akan menghadapi situasi yang serba tidak pasti di mana usahanya belum tentu membuahkan keberhasilan. Dia berani mengambil resiko kegagalan dan selalu antisipatif terhadap kemungkinan-kemungkinan kegagalan. Segala tindakannya diperhitungkan secara cermat.

7)           Sifat swa-kendali, yaitu benar-benar menentukan apa yang harus dilakukan  dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri

8)           Sifat inovatif, yaitu selalu bekerja keras mencari cara-cara baru untuk memperbaiki kinerjanya. Terbuka untuk gagasan, pandangan, penemuan-penemuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerjanya. Tidak terpaku pada masa lampau, gagasangagasan  lama, tetapi berpandangan ke depan dan mencari ide-ide baru

9)           Sifat mandiri, yaitu apa yang dilakukan merupakan tanggung jawab pribadi. Keberhasilan dan kegagalan dikaitkan dengan tindakantindakan pribadinya. Dia lebih menyenangi kebebasan dalam mengambil keputusan untuk bertindak dan tidak mau bergantung  pada orang lain.

 

SIFAT-SIFAT UNGGUL WIRAUSAHA

Dari berbagai studi ilmiah tentang kewirausahaan, ditemukan sedikitnya terdapat 19 sifat penting wirausaha. Dari 19 sifat tersebut dikelompokkan menjadi 6 sifat unggul dari wirausaha:

1.         Percaya diri, terdiri atas sifat yakin, mandiri, individualitas, optimisme, kepemimpinan, dan dinamis

2.         Originalitas,  terdiri atas sifat inovatif, kreatif,  mampu mengatasi masalah baru, inisiatif, mampu mengerjakan banyak hal dengan baik, dan memiliki pengetahuan

3.         Berorientasi manusia, terdiri atas sifat suka bergaul, fleksibel,  responsif terhadap saran/kritik

4.         Berorientasi hasil verja, terdiri atas sifat ingin berprestasi, berorientasi keuntungan,  teguh, tekun, determinasi, verja keras, penuh semangat dan penuh energi

5.         Berorientasi masa depan, terdiri atas sifat pandangan ke depan, dan ketajaman persepsi

6.         Berani ambil resiko, terdiri atas sifat mampu ambil resiko, suka tantangan.

 

CIRI WIRAUSAHA BERHASIL

Ketika seorang telah memasuki dunia usa (praktik bisnis), factorfaktor kepribadian juga tetapmemegang peranan penting sebagai pendorong keberhasilan wirausaha. Menurut studi yang dilakukan di AS terhadap para pelaku usa kecil, ditemukan bahwa setidaknya ada 9 ciri wirausaha yang berhasil, yang dibagi ke dalam tiga kategori :

1.         Ciri proaktif, yaitu inisiatif yang tinggi dan asertif

2.         Ciri orientasi prestasi, yaitu melihat desempatan/peluang dan bertindak langsung, orientasi efisiensi, menekankan pekerjaan dengan koalitas tinggi, perencanaan yang sistematis, dan melakukan monitoring

3.         Ciri komitmen, yaitu komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan, dan menyadari pentingnya hubungan bisnis yang mendasar.

 

TIPE KEPRIBADIAN WIRAUSAHA

Seorang ahli kepribadian, Miner (1996)  mengajukan sebuah pandangan baru tentang tipe kepribadian wirausaha dikaitkan dengan kemungkinan keberhasilan dalam mengelola usaha.

 

1. Tipe personal achiever, mereka memiliki ciri-ciri wirausaha

sebagai berikut :

a.           memiliki kebutuhan berprestasi

b.           memiliki kebutuhan akan umpan balik

c.           memiliki kebutuhan perencanaan dan penetapan tujuan

d.           memiliki inisiatif pribadi yang kuat

e.           memiliki komitmen pribadi yang kuat untuk organisasi

f.            percaya bahwa satu orang dapat memainkan peran penting

g.           percaya bahwa pekerjaan seharusnya dituntun oleh tujuan pribadi bukan oleh hal lain

 

2. Tipe supersalesperson, mereka memiliki ciri ciri-ciri wirausaha sebagai berikut :

a.            memiliki kemampuan memahami dan mengerti orang lain

b.            memiliki keinginan untuk membantu orang lain

c.            percaya bahwa proses-proses sosial sangat penting

d.            kebutuhan memiliki hubungan positif yang kuat dengan orang lain

e.            percaya bahwa bagian penjualan sangat penting untukmelaksanakan strategi perusahaan

 

3. Tipe real managers, mereka memiliki ciri-ciri wirausaha sebagai berikut :

a.            keinginan untuk menjadi pemimpin perusahaan

b.            ketegasan

c.            sikap positif terhadap pemimpin

d.            keinginan untuk bersaing

e.            keinginan berkuasa

f.             einginan untuk menonjol di antara orang lain

 

4. Tipe expert idea generador, mereka memiliki ciri-ciri wirausaha sebagai berikut :

a.            keinginan untuk melakukan inovasi

b.            menyukai gagasan-gagasan

c.            percata bahwa pengembangan produk baru Sangay  penting untuk menjalankan strategi organisasi

d.            inteligensi yang tinggi

e.            ingin menghindari resiko dalam arti sifat kehati-hatian

 

Dari ke empat tipe tersebut, menurut Miner (1996), tipe kepribadian akan menentukan bidang usaha apa yang akan membawanya kepada keberhasilan.

1.            Tipe personal achiever, akan sukses bila terus menerus menghadapi rintangan dan  menghadapi crisis, dan dalam menghadapi segala hal berusaha sedapat mungkin bersikap positif.

2.            Tipe supersalesperson, mereka akan berhasil kalau memanfaatkan banyak waktunya untuk mensual dan minta orang lain mengelola bisnisnya

3.            Tipe real managers, mereka akan berhasil kalau ia memulai usaha baru dan mengelolasendiri usaha tersebut 

4.            Tipe expert idea generador, mereka akan berhasil kalau terjun ke bisnis dengan teknologi tinggi.

 

2. MEMBANGUN MOTIVASI SUKSES

Umur berapa rata-rata orang memulai berwirausaha? Salah satu studi yang dilakukan terhadap para entrepreneur yang telah berhasil dalam dunia bisnis di negara maju, diketahui bahwa usia rata-rata mereka memulai bisnis adalah sbb :

 

No

Usia mulai wirausaha

Prosentase

1

<20 tahun

1%

2

20-24 tahun

8%

3

25-29 tahun

17%

4

30-34 tahun

21%

5

35-39 tahun

18%

6

40-44 tahun

15%

7

45-49 tahun

9%

8

50-54 tahun

7%

9

>54 tahun

4%

 

 

Dari data tersebut kebanyakan orang berwirausaha berada di kelompok usia 25 tahun – 44 tahun. Anda belum terlambat untuk meraih kesuksesan melalui karir kewirausahaan. 

 

Setiap orang kalau ditanya pasti ingin sukses dalam hidupnya. Tetapi ketika kita mencoba melakukan telaah apa yang biasa dilakukankebanyakan orang, ternyata sebagian besar dari mereka membungkus diri dengan kesulitan. Mereka tidak sadar sesungguhnya banyak hal yang bisa dilakukan tetapi mereka tidak melakukan. Banyak hal yang mereka harus tidak melakukan (karena hal itu dapat merusah motivasi) tetapi malah ia lakukan. Itulah yang saya sebut sebagai membungkus diri dengan kesulitan. Coba perhatikan kasus di bawah ini.

 

Seorang pengusaha (sebut saja Pak Indra) yang mengalami kebangkrutan, mereka kemudian merenungkan dan mencoba mencari sebab-sebab kegagalan. Pada satu waktu akhirnya Pak Indra menyadari dan menemukan ternyata salah satu sebab kegagalannya adalah dia teledor kurang kontrol terhadap karyawan yang memegang bagian keuangan. Karena dia menemukan faktornya, akhirnya ia bersemangat lagi mencari peluang bisnis baru dan mengelolanya dengan lebih hati-hati dan teliti serta kontrol yang jelas.

 

Seorang pengusaha yang lain mengalami nasib yang sama (sebut saja Pak Anton) gagal dalam bisnis. Pak Anton kecewa berat dengan kegagalan bisnisnya ini. Untuk menutup kecewanya dan juga rasa malu kepada orang lain, keluarga, relasi dan juga konsumen, maka dia mengambil sikap menutup diri di rumah dan jarang ke luar rumah. Sampai beberapa lama ia tidak lagi bangkit dan memilih menjadi pengangguran.  Amati kemacetan kota Jakarta yang tidak mengenal ampun. Sebagian orang ’ngedumel’ dan memaki-maki, sebagian lagi menjalaninya sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Apa yang bisa ditarik dari dua contoh kasus tersebut?. Yang membuat kejadian menjadi masalah sebenarnya bukannya kejadian itu sendiri, tetapi bagaimana kita mempersepsikan kejadian. Jadi kuncinya terletak pada jendela persepsi. Persepsi tidak hanya menjadi pencipta dan pemusnah masalah, tetapi ia juga bisa menghadirkan gembok kokoh yang susah dibuka.

 

Gede Prama (2004) dalam bukunya Sukses dan Sukses, mencontohkan bahwa kata-kata seperti: tidak bisa, tidak mungkin, tidak berpengalaman, tidak berpendidikan, tidak cukupumur, terlalu tua, tidak pernah mencoba, tidak cocok, tidak punya bakat adalah sebagian kecil deretan gembok yang diproduksi ’persepsi’.  Kokoh tidaknya gembok terakhir memang sangat relatif, dan bisa tidaknya kita keluar dari sini lebih banyak ditentukan oleh ketekunan dan keyakinan yang bersangkutan.

 

Bill Gates hanyalah seorang manusia yang sekolahnya tidak selesai, namun prestasinya melewati banyak sekali manusia sekolahan. Cory Aquino  hanyalah seorang perempuan biasa yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, tetapi mampu mengubah sejarah Filipina secara meyakinkan. Singapura hanyalah sebuah pulau kecil dengan penduduk yang kecil juga, namun ia mampu menguasai ekonomi regional dan mempengaruhi negara-negara lain yang jauh lebih besar dalam banyak hal. Anthony Robbins adalah seorang anak muda yang berpenyakit sejak lahir, namun menjadi kaya raya karena bangkit dan kemudian ’membagi’ ilmu kebangkitannya kepada orang lain..

 

Kenji Eno adalah anak muda belum berusaia 30 tahun yang putus sekolah saat SMU, sekarang oleh Business Week disebut sebagai bintang asia ’dewa’ industri game.

 

Apa yang menjadi kunci dari semua keberhasilan itu. Menurut Gede Prama (2004) setidaknya empat hal harus menjadi perhatian :

1.    To dream the impossible dream. Milikilah keberanian untuk bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik. Ingat, mimpi, citacita dan sejenis adalah pompa yang membuat kehidupan berdenyut penuh semangat.

2.    The power of consistency. Lihatlah air yang menetesi batu yang sama terus menerus, ternyata berbekas juga kan. Demikian juga dengan keberhasilan dan kemajuan.

3.    Bermain-main dengan ide. Tidak ada yang tidak mungkin bagi manusia yang beranibermain-main dengan ide. Lebih-lebih bila ditambah dengankeberanian untuk melaksanakannya.

4.    Banjiri diri anda dengan dunia yang penuh kemungkinan–kemungkinan. Ia bisa dilakukan dengan membaca, melihat mencoba, dan positive self talk.Keyakinan diri, kemauan yang kuat, motivasi sukses dapat dibangun dengan merenungi kalimat-kalimat dan baik-bait berikut ini:

• Hari ini aku bekerja di tempat orang

• Besok lusa orang bekerja di tempat aku

• Hari ini memeras keringat menjemur diri

• Besok lusa berada di ruang ber AC

• Hari ini aku mengharap belas kasih

• Besok lusa aku memberi belas kasih

• Hari ini aku diperintah

• Besok lusa aku memerintah

• Hari ini aku menjadi makmum ekonomi

• Besok lusa aku menjadi imamnya

• Hari ini aku menerima zakat

• Besok lusa aku pembayar zakat

• Hari ini aku nyadong gaji

• Besuk luas aku membayar gaji

• Hari ini aku menjadi  kuli kasar

• Besok lusa bergelar majikan dan saudagar

 

Menurut para ahli psikologi, sukses bukan hasil akhir. Sukses berarti proses terus menerus menjadi lebih, baik secara fisik, intelektual, emosional, sosial, finansial, maupun spiritual, sambil berkontribusi secara positif bagi orang lain (Anthony Robbins). Sementara itu Jen Z.A. Han mengartikan ’sukses adalah perwujudan progresif tujuan-tujuan yang berharga. Sukses adalah perjalanan progresif, bukan tujuan akhir yang mau dicapai. Jadi kata kuncinya ’sukses adalah proses menjadi .... (lebih baik), yaitu pencapaian progresif tujuan-tujuan yang berharga, bukan tujuan akhir yang ingin dicapai. Untuk menjadi sukses orang harus : 

1.      MENYADARI : arti sukses, nilai potensi diri, nilai potensi orang lain, nilai waktu. Sukses adalah akibat dari sebab-sebab yang kita lakukan. Tidak ada sukses tanpa tindakan-tindakantertentu yang mengawalinya.

2.      MENGINGINKAN : keinginan yang terumuskan secara jelas dalam bentuk target2 yangcukup berharga untuk diperjuangkan, akan mampu menggerakkan kita menuju hasil akhir sukses.

3.      MEMPERJUANGKAN : lima unsur (1) antusiasme (semangat dan motivasi), (2) komitmen, (3) tindakan nyata (4) ulet, tidak mudah putus asa (5) do’a. 

 

MENGAPA IA SUKSES DAN SAYA TIDAK tergantung beberapa sebab.

a.  Hambatan dalam memaknai ‘SUKSES’

b.  Hambatan pribadi (kemampuan, motivasi)

c.   Hambatan lingkungan (keluarga, masyarakat, pemerintah, organisasi, adat istiadat,dll)

d.  Hambatan dalam mengelola Sumber Daya (kerjasama, sistem organisasi, jaringan,peluang, sarana prasarana, orang, dll. 

 

Anda termasuk tipe yang mana dari 4 tipe orang sukses di bawah ini 

1.     TIDAK PUNYA TEORI DAN TIDAK MELAKUKAN BANYAK HAL : mereka adalah miskin kesadaran, miskin pengertian, miskin tindakan. Hidup tak terarah.

2.     PUNYA TEORI TIDAK DIPRAKTIKKAN : ada potensi, tetapi tidak digunakan. Hidup merekabiasa-biasa saja

3.     TIDAK PUNYA TEORI TETAPI MELAKUKAN TINDAKAN : mereka digerakkan oleh kekuatan dari dalam, motivator sejati, mereka adalah otodidak

4.     PUNYA TEORI DAN MEMPRAKTIKKAN : kondisi ideal yang diinginkan semua orang. Mereka adalah orang sukses sejati. 

 

PENYEBAB HILANGNYA MOTIVASI

1.     Selalu berpikir negatif

2.     Perasaan tidak berharga

3.     Suasana kerja 

4.     Penghargaan (reward)

5.     Keadilan dan partisipasi

6.     Tidak adanya kedisiplinan

 

MILIKI 8 KEBIASAAN MANUSIA EFEKTIF

1.  proaktif, bukan menunggu

2.  Berorientasi pada tujuan

3.  Bekerja berdasarkan prioritas

4.  Berpikir ‘win-win’ (integritas, dewasa, positif)

5.  ‘give and receive’ bukan ‘take and give’

6.  Bersinergi, bekerjasama

7.  Selalu melakukan perbaikan diri

8.  Menggunakan energi spiritual

 

MILIKI ETOS KERJA SUKSES

1.    Sanggup bekerja benar (kerja itu suci, kerja sebagai panggilan)

2.    Sanggup bekerja keras (kerja itu sehat, kerja sebagai aktualisasi diri)

3.    Sanggup bekerja tulus (kerja itu rahmat, kerja sebagai tanda terima kasih/syukur)

4.    Sanggup bekerja tuntas (kerja itu amanah, kerja merupakan tanggung jawabku)

5.    Sanggup bekerja kreatif (kerja itu seni, kerja sebagai kesukaan)

6.    Sanggup bekerja serius (kerja itu ibadah, kerja sebagai pengabdian)

7.    Sanggup bekerja sempurna (kerja itu mulia, kerja merupakan sebuah pelayanan)

8.    Sanggup bekerja unggul (kerja itu kehormatan, kerja sebagai kewajiban). 

 

Bagian 6 : Aplikasi Nilai-Nilai Kewirausahaan 

Pada bagian 6 ini, peserta diajak untuk mencoba mempraktikkan berbagai cara memecahkan masalah dengan cara yang kreatif, jujur dan benar. Langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain :

  1. Peserta dikelompokkan dalam kelompok lama atau baru yang penting jumlahnya 9 – 10 orang.
  2. Permainan pertama adalah mereka diminta bergandengan tangan dengan salingmemegang telapak tangan dalam format lingkaran (ada baiknya antara pria dan wanita tidak dicampur dalam satu kelompok).
  3. Mereka diminta untuk memutar badan tanpa melepaskanpegangan telapak tangansampai dia bisa melakukan dengan baik. Kelompok yang berhasil lebih dulu diberikan reward tertentu.
  4. Permainan yang kedua adalah ’flying stake’ (ukuran panjang 2 m).
  5. Permainan ketiga adalah menyambungkan ’stake’ antar peserta (ukuran pendek 30 cm).]
  6. Permainan yang keempat mengambil bola dan melemparkan ke kelompok lain.
  7. Permainan yang kelima adalah pecah telur di atas kepala (cari relawan/peserta  yang berani ambil resiko)
  8. Dari permainan pertama hingga ke empat tersebut, selanjutnya peserta diminta untuk mengidentifikasi nilai-nilai kewirausahaan apa yang dapat dipetik dan menuliskannya ke dalam kertas karton sebagai kerja kelompok.
  9. Tiap kelompok memaparkan hasil diskusi, dan instruktur mencoba merangkum dari pendapat peserta.
  10. Instruktur memberikan penguatan dan pendalaman materi yang relevan dengan game yang dilakukan. 

 

3. REVOLUSI SIKAP MENJADI ENTREPRENEUR

Apakah Anda ingin kaya? Kalau ya, ada tiga cara menjadi kaya (Dion Alexander Nugraha, 2008), yaitu (1) mewarisi uang, (2) menikahi orang kaya, dan (3) menghasilkan uang. Untuk yang nomor 1 dan 2, barangkali tergantung pada nasib. Tetapi untuk yang ketiga, sesungguhnya merupakan peluang yang dapat diperjuangkan bagi setiap orang. Kaya  tidak harus secara materi, tetapi juga pribadi yang kaya yang dapat mengembangkan kekuatan diri sendiri tanpa batas untuk mencapai sesuatu.

Menurut Dion (2008) dalam bukunya yang berjudul 8 Revolusi Sikap Menjadi Entrepreneur, ditegaskan bahwa jika Anda  seorang pemilik usaha kecil yang ingin berkembang, seorang wiraswasta berprospek, seorang yang ingin mendaki tangga karir, atau bahkan seorang yang

belum memutuskan arah mana yang hendak diambil, maka 8 revolusi sikap menjadi entrepreneur, perlu mendapatkan perhatian.

1.    Berani mencoba (memulai)

2.    Sikap terhadap uang (pengendalian dalam penggunaan uang)

3.    Mematahkan mitos (untuk menjadi kaya kita harus terlahir kaya, kita harus cemerlang secara akademis, semua itu hanyalahkeberuntungan, latar belakang keluarga yang mapan, harus memiliki kepribadian sesuai dengan tren yang diinginkan, kita harus muda agar kita sukses, kita harus melakukan kejahatan agar kaya). Semua mitos tersebut hatus dipatahkan

4.    Kekuatan dalam sebuah kegagalan (kegagalan adalah guru yang terbaik, kegagalan akan membuat Anda mengubah tindakan, kegagalan akan membuat lebih berhati-hati, kegagalan membuat kita lebih waspada

5.    Miliki motivasi diri

6.    Deklarasi sikap dengan perkataan. Untuk membangun jiwa kewirausahaan, Dion menawarkan model deklarasi sikap yang diberi nama ’Successibility thinking’ Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Gerry Robert, yaitu menggambarkan suatu sikap menolak untuk menyerah, tindakan atau aksi yang harus dikerjakan tanpa henti. Ada 31 deklarasi sikap yang harus diucapkan terus menerus setiap saat. Di antaranya adalah :

7.    Saya adalah orang hebat; Saya bisa karena saya berpikir saya bisa;  Saya orang kuat; Saya percaya segalanya dimungkinkan; Saya mengawalinya dengan senyum; Saya adalah orang yang optimis; Saya adalah orang yang selalu berpikir positif; Saya menikmati hidup, meskiterkadang musibahmenimpa; Saya akan maju terus; Saya akan mengisi hidup saya segala dengan hal yang positif; Tidak ada orang yang sempurna termasuk saya; Saya bagaikan memiliki berlian di dalam diri saya; Saya orang yang penuh komitmen; Saya adalah orang yang memiliki daya imajinasi tanpa batas; Dst. 

8.    Sadar akan kelemahan diri

9.    Konsisten dan ’action’. Di samping itu ada 5 sikap dasar yang harus kita miliki dalam berusaha, apapun jenis usaha atau pekerjaan yang harus dilakukannya.

1. Disiplin

2. Kejujuran

3. Tanggung jawab

4. Tekun dan fokus

5. Keseimbangan hubungan antar sesama dan Tuhan sebagai sumber apapun.

 

4. KEUNTUNGAN BERWIRAUSAHA

Setelah mempelajari berbagai aspek dari kewirausahaan, kita dapat membuat sebuah deskripsi tentang keuntungan dan kerugian berwirausaha dibandingkan dengan menjadi pekerja pada orang lain. Perbandingan Keutnungan dan Kerugian Berwirausaha  dibanding dengan menjadi Pekerja

Keuntungan dan kerugian

Wirausaha

Pekerja

Keuntungan / kekuatan

Tidak tergantung orang lain

Bergantung pada orang lain

Mengambil keputusan sendiri

Tidak mengambil keputusan

Kreativitas dan ide untuk maju berkembang terus

Kreativitas tergantung lingkungan kerja

Loyalitas terhadap pekerjaan

Loyalitas terhadap pimpinan

Pendapatan dirancang sendiri (Besarnya pendapatan diatur sendiri)

Pendapatan ditentukan orang lain

 

Bebas dalam mengatur irama pekerjaan

Bekerja berdasarkan tekanan dan keteraturan (tidak bebas)

Mengendalikan orang lain

Dikendalikan orang lain

Pleksibel dalam waktu dan tempat

Kaku baik tempat maupun waktu kerja

Aturan sederhana

Aturan ketat

Birokrasi pendek dan mudah

Birokrasi panjang dan rumit

Prestasi pegawai dihargai berupa bonus taunan (Tantiem) dan lainnya

Orang yang berprestasi dengan orang yang tidak berprestasi cenderung dihargai sama

Berpeluang besar menjadi orang kaya

Sulit menjadi orang kaya

Kerugian / kelemahan

Kalau ada resiko ditanggung sendiri

Kalau ada resiko ditanggung oleh kantor atau perusahaan

Mungkin mudah berganti bidang bisnis

Cenderung tetap dalam satu bidang

Butuh modal atau sumber daya yang harus disiapkan sendiri

Modal atau sumberdaya disiapkan perusahaan

Dibutuhkan kemampuan membaca dan keberanian mengambil peluang yang tumbuh dimasyarakat untuk pengembangan usaha

Kemampuan membaca peluang tidak dituntut bagi karyawan

Jika tidak pintar pengendalian uang sendiri, beresiko gagal usaha dan kebangkrutan

Pengendalian uang ditangan perusahaan


Berdasarkan deskripsi di atas, cobalah Anda pikirkan, dan kemudian buatlah daftar tambahan tentang keuntungan dan kerugian berwirausaha dibandingkan dengan menjadi karyawan atau pekerja bagi orang lain.
 

 Bagian 7 : Refleksi dan Evaluasi 
Setelah semua permainan selesai dilakukan, peserta diminta duduk secara bebas di kursi atau di lantai, atau di lahan rumput. Instruktur memancing peserta untuk melakukan refleksi dan evaluasi atas semua permainan yang dilakukan. Hasil dari refleksi dan evaluasi ini, sebaiknya dirangkum ke dalam kertas plano/karton besar untuk dijadikan pendorong, komitmen dan motivasi berwirausaha. Mereka diminta untuk mengucapkan secara serentak nilai-nilai dan jiwa kewirausahaan itu sehingga menjadi terinternalisasi ke dalam dirinya. Antara lain :

1)          pencari peluang

2)          memulai

3)          berani ambil resiko dan bertanggung jawab

4)          kreatif inovatif

5)          disiplin dan menghargai waktu

6)          kerja keras, fokus

7)          ulet dan tidak mudah putus asa

8)          menghargai uang, hemat dan menabung

9)          motivasi untuk berprestasi’

10)       mengutamakan nilai tambah

11)       internal locus of controll

12)       kerjasama

13)       optimalisasi sumber daya.

14)       dll

 

            Setelah itu mereka diminta melakukan evaluasi secara terbuka halhal sebagai berikut :

1.    apakah melalui permainan dapat dipetik manfaatnya

2.    apakah permainan-permainan tersebut menarik untuk dikembangkan

3.    apakah manfaat permainan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

4.    apakah mereka sekarang merasa lebih tertarik untuk menjadi wirausaha?

5.    apakah pelatihan ini ada manfaatnya

6.    apa yang akan anda lakukan setelah ini Bagian 8 : Memahami dan menerapkan Etika Bisnis 

1)   Peserta dibagi menjadi 6 kelompok. Setiap kelompok diminta mengidentifikasi danmerumuskan bentuk-bentuk sifat, kebiasaan, dan /atau perilaku wirausaha yang termasuk beretika dan kurang/tidak beretika (etika bisnis)

2)         Kelompok 1 : etika dalam memilih jenis produk usaha yang akan dikembangkan

3)         Kelompok 2 : etika dalam mengelola usaha

4)         Kelompok 3 : etika terhadap konsumen

5)         Kelompok 4 : etika terhadap sesama pengusaha

6)         Kelompok 5 : etika terhadap lingkungan sosial dan pemerintahan

7)         Kelompok 6 : etika terhadap investor dan lembaga keuangan

 

Setelah diberikan waktu sekitar 45 menit, mereka diminta memaparkan hasil diskusi kelompok dan menuliskannya dalam kartonuntuk dipajang di dinding. Instruktur memberikan penajaman-penajaman dan menambah penguatan materi sesuai kebutuhan.

5. ETIKA BISNIS

Etika merupakan pedoman moral dalam kehidupan manusia yang akan membimbing manusia untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Oleh karena itu dalam berbisnis, etika harus ditegakkan. Jika dalam bisnis tidak lagi memperhatikan etika, maka perusahaan itu cepat atau lambat, pasti akan menuju kepada kehancurannya.  Banyak contoh praktik-praktik kotor dalam dunia bisnis yang akhirnya membawa kehancuran.  Maraknya KKN antara politisi dan pengusaha, praktik suap dan markup, menyogok pejabat untuk mendapatkan proyek, mendirikan bank untuk mengeruk uang rakyat dan kemudian digunakan untuk membiayai bisnis group, serta tindakantindakan mengelabui bank  (Yopi Hendra dan Deny Riana, 2008). Belum lagi persaingan usaha yang cenderung saling menjatuhkan, konsumenlah akhirnya yang  dirugikan. Bisnis yang tidak beretika pada level apapun akan berujung pada kehancuran. Karena itu agar bisnis bertahan dan berkembang dengan baik, etika bisnis harus ditegakkan. 

Falsafah etika bisnis, antara lain dapat merujuk ke ayat Al Qur’an Al Jum’ah (10) ’Dan apabila selesai sholat, maka hendaklah kamu bertebaran di muka bumi, dan carilah karunia Allah (rizki) dan ingatlah sebanyak-banyaknya kepada Allah, agar kamu mendapatkan kejayaan. Jadi bisnis (mencari rizki) harus selalu disertai mengingat (dzikir) kepada Allah, karena dzikir atau ingat kepada Allah akan mengendalikan diri dari kemungkinan melanggar etika bisnis. Dengan ingat kepada Allah ’kejayaan’ (sukses) dijamin oleh Allah akan dapat diraih. Falsafah lain tentang etika bisnis dapat ditemukan dalam Q.S. Alqosos  (77) : Dan carilah dalam karunia yang Allah berikan kepadamu itu kebahagiaan di akherat, tetapi jangan lupa mencari kebahagiaanmu di dunia, dan berbuat baiklah kepada sesama manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kalian. Dan janganlah berbuat kerusakan di muka bumi. Kesimpuilannya mencari kebahagiaan (kesuksesan dalam berbisnis) harus disertai dengan berbuat baik kepada sesame manusia dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Ini adalah bagian dari etika bisnis.

Etika bisnis merupakan bagian dari proses menegakkan dan membangun sebuah peradaban. Mahatma Gandi pernah berucap, bahwa ada 7 macam dosa yang jika dilakukan terus menerus akan membawa maut bagi suatu tatanan masyarakat termasuk organisasi/ perusahaan (Mahatma Gandi : Stephen R. Covey, 1991)

1.      Kaya tanpa kerja (wealth without work)

2.      Nikmat tanpa nurani (pleasure without conscience)

3.      Ilmu tanpa karakter (knowledge without character)

4.      Bisnis tanpa moralitas (commerce without morality)

5.      Sains tanpa kemanusiaan (science without humanity)

6.      Agama tanpa pengorbanan (religion without sacrifice)

7.      Politik tanpa prinsip (politices without principles)

Praktik bisnis di semua belahan dunia telah mengalami pergeseran yang besar. Bisnis yang semula dianggap sebagai semata-mata mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan  etika dan moralitas, tetapi sejak tahun 2002 para pelaku bisnis AS dan Eropa

bahkan juga Australia mulai menyadari peranan spiritualitas dalam mendorong keberhasilan bisnis. Tahun 2002 ‘Harvard Business School’mengeluarkan rangkuman hasil diskusi para Top Eksekutif Internasional dari berbagai belahan Dunia, dengan judul “Does Spirituality Drive Success”? Ada 5 hal yang dihasilkan dari spirituality :

1)     integritas/kejujuran,

2)     energi/semangat,

3)     inspirasi/ide dan inisiatif,

4)     wisdom/bijaksana, dan

5)     keberanian dalam mengambil keputusan.

Sepanjang tahun 1987, 1995, dan 2002, sebuah lembaga Internasional “The Leadership Chalenge” telah melakukan penelitian terhadap CEO di 6 Benua (Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia dan Australia). Apa Kesimpulannya? Sebuah era spiritualitas  telah dijadikan inti dari praktik bisnis modern untuk mengejar sebuah kesuksesan.

Hasil studi AS terhadap para top CEO tersebut, menghasilkan sebuah peringkat karakter CEO ideal, dan yang menarik adalah bahwa kejujuran menduduki ranking pertama dari 10 karakter utama CEO ideal. Kita tahu bahwa ‘jujur’ adalah salah satu indicator kunci dari etika bisnis. Selengkapnya kesepuluh karakter tersebut berdasarkan ranking adalah sebagai berikut :

1.    Honest (jujur)     = 88%

2.    Forward looking (berpikiran maju) = 71%

3.    Competent     = 66%

4.    Inspiring (dapat memberi inspirasi) = 65%

5.    Intelligent (cerdas)   = 47%

6.    Fair-minded (adil)   = 42%

7.    Broad-minded (berpandangan luas) = 40% 

8.    Supportive (mendukung)  = 35%

9.    Straight forward (terus terang/jujur) = 34%

10. Dependable (dapat diandalkan) = 33%) 

Abul  Ala al-Maududi dalam bukunya Esensi Al Qur’an sebagaimana dikutip  Yopi Hendra dan Deny Riana (2008) dalam buknya ‘Spiritual Entrepreneur’ ada beberapa etika dalam berbisnis (menurut pandangan al Qur’an) :

  1. Jangan memakan harta benda orang lain dengan cara yang batil.
  2.  Menjaga amanah yang diberikan kepadanya
  3. Jangan makan harta anak yatim secara zalim
  4. Jangan curang dengan cara antara lain mengurangi takaran dalam timbangan
  5. Jangan (berdagang, memproduksi) minum-minuman khamar, berjudi, mengundi nasib
  6. Tidak memakan riba
  7. Jika melakukan utang piutang, jika mengalami kesulitan, hendaklah diberikan tangguh sampai berkelapangan
  8. Memberikan sedekah atas harta yang dimiliki kepada orang lain

 

Etika bisnis sesungguhnya akan memperkokoh keberadaan perusahaan yang dikelola. Etika bisnis sekaligus membangun sebuah kepercayaan konsumen terhadap produk bisnis yang dijual dan perusahaan yang dikembangkan. Karena itu implementasi dari etika bisnis, dapat  diidentifikasi secara sederhana dalam model matrik sebagai berikut :

No

Aspek Bisnis

Contoh Prilaku beretika

Contoh Prilaku yang tidak beretika

 

Etika dalam memilih jenis produk usaha yang akan dikembangkan

Produk yang dijual barang halal

Bahan baku diperoleh secara sah

Produk yang dijual barang haram

Bahan baku diperoleh secara tidak sah

 

Etika dalam pengelolaan usaha

 

 

 

Etika terhadap konsumen

 

 

 

Etika terhadap sesame pengusaha

 

 

 

Etika terhadap lingkungan sosial dan pemerintah

 

 

 

Etika terhadap Investor/lembaga keuangan

 

 

 

D. EVALUASI DAN REFLEKSI AKHIR 

Untuk mengetahui sejauh mana tujuan pelatihan dapat tercapai atau tidak, sejauh mana peserta peserti memahami dan memperoleh manfaat dari pelatihan yang diikuti, maka dilakukan evaluasi dan refleksi. Peserta secara acak diberikan beberapa pertanyaan secara lisan untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut :



Menurut Anda, apa untung dan ruginya menjadi wirausaha? Jelaskan 
Mengapa hanya sedikit generasi muda yang memilih bidang kewirausahaan sebagai pilihan karir mereka? Jelaskan
Nilai-nilai kewirausahaan apa saja yang harus ditanamkan kepada generasi muda agar mereka mengembangkan jiwa kewirausahaan?
Apakah permainan yang anda lakukan selama pelatihan ini, ada manfaatnya untuk pengembangan diri Anda? Berikan penjelasan dan contoh konkritnya.
Apakah permainan yang anda lakukan dapat diterapkan di lingkungan lembaga kursus Anda? Permainan mana yang penting dan mana yang kurang penting? Jelaskan dan berikan alasan.
Apa saran Anda untuk perbaikan pelatihan yang akan datang?

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Arman Hakim Nasution, dkk (2007), Entrepreneurship,Membangun Spirit Teknopreneurship, Pener bit Andi Yogyakarta.

2. Benedicta Prihatin Dwi Riyanti (2003), Kewirausahaan Dari Sudut Pandang Psikologi Kepribadian, Grassindo, Jakarta.

3. Craig Hall (2001), The Responsible Entrepreneur : How to Make Money and Make a Difference, Career Press 3 Tice Rd, Franklin Lakes, USA.

4. David E. Rye (1995), The Vest Pocket Entrepreneur, Everything You Need to Start and Run Your Own Business, Prentice-Hall, Inc, Englewood Cliffs, NJ.

5. David Osborne dan Ted Gaebler (1992), Mewirausahakan Birokrasi Reinventing Government, Mentransformasi Semangat Wirausaha ke dalam Sektor Publik, PPM, Seri Umum No. 17, Jakarta.

6. Dion Alexander Nugraha (2008), 8 Revolusi Sikap Menjadi Entrepreneur, Penerbit PT Elex Media Komputindo,, Kompas Gramedia,Jakarta.

7. Fitri Rasmita, dkk ((2009), Pintar Soft Skills Membentuk Pribadi Unggul, Baduose Media.

8. Gede Prama (2004), Catatan Konsultan, Sukses dan Sukses, Sukses di Perjalanan, Sukses di Tempat Tujuan, Diterbitkan PT Elex Media Kpmputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.

9. Husain Syahatah dan Siddiq Muh. Al-Amin Adh-Dhahir (2005), Transaksi dan Etika Bisnis Islam, Visi Insani Publishing, Jakarta.

10. William D. Bygrave (1996), The Portable MBA Entrepreneurship, Binarupa Aksara, Jakarta.

11. Yopi Hendra & Deny Riana (2008), Spiritual Entrepreneur, MQS Publishing, KPAD Geger Kalong, Bandung.

Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

posted Jun 21, 2011, 10:01 PM by NU Solihin   [ updated Jun 21, 2011, 10:04 PM ]

 

 

Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

January 4, 2010 by admin   
Filed under Andrew Ho


“If money is your hope for independence you will never have it. The only real security that a man can have in this world is a reserve of knowledge, experience, and ability. – Jika Anda menyandarkan harapan hidup mandiri pada uang, maka Anda tidak akan mendapatkannya. Satu-satunya hal yang menjamin kehidupan seseorang adalah cadangan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan.”
Henry Ford, Pendiri Ford Motor Company (30 Juli 1863 – 7 April 1947)

Kalau dulu bekerja pada orang lain dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan uang, tetapi sekarang berwirausaha menjadi trend masa depan, karena dianggap lebih prospektif untuk meraih kebebasan waktu dan keuangan. Namun berwirausaha juga memerlukan pengetahuan, kecakapan, serta pengalaman, sehingga harus dipupuk sejak dini. Beberapa hal berikut ini merupakan hal yang perlu kita perhatikan dan lakukan berkenaan dengan upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan tersebut.

Menumbuhkan jiwa wirausaha terkait erat dengan usaha memperbaiki kualitas diri sendiri dan kehidupan rohani, agar kita mampu menjadi personifikasi yang dapat dipercaya dan dihormati karena memiliki standar moral tinggi. Keunikan atau kualitas produk atau jasa maupun kecanggihan pola pemasaran bukan faktor utama produk atau jasa yang kita tawarkan diterima dengan baik. Sebab sukses dalam berwirausaha erat kaitannya dengan kemampuan meraih kepercayaan banyak orang, yang membuat konsumen tidak pernah ragu untuk membeli produk atau memakai jasa yang kita tawarkan.

Dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan, kita juga harus membiasakan diri menciptakan impian, memiliki keyakinan luar biasa, serta ketekunan berusaha. Sebab seorang pewirausaha haruslah berjiwa pionir sejati. Artinya, syarat untuk menjadi pewirausaha yang berhasil itu harus mampu membuat perencanaan yang baik, cepat dan efisien, berani menanggung resiko dengan melakukan investasi materi, waktu, usaha, serta ekstra kesabaran memelihara dan menjaga usahanya dengan baik sebelum melihatnya tumbuh sukses.

Memupuk kebiasaan berpikir positif merupakan hal penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha. Sebagaimana diketahui bahwa tak seorangpun pebisnis sukses di dunia ini yang tidak pernah gagal. Disamping profesional, memiliki etos kerja dan dedikasi yang tinggi, mereka juga selalu mampu bangkit ketika mengalami kegagalan. Bila kita selalu dapat berpikir positif, tentu saja kita juga mampu menjadikan setiap kegagalan sebagai motivasi untuk terus bergerak maju.

Memupuk kemampuan mencetak laba adalah bagian dari upaya-upaya menumbuhkan jiwa wirausaha. Untuk itu kita harus belajar tentang bagaimana melakukan pemasaran yang baik dan juga meningkatkan kedisiplinan dalam melakukan manajemen keuangan. Sebab dalam dunia usaha, keuntungan sekecil apapun sangat penting untuk memperkuat stabilitas sekaligus untuk melakukan ekspansi usaha.

Mengembangkan rasa empati atau kepedulian juga penting berkenaan dengan usaha menumbuhkan jiwa wirausaha. Rasa empati yang tinggi akan membantu kita menghasilkan karya yang tidak hanya dapat dinikmati dan menguntungkan diri sendiri tetapi juga dapat dinikmati dan menguntungkan sesama. Prof. Philip Kotler, yang dijuluki Bapak Marketing Modern, memberikan nasihatnya kepada para pebisnis di Indonesia; “Think customers and you’ll be save. – Rengkuhlah para pelanggan Anda supaya bisnis Anda bisa tetap berlangsung baik.” Keunggulan bisnis seperti itu lebih menjamin kesuksesan dan pasti sulit dibajak pesaing manapun.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan ini mencakup kemauan menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh dengan selalu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, cukup berolahraga, minum, dan istirahat. Sebab pada fase awal berwirausaha itu membutuhkan tingkat energi tinggi, ketahanan mental, dan motivasi yang besar, sehingga sangat membutuhkan kebugaran fisik. Lagipula tak mungkin bukan kita menikmati hasil usaha bila kita terbaring sakit?

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan artinya juga harus melatih diri kita menciptakan dan memperbarui visi masa depan serta merencanakan tindakan dan pencapaian-pencapaian untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kemampuan menciptakan visi akan membuat kita mampu mengukur tingkat kemajuan, melakukan langkah-langkah perbaikan, mengurangi hambatan maupun dampak negatif, serta memaksimalkan keuntungan. Keahlian menciptakan dan memperbarui visi akan sangat kita perlukan jika ingin usaha yang kita jalankan terus mengalami perkembangan.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan berarti juga harus meningkatkan kemampuan mengorganisasi, yaitu menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat pula. Mulailah dengan membuat jadwal yang teratur dan disiplin menjalankan jadwal tersebut dan berteman dengan orang-orang yang memberi inspirasi dan teladan mulia. Latihan semacam itu potensial menjadikan kita mampu mengorganisasi usaha dan memastikan usaha terus berekspansi.

Meningkatkan kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha. Sebab kemampuan berkomunikasi ini sangat penting untuk menggali informasi dari target pasar tentang produk atau jasa yang sangat diinginkan sekaligus untuk menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dengan pelanggan. Bila kita sudah mampu memenuhi kebutuhan konsumen, lalu menjalin komunikasi dengan baik, menghargai, dan bersikap sopan terhadap mereka, maka dengan sendirinya para pelanggan akan selalu setia menggunakan produk atau jasa kita bahkan ikut mempopulerkan bisnis kita.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan juga harus meningkatkan daya kreatifitas, yaitu mengubah sesuatu yang biasa menjadi komoditas yang bernilai tinggi dan mengguncang pasar. Mengembangkan keterampilan dan ilmu pengetahuan dari buku atau sumber informasi lainnya dan aktif memodifikasi bagian-bagian yang diperlukan sangat penting untuk menciptakan terobosan baru untuk produk, iklan, maupun mencari pelanggan. Kreatifitas menjadikan usaha Anda tidak pernah mengenal krisis.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan akan membantu kita menguasai seluruh kemampuan berwirausaha, mulai dari pola pikir, kemampuan, karakter, serta pengetahuan wirausaha itu sendiri. Oleh sebab itu, tumbuhkan terus jiwa kewirausahaan Anda, dengan terus mengembangkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. Pastikan di masa akan datang Anda menjadi orang yang lebih baik, sukses dalam berwirausaha, hidup lebih kaya dan bahagia, dan sekaligus berempati tinggi. Salam hebat dan luar biasa!

* Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku Bestseller.


Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

posted Jun 21, 2011, 9:48 PM by NU Solihin   [ updated Jun 21, 2011, 9:58 PM ]

 

 Item Thumbnail

Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

Oleh Agus Wibowo
Dimuat Harian Bisnis Bali
Edisi 16 Januari 2009


Akibat krisis finansial global yang diikuti pemutusan hubungan kerja (PHK), pengangguran di Indonesia mengalami kenaikan. Data Organisasi Buruh Dunia (ILO, 2009), menyebutkan sektor industri/usaha menyumbang sedikitnya 170.000 hingga 650.000orang.

Jumlah itu bisa makin meroket akibat goyahnya sejumlah industri inti, yang bakal turut menyeret ratusan industri pendukung.

Sebagai contoh adalah industri garmen yang membutuhkan pemasok bahan baku kain, benang, bahan kimia, logistik, sampai komponen mesin yang disebut subkontraktor.

Demikian juga industri otomotif dengan jaringan pemasok komponen serta industri pulp dan kertas.

Fenomena pengangguran akibat PHK, tentu saja menimbulkan keprihatinan kita bersama. Apalagi, mendekati pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) di mana suhu politik tengah memanas.

Tingginya angka pengangguran itu — selain berbanding lurus dengan tindak kriminalitas — dikhawatirkan akan digunakan oknum tertentu untuk menciptakan konflik dan disintegrasi bangsa.

Maka, sudah semestinya jika seluruh elemen bangsa menyikapi persoalan pengangguran secara jernih, sembari memikirkan solusi jitu untuk mengatasinya.

Lebih dari itu dalam masyarakat ditumbuhkan semangat dan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Jiwa dan semangat kewirausahaan ini, sangat urgen dalam menentukan kemajuan perekonomian suatu negara.

Bukan hanya ketepatan prediksi dan analisis yang tepat, tetapi juga merangsang terjadinya invensi dan inovasi penemuan-penemuan baru yang lebih efektif bagi pertumbuhan ekonomi.

Menurut Pinchot (1988), kewirausahaan atau entrepreneurship merupakan kemampuan untuk menginternalisasikan bakat rekayasa dan peluang yang ada. Seorang entrepreneur akan berani mengambil resiko, inovatif, kreatif, pantang menyerah, dan mampu menyiasati peluang secara tepat.

Sementara, Husaini Usman dalam bukunya Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan (2008), menyebut setidaknya dua cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai kewirausahaan.

Pertama, pembiasaan dalam keluarga. Semenjak anak-anak masih keci, orangtua harus sudah memperkenalkan jiwa kewirausahaan. Misalnya, anak-anak diikutkan pada usaha kerajinan atau industri rumahtangga (home industry) yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Tentu saja, sebelumnya sudah disepakati jenis pekerjaan antara pemilik usaha dengan orangtua, sebatas yang terjangkau bagi anak-anak.

Tiap akhir minggu, mereka juga digaji sebagaimana pekerja lainnya, sekali pun tidak seberapa. Gaji itu tidak boleh digunakan untuk jajan, melainkan ditabung.

Cara ini dimaksudkan agar anak memiliki pengalaman bagaimana menjadi pekerja, sekaligus menanamkan pelajaran bagaimana menghargai hasil keringat sendiri — dengan cara menabung uang hasil kerjanya.

Lebih dari itu, dengan bekerja di home industry anak-anak memperoleh dua keuntungan; mereka memiliki pengalaman bekerja, menghayati dunia usaha dan sekaligus merasakan bagaimana hidup sebagai pekerja.

Sekali dalam sebulan, anak-anak ditugasi ke pasar. Mereka harus mencari informasi berbagai harga barang-barang di pasar, seperti harga gula, beras, berbagai macam sayur, peralatan rumah tangga dan lain-lain.

Anak-anak juga disuruh menanyakan satu persatu harga berbagai barang sekali pun tidak membelinya. Selanjutnya, hasil survai pasar tersebut dianalisis dan dijadikan bahan diskusi rutin tiap bulan di lingkungan keluarga.

Kegiatan ini dimaksudkan agar anak menjadi akrab dengan kehidupan nyata, mampu berkomunikasi dengan baik, mengemukakan pendapat, menarik kesimpulan, sekaligus membiasakan diri selalu mengikuti perkembangan ekonomi sehari-hari.
Pendidikan Kewirausahaan
Kedua, penanaman kewirausaan melalui pendidikan. Di sekolah/Perguruan Tinggi, perlu dimasukkan pelajaran atau mata kuliah kewirausahaan dengan proporsi lebih ketimbang pelajaran/mata kuliah lainnya—paling tidak seimbang. Pelajaran kewirausahaan itu, harus disajikan secara sistematis serta disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan usia peserta didik. Kemasan pelajaran juga harus menarik minat peserta didik, sehingga mereka merasa enjoy mempelajarinya, tidak ada paksaan dan belajar dalam kondisi gembira.

Sekali waktu, sekolah perlu mengundang para pelaku bisnis yang sukses. Mereka diminta menerangkan atau menceritakan perjalanan hidup mereka, dan bagaimana kiat-kiat agar usaha bisa sukses.

Kisah hidup itu, paling tidak akan merangsang anak untuk meniru atau meneladaninya. Jika memungkinkan, anak-anak juga diikutkan dalam kegiatan magang kerja di suatu usaha.

Tujuanya, selain memperkenalkan anak pada kondisi usaha riil, mereka juga bisa melihat langsung praksis dari teori-teori yang telah diperolehnya.

Pembelajaran kewirausaan, kata P Budi Santosa (2008), akan lebih efektif jika sekolah juga mendirikan usaha nyata. Misalnya, sekolah mendirikan gerai penjual makanan, simpan pinjam, jasa tiket transportasi, perbankan, kursus bahasa asing dan sebagainya.

Selanjutnya, anak didik secara bergantian mendapat tugas berpraksis di situ, dengan target-target yang telah ditentukan. Sebagaimana kegiatan magang, pendirian dunia usaha di sekolah itu bertujuan mengakrabkan anak didik antara teori dan praktik nyata.

Pada akhirnya, semangat dan jiwa kewirausaan merupakan pondasi ampuh bagi bangsa ini menghadapi krisis finansial global, maupun peningkatan angka pengangguran.

Tatkala pendidikan kewirausahaan — yang ditanamkan melalui keluarga dan pendidikan formal — telah berjalan efektif, sebesar apa pun krisis finansial akan disikapi dengan kepala dingin.

Itu karena masyarakat telah terbiasa memecahkan problem berat dengan strategi yang cepat dan tepat. Lebih dari itu, makin berat krisis justru makin mematangkan penguasaan masyarakat terhadap ilmu kewirausahaan yang telah dipelajarinya.

Pada kondisi demikian, tidak akan terjadi masyarakat depresi atau kehilangan semangat hidup, hanya karena PHK. Semoga. [] Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

1-4 of 4